• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengenal Latar Belakang dan Landasan Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Mengenal Latar Belakang dan Landasan Teori"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

 

 

Mengenal Latar Belakang dan Landasan Teori

 

TM

 

Alat Purifikasi dan Desinfeksi Udara Berbasis Teknologi PUVICO3 

 

 

 

Suatu reakayasa hasil penelitian yang dikembangkan oleh anak‐anak bangsa 

sejak 2009 sampai 2020 di Laboratorium Teknologi Intensifikasi Proses 

DTK ‐ FTUI 

 

 

 

Prof. Dr. Ir. Setijo Bismo, DEA. 

Dr. Bambang Heru Susanto, ST., MT.

 

 

 

 

 

 

(2)

,QIRUP DVL3RSXOHU  8 330 ' 7.)78 ,  

Mengenal Latar Belakang dan Landasan Teori

 

TM

 

Alat Purifikasi dan Desinfeksi Udara Berbasis Teknologi PUVICO3 

 

 

 

Suatu reakayasa hasil penelitian yang dikembangkan oleh anak‐anak bangsa 

sejak 2009 sampai 2020 di Laboratorium Teknologi Intensifikasi Proses 

DTK ‐ FTUI 

 

 

 

Prof. Dr. Ir. Setijo Bismo, DEA. 

Dr. Bambang Heru Susanto, ST., MT. 

 

 

 

 

D

EPARTEMEN 

T

EKNIK 

K

IMIA

 

F

AKULTAS 

T

EKNIK 

U

NIVERSITAS 

I

NDONESIA

 

F

EBRUARI 

2021 

(3)

,QIRUP DVL3RSXOHU  8 330 ' 7.)78 ,  

 

BAGIAN 1 

LATAR BELAKANG TEKNOLOGI PUVICO3 

SEBAGAI METODE DESINFEKSI NON‐KIMIAWI UNTUK VIRUS CORONA  

     

1.1. Virus Korona dan Pandemi COVID-19

Sampai dengan bulan Februari tahun 2021 ini Pandemi wabah penyakit COVID-19 (awalnya oleh WHO disebutkan sebagai nCOVID-19) masih terus berjangkit, bahkan terus berkembang dengan berbagai vaian dan gelombang-gelombangnya, di seluruh dunia. Wabah penyakit ini disebabkan oleh virus korona jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2 (Gorbalenya, 2020). Wabah COVID-19 ini pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada tanggal 1 Desember 2019 yang lalu, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 (WHO, 2020). Sampai saat ini, wabah ini telah menyebar ke lebih dari 180 negara di dunia termasuk Indonesia.

Secara umum virus berbeda dengan bakteri, khususnya virus yang digolongkan sebagai Human Coronavirus, dimana ukuran virus tersebut berada dalam rentang 40 - 160 nanometer. Struktur virus COVID-19 atau SARS-CoV-2 tersebut di atas memiliki tonjolan glikoprotein (disebut juga spike protein) dan membran protein yang strukturnya (lebih dari 80%) mirip virus SARS-CoV. Di satu sisi, berbagai upaya di seluruh dunia telah dilakukan untuk pencegahan dan desinfeksi SARS-CoV-2, mulai dari memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir, menjaga jarak sosial dan atau fisik, menjauhi kerumunan, menghindari bepergian bila tidak perlu, sampai yang terakhir adalah penggunaan vaksin yang mulai diterapkan oleh Pemerintah RI pada tanggal 13 Januari 2021 lalu, yaitu dalam hal ini penggunaan vaksin CORONAVAC, yang dikembangkan oleh Perusahaan Biofarmasi SINOVAC dari Tiongkok. Namun, di sisi lain, dengan adanya kasus-kasus infeksi di rumah-rumah sakit (nokosomial), perkantoran, rumah-tangga, tempat-tempat ibadah, rumah makan dan sarana angkutan umum, tampaknya tak dapat dipungkiri juga bahwa kualitas kebersihan udara sekaligus juga mekanika dan kinetika penyebaran mikroba di udara menjadi faktor teramat penting juga dalam penularan wabah penyakit ini.

1.2. Pengendalian dan Desinfeksi Mikroba

Pengendalian densitas virus dan bakteri, baik itu pencegahan, penghilangan atau pun penurunan densitasnya dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai teknologi atau metode yang telah dikenal cukup efektif sampai hari ini, baik secara kimiawi maupun non-kimiawi. Desinfeksi secara kimiawi, artinya menggunakan bahan kimiawi (disinfektan) yang bersifat lipofil atau larut dalam lemak sehingga dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme (misalnya pada bakteri, virus dan jamur kecuali spora bakteri) pada permukaan benda mati. Sebagai disinfektan kimiawi contohnya dapat berupa: klorin, kloroform, etanol, eter dan asam peroksi asetat. Lembaga Perlindungan Lingkungan di AS yang disebut US EPA (United State Environmental Protection

(4)

,QIRUP DVL3RSXOHU  8 330 ' 7.)78 ,  

Agencies), telah merilis 351 sediaan yang dapat digunakan sebagai disinfektan untuk membunuh

virus termasuk human coronavirus, lengkap dengan waktu kontak yang efektif.

Sedangkan disinfektansi secaran non-kimiawi dapat dengan melalui pembersihan udara (air

purifier) diantaranya berbasis filterisasi, air purifier berbasis sinar (UV-C), air purifier berbasis gas

Ozon dan air purifier berbasis ionisasi Plasma. Berikut ini adalah informasi popular tekait disinfektasi virus melalui cara non-kimiawi tersebut.

(5)

,QIRUP DVL3RSXOHU  8 330 ' 7.)78 ,  

BAGIAN 2 

BUNGA RAMPAI BEBERAPA METODE DESINFEKSI MIKROBA BAKTERI DAN VIRUS 

2.1. Desinfeksi Mikroba berbasis Filtrasi

Pengendalian densitas virus dan bakteri, baik itu pencegahan, penghilangan atau pun penurunan Jenis disinfektasi yang berbasis filterisasi lebih dikenal sebagai air purifier (penjernih udara). Air

purifier berbasis filerisasi ini menggunakan kipas untuk menarik udara kemudian melewatkanya

melalui saringan (filter) sebelum kemudian dilepaskan kembali agar aman dihirup oleh manusia.

Air purifier jenis ini diklaim efektif menghilangkan bau dan partikel berukuran besar dari udara

sekaligus melawan penyebab gangguan pernapasan, namun cara kerjanya memiliki keterbatasan. Secara umum filter yang digunakan ada dua jenis, yaitu High Efficiency Particulate

Air (HEPA) dan Photo Electrochemical Oxidation (PECO).

Filter HEPA terbuat dari sejenis kain yang fungsinya mirip dengan jaring yang berfungsi untuk menyaring kotoran berupa partikulat, debu, asap. Seiring waktu tentunya filter yang telah menyaring kotoran tersebut akan penuh dengan kotoran yang tertinggal didalam filter sehingga diperlukan pembersihan rutin dan bahkansecara berkala mesti diganti. Sedangkan filter PECO bekerja dengan cara hamper serupa, namun lebih rumit. Pada PECO, pertama kali udara akan dilewatkan melewati semacam 'pra-filter' yang dicampur dengan karbon selanjutnya udara bergerak melalui filter berukuran lebih besar yang menangkap dan mengikat molekul dengan ion kemudian menghancurkannya. Biasanya air purifier berbasis filter ini direkomendasikan untuk mengurangi/menghilangkan debu, asap rokok, bakter dan partikulat lainnya, sehingga banyak diaplikasikan pada unit HVAC (heating, ventilation & air condition).

Air purifier berbasis filter yang paling kuat telah dilaporkan dapat menangkap partikel paling kecil

0,1 mikron, sedangkan sebagian besar air purifier berbasis filter lainya hanya menangkap partikel berukuran 0,3 mikron atau lebih besar. Padahal ukuran virus sekitar 100 kali lebih kecil dari bakteri, ukurannya berada di antara 0,004 mikron sampai 0,1 mikron. Dr. Mariea Snell, Asisten Direktur Program Doctor of Nursing Online di Maryville University menyatakan ukuran COVID-19 sekitar 0,125 mikron.

Karenanya alat-ala purifikasi udara (air purifier) berbasis filter ini belum dapat dipastikan mampu menangkap apalagi menghancurkan virus COVID-19. Sedangkan filter-filter yang termasuk dalam jenis PECO boleh dikatakan dapat saja menangkap virus korona, namun statusnya dalam hal ini hanya merperangkap virus korona dalam beberapa waktu (menempel) saja, namun virus-virus tersebut kebanyakan tidak mati, inaktif atau rusak (secara keseluruhan ataupun di bagian amplop bagian luarnya) sehingga berpotensi menyebar kembali.

2.2. Desinfeksi dengan Sinar UV-C

Di alam atau udara bebas, sinar matahari diketahui dapat memproduksi radiasi elektromagnetik berupa sinar ultraviolet (UV), yang terdiri dari sinar ultraviolet A (UV-A) yang 90-95% dapat mencapai lapisan permukaan atosfir, sinar ultraviolet B (UV-B) yang sekitar 5-10% nya dapat sampai ke atmosfir, dan sinar ultraviolet C (UV-C) yang memiliki tingkat radiasi paling tinggi yang tidak sampai lapisan atmosfir karena diserap oleh lapisan ozon. Khusus untuk UV-A dan UV-B, diketahui juga memiliki manfaat untuk kehidupan manusia ketika terpapar dalam waktu dan

(6)

,QIRUP DVL3RSXOHU  8 330 ' 7.)78 ,  

jumlah tertentu, misalnya untuk menyehatkan kulit hingga pembentukan vitamin D pada rentang waktu jam 7 sampai dengan jam 10 pagi.

UV-A

tingkat energi radiasi paling rendah namun

memiliki panjang gelombang paling besar, yaitu sekitar 315 - 400 nanometer (nm), dan meskipun tidak menjadi penyebab secara langsung, namun paparan langsung UV-A dapat menyebabkan munculnya tanda-tanda penuaan pada kulit, seperti kulit kering, muncul keriput dan flek hitam, dan dikhawatirkan dapat memicu kanker kulit. Sedangkan UV-B memiliki panjang gelombang antara 280 - 315 nm, dan diketahui dapat merusak sel kulit jika terkena secara langsung pada jarak realtif dekat dan bahkan dapat menjadi faktor pemicu kulit terbakar. Akibat dari UV-A dan UV-B ini dapat dicegah dengan memakai sunscreen ber-SPF (sun protection factor) yang tinggi. Sementara UV-C adalah sinar UV yang memiliki panjang gelombang antara 100 hingga 280 nm dan yang paling berbahaya jika langsung terkena kulit dan mata. UV-C dapat berpenetrasi ke dalam lapisan kulit paling dalam sehingga dapat mengakibatkan kanker (bersifat karsinogenik). Sinar UV-C ini ada yang lolos ke bumi karena melalui lapisan ozon yang sudah terbuka, terutama akibat dari polusi emisi hidrokarbon dan CO2

serta pemanasan global (Global Warming).

Dalam berbagai literatur dan pustaka, disebutkan bahwa UV-C dapat membunuh mikroorganisme. Sinar ini dinilai sangat baik dalam menghancurkan DNA (asam deoksiribonukleat, atau bahan genetik) partikel virus. Sejak penemuan pada tahun 1878, UV-C yang diproduksi secara buatan (melalui lampu UV) dapat menjadi sarana untuk sterilisasi di rumah sakit, pesawat terbang, kantor, dan pabrik dengan cara langsung terkena sinarnya atau melalui produksi ozon. Gelombang yang terkandung dalam UV-C disebut mampu menonaktifkan mikroorganisme dengan cara menghancurkan asam nukleat dan atau sekaligus mengganggu DNA, sehingga mikroorganisme tak dapat melakukan fungsi vitalnya lagi. Sampai saat ini, memang belum ada penelitian mendalam dan terfokus yang melaporkan efektivitas sinar UV-C dalam membunuh atau menghancurkan virus COVID-19. Namun, di sisi lain, para ahli telah membuktikan kalau sinar UV-C efektif menangani jenis virus corona lainnya, yakni Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Lampu sinar UV yang biasanya digunakan sehari-hari sebagai pengahasil UV buatan tersebut dalam penggunaanya perlu hati-hati. Paparan UV-C dalam jangka pendek dapat menyebabkan kemerahan dan reaksi peradangan seperti iritasi pada kulit. Dilansir dari Health Physics Society, paparan UV-C terhadap mata secara berlebihan akan bisa menyebabkan rasa tidak nyaman pada mata, walaupun sebenarnya gejalanya bisa mereda. Kondisi ini umumnya dikenal sebagai keratitis ultraviolet. Melansir Cleveland Clinic, ada beberapa gejala yang dialami oleh pengidap keratitis ultraviolet, seperti nyeri pada mata, kemerahan, mata berair, gangguan penglihatan, pembengkakan pada area mata, sensasi mata berpasir, dan mengalami kedutan pada area kelopak mata.

Karenanya penggunaan UV-C yang paling tepat adalah saat ruangan kosong atau tidak ada manusia yang berkegiatan di dalamnya. Misalnya saat malam hari atau pagi sebelum jam kerja, bisa juga saat jam istirahat siang. Penggunaan sinar UV-C setidaknya selama 15-30 menit agar mendapatkan hasil yang maksimal, yakni terbunuhnya mikroorganisme karena apabila sekadar terkena sesaat cahayanya saja maka virus dipastikan belum mati.

(7)

,QIRUP DVL3RSXOHU  8 330 ' 7.)78 ,   2.3. Desinfeksi dengan Gas Ozon (O3)

Di alam atau udara bebas, sinar matahari diketahui dapat memproduksi radiasi

elektromagnetik berupa

ozon (O3, oksigen triatomis) adalah gas yang sangat beracun dan

reaktif serta diketahui dapat menonaktifkan banyak bakteri patogen. Dengan demikian, berati bahwa gas ozon tersebut pada dasarnya adalah disinfektan, dan telah dilaporkan dalam banyak publikasi memiliki kemampuan disinfektasi yang lebih tinggi dibanding klorin (Cl2). Ozon

biasanya digunakan untuk sterilisasi makanan, minuman, juga air minum dalam kemasan. Namun, penggunaan Ozon jika terpapar pada manusia maka harus kurang dari 0,1 ppm (100 ppb), sumber lain menyebutkan kurang dari 0,05 ppm (50 ppb), karena jika konsentrasinya lebih dari itu dapat merusak paru-paru dan sel pusat penciuman secara langsung.

NHK melaporkan bahwa tim peneliti Jepang telah merilis sebuah laporan penelitian pada Mei 2020, yang menyebutkan kapasitas infeksi virus corona berkurang setelah sekitar satu jam terpapar gas ozon yang sangat pekat. Gas yang digunakan dalam penelitian ini memiliki konsentrasi antara 1ppm dan 6ppm, yang tentunya konsentrasi ini merupakan kisaran yang berbahaya bagi manusia.

Kemudian, pada Agustus 2020, peneliti dari Universitas Medis Fujita Jepang menyampaikan hasil penelitianya bahwa generator ozon yang menghasilkan konsentrasi ozon yang rendah (0,05 sampai dengan 0,1 ppm) dapat menetralkan partikel virus corona sampai dengan 90% selama 10 jam, sehingga akan berpotensi memberikan jalan bagi rumah sakit untuk mendisinfeksi ruang pemeriksaan dan ruang tunggu. Konsentrasi gas ozon yang rendah tersebut berada pada tingkat yang dianggap tidak berbahaya bagi manusia, namun dapat membunuh virus bahkan sangat efektif dalam kondisi kelembaban tinggi. Rumah Sakit Universitas Medis Fujita, di prefektur Aichi Jepang saat ini telah memasang generator ozon untuk mengurangi infeksi di ruang tunggu dan ruang pasien.

Sebuah studi baru-baru tentang hal ini, di Institut Teknologi Georgia, juga melaporkan bahwa ozon diduga efektif dalam mendisinfeksi baju hazmat, kacamata, dan peralatan pelindung medis lainnya.

Di Indonesia, Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI mengembangkan juga campuran gas ozon dalam kabut air berukuran nanopartikel (ozone nanomist), yaitu suatu disinfektan berbahan dasar oksigen yang diubah menjadi ozon yang selanjutnya dilarutkan dalam air, dan kemudian diuapkan sehingga terbentuk butiran-butiran (partikel) halus uap air yang mengandung ozon nano-bubble water. Uap air ini akan menangkap dan mematikan virus dan bakteri di udara serta di permukaan benda. Ozone nanomist secara teknis dapat digunakan untuk menggantikan disinfektan kimiawi terutama yang digunakan pada bilik, dengan potensi risiko yang lebih rendah selama mengikuti batasan aman konsentrasi ozon, durasi dan ketentuan yang berlaku.

Ozone nanomist dapat pula dimanfaatkan untuk sterilisasi ruangan dan permukaan, disinfektan pada ruangan atau bilik tertentu (chamber), sterilisasi APD, sterilisasi kendaraan umum (bus, kereta, pesawat), dan lain sebagainya. Saat ini, ozon nanomist telah digunakan di seluruh area perkantoran LIPI di berbagai kawasan.

(8)

,QIRUP DVL3RSXOHU  8 330 ' 7.)78 ,   2.4. Desinfeksi dengan Plasma Anion atau NAI (Negative Air Ion)

Di alam atau udara bebas, sinar matahari diketahui dapat memproduksi radiasi

elektromagnetik

Plasma disebut juga material keempat setelah gas, cair dan padat. Plasma sering juga disebut dengan Plasma Anion atau NAI (negative air ion, ion udara negatif). Plasma merupakan gas yang terionisasi dalam lucutan listrik atau dapat didefinisikan sebagai percampuran dari elektron, radikal, ion positif dan negatif. Pencampuran antara ion-ion yang bermuatan negatif dan positif memiliki ini akan menjadikanya memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan gas pada umumnya.

Plasma ion negatif dingin atau NAI ini di alam dapat dihasilkan dari: radiasi sinar kosmik di atmosfer, cahaya matahari termasuk ultraviolet yang telah terionisasi secara langsung, lucutan korona (corona discharge) dari kilat dan petir, pengaruh adanya shearing force of water (efek Lenard atau spray electrification) yang sering terjadi air terjun atau pantai dan plasma anion yang digenerasi secara alami oleh tanaman. Pelepasan Plasma atau NAI secara alami ini diketahui memiliki efek menyegarkan pernapasan terutama bagi penderita asma. Hal ini dikuatkan juga oleh publikasi Alexander dkk (2013) di Journal of Negative Results of Medicine yang meninjau 23 studi dari tahun 1933 yang memberikan kesimpulan bahwa pengaruh NAI ini tidak buruk terhadap pernapasan manusia ataupun hewan. Plasma atau NAI yang diproduksi secara buatan melalui generator ion juga sudah sejak lama digunakan dalam industri makanan dan peternakan untuk mengurangi dan menghilangkan bakteri patogen, dimana hal ini diperkuat berdasarkan studi dari Jiang dkk (2018) yang menunjukkan adanya peran Plasma atau NAI yang signifikan dalam mengurangi konsentrasi materi partikulat di udara secara efesien.

Teknologi plasma dibagi menjadi dua jenis yakni denominated nonthermal plasma (NTP) atau plasma dingin (cold plasma) dan thermal plasma. Plasma dingin dihasilkan pada suhu 30-60OC

di bawah tekanan atmosfer atau ruang hampa dan membutuhkan lebih sedikit daya. Hal tersebut sangat sesuai jika diaplikasikan pada produk yang sensitif pada panas karena ion dan molekul yang tidak bermuatan mendapatkan sedikit energi dan stabil pada suhu rendah. Beberapa jenis plasma dingin di bawah tekanan atmosfer yang dapat digunakan antara lain (i) plasma jets (ii) dielectric barrier discharges (DBD) (iii) corona discharges (iv) microwave

discharges. Masing-masing dari jenis plasma dingin tersebut memiliki keuntungannya

masing-masing diseseuaikan dengan produk, ukuran produk maupun kemampuan mencapai ke celah yang sempit sekalipun.

Plasma ini dihasilkan melalui generator ion yang berbeda dari generator ozon, meskipun kedua perangkat beroperasi dengan cara yang sama. Generator ion menggunakan pelat bermuatan elektrostatis untuk menghasilkan atau melepas ion gas bermuatan positif atau negatif (misal: O2) yang dapat melekatkan materi partikulat dengan efek yang mirip dengan listrik statis. Hasil

samping dari generator ion ini adalah sejumlah kecil ozon (oksigen triatomik, O3) yang tentunya

dalam jumlah tertentu (> 0,1 ppm) tidak diinginkan. Sedangkan pada generator ozon, prosesnya adalah untuk mengkonversi gas oksigen di udara atau juga oksigen murni menjadi molekul ozon (O3), menggunakan tabung pelepasan korona (CD, Corona Discharge) atau sinar UV.

Teknologi Plasma mampu menghasilkan ion positif (H+) dan ion negatif (O

2-) dengan tingkat

konsentrasi yang lebih tinggi untuk menonaktifkan virus, bakteri, jamur, penyebab alergi, bau yang menempel dan yang ada di udara, serta menjaga kelembapan kulit. Ion positif dan ion

(9)

,QIRUP DVL3RSXOHU  8 330 ' 7.)78 ,  

negatif secara aktif mencari mikroorganisme berbahaya di udara. Ion bereaksi setelah menempel di permukaan mikroorganisme, lalu berubah menjadi hidroksil radikal (OH) dan dengan cepat menarik unsur hidrogen (H) dari mikroorganisme tersebut sehingga mikroorganisme menjadi nonaktif dan tidak berbahaya lagi. Hasil penarikan OH radikal terhadap unsur hidrogen (H) akan kembali ke udara menjadi kandungan air (H2O).

Pemanfaatan plasma untuk menjaga kesehatan manusia melalui pengkondisian udara ruang yang sehat telah dipelopori oleh SHARP dengan Plasmacluster nya sejak 2000 dan diklaim terbukti tidak menimbulkan iritasi pada kulit, mata, atau menyebabkan mutasi gen. Kemudian mengutip dari Science Alert, 11 November 2020, para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu di Amerika Serikat menemukan "senapan" plasma dingin yang dapat menonaktifkan virus corona di permukaan benda dalam 30 detik tanpa merusak materi benda. Virus penyebab penyakit COVID-19 itu bahkan akan hancur jika terus kontak dengan plasma selama 3 menit. Penelitian tersebut mengikuti hasil publikasi dari sebuah perusahaan di Jerman bernama Terraplasma Spin-off Max Planck yang mengklaim Plasma dingin berhasil membuat virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 menjadi tidak aktif dan tidak bermutasi dalam kultur sel. Begitu pula hasil dari penelitian di Spanyol yang menyampaikan bahwa Plasma dapat mengatasi virus COVID-19 yang sudah masuk kedalam saluran paru-paru, dimana mereka mengklaim dengan menggunakan Bakteriofag MS2 yang merupakan model dari COVID-19 yang masuk kedalam paru-paru ternyata dapat berkurang hingga 99% ketika terkena Plasma.

Plasma dingin juga telah terbukti dapat melawan bakteri yang resisten terhadap obat, bahkan melawan sel kanker. Caranya adalah dengan menganggu struktur permukaan dan RNA virus tanpa merusak jaringan manusia. Penelitian plasma dingin untuk virus corona ini dipimpin Zhitong Chen dari University of California di Los Angeles.

Berdasarkan referensi diatas, maka peneliti dari Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Setijo Bismo, DEA., seorang Guru Besar yang pakar dalam bidan Plasma, Ozon dan UV, untuk melakukan riset dan rancang bangun unit Air Purifier dan disinfektan berbasis Plasma dingin sejak bulan Juli 2020. Rancang bangun pertama adalah ruang atau bilik disinfektan berbasis ionisasi Plasma yang dilengkapi dengan UV-C sebanyak 2 (dua) unit bilik yang ditempatkan di pintu masuk Gedung B Departemen Teknik Kimia FTUI. Ruang disinfektansi berbasis Plasma ini dapat efektif menyapu virus yang terbawa di pakaian dan permukaan tubuh orang yang memasuki bilik dalam waktu 25 sampai 40 detik.

Kemudian inovasi lanjutan dilakukan dengan menggunakan nama unik Teknologi PUViCO3. Disebut PUViCO3 karena bermakna purifikasi virus corona dengan mengunakan Plasma-UVC-Ozon. Teknologi PUViCO3 hasil rancang bangun ini menggunaan generator Plasma yang selain menghasilkan plasma anion juga memberikan efek dingin dan lembab ketika terkena permukaan kulit manusia. Dengan demikian plasma anion (ion negatif) ini akan mendorong fenomena terjadinya humidifikasi (kelembaban) lokal di permukaan kulit manusia sehingga panas laten yang dihasilkan dari proses humidifikasi tersebut akan menyerap panas di permukaan kulit, sehingga kulit akan terasa dingin. Pada pemakaian rutin maka akan berpengaruh terhadap kualitas kulit yaitu menjadi lebih bersih dan halus. Ditambah dengan penggunaan teknologi cyclon fan atau blower (kipas angin tanpa daun sudu), sehingga efek pendinginan ini akan lebih baik lagi.

(10)

,QIRUP DVL3RSXOHU  8 330 ' 7.)78 ,  

Selain menghasilkan dan menghamburkan ion-ion negatif dengan kelembaban rendah, Teknologi PUViCO3 ini juga dapat mengatasi polusi udara sekaligus berperan sebagai “desinfektan elektronik” yang bekerja dengan mekanisme difusi (penyebaran) secara cepat karena adanya sistem konveksi paksa. Proses inaktivasi ataupun penghancuran bakteri dan virus dilakukan juga oleh tirai-tirai virtual (virtual curtains) berupa sinar UV-C yang memiliki panjang gelombang 220 – 280 nm dan selanjutnya diperkuat lagi oleh emisi Ozon (O3) ringan

dengan konsentrasi maksimum sekitar 0,02 ppm. Dengan penggunaan panjang gelombang UV-C sampai sebesar 280 nm, diharapkan keberadaan ozon akan segera hilang tidak lama setelah melewati lampu UV-C (maksimum 50 cm dari lampu UV-C) gas ozon dapat diubah kembali melalui jalur reaksi dekomposisi ozon menjadi O2 di udara. Di bagian keluaran alat ini, yaitu

berupa emisi udara yang telah dibersihkan oleh UV-C dan ozon (O3) tadi, maka alat pembangkin

plasma akan lebih efektif lagi menonaktifkan bahkan memusnahkan mikroba-mikroba.

Hasil pengujian dari Teknologi PUViCO3 yang ditanamkan dalam instalasi berbagai model kipas angin yang hanya ditanamkan generator plasma saja (diberi kode DSF-02, DSF-02X, DSF-03, DSF-04) dan yang dilengkapi generator plasma dan UV-C serta ozon konsentrasi rendah (diberi kode XAF-01 dan XAF-02) sejak September 2020 telah memperlihatkan bahwa PUViCO3 mampu untuk menghilangkan lebih dari 90% virus di udara dalam waktu sekitar 10 menit sekaligus menghambat pertumbuhan jamur di makanan, lemari pakaian dan tempat sepatu. Selain itu juga, alat prifikasi udara ini ternyata memiliki kegunaan lain, yaitu membersihkan dan melembabkan kulit.

Saat ini, tim peneliti dari Departemen Teknik Kimia FTUI bekerjasama dengan Tim Dokter Senior di RSPG Cisarua tengah mengembangkan penelitian PUViCO3 tersebut untuk membantu terapi pernapasan para pasien penderita asma akut dan penderita kanker kulit, payudara dan paru-paru stadium rendah sampai dengan menengah.

(11)

,QIRUP DVL3RSXOHU  8 330 ' 7.)78 ,   DAFTAR PUSTAKA

1. Gorbalenya, Alexander E. (11 Februari 2020). "Severe acute respiratory syndrome-related

coronavirus – The species and its viruses, a statement of the Coronavirus Study Group".

bioRxiv (dalam bahasa Inggris): 2020.02.07.937862. doi:10.1101/2020.02.07.937862

2. _____, "WHO Director-General's opening remarks at the media briefing on COVID-19 – 11

March 2020". www.who.int (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-03-22.

3. _____, “China grants approval to Sinovac’s vaccine for COVID-19”, Pharmaceutical

Technology,

https://www.pharmaceutical-technology.com/news/china-approval-sinovac-vaccine

(dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-02-08.

4. _____,

"List

N:

Disinfectants

for

Coronavirus

(COVID-19)",

US

EPA,

https://www.epa.gov/pesticide-registration/list-n-disinfectants-coronavirus-covid-19

.

Diakses tanggal 2020-07-06.

5. _____, "EPA’s List of Approved SARS-CoV-2 Surface Disinfectant Products Passes 500",

US

EPA,

https://www.epa.gov/newsreleases/epas-list-approved-sars-cov-2-surface-disinfectant-products-passes-500

. Diakses tanggal 2020-10-25.

6. G Katara, H Hemvani, S Chitnis, V Chitnis, DS Chitnis, "SURFACE DISINFECTION BY

EXPOSURE TO GERMICIDAL UV LIGHT", Indian Journal of Medical Microbiology, (2008),

26 (3): 241-42.

7. Megahed A, Aldridge B, Lowe J (2018), The microbial killing capacity of aqueous and

gaseous ozone on different surfaces contaminated with dairy cattle manure. PLoS ONE 13(5):

e0196555.

https://doi.org/10.1371/journal.pone.0196555

.

8. Elena Grignani, Antonella Mansi, Renato Cabella, Paola Castellano, Angelo Tirabasso,

Renata Sisto, Mariangela Spagnoli, Giovanni Fabrizi, Francesco Frigerio, Giovanna Tranfo,

"PRELIMINARY INDICATIONS FOR THE USE OF OZONE AS AIR AND SURFACE

DISINFECTANT IN THE CONJUNCTURE OF COVID-19",

https://www.researchgate.net/publication/342261609_PRELIMINARY_INDICATIONS_FO

R_THE_USE_OF_OZONE_AS_AIR_AND_SURFACE_DISINFECTANT_IN_THE_CON

JUNCTURE_OF_COVID-19. Diakses tanggal 2021-02-10

.

9. Louise A Fletcher, Lindsey F Gaunt, Clive B Beggs, Simon J Shepherd, P Andrew Sleigh,

Catherine J Noakes and Kevin G Kerr, "Bactericidal action of positive and negative ions in

air",

https://www.researchgate.net/publication/6388296_Bactericidal_action_of_positive_and_ne

gative_ions_in_air. Diakses tanggal 2021-02-10

.

10. Fletcher, L.A., Noakes, C.J., Sleigh, P.A., Beggs, C.B. and Shepherd, S.J. (2008) Air ion

behavior in ventilated rooms. Indoor and Built Environment, 17 (2). pp. 173-182.

Referensi

Dokumen terkait