• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTIMBANGAN REGULASI OVER THE TOP OTT D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERTIMBANGAN REGULASI OVER THE TOP OTT D"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERTIMBANGAN REGULASI OVER THE TOP (OTT) DALAM MEMBANGUN PEREKONOMIAN DI INDONESIA

Laura Zinnia Valentine Dosen : DR Ir Iwan krisnadi MBA

Magister Teknik Elektro, Universitas Mercubuana Jakarta

ABSTRAK

Konten over-the-top (OTT) pada umumnya menggambarkan pengiriman broadband layanan video dan audio tanpa operator yang terlibat dalam kontrol dan distribusi konten. OTT dimulai dari program TV atau video streaming online. Hingga saat ini, telah diperluas ke layanan lain seperti layanan pesan singkat dengan menggunakan aplikasi smartphone.

Pertumbuhan layanan dengan konten berupa data, informasi, atau multimedia yang berjalan melalui jaringan internet terjadi peningkatan diakibatkan oleh pemerataan jaringan 3G dan implementasi 4G LTE, serta perilaku pengguna dalam penggunaan aplikasi dari pemain OTT (Over The Top) yang meningkat, layanan OTT dapat dikategorikan dalam pola model bisnis freemium dan atau multi-sided platform.

Kementerian Komunikasi dan Informatika R.I. (Kementerian Kominfo) memperhatikan dan memahami pemanfaatan layanan aplikasi dan/atau konten melalui Internet OTT (Over The Top) yang massif dan eskalatif di Indonesia dengan membuat Surat Edaran nomor 3 Tahun 2016 tentang Penyediaan Layanan Aplikasi dan/atau Konten melalui Internet (Over The Top) memastikan aturan terkait OTT. Namun kedepannya akan dibuatkan regulasi mengenai OTT yang sedang dikaji oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Kata Kunci :Over-The-Top Services, Regulasi, Content Provider.

I. PENDAHULUAN

Perilaku digital di berbagai belahan dunia mengarah pada konvergensi pada perangkat mobile, ditandai dengan semakin semakin menguatnya penggunaan media sosial seperti layanan Whatsapp, Facebook Messenger, dan.WeChat Social Platform semakin

mendapatkan perhatian dari para pengguna perangkat mobile, bahkan menjadikan alasan utama orang mempergunakan alat komunikasi seperti smartphone.

(2)

menimbulkan kekhawatiran regulasi di sejumlah yurisdiksi. Dalam beberapa tahun terakhir, ada banyak keluhan, termasuk dari jaringan telekomunikasi operator dan pemilik, bahwa mereka menghadapi persaingan tidak sehat dari para pemain dan penyedia OTT yang tidak tunduk pada kewajiban pengaturan yang sama dengan operator jaringan. Serupa sentimen telah dibangkitkan dalam konteks penyedia layanan online baru yang mungkin tantang layanan tradisional lainnya yang ditawarkan oleh operator jaringan.

Kementerian Kominfo saat ini baru mengeluarkan Surat Edaran Menteri Kominfo No. 3 Tahun 2016 tentang Penyediaan Layanan Aplikasi dan/atau Konten Melalui Internet (Over The Top). Surat Edaran yang dikeluarkan pada tanggal 31 Maret 2016 hanya sebagai himbauan yang tidak mengikat dari segi hukum, Surat Edaran Menteri Kominfo No. 3 Tahun 2016 himbauan untuk mendorong penyedia layanan OTT dan penyelenggara telekomunikasi menyiapkan diri dalam mematuhi regulasi penyediaan layanan aplikasi dan konten melalui internet (OTT) yang sedang disiapkan Kominfo. Sekaligus memberikan waktu yang memadai bagi penyedia layanan OTT untuk menyiapkan

segala sesuatunya

terkaitakan diberlakukannya regulasi penyediaan layanan

aplikasi dan/konten melalui internet OTT.

Paradigma baru tersebut akan berdampak pada pertimbangan sistem hukum yang berada di Indonesia. Untuk menentukan bagaimana pertimbangan regulasi OTT di Indonesia tidak mudah dan bersifat kompleks karena berdampak pada model bisnis

operator telekomunikasi di Indonesia.

Berdasarkan hal yang telah

diuraikan diatas, terdapat permasalahan yang muncul sebagai berikut:

1. Bagaimanakah konsepsi tentang OTT serta dampak terhadap penyedia layanan telekomunikasi?

2. Bagaimanakah regulasi hukum di Indonesia yang dapat

mendorong berkembangnya penyedia layanan OTT?

II. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dipilih dalam makalah ini dengan menggunakan pendekatan Konseptual yaitu pendekatan yang beranjak dari teori - teori, pandangan - pandangan dan doktrin yang berkembang baik di dalam ilmu yang terkait dengan objek penelitian.

(3)

langsung terhadap permasalahan yang diangkat dalam makalah ini. Selanjutnya analisis bahan penelitian yang digunakan adalah cara deskriptif analitis, yang artinya memberikan penjelasan dan uraian secara sistematis dan komprehensif atas hasil-hasil yang diperoleh dari bahan penelitian.

III. PEMBAHASAN

3.1. Konsepsi OTT dan dampak bagi penyedia layanan telekomunikasi

Pada dasarnya OTT Services merupakan layanan untuk suatu kegiatan atau proses yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak yang lainnya. layanan

dilakukan melalui jaringan,

memberikan nilai kepada pelanggan, tetapi tanpa penyedia layanan operator apa pun terlibat dalam perencanaan, penjualan, penyediaan, atau servis mereka - dan tentu saja tanpa pemesanan telco tradisional pendapatan langsung dari mereka.

Dampak model bisnis layanan OTT berdasarkan pandangan

operator selullar dengan menggunakan nine buiding blocks dari Business Model Canvas:

1. Customer Segments

Layanan OTT memiliki segmentasi pelanggan yang mirip dengan operator, yakni pelanggan dengan usia produktif karena pada segmen inilah pelanggan memiliki kebutuhan komunikasi yang sangat tinggi. Pengguna internet ini mayoritas merupakan pengguna layanan

gratis, namun ada juga yang kemudian menjadi pengguna premium guna mendapatkan fasilitas lebih dari suatu layanan. Tidak hanya perseorangan namun perusahaan ataupun organisasi dapat memanfaatkan layanan OTT untuk keperluan tertentu, seperti untuk marketing dan costumer touch point. Banyak diantara OTT yang bertebaran masih bersifat ad-funded, sehingga memerlukan revenue dari iklan untuk mempertahankan

keberlangsungan layanannya. Dengan demikian, OTT tertentu juga memanfaatkan advertiser sebagai bagian dari pelanggannya.

2. Value Propositions

Nilai dari suatu layanan OTT adalah user experience yang berbeda. Layanan OTT menawarkan layanan dengan kegunaan fungsi yang variatif, serta pada umumnya bersifat gratis/tanpa berbayar sehingga menawarkan feel yang berbeda dibandingkan dengan layanan operator yang sudah ada. Dengan keunikan tersebut,

layanan OTT berhasil

menciptakan ketergantungan kepada para penggunannya. Dan untuk penyedia layanan OTT

mampu menawarkan

(4)

ataupun promosi akan bersifat customized dan terarah.

3. Channels

Layanan OTT merupakan layanan yang berbasis internet, untuk beberapa layanan OTT seperti Facebook dan Twitter mempergunakan layanan SMS operator untuk berkomunikasi dengan para pengunannya. Selain itu, kebanyakan layanan OTT juga menyediakan in-app store yang menjebatani pengguna untuk mendapatkan berbagai fitur tambahan yang bersifat berbayar.

4. Customer Relationships Pengguna memiliki kebebasan untuk

memilih suatu layanan OTT tanpa ada keterkaitan yang

berarti dengan penyedia layanannya. Untuk layanan OTT tertentu dimana konten menjadikan pusatnya, penyedia

layanan menciptakan hubungan

yang bersifat co-

creation dengan para

penggunannya diantaranya YouTube dan selain itu, beberapa OTT juga mempergunakan automated services yang mampu menawarkan konten atau layanan yang sesuai dengan karakteristik pengunannya.

5. Revenue Streams

LayananOTTmendapatkan

pemasukan dari payment revenue yang dapat berupa biaya berlanganan ataupun in-app purchase, serta dari iklan. OTT

juga yang bersifat ad-funded dimana mereka menjebatani pengiklan dan pengguna,

sehingga penyedia layanan OTT mendapatkan revenue dari pengiklan.

6. Key Resources

OTT memerlukan platform sebagi aspek yang membentuk layanan OTT mereka. Untuk menciptakan platform layanan yang baik dan selalu menampilkan yang terupdate , OTT memerlukan human resources untuk memanage platform dan server atau cloud yang memiliki

peranan sebagai tempat penyimpanan berbagai macam data. Selain itu OTT sangat bergantung pada infrastruktur teknologi yang mereka butuhkan untuk menyalurkan layanan kepada pelanggan. Infrastukrur ini ada yang dimiliki dan tidak boleh dimiliki oleh OTT memiliki sendiri, seperti infrastuktur jaringan telekomunikasi yang dimiliki oleh para operator.

7. Key Activities

(5)

service provisioning mereka berjalan dengan baik. Dimana

didalamnya termasuk

pengawasan terhadap

infrastuktur-infrastruktur untuk dapat memberikan suatu

layanan. 8. Key Patners

Tidak semua bisnis OTT memiliki kontennya sendiri, sehingga sangat penting untuk memudahkan akses konten

melalui layanan mereka. Penyedia perangkat pun menjadi penyediaperangkatuntuk

mengakseslayananOTT

terutama untuk penyedia perangkat mobile, meningat saat ini pengunaan perangkat mobile semakin tinggi sebagai akibat pergeseran tren menuju gaya hidup mobile. Sebenarnya operator pun dapat dikatakan sebagai mitra dari suatu layanan OTT, namun karena bentuk kerjasamannya yang belum jelas, mengakibatkan operator merasa dirugikan oleh adanya layanan OTT yang berjalan diatas infrastruktur penyedia layanan telekomunikasi.

9. Cost Structure

Karena sifat layanannya yang berbasis internet dan tidak

berbayar, layanan OTT berkonsep pada cost efficiency, sehingga menekan biaya pada titik minimum merupakan hal yang penting. Biaya yang muncul pada layanan OTT diperuntukan

untuk keperluan research and

development serta biaya pemeliharaan platform.

3.2. Penerapan Regulasi untuk layanan OTT di Negara- Negara. 3.2.1. Penerapan Regulasi OTT di Eropa

Regulators for Electronic

Communications (BEREC) merupakan Badan Regulator Eropa untuk Komunikasi Elektronik yang menilai pertumbuhan pentingnya layanan OTT dan dampaknya

terhadap layanan komunikasi elektronik, menganalisis rezim

pengaturan saat ini dan penerapannya untuk layanan OTT dan mengidentifikasi point-point yang akan dibahas dalam peninjauan yang akan datang dari UE kerangka pengaturan untuk komunikasi elektronik. BEREC mendukung adopsi aturan yang lebih konvergen yang akan memberdayakan regulator nasional untuk melindungi hak pengguna akhir sambil mendorong perkembangan teknologi masa depan di pasar komunikasi

(6)

membedakan antara tiga jenis Layanan OTT:

1. OTT-0: layanan OTT yang memenuhi syarat sebagai ECS, yaitu layanan itu terdiri sepenuhnya atau sebagian besar dalam

penyampaian sinyal.

2. OTT-1: layanan OTT yang bukan merupakan ECS tetapi berpotensi bersaing dengan ECS, seperti layanan pesan instan.

3. OTT-2: layanan OTT lainnya, seperti e-commerce, video, dan music Streaming.

3.2.1. Penerapan Regulasi OTT di Turki

Pasar Telekomunikasi di Turki berdasarkananalisispada

peraturan OTT di Turki, mengidentifikasi 7 area kebijakan di dalamTurkiperaturan

telekomunikasi. Ini adalah (1) otorisasi; (2) hak konsumen; (3) peraturan kompetisi; (4) netralitas jaringan, (5) pajak; (6) biaya; (7) kontrol dan audit. Sebagai referensi untuk ini area regulasi; meskipun kurangnya pengaturan langsung untuk OTT,

ada beberapa artikel dari UU Komunikasi Elektronik No. 5809, terkait dengan OTT secara tidak langsung. Untuk otorisasi, Pasal 8, klausul 1; Pasal 9, klausul 1 dan 3; Pasal 19, ayat 1; Pasal 3, ayat 1; Pasal 12, klausa 1; Pasal 63, klausul 1 dan 2 dapat dirujuk ke layanan OTT. Berkaitan dengan hak-hak konsumen, Pasal

49; Pasal 6; Pasal 512 ;

Pasal 52 serta Peraturan tentang Kualitas Layanan Komunikasi Elektronik, Data Pribadi dan Privasi, Aplikasi Peraturan Lalu Lintas dapat dikaitkan dengan layanan OTT. Namun, ada celah karena kurangnya definisi OTT layanan untuk disahkan.

3.3. Arah Regulasi Layanan OTT di Indonesia

Dalam upaya memberikan penjelasan kepada masyarakat dan terutama para penyedia layanan Over the Top, merujuk pada Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2016 tentang penyedia layanan aplikasi dan/atau konten melalui internet (Over the Top) mengarahkan agar penyedia layanan sebelum terbentuknya regulasi tentang Over the Top untuk menyiapkan segala sesuatunya diantaranya

1. Layanan aplikasi dan/atau

Konten melalui internet selanjutnya disebut Layanan Over the Top merupakan

penyediaan semua bentuk

informasi digital yang terdiri dari tulisan, suara, gambar, animasi,

musik, video, film,

permainan(game) atau kombinasi dari sebagian atau semuanya termasuk dalam

bentuk yang dialirkan (streaming) atau diunduh

(download) dengan

(7)

telekomunikasi berbasis protokol internet.

2. Layanan Over the Top dapat disediakan oleh perorangan atau badan usaha asing dengan kewajiban mendirikan Bentuk Usaha Tetap (BUT) di Indonesia. Bentuk Usaha Tetap didirikan berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang - undangan di bidang perpajakan. 3. Penyedia layanan Over the Top

tersebut bertanggung jawab secara penuh dalam menyediakan Layanan Over the Top.

4. Kewajiban Penyedia Layanan Over the Top

1) menaati ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, perdagangan, perlindungan konsumen,hakatas

kekayaanintelektual,

penyiaran, perfilman, periklanan, pornografi, anti terorisme, perpajakan; dan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

2) melakukanperlindungan datasesuaidengan

ketentuan peraturan perundang-undangan.

3) melakukan filtering konten sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

4) melakukan mekanisme sensor sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

5) menggunakan sistem pembayaran nasional (national payment gateway) yang berbadan hukum Indonesia;

6) menggunakan nomor protokol internet Indonesia; 7) memberikan jaminan akses

untuk penyadapan informasi secarasah(lawful

interception) dan pengambilan alat bukti bagi penyidikan atau penyelidikan perkara pidana oleh instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan 8) mencantumkaninformasi

dan/atau petunjuk penggunaan layanan dalam Bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan

perundang-undangan.

IV. KESIMPULAN

(8)

difasilitasi layanan terotomatisasi.

Setiap segmen menghasilkan pemasukan dari payment revenue dan ad revenue Keseluruhan interaksi ini terjadi melalui media berbasis internet, seperti mobile app, website, dan desktop app, serta SMS. Dengan sumber daya yang berfokus pada platform, maka biaya dan aktivitas yang timbul pun akan berkisar pada pengembangan dan pemeliharaan platform itu sendiri. OTT memerlukan infrastruktur telekomunikasi dan agar bisnisnya dapat berjalan, namun hal ini

disediakan oleh operator telekomunikasi, sehingga tidak perlu dimiliki, namun tetap sangat penting. OTT juga difasilitasi oleh penyedia jasa pembayaran yang akan menjembatani payment atas jasa OTT tertentu.

Berdasarkan sudut pandang operator telekomunikasi bergerak seluler di Indonesia, layanan OTT dapat dikategorikan dalam pola model bisnis freemium dan atau multi-sided platform. Freemium merupakan konsep bisnis dimana pelanggan mendapatkan fasilitas dasar secara gratis, namun harus membayar untuk fasilitas lain, sedangkan multi-sided platform konsep yang mempertemukan dua atau lebih kelompok pelanggan berbeda namun saling membutuhkan.

V. DAFTAR PUSTAKA

[1.] Bilbil, Ebru Tekin.(2018). Methodology for the Regulation of Over-the-top (OTT) Services : The Need of A Multi -

dimensional Perspective.

International Journal of Economics and Financial Issues.

[2.] Fowora, Damilola., Awodele, Oludele., Olayinka, Olakunle.,

and Aburagbemi,

Oyebode.(2018). The Impact of OTT Services in Nigeria : Regulators, Operators and

Customer Perspective. Global Journal of Computer Science and Technology.

[3.] Nugraha, S. Heryana. and

Jumhur, Helni

Mutiarsih.(2016). Analisis Model Bisnis Over-the-top (ott) Services Berdasarkan Sudut

Pandang Operator

Telekomunikasi Bergerak Seluler di Indonesia Sebagai Bentuk Pertimbangan Regulasi (studi pada Pt.XL Axiata Tbk.). Journal e-Proceeding of Management.

[4.] Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2016 tentang penyedia layanan aplikasi dan/atau konten melalui internet

Referensi

Dokumen terkait