106 Seminar dan Call For Paper Munas Aptikom Politeknik Telkom
Bandung, 9 Oktober 2010
Model Pemeringkatan Website Pemerintah Daerah di Indonesia
Widya Silfianti
1, Mirma Yudha Firdausi
2, Hanum Putri Permatasari
31,2,3
Universitas Gunadarma
1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
Abstrak
Pemeringkatan e-government di Indonesia sudah mulai dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan
Informatika, namun pemeringkatan tersebut baru mencakup 11 provinsi dan belum menerapkan
perhitungan peringkat secara otomatis dengan menggunakan mesin pencari yang dilengkapi dengan agent
based crawler dan algoritma perhitungan parameternya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan
mesin pencari berbasis web crawler dengan algoritma relevansi yang diterapkan pada pemeringkatan
website pemda di Indonesia. Variabel pemeringkatannya adalah relevansi, produktifitas, visibilitas,
besarnya website (size), kekayaan dokumen, popularitas, dengan pembobotannya
masing-masing.Pengambilan data parameter webmetrics dilakukan pada bulan mei 2010, yang mencakup 181
website pemerintah daerah di Indonesia. Jenis atau tingkatan pemerintahannya adalah pemerintahan provinsi, pemerintahan kabupaten, dan pemerintahan kota dengan rincian jumlah websitenya berturut-turut adalah 32 website provinsi, 111 kabupaten, dan 38 kota. Hasil pemeringkatan untuk pemda di luar jawa menujukkan bahwa website provinsi lebih dominan dibandingkan website kota atau kabupaten, sedangkan untuk di pulau jawa, website kabupaten dan kota lebih dominan dibandingkan web provinsi. Peringkat atas untuk web kota semuanya diisi oleh kota-kota di Jawa, sedangkan untuk kabupaten hanya dua kota di luar jawa yang masuk sepuluh besar. Hasil pemeringkatan tersebut mendukung dugaan terjadinya kesenjangan digital dilihat dari wilayah geografis dan tingkat pemerintahan di Indonesia.
Kata kunci : e-government, digital divide, web-crawler
1. PENDAHULUAN
Wujud nyata dari pengaplikasian e-government
ang telah umum dilaksanakan dan diatur pelaksanaannya di Indonesia adalah pembuatan situs
web pemerintah daerah. E-Government intinya
adalah proses pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat untuk membantu menjalankan sistem pemerintahan secara lebih efektif dan efisien. Pembangunan situs web bagi pemerintah daerah di Indonesia merupakan implementasi dari Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2003, yang isinya menggalakkan pemanfaatan teknologi informasi
(Internet) dalam menunjang aktivitas pemerintahannya, baik pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah menuju terwujudnya
e-Government di Indonesia. Berdasarkan data [8] dari 470 pemerintah daerah baik tingkat provinsi, kotamadya maupun kabupaten terdapat 361 (77%) situs web pemerintah daerah, dan yang aktif atau bisa dibuka 316 situs web pemerintah daerah sisanya
rusak, dalam pengembangan atau terkena sanksi (suspended).
Jumlah situs web pemerintah daerah secara kuantitas cenderung meningkat seiring dengan kebijakan dan komitmen pemerintah Indonesia yang
tertuang dalam roadmap pengembangan
e-government di Indonesia. Namun, apakah semua pemerintah daerah di Indonesia sudah menerapkan
e-government sesuai dengan roadmap atau cetak
biru pengembangan e-government di Indonesia?
Pertanyaan tersebut merupakan tantangan terbesar untuk Indonesia mengingat luas wilayah serta kondisi budaya, sosial, dan kemasyarakatan yang beragam. Wilayah pemerintahan Indonesia mencakup 33 propinsi, 349 Pemerintah Kabupaten, 91 Pemerintah Kota, 5263 Kecamatan, 7123 Kelurahan, dan 62806 Desa (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 tahun 2005). Berdasarkan data jumlah wilayah tersebut belum seluruh tingkatan pemerintahan tersebut sudah menerapkan
Seminar dan Call For Paper Munas Aptikom Politeknik Telkom Bandung, 9 Oktober 2010
107
teknologi informasi secara umum dalam menjalankan fungsi dan peranan pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan
metode pengukuran web (webmetrics) menggunakan
algoritma pencarian informasi yang relevan terhadap jenis situsnya. Tujuan khusus selengkapnya adalah (1) Mengembangkan metode perhitungan pemeringkatan dengan multi-parameter yang
dilengkapi dengan kerangka Information Retrieval
System yang lengkap mulai dari pengambilan data secara otomatis, pengukuran parameter pemeringkatan, dan penyajian hasil pemeringkatannya, serta (2) Menguji metode pemeringkatan website terhadap situs pemerintah daerah di Indonesia yang dijadikan contoh target evaluasi website, dengan menambahkan kriteria relevansi dan produktifitas yang dihasilkan berdasarkan hasil filtering terhadap konten web dari situs pemda tersebut.
2. LANDASAN TEORI
2.1.E-Government
Menurut World Bank, e-Government
didefinisikan sebagai upaya pemanfaatan dan
pendayagunaan telematika untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pemerintahan, memberikan
berbagai jasa pelayanan kepada masyarakat secara lebih baik, menyediakan akses informasi kepada publik secara lebih luas, dan menjadikan penyelenggaraan pemerintahan lebih bertanggung
jawab (accountable) serta transparan kepada
masyarakat. Intinya menurut [3] e-Government
adalah proses pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat untuk membantu menjalankan sistem pemerintahan secara lebih efektif dan efisien.
Terdapat dua hal utama dalam pengertian
e-Government[3], pertama adalah penggunaan teknologi komunikasi informasi (salah satunya adalah Internet) sebagai alat bantu, dan kedua adalah tujuan pemanfaatannya sehingga jalannya pemerintahan dapat lebih efisien. Melalui teknologi informasi dalam hal ini Internet, seluruh proses atau prosedur yang ada di pemerintahan dapat dilalui dengan lebih cepat sesuai dengan aturan jelas yang
telah ditetapkan. E-Government bukan berarti
mengganti cara pemerintah dalam berhubungan dengan masyarakat. Pada konsep e-Government, masyarakat masih bisa berhubungan dengan pos-pos pelayanan, berbicara melalui telepon untuk mendapatkan pelayanan pemerintah, atau mengirim
surat. E-Government hanya berfungsi pada konteks
penggunaan teknologi informasi yang dapat meningkatkan hubungan antara pemerintah dan pihak-pihak lain.
Pada pelaksanaan e-Government, informasi,
komunikasi, dan transaksi antara masyarakat dan pemerintah dilakukan melalui Internet. Sehingga ada beberapa manfaat yang dihasilkan seperti misalnya, komunikasi dalam sistem administrasi berlangsung dalam hitungan jam, bukan hari atau minggu. Artinya, pelayanan pemerintah pada masyarakat menjadi sangat cepat, pelayanan dan informasi dapat disediakan 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Informasi dapat diperoleh di kantor, rumah bahkan lewat ponsel dimanapun tanpa harus secara fisik datang ke kantor pemerintahan atau tempat-tempat pelayanan umum. Akselerasi kecepatan pelayanan berarti juga merupakan penghematan dalam waktu, energi maupun sumber daya.
Model e-Government yang diterapkan
menggunakan model empat tahapan perkembangan yang meliputi [3] :
a. Fase pertama, berupa penampilan website
web (web presence) yang berisi informasi
dasar yang dibutuhkan masyarakat.
b. Fase kedua, fase interaksi yaitu isi
informasi yang ditampilkan lebih
bervariasi, seperti fasilitas download dan
komunikasi e-mail dalam website web pemerintah.
c. Fase ketiga, tahap transaksi berupa
penerapan aplikasi atau formulir untuk
secara online mulai diterapkan.
d. Fase Keempat, fase transformasi berupa
pelayanan yang terintegrasi, tidak hanya menghubungkan pemerintah dengan masyarakat tetapi juga dengan organisasi lain yang terkait (pemerintah ke antar pemerintah, sektor nonpemerintah serta sektor swasta)
Sesuai dengan yang tertera dalam Instruksi Presiden No.3 Tahun 2003, Wujud nyata dari
aplikasi e-Government yang umum dilaksanakan dan
diatur pelaksanaannya adalah pembuatan website web pemerintah daerah. Website web pemerintah daerah merupakan salah satu strategi didalam
melaksanakan pengembangan e-Government secara
sistematik melalui tahapan yang realistik dan terukur. Website web pemerintah daerah merupakan
tingkat pertama dalam pengembangan e-Government
108 Seminar dan Call For Paper Munas Aptikom Politeknik Telkom
Bandung, 9 Oktober 2010
demokrasi di Indonesia dengan menggunakan media Internet.
Pengembangan e-Government di Indonesia
dilaksanakan melalui 4 (empat) tingkatan yaitu: (a) Tingkat 1 merupakan tingkat Persiapan berupa pembuatan website web sebagai media informasi dan komunikasi pada setiap lembaga serta sosialisasi website web untuk internal dan publik; (b) Tingkat 2 merupakan tingkat Pematangan yang berupa Pembuatan website web informasi publik yang bersifat interaktif dan Pembuatan antar muka keterhubungan dengan lembaga lain; (c) Tingkat 3, tingkat Pemantapan yang berisi Pembuatan website web yang bersifat transaksi pelayanan publik dan Pembuatan interoperabilitas aplikasi dan data dengan lembaga lain; dan (d) Tingkat 4 adalah tingkat Pemanfaatan yang berisi Pembuatan aplikasi untuk pelayanan yang bersifat Government to Government (G2G), Government to Business (G2B), Government to Consumers (G2C)
2.2. Evaluasi Web dan Webmetrics
Ketepatan dan akurasi konten web merupakan salah satu ukuran dalam evaluasi konten web, yang dalam penelitian ini menggunakan istilah relevansi.[6] menyebutkan beberapa kriteria untuk
evaluasi dan pemeringkatan website yaitu authority,
objectivity, accuracy, coverage, dan timelines. Metode pemeringkatan yang dikembankan pada penelitian ini secara umum mencakup parameter tersebut di atas, namun dengan terminologi yang berbeda.
Dua parameter utama yang dikembangkan lebih lanjut adalah relevansi- seperti yang sudah
dipaparkan sebelumnya, dan web productivity.
Menurut [5] , web productivity secara matematis
dihitung dengan rumus: size/effort, dimana size
adalah ukuran website- yang dapat diukur dengan jumlah halaman web pada sebuah website,
sedangkan effort adalah upaya atau input yang
digunakan untuk mengembangkan atau mengelola
website. Contoh input atau effort tersebut adalah
biaya atau waktu yang diperlukan untuk mengembangkan website. Input biaya digunakan
oleh [5], sedangkan penelitian yang dilakukan oleh
[1] menggunakan traffic sebagai ukuran untuk effort
untuk menghitung web productivity.
Metode pemeringkatan pada penelitian ini menggunakan jumlah halaman web sebagai ukuran
untuk size dan frekuensi pemutakhiran konten
sebagai ukuran untuk effort. Jumlah halaman web juga digunakan untuk pemeringkatan webometrics yang akan dijelaskan pada sub bab berikutnya, sedangkan frekuensi pemutakhiran secara umum
mirip dengan parameter timelines seperti disebutkan
oleh [6]. Atribut evaluasi website yang lebih komprehensif dan lebih berkembang pesat saat ini adalah webmetrics, yang akan dipaparkan lebih lengkap di bawah ini.
[4] melakukan survei metrik terkenal untuk web yang berkaitan dengan pengukuran besaran fungsi. Berdasarkan beberapa atribut pengukuran kemudian diklasifikasikan menjadi beberapa kategori yang dapat dilihat pada Gambar 1di bawah ini.
Gambar1. Taksonomi Webmetrics [4]Graph
Properties. World Wide Web dapat digambarkan sebagai sebuah struktur grafik di mana halaman web
terdiri dari simpul dan hyperlink. Webmetrics
berbasis graph mengukur sifat struktural web pada kedua skala makroskopik dan mikroskopik.
Significance. Signifikansi metrik memformalkan pengertian tentang "kualitas" dan "relevansi" dari halaman web yang berkaitan dengan kebutuhan informasi pengguna. Signifikansi metrik yang digunakan untuk menilai halaman web untuk menanggapi permintaan pencarian dan memiliki dampak pada kualitas pencarian dan pengambilan di sebuah halaman web.
Penggunaan Karakterisasi. Pola dan keteraturan ketika pengguna menelusuri sumber-sumber web yang dapat memberikan petunjuk berharga untuk meningkatkan konten, presentasi organisasi dan website.
Similarity. Kesamaan metrik mengukur sejauh mana keterkaitan antara halaman web. Ada banyak penyelidikan tentang atribut apa saja yang seharusnya dianggap sebagai indikator dari
hubungan antara halaman. Search dan Retrieval.
Inform tekstual m kata kun
size,visibi
relevansi, tahapan t ini.
mation Theor
ap properti at kebutuhan, pr
mpertimbangk an yang diam
mengemuka si yang paling atribut yang ari suatu halam pektif- yaitu re
i tertentu sesu mutlak yan a tertentu. Uk kemiripan hal ang telah d
model untu pengukuran biasanya me akan halaman an website ya
fikansi meru ngkan pada an pengambila elevan dan be
aman yang ha sebagai ta a. Penggunaan perkembangan yang sebagian murni pada p ci sebagai ni perti Google au ukuran r t peringkat w an pengguna.
ODOLOGI P
itian ini terdir p evaluasi rel nakan algoro anan hasil pa ruan paramete angan model nesia denga
ility, kekaya , dan produ tersebut dapat
Semin
retic. Metrik tau sifat inform roduksi dan kan hubungan mati dalam ge
akan bahw g terkenal ada
sudah dipa man web dapa elevansinya d uai permintaan ng terlepas kuran relevan laman web d diarahkan dan uk melakukan
tautan (link
enggunakan n yang sering ang kurang ter
upakan ukura pencarian an informasi erkualitas ting arus dipilih d anggapan at n parameter k n terbaru mes n besar men perbandingan ilai relevansi
[7,9] menggu elevansi dan web untuk
PENELITIAN
ri dari tiga tah levansi halam oritma TFxID arsing dari t er webmetrics
pemeringkata an mengguna
aan dokume uktifitas. G
t dilihat pada
nar dan Call
teori inform masi yang terk konsumsi, y n antara sejum enerasi inform
wa penguku
alah webmetr
aparkan di a at dipandang d dengan kebutu
n pengguna, s dari kebutu g disebut den
lihat.
an yang mu web den di halaman w ggi pada satu
dari indeks y tas permint kualitas web te sin pencari un ngandalkan p
query menge sebuah webs unakan kombin kualitas da dapat meresp
N
hapan utama y man web den DF; (2) Ta teks HTML
s; dan (3) Ta
an website pem akan param en, populari Gambaran um a gambar beri
For Paper M Poli mda terdiri d rhitungan para sil parsing yan ) proses enggunakan emperhitungka
sebut. Penjel bagai berikut. cara umum te itu (a) param
yaitu relevan ng mengadap eh lembaga pe
kayaan dokum ebometrics ser CU. Proses
alah menghitu ringkat untu
elaskan di at tiap pemda di bagai berikut
bar 2. Kerangk
gan model p dari 2 proses
ameter web y ng dihasilkan perhitungan 6 param an pembobota lasan setiap p
Pemeringkata erdiri dari du meter yang dih
nsi dan produc
ptasi dari para emeringkat la
men (rich fil
rta popularitas utama perhi ung peringka uk setiap p tas. Nilai per ihitung denga
WPPi + WSSi +
i komposit unt
ot untuk param
ot untuk param
t untuk param
ot untuk param
obot untuk
ka Penelitian
pemeringkatan utama yaitu ( yang dilakukan dari tahap per peringkat meter web an dari setiap proses terseb an website di ua kelompok hasilkan dari
ctivity dan (b) ameter yang d
ain yaitu size,
les) yang me
s yang menga itungan peme at komposit b parameter ya ringkat kompo an menggunak
WVVi + WDD
tuk website ke
meter web rele
meter web pro
meter size
meter visibility
parameter D
109
n website (1) proses n terhadap rtama, dan dengan b yang
parameter but adalah
Indonesia parameter penelitian parameter digunakan
visibility, engacu ke acu kepada
eringkatan berdasarka ang telah
110 Seminar dan Call For Paper Munas Aptikom Politeknik Telkom
Bandung, 9 Oktober 2010
WT adalah bobot untuk parameter popularity/Traffik
R adalah peringkat sebuah website untuk parameter Relevancy
P adalah peringkat sebuah website untuk parameter productivity
S adalah peringkat sebuah website untuk parameter Size
V adalah peringkat sebuah website untuk parameter Visibility
D adalah peringkat sebuah website untuk parameter Document Richness
T adalah peringkat sebuah website untuk parameter Popularity
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Parameter Webmetrics
Parameter size dengan menggunakan mesin
pencari berkisar antara 101 sampai 1610000 dengan menggunakan mesin pencari Google. Parameter inbound link berkisar antara 0 sampai 4380000. Parameter kekayaan dokumen berkisar dari 0 sampai 28,200 dengan rata-rata 635 dokumen, dan parameter popularitas yang diukur dengan peringkat di www.alexa.com berkisar antara 1009 sampai 100209. Ada 81 website yang belum mempunyai peringkat di alexa.com, yang menunjukkan website tersebut masih sangat kurang pengunjungnya.
Peringkat sepuluh besar untuk parameter size dan
traffik tersebut selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 1. Peringkat untuk parameter size dan traffik
No Size Traffic
1 Prov. Kalteng Kota Jaksel
2 Kota Tomohon Kota Jaktim
3 Prov. Jateng Kota Jakut
4 Prov. Papua Prov. DKI Jakarta
5 Kab. Kebumen Kota Jakbar
6 Kota Bontang Kota Jakpus
7 Kota Bandung Prov. Jabar
8 Provinsi Jatim Kota Bandung
9 Kota
Yogyakarta Kota Balikpapan
10 Prov. Jabar Prov. Jatim
Hasil tersebut menunjukkan bahwa peringkat
sepuluh besar untuk inbound link, dokumen, dan
traffik diisi oleh pemda yang relatif tidak berubah. Website provinsi DKI Jakarta beserta 5 kotanya selalu masuk pada ketiga parameter tersebut. Namun untuk parameter size nama-nama pemdanya relatif berbeda dengan peringkat tiga parameter lainnya kecuali provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan
Bandung. Perbandingan parameter size, inbound link
dan popularitas dilihat dari tingkatan pemerintah dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 3. Perbandingan antar tingkat pemerintahan
Gambar di atas menunjukkan bahwa website provinsi mempunyai keunggulan dalam jumlah halaman web dan tautan dibandingkan dengan kota dan kabupaten, namun untuk parameter popularitas relatif tidak jauh berbeda antara provinsi dan kota. Namun website kabupaten selalu terendah untuk
ketiga parameter webmetrics tersebut. Untuk kasus
jawa dan luar-jawa, ternyata hasil pengukuran parameter tersebut menunjukkan bahwa website pemda di luar jawa selalu lebih rendah dibandingkan website pemda di pulau jawa. Kondisi ini
menunjukkan adanya kesenjangan digital (digital
divide) dilihat dari dikotomi geografis tersebut. Hal ini tentunya memerlukan perhatian dari pemerintah
147 159
23 20
5 16
85
135
25
0 200
Web Page InBound Link Web traffic
in 1000
Seminar dan Call For Paper Munas Aptikom Politeknik Telkom Bandung, 9 Oktober 2010
111
atau pihak yang berkepentingan dalam implementasi
e-government di Indonesia yang dapat mengurangi kesenjangan tersebut.
4.2.Model Pemeringkatan
Pemeringkatan menggunakan enam variabel yaitu relevansi, produktifitas, visibiltas, besarnya
website (size), kekayaan dokumen, popularitas,
dengan pembobotannya masing-masing. Penetapan bobot akhir untuk setiap parameter tersebut dilakukan melalui beberapa skenario dengan melakukan perubahan-perubahan nilai parameter atau dilakukan proses simulasi. Sebelum dilakukan pemeringkatan akhir dengan menggunakan enam variabel, peneliti melakukan simulasi pemeringkatan dengan membandingkan beberapa skenario, yaitu :
a. Skenario 1 yaitu pemeringkatan dengan
menggunakan dua parameter yang diukur dan dianalisis dalam penelitian ini
b. Skenario 2 yaitu pemeringkatan dengan
menggunakan empat parameter tanpa relevansi dan produktifitas
c. Skenario 3 yaitu pemeringkatan dengan enam
parameter tanpa pembobotan
d. Skenario 4 yaitu pemeringkatan dengan enam
parameter dengan pembobotan
Untuk skenario 4, komposisi pembobotannya terdiri dari 3 alternatif, dengan penjelasan sebagai berikut (a) Memberikan bobot yang sama yaitu 50% untuk kelompok parameter hasil penelitian yang mencakup relevensi dan produktifitas dan 50 % untuk kelompok parameter yang kedua yang meliputi ukuran, visibilitas, kekayaan dokumen, dan popularitas. Setiap parameter mempunyai bobot yang sama untuk parameter yang masuk dalam kelompok yang sama; (b) Bobot antar kelompok sama seperti alternatif (a) namun bobot parameter dalam satu kelompok berbeda yaitu bobot relevansi lebih tinggi dibandingkan produktivitas dan untuk
kelompok kedua, parameter size mempunyai bobot
yang lebih tinggi dibandingkan tiga parameter lainnya yang mempunyai bobot yang sama; dan (c) Memberikan bobot yang lebih tinggi untuk relevansi, produktifitas, dan popularitas
dibandingkan dengan size, visibility, dan kekayaan
dokumen. Namun bobot relevansi lebih tinggi dibandingkan produktifitas, dan popularitas.
Pemberian bobot tinggi untuk relevansi dan produktifitas berkenaan dengan mutu informasi dan intensitas pemanfaatan website oleh pemda sebagai
media informasi untuk publik. Pemberian bobot yang lebih tinggi untuk popularitas dibandingkan
dengan visibility adalah popularitas lebih bersifat
aktual karena ukuran tersebut mencerminkan frekuensi atau jumlah kunjungan ke website pemda. Sedangkan visibilitas hanya merupakan ”popularitas potensial” atau semu karena hanya diukur dengan jumlah eksternal link yang belum tentu meningkatkan jumlah kunjungan atau traffik dari pengunjung ke website pemda yang bersangkutan. Berdasarkan penjelasan di atas maka pemeringkatan dalam penelitian ini terdiri dari 6 skenario yang selengkapnya dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel 2. Pemetaaan Skenario untuk Pemberian bobot
Parameter
Skenari parameter dan pembobotannya
1 2 3 4a 4b 4c
Relevansi R R 0,250
R
0,3R 0,3R
Produktifit as
P P 0,250
R
0,2P 0,2P
Size S S 0,125
S
0,2S 0,1S
Visibility V V 0,125 V
0,1V 0,1V
Dokumen D D 0,125
D
0,1D 0,1D
Popularitas T T 0,125
T
0,1P 0,2T
.
a. Skenario 1
Pemeringkatan dengan skenario 1 hanya menggunakan dua parameter yaitu relevansi dan produktivitas web yang dihitung berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan algoritma TFxIDF
untuk relevansi dan hasil parsing untuk web
112 Seminar dan Call For Paper Munas Aptikom Politeknik Telkom
Bandung, 9 Oktober 2010
Indeks Pemdai = Ri + Pi
Ri adalah peringkat relevansi pemda ke-i dan Pi adalah peringkat untuk parameter produktivitas pemda ke-i. Setelah indeks untuk semua pemda dihitung kemudian dilakukan pemeringkatan dengan cara megurut nilai indeks dari yang terkecil sampai terbesar. Indeks terkecil menempati urutan pertama sedangkan indeks terbesar menempati posisi terakhir.
Peringkat relevansi dan produktifitas ini secara umum relatif berbeda dengan peringkat yang umum digunakan oleh lembaga lain yang relatif tidak mempertimbangkan mutu konten atau produktifitas pengelola web dalam pemutakhiran kontennya. Jika dibandingkan dengan pemeringkatan tanpa memasukkan dua parameter ini, skenario ini menunjukkan bahwa pemda di Jawa masih mendominasi relevansi konten dan produktifitas pengisian kontennya. Peringkat pertama relevansi ditempati oleh provinsi Sumatera Utara yang diikuti oleh Kabupaten Sragen dan Kabupaten Malang di posisi kedua dan ketiga, sedangkan produktivitas web oleh Sukabumi. Jika kedua peringkat per parameter ini dirata-ratakan maka peringkat pertamanya adalah Kabupaten Malang diikuti oleh provinsi NAD.
Khusus untuk peringkat relevansi, sepuluh besarnya ditempati oleh lima provinsi, tiga kabupaten, dan dua kota. Temuan yang menarik adalah semua provinsi tersebut terletak di luar jawa, sedangkan kabupaten dan kotanya di pulau Jawa. Kondisi ini mengindikasikan bahwa peran pemerintahan provinsi di luar jawa masih relatif tinggi dalam menyediakan informasi yang relevan dibandingkan dengan pemda tingkat duanya, sedangkan pemerintahan kabupaten dan kota di pulau jawa relatif lebih dominan dalam memberikan konten yang relevan dibandingkan pemerintahan provinsinya. Kajian lebih lanjut mungkin perlu dilakukan dengan ketersediaan sumber daya di tingkat pemerintahan kota dan kabupaten di luar
jawa, misalnya pengelola web (web administrator)
atau infrastruktur teknologi informasi sebagai pondasi layanan pemda berbasis web.
b. Skenario 2
Skenario 2 ini tidak memperhitungkan parameter relevansi dan produktivitas web, atau hanya
menggunakan parameter size, visibility, kekayaan
dokumen dan popularitas. Skenario ini merupakan modifikasi metode pemeringkatan yang digunakan
oleh lembaga pemeringkat lain yaitu size, visibility,
dan rich file yang diambil dari Webometrics dan popularitas dari 4ICU. Langkah pertamanya adalah dengan menghitung indeks peringkat untuk setiap website pemda dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Indeks Pemdai = Si + Vi + Di + Ti
Si adalah peringkat untuk parameter size pemda ke-i; Vi adalah peringkat untuk parameter produktivitas pemda ke-i, Di adalah peringkat untuk parameter kekayaan dokumen pemda ke-i; dan Ti adalah peringkat untuk parameter popularitas (traffic) pemda ke-i. Setelah indeks untuk semua pemda dihitung kemudian dilakukan pemeringkatan dengan cara megurut nilai indeks dari yang terkecil sampai terbesar. Indeks terkecil menempati urutan pertama sedangkan indeks terbesar menempati posisi terakhir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8 dari 10 pemda yang masuk 10 besar pada skenario tersebut berlokasi di pulau Jawa. Cacatan khusus untuk parameter popularitas yang diukur dengan peringkat dari alexa.com, pemda DKI jakarta beserta 5 kotamadyanya mempunyai peringkat traffik yang sama dan tertinggi di Indonesia. Website kota dan provinsi disatukan dalam domain yang sama, atau dengan kata lain, 5 kota di wilayah DKI Jakarta merupakan sub domain dari domain provinsi DKI Jakarta.
Hanya 99 situs pemda di Indonesia yang masuk peringkat di alexa. Sisanya sebanyak 82 website belum masuk peringkat karena traffiknya yang
masih sangat rendah. DKI Jakarta yang posisi size,
visibility, dan popularitasnya tertinggi di Indonesia akhirnya menduduki peringkat kedua karena jumlah dokumennya jaug lebih sedikit dibandingkan Provinsi Jawa Timur yang menduduki peringkat pertama. Jadi terlihat bahwa provinsi Jawa Timur mempunyai peringkat yang merata untuk keempat parameternya yang semuanya menduduki sepuluh besar.
c. Skenario 3
Seminar dan Call For Paper Munas Aptikom Politeknik Telkom Bandung, 9 Oktober 2010
113
dari skenario 1 dan 2 namun tanpa membedakan bobot dari setiap parameternya. Rumus perhitungan peringkat untuk setiap websitenya adalah sebagai berikut:
Indeks Pemdai =Ri + Pi + Si + Vi + Di + Ti
Ri adalah peringkat relevansi pemda ke-i, Pi adalah peringkat untuk parameter produktivitas pemda ke-i, Si adalah peringkat untuk parameter size pemda ke-i; Vi adalah peringkat untuk parameter produktivitas pemda ke-i, Di adalah peringkat untuk parameter kekayaan dokumen pemda ke-i; dan Ti adalah peringkat untuk parameter popularitas (traffic) pemda ke-i. Untuk skenario 3 dan 4 hanya mencakup 151 website pemda yang menunjukkan data yang lengkap untuk pemeringkatannya.
Hasilnya menunjukkan bahwa pemda yang masuk peringkat sepuluh besar sangat mengandalkan
visibility yang diukur dengan yahoo inbound link. Parameter ini sebenarnya belum mencerminkan popularitas sebuah web karena tautan ke sebuah situs tersebut tidak mencerminkan tautan yang berkualitas dari situs eksternal. Bahkan hasil pengamatan terhadap situs pemda yang jumlah tautannya tinggi, tautan-tautan tersebut lebih banyak dari spam atau
praktek-praktek Search Engine Optimization yang
tidak etis. Praktek-praktek tersebut dilakukan dengan
spam generator terhadap situs-situs pemda yang
masih mengandung kelemahan (vulnerabilities)
dalam content management systemnya. Kelemahan
tersebut diukur oleh HTML validator seperti sudah dijelaskan sebelumnya.
d. Skenario 4
Hasil pemeringkatan dengan menggunakan skenario ini memberikan bobot besar pada parameter relevansi dan produktivitas yaitu 50 persen dibandingkan 50 persen sisanya untuk bobot empat
parameter lainnya yaitu size, visibility, document,
dan popularitas. Pertimbangannya adalah mutu konten dan intensitas pemutakhirannya merupakan dua parameter yang sangat penting dalam meningkatkan mutu layanan dan informasi publik dari pemerintahan daerah di Indonesia. Kecepatan dan keakuratan informasi menjadi kriteria yang sangat penting di era informasi dan globalisasi ini. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka bobot relevansi dan produktifitas ditetapkan 2 kali dari
masing-masing bobot parameter size, visibility,
document, dan popularitas. Rumus perhitungan
indeks komposit untuk 6 parameter pada masing-masing pemda untuk tiga skenario dengan pembobotan adalah sebagai berikut:
a. Indeks Pemdai
=0,25Ri+0,25Pi+0,125Si+0,125Vi+0,125Di+0,1
25Ti
b. Indeks Pemdai
=0,3Ri+0,3Pi+0,2Si+0,1Vi+0,1Di+0,1Ti
c. Indeks Pemdai
=0,3Ri+0,2Pi+0,1Si+0,1Vi+0,1Di+0,2Ti
Hasil untuk skenario 4 ini secara umum tidak banyak berubah nama-nama pemda untuk sepuluh besar, kecuali perubahan urutannya saja. Perubahan kecil hanya terjadi untuk skenario 4b dan 4c yaitu Provinsi Riau yang tadinya masuk sepuluh besar pada skenario 4b digantikan Kota Bantul pada skenario 4c. DKI Jakarta selalu menempati urutan pertama untuk peringkat dengan menggunakan enam parameter- baik yang tanpa bobot maupun dengan pembobotan. Namun sekali lagi catatan khusus untuk website provinsi DKI Jakarta ini adalah lima kota yang berada di wilayahnya merupakan sub domain dari www.jakarta.go.id.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Hasil pengukuran relevansi konten diukur dengan algoritma TFxIDF yang sudah dikembangkan lebih lanjut dalam penelitian ini, sedangkan relevansi tautan internal diukur dengan
TFxIDF inbound. Hasil pengukuran untuk relevansi
konten menunjukkan bahwa nilai TFxIDF lokal berkisar antara 4,199 sampai 36,16 dengan rata-rata sebesar 25,05, Jumlah website yang tergolong menunjukkan bobot relevansi yang tinggi dengan nilai TFxIDF di atas rata-rata adalah sebanyak 109 pemda atau sebanyak 60 persen. Nilai TFxIDF
inbound berkisar antara 2,391 sampai 30,417 dengan rata-rata sebesar 18,0. Jumlah website yang tergolong menunjukkan bobot relevansi yang tinggi dengan nilai TFxIDF di atas rata-rata adalah sebanyak 86 pemda atau sebanyak 47,5 persen.
114 Seminar dan Call For Paper Munas Aptikom Politeknik Telkom
Bandung, 9 Oktober 2010
relevansi, yang diikuti oleh parameter produktifitas dan popularitas, atau menggunakan skenario 4c. Parameter lainnya mempunyai bobot lebih rendah dari tiga parameter tersebut yaitu ukuran halaman, jumlah dokumen, dan visibilitas. Hasil pemeringkatan untuk pemda di luar jawa menujukkan bahwa website provinsi lebih dominan dibandingkan website kota atau kabupaten, sedangkan untuk di pulau jawa, website kabupaten dan kota lebih dominan dibandingkan web provinsi. Peringkat atas untuk web kota semuanya diisi oleh kota-kota di Jawa, sedangkan untuk kabupaten hanya dua kota di luar jawa yang masuk sepuluh besar.
5.2. Saran
Model pemeringkatan dengan mempertimbangkan parameter relevansi dan produktifitas merupakan penyempurnaan algoritma pemeringkatan yang banyak digunakan oleh lembaga pemeringkatan yang masih menggunakan parameter
webmetrics yang belum mempertimbangkan kualitas konten dan tautan. Namun algoritma pemeringkatan ini masih perlu mencari parameter yang menunjukkan ciri khas dari website yang dijadikan obyek pemeringkatannya, yang dalam penelitian ini menggunakan website pemda di Indonesia. Berdasarkan hasil pengamatan dan pemeringkatan web pemda maka perlu dibuat standarisasi fitur
layanan website pemda atau e-government di
Indonesia serta peningkatan kemampuan perancangan dan pemutakhiran website pemda yang mempertimbangkan parameter pemeringkatan, khususnya relevansi dan produktifitas.
6. DAFTAR PUSTAKA
[1] Alpar, P., M. Porembski, D.Volksw, and S.
Pickerodt, 2009, Measurement of Productivity
of Websites, Schoolof Business Administration and Economics. Philipps University, Marburg, Germany.
[2] Departemen Komunikasi dan Informatika, 2004,
Blueprint Sistem Aplikasi e-
GovernmentDepartemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Jakarta.
[3] Departemen Komunikasi dan Informatika, 2006,
Kondisi Situs Web Pemerintah Daerah”, Artikel Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, http://blogs.depkominfo.go.id/artikel/2006/01/1 7/kondisi-situs-web-pemerintah-daerah, diakses tanggal 10 September 2009.
[4] Dhyani, Devanshu, NG., Keong, Wee, dan
Bhowmick Sourav, W., 2002, A Survey of Web
Metrics, ACM Computing Surveys, Vol., 34, No. 4 pp 469-503.
[5] Mendez, Emilia. 2009, Web Cost Estimation,
Productivity Assessment and Benchmarking, 4th International Summer School on Software Engineering. University of Salermo, Italy, September 24-27.
[6] Murley, Diana, 2006, Evaluating and Rating
Website and other Information Resources, SIU Law Library.
[7] Pinkerton, Brian, 1994, Web Crawler Fact,
http://thinkpink.com/bp/WebCrawler/History.ht ml, diakses tanggal 25 Maret 2010
[8] Presiden Republik Indonesia, 2003, Kebijakan
dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government, Instruksi Presiden No.3 Tahun 2003,
http://www.deptan.go.id/bdd/admin/i_presiden/ Inpres-03-03.pdf, diakses 10 September 2009,
[9] Sergey, Brin and Lawrence, Page, 1998, The