Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Teks penuh

(1)
(2)

Taken by Tuesday

by Catherine Bybee

Published in 2014 by Montlake Romance

All rights reserved including the right of reproduction in whole or in part in any form.

Th is edition is made possible under a licence arrangement originating with Amazon Publishing

Copyright © 2014 by Catherine Bybee All rights reserved

Taken by Tuesday

Alih bahasa: Prima Sari Woro Dewanti Hak Cipta Terjemahan Indonesia Penerbit PT Elex Media Komputindo Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang Diterbitkan pertama kali pada 2017 oleh Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta

717030025

ISBN: 978-602-02-9839-9

Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan

(3)

Taken by

Tuesday

(4)

Taken by

Tuesday

Catherine Bybee

Penerbit PT Elex Media KompuƟ ndo

(5)

Taken by Tuesday

by Catherine Bybee

Published in 2014 by Montlake Romance

All rights reserved including the right of reproduction in whole or in part in any form.

Th is edition is made possible under a licence arrangement originating with Amazon Publishing

Copyright © 2014 by Catherine Bybee All rights reserved

Taken by Tuesday

Alih bahasa: Prima Sari Woro Dewanti Hak Cipta Terjemahan Indonesia Penerbit PT Elex Media Komputindo Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang Diterbitkan pertama kali pada 2017 oleh Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta

716032123

ISBN: 978-602-02-9839-9

Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan

(6)

Untuk Bibi Joan

Karena aku mencintaimu

(7)

1

Judy menekan tombol merah raid dan berharap dia tidak salah menilai lawannya dalam permainan online konyol ini. Dia hanya butuh lima poin valor lagi untuk naik ke tingkat berikutnya, dan baterai tabletnya menunjukkan tanda peringatan sisa daya dua puluh persen.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Meg, teman sekamarnya selama empat tahun ini, berdiri dengan memakai celana olahraga pendek ketat dan menatapnya dengan geram dari ambang pintu.

“Menghindar!” Sial, perhitungannya salah dan serangannya gagal, membuatnya ketinggalan sedikit-nya setengah jam. “Permainan konyol.”

Meg melemparkan tas olahraganya ke lantai dan bergerak ke dapur kecil yang mereka gunakan bersama di apartemen luar kampus ini. “Kau bilang padaku kau tidak ikut ke neraka bersamaku karena kau harus belajar. Aku masuk … dan apa yang kulihat? Kau, sibuk dengan permainan yang membuang waktu itu, bukannya belajar.”

“Aku butuh istirahat sebentar.” Neraka adalah kata sandi mereka untuk James dan latihan boot camp1

-1 LaƟ han yang biasanya dilakukan dalam kemiliteran untuk ang-gota baru dengan disiplin yang ketat.

(8)

Catherine Bybee

2

nya di pusat kebugaran setempat. James menyusun program latihannya dalam serangkaian rintangan untuk melatih seluruh otot yang memungkinkan dalam tubuh manusia. Dari situlah asal istilah neraka. Benar-benar N-E-R-A-K-A, saat kau tak bisa duduk di kursi atau di toilet tanpa mengutuk James. Tapi tetap saja mereka kembali setiap hari.

Tapi tidak hari ini, setidaknya untuk Judy. Tugas akhirnya yang dibawa pulang untuk desain arsitektur lanjutan itu benar-benar menyiksanya. Memangnya kenapa kalau batas waktunya adalah besok pukul tujuh pagi? Paling-paling dia hanya akan menyebut dirinya bodoh karena menambahkan satu mata kuliah pokok pada tahun terakhirnya. Siapa yang peduli kalau dia sudah membuang lima belas ribu dolar dari pinjaman mahasiswanya? Peduli amat!

Judy membenamkan kepala dalam kedua tangan-nya. “Mati aku.”

“Kau baik-baik saja.” Meg menendang pintu kul-kas hingga menutup, sebotol air dingin berada dalam genggamannya.

“Aku payah. Desain yang sedang kukerjakan sama sekali tidak masuk akal. Tak ada semangat di dalamnya. Tak ada yang menunjukkan bahwa ‘Aku adalah bangunan terbaik di dunia, dirikan aku’, tak ada apa pun.”

Meg mengabaikan kegelisahan Judy. “Kau terlalu memikirkannya. Dan tertekan. Yang kau butuhkan adalah keluar malam dan bercinta.”

Judy memutar kedua bola matanya. “Batas akhir-nya besok, Meg, dan aku tak puakhir-nya waktu untuk

(9)

Taken by Tuesday

3

kencan kilat.” Lagi pula, dia sudah kapok dengan pria-pria penyuka kencan kilat tanpa ikatan sejak tahun pertamanya. Bahkan para profesor muda yang menarik terlihat kurang membangkitkan minat sejak….

Sejak….

“Well, kau perlu bersantai,” ujar Meg padanya. “Kau sudah lama sekali tidak bercinta.” Meg selalu mengatakan hal-hal semacam itu. Kedua orangtua Meg merupakan kemunduran di akhir enam puluhan, awal tujuh puluhan. Mereka sudah tidak muda lagi ketika Meg berada dalam kandungan dan benar-benar kesal ketika menyadari kehadirannya. Karena itu, Meg memiliki pendapat yang bebas tentang seks dan masa bodoh dengan rencana pendidikan. Rasanya menakjubkan dia bisa melewati pendidikan formal.

Yeah, dia akan lulus dari University of Washington

dengan gelar bisnis, tapi dengan nilai pas-pasan. Ketika mereka pertama kali bertemu, kenyataan bahwa Meg mengambil pendidikan bisnis sempat membingungkan Judy. Meg kelihatannya lebih cocok berada di jurusan seni. Menurut Meg, para mahasiswa yang lulus dengan gelar seni menjadi pelayan sepanjang hidup mereka dan jarang mendapat kesejahteraan saat beranjak tua. Tapi Judy sanksi Meg akan menyukai pekerjaan berbau bisnis apa pun. Waktu yang akan membuktikan.

Judy sudah menyelesaikan mata kuliah bisnisnya lebih awal untuk menambahkan desain arsitektur se bagai mata kuliah pokok yang kedua. Ayahnya tidak senang akan keputusannya, tapi tak mampu berkomentar banyak, ketika mengetahui Judy sudah

(10)

Catherine Bybee

4

mengambil kursus online selama masa kuliah reguler serta musim panas yang lalu, guna menyelesaikan apa yang dia butuhkan untuk lulus dengan gelar ganda.

Tapi sekarang, dia duduk di apartemennya sambil memainkan permainan perang online konyol dan meng hindari tugas akhirnya.

“Beberapa teman kita akan berkumpul di Bergies. Sedikit minum bisa menjernihkan pikiranmu.”

Judy menyingkirkan tablet yang berisi video game-nya, emailgame-nya, hidupnya … lalu berdiri. “Aku harus mandi dulu.”

“Aku sedang bertugas,” bisik Rick pada dirinya sen-diri begitu dia menemukan kampus University of Washington. Tak masalah jika dia memulai perja-lanan nya dengan pergi ke Boise State, perguruan tinggi tempat Judy kuliah, seperti yang Karen katakan kepadanya. Dia hanya membuang satu tiket pesawat ke tempat tujuan yang salah.

Dia memeriksa aula tempat acara wisuda akan berlangsung, melihat lokasi yang sudah diinformasikan padanya sebagai tempat para tamu VIP berada saat menyaksikan putra, putri, atau dalam hal ini, adik perempuan mereka, berjalan.

Michael Wolfe, selebriti sekaligus teman yang akan Rick kawal di sana, adalah Elvis-nya fi lm modern ... hanya saja tanpa gitar dan suara khas Elvis. Seluruh keluarga Michael—orangtua, saudara, bahkan mantan istrinya—akan hadir untuk wisuda Judy. Paparazi adalah masalah yang sudah pasti harus diatasi, tapi Rick tahu bahwa dia sudah cukup waspada.

(11)

Taken by Tuesday

5

Dia membayangkan peri mungil yang memiliki jiwa petualang serta gejolak semangat yang mengalir dalam darahnya, dan tersenyum.

Dia menyimpulkan tak ada masalah dengan arena-nya. Dua pintu keluar utama adalah satu-satunya tempat yang bisa diterobos media. Hanya butuh tiga orang untuk mengurus hal itu dan Michael serta keluarganya bisa menyaksikan wisuda Judy dengan tenang. Setelah dipikir-pikir lagi, mungkin dia akan menambahkan orang keempat untuk tugas itu agar

dia bisa menyaksikan wisuda Judy.

“Kau puas dengan semuanya, Mr. Evans?” Rick nyaris melupakan pengelola keamanan kam-pus yang ikut dengannya.

“Berapa banyak petugas keamanan yang kau siap-kan pada hari wisuda?”

“Dijadwalkan ada dua belas orang.”

“Mereka bisa dipercaya? Tak ada yang bisa di suap, kan?” Bukan untuk pertama kalinya seorang petu gas keamanan mendapatkan keuntungan dengan meng-izinkan media menyelinap masuk.

“Tentu saja.” Pete, sang Kepala Keamanan, tampak tersinggung.

“Jadi, di mana para mahasiswa senior yang akan lulus itu berkumpul dua minggu sebelum wisuda?”

Rick tidak pernah kuliah. Dia bergabung dengan ma rinir begitu lulus sekolah. Pendidikan formal atau ber kutat dengan lembaran kertas sepanjang hari tidak pernah menjadi rencana masa depannya. Tidak! Dia meng inginkan petualangan. Begitu banyak petualang-an hingga tempetualang-an-tempetualang-an baiknya terbunuh dpetualang-an

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :