Abstrak
Kebo Ireng, merupakan suatau daerah yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Pada rentang tahun 1899 - 1900 terkenal sebagai daerah yang tak berperadaban atau dengan kata lain daerah yang dipenuhi dengan kejahilan dan kemaksiatan. Tingkah pola perilaku masyarakatnya bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang terhormat dari segi perilaku dan tata cara hidup bermasyarakat sebagai makhluk yang diberikan akal oleh Allah Swt. Seperti halnya pada saat zaman Jahiliyah di wilayah Timur Tengah atau wilayah Asia Barat saat itu. Perbuatan seperti minum-minuman keras atau khamr, berjudi dan zina yang merajalela menjadi hal yang lazim dilihat setiap hari di daerah Kebo Ireng sebelum didirikan Pesantren oleh KH Hasyim Asy’ari.
Sebelum berniat mendirikan pondok pesantren di Kebo Ireng KH Hasyim Asy’ari pernah mencoba mendirikan pondok pesantren di daerah Plemahan, Kediri namun upayanya untuk mendirikan pondok pesantren disana tidak berlanjut. Dengan niat yang bulat akhirnya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren di Tebuireng. Secara sah Pondok Pesantren yang berada dibawah asuhan KH Hasyim Asy’ari ini baru resmi masuk dalam catatan pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai lembaga pendidikan tradisional pada tanggal 6 Februari 1906. Jauh sebelum secara resmi diketahui oleh pemerintah kolonial Hadratussyaikh mulanya mendirikan padepokan silat sebagai cara untuk tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak pemerintah kolonial Hindia Belanda yang bertindak represif terhadap gerak-gerik kaum pribumi khususnya umat Islam dari golongan santri yang memiliki potensi yang besar untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah Kolonial Belanda yang dianggap menjadi biang keladi melaratnya hidup kaum pribumi di buminya sendiri.
Kata Kunci :
1. Kebo Ireng / Tebuireng 2. KH Hasyim Asy’ari 3. Islam
4. Santri
DAFTAR ISI
Abstrak ...
.
1
Daftar
Isi ...
2
Kata
Pengantar ...
...
3
I.Pendahuluan
...
... 4
I.II. Latar Belakang
... 4
I.III. Rumusan Masalah
... 4
I.IV. Tujuan Pembahasan
... 4
II.
Isi
Mendirikan Pondok Pesantren di Kebo Ireng / Tebuireng
... 5-7
Sejarah Pondok Tebuireng
... 8-10
Perkembangan Pondok Tebuireng
... 11-13
Biografi KH Hasyim Asy’ari
... 14
III.
Kesimpulan
... 15
Penutup
... 16
Kata Pengantar
Puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah tentang “Rekam Jejak KH Hasyim Asy’ari dalam mendirikan Pesantren di Kebo Ireng” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Drs. Agus Manon, M.Hum selaku Dosen mata kuliah Sejarah Pergerakan Nasional (UNPAD) yang telah memberikan tugas ini kepada penulis.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai, Rekam Jejak KH Hasyim Asy’ari dalam mendirikan Pesantren di Kebo Ireng dan juga bagaimana setiap tahapan perjuangan Hadratussyaikh untuk membumikan agama langit. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah penulis buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun orang-orang yang membacanya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan penulis memohon kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Cicalengka, 21 Oktober 2017
Pendahuluan
“Jika dalam sejarah ketentaraan Indonesia hanya ada satu orang yang mendapatkan gelar Panglima Besar, yaitu Jenderal Soedirman, maka di lingkungan masyarakat Islam Indonesia hanya ada satu orang pula yang memiliki gelar Hadratussyaikh, yaitu Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Hadratussyaikh sendiri berarti Sang Mahaguru. Meski tidak ada upacara resmi sebagaimana pada pemberian gelar ketentaraan atau gelar akademik seperti profesor dan doktor, sebutan Hadratussyaikh untuk Kiai Haji Hasyim Asy’ari memiliki makna jauh lebih istimewa.” (Miftahuddin, 2017 : 13).
Dalam makalah ini penulis akan membahas hal-hal apa saja yang melatarbelakangi Hadratussyaikh mendirikan pondok pesantren di daerah yang masih kental dengan pola perilaku masyarakat jahiliyah. Tentu ini menjadi hal yang menarik untuk dibahas terutama strategi-strategi apa yang digunakan KH Hasyim Asy’ari sehingga Pondok Pesantren Tebuireng dikenal oleh umat Islam khususnya dikalangan santri sebagai pusat untuk mempelajari Ilmu Agama lebih khusus lagi di Pulau Jawa dan Madura. Semoga makalah ini dapat memuaskan rasa penasaran penulis dan para pembaca sekalian dengan kemunculan Pondok Pesantren Tebuireng yang menjadi kiblat dalam membangun pondok-pondok Pesantren yang ada di Jawa dan Madura.
Tujuan Pembahasan
Makalah ini disusun dengan tujuan :
1. Memahami bagaimana awal mula berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng. 2. Mengetahui strategi-strategi apa saja yang digunakan Hadratussyaikh
dalam menjaga eksistensi Pondok Pesantren dibawah penjajahan bangsa asing yang represif terhadap umat Islam.
3. Menumbuhkan rasa keingintahuan mengenai dampak lahirnya Pondok Pesantren Tebuireng di pulau Jawa dan Madura.
4. Meneladani tokoh-tokoh yang menjadi pendiri sekaligus mengikuti perjuangannya untuk kemajuan Agama, Bangsa dan Negara.
5. Sebagai tugas individu yang wajib diselesaikan dalam mata kuliah Sejarah Pergerakan Nasional.
1. Seperti apa konsep dasar dari kebijakan Hadratussyaikh dalam menyebarkan agama Islam?
2. Bagaimanakah proses diterapkannya pembelajaran ala Pondok Pesantren di masyarakat sekitar?
3. Faktor apa saja yang mempengaruhi lahirnya cendikiawan muslim?
Pondok Pesantren di Kebo Ireng
“Nama Tebuireng kini seolah sudah menyatu dan tidak bisa dipisahkan lagi dengan Pondok Pesantren Tebuireng. Sedangkan Pondok Pesantren Tebuireng sendiri sudah tak dapat dipisahkan dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Keterkaitan ketiga komponen ini (Tebuireng atau yang dahulunya bernama Kebo Ireng, Pondok Pesantren, dan Kiai Hasyim Asy’ari) tidak terjadi begitu saja.” (Miftahuddin, 2017 : 75).
Situasi dan kondisi yang sukar untuk didirikannya sebuah pondok pesantren di daerah Kebo Ireng dulunya disebabkan oleh kebiasaan masyarakat yang sangat jauh dari nilai-nilai keislaman yang menjunjung tinggi derajat dan martabat manusia sebagai makhluk yang dibekali akal pikiran dan hati nurani. Namun karena masyarakatnya jauh dari nilai-nilai keislaman maka tidak heran kebodohan merajalela, hidup layaknya binatang ternak. Terlebih lagi wanita diperlakukan layaknya benda mati atau objek para lelaki hidung belang sebagai pemuas nafsu birahi mereka. Padahal setelah memasuki abad ke-21 penduduk di Hindia Belanda mayoritas telah memeluk agama Islam.
Menurut Clifford Geertz seorang antropolog ternama berkebangsaan Amerika Serikat. Masyarakat di Pulau Jawa itu terbagi ke dalam tiga golongan : 1. Abangan, 2. Priyayi, & 3. Santri (Putihan). Berdasarkan analisis penulis masyarakat di daerah Kebo Ireng mayoritas adalah dari golongan abangan sebab sebutan abangan merujuk kepada golongan muslim yang “kurang taat” pada sya’riat Islam. Dan memiliki status sosial yang rendah ciri-cirinya : 1. Miskin, 2. Tidak Aktif Bisnis, & 3. Pendidikan yang rendah. Sebutan lain untuk golongan Abangan adalah golongan merah (coklat).
Tradisi golongan Abangan diantaranya : 1. Slametan sebagai penangkal bala.
2. Momen : Kelahiran, Menikah, Kematian, Perkawinan, Khitanan, Sihir, Pindah Rumah, Mimpi Buruk, Panen, Ganti nama, dan sebagainya.
3. Varian : Makanan Khas, Dupa, Do’a (Islam), Pidato / Sambutan.
Golongan Santri terbagi, menjadi dua : 1. Kalangan Islam Modernis (Perkotaan) 2. Kalangan Islam Tradisionalis (Pedesaan) Kaum Santri Modernis menjadi Muhammadiyah Kaum Santri Tradisionalis menjadi Nahdlatul Ulama
Karena di daerah Kebo Ireng ini seringkali terjadinya perampokan sudah menjadi bukti kuat bahwasannya masyarakat Kebo Ireng ini hidup berada dibawah garis kemiskinan. Selain itu di Kebo Ireng sendiri ada pabrik gula Tjukir yang menjadi lambang Kapitalisme Barat di Kebo Ireng yang miskin. Pemerintah kolonial Hindia Belanda tidak memberikan perhatian lebih terhadap kondisi sosial masyarakat Kebo Ireng yang membutuhkan lapangan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang kekurangan karena tingkat pendidikannya yang rendah. Mengakibatkan masyarakat Kebo Ireng kurang menguasai ilmu pengetahuan dasar apalagi untuk keterampilan bekerja. Umumnya mereka yang dapat mengenyam pendidikan adalah anak-anak dari pejabat daerah itu juga hanya berlaku bagi kaum laki-lakinya saja sebelum diterapkan kebijakan Politik Etis oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda atas desakan kaum liberal di Parlemen Belanda.
Setelah mengetahui kondisi masyarakatnya yang memprihatinkan KH Hasyim Asy’ari bertekad untuk mendirikan Pondok Pesantren di Kebo Ireng dimulai dengan membuka padepokan silat sebagai langkah awal agar keberadaannya untuk mensyi’arkan agama Islam diterima oleh masyrakat sekitar. Awalnya KH Hasyim Asy’ari mendapatkan nasihat untuk tidak mendirikan Pondok Pesantren di Kebo Ireng, namun Kiai Hasyim menjawab nasihat tersebut dengan mengatakan,
“Menyiarkan agama Islam ini artinya memperbaiki manusia. Jika manusia itu sudah baik, apa yang diperbaiki lagi darinya? Berjihad artinya menghadapi kesukaran dan memberikan pengorbanan. Contoh-contoh ini telah ditunjukkan Nabi kita dalam perjuangnnya.” (Miftahuddin, 2017 : 76).
Saat itu berdiri Padepokan Silat yang digagas Hadratussyaikh dan para pendukungnya, secara diam-diam padepokan silat itu mengajarkan ajaran Islam kepada para pesilat yang menuntut ilmu di padepokan tersebut selain menuntut ilmu bela diri mereka dibekali Ilmu untuk bekal di dunia & akhirat. Sebagian pesilat yang nyantri dari masyrakat sekitar dan ada beberapa pesilat dari luar daerah. Sambil berjalan kegiatan Padepokan Silat pengajaran agama Islam pun mulai ditingkatkan pada saat jumlah pesilat yang nyantri mulai bertambah seiring meningkatnya pamor dari Hadratussyaikh sebagai pemimpin padepokan silat yang mengajarkan Islam.
“Awal mula lahirnya pondok pesantren di akhir abad ke-19 adalah Pondok Pesantren Jampes dan Bendo di Kediri, Pondok Pesantren Probolinggo, Pondok Pesantren Bangkalan Madura, Pondok Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo. Pondok Pesantren di Jombang banyak jumlahnya, misalnya Nggendang, Tambak Beras, Den Anyar, Rejoso (Peterongan), Sambong, Sukopuro, Watugaluh, dan Tebuireng.” (Atjeh, 1956 : 122).
Perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia lahir setelah lembaga pendidikan tradisional seperti pondok pesantren lahir dan berkembang diberbagai daerah di pulau Jawa dan Madura yang mulai menyadarkan masyarakat setempat yang lemah secara pikiran bahwa mereka sedang diperbudak atau dijajah oleh pemerintah kolonial Kerajaan Belanda.
Tokoh Islam Nusantara
Dari kiri ke kanan : KH Ahmad Hassan (Persis), KH Ahmad Dahlan
Sejarah Pondok Tebuireng
5 Agustus 1899 atau 26 Rabiul Awal 1317 Hijriah. Awal mula berdirinya pondok pesantren Tebuireng dibawah asuhan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Penting untuk diketahui peristiwa-peristiwa sebelum tahun 1900 di Hindia Belanda. Ada beberapa informasi yang menarik untuk menjadi acuan dalam menilai keadaan pada masa itu. Diantaranya :
Pemerintah Hindia Belanda memiliki utang sebesar (f. 400.000.000) gulden.
Adanya Eksploitasi pada zaman liberalisme di Hindia Belanda oleh pihak Pemerintah dan Swasta sebagai penanam modal investasi.
Penaklukan terhadap Aceh, Jambi, Lampung, Lombok, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah & Sumatera Utara.
Banyaknya pengangguran.
Banyak Petani yang terjerat oleh rentenir.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa memasuki tahun 1900-an Parlemen Belanda yang dikuasai kaum konservatif kalah oleh kaum liberal hal ini menyebabkan perubahan kebijakan-kebijakan politik pemerintah kolonial di Hindia Belanda khususnya. Berakhirnya masa eksploitasi atau tanam paksa di Hindia Belanda bermula dengan Douwes Dekker (1860) menulis novel Max Havelaar yang isinya menentang praktek tanam paksa di daerah lebak, kemudian Baron van Hoevel pun mengkritik penyelewengan tanam paksa.
Singkat cerita seorang pakar hukum Belanda yang pernah tinggal di Indonesia dari tahun (1880-1897) yaitu Van de Venter menerbitkan sebuah artikel yang berjudul “Een eers schuld” didalam jurnal de Gids. Van de Venter sebagai penulis artikel itu menuntut pemerintah kolonial belanda menghapuskan sistem tanam paksa.
Mulai tahun 1901 pemerintah kolonial belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk kaum bumiputera sebagai jawaban atas desakan kaum liberal di parlemen belanda yang peduli terhadap kesejahteraan hidup masyarakat Hindia Belanda. Sebagai solusi diterapkan kebijakan Politik Etis salah satunya dibidang pendidikan Kemudian berdiri sekolah-sekolah seperti :
Hollandsch Inlandsche School (HIS)
Sekolah yang siswanya dibatasi untuk anak-anak golongan atas saja pada masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia.
Sebagai bentuk reorganisasi sekolah kelas satu di Hindia Belanda.
MULO
adalah sekolah lanjutan tingkat pertama dengan tingkatan yang sama dengan SMP atau SLTP untuk masa kini. MULO telah menyebar di setiap kota kawedanaan (Kabupaten) di Hindia Belanda dengan menggunakan bahasa Belanda sebagai bahas pengantarnya.
Algemeene Middlebare School (AMS)
Pada zaman kolonial Belanda pendidikan menengah setara SMA pada saat itu disebut dengan nama AMS, baru didirikan oleh pemerintahan kolonial sekitar awal abad ke-20.
Berbagai aktivitas seperti pengajian mulai berkembang secara bertahap, setelah cukup sukses berdakwah “terselubung” dengan cara membuka praktek pengobatan terhadap berbagai macam penyakit terhadap masyarakat. Karena kemurahan dan kelembutan hati Hadratussyaikh melahirkan simpati dari masyarakat terhadap pondok pesantrennya.
“Kitab-kitab yang diajarkan oleh Hadratussyaikh sendiri disesuaikan dengan kebutuhan para santrinya. Kitab Riyadhus Shalihin dikaji setiap setelah shalat Shubuh. Sedangkan kitab Fathul Qarib dikaji setiap setelah shalat Ashar. Tak ketinggalan materi tentang ilmu bela diri diajarkan pada malam hari. Karena pondok pesantren ini masih disamarkan ke dalam bentuk padepokan silat maka pihak pengurus pesantren Tebuireng mendatangkan para jagoan silat dari berbagai daerah yang notabenenya mereka juga nyantri. Santri-santri yang sengaja didatangkan ke Tebuireng mayoritas berasal dari Cirebon dipimpin oleh Abdullah. Para Santri yang mondok di Pesantren Tebuireng ini awal mulanya berjumlah 28 orang untuk angkatan pertama. Bangun pertama yang dimiliki oleh pondok ini berupa barak sepanjang 100 meter, bentuknya segi empat, barak ini juga menyatu dengan bangunan yang mereka gunakan sebagai masjid. Selain pondok, Pesantren Tebuireng juga memiliki lapangan untuk berlatih ilmu kanuragan dan ilmu pencak silat. Luasnya mencapai 1.000m2.”
(Miftahuddin, 2017 : 77-78). utamanya kaum pribumi tidak adanya persatuan yang kokoh hal ini akibat dari kebijakan politik yang digunakan pemerintah kolonial yaitu Devide et impera atau Politik adu domba. Contoh nyata juga terjadi di Tebuireng dimana terjadi perselisihan yang mengakibat perlawanan dari golongan Santri (putihan) melawan golongan Abangan (coklat).
Tebuireng pada saat itu selain dibawah kontrol tentara Kerajaan Belanda / KNIL yang mengawasi arus produksi dan distribusi pabrik gula Tjukir yang menjadi mesin penghasil uang bagi pemerintah kolonial. Terdapat satu padepokan silat yang beraliran ilmu hitam bernama Kebo Kicak yang dipimpin oleh Wiro. Ini menjadi ancaman sekaligus tantangan tersendiri bagi perkembangan padepokan silat asuhan Hadratussyaikh yang baru eksis belum lama ini.
Santri di Pesantren Tebuireng awalnya terbagi ke dalam dua jenis yang pertama adalah rakyat yang nyantri untuk mendalami ilmu agama dan ada juga santri khusus yang didatangkan dari luar daerah bertujuan mendalami ilmu agama sambil mengajarkan ilmu bela diri kepada santri dari rakyat biasa. Hadratussyaikh bukan tanpa alasan membekali santrinya ilmu bela diri, beliau menginginkan bahwa santri-santrinya selain menjadi muslim yang unggul dalam pemahaman ilmu agama tetapi juga unggul dalam ilmu bela diri agar menjadi muslim yang tangguh.
Setelah kerusuhan-kerusuhan yang ditimbulkan oleh anak-anak buah Wiro para santri yang sering menjadi korban kerusuhan mulai mengambil tindakan tegas dengan mencoba menggalang kekuatan untuk melakukan perlawanan terhadap padepokan silat beraliran hitam pimpinan Wiro itu. Hasil musyawarah para santri yang di fasilitasi oleh Kiai Sakiban orang yang menjual tanahnya kepada KH Hasyim untuk mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng ini. Memutuskan bahwa jalan keluarnya adalah dengan mengajak Padepokan silat Kebo Kicak khususnya Wiro sebagai pimpinannya. Beradu kekuatan dan kemahiran dalam ilmu bela diri dengan salah satu jagoan silat yang dimiliki Pesantren Tebuireng yaitu Abdullah. Singkat cerita Wiro dan Abdullah bertarung dilapangan dekat pondok Pesantren Tebuireng, hasilnya Abdullah memenangkan pertarungan atas Wiro. Semenjak kekalahan padepokan Kebo Kicak oleh padepokan Pesantren Tebuireng nama Pondok Pesantren Tebuireng dan KH Hasyim Asy’ari sebagai pengasuhnya semakin dikenal luas oleh pers dari kaum pribumi yang sedang berkembang dan masyarakat Hindia Belanda.
demikian, biasanya mereka tetap merasa bangga pernah nyantri di Tebuireng, dan berharap dapat barakah dari seorang alim sekaligus saleh sekelas Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.” (Miftahuddin, 2017 : 84).
Angkatan pertama Pondok Pesantren Tebuireng hanya 28 orang, namun tiga bulan pertama semenjak berdirinya pondok ini bertambah jumlah santrinya menjadi 80. Peningkatan jumlah santri yang belajar dan mengajar ilmu agama di Pesantren Tebuireng bukannya tanpa sebab, sebab utamanya tentu dari kharisma, keluasan ilmu dan kesederhanaan pimpinannya sendiri. Hadratussyaikh sendiri hidup sangat sederhana walaupun beliau berasal dari keluarga yang berkecukupan tidak menjadikan dunia sebagai orientasi utama dalam hidupnya. Kesederhanaan ini beliau tunjukan kepada santri-santrinya dalam berpakaian. Pakaian yang tidak pernah lepas dari tubuhnya adalah jubah dan sorban.
Pembaharuan-pembaharuan mulai diterapkan di sistem pendidikan Pesantren Tebuireng seperti memasukan mata pelajaran yang dianggap penting untuk digunakan secara praktis oleh para santri untuk menunjang kemahiran mereka dalam urusan duniawi. Khususnya bahasa belanda sebagai jalan untuk memperlancar komunikasi dengan pejabat daerah apabila Pesantren Tebuireng memiliki kepentingan untuk kemaslahatan Pesantren Tebuireng dan masyarakat sekitar. dengan jumlah koleksi buku mencapai 1.000 judul buku. Fasilitas ini diperuntukan menunjang sistem belajar dan mengajar para santri. Mayoritas koleksinya tentang buku-buku agama islam selain buku terdapat juga koleksi majalah-majalah dan koran yang berlangganan. Agar informasi terkini yang terjadi di Hindia Belanda dapat diketahui secara aktual oleh kalangan santri sehingga dapat mengikis kesenjangan ilmu pengetahuan dan berita-berita terkini yang diketahui oleh para siswa-siswi perkotaan apalagi yang menuntut ilmu di sekolah barat atau sekolah pemerintah kolonial dengan para santri yang belajar di lingkungan pedesaan.
Tjukir dan Denanyar. Jumlah santri kalong (yang datang hanya pada wkatu mengaji di malam hari) baik pria maupun wanita 608 orang. Menurut catatan buku induk pesantren, 504 santri berasal dari Jawa Timur, 275 Jawa Tengah, 265 Jakarta, 185 Jawa Barat, dan 85 luar Jawa. Kebanyakan santri berasal dari keluarga petani, pedagang, dan pemimpin-pemimpin agama yang tergolong berkecukupan.” (Miftahuddin, 2017 : 85-86).
Kiai Hasyim dalam menerapkan sistem pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng menggunakan sistem tutor sebaya atau yang lebih tua. Membiasakan sistem belajar secara berkelompok untuk lebih memudahkan santri-santri yang masih minim akan pengetahuan dan pengalaman menutut ilmu agama mendapat bimbingan dari santri-santri yang dulu ngaji di Pondok Tebuireng. Tidak ada senioritas berdasarkan usia dalam belajar ilmu agama yang ada hanya siapa yang lebih dulu ngaji maka ia harus dihormati. Disebabkan ia telah hijrah lebih dulu untuk menuntut ilmu agama.
Kitab-kita yang menjadi panduan utama dalam belajar di Pondok pesantren Tebuireng adalah :
1. Tuhfatul Athfal untuk kelas satu, 2. Al-‘Imrithy untuk kelas dua, 3. Jurumiyah untuk kelas tiga, 4. Al-Maqshud untuk kelas empat,
5. Alfiyah Ibnu Malik untuk kelas lima dan enam dan, 6. Al-Jawahir al-Maknun untuk kelas enam.
Kiai Hasyim selalu memimpin shalat fardhu secara berjamaah, Kiai Hasyim tidak pernah meninggalkan shalat berjama’ah kecuali ada uzur syar’i, beliau selalu membangunkan para santrinya dengan berkeliling pondok khususnya ketika menjelang waktu shalat Shubuh. Selain berkeliling Kiai Hasyim juga membawa tongkatnya yang siap dilemparkan kepada siapapun santrinya yang bermalas-malasan untuk bangun shalat Shubuh.
Tanpa ragu Kiai Hasyim yang saat itu sedang menuntut ilmu kepada Kiai Kholil Bangkalan langsung mencari cincin istri gurunya yang masuk ke dalam wc, Kiai Hasyim membongkar wc tersebut dan menggali isinya hingga ditemukannya cincin istri gurunya itu. Ini adalah bukti kesungguhan dan pengorbanan seorang murid untuk mencari ridha dari gurunya sang pemilik ilmu yang sedang ia tekuni. Singkat cerita KH Kholil bangga dan berterima kasih kepada Kiai Hasyim yang sudah mencarikan barang yang sangat dicintai istrinya itu.
“Aku ridha padamu wahai Hasyim. Kudoakan dengan pengabdianmu dan ketulusanmu, derajatmu ditinggikan. Engkau akan menjadi orang besar, tokoh panutan, dan semua orang cinta padamu.” – KH Kholil Bangkalan.
“Menurut Istilah, “pesantren” diambil dari kata “santri” mendapat penambahan “pe” di depan dan “an” di akhir; dalam bahasa Indonesia, berarti tempat tinggal santri, tempat para pelajar mengikuti pelajaran agama. Sedangkan istilah “santri” diambil dari kata shastri (castri = India), dalam bahasa Sansakerta bermakna orang yang mengetahui Kitab Suci Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku tentang ilmu pengetahuan. Namun demikian, setelah kedatangan Islam ke Indonesia, tujuan lembaga ini diubah dari tujuan semula, yaitu tempat belajar agama Hindu, menjadi tempat mempelajari ajaran Islam.” (Ahmad, 2017 : 123).
Santri & Pesantren menjadi ciri khas dari sistem pendidikan agama Islam di Indonesia. Arti santri tidak hanya terpaku kepada mereka yang mondok saja lebih luas daripada itu santri yaitu mereka yang menuntut ilmu agama dimana pun tempatnya baik di pesantren atau sekolah mereka itu santri, mereka mendalami pelajaran-pelajaran agama untuk kemaslahatan diri maupun masyarakatnya. Santri adalah mereka yang meluangkan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu ke berbagai tempat semata-mata supaya Allah ridha terhadap ilmu yang mereka tekuni.
Pesan dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari kepada para santri :
“Seorang santri harus menyucikan hatinya dari segala hal berunsur menipu, kotor, penuh dendam, hasut, keyakinan yang tidak baik, dan budi pekerti yang tidak baik. Hal itu dilakukan supaya santri pantas menerima ilmu, menghafalkannya, meninjau kedalaman maknanya, dan memahami makna yang tersirat.” – KH Hasyim Asy’ari
Oleh : Ahmad Rofi’ Usmani
Tokoh Muslim Indonesia yang pemikirannya dan karya-karyanya banyak mengilhami pemikiran kiai-kiai di Indonesia. Ia putra pasangan Kiai Asy’ari asal Demak, yang keturunan Raja Majapahit dari Joko Tingkir, dan Halimah binti Kiai Usman asal Jombang. Hasyim Asy’ari lahir di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur, pada Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1284 H/ 14 Februari 1871 M.
Setelah menimba ilmu di kota kelahirannya di bawah bimbingan kakeknya, Kiai Usman, Hasyim belajar di sejumlah pesantren di Jawa : Purbolinggo, Langitan, Semarang, Trenggilis, Madura, Panji Siwalan, dan lain sebagainya. Saat berusia 20 tahun, yakni pada 1310 H/ 1892 M, ia bermukim di Makkah selama 8 tahun untuk menimba ilmu kepada sejumlah ulama terkemuka di sana, terutama kepada Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, dan Syaikh Mahfuzh Al-Tarmisi.
Sekembalinya dari perantauan, menantu Kiai Ya’qub dan Kiai Ilyas ini mendirikan pesantren di kampung halamannya, Tebuireng, Jombang. Lewat pesantren inilah, Hasyim Asy’ari mencetak kiai-kiai dengan bakat kepemimpinan yang tangguh. Hingga pada 1345 H/ 1926 M, ia bersama beberapa ulama mendirikan sebuah organisasi sosial kemasyarakatan bernama Nahdlatul Ulama. Sementara, dalam konteks politik kebangsaan, peran Hasyim Asy’ari sangat besar, antara lain lewat keikutsertaannya mendirikan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang terbentuk pada Selasa, 16 Rajab 1356 H/ 21 September 1937 M. Setahun menjelang kemerdekaan Indonesia, oleh pemerintah pendudukan Jepang, ia ditunjuk sebagai Kepala Kantor Urusan Agama untuk wilayah Jawa Timur dan Madura hingga pada awal kemerdekaan Indonesia, ia terpilih sebagai pemimpin tertingginya.
Ramadhan 1366 H/ 25 Juli 1947 M, pada usia 76 tahun dengan meninggalkan beberapa karya tulis, antara lain Al-Durar AL-Muntasyirah fi Masa’il Al-Tis’a ‘Asyarah, Al-Tibyan fi Al-Nahy ‘an Muqatha’at Arham wa Aqarib wa Ikhwan, dan Qanun Al-Asasi. Hasyim Asy’ari dalam kancah nasional. Oleh karena itu beliau pantas mendapatkan penghargaan gelar Pahlawan Nasional. Meski Sang Kiai sudah tak ada ditengah-tengah kita sekarang namun peninggalan dan jejak warisannya terus berkembang hingga saat ini. Diantaranya Pondok Pesantren Tebuireng yang menjadi salah satu contoh sistem pendidikan agama Islam di Nusantara. Segala sumbangsih beliau yang telah diberikan untuk bangsa Indonesia semoga menjadi amal jariyah bagi almarhum Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.
“Di Asia tenggara, kemampuan Pesantren dan jaringan keilmuan dari Timur Tengah, telah mampu membuat cetak biru Peradaban Islam di Asia Tenggara. Dapat dibayangkan bahwa jika Pesantren tidak ada, sampai saat ini, agak sulit bagi umat Islam untuk mempertahankan tradisi keislaman, baik yang bersifat lokal maupun internasional.” (Ahmad, 2017 : 147).
menimba ilmu di berbagai pondok pesantren dan madrasah di Indonesia.” (Miftahuddin, 2017 : 16-17).
Penutup
Terima kasih kepada para pembaca yang budiman yang telah
meluangkan waktunya untuk membaca hasil makalah yang telah
ditugaskan kepada penulis. Penulis harap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Selama penyusunan makalah ini penulis banyak terinspirasi oleh biografi KH Hasyim Asy’ari karya :
Dr. Miftahuddin. Yang penulis jadikan sebagai sumber utama dalam penulisan makalah ini semoga apa yang beliau tuliskan menjadi amal
jariyah sebagai ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak.
Penulis juga tak lupa ucapkan terima kasih kepada orang tua yang
selalu memberikan support baik materil maupun non-materil kepada
penulis. Selain itu kepada kucing-kucing penulis yang menjadi penyejuk pikiran dikala penat dalam menyusun makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini penulis masih dalam proses belajar untuk semakin memantapkan cara penulisan makalah yang baik dengan menggunakan sistematika yang berlaku. Kelebihan dari penulisan makalah ini terhadap penulis pribadi mulai menyadarkan rasa keingintahuan yang lebih mendalam mengenai perjuangan kemerdekaan yang diujung tombaki oleh para kiai dan santri. Makalah ini menggunakan sumber-sumber yang kredible, Insya Allah dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Kekurangannya terletak pada wawasan penulis mengenai biografi KH Hasyim Asy’ari yang masih sangat umum dan perlunya membaca lebih lanjut agar paham betul mengenai rekam jejak perjuangan Hadratussyaikh dalam membela kemerdekaan Indonesia.
Daftar Pustaka
Miftahuddin. 2017. KH Hasyim Asy’ari (Membangun, Membela dan Menegakkan Indonesia). Bandung : Penerbit Marja.
Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. 2017. Islam Historis (Dinamika Studi Islam di Indonesia). Yogyakarta : Jogja Bangkit Publisher.