1 BAB I
PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Political Economic and Risk Consultancy (PERSC), Transparency International Index, Corruption Perception Index, Global Competitiveness Index, Grey Area Dynamics, Transparency International Indonesia, Indonesia Corruption Watch, Lembaga Survei Indonesia, Lembaga Survei Nasional, Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada dan sederet nama lembaga atau organisasi yang lain – baik swasta maupun pemerintah – memiliki data senada yang menyatakan bahwa fenomena korupsi di Indonesia sudah sangat kronis.
Hal ini ditunjukkan dengan berbagai hasil survei atau penelitian yang mereka lakukan dimana kesemuanya berkesimpulan bahwa Indonesia berada pada peringkat bawah atau tergolong sebagai negara dengan tingkat korupsi yang parah. Sebagai contoh adalah Corruption Perception Index (CPI) yang diluncurkan oleh Transparency International pada tahun 2013 yang menyatakan bahwa Indonesia berada pada peringkat 114 dari 177 negara yang diukur (http://www.ti.or.id/index.php/ publication/2013/12/03/corruption-perception-index-2013). Skor CPI memiliki rentang 0 sampai dengan 100 dimana skor 0 berarti sangat korup dan 100 berarti sangat bersih. Dalam survey tersebut, Indonesia memiliki skor 32 yang berarti tingkat korupsi di Indonesia masih tinggi.
2
Selama suatu negara masih dijangkiti oleh penyakit korupsi, mustahil gagasan-gagasan pembangunan yang komprehensif dapat diwujudkan (Kumorotomo & Widaningrum, 2010). Dan selama suatu negara masih terindikasi korupsi, negara itu akan menemui hambatan besar dalam perkembangan ekonomi dan sosial (Aguilera & Vadera, 2008). Masood Ahmed (1997), direktur pengurangan kemiskinan dan manajemen ekonomi Bank Dunia, mengingatkan negara-negara miskin bahwa korupsi merupakan perintang utama pertumbuhan ekonomi karena korupsi membuat para investor menyingkir. Bukti-bukti yang berkembang menunjukkan, korupsi di negara-negara sedang berkembang menjadi penghambat utama investasi sektor swasta dan bagaimana seharusnya jalan hidup rakyat biasa.
Sejalan dengan itu Fred Bergsten, Direktur Institute for International Economics dari Amerika Serikat (Kompas,1996) berpendapat bahwa korupsi tidak hanya bisa mengganggu pertumbuhan negara yang bersangkutan, tetapi juga bisa menjadi penghambat upaya mewujudkan perdagangan bebas dunia. Bergsten juga menegaskan bahwa dari hasil penelitian terhadap 78 negara maju dan berkembang diketahui adanya korelasi langsung antara tingkat korupsi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Semakin bersih suatu negara dari korupsi, semakin tinggi pula peluang negara itu untuk bisa menikmati pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
3
Dampak patologis korupsi pun jelas berimbas pada aspek material maupun immaterial, yang menyerang baik level individu hingga konteks kenegaraan. Pelaku tindak pidana korupsi melakukan kejahatannya secara sistemik dan meluas yang merugikan harta kekayaan/keuangan negara serta melanggar hak – hak sosial dan ekonomi rakyat. Masyarakat harusnya berhak atas suatu hasil pembangunan secara merata, tetapi dengan terjadinya korupsi masyarakat tidak mendapatkan haknya karena hanya dinikmati oleh sekelompok orang yang melakukan korupsi.
Salah satu imbasnya telah maujud dalam hal yang sering terlihat dalam kehidupan bangsa Indonesia akhir – akhir ini yaitu hilangnya rasa percaya antarsesama komponen bangsa. Kini makin sering kita mendengar komentar masyarakat bahwa elit politik tidak bisa dipercaya. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri dan kepentingan partai mereka (Ancok, 2003). Hamzah (2011) menambahkan bahwa memang ada fenomena hilangnya kepercayaan akan otoritas negara di mata rakyat Indonesia. Indikasi berkurangnya kepercayaan rakyat terhadap aparat pemerintah salah satunya ditandai dengan trend turunnya angka partisipasi politik saat pemilihan digelar pada jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia tahun 2011.
Rakyat tidak percaya kepada integritas dan kemampuan para pemimpin menangani krisis. Hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan sosial (Pelletier & Bligh, 2008) menunjukkan
4
munculnya emosi negatif individu sebagai efek dari persepsi terhadap pemimpin yang berperilaku tak bermoral yaitu marah, frustasi, hilangnya komitmen, mengurangi perilaku rela berkorban, hilangnya kepuasan dan motivasi, pesimisme, sinisme, takut, dan paranoia. Secara singkat, korupsi mampu mengondisikan masyarakat untuk kehilangan harapan berubah ke arah yang lebih baik atau dengan kata lain masyarakat akan kehilangan modal untuk bangkit dari keterpurukan bangsa. Pilihan Indonesia kemudian seharusnya sudah sangat jelas, yaitu memberantas korupsi.
Dalam dua puluh tahun terakhir, cara pandang dunia terhadap masalah korupsi mengalami perubahan drastis. Perubahan pandangan tersebut ditengarai dengan peristiwa berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, People Power Filipina, serta berkembangnya Non Government Organization (NGO) antikorupsi di dunia. Korupsi dipandang sebagai masalah dan penanganan korupsi mulai mendapat perhatian serius (Hamzah, 2012). Hal demikian terjadi pula di Indonesia. Banyak energi yang dikeluarkan untuk kembali dari keterpurukan. Namun, kampanye antikorupsi yang dilakukan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ternyata juga tidak banyak berarti (Kumorotomo & Widaningrum, 2010). Pasalnya, perkembangan modus operandi korupsi di Indonesia sangat pesat dan signifikan dibandingkan dengan kinerja penegakan hukum yang relatif sangat rendah.
5
Beberapa instrumen hukum positif telah dirumuskan pemerintah untuk mencegah korupsi, misalnya KUHP pasal 209, 210, 387, 388, 415, 416, 417, 418, 419, 420, 423, 425, 435; Peraturan Penguasa Militer nomor Prt/PM-06/1957 tanggal 9 April 1957; Peraturan Penguasa Perang Pusat Angkatan Darat nomor Prt/peperpu/013/1958 tanggal 16 April 1958; Peraturan pemerintah Pengganti UU Nomor 24 prp tahun 1960; UU No.3 tahun 1971; Ketetapan MPRRI Nomor XI/MPR/1998; UU nomor 28 tahun 1999; UU nomor 31 tahun 1999 juncto UU nomor 20 tahun 2001; UU nomor 30 tahun 2002; serta Instruksi presiden RI No. 5 tahun 2004 (Adji, 2006).
Tidak hanya itu, pemerintah juga telah memprakarsai berdirinya badan – badan penegak hukum berupa Kepolisian Republik Indonesia, Kejaksaan Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Advokat, Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, Ombudsman, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk mengawasi kinerja aparatur pemerintahan supaya tidak menyeleweng. Namun, pemberantasan korupsi di Indonesia masih belum berjalan sebagaimana yang diharapkan meski perangkat hukum dan pengawas tindak kejahatan korupsi sudah dibentuk.
Kenyataannya, praktik korupsi sudah mencengkeram hampir seluruh lembaga negara dan birokrasi pemerintah, sehingga penegakan hukum seolah tidak efektif sama sekali. Hukum tidak sepenuhnya dapat
6
dijadikan instrumen untuk mencegah korupsi. Korupsi tidak bisa hanya dipahami hanya dari sudut pandang hukum semata atau didekati hanya melalui perspektif legal belaka. Oleh karena itu, peneliti mengkaji fenomena korupsi dari sudut pandang lain yaitu Psikologi.
Korupsi di Indonesia sudah sedemikian sistematis. Rosidi (2009) meyakini bahwa masalah korupsi yang paling berat di Indonesia adalah korupsi birokrasi. Kelemahan tata kelola di korporasi maupun di pemerintah ditengarai menjadi penyebab munculnya kecurangan. Dalam konteks Indonesia, skandal keuangan yang menyangkut kecurangan penghilangan aset seperti pencurian, penyalahgunaan, dan lain – lain lebih menonjol di sektor publik daripada di sektor privat (Akbar, 2013).
Ketika korupsi terjadi sebagai suatu masalah substansial yang berangkat dari ketamakan individu, strategi ‘membuang apel busuk’ akan dapat berhasil dalam upaya pemberantasan korupsi (Kpundeh, 2006). Hanya saja, strategi itu hanya akan menyingkirkan pelaku tapi tidak penyakit korupsi itu sendiri jika sistem tidak berubah. Keadaan itu adalah keadaan yang menimbulkan korupsi kembali terjadi secara berulang - ulang.
Imbas dari korupsi birokrasi yang terjadi pada tataran organisasi pasti akan berdampak pada individu – individu yang berada di dalamnya. Birokrasi mampu menjadi faktor situasional yang berwujud tekanan
7
kelompok atas individu. Pasalnya, faktor situasional memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap individu dalam proses analisis perilaku etis dan pengambilan keputusan (Brad & Logsdon, 1988). Faktor tersebut bahkan lebih kuat pengaruhnya terhadap individu daripada kapasitas penalaran dan kepribadian individu tersebut. Aguinis (2009) menambahkan bahwa pada individu yang sama bisa berperilaku sangat berbeda ketika ditempatkan pada situasi yang berbeda pula.
Walaupun korupsi lazimnya dimaknai sebagai penyalahgunaan wewenang publik untuk keuntungan pribadi, Morrison (2006) menyatakan bahwa perilaku individu di dalam organisasi tidak semata-mata didasari oleh kepentingan pribadi, tetapi mungkin – bahkan sering – terjadi karena lebih berpihak kepada dorongan atas kepentingan orang lain, kelompok, atau organisasi. Dalam kondisi situasional tersebut, individu mampu memutuskan untuk berbuat curang walaupun dia mengetahui bahwa perilaku tersebut bisa membahayakan dirinya.
Aguilera & Vadera (2008) menambahkan bahwa ada jenis korupsi yang memang memiliki tujuan untuk memperkaya diri atau memperkaya orang – orang yang dekat dengannya, tetapi ada pula jenis korupsi yang berkembang karena dorongan atas kepentingan orang lain, kelompok, atau organisasi yang disebut dengan korupsi skematik. Konsep korupsi skematik ini dalam ilmu Psikologi secara implisit tercakup dalam korupsi bermotif prososial.
8
Korupsi merupakan isu sensitif serta memiliki nilai normatif yang tinggi sehingga ketika melaksanakan penelitian dengan topik korupsi, peneliti harus merancang strategi agar data yang terkumpul adalah data yang jujur, apa adanya, serta benar-benar mengungkap tujuan penelitian. Dengan memilih definisi yang cukup umum untuk variabel korupsi yaitu korupsi bermotif prososial, diharapkan penelitian ini mampu menguji asumsi teoritis serta memberi kajian dan wawasan terhadap penanganan tindak korupsi dari level mikro, yaitu level individual.
B. Rumusan Permasalahan
Walaupun korupsi lazimnya dimaknai sebagai penyalahgunaan wewenang publik untuk keuntungan pribadi, perilaku individu di dalam organisasi tidak semata-mata didasari oleh kepentingan pribadi, tetapi sering pula terjadi karena lebih berpihak kepada dorongan atas kepentingan orang lain, kelompok, atau organisasi. Dalam kondisi situasional tersebut, individu mampu memutuskan untuk berbuat curang walaupun dia mengetahui bahwa perilaku tersebut bisa membahayakan dirinya.
Korupsi skematik adalah jenis korupsi yang berkembang karena dorongan atas kepentingan orang lain, kelompok, atau organisasi. Oleh karenanya, penelitian ini akan berupaya untuk merumuskan sebuah pemahaman tentang konsep kecenderungan perilaku korup ketika individu
9
berada pada suatu lingkungan sosial yang koruptif skematif. Konsep korupsi skematik ini dalam ilmu Psikologi secara implisit tercakup dalam korupsi bermotif prososial.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji asumsi teoritis tentang kecenderungan perilaku korupsi bermotif prososial sehingga diharapkan penelitian ini mampu memberi kajian dan wawasan terhadap penanganan tindak korupsi dari level mikro, yakni level individual.
Adapun manfaat penelitian ini, baik secara teoritis maupun praktis, sebagai implikasi dari diperolehnya hasil penelitian adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah kontribusi ilmiah dengan menyediakan data empiris yang dapat digunakan sebagai landasan argumentatif mengenai perilaku korup. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah cabang ilmu Psikologi, khususnya Psikologi Sosial yang diterapkan dalam dunia hukum pidana luar biasa (extra ordinary crime).
2. Manfaat Praktis
Hasil dari penelitian ini berfungsi untuk memperkaya konsep, teori, khazanah, serta informasi aplikatif yang memberi sudut pandang
10
dan cara baru dalam menyikapi jalannya proses hukum pidana luar biasa (korupsi) di Indonesia selama ini.
D. Perbedaan dengan Penelitian Sebelumnya
Penelitian tentang kecenderungan korupsi bermotif prososial ini belum pernah dilakukan sebelumnya pada ranah keilmuan Psikologi sejauh penelusuran yang dilakukan peneliti.