• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN LIMBAH ELEKTROPLATING SEBAGAI PENGGANTI SEMEN DAN PASIR DALAM MORTAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMANFAATAN LIMBAH ELEKTROPLATING SEBAGAI PENGGANTI SEMEN DAN PASIR DALAM MORTAR"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Pemanfaatan Limbah Elektroplating

sebagai Pengganti Semen dan Pasir dalam Mortar (Endang Mastuti, Paryanto)

15

PEMANFAATAN LIMBAH ELEKTROPLATING SEBAGAI

PENGGANTI SEMEN DAN PASIR DALAM MORTAR

Endang Mastuti, Paryanto

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UNS Jl.Ir. Sutami No.36 A Surakarta, 57126

Abstract : Solid waste from electroplating industries that consist of heavy metals can be used as substituen of sand in concrete’s composition. This research was conducted to know the effect of cement and sand substitution in making mortar by using sludge waste of electroplating process. It was focused on measuring the physical properties of mortar (sample), compressive strength and permeability.

The sample was made by mixing of water, cement, sand, and the dry solid waste with certain composition. Samples are constructed in cylinder shape with 7,5 cm diameter and 15 cm length. The composition are : 1%, 2%, 3%, 4% weight of cement and 1%, 2%, 3% weight of sand. For the permeability test, it only for the sample with highest compressive strength value, each substitution with 28 days age.

From the result of this test, we knew that cement substitution have the higher compressive strength value rather than standard sample (sample with no substitution). The higher compressive strength value occurs if the electroplating waste is 2 % from cement weight. Keywords : solid waste, electroplating, cement, sand, mortar.

PENDAHULUAN

Pertumbuhan industri yang sangat cepat tidak hanya menghasilkan peningkatan produksi tetapi juga peningkatan jumlah limbah berbahaya. Salah satunya adalah industri elektroplating, dimana dalam industri tersebut menggunakan beberapa bahan kimia untuk prosesnya yang akan menghasilkan limbah. Limbah elektroplating sebagian besar belum dimanfaatkan dan hanya dibuang saja.

Pembuangan limbah berupa logam berat bersifat toksik ke lingkungan merupakan suatu hal yang perlu diperhitungkan. Solidifikasi merupakan suatu proses mengolah limbah industri dengan mengurangi toksisitas logam berat sebelum ditimbun. Dalam rangka menimbun limbah lumpur industri elektroplating, penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa dengan memanfaatkan sifat-sifat solidifikasi tanah, logam-logam berat pada lumpur elektroplating dapat dimobilisasi dengan tanah lempung. Sedang untuk bahan bangunan penelitian yang memanfaatkan limbah lumpur elektroplating yang dicampur dengan tanah dapat dibuat menjadi batu bata dan solidifikasi limbah lumpur elektroplating dengan semen portland, agregat halus dan kasar serta menambahkan CaO yang digunakan sebagai substitusi pasir dalam campuran beton menunjukkan suatu hasil yang positif dengan kuat tekan lebih besar daripada beton normal.

Dalam penelitian ini dicoba dikaji pemanfaatan limbah lumpur elektroplating

sebagai pengganti semen dan pasir dalam mortar merupakan alternatif penimbunan ke landfill. Penelitian dengan memanfaatkan limbah lumpur elektroplating sebagai pengganti semen didasarkan pada karakteristik limbah yang ada, serta belum pernah ada penelitian serupa terutama pada kondisi di bawah 10% limbah sebagai pengganti semen.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik fisik ( kuat tekan dan permeabilitas) matrik padat produk solidifikasi (mortar) limbah lumpur elektroplating dan memanfaatkan limbah lumpur elektroplating sebagai substitusi pasir dan semen dalam pembuatan mortar.

TINJAUAN PUSTAKA

Proses elektroplating pada prinsipnya merupakan suatu proses akhir dari suatu produk industri permesinan dan logam melalui suatu proses elektrokimia yang bertujuan untuk mendapatkan sifat-sifat teknis permukaan logam berupa : memberi warna yang lebih menarik, tahan korosi, mencegah timbulnya noda dan lebih keras. Industri elektroplating menggunakan bermacam-macam logam dan larutan aditif dalam prosesnya antara lain asam, basa, khromat, sianida, klorida, phospat, detergen dan logam-logam berat yang yang berbahaya.

Dalam elektroplating akan dihasilkan suatu limbah yang berasal dari beberapa tahap proses, yaitu tahap pembersihan, tahap pengerjaan, dan tahap pelapisan. Limbah dari tahap pengerjaan ini berupa gas, cair dan padat.

(2)

16 E K U I L I B R I U M Vol. 6 No. 1 Januari 2007: 15-19

Unsur-unsur kimia dalam limbah elektroplating

umumnya terdiri dari Cd, Cr, Pb, Ni, Fe, dan Zn yang kadang–kadang dalam kondisi yang sangat asam atau alkalis, juga mengandung nitrit, phospat, sulfat, lemak serta minyak. (Bapedal,1996 )

Bahan-bahan basa juga terdapat dalam limbah elektroplating, seperti ammonium hidroksida, potassium hidroksida, sodium sianida, sodium karbonat, sodium pryophospat, sodium silikat dan trisodium phospat. (Potter, 1994)

Kandungan silikat pada bahan-bahan basa ini sangat penting pengaruhnya pada kekuatan mortar. Ca(OH)2 yg dihasilkan pada hidrasi semen akan membentuk kapiler penghubung antar pori yang menyebabkan berkurangnya kekuatan mortar. Dengan adanya silikat, akan bereaksi dengan Ca(OH)2 membentuk ikatan gel yang padat sehingga memperkuat ikatan dalam mortar.

Mortar adalah campuran agregat halus dengan bahan pengikat. Bahan pengikat pada umumnya semen portland, sedangkan agregat halusnya adalah pasir. Perbandingan bahan-bahan kering dalam mortar adalah 1 bagian berat semen dan 2,75 bagian berat pasir standard. Faktor air semen (W/C) adalah 0,485 untuk semua jenis semen portland dengan flow 110±5.

Semen Portland merupakan campuran silikat kalsium dan aluminat kalsium yang dapat berhidrasi bila terdapat air. Reaksinya adalah sebagai berikut : Ca3Al2O6 + 6H2O Ca3Al2(OH)12 Ca2SiO4 + xH2O Ca2SiO4.xH2O Ca3SiO5 + (x+1)H2O Ca2SiO4.xH2O + Ca(OH)2 (Van Vlack, 1991) Air mempunyai pengaruh yang penting dalam menentukan kekuatan dan kemudahan pengerjaan mortar, sehingga untuk mendapatkan mortar yang mudah dikerjakan harus ditentukan jumlah air dan semen yang digunakan.

Kuat tekan adalah besarnya beban yang dapat ditahan oleh mortar per satu satuan luas. Pengujian kuat tekan yang digunakan adalah standar ASTM C 109 - 193.

Di dalam perhitungan gaya-gaya yang didistribusikan secara kontinyu, perlu diketahui intensitas gaya, yaitu besarnya gaya per satuan luas. Resultante gaya tersebut akan bekerja melalui titik berat penampang. Kuat tekan dihitung dengan rumus :

Fc = P /A ………(1) dengan :

Fc = kuat tekan benda uji ( kg/cm2) P = beban tekan maksimum (kg ) A = luas bidang tekan (cm2)

Permeabilitas merupakan kemampuan aliran air dalam menembus benda uji. Benda uji diharapkan mempunyai koefisien permeabilitas yang rendah sehingga dapat menahan aliran air (kedap air). Nilai koefisien permeabilitas sangat berpengaruh terhadap durabilitas, dimana semakin kecil nilai koefisien permeabilitas maka durabilitas semakin baik.

Parameter yang paling berpengaruh terhadap koefisien permeabilitas adalah perbandingan W/C, semakin kecil nilai W/C maka porositas benda uji semakin kecil. Koefisien permeabilitas dapat dihitung dengan hukum Darcy, yaitu:

1/A. dq/dt = K. h/L...(2) dengan :

K = koefisien permeabilitas (m/det) A = luas penampang spesimen

benda uji (m2)

dq/dt = kecepatan volume air yang mengalir ke dalam spesimen benda uji (m3/det)

h = beda tinggi tekanan hidrolis (m) L = tebal benda uji (m)

METODE PENELITIAN Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah lumpur (sludge) yang berasal dari industri elektroplating di daerah Minapadi, Surakarta, Jawa Tengah, agregat halus pasir Kaliworo, semen portland tipe I, merk Nusantara dan air.

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cetakan benda uji, alat uji kuat tekan, alat uji permeabilitas.

Cara penelitian

1. Menentukan rancangan campuran mortar Campuran mortar dibuat dengan perbandingan bahan-bahan kering yang digunakan adalah 1 bagian berat semen, 2,75 bagian berat pasir, dan faktor air semen 0,485.

Perincian jumlah bahan yang digunakan dalam pembuatan mortar untuk satu sampel adalah semen sebanyak 223 gram, pasir sebanyak 613 gram dan air sebanyak 108 ml.

(3)

Pemanfaatan Limbah Elektroplating

sebagai Pengganti Semen dan Pasir dalam Mortar (Endang Mastuti, Paryanto)

17

Komposisi campuran mortar dibuat dengan

campuran tanpa substitusi limbah/mortar standar (MS), campuran dengan substitusi limbah sebagai pengganti semen (MA) yaitu :1%, 2%, 3%, dan 4% berat semen dan campuran dengan substitusi limbah sebagai pengganti pasir (MB) yaitu : 1%, 2%, 3% berat pasir.

2. Membuat benda uji, dengan cara mencampur bahan–bahan penyusun mortar dengan komposisi tertentu, lalu mencetaknya.

Tabel 1. Karakteristik benda uji

Jenis Pengujian Jumlah Perawatan (hari) Kuat tekan 8 x 4 7,14,21,28 Permeabilitas 3 28 Cetakan : silinder Diameter = 7,5 cm, panjang = 15 cm

3. Menguji karakteristik mortar meliputi pengujian kuat tekan sesuai dengan metode ASTM C109-93, pada mortar umur 7, 14, 21, dan 28 hari dan pengujian permeabilitas sesuai standar DIN 1045 pada mortar umur 28 hari (dengan mortar yang memiliki kuat tekan yang terbaik untuk masing-masing substitusi).

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pengujian kuat tekan

Dari hasil percobaan diperoleh data seperti pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil pengujian kuat tekan

Ket. : *) tidak dapat diuji karena hancur

2. Pengujian permeabilitas

Dari hasil percobaan diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 3. Data hasil pengujian permeabilitas

Tabel 4. Data koefisien permebilitas

Benda uji Koefisien Permeabilitas (m/det) MS 3.73 x 10-9 MA (2%) 5.565 x 10-9 MB (1%) 2.052 x 10-8

Representasi gambar pada tabel 2 dapat disajikan sebagai berikut :

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 0 7 14 21 28 Um ur m ortar (hari) K u a t te k a n ( k g f) M S M A (1%) M A (2%) M A (3%) M A (4%)

Gambar 1. Grafik hubungan antara waktu dan kuat tekan mortar standar dan mortar substitusi

limbah-semen 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 0 7 14 21 28 Um ur m ortar (hari) K u a t te k a n ( k g f) M S M B (1%) M B (2%) M B (3%)

Gambar 2. Grafik hubungan antara waktu dan kuat tekan mortar standar dan mortar substitusi

limbah-pasir

Kuat Tekan (kgf) Benda

Uji 7 hari 14 hari 21 hari 28 hari

MS 6200 8700 10000 10300 MA (1%) 5800 8000 8000 8700 MA (2%) 7500 5400 6000 12800 MA (3%) 3300 3100 6000 3900 MA (4%) 2800 3000 7000 4500 MB (1%) 8400 7900 13000 8000 MB (2%) *) 300 10000 *) MB (3%) *) *) 900 *) Benda uji A (m2) X 10-3 dq/dt (m3/det) x10-10 h (m) L (m) x10-2 MS 1,257 1,396 0,7 2 MA (2%) 1,075 2,094 0,7 2 MB (1%) 1,385 1,326 0,7 1,52

(4)

18 E K U I L I B R I U M Vol. 6 No. 1 Januari 2007: 15-19

Dari tabel 2, gambar 1, dan gambar 2,

terlihat bahwa secara umum peningkatan kuat tekan sebanding dengan umur mortar. Kuat tekan untuk mortar hasil substitusi dengan limbah (baik pasir maupun semen) menunjukkan hasil yang tidak teratur. Meskipun cenderung meningkat seiring bertambahnya umur mortar.

Jika kita membandingkan hasil kuat tekan yang diperoleh dari mortar substitusi limbah-semen dengan mortar standar, maka hasil paling baik pada umur 28 hari adalah mortar substitusi limbah-semen dengan kadar limbah 2 % berat semen, bahkan hasil yang diperoleh jauh lebih tinggi dari mortar standar.

Untuk perbandingan kuat tekan mortar substitusi limbah-pasir dengan mortar standar terlihat bahwa kuat tekan mortar standar terlihat lebih baik dari pada kuat tekan mortar dengan substitusi limbah-pasir.

Dari tabel 4, koefisien permeabilitas untuk mortar substitusi limbah (baik pasir maupun semen) lebih besar daripada koefisien permeabilitas pada mortar standar. Hal ini menunjukkan bahwa mortar bila disubstitusi dengan limbah elektroplating lebih mudah ditembus oleh air sehingga lebih mudah terkorosi.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa substitusi semen dengan limbah elektroplating pada konsentrasi 2% berat semen memberikan kuat tekan yang lebih baik daripada mortar standar dan mortar substitusi pasir-limbah. Namun dengan penggantian limbah menyebabkan sifat ketahanan mortar terhadap air menurun.

Jika kita menginginkan mortar yang dalam pemakaiannya diperlukan untuk menahan beban, maka dapat dilakukan substitusi semen menggunakan limbah elektroplating pada konsentrasi 2% berat.

UCAPAN TERIMA KASIH

Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

a. Direktorat P3M Dirjen Dikti atas dana yang diberikan dalam menyelesaikan penelitian. b. Ketua dan staf Lab. Dasar Teknik Kimia dan

Lab. Bahan Jurusan Teknik Sipil UNS yang telah mendukung jalannya penelitian. c. Estiningtyas dan Ike Widyawati yang telah

membantu dalam pelaksanaan penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

…..…,Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 tahun 1999 jo Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

……, Standar Nasional SNI 1028-1989-A, “Mortar Tahan Asam”, Dewan Standarisasi Nasional (DN).

……, Annual Book of ASTM standard, Volume 04.02, “Concrete and Agregates”, 1997. ……, ”Teknologi Pengendalian Dampak

Lingkungan Industri Lapis Listrik”, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, 1996. Anderson,R., 1992, “Sample Pretreatment and

Separation”, John Willey & Sons, London. Chawakitchaeron, Petchporn, “Solidification

Fluorescent Residues Using Cement and Silica Fume as a Binder”, Proceeding The Fourth International Symposium of Eternet APR , March, 1998.

Herdayani, “Pemanfaatan Limbah Elektroplating sebagai Batu Bata”, Tesis, Jurusan Teknik Lingkungan, ITB, 1996.

Jamal, D.A., “Kemungkinan Pemanfaatan Limbah Debu Tanur dan Lumpur Pendinginan Proses Pencetakan Slab dan Bille Baja dalam Struktur Beton”, Tesis, Jurusan Teknik Lingkungan, ITB, 1997. La Grega, Michael D; Buckingham, Philip L;

Evan, Jeffrey C., 1994, “Hazardous Waste Management”, Mc-graw Hill Inc., New York.

Neville, A.M., 1987, “Concrete Technology”, John Willey & Sons Inc., New York. Pallack, Herman W., 1988, “Material Science

and Metallurgy”, Forth Eddition, Prentice Hall, New Jersey.

Potter, Clifton, “Project of the Ministry of the State for the Environment”, Republic of

Indonesia and Dalhousie

University,Canada,1994.

Sagel,R.dkk, 1994, “Pedoman Pengerjaan Beton”, Erlangga, Jakarta

Subagja, Aceng, “Pemanfaatan Kehalusan Limbah Katalis Sebagai Bahan Tambahan dalam Mortar dan Beton (Study kasus limbah katalis Unit RFCC Pertanian UP VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat)”,

(5)

Pemanfaatan Limbah Elektroplating

sebagai Pengganti Semen dan Pasir dalam Mortar (Endang Mastuti, Paryanto)

19

Tesis, Jurusan Teknik Lingkungan, ITB,

Bandung, 2000.

Van Vlack, Lawrence H., 1991, “Ilmu dan Teknologi Bahan”, edisi 5, Erlangga, Jakarta.

Young, Francis J.,1981, “Concrete”, Prentice Hall, New Jersey.

Gambar

Tabel 1. Karakteristik benda uji  Jenis   Pengujian   Jumlah  Perawatan (hari)  Kuat tekan  8 x 4  7,14,21,28  Permeabilitas  3  28  Cetakan : silinder  Diameter = 7,5 cm, panjang = 15 cm

Referensi

Dokumen terkait

Pemanfaatan arang aktif dari biji salak sebagai bahan alternatif untuk mengurangi kadar logam Cr 6+ dalam limbah cair elektroplating telah dilakukan dengan metode

Tahap pertama adalah penentuan komposisi silika yang terkandung dalam pasir limbah dan tahap kedua yaitu pembuatan bata beton ringan dengan bahan pengisi pasir

VIM (Void In Mix), VFWA (Void Filled With Asphalt), Stability, Flow dan Marshall Quotient pada campuran HRA yang menggunakan bahan filler batu bata limbah bangunan gedung..

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suhu pembakaran optimum 1000ÚC, jumlah maksimum limbah lumpur pengolahan air yang dapat digunakan dalam pembuatan batu bata

Pada limbah elektroplating berkisar 36,48 ppm, sedangkan menurut peratturan Mentri Lingkungan Hidup No. Dengan demikian bahwa air limbah industri elektroplating masih

Kesimpulan penelitian ini didapatkan matriks perbandingan mutu dimana komposisi optimum solidifikasi Lumpur Lapindo sebagai bahan campuran paving block, adalah pada

Tinjauan masalah pada limbah spent catalyst yang di manfaatkan menjadi batu bata ringan dan akan digunakan sebagai bahan bangunan, maka diperlukan suatu kajian yang utamanya adalah

Tujuan Penelitian Untuk mengetahui besarnya nilai kuat tekan beton dan mortar dengan menggunakan abu batu bata sebagai pengganti sebagian semen sebesar 0%, 6%, 8%, dan 10% dari berat