• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Fisika dengan Model Inkuiri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pembelajaran Fisika dengan Model Inkuiri"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Pembelajaran Fisika dengan Model Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan

Keterampilan Proses Ilmiah Siswa Kelas XI IPA-4 SMAN 1 Denpasar.

Oleh

Ni Nyoman Yuniati

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Memasuki era industrialisasi dan globalisasi banyak terjadi perubahan dalam kehidupan, sehingga manusia ditantang untuk lebih memiliki kemampuan guna menghadapi perubahan tesebut. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan satu langkah yang sangat penting pada tahap pembangunan dewasa ini. Salah satu cara untuk meningkatkan sumber daya manusia tersebut adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan terutama pendidikan sains, karena disadari bahwa perkembangan teknologi berawal dari perkembangan sains.

Perubahan paradigma pembelajaran sudah lama dilakukan oleh negara-negara maju, namun di Indonesia baru terlaksana setelah dikeluarkan Permen No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Perubahan paradigma tersebut adalah agar guru tidak mengajar tetapi membelajarkan peserta didik. Pembelajaran tidak boleh monoton yaitu guru sebagai penyampai materi dan siswa sebagai penerima. Pembelajaran harus beralih ke proses yang bersifat menggali kreativitas siswa sebagai subjek pembelajaran. Guru harus lebih profesional dan tidak menstransfer pengetahuan pada siswa.

Dengan cara yang disebutkan di atas, pembelajaran memerlukan suatu strategi yang efektif. Pengajaran ditentukan oleh pemilihan strategi yang tepat dalam upaya mengembangkan kreativitas, kemampuan, dan sikap inovatif peserta didik. Untuk itu, perlu dibina dan dikembangkan kemampuan professional guru untuk mengelola pembelajaran dengan strategi yang kaya variasi.

Kemampuan mengajar dan mendidik pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Keberhasilan proses pembelajaran banyak ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengelola proses tersebut. Ada banyak guru yang pintar tetapi lemah dalam mentransfer pengetahuan dan pemahaman yang ada dalam dirinya. Proses pembelajaran tidak akan berhasil dengan baik. Sebaliknya, aga guru yang kurang pintar tetapi dalam menyampaikan dan mengelola pembelajaran lebih kreatif dan memahami cara penyampaiannya dan mampu membuat proses pembelajaran berhasil dengan baik. Di antara keduanya tentu yang paling sesuai adalah memiliki kemampuan profesionalisme keguruan dan mampu menyampaikan materi dengan baik agartujuan pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai.

(2)

pembelajaran fisika dalam KTSP lebih menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah (BSNP:2006).

Mata pelajaran Fisika diajarkan dalam KTSP dengan tujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut; (1)Membentuk sikap positif terhadap fisika dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. (2) Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, obyektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain. (3) Mengembangkan pengalaman untuk dapat merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, merancang dan merakit instrument percobaan, mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis. (4) Mengembangkan kemampuan bernalar dalam berpikir analisis induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip fisika untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan menyelesaian masalah secara kualitatif dan kuantitatif. (5) Menguasai konsep dan prinsip fisika serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan, dan sikap percaya diri sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. (BSNP,2006)

Agar tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai, maka dalam proses pembelajarannya menuntut agar siswa berperan aktif dalam pembelajaran terutama melalui kegiatan penemuan, sedangkan guru yang semula bertindak sebagai sumber belajar beralih fungsi menjadi seorang fasilitator kegiatan pembelajaran yang berperan mengarahkan (membimbing) siswa untuk memecahkan masalah- masalah yang dihadapi dalam belajar atau menemukan sendiri konsep-konsep yang sedang dipelajari. Kompetensi guru sebagai agen pembelajaran merupakan modal pokok bagi seorang guru dalam mengemban tugas keprofesionalan. Menurut Undang-undang guru dan dosen, dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban: (1) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; (2) meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (3) bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; (4) menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan (5) memelihara dan memupukpersatuan dan kesatuanbangsa.

Dalam UU no. 14 tahun 2005 dijelaskan tentang prinsip-prinsip dasar yang harus dijalankan oleh seorang yang memiliki profesi guru sebagai berikut:

a. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;

b. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;

c. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;

(3)

g. memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;

h. memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan

i. memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

j. Kemampuan mengajar dan mendidik pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru.

Keberhasilan proses pembelajaran banyak ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengelola proses tersebut. Ada banyak guru yang pintar tetapi lemah dalam mentransfer pengetahuan dan pemahaman yang ada dalam dirinya. Proses pembelajaran tidak akan berhasil dengan baik. Sebaliknya, agar guru yang kurang pintar tetapi dalam menyampaikan dan mengelola pembelajaran lebih kreatif dan memahami cara penyampaiannya dan mampu membuat proses pembelajaran berhasil dengan baik. Di antara keduanya tentu yang paling sesuai adalah memiliki kemampuan profesionalisme keguruan dan mampu menyampaikan materi dengan baik agar tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai.

Hal-hal tersebut merupakan cermin ideal tentang dunia pendidikan yang diharapkan atau lebih tegasnya lagi merpuakan harapan-harapan yang tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Terkait dengan proses pembelajaran yang berlangsung di SMA Negeri 1 Denpasar dari hasil pengumpulan data awal ketika proses pembelajaran dilaksanakan dengan kegiatan praktikum di kelas XI IPA-4 SMA Negeri 1 Denpasar, diperoleh bahwa keterampilan proses ilmiah yang dimiliki siswa kelas XI IPA-4 SMA Negeri 1 Denpasar masih rendah. Hal ini dibuktikan dari masih banyak siswa yang belum bisa menyusun hipotesis dengan tepat dari hasil pengamatan gejala yang disajikan, siswa masih kesulitan dalam mengoperasikan alat-alat praktikum seperti bangku optik, kesulitan dalam mengidentifikasi variabel, salah dalam melakukan kegiatan praktikum karena tidak mengikuti langkah kerja yang telah tersedia di LKS, kesulitan dalam menganalisis data, serta masih banyak siswa yang kesulitan dalam menarik kesimpulan dari kegiatan praktikum. Untuk itu perlu sekali suatu upaya untuk meningkatkan keterampilan proses ilmiah siswa kelas XI IPA-4 SMA Negeri 1 Denpasar. Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan proses ilmiah siswa kelas XI IPA-4 SMA Negeri 1 Denpasar adalah melalui penerapan pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing.

Menurut Joyce (Laksmi:2007), inkuiri merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan oleh J.Richard Suchman yang bertujuan untuk membelajarkan siswa tentang suatu proses untuk menginvestigasi dan menjelaskan fenomena yang tidak biasa. Senada dengan pendapat Joyce, Tobing (1981:1) menyatakan bahwa model inkuiri bertujuan untuk membantu siswa menyusun fakta, membentuk konsep, dan menghasilkan penjelasan atau teori yang menerangkan fenomena yang sedang diselidiki.

(4)

praktikum, menarik kesimpulan dengan menganalisis data dari informasi yang diperoleh selama melakukan praktikum, dan tahap terakhir yaitu menganalisis proses inkuiri. Melalui serangkaian kegiatan tersebut, sangat dimungkinkan keterampilan proses ilmiah siswa akan meningkat.

Namun apapun yang menjadi latar belakang permasalahan, apabila hal ini dibiarkan berlarut tentu berakibat tidak baik bagi kelangsungan pendidikan peserta didik dan bagi perkembangan mutu pendidikan di SMA Negeri 1 Denpasar. Dari pihak guru jarang mengajak siswa melakukan pengamatan atau praktikum untuk materi yang sedang dipelajari saat itu secara nyata/kongkrit. Sebagai gantinya guru melakukan demonstrasi di depan kelas. Demonstrasi dilakukan karena guru memiliki pertimbangan bahwa kegiatan demonstrasi tidak menghabiskan waktu yang banyak dan dapat menyelesaikan materi dengan cepat. Penerapan pembelajaran seperti ini akan mengakibatkan siswa kurang mampu melakukan praktikum, sehingga kemampuan siswa seperti melakukan pengamatan, merumuskan hipotesis, menggunakan alat, mengumpulkan data, mengidentifikasi variabel, membuat kesimpulan dan kegiatan lain yang dapat mengembangkan keterampilan proses ilmiah yang ada pada diri siswa tidak tampak.

Permasalahan yang terjadi di kelas XI IPA 4 merupakan tugas dan tanggung jawab guru selaku pendidik dan pengajar untuk mencari solusi terbaik dalam memecahkan masalah tersebut. Hal itu dilakukan demi menjaga agar kualitas pembelajaran yang dilaksanakan mampu memberikan sumbangan yang berarti dan bermakna bagi peserta didik dan umumnya juga bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Hal tersebutlah yang menjadi dasar bahwa Penelitian Tindakan Kelas ini perlu diupayakan. Peneliti berkeinginan untuk menerapkannya dalam pembelajaran sebagai solusi dalam mengatasi masalah prestasi belajar Fisika siswa kelas XI IPA 4 semester 2 di SMA Negeri 1 Denpasar Tahun pelajaran 2012 2013 dengan judul ” Pembelajaran Fisika dengan Model Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Ilmiah Siswa Kelas XI IPA-4 SMAN 1 Denpasar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana keterampilan proses ilmiah siswa kelas XI IPA -4 SMA Negeri 1 Denpasar setelah diterapkan pembelajaran fisika dengan model inkuiri terbimbing?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan proses ilmiah siswa kelas XI IPA -4 SMA Negeri 1 Denpasar tahun

ajaran 2012/2013 dengan penerapan pembelajaran fisika model inkuiri terbimbing.

D. Manfaat Penelitian

(5)

1. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi pengajar untuk meningkatkan proses ilmiah siswa dalam pembelajaran fisika dengan penerapan pembelajaran model Latihan Inkuiri.

2. Bagi peneliti, penelitian ini dapat digunakan sebagai pijakan untuk menerapkan model yang lain. 3. Bagi siswa, Penerapan model latiahan inkuiri dapat meningkatkan keterampilan proses ilmiah.

E. Penjelasan istilah

Terdapat beberapa istilah yang penting dalam penelitian ini, antara lain:

1. Latihan inkuiri (Inquiry Training Models) adalah salah satu model pembelajaran yang memiliki langkah-langkah konfrontasi dengan masalah, pengumpulan verifikasi, pengumpulan data-eksperimentasi, merumuskan penjelasan, dan yang terakhir adalah menganalisis proses inkuiri . 2. Keterampilan proses ilmiah adalah keterampilan yang dimiliki oleh siswa yang merupakan

bagian dari studi sains dan terdiri dari seperangkat komponen, yaitu keterampilan dalam melakukan kegiatan mengamati, mengumpulkan dan mengorganisasi data, merumuskan hipotesis, mengidentifikasi variabel, dan membuat kesimpulan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Model Latihan Inkuiri (Inquiry Training Model )

Model latihan inkuiri adalah sebuah model pembelajaran yang dikembangkan oleh

J.Richard Suchman. Model latihan inkuiri bertujuan untuk membantu siswa menyusun fakta,

membentuk konsep, dan kemudian menghasilkan penjelasan atau teori yang menerangkan

fenomena yang sedang diselidiki. Latihan inkuiri merupakan model pembelajaran yang

melatih siswa untuk belajar berangkat dari fakta menuju teori (Handayanto, 2003:72).

Berdasarkan model latihan inkuiri para siswa akan dilatih untuk menjadi ilmuan, karena

dalam proses pembelajarannya siswa diperkenalkan dengan seperangkat prosedur yang

biasa dilakukan oleh para ahli dalam mengorganisasikan pengetahuan sampai

menghasilkan prinsip yang menjelaskan sebab akibat (Tobing, 1981:1).

Menurut Joyce et al (dalam Laksmi:2007) Model latihan inkuiri dirancang untuk melatih

siswa dalam suatu penelitian ilmiah sehingga diharapkan dapat menumbuhkan dan

(6)

intelektual dalam berfikir induktif, kemampuan meneliti, kemampuan berargumentasi dan

kemampuan mengembangkan teori. Selain itu, model latihan inkuiri juga dirancang agar

siswa dapat langsung mengontrol sendiri pembelajarannya (Suchman dalam Laksmi:2007).

Jadi, penerapan model latihan inkuiri dalam proses pembelajaran benar-benar melibatkan

siswa untuk aktif berfikir dan menemukan pengertian yang ingin diketahuinya, sedangkan

guru hanya berperan sebagai fasilitator yang bertugas menyediakan kondisi belajar,

mengatur proses belajar, mengatur kegiatan belajar mengajar dan membantu dalam

mengevaluasi kemajuan siswa.

Langkah- langkah (sintaks) model pembelajaran latihan inkuiri sebagai berikut.

1. Menghadapkan pada masalah.

Guru memulai proses pembelajaran dengan menjelaskan

prosedur-prosedur inkuiri kemudian menyajikan kejadian ganjil.

2. Tahap pengumpulan data-verifikasi.

Menguji keadaan dan kondisi dari objek, menguji bagaimana terjadinya kejadian dari situasi

masalah.

3. Pengumpulan data-eksperimentasi.

Memisahkan variabel-variabel yang relevan, berhipotesis ( menguji hubungan kausalitas).

4. Mengorganisasi, merumuskan penjelasan.

Merumuskan hukum-hukum atau penejelasan-penjelasan.

5. Menganalasis proses inkuiri.

Setelah keempat tahap latihan inkuiri telah dilaksanakan, guru dan siswa bersama-sama

merefleksi/menganalisis strategi inkuiri yang telah dilakukan dan mengembangkannya

menjadi lebih efektif.

B. Keterampilan Proses Ilmiah

Seseorang dalam melakukan kegiatan dengan menggunakan metode ilmiah perlu

memperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan metode ilmiah. Hal tersebut antara

lain berupa tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang peneliti, yaitu merumuskan

(7)

eksperimen atau penelitian, menganalisis data hasil eksperimen dan yang terakhir

pengambilan kesimpulan atas suatu hal yang diteliti.

Seorang peneliti dalam merumuskan masalah harus melakukan pengamatan,

observasi dan menganalisa data hasil observasi yang dilakukan pada objek penelitian,

sedangkan hipotesis disusun berdasarkan masalah-masalah yang diajukan. Pengujian

kebenaran hipotesis dapat dilakukan dengan eksperimen atau penelitian. Jenis penelitian

yang dilakukan tergantung dari perumusan masalah yang diajukan. Teknik analisa data

hasil penelitian tergantung dari jenis penelitian yang dilakukan, apakah penelitian yang

dilakukan menghasilkan data numerik atau data deskriptif. Pengambilan kesimpulan

didasarkan hasil analisa data yang dilakukan, apakah hasil analisa data sesuai dengan

hipotesis atau tidak, jika sesuai maka penelitian yang dilakukan bisa dikatakan berhasil.

Penerapan metode ilmiah di atas melibatkan berbagai keterampilan yang sering

dinamakan dengan keterampilan proses. Karena pentingnya keterampilan proses untuk

mendapatkan hasil yang baik, maka para peneliti harus memiliki keterampilan-keterampilan

tersebut, yaitu merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, melakukan eksperimen,

mengolah data, dan mengambil hasil kesimpulan serta hal-hal penting yang lain.

Keterampilan proses dapat diartikan sebagai keterampilan yang diperoleh dari

latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik dan sosial yang mendasar sebagai

penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi (Holil,2008).

Kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih lama-kelamaan akan

menjadi suatu keterampilan.

Menurut Semiawan (dalam Cholifah,1989:19), yang dimaksud keterampilan proses

adalah menyangkut keterampilan-keterampilan, antara lain: (1) mengobservasi, (2)

membuat hipotesis, (3) merencanakan eksperimen, (4) mengendalikan variabel, (5)

menginterpretasi data, (6) menyusun kesimpulan, (7) memprediksi, (8) menerapkan, (9)

mengkomunikasikan.Sembilan keterampilan itu dijabarkan lagi menjadi sejumlah

keterampilan spesifik seperti berikut.

(8)

Melihat. mendengar, merasa,meraba, mencicipi, mengecap, menyimak, mengukur, dan

membaca.

2. Mengklasifikasikan

Mencari persamaan, mencari perbedaan, membandingkan, mengkontraskan, mencari

dasar penggolongan.

3. Menginterprestasikan

Menaksir, memberi arti, memproposisikan, mencari hubungan ruang/waktu, menemukan

pola, menarik kesimpulan, menggeneralisasi.

4. Meramalkan

Mengantisipasi (berdasarkan kecenderungan, pola atau hubungan antar data atau

informasi).

5. Menerapkan

Menggunakan (informasi, kesimpulan, konsep, hukum, teori, sikap, nilai atau keterampilan

dalam situasi lainnya), menghitung, menentukan variabel, menghubungkan konsep,

merumuskan pertanyaan penelitian, menyusun hipotesis dan membuat model.

6. Merencanakan

Menentukan masalah/obyek yang akan diteliti, menentukan tujuan penelitian, menentukan

sumber data/informasi, menentukan cara analisis, menentukan langkah-langkah

pengumpulan data/informasi, menentukan alat,bahan dan sumber kepustakaan,

menentukan cara melakukan penelitian.

7. Mengkomunikasikan

Berdiskusi, mendeklamasikan, mendramakan, bertanya, merenungkan, mengarang,me

meragakan, mengungkapkan/melaporkan (dalam bentuk lisan,tulisan, gambar, gerak atau

tampilan).

(Nur,2003:13-15)

Bila rincian keterampilan-keterampilan proses diatas diperhatikan dengan seksama,

maka proses atau keterampilan proses itu memang benar merupakan perangkat

keterampilan kompleks yang digunakan ilmuan dalam mengembang-kan ilmu. Faktor-faktor

(9)

prasarana, materi pembelajaran, ketersediaan waktu dan lain sebagainya. Kondisi siswa

yang menyebabkan ketidakmungkinan pelaksanaan pelatihan semua aspek keterampilan

proses ialah kondisi keterampilan yang sudah dimiliki siswa, motivasi, usia siswa, kondisi

perekonomian siswa dan lain sebagainya. Kondisi guru yang mempengaruhi adalah

pengetahuan yang dimiliki oleh guru pasti terbatas, motivasi dalam membelajarkan siswa,

kondisi psikologis dari guru itu sendiri dan lain sebagainya. Pelaksanaan keterampilan

proses juga harus memperhatikan lingkungan sekitar, apakah keterampilan proses yang

dilatihkan sesuai dengan kondisi lingkungan tersebut atau ataukah tidak.

Hal yang terpenting dalam pelaksanaan keterampilan proses ialah sarana dan

prasarana yang ada. Tanpa adanya sarana dan prasarana yang mendukung tidak mungkin

pelatihan keterampilan proses akan berjalan dengan lancar. Pelatihan keterampilan proses

juga harus memperhatikan materi pelajaran yang diajarkan, karena tidak semua materi

pelajaran memerlukan kajian secara ilmiah dan mendetail untuk mempelajarinya. Selain itu

waktu yang terbatas dalam proses pembelajaran juga dapat menjadi kendala dalam

pelaksanaan pelatihan keterampilan proses.

Menurut Amin (1987:12) Proses ilmiah adalah proses yang biasanya diikuti oleh

ilmuan dalam memecahkan suatu permasalahan, Sedangkan menurut Semiawan (dalam

Cholifah, 2007:18), menyatakan bahwa proses ilmiah merupakan suatu proses

pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan

fakta-fakta, membangun konsep-konsep, dan teori-teori dengan keterampilan proses dan sikap

ilmiah sendiri. Berdasarkan pendapat diatas, diperoleh bahwa keterampilan proses ilmiah

merupakan keterampilan yang dimiliki oleh siswa yang merupakan bagian dari studi sains

dan terdiri dari seperangkat komponen, yaitu keterampilan dalam melakukan kegiatan

mengamati, mengumpulkan dan mengorganisasi data, merumuskan hipotesis,

mengidentivikasi variabel, dan membuat kesimpulan. Seperangkat keterampilan ini

merupakan seperangkat keterampilan yang biasa digunakan ilmuan dalam melakukan

penyelidikan ilmiah.

Menurut W.Gulo (dalam Sudarman:2008) proses ilmiah terdiri dari:

(10)

2) mengumpulkan dan mengorganisasikan data,

3) mengidentifikasikan variable,

4) merumuskan dan menguji hipotesis,

5) mengambil kesimpulan.

C. Penerapan Inquiry Training Model untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Ilmiah Siswa

Fisika merupakan salah satu cabang dari IPA. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan

dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya

penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau

prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Depdiknas, 2006). Salah satu

tujuan dari pembelajaran fisika adalah mengembangkan keterampilan proses siswa

seperti : mengembangkan pengalaman untuk dapat merumuskan masalah, mengajukan

dan

menguji hipotesis melalui percobaan, merancang dan merakit instrumen

percobaan, mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan

hasil percobaan secara lisan dan tertulis. Tujuan pembelajaran ini akan tercapai dengan

baik jika dalam proses pembelajaran digunakan model pembelajaran yang tepat oleh guru.

Model pembelajaran yang diterapkan haruslah berpusat pada siswa dan berorientasi pada

penemuan, penyelidikan, pemecahan masalah dengan menggunakan atau sambil

mengembangkan keterampilan proses. Peran guru adalah sebagai katalisator, pembimbing,

pengamat dan evaluator.

Salah satu model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses

pembelajaran serta menitikberatkan pada kegiatan siswa pada proses penemuan adalah

model latihan inkuiri. Menurut Joyce et al(dalam Laksmi:2007), model latihan inkuiri

dirancang untuk melatih siswa dalam suatu penelitian ilmiah, sehingga diharapkan dapat

menumbuhkan dan mengembangkan rasa ingin tahu dalam diri siswa, menumbuh

kembangkan kemampuan intelektual dalam berfikir induktif, kemampuan meneliti,

kemampuan berargumentasi dan kemampuan mengembangkan teori. Selain itu, model

(11)

pembelajarannya (Suchman dalam Laksmi:2007). Jadi, penerapan model latihan inkuiri

dalam proses pembelajaran benar-benar melibatkan siswa untuk aktif berfikir dan

menemukan pengertian yang ingin diketahuinya, sedangkan guru hanya berperan sebagai

fasilitator yang bertugas menyediakan kondisi yang seperti biasanya, mengatur prosesnya,

mengatur kegiatan belajar mengajar dan membantu siswa dalam mengevaluasi

kemajuannya.

Berdasarkan tujuan dari pembelajaran dengan latihan inkuiri tersebut diatas, maka

model pembelajaran latihan inkuiri dianggap sangat tepat diterapkan di kelas X-4 SMAN 5

Denpasar sebagai alternatif pemecahan masalah rendahnya keterampilan proses ilmiah

siswa.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang bermaksud

untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian secara holistik serta

dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahan pada konteks khusus yang

alamiah dan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2006:6). Penelitian ini

memenuhi karakteristik penelitian kualitatif yaitu (1) penelitian pada latar alamiah, (2)

manusia sebagai instrumen, (3) menggunakan metode pengamatan, wawancara, atau

penelaahan dokumen, (4) analisis data secara induktif, (5) lebih mementingkan proses

daripada hasil, (6) desain bersifat sementara, (7) deskriptif, dan (8) adanya batas yang

ditentukan oleh fokus (Moleong, 2006:8-11). 2. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) atau

sering disingkat PTK. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh

guru dengan tujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran dan kualitas atau hasil

pembelajaran di kelas (Muhardjito:2005). Menurut Sugyanto(dalam Ahmad, 2006:23),

(12)

mendapatkan solusi dari permasalahan spesifik di kelas atau untuk mengujicobakan hal-hal

yang baru dalam pembelajaran dengan cara mengidentifikasi masalah, menyusun rencana

tindakan, melaksanakan tindakan, mengambil data, dan menganalisis data.

B. Lokasi Penelitian dan Subyek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Denpasar yang terletak di Jl. Kamboja No 4

Denpasar. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas XI-4 yang berjumlah 37 siswa,

terdiri dari 11 putra dan 26 putri.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester Genap tahun ajaran 2013/2014, yaitu

pada bulan April sampai dengan bulan Juni 2014. Jadwal penelitian selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1.

C. Data dan sumber data

Data dalam penelitian ini adalah keterampilan proses ilmiah siswa kelas XI-4 SMA

Negeri 1 Denpasar. Sumber data dalam penelitian ini adalah perilaku siswa selama proses

pembelajaran berlangsung.

D. Instrumen penelitian

Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan, antara lain:

1. Format Observasi Pembelajaran

Format observasi digunakan untuk memperoleh data keterlaksanaan pembelajaran

model latihan inkuiri.Format observasi ini berisi semua kegiatan yang dilakukan oleh guru

selama proses pembelajaran berlangsung. Format disajikan dalam Lampiran 4.

2. Format Penilaian keterampilan proses ilmiah siswa

Format penilaian ini digunakan untuk memperoleh data keterampilan proses ilmiah siswa

kelas XI-4 selama pelaksanaan tindakan (melakukan Pengamatan, mengumpulkan dan

mengorganisasikan data, mengidentifikasikan variable,merumuskan dan menguji hipotesis,

dan mengambil kesimpulan). Format penilaian keterampilan proses ilmiah siswa ini dapat

dilihat pada Lampiran

(13)

Format catatan lapangan digunakan untuk mencatat segala hal yang berhubungan dengan

kegiatan pembelajaran yang tidak tercantum dalam format penilaian keterampilan proses

ilmiah siswa. Format catatan lapangan dapat dilihat pada Lampiran

4. Lembar Kerja Siswa (LKS)

LKS digunakan untuk memandu siswa dalam melaksanakan praktikum dan melatih

keterampilan proses ilmiah siswa. LKS disajikan dalam Lampiran 4a dan 4b.

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan

teknik Observasi, wawancaradan Dokumentasi.

1. Observasi

Observasi dalam penelitian ini terdiri dari observsi awal dan observasi selama

pelaksanaan tindakan. Observasi awal dimaksudkan untuk mengetahui keadaan awal

sebelum dilaksanakan tindakan, yaitu dengan mengadakan pengamatan ke dalam kelas

dan observasi di laboraturium fisika. Keadaan awal keterampilan proses ilmiah siswa diukur

berdasarkan hasil pengamatan selama pembelajaran berlangsung sebelum dilaksanakan

tindakan, sedangkan observasi selama pelaksanaan tindakan merupakan pengamatan

peneliti terhadap kegiatan pembelajaran selama penerapan model latihan inkuiri, yang

hasilnya dapat diketahui dari pencapaian indikator-indikator keterampilan proses ilmiah

yang sudah dikembangkan.

Dokumentasi dalam penelitian ini adalah hasil observasi selama pelaksanaan

tindakan (rubrik penilaian keterampilan proses ilmiah), catatan lapangan, skenario

pembelajaran, lembar kerja siswa (LKS), nilai ulangan dan foto-foto.

F. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus. Tiap siklus dilaksanakan

perbaikan-perbaikan yang ingin dicapai melalui tahap refleksi. Selanjutnya untuk

memperoleh informasi awal mengenai pemahan konsep fisika siswa dilakukan observasi

awal berupa tes diagnostik. Prosedur-prosedur tindakan kelas antara lain:

1. Tahap Persiapan

(14)

a. Melakuakan observasi awal untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran, laboraturium,

sarana dan prasarana lain yang mendukung sebelum dilakukan tindakan.

b. Berdiskusi dengan dosen pembimbing mengenai pokok bahasan yag akan dipilih untuk

menerapkan pembelajaran model latihan inkuiri.

c. Menentukan jadwal penelitian.

d. Menyusun rencana pembelajaran (RPP) sesuai tahap-tahap model latihan inkuiri untuk

materi yang akan dibahas, berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

e. Menyusun lembar kerja siswa (LKS) sesuai dengan materi yang akan dibahas.

f. Menyusun instrumen penelitian tentang keterampilan proses ilmiah yang disesuaikan

dengan tahap-tahap pembelajaran dengan model latihan inkuiri.

g. Mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan selama penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan

Penelitian ini termasuk dalam penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam

dua siklus penelitian, yaitu siklus I dan siklus II. Masing-masing dari siklus baik siklus I

maupun siklus II terdiri dari beberapa tahapan, yaitu 1) perencanaan (planning), 2)

pelaksanaan tindakan (acting), 3) observasi (observing), dan 4) refleksi (reflection). Berikut

disajikan gambaran pelaksanaan siklus penelitian tindakan kelas yang dilakukan.

PLAN

REVISED PLAN Reflekct

Observe Act

(15)

Gambar 1. Siklus Model Kemmis dan Taggart

(Sumber: Kemmis dan Taggart, 1988 dalam wiriatmadja, 2006: 66)

Tahap pelaksanaan dalam penelitian ini meliputi:

a. Siklus I

1) Perencanaan I

Mengidentifikasi masalah berdasarkan pengamatan pada proses pembelajaran fisika di

kelas XI-4 SMA N 1 Denpasar dan hasil wawancara dengan siswa tentang kesulitan dalam

menguasai konsep fisika dan metode pembelajaran yang dipakai sebelumnya.

Merencanakan tindakan yang akan dilakukan berdasarkan identifikasi masalah yaitu

penerapan model latihan inkuiri.

Menentukan materi pembelajaran. Materi yang digunakan pada siklus I yaitu pokok

bahasan suhu dan kalor dengan sub pokok bahasan kalor

menyusun instrumen pembelajaran berupa RPP dan lembar kerja siswa (LKS) yang

berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

menyusun instrumen penelitian yang meliputi pedoman observasi pembelajaran dan

pedoman observasi keterampilan prroses ilmiah siswa, catatan lapangan, serta rekaman

data.

2) Tindakan I

Tindakan yang dilakukan merupakan pelaksanaan perencanaan tindakan. Pelaksana

tindakan adalah peneliti sendiri. Tindakan yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah

penerapan pembelajaran model latihan inkuiri. Langkah- langkah (sintaks) model

pembelajaran latihan inkuiri sebagai berikut. Menghadapkan pada masalah, tahap

pengumpulan data-verifikasi, Pengumpulan data-eksperimentasi, mengorganisasi,

merumuskan penjelasan, merumuskan hukum-hukum atau penejelasan-penjelasan, dan

menganalasis proses inkuiri.

3) Observasi

Peneliti melakukan pengamatan secermat mungkin mengenai keterampilan proses ilmiah siswayang terdiri dari keterampilan mengamati, mengumpulkan dan mengorganisasi

(16)

Membuat catatan lapangan mengenai penerapan pembelajaran model latihan inkuiri dan

segala sesuatu yang terjadi di luar hal yang tercantum dalam format observasi.

4) Refleksi I

Tahapan refleksi I dilakukan untuk membahas pelaksanaan tindakan pembelajaran

sebelumnya. Tahapan ini meliputi pelaksanaan perencanaan I, keterlaksanaan RPP,

keefektifan LKS, pemberian tindakan pada kelas serta hal-hal yang perlu dikembangkan

pada siklus berikutnya. Refleksi ini diharapkan bisa memberikan informasi mengenai faktor

pendukung, penghambat serta segala sesuatu yang berhubungan dengan siklus I.

b. Siklus II

1) Perencanaan II

Perencanaan yang dilakukan pada siklus ini menggunakan hasil refleksi pada

siklus I.Perencanaan yang dilakukan pada tahapan ini untuk memperbaiki

penerapan tindakan kelas pada pelaksanaan siklus I. Perencanaan yang

dilakuakn antara lain.

Menentukan materi pembelajaran. Materi yang digunakan pada siklus II yaitu pokok

bahasan listrik dinamis dengan sub pokok bahasan rangkaian listrik seri paralel

menyusun instrumen pembelajaran berupa RPP yang berdasarkan kurikulum tingkat satuan

pendidikan (KTSP).

menyusun instrumen penelitian yang meliputi pedoman observasi pembelajaran, pedoman

observasi keterampilan prroses ilmiah siswa, catatan lapangan, soal postes serta rekaman

data.

Mengidentifikasi kekurangan pada siklus I yaitu tujuan yang belum tercapai pada saat

refleksi.

Merencanakan tindakan yang akan dilakukan berdasarkan identifikasi hasil refleksi I Menyusun instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan II (berupa rancangan

pembelajaran, alat evluasi, media pembelajaran, pedoman observasi dan perekaman

proses pembelajaran).

(17)

Guru melaksanakan pembelajaran berdasarkan perangkat yang telah disusun

sebelunya seperti RPP,LKS. Pada akhir siklus dilakukan postes untuk mengukur tingkat

pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari.

Peneliti selaku guru melakukan observasi dan dibantu oleh guru fisika observer yang lain

3) Observasi II

Selama pelaksanaan tindakan II, diikuti pelaksanaan observasi keterampilan proses ilmiah

siswa yang dipandu dengan rubrik penilaian keterampilan proses ilmiah siswa, dengan

melakukan observasi pada siklus II ini akan diperoleh besarnya skor keterampilan proses

ilmiah siswa yang dicapai pada siklus II, yang selanjutnya akan diketahui apakah ada

peningkatan keterampilan proses ilmiah siswa setelah diberi tindakan berupa pembelajaran

model latihan inkuiri pada siklus II dengan keterampilan proses ilmiah siswa pada siklus I.

4) Refleksi II

Refleksi ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan tindakan II terhadap

pemecahan masalah. Hasil Refleksi II menggambarkan segala kegiatan penelitian pada

siklus II. Pengguna data dapat mengetahui kondisi nyata dilapangan dengan mempelajari

hasil refleksi ini.

Pada akhir kegiatan dari siklus I dan siklus II, dilakukan analisis hasil secara keseluruhan

untuk membuat kesimpulan, mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan kegiatan penelitian

yang dilakukan. Siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I, siklus ini merupakan

perbaikan dari tindakan pada siklus I. Perbaikan pada siklus II dilakukan setelah melakukan

Refleksi I dan perencanaan II. Tindakan II dikatakan keberhasilan Apabila keterampilan

proses ilmiah siswa pada tindakan II mengalami peningkatan dibandingkan dengan

tindakan I.

G. Teknik Analisa Data

Analisi data dilakukan melalui beberapa tahap yaitu (1) reduksi data, (2) display

data, (3) penarikan kesimpulan, verifikasi data, dan refleksi.

1. Reduksi Data

Mereduksi data dilakukan setelah semua data yang telah diperoleh dari hasil

(18)

disiapkan. Data keterampilan poses ilmiah siswa selama proses pemebelajaran merupakan

data mentah. Data tersebut keemudian disingkat, direduksi dan disusun secara sistematis,

sehingga data yang diperoleh dalam kondisi yang mudah dimengerti dan dikenali.

2. Penyajian Data

Displai data merupakan tahapan analisis data yang berusaha mendeskripsikan

temuan penelitian. Temuan penelitian ini dideskripsikan dalam bentuk kata-kata dan format

rekaman data.

3. Penarikan Kesimpulan, Verifikasi, dan Refleksi

Berdasrkan displai data, ditarik suatu kesimpulan, sehingga didapatkan

temuan. Temuan ini kemudian diverifikasi atau dilakukan pengecekan keabsahan temuan

data. Berdasarkan temuan tersebut, selanjutnya dilakuakn pemaknaan (refleksi) sehingga

diperoleh kesimpulan akhir. Hasil dari kesimpulan akhir tersebut, dipakai sebagai bahan

untuk menyusun tindakan selanjutnya.

Dalam menganalisis keterampilan proses ilmiah siswa digunakan teknik analisis

deskriptif kualitatif dengan persentase. Menurut arikunto (2000:246), perumusan

persentase sebagai berikut.

P =  100 % Dengan P = persentase keterampilan proses ilmiah siswa X = skor keterampilan proses ilmmiah yang dicapai siswa Y = skor maksimum/ideal kemampuan berpikir kritis siswa

Sebagai pedoman dalam penarikan kesimpulan dari hasil analisis data, ditetapkan

kriteria yang juga mengacu pada pendapat arikunto (2000:352) dengan kriteria yang dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Kriteria keberhasilan Keterampilan Proses Ilmiah No Persentase keberhasilan (%) Taraf Keberhasilan 1. 92 – 100 sangat baik

2. 75 – 91 baik

3. 50 – 74 cukup baik 4. 25 – 49 kurang baik 5. 0 – 24 sangat kurang

(19)

Kegiatan ini digunakan untuk mengecek kebenaran hasil penelitian seteliti mungkin

sehingga nantinya hasil peenelitian dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan. Dalam

penelitian ini, teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan sesuai dengan pendapat

Moleong (2006:327-331) meliputi.

1. Perpanjangan Keikut Sertaan

Keikut sertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikut sertaan

tersebut tidak dilakukan dalam waktu yang singkat, tetapi memerlukan waktu yang cukup

lama yakni memerlukan perpanjangan keikut sertaan penelliti. Perpanjangan keikut sertaan

peneliti memungkinkan derajat kepercayaan data yang diperoleh. Perpanjangan

keikutsertaan juga menuntut peneliti untuk terjun ke lokasi dalam waktu yang cukup lama

guna mendeteksi dan memperhitungkan distorsi yang mungkin mengotori data

(Moleong,2006: 328). Perpanjangan keikut sertaan yang dilakuakn peneliti adalah dua

siklus untuk memperdalam pengujian pembelajaran model latihan ikuiri dalam

meningkatkan keterampilan proses ilmiah siswa.

2. Ketekunan/ Keajegan Pengamat

Peneliti melakukn pengamatan secara rinci, teliti, dan secermat mungkin terhadap

faktor yang berkaitan dengan keterampilan proses ilmiah siswa. Kedudukan peneliti

sebagai instrrumen pengumpul data sangat memerlukan ketekunan dalam melakukan

pengamatan sejak awal sampai penelitian berakhir agar diperoleh data yang utuh, lengkap,

kompleks, dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

3. Triangulasi

Triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan

sesuatu diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap

data yang telah diperoleeh (Moleong,2006:330). Teknik triangulasi yang dgunakan dalam

penelitian ini adalah teknik triagulasi sumber, yang dilaksanakan dengan membandingkan

data hasil pengamatan dan catatan lapangan.

Referensi

Dokumen terkait

Bahasa Inggris, sebagai bahasa global sudah tentu harus sejak dini dikuasai, memberikan pengenalan sejak dini adalah hal yang amat baik. Untuk memberikankualitas pendidikan yang

Tuntunan Praktis Belajar Database Menggunakan MySQL.. Andi

Jumlah Calon Penyedia Jasa Konsultansi yang LULUS daftar pendek berdasarkan Pembuktian Kualifikasi sebanyak 5 (lima) perusahaan, antara lain :. Jumlah Calon Penyedia Jasa

Jumlah Calon Penyedia Jasa Konsultansi yang LULUS daftar pendek berdasarkan Pembuktian Kualifikasi sebanyak 5 (lima) perusahaan, antara lain :. Jumlah Calon Penyedia Jasa

Untuk memberi motivasi kepada siswa, guru menyampaikan manfaat mempelajari menerapkan operasi hitung bilangan bulat dengan memanfaatkan berbagai operasi

Analisis pengaruh indeks harga saham syariah di Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang dan Malaysia, dan variabel makroekonomi nasional terhadap Jakarta Islamic Index (JII) dilihat

NAMA PERUSAHAAN ALAMAT NPWP Nilai Teknis1. ARCHI VI L ENGI

PADA SATUAN KERJA PENGADILAN NEGERI SINTANG TAHUN ANGGARAN 2016 ULP DI EMPAT LINGKUNGAN PERADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK.. INDONESIA KOORDINATOR WILAYAH KALIMANTAN BARAT