• Tidak ada hasil yang ditemukan

DUKUNGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA UNTUK PENGEM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DUKUNGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA UNTUK PENGEM"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

DUKUNGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA

UNTUK PENGEMBANGAN SAMBILOTO

(

Andrographis paniculata

Nees)

Muchamad Yusron

Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Dengan klaim khasiat obat yang cukup banyak, sambiloto merupakan salah satu tanaman obat yang banyak dibutuhkan dalam industri obat tradisional. Badan POM me-masukkan tanaman ini sebagai tanaman ung-gulan untuk dikembangkan dalam industri obat fitofarmaka. Bahan baku sambiloto harus di-persiapkan dalam bentuk simplisia dan ekstrak terstandar melalui penerapan teknologi budi-daya baku. Teknologi budibudi-daya telah tersedia, mulai dari bahan tanaman yang bermutu, tek-nologi pengelolaan tanaman di lapang, sampai proses pengolahan hasil. Pengembangan sam-biloto harus didukung dengan pewilayahan komoditas, sehingga diperoleh hasil yang op-timal dengan mutu yang baik. Upaya mening-katkan pendapatan usahatani sambiloto dila-kukan dengan pola tumpangsari dengan jagung. Pengembangan sambiloto harus dilakukan dengan mengikutsertakan industri, baik di ting-kat lapang dengan petani maupun dalam penyediaan teknologi prosesing skala komer-sial.

Kata kunci : Teknologi, budidaya, Andrographis paniculata Nees, pengembangan

ABSTRACT

Support of Cultivation Technology on Development of King of Bitter (Andrographis paniculata Nees)

Andrographis paniculata is one of the herbal medicinal plants known and used by traditional medicinal industry. Agency for Drug and Food Control has put this plant as one of the priorities in the development of phytopharmaceutical drugs. Therefore standardized dried and extract raw materials

must be produced through the application good agricultural practices, including high yield plant material, crop management and post-harvest processing. Development program of king of bitter should be supported by policies, such as identification of andrographis growing area, introducing intercropping system, and providing commercial scale extraction techno-logy. Development of king bitter include local industrial sector, and farmers.

Keywords : Technology, cultivation, Andographis paniculata, development

PENDAHULUAN

(2)

digunakan baik oleh Industri Obat Tra-disional (IOT) maupun Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT). Jumlah serapan sambiloto segar per tahun untuk kedua jenis industri obat tersebut adalah 471.567 kg dan 385.840 kg, masing-masing untuk IOT dan IKOT (Kemala et al., 2004).

Yusron et al. (2004a) melaporkan bahwa bahan baku sambi-loto untuk industri obat tradisional di-ambil dari tumbuhan liar dengan kon-disi lingkungan yang sangat beragam. Hal ini yang menyebabkan mutu sim-plisia yang dihasilkan sangat beragam pula. Mutu simplisia yang dipanen Kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah, bahkan tidak memenuhi standar mutu Materia Medica Indonesia (MMI).

Saat ini sambiloto telah ditetap-kan sebagai tanaman obat yang dikem-bangkan sebagai obat fitofarmaka. Salah satu syarat obat fitofarmaka ada-lah bahan yang digunakan dapat diper-tanggungjawabkan secara medis. Un-tuk itu perlu dukungan ketersediaan teknologi yang cukup, agar dapat diha-silkan simplisia dan ekstrak terstandar. Teknologi tersebut harus mencakup dari penyediaan bibit sampai dengan pasca panen. Penerapan teknik budi-daya yang baku diharapkan dapat menyediakan bahan baku dalam jum-lah yang memadai, mutu sesuai standar, dan kontinyuitas pasokan bahan baku dapat dijamin.

Tulisan ini dimaksudkan untuk menguraikan teknologi yang telah ter-sedia, teknologi yang masih perlu di-kembangkan, dan arah kebijakan

pengembangan sambiloto untuk men-dukung program industri obat fito-farmaka.

DAERAH PENGEMBANGAN

Secara alami, sambiloto mampu tumbuh mulai dari dataran pantai sam-pai dataran tinggi dengan kondisi jenis tanah dan iklim beragam. Yusron et al. (2004a) mengemukakan bahwa sambi-loto ditemukan pada tanah pasir pantai sampai pada ketinggian 900 m dpl pada tanah Andosol yang subur dan tipe ik-lim B (Schmidt dan Ferguson, 1951). Secara umum, sambiloto tumbuh di alam pada kondisi yang relatif ternaungi di bawah tegakan hutan. Namun demikian untuk mendapatkan hasil yang optimum dengan mutu yang memenuhi standar MMI, sambiloto membutuhkan kondisi agro-ekologi yang sesuai dan optimal. Vanhaelen et al. (1991) dan Yusron dan Januwati (2004a) mengemukakan bahwa faktor agroekologi sangat menentukan pertumbuhan, hasil, dan mutu simplisia sambiloto. Hasil penelitian Yusron dan Januwati (2004a) di Jawa Barat menunjukkan bahwa faktor agro-ekologi yang mempengaruhi hasil dan mutu simplisia sambiloto adalah ke-tinggian tempat dan ketersediaan air (curah hujan).

(3)

merupakan faktor ekologis yang sangat menentukan pertumbuhan dan kan-dungan bahan aktif tanaman sambiloto. Pertanaman sambiloto yang kekurang-an air cenderung berbunga dkekurang-an membentuk buah lebih awal, sehingga menurunkan produksi terna dan kandungan bahan aktif. Januwati dan Nurmaslahah (2008) melaporkan bahwa kebutuhan air sambiloto untuk menghasilkan produk terna tertinggi dan mutu memenuhi standar MMI adalah 5 mm/hari. Apabila ketersediaan air dalam budidaya sambiloto hanya mengandalkan pada curah hujan, kebutuhan air tersebut dapat terpenuhi pada wilayah dengan tipe iklim C, B dan A (Schmidt dan Ferguson).

TEKNOLOGI BUDIDAYA

Benih

Saat ini telah diperoleh calon varietas unggul dengan potensi pro-duksi tinggi dan mutu simplisia yang baik. Tiga aksesi calon varietas unggul yang telah dimiliki oleh Balittro adalah Blali-1, Cmg-1, dan Cmg-2 dengan rata-rata potensi produksi terna masing-masing adalah 2.682, 2.408, dan 3.568 kg/ha. Potensi produksi dan mutu simplisia tiga calon varietas unggul sambiloto tersebut disajikan pada Tabel 1.

Sambiloto dapat diperbanyak se-cara vegetatif (setek) maupun generatif (biji). Benih dari setek diambil dari 3 ruas pucuk tanaman dan dipindahkan ke lapang setelah berumur 21 hari. Benih dari setek lebih cepat berbunga dibandingkan benih dari biji.

(4)

Pembenihan dengan biji dilaku-kan dengan cara merendam biji terlebih dahulu selama 24 jam dan kemudian dikeringkan sebelum disemai. Penye-maian dilakukan pada bedeng dengan media campuran tanah, pasir, dan pu-puk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Perkecambahan akan terjadi seki-tar 7 hari kemudian. Setelah mempu-nyai 5 helai daun, benih kemudian di-pindah ke polibag dengan media tanam campuran tanah, pasir, dan pupuk kan-dang. Benih dapat dipindah ke lapang setelah 21 hari.

Pemupukan

Ketersediaan unsur hara N, P, dan K juga menentukan produksi dan mutu simplisia sambiloto. Sanjutha et al. (2008) mengemukakan bahwa hasil dan mutu simplisia sambiloto dipenga-ruhi oleh komposisi pupuk yang diberi-kan. Emmyzar et al. (1996) melapor-kan bahwa pada pola monokultur hasil simplisia daun tertinggi diperoleh dari pemupukan dengan dosis 100 kg Urea + 100 kg TSP + 50 kg KCl setiap hektar pada penggunaan jarak tanam 40 cm x 20 cm.

Hasil beberapa penelitian pada beberapa kondisi agroekologi yang ber-beda (Yusron et al., 2006b; Januwati et al., 2005; Yusron dan Januwati, 2004b) memperlihatkan bahwa pada pola sam-biloto monokultur dengan jarak tanam 30 cm x 40 cm, dosis optimum untuk menghasilkan produksi dan mutu yang baik adalah 10 ton pupuk kandang, 200 kg Urea, 200 kg SP36, dan 100 kg KCl. Pada tanah miskin, kandungan bahan organik rendah, dan struktur padat, dosis pupuk kandang perlu ditambah-kan sampai 20 ton/ha. Penambahan pupuk kandang ini dimaksudkan untuk memperoleh kondisi struktur tanah menjadi remah dan untuk mening-katkan ketersediaan unsur hara. Bahan organik dengan C/N ratio tinggi berfungsi langsung sebagai pengikat unsur hara dan penstabil pH tanah; dan secara tidak langsung mengikat N melalui imobilisasi yang nantinya tersedia bagi tanaman (slow release).

Teknologi penggunaan pupuk alami dapat diterapkan untuk mengu-rangi penggunaan pupuk kimia dan menghasilkan produk organik. Hasil penelitian Yusron et al. (2007) mem-perlihatkan bahwa pada panen pertama dosis pupuk kimia rekomendasi mem-berikan produksi simplisia sambiloto Tabel 1. Potensi produksi dan mutu simplisia tiga calon varietas unggul sambiloto

Blali-1 Cmg-1 Cmg-2

Kadar sari larut alkohol (%) 13,77 13,03 19,40

Kadar sari larut air (%) 22,86 25,82 23,77

Kadar andrografolid (%) 1,09 1,24 1,68

(5)

tertinggi. Akan tetapi pada panen kedua produksi tertinggi diperoleh dengan menggunakan pupuk bio dan pupuk alam (pupuk bio, fosfat alam, dan zeolit). Hasil ini menunjukkan bahwa sifat pupuk alam seperti fosfat alam, pupuk bio dan kompos lebih lambat tersedia bagi tanaman. Unsur hara yang dilepas baru dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tanaman pada fase panen kedua. Penelitian ini menunjukkan bah-wa untuk menghasilkan produk organik dapat dilakukan dengan memanfaatkan pupuk bio dan pupuk alam dengan dosis 10 ton kompos + 300 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio dan 300 kg zeolit.

Pola tanam

Sampai saat ini sambiloto belum dibudidayakan secara luas. Rendahnya produktivitas tanaman dan tingkat pen-dapatan yang diperoleh dari budidaya sambiloto secara monokultur menye-babkan petani tidak tertarik untuk membudidayakan sambiloto. Pembudi-dayaan sambiloto secara tumpangsari dengan tanaman pangan merupakan salah satu cara untuk menarik minat petani mengembangkan sambiloto. Sambiloto memungkinkan untuk di-tanam secara tumpangsari karena ta-naman ini mampu tumbuh dan meng-hasilkan mutu yang baik pada kondisi ternaungi. Januwati dan Yusron (2004) melaporkan bahwa pada tingkat naung-an di bawah 30%, produksi sambiloto tidak jauh berbeda dengan pertanaman pada kondisi terbuka.

Sambiloto dapat ditanam secara tumpangsari dengan jagung. Adanya pertanaman jagung dalam pola

tum-pangsari meningkatkan intensitas naungan, namun masih di bawah 30%. Hasil pengamatan lapang menunjukkan bahwa intensitas cahaya diantara ja-gung pada jarak baris 150 cm dan 120 cm masing-masing menurun 25 dan 15% dibandingkan pada kondisi ter-buka (Yusron et al., 2006a). Dengan adanya penyisipan jagung, produksi sambiloto pada pola tumpangsari lebih rendah dibandingkan dengan pola sam-biloto monokultur. Yusron et al. (2006a) mengemukakan bahwa dengan adanya penyisipan jagung (jarak tanam antara 120 – 150 cm) di antara sambiloto menurunkan produksi sambiloto sebesar 16% diban-dingkan dengan produksi pada pola sambiloto monokultur. Penurunan pro-duksi sambiloto secara ekonomi dapat digantikan dengan produksi jagung.

Ditinjau dari biaya usahatani, po-la tumpangsari sambiloto dengan ja-gung membutuhkan biaya usahatani lebih rendah dibandingkan dengan pola sambiloto monokultur. Hal ini dikare-nakan pembelian bibit sambiloto meru-pakan porsi terbesar dalam usahatani sambiloto. Pribadi (2007) mengemuka-kan bahwa pada pola monokultur biaya pembelian bibit mencapai 66,5% dari total biaya usahatani, sehingga dengan penyisipan jagung menekan biaya usahatani.

Secara finansial, usahatani tum-pangsari sambiloto - jagung cukup menguntungkan dan layak untuk di-kembangkan. Dengan asumsi harga

jual simplisia sambiloto sebesar Rp 5.000,-/kg dan harga jual jagung

(6)

pendapat-an bersih mencapai Rp 1.188.360,- per 1.000 m2 dan memberikan tambahan pendapatan bersih (keuntungan) sebesar Rp 51.675,- per 1.000 m2 dibandingkan pola monokultur (Pribadi, 2007). Pola tumpangsari ini dilaporkan mempunyai daya adaptasi yang cukup tinggi terhadap perubahan biaya produksi dan harga produk.

Pengendalian hama dan penyakit

Salah satu kendala dalam budi-daya sambiloto adalah hama dan pato-gen. Ada dua jenis patogen yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup be-sar dalam budidaya sambiloto, yaitu jamur Sclerotium sp. (Rahayuningsih dan Supriadi, 2002) dan nematoda Aphelenchoides sp. (Djiwanti dan Supriadi, 2003). Sclerotium sp. adalah jamur yang menyebabkan pembusukan pada akar dan batang sambiloto, sedang Aphelenchoides sp. adalah nematoda yang menyebabkan daun kering dan gugur. Jamur patogen ditemukan me-nyerang sekitar 10% dari populasi ta-naman, sedangkan serangan nematoda Aphelenchoides sp. masih terbatas.

Sclerotium sp. termasuk salah sa-tu jamur patogen yang mempunyai banyak tanaman inang, dan menurut Ferreira dan Boley (2006) jamur ini memiliki lebih dari 500 spesies tanaman inang. Selain menyerang sambiloto, jamur ini dapat berkembang pada glirisidia, cengkeh dan kunyit, dan pada potongan rimpang jahe, kunyit dan lengkuas (Rahayuningsih dan Supriadi, 2002). Supriadi et al. (2006) melaporkan bahwa serangan Sclerotium sp. terjadi baik pada fase vegetatif maupun generatif, tetapi

tanaman sambiloto lebih rentan terhadap serangan Sclerotium pada fase vegetatif.

Pengendalian Sclerotium sp. da-pat dilakukan dengan cara rotasi de-ngan tanaman jagung dan kacang tanah. Rotasi ini dimaksudkan untuk menekan perkembangan jamur Sclero-tium sp. Selain itu, pengendalian jamur ini dapat pula dilakukan dengan apli-kasi fungisida, baik melalui penyem-protan pada daun maupun perlakuan benih sebelum tanam (Supriadi et al., 2006).

Jamur Sclerotium sp. dapat dikendalikan dengan memanfaatkan pestisida nabati dan agensia hayati (Ganesa et al., 2007; Okereke dan Wokocha, 2006; Singh dan Singh, 2004 dan Gautam dan Kolte, 1979). Agensia hayati Trichoderma harzianum mampu menekan perkem-bangan Sclerotium rolfsii pada tomat (Okereke dan Wokocha, 2006), menta (Singh dan Singh, 2004), dan kacang tanah (Ganesa et al., 2007). Sedangkan pestisida nabati yang mampu menekan perkembangan S. rolfsii adalah bubuk jarak, bubuk mimba, dan ekstrak jahe (Okereke dan Wokocha, 2006; Gautam dan Kolte, 1979).

(7)

lalaki (Synedrella nodiflora), pulus hayam (Achalypa sp.), dan Chorchorus olitorius L. (Supriadi et al., 2006). Djiwanti dan Supriadi (2008) menge-mukakan bahwa nematoda yang dite-mukan ini merupakan nematode ende-mi dan bukan introduksi dari luar.

Pengendalian nematoda ini dapat dilakukan dengan aplikasi pestisida nabati antara lain tepung biji mimba (15 g/tanaman), ekstrak biji mimba dengan konsentrai 0,1%, dan larutan CNSL 0,1%. Pengendalian dapat pula dilakukan dengan aplikasi carbofuran 2 g/tanaman (Djiwanti dan Supriadi, 2003).

Panen dan pengolahan hasil

Panen merupakan salah satu ta-hapan dalam proses budidaya tanaman obat. Dalam budidaya tanaman obat yang menghendaki mutu produk yang tinggi, waktu dan cara panen merupa-kan periode kritis yang menentumerupa-kan mutu hasil panen. Dari hasil beberapa penelitian memperlihatkan bahwa waktu panen yang tepat untuk sambiloto adalah pada umur 3 - 4 bulan setelah tanam, yakni pada saat 50% pertanaman mulai berbunga. Waktu panen ini berhubungan dengan kan-dungan bahan aktif, dimana diperoleh kandungan bahan aktif tertinggi pada saat tanaman mulai berbunga. Pada umur di bawah 3 bulan, pertanaman masih dalam tahap pertumbuhan vegetatif, sedangkan pada umur lebih dari 4 bulan pertanaman akan mem-bentuk buah, sehingga kandungan bahan aktifnya rendah.

Pemanenan dilakukan dengan cara dipangkas sekitar 15 - 20 cm di atas permukaan tanah. Pada periode berikutnya pertanaman akan mem-bentuk cabang dan daun baru, sehingga diperlukan unsur hara dan air yang cukup. Kekurangan hara dan air akan menyebabkan hasil pada panen berikut-nya sangat rendah.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengolahan hasil adalah waktu dan cara pengangkutan hasil. Sembiring (2007) mengemukakan bah-wa pengangkutan harus dilakukan dalam keadaan tertutup (tidak terkena matahari langsung) dan kering. Adanya penyinaran matahari langsung akan menyebabkan terjadinya fermentasi se-hingga hasil panen membusuk. Banyaknya air pada saat pengangkutan juga menyebabkan pembusukan.

Sebelum dilakukan penggilingan dan pengolahan, sambiloto harus di-keringkan dengan baik. Tujuan pengeringan adalah untuk memperoleh mutu simplisia yang baik dan bahan dapat disimpan lebih lama (Handerson dan Pery, 1976). Teknik pengeringan yang salah akan menyebabkan penu-runan mutu dan simplisia tidak bisa disimpan lama. Oleh karena itu, hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengeringan adalah suhu dan kadar air bahan. Suhu yang terlalu tinggi dapat merusak mutu produk yang dihasilkan.

(8)

simplisia yang baik, pengeringan sam-biloto dilakukan dengan kombinasi antara sinar matahari dengan pemanas blower. Dengan cara demikian diper-oleh simplisia sambiloto dengan kadar abu rendah dan kadar sari cukup tinggi. Dari segi fisik, beberapa aspek mutu yang sering menjadi acuan antara lain adalah warna, tekstur, dan flavor. Simplisia sambiloto yang baik ditandai dengan warna yang tidak berbeda jauh dengan warna aslinya.

Sesuai dengan program Badan POM dalam pengembangan sambiloto, untuk mendukung industri fitofarmaka diperlukan sambiloto dalam bentuk ekstrak. Saat ini telah diperoleh teknik pengolahan hasil sambiloto dalam ben-tuk ekstrak kental maupun ekstrak ke-ring. Ekstrak kering merupakan hasil pengolahan lanjutan dari ekstrak kental, yakni dengan cara mengeringkan eks-trak kental. Pengeringan dapat dilaku-kan dengan menggunadilaku-kan sinar mata-hari, oven, freeze dryer atau spray dryer (Sembiring, 2007). Semua teknik tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan. Freeze dryer merupakan alat yang cukup baik untuk meng-hasilkan mutu ekstrak kering yang baik dan higienis, tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni lebih dari 15 jam.

Sambiloto dalam bentuk ekstrak akan memudahkan proses produksi obat fitofarmaka, yakni lebih praktis dan dengan dosis yang lebih akurat. Namun sampai saat ini teknik ekstraksi yang ada masih dalam skala labora-torium, padahal untuk mendukung industri obat fitofarmaka diperlukan

teknik dengan skala yang lebih besar dan komersial.

KEBIJAKAN PENDUKUNG PENGEMBANGAN

SAMBILOTO

Tanaman sambiloto telah ditetap-kan menjadi salah satu komoditas ta-naman obat yang dikembangkan seba-gai obat fitofarmaka. Agar sambiloto dapat berkembang sesuai dengan prog-ram tersebut, diperlukan kebijakan pen-dukung yang mencakup antara lain :

Penentuan simplisia dan ekstrak ter-standar

Agar sambiloto dapat digunakan sebagai obat (fitofarmaka) yang dapat dipertanggungjawabkan, diperlukan upaya untuk menghasilkan simplisia dan ekstrak sambiloto terstandar. Hal ini dapat dilakukan dengan penerapan teknik budidaya yang baku, sehingga diharapkan dapat menyediakan bahan baku dalam jumlah memadai, mutu se-suai standar dan kelangsungan (konti-nyuitas) ketersediaan bahan baku dapat dijamin.

Penentuan wilayah pengembangan

(9)

Pengenalan pola tumpangsari

Analisis usahatani dan tingkat keuntungan yang diperoleh dari usahatani sambiloto merupakan faktor yang menentukan ketertarikan petani untuk membudidayakan sambiloto secara lebih luas. Budidaya sambiloto secara monokulktur kurang mengun-tungkan, oleh karena itu tanaman ini direkomendasikan untuk dibudidaya-kan secara tumpangsari dengan jagung atau tanaman pangan lainnya.

Pengembangan teknologi ekstraksi skala komersial

Saat ini telah diperoleh teknologi pengolahan hasil untuk mendapatkan ekstrak kental dan ekstrak kering ter-standar. Namun demikian, teknologi yang ada masih dalam skala labora-torium. Untuk mendukung pengem-bangan sambiloto sebagai obat fito-farmaka, teknologi ekstraksi tersebut perlu dikembangkan dalam skala yang lebih besar dan komersial. Teknologi ini dapat dikembangkan melalui kerja-sama dengan pihak industri.

Pengembangan pola kemitraan

Seperti halnya dengan komoditas bahan obat lainnya, pasar utama produk sambiloto adalah industri obat tradi-sional dan obat fitofarmaka. Oleh ka-rena itu upaya pengembangan ini harus dilakukan melalui kerjasama saling menguntungkan antara petani atau ke-lompok tani dengan industri obat tra-disional dan obat fitofarmaka. Melalui kerjasama ini diharapkan industri mem-peroleh bahan baku dengan mutu yang sesuai kebutuhan dan tersedia secara kontinyu, sedangkan petani

memper-oleh keuntungan dengan harga yang stabil.

KESIMPULAN

Sambiloto merupakan tanaman obat yang banyak dibutuhkan dalam in-dustri obat tradisional dan obat fito-farmaka, akan tetapi penyediaan bahan bakunya masih menggantungkan pada hasil panen di alam. Di sisi lain tek-nologi budidaya telah banyak tersedia. Pembudidayaan sambiloto masih sa-ngat terbatas karena secara ekonomi kurang menguntungkan. Pengembang-an pola tumpPengembang-angsari sambiloto dengPengembang-an jagung atau tanaman pangan lain di-harapkan lebih menguntungkan.

Pengembangan sambiloto perlu didukung dengan peta pewilayahan, sehingga lebih memudahkan untuk menentukan daerah yang sesuai untuk budidaya. Pengembangan ini harus mengikutsertakan industri, mulai dari aspek hulu di tingkat petani sampai pengolahan hasil.

DAFTAR PUSTAKA

Djiwanti, R.S. and Supriadi. 2003. Leaf blotch disease of Aphelenchoides sp. on sambiloto (king of bitter) and its possible control. Proc. of the International Symposium on Bio-medicines. Bogor Agricultural Uni-versity, 18-19 September 2003 : 169-174.

(10)

(Andrographis paniculata). Jurnal Littri 14 (2) : 61-66.

Emmyzar, R. Suryadi, M. Iskandar, dan Ngadimin. 1996. Pengaruh dosis pupuk NPK dan umur panen terhadap pertumbuhan dan produksi terna tanaman Sambiloto. Bul. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. Vol III/I : 31-32.

Ferreira, S.A. and R.A. Boley. 2006. Sclerotium rolfsii.

http://www.extento.hawaii.edu/kba

se/crop/Type/s rolfs.htm

Ganesa, S., R.G. Kuppusamy, and R. Sekar. 2007. Integrated manage-ment of stem rot disease (Scle-rotium rolfsii) of groundnut (Arachis hypogea L.) using Rhizobium and Trichoderma harzianum (ITSS – 452). Turk. J. Agric. For 31 : 103-108.

Gautam, M. and S.J. Kolte. 1979. Control of Sclerotium of sunflower through organic amendments of soil. Plant and Soil 53 : 233-238.

Handerson, S.M. and R.L. Pery. 1976. Agricultural Process Engineering. The AVI Publishing Co. Inc., Wesport, Connecticut.

Januwati, M. dan Nurmaslahah. 2008. Pengaruh tingkat pemberian air pada tiga aksesi sambiloto (Andro-graphis paniculata Nees) terhadap mutu dan produksi simplisia. Jurnal Littri 14 (2) : 54-60.

Januwati, M., Supriadi, M. Yusron, E.R. Pribadi, S. Wahyuni, Setiawan, dan W.J. Priambodo. 2005. Modifikasi lingkungan mikro untuk meningkatkan mutu sim-plisia sambiloto. Laporan Teknis Penelitian. Balai Penelitian Tanam-an Rempah dTanam-an Obat. 84-94.

Kemala, S., Sudiarto, E.R. Pribadi, JT. Yuhono, M. Yusron, L. Mauludi, M. Rahardjo, B. Waskito, dan H. Nurhayati. 2004. Studi serapan, pasokan dan pemanfaatan tanaman obat di Indonesia. Laporan Teknis Penelitian. Balai Penelitian Tanam-an Rempah dTanam-an Obat. 187-247.

Okereke, V.C. and R.C. Wokocha. 2006. Effects of some tropical plant extracts, Trichoderma harzianum and captan on the damping-off disease of tomato induced by Sclerotium rolfsii. Agric. J. 1 (2) : 52-54.

Pribadi, E.R. 2007. Kajian kelayakan usahatani pola tanam sambiloto dengan jagung. Jurnal Littri 13 (3) : 98-105.

(11)

Rusli, S., Ma’mun, S. Suhirman, dan B. Br. Sembiring. 2004. Standarisasi simplisia dan pembuatan ekstrak pekat terstandar sambiloto (Andro-graphis paniculata Nees). Laporan Teknis Balittro 2004 : 1-9.

Rusmin, D., S. Wahyuni, dan Sukarman. 2007. Pengaruh umur panen terhadap viabilitas benih ser-ta hubungannya dengan produksi terna sambiloto (Andrographis paniculata Nees). Jurnal Littri 13 (1) : 20-26.

Sanjutha, S., S. Subramaniam, C. Indu Rani, and J. Maheswari. 2008. Integrated nurient management in Andrographis paniculata. Res. J. Agric. and Biol. Sci. 4 (2) : 141-145.

Schmidt, F. H. and J. H. A. Ferguson. 1951. Rainfall Types based on Wet and Dry Period Ratios for Indonesia with Western New Guinea. Djawatan Meteorologi dan Geofisika. Ver. 42. Jakarta.

Sembiring, B. Br. 2007. Status tekno-logi pasca panen sambiloto (Andro-graphis paniculata Nees). Perkem-bangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat, XIX (2) : 135-145.

Singh, A. and H.B. Singh. 2004. Con-trol of collar rot in mint (Mentha spp.) caused by Sclerotium rolfsii using biological means. Current Sci. 87 (3) : 362-366.

Supriadi, R.S. Djiwanti, S.Y. Hartati, E. Taufiq, T. Lestari, M.N. Karyani, L. Udarno, A. Suhenda, A. Wikanda, Kurniati, Sugiyanto, dan W. Darmawan. 2006. Ekobio-logi dan pengendalian ramah ling-kungan penyakit dan hama utama sambiloto. Laporan Teknis Pene-litian 2005. Buku 2 : 38-57.

Vanhaelen, M., J. Lovely, M. Hanocq and L. Molle. 1991. Climate and geographical aspects of medicinal plant constituents. In The Medi-cinal Plant Industry. CRC press. Florida, USA. pp : 59-76.

Yusron, M. dan M. Januwati. 2004a. Pengaruh kondisi agroekologi ter-hadap produksi dan mutu simplisia sambiloto (Andrographis panicu-lata). Prosiding Seminar Nasional XXVI Tumbuhan Obat Indonesia, Padang, 7-8 September 2004 : 211-216.

Yusron, M. dan M. Januwati. 2004b. Pengaruh pemupukan P dan K ter-hadap produksi dan mutu sambi-loto (Andrographis paniculata Nees). Makalah disampaikan pada Seminar Indonesian Biopharmaca Exhibition Congress, Yogyakarta, 24 Agustus 2004. 8 hal.

(12)

Yusron, M., Gusmaini, dan M. Januwati. 2006b. Pengaruh tingkat pemupukan terhadap mutu dan pro-duksi sambiloto. Laporan Teknis Penelitian, Buku 2. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. 11-24.

Yusron, M., Gusmaini, dan M. Januwati. 2007. Pengaruh polata-nam sambiloto – jagung serta dosis pupuk organik dalam alam terha-dap produksi dan mutu sambiloto

(Andrographis paniculata Nees). Jurnal Littri 13 (4) : 147-154.

Gambar

Tabel 1. Potensi produksi dan mutu simplisia tiga calon varietas unggul sambiloto

Referensi

Dokumen terkait