Muhaimin Zulhair A1
Abstract
This paper attempts to explain the concept of field, habitus, capital, symbolic, doxa and illusio by Pierre Bourdieu, explain Bourdieu’s philosophical position and show the sampling works of IR scholars. This writing will highlight the importance of introducing and amplifiying the mentioned concept of Bourdieu with the purpose reach a wider audience of IR in Indonesia. Therefore, paving the basic path, the explanation will be following the order: the international contemporary setting, Bourdieu’s concepts, sampling works in IR which apllied the concepts, and Bourdieu’s philosophical science position.
Keywords: Bourdieu, concept, international, philosophical, sampling
Pendahuluan
Pada tahun 2013 beberapa tulisan dalam European Journal of International Relations
memuat kegelisahan yang sama, sekaligus menjadi isu spesial jurnal edisi tersebut yaitu
stagnasi ataupun berakhirnya teoritisasi dalam Ilmu Hubungan Internasional (Brown 2013,
Dunne, Hansen & Wight 2013, Mearsheimer & Walt 2013, Guzzini 2013). Mearsheimer dan
Walt (2013, 429) berpendapat fenomena meningkatnya penelitian non-paradigmatik terlihat
secara meyakinkan dalam beberapa dekade dan pembela teori middle-range mengabaikan teori besar. Para pengkaji Hubungan Internasional malahan bergerak kearah pengetesan
hipotesis sederhana dan kurang menaruh perhatian pada teori.
Meskipun perdebatan perspektif tidak seramai tahun 1980an (lihat Lapid 1989) namun
tetap terlihat sejumlah upaya untuk menghadirkan kembali dialektika antara pemikir dan
Hubungan Internasional diabad 21. Hamati-Ataya (2013, 673) mencatat hal tersebut pada
beberapa karya seperti model Frankfrut pada karya Lynch 2008, Tickner 2005, model Pierre
Bourdieu pada karya Eagleton-Pierce 2009, Hamati-Ataya 2010, Leander 2002, Pouliout
2007, model Anthony Giddens pada karya Steele 2007, model Ulrich Beck pada karya
Rasmussen 2001, dan model Roy Bhaskar pada karya Patomaki dan Wight 2000. Hal ini
mengindikasikan adanya upaya tak henti untuk mencari dan menggali karya demi
memperkaya konsep, teori dan metodologi untuk mengkaji fenomena yang semakin
kompleks dalam Hubungan Internasional.
1 Muhaimin Zulhair A, dosen kontrak Program Studi Ilmu Hubungan Internasional – Universitas Brawijaya, dan
Konsep Pierre Bourdieu2 dalam H.I pertama dimunculkan oleh Richard K. Ashley pada
tahun 1984 (Berling 2012, 458). Kemudian nama Bourdieu kembali muncul pada tulisan
Alexander Wendt tahun 1987 ketika menjelaskan persoalan agen-struktur. Tetapi diantara
para pengkaji struktur yang Wendt sebutkan (Giddens, Bourdieu, Roy Bhaskar dan Derek
Layder), Wendt lebih condong ke Bhaskar (Wendt 1987, 336). Wendt tidak mengkhususkan
penggunaan satu pemikir dapat dimengerti dalam upayanya mencari kesamaan asumsi dasar
diantara para pemikir dan tujuan Wendt dalam memformulasikan perspektif besarnya
dikemudian hari.
Upaya terus dilakukan dalam menyambung sosiologi dan politik internasional masih
terlihat pada abad 21. Hal ini juga sejalan dengan bertambahnya kekaryaan yang
mengaplikasikan konsep Bourdieu terutama setelah wafatnya pemikir ini ditahun 2002.
Fenomena ini (sosiologi-politik) juga dicermati organisasi seperti ISA (International Studies
Association), organisasi ternama yang terbentuk sejak tahun 1959. Pada tahun 2007, ISA
selangkah lebih maju mewadahi realitas tersebut dengan membuat segmentasi jurnal yaitu
jurnal IPS (International Political Sociology).
Saling silang antara politik dan sosiologi bukanlah hal yang baru. Ini dapat dilacak
misalnya pada abad 20 khususnya tahun 1960an dimana kejadian seperti pertemuan
American Political Science Association pada 1967 dan dinamika di Paris pada 1968. Khususnya efek pertemuan pada 1967 membuat para pemikir mengkaji lebih dalam relevansi
titik temu diantara keduanya yang kemudian melahirkan karya dari ilmuwan sosiologi
Seymour Martin Lipset dan ilmuwan politik Giovanni Sartori pada 1969 (lihat Michael S.
Drake 2010).
Stephen Hobden melakukan usaha serupa (merajut sosiologi dengan H.I) ditahun 1998.
Hobden (1998, 8) berpendapat walaupun Waltz menyatakan politik eksternal dan internal
harus dipisahkan, namum Waltz juga mengusulkan terbukanya kemungkinan
mengintegrasikan keduanya. Hobden meyakinkan bahwa historical sociology mampu
melakukannya karena historical sociology melihat dunia sosial sebagai sebuah totalitas, tidak ada hal yang betul-betul terpisah dari relasi sosial dalam ruang internasional. Hal ini juga
2 Pierre-Felix Bourdieu (1930-2002) dikenal sebagai sosiolog dan antropolog Perancis. Pengajar dibeberapa
universitas (Paris 1962-1964, Lille 1962-1964, Ecoles de Hautes Etudes en Sciences Sociales 1964). Tahun
mengupas negara dan membolehkan analisa yang lebih besar terhadap hubungan antar aktor.
Oleh karena itu membuka kemungkinan memproduksi cakupan teori menyeluruh daripada
hanya menseparasi politik domestik dan internasional.
Di Indonesia kontemporer telah nampak upaya untuk memperkenalkan pemikiran
Bourdieu seperti buku karya Harker, Mahar dan Wilkes (2009) yang telah dialih-bahasakan
ke bahasa Indonesia dan buku karya Fauzi Fashri (2014). Penggunaan bahasa Indonesia disini
ditekankan karena memiliki fungsi kedekatan kepada pembaca dalam negeri.
Namun upaya serupa dalam karya-karya peminat Hubungan Internasional di nusantara
tampaknya masih langka. Oleh karena itu, selisih antara berkembangnya penggunaan konsep
Bourdieu dibelahan dunia yang lain dan kelangkaan literatur Bourdieu yang berbahasa
Indonesia di Nusantara menjadi latar belakang utama hadirnya karya tulis ini.
Pertanyaan yang coba dijawab dalam tulisan ini yaitu: pertama, apa dan bagaimana penjelasan konsep-konsep kunci dari Bourdieu? Kedua, apasajakah yang dapat dikembangkan terkait konsep tersebut? Pertanyaan pertama dan kedua akan coba dibahas
secara simultan. Ketiga, apa contoh pengaplikasian konsep Bourdieu dalam karya sarjana H.I? Keempat, bagaimana posisi Bourdieu dalam filsafat ilmu? Konsep yang digunakan semuanya berasal dari Bourdieu.
Tujuan tulisan ini terbagi dua yaitu: pertama, memperkenalkan dan menjelaskan konsep serta filsafat ilmu Bourdieu, dan kedua, memberikan imajinasi bagaimana konsep Bourdieu bisa diterapkan dalam menganalisa Hubungan Internasional sehingga para pengkaji
H.I khususnya di Indonesia mendapatkan gambaran sederhana dan menjadi pemantik
lahirnya karya dan penelitian berikutnya.
Pembahasan
A. Teori dan Konsep
Jika teori dipahami merupakan hubungan sejumlah konsep-konsep atau
preposisi-preposisi yang menjelaskan realitas, sedangkan konsep merupakan suatu abstraksi atas
realitas tertentu, maka Bourdieu mempunyai suatu teori praktik yang terbentuk dari saling
keterhubungan beberapa konsep. Beberapa konsep kunci tersebut yaitu field, habitus, doxa,
capital, symbolic dan illusio.
Bourdieu tidak memberikan suatu jawaban universal atas kejadian-kejadian. Bourdieu
menawarkan satu teori, kumpulan konsep yang kemudian menjadi metode universal yang
melakukan penelitian empiris melibatkan refleksi peneliti di ranah dan konteks partikular.
Apakah kesimpulan jawaban-jawaban partikularitas tersebut melalui penelitian yang beragam
nantinya membentuk suatu teori universal (grounded theory) bukanlah menjadi tujuan dari Bourdieu, tetapi merupakan suatu pencapaian peneliti itu sendiri.
Ciri khas Bourdieu dalam mengembangkan konsepnya yaitu kesemuanya tidak ada
yang terisolasi dan terdikotomi biner, namun kesemuanya saling berinteraksi. Dialektika
agen-struktur, habitus-ranah dan seterusnya, oleh karena itu posisi konsep Bourdieu berada ditengah saling di/mempengaruhi - interplay.
Berikut ini penjelasan ringkas mengenai konsep-konsep Bourdieu:
a. Field
Field atau ranah merupakan tempat-lokus dimana agen memperjuangkan modal dan posisinya dengan serangkaian strategi, didalamnya terdapat kondisi objektif, aturan, game
dan struktur sendiri. Harker et.al (2009, 9,10) menjelaskan bahwa ranah hendaknya tidak dipandangkan sebagai ranah yang berpagar disekelilingnya, melainkan ranah yang dinamis
dimana beragam posisi eksis dan tempat berlangsungnya perjuangan posisi-posisi.
Posisi-posisi ditentukan oleh pembagian modal. Struktur ranah didefinisikan oleh Posisi-posisi dan relasi
objektif agen-agen, dan antara modal yang terbagi-bagi.
Terdapat tiga fase dalam melakukan analisis field yaitu:
1. Analisa posisi ranah (yang akan diteliti) vis-à-vis ranahkekuasaan,
2. Petakan struktur objektif relasi posisi yang ditempati oleh agen yang berusaha
berkompetisi untuk mendapatkan legitimasi otoritas spesifik,
3. Analisa habitus agen, sistem disposisi yang mereka dapatkan dari menginternalisasi kondisi sosial ekonomi yang deterministik (Bourdieu & Wacquant 1992, 107,
Grenfell 2014, 25).
Penelitian tentang ranah ini menginterupsi dominasi metodologi dalam H.I mengenai
level analisa karena struktur-agen, internasional-nasional dapat dianalisa bersamaan. Pouliot
dan Mérand berpendapat kontribusi utama penelitian tentang ranah adalah memperbolehkan
bergerak melampaui masalah level analisis. Level analisis adalah ranah, baik itu lokal,
nasional ataupun internasional. Ruang geografis ataupun fungsional hanya merupakan tempat
terjadinya struggle. Analisa ranah memampukan kombinasi logika nasional dan internasional
yang saling terkoneksi “two-level game”. Bigo (2005) secara efektif menganalisa perebutan posisi antara para profesional keamanan nasional yang merupakan faktor pendorong strategi
globalisasi di Amerika Latin yang berbentuk double games yakni menyebarkan strategi internasionalisasi untuk memperkuat posisi mereka di ranah domestik (Pouliot & Mérand
2013, 35,36).
Apakah ranah sama dengan ruang sosial? Jawabannya tidak, Harker et.al (2009, 12) menjelaskan ruang sosial mengacu pada keseluruhan konsepsi tentang dunia sosial. Ruang
sosial dapat dikonsepsikan terdiri dari beragam ranah yang memiliki sejumlah hubungan dan
titik kontak antara satu dengan yang lainnya. Ruang sosial yang kompleks tidak dapat
dimengerti secara apriori, tetapi melalui pengamatan empiris tentang coraknya yang tepat
dan konfigurasi kekuatan-kekuatannya yang diperoleh dari bukti yang tersedia. Contoh ruang
sosial misalnya ruang sosial individu yang dikaitkan melalui trajektori kehidupannya yang
terdiri dari serangkaian ranah.
b. Habitus
Habitus3 adalah sebuah sistem disposisi4 sosial dan struktur kognitif yang
menghasilkan persepsi, apresiasi dan aksi (Bourdieu 1988, 279). Habitus adalah kapasitas yang besar untuk menghasilkan produk, pemikiran, ekspresi dan tindakan yang terbatasi
seperangkat kondisi sosial dan historis serta merupakan kebebasan yang terkondisikan dan
bersyarat. Habitus merupakan kehadiran aktif dari semua masa lalu, oleh karenanya memberikan praktik suatu otonomi relatif. Habitus cenderung melindungi dirinya sendiri dari
3 Terminologi habitus seperti yang diakui Bourdieu (1990, 12) telah digunakan filsuf pendahulunya seperti
Hegel, Husserl, Weber, Durkheim dan Mauss, tetapi mereka menggunakannya kurang metodologis.
4 Disposisi merupakan kosa kata teknis Bourdieu yang selalu digunakan tetapi jarang diartikan. Disposisi dalam
tulisan ini memakai arti yaitu tabiat, watak, kecondongan, kecenderungan, susunan dan pemikiran inheren. Ruang Sosial
Ranah
Ranah
Ranah Ranah
tantangan kritis dan krisis. Habitus memproduksi strategi. Asal usul sistem praktek sebuah kelompok ialah berasal dari habitus yang mirip-homologous (Bourdieu 1990, 55,56,61).
Disposisi diperoleh dari penyesuaian subjektif dengan posisi sosialnya dalam suatu
ranah (Harker 2009, 13). Disposisi membuat agen mampu untuk mengenali kemungkinan
bagi dilakukannya sesuatu aksi, dan pada saat yang bersamaan menghalangi agen untuk
mengenali kemungkinan yang lain. Disposisi bukanlah sebab-sebab mekanistis ataupun
dorongan voluntaris. Disposisi membentuk habitus (Codd 2009, 177).
Jadi habitus terproduksi dari proses subjektif (internalisasi hal eksternal, dari sejarah
spesifik) dan dari proses objektif (respon terhadap struktur dan kondisi objektif). Genesis
praktik dalam kelompok sosial ialah habitus yang mirip. Habitus dapat berubah.
Konsep ini mencegah agen dijelaskan secara psikologi (mengisolasi pada individu dan
mengarahkan kepada kejiwaan), behaviourism yang deterministik, dan free will yang abstrak.
Free will tidak eksis semenjak pilihan-pilihan free will itu terbatasi keadaan dan kehendak yang tersituasikan. Bourdieu (1992, 108) mengingatkan bahwa agen sosial bukanlah partikel
(bergerak bebas) tetapi didorong dan ditarik oleh kekuatan eksternal. Freedom bukan sesuatu yang terberi melainkan sesuatu yang ditaklukkan (Bourdieu 1990, 15).
Jika diihat dari sudut agensi, negara mempunyai habitus. Habitus pada negara dapat dianalisa melalui produk yang dihasilkan dan proses penghasilan produk. Produk yang
dihasilkan adalah serangkaian kebijakan hasil dari dialektika internal dan situasi
internasional. Negara pada dimensi ini dipersepsikan internal tunggal yaitu melihat negara
melalui agen kunci pemerintah yang seolah singular. Sedangkan analisa pada proses penghasilan produk yaitu menguraikan agen-agen kunci (pemerintah-non pemerintah) yang
terlibat aktif dalam proses pembuatan kebijakan. Negara pada dimensi ini dipersepsikan
sebagai jejaring habitus agen jamak.
Bourdieu menekankan dialektika antara agen dan struktur atau habitus dan field, oleh karenanya itu negara tidak selalu dilihat sebagai agen melainkan struktur. Mérand dan Forget
(2013) melakukan kajian terhadap strategi dari kebijakan strategis di Amerika Serikat dengan
melihat negara sebagai struktur yang menyediakan resources dan membantu agen sosial.
c. Doxa
Bourdieu menuliskan (1990, 68) doxa ialah hal yang tidak perlu dipersoalkan lagi, pre-refleksif, naif, kerelaan asli dengan prasangka fundamental tentang ranah. Doxa ialah
Doxa merupakan pengetahuan taken for granted, mencakup seperangkat ide, norma dan tipe pengetahuan lain yang secara umum diterima secara aksiomatik dalam situasi sosial.
Doxa menebalkan ortodoksi sehingga dapat menguntungkan pihak yang mendominasi (Pouliot & Mérand 2013, 30).
Kata doxa sendiri telah muncul dalam pembendarahan kata filsafat Yunani kuno. Plato mengartikan doxa sebagai objek opini (antonim episteme (objek pengetahuan)). Aristoteles mensinonimkan doxa dengan dogma. Epicurus menjelaskan doxa dapat melampaui pikiran sehat (Preus 2007, 68,93). Hal ini mengindikasikan kemiripan akan arti doxa antara filsuf
Yunani Kuno dan Bourdieu, tetapi Bourdieu menunjukkan letak doxa yang turut serta menyusun praktik. Doxa juga dapat berarti diskursus pakem.
d. Capital
Terdapat empat kosa kata capital-modal dalam karya Bourdieu yaitu modal ekonomi (economic capital), modal budaya (cultural capital), modal sosial (social capital) dan modal simbolik (symbolic capital). Modal budaya juga dapat bertransformasi menjadi modal simbolik. Modal simbolik akan dijabarkan dalam penjelasan tentang simbolik.
Berdasarkan ranah dimana modal tersebut berfungsi, modal terbagi dalam tiga bentuk
yaitu:
1. Modal ekonomi: modal yang dapat secara langsung dikonversi kebentuk uang, dapat
terinstitusionalisasi kedalam bentuk kepemilikan properti,
2. Modal budaya: modal yang dapat dikonversi pada kondisi tertentu kebentuk modal
ekonomi, dapat terlembagakan dalam bentuk kualifikasi pendidikan. Modal budaya
dapat hadir dalam tiga bentuk: (a) keadaan yang terwujud (bentuk disposisi pikiran
dan tubuh yang kekal dan panjang), (b) keadaan yang terobjektifikasi/objek indrawi
(dalam bentuk produk budaya (buku, instrumen, gambar dan seterusnya)), dan (c)
keadaan yang terlembagakan (misalnya kualifikasi pendidikan),
3. Modal sosial: modal yang terbuat dari dari jaringan sosial, dapat dikonversi kebentuk
modal ekonomi pada kondisi tertentu, dapat terlembagakan dalam bentuk gelar
kebangsawanan. Modal hasil agregasi sumberdaya potensial dan aktual (Bourdieu
1986).
Mahar et.al (2009, 16) menyatakan modal juga dipandang sebagai basis dominasi (walaupun tidak selalu demikian). Modal terletak didalam ranah, logika modal sebagai logika
perjuangan-perjuangan posisi agen. Penukaran paling hebat terjadi dalam penukaran modal
e. Symbolic
Hal yang simbolis baik yang tunggal maupun jamak (mobilisasi simbol-simbol)
terkadang beroperasi samar dan halus. Menjelaskan dan menampakkan yang samar-samar ini
menjadi tujuan Bourdieu memperkenalkan beberapa konsep simbolik yang berjalin
berkelindan. Bourdieu (1991, 167) mengatakan dalam dunia sosial keseharian, agen-agen
berbeda terlibat aktif dalam perebutan simbolik (symbolic struggle).
Simbol-simbol (bahasa, wacana, gambar dan sebagainya) beroperasi sebagai sistem
representasi. Sistem representasi tidak selalu menampakkan realitas sebenarnya, ia juga
berperan membelokkan makna tanda. Sistem simbol oleh karenanya memiliki kekuatan untuk
memberikan pemaknaan bagi realitas sosial. Sistem simbol memperoleh daya abstraknya
melalui proses pencitraan menggiring cara pandang hingga mempengaruhi praktik seseorang
atau kelompok (Fashri 2014, 19,21).
Bourdieu (1990, 121) menyatakan modal simbolik kurang mudah untuk diukur dan
dihitung, tidak seperti barang material misalnya tanah dan sebagainya. Webb et.al (2002, xv) mendefinisikan modal simbolik yaitu suatu bentuk modal atau nilai tidak terlalu dikenali.
Prestise dan reputasi sebagai contoh, hanya beroperasi sebagai modal simbolik yang
bergantung pada kepercayaan orang-orang bahwa seseorang memiliki kualitas tersebut.
Selain yang bentuknya terlembagakan dan berbasis pengakuan-kepercayaan (profesi,
reputasi, jabatan, kharisma, dan seterusnya), terdapat bentuk lain modal simbolik yaitu dalam
bentuk modal politik. Modal politik digolongkan modal simbolik karena eksis dalam dan
melalui representasi, kepercayaan, keyakinan dan kepatuhan. Modal politik terobjektifikasi
dalam institusi permanen, termaterialisasi dalam bentuk mesin politik, instrumen mobilisasi
dan reproduksi berkesinambungan melalui serangkaian mekanisme dan strategi (Bourdieu
1991, 192,196).
Modal simbolik dapat bertransformasi menjadi kekuasaan simbolik. Symbolic power
merupakan suatu kekuasaan yang mana pihak yang tunduk menerima pihak yang
menjalankan kekuasaan. Kekuasaan hadir karena pihak yang dikenai kekuasaan percaya
bahwa kekuasaan tersebut ada. Pada titik ekstrim kepercayaan itu menjadi suatu kredo.
Kekuasaan simbolik kelompok dominan memampukan penegasan/penetapan dunia sosial
versi mereka (Bourdieu 1991, 168, 192). Bourdieu (dikutip Pouliot & Merand 2013, 38)
mengatakan negara pemegang kekuasaan simbolik par excellence.
Hal ini memberikan pemahaman tambahan bahwa aktivitas politik khususnya politik
material. Politik yang hadir dalam bentuk representasi (misalnya siapa yang berhak bicara
atau tidak, isu apa yang diusung atau disingkirkan) merupakan bentuk strategi dan
mekanisme pelanggengan otoritas dan legitimasi kekuasaan simbolik sekaligus penebalan
dunia sosial sesuai definisi kelompok dominan. Akumulasi modal politik yang berasal dari
dominasi pertukaran simbol-simbol mampu dijalankan dibawah kendali kepercayaan dan
kepatuhan. Power dalam bentuk simbolik dimengerti ketika yang terdominasi mengafirmasi tindakan pendominasi.
Modal dan kekuasaan simbolik kemudian mampu menjalankan kekerasan simbolik.
Bourdieu (1991, 140) menyatakan symbolic violence dapat dijalankan ketika yang dikenai kekerasan mengakui legitimasi kekerasan tersebut.
Kekerasan terlegitimasi, berarti kekerasan simbolik beroperasi dalam bentuk yang
samar ketika korban kekerasan tidak merasakan/berpikiran bahwa ia sedang mengalami
kekerasan (tidak menjadi korban). Lebih jauh lagi korban akan menyalahkan dirinya atas
kekerasan tersebut dan berpikiran ia pantas mendapatkannya. Atau dengan kata lain
kekerasan simbolik mempunyai mekanisme pertahanan diri (berupa sistem simbol) dari
serangan yang ingin mempertanyakan perihal kekerasan tersebut. Konsep ini memperkaya
pengertian yang umumnya dikategorisasi dengan tipe kekerasan verbal – non verbal dan
struktural - non struktural.
Modal simbolik, kekuasaan simbolik dan kekerasan simbolik hadir dalam situasi
beragam, praktik material berirama dengan pemancaran simbol-simbol yang memungkinkan
terciptanya suatu realitas legitimit. Mahar (2009, 60) menyatakan kemungkinan bukan hanya
terciptanya realitas, tetapi juga mempercayai realitas itu bahkan sebelum ia eksis. Bourdieu
memberi contoh praktik ketiga hal tersebut misalnya pada produksi budaya melalui ranah TV
dan jurnalisme mainstream yang berlogika pasar (lihat Bourdieu, On Television, 1998). Modal dan simbolik dapat memperkaya analisa power terkait agen dalam H.I. Negara yang mampu tampil dominan dan berada di piramida atas hirarki di ruang internasional
berdiri di atas akumulasi dan akusisi berbagai modal dan simbolik. Negara sebagai agen tidak
cukup mempunyai aspek potensial-material-teknis semata seperti delapan elemen5 kekuatan
versi Morgenthau. Misalnya kemampuan Amerika Serikat dalam memenangkan pertarungan
dalam konteks perang dingin (liberalis-kapitalis paska PD II) dan menebalkan dominasi tidak
hanya berupa penjelasan umum terkait Gorbhacev dan runtuhnya USSR, melainkan
5 Delapan elemen: geografi, SDA, kapasitas industri, kesiapan militer, populasi, karakter nasional, moral
kemenangan yang diperoleh dari praktik akumulasi hasil agregasi modal, simbolik, habitus
dan ranah. Di era perang dingin program-progam AS merupakan rangkaian strategi
konstruksi legitimasi (walaupun terjadi diberbagai ranah, illusio dan agen berbeda) semisal beasiswa, bantuan ekonomi, bantuan militer, leading dalam organisasi dunia, produksi pengetahuan ekonomi reduksionis pasar, pemancaran American Dreams, Hollywood sentris dan sebagainya merupakan praktik aktif agen mengkonstruksi dunia sosial versi dominan.
Rangkaian kejadian tersebut membentuk habitus agen penyokong diberbagai belahan dunia dengan posisi eksklusif dalam pengambilan kebijakan atau berpengaruh melalui
pembentukan opini. Akusisi dan akumulasi menjadi pihak dominan ini beroperasi dalam
format yang tampak maupun samar. Namun analisa ini masih membutuhkan pengembangan
dan pendalaman.
f. Illusio
Illusio merupakan sesuatu konsep untuk menggambarkan kepentingan spesifik. Bourdieu mengatakan (1992, 116) kepentingan pada titik tertentu sama dengan pengertian
tujuan/goal yang terlacak bermula era Stoik, untuk mencapai keadaan atarxy (ataraxia berarti tidak terlibat masalah). Illusio adalah antonim dari ataraxy yaitu sesuatu yang tidak dalam posisi aman, terinvestasi dalam permainan, taruhan yang penting dan bernilai untuk dikejar.
Terminologi ini dapat ditujukan untuk melihat kepentingan spesifik dalam bentuk yang
beragam. Pengusahaan, perebutan dan pencapaian illusio terjadi di dalam ranah.
B. Sampling Works
Beberapa karya yang menggunakan konsep Bourdieu tercatat hadir pada abad 21 yaitu
Anna Leander (2002, 2008, 2016), Niilo Kauppi (2003), Ted Hopf (2010), Didier Bigo
(2011), kumpulan tulisan yang diedit oleh Rebecca Adler-Nissen (2013), Trine Villumsen
Berling (2011, 2012), Matthew Eagleton-Pierce (2011, 2012), Inanna Hamati-Ataya (2012),
Chris Brown (2012, 2014), Gerard van der Ree (2013), Jacek Czaputowicz (2013), Christian
Bueger dan Frank Gadinger (2014), Daniel J. Levine & Alexander D. Barder (2014), Martin
Senn & Christoph Elhardt (2014), Merje Kuus (2015), Christian Lequesne (2015) dan Jorg
Kustermans (2016). Diantara karya tulis yang dikumpulkan tersebut terdapat empat karya
yang ditabulasi. Pemilihan contoh dengan mempertimbangkan keterwakilan isu yaitu high
dan low politics. Berikut ini empat contoh karya yang menggunakan konsep Bourdieu dalam menganalisa hubungan internasional:
No Authors Theme Issue* Concep
ts*
Methods
*
L
Tabel 1 Contoh Karya H.I yang menggunakan konsep Bourdieu
Keterangan*:
Issue: Lp –Low Politics, Hp –High Politics
Concepts: F-field, H-habitus, C-capital (e-economic, c-cultural, s-social, sy-symbolic),
I-illusio, Sp-Symbolic Power, Sv-Symbolic Violence,
Methods: Qn-Quantitative, Ql-Qualitative, Mm-MixedMethods
Mérand & Forget (2013) melakukan riset dengan teknik pengumpulan data primer
melalui observasi dan wawancara mendalam kepada 12 agen (n=12) yang berposisi penting
(pejabat militer setingkat kolonel dan jenderal) yang berpengalaman dalam perancanaan
strategis untuk misi UN dan NATO. Untuk menghindari penggiringan pendapat dari
responden, mereka berupaya mengobjektifikasi informasi yang didapatkan. Idealnya
penggunaan teknik observasi partisipatoris untuk menemukan data mendalam, tetapi mereka
menyadari peluang tersebut sangat kecil di dunia rahasia seperti pembuatan kebijakan
strategis. Mereka mengidentifikasi praktik pergerakan strategis merupakan hal yang
situational, positional dan dispositional “antisipasi praktik”. Kebijakan strategis bertitik potong dengan tiga ranah yaitu: politik, militer dan akademik yang masing-masing ranah
mempunyai logika dan bentuk modal dominan tersendiri. Mereka menemukan responden
berposisi diantara dua ranah kekuatan berbeda yaitu representasi nasional (yang membentuk
habitus) dan institusi militer yang memberikan representasi modal dan simbolik (memepertahankan diri vis a vis agen lain (misalnya diplomat atau pejabat terpilih)). Ditemukan pergerakan strategis dari responden mencakup linguistic, bodily, social skills dan
Untuk contoh isu low politics, Merje Kuus (2015) menganalisa praktik budaya sehari-hari petugas diplomatik Uni Eropa yang berlokasi di Brussels. Kuus melakukan wawancara
dengan n=110, komposisi 73 orang dari kalangan professional. Kuus meneliti bahwa praktik
diplomatik UE tidak bisa direduksi pada negosiasi antar negara semata tetapi kelompok
petugas diplomatik mempunyai budaya dan ranah kekuatan sendiri. Modal simbolik lebih
terpancar dalam relasi sosial informal daripada struktur formal institusi.
Meskipun contoh yang disebutkan diatas masih dianggap state-centris atau bagi sebagian orang isu tersebut jauh dari akses peneliti, bukan berarti menutup kemungkinan
untuk mengembangkan penelitian dalam sub-nasional atau dimana peneliti memiliki akses.
Contoh pada tabel hanya untuk membuktikan bahwa pemakaian konsep Bourdieu dapat
digunakan baik untuk low maupun high politics. Konsep Bourdieu tidak hanya berguna tetapi juga memungkinkan terbukanya horizon untuk teoritisasi (dibangunnya teori (grounded)) dari penelitian yang dilakukan.
C. Posisi dalam filsafat ilmu
Mengapa penjelasan posisi Bourdieu dalam filsafat ilmu dikemukakan pada bagian
akhir dan tidak diawal sebagaimana alur pada umumnya? Argumen yang menjadi dasar yaitu
agar tidak terburu-buru mengkategorisasi Bourdieu, melainkan pemahaman atas konsepnya
menjadi konsen penting yang didahulukan. Hal ini sesuai pernyataan Bourdieu (dalam
Mahar, 2009, 40) bahwa pemikiran akademis dan politis dalam membuat klasifikasi
merupakan salah satu yang menghambat, memperlambat dan menghalangi penelitian serta
penenemuan intelektual.
a. Ontologi
Ontologi mencakup ilmu tentang ada, being qua being. Dihubungkan dengan teori praktik yang Bourdieu kembangkan, agen dan struktur merupakan sesuatu yang ada dan tidak
alamiah. Ke”ada”an agen dan struktur dipengaruhi (bukan dideterminasi dan mekanistis) oleh
dialektika aktif berbagai hal internal-eksternal. Habitus, capital, doxa, illusion, symbolic dan
field eksis dalam praktik sebagai being pembentuk realitas sosial. Walaupun penampakan struktur terkadang abstrak dan meta-fisik (melampaui fisik, non-indrawi), tetapi being
struktur adalah sesuatu yang kongkrit, oleh karenya bisa dijelaskan secara kongkrit.
Wacquant (1992, 20), mengartikulasikan Bourdieu, berpendapat bahwa hubungan agen
mengkritik dominasi teori HI dengan apa yang disebutnya “asocial ontology” yaitu teoritisasi
asosial yang tidak perduli bahwa relasi sosial (termasuk H.I) direalisasikan dan diproduksi
oleh manusia (seperti pejabat UN, konsultan dan seterusnya). Pouliot & Mérand (2013, 29)
menamai ontologi yang ditawarkan Bourdieu yaitu relationalontology.
b. Epistemologi
Epistemologi mencakup ilmu tentang pengetahuan. Bourdieu menekankan epistemologi
empirisme yaitu akal/rasio yang tunduk pada fakta-fakta empiris. Oleh karenanya
pengumpulan pengetahuan terhadap fenomena praktik yang kompleks tidak bisa
mengandalkan kekuatan apriori (deduksi) melainkan gambar yang jelas tersedia ketika penelitian dijalankan atau dengan kata lain menggunakan aposteriori (induksi). Bourdieu mencoba untuk tackle penjelasan abstrak, jikapun ada yang abstrak serta samar-samar, ia mengusahakan menjelaskannya dengan kongkrit.
Tetapi Bourdieu bukan seorang positivis tulen ala lingkaran Vienna meskipun ada beberapa gagasan yang sama (misalnya validasi, falsifikasi). Hal ini disebabkan posisi
peneliti yang tidak bisa lepas dari objek yang ditelitinya. Reflektif merupakan epistemologi
Bourdieu selanjutya. Bourdieu menyatakan (1992, 72) refleksi merupakan anti-narsistic dari peneliti sehingga peneliti mampu mendapatkan fakta objektif.
Peneliti dianggap mendalam ketika ia mampu menyelami kekompleksan penelitiannya
dan mampu mengolahnya tidak hanya secara objektif sebagai fakta diluar peneliti, melainkan
posisi peneliti ikut dalam objektifikasi tersebut sehingga memampukan peneliti melakukan
refleksi kritis. Hal ini juga mengantisipasi agar rasio tidak tunduk secara total dan
memperbolehkan ketika fakta empiris “mempengaruhi” virtue peneliti. Peneliti tidak dapat tampil netral seolah-olah ia tidak berpijak dan objek penelitiannya melayang-layang.
Hal ini memperlihatkan sekali lagi Bourdieu berposisi interplay. Bagus Takwin senada dengan Mahar et.al (2009) berpendapat Bourdieu berhasil melampaui dikotomi biner (subjek-objek, struktur-agensi, pikiran-tindakan) dan berpisah dengan sesuatu yang mekanistik dan
deterministik (misalnya strukturalisme Althusser, Saussure, fenomenologi-Husserl).
Namun tulisan ini tidak mengambil kosa kata beyond/melampaui pada keberhasilan Bourdieu mengatasi dan menjelaskan dualisme tersebut, melainkan berpendapat Bourdieu
mampu menciptakan dialektika aktif dualisme yang equilibrium (berada pada titik seimbang). Kemampuannya mendialektika dikotomi biner termasuk universal (metodenya) – partikular
(penjelasan fenomena yang dikaji), meskipun Bourdieu sendiri tidak tertarik pada
Posisi epistemologi Bourdieu ini (empiris-reflektivis) diproduksi dari hasil
riset-risetnya (misalnya masyarakat Kabyle di Aljazair (lihat Bourdieu, The Algerians, 1961)) dan sejarah kehidupannya. Penelitian lapangan memberinya kerumitan yaitu disatu sisi ada
struktur, kondisi objektif serta sejarah spesifik yang kompleks, disatu sisi lainnya ada
keterlibatan peneliti yang interpretif. Disamping itu kesejarahan spesifik Bourdieu, praktik
from zero (anak tukang pos) to hero (menempati posisi penting) merupakan komposit penting dari teori praktik yang ia bangun. Bourdieu tidak bisa dikategorikan positivis atau
pospositivis, kebiasaan pengurungan seperti itu tidak berlaku untuk Bourdieu karena ia
berposisi ditengah.
c. Metodologi
Metodologi mencakup ilmu tentang metode. Sebelumnya telah disebutkan epistemologi
yang ditekankan Bourdieu, dihubungkan dengan teori yang dibangun, adalah empiris, maka
metodenya juga berpararel yaitu induksi (metode pengumpulan data dan fakta melalui teknik
observasi, wawancara dan seterusnya, kemudian analisa data dan menyusun pernyataan).
Mahar et.al (2009, 4) memasukkan strukturalisme generatif6 kedalam metode khusus Bourdieu yaitu metode cara berpikir dan mengajukan pertanyaan tentang asal usul (generatif)
berbagai struktur sosial (strukturalisme). Bourdieu mengatakan (dalam Mahar 2009, 43)
“seandainya orang ingin memberi nama pada apa yang saya lakukan, anda dapat menyebutnya strukturalisme generatif”.
Reflektif menekankan metode refleksi. Hal ini juga mengantisipasi untuk tidak
menyerahkan semuanya kepada realitas objektif (menghindari glorifikasi subjek dalam
fenomenologi) karena bisa saja representasi tidak menggambarkan presentasi yang
sesungguhnya dan melenggangkan dominasi, terlebih apabila kemudian ada temuan
penelitian yang menuntut peneliti untuk mengintervensinya.
Apakah hal tersebut tidak menimbulkan bias analisa? Bias menurut Boudieu
(diartikulasikan oleh Wacquant 1992, 39) terbagi tiga: pertama, bias peneliti menggunakan
identitasnya (gender, etnis dan seterusnya), hal ini dapat dikontrol dengan mekanisme
self-critism, kedua, posisi peneliti dalam ranah sosial, dan ketiga, intelektual bias (yang menganggap dunia sebagai tontonan dan tidak untuk diperbaiki). Disinilah seninya,
menemukan yang objektif dan mengolahnya tanpa melepaskan objektivitas secara
keseluruhan.
6 Bourdieu (1990, 9) mengakui terminologi generatif diilhami oleh konsep generative grammar oleh Noam
Bourdieu menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Kedalaman pemahaman
didapatkan dari penggunaan pendekatan kualitatif melalui etnografi (seperti antropolog pada
umumnya) dan kemampuan menangkap jumlah dengan menggunakan kuantititatif (seperti
sosiolog pada umumnya). Hal ini membuka peluang penggunaan etnografi dalam Hubungan
Internasional (untuk hal etnografi dan H.I lihat J.H.S Lie (2013)). Kedua pendekatan ini
apabila digabungkan mempunyai istilah pendekatan mixed-methods.
Dari segi pendekatan kuantitatif, Bourdieu aktif bekerjasama dengan ahli matematika
dan statistika. Karya-karya Bourdieu menggunakan serangkaian metode statistik yaitu CA
(correspondence analysis), MCA (multiple correspondence analysis) dan GDA (Geometric
Data Analysis) (Lebaron 2009). Serangkaian uji validasi dilakukan terhadap konsep-konsep
Bourdieu (lihat Robson & Sanders 2009). Johs Hjellbrekke and Olav Korsnes (2009)
mengkuantifikasi ranah kekuatan di Norwegia dengan menggunakan MCA. Hasil pengetesan
yaitu konsep ranah Bourdieu tidak hanya valid diluar Perancis, tetapi juga menghasilkan
wawasan yang baru tentang perubahan sosial masyarakat. Kekuatan dan advanced
penggunaan pendekatan gabungan ini dapat dilihat pada karya Bourdieu berjudul Distincion
(1984).
Hal ini memancarkan sinyal bahwa Bourdieu mengundang serta memberi kesempatan
yang sama peneliti kualititatif dan kuantitatif untuk menjelajahi dan mengeksplorasi karyanya
(dialektika pendekatan). Peneliti yang kuat dikualitatif namun tidak begitu kuat pada
kuantitatif vice versa dapat duduk bekerjasama tanpa arogansi sektoral.
Dihubungkan dengan penjelasan sebelumnya tentang kekaryaan sarjana H.I (tabel 1)
yang mayoritas menggunakan pendekatan kualititatif, penggunaan mixed-methods masih mengalami kelangkaan. Fakta tersebut menjadi hal yang dapat dikembangkan selanjutnya.
Nilai tambah pada teoritisasi Bourdieu adalah konsep yang jelas dan aplikatif tentang
bagaimana menganalisa praktik construct tersebut. Kerumitan konsep diharapkan berbanding terbalik dengan penggunaan konsep dilapangan. Salah satu yang membedakan konstruktivis
ala Wendt dengan Bourdieu adalah detil konsep operasionalisasi.
Sebagai akhir penjelasan filsafat ilmu Bourdieu, secara posisi teoritik dapat
memberikan catatan kepada kategorisasi Cox. Kategorisasi teori oleh Cox (1981, 129,129)
yaitu: pertama, problem-solving theory yaitu teori yang melihat dunia apa adanya, berasumsi
cateris paribus, kedua, critical theory yaitu berbeda dari tatanan umum, tidak mengambil
Jika Bourdieu, dipaksakan masuk dalam teori kritis (berdasarkan indikator tidak taken
for granted), maka terdapat catatan penting yaitu sebelum sampai ketingkat analisa kritis terlebih dahulu untuk mendapatkan deskripsi fenomena yang detail dan kompleks. Tanpa itu
tahapan tingkat analisa kritis tidak akan tercapai. Teori Bourdieu terletak ditengah antara
critical theory dan problem-solving theory (ketika hasil penelitian mendapati ada yang perlu dibenahi namun tidak bersifat cateris paribus).
Penutup
Mengajukan empat pertanyaan dalam satu penulisan ringkas dapat memunculkan
keraguan akan kekuatan tulisan, dan bisa menjadi sumber kelemahan. Argumen yang
menjustifikasi pemilihan resiko itu ialah tujuan yang ingin dicapai oleh tulisan ini dengan
menyediakan dasar pemahaman dan membuka imajinasi. Titik-titik tersebut (internasional,
konsep, contoh karya, filsafat ilmu) dipandang saling terhubung dalam memberikan
gambaran dasar yang berdialektika. Pada inti kesimpulan tulisan ini berargumen bahwa
konsep Bourdieu penting untuk diperhatikan, dikaji dan dikembangkan dalam menganalisa
fenomena Hubungan Internasional baik yang high maupun low politics. Penggunaan konsep Bourdieu tidak dalam fungsi eklektik.
Mainstream penggunaan konsep Bourdieu tidak terletak pada pertimbangan
bandwagon (mengikuti yang terbanyak) tetapi kesesuaian antara konsep yang diperkenalkan dengan realitas sosial yang dianalisa, dari sudut teknis konsepnya mengandung
operasionalisasi yang jelas. Fenomena sosial dalam lensa Bourdieu tidaklah abstrak sekalipun
hal-hal yang dianalisa terselubung dan seolah tidak penting untuk diamati serta hadir dalam
praktik sensor yang ketat.
Proses penyemaian ini diharapkan memunculkan karya dan penelitian lainnya yang
lebih baik lagi. Karya tulis seperti ini merupakan sesuatu tulisan yang tidak “aman”, terbuka
celah terjadi kesalahan dimana-mana, tetapi tidak menuliskannya juga kesalahan yang lain.
Kritik Ilan Zvi Baron (2014, 237,244) mengatakan “IR remains a subject that borrows but
does not repay in kind…IR should offer something that cannot be found elsewhere”. Kritik tersebut sekaligus memprovokasi peminat Hubungan Internasional untuk terus menggali,
DAFTAR PUSTAKA
Adler-Nissen, Rebecca (Ed.). Bourdieu in International Relations. Abingdon: Routledge, 2013.
Baron, Ilan Zvi. "The Continuing Failure of International Relations and the Challenges of Disciplinary Boundaries." Millenium Journal of International Studies Vol.43 (1), 2014: 224-244.
Berling, Trine Villumsen. "Bourdieu, International Relations and European Security." Theory and Society, 2012: 451-478.
—. "Capitalizing on Bourdieu." ISA. Montreal, 2011.
Bigo, Didier. "Pierre Bourdieu and Interational Relations: Power of Practices, Practices of Power." International Political Sociology, 2011: 225-258.
Bourdieu, Pierre. Distinction. A Social Critique of the Judgement of Taste, translated by Richard Nice. Harvard: Harvard University Press, 1984.
—. Homo Academicus, translated by Peter Collier. Stanford: Stanford University Press, 1988.
—. In Other Words: Essay Toward a Reflexive Sociology, translated by Matthew Adamson.
Stanford: Stanford University Press, 1990.
—. Language and Symbolic Power, Translated by Gino Raymond & Matthew Adamson.
Cambridge: Polity Press, 1991.
—. On Television, translated by Priscilla Parkhust Ferguson. New York: The New Press, 1998.
—. The Algerians, translated by Alan C. M. Ross. Boston: Beacon Press, 1961.
Bourdieu, Pierre. "The Form of Capital." In Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education, by John G. Richardson, 241-258. New York: Greenwood, 1986.
—. The Logic of Practice, translated by Richard Nice. Stanford: Stanford University Press, 1990.
Brown, Chris. "Practice, Prudence and International Relations Theory: Bourdieu, Aristotle and the Classical Realist." Journal of Global Studies Vol.4 No.1, 2014: 27-46.
—. "The Poverty of Grand Theory." European Journal of International Relations 19, 2013: 483-497.
Christian Bueger, Frank Gadinger. International Practice Theory: New Perspective.
Hampshire: Palgrave Macmillan, 2014.
Codd, John. "Membuat Perbedaan: Kacamata Pengamat." In (Habitus x Modal) + Ranah = Pratik, translated by Pipit Maizer, by Richard Harker, Chris Wilkes Cheleen Mahar, 169-202. Yogyakarta: Jalasutra, 2009.
Cox, Robert W. "Social Forces, States and World Orders: Beyond International Relations Theory." Millenium Journal of International Studies 10, 1981: 126-155.
Czaputowicz, Jacek. "Theoritical Explanations of Poland's European Security Policy." 8th Pan-European Conference in International Relations, EISA. Warsaw, 2013.
Daniel J. Levine, Alexander D. Barder. "The Closing of American Mind: "American School" International Relations and the State of Grand Theory." European Journal of International Relations Vol.20 (4), 2014: 863-888.
Drake, Michael S. Political Sociology for a Globalizing World. Cambridge: Polity Press, 2010.
Eagleton-Pierce, Matthew. "Advancing a Reflexive International Relations." Millenium Journal of International Studies 39 (3) , 2011: 805-823.
—. Amazon. 2012. https://www.amazon.co.uk/Symbolic-Power-World-Trade-Organization/dp/0199662649 (accessed August 9, 2016).
Epstein, Charlotte. "Bourdieu's nomos, or the structural power of norms." In Bourdieu in International Relations: Rethinking Key Concept in IR, by Rebecca Adler-Nissen (Ed.), 165-178. Abingdon: Routledge, 2013.
Fashri, Fauzi. Menyingkap Kuasa Simbol. Yogyakarta: Jalasutra, 2014.
Frédéric Mérand, Amélie Forget. "Strategizing about strategy." In Bourdieu in International Relations: Rethinking Key Concept in IR, by Rebecca Adler-Nissen (Ed.), 93-113. Abingdon: Routledge, 2013.
Grenfell, Michael. "Bourdieu and Data Analysis." In Bourdieu and Data Analysis: Methodological Principles and Practice, by Frédéric Lebaron, Michael Grenfell, 7-34. Bern: Peter Lang AG, 2014.
Hamati-Ataya, Inanna. "IR Theory as International Practice/Agency: A Clinical-Cynical Bourdieusan Perspective." Millenium Journal of International Studies 40 (3), 2012: 625-646.
—. "Reflectivity, Reflexivity, Reflexism: IR's "Reflexive Turn" - and Beyond." European Journal of International Relations 19, 2013: 669-694.
Hobden, Stephen. International Relations and Historical Sociology. London: Routledge, 1998.
Hopf, Ted. "The Logics of Habit in International Relations." European Journal of International Relations 16 (4), 2010: 539-561.
John J. Mearsheimer, Stephen M. Walt. "Leaving Theory Behind: Why Simplistic Hypothesis Testing Is Bad for International Relations." European Journal of International Relations 19, 2013: 427-457.
Johs Hjellbrekke, Olav Korsnes. "Quantifiying the Field of Power in Norway." In
Quantifying the Pierre Bourdieu, by Chris Sanders, Karen Robson (Ed.), 31-46. Springer, 2009.
Karen Robson, Chris Sanders (Ed.). Quantifiying Theory: Pierre Bourdieu. Springer, 2009.
Kauppi, Niilo. "Boudieu's Political Sociology and the Politics of European Integration."
Theory and Society, Vol.32, No.5/6, 2003: 775-789.
Kustermans, Jorg. "Parsing the Practice Turn: Practice, Practical Knowledge, Practices."
Millenium Journal of International Studies, 2016: 175-196.
Kuus, Merje. "Symbolic Power in Diplomatic Practice: Matters of Style in Brussels."
Cooperation and Conflict 2015, 50 (3), 2015: 368-384.
Lapid, Yosef. "The Third Debate: On the Prospects Theory in a Post-Positivist Era."
International Studies Quarterly, Vol.33, No.3 , 1989: 235-254.
Leander, Anna. "Do We Really Need Reflexivity in IPE? Bourdieuu's Two Reasons for Answering Affirmatively." Review of International Political Economy, Vol.9, No.4, 2002: 601-609.
—. "Habitus and Field." Working Paper Presented at the "Business in Global Governance Cluster" research meeting, December 11, 2008.
Lequesne, Christian. "EU Foreign Policy Through the Lens of Practice Theory: A Different Approach to the European External Action Service." Cooperation and Conflict Vol. 50 (3), 2015: 351-367.
Lie, Jon Harald Sande. "Challenging Anthropology: Anthropological Reflections on the Ethnographic Turn in International Relations." Millenium: Journal of International Studies 41 (2), 2013: 201-220.
Martin Senn, Christoph Elhardt. "Bourdieu and the bomb: Power, Language and the Doxic Battle Over the Value of Nuclear Weapons." European Journal of International Relations 20 (2), 2014: 316-340.
Morghentau, Hans J. The Struggle for Power and Peace. New York: Alfred A. Knoff, 1948.
Philippe Coulangeon, Julien Duval. The Routledge Companion to Bourdieu's Distinction.
Abingdon: Routledge, 2015.
Pierre Bourdieu, Loic. J. D. Wacquant. An Invitation to Reflexive Sociology. Cambridge: Polity Press, 1992.
Preus, Anthony. Historical Dictionary of Ancient Greek Philosophy. Maryland: Scarecrow Press, 2007.
Ree, Gerard van der. "The Politics of Scientific Representation in International Relations."
Millenium Journal of International Studies, 2013: 24-44.
Richard Harker, Cheelen Mahar, Chris Walker. (Habitus x Modal) + Ranah= Praktik, Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Jalasutra, 2009.
Rita Abrahamsen, Michael C. Williams. "Privatization in Practice: Power and Capital in the Field of Global Security." In International Practices, by Vincent Pouliot, Emanuel Adler, 301-332. Cambridge: Cambridge University Press, 2011.
Tim Dunne, Lene Hansen, Colin Wight. "The End of International Relations Theory."
European Journal of International Relations 19, 2013: 405-425.
Vincent Pouliot, Frédéric Mérand. "Political Sociology in International Relations." In
Bourdieu in International Relations, by Rebecca Adler-Nissen (Ed.), 24-44. Abingdon: Routledge, 2013.
Wendt, Alexander. "The Agent-Structure Problem in International Relations Theory."
International Organization, Vol.41, No.3, 1987: 335-370.