Tantangan Global
dan Tanggung Jawab
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta
Pasal 2
1. Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana Pasal 72
2. Barang siapa dengan sengaja atau tanpa hak untuk melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Editor:
Latifah & Andi Ahmad Yani
2016
Tantangan Global
dan Tanggung Jawab
Keadilan Sosial
TanTangan gloBal dan Tanggung JawaB Keadilan SoSial Hak Cipta @ indonesia Social Justice network (iSJn)
all rights reserved
editor : latifah dan andi ahmad Yani Proofreader : latifah desain Sampul : ujang Prayana Tata letak isi : dadang Kusmana
Cetakan 1, november 2016
di Terbitkan oleh
The indonesia Social Justice network (iSJn)
Jl. SMa 14 no. 32
Cililitan, Kramatjati, Jakarta Timur 13640 Telp. (021) 8004423, Faks. (021) 8004423
e-mail: [email protected] www.isjn.or.id
Perpustakaan nasional Ri. data Katalog dalam Terbitan (KdT)
Tantangan global dan tanggungjawab keadilan sosial /
alumni international Fellowship Program (iFP) ; editor, latifah, andi ahmad Yani Cetakan 1-Jakarta: indonesia Social Justice network (iSJn), november 2016
xviii + 300 hlm. 13 x 20 cm
iSBn 978-602-19881-4-5
Daftar Isi
SEKAPUR SIRIH ... vii
PENGANTAR EDITOR ... xi Memupus Rantai Kemiskinan dengan Bekerja Untuk
Keadilan Sosial ... xiii
TANTANGAN I:
KEADILAN SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN ... 1 Peran Pemeritah Dalam Penerapan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan oleh Korporasi di Kabupaten Maluku Tengah ... 2 Sustainable City, Konsep dan Implementasinya
di Indonesia ... 13 Strategi dan Peluang Pendanaan Konservasi Laut dan
Perikanan Berkelanjutan di Kabupaten Raja Ampat... 29 Corporate Social Responsibility (CSR) Lingkungan dan
Implementasinya di Indonesia : Perspektif Kritis di Bawah Ajaran Teori Legitimasi ... 56 TANTANGAN II:
KEADILAN SOSIAL DALAM GERAKAN SOSIAL
DAN BUDAYA ... 83
Gerakan Sosial di Lingkar Tambang: Politik Perlawanan
TanTangan global dan Tanggung Jawab Keadilan SoSial
vi
Quo Vadis Budaya Nuaulu ... 99 Ancaman Globalisasi Versus Pelestarian Warisan
Kebudayaan Lokal ... 117
TANTANGAN III:
KEADILAN SOSIAL DALAM DEMOKRASI DAN KESETARAAN GENDER ...141
Persepsi Publik Tentang Representasi Politik Perempuan (Studi di Legislatif Kota Ambon) ... 142 Apakah Parpol Mempromosikan Kesejahteraan Sosial?;
Studi Terhadap Dinamika Sistem Politik Aceh Pasca-Perjanjian
Damai Helsinki (Kasus Studi: Partai Aceh) ... 171 Diskriminasi Gender dalam Keluarga Berencana
(Studi Kasus Partisipasi Suami Dalam Melakukan Kontrasepsi
di Desa Bonto Biraeng Kecamatan Bontonompo) ... 211
TANTANGAN IV:
KEADILAN SOSIAL DALAM PENDIDIKAN DAN
KETENAGAKERJAAN ...231
Pendidikan Multikultural untuk Masyarakat Aceh dan
Papua ... 232 Menebar Asa Melalui Dana:
Pengalaman Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa dalam Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis
Partisipasi Masyarakat ... 248 Kekerasan Perdagangan Manusia dengan Korban
dari Indonesia: Kasus Studi di Penang, Malaysia... 265
Menebar Asa Melalui Dana:
Pengalaman Sekolah Tinggi Agama
Buddha (STAB) Kertarajasa Dalam
Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis
Partisipasi Masyarakat
—Latifah, Ary Budiyanto & Metta Puspita—
Abstract
tantangan iV 249
from the Kertarajasa Buddhist College (Sekolah Tinggi agama Buddha Kertarajasa - STaBK).
Keywords: community participation, higher education, Bud-dha, East Java
“Bahusaccan ca sippan ca… etammangalamuttamam”
‘Memiliki pengetahuan dan keterampilan… itulah Berkah utama’
1. Pendahuluan
tantangan global dan tanggung Jawab Keadilan SoSial
250
tersebut memprihatinkan karena sekolah agama hanya menjadi pilihan terakhir bagi masyarakat, khususnya masyarakat ekonomi bawah. Seperti yang diungkapkan oleh Jeane Martiani (2003: 7), rendahnya daya tawar STaB juga memberi konotasi buruk terhadap kualitas pendidikan Buddhis. Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh rendahnya rasa memiliki umat Buddha terhadap institusi pendidikan Buddhis. di sisi lain, Jeane melihat bahwa orang tua calon siswa atau mahasiswa berani mendaftarkan anaknya di sekolah elite yang pendiriannya bermotif penumpukan modal.oleh karena itu, seperti yang dikemukakan Jeane, sekolah berbasis vihara akan menigkatkan daya tawar sekolah beragama Buddha. “andaikata pemiliknya vihara, diharapkan tidak ada yang menawar malah berlomba untuk berdana demi kemajuan pendidikan. Karena siapa yang berani menawar pada lindungan yang diberikan,” tandasnya dengan menekankan peran sentral vihara dalam keyakinan umat Buddha (sadha).
2. STAB Kertarajasa dan Perannya dalam Masyarakat
tantangan iV 251
terwujudnya sumber daya manusia (SdM) Buddhis yang berkualitas dan religius sesuai dengan dhamma untuk mengemban tugas mulia memajukan kehidupan bangsa indonesia. Misi STaB Kertarajasa adalah meng-em ban Tri dharma PT (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) serta mengembangkan Buddha-dhamma sebagai “way of life and way of thinking” bagi ma sya rakat Buddhis. STaB Kertarajasa mempunyai be-bera pa tujuan. Pertama, berperan secara aktif untuk mencer daskan kehidupan bangsa dan mengembangkan ma nusia indonesia seutuhnya. Kedua, menyiapkan SdM Buddhis yang terdidik untuk memenuhi kebutuhan tena-ga dalam menunjang perkembantena-gan atena-gama Buddha. Ketiga, menampung lulusan SMa/SMK yang berminat me nem puh pendidikan agama Buddha secara khusus. Keem pat, menyiapkan tenaga guru agama Buddha serta dhammaduta yang handal dan profesional.
tantangan global dan tanggung Jawab Keadilan SoSial
252
oleh pemerintah sebagai sarana penting untuk memastikan distribusi yang seimbang hasil pembangunan dan distri-busi de mo krasi menuju masyarakat yang pluralistik (Putra, 2011). Selain itu, STaB Kertarajasa telah berperan dalam me les ta ri kan ke inginan masyarakat untuk mendapat pen di-dikan ting gi melalui partisipasi langsung dalam komunitas. Makalah ini akan membahas peran partisipasi ma-sya rakat dalam keberlanjutan proses pendidikan di STaB Kertarajasa yang terdiri dari mahasiswa reguler dan program khusus (samanera dan atthasilani). Samanera (sebutan untuk laki-laki) dan atthasilani (sebutan untuk perempuan) selama masa pendidikan tinggal di ling-kung an vihara Padepokan dhammadipa arama, Batu, Malang. dengan berfokus pada STaB Kertarajasa dan meng gunakan penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi partisipasi langsung sebagai dosen di STaB tersebut, paper ini membahas aspek-aspek apa saja yang tercakup dalam partisipasi masyarakat dalam pendidikan dan bagaimana proses itu berlangsung, khususnya lewat perspektif mahasiswa, alumni, dan pihak-pihak terkait.
3. Berpartisipasi dalam Pendidikan dengan Ber-dana
tantangan iV 253
Partisipasi komunitas dalam pendidikan dapat mencakup partisipasi individu, kelompok, keluarga, organisasi pro-fesio nal dan pekerja dan organisasi masyarakat. Partisipasi masyarakat berperan dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang mencakup perencanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Partisipasi komunitas dapat berupa ide-ide, energi, keahlian/keterampilan, dan properti, dalam bentuk donasi tetap/reguler atau insiden-tal. untuk dapat mewujudkan partisipasi, ada beberapa pra sya rat yaitu kebersamaan nilai-nilai, komitmen ter-ha dap tujuan-tujuan, keberadaan pemimpin yang dapat me motivasi lembaga, dan hadirnya atmosfer yang bagus (Hermino, 2013; 191).
di STaB Kertarajasa, partisipasi masyarakat berjalan dengan basis dana (sumbangan yang berpusat pada vihara). Tapi, ada pula bantuan yang langsung diberikan ke pada STaB Kertarajasa. dengan kepercayaan penuh dan landasan dasar sumbangan yang memprioritaskan ban tuan melalui vihara, dana diberikan umat atau simpatisan vihara kepada bikhu yang menjadi Ke pala Vihara dhammadipa arama untuk selanjutnya di ke-lola oleh Yayasan dhammadipa arama, keseluruhan pro-ses ini adalah kekuatan karma baik/kekuatan moral, baik bagi donatur danpenerima, yang sama- sama meng ha sil-kan, di satu sisi, orang yang melakukan dana ingin meng-ekspresikan karma baik, sementara orang yang menerima mempunyai kesempatan untuk menerima karma baik. Susan elbaum Jootla (2013) dengan apik merangkum dana
tantangan global dan tanggung Jawab Keadilan SoSial
254
tantangan iV 255
oleh sangha mengakibatkan terhambatnya proses pengem-bangan lembaga pendidikan tersebut.
Karena besarnya kesadaran komunitas dalam memberi, Bikkhu Khantidaro Mahatera tidak merasa khawatir dalam menyediakan makanan untuk penghuni vihara sekitar 100-200 orang, termasuk mahasiswa. Selain itu, vihara juga me nanggung biaya hidup dan pendidikan para samanera dan atthasilani. Bahkan, para samanera dan atthasilani itu mempunyai tabungan yang berasal dari vihara. Mereka juga mendapat biaya perjalanan untuk mengunjungi sejumlah daerah selama liburan untuk melaksanakan pengabdian di sana. Samanera dan atthasilani juga berkontribusi dalam mengumpulkan dana untuk vihara, misalnya mereka me nye rahkan uang yang didapatnya dari memberikan ceramah (dhammadesena), membaca paritta, atau chanting dalam acara-acara di komunitas buddhis. Perhatian yang besar terhadap program pabajitadapat dilihat sebagai aspek yang sangat penting dalam keberadaan STaB Kertarajasa di dalam vihara dhammadipa arama karena, seperti yang dinyatakan oleh Bante dr. Santacitto Sentot, M.a., Ketua Program Studi dharma achariya, bahwa:
tantangan global dan tanggung Jawab Keadilan SoSial
256
tantangan iV 257
4. Menebar Asa yang Setara
Perlu diketahui bahwa dana dari donatur cukup terbatas, se hingga beberapa mahasiswa reguler harus bekerja di sam ping kuliah, yang tidaklah mudah. akibatnya, ada sejumlah mahasiswa yang berhenti kuliah dan pulang ke daerah masing-masing. Secara langsung dan tidak lang-sung, terputusnya asa mahasiswa untuk menempuh pen-didikan tinggi tidak terlepas dari pandangan umum bahwa samanera dan atthasilani dipandang mempunyai potensi yang lebih besar sebagai generasi penyebar dan pelestari Buddhadhamma. Pandangan ini membuat mereka men-dapat prioritas menerima bantuan biaya pendidikan dari dana umat. Kenyataannya, mahasiswa reguler juga dapat menunjukkan kontribusinya dalam dhamma dan ko-munitas di masa depannya karena tak diragukan bah wa “umat awam” berperan sangat penting dalam sikus mem-beri (terutama dalam pengertian material) untuk meno-pang perjalanan pembabaran dhamma. Seperti yang diakui oleh Bhante Khantidaro Mahatera, “Kehidupan vihara (sangha) sangat tergantung pada umat dan begitu pula se-baliknya.”
tantangan global dan tanggung Jawab Keadilan SoSial
258
“as we know, Buddhist minority especially those who come from villages have limited economic resources. They could not afford to support themselves to get education in highly recognized universities like ugM (university of gadjah Mada or ui (university of indonesia), etc. with the establishment of this college which provides free ed-ucation, at least, they could tastehigher education. They gain knowledge and at least, they wouldfeel confident in the society with their good education.This is because i be-lieve the first primary reason why Padepokandhammadipa arama established this Buddhist College. Besidesteaching the importance of compassion which results inproviding higher education to those who are weak economically,Bud-dhismemphasizes the importance of education. as Manga-laSutta says, having much knowledge as well as skills are of one ofthe highest blessings, for it will help people in progressing theirlifeeconomically, socially and even spir-itually. on this basis, it isa positive move by Padepokan dhammadipa arama to establishKertarajasa Buddhist College, helping people especially younggeneration to im-prove their quality of life… Thus, in the midst ofdifficulty in educating children in higher education due to highfee, Colleges like Kertarajasa Buddhist College are established tosolve that problem.”
per-tantangan iV 259
ubahan secara personal menjadi lebih baik, 2) mereka dapat membantu perkembangan Buddha di manapun me-reka berada, 3)meme-reka dapat terhindar dari konversi karena mereka telah belajar untuk mengetahui dan memahami dhamma dengan baik dan benar, 4) dengan cara ini, mereka juga dapat meningkatkan harkat dan martabat keluarga, serta 5) membantu Buddha.
Bagi mahasiswa STaB Kertarajasa sendiri, motivasi utama mereka bukanlah beasiswa, melainkan keinginan untuk belajar dhamma dan menebarkannya dalam ko-mu nitas. Sebagian besar mahasiswa mengakui bahwa du-kungan finansial adalah vital dalam mewujudkan ke inginan mereka untuk belajar, sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang alumni, “Motivasi personal saja tidaklah cukup jika tidak ada sokongan dari orang yang membantu saya agar berhasil di STaB.” namun, sebagian besar mahasiswa meng akui bahwa bantuan biaya belajar bukanlah hal yang utama karena keberhasilan ditentukan oleh etos belajar dan kehendak individu. Kenyataannya, ada pula kritik tentang kecenderungan sejumlah mahasiswa yang menggunakan dana studi tidak sebagaimana seharusnya.
5. Manajemen Dana-Beberapa Pertimbangan
tantangan global dan tanggung Jawab Keadilan SoSial
260
landasan filosofis bantuan umat yang disalurkan ke-pa da bhante yang mereka percaya secara personal.Pe-nge lolaan dana secara pribadi ini berlawanan dengan sistem penyaluran dana yang berlaku pada suatu yayasan pendidikan Buddhis profesional yang membutuhkan lapor an finansial secara detail.
tantangan iV 261
tantangan global dan tanggung Jawab Keadilan SoSial
262
ceramah yang disampaikannya selesai membaca paritta bersama-sama pada pagi hari dalam rangkaian pujabhakti. Belakangan ini, untuk memacu semangat belajar maha-siswa di luar standar nilai atau iP (indeks Prestasi), dosen juga melibatkan mahasiswa dalam berbagai forum akademis di luar kampus, seperti menjadi presenter atau peserta di konfensi-konferensi nasional dan internasional. Mahasiswa pun dilibatkan dalam kegiatan penelitian dosen dengan dukungan dana dari Kementrian agama Ri. Keterlibatan-keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan seperti ini tidak memerlukan nilai yang tinggi sebagai prasyarat, tetapi memerlukan sikap optimis, ke-beranian, ketangguhan, disiplin, sikap bersungguh-sung-guh, kejujuran, kemampuan bersosialisasi dan menjalin kerja sama. dengan demikian, bukan hanya memba ngun kecerdasan intelektual, kegiatan-kegiatan ini juga mengem-bangkan kecerdasan moral dan emosional sehingga mereka dapat tumbuh menjadi manusia yang unggul, seperti yang di ke mukakan oleh Bhante Subhapanno Subanowo, Ketua STaB Kertarajasa, berikut ini:
tantangan iV 263
tantangan global dan tanggung Jawab Keadilan SoSial
264
Sampadetha”, ‘Segala hal yang terkondisi tidaklah abadi, berjuanglah dengan tekun’, pesan Buddha dalam Mahaparinibbana Sutta.
Daftar Pustaka
Chusnah, ummul. 2008. “evaluasi Partisipasi Ma syarakat dalam Pelaksanaan Program Peningkatan Kuali-tas Sarana Prasarana Pendidikan di SMa ne geri 1 Surakarta”. Tesis. Program Pascasarjana. Magister Teknik Pembangunan wilayah dan Kota uni versitas diponegoro. Semarang.
Hermino, agustinus. 2013. asesmen Kebutuhan or gani-sasi Persekolahan. Jakarta: gramedia.
Martani, Jeane. 2003. “Sekolah unggulan? Mengapa Tidak?”. dalam Mencari Format Pendidikan Buddhis abad 21. Jakarta: Sarana aksara grafika.
Putra, edi Ramawijaya. “Modernisasi Sistem Pendidikan di Perguruan Tinggi agama Buddha” http:// ediramawijayanotes.wordpress.com/2011/10/21/mo-derenisasi-sistem-pendidikandi- perguruan-tinggi-agama-buddha-ptab-indonesia/. diakses 30 desember 2013.
STaB Kertarajasa. Buku Kenangan wisuda Sarjana Xii Tahun 2015 Prodi dharma achariya. Batu: STaB Kertarajasa.
wisadavet, wit. “The Buddhist Philosophy of education: approachesand Problems”. The Chulalongkorn Journal of Buddhist Studies Vol. 2 no. 2, 2003.