• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL WORKSHOP BERBASIS PERSIDANGAN SEBA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MODEL WORKSHOP BERBASIS PERSIDANGAN SEBA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL WORKSHOP BERBASIS PERSIDANGAN

SEBAGAI ALTERNATIF PEMBELAJARAN MENULIS

DALAM PENERAPAN KURIKULUM 2013

Dyah Lyesmaya, S.S., M.Pd.

PGSD FKIP, Universitas Muhammadiyah Sukabumi email:[email protected]

Abstrak

Proses pembelajaran dalam penerapan kurikulum 2013 menjadi sangat penting dilakukan, karena pencapaian pendidikan dalam kurikulum 2013 berbasis proses bukan berbasis hasil. Untuk itu diperlukan berbagai model pembelajaran yang berbasis proses dalam memenuhi tujuan kurikulum 2013. Workshop menulis berbasis persidangan merupakan pembelajaran menulis yang berbasis proses kegiatan menulis. Menulis dengan pendekatan workshop berbasis persidangan menjadikan menulis sebagai sebuah proses saling tukar pikiran dan pendapat mengenai hasil menulis pribadi maupun teman dalam kelompok persidangan. Kegiatan WorkshopMenulis berbasis persidangan memotivasi menulis, melatih keberanian mengungkapkan pendapat, saling menghargai dan mengapresiasi tulisan, serta melatih kreativitas dalam menciptakan sebuah karya tulis.

Keywords: Workshop Menulis, Persidangan, dan Sekolah Dasar.

1. PENDAHULUAN

Kurikulum 2013 dikembangkan dengan harapan dapat menghasilkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan efektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi (Depdiknas, 2006). Menghadapi Kurikulum 2013 yang menitikberatkan pada orientasi proses pada siswa membutuhkan model pembelajaran yang dapat mengembangkan bukan hanya pengetahuan siswa melainkan juga keterampilan dan sikap siswa dalam proses pembelajaran. Tentu hal ini juga harus dapat diaplikasikan pada pembelajaran menulis dalam pembelajaran bahasa indonesia. Tarigan (2008: 20) mengatakan bahwa “kemajuan suatu bangsa dan Negara dapat diukur dari maju tidaknya komunikasi tertulis bangsa tersebut…dengan perkataan lain kuantitas dan kualitas para pengarang beserta hasil karyanya turut menentukan maju tidaknya suatu bangsa/negara.” Dengan demikian, pembelajan menulis harus mendapatkan perhatian serius sejak dini, sejak seseorang mulai mengenal tulisan.

(2)

negara peserta. Selain itu, Hasil studi PISA tahun 2006, menunjukkan bahwa siswa Indonesia menduduki peringkat ke 53 dari 57 negara peserta. Keadaan ini menggambarkan bahwa kemampuan kemelekwacanaan siswa Indonesia masih di bawah rata-rata, dan tidak memperlihatkan adanya peningkatan. Pada tingkat kemampuan ini siswa Indonesia hanya mampu mengingat fakta, terminologi, dan menggunakan pengetahuan yang bersifat umum dalam mengambil dan mengevaluasi kesimpulan.

Tantangan rendahnya kemampuan kemelekwacanaan siswa ini, harus kita jawab dengan mengupayakan pengembangan model-model pembelajaran inovativ bukan hanya oleh para ahli tapi juga oleh guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, menjadi juga tugas guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran membaca dan menulis. Salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proses. Sehingga diharapkan ketika seorang guru SD dapat membelajarkan dengan menggunakan model workshop menulis berbasis persidangan, siswa mempunyai kemampuan untuk mencari lebih luas lagi konten/isi materi sebagai bahan menulis serta mampu menuangkan informasi yang didapatnya melalui persidangan kedalam karya tulisnya .

Pembelajaran workshop menurut Carole Cox (1999) adalah suatu pendekatan pembelajaran, dimana peserta didik dilibatkan dan disengaja menjadi bagian dari suatu proses menulis. Pembelajaran workshop bermula dari sebuah ide di balik proses menulis dan mencerminkan pandangan pembelajaran dari sudut pandang sosial konstruktiv. Sedangkan Persidangan adalah bentuk pendekatan dimana peserta persidangan saling berinteraksi dan berkomunikasi satu dengan yang lain. Graves (1983) mengatakan bahwa persidangan adalah saatnya melontarkan pertanyaan pertanyaan yang merangsang peserta didik dimana pendidik juga belum tentu tahu jawabannya. Selama persidangan, pendidik memandu kebutuhan peserta didik dalam proses yang membawa peserta didik untuk mempublikasikan karyanya.

Melalui artikel ini, penulis mengkaji pendekatan persidangan dengan keyakinan semua keunggulan pendekatan persidangan dapat membantu siswa dalam membuat tulisan melalui interaksi mereka dengan guru, dan interaksi sesama siswa mulai dari Pra-penulisan, Membuat Draft, Revisi, Mengedit, sampai mencetak/menerbitkan tulisan. Sehingga diharapkan melalui workshop berbasis persidangan menghasilkan kualitas tulisan yang mampu menjadi indikasi kemajuan bangsa Indonesia. Selain itu, penelitian ini merupakan wahana pengembangan model pembelajaran menulis berbasis

workshop-persidangan. Adapun model Workshop Menulis Berbasis Persidangan dalam artikel ini adalah Model pembalajaran yang dikembangkan dari hasil penelitian yang dilakukan Agustiani, T. Dkk. (2014).

(3)

mengadaptasi model pembelajaran ini untuk menampilkan kegiatan belajar yang efektif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan.

2. KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang diharapkan mampu menyempurnakan kurikulum KTSP 2006. Pengembangan kurtilas juga sebagai bentuk pendalaman dan perluasan materi, dimana materi-materi yang dianggap tidak relevan ditiadakan dan yang dianggap penting bagi peserta didik ditambahkan. Kurikulum 2013 menekankan pada pembalajaran yang bersifat terpadu (tematik integratif) yang menekankan pada kompetensi peserta didik sehingga pembelajaran berpusat pada siswa (student center). Implikasi pembelajaran dalam kurikulum 2013 diantaranya mencakup pemahaman da kebermaknaan pembelajaran, belajar melalui pengalaman langsung, lebih pada proses daripada hasil, dan sarat dengan muatan keterkaitan antar matapelajaran dan kenyataan. Menurut kemdikbud (2014:2) kurikulum 2013 dikembangkan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi:

1) Manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah;

2) Manusia terdidik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, kreatif;

3) Warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab.

Adapun karakteristik kurtilas berdasar pada kemdikbud (2014:5) adalah:

1) Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) matapelajaran.

2) Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenao kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan matapelajaran. KI adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif.

3) KD merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk satu tema untuk SD/MI.

(4)

5) KI menjadi unsur organisatoris (organizing elements) KD, yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam KI.

6) KD yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat, dan memperkaya antar matapelajaran dan jenjang pendidikan.

7) Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema. Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema.

8) Rencana pelaksanaan pembelajaran dikembangkan dari setiap KD.

3. WORKSHOP MENULIS BERBASIS PERSIDANGAN

Pembelajaran workshop menurut Carole Cox dalam Agustiani, dkk. (2014) adalah suatu pendekatan pembelajaran, dimana siswa dilibatkan dan disengaja menjadi bagian dari suatu proses menulis. Pembelajaran workshop bermula dari sebuah ide di balik proses menulis dan mencerminkan pandangan pembelajaran dari sudut pandang sosial konstruktiv. Tompkins (2000) dalam Hartati (2009) menjelaskan bahawa persidangan meliputi kegiatan:

a. Persidangan di tempat, yaitu guru mendatangi siswa ke meja mereka untuk membimbing beberapa aspek tugas menulis dan kemajuan pelajaran siswa.

b. Persidangan pramenulis, yaitu guru danasiswa menyusun rancangan mereka, membahas tajuk tulisan, cara menyusun idea utama atau cara untuk menghubungkan dan mengatur pesan sebelum menulis.

c. Persidangan menyusun draf, yaitu tahap siswa membawa draf kasar dan bertanya kepada guru apabila ada masalah dengan tulisan mereka secara khusus. Kemudian guru dan siswa membahas masalah tersebut dan bertukar ide untuk menyelesaikannya.

d. Persidangan perbaikan, yaitu kerja kelompok siswa untuk mendapatkan saran tentang cara memperbaik isi tulisan mereka. Kelompok lain berperanan sebagai audien yang memberikan refleksi sebagai bentuk komunikasi yang baik.

e. Persidangan penyuntingan yaitu kelompok kerja siswa dan guru dalam membetulkan aspek penulisan, tanda baca, huruf besar, dan kesalahan mekanis lainnya.

f. Persidangan instruksional, pada tahap ini guru mengajarkan hal-hal yang khusus, contohnya penghindaran tindakan plagiat yang biasanya hal ini menyulitkan para siswa.

(5)

rencana untuk tulisan selanjutnya. Dalam hal ini, guru mengajak siswa merefleksikan keterampilan menulis mereka.

h. Persidangan portfolio, pada tahap ini guru bertemu dengan siswa secara individu untuk memeriksa tulisan yang telah disusun pada portfolio (kumpulan tulisan). guru dan siswa diskusi tentang penilaian pada tulisan dalam portfolio. Revisi guru dan siswa dapat digunakan sebagai refleksi dan persediaan untuk menulis berikutnya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahawa pendekatan persidangan dalam penulisan memiliki kelebihan, yaitu berfokus pada siswa, menulis sebagai proses, adanya persidangan guru dengan siswa secara individu atau kelompok, adanya persidangan rekan sebaya, persidangan berlangsung sejak awal, tengah dan akhir pembelajaran. Dengan demikian, siswa-siswa lebih bertanggungjawab terhadap karangannya dan guru hanya berperanan sebagai pengamat dan penasehat.

Siswa dilatih untuk memahami proses menulis dengan memperhatikan ide, topic, yang ingin disampaikan dalam suatu tulisan dan saat workshop adalah waktu siswa untuk memperaktekan menulis. Siswa belajar untuk mengutarakan pendapat dan belajar bagaimana bertanggungjawab atas pembelajaran yang mereka lakukan. Adapun peran guru adalah memfasilitasi sejumlah waktu yang telah ditentukan dan telah diatur sebagai waktu untuk menulis dan memotivasi/membentuk pendekatan proses menulis yang berpusat pada peserta didik. Guru juga terlibat dalam memberikan contoh menulis, mengamati proses, meragakan keterampilan menulis dan keterampilan yang dibutuhkan, berkolaborasi dalam persidangan, bertindak sebagai penikmat dari penulis, dan meyakinkan siswa akan kesuksesannya sebagai penulis.

Berikut dijelaskan mengenai unsur pembangun dalam Workshop menulis menurut Agustiani, dkk. (2014).

A. Menciptakan Suasana Kelas

(6)

B. Pemodelan/Contoh

Pemodelan/peragaan dalam menulis adalah bagian yang terpenting dalam mengajarkan menulis. Guru bisa memberikan contoh dengan cara mereka menikmati membaca suatu karya. Selain itu bisa juga dilakukan dengan cara:

1. menyediakan suatu contoh: mengutarkan pendapat, menanyakan mengenai apa yang sedang di baca, dan menawarkan contoh dan kemungkinan lain.

2. Membaca karya sendiri. Hal ini merupakan kesempatan untuk memberikan contoh dari karya tulis guru.

3. membuat jurnal belajar dalam kelas 4. Membacakan karya orang lain/teman 5. menerbitkan tulisan dalam jurnal

6. bergabung dengan suatu proyek menulis.

C. Persidangan

Persidangan adalah bentuk pendekatan dimana peserta persidangan saling berinteraksi dan berkomunikasi satu dengan yang lain. Graves (1983) mengatakan bahwa persidangan adalah saatnya melontarkan pertanyaan pertanyaan yang merangsang siswa dimana guru juga belum tentu tahu jawabannya. Selama persidangan, guru memandu kebutuhan siswa dalam proses yang membawa siswa untuk mempublikasikan karyanya. Graves selanjutya menyarankan untuk tetap membuat persidangan pendek yang berfokus pada satu hal, mengajarkan satu hal per tiap persidangan, menghidari ketergesaan, dan tidak berbicara terlalu banyak.

D. Minilesson/Pembelajaran Kelompok Kecil

Minilesson/pembelajaran kelompok kecil adalah pembelajaran dengan waktu tertentu dan terjadwal dengan hanya memberikan satu topic bahasan. Minilesson hanya membutuhkan beberapa menit saja dari keseluruhan waktu yang digunakan dalam proses menulis. Dalam minilesson ini, siswa bisa jadi diberikan arahan dari guru mengenai menulis. Guru bisa menempelkan jadwal minilesson beserta materi yang akan di ajarkan di depan kelas.

E. Program Workshop Menulis Berbasis Persidangan di Sekolah Dasar

(7)

ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa dalam satu semester siswa minimal memperoleh 20 kali pertemuan.

Jadwal dari workshop Menulis/60 menit adalah:

20 menit pertama : siswa berbicara (boleh membacakan atau sekedar berbagi cerita) Berbagi mengenai penulisan karya tulis

20 menit kedua : siswa Menulis (10 menit minilesson, 5 menit guru mengarahkan menulis, 5 menit siswa membacakan hasil tulisannya)

20 menit terakhir : merespon tulisan dilakukan antara guru dan siswa atau siswa dan siswa (memilih meneruskan topik yang diberikan atau melanjutkan kembali hasil kerjanya).

4. MODEL WORKSHOP MENULIS BERBASIS PERSIDANGAN

Model Workshop Menulis Berbasis Persidangan yang dibahas dalam artikel ini merupakan adaptasi dari hasil penelitian yang dilakukan Agustiani, T dkk. (2014) pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sukaabumi. Alasan penulis mengambil model Agustiani, T. Dkk ini sebab selain penulis juga terlibat dalam penelitian, dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan, secara umum diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran workshop menulis berbasis conferencing telah mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menulis skripsi tanpa plagiasi di Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Singkatnya, model ini telah berhasil dilaksanakan di UMMI sebagai upaya meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa. Adapun hasil penelitian yang dilakukan oleh Agustiani, T dkk. Adalah sebagai berikut.

Proses pembelajaran menulis skripsi tanpa plagiasi yang telah dilaksanakan pada penelitian menerapkan metode pembelajaran workshop menulis berbasis conferencing. Pelaksanaannya dilaksanakan selama lima hari (210 menit) terdiri dari tiga kegiatan persidangan yaitu kegiatan persidangan klasikal (class conferencing), kegiatan persidangan kelompok (group conferencing), dan kegiatan persidangan dosen (personal conferencing). Ketika pelaksanaan dalam menerapkan pembelajaran workshop ini pada tahap pemberian materi didukung oleh persidangan. Hal ini terbukti dapat merangsang semangat siswa dalam belajar karena mereka merasa senang dengan penerapan pembelajaran yang telah dilaksanakan.

(8)

empat 3,2 (baik), dan pertemuan ke lima 3,8 (sangat baik) Sehingga indikator memahami etika menulis karya ilmiah, mengidentifikasi tindakan plagiat, mengutip, memparafrase, dan meringkas dengan benar agar terhindar dari plagiasi, menulis daftar pustaka dengan baik dan benar, serta mengidentifikasi EYD tercapai dengan baik dan mengalami peningkatan yang signifikan.

Hasil pembelajaran tes awal dan tes akhir siswa baik di kelas kontrol maupun di kelas eksperimen mengalami peningkatan. Pada kelas eksperimen rerata nilai meningkat dari 6,1 menjadi 8 atau meningkat 1,9 point, sedangkan pada kelas kontrol meningkat dari 6,0 menjadi 6,9 atau meningkat 0,9 point. Berdasarkan data di atas didapat N-gain keterampilan kelas kotrol sebesar 0,2 dengan kategori rendah dan N-gain kelas eksperimen sebesar 0,5 Dengan kategori sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi peningkatan kemampuan menulis skripsi tanpa plagiasi yang signifikan. Data hasil observasi pembelajaran selama lima hari pada kelas eksperiman diperoleh dari lembar observasi yang diamati oleh anggota peneliti kemudian diolah dan dianalisis untuk memperoleh gambaran aktivitas siswa selama lima kali pertemuan. Terdapat delapan aspek penilaian yang terbagi dalam 43 butir item isian yang harus diamati dalm lima hari. Delapan aspek yang dimaksud adalah:

1 Keantusiasan dalam belajar 2 penguasaan materi pembelajaran 3 Sikap siswa dalam workshop menulis

4 Respon siswa terhadap kelompok persidangan 5 Aktivitas siswa dalam diskusi

6 Aktivitas siswa dalam proses menulis 7 aktivitas siswa dalam proses penelitian 8 Penutupan pembelajaran

Berdasarkan lembar observasi, aktivitas mahasiswa mengalami peningkatan. Pada pertemuan pertama skor aktivitas siswa adalah 1,6 (cukup), pertemuan kedua 2,4 (cukup), pertemuan ketiga 2,8 (baik), pertemuan ke empat 3,2 (baik), dan pertemuan ke lima 3,8 (sangat baik). Secara rinci kenaikan aktivitas mahasiswa setiap aspek pun meningkat. Pada pertemuan pertama rerata skor aktivitas 1,8 (cukup) meningkat pada pertemuan kedua 2,5 (cukup) kemudian pada pertemuan ketiga 2,9 (baik) dan pertemuan ke empat 3,3 (baik) dan pada akhirnya pada pertemuan kelima skor naik menjadi 3,8 (sangat baik) Hal ini terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel

(9)

NO ASPEK PERTEMUAN 1 2 3 4 5

1 Keantusiasan dalam belajar 2,0 2,0 3,0 3,0 3,7

2 penguasaan materi pembelajaran 2,5 2,8 3,0 3,3 4,0 3 Sikap mahasiswa dalam workshop menulis 1,1 1,9 2,5 2,9 3,5 4 Respon mahasiswa terhadap kelompok persidangan 1,2 2,6 3,0 3,4 3,8 5 Aktivitas mahasiswa dalam diskusi 2,0 2,5 2,8 3,5 3,7 6 Aktivitas mahasiswa dalam proses menulis 1,8 2,5 2,8 2,8 4,0 7 aktivitas mahasiswa dalam proses penelitian 1,7 2,4 3,0 3,6 4,0

8 Penutupan pembelajaran 2,0 3,0 3,0 4,0 4,0

JUMLAH 14,3 19,7 23,1 26,5 30,7 RERATA 1,8 2,5 2,9 3,3 3,8

Dari hasil simpulan penelitian tersebut mengemuka bahwa model pembelajaran menulis berbasis workshop persidangan mampu meningkatkan aktivitas dan kemampuan menulis mahasiswa. Selain itu, model ini berbasis proses pembelajaran sehingga penulis menyimpulkan akan sangat baik bila diterapkan dalam pembelajaran dengan kurikulum 2013 yang berbasis proses. Adapun model pembelajaran menulis berbasis workshop persidangan adalah sebagai berikut.

Sintaks/Langkah-Langkah Model Pembelajaran Workshop Menulis Berbasis Conferencing

I. Kegiatan dalam kelas besar (class conferencing)

1. siswa berkelompok 3-5 orang

2. Guru memberikan mini lesson (15 menit Pra menulis) 3. Menyusun draft (15 menit)

4. Diskusi kelompok (30 menit persidangan perbaikan) 5. Koreksi EYD (10 menit persidangan penyunutingan) 6. Koreksi materi (10 menit persidangan instruksional) 7. Refleksi, debriefing (30 menit persidangan revisi) 8. Bimbingan personal (10 menit persidangan portofolio)

Hal yang dibicarakan:

(10)

2. Membaca karya sendiri. Hal ini merupakan kesempatan untuk memberikan contoh dari karya tulis guru.

3. membuat jurnal belajar dalam kelas 4. Membacakan skripsi orang lain 5. menerbitkan tulisan dalam jurnal

6. bergabung dengan suatu proyek menulis.

II. Kegiatan dalam kelompok (group conferencing)

1. 20 menit pertama : siswa berbicara (boleh membacakan atau sekedar berbagi cerita). Berbagi mengenai penulisan skripsi

2. 20 menit kedua : siswa Menulis (10 menit minilesson, 5 menit guru mengarahkan menulis, 5 menit siswa membacakan hasil tulisannya)

3. 20 menit terakhir : merespon tulisan dilakukan antara guru dan siswa atau siswa dan siswa (memilih meneruskan topik yang diberikan atau melanjutkan kembali hasil kerjanya).

III. Personal conferencing (bimbingan pribadi)

1. Dapatkah Anda menyatakan kepada saya cara Anda menulis tulisan ini? 2. Bagaimanakah tulisan ini terjadi?

3. Apakah masalah yang Anda dihadapi ketika menulis? 4. Apakah rancangan Anda berikutnya?

(11)

5. Instrumen Yang Digunakan Dalam Model Pembelajaran Workshop Menulis Berbasis Conferencing

1. Jurnal Menulis

Jurnal Menulis adalah buku harian siswa yang menuliskan tiga hal. Waktu Menulis, Apa yang sedang dikerjakan, dan rencana apa yang akan dikerjakan selanjurnya. Contoh bentuk jurnal menulis:

Status menulis di isi ketika sudah melakukan kegiatan persidangan.

Status menulis bisa di buat perkelompok. Status menulis adalah laporan

kemajuan penulisan siswa. Sudah dalam tahap mana siswa mengerjakan

tulisannya pada tanggal berapa. Berikut adalah contohnya.

(12)

Form edit mandiri ini adalah bentuk refleksi terhadap tulisan yang sedang

dikerjakan. Berikut adalah contohnya.

Nama

Judul Tulisan Hari/Tanggal

KARYA TULIS SAYA

Saya memilih judul/topik ini karena:

Sesuatu yang menurut saya spesial dan menarik dalam karya tulis saya adalah...

Saya menilai tulisan ini BAGUS/TIDAK TERLALU BAGUS* untuk cara mengungkapkannya dan BAGUS/TIDAK TERLALU BAGUS* untuk strukturnya.

*) lingkari Target saya dalam penulisan selanjutnya adalah

__________ mencoba berbagai gaya menulis

__________ mengeja lebih banyak kata dengan benar __________ membuat kalimat sederhana lebih banyak

__________ ide lainnya adalah ______________________________________

DAFTAR CEK

Setiap kalimat diawali dengan huruf besar

Nama orang dan tempat menggunakan huruf besar Setiap kalimat diakhiri dengan tanda baca

Setiap paragraf menjorok kedalam

(13)

Menggunakan kata yang baik dan benar untuk mengungkapkan apa yang ingin saya kata

Saya membaca ulang tulisan dan memeriksanya

Saya menambahkan kreativitas saya berupa gambar dll.

4. Mengedit Karya Tulis Teman

Mengedit Karya Tulis Teman

Dokumen yang saya baca adalah karya tulis berjudul:

Karya:

Yang paling baik dan benar mengenai draft ini adalah:

Jika penulis ingin merubah sesuatu, saya menyarankan untuk

(NAMA EDITOR) (Tanggal:...)

5. KESIMPULAN

(14)

Untuk tercapainya penguasaan yang meliputi kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam penerapan kurikulum 2013 yang bersifat saintifik dan tematik integratif perlu dipadukan dengan model-model pembelajaran yang sesuai dengan karkateristik tersebut. Model workshop berbasis persidangan dalam pembelajaran menulis dapat menjadi salahsatu alternatif model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan proses pembelajaran dalam penerapan kurikulum 2013. Model pembelajaran workshop menulis berbasis persidangan memungkinkan proses pembelajaran yang mendorong peserta didik menemukan sendiri pengetahuan, mentransformasi informasi yang kompleks, dan menghasilkan karya tulis dari pengetahuan yang sudah didapatkannya. Dengan demikian proses pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 dapat dilaksanakan dengan optimal.

6. REFERENSI

Lyesmaya, D. dkk. (2014). Pengaruh Workshop Menulis Berbasis Conferencing terhadap Peningkatan Kemampuan Menulis Skripsi Mahasiswa PBSI FKIP UMMI. Sukabumi: (Laporan Penelitian Hibah DIPA DIKTI, Universitas Muhammadiyah Sukabumi, 2014, tidak diterbitkan).

Cox, Carole. (1999). Teaching Language Art: A Student-And Responde-Centered Classroom (third ed.).Boston: Allyn and Bacon.

Departemen Pendidikan Nasional. (2006).Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003. Jakarta: Wacana Intelektual.

(15)

Hartati, T. (2009). “Penerapan Pendekatan Persidangan dalam Pembelajaran Menulis di SD”. Jurnal Pendidikan Dasar. XI, 47-53.

Kemdikbud. (2013). Pedoman Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta:Kemdikbud.

Diakses melalui

http://rayon137.uhamka.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/PEDOMAN -DIKLAT-KUR2013.docx pada 06/11/2014 pukul 06.09 WIB

Kemdikbud. (2014). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta:Kemdikbud.

OECD, (2011), PISA 2009 Result : Student On Line, Volume VI, OECD Publishing: Paris.

Tarigan, H.G. (2008). Menulis sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat lingkungan RW 18 Desa Cijengkol Kabupaten Bekasi terutama para ibu mengenai

Bagian Saat seorang istri mengandung atau hamil, suaminya tidak boleh membunuh binatang menyatakan penyebab karena pada bagian ungkapan pantang larang ini apabila dilakukan

Digunakan untuk melakukan skrining DNA target yang mempunyai lebih dari satu SNP. atau untuk melihat % metilasi dari DNA

Dari kegiatan pembelajaran yang diuraikan tersebut, maka hasil belajar siswa pada pelaksanaan tindakan siklus 1 mengalami peningkatan dari observasi awal yang hanya 21

Mengacu pada penjelasan latar belakang tentang pentingnya rebranding bagi sebuah perusahaan dan bagaimana public relations berperan dalam mengkomunikasikan rebranding

Penyusunan skripsi yang berjudul Sosialisasi Program Kantor Bebas Asap Rokok di PT Kaltim Prima Coal (Analisis Sosialisasi Program Berdasarkan Teori Dramaturgi),

Undang-undang Dana Pensiun No. Undang-undang ini didasarkan pada prinsip “kebebasan untuk memberikan janji dan kewajiban untuk menapatinya” yaitu, walaupun pembentukan program

Adapun hasil pengujian aktivitas antibakteri dengan metode KLT bioautografi dari ekstrak serbuk gergaji kayu eboni diperoleh dua noda yang menghambat pertumbuhan