• Tidak ada hasil yang ditemukan

TARI GANDRUNG DI BANJAR SUWUNG BATAN KENDAL KELURAHAN SESETAN KOTA DENPASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TARI GANDRUNG DI BANJAR SUWUNG BATAN KENDAL KELURAHAN SESETAN KOTA DENPASAR"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

TARI GANDRUNG

DI BANJAR SUWUNG BATAN KENDAL KELURAHAN SESETAN

KOTA DENPASAR

Ni Wayan Juli Artiningsih

Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Denpasar, Indonesia

E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar adalah sebuah tari pergaulan yang memiliki nilai sakral. Tarian ini dibawakan oleh seorang penari laki-laki yang belum menginjak dewasa atau mengalami masa akil baliq (umur 10 sampai dengan 11 tahun). Mengenakan busana wanita sehingga karakter yang dibawakan benar-benar menyerupai wanita. Pemilihan penari berdasarkan restu dari Ida Sasuhunan. Tari Gandrung Batan kendal diiringi dengan gamelan tingklik atau rindik yang terbuat dari bambu dan difungsikan sebagai sarana nawur sesangi (bayar kaul) bagi masyarakat yang mengalami musibah seperti sakit maupun yang lainnya. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk memahami bentuk, fungsi, dan estetika tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan seni pertunjukan. Ada tiga pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu (1) bagaimana bentuk tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?; (2) bagaimana fungsi tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?; dan (3) bagaimana estetika tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?. Sebagai pisau analisis digunakan tiga teori yaitu teori Bentuk, teori Fungsional-Struktural, dan teori Estetika. Seluruh data penelitian ini, baik data primer maupun data sekunder diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumen. Dari hasil kajian diperoleh jawaban sebagai berikut. (1) Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal tersebut disajikan dalam bentuk tunggal dan ditarikan oleh seorang penari laki-laki yang belum menginjak dewasa atau mengalami masa akil baliq. Hal itu dapat dilihat dari komponen gerak tari, tata rias dan tata busana, tata lampu/lighting, tempat pementasan, pelaku/penari, musik iringan, dan struktur pertunjukan (2) Berdasarkan fungsinya, seni pertunjukan Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal memiliki empat fungsi yaitu berfungsi sebagai seni pertunjukan yang bersifat ritual/sakral, penolak bala, hiburan, dan solidaritas. (3) Estetika pada tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, nampak terlihat pada wujud, bobot, dan penampilannya. Estetika wujud ditunjukkan melalui keseluruhannya yang utuh yakni adanya keselarasan, keharmonisan, keutuhan, penonjolan, dan keseimbangan. Estetika bobot yaitu memegang teguh konsep Tri Hita Karana dan nilai- nilai yang terkandung yakni nilai solidaritas dan nilai keagamaan yang bersifat religius, magis, dan spritual. Estetika penampilan dapat diamati melalui bentuk pertunjukannya atau penampilan tari yang terdiri atas gerak tari, tata rias dan tata busana, penari/pelaku, tempat pementasan, musik iringan, sarana dan prasana berupa panggung.

Kata kunci : Gandrung, Bentuk, Fungsi, Estetika

(2)

ABSTRACT

Gandrung Dance in Banjar Suwung Batan Kendal, Sesetan, Denpasar is a social dance that has a sacred value. This dance is performed by a male dancer who has not reached adulthood (age 10 to 11 years). They wear female outfit so that the characters are actually performed like a woman. The selection of dancers based on the blessing of Ida Sasuhunan.

Gandrung Batan Kendal dance is accompanied by gamelan Tingklik or Rindik which is made of bamboo and functioned as a means of nawur sesangi (giving offerings that have been promised previously) for people who experienced disasters such as pain and others. The aim of this research is to understand the form, function, and aesthetics of Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal, Sesetan, Denpasar. This research uses qualitative method with performance art approach. There are three main issues studied in this research, that is to say :(1) how is the form of Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal ?; (2) how does Gandrung dance function in Banjar Suwung Batan Kendal ?; And (3) how is the aesthetics of Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal ?. In analysis three theories are used in this research namely the theory of Functional-Structural and the theory of Aesthetics. All data of this research, both primary and secondary data, are obtained through observation technique, interview, library research, and documentation study. The results of the study are as follows.

(1) Gandrung Dance in Banjar Suwung Batan Kendal is performed by solo male dancer who has not been an adult. It can be seen from the components of dance movements, makeup and costume, lighting, stage, dancers, music accompaniment, and performance structure (2) Based on its function, the performing arts Gandrung in Banjar Suwung Batan Kendal has four functions namely as a ritual / sacred performing arts, rejecting reinforcements, entertainment, and solidarity. (3) The aesthetics of Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal is seen in the form, quality, and performance. The aesthetics of form is shown through the whole of harmony, unity, conspicuousness and balance. The aesthetic of quality is to hold the concept of Tri Hita Karana and the values contained in it namely religious, solidarity and religious values which is magical and spiritual. The aesthetics of performance can be observed through the form of performances or dance performances that consists of dance movements, makeup and costume, dancers, venue, music accompaniment, facilities and the stage.

Keywords: Gandrung, Form, Function, Aesthetics

1. PENDAHULUAN

Gandrung merupakan sebuah tari pergaulan yang ditarikan oleh seorang laki-laki yang berpakaian perempuan. Secara umum, kata gandrung memiliki arti cinta atau rindu, kata ini mengandung makna erotik dalam seni pertunjukan gandrung di Bali (Bandem, 1983: 76).

Gandrung terdapat di beberapa daerah di Bali yaitu di Nusa Penida, Monang-Maning, Ketapian, dan Suwung Batan Kendal. Di antara tari Gandrung yang disebutkan diatas, salah satu yang menarik untuk dikaji adalah tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar. Gandrung Banjar Suwung Batan Kendal merupakan sebuah pertunjukan yang memiliki keunikan dan dipercayai oleh masyarakat sekitar sebagai seni pertunjukan yang memiliki nilai sakral.

(3)

Tari Gandrung Batan Kendal dipentaskan setiap 210 hari sekali di Pura Khyangan Tiga Banjar Suwung Batan Kendal. Keunikan tari Gandrung Batan Kendal dibawakan oleh satu orang penari laki–laki yang belum menginjak dewasa atau mengalami masa akil baliq (umur 10 sampai dengan 11 tahun). Mengenakan busana wanita sehingga karakter yang dibawakan benar-benar menyerupai wanita. Pemilihan penari berdasarkan restu dari Ida Sesuhunan, semacam seleksi alam. Penari yang ditunjuk untuk menarikan Gandrung, tidak bisa menolak. Penari yang telah ditunjuk melalui proses sekala dan niskala tersebut harus disucikan dahulu melalui upacara madengen-dengen, mawinten, dan mejaya-jaya. Keunikan lainnya yang juga cukup menonjol sebagai identitas dari tari Gandrung Batan Kendal yaitu penari tidak mencari pengibing melainkan pengibing yang datang sendiri dan ikut serta menari. Karena dari dulu sampai sekarang penari Gandrung tidak diizinkan keluar dari kalangan (arena pementasan ) untuk mencari pasangan (pengibing).

Uraian di atas menunjukkan bahwa Gandrung Batan Kendal memiliki keunikan dan menarik untuk diteliti, karena berdasarkan penelusuran di lapangan dari sekian banyak penelitian dan laporan hasil penelitian yang dapat dibaca dan diamati, belum banyak ditemui penelitian mengenai tari Gandrung yang ada di Banjar Suwung Batan Kendal. Oleh karena itu penelitian ini dipandang perlu untuk dilakukan agar dapat dijadikan referensi dan dokumentasi tari Gandrung di Banjar Batan Kendal.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian yang berlokasi di Banjar Suwung Batan Kendal, Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan data sekunder yang diperoleh dari hasil-hasil penelitian sejenis yang telah dihasilkan para peneliti sebelumnya.

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumen. Seluruh data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan teori Bentuk, teori Fungsional-Struktural, dan teori Estetika. Pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu (1) Bagaimana bentuk tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?, (2) Bagaimana fungsi tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?; dan (3) Bagaimana Estetika tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?.

(4)

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Bentuk Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Terkait dengan teori bentuk tersebut, maka bentuk dari tari Gandrung Batan Kendal ini dibagi ke dalam beberapa sub yang terdiri atas tempat pementasan, pelaku/penari, gerak tari, properti, tata rias, tata busana, tata lampu atau lighting, musik iringan, dan struktur pertunjukan. Apabila salah satu dari bagian struktur tersebut tidak ada, maka tari Gandrung Batan Kendal tidak akan terwujud sebagai tarian sakral yang memiliki kesatuan utuh. Berikut di bawah ini penjelasan beberapa sub mengenai elemen-elemen yang membentuk tari Gandrung Batan Kendal.

Tempat Pertunjukan Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Tari Gandrung Batan Kendal dipentaskan terkait dengan upacara piodalan di Pura Kahyangan Tiga Batan Kendal. Pura Kahyangan Tiga tersebut bersebelahan dengan Pura Dalem dan Pura Taman Suwung Batan Kendal. Tari Gandrung Batan Kendal dipentaskan di jeroan (halaman pura paling dalam, area paling suci) di dalam sebuah kalangan/panggung, kalangan yang digunakan termasuk jenis kalangan marepat karena ukuran panjang dan lebarnya tidak jauh berbeda/ relatife sama, dengan ukuran 8x6 meter dan kurang lebih setengah meter dari tempat duduk penonton.

Penari Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Tari Gandrung Batan Kendal ditarikan oleh seorang penari laki-laki yang belum menginjak dewasa atau mengalami masa akil baliq, yaitu anak laki-laki yang berumur 10 tahun sampai dengan 11 tahun. Proses pemilihan penari diawali dengan memilih 5 (lima) orang calon penari laki-laki yang belum mengalami masa akil baliq. Kelima calon penari Gandrung tersebut selanjutnya dilatih gerak tari Gandrung menggunakan musik iringannya.

Faktor perbedaan kualitas dan postur tubuh penari disebabkan karena pemilihan penari didasarkan restu dari Ida Sesuunan, semacam seleksi alam. Jadi kelima calon penari Gandrung tersebut, akan dipilih seorang sesuai dari Mandat Ida Seuunan. Penari yang ditunjuk untuk menarikan Gandrung, penari tersebut tidak bisa menolak. Penari Gandrung yang telah ditunjuk melalui proses sekala dan niskala tersebut harus melewati proses ritual diantaranya melukat, madengen-dengen, mawinten, dan mejaya-jaya. Semua proses tersebut bertujuan untuk pembersihan dan penyucian diri penari karena akan mementaskan sesuunan Gandrung yang disakralkan.

(5)

Gerak Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Gerak tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal sangat sederhana dan tarian ini tidak memakai lakon. Tari Gandrung di Banjar Batan Kendal yang berlangsung kurang lebih selama 8 menit digunakan gerak-gerak yaitu sebagai berikut.

Gerakan kepala beserta bagiannya :

- Ngelier : bagian sebelah mata di kecilkan serta di teruskan “kipekan” halus yang berlawanan dengan mata yang di kecilkan dan di kembalikan ke arah semula dengan sedikit mendelik dan di akhiri dengan sledet ke arah kipekan tadi (Bandem, 1983: 65).

- Ngotag : gerakan kepala ke kanan dan ke kiri dengan patah- patah.

- Sledet : gerakan mata ke arah samping kanan dan kiri yang di sertai dengan gerakan dagu serta muka (Arini, 2012: 62).

Gerakan tangan beserta bagiannya :

- Nyalud : menggerakan tangan kanan dan kiri kebawah kemudian melipat keatas.

- Ngepel : pegangan kipas yang arahnya kesamping luar (Rai, 1978/1979: 11).

- Ngeliput kipas : pegangan kipas di ujung jari tangan (nyungsung) dengan gerakannya yang bernama utul-utul, yaitu pergelangan tangan di putar (Rai 1978/1979: 11).

- Ngekes : gerakan menggenggam kipas mengarah ke dalam yang di tekan ke dada.

- Nyakup bawa : posisi ibu jari tangan kanan bertemu dengan ibu jari telapak tangan kiri, sedangkan ke empat jari tangan kanan lainnya di tekuk. Namun pada tari ini di lakukan dengan tangan kanan memegang kipas dan di letakkan pada telapak tangan kiri.

- Ulap-ulap : gerakan lengan agak menyiku dengan variasi gerak. Sementara itu kepala menoleh ke kiri atau ke kanan, seakan-akan memperhatikan sesuatu.

(6)

Gerakan badan beserta bagiannya :

- Ngegol :gerakan menggoyangkan pinggul ke kiri dan kanan, disertai sikap badan agak merendah (Bandem, 1983: 58).

- Ngeseh : gerakan bahu yang diputar/digetarkan dengan cepat.

- Nyeleog : gerakan tangan dan badan secara bersamaan diolah seolah-olah mengikuti gerakan tangan yang ngelog atau menggeliuk ke kanan maupun ke kiri.

- Agem : sikap pokok dalam tari Bali yang tidak berubah- ubah (Bandem, 1983: 5).

Gerakan kaki beserta bagiannya :

- Gandang-gandang : gerakan berjalan depan lambat-lambat, kaki kiri dan kanan maju bergantian.

tangan kanan memegang kipas/kepet, tangan kiri memegang selendang (wastra).

- Ngumbang : gerakan berjalan yang di lakukan dengan badan sedikit merendah (ngeed), levelnya tidak berubah dan di sertai dengan gerakan kepala ke kiri dan ke kanan sesuai dengan hentakan kaki (Bandem. 1983: 109).

- Nyilat : gerakan tumit di putar ke dalam (kanan- kiri). Gerakan ini misalnya terjadi pada pergantian posisi ngagem (Rai, 1978/1979:

16).

- Mekecos : gerakan melompat ke samping kanan dan

kiri, dapat pula serong depan dan belakang kanan atau kiri.

Properti Tari Gandrung Batan Kendal

Properti tari adalah salah satu unsur yang hampir selalu ada di setiap jenis dan ragam tarian. Properti tari merupakan semua alat yang digunakan sebagai media atau perlengkapan dari pementasan suatu tarian. Pada dasarnya, penggunaan properti tari ditujukan untuk memberikan kesan keindahan sekaligus sebagai media untuk menyampaikan makna yang

(7)

terkandung dari suatu tarian. Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal menggunakan properti berupa kipas/kepet.

Tata Rias dan Busana Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Tata rias merupakan salah satu faktor penting dalam sebuah tarian, tata rias juga dapat mempertegas garis muka dan dapat memberikan perubahan-perubahan,sehingga mewujudkan gambaran peran yang akan dibawakan dalam suatu pertunjukan. Tata rias pada tarian ini menggunakan tata rias pentas/panggung. Selain tata rias, tata busana juga merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penampilan, serta busana merupakan faktor pendukung yang penting dalam tari Bali. Tata busana akan memberikan kesan yang indah serta busana atau pakaian dapat menunjukkan kepada penonton tentang tokoh/lakon yang dibawakan. Adapun tata busana yang digunakan pada tari Gandrung Batan Kendal yaitu, gelungan, baju prada lengan panjang berwarna merah, kamen prada berwarna merah, sabuk atau angkin prada, ampok-ampok, lamak, tutup dada, badong, dan gelang kana atas dan bawah.

Tata Lampu atau Lighting Tari Gandrung Batan Kendal

Tata lampu merupakan salah satu unsur penting untuk menciptakan suasana yang diinginkan. Pementasan tari Gandrung Batan Kendal dilakukan pada malam hari, tentunya memerlukan tata cahaya untuk keperluan pementasan. Tata cahaya berfungsi untuk memberikan penerangan saat malam hari, dan mendukung suasana pementasan. Pada pementasan Gandrung Batan Kendal yang berlangsung kurang lebih 8 menit, dari bagian pertama hingga bagian akhir tarian digunakan lampu general.

Musik Iringan Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Seni musik tidak lepas dari seni pertunjukan, khususnya seni tari yang memiliki keterkaitan satu sama lain. hal ini dikarenakan musik berfungsi sebagai iringan yang mengikuti irama gerak tari, sebagai pembentuk suasana, sebagai ilustrasi yang memberikan tekanan-tekanan serta menguatkan gerak-gerak tertentu. Musik pengiring pada tarian ini menggunakan gamelan tingklik atau rindik yang bilahnya dibuat dari tiing petung (jenis bambu berukuran besar) dengan palawakya dari bahan kayu pohon sukun yang dihiasi dengan ukiran warna-warni. Pemanfaatan unsur logam hanya pada instrument ceng-ceng yang terbuat dari kerawang. Tari Gandrung menggunakan gending yang disebut dengan gending Gegandrangan.

(8)

Struktur Pertunjukan Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Struktur pertunjukan tari Gandrung Batan Kendal diawali dengan tabuh pembuka yakni tabuh Gegagulan dan tabuh angklung, yang merupakan tabuh Tetegek sebelum tari Gandrung dipentaskan. Tabuh ini untuk menandakan bahwa pertunjukan akan segera dimulai, serta mengundang para penonton untuk memasuki tempat pementasan. Setelah tabuh pembuka selesai, dilanjutkan dengan tarian. Struktur pertunjukan tari Gandrung Batan Kendal di bagi menjadi tiga bagian yaitu, bagian pertama (pangelembar), dan dilanjutkan dengan bagian kedua (ibing-ibingan), terakhir yaitu bagian ketiga (pakaad).

3.2 Fungsi Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Gandrung Batan Kendal merupakan tarian yang multifungsi, dipercaya sebagai sarana nawur sesangi bagi masyarakat yang mengalami musibah seperti sakit maupun yang lainnya.

Disamping bersifat sakral, Gandrung juga tetap berperan sebagai penghibur masyarakat yang dapat dilihat dari pementasannya. Selain itu tari Gandrung juga memiliki fungsi yaitu sebagai penolak bala dan pemupuk solidaritas yang dapat mempererat hubungan antara penari, anggota sekaa Gandrung, dan warga Banjar Batan Kendal. Jadi dengan adanya sekaa Gandrung ini menjadi salah satu wadah dan media bagi masyarakat Batan Kendal untuk saling mengenal, mengakrabkan diri, menunjukan kemampuan, serta mempererat pertemanan dan persaudaraan satu sama lain.

3.3 Estetika Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Estetika dalam tari Gandrung Batan Kendal dapat dilihat dari tiga aspek di atas yakni:

wujud, bobot, dan penampilan. Keindahan wujud, bobot, dan penampilan dapat dijelaskan sebagai berikut.

Wujud Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Estetika wujud karya dapat ditunjukkan melalui keseluruhannya yang utuh yakni adanya keselarasan, keharmonisan, keutuhan, penonjolan, dan keseimbangan (Djelantik, 1990: 32). Estetika wujud tari Gandrung Batan Kendal dapat dilihat dari kesatuan yang utuh antara gerak, iringan tari, busana tari dan unsur-unsur penting lainnya. Berikut diuraikan estetika wujud tari Gandrung Batan Kendal berdasarkan keselarasan dan keharmonisan, keutuhan, penonjolan, dan keseimbangan.

(9)

Keselarasan dan Keharmonisan

Keselarasan dan keharmonisan timbul karena adanya kesamaan, kesesuaian, dan tidak adanya pertentangan. Unsur-unsur estetika yang ada pada elemen-elemen karya dipadu secara berdampingan maka akan timbul kombinasi tertentu dan timbul keserasian. Wujud tari Gandrung Batan Kendal dapat di lihat dari keselarasan dan keharmonisan tarian yang dibentuk dari ketiga rangkaian yang tersusun yaitu pangelembar, ibing-ibingan, dan bagian akhir (pakaad) pada tari Gandrung Batan Kendal merupakan sebuah keharmonisan dan keselarasan. Bagian-bagian ini tidak ada yang saling bertentangan, semua bagian harmonis dan selaras, yakni antara gerak tari, musik iringan dan busananya.

Keutuhan/Unity

Keutuhan (unity) pada tari Gandrung Batan Kendal terdapat pada penyajian dan unsur-unsur seperti gerak tari, musik iringan, busana, dan struktur pertunjukannya. Hal itu tercermin dari adanya hubungan bagian yang satu dengan lainnya yang saling mengisi, baik dari gerak-gerak yang digunakan yakni gerak bertempo cepat-pelan, gerak berlevel bawah- tengah-atas. Unsur-unsur yang berbeda tersebut dirangkai menjadi satu dan membentuk sebuah pertunjukan yang utuh dan dapat dilihat melalui struktur pertunjukannya yang berdurasi kurang lebih 8 menit. Dengan pangelembar yang lebih singkat dari ibing-ibingan, menjadikan tarian ini memiliki porsi yang sesuai antara bagian satu dengan lainnya dan disajikan secara utuh. Keutuhan gerak-gerak tersebut juga bergantung pada elemen lain yaitu musik iringannya. Jadi unsur-unsur gerak di atas disesuaikan dengan tempo musik iringannya.

Penonjolan/Dominance

Penonjolan (dominance) pada tari Gandrung Batan Kendal lebih menonjolkan pada kesederhanaan gerak dan etika sebagai sebuah tari pergaulan yang berfungsi sebagai tari sakral. Berbeda dengan tari pergaulan pada umumnya yang menggunakan gerakan erotis, tarian ini bergerak dengan sederhana. Gerakan yang menjadi penonjolan dalam tarian ini terlihat pada bagian pengibingan. Dimana gerak-gerak tersebut menjadi perhatian penonton, sehingga pada bagian ini lebih mengundang tawa penonton atau penikmat seni. Adapun gerak-gerak tersebut seperti, mekecos, ngotag, nyilat, ngeliput kipas, dan ngegol.

Keseimbangan/Balance

Keseimbangan (balance) pada tari Gandrung Batan Kendal ini terlihat dari gerak- gerak tari Gandrung Batan Kendal yang dapat dilihat dari struktur geraknya seperti terdapat

(10)

bagian kanan dan kiri, pola lantai yang digunakan pada saat bagian ibing-ibingan secara tidak langsung membentuk simetris seperti berjajar menghapap ke depan dan belakang, serta asimetris yang saling berhadapan dan membelakangi.

Bobot pada Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Bobot dalam sebuah karya seni sama dengan isi dari apa yang hendak disajikan kepada pengamat atau penonton. Bobot mempunyai tiga aspek, yaitu suasana (mood), gagasan (idea), dan pesan (message) (Djelantik, 1990: 46). Ada beberapa konsep yang menjadi landasan penting dari tari Gandrung Batan Kendal yaitu selalu memegang teguh konsep Tri Hita Karana jika dilihat dari konsep harmoni yang menjadi filsafat orang Hindu di Bali yaitu Tri Hita Karana yakni menyangkut hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan.

Penampilan Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal

Penampilan sebuah karya seni merupakan hasil akhir sebuah proses penciptaan dan perwujudan. Wujud tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal dapat diamati melalui bentuk pertunjukannya atau penampilan tari yang terdiri atas gerak tari, tata rias dan tata busana, penari/pelaku, musik iringan, panggung atau tempat pementasan.

Gambar 1. Tari Gandrung Batan Kendal Pada Bagian Ibing-ibingan (Dok. Juli Artiningsih, 2017)

4. SIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut.

1. Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar merupakan sebuah tari pergaulan yang memiliki nilai sakral. Tarian ini tergolong ke dalam bentuk tarian tunggal yang ditarikan oleh seorang penari laki-laki. Elemen- elemen yang membentuk yaitu tempat pementasan, penari, gerak tari, properti, tata rias, tata busana, tata lampu/lighting, musik iringan, dan struktur pertunjukan.

(11)

2. Tari Gandrung Batan Kendal adalah tarian yang multifungsi yaitu berfungsi sebagai ritual, penolak bala, hiburan, dan solidaritas.

3. Estetika Tari Gandrung Batan Kendal terlihat pada wujud, bobot, dan penampilannya.

Wujud tari Gandrung Batan Kendal dapat ditunjukkan melalui keseluruhannya yang utuh yakni adanya keselarasan, keharmonisan, keutuhan, penonjolan, dan keseimbangan. Bobot tari Gandrung Batan Kendal memegang teguh konsep Tri Hita Karana yakni menyangkut hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan. Penampilan tari Gandrung Batan Kendal dapat diamati melalui penampilan tarian tersebut yang terdiri atas gerak tari, tata rias dan tata busana, penari/pelaku, musik iringan, panggung atau tempat pementasan.

DAFTAR SUMBER

Arini, Ni Ketut. TeknikTari Bali. Denpasar :YayasanTari Bali Warini, 2012.

Bandem, I Made. Ensiklopedi Tari Bali. Denpasar: ASTI Denpasar, 1983.

Bandem, I Made. Evolusi Tari Bali. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Chulsum, Umi dkk. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya : Kashiko, 2006.

Dibia, I Wayan. Gambelan Gandrung di Tegenungan Desa Kemenuh Sebuah Laporan Penelitian. Denpasar, ASTI,1984.

Djelantik, A.A.M. Pengantar Dasar Ilmu Estetika. Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar, 1990.

Djelantik, A.A.M. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung:

Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia bekerjasama dengan Arti,2004 (1999).

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:Remaja Rosdakarya, 1991.

Piaget , Jean. Strukturalisme. Terj. Hermoyo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995.

Yaningsih Sri dkk. Tari Gandrung Lombok. Jakarta: Proyek

Pengembangan Media Kebudayaan Jakarta. Direktorat Jendral Kebudayaan. Departemen Pendidikan Dan Budaya, 1993/1994.

Yudabakti, I Made, dan I Wayan Watra. Filsafat Seni Sakral Dalam Kebudayaan Bali.Surabaya: Penerbit Paramita, 2007.

Gambar

Gambar 1. Tari Gandrung Batan Kendal Pada Bagian Ibing-ibingan  (Dok. Juli Artiningsih, 2017)

Referensi

Dokumen terkait