• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, LEVERAGE DAN PROFITABILITAS TERHADAP FINANCIAL DISTRESS (PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA PERIODE )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, LEVERAGE DAN PROFITABILITAS TERHADAP FINANCIAL DISTRESS (PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA PERIODE )"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, LEVERAGE DAN PROFITABILITAS TERHADAP FINANCIAL DISTRESS (PERUSAHAAN SEKTOR

PERTAMBANGAN BATUBARA PERIODE 2016-2020)

Yuni Sarah Lubis1, Mohammad Hatta Fahamsyah2 Prodi Manajemen, Universitas Pelita Bangsa

E-Mail : yunisarah0298gmail.com, [email protected]

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh rasio likuiditas yang diukur dengan current ratio, leverage yang diukur dengan debt to assets ratio dan profitabilitas yang diukur dengan return on assets dalam memprediksi financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara periode 2016- 2020.Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder dan analisis data laporan tahunan perusahaan yang di ambil dari website Bursa Efek Indonesia.

Populasi dalam penelitian ini adalah Perusahaan sektor pertambangan batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2020. Sampel dipilih berdasarkan purposive sampling dengan kriteria yang telah ditentukan sehingga diperoleh 12 sample perusahaan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel likuiditas yang diukur dengan current ratio berpengaruh signifikan terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara di BEI periode 2016-2020, Variabel leverage yang diukur dengan debt to asset ratio berpengaruh tidak signifikan terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara periode 2016-2020. Variabel profitabilitas yang diukur dengan return on assets berpengaruh signifikan terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara periode 2016-2020.

Kata Kunci : Rasio Likuiditas, Leverage, Profitabilitas dan Financial Distress.

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

Semakin ketatnya persaingan dunia industri menuntut perusahaan untuk lebih kreatif, inovatif dan selalu melakukan perbaikan kinerja dan peningkatan produk dalam dunia industri agar perusahaan dapat terus bertumbuh dan berkembang serta dapat bersaing dengan kompetitor. Pada dasarnya tujuan suatu perusahaan adalah untuk memaksimumkan keuntungan dan juga memaksimumkan kesejahteraan pemilik perusahaan dari dua tujuan utama tersebut, maka pihak manajemen harus bisa menghasilkan keuntungan yang optimal serta pengendalian seksama terhadap kinerja operasional, terutama yang berkaitan dengan keuangan perusahaan, kemampuan suatu perusahaan untuk dapat bersaing salah satunya sangat ditentukan oleh kinerja perusahaan itu sendiri. Perusahaan yang tidak mampu bersaing dan tidak mampu mempertahankan kinerjanya dengan lambat laun akan tergusur dari lingkungan industri dan akan mengalami kebangkrutan (Bahri, 2015). Banyak penelitian yang telah dilakukan dengan memanfaatkan rasio keuangan untuk memprediksi financial distress. Rasio keuangan yang sering digunakan untuk memprediksi financial distress perusahaan yaitu rasio likuiditas, rasio leverage dan rasio profitabilitas. Rasio Likuiditas menggambarkan

kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya, apabila perusahaan semakin liquid maka semakin kecil potensi mengalami financial distress, Rasio Leverage menggambarkan tentang sejauh mana perusahaan yang dibiayai oleh hutang dan Rasio Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba. Apabila perusahaan memiliki nilai profitabilitas yang tinggi maka kemungkinan mengalami kondisi financial distress semakin kecil (Setiawan dan Ambonintyas, 2016).

Indikator diperoleh dari rasio keuangan yang terdapat pada laporan keuangan perusahaan.

Laporan keuangan yang telah dipublish ini tentunya dapat menjadi acuan oleh pihak internal maupun eksternal sebagai penilaian apakah kondisi keuangan perusahaan tersebut berjalan dengan baik atau mengalami kondisi financial distress, sehingga sebagai pihak internal maupun eksternal dapat menilai sendiri kondisi kondisi yang terjadi pada perusahaan melalui laporan keuangan yang telah dipublish, tentunya untuk kepentingan pihak. Kebangkrutan suatu perusahaan dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangannya (Asfaly Imam, 2019).

Untuk mengetahui financial distress suatu perusahaan dapat menggunakan rasio likuiditas, leverage dan profitabilitas untuk memprediksi

(2)

kesulitan keuangan maupun kebangkrutan.

Indikator pertama yang digunakan untuk memprediksi financial distress adalah rasio likuiditas. Current ratio yang tinggi menunjukkan sinyal positif bagi para kreditur, sebab perusahaan dianggap mampu melunasi hutang jangka pendeknya (Ellen dan Juniarti, 2013). Rasio likuiditas dapat secara konsisten digunakan untuk memprediksi perusahaan yang mengalami financial distress.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah likuiditas berpengaruh terhadap kondisi financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara pada periode 2016-2020 ?

2. Apakah leverage berpengaruh terhadap kondisi financial distress terhadap perusahaan sektor pertambangan batubara pada periode 2016-2020 ?

3. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap kondisi financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara pada periode 2016-2020 ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan dilakukan penelitian ini :

1. Untuk mengetahui pengaruh likuiditas terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara periode 2016-2020.

2. Untuk mengetahui pengaruh leverage terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara periode 2016-2020.

3. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara 2016-2020.

1.4 Manfaat Penelitian

Dari tujuan penelitian ini diatas, maka penelitian ini dapat bermanfaat:

1.4.1 Bagi Program Studi

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan mengenai pengaruh likuitas, leverage, dan profitabilitas terhadap financial distress perusahaan dan dapat digunakan sebagai acuan pada penelitian berikutnya dengan tema yang relavan.

1.4.2 Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan dijadikan pertimbangan oleh manajemen perusahaan sektor pertambangan batubara dalam menjaga kondisi keuangan perusahaan.

1.4.3 Bagi

Peneliti

Sebagai sarana pengaplikasian ilmu manajemen khususnya manajemen keuangan selama perkuliahan dan sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pelita Bangsa.

1.4.4 Bagi Pembaca

Sebagai bahan informasi tambahan atau referensi bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai financial distress perusahaan sektor pertambangan batubara yang terdaftar di bursa efek serta mengetahui rasio keuangan yang tepat dalam memprediksi financial distress.

2. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

RASIO KEUANGAN

Rasio keuangan adalah suatu kajian yang melihat perbandingan antara jumlah-jumlah yang terdapat pada laporan keuangan dengan menggunakan formula-formula yang dianggap

(3)

representatif untuk diterapkan. Rasio keuangan atau financial ratio sangat penting gunanya untuk melakukan analisa terhadap kondisi keuangan perusahaan. Bagi investor jangka pendek dan menengah pada umumnya lebih banyak tertarik kepada kondisi keuangan jangka pendek dan kemampuan perusahaan untuk membayar dividen yang memadai. Informasi tersebut dapat diketahui dengan cara yang lebih sederhana yaitu dengan menghitung rasio-rasio keuangan sesuai keinginan. Secara jangka panjang rasio keuangan juga dipakai dan dijadikan sebagai acuan dalam menganalisis kondisi kinerja suatu perusahaan.

Analisa laporan keuangan dimulai dengan laporan keuangan dasar yaitu neraca (balace sheet), perhitungan rugi laba (income statement) dan laporan arus kas (cash flow statement).

Perhitungan rasio keuangan akan lebih jelas jika dihubungkan antara lain dengan menggunakan pola historis perusahaan tersebut, yang dilihat perhitungan pada sejumlah tahun guna menentukan apakah perusahaan membaik atau memburuk, atau melakukan perbandingan dengan perusahaan yang lain dalam industri yang sama.

Tujuan dari penggunaan suatu rasio saat menganalisis informasi keuangan secara sederhana dilakukan dengan membuat standart tolak ukur atas informasi yang akan dianalisis agar rasio dari dua perusahaan yang berbeda dapat dibandingkan atau juga suatu perusahaan dengan batas-batas waktu yang berbeda.

Beberapa rasio keuangan yang dapat mempengaruhi kondisi financial distress perusahaan yaitu:

Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas (liquidity ratio) adalah kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu. Rasio likuiditas secara umum ada 4 yaitu :

Rasio Leverage

Rasio leverage adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang.

Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan, karena itu perusahaan harus menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan darimana sumber-sumber yang dapat dipakai untuk membayar utang. Rasio leverage secara umum ada 7 yaitu:

Rasio Profitabilitas

Rasio ini mengukur efektifitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan Oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan.

Rasio profitabilitas secara umum ada 4 yaitu:

(4)

Financial Distress

Financial distress merupakan suatu kondisi kesulitan keuangan dalam perusahaan berupa penurunan perolehan laba, ketidakmampuan perusahaan untuk melunasi hutang serta kewajiban yang disajikan berdasarkan laporan keuangan dengan membandingkan laporan keuangan periode sebelumnya (Criston dkk, 2017). Analisa kebangkrutan diperlukan untuk mendeteksi gejala awal kebangkrutan dan dapat menjadi salah satu langkah tepat untuk para pihak manajemen untuk mengambil langkah pencegahan. Kegagalan atau kebangkrutan sangatlah dihindari oleh para pihak manajemen, biasanya pihak manajemen akan melakukan pendeteksian dini terhadap gejala- gejala awal kegagalan keuangan. Semakin cepat terdeteksi adanya ketidakberesan perusahaan dalam membayar kewajiban-kewajibannya, akan semakin cepat pula keputusan pihak manajemen untuk melakukan langkah-langkah pencegahan.

Financial distress pada perusahaan dapat diatasi dengan beberapa cara yaitu:

1. Berhubungan dengan aset perusahaan yaitu dengan menjual asset-aset utama, melakukan merger dengan perusahaan lain, menurunkan pengeluaran dan biaya penelitian dan pengembangan.

2. Berhubungan dengan restrukturisasi keuangan yaitu dengan menerbitkan sekuritas baru, mengadakan negosiasi dengan bank dan kreditor dan bankrupt. Financial distress dapat melibatkan restrukturisasi asset ataupun restrukturisasi keuangan Financial distress dapat menjadi “early warning” system perusahaan sebagai tanda

adanya masalah. Perusahaan yang memiliki banyak utang akan mengalami financial distress lebih awal dari perusahaan yang memiliki sedikit utang. Namun demikian perusahaan yang mengalami financial distress lebih awal dapat mempunyai banyak waktu untuk melakukan restrukturisasi atas prakarsa sendiri dan reorganisasi. Secara umum kegiatan perusahaan dapat dianggap sebagai suatu proses arus dana.

Dimulai dengan proses penarikan dana dari berbagai sumber kemudian dilakukan pembelanjaan dana tersebut dilanjutkan dengan reinvestasi dana yang diperoleh dari operasi perusahaan dan diakhiri dengan pengembalian.

Salah satu penyebab terjadinya financial distress adalah keburukan dalam pengelolaan bisnis (mismanagement) perusahaan. Namun demikian kondisi internal dan eksternal maka terdapat banyak hal lain yang juga dapat menyebabkan terjadinya financial distress pada suatu perusahaan. Apabila ditinjau dari aspek keuangan maka terdapat 3 keadaan yang dapat menyebabkan financial distress yaitu :

1. Faktor ketidakcukupan modal atau kekurangan modal

Ketidak seimbangan aliran penerimaan uang yang bersumber pada penjualan atau penagihan piutang dengan pengeluaran uang untuk membiayai operasi perusahaan tidak mampu menarik dana untuk memenuhi kekurangan dana tersebut maka perusahaan akan berada pada kondisi tidak likuid.

2. Besarnya beban utang dan bunga

Apabila perusahaan mampu menarik dana dari luar, misalnya mendapatkan kredit dari bank untuk kekurangan dana, maka masalah likuiditas perusahaan dapat teratasi untuk sementara waktu, tetapi kemudian timbul persoalan baru yaitu adanya keterikatan kewajiban untuk membayar kembali pokok pinjaman dan bunga kredit.

Walaupun demikian hal ini tidak membahayakan

(5)

perusahaan dan masih memberikan keuntungan bagi perusahaan apabila tingkat bunga lebih rendah dari tingkat investasi harta (return on asset) dan perusahaan melakukan apa yang disebut dengan manajemen resiko atas utang yang diterimanya. Manajemen resiko atas utang sangat penting terutama apabila utang yang diterima tidak dalam mata uang yang sama dengan pendapatan yang diperoleh perusahaan, ketidakmampuan perusahaan melakukan manajemen resiko atas utangnya dapat mengakibatkan perusahaan harus mendapatkan risiko menderita kerugian yang seharusnya tidak perlu terjadi.

3. Menderita kerugian

Pendapatan yang diperoleh perusahaan harus mampu menutup seluruh biaya yang dikeluarkan dan menghasilkan laba bersih.

Besarnya laba bersih sangat penting bagi perusahaan untuk melakukan reinvestasi, sehingga akan menambah kekayaan bersih perusahaan dan meningkatkan ROE untuk menjamin kepentingan pemegang saham. Oleh karena itu perusahaan harus selalu berupaya meningkatkan pendapatan dan mengendalikan tingkat biaya. Ketidakmampuan perusahaan mempertahankan kesimbangan pendapatan dengan biaya niscaya perusahaan akan mengalami financial distress.

Ketiga aspek tersebut saling berkaitan, oleh karena itu harus dijaga keseimbangan agar perusahaan terhindar dari kondisi financial distress yang mengarah kepada kebangkrutan, caranya adalah dengan kemampuan memperoleh laba, likuiditas dan tingkat utang dalam struktur permodalan.

Hipotesis

H1: Likuiditas berpengaruh signifikan terhadap financial distress.

Hipotesa tersebut di dukung oleh hasil penelitian Hery Wijarnarto dan Anik Nurhidayati dalam artikel pengaruh rasio keuangan dalam memprediksi financial distress pada perusahaan di sektor pertanian dan pertambangan batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia di Jurnal Administrasi Bisnis volume 3 tahun 2016 menghasilkan kesimpulan bahwa variabel current ratio dan net profit margin berpengaruh positif signifikan dalam memprediksi financial distress H2 : Leverage berpengaruh signifikan terhadap kondisi financial distress.

Hipotesa tersebut di dukung oleh hasil penelitian Rahmadani, Sujana, Ari dan Darmawan dalam artikel yang berjudul analisis pengaruh rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio rentabilitas ekonomi dan rasio leverage terhadap prediksi financial distress terbit di Jurnal Akuntansi volume 2 tahun 2014 menghasilkan kesimpulan rasio leverage berpengaruh terhadap prediksi financial distress.

H3 : Profitabilitas mempunyai pengaruh tidak signifikan terhadap financial distress

Hipotesa tersebut di dukung oleh hasil penelitian Andre Orina dalam artikel yang berjudul pengaruh profitabilitas, likuiditas dan leverage dalam memprediksi financial distress terbit tahun 2013 menghasilkan kesimpulan profitabilitas mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap financial distress.

3.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian atau metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Tujuan dari metode deskriptif kuantitatif ini yaitu untuk membuat suatu uraian yang sistematis mengenai fakta–fakta dan sifat- sifat dari objek yang di teliti kemudian menggabungkan hubungan antar variable yang

(6)

terlibat didalamnya. Penelitian ini juga menekankan analisisnya pada data-data numerik (angka) yang diolah dengan menggunakan metode statistika.

Menurut Sugiyono (2016), Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah di tetapkan.

Menurut Sugiyono (2016), metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Dengan menggunakan metode penelitian dan analisis statistik, maka akan diketahui bagaimana hubungan antar variable yang diteliti sehingga menghasilkan kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti. Hal ini dilakukan untuk melihat kinerja keuangan perusahaan untuk mengetahui pengaruh financial distress menggunakan rasio likuiditas, leverage dan rasio profitabilitas pada perusahaan sektor pertambangan batubara tahun 2013-2017. Setelah itu langkah terakhir yang dilakukan adalah memberikan kesimpulan dan saran atas hasil analisis yang telah dikukan. Penelitian ini menggunakan analisis data laporan tahunan perusahaan yang di ambil dari website Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).

Desain Penelitian

Uji Hosmer and Lemeshow’s

Uji Hosmerand Lemeshow’s Goodness of Fit mengujihi potesis nol bahwa data empiris sesuai dengan model atau tidak ada perbeda anantara model dengan data sehingga model dapat dikatakan fit. Hipotesis untuk menilai model fit (Ghozali, 2009 dalam Fadhila, 2013):

H0 :Model yang dihipotesiskan fit dengan data.

H1 :Model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data.

Jika nilai Uji Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit lebih besar dari 0,05 maka hipotesis nol diterima berarti model mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena sesuai dengan observasinya.

Overall Fit Model

Untuk menilai keseluruhan model (overall model fit) ditunjukkan dengan Log likehood value yaitu dengan membandingkan antara -2 Log Likehood pada saat model hanya memasukkan konstanta (block number = 0) dengan pada saat model memasukkan konstanta dan variabel bebas (block number 1). Apabila nilai -2 Log Likehood (block Number = 0) lebih besar dibandingkan dengan nilai-2 Log Likehood (block Number = 1), maka keseluruhan model menunjukkan model regresi yang baik. Jika terjadi penurunan, maka model tersebut menunjukkan model regresi yang baik.

Koefisien Determinasi (Nagelkerke R Square ) Nagelkerke R Square merupakan modifikasi dari koefisien Cox & Snell yang merupakan pengujian yangdilakukan untuk mengetahui seberapa besar variabel independen

(7)

mampu menjelaskan dan mempengaruhi variabel dependen. Semakin mendekati nilai 1 dapat dikatakan semakin kuat model tersebut dalam menerangkan variabel independen terhadap variabel dependen, sementara semakin mendekati 0 maka semakin lemah variabel independen dalam menerangkan variabel dependen.

Menguji Koefisien Regresi (Regresi Logistik) Pengujian koefisien regresi untuk menguji semua variabel independen mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen. Koefisien regresi logistik dapat ditentukan dengan menggunakan p- value (probability value). Kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis didasarkan pada signifikansi p-value. Jika p-value (signifikan) >𝛼, maka dapat dikatakan variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

Sebaliknya jika p-value<𝛼, maka variabel dependen berpengaruh terhadap variabel dependen.

4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Statistik deskriftif

Statistik deskriptif memberikan gambaran (deskripsi) mengenai suatu variabel dalam penelitian yang dilihat dari nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean) dan standart devisiasi. Gambaran statistik dari masing-masing variabel dalam penelitian menggunakan SPSS versi 22 disajikan dalam tabel berikut:

Pada tabel berikut menunjukkan bahwa jumlah data yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 60 sampel data yang diambil dari laporan keuangan publikasi tahunan perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2016-2020. Hasil tersebut diperoleh dari data dimana 12 perusahaan dikalikan periode tahun penelitian (5 tahun), sehingga observasi dalam penelitian ini menjadi 12x5=60 observasi. Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa selama periode pengamatan, variabel likuiditas (CR) terendah adalah 0,00.

Likuiditas terendah berasal dari PT. Borneo Olah Sarana Sukses Tbk tahun 2020. Variabel tertinggi adalah 2158,7533 berasal dari PT. Petrosea Tbk tahun 2016, dengan melihat tingkat likuiditasnya dapat disimpulkan yang memiliki likuiditas yang baik adalah PT. Petrosea Tbk, karena semakin besar nilai variabel likuiditas semakin besar kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Adapu rata-rata (mean) variabel likuiditas (CR) dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 adalah sebesar 162,75 dengan nilai standar deviasi 494,01 yang artinya bahwa nilai mean lebih rendah dari nilai standar deviasi, Standar deviasi yang lebih tinggi dari nilai mean sehingga simpangan data pada CR dapat dikatakan tidak baik. Hal ini menunjukkan bahwa data CR dalam penelitian ini terdapat beberapa outlier (data yang terlalu ekstrim).

Variabel Leverage (DAR) memiliki nilai terendah adalah 0,00. Leverage terendah berasal dari PT. Perdana Karya Perkasa Tbk tahun 2016.

Variabel tertinggi adalah 1,90 berasal dari PT.

Bumi Resources Tbk. Dengan melihat tingkat leverage (DAR) yang baik adalah PT. Perdana Karya Perkasa Tbk tahun 2016 karena semakin kecil nilai leverage (DAR) maka perusahaan dikategorikan dengan perusahaan yang sedikit dibiayai oleh hutang. Adapun nilai rata-rata (mean) variabel leverage (DAR) dari tahun 2016- 2020 adalah sebesar 0,61 dan dengan standar

(8)

deviasi sebesar 0,29 yang artinya nilai mean lebih besar daripada standar deviasi, sehingga mengindikasi bahwa hasil yang cukup baik, hal tersebut dikarenakan standar deviasi adalah pencerminan penyimpangan yang sangat tinggi sehingga penyebaran data menunjukkan hasil yang normal dan tidak menyebabkan bias.

Variabel Profitabilitas (ROA) memiliki nilai terendah adalah -0,0002. Profitabilitas terendah berasal dari PT. Alfa Energy Investama Tbk Tahun 2017 dan variabel tertinggi adalah 0,46 yang berasal dari PT. Bayan Resources Tbk tahun 2018. Dengan melihat tingkat profitabilitas (ROA) dapat disimpulkan yang memiliki profitabilitas yang baik adalah PT. Bayan Resources Tbk karena semakin besar nilai profitabilitas semakin besar kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan.

Adapun nilai rata-rata (mean) variabel profitabilitas (ROA) dari tahun 2016-2020 sebesar 0,0315 dengan standar deviasi sebesar 0,14018, hal ini berarti nilai mean lebih kecil dari nilai standar deviasi, sehingga mengindikasikan bahwa hasil yang kurang baik, sebab standar deviasi merupakan pencerminan penyimpangan yang sangat tinggi sehingga penyebaran data menunjukkan hasil yang tidak normal dan menyebabkan bias.

Uji Hosmar and Lemeshow’s/Menilai kelayakan model regresi

Menilai kelayakan modal regresi logistik digunakan uji Hosmer and Lemeshow’s goodness of fit. Jika Hosmer and Lemeshow’s goodness of fit test <0,05 maka hipotesis 0 ditolak dan berarti ada perbedaan signifikan antara model dengan nilai observasinya. Apabila profitabilitas >0,05 maka hipotesis 0 diterima dan model mampu memprediksi nilai observasinya atau model dapat diterima karena cocok dengan data observasinya.

Dari output diatas terlihat bahwa nilai Chi Square adalah sebesar 0,000 dengan nilai sig 1,000, dimana 1,000 ˃0,05 maka dapat disimpulkan bahwa maka hipotesis 0 diterima dan model mampu memprediksi nilai observasinya atau model dapat diterima karena cocok dengan data observasinya.

Uji Overal Fit Model/ menilai keseluruhan model

Menilai keseluruhan model (Overal fit model) ditunjukkan dengan nilai -2 log likehood dimana jika nilai -2 log likehood (block number=0) lebih besar dibandingkan dengan nilai -2 log likehood (block number=1), maka keseluruhan model menunjukkan model regresi yang baik. Jika terjadi penurunan, maka model tersebut menunjukkan model regresi yang baik.

Hasilnya dapat dilihat pada tabel

Dari output diatas terlihat bahwa nilai -2 log likehood (blok number=0) sebesar 77,694 dan pada nilai -2 log likehood (blok number =1) sebesar 0,001 hasil tersebut menunjukkan model regresi logistik yang baik karena nilai -2 log likehood blok number=0) lebih besar dibandingkan dengan nilai -2 log likehood (blok number=1).

Uji Regresi Logistik/Koefisien Regresi

Uji regresi logistik dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh hubungan variabel independen dengan variabel dependen.

Besarnya pengaruh variabel independen tehadap dependen secara bersama-sama dapat dihitung

(9)

melalui suatu persamaan regresi logistik. Regresi logistik dapat dilihat dari tabel berikut:

Dari hasil analisa dengan bantuan program SPSS 22, maka dapat diketahui persamaan regresi yang terbentuk. Adapun regresi logistik sebagai berikut:

Logit FINC_DISC = -1,118 – (-0,759) – (-10,117) – (-82760,772) + €

Nilai konstanta dengan koefisien regresi pada tabel 4.5 dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Konstanta sebesar -1,118 menunjukkan jika variabel-variabel independen (CR,DAR, ROA) diasumsikan tidak mengalami perubahan (konstan) maka peluang perusahaan mengalami kondisi financial distress sebesar -1,118%.

2. Koefidien variabel CR (Current Ratio) sebesar -0,759 berarti setiap kenaikan likuiditas sebesar 1% maka peluang suatu perusahaan mengalami financial distress turun sebesar -0,759%.

3. Koefisien variabel DAR (Debt to asset ratio) sebesar -10,117 berarti setiap kenaikan leverage sebesar 1% maka peluang suatu perusahaan mengalami financial distress sebesar -10,117%.

4. Koefisien variabel ROA (return on asset) sebesar -82760,772 berarti setiap kenaikan likuiditas sebesar 1% maka peluang satu perusahaan mengalami financial distress turun sebesar - 82760,772%.

Uji Hipotesis

Uji hipotesis dalam penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini

yaitu rasio likuiditas yang diukur dengan current ratio, rasio leverage yang diukur dengan debt to asset ratio, rasio profitabilitas yang diukur dengan return on assets terhadap financial distress.

Dari tabel diatas menunjukkan hasil uji hipotesis yaitu sebagai berikut:

1. Rasio Likuiditas (CR)

H1 = Likuiditas memiliki hubungan yang signifikan terhadap financial distress.

Hasil uji regresi logistik menyatakan bahwa nilai koefisien adalah -0,759 yang tingkat signifikannya 0,833 yang kurang dari a=5%

(0,833˃0,05). Berdasarkan hal ini dapat di interpretasikan bahwa rasio likuiditas (CR) berpengaruh secara signifikan terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan yang listing di BEI tahun 2016-2020. Dengan demikian berarti Hipotesis I diterima.

2. Rasio Leverage (Debt to asset ratio)

H2: Leverage berpengaruh signifikan terhadap financial distress.

Hasil Uji Regresi logistik menyatakan bahwa nilai koefisien adalah -10,117 yang tingkat signifikannya sebesar 0,971 yang kurang dari a=5% (0,971˃0,05). Berdasarkan hal ini dapat di interpretasikan bahwa rasio leverage (Debt to asset ratio) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap financial distress perusahaan sektor pertambangan batubara yang terdaftar di BEI periode 2016-2020.

Dengan demikian hipotesis II ditolak.

3. Rasio Profitabilitas (ROA)

(10)

H3 : Profitabilitas mempunyai pengaruh tidak signifikan terhadap financial distress.

Hasil uji regresi logistik menyatakan bahwa nilai koefisien -82760,772 yang tingkat signifikannya sebesar 0,831 yang kurang dari a=5% (0,831˃0,05). Berdasarkan hasil hal ini dapat diinterpretasikan bahwa rasio profitabilitas (ROA) tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara yang terdaftar di BEI periode 2016-2020.

Dengan demikian hipotesis III diterima.

Uji Koefisien Determinasi (Nagelkerke R Square)

Nagelkerke R Square merupakan modifikasi dari koefisien Cox dan Snell yang merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variabel independen mampu menjelaskan dan mempengaruhi variabel dependen.

Berdasarkan hasil Uji Koefisien determinasi diatas, nilai nagelkerke R Square yang diperoleh sebesar 1,000 yang menunjukkan bahwa financial distress terjadi pada perusahaan sektor pertambangan batubara yang terdaftar di BEI dipengaruhi oleh variabel likuiditas, leverage, dan profitabilitas sebesar 100% .

Pembahasan

1. Pengaruh Likuiditas terhadap financial distress

Berdasarkan hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel likuiditas yang diukur dengan current ratio (CR) berpengaruh positif terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara yang terdaftar di BEI tahun 2016-2020, ditunjukkan

dengan nilai beta sebesar -0,759 dengan signifikan 0,833. Ini berarti bahwa meningkatnya kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya maka semakin menurun potensi perusahaan mengalami financial distress.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mas’ud dan Srengga (2012), Koes Pranowo (2010), Ellen dan Juniarti (2013), Hery wijanarto dan Anik nurhidayati (2016), yang menunjukkan bahwa likuiditas yang diukur dengan current ratio (CR) berpengaruh positif terhadap financial distress.

2. Pengaruh Leverage terhadap financial distress

berdasarkan hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel leverage yang diukur dengan debt to assets ratio berpengaruh negatif terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara yang terdaftar di BEI periode 2016-2020. Ditunjukkan dengan nilai beta sebesar -10,117 dengan signifikan 0,971. Ini berarti bahwa meningkatnya kemampuan perusahaan untuk mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai oleh hutang.

3. Pengaruh Profitabilitas terhadap financial distress

Berdasarkan hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel profitabilitas berpengaruh positif terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara yang terdaftar di BEI periode 2016-2020.

Ditunjukkan dengan nilai beta sebesar - 82760,772 dengan nilai signifikan 0,831 sehingga dapat disimpulkan dalam penelitian ini bahwa return on assets berpengaruh positif signifikan dalam memprediksi financial distress. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wiwin yadiati (2017), Al Khatib dan Al horani (2012), Reno Furqon kusumawardana (2011), yang menunjukkan bahwa profitabilitas yang diukur

(11)

dengan return on assets berpengaruh positif terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara tahun 2016-2020.

4. Variabel paling dominan mempengaruhi Financial distress

Berdasarkan hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel profitabilitas yang diukur dengan return on assets (ROA) merupakan variabel yang memiliki nilai beta paling tinggi - 82760,772 dan nilai signifikan terkecil yaitu 0,831. Diantara variabel likuiditas, leverage, dan profitabilitas, variabel profitabilitas merupakan variabel paling dominan berpengaruh terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan pada periode 2016-2020. Hal ini berarti bahwa kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan harus lebih diperhatikan dan ditingkatkan untuk mengurangi potensi financial distress karena variabel profitabilitas yang paling dominan mempengaruhi financial distress dibandingkan variabel likuiditas dan leverage.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data yang telah diuraikan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Variabel likuiditas yang diukur dengan current ratio berpengaruh signifikan terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara di BEI periode 2016-2020.

2. Variabel leverage yang diukur dengan debt to asset ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara periode 2016- 2020.

3. Variabel profitabilitas yang diukur dengan return on assets berpengaruh signifikan terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan batubara periode 2016- 2020.

SARAN

1. Bagi pihak manajemen perusahaan sektor pertambangan batubara lebih

memperhatikan serta meningkatkan nilai return on assets (ROA) perusahaan dengan cara meningkatkan nilai kinerja penjualan atau produksinya serta mengelola dengan manajemen yang tepat karena ROA merupakan rasio yang paling dominan dalam mempengaruhi kondisi financial distress.

2. Bagi peneliti selanjutnya, peneliti menyarankan menggunakan indikator rasio keuangan lainnya agar dapat memperoleh hasil yang lebih bervariatif misalnya rasio aktivitas, dan sebagainya dan menggunakan rasio lainnya yang terdapat dalam rasio likuiditas, leverage, dan profitabilitas.

Daftar Pustaka

Agusti, Prasetya Chalendra (2013). “Analisis factor yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya financial distress”. Universitas Diponegoro Semarang.

Al-Khatib, B Hazem dan Al Horani, Alaa (2012).“Predicitng financial distress of public companies list in Amman stock exchange”.European Scientific Journal.Volume 8 nomor 15, Tahun 2012.

Almilia, Luciana Spica dan Herdinigtyas, Winny (2006).“Analisis rasio CAMEL terhadap kondisi bermasalah pada lembaga perbankan periode 2000-2002”.

Fakultas Ekonomi –STIE Perbanas Surabaya.

Atika, dkk (2013).“Pengaruh beberapa rasio keuangan terhadap prediksi kondisi financial distress”.Universitas Brawijaya

Malang.

Andre, Orina (2013). “Pengaruh profitabilitas, likuiditas dan leverage dalam memprediksi financial distress”.

Universitas Negeri Padang 2013.

Bahri, Syaiful dan Widyawaty,Nurul (2015).

“Analisis prediksi kebangkrutan pada perusahan yang di delisting di bursa efek indonesia”. Jurnal Ilmu dan Reset Manajemen.Volume 4 nomor 8, Agustus

(12)

2015.

Bintarti, Surya (2015). “Metodologi penelitian ekonomi manajemen.Jakarta: Mitra Wacana Media.

Brahmana, K Rayenda (2017).“Identifying financial distress condition in Indonesia manufacture industry”. University of Birmingham United Kingdom.

Cherotich, Emmy Koech dkk

(2018).”Prediction of financial distress in the light of financial crisis: A case of listed firms in Kenya”. International journal of economics, commerce and management united kingdom. Volume VI nomor 6, Juni 2018.

Ellen dan Juniarti (2013).“Penerapan good corporate governance, dampaknya terhadap prediksi financial distress pada sektor aneka industry dan barang konsumsi”.Journal Business Accounting Review. Volume 1 Nomor 2,2013.

Fahmi, Irham (2012), “Analisa laporan keuangan”. Bandung: Alfabeta.

Ghozali, Imam (2012). “Aplikasi analisi multivariable dengan program SPSS 20”.Edisi 6 Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Hanifah, Earning Oktita (2013).“Pengaruh stuktur corporate governance dan financial indicators terhadap kondisi financial distress”. Universitas Diponegoro Semarang.

Hidayat, Arif dan Meiranto, Wahyu (2014).

“Prediksi financial distress perusahaan manufaktur di Indonesia”. Diponegoro Journal Of Accounting. Volume 3 nomor 3,Tahun 2014.

Kusumawardana, Furqon Reno dan Aisjah, Siti (2011).”Analisa rasio keuangan untuk

memprediksi financial

distress”.Universitas Brawijaya, 2011.

Marwati, Dian (2013). “Analisis rasio keuangan untuk memprediksi kondisi financial distress pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek indonesia”.

Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

Pranowo, Koes dkk (2010). “Determinant of corporate financial distress in an emerging market economy: Empirical evidence from the Indonesian stovk exchange 2004-2008”. International research journal of finance and economics.Volume 52, tahun 2010.

Rahmadani,Novita dkk (2014). “Analisis pengaruh rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio rentabilitas ekonomi dan rasio leverage terhadap prediksi

financial distress. E-Journal S1 Ak Universitas pendidikan ganesha.

Volume 2 nomor 1, Tahun 2014.

Setiawan, Heri dan Amboningtyas,Dheasey (2016). “Financial ratio analysis for predicting financial distress conditions”.Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Pandanaran Semarang.

Simanjuntak, Criston dkk (2017).“Pengaruh rasio keuangan terhadap financial

distress”.E-Proceeding of management.

Volume 4 Nomor 2, Agustus 2017.

Srikamilah (2017). “Pengaruh profitabilitas, likuiditas dan leverage dalam memprediksi financial distress.Junal Akuntansi & Ekonomi FE.UN PGRI Kediri.Volume 2 Nomor 1, Maret 2017.

Suprihatin, Sri Neneng (2016). “Pengaruh rasio keuangan dan reputasi underwriter terhadap financial distress pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek indonesia periode 2005- 2008”.Jurnal Akuntansi Volume 3 nomor 1, Januari 2016.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.

Bandung: PT Alfabet.

Vitarianjani, Novadea (2014). “Prediksi kondisi financial distress dan faktor yang mempengaruhi studi empiris pada perusahaan batubara yang terdaftar di bursa efek indonesia tahun 2011-2014”.

Universitas Jember (UNEJ) 2014.

Yadiati, Winwin (2017). “The influence of profitability on financial distress: A research on agricultural companies listed in indonesia stock exchange”.

International journal of scientific &

technology research.Volume 6 nomor 11, November 2017.

Weiwei,D dan Jimming,L (2011). “An empirical study the corporate financial distress prediction based on logistic model:

Evidence from china’s manufacturing industry”. International Journal of digital content technology and its aplicatons.Volume 5 nomor 6, Juni 2016.

Weston, Fred dan Thomas E Copeland, 1995.“Financial management “.

Terjemahan oleh A.Jaka Wasana dan Kibrandoko, Manajemen Keuangan Jilid 1,2000.

Wijanarto, Hery dan Nurhidayati, Anik (2016).

“Pengaruh rasio keuangan dalam memprediksi financial distress pada perusahaan di sektor pertanian dan

(13)

pertambangan yang terdaftar di bursa efek indonesia”. Junal Administrasi Bisnis.Volume 3 Nomor 1, Desember 2016.

www.bursa efek indonesia.com

Referensi

Dokumen terkait

purposive sampling yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu, sehingga sampel yang diperoleh pada penelitian ini berjumlah 131 perusahaan manufaktur

Penarikan sampel menggunakan cara purposive sampling , artinya bahwa penentuan sampel mempertimbangkan kriteria-kriteria tertentu yang telah dibuat terhadap obyek yang sesuai

Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik probability sampling dengan cara purposive judgement sampling , yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria yang telah

Secara simultan profitabilitas, likuiditas, dan leverage berpengaruh terhadap financial distress dengan sig 0,000 &lt; 0,05 pada Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka

Penarikan sampel menggunakan cara purposive sampling, artinya bahwa penentuan sampel mempertimbangkan kriteria-kriteria tertentu yang telah dibuat terhadap obyek yang sesuai

Pengaruh likuiditas, solvabilitas dan ukuran perusahaan terhadap financial distrees dengan profitabilitas sebagai variabel moderasi Studi pada perusahaan BUMN yang terdaftar di Bursa

Total populasi pada penelitian ialah193 industri manufaktur yang terdapat pada BEI periode 2018-2021.Metode pengumpulan sampel merupakan purposive sampling,perusahaan yang memenuhi

Metode pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, yaitu pada tabel berikut: Proses Seleksi Sampel Penelitian Kriteria