KUALITAS HIDUP PADA PENDERITA GLAUKOMA BERDASARKAN NATIONAL EYE INSTITUTE VISUAL FUNCTION
QUESTIONNAIRE (NEI-VFQ)
SKRIPSI
Oleh :
MUHAMMAD FADLY 170100057
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
KUALITAS HIDUP PADA PENDERITA GLAUKOMA BERDASARKAN NATIONAL EYE INSTITUTE VISUAL FUNCTION
QUESTIONNAIRE(NEI-VFQ)
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh :
MUHAMMAD FADLY 170100057
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini sebagai salah satu salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Penelitian ini berjudul “Kualitas Hidup Penderita Glaukoma Berdasarkan National Eye Institute Visual Function Questionnaire (NEI-VFQ)”. Selama proses penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak dengan memberikan butir-butir pemikiran yang sangat berharga bagi penulis baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga skipsi ini dapat disusun dengan baik. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan setinggi tingginya kepada:
1. Prof.Runtung Sitepu, SH,M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
2. Prof.Dr.dr Aldy Safrudin Rambe,Sp.S(K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. dr. Masitha Dewi Sari, M. Ked (Oph), Sp. M (K), selaku Dosen Pembimbing yang penuh perhatian telah banyak meluangkan waktu, memberikan bimbingan, arahan, dan masukan kepada saya selama melaksanakan penelitian, sehingga skripsi ini dapat disusun dengan baik. Semangat, motivasi, dan ilmu yang telah diberikan kepada penulis dengan penuh keikhlasan sangat berarti dalam proses penyelesaian skripsi ini.
4. dr.Haflin Soraya Hutagalung, M.Ked(Neu) Sp.S, selaku ketua penguji dan dr .Vanda Virgayanti, M.Ked(Oph), Sp.M selaku anggota penguji, yang telah memberikan berbagai arahan, masukan, dan saran kepada saya dalam penyelesaian dan penyempurnaan penyusunan skripsi.
5. dr.Flora Marlita Lubis,Sp.KK selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing selama menempuh pendidikan.
6. Seluruh Staf Pengajar dan Civitas Akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas bimbingan selama perkuliahan hingga penyelesaian studi dan juga penulisan skripsi ini.
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ...i
KATA PENGANTAR ...ii
DAFTAR ISI ...iii
DAFTAR TABEL ...vi
DAFTAR SINGKATAN ...vii
ABSTRACT ...viii
ABSTRAK ...ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Rumusan Masalah ...3
1.2 Tujuan Penelitian ...3
1.3.1. Tujuan Umum ...3
1.3.2. Tujuan khusus ...3
1.4 Manfaat Penelitian ...4
1.4.1 Manfaat Instansi ...4
1.4.2 Manfaat Peneliti Lainnya ...4
1.4.3 Manfaat Bagi Masyarakat ...4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 2.1 Definisi Glaukoma ...5
2.2 Klasifikasi Glaukoma ...5 2.2.1 Glaukoma Sudut Terbuka
2.2.1.2 Glaukoma dengan Tensi Normal ...6
2.2.1.3 Glaukoma Suspek ...6
2.2.2 Glaukoma Sudut Tertutup ...7
2.2.2.1 Glaukoma Primer ...7
2.2.2.2 Glaukoma sudut tertutup Akut ...7
2.2.2.3 Glaukoma Sudut Tertutup Sub Akut ...7
2.2.3 Glaukoma Pada anak ...8
2.2.3.1 Glaukoma Kongenital Primer ...8
2.2.3.2 Glaukoma Disertai Kelainan Kongenital ...8
2.2.3.3 Glaukoma Sekunder pada Bayi dan anak ...9
2.3 Faktor Resiko ...9
2.4 Patofisiologi Glaukoma ...10
2.5 Diagnosis Glaukoma ...11
2.6 Penatalaksanaan ...13
2.6.1 Terapi Medikamentosa ...13
2.6.2 Terapi Operatif dan laser ...13
2.7 Tinjauan Pustaka Kualitas Hidup ...14
2.7.1 Definisi Kualitas hidup ...14
2.7.2 Jenis Questioner Kualitas hidup ...15
2.7 3 Kualitas Hidup yang Berhubungan degan Glaukoma ...15
2.8 Kerangka Teori...16
2.9 Kerangka Konsep ...17
BAB III METODE PENELITIAN ... 3.1 Rancangan penilitian ...18
3.2 lokasi dan Waktu ...18
3.3. Populasi dan Sampel ...19
3.4 Perkiraan Besar Sampel Penelitian ...19
3.5 Pengumpulan Data ...20
3.5.1 Persiapan Pengumpulan Data ...21
3.5.2 Sumber Data ...21
3.5.3 Cara Pengumpulan Data ...21
3.5.4 Pengolahan Data ...21
3.6 Definisi Operasional...22
3.7 Aspek Pengukuran ...24
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ...27
4.2 Deskripsi Karakteristik Responden...27
4.3 Distribusi Frekuensi Penderita Glaukoma ...29
4.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tekanan Intraokular ...29
4.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Visus Mata ...30
4.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Riwayat Medis ...31
4.7 Distribusi Frekuensi Responden Penilaian Berdasarkan Kualitas Hidup ...32
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 5.1 Kesimpulan ...39
5.2 Saran ...40
DAFTAR PUSTAKA ...41
LAMPIRAN...43
DAFTAR TABEL
4.1 Deskripsi Karakteristik Responden ...27
4.2 Distribusi Frekuensi Penderita Glaukoma ...29
4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tekanan Intraokular ...29
4.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Visus Mata ...30
4.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Riwayat Medis ...31
4.6 Distribusi Frekuensi Penilaian Responden Dengan Kualitas Hidup ...32
4.7 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kesulitan Dengan Aktivitas ...32
4.8 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kesehatan Umum dan Daya Penglihatan ...34
4.9 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Respon Pada Masalah Penglihatan ...35
4.10 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Hasil Skor Kualitas Hidup ....36
4.11 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Hasil Skor dan Kualitas Hidup ...37
DAFTAR LAMPIRAN
A Daftar Riwayat Hidup ...43
B Ethical Cleareance Penelitian ...44
C Lembar Penjelasan...45
D Lembar Persetujuan Peserta Penelitian ...46
E Lembar Izin Pengantar Penelitian ...47
F Data Outpus SPSS ...48
G Kuesioner Pertanyaan ...67
DAFTAR SINGKATAN ADVS :
Activities Daily Vision Schale
ALT
:Argon Laser trabeuloplasty
JK : Jenis Kelamin
Kepmenkes : Keputusan Menteri Kesehatan
NEI-VFQ :
National Eye institute Visual Function Questioner
POAG :
Primary Open Angel Glaucoma
PACG :
Primary Closed Angel Glaucoma
QOL :
Quality Of Life
SPSS : Statistic product and Service Solution TIO : Tekanan Intra Okular
VAQ : Visual Activities Questioner
VF
:Visual filed
WHO : World Health Organization
ABSTRAK
Latar Belakang. Glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua setelah katarak di seluruh dunia.
Glaukoma tidak dapat disembuhkan melalui operasi sehingga kebutaan yang dialami bersifat permanen. Penyakit ini akan sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitnya. Pada tahun 2010, jumlah orang yang menderita glaukoma sudut terbuka diperkirakan sebanyak 44 juta orang sedunia dan sebanyak 2,7 juta terdapat di Amerika Serikat. Tujuan. Untuk mengetahui kualitas hidup penderita glaukoma dengan menggunakan parameter National Eye Institute Visual Functions Questionere. Metode. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain cross-sectional.
Populasi terjangkau penelitian adalah dengan wawancara dan rekam medis dan diolah menggunakan program Statical Product and Service Solution (SPSS). Sampel penelitian ini diambil secara total sampling dan didapatkan 50 sampel responden. Hasil. Penelitian ini didapatkan tingkat kualitas hidup penderita glaukoma di RS Khusus Mata Medan adalah baik dengan persentase 68%
(34 orang), dengan frekuensi terbanyak dengan kualitas hidup baik adalah responden dengan jenis kelamin perempuan 38% (19 orang), pada kelompok usia 41-60 tahun 38% (19 orang), memilliki status pendidikan perguruan tinggi 34% (17 orang), dan berdasarkan jenis pekerjaan 40% (20 orang) responden yang tidak bekerja memiliki kualitas hidup lebih baik. Kesimpulan. Tingkat kualitas hidup penderita glaukoma di Rumah Sakit Mata Medan Baru didapatkan dengan persentase sebanyak 68% (34 orang) dengan tekanan intraokular dan visus mata kanan dan kiri penderita glaukoma dominan adalah baik. Skor penilaian kuesioner memiliki total skor baik, hal ini dipengaruhi oleh perilaku responden yang sebagian besar rutin dalam mengontrol penyakit, mengonsumsi obat secara rutin, dan patuh terhadap anjuran dokter.
Kata kunci: Glaukoma, Kualitas Hidup, TIO, Visus, NEI-FVQ
ABSTRACT
Background. Glaucoma is the second leading cause of blindness after cataracts worldwide. Glaucoma
cannot be cured through surgery, so blindness is permanent. This disease will greatly affect the quality of life of the sufferer. In 2010, the number of people suffering from open-angle glaucoma was estimated at 44 million worldwide and as many as 2.7 million in the United States. Objective. To determine the quality of life of glaucoma sufferers using the parameters of the National Eye Institute Visual Functions Questionnaire (NEI-VFQ). Method. This research used a descriptive method with a cross- sectional design. The research population reached by interview and medical records and processed using the Statical Product and Service Solution (SPSS) program. The research sample was taken by total sampling and obtained 50 samples of respondents. Result. This study found that the quality of life of glaucoma sufferers at the Special Eye Hospital Medan was good with a percentage of 68% (34 people), with the most frequency with a good quality of life were 38% female respondents (19 people), in the 41-60 age group. 38% (19 people), have higher education status 34% (17 people), and based on the type of work 40% (20 people) of respondents who do not work have a better quality of life.
Conclusion. The quality of life rate of glaucoma sufferers at Medan Baru Eye Hospital was obtained
by a percentage of 68% (34 people) with intraocular pressure and good vision of the right and left eye patients with dominant glaucoma. The questionnaire assessment score has a good total score, this is influenced by the behavior of the respondents who are mostly routine in controlling disease, taking drugs regularly, and obeying doctor's recommendations.
Keywords: Glaucoma, Quality of Lfe, TIO, Visus, NEI-FVQ.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
Glaukoma merupakan penyakit yang mengakibatkan kerusakan saraf optik sehingga terjadinya gangguan pada sebagian atau seluruh lapang pandang, yang diakibatkan oleh tingginya tekanan bola mata seseorang, biasanya disebabkan karena adanya hambatan (humor aquous). Mekanisme peningkatan tekanan intraokular pada glaukoma adalah gangguan aliran keluar humor aquous akibat kelainan sistem drainase sudut kamera anterior (glaukoma sudut terbuka). Kebutaan akibat glaukoma diseluruh dunia diperkirakan lebih dari 8 juta orang dan sekitar 4 juta orang menjadi buta akibat glaukoma sudut terbuka. Masyarakat luas belum mengetahui penyakit glaukoma ini.Sehingga cenderung mengabaikan gejala yang terjadi sehingga resiko kebutaan akan semakin besar. Glaukoma sering berkembang tanpa adanya gejala atau faktor risiko yang nampak jelas. Padahal dengan pengobatan yang intensif dan teratur dapat mengurangi tekanan pada bola mata sehingga memperlambat terjadinya kebutaan.(Ananda, E. P. 2017)
Hasil dari Global Data on Visual Impairment 2010 menyebutkan penyebab gangguan penglihatan terbanyak di seluruh dunia yaitu gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, kemudian diikuti oleh katarak dan glaukoma. Sebesar 18.0% tidak dapat ditentukan dan satu persen adalah gangguan penglihatan sejak masa kanak-kanak (WHO 2012). Glaukoma merupakan penyebab kebutaan yang tidak dapat disembuhkan secara global. Ada sekitar 60,5 juta orang yang terinfeksi glaukoma sudut terbuka primer (Primary Open Angle Glaucoma, POAG) dan glaukoma sudut tertutup primer (Primary Angle-Closed Glaukoma, PACG) tahun 2010. (American Academy of Opthamology, 2011)
Menurut studi epidemiologi, pravelensi glaukoma paling tinggi terjadi di Jerman sebanyak 14% dan kedua adalah Eropa Utara (Rusia) sebanyak 11,9%, dan pravelensi paling rendah adalah di Perancis yaitu 3,4%. Pada studi yang dilakukan di Spanyol menunjukan bahwa pravelensi glaukoma sudut terbuka primer lebih banyak terjadi pada pria yaitu 2,4% dibanding dengan wanita yaitu 1,7%. Hasil ini
sejalan dengan penelitian yang dilakuakn di Jerman yang mengemukakan bahwa insidensi glaukoma lebih tinggi terjadi pada wanita dibanding dengan pria.
Prevalensi Nasional kebutaan Indonesia yaitu 0,4%. Prevalensi Kebutaan menurut kelompok umur yang tertinggi adalah pada kelompok umur 75 tahun keatas yaitu 8,4% kemudian 65-74 tahun sebesar 3,5% (Riskesdas 2013). Prevalensi kebutaan penduduk. umur 6 tahun ke atas tertinggi adalah Gorontalo 1,1%, Nusa Tenggara 1,0% dan diurutan ketiga yaitu Sulawesi Selatan dan Bangka Belitung sebanyak 0,8%. Tahun 2007 Sulawesi Selatan merupakan prevalensi tertinggi yaitu 2,6%. (kemenkes RI,2015)
Penelitian Febrina menyatakan dengan menggunakan parameter National Eye Institute Visual Function Questionere meneliti terdapat 52 kasus glaukoma di Rumah Sakit Umum Daerah Pringadi Medan pada tahun 2011 dengan prevelensi 4,3% dan karakteristik pasien terbanyak yaitu wanita (28 orang 53,8%) kelompok usia 51-60 tahun (14 orang 26,9%) , jenis glaukoma sudut terbuka (20 orang 38,5%) dan keluhan pada kedua mata (22 orang, 42,3%). Kemudian penelitian yang dilakukan di RSUP Haji Adam Malik tahun 2012 dari 38 orang terdiagnosis suspek glaukoma adalah usia 41-60 (42,1%) jenis kelamin perempuan (76,3%), pekerjaan ibu rumah tangga (39,5%) penyakit sistemik diabetes melitus (13,2%) riwayat keturunan yang tidak diketahui (92,1%) tajam penglihatan 5/5-5/18 (75,4%), tekanan intraokuli 21-30 mmHg (73,7%) Cup disk Ratio 0,2-0,4 (80,3%). (wikaningtyas 2012)
Berdasarkan penyebab utama dikarenakan karna adanya peningkatan tekanan intraokuli pada bola mata yang dimana merusak sel sel ganglion retina dan menyebabkan kerusakan syaraf nervus optikus, maka diberikan beberapa terapi medikamentosa untuk penekanan pembentukan, Beta adrenergik bloker topikal seperti timolol maleat 0,25% betaxolol 0,25%, levobunolol 0,25% kemudian meningkatkan aliran aqueus humor seperti prostaglandin analog golongan parasimtomatik contoh pilokarpin tetes mata satu sampai 4% dan terapi operatif seperti iredektomi, iridotomiperifer, drainase dengan trabeluktomi, goniotomi,dan Argon Laser Trabeculoplasty(ALT), dengan beberapa pengobatan dengan tujuan untuk menurunkan tekanan pada bola mata yang dimana mengakibatkan kualitas hidup penderita glaukoma akan semakin baik.
Dalam menilai parameter kualitas hidup pasien glaukoma ada beberapa standard yang dapat menilai kualitas hidup penderita pasien glaukoma seperti, Activities Daily Vision Scale (ADVS), Visual Activities Questionnaire(VAQ), National
Eye Institute Visual Function Questionnaire (NEI-VFQ) dan VF-14 yang dimana semua parameter ini mengevaluasi fungsi kehidupan sehari hari yang bergantung kepada penglihatan serta untuk menilai kualitas hidup yang berhubungan dengan penglihatan mata. (Spatch G, et.al,2006)
Pada penelitian ini saya akan meneliti para penderita pasien glaukoma dengan parameter National Eye Institute Visual Function Questionnaire (NEI-VFQ) dimana kuesioner ini berjumlah 25 pertanyaan, tujuannya untuk mengetahui kualitas hidup penderita glaukoma tersebut, mengetahui jumlah glaukoma sudut terbuka dan tertutup, mengetahui tekanan intraokular dan visus mata kanan dan kiri, mengetahui riwayat medis penderita seperti lama sakit, riwayat mengonsumsi obat-obatan, riwayat sudah pernah atau belum melakukan operasi, kemudian melakukan penilaian kualitas hidup dengan parameter yang digunakan dengan cara mewawancarai responden dan memberi skor penilaian tersebut yang mana untuk mengetahui kualitas hidup penderita glaukoma tersebut.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana kualitas hidup penderita glaukoma berdasarkan parameter National Eye Institute Visual Function Questionere?
1.3. TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 TUJUAN UMUM
Untuk mengetahui kualitas hidup penderita glaukoma dengan menggunakan parameter National Eye Institute Visual Function Questionere di Rumah Sakit Khusus Mata Medan Baru.
1.3.2 TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui karakteristik responden dengan kualitas hidup penderita glaukoma.
2. Mengetahui jumlah penderita glaukoma terbuka dan glaukoma tertutup di Rumah Sakit Khusus Mata Medan Baru.
3. Mengetahui Riwayat medis (lama sakit, obat yang diberikan, jenis obat yang diberikan, mengonsumsi obat tersebut berkali sehari, jenis obat , riwayat sudah pernah melakukan operasi pernah atau belum kepada penderita glaukoma) di Rumah Sakit Khusus Mata Medan Baru.
4. Mengetahui tingkat tekanan intraokular pada penderita glaukoma di Rumah Sakit Khusus Mata Medan Baru.
5. Mengetahui nilai visus mata kanan dan kiri pada penderita glaukoma di Rumah Sakit Khusus Mata Medan Baru.
1.4. MANFAAT PENELITIAN 1.4.1. MANFAAT BAGI PENELITI
Hasil penelitian diharapkan mampu menambah wawasan dan pengetahuan khususnya mengenai glaukoma bagi peneliti .
1.4.2 MANFAAT BAGI INSTANSI DAN TENAGA KESEHATAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk pengembangan ilmu pengetahuan kesehatan mata khususnya glaukoma terutama di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
1.4.3 MANFAAT BAGI MASYARAKAT
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi tentang bahaya glaukoma dan sebagai warning/ kewaspadaan terhadap penyakit ini dan memberikan edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat secara umum seperti rutin dalam mengontrol dan mengikuti anjuran dokter untuk menjamin kualitas hidup penderita menjadi lebih baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. DEFINISI GLAUKOMA
Glaukoma merupakan suatu kumpulan penyakit yang mempunyai suatu karakteristik umum optik neuropati yang berhubungan dengan hilangnya fungsi penglihatan. Walaupun kenaikan tekanan intraokular (TIO) adalah satu dari faktor resiko primer, ada atau tidaknya faktor ini tidak merubah definisi penyakit. (Skuta 2009-2010)
Glaukoma adalah kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata. Meningkatnya tekanan bola mata ini terjadi akibat gangguan pada sistem aliran cairan mata. Seseorang yang menderita kondisi ini dapat merasakan gejala berupa gangguan penglihatan, nyeri pada mata, hingga sakit kepala. Pada dasarnya, mata memiliki sistem aliran cairan mata aqueous humour ke dalam pembuluh darah. Aqueous humour itu sendiri adalah cairan alami yang berfungsi menjaga bentuk mata, memasok nutrisi. Ketika terjadi gangguan pada sistem aliran cairan ini akan menyebabkan penimbunan cairan aqueous humour dan meningkatkan tekanan pada bola mata. Meningkatnya tekanan pada bola mata kemudian dapat merusak saraf optik.(Skuta 2009-2010)
2.2 KLASIFIKASI GLAUKOMA
Adapun menurut American Academy of Opthamology glaukoma dibagi atas 2.2.1 GLAUKOMA SUDUT TERBUKA
Glaukoma jenis ini biasanya disebut sebagai glaukoma kronis.jenis glaukoma ini adalah yang paling sering menyebabkan kebutaan.Penyebabnya adalah vaskularisasi yang kurang baik.Didalam mata terdapat cairanyang memilihara kesehatan organ penglihatan ini. cairan ini diproduksi secara alami .ketika caira baru muncul, cairan lama dikeluarkan. Glaukoma sudut terbuka adalah gangguan vaskularisasi disalam saluran pembuangan sehingga menyebabkan pembuangan tidak lancar, karna gangguan ini tekanan intraocular meningkat secara perlahan dan menyebabkan kerusakan saraf optic mata sehingga berakibat glaukoma.
2.2.1.1.Glaukoma Primer Sudut Terbuka/Primary Open Angle Glaucoma (POAG).
POAG terjadi ketika tidak terdapat penyakit mata lain atau penyakit sistemik yang menyebabkan peningkatan hambatan terhadap aliran aquos humor atau kerusakan terhadap saraf optik, biasanya disertai dengan peningkatan TIO. Glaukoma primer sudut terbuka merupakan jenis glaukoma terbanyak dan umumnya mengenai umur 40 tahun ke atas. POAG dikarakteristikkan sebagai suatu yang kronik, progresif lambat, optik neuropati dengan pola karakteristik kerusakan saraf optik dan hilangnya lapangan pandang. POAG didiagnosa dengan suatu kombinasi penemuan termasuk tingkat TIO, gambaran diskus optik, dan hilangnya lapangan pandang. (Skuta 2009- 2010)
2.2.1.2. Glaukoma dengan Tensi Normal
Kondisi ini TIO dalam batas normal. Banyak ahli mempunyai dugaan bahwa faktor pembuluh darah lokal mempunyai peranan penting pada perkembangan penyakit. bagian dari glaukoma primer sudut terbuka, tanpa disertai peningkatan TIO.
(Skuta 2010-2011)
2.2.1.3. Glaukoma Suspek
Glaukoma suspek diartikan sebagai suatu keadaan pada orang dewasa yang mempunyai satu dari penemuan berikut paling sedikit pada satu mata yaitu:
Suatu defek nerve fiber layer atau nervus optikus perkiraan glaukoma ( perluasan cup-disc ratio, asimetris cup-disc ratio, notching neural rim, perdarahan diskus, ketidaknormalan lokal atau difus pada nerve fiber layer)
• Ketidaknormalan lapangan pandang sesuai dengan glaukoma.
• Peningkatan TIO > 21 mmHg. (Kansky, 2003) Biasanya, jika terdapat dua atau lebih tanda diatas maka dapat mendukung diagnosa untuk. (Kansky,2003)
Bila terjadi peningkatan tekanan bola mata sebagai akibat menifestasi penyakit lain maka glaukoma ini disebut sebagai glaukoma sekunder. Contoh glaukoma jenis ini adalah:
• Sindroma Pseudoeksfoliasi (Exfoliation Syndrome)
• Glaukoma Pigmenter (Pigmentary Glaucoma)
• Glaukoma akibat kelainan lensa
• Glaukoma akibat tumor intraokuli
• Glaukoma akibat inflamasi intraokuli (svern P et.al,2008)
2.2.2 GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP
Pada tipe ini, saluran pengalir cairan aqueous humour tertutup sepenuhnya.
Glaukoma sudut tertutup akut atau yang terjadi secara tiba-tiba merupakan kondisi darurat dan membutuhkan penanganan dengan segera. Glaukoma sudut tertutup didefenisikan sebagai aposisi iris perifer terhadap trabekular meshwork dan menghasilkan penurunan aliran aquos humor melalui sudut bilik mata. Mekanisme terjadinya glaukoma sudut tertutup dibagi dalam 2 kategori yaitu :
• Mekanisme yang mendorong iris ke depan dari belakang.
• Mekanisme yang menarik iris ke depan dan kontak dengan trabecular meshwork Blok pupil yang terjadi akibat iris yang condong kearah depan sering menyebabkan glaukoma sudut tertutup. Aliran aquos humor dari posterior ke anterior akan terhalang. Dengan diproduksinya aquos humor terus-menerus. (kansky 2008)
2.2.2.1 Glaukoma Primer Sudut Tertutup dengan Blok Pupil Relatif
Glaukoma dengan blok pupil relatif ini timbul bila terdapat hambatan gerakan akuos humor melalui pupil karena iris kontak dengan lensa, capsular remnants, anterior hyaloid atau vitreous-occupying substance (udara, minyak silikon). Blok pupil relatif ini diperkirakan penyebab yang mendasari lebih dari 90% glaukoma primer sudut tertutup. (kansky 2003)
2.2.2.2 Glaukoma Sudut Tertutup Akut
Timbul ketika tekanan intra okuli meningkat dengan cepat sebagai akibat bendungan yang tiba-tiba dari trabekular meshwork oleh iris. Khasnya terjadi nyeri mata, sakit kepala, kabur, halo, mual, muntah, karena tingginya TIO menyebabkan edema epitel. (Kansky 2003)
2.2.2.3 Glaukoma Sudut Tertutup Subakut (Intermiten)
Glaukoma sudut tertutup akut yang berulang dengan gejala ringan dan sering didahului dengan peningkatan tekanan intraokuli. Gejala yang timbul dapat hilang secara spontan, terutama pada waktu tidur karena dapat menginduksi miosis. (Kansky 2003)
2.2.2.4 Glaukoma Sudut Tertutup Kronik
Tekanan intra okuli meningkat disebabkan bentuk ruang anterior yang bervariasi dan menjadi tertutup secara permanen oleh sinekia posterior. Penyakit ini
cenderung terdiagnosa pada stadium akhir, sehingga menjadi penyebab kebutaan terbanyak di Asia Tenggara. (Kansky 2003)
2.2.2.5 Glaukoma Sekunder Sudut Tertutup dengan Blok Pupil
Dapat disebabkan oleh glaukoma fakomorfik (disebabkan oleh lensa yang membengkak), ektopia (perubahan letak lensa dari posisi anatomisnya), blok pupil juga dapat terjadi pada mata afakia dan pseudofakia. (kansky 2003)
2.2.3. GLAUKOMA PADA ANAK
Glaukoma kongenital primer ini timbul pada saat lahir atau dalam 1 tahun kehidupannya. Kondisi ini disebabkan kelainan perkembangan sudut bilik depan yang menghambat aliran aquos humor. Jenis gejala pada bayi dan anak seperti mata yang membesar secara tidak normal, mata berair secara berlebihan mata berkabut atau berawan ,dan sensitivitas tinggi terhadap cahaya Patofisiologi terjadinya ada dua, yang pertama bahwa ketidaknormalan membran atau sel pada trabekular meshwork adalah mekanisme patologik primer, yang kedua adalah anomali segmen luas, termasuk insersi abnormal muskulus siliaris.(kanskay 2003)
2.2.3.1. Glaukoma Kongenital Primer
Glaukoma primer yang dijumpai pada saat baru lahir hingga usia 1 tahun.
(kanskay 2003)
2.2.3.2. Glaukoma disertai kelainan kongenital
Disertai dengan penyakit mata (misalnya disgenesis segmen anterior, aniridia) juga dengan penyakit sistemik. (rubella,sindrom down)
2.2.3.3 Glaukoma Sekunder pada bayi dan anak
Sebagai contoh glaukoma sekunder akibat retinoblastoma atau trauma.
(skuta 2009-2010)
2.3 FAKTOR RESIKO
Faktor yang dapat menyebabkan kematian sel ganglion retina dapat dikelompokkan menjadi faktor primer dan sekunder. Faktor primer terdiri dari kenaikan tekanan intraokular dan faktor tekanan independen. Faktor sekunder terdiri dari bahan toksin yang dikeluarkan pada saat terjadinya kematian sel ganglion retina seperti glutamate, radikal bebas, dan nitrit oksida. Kenaikan tekanan intraokular dapat
disebabkan oleh faktor lokal dan faktor umum. Faktor lokal terdiri atas laju produksi aquos humor, adanya hambatan pada jalur keluar aquous humor , kenaikan tekanan vena episklera, dan dilatasi pupil (Khurana,2007). Faktor umum antara lain sebagai berikut.
a.) Usia, rata-rata tekanan bola mata akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur, kemungkinan karena adanya penurunan fasilitasi aliran aquos humor. Biasanya kenaikan terlihat mulai usia 40 tahun.
b.) Jenis kelamin, tekanan intraokular pada orang yang berumur di antara 20-40 tahun tidak ada bedanya antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi tekanan intraokular biasanya lebih tinggi pada perempuan yang berusia di atas 40 tahun (Khurana,2007).
c.) Ras, pada glaukoma sudut terbuka, ras kulit hitam memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan ras putih dan Asia. (Khurana,2007)
d.) Riwayat penyakit seperti diabetes dan hipertensi dikatakan meningkatkan resiko seseorang untuk menderita glaukoma (Ilyas dan Yulianti,2014). Katarak juga merupakan faktor resiko seseorang untuk menderita glaukoma, karena katarak dapat menyebabkan glaukoma sekunder yang dibangkitkan oleh lensa (khurana,2007).
e.) Penggunaan steroid, merokok dan mengkonsumsi kafein dikatakan dapat meningkatkan tekanan intraokular. (Khurana,2007)
2.4 PATOFISIOLOGI GLAUKOMA
Penyebab pasti glaukoma sudut terbuka belum pasti diketahui,peningkatan TIO pada POAG disebabkan karena peningkatan tahanan aliran pada trabekular meshwork, dimana dengan pertambahan usia terjadi proses degenerasi dan sklerosis/iskemik di trabekular meshwork, sedangkan pada glaukoma sudut tertutup primer (PACG) terjadi karena mekanisme terdorongnya iris kebelakang menyentuh trabekular meshwork menyebakan sumbatan sudut kamera anterior oleh iris perifer.
(Skuta 2010-2011)
Efek peningkatan tekanan intraokular di dalam mata ditemukan pada semua bentuk glaukoma, yang manifestasinya dipengaruhi oleh perjalanan waktu dan besar peningkatan intraokular. Mekanisme utama penurunan penglihatan pada glaukoma adalah atrofi sel ganglion difus, yang menyebabkan penipisan lapisan serat saraf dan
inti bagian dalam retina dan berkurangnya akson di saraf optikus. Diskus optikus menjadi atrofik, disertai pembesaran cekungan optikus. Iris dan korpus siliare juga menjadi atrofik, dan prosesus siliaris memperlihatkan degenerasi hialin.
Tekanan bola mata dipengaruhi oleh tiga faktor penting,yaitu : 1. Jumlah produksi aqueos humor oleh badan siliar.
2. Tahanan aliran aqueos humor yang melalui sistem trabekular meshwork-kanalis Schlem.
3. Level dari tekanan vena episkelera
Aquos humor dibentuk oleh prosesus siliaris, dimana masing masing prosesus ini disusun oleh lapisan epitel ganda, dihasilkan 2- 2,5 ul/menit mengalir dari kamera okuli posterior, lalu melalui pupil mengalir ke kamera okuli anterior. Sebagian besar akan melalui sistem vena, yang terdiri dari jaringan trabekulum, kanalis Schlem dan selanjutnya melalui saluran pengumpul (collector channel). Aliran aquos humor akan melewati jaringan trabekulum. Sekitar 90%. Sebagian kecil akan melalui struktur lain pada segmen anterior hingga mencapai ruangan supra koroid, untuk selanjutnya akan keluar melalui sclera yang intak atau serabut saraf maupun pembuluh darah yang memasukinya. Jalur ini disebut juga jalur uvoesklera (10-15%). (svern P,et.al,2008) (Lee BL et al 1998) (Freeman EE,et.al 2008)
Tekanan bola mata yang umum dianggap normal adalah 10-21 mmHg. Pada banyak kasus peningkatan bola mata dapat disebabkan oleh peningkatan resistensi aliran aquos humor. Beberapa faktor risiko dapat menyertai perkembangan suatu glaukoma termasuk riwayat keluarga, usia, jenis kelamin, ras, genetik, olahraga, obat-obatan.
Proses kerusakan papil saraf optik (cupping) akibat tekanan intra okuli yang tinggi atau gangguan vaskular ini akan bertambah luas seiring dengan terus berlangsungnya kerusakan jaringan sehingga pada lapangan pandang makin bertambah luas. Pada akhirnya terjadi penyempitan lapangan pandang dari ringan sampai berat.(svern P,et.al,2008) (Lee BL et al 1998) (Freeman EE,et.al 2008)
Glaucomatous optic neuropathy adalah tanda dari semua bentuk glaukoma.
Cupping glaucomatous awal terdiri dari hilangnya akson-akson, pembuluh darah dan sel glia. Perkembangan glaucomatous optic neuropathy merupakan hasil dari berbagai variasi faktor, baik instriksi maupun ekstrinsik. Kenaikan TIO memegang peranan utama terhadap perkembangan glaucomatous optic neuropathy. (svern P,et.al.2008)
Perkembangan glaucomatous optic neuropathy dapat dijelaskan dengan dua hipotesis yaitu teori mekanik dan iskemik. Teori mekanik menekankan pentingnya kompresi langsung serat serat akson dan struktur pendukung nervus optikus anterior, dengan distorsi lempeng lamina kribrosa dan interupsi aliran aksoplasmik, yang berakibat pada kematian sel ganglion retina (RGCs). Teori iskemik fokus pada perkembangan potensial iskemik intraneural akibat penurunan perfusi nervus atau proses instrinsik pada nervus optikus. Gangguan autoregulasi pembuluh darah mungkin menurunkan perfusi dan mengakibatkan gangguan saraf. Pembuluh darah optik secara normal meningkat atau menurunkan tekanannya memelihara aliran darah konstan, tidak tergantung TIO dan variasi tekanan darah. (Svern P ,et.al,2008)Lee BL et.al 1998)
2.5. DIAGNOSIS GLAUKOMA
Untuk menegakkan diagnosis glaukoma, diperlukan pemeriksaan secara menyeluruh, mulai dari anamnesis hingga pemeriksaan fisik. Pada anamnesis, adapun hal-hal yang perlu ditanyakan adalah sesuai dengan basic four dan sacred seven, misalnya apakah terdapat riwayat keluarga yang menderita hal yang sama, apakah ada riwayat penyakit kronik seperti diabetes melitus. Setelah dilakukan anamnesis, jika dicurigai pasien menderita glaukoma, maka adapun pemeriksaan yang sebaiknya dilakukan antara lain.
2.5.1.Tonometri
Tonometri merupakan pemeriksaan untuk mengetahui tekanan intraokular.
Sebelum diukur, mata pasien terlebih dahulu diberikan anastesi topikal. Alat yang digunakan dalam tonometri ini yaitu tonometer. Beberapa jenis tonometer yaitu:
tonometer Goldmann, tonometer TonoPen, tonometer Perkins, tonometer Schiotz.
2.5.2.Gonioskopi
Gonioskopi digunakan untuk menentukan sudut bilik mata depan. Inspeksi sudut bilik mata depan sangat penting untuk menentukan glaukoma sudut terbuka atau sudut tertutup. Apabila terlihat anyaman trabekular, taji sklera, dan prosesus iris maka sudut dikatakan terbuka. Namun apabila hanya garis Schwalbe yang terlihat dan anyaman trabekular terlihat sedikit maka sudut dikatakan sempit, dan apabila garis
Schwalbe tidak terlihat, maka sudut dikatakan tertutup. Gonioskopi bisa dilakukan secara direk maupun indirek.
2.5.3.Penilaian Diskus Optikus
Penilaian terhadap diskus optikus penting dalam menegakkan diagnosis dari glaukoma. Alat yang digunakan dalam menilai diskus optikus adalah oftalmoskopi.
Normalnya terdapat cawan pada diskus optikus, akan tetapi pada pasien glaukoma, terjadi pembesaran cawan diskus optikus disertai dengan pemucatan diskus di daerah cawan. Pada pasien glaukoma biasa digunakan rasio cawan-diskus untuk mencatat ukuran diskus optikus pasien. Jika rasio cawan-diskus sudah melebihi 0,5 dengan adanya tandatanda glaukoma lain seperti peningkatan tekanan intraokular dan kehilangan lapang pandang maka diindikasikan adanya atrofi glaukomatosa.
2.5.4 Pemeriksaan Lapangan Pandang
Alat untuk mengukur lapang pandang adalah perimeter. Adapun jenis jenis perimeter yaitu: automated perimeter, perimeter Goldmann, Friedmann field analyzer, dan layar tangent. Adapun perbedaan kehilangan lapang pandang pada glaukoma tekanan normal dan glaukoma tekanan tinggi. Pada glaukoma tekanan normal, defek yang lebih tinggi adalah pattern defect. Akan tetapi sebaliknya, pada glaukoma yang bertekanan tinggi, defek yang terjadi adalah overall defect.
Kehilangan lapang pandang yang khas pada glaukoma adalah pada lapang pandang nasal.
2.6 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan penyakit glaukoma antara lain : 2.6.1 Medikamentosa
a. Penekanan pembentukan humor aqueus, antara lain:
1) β adrenegik bloker topikal seperti timolol maleate 0,25 - 0,50% dua kali sehari, betaxolol 0.25% dan 0.5%, levobunolol 0.25% dan 0.5%, metipranolol 0.3%, dan carteolol satu persen
2) Apraklonidin
3) Inhibitor karbonik anhidrase seperti asetazolamid (diamox) oral 250 mg dua kali sehari, diklorofenamid, metazolamid.
b. Meningkatkan aliran keluar humor aqueus Seperti: prostaglandin analog, golongan parasimpatomimetik, contoh: pilokarpin tetes mata satu sampai empat persen, empat sampai enam kali sehari, karbakol, golongan epinefrin
c. Penurunan volume korpus vitreus.
d. Obat-obat miotik, midriatikum, siklopegik.
2.6.2 Terapi operatif dan laser a. Iridektomi dan iridotomi perifer
b. Bedah drainase glaukoma dengan trabekulektomi,goniotomi.
c. Argon Laser Trabeculoplasty (ALT) 2.7 KUALITAS HIDUP
2.7.1. DEFINISI
Kualitas hidup adalah persepsi individu terhadap posisinya dalam kehidupan sesuai dengan konteks budaya dan nilai dimana mereka tinggal dan dalam hubungannya dengan tujuan hidup, harapan, standar, dan kekhawatiran. Hal ini merupakan konsep yang luas yang mempengaruhi kesehatan fisik, keadaaan psikologis, tingkat ketergantungan, hubungan social, keyakinan, dan hubungan seseorang dengan keinginan di masa yang akan datang terhadap lingkungan mereka.
Dalam melakukan penilaian kualitas hidup, banyak faktor yang turut berperan. Aspek yang dinilai harus meliputi aspek fisik, social dan produktivitas seorang dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Hal ini menjadi sangat sulit karena tiap-tiap individu mempunyai kegiatan, kemampuan ekonomi, kemandirian dan peran yang berbeda-beda di masyarakat. Tidak ada standar baku yang dapat dipakai bersama-sama, dan hal inilah yang menyebabkan instrumen penilaian kualitas hidup masih terus mengalami modifikasi. (Mengione CM, Pitts J, et.al., 1998)
Pada individu yang biasa hidup mandiri maka perubahan fungsi penglihatan yang kecil saja akan menimbulkan keluhan dan mempengaruhi kualitas hidupnya.
Sebaliknya individu yang dalam hidupnya selaku dekat dengan pertolongan orang lain, perubahan fungsi penglihatan kecil mungkin belum memberikan pengaruh apa- apa terhadap individu tersebut. Oleh karena itu indikator klinis harus diterjemahkan dalam bentuk keluhan sesuai aktivitas sehari-hari agar seseorang menyadari perubahan kualitas hidup yang terjadi pada dirinya. (Mengione CM, Pitts J, et.al., 1998,Clemons TE, Chew EY, Bressler SB et al)
2.7.3. KUALITAS HIDUP YANG BERHUBUNGAN DENGAN GLAUKOMA Instrumen kuesioner yang dikembangkan khusus untuk menilai kualitas hidup berhubungan dengan penglihatan adalah sebagai berikut: (Spacth G., et.al, 2006) a. Activities Daily Vision Scale (ADVS)
ADVS merupakan kuesioner pertama yang dikembangkan untuk menilai kualitas hidup berhubungan dengan penglihatan. Kuesioner ini dikembangkan untuk melihat pengaruh katarak dan aktivitas yang berhubungan dengan penglihatan. Visual Field 14 memiliki korelasi signifikan dengan ketajaman penglihatan. Hasil evaluasi b. VF 14
VF14 memiliki korelasi signifikan dengan ketajaman penglihatan. Hasil evaluasi VF14 3 kali lebih sensitif terhadap perubahan penglihatan. Ketika diaplikasikan kepada penderita glaukoma maka hasil yang didapat bersesuaian dengan kehilangan lapang pandang yang diderita, namun saat dibandingkan dengan kontrol orang normal secara statistik kurang signifikan.
c.Visual Activities Questionnaire (VAQ)
Kuesioner ini berisi 33 pertanyaan dalam 10 aspek penglihatan yang juga meliputi penglihatan perifer, sensitivitas kontras, tajam penglihatan, pengaruh glare, iluminasi pencahayaan rendah dan adaptasi terang gelap. VAQ cukup baik berkorelasi dengan lapang pandang. Konsistensi internal dan test-retest reproducibility cukup baik pada penderita katarak. Salah satu kelebihan VAQ adalah skoring untuk pertanyaan perifer berkorelasi baik dengan defek lapang pandang perifer
d. National Eye Institute Visual Function Questionnaire (NEI-VFQ)
Kuesioner ini terdiri dari 25 buah pertanyaan untuk mengevaluasi fungsi kehidupan sehari-hari yang bergantung pada penglihatan serta kualitas hidup yang dipengaruhi berbagai macam keadaan mata. Hasil penilaiannya menunjukkan korelasi yang baik dengan variabel klinis. NEI-VFQ telah digunakan untuk menilai pengaruh berbagai kondisi yang menyebabkan penurunan penglihatan terhadap kualitas hidup.
Penilaian yang dilakukan dengan NEI-VFQ meliputi kesehatan umum, penglihatan umum, nyeri pada mata, aktivitas dengan penglihatan dekat, aktivitas dengan penglihatan jauh, fungsi sosial, kesehatan mental, kesulitan berperan dalam masyarakat, ketergantungan, berkendaraan, penglihatan warna, dan penglihatan perifer.
2.8 KERANGKA TEORI
GLAUKOMA Faktor Resiko
-Berusia 60 tahun
-Memiliki riwayat penyakit keluarga
-riwayat penyakit seperti DM,tekanan Darah yang tinggi
Pernah mengalami cedera mata
Merupakan kerusakan nervus opticus akibat meningkatnya tekanan intra okuli dikarenakan adanya peningkatan dan hambatan aqueus humor
Tanda dan gejala :tekanan intraokular meningkat60- 80mmHg, gejala akut (sakit kepala,nyeri kepala, mual muntah, pandangan berhalo), kornea oedem, konjungtiva injeksi siliar, iris bombe.
Tatalaksana
1.Medikamentosa: untuk mengurangi masuknya aquous humor diberikan Beta bloker timolol maleate 0,25%-0.50%,levobunolol
0,25,metilpranolol 0,3%
Meningkatkan aliran keluar aquous humor ,prostaglandin analog ,golongan parasimtomatik contoh pilokarpin tetes mata 1-4% digunakan 4- 6xsehari laukoma dengan trabeluktomi
2.Terapi Operatif:Iredektomi dan Iridotomi,Bedah drainase glaukoma dengan Trabeluktomi,Argon Laser Trabeculoplasty
-Kesehatan fisik ,kesehatan psikologis,pengaruh obat obatan, riwayat medis, usia, Akses pelayanan kesehatan, Ekonomi, Gaya Hidup , Hubungan Sosial .
Kualitas Hidup
2.9 KERANGKA KONSEP Questionnaire NEI-VFQ 25
Variabel independen variabel dependen
• Penderita Glaukoma
• Tekanan Intraokular
• Visus Mata
• Jenis Kelamin
• Usia
• Riwayat Medis
• Penilaian Kualitas Hidup Penderita Glaukoma
• Kesehatan Umum dan Daya Penglihatan
• Kesulitan Aktivitas Sehari-Hari
kualitas hidup penderita glaukoma
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 RANCANGAN PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan desain studi cross sectional. Penelitian cross sectional adalah penelitian yang melihat hubungan antara variabel independen dan variabel dependen dengan cara mengamati keduanya secara serentak (diukur pada waktu yang sama).
3.2. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini akan dilakukan ditempat Rumah Sakit Khusus Mata Medan Baru di Poliklinik Glaukoma yang berada dijalan Abdullah Lubis No.67 yang dimana khusus untuk menangani pada pasien penderita glaukoma di kota Medan. Dan waktu penelitian dilakukan bulan Agustus sampai Oktober 2020.
3.3. POPULASI DAN SAMPEL 1. Populasi Penelitian.
Populasi penelitian ini seluruh kunjungan pasien glaukoma di kota Medan, Rumah Sakit Khusus Mata Medan Baru di Poliklinik Glaukoma yang berada dijalan Abdullah Lubis No.67 .
2. Sampel Penelitian.
Sampel dalam penelitian ini adalah penderita glaukoma yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut.
a. Kriteria Inklusi
1. Tercatat sebagai pasien Glaukoma di poliklinik praktik dokter tersebut.
2. Berdomisili di Kota Medan.
3. Memiliki catatan medis yang lengkap dan memenuhi kriteria variabel yang diteliti
4. Bersedia menjadi responden.
Teknik pengambilan sampel adalah menggunakan consecutive sampling.
Consecutive sampling yaitu pemilihan sampel dengan menetapkan subjek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah responden dapat terpenuhi. Kurun waktu pengambilan sampel dalam penelitian ini selama 1 bulan.
Dalam pemilihan sampel peneliti membuat kriteria bagi sampel yang diambil. Sampel yang diambil berdasarkan berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yaitu karakteristik yang dapat dimasukan atau layak diteliti.
3.4 PEKIRAAN BESAR SAMPEL PENELITIAN
Adapun besar sampel dalam penelitian ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus(Lemeshow,1997).
Rumus sebagai berikut : 𝑛 =
𝑍1𝛼
2
2 𝑝(1 − 𝑝)𝑁 𝑑2(𝑁 − 1) + 𝑍1𝛼
2
2 𝑝(1 − 𝑝) Keterangan :
n : Jumlah Sampel N : Jumlah Populasi
Z : Standar deviasi normal 1,96
d : Derajat ketepatan yang digunakan 90% atau 0,1 p : Proporsi target populasi adalah 0,5
q : Proporsi 1-p = 0,5
Perhitungan Besar Sampel : 𝑛 =
𝑍1𝛼
2
2 𝑝(1 − 𝑝)𝑁 𝑑2(𝑁 − 1) + 𝑍1𝛼
2
2 𝑝(1 − 𝑝)
𝑛 = (1,96)2. 0.5 (1 − 0,5)200 0,12(200 − 1) + (1,96)2 .0,5 (1 − 0.5)
𝑛 =245,86 5,01 𝑛 = 49,04 = 50
Dengan demikian, besar sampel yang diperlukan dalam penelitian ini dibulatkan menjadi 50 orang.
3.5. PENGUMPULAN DATA
3.5.1. PERSIAPAN PENGUMPULAN DATA
Persiapan yang utama dalam penelitian adalah menyiapkan semua kuesioner yang telah peneliti buat dan meminta izin untuk melakukan penelitian kepada dokter pembimbing
3.5.2. SUMBER DATA a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden dengan melakukan wawancara dan observasi. Responden diberikan kesempatan untuk mengisi daftar pertanyaan yang diberikan dalam kuesioner. Data untuk 46 variabel kualitas hidup penderita glaukoma menggunakan kuesioner NEI-VFQ 25 yang telah disiapkan oleh peneliti. Data variabel independen yaitu, karakteristik responden, pendapatan, lama sakit, dan waktu luang dinilai dengan kuesioner yang diberikan. Metode pengumpulan data primer yaitu dengan wawancara kepada responden dan observasi dengan panduan kuesioner penelitian.
b.Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang secara tidak langsung diperoleh dari sumbernya, tetapi melalui pihak kedua. Penelitian ini menggunakan data rekam medis yang diambil dari poliklinik tersebut. Variabel yang menggunakan data sekunder adalah variabel riwayat medis. Data diambil dari rekam medis sesuai responden yang menjadi sampel.
3.5.3 CARA PENGUMPULAN DATA
a. Pasien glaukoma yang datang untuk pemeriksaan kepoliklinik akan dimintai kesediaannya menjadi responden setelah melakukan pemeriksaan.
b. Jika bersedia menjadi maka akan diberikan kuesioner NEI-VFQ untuk diisi oleh responden dan tanpa intervensi dari pihak manapun. Data yang kurang akan dilakukan wawancara kepada responden.
c. Setelah selesai menjawab semua pertanyaan sesuai kuesioner dan data dari rekam medis dicatat, peneliti akan berterimakasih kepada responden.
d. Jika responden tidak dapat menyelesaikan kuesioner dan bersedia melanjutkan diwaktu lain maka peneliti akan menghubungi responden kembali.
3.5.4 PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN DATA 3.5.4.1 PENGOLAHAN DATA
Tahapan pengolahan data adalah sebagai berikut:
1. Editing
Editing merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyunting data sebelum data dimasukkan, agar data yang salah atau meragukan dapat diklarifikasi lagi kembali kepada responden.
2. Coding
Coding merupakan kegiatan mengklasifikasikan data dan memberikan kode untuk masing-masing pertanyaan, kode yang diberikan akan menjadi panduan untuk menentukan skor yang di dapat responden.
3. Entery
Entery merupakan kegiatan memasukkan data dari kuesioner ke dalam program komputer dengan menggunakan program komputerisasi.
4. Cleaning
Cleaning merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang telah di-entery untuk mengetahui ada keselahan atau tidak.
3.6 DEFINISI OPERASIONAL Variabel Definisi
Operasional
Cara ukur Hasil ukur Skala Penderita
Glaukoma
Pasien yang memiliki tanda dan gejala glaukoma, telah dilakukan
pemeriksaan dan didiagnosa dengan glaukoma
Rekam Medis
1.Glaukoma sudut terbuka
2.Glaukoma sudut tertutup
Nominal
Tekanan Intraokular
Pengukuran yang dilakukan bertujuan untuk mengukur tekanan didalam bola mata
Rekam Medis
Menurut WHO 11-21mmHg
= Normal
>21=
Hipertensi Okular
Ordinal
Visus Mata Pengukuran untuk mengetahui kemampuan mata melihat objek dengan jelas dalam jarak tertentu
Rekam Medis
Menurut WHO 1.) 6/6 s.d 6/18:
baik
2.) <6/18 s.d 3/60 Sedang
3.) <3/60:Buruk
Ordinal
Jenis kelamin
Perbedaan antara laki laki dan perempuan secara biologis sejak lahir
Questioner Laki laki Perempuan
Nominal
Usia
Usia pada pasien glaukoma yang tercantum pada rekam medis
kuesioner 18-40 Tahun 41-60 Tahun > 60 Tahun
Ordinal
Riwayat Medis
Semua yang mencakup perawatan medis,lama sakit, konsumsi obat, jenis obat yang diberikan, dan riwayat operasi.
Kuesioner Riwayat medis didapatkan dari hasil wawancara dengan responden
Nominal
Penilaian Kualitas
Hidup Terhadap Responden
Kualitas yang dirasakan dalam kehidupan sehari hari individu ,yaitu suatu penilaian atas
kesejahteraan mereka hal ini mencakup seluruh aspek emosi dan sosial
Kuesioner Menurut skala likert
Sangat baik :4 Baik :3 Biasa aja :2 Buruk :1 Buruk sekali :0
Ordinal
Kesehatan Umum dan
daya penglihatan
Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya yang dilakukan mata yang paling sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya terang atau gelap.
Kuesioner Menurut skala likert
Sempurna :4 Sangat baik:3 Baik : 2 Biasa aja :1 Buruk : 0
Ordinal
Kesulitan aktivitas sehari hari
Kesulitan yang diakibatkan terhambatnya kegiatan sehari hari dikarenakan karna masalah penglihatan yang diderita
kuesioner Menurut skala likert
Tidak sulit sama sekali :4
Sedikit kesulitan :3
Sulit : 2 Sangat sulit :1 Berhenti melakukan kegiatan ini akibat masalah penglihatan : 0
Ordinal
Respon pada masalah penglihatan
Respon terhadap masalah
penglihatan dengan
wawancara yang dilakukan
peneliti terhadap responden
Kuesioner Tidak pernah :4 Jarang : 3
Kadang kadang:2 Sering : 1
Sangat sering :0
Ordinal
3.7 ASPEK PENGUKURAN
3.7.1 Kesehatan Umum dan daya penglihatan
Ditentukan berdasarkan jumlah pertanyaan dalam questioner yang tersedia yaitu dengan memilih sejumlah pertanyaan dengan 5 pilihan jawaban (sempurna, sangat baik, baik, biasa saja, buruk.)
1. Jika responden memilih jawaban sempurna akan mendapat skor 4.
2. Jika responden memilih jawaban sangat baik akan mendapat skor 3.
3. Jika responden memilih jawaban baik akan mendapatkan skor 2.
4. Jika responden memilih jawaban biasa saja akan mendapatkan skor 1.
5. Jika responden memilihi jawaban buruk akan mendapatkan skor 0.
Berdasarkan total nilai yang diperoleh dari 4 pertanyaan maka total nilai maksimal 16.
Berdasarkan skala Likert pengetahuan responden dikategorikan.
1. Baik, jika skor yang diperoleh responden ≥75% atau 12-16.
2. Sedang /cukup baik, jika skor yang diperoleh responden 45%-74% atau 7-11.
3. Buruk jika skor yang diperoleh responden < 45 % atau < 6 .
3.7.2. Kesulitan dengan aktivitas sehari hari
1. Jika responden memilih jawaban tidak sulit sama sekali akan mendapat skor yang diberikan 4.
2. Jika responden memilih jawaban sedikit kesulitan akan mendapat skor 3.
3. Jika responden memilih jawaban sulit akan mendapatkan skor 2.
4. Jika responden memilih jawaban sangat sulit saja akan mendapatkan skor 1.
5.Jika responden memilihi jawaban berhenti melakukan kegiatan akibat masalah penglihatan akan mendapatkan skor 0.
Berdasarkan total nilai yang diperoleh dari 10 pertanyaan maka total nilai maksimal 40.
1. Baik, jika skor yang diperoleh responden ≥75% atau >30.
2. Sedang /cukup baik , jika skor yang diperoleh responden 45%-74% atau 18-29.
3. Buruk jika skor yang diperoleh responden < 45 % atau < 16.
3.7.3. Penilaian Kualitas Hidup Terhadap Responden.
1. Jika responden memilih jawaban sangat baik akan mendapat skor 4.
2. Jika responden memilih jawaban baik akan mendapat skor 3.
3. Jika responden memilih jawaban baik saja akan mendapatkan skor 2.
4. Jika responden memilih jawaban buruk akan mendapatkan skor 1.
5. Jika responden memilihi jawaban buruk sekali akan mendapatkan skor 0.
Berdasarkan total nilai yang diperoleh dari 5 pertanyaan maka total nilai maksimal 20.
1. Baik, jika skor yang diperoleh responden ≥75% atau 15.
2. Sedang /cukup baik, jika skor yang diperoleh responden 45%-74% atau 9-14.
3. Buruk jika skor yang diperoleh responden < 45 % atau < 8.
3.7.4 Respon pada masalah penglihatan.
1. Jika responden memilih jawaban tidak pernah akan mendapat skor 4.
2. Jika responden memilih jawaban jarang akan mendapat skor 3.
3. Jika responden memilih jawaban kadang kadang saja akan mendapatkan skor 2.
4. Jika responden memilih jawaban sering akan mendapatkan skor 1.
5. Jika responden memilihi jawaban sangat sering sekali akan mendapatkan skor 0.
Berdasarkan total nilai yang diperoleh dari 8 pertanyaan maka total nilai maksimal 32.
1. Baik, jika skor yang diperoleh responden ≥75% atau >24.
2. Sedang /cukup baik, jika skor yang diperoleh responden 45%-74% atau nilainya.
14-23.
3. Buruk jika skor yang diperoleh responden < 45 % atau dibawah nilai 12 3.7.4 Total Nilai Kualitas Hidup
Berdasarkan nilai yang diperoleh dari keempat bagian kuesioner tentang kualitas hidup, maka total nilai maksimal adalah 108.
1. Baik, jika skor yang diperoleh responden ≥75% atau 81.
2. Sedang /cukup baik , jika skor yang diperoleh responden 45%-74% atau 49-80.
3.Buruk jika skor yang diperoleh responden < 45 % atau 48.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Khusus Mata Medan Baru di Poliklinik Glaukoma yang berada di Jalan Abdullah Lubis No.67, Kota Medan,Sumatera Utara.
4.2 DESKRIPSI KARAKTERISTIK RESPONDEN
Pada penelitian ini didapatkan 50 orang responden memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Karakteristik responden yang diamati meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, status tinggal, status pernikahan, penderita glaukoma terbuka atau tertutup, TIO, serta visus kanan dan kiri yang dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini:
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden.
Karaktristik N %
Jenis Kelamin
Laki-laki 26 52,0
Perempuan 24 48,0
Usia (tahun)
15-40 9 18,0
41-60 28 56,0
> 60 13 26,0
Pendidikan
PT 21 42,0
SMA 19 38,0
SMP 8 16,0
SD 1 2,0
Tidak Sekolah 1 2,0
Pekerjaan
Lainnya 1 2,0
Pegawai Swasta 2 4,0
PNS 3 6,0
Tidak Bekerja 31 62,0
Karaktristik N %
TNI/POLRI 1 2,0
Wiraswasta 12 24,0
Status Tinggal
Istri 1 2,0
Istri dan Anak 25 50,0
Suami 1 14,0
Suami dan Anak 16 32,0
Orangtua 7 14,0
Status Pernikahan
Belum Menikah 7 14,0
Menikah 43 86,0
Dari tabel 4.1 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden adalah berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 26 orang (52%). Kelompok usia responden terbanyak pada usia 41- 60 tahun, yaitu sebanyak 28 orang (56%). Karakteristik responden pada penelitian ini memiliki usia termuda 15 tahun dan usia tertua 77 tahun. Berdasarkan kategori pendidikan dapat dilihat bahwa paling banyak responden memiliki tingkat pendidikan perguruan tinggi (PT), yaitu sebanyak 21 orang (42%). Pekerjaan bahwasanya pada kategori penderita glaukoma 31 orang(62%) sudah tidak bekerja lagi, status tinggal 25 orang tinggal bersama istri dan anak, status pernikahan 43 orang (86%) sudah menikah. Penelitian sebelumnya yang dilakukan Febrina pada tahun 2011 didapatkan juga bahwasannya 28 orang (53,8%) berjenis kelamin laki laki yang terbanyak yang menderita glaukoma sedangkan penelitian yang dilakukan Edi Somarno(2017) di RSUP H.Adam Malik didapatkan wanita terbanyak yang menderita glaukoma sebanyak 30 orang(51,8%). Wanita lebih berisiko terkena glaukoma sudut tertutup, tetapi tidak ada prediksi jenis kelamin yang jelas untuk sudut terbuka.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa hormon seks wanita (estrogen) mungkin memiliki sifat protektif terhadap saraf optik yang dimana dikaitkan dengan peningkatan resiko glaukoma terbuka. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Siswoyo et.al 2019 Pekerjaan responden paling banyak adalah sebagai pensiunan yaitu 24 orang (32,9%) dan paling banyak status menikah yaitu sebanyak 57 orang (78,1 %) .Sebagian besar responden menderita glaukoma lebih dari satu tahun yaitu sebanyak 51 orang (69,9%) dan keluhan terbanyak yang paling dirasakan yaitu penglihatan kabur sebanyak 46 orang (63,0%).
4.3 DISTRIBUSI FREKUENSI PENDERITA GLAUKOMA
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Penderita Glaukoma.
N %
PACG 15 30,0
POAG 35 70,0
Total 50 100,0
Dari tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden penderita glaukoma sudut terbuka POAG sebanyak 35 orang (70%) dan sudut tertutup sebanyak 15 orang (30%).
Hal ini sejalan yag dilakukan pada penelitian sebelumnya, yang dilakukan Edi Sunarto di RSUP H Adam Malik Medan Tahun 2017 didapatkan penderita Glaukoma terbanyak adalah dengan glaukoma sudut terbuka sebanyak 41 orang (70,7%) sedangkan yang dilakukan Nugaraha di RS Muhammadiyah Palembang tahun 2011 didapatkan jenis glaukoma terbanyak adalah glaukoma sudut terbuka yaitu sebanyak 27 orang (50,9%). Distribusi Karasteristik glaukoma jenis terbuka di penelitian ini merupakan distribusi terbanyak, hal ini mungkin disebabkan oleh glaukoam sudut terbuka primer yang diturunkan secara genetik kira kira 50% pada penderita serta tingginya angka kejadian glaukoma pada penderita berusia 40 tahun.
4.4 DESKRIPSI FREKUENSI BERDASARKAN TEKANAN INTRAOKULAR
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tekanan Intraokular
Dari tabel 4.3 dapat dilihat karakteristrik penderita glaukoma berdasarkan tekanan intraokular di RS Mata Medan Baru dapat diketahui bahwa, mayoritas responden penderita glaukoma pada tekanan intraokular kanan sekitar 44 orang atau 88% berada di kisaran 10-21 mmHg (normal), sedangkan pada yang mengalami hipertensi okular > 21 sekitar 6 orang (12%).
N %
TIO kanan
1) Normal (10-21) 44 88,0
2) Hipertensi Okular (>21) 6 12,0
Total 50 100%
TIO kiri t
1) Normal (10-21) 43 86,0
2) Hipertensi Okular (>21) 7 14,0
Total 50 100%
Pada tekanan intraokular mata kiri 43 orang (86%) responden berada dikisaran 10-21 yangmana berada pada tingkat normal dan 7 orang (14%) memiliki nilai > 21 yangmana hal ini mengalami peningkatan intraokular yang tidak normal. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan Edi Sunarto di RSUP H.Adam Malik Medan berbeda dengan penelitian ini dikarenakan pada TIO kanan penderita glaukoma lebih dominan berada dikisaran > 21 yaitu sebanyak 32 orang (55,2%) dimana terjadi hipertensi okular, dan pada TIO kiri lebih dominan > 21 (57%) yang mengalami hipertensi okular. Hasil yang berbeda ini dapat disebabkan oleh variasi mata yang terlibat. Hasil ini juga bukan diambil dari mata pasien yang mengalami peningkatan saja, mata yang tidak mengalami peningkatan tekanan intraokular juga dimasukan kedalam tabel.
4.5 DISTRIBUSI FREKUENSI BERDASARKAN VISUS MATA
Tabel 4.4.Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Visus
N %
Visus Kanan
1) 6/6 s.d 6/18 24 48,0
2) <6/18 s.d 3/60 12 24,0
3) <3/60 14 28,0
Total 50 100%
Visus kiri t
1) 6/6 s.d 6/18 25 50,0
2) <6/18 s.d 3/60 7 14,0
3) <3/60 18 36,0
Total 50 100%
Pada tabel 4.4 dapat dilihat karakteristrik penderita glaukoma berdasarkan visus kanan, yang baik 6/6-6/18 merupakan yang terbanyak yaitu sebesar 24 orang 48% dan pada keadaan sedang < 6/18 s.d 3/60 sebanyak 12 orang (24,0%) dan pada keadaan yang buruk < 3/60 berjumlah 14 orang (28,0%). Pada visus kiri, visus pada keadaan baik 6/6 s.d 6/18 juga merupakan yang terbanyak 25 orang (50%), pada keadaan sedang < 6/18 s.d 3/60 sebanyak 7 orang (14,0%) dan pada keadaan buruk < 3/60 sebanyak 18 orang (36%). Pada penelitian yang dilakukan Fatrin (2019) di Rumah Sakit Cicendo Bandung didapatkan visus mata terbaik berkisar di 6/6 s.d 6/18 berjumlah 39 orang (54,2%). Pada penelitian nugroho sejalan dengan penelitian ini dimana diperoleh visus terbaik itu didapatkan 6/6 s.d 6/18 dimana berjumlah 30 orang 66,7%.
4.6 DISTRIBUSI FREKUENSI RESPONDEN BERDASARKAN RIWAYAT MEDIS
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Riwayat Medis
Riwayat Medis N %
P1
1.Minum obat 34 68,0
2)Minum obat & operasi 16 32,0
P2
1) akut(< 3 bulan) 2 4,0
2)kronik(>3 bulan) 48 96,0
Total 50 100%
P3
Obat tablet - -
Obat Tetes - -
Obat Pil & Tetes 50 100%
P4(tab)
1x1 3 6,0
2x1 23 46,0
3x1 24 48,0
Total 50 100%
P4 (obat Tetes)
1x1 3 6,0
2x1 14 28,0
3x1 19 38,0
4x1 12 24,0
6x1 2 4,0
Total 50 100%
P5 ( Riwayat Operasi)
Belum Operasi 35 70%
Sudah Operasi 15 30%
Total 50 100%
Pada tabel 4.5 berdasarkan riwayat medis bahwasannya daftar orang yang minum obat berjumlah 34 orang (68,0%) dan daftar yang minum obat dan sudah melakukan operasi itu berjumlah 16 orang (32,0%), kemudian pasien yang masih akut sekitar < 3 bulan berjumlah 2 orang dan penderita glaukoma yang sudah kronik berjumlah 48 orang (96%), kemudian pada pasien glaukoma itu diberikan obat medikamentosa berupa tab dan tetes berjumlah 50 orang (100%), dimana ada yang meminum 1x1 sebanyak 3 orang, 2x1 sebanyak 23 orang dan 3x1
sebanyak 24 orang, dan pada pemakaian obat tetes ada yang memberikan 1x1= 3 orang, 2x1=
14 orang, 3x1=19 orang, 4x1=12 orang dan 6x1:2 orang. Kemudian pada orang yang melakukan riwayat operasi ada sebanyak 35 orang 70% belum melakukan operasi sedangkan sebanyak 15 orang 30% sudah pernah melakukan operasi.
4.7 DISTRIBUSI FREKUENSI RESPONDEN DENGAN KUALITAS HIDUP
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penilaian Kualitas Hidup Terhadap Responden
No. Respon Penilaian Kualitas hidup SB B BS B BS 1 Bagaimana anda menilai kualitas hidup anda? 2 28 20 0 0 2 Bagaimana anda menilai kehidupan sosial anda? 3 32 15 0 0 3 Sebaik apa anda bekonsentrasi dalam sehari-
hari? 7 38 5 0 0
4 Apakah anda berasa tidak bertenaga sehari-hari 13 35 2 0 0 5 Seberapa sering anda dapat melakukan kegiatan
yang menghibur dan santai 19 24 6 1 0
Jumlah 44 157 48 1 0
Jumlah Skor 176 471 96 1 0
Σ Skor 744
Persentase (%) 74,4
Menurut Skala Likert jumlah skor observasi adalah jumlah dari skor masing-masing butir pernyataan yang dikalikan dengan jumlah butir soal,sehingga 4x5=20 dan dikalikan dengan jumlah responden 50 orang dan 20x50:1000 dan didapatkan persantase keseluruhan 74,4%
dimana nilai kualitas hidup penderita glaukoma tersebut termasuk dalam kategori cukup.
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kesulitan dengan Aktivitas Sehari-hari
No. Kesulitan dengan Aktivitas Sehari-hari TS SK S SS B 1 Seberapa sulit anda dalam membaca koran ? 15 25 10 0 0 2 Seberapa sulit anda dalam melakukan pekerjaan
atau hobi yang membutuhkan anda untuk
melihat secara deket seperti memasak, menjahit, memperbaiki alat-alat sekitar rumah ?
13 29 8 0 0
3 Akibat dari penglihatan anda, seberapa sulit anda menemukan benda yang ada di dalam
11 26 13 0 0