• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunikasi Interpersonal

2.1.1 Definisi Komunikasi Interpersonal

Terdapat beberapa definisi komunikasi interpersonal menurut beberapa ahli, diantaranya adalah:

a. Menurut Joseph A. Devito dalam bukunya The Interpersonal Communication Book, komunikasi antarpribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika (Devito, 2011:4).

b. Menurut Rogers dalam Depari, komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi dari mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi.

c. Menurut Tan juga mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi tatap muka antara dua orang atau lebih (Liliweri, 1991:12).

Komunikasi dikatakan efektif, jika komunikasi yang disampaikan menghasilkan timbal balik antara komunikan dan komunikator yang menimbulkan efek tertentu dan sesuai tujuan yang diharapkan oleh komunikator. Efek yang timbul dengan adanya komunikasi adalah sebagai berikut:

1. Efek kognitif, yaitu bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, dipersepsi oleh komunikan atau yang berkaitan dengan pikiran dan nalar. Dengan kata lain, pesan yang disampaikan ditujukan kepada pikiran komunikan.

2. Efek afektif, yaitu bila ada perubahan pada apa yang dirasakan atau yang berhubungan dengan perasaan. Dengan kata lain, tujuan komunikator bukan saja agar komunikan tahu tapi juga tergerak hatinya.

3. Efek konatif, yaitu perilaku yang nyata dalam meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, kebiasaan, atau dapat juga dikatakan menimbulkan kemauan baik untuk berperilaku tertentu dalam arti kita melakukan suatu tindakan atau kegiatan yang bersifat fisik (Liliweri, 1991:12-13).

(2)

Efektifitas dari komunikasi interpersonal menurut Joseph A. Devito, dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Keterbukaan

Keterbukaan merupakan suatu sikap yang mampu menerima masukan dari orang lain dan berkenaan menyampaikan informasi penting kepada orang lain. Kualitas keterbukaan mengacu pada tiga aspek dari komunikasi interpersonal.

1. Komunikasi interpersonal yang efektif harus terbuka kepada komunikannya.

2. Mengacu pada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang.

3. Menyangkut kepemilikan perasaan dan pikiran dimana komunikator mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang diungkapkannya.

b. Empati

Empati adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui pandangan orang lain.

c. Dukungan

Situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung efektif. Hubungan yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung.

d. Rasa Positif

Seseorang harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif.

e. Kesetaraan

Komunikasi antarpribadi akan lebih efektif jika setara. Maksudnya, ada pengakuan kedua belah pihak dalam menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.

Berdasarkan definisi Devito, maka komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjadi secara dialogis, dimana saat komunikator berbicara maka akan terjadi umpan balik dari komunikan sehingga terdapat interaksi. (Devito, 2011:286-291).

(3)

1.2 Adat Budaya Batak

2.2.1 Masyarakat Batak

Masyarakat Batak terdiri dari enam sub suku, diantaranya, masyarakat Batak Toba yang berdiam di sekitar Danau Toba, Batak Karo yang berdiam di sekitar dataran tinggi Karo (Kabanjahe), Batak Simalungun yang mendiami daerah Simalungun (Pematang Siantar), Batak Pak-Pak yang mendiami daerah Dairi (Sidikalang), Batak Angkola yang mendiami daerah Angkola (Gunung Tua) dan Batak Mandailing yang mendiami daerah Tapanuli Selatan (Padangsidempuan). (Hadikusuma, 2003:120).

Konsep kehidupan masyarakat Batak Toba sering kali dikaitkan dengan nilai-nilai adat. Sedangkan adat merupakan hal yang harus ditaati dan dijalankan. Dalam praktek pelaksanaan Batak Toba ada tiga kategori adat yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

a. Adat yang diyakini sebagai norma yang mengatur hubungan antara manusia Batak Toba.

b. Pola Interpersonal dalam kelompok masyarakat Batak Toba, yang terus menerus mengalami perubahan sesuai kebutuhan tanpa melihat tempat dan waktu.

c. Komunitas masyarakat Batak Toba mempunyai sistem hubungan adat tersendiri.

Artinya setiap komunitas memiliki tipologi adat masing-masing.

Menurut Ralph Linton dalam Abdulsyani (2007:11), Masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.

2.2.2 Sistem Kekerabatan

Pada garis besarnya ada tiga macam sistem kekerabatan yang masing-masing mempunyai aturan kekerabatan yang berbeda, yaitu sistem patrilineal, matrilineal, dan parental. Ketiga sistem kekerabatan itu dalam menggolongkan orang keturunan dan yang bukan keturunan berbeda satu dengan yang lainnya (Yaswirman., 2011:177).

(4)

Sistem kekerabatan orang Batak Toba adalah Patrilineal, orang Batak Toba itu tidak dapat dipisahkan secara tegas. Orang Batak yang sudah menjalani pendidikan modern kemungkinan besar tidak lagi sepenuhnya menerima kebenaran uraian yang agak mitologis mengenai perkembangan sukunya. Konsep yang sangat mendasar dalam organisasi kekerabatan ini adalah Marga. Marga adalah kelompok orang-orang yang merupakan dari garis keturunan yang melalui laki-laki. (Vergouwen, 2004:1).

2.2.3 Struktur Masyarakat

Untuk menjauhi pemikiran buruk dari pemahaman terhadap DNT, maka struktur masyarakat serta arti dan fungsi marga bagi orang Batak Toba sangat berkaitan erat dengan sistem kekerabatan DNT. Marga adalah trilogi identitas orang Batak Toba yang merupakan satu kesatuan yang sangat menonjol.

Marga bukan hanya mengandung makna sebagai suatu identitas bagi orang Batak Toba. Marga menyangkut kepada pemahaman masyarakat Batak Toba akan dunia yang bersifat totalitas. Relasi marga adalah aspek identitas orang Batak Toba yang sangat kuat yang berfungsi secara sosial.Secara teritori kelompok marga yang memiliki hak sehingga bisa dikatakan marga adalah “negara” dan “kerajaan”. (Simanjuntak, 2006)

Tujuan marga adalah membina kekompakan dan solidaritas dalam kelompok.

Dengan adanya marga maka kehidupan sistem kekerabatan DNT tetap ada sampai saat ini.

Itulah sebabnya, dalam kenyataan kehidupan sehari-hari saat ini, Mahasiswa Parhobas sangat senang membentuk perkumpulan marga maupun perkumpulan tempat asal.

Hal ini dapat diamati dalam perkumpulan Parhobas UKSW yang di perantauan.

Namun seringkali bahwa perkumpulan tersebut kurang efektif sebagai sarana dalam memelihara tradisi dan nilai kebudayaan.

2.3 Mahasiswa Parhobas Batak Toba di UKSW

Perkumpulan Mahasiswa Batak Toba di UKSW cukup banyak dan sebagian besar mahasiswa yang di perantauan mengikatkan diri pada perkumpulan Parhobas. Hal ini dapat dilihat

(5)

dari keaktifan mahasiswa tersebut dalam berkontribusi untuk mengikuti dalam beberapa kegiatan pokok seperti Makrab, Perayaan Paskah, BatakCup ,Natal Parhobas, dan acara tahunan Bona Taon (awal tahun). Parhobas tersebut sangat memberikan nilai positif dalam perkumpulan mahasiswa perantauan di Kota Salatiga ini, seperti hasil wawancara peneliti kepada Bapak B.Pasaribu sebagai orang tua bahwa “adanya perkumpulan Parhobas ini menjadi suatu perkumpulan yang mampu memberikan pelajaran untuk mahasiswa perantauan yang khususnya tidak begitu tahu dengan budayanya sendiri.

Perkumpulan Parhobas ini pun belum cukup terpenuhi dengan baik karena belum berada dibawah naungan lembaga yang resmi seperti, Gereja atau UKSW. Tetapi Parhobas juga didukung dengan beberapa orang tua yang asli dari Kota Salatiga. Selama adanya perkumpulan Parhobas, Parhobas sering ikut serta dalam acara yang diadakan orang tua yang asli dari Kota Salatiga seperti, Parsahutaon Saroha Salatiga yang dimaksud Persatuan Batak yang ada di Salatiga (yang sudah menetap atau merantau di Salatiga).

Parhobas juga mengikuti kegiatan yang pernah dilakukan secara khusus oleh IKS, IGMK, Naposo HKBP Salatiga, Walikota Salatiga, Parhata, dan beberapa Acara di UKSW. Seperti, Makrab, Natal, BatakCup, Paskah, dan HUT Kota Salatiga. Pada umumnya kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan tanpa membedakan fakultas atau marga. Pemilihan informan peneliti melakukan secara acak sesuai dengan keaktifan mahasiswa Batak Toba yang di UKSW, yakni para pengurus Parhobas.

Model teori komunikasi sangat penting dalam mengembangkan kemampuan kritis. Hal tersebut dapat diartikan sebagai bentuk atau pola hubungan antara dua orang atau lebih dalam suatu kelompok. (Djamarah, 2004:1). Penelitian ini tentu menggunakan teori komunikasi interpersonal yang menerapkan sebagai pengolahan analisis terhadap kejadian yang dialami. Teori komunikasi yang dapat digunakan sebagai pengolahan analisis yang terkait pada tradisi Partuturan Mahasiswa Batak di Perkumpulan Parhobas UKSW sebagai komunikasi interpersonal di kalangan Mahasiswa Perantauan di UKSW, untuk menghindari atau mengurangi ketidaknyamanan dan penilaian subyektif dalam memulai Partuturan.

(6)

2.4 Model Hubungan Lima Tahap

Kebanyakan hubungan berkembang melalui tahap-tahap melalui bersosial atau berinteraksi dengan orang sekitar yang menjadi terjadinya keakraban secara bertahap, melalui serangkaian atau tahap dan hal yang sama dalam berlakunya pula untuk kebanyakan hubungan lainnya. Menurut Joseph A DeVito dalam bukunya Komunikasi Antarmanusia mengenai antarpribadi dapat dijelaskan dengan mengindentifikasi dua karakteristik penting.

Pertama, hubungan antarpribadi berlangsung melalui beberapa tahap, mulai dari tahap interaksi awal sampai pemutusan. Kedua, hubungan antarpribadi berbeda-beda dalam hal keluasan, dan kedalamannya.

Gambar 1.

Model Hubungan Lima Tahap

Model lima tahap ini menggunakan tahap-tahap penting dalam pengembangan hubungan.

Kelima tahap ini dijelaskan sebagai berikut:

1. Kontak, pada tahap pertama kita membuat kontak yang terlibat dalam beberapa macam persepsi alat indera seperti melihat, mendengar dan membaui seseorang. Beberapa riset dalam tahap inilah dalam beberapa menit pertama interaksi awal, pada tahap ini penampilan fisik sangat penting. Namun demikian, karakter-karakter lain seperti sikap sahabat, kehangatan, keterbukaan, dan dinamisme juga terungkap pada tahap ini.

2. Keterlibatan, tahap pengenalan lebih jauh ketika kita mengikatkan diri untuk lebih mengenal seseorang dan juga mengungkapkan siapa diri kita.

(7)

3. Keakraban, mengikatkan diri lebih jauh kepada orang lain untuk membina hubungan primer.

4. Perusakan, merupakan penurunan hubungan, ketika ikatan di antara kedua belah pihak melemah. Pada tahap perusakan mulai merasa bahwa hubungan ini mungkin tidak begitu penting.

5. Pemutusan, tahap yang berarti memutuskan ikatan yang mempertalikan kedua belah pihak.

Tahap-tahap pengembangan itu menjadi awal suatu proses komunikasi. Komunikasi mempunyai dua tahap proses untuk mencapai tujuannya, yaitu:

1. Proses Komunikasi secara Primer, adalah penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang sebagai media. Media primer dalam komunikasi adalah bahasa,isyarat,gambar,warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator ke komunikan.

2. Proses Komunikasi secara Sekunder, adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.

2.5 Penelitian Terdahulu

Secara umum dapat dikatakan bahwa konsep mengungkap pentingnya suatu objek. Agar objek yang dimaksud jelas bagi peneliti dan dikaji secara sistematis, maka objek tersebut harus diisolasi dari interaksi dengan fenomena yang lain pada suatu saat tertentu (Ardial, 2004:55).

Peneliti harus belajar dari peneliti lain supaya menghindari duplikasi atau pengulangan penelitian. Peneliti juga berusaha mencari referensi hasil penelitian yang dikaji terdahulu sehingga dapat membantu peneliti. Adapun berikut ini tinjauan peneliti yang diperoleh :

(8)

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Penulis Judul Hasil Penelitian Penelitian yang dilakukan peneliti 1. Linda Lestari

(2016) Universitas Lampung

Pola Komunikasi Perkumpulan Marga Parna (Pomparan Ni Raja Naiambaton) untuk

mempertahankan aturan perkawinan dalam Marga Batak (Studi pada perkumpulan marga Parna Desa Bumi Sari

Kecamatan Natar).(Lestari, 2016)

Pola Komunikasi yang terjadi dalam mempertahankan aturan perkawinan adat Batak Toba, yaitu jajar genjang, bentuk pesawat,bentuk segitiga,dan layang-layang.

Judul Penelitian : TRADISI

PARTUTURAN MAHASISWA

BATAK DI PERKUMPULAN

PARHOBAS UKSW SEBAGAI

POLA KOMUNIKASI

INTERPERSONAL

Persamaan Penelitian peneliti dengan peneliti pertama dan kedua adalah, sama – sama meneliti tentang orang batak Toba, metodologi penelitian yang digunakan oleh peneliti pertama, kedua, ketiga dan peneliti adalah kualitatif deskriptif.

Perbedaan Penelitian: pada penelitian pertama, pola komunikasi yang digunakan adalah pola komunikasi kelompok dimana, subjek dari penelitian ini adalah perkumpulan marga parna yang berada di desa Bumi Sari Kecamatan Natar dalam mempertahankan aturan perkawinan dalam marga batak seperti jajar genjang, bentuk segitiga dan layang- layang

2. Erika Gresia Serepma Sihombing (2015) Universitas Sumatera Utara

Hubungan Perilaku Martarombo dengan

Kepedulian Suku Batak Toba terhadap sesama Batak Toba

(Sihombing, 2015)

Suku Batak Toba dikenal sangat melestarikan budaya dan identitas mereka.

orang batak toba memiliki

kepedulian dan bisa menjaga

(9)

hubungan dengan orang lain.

Peneliti kedua adalah penelitian yang lebih fokus untuk menjaga hubungan perilaku martarombo terhadap sesama suku Batak Toba.

Peneliti ketiga, penelitian mengenai pola komunikasi kelompok, subjek penelitian pada Kelompok Pemburu Pekon Lombok Kecamatan Lumbok Seminung Kabupaten Lampung Barat, dan objek yang diteliti adalah pola komunikasi dalam tradisi Masu Babuy.

Berdasarkan penelitian diatas, hal yang menjadi dasar perbedaan yaitu pada subyek penelitian, dimana peneliti melakukan penelitian kepada mahasiswa yang bergabung dalam perkumpulan Parhobas UKSW minimal 2 tahun. Perbedaan kedua yaitu objek yang diteliti adalah tradisi partuturan mahasiswa yang ikut bergabung dalam perkumpulan Parhobas sebagai pola komunikasi interpersonal.

3. Radhit Gugi Nugroho (2014) Universitas Lampung

Pola Komunikasi Dalam Tradisi Masu Babuy (Studi Pada Kelompok Pemburu Pekon Lombok

Kecamatan Lumbok Seminung Kabupaten Lampung Barat)(Radhit Gugi Nugroho, 2014)

Pola Komunikasi yang terbentuk menyerupai kotak dengan tiap informannya.

Proses tingkatan kelompok kecil pemasu

membentuk pola komunikasi cakar ayam.

(10)

2.6 Kerangka Berpikir

Gambar 2.

Kerangka Berpikir

Tradisi Partuturan merupakan suatu sistem kekerabatan yang terdapat dalam etnis Batak Toba. Partuturan merupakan suatu bentuk komunikasi interpersonal yang digunakan untuk mengetahui hubungan kekerabatan. Berbicara mengenai hubungan kekerabatan, mahasiswa Batak Toba yang berada di lingkungan kampus UKSW Salatiga, yang tergabung dalam suatu ikatan mahasiswa Batak Toba yang disebut dengan nama Parhobas. Mahasiswa yang berada dalam organisasi Parhobas ini sangatlah menjunjung tinggi nilai kebudayaannya, dan ditunjukkan dengan cara mereka berkomunikasi dan dengan sapaan mereka terhadap teman

Tradisi Partuturan Mahasiswa Batak di Perkumpulan Parhobas UKSW Sebagai Komunikasi Interpersonal

Kontak

Model Lima Tahap Joseph deVito

Keterlibatan Keakraban Perusakan Pemutusan

Komunikasi tutur sapa, sikap, dan keuntungan Mahasiswa Batak di perkumpulan Parhobas dalam menerapkan perilaku Partuturan.

(11)

semarga dan orang yang lebih tua, dan semuanya itu yang disebut dengan nama Partuturan.

Untuk mengetahui hubungan interpersonal yang terjadi diantara anggota Parhobas, maka peneliti menggunakan model hubungan interpersonal milik Joseph Devito dengan melalui lima (5) tahap diantaranya adalah kontak, keterlibatan, keakraban, Perusakan, dan pemutusan. Peneliti akan menganalisis setiap tahap tersebut, dengan menggunakan data wawancara yang peneliti lakukan dengan beberapa narasumber. Dengan menggunakan 5 tahap tersebut kemudian peneliti akan menemukan komunikasi tutur sapa yang seperti apa yang terjadi di dalam kumpulan Parhobas, keuntungan apa yang didapatkan oleh Mahasiswa Batak Toba di perkumpulan Parhobas dalam menerapkan Partuturan.

(12)

Referensi

Dokumen terkait

Voltmeter untuk mengukur tegangan antara dua titik, dalam hal ini adalah tegangan pada lampu 3, voltmeter harus dipasang secara paralel dengan beban yang hendak diukur, posisi

Melalui identi- fikasi awal hambatan melaluipembelajaran bersama dengan guru PAUD Gugus 11 Arjowinangun untuk menemukenali faktor kegagalan pemahaman pada K13 PAUD dari

Karakteristik substrat maupun sedimennya pada Kawasan Pantai Ujong Pancu sendiri memiliki karateristik sedimen yang didominasi oleh pasir halus dimana pada

Pada penelitian ini menggunakan sensor DHT 11 untuk menguur suhu ruang dan pada penelitian ini hanya mengatur suhu ruang dengan menggunakan 1 subjek yakni pendingin,

Kata Kunci: Think-Pair-Share (TPS), Mind Mapping, dan Hasil Belajar. Fenomena pembelajaran yang terjadi, masih ditemukan sebagian besar siswa kurang berani menyampaikan pendapat

Untuk kompresor jenis positif displacement yaitu kompresor torak, cara kerjanya adalah sebagai berikut, jika torak ditarik ke atas, tekanan dalam silinder dibawah

Kepuasan responden di Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang kategori tinggi adalah 38 responden ( 38 % ) dan kategori sedang 62 responden ( 62 % ), dengan