GUBERNUR SUMATERA BARAT
PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2022
TENTANG
TATA KERJA, PERSYARATAN, SERTA TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN UNSUR PENENTU KEBIJAKAN BADAN
PROMOSI PARIWISATA DAERAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GUBERNUR SUMATERA BARAT,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 45 ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, perlu menetapkan Peraturan Gubernur tentang Tata Kerja, Persyaratan, serta Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Unsur Penentu Kebijakan Badan Promosi Pariwisata Daerah;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 61 Tahun 1958 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah-daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1646);
2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4966) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 101, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3658);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010- 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5262);
6. Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 2 Tahun 2016 tentang Tata Kerja, Persyaratan, serta Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Unsur Penentu Kebijakan Badan Promosi Pariwisata Indonesia;
7. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 3 Tahun 2014 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sumatera Barat (Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2014 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2014 Nomor 94) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 14 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Rencana Induk
Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sumatera Barat (Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2019 Nomor 14, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2019 nomor 178);
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN GUBERNUR TENTANG TATA KERJA, PERSYARATAN, SERTA TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN UNSUR PENENTU KEBIJAKAN BADAN PROMOSI PARIWISATA DAERAH.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Provinsi Sumatera Barat.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat 3. Gubernur adalah Gubernur Sumatera Barat.
4. Dinas adalah Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat.
5. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat.
6. Badan Promosi Pariwisata Daerah Provinsi Sumatera Barat, yang selanjutnya disebut Badan adalah lembaga swasta yang bersifat mandiri dalam melaksanakan kegiatan promosi pariwisata Provinsi Sumatera Barat.
7. Usaha Pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata.
8. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan pengusaha.
9. APBD adalah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Provinsi Sumatera Barat.
BAB II
STRUKTUR ORGANISASI BADAN PROMOSI PARIWISATA DAERAH Bagian Kesatu
Umum
Pasal 2
(1) Badan Promosi Pariwisata Daerah dibentuk dengan Keputusan Gubernur dan berkedudukan di Padang
(2) Struktur organisasi Badan terdiri atas 2 (dua) unsur, yaitu : a. unsur penentu kebijakan; dan
b. unsur pelaksana.
Bagian Kedua
Unsur Penentu Kebijakan
Pasal 3
(1) Unsur Penentu Kebijakan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf a berjumlah 9 (sembilan) orang anggota;
terdiri atas :
a. wakil asosiasi kepariwisataan 4 (empat) orang;
b. wakil asosiasi profesi 2 (dua) orang;
c. wakil asosiasi penerbangan 1 (satu) orang; dan d. pakar/akademisi 2 (dua) orang.
(2) Struktur organisasi Unsur penentu kebijakan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b terdiri dari Ketua, Wakil Ketua dan Anggota yang dibantu oleh seorang sekretaris yang dipilih dari dan oleh anggota.
(3) Unsur penentu kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) membentuk unsur pelaksana untuk menjalankan tugas operasional Badan.
Bagian Ketiga Unsur Pelaksana
Pasal 4
(1) Unsur pelaksana sebagaim ana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b dipimpin oleh seorang direktur eksekutif dan dibantu oleh beberapa direktur sesuai dengan kebutuhan.
(2) Unsur pelaksana wajib menyusun tata kerja dan rencana kerja
(3) Masa kerja unsur pelaksana paling lama 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa kerja berikutnya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai unsur pelaksana diatur dengan Peraturan Badan.
BAB III
TUGAS DAN FUNGSI BADAN PROMOSI PARIWISATA DAERAH
Pasal 5
Badan mempunyai tugas:
a. meningkatkan citra kepariwisataan Sumatera Barat;
b. meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan penerimaan devisa;
c. meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara dan pembelanjaan;
d. menggalang pendanaan dari sumber selain APBN dan APBD; dan e. melakukan riset dalam rangka pengembangan usaha dan bisnis
pariwisata di Daerah.
Pasal 6
Dalam melaksanakan tugas Badan mempunyai fungsi sebagai :
a. koordinator promosi pariwisata yang dilakukan dunia usaha di Daerah; dan
b. mitra kerja Pemerintah Daerah dalam peningkatan pemasaran pariwisata Daerah.
Pasal 7
(1) Badan wajib memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
(2) Badan dalam melaksanakan promosi wajib berkoordinasi dengan Badan Promosi Pariwisata Indonesia.
(3) Badan wajib menyelenggarakan rapat koordinasi minimal 1 (satu) tahun sekali dengan melibatkan pemangku kepentingan.
(4) Badan wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi, sesuai dengan tugas masing-masing.
(5) Badan wajib melaporkan pelaksanaan tugas secara berkala 1 (satu) tahun sekali kepada Gubernur melalui Kepala Dinas.
BAB IV
TATA KERJA UNSUR PENENTU KEBIJAKAN
Pasal 8
(1) Ketua unsur penentu kebijakan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) bertanggung jawab memimpin dan mengkoordinasikan bawahan dan memberikan bimbingan serta petunjuk bagi pelaksana tugas bawahan.
(2) Dalam melaksanakan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ketua mempunyai fungsi :
a. pelaksanaan koordinasi promosi kepariwisataan lintas sektor;
b. penyelenggaraan koordinasi promosi kepariwisataan secara berkala dan berkesinambungan; dan
c. pelaporan pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur melalui kepala Dinas.
(3) Wakil Ketua unsur penentu kebijakan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) mempunyai tugas membantu Ketua unsur penentu kebijakan Badan dalam mengkoordinasikan promosi kepariwisataan, sesuai kebijakan yang telah ditetapkan.
(4) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wakil ketua mempunyai fungsi :
a. membantu pelaksanaan fungsi ketua dalam pelaksanaan koordinasi promosi kepariwisataan yang terintegrasi lintas sektor; dan
b. mewakili Ketua dalam hal berhalangan.
(5) Sekretaris unsur penentu kebijakan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) mempunyai tugas memimpin pelaksanaan tugas kesekretariatan Badan.
(6) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (5) Sekretaris mempunyai fungsi :
a. penyusunan bahan koordinasi promosi kepariwisataan;
b. pelaksanaan pengelolaan keuangan;
c. pelaksanaan tugas kesekretariatan;
d. penyusunan bahan laporan pelaksanaan kegiatan Badan; dan
e. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Ketua dan Wakil Ketua.
(7) Anggota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) mempunyai tugas melaksanakan hasil-hasil penyelenggaraan koordinasi promosi kepariwisataan dan riset pengembangan kepariwisataan.
(8) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (7), anggota mempunyai fungsi :
a. penyusunan bahan hasil koordinasi pengembangan promosi kepariwisataan dalam rangka penguatan kelembagaan Badan;
b. peningkatan peran Badan dalam melancarkan informasi lintas sektor; dan c. pelaksanaan tugas yang diberikan oleh Ketua, Wakil Ketua dan Sekretaris.
BAB V
PERSYARATAN UNSUR PENENTU KEBIJAKAN BADAN
Pasal 9
Persyaratan untuk menjadi anggota unsur penentu kebijakan : a. warga Negara Republik Indonesia;
b. sehat jasmani dan rohani;
c. memahami sepenuhnya asas, fungsi dan tujuan kepariwisataan Indonesia;
d. memiliki kecakapan dan pengalaman dalam ruang lingkup tugas yang diwakilinya serta mempunyai wawasan di bidang kepariwisataan;
e. dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh rasa tanggung jawab;
dan
f. menyampaikan pernyataan tentang kesanggupan menjadi anggota Badan.
BAB VI
TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN UNSUR PENENTU KEBIJAKAN BADAN
Bagian Kesatu Pengangkatan
Pasal 10
(1) Perwakilan dari asosiasi kepariwisataan yang duduk dalam
keanggotaan Unsur Penentu Kebijakan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3ayat (1) huruf a, diusulkan kepada Gubernur melalui Kepala Dinas oleh Ketua/Pimpinan masing-masing asosiasi kepariwisataan berdasarkan musyawarah anggota asosiasi kepariwisataan.
(2) Perwakilan dari asosiasi profesi yang duduk dalam keanggotaan Unsur Penentu Kebijakan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b, diusulkan kepada Gubernur melalui Kepala Dinas oleh Ketua/Pimpinan masing-masing asosiasi profesi berdasarkan musyawarah.
(3) Perwakilan dari asosiasi penerbangan yang duduk dalam keanggotaan Unsur Penentu Kebijakan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf c, diusulkan kepada Gubernur melalui Kepala Dinas oleh Ketua/Pimpinan masing-masing asosiasi Penerbangan berdasarkan musyawarah.
(4) Perwakilan dari pakar/akademisi yang duduk dalam keanggotaan Unsur Penentu Kebijakan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d, diusulkan kepada Gubernur melalui Kepala Dinas oleh Ketua/Pimpinan masing-masing pakar/akademisi berdasarkan musyawarah;
(5) Dalam hal musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) tidak tercapai mufakat, Perwakilan masing-masing Asosiasi dipilih dengan pemungutan suara.
Pasal 11
Penetapan pengusulan keanggotaan Unsur Penentu Kebijakan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.
Pasal 12
Unsur Penentu Kebijakan Badan sebanyak 9 (sembilan) orang anggota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 diusulkan oleh Kepala Dinas kepada Gubernur untuk ditetapkan dengan masa tugas paling lama 4 (empat) tahun.
Bagian Kedua Pemberhentian
Pasal 13
(1) Keanggotaan Unsur Penentu Kebijakan berhenti karena:
a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri atas permintaan sendiri secara tertulis atas persetujuan asosiasi yang diwakili;
c. tidak lagi sebagai anggota dan/atau pengurus asosiasi;
d. tidak mampu melaksanakan tugas secara berkelanjutan;
dan/atau
e. berhalangan tetap selama 6 (enam) bulan berturut-turut.
(2) Usulan pemberhentian keanggotaan unsur penentu kebijakan Badan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Gubernur melalui kepala Dinas berdasarkan surat resmi dari perwakilan asosiasi kepariwisataan, asosiasi profesi, asosiasi penerbangan atau perwakilan pakar/akademisi yang diberhentikan berdasarkan musyawarah paling lama 45 (empat puluh lima) hari.
(3) Gubernur memproses pemberhentian anggota unsur penentu kebijakan Badan paling lama 45 (empat puluh lima) hari sejak usulan pemberhentian diterima.
BAB VII PELAPORAN
Pasal 14
(1) Unsur penentu kebijakan Badan berkewajiban menyampaikan laporan tertulis kepada Gubernur m e l a l u i K e p a l a D i n a s sepanjang pelaksanaan kegiatan yang pendanaannya berasal dari APBD.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan pada akhir anggaran.
BAB VIII PEMBIAYAAN
Pasal 15
(1) Sumber pembiayaan Badan berasal dari :
a. anggaran pendapatan dan belanja daerah bersifat hibah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan; dan
b. sumber lainnya yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan
paraturan perundang-undangan.
(2) Bantuan dana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diperuntukkan untuk membiayai kegiatan yang berkaitan dengan promosi kepariwisataan, tidak diperuntukkan pembayaran gaji dan operasional Badan.
(3) Unsur penentu kebijakan Badan berkewajiban menyampaikan laporan penggunaan dana kepada Gubernur sepanjang pelaksanaan kegiatan yang pendanaannya berasal dari anggaran dan belanja daerah.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 16
Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Sumatera Barat.
Ditetapkan di P a d a n g
pada tanggal 2 4 J a n u a r i 2 0 2 2 GUBERNUR SUMATERA BARAT,
ttd.
MAHYELDI
Diundangkan di Padang
pada tanggal 2 4 J a n u a r i 2 0 2 2 SEKRETARIS DAERAH
PROVINSI SUMATERA BARAT
ttd.
HANSASTRI
BERITA DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2022 NOMOR 2