BAB 2
PENALARAN
Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan (belief) terhadap suatu pernyataan atau asersi (assertion). Pernyataan yang dimaksud dapat berupa teori tentang suatu fenomena. Penalaran diajukan dan dijabarkan untuk membentuk, mempertahankan, atau mengubah keyakinan bahwa sesuatu (misal teori) adalah benar.
Penalaran melibatkan inferensi (inference) yaitu proses penurunan konsekuensi logis dan melibatkan proses penarikan simpulan/konklusi (conclusion) dari serangkaian asersi yang mana proses ini dapat bersifat deduktif maupun induktif. Penalaran mempunyai peran penting dalam pengembangan, penciptaan, pengevaluasian, dan pengujian suatu teori atau hipotesis.
Teori merupakan sarana untuk menyatakan suatu keyakinan dan penalaran merupakan proses untuk mendukung keyakinan tersebut. Keyakinan terhadap teori berkisar antara lemah sampai kuat sekali yang mana hal tersebut menunjukkan keefektifan penalaran dalam menimbulkan daya dukung yang dihasilkan.
Unsur dan Struktur Penalaran
Struktur dan proses penalaran dibangun atas dasar tiga konsep penting yaitu:
1. Asersi (assertion), merupakan pernyataan (biasanya positif) yang menegaskan bahwa sesuatu (misal teori) adalah benar. Asersi mempunyai fungsi ganda dalam penalaran yaitu sebagai elemen pembentuk (ingredient) argumen dan sebagai keyakinan yang dihasilkan oleh penalaran.
2. Keyakinan (belief), merupakan tingkat kebersediaan (willingness) untuk menerima bahwa suatu pernyataan atau teori mengenai suatu fenomena atau gejala adalah benar. Keyakinan merupakan unsur penting penalaran karena keyakinan menjadi objek atau sasaran penalaran dan karena keyakinan menetukan posisi dan sikap seseorang terhadap suatu masalah yang dibahas.
3. Argumen (argument), merupakan serangkaian asersi beserta keterkaitan dan inferensi atau penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu keyakinan. Argumen menjadi unsur penting dalam penalaran karena argumen digunakan untuk membentuk, memelihara, atau mengubah suatu keyakinan.
Beberapa asersi mengandung pengkuantifikasi yaitu semua (all), tidak ada (no), dan beberapa
(some). Asersi yang memuat pengkuantifikasi semua dan tidak ada merupakan asersi universal
sedangkan yang memuat penguantifikasi beberapa merupakan asersi spesifik. Asersi spesifik dapat disusun dengan pengkuantifikasi sedikit, banyak, sebagian besar, atau bilangan tertentu. Pengkuantifikasi berguna untuk menetukan ketermasukan (inclusiveness) atau keuniversalan asersi.
Jenis Asersi
Untuk menimbulkan keyakinan terhadapa kebenaran suatu asersi, asersi harus didukung oleh bukti atau fakta. Bila dikaitkan dengan fakta pendukung, asersi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis yaitu:
1. Asumsi (assumption), merupakan asersi yang diyakini benar meskipun orang tidak dapat mengajukan atau menunjukkan bukti tentang kebenarannya secara meyakinkan atau asersi yang orang bersedia untuk menerima sebagai benar untuk keperluan diskusi atau debat.
2. Hipotesis (hypothesis), merupakan asersi yang kebenarannya belum atau tidak diketahui tetapi diyakini bahwa asersi tersebut dapat diuji kebenarannya. Asersi yang dapat disebut hipotesis juga harus mengandung kemungkinan salah. Jika tidak ada kemenugkinan salah, asersi tersebut akan menjadi pernyataan fakta.
3. Pernyataan fakta (statement of fact), merupakan asersi yang bukti tentang kebenarannya diyakini sangat kuat atau bahkan tidak dapat dibantah.
Fungsi Asersi
Dalam argumen, asersi dapat berfungsi sebagai premis (premise) dan konklusi (conclusion). Premis adalah asersi yang digunakan untuk mendukung suatu konklusi. Konklusi adalah asersi yang diturunkan dari serangkaian asersi.
Ketiga jenis asersi dapat berfungsi sebagai premis dalam suatu argumen. Dalam hal ini, prinsip yang harus dipegang adalah bhwa kredibilitas konklusi tidak dapat melebihi kredibilitas terendah premis-premis yang digunakan untuk menurunkan konklusi. Artinya, kalau konklusi diturunkan dari serangkaian premis yang salah satu merupakan pernyataan fakta dan yang lain asumsi, maka konklusi tidak dapat dipandang sebagai pernyataan fakta. Oleh karena itu, keyakinan terhadap konklusi dibatasi oleh keyakinan terhadap premis.
Keyakinan terhadap asersi adalah tingkat kebersediaan untuk menerima bahwa asersi tersebut benar. Hal ini diperoleh karena kepercayaan (confidence) tentang kebenaran yang dilekatkan pada suatu asersi, dimana adanya bukti yang kuat pada asersi tersebut.
Properitas Keyakinan
Pemahaman terhadap beberapa properitas (sifat) keyakinan sangat penting dalam mencapai keberhasilan berargumen. Berikut merupakan properitas keyakinan dalam berargumen :
1. Keadabenaran 2. Bukan pendapat 3. Bertingkat 4. Berbias
5. Bermuatan nilai 6. Berkekuatan
7. Veridikal (tingkat kesesuaian dengan realitas)
8. Beketertempaan (kelentukan keyakinan berkaitan dengan mudah-tidaknya keyakinan tersebut diubah dengan adanya informasi yang relevan)
Keyakinan
Keyakinan terhadap asersi adalah tingkat kebersediaan untuk menerima bahwa asersi tersebut benar. Keyakinan diperoleh karena kepercayaan (confidence) tentang kebenaran yang dilekatkan pada suatu asersi. Suatu asersi dapat dipercaya karena adanya bukti yang kuat untuk menerimanya sebagai hal yang benar. Orang dikatakan yakin terhadap asersi bila dia menunjukkan perbuatan, sikap, dan pandangan seolah-olah asersi itu benar karena dia percaya bahwa asersi itu benar. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keyaakinan merupakan produk, hasil, atau tujuan suatu penalaran.
Properitas Keyakinan
Semua penalaran bertujuan untuk menghasilkan keyakinan terhadap asersi yang menjadi konklusi penalaran. Pemahaman terhadap properitas (sifat) keyakinan sangat penting dalam mencapai keberhasilan berargumen. Argumen dianggap berhasil jika argument tersebut dapat mengubah keyakinan. Berikut dibahas properitas keyakinan yang perlu disadari dalam berargumen :
Keadabenaran
tentang isi asersi atau pengetahuan yang mendasari dan pada sumber asersi. Pengetahuan yang mendasari (termasuk pengalaman) biasanya menjamin kebenaran asersi. Oleh karena itu, konsistensi suatu asersi dengan pengetahuan yang mendasari akan menentukan plausibilitas asersi.
Bukan Pendapat
Keyakinan adalah sesuatu yang harus dapat ditunjukkan atau dibuktikan secara objektif apakah dia salah atau benar dan sesuatu yang diharapkan menghasilkan kesepakatan oleh setiap orang yang mengevaluasinya atas dasar fakta objektif. Pendapat atau opini adalah asersi yang tidak dapat ditentukan benar atau salah karena berkaitan dengan kesukaan atau selera. Berbeda dengan keyakinan, plausibilitas pendapat tidak dapat ditentukan.
Bertingkat
Keyakinan yang didapat dari suatu asersi tidak bersifat mutlak tetapi bergradasi mulai dari sangat meragukan sampai sangat meyakinkan. Tingkat keyakinan ditentukan oleh kuantitas dan kualitas bukti untuk mendukung asersi. Orang yang objektif dan berpikir logis tentunya akan bersedia mengubah tingkat keyakinannya manakala bukti baru mengenal plausiilitas suatu asersi diperoleh.
Berbias
Idealnya, dalam menilai plausibilitas suatu asersi orang harus bersikap objektif dengan pikiran terbuka. Pada umumnya, bila orang mempunyai kepentingan, sangat sulit baginya untuk bersikap objektif. Dengan bukti objektif yang sama, suatu asersi akan dianggap sangat meyakinkan oleh orang yang mempunyai kepentingan pribadi yang besar dan hanya dianggap agak atau kurang meyakinkan oleh orang yang netral. Demikian pula sebaliknya.
Bermuatan Nilai
Orang melekatkan nilai terhadap suatu keyakinan. Nilai keyakinan adalah tingkat penting-tidaknya suatu keyakinan perlu dipegang atau dipertahankan seseorang. Nilai keyakinan bagi seseorang akan tinggi apabila perubahan keyakinan mempunyai implikasi serius terhadap filosofi, system nilai, martabat, pendapatan potensial, dan perilaku orang tersebut.
Berkekuatan
dikatakan bahwa semua properitas keyakinan merupakan factor yang menentukan tingkat kekuatan keyakinan seseorang.
Veridikal
Veridikalitas adalah tingkat kesesuaian keyakinan dengan realitas. Realitas yang dimaksud disini adalah apa yang sungguh-sungguh benar tentang asersi yang diyakini. Dengan kata lain, veridikalitas adalah mudah tidaknya fakta ditemukan dan ditunjukkan untuk mendukung keyakinan. Oleh karena itu, untuk tujuan ilmiah tingkat veridikalitas keyaakinan dievaluasi berdasarkan kaidah pengujian ilmiah.
Berketempaan
Ketertempaan atau kelentukan keyakinan berkaitan dengan mudah tidaknya keyakinan tersebut diubah dengan adanya informasi yang relevan. Ketertempaan tidak memasalahkan apakah suatu asersi sesuai atau tidak dengan relitas tetapi lebih memasalahkan apakah keyaakinan terhadap suatu asersi dapat diubah oleh bukti. Tujuan suatu argument adalah untuk mengubah keyakinan kalau memang keyakinan tersebut lentuk atau berubah.
Beberapa sifat keyakinan diatas perlu disadari mengingat bahwa tujuan argument adalah dalam rangka mencari kebenaran dan bukan untuk menyembunyikan kebenaran dengan cara pengelabuhan dan pengecohan. Jadi, tujuan argument aadalah untuk merekonsiliasi ketidaksepakatan untuk menemukan kebenaran.
Argumen
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah argument sering digunakan secara keliru untuk menunjuk ketidaksepakatan, perselisihan pendapat, atau bahkan pertengkaran mulut. Dalam pengertian ini, argument berkonotasi negative. Orang yang suka bertengkar dan ingin menang sendiri akan menikmati dan memburunya tetapi orang yang ingin mencari solusi atau alternative pemecahan masalah yang terbaik akan menghindarinya. Dalam arti positif, argument dapat disamakan dengan penalaran logisuntuk menjelaskan atau mengajukan bukti rasional suatu asersi.
Anatomi Argumen
Asersi berkaitan dengan yang ain dalam bentuk inferensi atau penyimpulan. Asersi dapat berfungsi sebagai premis atau konklusi yang merupakan komponen argument. Berikut ini adalah beberapa contoh argument :
Merokok adalah penyebab kanker karena kebanyakan penderita kanker adalah perokok
Sebagai suatu argument, asersi yang satu harus mendukung asersi yang lain yang menjadi konkulusi. Kata-kata dengan huruf miring diatas merupakan kata indikator argument yang dapat digunakan untuk menunjuk mana premis dan mana konklusi.
Dalam banyak hal, argument tidak menunjukkan secara eksplisit kata-kata indikator sehingga tidak dapat segera diidentifikasi mana premis dan mana konklusi. Akibatnya, sulit untuk menentukan mana asersi yang mendukung da nana asersi yang didukung sehingga dapat timbul berbagai interpretasi terhadap kaidah yang oleh Cederblom dan Paulsen (1986) disebut principle of charitable interpretation. Prinsip ini menyatakan bahwa bila terdapat lebih dari satu interpretasi terhadap satu argument, arguen harus diinterpretasi sehingga premis-premis yang terbentuk memeri dukungan yang paling kuat terhadap konklusi yang dihasilkan. Dengan kata lain, argument yang dipilih adalah argument yang palusibilitasnya paling tinggi atau yang paling masuk akal dalam konteks yang dibahas. Contoh :
Interpretasi : premis (1) jika anda berjanji untuk berbuat sesuatu, anda harus mengerjakannya
Premis (2) anda berjanji kepada panitia bahwa anda akan dating ke seminar itu
Konklusi: Anda harus dating ke seminar itu
Pada interpretasi diatas jelas dirasakan asersi “Anda harus datang ke seminar itu” paling tepat didukung dalam argument daripada dua asersi yang lain.
Jenis Argumen
Berbagai karaktristik dapat digunakan sebagai basis untuk mengklasifikasi argument. Klasifikasi yang ditinjau dari bagaimana penalaran diterapkan untuk menurunkan konklusi merupakan klasifikasi yang sangat penting dalam pembahasan buku ini. Dalam hal ini argument dapat diklasifikasikan menjadi argument deduktif dan induktif.
Argumen Deduktif
Salah satu bentuk penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang disebut silogisma. Silogisma tediri dari tiga komponen yaitu premis major, premis minor, dan konklusi, berikut contohnya :
Premis major: Semua binatang menyuusui mempunyai paru-paru
Premis minor: Kucing binatang menyusui
Konklusi : Kucing mempunyai paru-paru
Premis major : Semua burung bertelur
Premis minor : Kura-kura bertelur
Konklusi : Kura-kura adalah burung
Konklusi diatas salah karena premis minor menegaskan konsekuen bukan menegaskan anteseden. Bila dipandang sebagai argument, penalaran diatas tidak dapat diterima (tidak valid) karena tidak lengkpanya premis major.
Penalaran deduktif dalam akuntansi digunakan untuk memberi keyakinan tentang simpulan-simpulan yang diturunkan dari premis yang dianut. Dalam teori akuntansi, premis major sering disebut sebagai postulat. Sebagai penalaran logis, argument-argumen yang dihasilkan dengan pendekatan deduktif dalam akuntansi akan membentuk teori akuntasni.
Dalam akuntasi, premis majr dapat berasal dari knklusi penalaran deduktif. Penalaran deduktif untuk suatu masalah menghasilkan argument untuk masalah tersebut. Oleh karena itu, penalaran dalam akuntansi dapat menjadi panjang dan terdiri atas beberapa argument.
Evaluasi Penalaran Deduktif
Tujuan utama mengevaluasi argument adalah untuk menentukan apakah konklusi argument benar dan meyakinkan. Utuk menilai suatu argument deduktif, Nickerson mengajukaan empat pertanyaan yang harus dijawab, yaitu :
1) Apakah tia lengkap ? 2) Apakah artinya jelas ? 3) Apakah tia valid ?
4) Apakah premis dapat dipercaya ?
Keempat pertanyaan diatas merupakan kriteria evaluasi yang terdiri atas kelengkapan, kejelasan, kesahihan dan kepercayaan.
Kelengkapan merupakan kriteria yang penting karena validitas konklusi menjadi kurang meyakinkan bila premis-premis yang diajukan tidak engkap.
Kejelasan arti diperlukan karena keyakinan merupakan fungsi kejelasan makna. Kejelasan tidak hanya diterapkan untuk makna premis tetapi juga untuk hubungan antarpremis. Keterbatasan bahasa, kesalahan bahasa, dan keterbatasan pengetahuan topic yang dibahas merupakan factor yang menetukan kejelasan dan bahkan pemahaman argument.
Ketidakpercayaian melengkapai ketiga kriteria sebelumnya agar konklusi meyakinkan sehingga orang bersedia menerima. Orang bersedia menerima suatu asersi kalau dia percaya pada asersi tersebut. Orang dapat percaya pada suatu asersi kalau asersi tersebut ada benarnya.
Perlu dicatat bahwa konklusi tidak selalu dapat mengubah keyakinan seseorang.. Properitas keyakinan yang dibahas sebelumnya menentukan keyakinan seseorang akan suatu asersi konklusi. Demikian juga, dalam beberapa hal orang tidak selalu bersedia menrima atau bahkan mendengarkan argument.
Argumen Induktif
Berbedaa denga argument deduktif yang merupakan argument logis, argument induktif lebih bersifat sebagai argument ada benarnya. Contoh :
Contoh 1 Premis: Satu jeruk dari karung A manis rasanya
Premis: Satu jeruk berikutnya manis rasanya
Konklusi: Semua jeruk dalam karung A manis rasanya
Contoh 2 Premis: Sekelompok penderita kanker semuanya perokok
Konklusi: Merokok mnyebabkan kanker
Dalam contoh diatas, argument mengalir dari informasi atas pengamatan khusus atau tertentu menuju ke konklusi yang diterapkan untuk seluruh pengamatan yang mungkin dilakukan. Konklusi melewati apa yang dapat ditunjukkan oleh fakta/bukti empiris atau meliputi pula apa yang tidak diamati.
Akibat generalisasi, hubungan antara premis dan konklusi dalam penalaran induktif tidak langsung dan tidak sekuat hubungan dalam penalaran deduktif. Dalam penalaran induktif, kebenaran premis tidak selalu menjamin sepenuhnya kebenaran konklusi. Kebenaran konklusi hanya dijamin dengan tingkat keyakinan tertentu. Artinya, jika premis benar, konklusi tidak selalu benar.
Argumen dengan Analogi
Penalaran dengan analogy adalah penalaran yang menurunkan konklusi atas dasar kesamaan atau kemiripan karakteristik, pola, fungsi, atau hubungan unsur suatu objek yang disebutkan dalam suatu asersi. Analogi bukan merupakan suatu bentuk pembuktian tetapi merupakan suatu sarana untuk meyakinkan bahwa asersi konklusi mempuyai kebolehjadian untuk benar. Contoh :
Premis 1 : Negara adalah ibarat sebuah kapal pesiar dengan presiden sebagai nahkoda#
Premis 2 : Dalam keadaan darurat, semua penumpang harus tunduk pada perintah nahkoda
Konklusi : Dalam keadaan krisis, presiden harus diberi kekuasaan khusus untk mengeluarkan
Undang-undang darurat yang harus diikuti semua warga tanpa kecuali.
Dalam contoh diatas, hubungan kemiripan Negara dengan kapal dapat diinterpretasi bahwa keduanya sama-sama merupakan suatu wilayah yang di dalamnya hidup sekelompok warga yang menyerahkan sebagian kedaulatannya kepaa seorang pemimpin. Penalar dapat juga mengiterpretasi bahwa kemiripan tersebut berkaitan dengan pemerintahan atau manajemen.
Walaupun analogy banyak digunakan dalam argument, argument semacam ini banya mengandung kelemahan. Perbedaan-perbedaan penting yang mempengaruhi konklusi tersembunyi atau disembunyikan. Perbedaan sering leih dominan daripada kemiripan.
Argumen Sebab-Akibat
Untuk dapat menyatakan adanya hubungan kausal perlu diadakan pengujian tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kaidah untuk menguji adanya hubungan kausal adalah apa yang disebut kaidah kecocokan, kaidah kecocokan negative, dan kaidah perbedaan yang dikemukakan oleh Jhon Stuart Mill.
Dalam argument, kasus-kasus dalam ketiga kaidah diatas dapat diperlakukan sebagai premis. Kaidah ketiga merupakan gabungan antara kaidah pertama dan kedua.
Kriteria Penyebaban
Kaidah perbedaan Mill sebenarnya merupakan suatu rancangan untuk menguji secara ekperimental apakah memang terdapat hubungan kausal. Akan tetapi kaidah tersebut belum dapat sepenuhnya meyakinkan karena mungkin ada factor lain yang menyebabkan gejala z terjadi. Oleh karena itu, untuk menguji dan menyatakan bahwa suatu factor atau variable (C)
menyebabkan suatu gejala atau variable lain (Z) terjadi, tiga kriteria berikut harus dipenuhi :
1) C dan Z bervariasi bersama. Bila C berubah, Z juga berubah 2) Perubahan C terjadi sebelum atau mendahului perubahan Z terjadi. 3) Tidak ada factor lain selain C yang mempengaruhi perubahan Z
Kriteria 1 harus dipenuhi karena hubungan sebab-akibat hanya terjadi jika ada perubahan baik factor sebab maupun factor akibat. Bila salah satu factor berubah sementara yang lain tetap, maka jelas bahwa kedua factor tersebut tidak berhubungan sama sekali. Perubahan disini harus diartikan secara luas sebagai perbedaan keadaan atau nilai.
Kriteria 3 harus dipenuhi. Tidak adanya factor-faktor lain selain factor sebab yang diteorikan harus diartikan bahwa factor-faktor lain tersebut memang tidak ada atau kalau ada, pengaruh factor-faktor lain tersebut dapat dikendalikan, diukur, atau diisolasi sehingga diperoleh keyakinan yang tinggi bahwa perubahan factor sebab benar-benar menyebabkan perubahan factor akibat.
Penalaran Induktif dalam Akuntansi
Pada umumnya digunakan untuk menghasilkan pernyataan umum yang menjadi penjelasan (teori) terhadap gejala akuntansi tertentu. Pernyataaan-pernyataan umum tersebut biasanya berasal dari hipotesis yang diajukan dan diuji dalam suatu penelitian empiris. Hipotesis merupakan generalisasi yang dituju oleh penelitian akuntansi. Contoh :
Perusahaan besar memilih metoda akuntansi yang menurunkan laba
Tingkat likuiditas perussahaan perdagangan lebih tinggi daripada tingkat likuiditas perusahaan pemanufakturan.
Tingkat solvensi berasosiasi positif dengan probabilitas kebankrutan perusahaan.
Secara statistis, generalisasi berarti menyimpulkan karakteristik populasi atas dasar karakteristik sampel melalui pengujian statistis.
Kecohan (Fallacy)
Cederblom dan Paulsen (1986) mendefinisi pengertian kecohan sebagai berikut:
“A fallacy is a kind of argument or appeal that tends to persuade us, even though it is faulty. Fallacies are arguments that tend to persuade butshould not persuade”
Kita harus mengenal berbagai kecohan agar kita waspada bahwa hal semacam itu memang ada sehingga kita tidak terkecoh atau mengecoh orang lain secara tak sengaja. Orang dapat terkecoh oleh dirinya sendiri sehingga dia berpikir bahwa dia mengajukan argument yang valid padahal sebenarnya tidak valid. Sebaliknya, orang dapat mengecoh orang lain dengan sengaja semata-mata karena ingin memaksakan kehendak atau ingin menangnya sendiri sehingga dia akan menggunakan segala taktik untuk meyakinkan orang lain tentang keyakinan atau pendapatnya dengan menyampingkan masalah pokok atau menyembunyikan argument yang valid. Oleh karena itu, perlu dibedakan kecohan lantaran taktik atau akal bulus dan kecohan lantaran salah logika atau nalar dalam argumen. Ciri yang membedakan keduanya adalah maksud atau niat untuk beragumen.
Stratagem
tidak dapat dipertahankan secara logis. Karenanya, stratagem dapat mengandung kebohongan (deceit) dan muslihat (trick).
Persuasi Tak Langsung
Persuasi Tak Langsung merupakan stratagem untuk meyakinkan seseorang akan kebenaran suatu pernyataan bukan langsung melalui argument atau penalaran melainkan melalui cara-cara yang sama sekali tidak berkaitan dengan validitas argumen. Contoh persuasi tak langsung banyak dijumpai dalam periklanan (advertising).
Membidik Orangnya
Strategem ini digunakan untuk melemahkan atau menjatuhkan suatu posisi atau pernyataan dengan cara menghubungkan pernyataan atau argument yang diajukan seseorang dengan pribadi orang tersebut. Contoh ungkapan tersebut (diucapkan dengan nada meninggi):
- “Semua orang tahu itu!”
- “Saya tidak percaya anda dapat mengatakan hal itu!”
- “Yang anda katakana itu adalah lelucon baru yang belum pernah saya dengar!”
- “Apa itu kok aneh-aneh, seperti kurang pekerjaan saja!” (Sebagai reaksi terhadap istilah akuntansi baru yang baru saja didengarnya.)
Menyampingkan Masalah
Stratagem ini dilakukan dengan cara mengajukan argumen yang tidak bertumpu pada masalah pokok atau dengan cara mengalihkan masalah ke masalah yang lain yang tidak bertautan. Beberapa contoh stratagem ini:
- Gerakan antikorupsi tidak perlu digalakkan lagi karena nyatanya banyak orang yang melakukan korupsi tidak mendapatkan sanksi hukum.
- Pembenahan istilah akuntansi tidak perlu dilakukan karena dalam komunikasi yang penting kita tahu maksudnya.
- Maengapa istilah kos seharusnya digunakan alih-alih biaya? Stratagem: Apa bedanya dengan kos-kosan (tempat mondok)?
Misrepresentasi
Stratagem ini digunakan biasanya untuk menyanggah atau menjatuhkan posisi lawan dengan cara memutarbalikkan atau menyembunyikan fakta baik secara halus maupun terang-terangan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara misalnya: mengekstremkan posisi lawan, menyalahartikan maksud baik posisi lawan, atau menonjolkan kelemahan dan menyembunyikan keunggulan argumen lawan.
menghancurkan militer dan menempat-kan negara pada kondisi kurang aman. Ini merupakan misrepresentasi dengan mengekstremkan posisi lawan.
Contoh lain misalnya adalah seorang mahasiswa, Amin, meminta dosennya untuk mengomentari tulisan atau proposal skripsinya. Dosennya menyarankan perbaikan-perbaikan yang rinci dan jelas. Amin, yang mengharapkan untuk mendapat pujian dari dosennya, mengeluh dengan mengatakan kepada teman-temannya bahwa dosen tersebut sangat rewel padahal tulisan atau proposalnya memang amburadul.
Berkaitan dengan strategi ini adalah apa yang dikenal dengan istilah the deceptive use of truth. Dengan taktik ini, penalar menunjukkan fakta atau kebe-naran (truth) tetapi tidak secara utuh atau hanya sebagian. Pengiklan obat menunjukkan khasiat obat tanpa menunjukkan efek samping. Peneliti menunjuk-kan perbedaan karakteristik dua kelompok dengan menggambar grafik perbedaan di bagian ujung saja sehingga perbedaan yang secara statistis tidak signifikan menjadi tampak secara ekonomik signifikan. Ada berbagai cara lain untuk menge-labuhi dengan statistik tanpa harus berbohong.
Imbauan Cacah
Stratagem ini biasanya digunakan untuk mendukung suatu posisi dengan menun-jukkan bahwa banyak orang melakukan apa yang dikandung posisi tersebut. Sebagai contoh, suatu kelompok memegang posisi untuk membolehkan penaikan harga (mark-up) kontrak atau tender karena banyak rekanan melakukan hal tersebut. Dalam promosi produk, pengiklan membuat klaim “Sembilan dari sepu-luh bintang film menggunakan sabun merek X” untuk membujuk konsumer agar membeli sabun tersebut.
Mirip dengan stratagem ini adalah apa yang dikenal dengan istilah peringan-an lewat generalisasi
(dilution by generalization). Misalnya seorang politikus men-dukung posisi bahwa Ketua DPR yang dijatuhi hukuman karena tindakan korupsi masih tetap dapat menjabat dengan argumen bahwa tidak ada orang yang sem-purna (no one is perfect). Apa yang sebenarnya dikatakan adalah bahwa melaku-kan korupsi adalah suatu bentuk ketidaksempurnaan manusia. Tindakan korupsi sah-sah saja selama orang mengakui ketidaksempurnaan manusia. Akan tetapi, penalar terkecoh dalam hal ini karena dia menyamaratakan semua jenis ketidak-sempurnaan. Dengan kecohan ini, orang dapat menerima argumen bahwa pem-bunuh dan pencuri tidak perlu dihukum karena tidak seorangpun sempurna.
Imbauan Autoritas
menunjukkan bah-wa posisi tersebut dipegang oleh orang yang mempunyai autoritas dalam masalah bersangkutan tanpa menunjukkan bagaimana autoritas bernalar.
Sebagai contoh, seorang akademisi ditanya mengapa dia memakai istilah beban bukan biaya
untuk padan kata expense. Akademisi tersebut dapat mengajukan stratagem bahwa dia menggunakan istilah beban karena autoritas (Ikatan Akuntan Indonesia) menggunakan istilah tersebut tanpa mempersoalkan apakah istilah tersebut layak atau tidak padahal dia tahu bahwa istilah beban tidak valid (tidak dapat didukung secara argumentatif).
Imbauan Tradisi
Dalam beberapa hal, orang sering mengerjakan sesuatu dengan cara tertentu semata-mata karena memang begitulah cara yang telah lama dikerjakan orang. Dalam dunia ilmiah atau akademik, orang sering memegang suatu keyakinan dengan mengajukan argumen bahwa memang demikianlah orang-orang mempu-nyai keyakinan. Namun, kenyataan bahwa sesuatu telah lama dikerjakan dengan cara tertentu di masa lampau tidak dengan sendirinya menjadi argumen untuk meneruskan cara tersebut khususnya kalau terdapat cara lain yang terbukti lebih valid atau baik (secara rasional dan praktis).
Misalnya seorang dosen berargumen bahwa skripsi mahasiswa harus ditulis dengan mesin ketik (bukan komputer) karena tradisi penulisan jaman dulu atau, bila boleh menggunakan komputer, dosen melarang mahasiswa mencetak kata yang biasanya diberi garis bawah dengan huruf miring karena mempertahankan tradisi penulisan ilmiah jaman sebelum datangnya komputer. Di sini, dosen terse-but tidak lagi berkepentingan untuk mengevaluasi argumen bahwa jaman dulu suatu kata diberi garis bawah karena mesin ketik tidak dapat menghasilkan huruf miring sementara itu secara tipografis penekanan kata akan lebih baik tampilan-nya kalau kata dicetak dengan huruf miring (garis bawah merupakan distraksi).
Dilema Semu
Dilema semu (false dilemma) adalah taktik seseorang untuk mengaburkan argu-men dengan cara menyajikan gagasannya dan satu alternatif lain kemudian mengkarakterisasi alternatif lain sangat jelek, merugikan, atau mengerikan sehingga tidak ada cara lain kecuali menerima apa yang diusulkan penggagas. Misalnya, dalam suatu perdebatan tentang amandemen udang-undang dasar, seo-rang anggota fraksi mengatakan (untuk meyakinkan anggota dewan yang lain):
Dasar pikiran argumen di atas adalah bahwa negara kita tidak boleh hancur dan karenanya simpulannya adalah kita harus menyetujui amandemen. Kecohan terjadi karena pengargumen mengklaim bahwa hanya ada dua alternatif dan yang satu jelas tidak diinginkan sehingga hanya alternatif yang diusulkannya yang harus diterima. Akan tetapi, dia mengecoh seakan-akan hanya ada dua alternatif padahal kenyataannya ada beberapa alternatif lain yang lebih valid.
Imbauan Emosi
Apa yang dibahas sebelumnya adalah stratagem yang semata-mata menggunakan muslihat
(trick) yang oleh Cederblom dan Paulsen (1986) disebut tipu daya (kecekatan) tangan pesulap
(sleight of hand) tanpa melibatkan emosi pihak yang dituju. Daya bujuk argumen sering dicapai dengan cara membaurkan emosi dengan nalar (disebut confusing emotion with reason atau
motive in place of sup-port). Pendeknya, daya nalar orang dimatikan dengan cara menggugah emosinya. Membidik orangnya (argumen ad hominem) atau imbauan autoritas sebenarnya merupakan salah satu bentuk imbauan emosi.
Dengan menggugah emosi, pengargumen sebenarnya berusaha menggeser dukungan nalar
(support) validitas argumennya dengan motif (motive). Dengan taktik ini, emosi orang yang dituju diagitasi sehingga dia merasa tidak enak untuk tidak menerima alasan yang diajukan. Dua stratagem yang dapat digunakan untuk mencapai hal ini adalah imbauan belas kasih (appeal to pity) dan imbauan tekanan/kekuasaan (appeal to force).
Orang dikatakan telah memanfaatkan imbauan belas kasih ke anda bilamana dia memaksa anda menyetujui sesuatu karena kalau anda tidak setuju dia akan menderita. Misalnya, seorang mahasiswa yang telah dikeluarkan dari universitas (memang secara akademik tidak mampu menyelesaikan kuliahnya dalam waktu yang ditentukan) datang ke anda (kebetulan menjabat rektor) dan mengajukan pencabutan keputusan tersebut dan mengajukan argumen bahwa keputusan pengeluarannya akan menyebabkan dia dalam kesulitan dan penderitaan. Hal itu diajukan karena dia tahu benar bahwa memang dia pantas dikeluarkan atas dasar argumen akademik dan rasional. Anda tidak jadi mengeluarkannya karena anda tahu bahwa orang tersebut akan makin menderita kalau permohonan tidak dika-bulkan. Akhirnya anda mengeluarkan surat untuk membolehkan mahasiswa tersebut meneruskan kuliah dengan menyatakan bahwa mahasiswa tersebut mampu secara akademik. Konklusi di sini adalah mahasiswa mampu menyelesai-kan kuliah meskipun bukti tidak mendukung.
Konklusi di sini adalah pendapat dosen tersebut valid meskipun bukti akademik tidak mendukung.
Dari dua contoh di atas, faktor yang membuat argumen menjadi persuasif adalah motif bukan validitas argumen. Kedua stratagem tersebut menempatkan orang menjadi tidak enak kalau tidak menerima (meyakini) konklusi meskipun keduanya tidak mengajukan bukti pendukung untuk meyakinkan bahwa konklusi adalah benar (valid).
Salah Nalar (Reasoning Fallacy)
Salah nalar adalah kesalahan struktur atau proses formal penalaran dalam menurunkan sim-pulan sehingga simpulan menjadi salah atau tidak valid.
Berbeda dengan stratagem yang lebih merupakan taktik atau pendekatan yang sengaja digunakan untuk meyakinkan kebenaran suatu asersi, salah nalar merupakan suatu bentuk kesalahan penyimpulan lantaran penalarannya mengan-dung cacat sehingga simpulan tidak valid atau tidak dapat diterima. Demikian juga, salah nalar biasanya bukan kesengajaan (intentional) dan tidak dimaksud-kan untuk mengecoh atau mengelabuhi (to deceive).
Kecohan lantaran salah nalar:
Menegaskan konsekuen
Menyangkal anteseden
Pentaksaan
Perampatan-lebih
Parsialitas
Pembuktian dengan analogi
Merancukan urutan kejadian dengan penyebaban
Pengambilan konklusi pasangan
Aspek manusia sangat berperan dalam argumen khususnya apabila suatu kepentingan pribadi atau kelompok terlibat dalam suatu perdebatan. Mengubah kepentingan melalui argumen dapat merupakan proses yang kompleks karena perubahan tersebut menyangkut dua hal yang berkaitan yaitu manusia yang meyakini dan asersi yang menjadi objek keyakinan. Manusia tidak selalu rasional dan bersedia beragumen sementara itu tidak semua asersi dapat ditentukan kebenarannya secara objektif dan tuntas.
Kecohan lantaran Aspek Manusia:
Puas dengan penjelasan sederhana
Kepentingan mengalahkan nalar
Sindroma tes klinis
Mentalitas Djoko Tingkir
Persistensi
Tujuan ekonomik dan sosial
Akuntansi didefinisikan sebagai seperangkat pengetahuan yang mempelajari perekayasaan
penyediaan jasa secara nasional berupa informasi keuangan kuantitatif unit-unit organisasi dalam suatu lingkungan negara tertentu dan cara penyampaian informasi tersebut kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan ekonomik. Agar manfaat akuntansi dapat dirasakan, pengetahuan perekayasaan tersebut harus diaplikasi dalam suatu wilayah (negara). Wujud aplikasi ini adalah terciptanya suatu mekanisme pelaporan keuangan (financial reporting) yaitu bagaimana informasi akuntansi dalam suatu masyarakat (negara) diatur, disediakan, dan disampaikan untuk mencapai tujuan tertentu (sosial dan ekonomik).
Pelaporan keuangan yang berjalan merupakan hasil dari perekayasaan pelaporan keuangan dimana pelaporan keuangan tersebut meliputi struktur dan proses.
Oleh karena itu, pelaporan keuangan nasional harus direkayasa secara saksama untuk pengendalian alokasi sumber daya secara automatis melalui mekanisme sistem ekonomik yang berlaku. Dalam pelaporan keuangan, pengendalian secara automatis dicapai dengan ditetapkannya suatu pedoman pelaporan keuangan yaitu, prinsip akuntansi berterima umum/PABU termasuk didalamnya standar akuntansi. PABU akhirnya menentukan bentuk, isi, dan susunan laporan atau statemen keuangan sebagai media utama atau ciri utama pelaporan keuangan.
Perekayasaan keuangan sebagai sistem nasional merupakan hasil perekayasaan akuntansi ditingkat nasional. Perekayasaan akuntansi adalah proses pemikiran logis dan objektif untuk membangun suatu struktur dan mekanisme pelaporan keuangan dalam suatu negara untuk menunjang pencapaian tujuan negara. Perekayasaan melibatkan pemilihan dan pertimbangan ideologi, teori, konsep dasar, dan teknologi yang tersedia secara praktis dan teoritis dengan mempertimbangkan faktor lingkungan negara.
Proses Perekayasaan Pelaopran Keuangan
1. Penentuan konsep dasar, postulat, faktor lingkungan. 2. Penetapan tujuan pelaporan.
3. Pengidentifikasian pihak yang dituju oleh pelaporan. 4. Pemilihan dan penentuan informasi yang diperlukan. 5. Penentuan cara menyampaikan informasi.
6. Pengidentifikasian kendala-kendala pelaporan.
7. Penyusunan dokumen resmi dalam bentuk pernyataan konsep.
8. Perancang bangunan struktur dan format sistem informasi akuntansi (prosedur, metode, dan teknik) untuk menciptakan, menangkap, mengolah, meringkas, dan menyajikan informasi sesuai dengan standar atau prinsip akuntansi berterima umum.
Siapa Merekayasa
Proses perekayasaan bukan suatu upaya perseorangan (one-man show) tetapi merupakan upaya tim yang melibatkan berbagai disiplin intelektual dan kekuatan politik mengingat perekayasaan tersebut merupakan suatu proses yang serius yang hasilnya akan berdampak luas dan jangka panjang . telah disinggung sebelumnya bahwa pelaporan keuangan mempunyai dampak ekonomik dan sosial karena pelaporan keuangan merupakan sarana atau wahana dalam pengalokasian sumber daya ekonomik.
Oleh karena itu, badan legislatif pemerintah mempunyai peran yang penting dalam hal ini mengingat rerangka konseptual mempunyai fungsi semacam undang-undang dasar (konstitusi). karena pentingnya perekayasaan ini, para anggota badan legislatif atau peaksana yang terlibat dan berkepentingan dalam hal ini harus mempunyai wawasan dan pengetahuan teoritis di bidang masing-masing yang cukup memadai. Jadi, perekayasa akuntansi harus merupakan tim multi-displiner agar hasilnya dapat diandalkan sebagai wahana untuk menjamin tercapainya tujuan sosial dan ekonomik negara.
Aspek Semantik Dalam Perekayasaan
Aspek atau langkah (4) dan (5) dalam penalaran logis yang dikemukakan Hendriksen merupakan langkah yang kritis dalam proses perekayasaankarena hasilnya akan sangat menentukan bentuk, isi, susunan , dan lingkup statemen keuangan.
Persoalan yang harus dijawab oleh perekayasa adalah bagaimana suatu kegiatan fisis perusahaan yang kompleks disimbolkan dalam bentuk statemen keuangan sehingga pihak yang dituju dapat membayangkan operasi perusahaan dari segi keuangan tanpa harus menyaksikan secara fisis operasi perusahaan.
Model yang sekarang dikenal secara luas adalah menyimbolkan kegiatan fisis perusahaan dalam sepuluh elemen yang akhirnya terefleksi dalam statemen keuangan yaitu: aset, kewajiban,ekuitas, pendapatan, biaya, untung, rugi, investasi pemilik, distribusi ke pemilik, dan laba komprehensif.
Bila ditambah dengan elemen aliran kas (operasi, investasi, dan pendanaan), penyimbolan akan menghasilkan tiga belas elemen. Penentuan elemen-elemen ini didasarkan pada gagasan bahwa yang dituju oleh informasi adalah investor dan kreditor dalam suatu lingkungan sistem ekonomik tertentu.
Proses Saksama
Untuk mencapai kualitas yang tinggi dan andall, proses perekayasan harus dilakukan melalui tahap-tahap dan prosedur yang saksama dan teliti. Hal ini diperlukan mengingat dokumen yang dihasilkan akan mempunyai status sebagai pernyataan resmi atau statemen (statements) yang mempunyai tingkat keautoritafifan tinggi.
Berikut ini adalah proses-saksama (due process) yang dilaksanakan FASB dalam menyusun pernyataan resmi.
a) Mengevaluasi masalah (preliminary evaluation). b) Mengadakan riset dan analisis.
c) Menyusun dan mendistribusi Memorandum Diskusi (Discussion Memorandum) kepada setiap pihak yang berkepentingan.
d) Mengadakan dengar pendapat umum (public hearing) untuk membahas masalah yang diungkapkan dalam Memorandum Diskusi.
e) Menganalisis dan mempertimbangkan tanggapan publik atas Memorandum Diskusi (baik dari dengar pendapat maupun dari tanggapan tertulis).
f) Menerbitkan draf awal standar yang diusulkan yang dikenal dengan nama Explosure Draft (ED) untuk mendapatkan tanggapan tertulis dalam waktu 30 hari setelah penerbitan.
g) Menganalisis dan mempertimbangkan tanggapan tertulis terhadap ED. h) Memutuskan apakah jadi menerbitkan suatu statemen atau tidak. i) Menerbitkan statemen yang bersangkutan.
Proses yang kira-kira sama juga diterapkan oleh IAI dalam penerbitan suatu pernyataan (statemen). Sesuai dengan Anggaran Rumah Tangga IAI, penerbitan standar oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan atau standar profesional oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik harus mengikuti prosedur berikut:
termasuk kepada cabang-cabang dan anggota untuk dimintakan tanggapan, sekurang-kurangnya selama tiga bulan.
b) Dengan mempertimbangkan tanggapan yang diterima dari masyarakat, komite dalam rapatnya dapat mengambil keputusan untuk mengusulkan kepada Pengurus Pusat agar memberlakukan/mengesahkan standar tersebut.
c) Berdasarkan usulan ini, Pengurus Pusat memutuskan untuk memberlaukan atau mengesahkanya.
Dewan Standar Akuntansi Keuangan dan Dewan Standar Profesional Akuntansi Publik berwenang untuk memutuskan materi-materi yang akan dibahas dan diusulkan untuk menjadi standar yang akan diberlakukan di Indonesia. Namun, usulan standar tersebut harus mendapat pengesahan dari Pengurus Pusat untuk dapat diberlakukan dan diterbitkan sebagai pedoman yang mengikat anggota.
Konsep Informasi Akuntansi
Salah satu kata kunci penting dalam definisi akuntansi adalah informasi keuangan. Nilai informasi adalah kemmapuan informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan keyakinan pemakai dalam pengambilan keputusan.
Simbol-simbol (elemen-elemen) yang termuat dalam seperangkat statemen keuangan sebenarnya tidak mempunyai makna kalau tiap elemen diinterppretas sebagai objek yang berdiri sendiri. Artinya, satu elemen dan jumlah rupiahnya belum memberi informasi kalau tidak dihubungkan dengan elemen lainnya. Dalam teori komunikasi, informasi semantiklah yang sebenarnya ingin disampaikan kepada pemakai sehingga akan terjadi efek pemengaruhan.
Rerangka Konseptual
Dalam perekayasaan akuntansi, jawaban atas pertanyaan perekayasaan akan menjadi konsep-konsep terpilih yang dituangkan dalam dokumen resmi yang di Amerika disebut rerangka konseptual (conceptual framework). Bila operasi akuntansi dianalogi dengan kegiatan kegiatan kenegaraan, rerangka konseptual dapat dianalogi dengan konstitusi sedangkan prosesnya dapat dianalogi dengan proses pemikiran dalam pembuatan konstitusi negara.
Sebagai suatu kesatuan konsep-konsep koheren yang menetapkan sifat dan fungsi pelaporan keuangan, kam (1990) menguraikan manfaat-manfaat rerangka konseptual sebagai berikut:
1) Memberi pengarahan atau pedoman kepada badan yang beryanggungjawab dalam penyusunan/penetap standar akuntansi.
2) Menjadi acuan dalam memecahkan masalah-masalah akuntansi yang dijumapi dalam praktik yang perlakuannya belum diatur dalam standar atau pedoman spesifik.
3) Menentukan batas-batas pertimbangan (bounds for judgment) dalam penyusunan statemen keuangan.
4) Meningkatkan pemahaman pemakai statemen keuangan dan meningkatkan keyakinan terhadap sattemen keuangan.
5) Meningkatkan keterbandingan statemen keuangan antarperusahaan.
Model
Salah satu model yang banyak dikenal saat ini adalah rerangka konseptual yang dokembangkan oleh FASB yang memuat empat komponen konsep penting, yaitu:
a) Tujuan pelaporan keuangan b) Kriteria kualitas informasi
c) Elemen-elemen statemen keuangan d) Pengukuran dan pengakuan
Rerangka Konseptual Versi IASC
Rerangka konseptual versi International Accounting Standards Committee (IASC), disebut Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements dan diterjemahkan oleh IAI sebagai Kerangkan Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, mempunyai komponen konsep yang mirip dengan komponen konsep versi FASB yaitu:
The Objective Financial Statements
Underlying Assumptions
Qualitative Characteristics of Financial Statement
The Elements of Financial Statemens
Recognition of the Elements of Financial Statements
Measurement of the Elements of Financial Statements
Conce[ts of Capital Maintenance and the Determination of Profit
Rerangka konseptual versi FASB lebih unggul dalam aspek pendidikan dibandingkan dengan rerangka versi IASC. Rerangka konseptual versi FASB memuat secara komprehensif penalaran dan argumen yang melekat dalam tiap penjelasan komponen konsep. Penalaran dan argumen tersebut membentuk pengetahuan yang dapat dipandang sebagai teori duduktif-normatif untuk memahami alasan memilih konsep-konsep tertentu dan apa implikasinya.
Di bidang akademik,dengan memahami proses perekayasaan dan rerangka konseptual mahasiswa akan dapat menjelaskan alasan penggunaan standar akuntansi yang sedang berjalan. Saat belajar ataupun setelah lulus, mahasiswa juga diharapkan mampu mengevaluasi keefektifan praktik akuntansi dalam pencapaian tujuan pelaporan keuangan.Selain itu mahasiswa diharapkan mempunyai perspektif yang luas dan jangka panjang sehingga membentuk sikap proaktif dalam mengantisipasi perubahan atau gagasan baru.
Rerangka konseptual sebagai hasil perekayasaan harus selalu dievaluasi keefektifannyasebagai alat untuk mencapai tujuan.Kebutuhan untuk evaluasi ini akan banyak memicu penelitian di bidang akuntansi untuk menguji pencapaian tujuan laporan keuangan terhadap standar akuntansi tertentu. Degan mengacu pada rerangka konseptual, penelitian tersebut dapat diarahkan untuk menemukan prinsip, metoda, dan prosedur baru dalam memecahkan masalah-masalah akuntansi yang timbul. Hal ini akan menunjang pengembangan praktik dan profesi akuntansi di suatu wilayah (negara) tertentu.
Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU)
Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU) adalah rerangka pedoman operasional berupa standar akuntansi dan pedoman yang baik yang telah banyak dipraktikkan sebagai acuan atau didukung berlakunya secara autoritatif serta tidak bertentangan dengan rerangka konseptual. PABU sebagai pedoman operasional dijadikan sebagai kriteria utama dalam menentukan tingkat kewajaran dari penyajian suatu laporan keuangan bagi auditor di Indonesia, bukan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang juga menjadi salah satu kriteria. Hal ini dikarenakan oleh beberapa alasan, yaitu : (1) tidak semua ketentuan perlakuan akuntansi dapat atau telah dituangkan dalam bentuk standar akuntansi; (2) bila standar akuntansi dijadikan kriteria dan dinyatakan dalam laporan auditor, dikhawatirkan bahwa kewajaran yang dilaporkan hanyalah bersifat formal (teknis) bukan bersifat substantif; (3) kewajaran suatu laporan keuangan harus merupakan suatu rerangka pedoman yang cukup komprehensif meliputi aspek teknis dan konseptual.
Prinsip-prinsip Akuntansi
Ketentuan yang tidak diatur dalam standar akuntansi
Standar Akuntansi
Praktik Sehat
Prinsip Akuntansi Berterima Umum
Terdapat tiga pengertian penting yang perlu dibedakan dan dikenali hubungannya, yaitu:
1. Prinsip akuntansi (accounting principles)
Adalah segala ideologi, gagasan, asumsi, konsep, postulat, kaidah, prosedur, metoda, dan teknik akuntansi yang tersedia baik secara teoritis maupun praktis yang berfungsi sebagai pengetahuan.
2. Standar akuntansi (accounting standards)
Adalah konsep, prinsip, metoda, teknik, dan lainnya yang sengaja dipilih atas dasar rerangka konseptual oleh badan penyusun standar untuk diberlakukan dalam suatu lingkungan/negara dan dituangkan dalam bentuk dokumen resmi guna mencapai tujuan pelaporan keuangan negara tersebut.
3. Prinsip akuntansi berterima umum (generally accepted accounting principles)
Adalah suatu rerangka pedoman yang tediri atas standar akuntansi dan sumber-sumber lain yang didukung berlakunya secara resmi, teoritis, dan praktis.
Hubungan ketiga istilah tersebut dapat disederhanakan menjadi bagan berikut ini :
Isi PABU Sebagai Rerangka Pedoman
Rerangka pedoman sebagai kriteria kewajaran penyajian informasi dalam laporan keuangan mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan kebutuhan praktik dan profesi. Berikut beberapa versi PABU
1. PABU versi APB (Akuntan Publik Bersertifikat)
elemen dasar akuntansi keuangan. Sedangkan PABU/GAAPyang dimaksud terdiri dari poerinsip mendasar; prinsip operasi umum; dan prinsip terinci.
PABU yang didefinisi APB terdapat dalam APB Statement No.4.
2. PABU versi Rubin
Steven Rubin menganalogikan hirarki dari berbagai tingkat keautoritatifan dalam rerangka pedoman yang terdapat pada PABU dengan suatu bentuk bangunan rumah bertingkat( disebut The House of GAAP). Secara garis besar PABU versi Rubin ini menyatakan bahwa landasan atau tingkatan keautoritatifan paling bawah berisi sumber yang paling autoritatif dan semakin ke atas tingkat keautoritatifannya makin berkurang. Landasan/fondasi nya berupa asumsi keberlanjutan, akrual basis, konservatisme, dan materialitas. Sedangkan tingkatan paling atas adalah pernyataan APB; AICPA issues papers; peraturan badan autoritatif lain; FASB; textbooks and articles.
3. PABU versi SAS No. 69
Versi ini hampir sama dengan versi Rubin, hanya saja pada versi Rubin hanya ditujukan untuk entitas nonkepemerintahan. Sedangkan pada versi ini konsepnya telah terbagi menajdi dua paralel, yaitu untuk entitas nonkepemerintah dan kepemerintahan
4. PABU versi SPAP
Versi ini telah disempurnakan dengan adanya sumber yang berasal dari AICPA(American Institute of Certified Public Accountants); SAS(Codification of Statements on Auditing Standards); IFA (International Federation of Accountants). Namun adopsi ini dinilai belum lengkap karena belum memasukkan sumber-sumber pedoman untuk organisasi kepemerintahan.
Pedoman Tentang Apa?
Seabagi rerangka pedoman, PABU menetapkan pedoman untuk memperlakukan suatu objek ya ng harus dilaporkan yang menyangkut hal-hal berikut ini.
Definisi
cenderung mengartikan istilah dengan pengertian umum yang acapkali berbeda dengan arti yang dimaksudkan dalm laporan keuangan.
Pengukuran/penilaian
Pengukuran (measurement) adalah penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu objek yang terlibat dalam suatu transaksi keuangan. Jumlah rupiah ini akan dicatat untuk dijadikan data dasar dalam penyusunan statemen keuangan. Pengukuran lebih berhubungan dengan masalah penentuan jumlah rupiah (kos) yang dicatat pertamakali dalam suatu transaksi terjadi. Berkaitan dengan hal ini misalnyaadalah bahwa kos aset tetap adalah semua pengeluaran dalam rangka memperoleh aset tetap tersebut sampai siap digunakan.
Pengukuran sering pula disebut penilaian (valuation). Akan tetapi, penilaian lebih ditujukan untuk penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu elemen atau pos pada saat dilaporkan dalam statemen keuangan.
Pengakuan
Pengakuan (recognition) ialah pencatatan suatu jumlah rupiah (kos) ke dalam sistem akuntansi sehingga jumlah tersebut akan mempengaruhi suatu pos dan terefleksi dalam laporan keuangan. Jadi, pengakuan berhubungan dengan masalah apakah suatu transaksi dicatat (dijurnal) atau tidak.
Penyajian dan Pengungkapan
Penyajian (presentation) menetapkan tentang cara-cara melaporkan elemen atau pos dalam seperangkat statemen keuangan agar elemen atau pos tersebut cukup informatif. Pengungkapan
(disclosure) berkaitan dengan cara pembeberan atau penjelasan hal-hal informatif yang dianggap penting dan bermanfaat bagi pemakai selain apa yang dapat dinyatakan melalui statemen keuangan utama.
Autoritas Rerangka Konseptual
Karena rerangka konseptual dirancang untuk perbaikan masa depan, penyusunannya tidak memperhatikan tidak memperhatikan standar akuntansi yang telah diberlakukan. Jadi, dapat diantisipasi bahwa akan banyak standar akuntansi yang tidak sesuai lagi dengan diberlakukannya rerangka konseptual. Oleh karena itu, kedudukan atau autoritas rerangka konseptual ditetapkan dengan sangat hati-hati oleh FASB dalam tiap pengantar pernyataan konsep sebagai berikut.
Makna “tidak menetapkan/menciptakan standar” (do not establish standards) dalam kata pengantar FASB di atas adalah bahwa SFAC tidak dengan sendirinya membatalkan standar yang sudah ada yang bertentangan dengan standar yang secara implisit melekat dalam atau yang diturunkan dari SFAC. Standar akuntansi yang berjalan hanya dapat diganti dengan standar baru yang disusun melalui prosedur seksama. Dengan kata lain, standar yang diturunkan dari SFAC harus dirumuskan dalam bentuk Statemen of Financial Accounting Standards (SFAS) untuk dapat mengganti standar yang sekarang berlaku. Secara spesifik, FASB menyatakan dalam pengantar SFAC No. 2 bahwa tidak dengan sendirinya:
(a) Require a change in existing generally accepted accouting principles,
(b) Amend, modify, or interpret statemens of Financial Accounting Standards, Interprelations of the FASB. Opinion of the Accounting Principles Board, or Bulletin of Committee on Accounting procedures that are in effect, or
(c) Justify either changing existing generally accepted accounting and reporting practices or onterpreting the pronouncements listed in item (b) based on personal interpretation of the objectives and concepts in the Statements of Financial Accounting Concepts.
Karena riwayat yang kurang lebih sama, IASC juga mengemukakan nada yang sama dalam menetapkan keautoritatifan rerangka konseptualnya dibanding standar akuntansi. Hal ini dinyatakan IASC sebagai berikut:
02 This Framework is not International Accounting Standard and hence does not define standards for any particular measurement or disclosure. Nothing in this framework overrides any specific International Accounting Standard.
03 T5he Board of IASC recognise that in a limited number of cases there may be a conflict between the framework and an international Accounting Standard. In the case where there is a conflict, the requirements of the international, Accounting Standard prevail over those of the framework. As, however, the Board of IASC will be guied by the framework in the development of future Standard and in its review of existing Standards, the number of cases of conflict between the framework and International Accounting Standard will diminsh through time.
Jadi, secara teoritis, rerangka konseptual seharusnya merupakan fundasi rerangka pedoman PABU dan harus direkayasa dahulu sebelum standar. Oleh karena itu, standar yang diturunkan atas dasar rerangka konseptual mestinya konsisten baik dengan rerangka konseptual maupun antarstandar. Penurunan standar tentunya harus dilakukan oleh badan yang berwenang secara seksama.
Struktur Akuntansi
Faktor-faktor lingkungan
(Sosial, budaya, ekonomik, dan politik)
Tujuan Pelaporan Keuangan
diturunkan dari tujuan sosial dan ekonomi
Rerangka konseptual Pelaporan Keuangan
Prinsip akuntansi berterima umum terutama standar akuntansi
Bidang Studi
Struktur akuntansi dapat dijadikan rerangka untuk menyusun kurikulum ini program studi akuntansi. Sebagai misal, kompetensi dan materi yang memampukan peserta didik untuk merekayasa padat diracik dalam bentuk matakuliah Teori Akuntansi atau Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Kompetensi dan materi untuk memberi kemampuan peserta didik untuk menyusun dan menyajikan informasi sesuai PABU dapat diracik dalm satuan mata kuliah: Akuntansi Pengantar, Menengah, dan Lanjutan. Mengapa mata kuliah Akuntansi Manajemen, Sistem Informasi Akuntansi/Manajemen, Pengauditan, dan Analisis Statemen Keuangan ditawarkan dalam kurikulum dapat dijelaskan dengan diagram di atas.
Bidang Profesi
Bila dipandang dari profesi atau pekrjaan yang ditawarkan oleh akuntansi, struktur di atas juga dapat menggambarkan kesempatan karir bagi mereka yang menguasai seperangkat pengetahuan akuntansi. Orang dapat terjun ke bidang pemerintahan untuk menjadi perekayasa akuntansi dengan menjadi anggota legislatif atau (DPR), penyusun standar, badan pemeriksa keuangan, badan pengawas keuangan pemerintah, atau pembina pasar modal. Orasng juga dapat masuk ke sektor swasta untuk menjadi akuntan perusahaan, kontroller, akuntan kos atau anggota komite anggaran. Struktur di atas juga menunjukkan bahwa orang dapat terjun ke layanan publik dengan menjadi akuntan publik, konsultan manajemen, dan penyusun sistem informasi akuntansi dan manajemen.
Fungsi Auditor Independen
Peran auditor independen sangat diperlukan untuk mengaudit apakah statemen keuangan benar-benar telah disajikan sesuai dengan PABU . Hasil pengauditan dituangkan oleh auditor dalam bentuk laporan auditor. Keyakinan pemakai terhadap statemen keuangan akan menjamin bahwa tujuan pelaporan keuangan tercapai dan pada gilirannya tujuan nasional juga tercapai.