Toleransi Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.) Terhadap Cekaman Salinitas Garam NaCl
Eti Dwi Asih1, Mukarlina1, Irwan Lovadi1
1Program Studi Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura, Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak, email korespondensi: [email protected]
Abstract
High levels of salt in the soil may cause the disruption of plant growth, especially the crops. Mustard greens (Brassica juncea L.) as the main vegetable commodity in West Kalimantan, is grown on soil with normally salinity level. The purpose of this research was to determine the growth response of mustard greens (B. juncea) against the exposure to the NaCl. The research was carried out from August to Oktober 2014. Research was carried out using the Completely Randomized Design (CRD), consisting of six treatment concentrations of NaCl i.e., 0 ppm, 2,000 ppm; 4,000 ppm; 6,000 ppm; 8,000 ppm; 10,000 ppm respectively. The results showed real effects of the treatment on the leaf area, length of the root, wet and dry weight, but had no real effect on the parameter of the number of chlorophyll. The whole treatment began to to affect the growth of mustard greens on the concentration of 4,000 ppm of NaCl. The range of tolerance of mustard green toward NaCl salt concentration was between 2,000 ppm – 10,000 ppm of NaCl.
Kata kunci : salinity stress, NaCl salt, Brassica juncea L., glucosinolate
PENDAHULUAN
Kadar garam yang tinggi pada tanah menyebabkan terganggunya pertumbuhan. NaCl adalah salah satu garam terlarut dalam tanah yang merupakan unsur esensial untuk pertumbuhan tanaman, tetapi adanya kelebihan larutan garam dalam tanah dapat mempengaruhi pola pertumbuhan pada tanaman (Strogonov, 1964 dalam Bintoro, 1981). Respon tumbuhan terhadap peningkatan konsentrasi NaCl berbeda-beda tergantung jenis tanaman.
Konsentrasi NaCl yang tinggi dapat meningkatkan atau menurunkan tingkat pertumbuhan pada tanaman.
Perlakuan 10.000 ppm NaCl menekan potensi tumbuhan dalam membentuk akar yang ditunjukkan dengan jumlah akar yang lebih rendah pada tanaman kapas (Gossypium hirsutum) (Sulistyowati et al., 2010), menghambat pertumbuhan Zea mays dan Cyperus rotundus pada konsentrasi NaCl 1.000 ppm (Pranasari et al., 2012), meningkatan hasil dan mutu buah tomat (Solanum Iycopersicum) pada pemberian NaCl 2500 ppm (Rahmawati et al., 2011), dan meningkatkan kadar andrograpolida sambiloto (Andrographis paniculata) pada konsentrasi 1.000 ppm NaCl (Syakir et al., 2008).
Sawi hijau (Brassica juncea L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang menjadi komoditas utama di Kalimantan Barat. Luas daerah areal penanaman sawi hijau tahun 2012 adalah 69 Ha dengan produksi total 1.112 ton dengan rata-
rata 161 Kw/Ha (BPS, 2013). Penanaman sawi hijau selama ini dilakukan pada media tanah yang kadar salinitasnya normal. Namun, penanaman pada media yang sama nantinya tidak dapat terus diterapkan karena semakin lama tanah juga akan mengalami peningkatan salinitas. Famili Brassicaceae secara umum memiliki senyawa metabolit sekunder glukosinolates yang dipengaruhi oleh adanya cekaman perubahan lingkungan (Martinez-Ballesta et al., 2013).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan tanaman sawi hijau (B.
juncea) terhadap perlakuan NaCl dan konsentrasi NaCl yang masih memungkinkan tanaman sawi hijau (B. juncea) dapat tumbuh dengan baik.
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2014 sampai bulan Oktober 2014. Penanaman dan pemeliharaan tanaman dilakukan di rumah kasa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura Pontianak. Uji analisis kandungan tanah dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak.
Bahan Penelitian
Pupuk dasar (urea, SP36, KCl), pupuk organik merk Kascing, biji sawi (B. juncea), garam NaCl,
dan tanah gambut dari lahan perkebunan tanaman sawi .
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 6 perlakuan konsentrasi NaCl yaitu 0 ppm (S1), 2.000 ppm (S2), 4,000 ppm (S3), 6.000 ppm (S4), 8.000 ppm (S5), 10.000 ppm (S6). Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 unit percobaan.
Analisis Data
Variabel pertumbuhan yang meliputi berat basah, berat kering, luas daun, dan kandungan klorofil daun tanaman dianalisis dengan ANAVA (Analisis Varians) dengan data yang telah ditransformasikan dalam bentuk log. Jika hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang berpengaruh nyata akan dilanjutkan dengan uji Tukey taraf 5%. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 21.
Variabel pertumbuhan untuk panjang akar dianalisis dengan analisis nonparametrik Kruskal- Wallis, jika hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang berpengaruh nyata akan dilanjutkan dengan uji Nemenyi taraf 5%. Analisis dilakukan dengan minitab 14 dan excel.
Cara Kerja
Persiapan Media Semai dan Media Tanam
Media untuk penyemaian biji sawi adalah campuran tanah gambut dengan pupuk organik Kascing dengan perbandingan 3:1. Media tanam yang digunakan berupa tanah gambut dengan penambahan pupuk dasar. Media tanam disiapkan sebanyak 1,5 kg per polibag. Penambahan pupuk dasar diberikan sebanyak 1,5 gr urea, 1,125 gr SP36, dan 0,375 gr KCl per polibag (Busri et al., 2013).
Penyemaian Biji Sawi
Biji sawi disemai dengan ditaburkan di atas media, selanjutnya media penyemaian disiram dengan air.
Perlakuan penyiraman sebanyak 2 kali setiap hari pada pagi dan sore hari tergantung kebutuhan dan kondisi media semai. Hasil semaian yang berumur 10 hari dengan ciri tanaman telah memiliki 3-4 helai daun, siap untuk dipindahkan pada media tanam (Rukmana, 2002).
Penanaman dan Pemeliharaan
Sebelum melakukan penanaman, media tanam terlebih dahulu disterilisasi menggunakan autoklaf.
Setelah dicampur dengan pupuk dasar media tanam didiamkan selama 2x24 jam. Pemeliharaan meliputi penyiraman dan penyiangan gulma secara manual.
Pemberian NaCl
Volume larutan NaCl yang diberikan yaitu sebanyak 100 ml/hari/tanaman untuk semua perlakuan (Pranasari et al., 2012). Penyiraman larutan NaCl diberikan pada bagian tanah media, setelah terlebih dahulu diberikan penyiraman air.
Pemberian larutan NaCl dilakukan 1 kali sehari yaitu pada saat pagi hari, dimulai dari 1 MST (Minggu Setelah Tanam) sampai dengan satu hari sebelum penelitian berakhir dan tanaman sawi dipanen. Pemeliharaan dilakukan selama 25 hari.
Analisis Media Tanah
Sebelum dan sesudah digunakan, kandungan tanah dianalisis di laboratorium Analisis Kimia Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura, Pontianak. Kandungan kimia yang dianalisis meliputi pH dan nilai salinitas.
Parameter Pengamatan
Parameter pengamatan adalah parameter pertumbuhan dan parameter lingkungan. Adapun parameter pertumbuhan yang diamati adalah luas daun (cm), panjang akar (cm), berat basah (mg), berat kering (mg), dan kandungan klorofil daun (spad/unit). Parameter media tanah yang diamati meliputi pH dan salinitas.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Perlakuan garam NaCl pada tingkat konsentrasi yang berbeda berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan sawi hijau (B. juncea) pada parameter luas daun (F2,77 = 8,423, p = 0,0001 ; Anava), panjang akar ( 𝜒2 = 11,187, p = 0,0001 ; Uji Kruskal-Wallis), berat basah (F2,77 = 4,471, p = 0,008 ; Anava), dan berat kering (F2,77 = 15,111, p
= 0,0001 ; Anava), namun tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah klorofil daun (F2,77 = 2,309, p = 0,087 ; Anava).
14,8a
13,175a
8,22b 9,6ab 9,7ab 8,62b
0 5 10 15 20
0 2000 4000 6000 8000 10000
Panjang akar (cm)
Konsentrasi larutan NaCl (ppm)
Hasil uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa rerata luas daun pada pemberian perlakuan konsentrasi 2.000 ppm tidak berbeda nyata dengan kontrol, sedangkan konsentrasi 4.000 ppm, 6.000 ppm, 8.000 ppm, dan 10.000 ppm berbeda nyata dengan kontrol (Gambar 1).
Gambar 1. Rerata luas daun tanaman sawi hijau (B.
juncea) pada setiap konsentrasi perlakuan salinitas
Rerata nilai panjang akar berdasarkan uji lanjut Nemenyi, pada pemberian perlakuan konsentrasi 2.000 ppm, 6.000 ppm, dan 8.000 ppm, tidak beda nyata dengan panjang akar kontrol. Konsentrasi 4.000 ppm, dan 10.000 ppm beda nyata dengan panjang akar kontrol (Gambar 2).
Gambar 2. Rerata panjang akar tanaman sawi hijau (B.
juncea) pada setiap konsentrasi perlakuan salinitas
Berat basah berdasarkan hasil rarata uji lanjut Tukey menunjukkan tidak berbeda nyata antar perlakuan Hasil uji lanjut Tukey menunjukkan.
Kontrol tidak berbeda nyata dengan konsentrasi 2.000 ppm, 6.000 ppm, dan 8.000 ppm, tetapi berbeda nyata dengan konsentrasi 4.000 ppm dan konsentrasi 10.000 ppm (Gambar 3).
Gambar 3. Rerata berat basah tanaman sawi hijau (B.
juncea) pada setiap konsentrasi perlakuan salinitas
Hasil uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa rerata berat kering pada pemberian konsentrasi 2.000 ppm dan 6.000 ppm tidak berbeda nyata dengan berat kering kontrol. Konsentrasi 4.000 ppm, 8.000 ppm, dan 10.000 ppm berbeda nyata dengan berat kering kontrol (Gambar 4).
Gambar 4 Rerata berat kering tanaman sawi hijau (B.
juncea) pada setiap konsentrasi perlakuan salinitas
Tabel 1. Nilai Salinitas tanah sebelum dan sesudah perlakuan
No Perlakuan (ppm)
Salinitas Tanah (ppm) Sebelum
Perlakuan
Sesudah Perlakuan
1 0 575 431
2 2.000 575 617
3 4.000 575 678
4 6.000 575 888
5 8.000 575 1090
6 10.000 575 1430
Sumber : Hasil analisis sampel tanah Fakultas Pertanian Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah (2014)
1,52a 1,27ab
0,97b 1,18b
1,10b 1,01b
0,0 0,5 1,0 1,5 2,0
0 2000 4000 6000 8000 10000 Luas daun(cm2)
Konsentrasi larutan NaCl (ppm)
4,19a 3,85ab
3,47b 3,64ab 3,76ab 3,43b
0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0
0 2000 4000 6000 8000 10000
Berat basah(mg)
Konsentrasi larutan NaCl (ppm)
3,07a 2,80a
2,41b 2,54ab 2,37b 2,31b
0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5
0 2000 4000 6000 8000 10000
Berat kering (mg)
Konsentrasi larutan NaCl (ppm)
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi perlakuan pemberian garam NaCl 2.000 ppm, belum menunjukkan adanya pengaruh nyata pada semua nilai parameter pertumbuhan (Gambar 1 - 4). Keadaan ini diduga karena tanaman sawi belum merespon konsentrasi tersebut sebagai keadaan tercekam. Nilai parameter pertumbuhan menunjukkan hasil berbeda nyata dengan kontrol pada perlakuan konsentrasi garam NaCl mulai 4.000 ppm (Gambar 1 - 4). Kondisi ini diduga karena pada perlakuan garam NaCl 4.000 ppm tanaman sawi hijau mulai mengalami keadaan tercekam sehingga mengurangi pertumbuhannya.
Menurut Lopez-Perez et al. (2009), cekaman salinitas akan mengubah metabolisme yang lebih diutamakan untuk mengatasi keadaan cekaman yang menyebabkan pertumbuhan mengalami penurunan.
Peningkatan konsentrasi garam terlarut dalam tanah akan meningkatkan tekanan osmotik, menurunkan kemampuan tanaman untuk menyerap air, dan mengurangi kemampuan fotosintesis, sehingga akan berpengaruh terhadap proses metabolisme (Follet et al., 1981). Selain itu kandungan NaCl yang tinggi akan menyebabkan ketidakseimbangan ion pada penyerapan unsur hara dan penggunaan kation-kation lain (Brady dan Ray, 2008). Adanya kelebihan unsur hara Na+ dan Cl- dapat menurunkan ion lain salah satunya ion K+. Menurut Gardner et al. (1991), adanya kelebihan ion-ion tertentu bersifat antagonis terhadap penyerapan ion-ion lain. Kelebihan ion Na+ pada tanaman budidaya dapat menurunkan kandungan ion K+. Ion K+ diketahui berfungsi membantu memelihara potensial osmotik dan pengambilan air, serta berperan penting dalam fotosintesis.
Pemberian perlakuan garam NaCl pada konsentrasi 6.000 ppm dan 8.000 ppm menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dengan kontrol (Gambar 2 - 4).
Perlakuan pada keadaan cekaman yang telah meningkat namun tidak memberikan respon yang berbeda nyata terhadap kontrol diduga karena tanaman sawi hijau telah mensintesis senyawa metabolit sekunder untuk menurunkan tekanan osmotik. Menurut Lopez-Bereguer et al. (2003), famili Brassicaceae akan mensintesis senyawa glukosinolat untuk mengatasi adanya cekaman tekanan osmotik. Senyawa metabolit sekunder
glukosinolat meningkat dalam keadaan cekaman salinitas, dan akan disintesis oleh tanaman ketika tanaman berada dalam cekaman lingkungan sampai batas toleransi tertentu (Martinez-Ballesta et al., 2013).
Konsentrasi 10.000 ppm (Gambar 1 - 4) seluruh parameter pertumbuhan menunjukkan hasil yang berbeda nyata dengan kontrol. Hal ini diduga karena konsentrasi garam yang sudah sangat tinggi menyebabkan senyawa glukosinolat sudah tidak dapat bekerja untuk menurunkan tekanan osmotik dalam sel tumbuhan. Konsentrasi garam NaCl yang berada di atas ambang batas toleransi menyebabkan jumlah senyawa glukosinolat diduga berkurang.
Penurunan kandungan senyawa glukosinolat mengalami penurunan pada tanaman brokoli (Brassica oleracea) setelah diberi perlakuan garam NaCl 90 mM (5.265 ppm) (Zaghdoud et al., 2012).
Pertumbuhan luas daun tanaman sawi hijau telah dipengaruhi pada konsentrasi perlakuan garam 4.000 ppm – 10.000 ppm (Gambar 1). Keadaan ini disebabkan oleh adanya kandungan garam berlebih yang menghambat dalam proses pembelahan sel.
Menurut Fitter dan Hay (1994), salah satu pengaruh negatif garam pada tanaman dapat berupa berkurangnya kemampuan tanaman dalam menyerap air sehingga berpengaruh terhadap proses pembelahan sel dan mempengaruhi fungsi hormon. Cekaman garam yang berlebih dapat menurunkan fungsi hormon auksin (Pessarakli, 1993). Auksin berperan dalam memacu pembelahan dan pembesaran sel (Gardner et al., 1991).
Tanaman sawi hijau juga terpengaruh oleh cekaman salinitas garam NaCl pada pertumbuhan panjang akar (Gambar 2). Adanya cekaman salinitas yang tinggi diduga menyebabkan berkurangnya pembelahan sel-sel pada akar.
Potensial osmotik media tumbuh yang lebih rendah dibandingkan dengan potensial osmotik didalam sel, dapat menghambat pembelahan sel-sel akar (Yuniati, 2004).
Perlakuan paparan garam NaCl juga mempengaruhi berat basah dan berat kering
tanaman sawi hijau mulai konsentrasi 4.000 ppm (Gambar 3 dan 4). Berat basah berkaitan dengan luas daun dan panjang akar. Berkurangnya luas daun akan mempengaruhi fotosintesis sedangkan panjang akar akan mempengaruhi penyerapan air dan hara. Menurut Zeiger (2010) dalam Haryadi (2013), luas daun memegang peranan penting, karena laju fotosintesis berlangsung mengikuti dengan perkembangan luas daun. Fitter dan Hay (1994) menyatakan bahwa adanya cekaman garam menyebabkan akar tanaman berada dalam lingkungan dengan potensial air yang lebih rendah, sehingga penyerapan air menjadi terhambat.
Adanya ketidakseimbangan ion dalam tanah yang menyebabkan menurunnya kemampuan akar dalam menyerap air dapat menurunkan jumlah air dalam tanaman sehingga menyebabkan pengurangan nilai parameter berat kering. Gardner et al. (1991), menyatakan bahwa penurunan jumlah air akan menyebabkan penurunan kemampuan fotosintesis sehingga ketersedian karbohidrat sebagai sumber energi untuk pertumbuhan akan menurun.
Menurunnya ion K+ akibat ketidakseimbangan ion pada akar karena perlakuan NaCl menyebabkan turgor sel akan menurun dan stomata akan menutup (Gardner et al., 1991). Fitter dan Hay (1994), menyatakan bahwa menutupnya stomata pada daun akan mengurangi asupan CO2 ke sel-sel mesofil sehingga fotosintesis terhambat dan fotositant yang terbentuk sedikit.
Kandungan klorofil daun tanaman sawi hijau tidak mengalami penurunan dengan adanya perlakuan salinitas, keadaan ini diduga adanya senyawa metabolit sekunder yang dikeluarkan oleh tanaman sawi hijau dapat digunakan untuk pengaturan tekanan osmotik, sehingga kelebihan garam NaCl tidak secara langsung mempengaruhi proses pembentukan klorofil. Harjadi dan Yahya (1988) menyatakan bahwa Na+ dan Cl- yang tinggi tidak akan menghentikan sintesis klorofil secara langsung. Kandungan klorofil daun juga tidak terpengaruh oleh perlakuan salinitas pada penelitian tanaman Barley var. Tokak pada konsentrasi 100 mM – 200 mM NaCl (Yildiz dan Terzi, 2013) serta pada tanaman Aster laurentianus
pada perlakuan 20 g/L – 30 g/L NaCl (Houle et al., 2001).
Faktor media tanah yang diukur dalam penelitian ini meliputi pH dan salinitas. Derajat keasaman atau pH yang diukur pada awal dan akhir penelitian berkisar antara 4,39 sampai 4,62. Menurut Salisbury dan Ross (1995), aktifitas enzim dipengaruhi oleh nilai pH. Nilai pH tersebut sesuai dengan nilai pH pada tanah gambut yang digunakan pada penelitian. Hasil analisis nilai salinitas tanah sebelum dan sesudah perlakuan rata- rata menunjukkan peningkatan sebanyak 75% dari kondisi awal (Tabel 1). Peningkatan salinitas diakhir penelitian menunjukkan bahwa penyiraman larutan NaCl menyebabkan terjadinya kelebihan garam pada media yang sebagian digunakan oleh tanaman dan sebagian terakumulasi lagi pada media.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik, 2013, Statistik Pertanian dan Sayuran dan Buah-buahan Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Barat Bintoro, M. H, 1981, ‘Pengaruh NaCl Terhadap
Pertumbuhan Tanaman Terung CV.
Senryo Dan CV. Akanasu’, Buletin Agro, vol. XIV , no. 3, hal. 31-49
Brady, NC, & Ray, RW, 2008, The Nature And Properties Of Soil,fourttenth edition, Upper Suddle River, New Jersey Columbus, Ohio
Busri, Hidayat, & Wasi’an, 2013, ‘Uji Adaptasi Tanaman Jagung F12 Di Lahan Gambut’, Skripsi, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak
Fitter, AH & Hay, RKM, 1994, Fisiologi Lingkungan Tanaman, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Follet, RH, Murphy, LS, Donahue, RL, 1981, Fertilizer And Soil Amandements, Prentice Hall Inc.
Englewood, New York
Gardner, PF, Pearce, RB, & Mitchel, RL, 1991, Fisiologi Tanaman Budidaya, UI Press, Jakarta
Harjadi, S. S, & Yahya, S, 1988, Fisiologi Stress Tanaman, PAU IPB, Bogor
Haryadi, 2013, ‘Pengukuran Luas Daun Dengan Metode Simpson’, Anterior, vol. 12, no. 2, hal. 1- 5
Houle, G, Morel, L, Reynolds, CE, & Siegel, J, 2001,
‘The Effect Of Salinity Of Different Developmental Stages Of An Andemic Annual Plant, Aster laurentius
(Asteraceae)’, American Journal Of Botany, vol. 88, no. 1, hal. 62-67 Lopez-Perez, L, Martinez-Ballesta, M.C, Maurel, C, &
Carvajal, M, 2009, ‘Changes In Plasma Membrane Composition Of Broccoli Roots As An Adaptation To Increase Water Transport Under Salinity’, Journal Phytochemistry, vol. 70, hal. 492-500 Lubis, K, 2000, ‘Respon Morfogenesis Embrio
Beberapa Varietas Kedelai (Glyciene max L. Merr) Pada Berbagai Konsentrasi NaCl Secara In Vitro’, Thesis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Martinez-Ballesta, MD, Moreno, DA, & Carvajal, M,
2013, ‘The Physiological Importance Of Glucosinolates On Plant Response To Abiotic Stress In Brassica’, International Journal of Molecular Sciences, vol.14, hal. 11607-11625
Pessarakli, M, & Tucker, TC, 1993, ‘Dry Matter Yield And Nitrogen-15 Uptake By Tomatoes Under Sodium Chloride Stress’, Journal Soil Science, vol. 52, hal. 698-700 Pranasari, R. A, Tutik, N, & Purwani, K.I, 2012,
‘Persaingan Tanaman Jagung (Zea mays) Dan Rumput Teki (Cyperus rotundus) Pada Pengaruh Cekaman Garam (NaCl)’, Jurnal Sains Dan Seni ITS, vol. 1, no. 1, hal. 54-57
Rahmawati, H, Sulistyaningsih, E, & Putra, E.T.S, 2011, Pengaruh Kadar NaCl Terhadap Hasil dan Mutu Buah Tomat (Lycopersicum esculentum Mill), Skripsi, Fakultas Pertanian Gadjah Mada, Yogyakarta, diakses 14 September 2013,
<jurnal.ugm.ac.id/index.php/jbp/article/d ownload/1595/1411>
Rukmana, 2002, Bertanam Petsai dan Sawi, Kanisius, Yogyakarta
Salisbury & Ross, 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid II, ITB, Bandung
Sulistyowati, E, Sumartini, S, & Abdurrakhman, 2010,
‘Toleransi 60 Aksesi Kapas Terhadap Cekaman Salinitas Pada Fase Vegetative’, Jurnal Littri, vol. 6, no. 1, hal. 20-26 Syakir, M, Maslahah, N, & Januwati, M, 2008,
‘Pengaruh Salinitas Terhadap Pertumbuhan Produksi Dan Mutu Sambiloto (Andrographis paniculata Ness)’, Jurnal Buletin Littro, vol. XIX, no. 2, hal. 129-137
Yildiz, M, & Terzi, H, 2013, ‘Effect Of NaCl Stress On Chlorophyll Biosynthesis, Prolin, Lipid, Peroxidation And Antioxidative Enzymes In Leaves Of Salt-Tolerant And Salt- Sensitive Barley Cultivars’, Journal Of Agricultural Sciences, vol. 19. hal. 79-88 Yuniati, R, 2004, ‘Penapisan Galur Kedelai Glycine
max(L) Merrill Toleran Terhadap NaCl Untuk Penanaman di Lahan Salin’, Makara Sains, vol. 8, no. 1, hal. 21-24
Zaghdoud, C, Alcarez-Lopez, C, Mota-Cadanes, C, Ferchichi, A, & Carvajal, M, 2012,
‘Differential Responses Of Two Broccoli (Brassica oleracea L. Var italica) Cultivars To Salinity And Nutritional Quality Improvement’, The Scientific World Journal, vol. 10, no. 12. hal. 1-12