• Tidak ada hasil yang ditemukan

EMPAT GOLONGAN PENTING CENDAWAN DAN JENI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EMPAT GOLONGAN PENTING CENDAWAN DAN JENI"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo

POPT Ahli Pertama, Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo, Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian. Email : [email protected]

ABSTRAK

Makhluk hidup ini tidak memiliki pigmen klorofil untuk berfotosintesis sehingga cendawan menjadi saprofit atau parasit. Cendawan ada yang hanya satu sel dan ada yang terdiri banyak sel yang bentuknya seperti benang halus (hifa). Hifa itu ada yang bersekat dan ada yang tidak bersekat. Kumpulan dari hifa disebut miselium. Perkembangbiakan ini terjadi dengan adanya penggabungan antara sel kelamin jantan dan sel kelamin betina yang akan membentuk spora, dimana spora tersebut akan membentuk miselium pada keadaan temperatur, kelembapan dan inang yang cocok. Perkembangbiakan secara ini dilakukan tanpa penggabungan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina, akan tetapi dengan pembentukan spora atau vegetatif yaitu hifa atau miselium akan diputus yang kemudian bisa dikembang biakkan lagi. Dari hifa akan tumbuh banyak spora. Cendawan ada yang merugikan dan ada yang menguntungkan. Cendawan yang menguntukan pada umumnya cendawan yang bisa dimakan, sedangkan cendawan yang merugikan umumnya cendawan yang menyebabkan penyakit pada tanaman. Klasifikasi cendawan dibagi dalam empat kelas yang penting yakni Phycomycetes; Ascomycetes; Basidiomycetes dan Fungi Imperfekti

(2)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 2

BAB. I

PENDAHULUAN

Cendawan termasuk dalam Thallophita. Makhluk hidup ini tidak memiliki pigmen

klorofil untuk berfotosintesis sehingga cendawan menjadi saprofit atau parasit. Cendawan

ada yang hanya satu sel dan ada yang terdiri banyak sel yang bentuknya seperti benang

halus (hifa). Hifa itu ada yang bersekat dan ada yang tidak bersekat. Kumpulan dari hifa

disebut miselium. Hifa tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi harus dengan

mikroskop. Namun miselium dapat dilihat dengan mata biasa tanpa menggunakan

mikroskop atau alat bantu pembesaran.

Miselium dari cendawan parasit bisa tumbuh diatas permukaan atau didalam

tubuh inangnya. Miselium yang dipermukaan inang biasanya berwarna agak keputihan

halus, menyerupai benang-benang hitam, atau benang-benang coklat membuat jalinan

yang tidak teratur pada permukaan tubuh inang. Miselium tersebut ada yang masuk ke

dalam sel, tetapi ada juga yang hanya berada di ruangan antara sel-sel. Cabang hifa yang

masuk ke dalam inang sel yang berguna untuk mengisap zat makanan dan air disebut

haustarium atau appressorium.

Hifa dari satu miselium kadang berkumpul menjadi satu membentuk ikatan

menyerupai benang berwarna coklat tua, merah kekkuninga, ataupun putih, itulah yang

disebut Rhizomorph. Bentuk Rhizomorph berubah-ubah, bisa bercabang banyak atau

sedikit sering juga bercampuuur membentuk jaringan. Rhizomorph bisa menyimpan bahan

(3)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 3 Kumpulan hifa yang padat dan berisi bahan makanan bebrbentuk mimyak atau

senyawa lain membentuk suatu organ disebut sclerotia. Sclerotia disebut juga organ

penyimpanan makanan, bentuknya bermacam-macam, ada yang silindris, bulat, datar dan

ada pula yang tidak beraturan. Ada yang mudah dilihat dengan mata telanjang ada pula

yang tidak dapat dilihat. Dari segi warna ada yang berwarna coklat tua dan atau hitam.

Dan dapat tahan pada kondisi lingkungan yang kurang baik seperti udara kering,

temperatur sangat tinggi ataupun rendah.

1. PERKEMBANGBIAKAN CENDAWAN

Pada cendawan perkembangbiakan dapat terjadi secara aseksual maupun secara

seksual.

a. Perkembangbiakan Secara Aseksual

Perkembangbiakan secara ini dilakukan tanpa penggabungan sel kelamin jantan

dan sel kelamin betina, akan tetapi dengan pembentukan spora atau vegetatif yaitu hifa

atau miselium akan diputus yang kemudian bisa dikembang biakkan lagi. Dari hifa akan

tumbuh banyak spora.

b. Perkembangbiakan Secara Seksual

Perkembangbiakan ini terjadi dengan adanya penggabungan antara sel kelamin

jantan dan sel kelamin betina yang akan membentuk spora, dimana spora tersebut

akan membentuk miselium pada keadaan temperatur, kelembapan dan inang yang

cocok. Spora bisa terbentuk dengan berbagai macam cara dianataranya,

1. Konidia yaitu spora aseksual yang dibentuk dari ujung hifa. Ujung cabang hifa

yang ada konidianya disebut konidiafora.

(4)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 4 3. Zoospora atau spora yang bisa bergerak, terdiri dari massa protoplasma yang bisa

bergerak terdiri dari massa protoplasma yang telanjang dan mempunyai bulu-bulu

halus yang bisa bergetar sehhingga bisa berenang yang disebut cilia.

4. Askospora, spora ini dihaslkan dari penggabungan sel kelamin jantan dan betina

yang berkembang dalam suatu alat seperti kantung yang disebut ascus.

5. Basidiospors merupakan spora pada Basidimycetes

6. Zygospora merupakan spora yang terbentuk dari penggabungan dua sel yang

mirip atau gamet.

7. Oospora yaitu spora yang dibentuk dengan cara penggabungan gamet betina

(5)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 5

BAB II

KLASIFIKASI CENDAWAN

Klasifikas cendawan dibagi dalam empat golongan yang penting yaitu

Phcomycetes; Ascomycetes; Basidiomycetes dan Fungi Imperfekti. Sebagian cendawan

ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Umumnya cendawan yang

menguntungkan adalah cendawan yang bisa dimakan, berikut cendawan yang

menguntungkan : Volvaria volvaceae atau jamur Merang yang enak dimakan; Monilia

stiophila (jamur oncom merah); Rhizophus oryzae (jamur tempe); Sacharomyces

cerevisiae yaitu cendawan yang bisa mengubah tepung menjadi gula.

Cendawan yang merugikan umumnya adalah cendawan yang menyebabkan

penyakit pada tanaman, yaitu :

1. Phytopthora parsitica menyebabkan penyakit blendok pada pohon jeruk;

2. Corticium salmonicolor penyebab penyakit jamur upas pada tanaman karet dan jeruk.

3. Helminthosporium oryzae merupakan penyakit bercak coklat pada tanaman jagung.

(6)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 6 BAB II

JENIS PENYAKIT CENDAWAN

1. GOLONGAN PHYCOMYCETES

Adapun ciri dari cendawan golongan Phycomycetes yaitu hifanya tidak bersekat.

Berikut jenis penyakit yang disebabkan oleh kelompok Phycomycetes :

a. Penyakit Bulai Pada Jagung

 Cendawan Penyebabnya : Sclerospora sp

Gambar 1 : Cendawan Sclerospora maydis

 Gejala Serangan : menyerang daun, daun yang terinfeksi mejadi bergaris-garis

putih kekuningan. Jika yang terserang adalah tanaman yang baru tumbuh,

daunnya akan menjadi putih dan akhirnya mati dan jika yang diserang adalah

tanaman yang sudah berumur beberapa minggu maka daunnya akan tampak

menguning dan bagi daun yang baru muncul akan menjadi kaku dan

mneruncing. Pada bagian sisi bawah daun akan ada seperti tepung berwarna

(7)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 7 diperhatikan permukaan daun yang terserang tampak seperti ada

rambut-rambut halus yang banyak dan membentuk seperti lapisan bulu tipis berwarna

putih.

b

Gambar 2 : Gejala Serangan Sclerospora maydis

 Tindakan Pengendalian : sebaik tidak menanam jagung pada saat musim

hujan tiba. Jika tanaman mulai terserang pada saat musim hujan, sebaiknya

tanaman dicabut. Rotasi tanaman, penanaman jenis yang resisten dan

(8)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 8 b. Penyakit Akar Gada Pada Kubis

 Cendawan Penyebabnya : Plasmodiophora brassicae Wor

Gambar 3 : Cendawan Plasmodiophora brassicae Wor

 Gejala Serangan : cendawan ini menyerang akar pada tanaman kol, sawi dan

semua yang termasuk dalam famili Cruciferae. Gejala yang timbul akar akan

kelihatan bengkak yang disebabkan oleh terinfeksi akibat masuknya spora

kedalam bulu akar. Spora tersebut akan berkembang biak dan pada akar akan

terjadi pembelahan dengan cara pembesarn sel sehingga timbul bisul-bisul

yang tidak teratur dan pada akhirnya seluruh akar akan membesar yang

menghambat pertumbuhan karena jaringan pengangkut air terganggu. Aliran

air ke seluruh tubuh tanaman menjadi berkurang sehingga pada siang hari

tanaman tampak layu tetapi segar kembali jika petang tiba. Tanaman menjadi

kerdil, daunnya tidak segar berwarna keabu-abuan.

(9)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 9

 Tindakan Pengendalian : hindari penanaman pada musim hujan, krena hujan

dapat mengakibatkan tanah menjadi basah. Hindari menanam pada lahan atau

tanah yang asam, karena dapat merangsang pertumbuhan cendawan semakin

cepat. Jika hendak menanam pada tanah asam, maka tanah terlebih dahulu

dijadikan tanah basa dengan cara memberikan kapur pertanian sampa PH

lebih kurang dari 7,2. Tidak menanam jenis kol atau yang tergolong crucifera

selama kurang lebih 6 tahun berturut-turut, karena patogen bisa hidup dalam

tanah 3-6 tahun, maka rotasi tanaman sangat disarankan. Penanaman jenis

yang tahan serta kebersihan dan drainase lahan wajib diperhatikan.

c. Penyakit Blendok Pada Tanaman jeruk

d. Penyakit Blendok Pada Tanaman jeruk

 Cendawan Penyebab : Phytophthora parasitica Dastur

Gambar 5 : Cendawan Phytophthora parasitica Dastur

 Gejala Serangan : Penyakit blendok banyak menyerang jeruk, jeruk nipis, jeruk

(10)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 10 mempunyai tanaman inang yaitu pada nanas, tanaman lada, pohon kina dan

juga tembakau. Gejala ditandai pada bagian pangkal batang terdapat

bercak-bercak basah, tanaman yang sakit biasanya mengalami klorosis, kulit mulai

mngeriput, membusuk dan retak-retak. Serangan yang melingkar pada batang

dapat menyebabkan kematian pada tanaman yang sebelumnya ditandai

dengan jumlah daun dan buahnya menjadi sedikit dan kecil, ranting dan

cabang mulai mati.

Gambar 6 : Gejala Serangan Phytophthora parasitica Dastur

 Tindakan Pengendalian : sebaiknya lahan diberi drainase yang baik. Jika

hendak menanam, maka tanaman ditanam pada tanah yang telah ditinggikan

lebih dulu. Tanaman yang terserang, sebaiknya bagian yang terserang

(11)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 11 2. GOLONGAN ASCOMYCETES

Cendawan golongan ini memiliki ciri hifa bersekat dan membentuk spora (askospora).

Sporanya ada yang berjumlah 8, kadang 2 bahkan 16 yang terbentuk dalam satu sel

khusus yang disebut ascus yang berbentuk seperti gada. Adapun jenis penyakit yang

disebabkan oleh kelompok Ascomycetes sebagai berikut :

a. Cendawan Hijau atau Kuning Pada Tanaman Padi

 Cendawan Penyebab : Ustilaginoidea virens (Cke) Takahashi

Gambar 7 : Cendawan Ustilaginoidea virens (Cke) Takahashi

 Gejala Serangan : cendawan ini biasa juga disebut cendawan bercak hitam

palsu yang menyerang tanaman padi dan jagung. Umumnya cendawan ini

tidak merugikan, akan tetapi bila tidak dikendalikan juga akan merugikan.

Cendawan ini mula-mula berkembang pada kulit luar dan mengisap

endosperma padi, lalu membentuk selerotium yang cukup besar dan selerotium

keluar dari sekam dan berwarna kuning emas atau hijau. Dalam satu malai,

umum ada beberapa biji (gabah) yang terserang. Lebar selerotia 5 mm dan

(12)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 12 l

Gambar 8 : Gejala Serangan Cendawan Ustilaginoidea virens (Cke) Takahashi

 Tindakan Pengendalian : Jika tanaman pada padi khususnya terserang

cendawan tersebut maka tindakan pengendaliannya cukup mudah yakni

dengan memotong bagian butir-butir pad yang terserang, hal ini bertujuan

untuk mencegah menularnya penyakit tersebut ketempat lain.

b. Embun Tepung Apel

 Cendawan Penyebab : Podosphaera leucotricha (E. And E.) Salm.

(13)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 13

 Gejala Serangan : Cendawan ini menyerang tunas muda dan dau pada tanaman

apel. Daun yang terserang akan tampak seperti tertutup tepung berwarna putih.

Cendawan parasit ini menginfeksi dengan cara hidup diluar atau di atas

permukaan inang. Alat penghisapnya (haustoria) akan menembus kutikula dan

masuk ke dalam sel untuk menghisap zat makanan. Permukaan daun yang

terserang terdapat bercak berwarna putih atau abu-abu. Bercak tersebut sangat

cepat menyebar sehingga permukaan daun akan nampak seperti tertutupi lapisan

tepung. Apabila tingkat serangan tinggi maka daun akan mengecil, keras, rapuh,

melipat memanjang dan mati. Begitu pada bagian ranting, bunga dan buah yang

muda. Ujung ranting akan mati dan kerdil. Sementara bunga yang terserang tidak

akan menjadi buah, keriput dan lama-kelamaan rontok, sedangkan pada buah

yang masih muda akan menjadi kerdil dan mengisut.

(14)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 14

 Tindakan Pengendalian : pada bagian tanaman yang terserang sebaiknya

dipotong lalu dibakar guna mencegah tersebar ke tempat lain. Memperhatikan

unsur hara tanaman, diberi pupuk hingga semua unsur hara tercukupi.

Tanaman disemprot fungisida yang mengandung belerang bila perlu.

c. Penyakit Roboh Selada

 Cendawan Penyebab : Selerotinia selerotiorium (Lib) Sacc.et Trott Selerotinia minor Jagger

 Gejala Serangan : Penyakit yang disebabkan oleh cendawan ini bisa

menimbulkan kerugian yang besar. Tidak hanya menyerang selada tetapi juga

tembakau, bunga matahari dan tanaman lainnya yang berbatang lunak.

Cendawan ini menyerang daun tanaman dengan gejala terdapat bercak-bercak

kecoklatan atau hijau pucat dan berlendir, daun nampak terkulai atau rontok.

Sedangkan pada batang juga terdapat becak lunak yang penyebarannya

semakin keatas semakin besar, batang akan lunak dan busuk, lama kelamaan

tanaman akan roboh.

(15)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 15

 Tindakan Pengendalian : Pada saat hendak menanam tanah digemburkan

terlebh dahulu agar permukaannya menjadi kering. Rotasi tanaman dilakukan

selama 2-3 tahin karena selerotia dapat tahan hidup dalam tanah selama

beberapa tahun. Bagian tanaman yang telah terserang segera dicabut

kemudian dibakar, hal ini bertujuan untuk meminimkan terjadinya penularan ke

tanaman yang lain.

3. GOLONGAN BASIDIOMYCETES

Ada dua golongan cendawan yang termasuk golongan Basidiomycetes yaitu golongan

yang menguntung dan golongan merugikan. Rhizophus oryzae (jamur tempe) adalah

golongan yang menguntungkan, selanjutnya ada jamur Saccharromyces cerevisiae

yakni jamur yang mengbah pati menajdi gula lalu mengubahnya lagi menjadi alkoho

dan juga jamur Vulavria volvaceae (jamur merang). Sedangkan golongan yang

merugikan misalnya Phytophthora infestans, Helminthosporium oryzae, Diplodia

natalensis dan masih banyak lagi Adapun jenis penyakit yang disebabkan oleh

golongan Basiodiomycetes adalah sebagai berikut :

a. Penyakit Karat

 Cendawan Penyebab : Penyakit karat atau cendawan karat disebabkan

oleh Hemileia vastatrix. Cendawan karat ini obligat parasit yang tanaman kopi

(16)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 16

Gambar 12 : Cendawan Hemileia vastatrix.

 Gejala Serangan : Cendawan ini umumnya menyerang tanaman kopi. Disebut

penyakit karat karena spora dari cendawan ini berwarna merah seperti besi

yang berkarat. Warna daun yang diserang menjadi merah karat. Menimbulkan

bercak-bercak dibagian bawah daun yang mulanya berwarna kuning muda,

kemudian berubah menjadi kuning orange. Bercak ini ukuran besarnya

berubah-ubah. Seluruh permukaan daun tertutupi oleh bercak-bercak ini. Jika

dilihat dari atas, daun tampak seperti bercak minyak. Lama-kelamaan daun

akan gugur sebelum waktunya, bahkan ranting dan cabang akan kering dan

mati.

(17)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 17

 Tindakan Pengendalian : pada area pertanaman sebaiknya pemberian pohon

pelindung yang cukup dan pemangkasan pada musim kemarau tidak terlalu

banyak, walaupun mungkin buah menjadi sedikit tetapi tanaman dapat tahan

terhadap penyakit. Menanam jenis yang resisten. Apabila tanaman telah

terserang sebaiknya dibongkar dan dibakar guna mencegah menular ke

tanaman yang lain. Disemprot fungisida bila perlu.

b. Cendawan Hitam Pada Jagung

 Cendawan Penyebab : Ustilago maydis

Gambar 14 : Cendawan Ustilago maydis

 Gejala Serangan : Cendawan ini biasanya membentuk spora berwarna hitam

dalam basidia yang berbentuk gada. Cendawan ini menyerang tanaman padi

dan jagung. Bagian yang diserang pada jagung adalah pada bagian

tongkolnya. Tongkol yang diserang keliahatan membengkak. Mula-mula

cendawan berwarna keputihan sebab masih tertutup membran, lalu berubah

warna menjadi ungu muda kemudian hitam. Penyakit ini belum mendatangkan

kerugian yang cukup besar di Indonesia, akan tetapi di Amerika Serikat sangat

(18)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 18

Gambar 15 : Gejala Serangan Cendawan Ustilago maydis

 Tindakan Pengendalian : sebelum biji sebaiknya didisinfeksi dulu misalnya

dengan larutan sublinat. Menanam hendaknya memilih varietas yang resisten.

Jarak tanaman jagung jangan terlalu rapat. Tanaman jagung yang terlalu subur

biasanya rentan terserang penyakit ini karena memiliki kelembaban yang tinggi.

Tanaman yang sakit segera dibakar dan jangan diberikan kepada ternak dan

jangan digunakan dalam pembuatan kompos. Penerapan rotasi tanaman atau

tidak menanam dengan satu jenis tanaman secara terus menerus pada satu

tempat sangat berpengaruh.

c. Jamur Upas

 Cendawan Penyebab : Corticium salmonicolor

 Gejala Serangan : Jamur upas sering disebut juga penyakit merah jambu atau

penyakit merah muda. Cendawan ini menyerang tanaman jeruk, karet,

mangga, kopi dan cokelat. Serangan cendawan ini umumnya terjadi pada

musim hujan dan pada kondisi udara yang lembab. Penyakit ini bisa juga

(19)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 19 Cendawan menyerang pada ranting, batang atau cabang. Gejala yang nampak

seperti terdapat miselium yang seperti sarang laba-laba yang mengkilap dan

berubah menjadi warna merah jambu. Jika tanaman sudah terserang daunnya

akan berwarna cokelat, layu, rontok dan lama kelamaan akan mati.

Gambar 16 : Gejala Serangan Cendawan Corticium salmonicolor

 Tindakan Pengendalian : Jika tingkat infeksi masih ringan tempat serangan

cendawan digosok sampai hilang dengan memastikan kotoran bekas

cendawan tidak mengenai bagian tanaman yang sehat. Bagian luka yang

digosok tadi diolesi dengan fungsida seperti meni, cat atau tercarbolineum.

Apabila serangan sudah sangat parah bagian yang masih sehat jauh dari batas

bagian yang sakit dan sehat. Tujuannya agar spora tidak berhamburan.

(20)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 20 dengan fungisida, demikian juga dengan bekas potong, sementara cabang

yang sakit yang telah dipotong harus segera dibakar habis. Jika tanaman

terlalu lembab dilakukan pemangkasan pda tanaman pokok dan pelindung.

Tanaman pelindung juga baiknya diperiksa tujuannya agar tidak terserang

jamur upas.

4. GOLONGAN IMPERFEKTI

Cendawan ini terdiri dari banyak jenis dan menghasilkan sekurang-kurangnya 2

tipe spora atau badan spora. Hifa dari cendawan ini bersekat tetapi tidak

menghasilkan tingkatan seksual. Berikut beberapa penyakit yang disebabkan oleh

cendawan golongan ini :

a. Penyakit bercak Kering

 Cendawan Penyebab : Alternaria solani

Gambar 17 : cendawan Alternaria solani

 Gejala Serangan : Penyakit ini menyerang kentang, tomat, terung dan

cabai. Penyakit ini juga disebut bercak daun dan penyakit alternaria.

(21)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 21 atau penyakit irlandia yang penyebabnya cendawan Phytophthora

infestans. Penyakit bercak kering ini telah tersebar ke seluruh daerah

penanaman kentang di dunia seperti Amerika, Kanda, Indonesia, Australia

dan Selandia Baru. Pada daun terlihat ada bercak-bercak cokelat tua

kehitaman berbentuk bulat dengan lingkaran yang konsentris. Bercak ini

jika membesar akan bergabungmenjadi satu. Pada umumnya serangan

dimulai dari bagian abwah daun lalu keatas, juga menyerang batang. Teoi

daun terlihat tidak merata, bergerigi. Jika bercak mengering maka daun

akan berlubang, kering lalu gugur. Apabila serangan hebat, daun akan

menguning, menggulung, mengering lalu jatuh. Karena daun banyak yang

rontok, umbi atau buah akan kecil, kulitnya lunak. Kulit umbi yang

terserang akan terdapat bercak yang berwarna lebih gelap atau lebih tua

dari warna kulit yang tidak diserang. Bentuk umbi atau buah jadi tidak

teratur dan jaringan dibawah bercak pada umbi/buah dapat mencapai

kedalaman 5 mm.

(22)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 22

Gambar 19 : Gejala serangan Alternaria solani Pada Umbi dan buah

 Tindakan Pengendalian : Rotasi tanaman sangat disarankan dan

penanaman dengan menggunakan varietas yang resisten. Apabila

tanaman sudah ada yang terserang segera dicabut dan dibakar guna

mencegah penularan ke tanaman yang sehat. Lakukan penyemprotan

dengan bubur Bordeaux atau dengan kalsium arsenat bila perlu.

b. Bercak Daun Cercospora

 Cendawan Penyebab : Cercospora apii Fres

(23)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 23

 Gejala Serangan : cendawan ini umumnya menyerang tanaman seledri.

Cendawan ini menyerang daun pada semua tingkatan pertumbuhan,

tetapi umumnya hanya menyerang daun yang lebih tua. Mula-mula terlihat

bercak-bercak bulat kecil berwarna cokelat kekuningan, jika keadaan

memungkinkan bercak akan meluas dan bagian tengahnya mula-mula

akan berwarna cokelat kekuningan lalu bercak tersebut berubah menjadi

coklat kekuningan dikelilingi pita berwarna kuning. Gejala penyakit ini

hampir sama dengan penyakit septoria, bedanya bercak pada septoria

terdapat titik hitam pada bagian tengahnya.

Gambar 21 : Gejala Serangan Cercospora apii Fres pada Seledri

 Tindakan Pengendalian : Pilihlah biji yang sehat dari lapangan. Gunakan

biji yang masa simpan telah lebih dari dua tahun sehingga cendawan yang

(24)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 24 sangat rendah. Tanaman sebaiknya dipupuk dengan kapur sulfat atau

larutan yang lemah dari lithium nitrat atau klorida. Jangan menambah

pupuk yang menyebabkan banyak air seperti pupuk domba atau pupuk

NPK. Jika tampak gejala penyakit segera dipotong atau dicabut lalu

dibakar. Gunakan air bersih untuk mengairi tanaman. Jarak tanaman

jangan terlalu rapat untuk mengurangi kelembapan, gunanya jika ada

tanaman yang sakit penularannya tidak terlalu cepat.

c. Penyakit Anthracnose Buncis

 Cendawan Penyebab : Colletotrichum lindemuthium

Gambar 22 : Colletotrichum lindemuthium

 Gejala Serangan : Penyakit pada buncis ini juga disebut kanker polong,

bercak polong dan karat polong. Penyakit ini telah tersebar diseluruh

dunia termasuk Indonesia. Penyakit ini menyerang polong buncis terutama

yang masih muda akan nampak berbercak kecil lalu meluas dengan garis

tengah 1 cm. Bercak berwarna lebih tua dan berbentuk cekung, bagian

(25)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 25 bercak tidak teratur. Bercak ini semakin lama akan menjadi seperti luka

bernanah. Luka kadang hanya terdapat pada dinding polong, namun

kadang bisa menembus sampai ke biji. Biji yang terserang kelihatan

berbercak cekung berwarna cokelat dan jika biji bisa berkecambah akan

nampak bercak pada keping atau hipokotilnya yang akibatnya semai bisa

roboh. Serangan cendawan yang lebih tua menimbulkan bercak hitam

pada seluruh batang. Sementara tanaman muda juga bisa mencapai

tangkai atau tulang-tulang daun, sehingga daun menjadi layu, juga bunga

yang terkena serangan akan rontok dan tidak menjadi polong.

Gambar 23 : Gejala Serangan Colletotrichum lindemuthium pada Buncis

 Tindakan Pengendalian : Memilih dan menanam biji yang sehat, jika

perlu biji didesinfektsi terlebih dahulu. Rotasi tanam dilakukan dalam

(26)

Andi Asliah Qadriani, SP / / Balai Karantina Pert anian Kelas II Goront alo 26

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2001. Pest Control In Tropical Grain Legumes Revision (London; Center For Overseas Pest Research,) www.academia.edu.com (diakses tanggal 25 Desember 2014)

Anonim, Oktober 2013. KLASIFIKASI DAN MORFOLOGI CENDAWAN

http://hewantumbuhan.com/2013/10/02/klasifikasi-dan- morfologi-cendawan-fungi/ (diakses tanggal 03 Januari 2015)

Anonim, 2015. Penyakit Colletotrichum lindemuthium pada buncis.

https://www.google.co.id/search?newwindow=1&tbm=isch&q=Colletotrichum+linde muthianum&spell=1&sa=X&ei=vMNjVaenA9WgugSN04OABg&ved=0CBcQvwUo AA#imgrc=_ (diakses tanggal 1 Februari 2015)

Anonim. 2015. Forestry Images. Bean Anthracnose Colletotrichum lindemuthium (Sacc. &

Magnus) Lams.-Scrib

http://www.forestryimages.org/browse/subthumb.cfm?sub=9543 (diakses tanggal 12 Februari 2045)

Anonim. 2015. Bean, Green – Anthracnose. NC State University Department of Plant Pathology_http://www.cals.ncsu.edu/plantpath/extension/fact_sheets/Bean_Green _-_Anthracnose.htm (diakses tanggal 15 Februari 2015)

Hasna Qolamul. 2012. Penggolongan Penyakit Tumbuhan. [terhubung berkala] http://planthospital.blogspot.com/archieve/2012/01/penggolongan-penyakit-tumbuhan-dan.html (Diakses tanggal 18 Januari 2015)

Pracaya, Ir. 2008. Hama dan Penyakit Tanaman. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta

Semangun, H. 2004. Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Suliyansyah. 2013. Gejala Akibat Penyakit pada Tanaman.

[terhubung berkala] http://sule-gratis.blogspot.com/2013/01/penyakit-tanaman-gejala-tanda-dan.html (Diakses tanggal 13 Desember 2014)

Gambar

Gambar 2 : Gejala Serangan Sclerospora maydis
Gambar : 4 Gejala Serangan Plasmodiophora brassicae Wor
Gambar 5 : Cendawan Phytophthora parasitica Dastur
Gambar 7 : Cendawan Ustilaginoidea virens (Cke) Takahashi
+7

Referensi

Dokumen terkait