• Tidak ada hasil yang ditemukan

LABKON MASONRY Dasar Teori Perhitungan K

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LABKON MASONRY Dasar Teori Perhitungan K"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

DASAR TEORI, PERHITUNGAN

KEBUTUHAN BAHAN DAN PELAKSANAAN

MASONRY

Deasy Monica Parhasuti

131111003

(2)

DASAR TEORI KERJA BATU

2.1 Peralatan

Perlatan merupakan sarana pembantu/pendukung dalam kerja batu. Peralatan yang lengkap akan menghasilkan suatu pekerjaan yang baik. Dengan peralatan yang lengkap maka pekerjaan yang dilakukan akan semakin cepat dikerjakan dan menghasilkan produktifitas yang tinggi dalam bekerja. Dalam pelaksanaanya kita harus mengetahui fungsi dan pemasangan alat serta penyimpanannya dilapangan bila alat tersebut tidak digunakan. Alat ini harus disimpan dalam keadaan rapi dan bersih, bila perlu alat yang mengandung bahan logam diolesi oleh minyak agar terhindar dari korosi yang bisa

membuat alat cepat rusak. Peralatan-peralatan yang digunakan dalam praktek kerja batu antara lain :

1. Sendok Spesi

Sendok spesi dibuat dari plat baja tipis dengan tangkai dari kayu yang berfungsi untuk mengambil dan memasangkan adukan.

Sendok spesi lancip Sendok spesi

kecil

(3)

2.Kotak Spesi

Alat untuk tempat mengaduk, menyimpan adukan dan meletakkan mortar. Kotakspesi sebaiknya terbuat dari plat besi dengan bentuk trapesium dan pada sisinya diberi tangkai untuk memudahkan mengangkatnya.

3. Ember

Digunakan untuk mengangkut adukan atau air. Ember, yang juga berfungsi sebagai alat untuk mengukur takaran perbandingan penggunaan semen dan pasir.

4. Cangkul

(4)

5. Ayakan Pasir

Ayakan pasir ini terbuat dari kawat mesh yang diberi kerangka kayu dan berbentuk persegi panjang. Gunanya untuk menyaring pasir, agregat-agregat kasar, dll.

6. Ruskam kayu

Ruskam kayu berfungsi untuk meratakan permukaan plesteran yang sedang dikerjakan.

7. Waterpass

(5)

8. Line bobbyn

Terbuat dari plat besi tipis dan dihubungkan dengan benang.Alat ini dipergunakan sebagai garis petunjuk / pedoman kedataran dan pelurusan dengan mencantolkan benang pada waktu pemasangan bata agar lurus satu sama lain.

9. Palu pemotong bata

Berguna untuk memotong, membelah, dan menajamkan bata. Bisa juga untuk memukul paku jika diperlukan.

10.Jointer

(6)

11.Jidar

Kegunaannya untuk mendatarkan plesteran dinding, menentukan kelurusan dan ketegakan pasangan bata, meratakan adukan yang menempel pada dinding sewaktu pekerjaan plesteran.

12.Skop

Gunanya untuk mengangkat pasir atau bahan sejenisnya.

13.Siku

(7)

14.Meteran

Berguna untuk mengukur ketebalan, lebar, panjang dan tinggi benda kerja

15.Tongkat ukur

Berguna untuk menentukan tinggi setiap lapis pasangan dan juga untuk membantu waterpass dalam menentukan kedataran pasangan.

16.Pegangan Bata

(8)

17.Skrapspesi

Gunanya untuk melengketkan spesi pada permukaan plesteran pada waktu pemasangan ubin dinding (porselen).

18.Palu karet

Palu karet adalah palu yang terbuat dari karet tetapi sangat keras dan fungsinya untuk membantu pemasangan keramik supaya benda kerja tidak rusak pada saat pemukulan.

19.Sikat kawat

(9)

20.Unting unting

Unting unting atau sering juga disebut dengan bandul, adalah salah satu alat tukang yang biasanya dipergunakan untuk mengukur ketegakan suatu benda atau bidang. Alat ini cukup sederhana dimana terbuat dari bahan besi dengan permukaan berwarna besi putih, kuningan dan juga besi biasa, bentuknyaa biasanya berbentuk prisma dengan ujung lainnya dibuatkan penempatan benang kait. Namun dapat juga dijumpai dalam berbagai bentuk lainnya dimana salah satu ujungnya tetap di buat runcing.

21.Apply Trowel/ Ruskam Besi

Alat ini seperti ruskam kayu, Apply trowel terbuat dari plat baja tipis yang diberi tangkai kayu. Apply trowel digunakan untuk menghaluskan permukaan plesteran pada saat finishing.

22.Pemotong keramik manual

Mesin ini berfungsi untuk memotong keramik manual. Caranya hanya mendorong

(10)

23.Mesin pemotong bata

Mesin ini berguna untuk memotong batu, bata, tegel, dll.

24. Fork lift

Alat ini digunakan untuk memudahkan dalam mengangkut batu, bata, pasir dan bahan-bahan bangunan lainnya dalam jumlah yang besar.

25.Troli

(11)

2.2 Bahan

Dalam kerja batu, bahan merupakan komponen yang paling penting. Karena tanpa adanya bahan, proses pengerjaan akan terhambat. Bahan dalam kerja batu ini ada yang berasal dari proses pembuatan manusia ada yang berasal dari alam, yaitu hasil dari letusan gunung berapi, atau pengambilan dari sungai dan gunung. Bahan yang digunakan dalam kerja batu antara lain:

1. Portland Cement

Dalam kehidupan sehari-hari Portland cement (PC) bisa disebut dengan semen. Semen adalah suatu bahan pengikat hidrolis (dapat

mengeras/membantu jika di campur air) ,yang berupa serbuk yang sangat halus berwarna abu-abu atau coklat abu-abu,maupun abu-abu-abu-abu kehijauan terdiri dari Kristal-kristal silikat ,kalsium ,dan

alumunium. Bahan – bahan semen banyak terdapat di Gresik – Jawa Timur, Indarung – Sumatra Barat, Laah Kulu – Kalimantan Timur, Sukabumi – Jawa Barat, dan Tonasa – Sulawesi Selatan.

a. Bahan Utama Semen

(12)

Kemampuan dari suatu bahan ikat untuk mengeras di dalam air di tentukan oleh modulus – hidroliknya, yaitu perbandingan bahan – bahan utama seperti antara CaO, SiO2, Al2O3 ,dan Fe2O3.

b. Cara Pembuatan Semen Portland

Semen Portland dibuat dengan melalui beberapa langkah, sehingga sangat halus danmemiliki sifat adhesive maupun kohesif. Semen diperoleh dengan membakar secarabersamaan suatu campuran dari Calcereous (yang mengandung kalsium karbonat atau batugamping) dan argillaceous (yang mengandung alumina) dengan perbandingan tertentu.Secara mudahnya langkah-langkah

pembuatannya:

 Pertama tama, bahan dasar tanah liat dan batu kapur dalam keadaan kering

dengan perbandingan tertentu, dicampur dalam keadaan tertentu digiling bersama sama sampai menjadi tepung halus

 Tepung halus dicampur dengan sedikit air sehingga menjadi suatu massa yang basah (slurry) dengan kadar air 35-40%.

 Slurry disimpan dalam correction tank, dimana komposisinya di atur dengan

penambahan bahan-bahan yang masih kurang

 Slurry yang ada di dalam tangki dimasukan kedalam dapur pembakaran

dengan suhu sekitar 1400 oC dan gas panas yang keluar dari ujung atas dapur akan memanasi dan mengeringkan slurry tadi, sehingga menghasilkan batu keras dengan permukaan seperti batu kaca yang disebut Clinker

 Clinker ini kemudian digiling hingga halus dan bila perlu ditambahkan dengan

bahan penghambat pengeras berupa gips sebesar kurang dari 3% serta dihasilkan kembali bersama sehingga menjadi semen

c. Pengujian Mutu Semen Di Lapangan

Pemeriksaan semen di lapangan dapat dilakukan dengan cara

 Pemeriksaan tanggal produksi, untuk mengetahui lama penyimpanan semen

sebelum diterima proyek

 Jika kemasan semen dipukul dan tidak keras, berarti menunjukan bahwa isi

(13)

 Jika dilihat, tidak ada gumpalan atau semen padat yang berarti kemasan tidak terpengaruh oleh kelembapan

 Jika tangan dimasukan di masukan kedalam semen akan terasa dingin

 Jika semen yang masih baik kondisinya, digesek diantara ibu jari dan telunjuk

maka akan terasa halus

 Jika semen yang masih baik, ditabur diatas air maka akan

mengambang/mengapung terlebih dahulu kemudian mengendap

 Jika adukan pasta atau semen yang baik, ditaruh di dalam gelas atau cawan

dan dimasukan kedalam air tidak akan larut dan akan mengeras sesuai bentuk cetakan pastanya walaupun terendam air

d. Pengunaan Semen

Semen dapat digunakan sebagai berikut:

 Bahan pengikat dalam adukan untuk pasangan bata, plesteran, pembuatan

beton dengan campuran sesuai dengan kebutuhan.

 Untuk pembuatan elemen-elemen bangunan, seperti bahan penutup atap

(genteng beton, atap semen asbes gelombang), tegel, bataco/batu cetak, pipa beton.

 Sebagai campuran pembuatan bata-bata tanah standar dan lain sebagainya.

e. Penyimpanan Semen

Agar semen selalu dalam keadaan siap pakai, maka penyimpanannya harus dengan sebaik-baiknya. Cara penyimpanan semen dapat dilakukan sebagai

berikut

1. Semen harus disimpan pada tempat yang kering, tidak langsung diatas tanah yang lembab, dan berada pada ruangan yang beratap agar terlindung dari air hujan.

2. Bila dikehendaki penyimpanan semen dilokasi-lokasi pekerjaan, maka dapat dilakukan denganmembuat gudang bahan bangunan dari dinding papan yang lantai dan atapnya dilapisi dengan suatu yang tidak tembus air (kedap air). 3. Jarak penimbunan sebaiknya lebih kurang 50cm dari sisi dalam dinding,

(14)

4. Kalau penyimpanan semen itu harus ditumpuk karena kekurangan tempat, maka tinggi tumpukan sebaiknya kurang dari 2m. Bila tumpukan lebih dari 2m akan mengakibatkan pembebanan yang berlebihan pada deretan semen dibagian bawah bisa menjadi bergumpal-gumpal.

5. Semen yang berasal dari berbagai jenis harus disimpan sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin semen dari jenis yang berda tersebut bisa tertukar. 6. Penimbunan semen yang baru datang tidak boleh disimpan di atas timbunan

semen yang sudah lama, seharusnya pemakaian semen dilakukan menurut urutan pengirimannya.

2. Kapur

a. Bahan-bahan pembentuk kapur

Kapur adalah bahan adukan yang berfungsi sebagai

(15)

terdapat di Jawa Tengah, Lampung, NTT, Sulawesi Tenggara, dan Sumatra Barat.

Bahan-bahan penyusun kapur diantaranya :  Kalsium Karbonat (CO3) ……….. .97%

 Kapur tohor (CaO) ………..29,77-55,56%

 Magnesia (MgO)………..21-31%

 Silika (SiO2)………..0,14-2,41%  Alumina dan oxid besi………..0,5%

b. Pembuatan kapur

Batu-batu kapur yang telah diperiksa, sebelum dimasukkan kedalam dapur pembakaran, harus dibelah-belah dahulu menjadi potongan-potongan kecil, dengan maksud untuk mendapatkan hasil pembakaran yang sebaik mungkin.

Karena pembakaran warna batu kapur akan berubah, umumnya menjadi warna kuning muda, abu-abu atau putih, apabila batu-batu itu terbakar dengan baik. Perlu diketahui bahwa warna putih pun belum tentu menunjukan batu kapur tersebut telah terbakar sempurna. Ini perlu dibuktikan dengan cara penyiraman batu tersebut dengan air. Bila setelah disiram seluruh gumpalan batu kapur berubah menjadi tepung, tanpa meninggalkan butiran batu kaur, maka dapat dikatakan pembakarannya telah sempurna.

c. Cara penyimpanan

(16)

3. Pasir

Pasir sebagai bahan pembentuk adukan (spesi) dapat berupa pasir alam yaitu sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan yang banyak macamnya atau dapat berupa pasir buatan yaitu pasir yang akan dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu.

a. Jenis-jenis pasir yaitu: 1. Pasir beton

 Pasir beton adalah butiran- butiran mineral keras dan tajam berukuran antara

0,075 – 0,5 mm, jika terdapat butiran berukuran lebih kecil dari 0,063mm tidak lebih dari 5% berat.

 Untuk mendapatkan kekuatan beton maka pasir yang bermutu baik harus

dapat memenuhi syarat sebagai berikut :

 Pasir beton harus bersih, bila diuji dengan larutan pencuci khusus, tinggi

endapan pasir yang kelihatan dibandingkan dengan tinggi seluruh endapan tidak kurang dari 70%.

 Kadar butiran lewat ayakan 0,063mm (kadar Lumpur) tidak lebih dari 5%

berat.

 Angka kehalusan terletak antara 2,2 – 3,2 bila diuji dengan rangkaian ayakan

0,16 ;0,315;0,63; 1,25; 2,50; 5; dan 10 mm, fraksi yang lewat ayakan 0,3mm minimal 15% berat

 Pasir tidak boleh mengandung zat- zat organic yang dapat mengurangi mutu

beton. Untuk memeriksanya pasir direndam pada cairan 3% NaOH, cairan di atas endapan tidak boleh lebih gelap dari warna larutan pembanding.

 Kekekalan terhadap larutan Na4SO4, fraksi yang hancur tidak boleh lebih dari 12% berat. Kekakalan terhadap larutan MgSO4, fraksi yang hancur tidak boleh lebih dari 10% berat.

 Untuk beton dengan tingkat keawetan yang tinggi, reaksi pasir terhadap

(17)

2. Pasir pasang

Berdasarkan tempat penambangan, maka pasir pasang dapat dibedakan dalam dua jenis seperti berikut:

 Pasir Gunung

Pasir ini berasal dari gunung, yang umumnya mempunyai bentuk tajam/ runcing dan agak keras. Pasir gunung ini baik untuk membuat adukan beton, karena ikatan satu sama lain menjadi kuat. Pasir dalam suatu campuran adukan dapat berfungsi sebagai bahan pengisi mencegah penyusutan.

 Pasir sungai

Ialah pasir yang diperoleh dari dasar sungai yang merupakan hasil gigisan batu- batuan yang keras dan tajam, pasir jenis ini butirannya cukup baik (antara 0,063 mm – 5 mm) sehingga merupakan bahan yang baik untuk adukan pasangan.

3. Pasir Urug

Pasir urug ini berbutir sangat halus dan banyak mengandung lumpur.

Dipakai untuk memperbaiki daya dukung tanah dasar, yang akan memikul beban diatasnya seperti beban-beban pondasi bangunan, jalan raya. Pasir yang akan digunakan untuk mengurug/mengganti tanah yang jelek, tidak boleh mengandung kotoran sampah, akar tumbuh-tumbuhan, kertas-kertas plastik, dan lain sebagainya.

b. Pengujian mutu dilapangan

Untuk pengujian mutu pasir dilapangan dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:  Dapat dilihat dari warnanya, jika pasir tersebut berwarna hitam besar

kemungkinan pasir tersebut bermutu baik.

 Dapat dilakukan uji kekerasan dan ketajaman, yaitu dengan cara menggenggam

(18)

mengandung lumpur tidak bisa dipakai kecuali pasir tersebut dicuci dahulu sebaliknya kalau tangan tidak begitu kotor dan tidak lengket, maka pasir dapat dipakai.

 Untuk menguji kadar lumpur dalam pasir dengan cara dimasukan kedalam botol yang kacanya jernih dan tembus pandang kira-kira ¾ botolnya. Lalu

ditambahkan air kedalamnya sampai botol itu penuh, lalu botol tersebut dikocok-kocok selama 10 menit dengan rata. Setelah dikocok botol itu didiamkan selama 30 menit, lalu lihat hasilnya air akan kembali jernih. Kemudian pada bagian bawah botol terlihat butiran-butiran pasir yang kasar dan diatasnya terlihat lapisan pasir yang halus sekali dan ini disebut lumpur. Kadar lumpur tidak boleh lebih dari 15% dari jumlah pasir yang ada dalam botol tersebut.

Menghitung kadar lumpur dalam pasir dapat diperoleh dengan rumus:

kadar lumpur = x100% b

a a

dimana : a = ketinggian lumpur dalam bejana b = ketinggian pasir dalam bejana

Apabila kadar lumpur sekitar 15% maka pasir tersebut termasuk pasir pasang. Tetapi apabila kadar lumpurnya sekitar 5% maka pasir tersebut adalah pasir beton.

c. Cara Penyimpanan

(19)

sebab kalau pasir basah sulit untuk membuat adukan yang airnya semen tepat, juga karena pasir yang basah untuk mortar sulit untuk mendapatkan adukan yang rata.

4. Air

Air yang akan digunakan untuk membuat suatu adukan harus memenuhi syarat syarat yang telah ditentukan dan banyaknya air yang akan digunakan tergantung pada jenis pekerjaannya. Air untuk membuat adukan plesteran plesteran yang berwarna putih, tidak boleh mengandung bagian campuran (zat

perwarna) yang dapat mengubah warna adukan. Air yang banyak mengandung garam tidak baik untuk adukan, karna dapat merusak ikatan adukan sekaligus merusak tembok. Begitu pula air yang mengandung bahan bahan humus/busuk. Seperti air danau, seharusnya jangan digunakan. Air adukan boleh mengandung bahan bahan lain asal kadarnya sangat kecil. Apabila terdapat keraguan mengenai keadaan air yang dipakai disarankan untuk mengirimkan contoh air yang akan dipakai ke laboratorium.

(20)

5. Tras

Tras termasuk salah satu bahan galian yang digunakan untuk bahan pembuat semen alam (hydraulic cement). Tras temasuk dalam kelompok bahan galian industri. Selain tras digunakan untuk bangunan sebagai semen alam, juga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan bata. Tras merupakan bahan galian yang mudah sekali kontak dengan air, yang kemudian menjadi keras. Dan kehebatannya tidak akan dengan tembus air.

Tras sejenis tuf (menurut kamus umum berarti semacam batu yang terdapat pada gunungapi), yang berwarna putih kekuning-kuningan dan telah mengalami tingkat pelapukan lebih lanjut. Adapun sifat-sifat dari bahan galian ini, terutama sifat-sifat

yang paling disenangi yaitu karena adanya silikat yang larut dan dapat bersenyewa dengan CaO kemudian menjadi Ca silikat dalam keadaan basah.

Bagi mereka yang masih merasakan harga semen pabrik jauh lebih mahal dibanding akan mencari barang penggantinya yang hampir sama dan jauh lebih murah yaitu tras sebagai semen alam. Masalah pasaran sangat di pengaruhi oleh harga, maka arti tras akan semakin ramai di usahakan, ramai dicari, kalau pasarannya akan tumbuh banyak.

Kegunaan :

Tras dapat digunakan sebagai bahan bangunan ringan. Bahan tras dapat di buat untuk batako, sejenis bata dari bahan tras dan pengganti pasir untuk bangunan. Kegunaan tras yang lain untuk campuran pembuatan Pantland Puzzolan Cement (PPC), dan pembuatan semen tras kapur, campuran pembuatan beton, campuran plester dan tanah urug.

Penghasil tras yang banyak dikenal adalah tras gembong (surabaya) ,Ciumbuleuit-Nagreg-Lembang (jawa Barat). Banyak ditampung di Gunung Muria (Jawa Tengah) dan daerah Priangan (Jawa Barat). Selain itu, terdapat pula di Sumatra Barat.Tras banyak digunakan orang untuk campuran adukan maupun untuk pembuatan bataco/batu cetak.

6. Batu kali

(21)

pondasi atau untuk dinding penahan/lantai pemikul. Batu yang baik biasanya terlihat agak mengkilap yang menandakan poro-pori batu itu tidak terlalu banyak dan kelihatan keras tidak keropos.

Penyimpanan dilapangan sebaiknya ditempatkan pada tempat yang kering, agar permukaan batu tidak terkena lumpur sehingga kalau mau digunakan tidak perlu dibersihkan terlbih dahulu, dan penumpukannya harus disusun sedemikian rupa agar mudah untuk menaksir jumlah kubikasi batu tersebut dan ketinggian penumpukannyapun tidak boleh terlalu tinggi dan mudah untuk pengambilan batu kali tersebut, penyimpanan ini boleh terbuka atau tertutup oleh terpal. Seandainya batu itu terlalu besar dapat dipecah dengan menggunakan martel atau dengan mesin yang

khusus untuk itu.

7. Bata Merah

Bata merah adalah bahan bangunan yang

banyak dipakai untuk bahan konstruksi pasangan, baik yang memikul dan tidak memikul beban struktural. Bata dikenal dengan sebutan batu. Bata merah adalah suatu unsur bahan bangunan yang terbuat dari tanah liat dan diberi bahan tambahan seperti pasir, sekam padi,

(22)

balok-balok, lalu dibakar dengan temperature 800°C – 1050°C untuk mengeraskannya, sehingga tidak dapat hancur lagi bila direndam dalam air.

Syarat-syarat bata merah adalah sebagai berikut:  Semua bidang sisi harus datar

 Mempunyai rusuk yang tajam dan menyiku

 Tidak menunjukan gejala retak-retak dan perubahan bentuk yang berlebihan  Penyimpangan ukuran untuk panjang maksimum 3%, lebar maksimum 4% dan

tebal maksimum 5%

Menurut mutunya bata merah dapat dibagi dalam 3 tingkat yaitu:

Mutu Bata Merah Kuat tekan rata-rata kg/cm²

Tingkat I Lebih besar dari 100 kg/cm²

Tingkat II 100-80 kg/cm²

Tingkat III 80-60 kg/cm²

Ukuran bata merah standar:

1. Panjang 23 cm, Lebar 11 cm dan tebal 5 cm 2. Panjang 24 cm, lebar 11,5 cm dan tebal 5,2 cm Berat batu bata ini berkisar antara 0,8 kg s/d 1,4 kg.

Untuk 1 m² pasangan bata ½ batu diperlukan 68 buah bata. Untuk 1m² pasangan bata 1 batu diperlukan 130 buah bata.

Pengujian mutu bata merah di lapangan dapat dilakukan dengan cara visual

yaitu dengan mengamati :

 Warna, bata yang baik berwarna merah bata..  Ukuran bata harus sesuai dengan pesanan  Bentuknya harus utuh dan siku

 Warna pada patahan merata

 Kekerasan dapat diuji dengan cara bila diketok suaranya nyaring.

(23)

berselang-seling empat buah-empat buah, dengan ketinggian penyusunan max 2m ini untuk memudahkan dalam pengambilan. Diatasnya diberi terpal agar air hujan tidak terserap oleh bata

Contoh penyimpanan bata merah dilapangan

8. Super Bata

Yang dimaksud dengan super bata ialah bata yang pada

permukaannya terdapat lubang-lubang, dan jumlah luas lubang itu antara 15-35% luas penampang batanya. Bata jenis ini dibuat

dengan mesin ekstruder, yang dilengkapi alat pembentuk lubang bata. Bata jenis ini umumnya dibuat oleh industri skala menengah dan besar.

Manfaat utama dari penggunaan bata berlubang ialah :

 Bahan pembuat bata lebih sedikit dan pengeringan lebih cepat

 Dinding bata memiliki daya sekat panas dan peredam suara yang baik  Dapat digunakan sebagai bata ekspos, karena permukaan yang rata dan licin.

(24)

9. Rooster

Bata yang memiliki lubang-lubang pada salah satu penampang sisi bata, dengan luas penampang lubang 35 atau 75% luas penampangnya. Cara pembuatannya sama dengan pembuatan bata berlubang, dan persyaratannya juga hampir sama, kecuali

syarat untuk kuat tekannya. Persyaratan kuat tekan, biasanya ada 2 macam yaitu syarat kuat tekan sejajar lubang dan syarat kuat tekan tegak lurus berlubang.

Syarat kuat tekan sejajar lubang, biasanya 30 sampai 50% lebih tinggi dari pada

kuat tekan tegak lurus berlubang. Penentuan kuat tekan dari dua arah ini perlu diketahui dan disyaratkan karena kegunaan bata berongga. Di dalam pemakaiannya kemungkinan bata berongga akan memikul beban dari 2 arah tersebut. Karena selain digunakan sebagai dinding ventilasi, bata berongga juga dapat dipakai sebagai elemen pembentuk balok atau tiang yang menanggung beban dengan cara memasang tulangan dan dicor beton.

10. Bata Merah Pelapis.

Bata ini adalah bata yang berukuran tipis yang digunakan untuk melapis dinding, untuk bahan dekorasi dan tidak dapat

hancur bila direndam air. Ukuran bata pelapis biasanya dibuat sama dengan ukuran panjang dan lebar bata biasa, dengan ketebalan kurang lebih 10 mm (gambar 2.11). Tujuan penggunaan bata pelapis agar permukaan

dinding terlihat seperti terbuat dari bata sesungguhnya, dengan siar sambungan yang rapih ( biasanya tidak lebih tebal dari 5 mm ).

Proses pembuatan bata pelapis, sama seperti pembuatan bata berlubang, yaitu menggunakan pakai ekstruder. Bata pelapis ini disebut sebagai split tile, karena pada

waktu bata masih dari pabriknya, masih berbentuk gabungan ( rangkap ) dan ketika akan dipakai rangkapan bata ini dibelah menjadi 2 buah.

Syarat mutu bata pelapis :

(25)

 perubahan bentuk seperti melengkung, cacat dan retak yang mempengaruhi mutunya.

 Penyimpangan kelengkungan arah panjang dan diagonal serta kesikuan arah lebar  Tidak melebihi 2 mm.

 Penyimpangan ukuran arah panjang dan lebar dibatasi 2%  Penyerapan air dari 10 buah benda uji tidak lebih dari 15%

 Tidak boleh terjadi cacat warna atau perubahan warna permukaan bata akibat  Adanya garam-garam yang terlarut.

11. Hable

Hable/Hebel adalah bahan bangunan yang di buat dengan teknologi modern sehingga kekuatan hebel tersebut sangat lah kuat dari bata merah atau pun batako. Tetapi hebel sangat ringan dan mudah cara pemasangannya. Hebel memiliki keunggulan-keunggulan tesendiri, yaitu :

a. Kuat

Proses aerasi yang homogen dan terkendali secara komputerisasi menghasilkan beton ringan dengan kuat tekan yang paling tinggi namun paling ringan di kelasnya. Produk Hebel dapat digunakan sebagai sistem Struktur Dinding Pemikul (Load Bearing Wall).

b. Ringan

Dengan struktur homogen (tanpa rongga vertikal dan horizontal di dalammya) dan berat 1/5 beton biasa, produk Hebel dapat mengurangi resiko gempa. Penanganan dan proses transportasi lebih ringan, pekerjaan menjadi lebih mudah meski dengan peralatan sederhana, juga mengurangi keletihan pekerja.

c. Ekonomis

(26)

d. Ukuran Akurat

Standar proses produksi DIN (Deutsch Industrie Norm) dan cara pemotongan flat-cake yang merupakan satu-satunya di dunia industri beton ringan, memastikan semua produk mempunyai ukuran yang presisi dengan rejected-rate terendah.

e. Kedap Suara

Massa yang rendah mengakibatkan energi bunyi yang memantul dan merayap di permukaan beton ringan Hebel tidak diteruskan dengan baik. Sehingga dinding dapat meredam kebisingan dan kenyamanan penghuni terjaga.

f. Tahan lama

Dengan ciri yang kuat dan tahan terhadap perubahan cuaca maka menjadikan produk Hebel, stabil dan awet.

g. Tahan Panas & Api

Sebagai anorganik tahan api, produk ini sesuai untuk aplikasi ruang tangga darurat, cerobong ventilasi dan koridor lift.

Produk Hebel meningkatkanperlindungan terhadap bahaya kebakaran. Sifat insulasi panas pun mengurangi tingkat kenaikan suhu yang menyebabkan ruangan menjadi lebih sejuk.

h. Hemat Energi

Gelembung-gelembung udara yang terkandung menjadikan bahan ini memiliki sifat insulasi panas yang baik, sehingga dapat memberikan kenyamanan dan lingkungan yang sehat, penghematan energi dan pemakaian AC.

i. Mudah Pengerjaan

Bobot yang ringan dan kuat menjadikan produk Hebel mudah digergaji, dibor, dibentuk dan dikerjakan hanya dengan menggunakan peralatan kayu biasa. j. Ramah Lingkungan

Produk Hebel tidak mengandung bahan-bahan yang beracun maupun berbahaya.

(27)

12. Paving block

Paving block atau blok beton terkunci menurut

SII.0819-88 adalah suatu komposisi bahan bangunan

yang terbuat dari campuran semen portland atau bahan

perekat hidrolis lainnya, air dan agregat dengan atau

tanpa bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi

mutu beton tersebut.

Sedangkan menurut SK SNI T-04-1990-F, paving

block adalah segmen-segmen kecil yang terbuat dari

beton dengan bentuk segi empat atau segi banyak yang

dipasang sedemikian rupa sehingga saling mengunci.

Keuntungan dari Paving Block

1. Pelaksanaannya mudah dan tidak memerlukan alat berat serta dpt diproduksi secara masal;

2. Pemeliharaannya mudah dan dapat dipasang kembali setelah dibongkar; 3. Tahan terhadap beban statis, dinamik dan kejut dan

4. Tahan terhadap tumpahan bahan pelumas dan pemanasan oleh mesin kendaraan.

Kelemahan Paving Block

1. Mudah bergelombang bila pondasinya tidak kuat dan kurang nyaman untuk kendaraan dengan kecepatan tinggi.

2. Sehingga perkerasan paving block sangat cocok untuk mengendalikan kecepatan kendaraan di lingkungan permukiman dan perkotaan yang padat.

Mutunya dan standar yang disyaratkan :

1.mempunyai bentuk yang sempurna,

2.tidak retak-retak dan cacat,

3.bagian sudut dan rusuknya tidak mudah direpihkan dengan kekuatan tangan

Bentuk Dan Ukuran

1. Berdasarkan bentuknya paving block dapat dibedakan menjadi dua yaitu bentuk

segi empat dan segi banyak.

2. Ketebalan 6 cm, 8 cm dan 10 cm,

(28)

4. Toleransi ukuran yang disyaratkan adalah ± 2 mm untuk ukuran lebar bidang dan ±

3 mm untuk tebalnya serta kehilangan berat bila diuji dengan natrium sulfat

maksimum 1%.

13. Ubin PC

Ubin PC adalah jenis bahan bangunan yang terbuat dari adukan pasir dan semen, yang dipakai untuk permukaan lantai. Pembuatannya dengan menggunakan mesin press dan salah satu permukaannya difinishing dengan semen agar halus dan licin. Untuk menentukan mutu ubin ini ada beberapa macam test antara lain;

 Keteguhan kejut.  Lapis Aus.  Kuat tekan.

JENIS UBIN UKURAN JUMLAH/m2 BERAT

Ubin lantai 20 cm x 20 cm 25 buah 0,6 kg

Ubin plint 15 cm x 20 cm 5 buah 0,5 kg

Standar mutu dari ubin jenis ini yaitu :

1. Ketepatan ukurannya. Penyimpangan ukuran tidak lebih 1mm.

2. Penyimpangan kesikuan maks.  ½%.

3. Kerataan permukaan. Penyimpangan kecembungan maks. 0,35% dan penimpangann kelengkungan maks. ),15%.

4. Tidak bernintik berupa lobang jarum. 5. Penyerapan air maks. 20%.

Cara pengujian ubin di lapangan dapat dilakukan dengan cara visual :  Melihat kehalusan permukaannya.

 Mengukur kesikuannya.

 Dan tidak ada kerusakan atau cacat pada permukaan.

Cara penyimpanan harus hati-hati, biasanya dengan memasukkan ke kotak

(29)

14. Ubin Porselen

Ubin porselen terbuat dari jenis tanah liat putih dengan campuran bahan tambahan kaolin, felspar, kwarsa dan talk, melalui proses pembakaran sedemikian rupa, sehingga tidak dapat hancur kembali apabila kembali direndam oleh air.

Selain itu ubin tersebut banyak berbagai ukuran dan corak yang berbeda-beda, sehingga orang cenderung bisa mecari ubin ini dengan selera dan kepuasan penggunanya. Ubin porselen yang baik itu harus halus dan rata permukaannya dan sisinya juga harus saling tegak satu sama lainnya, dan tepinya lurus dan tajam. Dalam pemilihan ubin kita harus benar harus hati-hati dan teliti apabila ubin tersebut mempunyai mutu yang sangat kurang baik.

Bidang patah yang baru dari ubin harus memperlihatkan hasil pembakaran yang rata dan baik, cara penyimpanan ubin ini hampir sama dengan ubin yang lainnya tidak jauh beda dengan memasukan ubin tersebut kedalam kotak disusun dengan rapi dan teratur yang sesuai ukuran agar tetap terjaga keutuhannya.

2.3 Jenis – Jenis Pekerjaan Batu

1. Pondasi

Pondasi adalah suatu bagian dari konstruksi bangunan yang berfungsi untuk menempatkan bangunan dan meneruskan beban yang disalurkan dari struktur atas ke tanah dasar pondasi yang cukup kuat menahannya tanpa terjadinya differential settlement pada sistem strukturnya.

Untuk memilih tipe pondasi yang memadai, perlu diperhatikan apakah pondasi itu cocok untuk berbagai keadaan di lapangan dan apakah pondasi itu memungkinkan untuk diselesaikan secara ekonomis sesuai dengan jadwal kerjanya. Hal-hal berikut perlu dipertimbangkan dalam pemilihan tipe pondasi:

1. Keadaan tanah pondasi

2. Batasan-batasan akibat konstruksi di atasnya (upper structure) 3. Keadaan daerah sekitar lokasi

4. Waktu dan biaya pekerjaan 5. Kokoh, kaku dan kuat

2. Pasangan Batu Bata

(30)

pasangan batu bata yang tidak baik akan menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti dinding retak, dinding bergelombang, dinding miring atau bahkan akibat yang paling fatal adalah kerobohan pasangan dinding batu bata.

Pekerjaan pasangan batu bata biasanya dilanjutkan dengan pekerjaan plesteran, pekerjaan acian, amplas dinding kemudian finishing cat atau wallpaper dinding, jarak antara masing-masing pekerjaan tersebut sebaiknya dilakukan dalam rentang waktu yang cukup sehingga didapatkan hasil pengerasan sempurna dan kualitas pekerjaan pasangan dinding bata yang baik.

3. Pemasangan Ubin Lantai

Bahan keramik banyak digunakan untuk lantai (flooring). Dengan banyak pilihan warna, motif, serta ukuran akan memperindah tampilan ruangan. Untuk memasangya dibutuhkan keahlian dan ketelitian agar mendapatkan hasil yang bagus. Dalam pemasangannya ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, agar pemasangan keramik tepat dan benar.

 Tentukan jenis keramik yang dibutuhkan, misalnya untuk lantai eksterior atau

interior. Pemilihan ini disesuaikan dengan kondisi tempat pemasangannya.  Tentukan luas permukaan yang akan dilapisi keramik, serta bahan

pemasangannya. Keramik yang dibutuhkan dilebihkan sekitar 15% dari luas

ruangan terkukur untuk jenis pemasangan paralel, dan 25% untuk diagonal.  Tentukan warna, ukuran, dan motif keramik.

 Tentukan metode atau cara pemasangan yang akan dilakukan, apakah open join dengan lebar nat >3mm, atau closed join dengan nat kecil < 3mm.

 Tentukan pola pemasangan yang diinginkan, apalah paralel atau diagonal.

Pemasangan secara diagonal akan membutuhkan lebih banyak keramik karena banyaknya keramik yang dipotong pada tepi ruangan.

4. Pemasangan ubin dinding

(31)

Untuk menghindari agar ubin yang sudah menempel tidak jatuh bagian pinggir yang berada di bawah bias diberi dua paku di sebelah kiri dan kanan. Sedangkan bagian nat diberi suatu benda yang bentuknya tipis, misalnya kertas yang dilipat-lipat atau diapit oleh paku kecil yang panjangnya 2 cm.

5. Plesteran

Plesteran adalah suatu lapisan yang biasa di pakai sebagai lapisan penutup pasangan. Jika kita kerucutkan ke pengertian plesteran dinding, maka plesteran merupakan lapisan yang di gunakan untuk penutup pasangan dinding/tembok. Fungsi dari plesteran tembok/dinding antara lain:

 Sebagai pelindung tembok/dinding dari pengaruh cuaca  Menambah kekokohan atau kekuatan dinding/tembok  Meratakan permukaan dinding/tembok

Itu beberapa fungsi atau manfaat dari plesteran dinding/tembok, masih ada manfaat lainnya, tapi tiga poin di atas merupakan fungsi yang bisa di bilang sebagai fungsi pokok. Untuk pasangan plesteran tembok/dinding, ada beberapa syarat, diantaranya adalah:

 Permukaan harus rata dan tegak

 Ketebalan plesteran antara 11 mm - 16 mm  Tidak ada retak-retak pada plesteran

6. Pemasangan Paving Block

Pekerjaan pemasangan paving block merupakan salah satu dari pekerjaan

masonry. Pada umumnya pemasangan paving block ini sama halnya dengan

pemasangan ubin. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan paving block, antara lain :

 Permukaan yang akan dipasang paving block harus rata dan padat.  Permukaan yang akan dipasang paving block harus terlebih dahulu  dihamparkan pasir yang padat dengan dipadatkan menggunakan mesin  pemadat.

(32)

Kombinasi antara pola pemasangan, bentuk, mutu, tebal dan pola

pemasangannya dapat dilihat pada Tabel 2. Pemasangan paving block dapat dibuat

mosaik dengan kombinasi warna sesuai estetika yang dirancang, dapat berupa logo,

tulisan dan batasan area parkir atau penunjuk arah pada suatu daerah pemukiman.

Tabel 2. Kombinasi Mutu, Bentuk, Tebal dan Pola Pemasangan Paving Block.

No. Penggunaan Kombinasi Kombinasi Kombinasi Kombinasi

Kelas Bentuk Tebal

Catatan Pola : SB = Susun Bata; AT = Anyaman Tikar; TI = Tulang Ikan.Kombinasi Pola

Pemasangan Paving Block

2.4 Ikatan / Pasangan Bata

Yang dimaksud dengan ikatan/pasangan bata adalah susunan beberapa buah bata yang disusun secara vertikal dan dibentuk sedemikian rupa sehingga tidak ada siar tegak yang membentuk garis lurus dengan bahan perekatnya yaitu adukan.

Ikatan bata ½ bt, yaitu dimana tebal pasangan sama dengan lebar bata yang

digunakan.

Ikatan bata 1 bt, yaitu dimana tebal pasangan sama dengan panjang bata yang

digunakan

Ikatan bata 1½ bt, yaitu dimana tebal pasangan sama dengan 3 lebar bata + 2 tebal siar atau 1 panjang bata + 1 lebar bata + 1 tebal siar.

(33)

 Ikatan Belanda/Jerman 1 bt (Dutch bond)  Ikatan Inggris 1 bt (English bond)

 Ikatan Kepala 1 bt (Header bond)  Ikatan Flemish 1 bt (Flemish bond)

 Pilar atau pertebalan (Pilaster) 1 bt, 1½ bt, 2 bt.  Rollag lurus dan lengkung.

1. Ikatan Biasa ½ bt (Strecher bond)

Bata dipasang memanjang pada tiap lapisnya dan biasanya tebal dinding 20 cm (sudah diplester). Pemasangan batu bata terakhir dipasang ½ batu dan pada lapisan kedua diatas bata ½ batu, dipasang batu utuh sehingga menjadikan siar tegak tidak sejajar dan merupakan zig – zag.

Tampak atas lapis 1,3,5 dst.

Tampak atas lapis 2,4,6 dst. 2. Ikatan Belanda/Jerman 1 bt (Dutch bond)

Ikatan jerman ini adalah tipe yang hampir sama dengan ikatan inggris, dimana bata dipasang berselang – seling tiap lapis antar bata memanjang bata melintang tetapi disini tidak ada bata ¼ dipasang. Setiap lapisan bata yang memanjang diawali dengan pasangan ¾ bata dan diikuti oleh sebuah bata melintang, dan seterusnya dipasang bata biasa saja, siar tegak disini merupakan tangga. Biasanya ikatan ini digunakan untuk dinding yang tebalnya 30

Tampak Depan

(34)

Tampak Depan

3. Ikatan Inggris 1 bt (English bond)

Pada lapisan inggris, lapisan pertama bata dipasang secara memanjang, lalu lapisan selanjutnya bata dipasang melintang dan pada setiap kedua dari ujung pasangan dipasang bata ¼.

Lapis 1,3,5 dst

Lapis 2,4,6 dst

Tampak Depan

Lapis 1,3,5 dst.

(35)

4. Ikatan Kepala 1 bt (Header bond)

Ikatan ini digunakan untuk dinding yang tebalnya 30 cm atau 1 batu. Bata dipasang melintang semua dan setiap satu lapis awal pemasangan dimulai dengan bata ¾ . Jenis ikatan ini digunakan pada dinding sebelah bawah, dinding yang melengkung dan pondasi.

5. Ikatan Flemish 1 bt (Flemish bond)

Ikatan Flemish adalah ikatan yang memanjang dan melintang selang-seling dalam satu lapis. Antara setiap lapis dipasang ¼ bata untuk memenuhkan bata dan membuat siar tegak tidak segaris. Jenis ikatan digunakan pada dindingyang tebalnya 30 cm dan biasanya untuk pasangan super bata yang bersih tanpa

plesteran.Pada lapisan keempat, setelah dipasang memanjang diikuti oleh bata ½yang dipasang melintang. Untuk lapisan satu sama dengan lapisan tiga yaitu bata½ batu yang dipasang melintang. Ikatan ini digunakan untuk dinding yang tebalnya 30 cm dan biasanya merupakan pasangan batu bersih.

Tampak Depan

Lapis 1,3,5 dst.

Lapis 2,4,6 dst.

(36)

6. Pilar atau pertebalan (Pilaster)

Pilar/pertebalan/pilaster adalah suatu konstruksi ikatan atau pasangan bata yang berfungsi sebagai penguat pasangan bata atau sebagai penopang/tiang. Penguatan dimaksudkan mempertebal tembok ditempat-tempat tertentu agar lebih kuat untuk menahan beban atau getaran dari luar. Penguatan ini biasanya dilakukan pada tembok dengan tebal lapisan ½ bata seperti pada tembok rumah, pagar halaman, dan pada tembok dipinggir jalan yang sering dilalui oleh kendaraan.

Lapis 1,3,5 dst

(37)

7. Rollag

Rollag adalah ikatan/pasangan bata, dimana peletakkan atau pemasangan batanya dengan posisi berdiri.

Rollag terdiri dari : a. Rollag Lengkung :

 Segmen tunggal  Segmen ganda  Setengah lingkaran  Ellips

b. Rollag Lurus

(38)

2.5 Perhitungan Kebutuhan Bahan

Perhitungan bahan dalam suatu pekerjaan merupakan hal yang cukup penting. Untuk itu di sini diberikan contoh perhitungan kebutuhan bahan. Walaupun sebenarnya untuk menghitung kebutuhan bahan ini adalah orang yang ditugaskan khusus, tapi hal ini diperuntukkan, jika peserta atau mahasiswa diminta untuk menghitung kebutuhan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan kerja batu.

Untuk itu ada beberapa hal yang harus diingat, sebelum melakukan perhitungan jumlah kebutuhan bahan, yaitu :

 1 m3 pasangan pondasi batu belah memerlukan ± 1,20 m3 batu belah  1 m3 pasangan pondasi batu belah memerlukan ± 0,45 m3 adukan  1 m2 pasangan bata dengan ikatan ½ bt diperlukan ± 68 bh bata merah  1 m2 pasangan bata dengan ikatan 1 bt diperlukan ± 130 bh bata merah  1 m3 pasangan bata ± 0,35 m3 adukan

 1 m3 PC (semen) akan menghasilkan = 0,76 PC padat basah spesi  1 m3 kapur akan menghasilkan = 0,55 kapur padat basah spesi  1 m3 pasir akan menghasilkan = 0,675 pasir padat basah spesi

 1 zak PC (semen) = 50 kg = 40 liter

Contoh Perhitungan : Misal diketahui :

 Panjang pondasi batu belah = 75 meter  Komposisi adukan pondasi = 1 PC : 3 Psr

(39)

 Panjang pasangan = 50 meter Tinggi pasangan = 3 meter Tebal pasangan = 12 cm Komposisi adukan pas. bata 1 PC : 4 Psr

 Pasangan bata diplester bagian luar dan dalam dengan ketebalan rata-rata = 1,5 cm

Komposisi adukan plesteran ½ Kp : 1PC : 5 Psr.

 Serta plesteran tersebut di-finishing (diaci) dengan tebal rata-rata = 2 mm \

Ditanyakan :

Berapa kebutuhan masing-masing bahan :

 Batu belah = ………. m3

 Bata merah = ………. Buah

 PC (semen) = ………. Zak

 Pasir = ………. m3

 Kapur = ………. m3

25 cm

125 cm

20 cm

75 cm

(40)
(41)

5Psr = 5 x 0,675 = 3,375

Jadi kebutuhan bahan untuk pekerjaan seperti pada soal di atas, adalah :

No Jenis

(42)

PELAKSANAAN PRAKTIKUM KERJA BATU (MASONRY)

Praktikum adalah kegiatan terstruktur dan terjadwal yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman nyata serta menguasai keterampilan tertentu yang berkaitan dengan suatu matakuliah yang dijalaninya dalam rangka meningkatkan pemahaman tentang teori yang telah didapat sebelumnya. Melalui praktek kita dapat mengetahui keadaan-keadaan yang ada di lapangan. Pelaksanaan praktikum kerja batu sangat penting dan memiliki manfaat yang besar, diantaranya kita dapat mengatahui bagaimana cara pemasangan bata, plesteran, pemasangan ubin dinding, serta pemasangan bata berongga dan rooster secara baik dan benar. Selain itu kita dapat mengetahui

kesalahan-kesalahan yang terjadi dilapangan dan mendapatkan cara untuk mengantisipasinya.

Pelaksanaan praktikum konstruksi batu ini dilaksanakan di laboratorium konstruksi atau bengkel batu teknik sipil Politeknik Negeri Bandung. Di dalam praktikum ini kita mempraktekan pekerjaan – pekerjaan tukang namun dengan teknik dan cara yang benar sesuai dengan yang diinstruksikan agar mendapatkan hasil yang baik.

3.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang memproteksi

pekerja, lingkungan kerja, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja seperti memberikan pertolongan dalam suatu bahaya kecelakaan atau insiden, menghindari suatu bahaya atau kecelakaan sebelum terjadi, bahkan meniadakan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Dalam kerja batu ini, keselamatan dan kesehatan kerja yang dapat dilakukan agar tidak terjadi kecelakaan diantaranya :

1. Menempatkan peralatan yang tajam seperti sendok spesi, line bobbyn, palu pemotong bata, ditempat yang mudah terlihat dan mudah dijangkau.

2. Tidak meletakkan alat-alat yang berat lebih tinggi dari kepala kita.

3. Memakai pakaian kerja yang lengkap dan alat pelindung diri (ADP) lainya seperti : a. Pelindung kepala (Helm Proyek)

b. Pelindung kaki (safety shoes)

(43)

e. Sarung tangan

4. Berkonsentrasi dalam bekerja. 5. Menyediakan kotak P3K.

(44)

3.2 Pasangan Bata Ikatan Biasa ½ Bata Dengan Belokan Tujuan Instruksional Khusus

Dalam pekerjaan ini mahasiswa akan diberikan seperangkat alat kerja batu

dengan jumlah sesuai yang dibutuhkan, maka mahasiswa dapat :

a. Mengatur posisi kotak spesi, batu bata dan tempat bekerja sesuai lay out dengan

baik dan benar.

b. Memasang bentangan tembok ½ bata seperti gambar kerja dengan teknik yang baik dan benar.

c. Mengukur kedataran dan ketegakan pasangan ½ menggunakan waterpass. d. Memotong bata menggunakan mesin pemotong bata.

e. Membuat sudut siku pada posisi belokan pasangan bata menggunakan alat yang telah diberikan.

f. Memasang bata pada sudut pertemuan secara siku.

g. Memelihara kebersihan lokasi kerja selama bekerja hingga selesai. h. Memperhatikan ketegakan, kedataran dan kesikuan pasangan bata.

(45)

Langkah Kerja Persiapan :

a. Persiapkan alat – alat dan bahan sesuai dengan kebutuhan kemudian letakan

sesuai dengan lay out yang telah dibuat.

gambar penempatan alat dan bahan

b. Gambarkan pada lantai bentuk pasangan bata yang akan dibuat

c. Taruh dan susun bata tanpa spesi sesuai gambar sebagai patokan pasangan pada awal dan akhir pasangan.

d. Buatlah adukan sesuai takaran yang telah ditentukan oleh instruktur.

± 70 cm Kotak spesi

(46)

Pemasangan :

a. Pasanglah dead-man menggunakan adukan yang telah dibuat dengan jarak 15 cm pada awal dan akhir pasangan dan periksa kedatarannya dengan

menggunakan waterpas.

b. Pasanglah line bobbyn dengan benang yang kencang membentang dari dead-man awal sampai dead-dead-man akhir, pastikan line bobbyn tersebut datar dan rata.

(47)

d. Buka line bobbyn yang telah dipasang pada dead-man lalu pindahkan ke bata yang dipasang diawal dan diakhir pasangan bata yang telah direncanakan.

(48)

f. Buka kembali line bobbyn dari pasangan bata lapisan pertama.

g. Untuk lapisan kedua dimulai dengan pemasangan bata secara memanjang pada pinggir pasangan bata diawal dan diakhir. Lihat kedataran serta ketegakan bata yang dipasang menggunakan waterpass, untuk melihat kedataran bata yang berada dimasing-masing ujung simpan tongkat ukur diatasnya kemudian lihat kedataran menggunakan waterpass. Setelah selesai pasang kembali line bobbyn pada masing-masing ujung bata. Susun bata yang lain sehingga berselang-seling dengan lapisan bata pertama.

(49)
(50)

j. Lapor dan periksakan kepada instruktur atau pengawas lapangan, bahwa pekerjaan siap dievaluasi.

3.3Plesteran Dinding

Tujuan Instruksional Khusus

Plesteran dinding merupakan pekerjaan batu yang dilakukan setelah pasangan bata selesai. Setelah praktikum ini selesai, diharapkan mahasiswa dapat:

a. Mengetahui fungsi dari plesteran.

b. Memplester dinding dengan tekhnik yang benar.

c. Mengetahui faktor-faktor penyebab keretakan pada plesteran dinding.

d. Melakukan perawatan dinding yang sudah di plester agar dinding tidak mudah retak.

Peralatan dan Bahan Peralatan :

(51)

2. Skop

Bahan yang diginakan pada praktikum ini adalah : 1. Pasir

2. Kapur

3. Air

Langkah Kerja Persiapan :

a. Sebelum melakukan pekerjaan plesteran, dinding diperiksa terlebih dahulu kedataran dan ketegakan bidang yang akan diplester.

b. Permukaan dinding yang akan diplester dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan sikat kawat bila ada lumut atau kotoran yang menempel agar adukan dapat menempel dengan baik. Tetapi pada praktikum di lab. Kontruksi sikat kawat tidak dipergunakan, karena dinding masih bersih. c. Jika permukaan dinding terlalu kering, maka dapat disiram ( diperciki )

dengan air untuk melembabkannya. Hal ini dilakukan agar daya ikat antara dinding dengan plesteran menjadi sempurna. Berbeda apabila dinding terbuat dari batako tidak perlu disiram agar tidak menyulitkan pada waktu

penempelan adukan, sebab permukaan dinding tidak mempunyai daya serap yang tinggi.

d. Periksa peralatan dan bahan yang akan diperlukan dalam pekerjaan plesteran.

Pelaksanaan pesteran :

a. Buatlah adukan untuk lapisan dasar (slorry coat) dengan komposisi 4 pasir : 1 kapur, dicampur air yang banyak sampai encer seperti bubur.

(52)

c. Lontarkan adukan ke dinding dengan gaya for hand atau back hand dengan cara dikamprotkan. Lakukan sampai seluruh permukaan tertutupi merata

dengan slorry coat tadi, namun jangan sampai terlalu tebal karena akan membuat plesteran akan lebih tebal sehingga pesteran mudah retak.

d. Buat adukan untuk lapisan kedua dengan komposisi yang sama tetapi lebih kental, homogen, dan lecak sama seperti untuk membuat adukan spesi pada pekerjaan pemasangan batu bata.

e. Buat titik – titik plesteran pada sisi atas dan bawah dengan jarak ± 10 cm dari

sisi paling kiri atau paling kanan permukaan dinding dan 5 cm dari sisi paling atas atau bawah permukaan dinding.

(53)

g. Lakukan langkah ‘d’ pada sisi yang lainya, dan bagian tengah permukaan batu bata, dan ukur ketegakan dan kerataan ketiga titik plesteran tersebut.

h. Buat kepala plesteran dengan mengisi adukan antara titik bagian atas dan bagian bawah kemudian iris dengan jidar, dengan pedoman pada ketebalan

triplek yang dipasang tadi.

i. Lakukan kembali pada bagian sisi yang lain dan bagian tengah. Ukur dengan water pas ketiga titik paling atas dan bawah sehingga memiliki ketegakan

(54)

j. Setelah semua kepala plesteran selesai dibuat, tempelkan adukan dengan cara dilontarkan kedinding dimulai dari bagian bawah sampai keatas sampai penuh dan rata, kemudian iris dengan mengunakan jidar kearah kiri – kanan sambil didorong ke atas.

k. Setelah penuh, ratakan dengan ruskam.

l. Karena masih ada yang kosong pada bagian – bagian pinggir, pertama lakukan pada bagian atas terlerbih dahulu. Letakkan jidar pada bagian atas pasangan bata setebal plesteran yang tadi dibuat dan ukur ketegakannya menggunakan waterpass. Tahan dengan batu bata merah agar tetap pada posisi yang sudah ditentukan. Isi bagian atas yang belum diisi tadi secara

penuh, dan ratakan dengan ruskam.

(55)

n. Pasang jidar pada bagian pinggir pasangan bata yang belum di isi plesteran, dan tegakkan menggunakan waterpass, kemudian isi bagian yang masih kosong. Ratakan denga ruskam.

o. Setelah bagaian depan sudah rapih, penuh, tegak dan rata dengan plesteran, lakukan plesteran pada bagian samping. Pasang jidar di bagian sisi pasangan bata yang tadi, tahan dengan batu bata. Lontarkan adukan sampai penuh, lalu ratakan dengan ruskam.

Tampak samping

(56)

q. Jika dinding yang diplester terkena matahari secara langsung, maka perlu dijaga agar air tidak terjadi penguapan terlalu drastis yang akan mengakibatkan retak (cracking) pada plesteran tersebut. Untuk mencegah hal ini tutup pekerjaan dengan menggunakan terpal atau plastik.

(57)

3.3 Pasangan Ubin Dinding

Tujuan Instruksional Khusus

Pekerjaan ubin dinding dilaksanakan setelah pekerjaan plesteran benar-benar selsai dan rapi. Setelah dilaksanakan pekerjaan ubin dinding diharapkan

mahasiswa dapat:

1. Memasang ubin dinding dengan benar.

2. Mengetahui fungsi dari pemasangan ubin dinding. 3. Mengukur kedataran menggunakan waterpass.

4. Menghitung jumlah ubin dinding dan adukan yang diperlukan untuk pemasangan ubin dinding per meter persegi.

Peralatan dan Bahan

a. Sebelum memasang ubin dinding, sebaiknya permukaan dinding yang akan dipasangi ubin dinding dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan sikat, akan tetapi pada praktikum yang kami lakukan tidak disikat terlebih dahulu karena dindingnya masih terlihat bersih.

(58)

c. Periksa kedataran plesteran yang akan dipasang ubin dinding. Apabila ada permukaan yang cekung, maka dalam pemasangannya diberi spesi lebih banyak agar kedatarannya sama dengan bagian lain.

d. Ambil ketegaklurusan dinding dengan jarak ±10 cm dari pinggir tembok menggunakan waterpass lalu psang dua buah paku. Paku pertama dipasang dengan jarak ±3 cm dari bawah dan paku kedua dipasang dengan jarak ± 10 cm dari atas.

e. Tarik benang dari paku pertama sampai paku kedua sebagai pedoman pemasangan ubin dinding pada bagian paling pinggir.

(59)

g. Tarik benang dari paku ketiga sampai paku keempat sebagai pedoman pemasangan ubin dinding pada bagian bawah.

h. Pemasangan dimulai dengan arah vertikal dari benang yang membentuk sudut siku-siku. Ambil spesi menggunakan skrap spesi kemudian tempelkan pada permukaan dinding dimulai dari bawah dan tarik tarik keatas sampai adukan menempel pada dinding. Spesi yang ditemelkan harus cukup untuk pemasangan satu ubin dinding.

i. Ambil sebuah ubin lalu tempelkan pada lapisan spesi sehingga ubin yang ditempelkan harus lurus dengan benang yang dijadikan sebagai pedoman.

(60)

k. Tempelkan kembali spesi diatas ubin pertama, pasangakan ubin kedua dan tidak lupa pasang paku ukuran 2 cm diatasnya. Lakukan hal tersebut sampai pemasangan ubin ke empat arah vertikal. Cek kerataan setiap pemasangan antar ubin menggunakan waterpass.

l. Pemasangan jalur kedua adalah arah horizontal dimulai dari ubin pertama. Setiap pemasangan ubin dibatasi oleh dua buah paku ukuran 2 cm disampingnya agar mempunyai jarak siar yang sama dan tidak lupa untuk pemasangan arah horizontal setiap ubin dipasang dua buah paku dibawahnya agar tidak bergeser.

m. Pemasangan ubin arah horizontal dilakukan sampai pemasangan ubin kelima.

n. Jika pemasangan ubin arah vertikal dan horizontal telah selesai, pasanglah ubin ditasnya sehingga terbentuk pasangan ubin dinding 5x4 ubin secara penuh.

(61)
(62)

3.4 Pasangan ½ Batu Super Bata Dengan Lubang Dan Rooster Tujuan Instruksional Khusus

Pada pekerjaan ini mahasiswa akan diberikan alat kerja batu sesuai dengan fungsinya serta dengan jumlah yang dibutuhkan, dengan demikan

mahasiswa dapat:

1. Mengatur kotak spesi, batu bata, dan tempat bekerja sesuai lay out.

2. Memasang bentangan tembok ½ bata dan membuat lubang pada pasangan bata menggunakan super bata.

3. Mengukur kedataran dan ketegakan pasangan ½ bata dengan waterpass. 4. Memotong bata menggunakan mesin pemotong bata.

5. Membuat siar pasangan super bata dan bata rooster dengan mengunakan

bahan sesuai dengan lay out.

(63)

c. Ukur panjang pasangan bata ikatan biasa menggunakan meteran lalu pasang bata super di titik tengahnya, tempatkan bata super disampingnya sampai diketahui posisi bata super yang paling pinggir.

Tampak atas

d. Ambil spesi untuk meletakan bata super yang paling pinggir lalu lihat kerataan dan ketegakannya menggunakan waterpass.

e. Pasang pula bata super disisi lain, lihat ketegakan dan kedatarannya

menggunkan waterpass serta lihat kedatarannya dengan bata super lain menggunakan tongkat ukur yang diatasnya di simpan waterpass.

f. Pasang line bobbyn pada kedua bata super dengan kencang.

(64)

h. Gunakan jointer untuk meratakan siar tegak dan siar datar pasangan bata lapis pertama.

i. Untuk lapis kedua sama halnya dengan lapis pertama akan tetapi bata yang dipasang paling pinggir menggunakan bata ukuran setengah bata. Pasang line bobbyn lalu pasangkan bata lapisan kedua sampai penuh.

(65)

k. Untuk lapis ke-enam, dibagian tengah dipasang bata super yang telah dipotong sisinya dengan sudut 45o dan disamping bata tersebut dipasang bata super yang telah dipotong ukuran setengah bata ditambah potongan miring sebesar 45o.

l. Pasang bata rooster untuk lapisan ke-tujuh dan ke-delapan, siar tegak diantar lapisan ini dibuat sejajar.

m. Ratakan semua siar yang ada menggunakan jointer dan bersihkan bata super serta rooster menggunakn majun.

Gambar

Tabel 2. Kombinasi Mutu, Bentuk, Tebal dan Pola Pemasangan Paving Block.
gambar penempatan alat dan bahan

Referensi

Dokumen terkait