Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 1 ABSTRACT
Agreement entered into between Main Dealer PT. Wahana Makmur Sejati and PT. Abelindo Jaya Samudera was an agreement on the appointment as Astra Honda Authorized Service Station (AHASS) Dealer. Such appointment was made subject to the appointment criteria and procedures as stipulated by Main Dealer and Sole Distributor, Astra Honda Motor. Since this agreement was not formalized in such an authentic and notorized deed, it was disproportional to the Dealer. Legal consequences of the AHASS agreement were an incurrence of contractually consented rights and obligations; however, as Dealer was in the event of default, i.e. the selling by Dealer of non-genuine Honda spare parts, the extension of agreement on the appointment as Dealer of AHASS H3 was not granted.
Keywords: AHASS Dealer Appointment Criteria and Procedures, Legal consequences on AHASS Cooperation Agreement.
ANALISIS YURIDIS PERJANJIAN KERJASAMA ANTARA MAIN DEALER DENGAN DEALER ASTRA HONDA AUTHORIZED SERVICE STATION
(STUDI KASUS PERJANJIAN KERJASAMA ANTARA PT. WAHANA MAKMUR SEJATI DENGAN PT. ABELINDO JAYA SAMUDERA)
Elisabeth D. Hutabarat 1 K.M.S Herman, S.H., M.H., M.Si 2
ABSTRAK
Bentuk kerjasama Main Dealer PT. Wahana Makmur Sejati dengan PT. Abelindo Jaya Samudera adalah berbentuk pengangkatan dan penunjukan sebagai Dealer Astra Honda Service Station (AHASS). Penunjukan dan pengangkatan Dealer sudah berdasarkan prosedur dan kriteria yang telah ditetapkan oleh Main Dealer dan Distributor tunggal Astra Honda Motor tetapi perjanjian ini dibuat secara baku dan tanpa bentuk akta otentik melalui notaris sehingga terlihat tidak seimbang bagi Dealer. Konsekuensi hukum dari perjanjian kerjasama AHASS adalah timbulnya hak dan kewajiban yang harus dipatuhi bersama tetapi karena ada wanprestasi dari Dealer dengan menjual spare part bukan merk honda asli maka perpanjangan penunjukan dan pengangkatan Dealer AHASS H3 tidak diberikan.
Kata Kunci : Prosedur dan Kriteria Pengangkatan dan Penunjukan Dealer AHASS, Konsekuensi Hukum atas Perjanjian Kerjasama AHASS.
1 Mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.
2
Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 2 A. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam dunia bisnis sudah ti-dak asing adanya perjanjian ker-jasama atau lebih dikenal dengan istilah kontrak. Kontrak ini dilakukan dengan pertimbangan adanya hubu-ngan saling menguntungkan. Subekti
mengatakan bahwa “suatu perjanjian
adalah suatu peristiwa dimana seo-rang berjanji kepada seoseo-rang lain atau dimana dua orang itu saling ber-janji untuk melaksanakan suatu
hal”.3
Sedangkan menurut Subekti dan Tjitrosudibio dalam Buku Kitab
Undang-Undang Hukum perdata
pada Pasal 1313 KUH Perdata
me-ngatakan bahwa “suatu perjanjian
adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau
lebih.4 Hal ini merupakan perbuatan
hukum dan dari peristiwa ini, tim-bullah suatu hubungan hukum antara dua orang atau lebih yang disebut perikatan yang di dalamya terdapat hak dan kewajiban masing-masing pihak dan perjanjian itu akan men-jadi undang-undang bagi para pihak serta semua yang dijanjikan tersebut harus dilakukan dan dilaksanakan berdasarkan kesepakatan perjanjian tersebut.
Dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, menyatakan bahwa se-mua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang
bagi mereka yang membuatnya.5
3
Subekti, Hukum Perja njian, Jakarta, Intermasa, 2010, hlm. 1
4 R. Subekti dan R. Tjitrosudibio,
Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Jakarta, Pradnya Paramita, 2004, hlm. 338.
5 Ibid., hlm. 342.
Dari Pasal ini dapat disimpulkan ada-nya asas kebebasan berkontrak, akan tetapi kebebasan ini dibatasi oleh hukum yang sifatnya memaksa, sehingga para pihak yang membuat perjanjian harus menaati hukum yang sifatnya memaksa. Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan
oleh kepatutan, kebiasaan atau
undang-undang. Suatu perjanjian ti-dak diperbolehkan membawa kerugi-an kepada pihak ketiga.
Perjanjian Main Dealer dan
Dealer sebagai Astra Honda
Autho-rized Service Station (AHASS)
an-tara PT. Wahana Makmur Sejati dengan PT. Abelindo Jaya Samudra pada dasarnya adalah suatu per-wujudan kewenangan hukum para pi-hak untuk menunjuk dan mengangkat
Dealer yang berhak untuk
menye-diakan jasa service dan memasarkan
serta menjual suku cadang asli
se-peda motor merk Honda yaitu Honda
Genuine Part (HGP) Honda Value
Line (HVL) yang didistribusikan
oleh PT. Astra Honda Motor selaku
Distributor Tunggal diseluruh
Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 3
peneliti tertarik untuk mengemuka-kan judul penelitian ini sebagai
be-rikut : “ Analisis Yuridis Perjanjian
Kerjasama Antara Main Dealer
de-ngan Dealer Astra Honda Authorized
Service Station (Studi Kasus
Perjan-jian Kerjasama antara PT. Wahana Makmur Sejati dengan PT. Abelindo
Jaya Samudera).”
B. RUMUSAN MASALAH
Dalam penelitian ini pokok permasalahan yang ada adalah seba-gai berikut:
1. Apakah bentuk perjanjian
kerja-sama antara PT. Wahana Mak-mur Sejati dan PT. Abelindo Jaya Samudera?
2. Apakah prosedur dan kriteria
pe-nunjukan dan pengangkatan
Dea-ler PT. Abelindo Jaya Samudera
sudah terpenuhi?
3. Apakah konsekuensi hukum yang
terjadi dalam penunjukan dan pe-ngangkatan PT. Abelindo Jaya
Samudera sebagai Dealer Astra
Honda Authorized Service
Sta-tion (AHASS) ?
C. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan de-ngan analisis dan konstruksi, yang dilakukan metodologis, sistematis
dan konsisten.6 Penelitian hukum
merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sis-tematika, dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari
6 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, Universitas Indonesia – UI Press, 2010, hlm. 42
satu atau beberapa gejala hukum
ter-tentu, dengan jalan menganalisanya.7
Metodologi penelitian pada umumnya dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat dan dari bahan-bahan pustaka. Yang diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data pri-mer (atau data dasar), sedangkan yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka lazimnya dinamakan data
sekunder.8
Metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metodologi penelitian
yuridis-normatif atau penelitian
yuridis-dogmatis karena bahan-bahan
yang digunakan untuk dasar pene-litian ini merupakan bahan-bahan yang dikumpulkan melalui alat pengumpulan data yang berupa studi bahan-bahan pustaka dan data sekun-der lainnya.
Menurut Soejono Soekanto sebagaimana dikutip oleh Hotma P. Sibuea bahwa penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti ba-han pustaka atau data sekunder dapat dinamakan penelitian hukum
nor-matif atau penelitian kepustaka-an.9
Dari pendapat tersebut dapat dike-tahui bahwa objek kajian atau objek
yang diteliti dalam penelitian
yurudis-normatif atau
yuridis-dogmatif adalah bahan-bahan
kepus-takaan yang dapt dikategorikan seba-gai data sekunder. Di dalam
7 Soerjono Soekanto, Op.Cit., 43 8 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Jakarta, Raja Grafindo, 2011, hlm. 12
Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 4
litian hukum,ada 3 (tiga) bahan
hu-kum yaitu 10:
1. Bahan Hukum Primer yakni
bahan-bahan hukum yang mengi-kat dan terdiri dari Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945,
peraturan perundang-undangan
dan perjanjian yang relevan de-ngan pokok permasalahan dalam penelitian ini seperti Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
2. Bahan Hukum Sekunder yakni
bahan yang memberi penjelasan mengenai mengenai bahan hu-kum primer, dapat berupa hasil-hasil penelitian, hasil-hasil karya dari kalangan hukum atau literatur-literatur yang berkaitan dengan Perjanjian Kerjasama dan Perjan-jian Kerjasama antara PT. Waha-na Makmur Sejati dengan PT. Abelindo Jaya Samudera
3. Bahan Hukum Tersier yakni
ba-han hukum yang memberikan pe-tunjuk maupun penjelasan ter-hadap bahan hukum primer dan sekunder berupa tulisan yang
di-peroleh melalui media internet
yang berkenaan dengan
Perjan-jian Main Dealer dan Dealer
bengkel AHASS.
D.PEMBAHASAN
Hak dan Kewajiban Perjanjian Kerjasama
PT. Wahana Makmur Sejati ditunjuk oleh Astra Honda Motor
sebagai Main Dealer sepeda motor
Honda untuk wilayah
Jakarta-Tangerang sejak 1972. Di-support
10 Soerjono Soekanto dan Sri
Mamudji, Op. Cit., hlm. 13
oleh jaringan 121 outlet Dealer dan
350 outlet Astra Honda Authorized
Service Station (AHASS) dengan
kualitas produk dan pelayanan kelas dunia menjadikan PT. Wahana Mak-mur Sejati menjadi pemimpin pasar di Jakarta dan di Indonesia. Dalam
usahanya Main Dealer dapat
menun-juk dan mengangkat Dealer dalam
membantu kegiatan penjualan motor, perbaikan dan pemeliharaan dan
pen-jualan spare part asli motor Honda.
Dengan adanya penunjukan dan
pe-ngangkatan delear oleh Main Dealer,
maka timbul perjanjian kerjasama dan untuk melaksanakan suatu per-janjian harus terlebih dahulu ditetap-kan apa saja isi dari perjanjian terse-but, atau dengan kata lain apa saja hak dan kewajiban masing-masing pihak. Hak dan kewajiban tidak ha-nya timbul dari apa yang telah tegas dinyatakan dalam perjanjian, akan tetapi juga termasuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian diha-ruskan oleh kepatutan, kebiasaan, dan undang-undang. Hal ini terdapat dalam Pasal 1339 KUH Perdata yang
berbunyi: “suatu perjanjian tidak ha -nya megikat untuk hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang me-nurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau
undang-undang”.
Merujuk kepada peristiwa hu-kum konkritnya, pada saat perjanjian kerjasama disepakati oleh para pihak yang terkait, norma-norma dalam perjanjian kerjasama tentang pe-ngangkatan dan penunjukan sebagai
Dealer AHASS H23 tersebut
Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 5
pihak. Adapun hak dan kewajiban dalam perjanjian kerjasama antara
Main Dealer PT. Wahana Makmur
Sejati dan Dealer PT. Abelindo Jaya
Samudera adalah sebagai berikut:
1. Dealer bersedia memenuhi SDM
dengan standar yang ditetapkan dan harus melengkapi sarana dan prasarana serta menjalankan pro-gram-program yang telah
ditetap-kan Main Dealer.
2. Dealer berkewajiban
menjalan-kan program promosi yang dite-tapkan Main Dealear.
3. Main Dealer menjual strategis
tools kepada Dealer dengan harga
subsidi.
4. Dealer wajib mengikuti program
penyeragaman exterior / tampak depan dan dalam yang dibangun
dan disubsidi oleh Main Dealer
dan memasang Shop’s Sign pada
tempat usaha dengan spesifikasi standar.
5. Dealer tidak boleh membuka
usa-ha yang sejenis tanpa ijin tertulis
dari Main Dealer.
6. Main Dealer memberikan
super-visi kepada Dealer mengenai
keadaan AHASS, persediaan su-ku cadang, administrasi, promosi,
manajemen untuk Dealer dengan
memberikan training full
opera-tional Service Center.
7. Main Dealer memberikan
penilai-an dpenilai-an pemutuspenilai-an kerjasama
ke-pada Dealer dengan ketentuan
yang berlaku.
8. Main Dealer mempunyai hak
untuk mengambil atau menarik kembali segala sarana dan prasa-rana standart yang mengandung
subsidi atau hasil kreasi Main
Dealer dan membebaskan Main
Dealer atas kerusakan yang
timbul dari proses penarikan tersebut.
9. Delear mengirimkan laporan
Ser-vice Kendaraan setiap bulan
se-cara rutin dengan form dan ben-tuk laporan yang sudah
disedia-kan dan tetapdisedia-kan Main Dealer.
Berakhirnya Perjanjian
Suatu perjanjian berakhir ka-rena beberapa hal:
a. ditentukan oleh para pihak
berla-ku untuk waktu tertentu;
b. undang-undang menentukan
ba-tas berlakunya perjanjian;
c. para pihak atau undang-undang
menentukan bahwa dengan ter-jadinya peristiwa tertentu maka persetujuan akan hapus;
Peristiwa tertentu yang di-maksud adalah keadaan memaksa
(overmacht) yang diatur dalam Pasal
1244 dan 1245 KUH Perdata. Keten-tuan ini memberikan kelonggaran kepada debitur untuk tidak melaku-kan Penggantian biaya, kerugian, dan bunga kepada kreditur, oleh karena suatu keadaan yang berada diluar kekuasaannya.
Ada tiga hal yang menyebab-kan debitur tidak melakumenyebab-kan peng-gantian biaya, kerugian dan bunga, yaitu:
1. adanya suatu hal yang tak ter-duga sebelumnya, atau
2. terjadinya secara kebetulan, dan atau
3. keadaan memaksa.
Keadaan memaksa dapat dibagi men-jadi dua macam, yaitu:
Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 6
Keadaan memaksa absolut adalah suatu keadaan di mana debitur sama sekali tidak dapat memenuhi peru-tangannya kepada kreditur, oleh karena adanya gempa bumi, banjir bandang, dan adanya lahar. Keadaan memaksa yang relatif adalah suatu keadaan yang menyebabkan debitur masih mungkin untuk melaksanakan prestasinya.
Di dalam perjanjian selalu ada dua subjek yaitu pihak yang berkewajiban untuk melaksanakan suatu prestasi dan pihak yang berhak atas suatu prestasi. Didalam pemenu-han suatu prestasi atas perjanjian yang telah dibuat oleh para pihak tidak jarang pula debitur lalai melak-sanakan kewajibannya atau tidak me-laksanakan kewajibannya atau tidak melaksanakan seluruh prestasinya, hal ini disebut wanprestasi.
Wirjono Prodjodikoro, me-ngatakan bahwa wanprestasi adalah ketiadaan suatu prestasi didalam hu-kum perjanjian, berarti suatu hal yang harusdilaksanakan sebagai isi dari suatu perjanjian. Barangkali da-lam bahasa Indonesia dapat dipakai
istilah “pelaksanaan janji untuk pres
-tasi dan ketiadaan pelaksanaannya
janji untuk wanprestasi”.11
Wanpres-tasi dapat diartikan sebagai tidak ter-laksananya prestasi karena kesalahan debitur baik karena kesengajaan atau kelalaian atau suatu keadaan di mana debitur tidak memenuhi janjinya atau tidak memenuhi sebagaimana mesti-nya dan kesemuamesti-nya itu dapat diper-salahkan kepadanya. Menurut M.
11
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perdata tentang Persetujuan-Persetujuan Tertentu, Cetakan IX. Bandung, Sumur. 1991, hlm 17
Yahya Harahap bahwa “wanprestasi”
dapat dimaksudkan juga sebagai pe-laksanaan kewajiban yang tidak tepat pada waktunya atau dilaksanakan
tidak selayaknya.12 Dengan kata lain
bahwa wanprestasi sebagai pelaksa-naan kewajiban yang tidak tepat pada waktunya atau dilakukan tidak menu-rut selayaknya, sehingga menimbul-kan keharusan bagi pihak debitur un-tuk memberikan atau membayar
gan-ti rugi (schadevergoeding), atau
de-ngan adanya wanprestasi oleh salah satu pihak, pihak yang lainnya dapat menuntut pembatalan perjanjian.
Bentuk dan Karakteristik Perjan-jian Kerjasama Main Dealer dan
Dealer
Sistem yang diberlakukan
da-lam Perjajian Kerjasama Main
Dea-ler dan Dealer bukan sistem
fran-chise yang mengharuskan investor
membayar manajement fee atau
fran-chise fee, melainkan hanya sistem
kerjasama dimana Dealer merupakan
mitra kerja sebagai kepanjangan
ta-ngan dari Distributor Tunggal Astra
Honda Motor. Jadi bentuk perjanjian
kerjasama Main Dealer dan Dealer
adalah bentuk penunjukan dan
pe-ngangkatan dari Dealer oleh Main
Dealer sebagai Dealer resmi dari
AHASS dengan karakteristik jenis perjanjian yang telah ditetapkan oleh
Main Dealer.
Menurut Fandy Tjiptono,
be-liau mengemukaan bahwa “Dealer
adalah perusahaan yang fungsi uta-manya menjual produk kepada kon-sumen akhir untuk pemakaian
12 M. Yahya Harahap, Segi-segi
Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 7 badi atau rumah tangga”.13
Jadi dapat
disimpulkan bahwa Dealer adalah
suatu badan atau perorangan yang bertugas sebagai tangan distribusi dari produsen kepada konsumen.
Dealer AHASS berarti badan atau
perorangan yang bertugas sebagai ta-ngan distribusi dalam rangka pen-jualan dan pelayanan dari AHASS kepada konsumen akhir. Sedangkan
arti bahasa indonesia dari Main
alah utama yang berarti pengertian
da-ri kata Main Dealer adalah Dealer
Utama. Dealer utama merupakan
Dealer resmi yang ditunjuk sebagai
distributor atau sebagi kepanjangan tangan dari produsen motor honda dan suku cadangannya atau dikenal
dengan nama Astra Honda
Autho-rized Station (AHASS).
Dalam kegiatan usahanya
kerjasama ini mempunyai 3 (tiga) ka-rakteristik sesuai dengan bentuk per-janjian kerjasama yang diajukan oleh
Dealer kepada Main Dealer. Adapun
karakteristik Perjanjian Kerjasama ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. AHASS H1
Sales/Penjualan, disini
menyedia-kan varian sepeda motor Honda yang terbaru dan juga bekerja sama dengan pihak ketiga untuk keperluan kredit sepeda motor HONDA, jaringan dengan status H1 berhak menjual sepeda motor Honda Produksi Astra Honda Motor ( AHM ).
2. AHASS H2
Bengkel / Pemeliharaan, disini
menyediakan layanan service
13
Tjiptono, Fandy Tjiptono, Service Management Mewujudkan Layanan Prima, Yogyakarta, penerbit CV. Andi Offset. 2008, hlm 191.
(perbaikan) untuk semua varian sepeda motor Honda mulai dari awal produksi sampai dengan produk terakhir yang dikeluarkan oleh PT. Astra Honda Motor, ja-ringan dengan status H2, berhak menerima Kartu Perawatan Ber-kala (KPB) dari sepeda motor Honda yang baru serta menerima
service dari sepeda motor Honda
lama.
3. AHASS H3: Spare part, disini
menyediakan Suku Cadang asli Honda, jaringan dengan H3 ini
berhak menjual spare part Honda
Genuine Part (HGP).
Untuk PT. Abelindo Jaya Sa-mudera sendiri mempunyai status usaha H23 yaitu sebagai bengkel yang menyediakan layanan service (perbaikan) serta tempat yang
me-nyediakan dan menjual spare part
Honda Genuine Part. Penunjukan
Dealer PT. Abelindo Jaya Samudera,
untuk pertama kali diberikan Main
Dealer PT. Wahana Makmur Sejati
sebagai AHASS H2 dengan penanda-tanganan Perjanjian Penunjukan dan
pengangkatan Astra Honda
Authoriz-ed service Station (AHASS) Nomor:
AHASS/240/LO/WMS/PPPA/VII/ 2005 pada tanggal 19 Juli 2005.
Kemudian Penunjukan sebagai
Dea-ler AHASS H3 dilakukan pada
tang-gal 1 Januari 2007 dengan Nomor: 08104 / 238 / LO / WMS / SP-Parts/1/ 2007.
Pasal atau Klausul Dalam Per-janjian Kerjasama AHASS
Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 8
ketiganya mempunyai kekuatan hu-kum yang sama sebagai lembar asli, Lembar asli pertama dipegang oleh
Dealer, lembar asli kedua dipegang
oleh Main Dealer dan lembar asli
ke-tiga dipegang oleh PT. Astra Honda Motor. Jika dilihat dari pasal dan klausula dari isi perjanjian maka dapat dikatakan bahwa bentuk per-janjian kerjasama ini adalah bentuk penunjukan dan pengangkatan PT. Abelindo Jaya Samudera sebagai
Dealer AHASS H2 dan H3 oleh
Main Dealer PT. Wahana Makmur
Sejati yang bertugas untuk
membe-rikan service dan penjualan spare
part motor asli merk honda.
Perjanjian ini bersifat perjanjian baku dengan klausul baku karena format
dan bentuk dibuat standar oleh Main
Dealer dan berlaku untuk semua
Dealer yang ditunjuk dan
diangkat-nya. Dalam rangka kepentingan bis-nis dan efisiensi banyak sekali pelaku bisnis yang membakukan perjanjian yang dibuat. Perjanjian baku dimak-sudkan untuk membuat keseragaman ukuran pelaku usaha dalam menja-lankan usahanya. Perjanjian baku ini tentu telah dipersiapkan sebelumnya oleh pelaku usaha dan telah ditetap-kan secara sepihak isinya. Namun, pelaku usaha tetap meminta perse-tujuan dari pihak lain yang diajak bertransaksi atas perjanjian baku yang diadakan oleh pelaku usaha ter-sebut. Memang klausula baku poten-sial merugikan konsumen karena tak memiliki pilihan selain menerimanya. Namun di sisi lain, harus diakui pula klausula baku sangat membantu ke-lancaran perdagangan. Sulit memba-yangkan jika dalam banyak perjan-jian atau kontrak sehari-hari kita
se-lalu harus menegosiasikan syarat dan ketentuannya. Dalam pustaka hukum, perjanjian baku juga dikenal dengan
sebutan standardized agreement,
standard contract atau contract of
adhesion.
Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 9
hal ini maka dapat dikenakan sanksi pidana atau denda sebesar 1 milyar rupiah.
Klausula baku adalah setiap syarat dan ketentuan yang telah di-siapkan dan ditetapkan terlebih da-hulu secara sepihak oleh pengusaha yang dituangkan dalam suatu doku-men atau perjanjian yang doku-mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Memang klausula baku potensial me-rugikan konsumen karena tak memi-liki pilihan selain menerimanya. Na-mun di sisi lain, harus diakui pula klausula baku sangat membantu ke-lancaran perdagangan. Sulit memba-yangkan jika dalam banyak perjan-jian atau kontrak sehari-hari kita se-lalu harus merenegosiasikan syarat dan ketentuannya. Begitu pula de-ngan perjanjian kerjasama
penun-jukan dan pengangkatan Dealer oleh
Main Dealer AHASS, perjanjian ini
dibuat secara standart untuk setiap
Dealer dengan syarat dan ketentuan
yang telah disiapkan dan tetapkan
oleh Main Dealer dan dituangkan
dalam perjanjian. Seperti terlihat dari perjanjian AHASS H2 dan H3 antara PT. Abelindo Jaya Samudera dan PT. Wahana Makmur Sejati maka terda-pat beberapa hal yang menunjukan bahwa perjanjian ini menggunakan klausula baku dengan adanya bebe-rapa pasal-pasal yang mengatakan hal-hal berikut:
AHASS H2
a. Pasal 5 ayat b: mengharuskan
penggantian harga strategic tools
diatur tersendiri oleh Distributor
Tunggal karena Dealer tidak
menjadi AHASS lagi karena se-bab apapun juga.
b. Pasal 7: semua masalah
perpa-jakan dan retribusi dimana segala beban pajak, retribusi dan biaya lain-lainnya yang timbul sebagai akibat dari perjanjian ini, sepe-nuhnya menjadi tanggung jawab
dan wajib dibayar oleh Dealer.
c. Pasal 11 ayat c: dimana Dealer
harus memberikan persetujuan
dan kuasa kepada Main Dealer
yang tidak dapat ditarik kembali setelah berakhirnya perjanjian mengambil kembali segala sarana dan prasarana standar yang me-ngandung subsidi walaupun ada bagian dari biaya yang
dike-luarkan oleh Dealer untuk hal
ter-sebut. Ayat d: Main Dealer tidak
dapat dituntut apapun atas keru-sakan yang timbul pada fisik
ba-ngunan tempat exterior dan
in-terior pada tempat Dealer. Ayat
f: Tidak menghalangi hak dari
Main Dealer/Distributor Tunggal
atas pertimbangannya sendiri un-tuk menetapkan kebijaksanaan lain yang berkaitan dengan
pe-ngembalian exterior dan interior
yang ada pada Dealer. Ayat h:
Main Dealer dapat menjalin
ker-jasama dengan pihak lain tanpa adanya hak berupa apapun juga
dari Dealer untuk meminta dan
menurut ganti rugi dari Main
Dealer dengan cara apapun juga.
AHASS H3
a. Pasal 7: Dealer memberikan
ku-asa yang tidak dapat ditarik
kem-bali kepada Main Dealer untuk
memasuki perkarangan dan ge-dung dan/atau dalam kekuasaan
Dealer dan/atau melakukan
Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 10
yang diperlukan untuk
meng-ambil kembali shop’sign.
b. Pasal 10: Main Dealer dapat
langsung mencabut status kedea-leran dan/atau mengakhiri jangka waktu perjanjian ini tanpa perlu menunggu selesainya proses hu-kum atas pelanggaran merek Honda dan sama sekali tidak memberikan hak / kewenangan
Dealer untuk menuntut ganti rugi
berupa apapun dan dengan cara
apapun dari Main Dealer.
c. Pasal 11: Jika perjanjian berakhir,
maka Dealer harus memberikan
persetujuan dan kuasa kepada
Main Dealer yang tidak dapat
di-tarik kembali untuk menarik/me-ngambil kembali segala peralatan dan/atau sarana yang berada
da-lam kekuasaan Dealer yang
me-ngandung subsidi dan/atau hasil kreasi dari distributor tunggal dan/atau dokumen-dokumen dan/ atau surat-surat yang menjadi standar/ ciri/identitas jaringan
pe-masaran Distributor Tunggal
an-tara lain termasuk tetapi tidak
ter-batas pada tampak depan (
exte-rior) dan/atau interior toko/ruang
penjualan, dalam keadaan utuh sebagaimana mestinya sesuai de-ngan prosedur/tata cara pengem-balian yang akan ditetapkan
ke-mudian oleh Main Dealer dan/
atau Distributor Tunggal dalam
suatu keputusan tersendiri dengan
biaya sepenuhnya dari Dealer.
Dari hal tersebut di atas maka perjanjian ini seharusnya dapat per-baiki sehingga dapat memberikan hak-hak yang sama bagi para pihak yang melakukan perjanjian, bukan
karena pihak Main Dealer
mem-punyai wewenang yang lebih tinggi dapat mengatur dan menetapkan per-janjian sesuai dengan keinginan dan kepentingan bisnisnya saja tetapi juga memperhatikan keseimbangan dalam perjanjian. Di dalam Pasal 18 Un-dang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, pelaku usaha dalam menawarkan barang dan atau jasa yang ditu-jukan untuk diperdagangkan dilarang mem-buat atau mencantumkan klausula ba-ku pada setiap doba-kumen dan atau per-janjian, antara lain:
1. Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha;
2. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kem-bali barang yang dibeli konsu-men;
3. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kem-bali uang yang dibayarkan atas barang dan atau jasa yang dibeli konsumen;
4. Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung maupun ti-dak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang ber-kaitan dengan barang yang dibeli konsumen secara angsuran; 5. Mengatur perihal pembuktian atas
hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen;
6. Memberi hak kepada pelaku usa-ha untuk mengurangi manfaat ja-sa atau mengurangi harta keka-yaan konsumen yang menjadi objek jual beli jasa;
lan-Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 11
jutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsu-men memanfaatkan jasa yang di-belinya;
8. Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara ang-suran.
Analisis tentang prosedur dan kriteria penunjukan dan peng-angkatan Dealer oleh Main Dealer Astra Honda Authorized Service
Station (AHASS)
Untuk mendapatkan ijin pe-nunjukan dan pengangkatan sebagai
Dealer AHASS dari Main Dealer
di-perlukan pengajuan proposal untuk menjadi jaringan AHASS. Adapun proposal tersebut berisi data dan do-kumen sebagai berikut:
1. Surat Permohonan jadi AHASS
2. Foto Bangunan tempat usaha/
Bengkel
3. Lay out Bangunan Bengkel
4. Denah sekitar Bengkel
5. Fotocopy KTP, kartu keluarga
dan Pas Foto
Dari prosedur pengajuan
pro-posal dan kriteria sebagai Dealer
se-muanya terpenuhi oleh PT. Abelindo
Jaya Samudera maka pihak Main
Dealer dalam hal ini melakukan
pe-nunjukan dan pengangkatan Dealer
untuk pertama kali diberikan Main
Dealer PT. Wahana Makmur Sejati
sebagai Dealer AHASS H2 sebagai
penyedia jasa perbaikan pada tanggal 19 Juli 2005. Kemudian Penunjukan
Dealer PT. Abelindo Jaya Samudera
sebagai AHASS H3 atau Dealer
penjual suku cadang dilakukan pada tanggal 1 Januari 2007.
Hal-hal penting yang berhu-bungan dengan prosedur penunjukan
dan pengangkatan Dealer AHASS
adalah Pasal 1 (satu) menjelaskan bahwa prosedur penunjukan dan
pe-ngangkatan Dealer merupakan hak
dari Main Dealer dengan
permo-honan, verifikasi dan analisis tentang
prospek bisnis di wilayah Dealer,
sehingga pihak Dealer dalam hal ini
PT. Abelindo Jaya Samudera harus memberikan informasi yang dapat mendukung kerjasama ini dalam jangka waktu yang panjang dan sa-ling menguntungkan, kemudian da-lam pasal-pasal selanjutnya dijelas-kan tentang waktu perjanjian adalah satu tahun dan akan diperpanjang
berdasarkan hasil evaluasi dari Main
Dealer.
Kriteria penunjukan Dealer
berdasarkan kriteria yang ditetapkan
oleh Main Dealer dimana Dealer
ha-rus mempunyai tempat usaha yang menguntungkan dengan disertai copy bukti kepemilikan tempat, memiliki
lay out bangunan bengkel yang ideal
berukuran 8 meter x 10 meter atau lebih, lokasi sekitar bengkel memiliki potensi-potensi bisnis seperti ada pa-sar, sekolah atau perumahan dengan detail serta ditambah data populasi sepeda motor Honda atau bengkel berada minimal pada jarak radius 10 Km dari tempat-tempat potensi bisnis
sebagai Dealer dan kriteria terakhir
adalah kelengkapan data legal se-bagai badan hukum seperti copy
dokumen izin gangguan HO (Hinder
Ordonantie), SIUP (Surat Ijin Usaha
Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 12
Wajib Pajak), SITU (Surat Izin Tempat Usaha) dan KTP. Kewajiban
Dealer adalah harus melakukan
pe-masangan shop’s sign atau papan
nama toko pada tempat usaha Dealer
untuk menunjukan indentitas Dealer
dan nama besar Astra Honda Motor disamping hal tersebut larangan
pen-jualan produk atau spare part palsu.
Dealer harus memberikan reporting
mengenai data-data service yang
te-lah dilakukan dan pihak Main Dealer
juga akan memverifikasi kegiatan
dari operasional Dealer. Dealer
dila-rang untuk mengadakan kerja sama lain dengan perusahaan yang mem-punyai kegiatan yang sama dengan bisnis dalam perjanjian kerjasama
dengan Main Dealer dan Dealer
harus membantu untuk mempromo-sikan produk atau program-program baik yang berasal dari Astra Honda
Motor maupun dari Main Dealer PT.
Wahana Makmur Sejati.
Analisis tentang konsekuensi hukum penunjukan PT. Abelindo Jaya Samudera sebagai Dealer Astra Honda Authorized Service
Station (AHASS)
Perjanjian kerjasama merupa-kan dokemen hukum yang utama
(main legal document) yang dibuat
secara sah dengan memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Akibat hu-kum perjanjian yang dibuat secara sah, maka akan berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak (Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata). Dalam pelaksanaannya tidak berarti perjanjian kerjasama tidak membawa masalah serta berbagai kendala yang dapat merugikan salah satu pihak
oleh sebab itu harus diperhatikan siapa yang melakukan perjanjian dan apa isi dari perjanjian agar jika terjadi suatu kendala dapat disele-saikan dengan cara yang terbaik. Akibat adalah pengaruh terhadap para pihak dan juga mengandung arti sebagai sanksi bagi pihak yang lalai melaksanakan kewajibannya. Suatu hal daripada ketidakjujuran dalam suatu perjanjian akan membawa aki-bat terhadap perjanjian itu sendiri.
Pasal 1340 ayat (1) Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata
menyatakan bahwa perjanjian-per-janjian yang dibuat hanya berlaku diantara para pihak yang membuat-nya. Dalam hal perjanjian kerjasama
Main Dealer dan Dealer AHASS
maka perjanjian ini berlaku untuk PT. Wahana Makmur Sejati dengan PT. Abelindo Jaya Samudera. Ini be-rarti bahwa setiap perjanjian yang buat oleh kedua perusahaan ini hanya membawa akibat berlakunya keten-tuan pasal 1311 Kitab Undang-Undang Hukum perdata bagi para pihak yang terlibat atau membuat perjanjian tersebut. Jadi apa yang menjadi kewajiban atau prestasi yang harus dilaksanakan oleh PT. Abe-lindo Jaya Samudera dalam perjan-jian hanya merupakan dan menjadi kewajiban-kewajibanya semata-mata. Dengan demikian bahwa prestasi yang dibebankan oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bersifat personal dan tidak dapat dialihkan dengan begitu saja karena semua perjanjian yang telah dibuat dengan sah antara PT. Wahana Makmur Se-jati dan PT. Abelindo Jaya Samudera
akan berlaku sebagai
ter-Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 13
sebut. Jadi perjanjian tersebut akan mengikat dan melahirkan perikatan bagi para pihak dalam perjanjian ini
karena perjanjian kerjasama Main
Dealer dengan Dealer tidak dapat
di-tarik kembali selain dengan kesepa-katan kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Dengan ketentuan pasal 1338 ayat 2 kitab Undang-Undang Hukum Per-data, jelas bahwa apa yang sudah disepakati oleh PT. Wahana Makmur Sejati dengan PT. Abelindo Jaya Samudera tidak boleh diubah oleh pihak manapun, kecuali jika peru-bahan tersebut memang dikehendaki secara bersama oleh para pihak atau ditentukan demikian oleh undang-undang berdasarkan suatu perbuatan hukum atau peristiwa hukum atau keadaan hukum tertentu.
Dengan demikian perjanjian mulai mengikat para pihak dan berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, terhitung sejak tercapainya kesepkatan para pihak. Di samping bentuk perjanjian konsensual seperti tersebut di atas ada pula bentuk perjanjian lainnya yaitu perjanjian formal dan perjan-jian riil. Untuk kedua perjanperjan-jian itu tidak cukup hanya dengan kata sepakat tapi diperlukan suatu forma-litas atau suatu perbuatan yang nyata.
Suatu perjanjian disebut for-mal akan menjadi sah apabila harus dilaksanakan dengan suatu tindakan tertentu, apabila tidak dilakukan ma-ka perjanjian tersebut tidak sah. Un-tuk perjanjian perdamaian yang harus dilaksanakan secara tertulis, kalau tidak maka ia tidak sah. Demikian pula terhadap perjanjian riil,
perjan-jian itu menjadi atau mulai sah apa-bila telah dilaksanakan suatu penye-rahan.
Akibat dari perjanjian diatur dengan tegas dalam Pasal 1338 KUH
Perdata yang mengatakan : “semua
persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Perse-tujuan-persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dari sepakat kedua belah pihak atau karena ala-san-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Perse-tujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik”.
Bentuk perjanjian penunjukan
dan pengakatan Dealer oleh Main
Dealer dibuat secara baku yang
me-rupakan hasil inisiasi dari Main
Dealer yang dituangkan dalam
ben-tuk pasal atau klausul dari perjanjian yang dibuat untuk kepentingan bisnis dalam perjanjian kerjasama sehingga
dapat digunakan untuk seluruh
Dealer yang diangkat oleh Main
Dealer. Adapun mengenai akibat
dari suatu perjanjian adalah sesuai dengan apa yang para pihak
per-janjikan sehingga jika pihak Dealer
menyetujui perjanjian yang dibuat
secara standart dan baku oleh Main
Dealer ini, maka perjanjian ini harus
dijalakankan karena bila perjanjian untuk memberikan sesuatu atau me-nyerahkan sesuatu, para pihak harus melaksanakannya, sedangkan bila perjanjian untuk berbuat sesuatu, maka para pihak baru berbuat sesuai dengan yang diperjanjikan.
Permasalahan yang timbul dari perjanjian ini adalah adanya wanprestasi dari pihak dealer dimana
Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 14
suku cadang yang bukan asli merk Honda yang telah ditetapkan oleh
Main Dealer. Hal ini telah melanggar
kesepakatan yang tertuang dalam perjanjian penunjukan dan pengang-katan PT. Abelindo Jaya Samudera
sebagai Dealer AHASS H3 pada
Pasal 4 dan 5 yaitu pada Pasal 4
mengatakan bahwa Dealer berjanji
untuk tidak melakukan atau ikut serta melakukan atau membantu kegiatan dalam bentuk apapun juga yang bermaksud untuk membuat dan/atau menjual/memasarkan dan/atau mem-beri kemasan/ mengemas suku ca-dang dengan memakai kemasan palsu atau yang dipalsukan dan/atau me-nyalahgunakan kemasan asli milik
Distributor Tunggal dengan cara
apa-pun kepada pihak lain siapaapa-pun juga dan pada pasal 5 mengatakan bahwa
Dealer berjanji untuk tidak
mela-kukan atau ikut serta melamela-kukan atau membantu melakukan kegiatan dalam bentuk apapun juga yang bermaksud untuk membuat dan/atau menjual/ memasarkan dan/atau memberi ke-masan/mengemas suku cadang de-ngan memakai kemasan yang mengu-nakan identitas/atribut Honda dan/
atau Distributor Tunggal dengan cara
apapun kepada pihak lain siapapun juga.
Jadi penggunaan, pembuatan dan penjualan dengan kemasan dan atribut suku cadang palsu tidak
diperkenakan bagi setiap Dealer
AHASS. Kejadian yang dialami PT. Abelindo Jaya Samudera adalah ada-nya diketemukan bahwa karyawan PT. Abelindo Jaya Samudera dalam hal ini montir untuk perbaikan sepeda
motor menjual spare part palsu yang
tanpa sepengetahuan dari pemilik
karena dilakukan secara diam-diam, tetapi pada saat sidak oleh pihak
Main Dealer ditemukan hal tersebut.
Hal ini menyebabkan diputuskannya
secara sepihak oleh Main Dealer
dengan cara tidak memperpanjang kontrak kerjasama penunjukan dan
pengangkatan Dealer AHASS H3
atau sebagai penjual spare part asli
merk honda. Kebijakan ini dilakukan
oleh Main Dealer berdasarkan oleh
kesepakatan pasal 10 yang berbunyi
bahwa Apabila Dealer tidak
melak-sanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam butir 4 dan 5 Perjan-jian ini dan/atau apabila ditemukan adanya pelanggaran merek Honda dalam bentuk apapun juga ditempat
usaha Dealer, maka Main Dealer
dapat langsung mencabut status ke-dealeran dan/atau mengakhiri jangka waktu perjanjian ini tanpa perlu me-nunggu selesainya proses hukum atas pelanggaran merek Honda tersebut dan hal ini sama sekali tidak
membe-rikan hak/kewenangan Main Dealer
untuk menuntut ganti rugi berupa apapun dan dengan cara apapun dari Dealer.
Walaupun kesalahan dilaku-kan budilaku-kan karena unsur kesengajaan
dari pemilik Dealer tetapi karena
karyawan atau montir tersebut masih
dalam pengawasan pemilik Dealer
PT. Abelindo Jaya Samudera maka konsekuensi hukum atas tindakan ter-sebut berdampak pada tidak diper-panjangnya penunjukan dan
pengang-katan Dealer AHASS H3. Hal ini
membuktikan bahwa pernjanjian
terse-Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 15
but tidak dilakukan secara sepihak tanpa adanya penjelasan dan alasan
dari pihak Dealer walaupun
penun-jukan dan pengangkatan Dealer
me-rupakan hak mutlak dari Main Dealer
dalam menilai dan menganalisa
Dealer. Hal ini tentunya
menim-bulkan ketidakseimbangan perjanjian kerjasama ini dimana seharusnya
pi-hak Main Dealer memberikan surat
peringatan terlebih dahulu dan
meli-hat pihak Dealer melakukan
peru-bahan atas kesalahan pada tindakan tersebut dan tidak secara langsung menolak perpan-jangan penunjukan
dan pengangkatan Dealer AHASS
H3 secara sepihak tanpa ada
penje-lasan dari Dealer.
Jika dilihat dari bentuk kerja-sama antara PT. Wahana Makmur Sejati dengan PT. Abelindo Jaya Sa-mudera maka banyak sekali pasal-pasal yang memberatkan PT. Abe-lindo Jaya Samudera. Dari analisis perjanjian bahwa hal penting yang membuat perjanjian ini tidak seim-bang adalah:
1) Pihak Main Dealer bisa
melaku-kan pemutusan secara sepihak
kepada Dealer jika tidak
meme-nuhi kriteria yang dibe-rikan oleh
Main Dealer. (Pasal 10
Perjan-jian AHASS H3).
2) Dealer harus menanggung segala
beban pajak, retribusi dan biaya lain-lainnya yang timbul sebagai akibat dari perjanjian (Pasal 7 Perjanjian AHASS H2).
3) Biaya pembuatan interior atau
peralatan service yang
mengan-dung unsur subsidi bisa diambil
oleh Main Dealer saat terjadi
wanprestasi walaupun biaya ter-sebut sebagian dikeluarkan oleh
Dealer. (Pasal 6 Perjanjian
AHASS H2; Pasal 6 dan 11 perjanjian AHASS H3).
4) Main Dealer mempunyai kuasa
untuk mengambil paksa barang bersubsidi dan akibat dari keru-sakan atau biaya menjadi beban
Dealer (Pasal 11 Perjanjian
AHASS H2; Pasal 6 dan 11 perjanjian AHASS H3).
Jika dilihat dari empat point di atas sudah jelas bahwa tidak ada keseimbangan dalam perjanjian
ker-jasama ini dan pihak Main Dealer
yang diuntungkan dengan adanya kerjasama ini. Seharusnya setiap per-janjian yang dilahirkan selalu ter-dapat pengharapan tercapainya tu-juan dan kepentingan para pihak yang membuatnya. Setiap perjanjian yang disepakati selalu berisikan tentang kepentingan yang bertimbal balik yang secara ideal seharusnya memiliki keseimbangan.
E.SIMPULAN DAN SARAN 1. Simpulan
Dari uraian yang telah dije-laskan diatas, maka dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut:
a. Bentuk Perjanjian Kerjasama
antara PT. Wahana Makmur Sejati dan PT. Abelindo Jaya Samudera adalah bentuk per-janjian kerjasama penunjukan
dan pengangkatan dari Main
Dealer kepada dengan
Channel 2 dan 3 atau AHASS H 2,3.
b. Prosedur dan kriteria
penun-jukan Dealer oleh Main
Dea-ler sudah terpenuhi pada saat
per-Jurnal Lex Certa, Vol. 1 No. 1 (1 – 16) Page 16
janjian kerjasama ini tetapi perjanjian tertulis ini dibuat dibawah tangan tanpa dibuat dihadapan pejabat yang ber-wenang (Notaris) yang da-lam pelaksanaanya menem-patkan menemmenem-patkan posisi tidak seimbang dimana for-mat bentuk kerjasama sudah bentuk baku yang menjadi
standar dari Main Dealer
kepada Dealer.
c. Akibat hukum yang terjadi
dalam perjanjian kerjasama adalah tidak diperpanjang
kontrak kerjasama untuk
AHASS H3 akibat
wanpres-tasi karena Dealer dianggap
tidak mampu memenuhi ke-wajiban yang telah disepakati
dan diberikan oleh Main
Dealer akibat adanya
karya-wan Dealer yang menjual
spare part yang bukan merk
asli Honda. 2. Saran
Berdasarkan hal-hal yang su-dah diuraikan diatas penulis membe-rikan saran-saran sebagai berikut:
a. Hendaknya para pihak dalam
membuat perjanjian kerjasama agar kiranya dapat dibuat dalam bentuk akta otentik melalui pejabat yang berwenang seperti Notaris. Sehingga kontrak yang dibuat para pihak secara substan-sial memberikan masukan dari pertimbangan Hukum dari No-taris.
b. Hendaknya disarankan dalam
melakukan dan melaksanakan Kerjasama, para pihak harus memenuhi hak dan kewajiban
yang telah disepakati bersama tetapi hak dan kewajiban terse-but harus dibuat seimbang.
c. Hendaknya disarankan
A. Buku
Harahap, M. Yahya., Segi-Segi Hukum Perjanjian, Bandung, PT. Alumni,
1986.
Muljadi, Kartini dan Widjaja, Gunawan., Perikatan yang lahir dari
Perjanjian, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, 2014.
Prodjodikoro, Wirjono., Hukum Perdata tentang Persetujuan-Persetujuan
Tertentu, Cetakan IX, Bandung, Sumur, 1991.
Sibuea, Hotma P. dan Sukantono, Heryberthus., Metode Penelitian Hukum,
Jakarta, Krakatauw Book, 2009
Soekanto, Soerjono dan Mamudji, Sri., Penelitian Hukum Normatif, Jakarta,
Raja Grafindo Persada, 2011.
Soekanto, Soerjono., Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, Penerbit
Universitas Indonesia (UI-PRESS), 2010.
Subekti, R., Hukum Perjanjian, Jakarta, PT. Intermasa, 2010.
Subekti, R. dan Tjitrosudibio, R., Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
Jakarta, Penerbit PT. Pradnya Paramita, 2004.
Sudikno, Mertokusomo., Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Yogyakarta,
Cahaya Atma Pustaka, 2010.
S. Meliala, Djaja., Hukum Perdata dalam Perspektif BW, Bandung, Nuansa
Aulia, 2014
Tjiptono, Fandy., Service Management Mewujudkan Layanan Prima,
Yogyakarta, penerbit CV. Andi Offset, 2008
B. Internet
Yudha Hernoko, Agus., Keseimbangan Versus Keadilan dalam Kontrak
(Bagian III), 2010, http://gagasanhukum.wordpress.com/2010/06/10.