ANALISIS PENGENDALIAN TINGKAT PRODUKSI OPTIMAL CRUMB RUBBER DENGAN METODE ECONOMIC
PRODUCTION QUANTITY (EPQ)
(Studi Kasus : PT. Perkebunan Nusantara III Medan)
SKRIPSI
DIAH TRESNA AYU NINGSIH 140803020
DEPARTEMEN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
ANALISIS PENGENDALIAN TINGKAT PRODUKSI OPTIMAL CRUMB RUBBER DENGAN METODE ECONOMIC
PRODUCTION QUANTITY (EPQ)
(Studi Kasus : PT. Perkebunan Nusantara III Medan)
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains
DIAH TRESNA AYU NINGSIH 140803020
DEPARTEMEN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
PERNYATAAN
ANALISIS PENGENDALIAN TINGKAT PRODUKSI OPTIMAL CRUMB RUBBER DENGAN METODE ECONOMIC
PRODUCTION QUANTITY (EPQ)
(Studi Kasus : PT. Perkebunan Nusantara III Medan)
SKRIPSI
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya serahkan benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, Mei 2018
Diah Tresna Ayu Ningsih 140803020
PENGESAHAN
Judul : Analisis Pengedalian Tingkat Produksi Optimal Crumb Rubber Dengan Metode Economic Production Quantity (EPQ) (Studi Kasus : PT.
Perkebunan Nusantara III Medan)
Kategori : Skripsi
Nama : Diah Tresna Ayu Ningsih
Nomor Induk Mahasiswa : 140803020
Program Studi : Sarjana (S1) Matematika
Departemen : Matematika
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara
Disetujui di Medan, Mei 2018
Ketua Program Studi
Departemen Matematika FMIPA USU Pembimbing
Dr. Suyanto, M.Kom Drs.Rosman Siregar, M.Si
NIP. 19590813 198601 1 002 NIP. 19610107 198601 1 001
ANALISIS PENGENDALIAN TINGKAT PRODUKSI OPTIMAL CRUMB RUBBER DENGAN METODE ECONOMIC
PRODUCTION QUANTITY (EPQ)
(Studi Kasus : PT. Perkebunan Nusantara III Medan)
ABSTRAK
Persediaan merupakaan barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa atau periode yang akan datang. Kelebihan maupun kekurangan persediaan yang terlalu besar akan mengakibatkan kerugian, karena kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan yang seharusnya diperoleh perusahaan. Oleh karena itu, pengendalian persediaan sangatlah penting untuk setiap perusahaan karena dapat mendorong kelancaran dalam proses produksi. Salah satu metode pengendalian persediaan yang digunakan untuk meminimalkan biaya agar didapatkan hasil produksi Crumb Rubber yang optimal adalah dengan menerapkan metode Economic Production Quantity (EPQ). Dengan menggunakan metode EPQ pada PT.
Perkebunan Nusantara III diperoleh tingkat optimal produksi setiap putaran produksi adalah 1.662.469,20 kg dengan interval waktu optimal yaitu 3,1631 bulan. Biaya minimum pengadaan persediaan selama interval waktu optimal adalah sebesar Rp 7.245.281.154,8241 setiap putaran produksi. Selisih total biaya pengadaan persediaan yang dihasilkan dengan menggunakan metode EPQ dan perhitungan berdasarkan kondisi produksi perusahaaan sebesar Rp 3.071.126.452,6599 per periode atau sekitar Rp 255.927.204,39 per bulan.
Kata Kunci : Economic Production Quantity (EPQ), Pengendalian persediaan, Persediaan
OPTIMAL PRODUCTION CONTROL ANALYSIS OF CRUMB RUBBER WITH ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY METHOD (EPQ)
(Case Study: PT.Perkebunan Nusantara III Medan)
ABSTRACT
Inventory is merchandise stored for use or sale in the future or in the period to come.
The excess or the shortage of inventory that is too large will result in losses, as it loses the opportunity to earn profits that should be obtained by the company.
Therefore, inventory control is very important for every company because it can encourage smoothness in the production process. One method of inventory control used to minimize the cost to obtain the optimal Crumb Rubber production is by applying the method of Economic Production Quantity (EPQ). By using EPQ method at PT. Perkebunan Nusantara III obtained optimal level of production every production round is 1,662,469,20 kg with optimal time interval is 3,1631 month. The minimum cost of procurement during the optimal time interval is Rp 7,245,281,154,8241 per production cycle. The difference between the total cost of inventory procurement generated using the EPQ method and the calculation based on the company's production condition amounted to Rp 3,071,126,452,6599 per period or approximately Rp 255,927,204.39 per month.
Keywords: Economic Production Quantity (EPQ), Inventory Control, Inventory
PENGHARGAAN
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, dengan limpah kasih-Nya Penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan judul “Analisis Pengedalian Tingkat Produksi Optimal Crumb Rubber Dengan Metode Economic Production Quantity (EPQ) (Studi Kasus : PT.
Perkebunan Nusantara III Medan)”.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, banyak pihak yang telah membantu penulis.
Untuk itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Bapak Drs. Rosman Siregar, M.Si selaku Dosen Pembimbing atas segala waktu dan arahan yang diberikan selama penyusunan skripsi.
2. Bapak Dra. Laurentina Pangaribuan, MS dan Ibu Dr. Mardiningsih,M.Si selaku Dosen Pembanding atas segala saran dan masukan yang diberikan dalam penyelesaian skripsi ini.
3. Bapak Dr. Suyanto, M.Kom dan Bapak Drs. Rosman Siregar, M.Si selaku Ketua dan Sekretaris jurusan Matematika serta seluruh Bapak dan Ibu dosen yang telah mendidik penulis selama menjalani pendidikan di Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam USU.
4. Bapak Dr. Kerista Sebayang, M.S selaku Dekan FMIPA serta seluruh Staf pegawai di Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam USU.
5. Semua Dosen pada Departemen Matematika FMIPA USU dan pegawai di FMIPA USU
6. Teristimewa kepada kedua orangtua tercinta, Ayahanda Soleh Suryaman, Ibunda Sakdiah serta saudara penulis Muhammad Hafiz Al Ikhsan yang
selalu memberikan dukungan berupa doa, meteri, serta motivasi kepada penulis.
7. PT. Perkebunan Nusantara III Medan yang bersedia membantu memberikan data riset kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Sahabat-sahabat penulis Yuni, Septian, Evan, Daniel, Ghadafi, Iqbal, Sapriadi, Markus yang selalu memberikan dukungan kepada penulis dan untuk semua yang telah memotivasi dan mendoakan penulis.
9. Tak terlupakan seluruh rekan-rekan kuliah Matematika stambuk 2014, adik- adik stambuk 2015, 2016, 2017 serta Abang dan Kakak Alumni.
Terima kasih penulis ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan skripsi.
Medan, Mei 2018
Diah Tresna Ayu Ningsih 140803020
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN i
PENGESAHAN ii
ABSTRAK iii
ABSTRACT iv
PENGHARGAAN v
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR x
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Perumusan Masalah 3
1.3 Batasan Masalah 3
1.4 Tujuan Penelitian 3
1.5 Manfaat Penelitian 4
1.6 Tinjauan Pustaka 4
BAB 2 LANDASAN TEORI
2.1 Uji Kenormalan Liliefors 8
2.2 Persediaan 10
2.2.1 Pengertian Persediaan 10
2.2.2 Jenis-jenis Persediaan 11
2.2.3 Penyebab dan Fungsi Persediaan 12
2.2.4 Biaya-biaya dalam Persediaan 14
2.2.5 Model-model Persediaan 16
2.3 Pengendalian Persediaan 17
2.3.1 Pengertian Pengendalian Persediaan 17
2.3.2 Tujuan Pengendalian Persediaan 17
2.4 Metode Economic Production Quantity (EPQ) 18 BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 23
3.2 Rancangan Penelitian 23
3.3 Jenis dan Sumber Data 24
3.3.1 Jenis Data 24
3.3.2 Sumber Data 24
3.4 Teknik Pengumpulan Data 25
3.5 Teknik Analisis Data 25
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Perusahaan 27
4.4.1 Visi dan Misi Perusahaan 28
4.4.2 Proses Pengolahan Crumb Rubber 28
4.2 Pengumpulan Data 30
4.3 Pengolahan Data 33
4.3.1 Uji Kenormalan Data dengan Uji Liliefors 33
4.4 Perhitungan dengan Metode EPQ 43
4.4.1 Tingkat Optimal Produksi (𝑄0) 44
4.4.2 Interval Waktu Optimal Setiap Putaran Produksi (𝑡0) 45 4.4.3 Biaya Persediaan Minimum (𝑇𝐼𝐶0) 46 4.5 Perhitungan Berdasarkan Kondisi Perusahaan 47
4.6 Rangkuman Pembahasan 48
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 50
5.2 Saran 50
DAFTAR PUSTAKA 51
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
1.1 Jumlah Produksi dan Penyaluran Tahunan Crumb Rubber 2 4.1 Volume Produksi Crumb Rubber pada periode 2015-2016 31 4.2 Volume Penyaluran Crumb Rubber pada periode 2015-2016 31 4.3 Biaya Pengadaan Crumb Rubber periode 2015-2016 32
4.3 Harga Crumb Rubber pada periode 2015-2016 33
4.5 Uji Normalitas Data Penyaluran Crumb Rubber Tahun 2015 37 4.6 Uji Normalitas Data Penyaluran Crumb Rubber Tahun 2016 42 4.7 Perbandingan Total Biaya Menggunakan EPQ dan Tanpa EPQ 49
DAFTAR GAMBAR
No Judul Halaman
2.1 Biaya-biaya Persediaan 14
2.2 Grafik EPQ 19
3.1 KerangkaPenelitian 23
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam perkembangan dunia industri yang semakin pesat akan menyebabkan timbulnya persaingan. Persaingan ini timbul karena adanaya berbagai perusahaan sejenis. Untuk dapat bertahan diperlukan adanaya pengelolaan produksi agar hasil yang akan dicapai akan optimal.
Untuk dapat berproduksi secara optimal diperlukan suatu pengendalian produksi yang baik sehingga nantinya diharapkan bisa mengkoordinasikan bagian seperti bahan baku, pekerja, mesin, serta efektif dan efisien. Karena produksi direncanakan untuk memenuhi permintaan konsumen, diusahakan perencanaan produksi dapat mengembangkan produksi untuk dapat mengantisipasi permintaan konsumen dimasa yang akan datang.
Perkebunan Nusantara III Medan merupakan salah satu 14 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perkebunan yang bergerak dalam bidang usaha perkebunan, pengolahan, dan pemasaran hasil perkebunan. Crumb Rubber merupakan salah satu produk yang diproduksi oleh perusahaaan ini. Dalam berproduksi selama ini perusahaan belum mempunyai suatu perencanaan yang pasti dan berproduksi hanya berdasarkan intuisi pimpinan saja.
Dalam menjalankan suatu proses produksi, PT. Perkebunan Nusantara III Medan sering dihadapkan pada masalah pengendalian persediaan. Perusahaan ini masih sering terjadi permasalahan kelebihan jumlah persediaan bahan baku. Kelebihan atau kekurangan persediaan merupakan faktor yang memicu peningkatan biaya. Jumlah persediaan yang terlalu banyak mengakibatkan terjadinya penumpukan di gudang.
Penumpukan ini dapat mengakibatkan bertambahnya biaya penyimpanan. Tetapi apabila terjadi kekurangan persediaan akan berakibat terganggunya kelancaran dalam proses produksinya sehingga membuat perusahaan tidak bisa memperoleh keuntungan yang maksimal.
2
PT.Perkebunan Nusantara III Medan mengalami masalah kelebihan persediaan karena persediaan dalam perusahaan hanya berdasarkan pada perkiraan kebutuhan yang direncanakan setiap bulannya.
Tabel 1.1 Jumlah Produksi dan Penyaluran Tahunan Crumb Rubber
No. Tahun Produksi Penyaluran
1 2015 7.048.284 6.161.880
2 2016 6.711.274 6.148.420
Sumber: PT. Perkebunan III Medan
Rata-rata produksi Crumb Rubber setiap bulan 573.314,92 kg, rata-rata penyaluran/permintaan setiap bulan 512.929,17 kg. Maka, kelebihan persediaan Crumb Rubber setiap bulannya berkisar 60.385,75 kg yang mengakibatkan persediaan menumpuk sehingga modal perusahaan tertanam dalam persediaan dan perusahaan harus mengeluarkan biaya yang besar untuk persediaan. Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki kebijakan untuk menentukan jumlah produksi dengan disesuaikan permintaan pasar agar dapat meminimalkan biaya persediaan. Untuk mempertahankan jumlah permintaan produksi memproduksi secara ekonomis serta menghilangkan biaya persediaan produksi yang lebih besar, solusi yang dapat dilakukan adalah diperlakukannya suatu perbaikan sistem pengendalian tingkat produksi. Maka, perusahaan dapat menggunakan perbaikan yang dilakukan dengan perhitungan produksi adalah dengan menggunakan metode Economic Production Quantity (EPQ).
Menurut Arman H Nasution (2003) tujuan dari metode Economic Production Quantity (EPQ) adalah untuk menentukan besarnya jumlah produksi yang optimal untuk meminimumkan jumlah persediaan dalam artian cukup untuk memenuhi kebutuhan dengan biaya yang serendah-rendahnya.
Dari uraian di atas maka peneliti tertarik untuk membahas masalah pengendalian persediaan dan produksi dengan judul “Analisis Pengedalian Tingkat Produksi Optimal Crumb Rubber Dengan Metode Economic Production Quantity (EPQ) (Studi Kasus : PT. Perkebunan Nusantara III Medan)”.
1.2 Perumusan Masalah
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah berapa banyak jumlah produksi yang harus ditentukan dalam suatu siklus produksi yang optimal untuk meminimumkan total biaya persediaan produksi Crumb Rubber pada PT. Perkebunan Nusantara III Medan.
1.3 Batasan Masalah
Permasalahan pada tulisan ini dibatasi dengan batasan-batasan sebagai berikut:
1. Penulis hanya menguraikan masalah tingkat produksi Crumb Rubber.
2. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh dari PT.
Perkebunan Nusantara III Medan yang meliputi data jumlah produksi, data jumlah penyaluran, data biaya pengadaan produksi, dan data biaya penyimpanan Crumb Rubber dari bulan Januari 2015 sampai dengan bulan Desember 2016.
3. Selama produksi dilakukan, tingkat pemenuhan persediaan adalah sama dengan tingkat produksi dikurangi tingkat permintaan.
4. Proses pengolahan dan kebijakan perusahaan tidak berubah selama jangka waktu pemecahan masalah.
5. Biaya yang timbul akibat kekurangan produksi (Shortage Cost) dianggap tidak ada.
6. Diasumsikan besarnya permintaan sama dengan penyaluran.
7. Harga crumb rubber dianggap stabil selama masa penelitian.
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah produksi Crumb Rubber yang optimum dalam suatu siklus produksi pada PT. Perkebunan Nusantara III Medan sehingga diperoleh keseimbangan produksi yang optimal dengan biaya yang minimum untuk memperoleh keuntungan yang maksimum.
1.5 Manfaat Penelitian
4
Melalui penelitian ini dapat diperoleh manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai penerapan ilmu yang telah diperoleh selama masa kuliah, serta dapat menambahkan pengetahuan tentang metode yang dibahas.
2. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat terhadap pengembangan di bidang industri dengan menerapkan metode persediaan pada perusahaan.
Serta dapat memberikan masukkan kepada perusahaan dalam usaha mengendalikan persediaan yang optimal sehingga dapat meminimumkan biaya produksi perusahaan.
3. Bagi Pembaca
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat dan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang mengangkat tema yang sama namun dengan sudut pandang yang berbeda.
1.6 Tinjauan Pustaka
Sebagai pendukung pembahasan teoei-teori dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa pustaka dan referensi jurnal, antara lain:
Menurut Teguh Baroto (2002) persediaan adalah bahan mentah, barang dalam proses (work in process), barang jadi, bahan pembantu, bahan pelengkap, komponen yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan.
Menurut Agus Ristono (2009) inventory atau persediaan adalah suatu teknik untuk manajemen material yang berkaitan dengan persediaan. Manajemen material dalam inventory dilakukan dengan beberapa input yang digunakan yaitu: permintaan yang terjadi (demand) dan biaya-biaya yang terkait dengan penyimpanan, serta biaya apabila terjadi kekurangan persediaan (shortage) .
Menurut Zulian Yamit (1999) biaya persediaan merupakan keseluruhan biaya operasi atas sistem persediaan. Biaya persediaan didasarkan pada parameter ekonomis yang relevan dengan jenis biaya sebagai berikut: (1) Biaya pembelian (purchase cost), (2) Biaya pemesanan (order cost/setup cost), (3) Biaya penyimpanan (carrying costs, holding costs), (4) Biaya kekurangan persediaan (shortage costs, stock-out costs).
Rimawan, E. (2007) dalam jurnalnya yang berjudul “Analisa Perhitungan Perencanaan Pengendalian Produksi Dengan Metode Economic Production Quantity (EPQ) Pada PT. XYZ” memaparkan bahwa produksi merupakan bagian yang sangat penting dari suatu perusahaan yang apabila mengalami gangguan atau kurang lancar maka akan sangat berpengaruh bagi keseimbangan perusahaan. Adapun data yang dibutuhkan pada penelitian ini antara lain: Data volume penjualan, data biaya produksi,data biaya bahan produksi, data biaya bahan baku, data biaya tenaga kerja, dan data overhead.
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan metode Economic Production Quantity (EPQ) diperoleh bahwa jumlah siklus yang ekonomis sebanyak 16 kali dalam setahun dengan jumlah volume produksi sebesar 188.563 Pcs untuk produk Kemeja dan 222.500 Pcs untuk produk Celana Panjang dan dalam jangka waktu 17 hari tiap produk perusahaan harus memproduksi kembali. Dengan biaya persiapan (Set-up) Rp. 9.600.000 dijumlahkan dengan volume permintaan Rp. 256.715.802.000 selama setahun. Jadi Total Cost perusahaan sebesar Rp. 268.803.254.000 sehingga dengan menggunakan metode EPQ dapat meminimumkan total biaya sebesar Rp.
12.077.852.000 atau 5% sehingga metode perusahaan tidak optimal dalam produksinya dan dapat PT. XYZ dapat menerapkan metode EPQ ini dalam perencanaan produksi perusahaannya.
Nugroho, H. (2007) dalam jurnalnya yang berjudul “Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Tebu Dalam Pembuatan Gula Pasir di Pabrik Gula Tasikmadu Kabupaten Karanganyar” diketahui bahwa kebijaksanaan pengendalian persediaan bahan baku tebu di pabrik gula Tasikmadu belum mencapai efisiensi apabila dibandingkan dengan kebijaksanaan pengendalian persediaan dengan menggunakan metode EPQ. Hal ini dapat diketahui bahwa kuantitas produksi (ton) perhari menurut perhitungan EPQ selama tahun 2002–2006 lebih besar dari kebijakan produksi perhari di pabrik gula tasikmadu. jumlah produksi harian menurut kebijaksanaan perusahaan pada tahun 2002-2006 (ton) secara berturut-turut adalah sebagai berikut; 2240, 2100, 2310, 2495, dan 2310, sedangkan dengan metode EPQ, kuantitas produksi (ton) perhari yang dapat dihasilkan pada tahun 2002 sampai tahun 2006 secara berturut–turut adalah sebagai berikut; 2.822,13; 2.732,52; 2.868,48;
3.228,35; dan 3.204,14. Apabila dibandingkan dengan kuantitas produksi perhari
6
menurut kebijaksanaan perusahaan di pabrik gula tasikmadu mempunyai selisih yang cukup besar. hal ini berarti dengan menerapkan metode EPQ, maka total biaya produksi gula pasir yang ekonomis perharinya selama tahun 2002–2006 lebih kecil daripada biaya yang harus dikeluarkan menurut kebijakan pabrik gula tasikmadu.
Selain penerapan dengan menggunakan metode EPQ, juga mempertimbangkan penjadwalan masa tanamnya yaitu dengan melihat data curah hujan karena dapat diketahui keadaan iklim pada tiap-tiap wilayah binaan, sehingga dapat diketahui saat tanam dan panen yang baik dari tiap wilayah tersebut.
Sayuni, N.P., Zukhri,A., dan Meitriana, M.A. (2014) dalam jurnalnya yang berjudul “Analisis Jumlah Produksi Optimal Dengan Metode Economic Production Quantity (EPQ) Pada UD. Sinar Abadi Singaraja”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perhitungan produksi optimal pada UD. Sinar Abadi Singaraja, perhitungan jumlah produksi optimal dengan metode Economic Production Quantity (EPQ) pada UD. Sinar Abadi Singaraja, dan dampak dari penerapan metode Economic Production Quantity (EPQ) terhadap laba yang diperoleh UD. Sinar Abadi Singaraja.
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah perhitungan jumlah produksi optimal pada UD.Sinar Abadi Singaraja masih menggunakan metode sederhana yaitu jumlah produksi opimal ditentukan dari jumlah pesanan konsumen dan ditambahkan 30% dari pesanan untuk persediaan, sehingga perusahaan sering mengalami kelebihan produksi. Jumlah produksi selama tahun 2013 sebanyak 795.016 bungkus dan yang terjual sebanyak 723.655 bungkus dan kelebihannya sebanyak 70.361 bungkus atau 8,85%. Perhitungan jumlah produksi optimal dengan menggunakan metode EPQ pada UD. Sinar Abadi Singaraja tahun 2013 menghasilkan jumlah produksi optimal sebesar 737.556 bungkus dengan rata-rata persediaaan sebanyak 84.820 bungkus dan total biaya persediaan sebesar Rp.
76.685.655,00. Dampak dari diterapkannya metode EPQ terhadap laba rugi UD.
Sinar Abadi Singaraja adalah dimana laba yang diperoleh oleh perusahaan mengalami peningkatan sebesar Rp. 5.743.345,00. Hal ini terjadi karena total biaya persediaan mengalami perubahan yang disebabkan oleh perhitungan jumlah produksi optimal menurut metode EPQ.
Menurut P Siagian (2007) dalam bukunya Penelitian Operasional Teori dan Praktek untuk mencari tingkat produksi optimal dalam satu putaran produksi adalah sebagai berikut
a. Tingkat produksi optimal dalam satu putaran produksi adalah 𝑄0 = √(P−D)𝐶2𝐷𝑃𝐶𝑠
𝐶 (1.1)
b. Interval waktu optimal dalam satu putaran produksi adalah 𝑡0 = 𝑄0
𝐷 (1.2)
c. Biaya persediaan Minimum Produksi 𝑇𝐼𝐶0 = 𝑄0(P−D)
2𝑃 𝐶𝐶+ 𝐷
𝑄0𝐶𝑆 (1.3) Dimana :
𝑄0 : Jumlah pesanan optimal atau produksi optimal tiap putaran produksi.
𝑡0 : Waktu optimal satu putaran produksi.
𝐷 : Laju penyaluran produksi per satuan waktu.
𝑃 : Laju produksi per satuan waktu.
𝐶𝑆 : Set Up Cost atau biaya pengadaan untuk tiap putaran produksi.
𝐶𝐶 : Carrying costs atau biaya penyimpanan per unit per satuan waktu.
𝑇𝐼𝐶0 : Biaya persediaan minimum.
Sudjana (2005) dalam bukunya yang berjudul “Metoda Statistika”
menerangkan dan menyajikan langkah-langkah Uji Normalitas dengan Liliefors.
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Uji Kenormalan Liliefors
Di dalam pengendalian persediaan, perumusan ilmu statistik digunakan untuk menentukan pola distribusi, dimana pola distribusi tersebut dapat dihitung dengan menguji kenormalan terhadap data hasil pengamatan. Pengujian normalitas adalah suatu analisis untuk menguji apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.
Uji normalitas data dapat dilaksanakan sebelum peneliti melakukan uji hipotesis. Salah satu uji yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan uji kenormalan Lilliefors. Pada pengujian ini terdapat 2 jenis hipotesa yaitu:
1. Hipotesa 𝐻0 untuk hipotesa yang berdistribusi normal 2. Hipotesa 𝐻1 untuk hipotesa yang tidak berdistribusi normal
Sudjana (2005), mengemukakan langkah-langkah Uji Normalitas data tunggal menggunakan Uji Liliefors adalah sebagai berikut:
a. Nilai data 𝑥1, 𝑥2, 𝑥3, … , 𝑥𝑛 dijadikan bilangan baku 𝑧1, 𝑧2, 𝑧3, … , 𝑧𝑛 dengan menggunakan rumus:
𝑧𝑖 =𝑥−𝑥̅
𝑠 (2.1) di mana:
𝑥̅ = Rata-rata sampel 𝑥
𝑠 = Simpangan baku dari sampel
Untuk menghitung rata-rata sampel pengamatan digunakan rumus sebagai berikut:
𝑥̅ = ∑ni=1𝑥𝑖
n (2.2) Untuk menghitung simpangan baku (𝑠) dari sampel digunakan rumus:
𝑠 = √∑ni=1(𝑥−𝑥̅)2
𝑛−1 (2.3)
b. Dihitung peluang 𝐹(𝑧𝑖) = 𝑃(𝑧 ≤ 𝑧𝑖) dengan menggunakan daftar distribusi normal standard.
c. Hitung proporsi 𝑧1, 𝑧2, 𝑧3, … , 𝑧𝑛 yang lebih kecil atau sama dengan 𝑧𝑖. Jika proporsi ini dinyatakan oleh 𝑆(𝑧𝑖), maka:
𝑆(𝑧𝑖) =banyaknya 𝑧1,𝑧2,𝑧3,…,𝑧𝑛≤ 𝑧𝑖
n (2.4) d. Dihitung selisih antara 𝐹(𝑧𝑖) dengan 𝑆(𝑧𝑖), yaitu:
|𝐹(𝑧𝑖) − 𝑆(𝑧𝑖)| (2.5)
e. Dihitung harga maksimum diantara |𝐹(𝑧𝑖) − 𝑆(𝑧𝑖| yaitu:
𝐿ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = max {|𝐹(𝑧𝑖) − 𝑆(𝑧𝑖)|} (2.6) Untuk: 𝑖 = 1,2,3, … , 𝑛
f. Pengujian hipotesis:
Hipotesis:
𝐻0: Data permintaan bahan baku ubi kayu memenuhi distribusi normal.
𝐻1: Data permintaan bahan baku ubi kayu tidak memenuhi distribusi Normal.
Kriteria pengambilan keputusan adalah:
𝐽𝑖𝑘𝑎 𝐿 = {≤ 𝐿∝(𝑛): 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝐻0: 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 > 𝐿∝(𝑛): 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝐻1: 𝑑𝑖𝑡𝑜𝑙𝑎𝑘
di mana: 𝐿∝(𝑛) adalah nilai kritis untuk uji kenormalan lilliefors dengan taraf nyata ∝ dan banyak data 𝑛.
10
2.2 Persediaan
2.2.1 Pengertian persediaan
Secara umum, persediaan adalah segala sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Persediaan adalah komponen, material, atau produk jadi yang tersedia di tangan, menunggu untuk digunakan atau dijual (Teguh Baroto, 2002).
Persediaan adalah bahan-bahan, bagian yang disediakan, dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang- barang jadi atau produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari konsumen atau pelanggan setiap waktu, (Fredy Rangkuti, 1998).
Persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa atau periode yang akan datang. Persediaan terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan bahan setengah jadi, dan persediaan barang jadi. ( Agus Ristono, 2009).
Perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang industri tidak akan terlepas dari masalah persediaan. Persentase persediaan terhadap total harta (assets) keseluruhan dari perusahaan adalah relatif cukup tinggi. Oleh karena itu, persediaan yang ada di perusahaan perlu dikelola sebaik-baiknya, persediaan harus direncanakan dan dikendalikan secara efektif dan efisien. Bila melakukan kesalahan dalam menetapkan besarnya persediaan maka akan merembet ke masalah lain, misalnya tidak terpenuhinya permintaan konsumen atau bahkan berlebihnya persediaan sehingga tidak semuanya terjual, timbulnya biaya ekstra penyimpanan atau pesanan bahan dan sebagainya.
Pengendalian pengadaan persediaan harus diperhatikan karena berkaitan langsung dengan biaya yang harus ditanggung perusahaan sebagai akibat adanya persediaan. Oleh sebab itu, persediaan yang ada harus seimbang dengan kebutuhan, karena persediaan yang terlalu banyak akan mengakibatkan perusahaan menanggung resiko kerusakan dan biaya penyimpanan yang tinggi disamping biaya investasi yang besar. Tetapi jika terjadi kekurangan persediaan akan berakibat terganggunya kelancaran dalam proses produksinya. Oleh karenanya diharapkan terjadi
keseimbangan dalam pengadaan persediaan sehingga biaya dapat ditekan seminimal mungkin dan dapat memperlancar jalannya proses produksi.
Persediaan (inventory) dalam konteks produksi dapat diartikan sebagai sumber daya menganggur (idle resource). Sumber daya menganggur ini belum digunakan karena menunggu proses lebih lanjut. Yang dimaksud dengan proses lebih lanjut dapat berupa kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi seperti pada sistem rumah tangga (Rosnani Ginting, 2007).
2.2.2 Jenis-Jenis Persediaan
Persediaan yang terdapat dalam perusahaan dapat dibedakan berdasarkan beberapa cara. Menurut jenisnya, persediaan dapat dibedakan atas (Handoko, T. Hani. 2000):
1. Persediaan bahan mentah (Raw materials), yaitu persediaan barang-barang yang digunakan dalam proses produksi. Bahan mentah dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau diperoleh dari supplier dan atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya.
2. Persediaan komponen, yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, untuk digunakan dalam pembuatan barang jadi atau barang setengah jadi.
3. Persediaan bahan pembantu atau penolong (Supplies), yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi. Yang termasuk bahan pembantu ini adalah bahan bakar, pelumas, listrik dan lain-lain.
4. Persediaan barang setengah jadi (Work in Process), yaitu persediaan barang- barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
12
5. Persediaan barang jadi (Finished Goods), yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada langganan.
2.2.3 Penyebab dan Fungsi Persediaan
Persediaan merupakan suatu hal yang tak terhindarkan. Penyebab timbulnya persediaan adalah sebagai berikut (Teguh Baroto, 2002).
1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan. Permintaan terhadap suatu barang tidak dapat dipenuhi seketika bila barang tersebut tidak tersedia sebelumnya.
Untuk menyiapkan barang ini diperlukan waktu untuk pembuatan dan pengiriman, maka adanya persediaan merupakan hal sulit yang dihindarkan 2. Keinginan untuk meredam ketidakpastian. Ketidakpastian terjadi akibat:
permintaan yang bervariasi dan tidak pasti dalam jumlah maupun waktu kedatangan, waktu pembuatan yang cenderung tidak konstan antara satu produk dengan produk berikutnya. Ketidakpastian ini dapat diredam dengan mengadakan persediaan.
3. Keinginan melakukan spekulasi. Hal ini bertujuan mendapatkan keuntungan besar dari kenaikan harga barang di masa mendatang.
Fungsi utama persediaan yaitu sebagai penyangga, penghubung antar proses produksi dan distribusi untuk memperoleh efisiensi. Fungsi lain persediaan yaitu sebagai stabilisator harga terhadap fluktuasi permintaan. Lebih spesifik, persediaan dapat dikategorikan berdasarkan fungsinya sebagai berikut: (Rosnani Ginting, 2007)
1. Persediaan dalam Lot Size
Persediaan muncul karena ada persyaratan ekonomis untuk penyediaan (replishment) kembali. Penyediaan dalam lot yang besar atau dengan kecepatan sedikit lebih cepat dari permintaan akan lebih ekonomis. Faktor penentu persyaratan ekonomis antara lain biaya set up, biaya persiapan produksi atau pembelian dan biaya transportasi.
2. Persediaan cadangan
Pengendalian persediaan timbul berkenaan dengan ketidakpastian.
Peramalan permintaan konsumen biasanya disertai kesalahan peramalan.
Waktu siklus produksi (lead time) mungkin lebih dalam dari yang diprediksi. Jumlah produksi yang ditolak (reject) hanya bisa diprediksi dalam proses. Persediaan cadangan mengamankan kegagalan mencapai permintaan konsumen atau memenuhi kebutuhan manufaktur tepat pada waktunya.
3. Persediaan antisipasi
Persediaan dapat timbul mengantisipasi terjadinya penurunan persediaan (supply) dan kenaikan permintaan (demand) atau kenaikan harga. Untuk menjaga kontinuitas pengiriman produk ke konsumen, suatu perusahan dapat memelihara persediaan dalam rangka liburan tenaga kerja atau antisipasi terjadinya pemogokan tenaga kerja.
4. Persediaan pipeline
Sistem persediaan dapat diibaratkan sebagai sekumpulan tempat (stock point) dengan aliran diantara tempat persediaan tersebut. Pengendalian persediaan terdiri dari pengendalian aliran persediaan dan jumlah persediaan akan terakumulasi di tempat persediaan. Jika aliran melibatkan perubahan fisik produk, seperti perlakuan panas atau perakitan beberapa komponen, persediaan dalam aliran tersebut persediaan setengah jadi (work in process). Jika suatu produk tidak dapat berubah secara fisik tetapi dipindahkan dari suatu tempat penyimpanan ke tempat penyimpanan lain, persediaan disebut persediaan transportasi. Jumlah dari persediaan setengah jadi dan persediaan transportasi disebut persediaan pipeline.
Persediaan pipeline merupakan total investasi perubahan dan harus dikendalikan.
5. Persediaan lebih
Yaitu persediaan yang tidak dapat digunakan karena kelebihan atau kerusakan fisik yang terjadi.
14
2.2.4 Biaya-Biaya dalam Persediaan
Biaya persediaan adalah biaya-biaya yang ditimbulkan akibat adanya persediaan.
Menurut Handoko, T. Hani. (2000), komponen biaya-biaya persediaan tersebut terdiri dari:
Gambar 2.1 Biaya-Biaya Persediaan
1. Biaya Pemesanan ( Ordering Costs)
Setiap kali suatu bahan dipesan, perusahaan menanggung biaya pemesanan. Biaya- biaya pemesanan secara terperinci meliputi:
1. Pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi 2. Upah
3. Biaya telepon
4. Pengeluaran surat-menyurat
5. Biaya pengepakan dan penimbangan 6. Biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan 7. Biaya pengiriman ke gudang; dan sebagainya.
2. Biaya Penyimpanan (Holding Costs atau Carrying Costs)
Holding Costs terdiri dari semua ongkos yang berhubungan dengan biaya penyimpanan barang dalam stok. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah :
Biaya Pemesanan/
Ordering Costs
Biaya Penyimpanan/
Carrying Costs Biaya Pengadaan/
Set-up Costs
Biaya Shortage Costs
Biaya Persediaan Total
1. Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pemanas, atau pendingin)
2. Bunga modal yang tertanam 3. Biaya keusangan
4. Biaya Asuransi persediaan 5. Biaya pajak persediaan 6. Ongkos bongkar-muat
7. Biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan 8. Biaya penanganan persediaan, dan sebagaainya.
Biaya penyimpanan persediaan biasanya berkisar antara 12% sampai 30%
dari biaya atau harga pokok. Biasanya biaya ini sebanding dengan jumlah persediaan di dalam stok.
3. Biaya Pengadaan Produksi (Set-up Costs)
Bila bahan-bahan tidak dibeli tetapi diproduksi sendiri dalam pabrik perusahaan, perusahaan menghadapi biaya pengadaan (set-up costs) untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari :
1. Biaya mesin-mesin menganggur 2. Biaya persiapan tenaga kerja langsung 3. Biaya scheduling
4. Biaya ekspedisi, dan sebagainya.
Pada umumnya, jumlah set-up costs menurun atau naik sesuai dengan jumlah putaran produksi. Hal ini berarti bahwa, dalam banyak hal, berlaku anggapan yang mengatakan bahwa akan lebih murah jika barang diproduksi lebih banyak pada setiap putaran, karena ini akan memperkecil jumlah putaran produksi. Akan tetapi, hal ini akan menimbulkan kasus baru yakni bertambahnya biaya penyimpanan.
16
4. Biaya Kekurangan atau Kehabisan Bahan (Shortage Costs)
Dari semua biaya-biaya yang berhubungan dengan tingkat persediaan, biaya kekurangan bahan adalah yang paling sulit diperkirakan. Biaya ini timbul bilamana persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut :
1. Kehilangan penjualan 2. Kehilangan langganan 3. Biaya ekspedisi
4. Terganggunya proses produksi
5. Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial, dan sebagainya.
2.2.5 Model-Model Persediaan
Model persediaan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu (Taha, Hamdy 1982):
a. Model Deterministik
Model deterministik ditandai oleh karakteristik permintaan dan periode kedatangan yang dapat diketahui secara pasti sebelumnya. Model ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Deterministik Statis
Pada model ini tingkat permintaan setiap unit barang untuk tiap periode diketahui secara pasti dan bersifat konstan.
2. Deterministik Dinamik
Pada model ini tingkat permintaan setiap unit barang untuk tiap periode diketahui secara pasti, tetapi bervariasi dari satu periode ke periode.
b. Model Probabilistik
Model probabilistik ditandai oleh karakteristik permintaan dan periode kedatangan pesanan yang tidak dapat diketahui secara pasti sebelumnya, sehingga perlu didekati dengan distribusi probabilitas. Model ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Probabilistik Stationary
Pada model ini tingkat permintaan bersifat random, di mana probability density function dari permintaan tidak dipengaruhi oleh waktu setiap periode.
2. Probabilistik Nonstationary
Pada model ini tingkat permintaan bersifat random, di mana probability density function dari permintaan bervariasi dari satu period eke periode lainnya.
2.3 Pengedalian Persediaan
2.3.1 Pengertian Pengendalian Persediaan
Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena mayoritas perusahaan melibatkan investasi besar pada aspek ini (20% sampai 60%) (Teguh Baroto, 2002).
Pengendalian persediaan merupakan kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposisi persediaan rakitan, bahan baku dan barang hasil/produk sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dan penjualan (Assauri, 2008).
Salah satu fungsi manajerial yang sangat penting adalah pengendalian persediaan. Apabila perusahaan menanamkan terlalu banyak dananya dalam persediaan, hal ini akan menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan.
Demikian pula apabila perusahaan tidak mempunyai persediaan yang mencukupi, dapat mengakibatkan biaya-biaya dari terjadinya kekurangan bahan (stockout cost).
2.3.2 Tujuan Pengendalian Persediaan
Suatu pengendalian persediaan yang dijalankan oleh suatu perusahaan sudah tentu memiliki tujuan-tujuan tertentu. Pengendalian persediaan yang dijalankan adalah untuk menjaga persediaan pada tingkat yang optimal sehingga diperoleh penghematan-penghematan untuk persediaan tersebut. Dari pengertian tersebut, maka tujuan pengelolaan tersebut adalah (Agus Ristono, 2008):
1. Untuk dapat memenuhi kebutuhan atau permintaan konsumen dengan cepat (memuaskan konsumen).
18
2. Untuk menjaga kontinuitas produksi atau menjaga agar perusahaan tidak mengalami kehabisan persediaan yang mengakibatkan terhentinya proses produksi, hal ini dikarenakan alasan:
a. Kemungkinan barang (bahan baku dan penolong) menjadi langka sehingga sulit untuk diperoleh.
b. Kemungkinan Supplier terlambat mengirimkan barang yang dipesan.
3. Untuk mempertahankan dan bila mungkin meningkatkan penjualan dan laba perusahaan .
4. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari, karena dapat mengakibatkan ongkos pesan menjadi besar.
5. Menjaga supaya penyimpanan dalam emplacement tidak besar-besaran, karena akan mengakibatkan biaya menjadi besar.
2.4 Metode Economic Production Quantity (EPQ)
Economic Production Quantity (EPQ) adalah pengembangan model persediaan dimana pengadaan bahan baku berupa komponen tertentu diproduksi sendiri oleh perusahaan. Menurut Yamit (2002), Economic Production Quantity (EPQ) atau tingkat produksi optimal adalah sejumlah produksi tertentu yang dihasilkan dengan meminimumkan total biaya persediaan yang terdiri atas biaya produksi dan biaya penyimpanan.
EPQ adalah suatu model persediaan dimana barang diproduksi sendiri oleh perusahaan.Dalam model ini jumlah produksi harus lebih besar daripada jumlah permintaan. Dengan kata lain proses produksi dilakukan kembali sebelum persediaan habis. Jumlah persediaan akan bertambah dan juga berkurang secara bertahap untuk memenuhi permintaan dan tidak akan tejadi kekurangan persediaan karena permintaan selalu terpenuhi.
Persediaan produk dalam suatu perusahaan berkaitan dengan volume produksi dan besarnya permintaan pasar. Perusahaan harus mempunyai kebijakan untuk menentukan volume produksi dengan disesuaikan besarnya permintaan pasar agar jumlah persediaan pada tingkat biaya minimal. Permasalahan itu dapat diselesaikan dengan menggunakan metode Economic Production Quantity (EPQ).
Model EPQ merupakan persediaan bertahap, karena jika item diproduksi sendiri, umumnya produk yang diproduksi akan ditambahkan untuk mengisi persediaan secara berangsur-angsur dan bukannya terjadi secara tiba-tiba karena mesin produksi yang dimiliki terbatas dan berproses secara berangsur pula dengan tidak secara serentak. Maka suatu pabrik akan berputar secara terus-menerus dan pada saat yang sama harus memenuhi permintaan hingga terdapat suatu arus kontinu dari persediaan barang di dalam stok.
Model EPQ menggunakan asumsi-asumsi sebagai berikut:
1. Produksi berjalan secara kontinu dengan laju produksi P satuan per satan waktu.
2. Selama produksi dilakukan (𝑡𝑝), tingkat pemenuhan persediaan adalah sama dengan tingkat produksi dikurangi tingkat permintaan (P-D).
3. Ketika produksi berhenti pada satu waktu, maka persediaan akan berkurang dengan kecepatan D per satuan waktu.
4. Tingkat persediaan adalah sama untuk tiap putaran produksi.
5. Waktu tenggang (lead time) adalah konstan.
6. Permintaan deterministik dengan laju permintaan diketahui.
7. Tidak terjadi stock-out.
Model matematis persamaan EPQ dapat dikembangkan melalui gambar berikut :
Gambar 2.2 Grafik EPQ
20
Keterangan:
𝑄 = Jumlah produksi dalam satu putaran produksi 𝐷 = Rata-rata penyaluran per satuan waktu
𝑃 = Rata-rata produksi per satuan waktu 𝐼𝑚𝑎𝑥 = Tingkat persediaan maksimal 𝑅 = Persediaan hampir habis
𝐿 = Waktu yang diperlukan untuk memproduksi kembali 𝑡𝑝 = Waktu dimana dilakukan produksi
𝑡𝑖 = Waktu dimana proses produksi berhenti 𝑡 = Waktu satu putaran produksi
Dari gambar 2.2 dapat dilihat bahwa jumlah produksi tiap putaran harus memenuhi permintaan selama t, atau dinotasikan 𝑄 = 𝐷. 𝑡.
Pada masa 𝑡𝑝 dilakukan pada tingkat P bersamaan dengan pemenuhan permintaan.
Persediaan mencapai 𝐼𝑚𝑎𝑥 pada masa 𝑡𝑝 (waktu dilakukan produksi) adalah 𝑡𝑝 (𝑃 − 𝐷), dimana proses produksi berhenti.
Rata-rata persediaan akan sama dengan 𝑡𝑝(𝑃−𝐷
2 ). Jumlah yang diproduksi adalah sebesar 𝑄 = 𝑡𝑝. 𝑃, maka 𝑡𝑝 = 𝑄
𝑃.
Pada masa 𝑡𝑖 (proses produksi berhenti) terjadi pengurangan persediaan dengan D (rata-rata penyaluran).
Jika persediaan telah mencapai tingkat R, maka harus diadakan pengadaan produksi yang lamanya L (waktu untuk memproduksi kembali).
Dengan mensubsitusikan 𝑡𝑝, maka rata-rata persediaan menjadi:
𝑄
𝑃(𝑃 − 𝐷
2 ) =𝑄(𝑃 − 𝐷)
2𝑃 (2.6)
Dari persamaan yang (2.6) diperoleh biaya rata-rata penyimpanan 𝑄(𝑃−𝐷)
2𝑃 . 𝐶𝑐. Karena jumlah putaran produksi adalah 𝐷
𝑄, maka biaya rata-rata pengadaannya 𝐷
𝑄. 𝐶𝑠, sehingga 𝑇𝐼𝐶 menjadi:
𝑇𝐼𝐶 =𝑄(𝑃 − 𝐷)
2𝑃 𝐶𝐶 +𝐷
𝑄𝐶𝑆 (2.7)
Persamaan (2.7) didiferensialkan terhadap Q:
𝑑𝑇𝐼𝐶
𝑑𝑄 =(𝑃 − 𝐷)
2𝑃 𝐶𝐶− 𝐷
𝑄2𝐶𝑠 = 0 (2.8)
(𝑃 − 𝐷)
2𝑃 𝐶𝐶 = 𝐷 𝑄2𝐶𝑠
1
𝑄2 =
(𝑃−𝐷)𝐶𝐶 2𝑃
𝐷𝐶𝑆
𝑄2 = 2𝐷𝑃𝐶𝑠 (𝑃 − 𝐷)𝐶𝑐
Dari pengolahan persamaan (2.8) dperoleh jumlah produksi yang optimal dalam satu putaran produksi, yaitu:
Q0 = √ 2𝐷𝑃𝐶𝑠
(𝑃 − 𝐷)𝐶𝑐 (2.9)
Dari persamaan (2.9) 𝑄0 digunakan untuk mencari interval waktu optimal pada setiap putaran produksi, yaitu:
𝑡0 =𝑄0
𝐷 (2.10)
Untuk menghitung total biaya minimumnya, 𝑄0 disubstitusikan terhadap 𝑄 pada persamaan (2.7) menjadi:
22
𝑇𝐼𝐶0 = 𝑄0(𝑃 − 𝐷)
2𝑃 𝐶𝑐 + 𝐷
𝑄0𝐶𝑠 (2.11)
Karena biaya persediaan = biaya penyimpanan + biaya pengadaan di mana:
𝑄 = Jumlah produksi dalam satu putaran produksi
𝑄0 = Jumlah produksi optimal dalam satu putaran produksi 𝐷 = Rata-rata penyaluran per satuan waktu
𝑃 = Rata-rata produksi per satuan waktu 𝐶𝑐 = Biaya penyimpanan per satuan waktu
𝐶𝑠 = Biaya pengadaan untuk tiap putaran produksi 𝑇𝐼𝐶 = Total biaya persediaan
𝑇𝐼𝐶0 = Total biaya minimum persediaan
𝑡0 = Interval waktu optimal tiap putaran produksi 𝑡 = Waktu satu putaran produksi
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara III Medan, Jalan Sei Batanghari No. 2 Medan, Sumatera Utara. Penelitian ini diperkirakan akan dilakukan mulai Februari 2018 – Mei 2018.
3.2 Kerangka Penelitian
Kerangka penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan riset lapangan dan riset kepustakaan. Jenis data terdiri dari data kuantitatif dan data kualitatif. Sumber data berasal dari data primer dan sekunder.
Kerangka penelitian dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah yang terdapat pada blok diagram berikut:
MULAI
Studi Pendahuluan 1. Kondisi Perusahaan 2. Mekanisme Persediaan 3. Masalah-masalah
Perusahaaan
Studi Literatur 1. Teori buku 2. Referensi jurnal
penelitian
Identifikasi Masalah Awal
Pengumpulan Data 1. Data primer
- Sejarah perusahaan - Kondisi perusahaan - Proses pengolahan 2. Data sekunder
- Data produksi Crumb Rubber tahun 2015-2016 - Data penyaluran Crumb Rubber tahun 2015-2016
24
Gambar 3.1 Kerangka Penelitian
3.3 Jenis dan Sumber Data 3.3.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan terdiri dari:
a. Data kuantitatif yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk angka-angka mengenai jumlah produksi, jumlah permintaan/penyaluran, data biaya pengadaan produksi, biaya penyimpanan, dan data-data terkait lainnya b. Data kualitatif yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk
informasi baik lisan maupun tulisan yang sifatnya bukan angka mengenai perusahaan, dan informasi mengenai persediaan pada perusahaan tersebut.
3.3.2 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan sekunder.
Pengolahan Data
1. Menguji kenormalan data penyaluran dengan Uji Kenormalan Liliefors.
2. Menghitung tingkat produksi yang optimal dengan menggunakan metode EPQ.
3. Menghitung waktu interval yang optimal dengan menggunakan metode EPQ.
4. Menghitung biaya persediaan minimum dengan menggunakan metode EPQ.
Analisis Data
Analisis perbandingan tingkat produksi, interval waktu produksi, dan biaya persediaan produksi Crumb Rubber menurut perusahaan dan metode EPQ.
Kesimpulan dan Saran
SELESAI
a. Data primer yaitu sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara) dengan mengadakan pengamatan langsung atau wawancara. Data primer penulis diperoleh langsung dari PT. Perkebunan Nusatara III Medan.
b. Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung melalui penelitian kepustakaan atau data yang sudah tersedia lalu dikutip oleh peneliti untuk kepentingan penelitiannya baik melalui dokumen-dokumen atau laporan tertulis serta informasi lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang penulis lakukan adalah sebagai berikut:
1. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu cara untuk mengumpulkan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti yang ada di lokasi penelitian.
2. Interview
Interview merupakan suatu cara untuk mendapatkan data atau informasi dengan cara tanya jawab secara langsung pada orang yang mengetahui tentang obyek yang akan diteliti.
3. Observasi
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan atau peninjauan secara langsung pada obyek penelitian yakni pada PT.
Perkebunan Nusantara III Medan.
1.5 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan salah satu cara yang digunakan untuk menginterpretasikan data-data yang telah dikumpulkan dari lapangan dan telah diolah sehingga menghasilkan informasi yang bermanfaat dan dapat dijadikan alternatif dalam pengambilan keputusan.
Yang dilakukan dengan data yang telah dikumpulkan dari lapangan adalah sebagai berikut:
26
1. Menguji kenormalan data penyaluran dengan Uji Kenormalan Liliefors.
2. Menghitung tingkat produksi yang optimal dengan menggunakan metode EPQ.
3. Menghitung waktu interval yang optimal dengan menggunakan metode EPQ.
4. Menghitung biaya persediaan minimum dengan menggunakan metode EPQ.
5. Perbandingan biaya persediaan produksi menurut EPQ dan menurut perusahaan.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Perusahaan
PT Perkebunan Nusantara III Medan disingkat PTPN 3 Medan beralamat di Jl. Sei Batang hari No.2 Medan, Sumatera Utara, merupakan salah satu dari 14 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perkebunan yang bergerak dalam bidang usaha perkebunan, pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan. Kegiatan usaha Perseroan mencakup usaha budidaya dan pengolahan tanaman kelapa sawit dan karet. Produk utama Perseroan ini adalah Minyak Sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan Inti Sawit Palm Kernel Oil (PKO) dan produk hilir karet. Sejarah Perseroan diawali dengan proses pengambil alihan perusahaan-perusahaan perkebunan milik Belanda oleh Pemerintah RI pada tahun 1958 yang dikenal sebagai proses nasionalisasi perusahaan perkebunan asing menjadi Perseroan Perkebunan Negara (PPN).
Tahun 1968, PPN direstrukturisasi menjadi beberapa kesatuan Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) yang selajutnya pada tahun 1974 bentuk badan hukumnya diubah menjadi PT Perkebunan (Persero). Guna meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan usaha perusahaan BUMN, Pemerintah merestrukturisasi BUMN subsektor perkebunan dengan melakukan penggabungan usaha berdasarkan wilayah eksploitasi dan perampingan struktur organisasi. Diawali dengan langkah penggabungan manajemen pada tahun 1994, 3 (tiga) BUMN Perkebunan yang terdiri dari PT Perkebunan III (Persero), PT Perkebunan IV (Persero) dan PT Perkebunan V (Persero) disatukan pengelolaannya ke dalam manajemen PT Perkebunan Nusantara III (Persero). Selanjutnya melalui Peratutan Pemerintah No.8 tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996, ketiga perseroan tersebut digabungkan dan diberi nama PT Perkebunan III (Persero) yang kantor pusatnya berkedudukan di Medan, dan perkebunan-perkebunan PTPN 3 tersebar di Sumatera Utara sampai keperbatasan Aceh dan Sumatera Barat.
28
4.1.1 Visi dan Misi Perusahaan
PT. Perkebunan Nusantara 3 Medan memiliki visi dan misi dalam mencapai tujuan yang telah ditargetkan manajemen perusahaan. Visi dan misi tersebut antara lain:
Visi PT. Perkebunan Nusantara III Medan:
Menjadi perusahaan agribisnis kelas dunia dengan kinerja prima dan melaksanakan tata kelola bisnis terbaik.
Misi PT. Perkebunan Nusantara III Medan:
1. Mengembangkan industri hilir berbasis perkebunan secara berkesinambungan.
2. Menghasilkan produk berkualitas untuk pelanggan.
3. Memperlakukan karyawan sebagai aset yang strategis dan mengembangkan secara optimal.
4. Berupaya menjadi perusahaan terpilih yang memberi imbal hasil terbaik bagi investor.
5. Menjadi perusahaan yang paling menarik untuk menjadi mitra bisnis.
6. Memotivasi karyawan untuk berpartisipasi aktif dalam mengembangkan komunitas.
7. Melaksanakan seluruh aktifitas perusahaan yang berwawasan lingkungan.
4.1.2 Proses Pengolahan Crumb Rubber
Dalam proses pengolahan crumb rubber pada PT. Perkebunan Nusantara III Medan menggunakan bahan baku getah slap dan juga menggunakan getah lump mengingat dari segi ke ekonomisannya. Proses pengolahan crumb rubber merupakan suatu pengolahan karet melalui tahap peremahan.
Adapun proses pengolahan Crumb Rubber antara lain:
a. Proses penimbangan
Proses penimbanga bahan baku yang di beli dari petani karet yang dilakukan di area pabrik. Dalam satu kali penimbangan mencapai 500 kg. Bahan baku yang masuk dalam 1 ( satu ) hari dibatasi hingga ± 200 ton.
b. Proses pembongkaran
Proses pembongkaran dilakukan dengan menggunakan ganchu untuk menarik dan mengeluarkan bahan baku dari truk, proses pembongkaran karet yang dari truck menggunakan sistem manual. Bahan baku bokar ( bahan olahan karet ) yang diterima dari supplier diperiksa dan disortir terlebih dahulu.
Untuk proses pembongkaran satu mobil truck dengan berat 11 sampai 12 ton dibutuhkan waktu 60 sampai 70 menit.
c. Penyortiran bahan baku ( Bokar )
Penyortiran dilakukan untuk memeriksa kualitas getah karet dengan memotong karet menjadi empat bagian yang menggunakan pisau CL saw ( pisau pemotong ) untuk melihat kualitas karet yang di supplier serta melihat kotoran pada karet tersebut seperti kayu, besi, plastik dan sebagainya serta berdasarkan pertimbangan kesegaran dan kelayakan kondisi bokar. Hasil penyortiran kemudian ditimbang kembali dengan memilih karet yang bagus sesuai dengan kualitas masing – masing dan jenis karet. Apabila karet kurang bagus akan dipisahkan dari karet-karet yang bagus.
Setelah itu barulah karet tersebut dikumpulkan di tempat gudang bahan baku sesuai jenis bahan bakunya dan karet tersebut mengalami pendiaman di gudang bahan baku lebih kurang selama 1 jam agar kandungan air yang terdapat dalam karet keluar menunggu proses berikutnya. Setelah itu barulah karet tersebut dikumpulkan di tempat gudang bahan baku sesuai jenis bahan bakunya dan karet tersebut mengalami pendiaman di gudang bahan baku lebih kurang selama 1 jam agar kandungan air yang terdapat dalam karet keluar menunggu proses berikutnya.
Setelah karet ( slap ) tadi di potong - potong dan kandungan air keluar lalu bahan olah karet tersebut akan dibawa dan diletakan oleh forklift ke loading ramp untuk memulai proses pengolahan. Kemudian pekerja akan membongkar dan mengeluarkan bahan olahan karet dari forklift dan menumpuknya untuk memudahkan pekerja memasukan ke mesin pencacah.
Setelah pekerja selesai memengerluarkah bahan olahan karet dari forklift dan menumpuknya di loading rump kemudian pekerja akan langsung memasukan ke mesin slab cutter untuk proses pencacahan bahan olahan
30
bokar. Loading rump adalah tempat meletakan dan tempat untuk memasukan bahan olahan karet ke mesin pencacah untuk proses pengolahn basah.
Selanjutnya proses pengolahan, proses pertama di lakukan proses pengolahan basah dan setelah itu baru di lakukan proses pengolahan kering.
4.2 Pengumpulan Data
Data yang diperoleh adalah berupa data sekunder yang diperoleh dari PT.
Perkebunan Nusantara III Medan dengan melalui pencatatan, wawancara, dan arsip- arsip perusahaan yang sesuai dengan data yang dibutuhkan dalam pemecahan masalah. Adapun data-data yang diperoleh yaitu:
1. Data jumlah produksi Crumb Rubber periode Januari 2015 sampai dengan Desember 2016.
2. Data jumlah penyaluran Crumb Rubber periode Januari 2015 sampai dengan Desember 2016.
3. Data biaya pengadaan produksi (Set-up Costs) Crumb Rubber tahun 2015 dan 2016. Biaya-biaya yang meliputi biaya pengadaan adalah:
a. Biaya gaji karyawan b. Biaya alat-alat pengolahan
c. Biaya bahan kimia dan pelengkap, bahan bakar dan pelumas d. Biaya transportasi
e. dll
4. Data biaya penyimpanan (Carrying Costs) Crumb Rubber tahun 2015 dan 2016. Biaya penyimpanan ini dihitung sebesar 20% dari harga Crumb Rubber per kilogram.
Hasil pengumpulan data yang diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara III Medan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Volume Produksi Crumb Rubber pada periode 2015-2016
Bulan Tahun
2015 (kg) 2016 (kg)
Januari 720.400 628.420
Februari 655.200 614.880
Maret 493.680 527.660
April 385.240 400.480
Mei 283.300 486.200
Juni 532.580 581.916
Juli 453.284 497.380
Agustus 520.340 596.920
September 768.320 521.400
Oktober 767.100 518.218
November 733.320 701.820
Desember 735.520 635.980
Jumlah 7.048.284 6.711.274
Sumber: PT. Perkebunan Nusantara III Medan
Tabel 4.2 Volume Penyaluran Crumb Rubber pada periode 2015-2016
Bulan Tahun
2015 (kg) 2016 (kg)
Januari 463.680 382.720
Februari 665.280 521.180
Maret 433.200 619.640
April 362.880 337.560
Mei 125.800 332.400
Juni 594.320 438.200
Juli 397.880 705.280
Agustus 529.160 644.800
September 443.200 493.680
Oktober 513.840 604.800
November 914.760 624.960
Desember 717.880 443.200
Jumlah 6.161.880 6.148.420
Sumber: PT. Perkebunan Nusantara III Medan
32
Tabel 4.3 Biaya Pengadaan Crumb Rubber pada periode 2015-2016
Bulan Tahun
2015 (Rp) 2016 (Rp)
Januari 1.144.299.671 1.032.016.894
Februari 1.117.111.589 892.929.353
Maret 771.537.095 1.020.566.963
April 836.408.148 878.185.372
Mei 732.063.381 802.746.048
Juni 846.992.172 1.130.367.274
Juli 1.148.226.198 750.139.555
Agustus 847.843.267 820.625.143
September 1.120.047.022 946.173.662
Oktober 872.488.627 1.022.372.103
November 1.090.012.548 944.510.641
Desember 1.089.446.585 1.060.743.423
Jumlah 11.616.476.303 11.301.376.431
Sumber: PT. Perkebunan Nusantara III Medan
Tabel 4.4 Harga Crumb Rubber pada periode 2015-2016
Tahun Harga Crumb Rubber/kg (Rp)
2015 17.886
2016 17.445
Jumlah 35.331
Sumber: PT. Perkebunan Nusantara III Medan
4.3 Pengolahan Data
4.3.1 Uji Kenormalan Data dengan Uji Liliefors
Data penyaluran Crumb Rubber pada tahun 2015 dan 2016 diuji kenormalannya dengan menggunakan Uji Normalitas Liliefors.
1. Langkah-langkah pengujian data penyaluran Crumb Rubber pada tahun 2015 adalah sebagai berikut:
Hipotesis:
𝐻0 : Penyaluran Crumb Rubber pada Januari s/d Desember 2015 berasal
dari populasi berdistribusi normal
𝐻1 : Penyaluran Crumb Rubber pada Januari s/d Desember2015 berasal dari populasi tidak berdistribusi normal.
a. Rata-rata penyaluran Crumb Rubber X̅ =∑12i=1Xi
n
= 6161880
12
= 513.490
Maka rata-rata penyaluran Crumb Rubber adalah 513.490 kilogram.
b. Standard deviasi penyaluran 𝑆 = √∑12𝑖=1(𝑋𝑖− 𝑋̅)2
𝑛 − 1
= √432.833.034.000 11
= 198.364,46
c. Hitung 𝑍𝑖 dengan rumus 𝑍𝑖 =𝑋𝑖 − 𝑋̅
𝑆
𝑍1 =463.680 − 513.490
198.364,46 = −0,25 𝑍2 = 665.280 − 513.490
198.364,46 = 0,77 𝑍3 = 433.200 − 513.490
198.364,46 = −0,40 𝑍4 = 362.880 − 513.490
198.364,46 = −0,76 𝑍5 = 125.800 − 513.490
198.364,46 = −1,95 𝑍6 = 594.320 − 513.490
198.364,46 = 0,41
34
𝑍7 = 397.880 − 513.490
198.364,46 = −0,58 𝑍8 = 529.160 − 513.490
198.364,46 = 0,08 𝑍9 = 443.200 − 513.490
198.364,46 = −0,35 𝑍10= 513.840 − 513.490
198.364,46 = 0,002 𝑍11= 914.760 − 513.490
198.364,46 = 2,02 𝑍12= 717.880 − 513.490
198.364,46 = 1,03
d. Tentukan nilai 𝐹(𝑍𝑖) dimana i=1,2,…,12 dengan daftar luas dibawah kurva normal 𝐹(𝑍𝑖) = 𝑃(𝑍 ≤ 𝑍𝑖)
𝐹(𝑍1) = 𝑃(𝑍 ≤ −0,25) = 0,4013 𝐹(𝑍2) = 𝑃(𝑍 ≤ 0,77) = 0,7794 𝐹(𝑍3) = 𝑃(𝑍 ≤ −0,40) = 0,3446 𝐹(𝑍4) = 𝑃(𝑍 ≤ −0,76) = 0,2236 𝐹(𝑍5) = 𝑃(𝑍 ≤ −1,95) = 0,0256 𝐹(𝑍6) = 𝑃(𝑍 ≤ 0,41) = 0,6591 𝐹(𝑍7) = 𝑃(𝑍 ≤ −0,58) = 0,2810 𝐹(𝑍8) = 𝑃(𝑍 ≤ 0,08) = 0,4681 𝐹(𝑍9) = 𝑃(𝑍 ≤ −0,35) = 0,3632 𝐹(𝑍10) = 𝑃(𝑍 ≤ 0,00) = 0,7673 𝐹(𝑍11) = 𝑃(𝑍 ≤ 2,02) = 0,8133
𝐹(𝑍12) = 𝑃(𝑍 ≤ 1,03) = 0,8485
e. Menghitung proporsi 𝑍1, 𝑍2, 𝑍3, … , 𝑍𝑛 yang lebih kecil atau sama dengan 𝑍𝑛 yaitu:
S(Zi) = banyaknya Z1, Z2, … , ≤ Zn n
𝑆(𝑍1) = 6
12= 0,5000
𝑆(𝑍2) = 10
12= 0,8333
𝑆(𝑍3) = 4
12= 0,3333
𝑆(𝑍4) = 2
12= 0,1667
𝑆(𝑍5) = 1
12= 0,0833
𝑆(𝑍6) = 9
12= 0,7500
𝑆(𝑍7) = 3
12= 0,2500
𝑆(𝑍8) = 8
12= 0,6667
𝑆(𝑍9) = 5
12= 0,4167
𝑆(𝑍10) = 7
12= 0,5833
𝑆(𝑍11) = 12
12= 1,0000