Pohon-pohon Peneduh di Ruang Terbuka Hijau
Sarah Agustiorini,
Mahasiswa Pasca Sarjana Biologi IPB
Meneduhkan Kota
Matahari pagi nampak cerah, sinar terangnya menyinari Kota Hujan yang sudah jarang di kunjungi sang hujan. Mobil hijau melaju di permukaan aspal hitam sepanjang jalan Kapten Muslihat, rapi berebut saling mendahului. Tentu saja, hari ini adalah Senin pagi dan semua manusia tergesa-gesa mengejar tugas dan setoran. Hari kesibukan bermula, deadline dikejar dan dinding kantor berisik dengan suara perdebatan saat rapat.
Tepat di ujung jalan berdiri pohon besar berdaun lebat, akarnya menjulur kesegala arah mengusai seluruh halaman rumah putih besar yang dihuni oleh orang nomor satu di Indonesia. Di halaman itu juga nampak rusa coklat totol putih berkeliaran. Bukan hanya satu atau dua ekor, tapi ratusan ekor.Rusa-rusa itu adalah penghibur sang penguasa negeri. Kala sang penguasa bosan dan jenuh maka rusa tersebutllah yang bertugas menghiburnya, dengan kerlingan mata bulat hitam sang rusa seakan menyihir siapapun yang mendekatinya.
Dalam sebuah kota akan selalu ada pohon-pohon kecil hingga besar yang ditanam atau tumbuh alami di setiap taman atau jalan yang dilewati oleh para pengendara motor atau mobil. Fungsinya untuk meneduhkan kota, dan jika masyarakat membutuhkan penyegaran karena jenuhnya hari, bisa saja
sewaktu-waktu mereka menyambangi taman tersebut. Konsep taman kota dan jalur hjau inilah yang mulai giat dikembangkan oleh kota Bogor dan beberapa kota lainnya di Indonesia seperti Bandung, Surabaya, dan Samarinda, sebagai jawaban keluhan masyarakat karena suhu kota yang semakin panas.
Ruang Terbuka Hijau (RTH), sebutan yang sering digunakan untuk lokasi
tumbuhnya pohon-pohon peneduh tersebut. Hutan Kota dan jalur hijau di sekitar jalan kota merupakan RTH yang kerap kita jumpai. Kota-kota besar atau kecil di Indonesia wajib memiliki RTH sebagai mandat undang-undang Nomor 26/2007 tentang Penataan Ruang Setidaknya setiap kota yang disyaratkan memiliki RTH paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota, RTH yang terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat. Proporsi RTH publik pada
wilayah kota paling sedikit 20 persen dari luas wilayah kota1.
Hutan Kota2, yang merupakan salah satu model RTH memiliki fungsi sebagai
penjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan baik itu unsur lingkungan, sosial dan budaya. Hutan Kota berfungsi sebagai penyerap emisi karbon yang dikeluarkan oleh kendaraan dan industri. Emisi yang dikeluarkan oleh kendaran bermotor dan kegiatan industri tersebut merupakan salah satu alasan mengapa pemanasan global terjadi hingga salah satu dampak yang ditimbulkan dari meningkatnya aktivitas gas-gas rumah kaca tersebut mengakibatkan suhu rata-rata bumi terus meningkat.
Hutan kota dan jalur hijau merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di atmosfir, dengan harapan pemanasan global bisa dicegah dari tengah perkotaan.
1Undang-undang No.26 tahun 2007 tentang Penataan. Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Website: http://bapenas.go.id
Kota Bogor tahun 2015 sudah tidak sama lagi dengan Kota Bogor tahun 2000. Saat ini Bogor hanya memiliki RTH seluas 2.207 ha (10 peren) dari luas
kotanya3. Predikat kota hujan yang dingin sudah hampir ditanggalkannya. Suhu
kota ini sudah semakin panas, kendaraan bermotor sudah memenuhi jalanan perkotaan hingga pelosok desa, kemacetan lalu lintas hampir tidak dapat
dikendalikan setiap jam pergi dan pulang kerja, terlebih lagi pada saat hari libur tiba, masyarakat dari luar kota akan ramai berkunjung ke kota ini sehingga kemacetan makin tak terhindarkan.
Begitu pula dengan Kota Samarinda yang merupakan ibu Kota Kalimantan Timur, Kota kecil yang berada di tengah hamparan hutan hujan tropis Asia tersebut, kini suhu kotanya dapat mencapai 34 dejarat celcius. RTH yang hanya
mencapai 1,05 persen dari luas kota4 dan aktivitas pertambangan batu bara
yang mengkapling 71 persen dari luas kota5 menjadi penyebab utama mengapa
kota ini begitu panas dan banjir selalu mengunjunginya. RTH mulai dibangun di Kota Samarinda, salah satu caranya ialah membuat taman kota. Cara paling ekstrim yang dilakukannya adalah memindahkan dua sekolah yang terdapat ditengah kota, dan kemudian membuat taman di lokasi bekas sekolah tersebut.
Sementara kota lainnya yang juga sekarang sedang bersemangat untuk menjadikan kotanya hijau adalah Surabaya. Saat ini Kota Surabaya sudah memiliki RTH seluas 26 persen dan menargetkan luas RTH kotanya bisa di atas 30 persen. Penambahan RTH tersebut bertujuan agar Surabaya bisa lebih sejuk, minim polusi, bebas banjir karena banyaknya resapan. Pemerintah Kota
menargetkan luas RTH di Surabaya dapat mencapai 35. Dengan luas RTH
sebesar itu dapat menurunkan suhu udara rata-rata di Surabaya dari 34 derajat
celcius menjadi 32-30 derajat celcius6. Lalu kota Bandung di Jawa Barat, kota ini
sejak awal tahun 2013 lalu ramai diberitakan bahwa pemerintah kotanya
sedang serius merevitalisasi taman-taman agar dapat lebih nyaman bagi warga kotanya. Namun luas RTH Kota Bnadung yang telah disediakan oleh kota
tersebut baru mencapai 11 persen7.
Jenis-Jenis Pohon di Ruang Terbuka Hijau
Tahukah kita asal dan jenis pohon apa saja yang telah ditanam oleh pemerintah di kota-kota, serta pohon-pohon apa saja yang berfungsi sebagai penyerap karbon dan pencegah banjir seperti tujuan mengapa Ruang Terbuka Hijau yang harus mencapai 30 persen pada setiap kota.
Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2008 tentang pedoman penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan
perkotaan8 terdapat 101 pilihan vegetasi untuk ditanam. Pedoman tersebut juga
merekomendasikan kelompok tanaman yang ditanam seperti pohon, perdu dan semak. Terdapat berbagai macam kategori, mulai dari pohon beraroma, pohon
3 Bogor kebut RTH, http://www.republika.co.id/berita/koran/urbana/14/10/07/nd2h0a40-bogor-kebut-bangun-rth 4 Draft Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Tentang Pengelolaan Batubara Kota Samarinda
http://borneo2020.org/wp-content/uploads/2012/01/jatamkaltim-samarinda-naskahakademis-2.pdf 5 Deadly Coal, Jatam Kaltim, http://english.jatam.org/dmdocuments/DC persen 20ingg02.pdf
6 Luas hutan kota Surabaya ditarget 35 persen, http://www.enciety.co/luas-ruang-terbuka-hijau-surabaya-ditarget-35-persen/
7 Walhi Minta Bandung Teknopolis Dikaji Ulang, http://m.inilah.com/news/detail/2184306/walhi-minta-bandung-teknopolis-dikaji-ulang
berdaun indah dan pohon berbunga indah serta perdu dan semak memiliki kategori yang sama seperti pohon tersebut.
Jika kita lihat isi dari lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tersebut 96 persen jenis vegetasi tanaman yang direkomendasikan bukan merupakan tumbuhan asli yang berasal dari Indonesia. Sebagian besar tumbuhan tersebut berasal dari wilayah Amerika, Autralia, India, Cina, Brasil, Thailand dan Afrika serta Indo-China. Dari daftar vegetasi tersebut 37 jenis diataranya terdapat di
Kota Bogor dan Kota Samarinda yang kebanyakan terdapat di Hutan Kota9.
Angsana (Pterocarpus indicus), Mahoni Daun Besar (Swietenia macrophylla),
Mahoni Daun Kecil (Swietenia mahagony), Glodokan (Polyalthia longifolia),
Palem Raja (Oreodoxa regia), Trembesi (Samanea saman), Bungur
(Lagerstromia elongata) dan Bintaro (Cerbera mangas) merupakan jenis pohon yang akan selalu kita temui pada jalur hijau setiap kota. Tumbuhan tersebut memiliki sistem perakaran yang cukup kuat dan tajuknya berfungsi sebagai peneduh, penyerap polusi serta pemecah angin.
Ada tiga perspektif yang dipakai oleh pemerintah dalam memilih jenis vegetasi tanaman peneduh yaitu dilihat dari bentuk tajuk, percabangan batang dan percabangan akar. Jika memenuhi kriteria maka tanaman tersebut akan ditanam di arealRTH. Namun sayangnya hingga saat ini, Indonesia masih memakai
tumbuhan dari luar Indonesia, padahal jika memakai tiga perspektif tersebut ada banyak jenis tumbuhan dari wilayah Hutan Hujan Tropis ini bisa ditanam di RTH, tanpa harus menggunakan tumbuhan dari luar Indonesia.
Menanam Pohon Peneduh Lokal
Indonesia merupakan Negara dengan Hutan Hujan Tropis yang kaya akan
kekaragaman hayati, khususnya tumbuhan. Seperempat dari jumlah total jenis tumbuhan di dunia terdapat di Indonesia. Namun hingga saat ini pemerintah Indonesia nampaknya belum mengetahui hal tersebut, karena jika kita lihat pada salah satu kebijakan yang mengacu pada pemanfaatan tumbuhan untuk mengihujaukan kota di Indonesia pemerintah merekomendasikan sejumlah jenis tumbuhan yang rata-rata berasal dari luar Indonesia, bukan tanaman asli
Indonesia.
Banyak pahon-pohon dari hutan Indonesia yang bisa digunakan sebagai
peneduh di RTH. Pohon kweni (Mangifera odorata Griffith) dan pohon binjai
(mangifera kemanga Blume) juga merupakan kelompok pohon buah mangga
yang endemik dari Borneo dan Sumatra10, memiliki karakter yang hampir sama
dengan Pohon mangga (Mangifera indica) untuk kebutuhan peyerapan emisi
dan penghasil buah di RTH. Tajuknya yang cukup besar untuk memecah angin dan meyerap emisi karbon, serta memiliki sistem perakaran dan cabang yang dapat menjadi saja salah satu alternatif tumbuhan lokal yang pakai untuk
menggantikan mangga (Mangifera indica) untuk dikembangkan dan ditanam di
RTH.
Pohon-pohon yang ditanam di RTH fungsinya bukan hanya sekedar meneduhkan atau menyerap emisi karbon semata, namun juga akan memberikan manfaat lain dalam kehidupan sehari-hari, baik dari segi sosial, budaya dan menjadi
9 Hasil identifikasi penulis, Sarah Agustiorini
sumber pangan masyarakat. Ekologi merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menunjang tumbuh dan berkembangnya pohon-pohon di RTH, demi mencapai manfaat yang diharapkan. Jika keadaan ekologinya sesuai dengan yang dibutuhkan, maka manfaat lain akan muncul dengan sendirinya, seperti hubungan sosiologi manusia dengan alam. Hubungan inilah yang diharapkan adanya RTH di perkotaan, rasa menghargai alam.
Budaya Menanam Pohon dan Masa Depan Hutan Kota
Sepuluh tahun terakhir pemerintah Indonesia mulai serius mengkampanyekan budaya menanam pohon hingga keseluruh pelosok negeri. Karena lingkungan di Indonesia saat ini dalam keadaan yang memprihatinkan dengan maraknya bencana alam yang melanda, salah satunya adalah banjir.
Sejak 7 tahun terakhir banjir telah menjadi masalah nasional yang tak kunjung usai, pengembangan dan pengelolaan hutan kota merupakan salah satu tradisi awal menanam pohon yang merupakan bagian dari penataan ruang di
perkotaan untuk mewujudkan kota yang ramah lingkungan dan untuk mencegah
banjir. Hutan kota juga merupakan refleksi dari berbagai gagasan tentang
kehidupan yang aman dan sejahtera.
Ada beberapa faktor penting pendukung perluasan hutan kota sebagai salah satu bagian RTH di Indonesia, yaitu pengembangan dan pengelolaan hutan kota tersebut oleh lembaga yang menangani dan mengelola hutan kota. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan pembangunan, pemeliharaan, pemanfaatan dan pengendalian pengembangannya. Serta pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan terutama dari kementerian pemerintah, pemerintah kota, lembaga swadaya masyarakat, institusi akademis, pihak swasta, kelompok-kelompok masyarakat dan masyarakat kota11.
Selain faktor pendukung terdapat pula faktor penghambat dalam pembangunan hutan kota, lahan yang terbatas di kota-kota seringkali digunakan untuk
berbagai kepentingan yang lebih bersifat komersial dan alih fungsi lahan yang
sering juga terjadi, misalnya saja kota Samarinda menyusutnya luasan hutan kota karena di alih fungsikan sebagai areal pembangunan pusat perbelanjaan serta beberapa wilayahnya telah di jadikan kawasan pertambangan.
Pembangunan kota yang kurang terencana dengan baik telah banyak
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup yang pada akhirnya
dapat menyebabkan turunnya kualitas lingkungan hidup kota.
Hutan Kota merupakan salah satu alternatif yang baik dalam mengatasi
masalah lingkungan hidup di kota. Melalui fungsi dan peranannya yang sangat
beragam, Hutan Kota dapat membantu mengatasi pencemaran udara, meredam
kebisingan, menjaga tata air, dan melestarikan plasma nutfah, di samping dapat juga menghasilkan udara segar serta sebagai sarana pendidikan dan rekreasi
bagi masyarakat kota.
tumbuhan dari luar Indonesia, untuk menghijaukan dan meneduhkan kotanya seperti saat ini. Serta peraturan menteri mengenai jenis vegetasi yang ditanam di RTH mestinya harus juga mengkaji dan merekomendasikan tumbuhan
endemik Indonesia untuk ditanam di Kota-kota Indonesia.
Table. Daftar Hasil Identifikasi Jenis Pohon Yang Dominan Terdapat Di Hutan Kota Dan Jalur Hijau Kota Bogor Dan Samarinda.
No Nama Lokal Nama Ilmiah Asal
Tanaman12
1 Akasia daun
besar Acacia mangium Australia
2 Akasia kuning Acacia
auriculaeformis Australia
3 Angsana Pterocarpus indicus Malesia
4 Asam Tamarindus indica India
5 Beringin Ficus benjamina Malesia
6 Bintaro Cerbera mangas China
7 Bogenvil Bougenvillea glabra Brasil
8 Bunga
saputangan Maniltoa grandiflora Irian Jaya (Indonesia)
9 Bungur jepang Lagerstromea
elongata Jepang
10 Bungur Lagerstromea indica Malesia
11 Cempaka Michelia champaka India
12 Camara laut Casuarina
equisetifolia Thailand
13 Damar Agathis damara Philipine
14 Flamboyan Delonix regia Madagascar
15 Glodokan Polyathia longifolia Srilangka
16 Jati Tectona grandis Peninsula India
17 Kaliandra Calliandra
haematocephala Amarika utara
18 Kembang
merak Caesalphinia pulcherrima Amerika tengah
19 Kamboja
merah Plumeria rubra Amarika utara
20 Kersen Muntingia calabura Mexico
21 Ketapang Terminalia cattapa India
22 Kupu-kupu Bauhinia purpurea Asia Tenggara
23 Mahony daun
lebar Swietenia macrophylla India
24 Mahony daun
kecil Swietenia mahagony India
25 Mangga Mangifera indica India
12 Lemmens RHMJ, Soerianegara I, and Wong WC. 1995. Prosea No.5 (2) Timber Trees: Minor Commercial Timbers. Bogor. Indonesia Lemmens RHMJ, and Bunyaprahatsara N. 2003. Prosea No. 12 (3) Medicinal and Poisonus Plants 3. Backhuys Publishers, Leiden. Oyen LPA, and Xuang Dung N. 1999. Prosea No. 19 Essential Oil Plants. Bogor. Indonesia.
Padua de LS, Bunyaprahatsara N, and Lemmens RHMJ. 1999. Prosea No. 12 (1) Medicinal and Poisonus Plants 1. Backhuys Publishers, Leiden.
Samsoedin dan Waryono. 2010. Hutan kota dan keanekaragaman jenis pohon di Jabodetabek. Yayasan KEHATI Indonesia Biodiversity Foundation.
Sastrapradja S, et al. 1977. Tanaman Hias. Lembaga Biologi Nasional. Bogor. Siemonsma JS, and Piluek K. 1994. Prosea No. 8 Vegetable. Bogor. Indonesia.
Sosep MSM, Hong LT, and Prawirohatmodjo S. 1998. Prosea No. 5 (3) Timber Trees: Lesser-Known Timbers. Jakarta. Indonesia.
26 Palem raja Oreodoxa regia Florida (USA)
27 Pinus Pinus merkusii Myanmar
28 Soka Ixora stricata India
29 Tanjung Mimusops elengi India
30 Trembesi Samanea saman America selatan
31 Lamtoro Leucaena
leucocepala Guatemala
32 Pulai Alstonia scholaris Polynesia
33 Randu Ceiba petandra AmeriKa
34 Alamanda Allamanda cathartica Brazil
35 Melati Jasminum sambac Malesia
36 Puring Codiaeum
variegatum bi. Maluku (Indonesia)
17 Maret 2015