• Tidak ada hasil yang ditemukan

Orang Muda dalam Politik Dinamika Perge

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Orang Muda dalam Politik Dinamika Perge"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

“Orang Muda” dalam Politik:

Dinamika Pergerakan Antikolonial di Indonesia Awal Abad Ke-20

Oleh: Andi Achdian

(Terbit dalam Jurnal Prisma, Edisi 2, Tahun 2011)

Abstrak:

Ada suatu waktu dalam pengalaman sejarah suatu masyarakat, betapa pun biasa tetapi karena keunikan dan kegunaannya, menjadi momen berpengaruh dalam lingkup kehidupan masyarakat bersangkutan. Ia diperingati sebagai ritual khusus dan diberi makna baru sesuai dengan kondisi kontemporer. Begitulah ketika membayangkan peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang sekarang ini menjadi “hari besar” tersendiri dalam kalender nasional Indonesia. Ia sekaligus menjadi penanda yang mengingatkan waktu historis sebuah masyarakat yang membayangkan diri sebagai komunitas politik dengan hak sahih atas kedaulatan politik manusia yang tinggal di dalamnya – pada saat itu belum menyentuh kedaulatan wilayah.

Satu setengah dekade kemudian, pernyataan “bangsa” dalam Sumpah Pemuda yang masih berupa konsep mengambil bentuk lebih historis dalam momentum krisis pasca-Perang Dunia II. Kalimat pembuka teks proklamasi “Kami bangsa Indonesia” disusul dengan pernyataan kedaulatan politik melalui kemerdekaan menegaskan sifat politik bahwa konsepsi

tentang bangsa, menjadi matang dalam rentang periode waktu satu setengah dekade

sebelumnya, yang memutuskan mengambil alih bentuk kekuasaan negara “dalam tempo setjepat-tjepatnja” melalui proklamasi kemerdekaan Indonesia.

(2)

Pendahuluan

Bandung awal Januari 1923. “Ketika itu berlangsung rapat raksasa di sebuah lapangan

terbuka di Kota Bandung.... Ini adalah rapat Radicale Concentratie, sebuah rapat raksasa

yang diadakan oleh seluruh organisasi kebangsaan,” Soekarno menuturkan pengalaman awal memasuki dunia pergerakan antikolonial di Hindia Belanda. “Setiap pemimpin berpidato. Aku masih seorang pemuda. Aku mendengarkan. Tetapi tiba-tiba aku ingin mengatakan sesuatu dan sesuatu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Mereka semua bicara omong kosong”. Atas “semua omong kosong” itu, Soekarno naik ke mimbar. Di luar perkiraan panitia dan polisi rahasia yang mengawasi jalannya pertemuan, Soekarno berpidato mengecam kolonialisme Belanda di Indonesia. Kepala polisi Bandung, yang terkejut dengan isi pidato yang diucapkan, memaksa Soekarno turun dan membubarkan pertemuan. “Hari itu juga aku menjadi pembicaraan di seluruh kota dan setiap orang mengetahui nama Soekarno”.1

Kemunculan Soekarno di lapangan terbuka di Bandung -- seperti ditulis Cindy Adams -- mengawali satu fase penting dalam sejarah pergerakan politik antikolonial di Hindia- Belanda. Bagi Soekarno pribadi, perkembangan yang terjadi setelah pidatonya itu menempatkan transformasi diri seorang pemuda yang dua tahun sebelumnya adalah aktivis

organisasi pemuda biasa di Kota Surabaya, Jong Java, dan siswa Hogere Burger School

(HBS), menjadi salah seorang tokoh penting dalam politik pergerakan nasional.

Ketika Sukarno tampil di atas panggung, sesungguhnya momentum politik bagi seorang pemimpin muda telah terbuka lebar dalam memimpin pergerakan antikolonial di Hindia-Belanda. Tetapi ada yang cukup mengherankan di sini. Soekarno memilih menamatkan lebih dahulu studinya di THS dibanding segera terjun dalam dunia politik yang kemudian menjadi kehidupan yang dijalani sampai akhir riwayat hidupnya. Pilihan ini menjadi tipikal umum karakter dan sosok para pemimpin politik pergerakan Indonesia yang lahir dan berkembang dalam era yang sama dengan periode kemunculan Sukarno dalam dunia politik seperti Soetan Sjahrir dan Mohammad Hatta.

“Pematangan diri dan studilah yang dipilihnya, dan bukan glamor seorang politikus...” seorang sejarawan memberikan catatan atas fenomena tersebut. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa “[c]iri pemimpin Indonesia seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir bahwa semasa mudanya mereka dapat mengatur hidup menurut cita-cita serta peran yang mereka

idamkan”.2 Jadi, ada satu periode jeda sebelum kemudian seorang dengan keyakinan pribadi

merasakan bahwa “diri mereka memang ditakdirkan’ tampil memimpin sebuah bentuk perjuangan dari kelompok yang diwakilinya. Mereka adalah tipe freischwebende Intelligenz, meminjam istilah Karl Manheim, yang memiliki klaim menjalankan kekuasaan politik bukan sekedar dari latar belakang pendidikan ala barat yang mereka terima dan latar belakang sosialnya, ‘tetapi berkuasa karena mereka adalah seorang intelligentsia’ (Benda, 1965 : 234).

Ini yang kemudian membedakan sosok Sukarno, Sjahrir dan Hatta dan para pemimpin pergerakan politik antikolonial Indonesia dengan sosok lain seperti Jose Rizal di Filipina, Sihanouk di Kamboja dan para pangeran keturunan dinasti Rama V di Thailand dalam satu semangat jaman yang sama. Apabila pembanding mereka lebih mewakili sosok pembaharu bagi kelas atau kelompok sosial mereka berasal, maka di Indonesia kita mendapatkan sosok dengan‘pengalaman belajar dan pandangan dunia bersama’ dengan latar belakang sosial yang beragam dan memimpin arah dan orientasi pergerakan antikolonial. Dalam kasus Sukarno, ada sekitar dua tahun setelah pidato menggemparkan itu untuk menjadikan Soekarno bersama

      

(3)

Mr Ishaq Tjokrohadisoerjo, Tjipto, Abdoel Moeis, dan Anwari, terjun dalam dunia politik nyata dengan mendirikan Algemene Studie Club (ASC) beserta Indonesia Moeda yang terbit

berkala setiap bulan. Sepanjang tahun itu Sukarno menelurkan tesis besar yang terbit

bersambung dengan tajuk Nasionalisme, Islam dan Marxisme (1926) dan kemudian

diterapkan dalam persatuan politik bagi golongan Nasionalis, Agama dan Komunis (NASAKOM) dalam era dewasa Sukarno sebagai presiden pertama Republik Indonesia yang merdeka.

Di luar transformasi diri yang diwakili Sukarno, sesungguhnya kita tengah menyaksikan sebuah karakter dan sifat politik berbeda ketika Sukarno muncul sebagai pemimpin dengan periode sebelumnya ketika muncul apa yang disebut Takashi Shirashi sebagai ‘pergerakan rakyat’ dalam panggung politik Indonesia. Tak dapat dimungkiri, usia muda mewakili ciri bersama generasi pergerakan antikolonial Indonesia sejak peralihan abad ke-20 yang dimulai dengan pembentukan organisasi Boedi Utomo di kalangan mahasiswa kedokteran STOVIA di Batavia. Kita bisa memperhatikan karier politik Ki Hadjar Dewantara (Soewardi Soerjaningrat) yang bergabung dengan Boedi Utomo saat berusia 19 tahun, bergabung dengan Indische Partij bersama Tjipto Mangunkusumo (saat itu berusia 26 tahun) dan Douwes Dekker, kemudian menjalani hukuman pembuangan keluar dari Hindia Belanda pada usia 24 tahun atas tulisan satir yang mengejek perayaan 100 Tahun Kemerdekaan

Belanda berjudul Als Ik Nederlander Was. Dari segi usia, perbandingan lebih mengesankan

lagi adalah Semaun. Pada usia 14 tahun dia telah memulai aktivisme politik sebagai propagandis organisasi Sarekat Islam (SI), menjadi pemimpin SI Semarang pada usia 18

tahun, dan menduduki jabatan ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) saat berusia 20 tahun.3

Dalam kaitan ini profil Semaun mengalahkan Sokarno, Hatta dan Sjahrir yang bisa dikatakan “terlambat” memasuki arena politik pergerakan.

Namun ada persoalan lebih penting di sini saat kita mencoba membandingkan sosok Sukarno dengan Semaun yang sama-sama tampil dalam usia muda. Lebih dari sekadar usia muda mereka, sesungguhnya kita tengah menyaksikan sebuah “sejarah baru” yang menjadi ciri kepemimpinan Soekarno dan Sjahrir yang mendominasi politik pergerakan sejak akhir dekade 1920-an. Sifat sadar akan usia muda seperti dinyatakan sendiri oleh Soekarno dalam otobiografinya dengan demikian adalah ciri tersendiri sesuai kondisi jaman yang membedakan watak politik mereka. Kemunculan frase “pemuda” (dan terpelajar) sebagai bagian penting dalam wacana politik pergerakan antikolonial adalah sebuah perubahan sejarah yang terjadi dalam panggung politik pergerakan itu sendiri.

Hancurnya Radikalisme

Dalam bagian ini, kita mundur ke belakang sejenak untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana transformasi sejarah yang membedakan watak pergerakan politik Indonesia terjadi dalam beberapa dekade awal abad ke-20, khususnya setelah Perang Dunia I di Eropa yang menjadi dasar perkembangan baru dalam politik global terkait dengan kolonialisme bangsa Eropa di Asia. Periode itu adalah sebuah awal merosotnya keyakinan supremasi dan dominasi kulit putih di Asia yang dimulai sejak kedatangan armada Vasco da Gama di Tanjung Harapan lima abad sebelumnya. Pemerintah kolonial Inggris di India dan Burma serta Perancis di Indochina mulai meminta “dukungan moral” bangsa jajahannya dengan mengirim buruh dari koloni mereka mengisi kekosongan tenaga kerja dalam negeri menghadapi agresi militer Jerman pada Perang Dunia I (1912-1914).

      

(4)

Tahun 1914, Presiden Woodrow Wilson mengeluarkan deklarasi empat belas poin yang mengangkat “hak menentukan nasib sendiri” bangsa-bangsa jajahan. Dalam periode waktu hampir bersamaan dengan munculnya Soekarno di panggung politik antikolonial di Indonesia, Mahatma Gandhi dan Partai Kongres di India memulai gerakan non-kooperasi sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme Inggris. Revolusi kaum sosialis bulan Oktober 1917 di Rusia semakin memalingkan harapan kaum nasionalis di Asia terhadap negara-negara barat dan melihat Revolusi Oktober di Rusia sebagai orientasi baru politik mereka. Sun Yat-sen, pendiri negara Republik Tiongkok, menyatakan di depan publik China bahwa rakyat Rusia adalah “satu-satunya sekutu dan saudara” rakyat China dalam perjuangan

mereka.4 Ringkasnya, politikus di negeri induk semakin menyadari pentingnya menjalankan

politik kolonial mereka dengan cara baru sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam dunia internasional itu juga menghampiri masyarakat Hindia-Belanda dibawah kekuasaan kolonialisme Belanda.

Kita akan melihatnya dari perkembangan koridor kekuasaan yang terjadi di Hindia Belanda saat itu dan dinamikanya ketika berinteraksi dengan politik oposisi yang muncul terhadap koridor kekuasaan itu. Karakter yang menarik saat itu diwakili JP Graaf van Limburg Stirum, seorang aristokrat liberal yang mulai menjabat Gubernur Jenderal pada Maret 1916 menggantikan Idenburg yang telah menjabat selama lima tahun (1911-1916). Secara garis besar, kebijakan-kebijakan van Limburg Stirum meneruskan langkah Idenburg menggulirkan pembaruan politik di tanah jajahan dengan visi bahwa “Hindia tidak selamanya menjadi cabang dari Belanda sebagai negeri induk.” Salah satu kreasi penting van Limburg Stirum adalah membentuk Volksraad yang berfungsi sebagai “badan penasihat” mendampingi pemerintahan pada Desember 1916. Wewenang terbatas tanpa kekuasaan legislasi dan interpelasi menyebabkan lembaga tersebut mendapat julukan “panggung komedi” di kalangan aktivis pergerakan. Namun, ia tetap membangkitkan antusiasme pimpinan pergerakan yang melihat lembaga itu sebagai awal menuju otonomi dan pembentukan pemerintahan sendiri di tanah jajahan. Dalam kaitan ini, van Limburg Stirum jelas ingin mengarahkan kebangkitan kesadaran nasional dan mengendalikan perubahan itu

melalui jalur politik parlemen.5 Langkah-langkah van Limburg Stirum ini berada dalam satu

semangat zaman yang sama dalam lingkup lebih luas di Eropa.

Namun demikian, senantiasa ada jarak antara rencana yang tersusun rapi dan cermat dengan kenyataan yang terjadi kemudian dalam catatan sejarah. Dalam kaitan ini, van Limburg Stirum menghadapi tantangan terbesar dengan benih gagasan juga berasal dari “negeri induk” yang diwakili sosok penggerak sayap kiri Partai Sosial Demokrat sekaligus ketua serikat buruh kereta api di Negeri Belanda, yakni Henk Sneevliet yang datang tiga tahun lebih awal sebelum van Limburg Stirum menduduki jabatan gubernur jenderal. Dibanding van Limburg Stirum, Sneevliet terbukti berhasil mengarahkan perkembangan politik di Hindia-Belanda di luar rencana pemerintah. Dia segera merombak organisasi serikat buruh kereta api (Vereeniging van Spoor en Tramweg Personeel, VSTP) yang terbentuk sejak 1908 dengan mengaitkan hubungan organisasi serikat buruh ini dengan perkumpulan sosialis demokrat di Hindia-Belanda (ISDV) yang dibentuknya di Semarang pada 1914. Dia mengikutertakan murid didiknya, Semaun, yang saat itu bekerja sebagai karyawan muda di bagian administrasi jawatan kereta api. Melalui Semaun, sebuah jembatan dibangun antara organisasi serikat buruh, kelompok sosial demokrat dan organisasi massa yang populer di Hindia-Belanda saat itu, Sarekat Islam.

      

4 K.M. Panikkar. Asia and Western Dominance: A Survey of the Vasco Da Gama Epoch of Asian History,

1498-1945. Allen & Unwin, London. 1961. Hal. 205-211.

5 Takashi Shiraishi. An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926. Cornell University Press,

(5)

Kedudukan Semaun sebagai pemimpin Sarekat Islam cabang Semarang menjadi bukti keberhasilan Sneevliet menanamkan “prinsip-prinsip sayap kiri” dalam perjuangan antikolonial di Hindia-Belanda saat itu. Pada 23 Mei 1920, kader-kader militan Sneevliet mendirikan Perserikatan Komunis di Hindia (kemudian Partai Komunis Indonesia) di Semarang dan menjadi partai komunis pertama di Asia, mendahului Partai Komunis China yang berdiri setahun kemudian (Juli 1921). Dengan basis utama gerakan buruh, Semaun yang menjadi pemimpin PKI memasukkan nilai-nilai baru melampaui visi politik etis pemerintah kolonial yang mengharapkan integrasi pribumi dalam nilai-nilai kemajuan Eropa. Melalui pemogokan, rapat akbar, pawai, dan demonstrasi, Semaun dan partainya (PKI) memimpin “abad pemogokan yang menyingsing di Hindia” dan “SI Semarang di bawah kepemimpinan

Semaun menjadi titik gravitasi dunia pergerakan”.6

Tantangan seperti itu merupakan batu sandungan terhadap kebijakan-kebijakan van Limburg Stirum. Radikalisme kaum buruh menyebabkan kebijakan van Limburg Stirum dianggap sebagai sebuah bentuk kegagalan pemerintah di mata politisi konservatif dan pengusaha Belanda di negeri induk. Pada April 1921, van Limburg Stirum digantikan Dirk Fock, seorang pengacara yang sebelumnya menjadi anggota Volksraad dan selalu menentang kebijakan van Limburg Stirum yang dianggapnya lemah dalam menghadapi militansi dan radikalisme politik kaum buruh. Debut politik Fock sebagai gubernur jenderal diawali dengan diperkenalkannya kebijakan anggaran berimbang, pengetatan finansial dan peningkatan pajak dengan tidak merugikan pengusaha. Akan tetapi, hal lebih penting adalah cara dia menangani politik di Hindia-Belanda saat itu. Van Limburg Stirum lebih banyak menerapkan cara-cara politik, sedangkan Fock memperkuat Dinas Polisi Rahasia (Algemeene Rechercedienst dibentuk pada 1918) sebagai cara menghadapi pergerakan. Dengan demikian, realitas pergerakan politik di Hindia-Belanda pada paruh kedua abad ke-20 menjadi realitas “Negara Polisi” dengan polisi rahasia dan telik sandi senantiasa mengintai aktivis pergerakan

menggantikan peran pegawai sipil dinas dalam negeri.7

Kebijakan Fock cukup efektif dalam menghentikan laju politik radikal di Hindia-Belanda. Aktivitas polisi rahasia dan telik sandi yang membuntuti dan menangkap aktivis pergerakan dan membubarkan pertemuan-pertemuan politik menjadi tekanan yang melemahkan gerakan kaum buruh dan politik radikal. Sepanjang paruh kedua abad ke-20, pendekatan represif pemerintah praktis melumpuhkan politik pergerakan dan menempatkan kaum pergerakan sekadar bertahan menghadapi tekanan berujung pada pemberontakan yang gagal pada 1926. Penghancuran gerakan komunis di Indonesia mengingatkan kita pada Shanghai Massacre (1927) yang nyaris meluluhlantakkan kekuatan Partai Komunis China. Akan tetapi, di sini ada perbedaan cukup signifikan. Pembersihan kaum komunis di China melahirkan strategi baru gerakan komunis dengan meninggalkan buruh perkotaan dan beralih pada kelompok petani sambil membangun tentara sendiri. Inisiatif seperti itu tidak pernah muncul di sepanjang riwayat pergerakan antikolonial di Hindia-Belanda. Organisasi sebesar PKI hancur dan “terpaksa” bergerak di bawah tanah sampai muncul kembali menjadi partai politik legal tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan Agustus 1945.

Sebelum mengakhiri bagian ini dengan riwayat kehancuran gerakan komunis tertua di Asia saat itu, kita akan menajamkan terlebih dahulu lensa sejarah pada sosok pimpinan terkemuka, yaitu Semaun, sebagai cara melihat bagaimana perbedaan itu terjadi dalam waktu kemudian dalam panggung politik pergerakan. Sosok Semaun dengan segala aktivitas pergerakannya di Semarang tampil berbeda dibanding Soekarno dan Sjahrir. Soekarno dan Sjahrir banyak menghabiskan usia muda mereka sebagai siswa sekolah tinggi kolonial, sedangkan Semaun seperti kebanyakan tokoh aktivis pergerakan radikal yang tumbuh

      

(6)

berkembang sejak paruh kedua abad ke-20 terjun langsung dalam aktivisme politik sebagai propagandis organisasi serikat buruh di Surabaya dan Semarang serta memimpin Sarekat Islam cabang Semarang dan kemudian PKI. Semaun, dan juga Winanta yang menggantikannya sebagai ketua PKI pada 1924, berasal dari keluarga buruh dengan tingkat pendidikan lebih rendah dibanding Soekarno dan Sjahrir.

Semaun menekuni dunia pergerakan “sebagai kenyataan hidup yang dihadapinya tanpa amarah, ketakutan dan ketegangan generasi sebelumnya” dalam menghadapi tradisi jongkok dan sembah berhadapan dengan para pembesar pribumi dan kolonial. “Generasi pendahulunya membenci tradisi itu, tetapi tetap terkungkung” dalam apa yang dikatakan

Pramoedya Ananta Toer sebagai sembah-sumpah.8 Ini tentu sebuah psikologi politik berbeda

bila kita memperhatikan para pemuda terpelajar yang menjadi pemimpin pergerakan antikolonial seperti Tjipto Mangoenkusumo dan Suwardi Soerjaningrat pada awal abad ke-20 dan tokoh lainnya seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir.

Dalam kaitan ini, pergerakan dan kesadaran untuk terjun dalam dunia pergerakan bukan sekadar dorongan motivasi pribadi mematahkan kekolotan tradisi feodal yang mengungkung dunia pemuda terpelajar Indonesia pada dekade awal abad ke-20, tetapi lebih pada bagaimana pembentukan kekuatan terwujud melalui pengorganisasian basis sosial kelas buruh di perkotaan melalui disiplin organisasi massa dikaitan dengan strategi politik partai (diwakili oleh satu partai komunis). Pendek kata, “abad pemogokan yang menyingsing di Hindia dan SI Semarang di bawah kepemimpinan Semaun menjadi titik gravitasi dunia pergerakan” sekaligus menjadikan Semaun dan partainya (PKI) sebagai kekuatan utama

memimpin pergerakan saat itu.9 Dengan demikian, ketika Semaun memimpin pergerakan,

istilah “pemuda” (dan terpelajar) tidak pernah menjadi wacana politik dan unsur penting di kalangan basis massa buruh dan petani. Hal demikian seolah menegaskan pandangan seorang sejarawan yang menyebutkan bahwa “[d]i kalangan petani di Indonesia, masa muda itu

sebenarnya tidak ada. Demikian juga tidak ada masa muda di kalangan buruh”.10

Kaum Terpelajar Memimpin Politik

Kembali pada sosok Sukarno dan rekan-rekannya. Setelah menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar sarjana sekolah teknik di Bandung, ia terjun dalam dunia politik secara total. Mereka membentuk Perserikatan Nasional Indonesia (kemudian menjadi Partai Nasional Indonesia, PNI) pada 4 Juli 1927. Di sini, selain gambaran lengkap tentang kehadiran seorang politikus dengan pemikiran matang sebagai visi penuntun tindakan politik sekaliber Soekarno, terdapat sebuah terobosan politik yang mengisi “kevakuman” politik pergerakan setelah kehancuran PKI dalam pemberontakan gagal 1926. Terobosan itu terjadi melalui inisiatif Soekarno sebagai ketua PNI yang mengusulkan pembentukan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) bulan Desember 1927. Partai dan organisasi politik yang masuk menjadi anggotanya adalah PNI, Partai Sarekat Islam, Paguyuban Pasundan, Budi Utomo, Studie Club, Sarekat Sumatra, Sarekat Madura,

Kaum Betawi, dan Partindo yang dibentuk pada 1932.11

Pembentukan PPPKI sejenak mengingatkan pada model front persatuan ala Tiongkok yang berhasil menyatukan Partai Komunis China dengan Partai Nasionalis Kuomintang dalam menghadapi agresi militer Jepang. Perbedaan signifikan antara PPPKI dan front       

8 Shiraishi, 1990: 98. 9 Shiraishi: 103. 10

Onghokham. Op.cit., hal. 133.

11 Slamet Mulyana. Kesadaran Nasional: dari kolonialisme sampai kemerdekaan, Jilid. I. LKIS, Yogyakarta.

(7)

persatuan model China adalah pada sifat keanggotaannya. Front persatuan didasarkan pada keikutsertaan individu anggota masing-masing partai dalam satu program bersama, sedangkan PPPKI lebih menampilkan gambaran penyatuan organisasi partai-partai politik

yang ada menjadi “pembentukan kekuatan dan pembangunan kekuasaan nasional”.12

Perubahan nama “permufakatan” menjadi “persatuan” pada kongres Mei 1931 menegaskan gambaran itu. Ringkasnya, kita memperoleh sebuah penerapan gagasan politik yang telah dirumuskan Soekarno tentang arti penting persatuan kekuatan nasional di Hindia-Belanda.

Dalam periode ini, sifat dan warna “Indonesia” dalam tindakan politik pergerakan semakin kental menggantikan suasana politik periode sebelumnya. Walaupun PKI adalah partai politik pertama yang menggunakan kata Indonesia dalam identitas partai, masih banyak tersisa orang-orang Belanda dan kalangan Indo progresif era ISDV yang mengisi kepemimpinan PKI dan organisasi serikat buruh pendukung partai ini. Aktivitas politik PKI yang lebih menekankan mobilisasi kekuatan ekonomi politik buruh di perkotaan dan petani di perdesaan dalam slogan politik “sama rata sama rasa” menjadikan konsep tentang Indonesia sebagai bukan prioritas utama agenda politik mereka. Sebuah impian tentang transformasi sosial dalam hubungan kapitalistik masyarakat kolonial saat itu adalah target utama politik pergerakan yang berpusat di kota buruh Semarang.

Setelah kehancuran PKI dan kepemimpinan PNI dalam panggung politik pergerakan, visi Soekarno tentang arah pergerakan menjadi pemikiran dominan dan konsepsi mengenai Indonesia menjadi penanda politik utama yang menekankan sebuah perbedaan di antara front “kulit sawo matang” berhadapan dengan “kulit putih” yang memegang tampuk kekuasaan kolonial. Sifat politik lebih menekankan unsur Indonesia dalam kalangan pergerakan dijadikan alasan oleh Partai Sarikat Islam (PSI) untuk keluar dari PPPKI. Tokoh-tokoh partai ini beralasan bahwa prinsip PSI yang menekankan unsur Islam tidak membatasi keanggotaan berdasarkan latar belakang asalkan mereka adalah pemeluk agama Islam. Persoalan ini pun sesungguhnya menciptakan krisis terus-menerus di tubuh PSI antara kubu Agus Salim dan Cokroaminoto yang mengedepankan visi tentang Pan-Islamisme dengan Sukiman dan Surjopranoto yang lebih menekankan sisi kebangsaan dalam agenda politik masing-masing. Kubu Sukiman-Surjopranoto akhirnya memisahkan diri dengan membentuk Partai Islam Indonesia (PARI) pada Mei 1935, mengikuti arus perkembangan zaman yang cenderung bergerak pada politik kebangsaan.

Jadi, PPPKI adalah sebuah inisiatif yang mewakili semangat baru dalam mengisi pergerakan politik antikolonial dengan sifat Indonesia yang lebih mewarnai wacana politik dan tindakan mereka. Dibanding “front persatuan” dalam program bersama anggota partai di China, PPPKI tampak lebih menampilkan sosok “partai politik baru” yang mewakili penyatuan kekuatan politik yang ada di dalam perhimpunan itu. Ini kemudian menjadi ciri utama yang membentuk watak pergerakan politik dalam paroh kedua tahun 1920-an menggantikan periode sebelumnya. Setidaknya visi ini menciptakan sebuah ruang gerak politik lebih leluasa dalam menghadapi kebijakan pemerintah kolonial yang membatasi ruang gerak aktivisme politik di Hindia-Belanda dengan tujuan memisahkan para pemimpin dengan massa luas pendukung mereka di perkotaan dan perdesaan.

Dalam waktu tidak terlampau jauh dari pembentukan PNI di kota yang sama, seorang siswa AMS yang “tangkas, siaga dan cerdas” serta berusia sembilan tahun lebih muda dibanding Soekarno mulai menarik perhatian polisi kolonial. “Soetan Sjahrir, siswa AMS”, demikian sosok pemuda itu dalam laporan polisi, menarik perhatian dengan kiprahnya

sebagai seorang pemimpin “pergerakan” yang pada 20 Februari 1927 membentuk Jong

Indonesia (kemudian berubah menjadi Pemoeda Indonesia pada April 1927) sekaligus pemimpin redaksi majalah himpunan muda tersebut. Sampai dengan akhir 1928, organisasi       

(8)

Pemoeda Indonesia yang dipimpinnya telah menyebar keluar Kota Bandung dengan cabang-cabang di Batavia, Yogyakarta, dan Surabaya. Organisasi ini tumbuh pesat berdampingan dengan organisasi-organisasi pemuda yang telah ada dengan basis pengorganisasian keanggotaan sesuai daerah asal, seperti Paguyuban Pasundan, Jong Java, Jong Sumatra, dan juga basis agama, seperti Jong Islamieten Bond dan Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi (KRIS).

Perkembangan cukup menarik adalah ketika terjalin hubungan antara organisasi Pemoeda Indonesia dan PNI. Sjahrir secara pribadi tidak pernah menjadi anggota PNI,

namun ada beberapa anggota Pemoeda Indonesia masuk dan juga “kolega-kolega dari PNI

yang bertindak sebagai penasihat”. Hubungan ini mengesankan sosok Pemoda Indonesia

sebagai “persemaian bagi para pemimpin organisasi (PNI)” seperti dilaporkan dalam catatan polisi kolonial saat itu. Sebagian anggota Pemoeda Indonesia kerap hadir dalam rapat-rapat dan diskusi PNI, termasuk Sjahrir. Soekarno pun terkadang berbicara di dalam

pertemuan-pertemuan Pemoeda Indonesia.13

Laporan polisi kolonial tentang sifat hubungan itu tampaknya tidak terlalu berlebihan. Ini merupakan sebuah transformasi model lama ketika dunia pergerakan di bawah arahan PKI mendapatkan sumber kepemimpinan mereka dari propagandis-propagandis militan dalam organisasi serikat buruh, khususnya organisasi buruh kereta api. Perbedaannya sekarang lebih pada unsur generasi yang diwakili kata “pemuda” dalam aktivitas politik mereka. Ukurannya bukan lagi militansi dan kematangan politik para pemimpin dalam pengalaman kerja pengorganisasian sebagai propagandis serikat buruh, tetapi lebih pada usia muda dengan beban kewajiban menyelesaikan terlebih dahulu masa belajar di sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Sjahrir pun merasa perlu menyelesaikan pendidikan dengan melanjutkan studi di Negeri Belanda pada 1929 dan memasuki Fakultas Hukum di Universitas Amsterdam. Ini seperti mengulang pengalaman Soekarno yang memutuskan melanjutkan pendidikan ke sebuah perguruan tinggi di Bandung, meski dia telah menjadi sosok terkenal di lingkungan organisasi pemuda sewaktu masih menjadi siswa HBS di Surabaya. Sjahrir banyak bergaul dengan tokoh-tokoh sosial demokrat di Negeri Belanda, namun dia tidak pernah menjadi

anggota partai politik. Dia memilih organisasi Perhimpoenan Indonesia, yang merupakan

organisasi para pelajar asal Indonesia di Negeri Belanda, sebagai tempat beraktivitas. Keputusannya untuk terjun dalam dunia politik menunggu waktu dua tahun setelah di Hindia-Belanda terjadi kekosongan pimpinan politik akibat dipenjarakannya Soekarno pada akhir 1929. Pada 1931, Sjahrir pulang ke Hindia-Belanda disusul Mohammad Hatta yang harus menyelesaikan terlebih dahulu masa studi yang tersisa sebelum memperoleh gelar sarjana ekonomi. Bersama Sjahrir, Hatta membentuk sebuah partai, PNI-Pendidikan atau PNI-gaya

baru, yang mendaku sebagai penerus PNI yang didirikan Soekarno.14

Perkembangan yang terjadi di Bandung memasuki paruh kedua tahun 1920-an dengan Soekarno yang mulai menanamkan pengaruh dalam politik pergerakan antikololonial melalui

pembentukan PNI dan kepemimpinan Sjahrir yang masih menjadi siswa AMS dalam Jong

Indonesia, merupakan sebuah gambaran tentang dominasi kaum terpelajar usia muda dalam panggung politik. Mereka membawa frase “pemuda” menjadi wacana politik yang lekat dengan tindakan yang dilakukan. Kiprah politik mereka, utamanya Soekarno dengan PNI-nya, menjadikan Bandung sebagai pusat orientasi baru menggantikan peran Semarang sebagai “kota merah”, seperti Turin di Italia pasca-Perang Dunia I dengan kekuatan serikat buruh dan kader-kader komunis militan sepanjang akhir tahun 1910-an dan awal pertengahan 1920-an. Berbeda dengan Semarang, Bandung lebih menampilkan suasana dan watak

      

(9)

kosmopolitan tempat sekolah dan pendidikan tinggi terkemuka di Hindia; arsitektur rumah-rumah di perkotaan mirip dengan suasana Eropa mutakhir. Tidak ketinggalan pula ragam

pertunjukan kesenian, pameran lukisan, dan pemutaran film Nostromo karya Conrad di

Bioskop Preanger dengan waktu bersamaan pemutaran perdana film ini di London, Amsterdam, dan Leiden, mengingatkan orang-orang Eropa dan Belanda pada suasana kota Paris.15

Lebih dari sekadar perpindahan lokus, pergeseran pusat aktivisme politik ke Bandung menampilkan pula watak baru politik pergerakan antikolonial. Fakta paling menonjol dalam periode ini adalah kemunculan pemimpin politik lulusan sekolah tinggi atau sekolah menengah Belanda menggantikan peran aktivis buruh dan propagandis yang lahir dari keluarga buruh dan menjadi ciri dunia pergerakan sebelumnya. Sebagian besar sumber kepemimpinan PKI pada periode sebelumnya berasal dari propagandis yang aktif dalam organisasi serikat buruh, sedangkan pada periode berikutnya kita mendapat gambaran tentang orang-orang terpelajar yang menjadikan aktivisme politik sebagai pilihan hidup sebagaimana diwakili Soekarno, Sjahrir, dan lingkaran angkatan muda yang terbentuk di sekitar Sjahrir. Periode ini adalah periode anak-anak sekolahan menggantikan anak-anak buruh dan pegawai rendahan yang menempati strata rendah dalam masyarakat kolonial, tetapi lebih dekat dengan basis massa rakyat yang mereka wakili.

Dengan latar seperti itu, frase “pemuda” menempati makna semakin meluas. Ia bukan sekadar rujukan pada ukuran usia seseorang, tetapi juga telah menjadi bagian dari watak dan kepribadian baru yang membedakan dengan generasi orang tua mereka. Seruan mereka seperti membangkitkan kembali gema pemikiran tentang “kemajuan” rakyat pribumi seperti pernah ditulis Kartini pada akhir abad ke-19 dan para pelajar STOVIA di Batavia yang membentuk Budi Utomo pada awal abad ke-20. Ringkasnya, di sini kita mendapat sebuah gambaran tentang memudarnya seruan melawan “kapitalisme yang berdosa” dengan dukungan aksi pemogokan kaum buruh yang membentuk kekuatan politik pergerakan periode sebelumnya. Sifat kebudayaan dalam bentuk identitas diri dan status mereka sebagai bangsa terjajah mewarnai dinamika politik pergerakan di Bandung setelah kehancuran gerakan buruh dengan watak ekonomisme yang melatari aksi-aksi politik PKI. Konsolidasi keanggotaan kelompok-kelompok pemuda, organisasi kepanduan, seni dan teater serta olahraga sepak bola merupakan beberapa petunjuk tentang pergeseran watak perpolitikan saat itu.

Dinamika Gagasan tentang Pemuda

Sosok Soetan Sjahrir yang saat itu siswa AMS di Bandung merupakan tipikal

kepemimpinan baru, selain berperan dalam Pemoeda Indonesia dia juga aktif sebagai ketua

perkumpulan seni teater pelajar Bandung (Bandoengsche Tooneelvereeniging van Indonesicsche Studeerenden, Batovis). Kesibukan dan visi pribadinya dalam periode itu agaknya mendekati gambaran tentang konsep “priyayi baru” yang tumbuh berkembang di

perkotaan awal dekade ketiga abad ke-20.16 Di satu sisi pendidikan sekolah membatasi

lingkup pergaulan mereka dengan kebanyakan masyarakat awam dan mendorong memperluas wawasan berpikir di sisi lain. “Di dalam dunia pemikiranku aku pun bercakap-cakap dengan Perdana Menteri Gladstone dari Britania sebagaimana Sidney dan Beatrice Webb,” demikian Soekarno mengingat masa mudanya saat menjadi siswa HBS di Surabaya. “Aku berbicara berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour dan Garibaldi dari Italia; Otto Bauer dan Adler dari Austria; Karl Marx dan Friedrich Engels dan Lenin, dan aku mengobrol       

15

Ibid., hal. 56-57.

16 Lihat William H Frederick. Pandangan dan Gejolak: masyarakat kota dan lahirnya revolusi Indonesia

(10)

dengan Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand dan Jean Jaures, ahli pidato terbesar dalam

sejarah Prancis”.17 Di sini kita mendapatkan sebuah ilustrasi tentang luasnya jangkauan

intelektual dari sosok pemimpin yang muncul dari sekolah-sekolah berbahasa Belanda dan kemudian memimpin pergerakan setelah kehancuran gerakan komunis. Keluasan cakrawala intelektual generasi ini memang sangat istimewa dan sampai sekarang belum ada yang mampu menyamainya.

Akan tetapi, di sisi lain pendidikan dan keluasan intelektual mereka justru menciptakan semacam keterbatasan tindakan politik. Tidak seperti generasi Semaun yang melandaskan aksi politik pada kekuatan pemogokan buruh sekaligus sumbangan kepemimpinan politiknya, periode ketika Soekarno dan Sjahrir di Bandung muncul sebagai pimpinan politik berada dalam situasi ketika para pemimpin dibatasi oleh lingkup sosial mereka sebagai wakil golongan terpelajar di lingkungan Hindia-Belanda saat itu. Jumlah mereka masih sangat terbatas. Mereka yang kemudian menjadi pemimpin (politik) adalah orang-orang berasal dari lingkaran pertemanan pada masa sekolah atau pernah terlibat dalam organisasi kepanduan, seni dan budaya, atau olahraga. Keterputusan dengan massa pendukung di perkotaan dan perdesaan akhirnya menjadi ciri keterbatasan lingkup imajinasi politik mereka.

“Rakyat” adalah “hal pokok di dalam retorika terus-menerus dari kalangan terpelajar...”, tetapi itu merupakan “... sebuah bangun sosial yang abstrak atau bahkan imajiner yang di seputarnya terdapat sejumlah besar gambaran romantik.” Dalam ucapan dan tulisan mereka, “betapapun seringnya kata ‘revolusi’ di dalam tulisan-tulisan mereka, dalam kenyataannya kurang revolusioner dalam pengertian umum,” demikian William Frederick menggambarkan mentalitas politik “priyayi baru” saat itu. “Mereka tidak membayangkan berlangsungnya perubahan yang luas atau mendalam, dan bisa dipastikan tidak berkeinginan untuk menarik picu yang dapat menimbulkan reaksi berantai yang tak terkontrol di seluruh

masyarakat Indonesia”.18 Sifat romantik itu ditunjukkan melalui cara bagaimana pemuda di

lingkaran Sjahrir membentuk lembaga pendidikan sebagai bagian dari organisasi Pemoeda

Indonesia, yaitu Tjahja Universiteit. Cukup menarik bahwa para pengajar dalam organisasi ini berusaha memasukkan gagasan mereka tentang kemajuan ke benak penduduk di perdesaan dengan “pelajaran bahasa Inggris gratis” dan menjadikan “silabus dalam pendidikan AMS seperti stenografi dan bahasa Prancis”, sebagai sesuatu yang dianggap

berguna “bagi petani berpenghasilan lima puluh sen sehari”.19

Represi pemerintah kolonial terhadap gerakan radikal yang membawa massa rakyat “memasuki” dunia politik pada satu sisi menghambat generasi pemimpin selanjutnya membangun gerakan politik mereka dan menghubungkan cita-cita politik tersebut dengan massa pendukung lebih luas di perkotaan dan perdesaan. Namun demikian, situasi ini juga memberi ruang lain yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru di kalangan aktivis pergerakan, seperti Soekarno dan Sjahrir, tentang tujuan akhir pergerakan politik yang mereka gulirkan. Sifat dan tindakan politik golongan terpelajar pada pertengahan tahun 1920-an itu mendapatk1920-an pemb1920-anding kontemporer dari rek1920-an-rek1920-an mereka para mahasiswa di China dalam Gerakan 4 Mei 1919 yang berupaya mendefinisikan kembali masyarakat budaya China sebagai bagian perkembangan dunia modern dengan sejumlah pertanyaan apa arti menjadi seorang China dan nilai-nilai apa yang dapat membawa negeri mereka menuju

kemajuan di masa depan.20

Inisiatif Sjahrir dan beberapa temannya di Jong Indonesia untuk mengubah nama

organisasi ini pada Desember 1927, satu tahun sebelum peristiwa “Sumpah Pemuda”,       

17 Adams. Op.cit., hal. 47. 18

Frederick. Op.cit., hal. 72-73

19 Mrazek. Op.cit., hal. 69.

(11)

menjadi Pemoeda Indonesia dan dorongan agar dalam setiap pertemuan para aktivis pergerakan diharapkan berpidato dengan bahasa Indonesia disertai kisah dramatis saat Sjahrir “memukulkan palunya dan mengingatkan Sukarno secara tegas agar tidak terlalu banyak

menggunakan bahasa Belanda dalam pertemuan kaum nasionalis”,21 merupakan wujud aksi

dari sejumlah pertanyaan serupa yang diangkat oleh mahasiswa aktivis Gerakan 4 Mei di China tentang harapan dan keinginan akan masa depan negeri mereka seperti dibayangkan kaum terpelajar di Hindia-Belanda saat itu. Dalam kaitan ini, dapat dipahami bahwa menguatnya frase “pemuda” dalam tataran politik di Hindia-Belanda tahun 1920-an menunjukkan kelekatan frase ini dengan dominasi orang-orang terpelajar yang mengisi dunia pergerakan setelah kehancuran gerakan komunis di Indonesia. Dengan kata lain, pemuda adalah kata lain dari sifat terpelajar para pemimpin yang lahir dalam pentas pergerakan saat itu.

Peristiwa Kongres Pemuda di Batavia pada 27-28 Oktober 1928 menjadi sebuah momentum yang mewakili bentuk baru politik pergerakan di Hindia- Belanda akhir tahun 1920-an. Penegasan keyakinan tentang sebuah masyarakat “bertanah, berbahasa, dan berbangsa satu” sebagai ikrar penutup kongres diiringi pengenalan kali pertama lagu Indonesia Raya dengan gesekan biola merupakan hasil perkembangan tak terelakkan akan suasana politik yang telah berkembang sejak Soekarno tampil memimpin pergerakan dan membentuk ASC dan kemudian PNI serta Soetan Sjahrir yang mengarahkan dan memimpin Pemoeda Indonesia di Bandung. Dalam kongres itu sebagian besar wakil delegasi meminta maaf kepada hadirin karena berpidato dalam bahasa Indonesia terpatah-patah. Mereka kemudian melanjutkan pidato dalam bahasa Belanda. Laporan yang disusun Van der Plas, seorang pejabat pemerintah yang hadir dalam kongres, memberi gambaran sebagai berikut, “pemimpin kongres, pelajar Soegondo, tidak dapat memenuhi tugasnya dan kekurang otoritas. Ia mencoba untuk berbicara bahasa Indonesia, tetapi tidak mampu membuktikan

dirinya mampu melakukannya dengan baik”.22 Jelas disini ada perbedaan tajam antara

mereka dan generasi pergerakan sebelumnya seperti diwakili Semaun, Marco Kartodikromo dan Haji Misbach yang berbicara di depan massa, menulis di koran-koran partai, dan memaparkan gagasan politik dengan menggunakan bahasa Melayu

Di sini kita mendapatkan ironi getir tentang suasana politik akhir tahun 1920-an. Terlepas bahwa para pemuda terpelajar itu berjarak cukup lebar dalam cara hidup dan gagasan intelektual mereka dengan massa rakyat, kita mendapatkan sebuah konsepsi matang tentang bangsa seperti diwakili dalam peristiwa kongres pemuda tersebut. Ketika pemerintah kolonial memperketat kontrol dengan memisahkan aktivisme politik para pemimpin dengan massa perkotaan dan perdesaan melalui kehadiran polisi di mana-mana, keterbatasan politik tersebut justru melahirkan gagasan baru dalam dunia politik yang membuat kata “Indonesia” menjadi sebuah konsepsi penting dan menjadikan isme-isme politik dalam periode sebelumnya sebagai “kaidah moral” di bawah konsepsi Indonesia sebagai bentuk masyarakat baru lebih besar dibanding kelompok-kelompok suku di Hindia-Belanda saat itu. Wawasan serta pergaulan sehari-hari di sekolah dan organisasi-organisasi kepemudaan justru menjadi lahan subur bagi persemaian gagasan sebuah bangsa dengan nasib sama menghadapi kolonialisme Belanda di Indonesia saat itu. Walaupun menyampaikan pidato dalam bahasa Indonesia terpatah-patah, tak dapat disangkal bahwa semangat yang menekankan sifat keindonesiaan dalam tindakan politik mereka menjadi kontribusi besar yang mengarahkan perjuangan antikolonial dalam orientasi baru politik kebangsaan.

      

21

Mrazek. Op.cit., hal. 73-84.

22 Keith Foulcher. Sumpah Pemuda: Makna & Proses Penciptaan Atas Sebuah Simbol Kebangsaan Indonesia.

(12)

Fase seperti ini mempersiapkan dan mematangkan sifat politik baru pada tahun 1930-an d1930-an 1940-1930-an. Ketika itu muncul beberapa pemimpin seperti Mohammad Husni Thamrin dan Mohammad Yamin yang menerima prinsip kerja sama dengan pemerintah kolonial melalui partisipasi di Volksraad. Inisiatif politik yang kemudian berkembang adalah lahirnya Petisi Soetardjo yang mengusulkan telaah tentang kemungkinan Indonesia bebas dari Belanda dalam periode waktu sepuluh tahun kemudian dan gerakan Indonesia berparlemen pada pertengahan tahun 1930-an. Sebagian besar tuntutan memang tidak pernah mendapat tanggapan serius pemerintah kolonial. Pemerintahan dibawah Gubernur Jendral de Jonge memahami bahwa seruan-seruan tersebut hanya memiliki kekuatan politik terbatas dalam pergulatan politik di Volksraad tanpa kemampuan menggerakkan massa rakyat seperti pada dekade sebelumnya. Ancaman pimpinan pergerakan bahwa mereka akan “beragitasi di kalangan rakyat” disimpulkan oleh para pejabat kolonial sebagai kata-kata belaka dan

“malahan dapat diabaikan seratus persen”.23

Gambaran lain yang menarik pada tahun 1930-an dan 1940-an adalah merosotnya “sifat” pemuda dalam politik pergerakan yang berada di tangan politikus yang menjalin kerja sama dengan pemerintah, seperti Thamrin dan Yamin. Dengan Soekarno dan Sjahrir yang disingkirkan dari pusat kehidupan politik saat itu, sifat nonkooperatif politik pergerakan pun turut tergusur dan dengan demikian menyingkirkan angkatan muda dalam dunia politik pergerakan yang mengisi dinamika politik periode sebelumnya. Sifat hati-hati dan lebih banyak mengandalkan kompromi di “parlemen” seperti Sutardjo, Thamrin, dan Yamin, tak pelak menjauhkan para pemimpin dengan angkatan muda.

Cerminan sikap itu muncul dalam kenangan Adam Malik saat mengulas kegagalan inisiatif Indonesia berparlemen yang digulirkan sejak Desember 1939 melalui pembentukan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) tetapi baru diajukan pada Februari 1941. “Sudah sangat terlambat! Momentumnya sudah tidak ada lagi, dan amat disayangkan bahwa

harapan-harapan yang ada tidak dimanfaatkan akibat sikap ragu-ragu dari kaum politisi tua.”

Selanjutnya Adam Malik menautkan hal itu dengan tindakan para pemuda yang mendesak Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945. “Pelajaran dari pengalaman yang pahit dalam sejarah politik kita tahun 1941 ini telah mendorong kami dalam tahun 1945 untuk mendesak kaum politisi tua kita supaya memproklamasikan kemerdekaan.... Desakan itu semata-mata kami lakukan karena kekhawatiran akan terjadi suatu perkembangan baru yang akan menyebabkan tertangguhnya kelahiran Republik kita.

Itulah tindakan cepat dari pemuda-pemuda Radikal...”.24 Dalam kaitan ini, frase pemuda

semakin mendapatkan tempat dalam kamus politik Indonesia modern, sebuah ketegangan abadi antara dua kutub berbeda dalam masa hidup seseorang ketika hendak menjalankan agenda-agenda politik tertentu.

Penutup

Pemaparan di atas menunjukkan bagaimana frase pemuda adalah sebuah wacana politik yang lahir dari satu situasi khusus ketika gerakan kerakyatan yang membawa partisipasi buruh di perkotaan dan para petani di perdesaan membentuk karakter awal pergerakan antikolonial di Indonesia. Dalam situasi ini, kita melihat banyak tokoh pemimpin yang lahir dari struktur sosial dan organisasi mewakili struktur tersebut. Represi kolonial yang menghancurkan kekuatan gerakan rakyat yang dipelopori gerakan komunis mengakhiri episode itu. Penggantinya adalah golongan terpelajar berpendidikan barat yang mulai mendominasi watak dan arah pergerakan antikolonial pada paruh kedua tahun 1920-an. Kata

      

23 Onghokham. Op.cit., hal. 83-84.

(13)

“pemuda” dalam model seperti ini sesungguhnya mewakili sebuah karakter zaman, ketika kaum terpelajar berusia muda dari sekolah-sekolah model barat membentuk arah politik pergerakan. Frase pemuda mendapatkan makna baru sesuai dengan perkembangan situasi saat itu. Di sini kita mendapatkan “sifat temporer” sebuah tindakan politik untuk kemudian ditampilkan dalam sebuah pentas lebih permanen sarat mekanisme politik “orang dewasa”.

Tulisan ini berangkat dari pemikiran bahwa frase pemuda yang mengisi suasana politik dekade akhir 1920-an adalah sebuah produk khusus. Ia tidak sekadar sebuah frase yang mewakili ketegangan “jurang generasi” atau mewakili sensibilitas baru dari mereka yang lahir dan bergerak pada masa itu. Dengan memperhatikan riwayat politik lahirnya frase pemuda dalam sejarah pergerakan Indonesia, maka kita pun bisa memahami bagaimana makna pemuda itu kini menjadi bagian lekat dalam imajinasi politik di Indonesia. Imajinasi ini pun memiliki ritual khususnya melalui peringatan peristiwa Sumpah Pemuda menjadi hari besar dalam kalender nasional Indonesia, menempati posisi kedua setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagaimanapun, dalam tataran sejarahnya, arti penting peristiwa Sumpah Pemuda tidak serta merta muncul ketika para pemuda menjalankan kongres di Batavia -- Jakarta saat itu. Ia haru menunggu beberapa dekade kemudian setelah kemerdekaan Indonesia sampai pertengahan dekade 1950-an ketika Soekarno dan Mohammad Yamin “membangun sebuah simbol yang menjadi bagian dari susunan ideologi sebuah bangsa dan negara” dan “diyakini sebagai sebuah momen ditemukannya identitas nasional dan bangsa.” Harian Merdeka pada perayaan Sumpah Pemuda tahun 1958 mewartakan “[t]idak pernah terjadi sebelumnya bahwa sumpah dari masyarakat Indonesia, dikenal dengan Sumpah Pemuda saat kelahirannya, dirayakan begitu bersemangat seperti yang tampak hari ini.” Gelombang separatisme yang secara beruntun terjadi di Indonesia pada dekade tersebut menjadi alasan penting yang menjadikan peristiwa Sumpah Pemuda sejak pukul 08.00 pagi diperingati di kantor-kantor pemerintahan, pabrik-pabrik, kantor kelurahan dan berpuncak di Istana Kepresidenan seperti

dilaporkan harian Merdeka.25 Jadi, sebagai ritus, ia merupakan sebuah produk sejarah khusus

yang terjadi di luar ketika momen peristiwa terjadi.

Perkembangan ritual Sumpah Pemuda dalam kaitan ini mengingatkan kita tentang riwayat tradisi Pledge of Allegiance (Janji Setia) dalam sejarah kontemporer Amerika Serikat yang bermula dari momentum perayaan pendaratan 400 tahun Christoper Columbus, 8 September 1892. Ketika itu, James Upham, editor majalah The Youth’s Companion, meminta staf editornya menulis kalimat “I pledge allegiance to my Flag and to the Republic for which it stands -- one Nation indivisible -- with liberty and justice for all”. Pledge of Allegiance itu selanjutnya menjadi tradisi rutin bagi siswa sekolah di Amerika Serikat. Pada 1923, kalimat itu diubah menjadi “I pledge allegiance to the flag of the United States” (kemudian ditambah kata America pada 1942) dan ditambahkan suatu cara baru dengan meletakkan tangan kanan menyilang di dada saat mengucapkan kalimat itu.

Dalam kaitan ini, sebuah hal biasa dalam momentum kejadiannya, menjadi tidak biasa dalam masa-masa selanjutnya ketika satu generasi baru membutuhkan cara tersendiri dalam

melihat sejarah mereka. Perkembangan Pledge of Allegiance seperti itu terjadi ketika

Amerika Serikat mulai mengambil posisi penting dalam politik global memasuki abad ke-20 menggantikan peran negara adi daya dalam abad sebelumnya seperti Inggris dan Prancis. Ritual Sumpah Pemuda memiliki riwayat perkembangan yang hampir sama. Ia melembaga sebagai cara melihat persatuan politik nasional menghadapi ancaman separatisme yang lahir dalam era Indonesia merdeka. Di sini kita menyaksikan suatu masa historis yang menjadikannya penting. Di luar evolusi ritual politik penting dalam sejarah Indonesia yang diwakili Sumpah Pemuda, sebuah transformasi sejarah telah menjadi kekuatan pembentuk       

(14)

yang menyebabkan makna pemuda memiliki arti penting di dalam wacana dan imajinasi politik Indonesia masa kini.

 

 

 

 

Short Profile  

 

Andi Achdian. Sejarawan dan banyak menulis tentang sejarah dan politik Indonesia.

Perhatiannya cukup luas, mulai dari bagaimana pemikiran tentang sejarah sebagai ilmu maupun bagaimana pendidikan sejarah seharusnya dikembangkan di Indonesia. Andi Achdian juga memiliki ketertarikan mengembangkan media-media yang efektif dalam mengembangkan pengetahuan sejarah, salah satunya adalah museum. Salah satu karyanya adalah Museum Polri yang dibuat pada tahun 2009. Lulus jurusan Sejarah FIB UI (1996) dan Antropologi UI (2011).

Referensi

Dokumen terkait