56
KOMISI XI (BIDANG : DEPARTEMEN KEUANGAN, BANK INDONESIA, KANTOR MENTERI NEGARA
PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL I KEPALA BAPPENAS, PERBANKAN DAN LEMBAGA
KEUANGAN BUKAN BANK, BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN (BPKP),
BADAN PUSAT STATISTIK (BPS), SETJEN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BPK) RI DAN LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH (LKPP).
Tahun Sidang : 2010 - 2011 Masa Persidangan : 1
Rapat Komisi Ke : 4
Jenis Rapat : RAKER
Dengan : Menteri Keuangan dan Menteri Hukum dan HAM
Sifat Rapat : Terbuka
Hari/Tanggal : Kamis, 26 Agustus 2010
Waktu : Pukul 10.00 WIB
Ketua Rapat : Ir. H. Emir Moeis, M.Sc
Sekretaris : Drs. Urip Soedjarwono/Kabag.Set Komisi XI DPR RI Tempat : Ruang Rapat Komisi XI DPR RI Gd. Nusantara 1 Lt. 1 Acara : - Tanggapan Fraksi atas DIM Pemerintah RUU Mata Uang
- Pembahasan/Penyisiran DIM
- Pembentukan Panja RULI Mata Uang
Anggota hadir : 39 Orang dari 50 Anggota Komisi XI DPR RI
Undangan hadir : Menteri Keuangan dan Menteri Hukum dan HAM beserta Jajarannya
FRAKSI PARTAI DEMOKRAT FRAKSI PKS
1. ACHSANUL QOSASI 32. IR. MEMED SOSIAWAN
2. I WAYAN GUNASTRA 33. KEMAL AZIS STAMBOEL
3. HJ. VERA FEBYANTHY 34. Dr. K.H. SURAHMAN HIDAYAT, MA
4. A. REZA ALI 35. H. YAN HERIZAL, SE
57
5. HJ. ITT OCTAVIA JAYABAYA, SE., MM. 36. H. ANDI RAHMAT, SE 6. HJ. YETTI HERYATI
7. IR. LIM SUI KHIANG, MH FRAKSI PAN
8. IR. HJ. A.P.A. TIMO PANGERANG 37. H. ASMAN ABNUR, SE., M.Si
9. SRI NOVIDA, SE 38. H. NASRULLAH
10. ANDI RACHMAT 39. M. ICHLAS EL QUDSI, S.Si., M.Si 11. H. DARIZAL BASIR 40. LAURENS BAHANG DAMA 12. BOKIRATU NITABUDHI SUSANTI, SE (IZIN) 41. MUHAMMAD HATTA 13. H. PAIMAN
14. DRS. SUPOMO
FRAKSI PARTAI GOLKAR FRAKSI PPP
15. MELCHIAS MARCUS MEKENG 42. H. MAIYASYAK JOHAN, SH., MH 16. Dr. H. HARRY AZHAR AZIS, MA 43. MUSTOFA ASSEGAF, M.SI 17. DRS. ADE KOMARUDIN, MH 44. TGK. H. MOH. FAISAL AMIN 18. NUSRON WAHID
19. DRS. KAMARUDDIN SJAM, MM
20. IR. H. AHMADI NOOR SUPIT FRAKSI KEBANGKITAN BANGSA 21. IR. A. EDWIN KAWILARANG (IZIN) 45. PROF. Drs, H. CECEP SYARIFUDDIN 22. IRENE MANIBUY, SH 46. DRS. H. BAMBANG HERI PURNAMA, ST 23, EDISON BETAUBUN, SH., MH.
FRAKSI PARTAI PDI PERJUANGAN FRAKSI GERINDRA
24. IR. H. I. EMIR MOEIS, M.Sc 47. DR. SUMARJATI ARJOSO, SKM.
25. OLLY DONDOKAMBEY, SE. 48. IR. SADAR SUBAGYO 26. MARUARAR STRAIT, SIP
27. I GUSTI AGUNG RAI WIRAJAYA, SE., MM 28. DRA. EVA KUSUMA SUNDARI, MA., MDE.
29. Dr. IR. ARIF BUDIMANTA, M.Sc FRAKSI HANURA
30. INDAH KURNIA 49. DRS. H. MUCHTAR AMMA, MM.
31. IR. DOLFIE OFP 50. DRS. H.A. FAUZI ACHMAD, MBA
58
JALANNYA RAPAT:
KETUA RAPAT (Ir. H. I EMIR MOEIS, M.Sc. I F-PDIP):
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Syaloom.
Om swastiastu.
Yang terhormat Menteri Keuangan beserta seluruh jajarannya yang hadir pada siang hari ini, Yang terhormat yang mewakili Menteri Hukum dan HAM serta jajarannya yang hadir pada hari ini, dan juga terutama sekali rekan-rekan sejawat yang terhormat Anggota Komisi XI DPR RI dan hadirin sekalian yang berbahagia.
Menurut catatan yang kami terima dari Sekretariat, daftar hadir telah ditandatangani oleh 27 orang dari 50 Anggota Komisi XI DPR RI yang terdiri dari 9 fraksi dari 9 fraksi. Berdasarkan Tata Tertib DPR RI Pasal 245 ayat (1) rapat ini telah kuorum untuk itu perkenankan dan izinkan kami untuk membuka Rapat Kerja Komisi XI DPR RI dengan Menteri Keuangan dan Menteri Hukum dan HAM atau mewakilinya dan dinyatakan terbuka untuk umum.
(RAPAT DIBUKA PUKUL 10.50 WIB)
Saudara Menteri Keuangan, Wakil dari Menteri Hukum dan HAM, Anggota Dewan, serta Hadirin yang kami hormati.
Mengawali Rapat Kerja hari ini marilah bersama-sama kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan hidayah-Nya kita semua bisa berkumpul di sini pada hari ini untuk melakukan tugas-tugas konstitusional kita. Dan semoga hal-hal yang kita bicarakan dapat bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Hadirin sekalian.
Sebagaimana proses pembahasan RUU, agenda Rapat Kerja kita hari ini adalah yang pertama tanggapan fraksi-fraksi atas DIM RUU Mata Uang dari pemerintah, kemudian ada penyisiran DIM RUU tentang Mata Uang, pembentukan Panja, dan penjadwalan dalam Rapat-rapat Panja, Timus, dan Timsin.
Perlu kami sampaikan di sini bahwa untuk penyisiran DIM RUU mungkin yang tetap itu dan sudah, kalau dari pemerintah tetap artinya sudah sepakat dengan DIM dari DPR RI karena inikan inisiatif. Itu bisa kita setujui pada siang ini. Selanjutnya nanti yang belum itu setelah kita bentuk Panja akan dibahas di dalam Panja
Untuk mempersingkat waktu kita mulai saja agenda Rapat Kerja kita yang pertama untuk pembahasan undang-undang ini yaitu tanggapan fraksi-fraksi terhadap DIM RUU Mata Uang yang diberikan oleh pemerintah. Untuk itu urutan pertama kami persilakan kepada Fraksi Partai Hanura.
Kami persilakan Pak.
Ir. DOLFIE OFP I F-PDIP:
Pimpinan, interupsi sebentar.
59
Dolfie, Pimpinan.
Saya ingin mendapatkan penjelasan dulu dari pemerintah pada hari ini tidak dihadiri Menteri Hukum dan HAM. Kemana Menteri Hukum dan HAM? Apa sedang memberi grasi atau kemana, mohon dijelaskan dulu Pimpinan.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak.
Karrii persilakan. Dan tolong sebutkan juga status dan posisi Bapak di sini.
MENTERI KEUANGAN (AGUS MARTOWARD0J0):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Selamat pagi.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Kami menjelaskan bahwa Menteri Hukum dan HAM pada pagi hari ini ada seleksi dalam bentuk wawancara untuk pemilihan Anggota KPK, Ketua dan Anggota KPK. Sehingga pada kesempatan sekarang ini diwakili oleh Dirjeri Perundang-undangan. Kalau diperkenankan kita tetap melaksanakan forum sidang ini.
KETUA RAPAT:
Begitu Pak Dolfie karena diwakili oleh Eselon I jadi kita juga bisa menerimanya. Baik, silakan Pak Muchtar Amma.
Drs. H. MUCHTAR AMMA, M.M. I F-P.HANURA:
TANGGAPAN FRAKSI PARTAI HATI NURANI RAKYAT DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
TERHADAP DAFTAR ISIAN MASALAH RANCANGAN UNDANG-UNDANG
MATA UANG OLEH PEMERINTAH
Disampaikan oleh Drs. H. Muchtar Amma, M.M.
Anggota DPR RI : A-15 Assalamu'alaikum Warahmatuilahi Wabarakaatuh.
Yang terhormat Pimpinan Rapat Komisi XI DPR RI,
Yang terhormat Menteri Keuangan dan Menteri Hukum dan HAM yang mewakili pemerintah, Yang terhormat para Anggota DPR RI Komisi XI,
Dan hadirin sekalian yang berbahagia.
Pertama-tama manlah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat rahmat dan karunia-Nya lah sehingga pada had ini Seriin, 23 Agustus 2010 dalam suasana
bulan suci Ramadhan kita bisa hadir bersama-sama dalam rangka menjalankan tugas konstitusional
kita sebagai wakil rakyat.
60
Menanggapi Daftar Isian Masalah Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang yang telah diserahkan oleh pemerintah pada tanggal 20 Juli 2010, Fraksi Partai Hanura berpendapat sebagai berikut: :
1. Rancangan Undang-Undang Mata Uang adalah amanat konstitusi Pasal 23B Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan juga terkait dengan Pasal 77A Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 serta Pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Sehingga dapat ditafsirkan bahwa macam dan harga mata uang harus diatur lebih detail dalam undang udang tersendiri yang terpisah dari Undang-Undang Bank Sentral.
2. Pengaturan mata uang dalam undang-undang tersendiri hendaknya dilihat sebagai upaya untuk memperkuat mata uang sebagai salah satu simbol dari kedaulatan negara Republik Indonesia di samping bendera, bahasa, lambang negara, dan lagu kebangsaan. Dan sejatinya filosofi dari Rancangan Undang-Undang Mata Uang ini lebih fokus pada pengaturan fisik uang seperti pencetakan fisik, pengetadaran fisik, pemalsuan fisik uang, dan lain-lain, dan bukan harga atau nilai tukarnya karena hal ini sudah diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia.
3. Beberapa usulan dari Daftar lsian Masalah Rancangan Undang-Undang yang bersifat redaksional seperti dalam beberapa pasal yang telah diusulkan oleh pemerintah, kami memandang adalah hal yang positif untuk menghindari terjadinya multitafsir terhadap klausul-klausul yang diusulkan oleh DPR dan untuk itu diperlukan adanya pembahasan yang melibatkan para ahli.
4. Terkait dengan adanya keinginan pemerintah untuk ikut membubuhkan tanda tangan dalam mata uang seperti yang diusulkan dalam Daftar Isian Masalah Rancangan Undang-Undang Mata Uang versi pemerintah Nomor 41 yang berbunyi Pasal 5 huruf b "Tanda tangan pihak pemerintah dan Bank Indonesia", yang mana sebelumnya draf usulan DPR pada Pasal 4 huruf b berbunyi "Tanda tangan Gubernur Bank Indonesia dan salah satu anggota dewan gubernur". Fraksi Partai Hanura berpendapat bahwa perlu ada pembahasan yang lebih filosofis dan komperatif dengan negaranegara lain yang menganut sistem kebariksentralan. Karena seperti diketahui uang yang dicetak dan masih disimpan di Peruri tentunya belum sah sebagai uang rupiah karena belum dikeluarkan dari bank sentral. Dan uang rupiah yang dikeluarkan dari bank sentral selanjutnya akan memiliki nilai seperti yang tertera dalam mata uang dan secara otomatis akan menjadi utang bank sentral sebagai penandatangan dalam mata uang kepada masyarakat.
5. Dan beberapa pasal perubahan yang diusulkan oleh pemerintah dengan pertimbangan check and
balances dan penegakan prinsip-prinsip good governance dalam pengelolaan mata uang kami
melihat terdapat beberapa usulan dalam Daftar Isian Masalah yang diminta untuk melibatkan
pemerintah dalam operasional pengelolaan seperti penetapan pecahan mata uang Pasal 3,
perribubuhan tanda tangan Pasal 4, pemilihan bahan baku Pasal 9, penyediaan jumlah rupiah
yang beredar Pasal 13, pemusnahan Pasal 18, serta kewenangan menentukan kualitas, serta
61
kewenangan menentukan keaslian rupiah Pasal 27. Fraksi Hanura memandang usulan-usulan tersebut adalah point krusial dan kritikal yang bisa memperlembah independensi Bank Indonesia sebagai bank sentral dan penjaga stabilitas moneter.
Saudara Pimpinan dan Sidang yang terhormat,
Atas pertimbangan tersebut di atas kami dari Fraksi Partai Hanura menyatakan menerima Daftar Isian Masalah Rancangan Undang-Undang Mata Uang dari pemerintah dan setuju untuk dilakukan pembahasan lebih mendalam pada sidang-sidang panitia kerja Rancangan Undang-Undang Mata Uang.
Demikianlah pemandangan umum dari Fraksi Partai Hanura mengenai Daftar Isian Masalah Rancangan Undang-Undang Mata Uang yang telah diajukan oleh pemerintah. Semoga Allah SWT meridhoi segala usaha yang telah kita lakukan untuk rakyat, bangsa, dan negara.
Terima kasih.
Saatnya Hati Nurani Bicara.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Jakarta, 23 Agustus 2010 FRAKSI PARTAI HATI NURANI RAKYAT
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
Ketua, Sekretaris,
H. SUNARDI AYUB, S.H. SALEH HUSIN, S.E., M.Si.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Muchtar Amma dari Fraksi Hanura.
Selanjutnya Pak Mustafa Assegaf dari Fraksi Persatuan Pembangunan. Kami persilakan.
MUSTOFA ASSEGAF, M.Si. / F-PPP:
Terima kasih Pimpinan.
Bismillahirrahmanirrahim.
TANGGAPAN
FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN DPR RI TERHADAP
KETERANGAN PEMERINTAH ATAS
DIM RUU TENTANG MATA UANG Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Yang terhormat Bapak-bapak Pimpinan Rapat,
Yang terhormat Saudara Keuangan Republik Indonesia beserta seluruh jajarannya,
Yang terhormat Menteri Hukum HAM dan Perundang-undangan RI atau yang mewakilinya
beserta jajarannya,
62
Yang terhormat rekan-rekan Anggota Dewan Komisi XI DPR RI, Dan hadirin yang berbahagia.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat, rahmat, dan inayah-Nya kita dapat hadir dalam rapat ini dalam rangka menjalankan tugas konstitusional kita yakni tanggapan fraksi-fraksi terhadap keterangan pemerintah atas DIM RUU tentang Mata Uang menjadi undang-undang.
Tidak lupa kami haturkan shalawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Saudara Pimpinan Rapat yang terhormat, Hadirin sekalian.
Kita menyadari bahwa dalam sistem perekonomian yang kian maju dan modern diperlukan sistem pembayaran yang sah dihormati dan dibanggakan dalam transaksi nasional maupun internasional guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Dalam transaksi tersebut kita telah sepakat bahwa mata uang rupiah menjadi alat pembayaran yang sah, sekaligus menjadi kebanggaan dan simbul kedaulatan negara. Menyadari hal ini kehadiran Undang-Undang tentang Mata Uang akan semakin memperkuat pengaturan mengenai kewajiban menggunakan mata uang rupiah sebagai alat pembayaran yang sah sebagaimana termuat dalam Undang-Undang tentang Bank Indonesia, Amanat Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 23 B juga mengamanatkan juga bahwa macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang.
Mengingat demikian pentingnya mata uang rupiah sebagai simbol kedaulatan negara sudah selayaknya jika mata uang rupiah juga dilindungi dari setiap bentuk tindakan kejahatan seperti pemalsuan mata uang rupiah atau uang rupiah tiruan, Aturan tentang uang rupiah sebagaimana termuat dalam Pasal 1, 7, dan 8 RUU tentang Mata Uang diharapkan bisa menjadi sebuah low enforcement dalam mengatasi pemaisuan mata uang rupiah atau uang rupiah tiruan yang kian hari kian meningkat. Aturan ini menurut Fraksi PPP juga bisa menggantikan pengaturan kejahatan mata uang lainnya sebagaimana diatur dalam KUHP Pasal 244, 252. Dengan demikian ketentuan mengenai tindak pidana kejahatan mata uang dalam KUHP Pasal 244 dalam negeri 252 tidak berlaku lagi sebagaimana termuat dalam Pasal 45 Bab XII tentang ketentuan penutup RUU Mata Uang.
Saudara Pimpinan dan hadirin yang terhormat,
Menurut Fraksi Partai Persatuan Pembangunan Pasal 8 RUU tentang Mata Uang yang telah
memuat tentang pengamanan dalam setiap pecahan uang rupiah sangat penting. Sehingga dengan
demikian setiap pecahan uang rupiah harus memiliki tanda pengaman. Demikian pula menyangkut
ketentuan mengenai ciriciri, design, tanda pengaman, dan bahan uang rupiah harus tetap datur
dengan peraturan Bank Indonesia sebagaimana termuat di dalam Pasal 10 RUU tentang Mata Uang
ini. Selain itu dalam pengedaran uang rupiah Bank Indonesia juga harus menetapkan tanggal, bulan,
dan tahun mulai berlakunya uang rupiah. Dalam melaksanakan kewenangan tersebut, Fraksi Partai
Persatuan Pembangunan memandang perlu aturan yang mewajibkan Bank Indonesia untuk
melaporkan secara periodik setiap 3 bulan kepada DPR RI sebagaimana termuat dalam Pasal 11 ayat
63
(5) RUU tentang Mata Uang. Bank Indonesia juga menjadi satu-satunya lembaga yang berwenang mengedarkan uang rupiah kepada masyarakat.
Terkait dengan ketentuan yang mengatur tentang pencetakan mata uang atau uang sebagaimana tercantum dalam Pasal 14 ayat (2) RUU tentang Mata Uang ini Fraksi PPP meminta agar tetap dipertahankan. Menurut Fraksi PPP pencetakan uang harus dilakukan di dalam negeri dengan menunjuk Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam pencetakan uang sebagaimana pelaksana pencetakan. Demikian pula dalam Pasal 11 dalam naskah RUU tentang Mata Uang usulan, DPR tetap harus dipertahankan atau tidak perlu diubah sebagaimana usulan pemerintah. Pasal 19 RUU tentang mata uang harus ada dan tidak perlu dihilangkan sebagaimana usulan pemerintah, Saudara Pimpinan Rapat yang terhormat, Hadirin sekalian.
Penanggulangan kejahatan atas mata uang membutuhkan pengaturan yang lebih komprehensif. Dalam penyusunan kebijakan dalam rangka menanggulangi tindak pidana mata uang perlu adanya paradigma baru dalam menangani perkara-perkara kejahatan pemalsuan mata uang yang menekankan bahwa tindak pidana tersebut bukanlah kejahatan yang sama dengan pemalsuan terhadap dokumen biasa. Mengingat bahwa pemalsuan uang menimbulkan dampak yang sangat luas.
Untuk itu Fraksi PPP meriilai Bank Indonesia perlu membentuk unit khusus yang berfungsi untuk menangani uang rupiah palsu. Unit khusus ini bertugas mernbentuk pusat data uang rupiah palsu, mengadministrasikan uang palsu, menyimpan contoh uang rupiah palsu sebagai dokumentasi dan melakukan pengkajian dan studi mata uang rupiah palsu tersebut. Hal ini termuat dalam Pasal 28 ayat (1) dan ayat (2) RUU tentang Mata Uang.
Fraksi PPP juga setuju bahwa kejahatan pemalsuan mata uang perlu diberikan hukuman yang berat dan setimpal antara lain dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap perekonomian negara. Kejahatan pemalsuan mata uang merupakan kejahatan yang berdampak luas. Sebab kekayaan korban dan kemarnpuannya menggunakan uang menjadi hilang. Yang bersangkutan menjadi pemegang uang palsu dan tidak bernilai.
Sementara itu terkait dengan beberapa usulan pemerintah sebagaimana termuat dalam usulan perubahan Pasal 20 ayat (1) dan (2), Pasal 21 ayat (1) dan (2), Pasal 23 dan Pasal 24, Pasal 25, dan Pasal 28 sudah tidak diperlukan lagi. Karena usulan DPR sudah baik dan tidak memerlukan perubahan.
Saudara Pimpinan Rapat yang terhormat, Rekan-rekan dan hadirin sekalian.
Demikianlah tanggapan Fraksi PPP terhadap keterangan pemerintah atas DIM RUU tentang Mata Uang untuk ditetapkan menjadi undang-undang. Kepada Saudara Pimpinan Sidang, rekan-rekan Anggota dan hadirin, kami haturkan terima kasih.
Wallahulmuwafiq ilia Aqwamithariq.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Jakarta, 26 Agustus 2010
64
PIMPINAN
FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
Ketua, Sekretaris,
Drs. H. HASRUL AZWAR, M.M. M. ROMAHURMUZIY, S.T. M.T.
KETUA RAPAT:
Kami persilakan Pak Dolfie dari PDI Perjuangan.
Ir. DOLFIE OFP / F-PDIP:
Terima kasih Pimpinan.
TANGGAPAN
FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
TERHADAP
DAFTAR INVENTARISASI MASALAH RANCANGAN UNDANG-UNDANG
TENTANG MATA UANG
Disampaikan oleh : Dolfie OFP Anggota Nomor : A-399 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Salam sejahtera bagi kita sekalian, Om swastiastu.
Yang terhormat Pimpinan Komisi XI DPR RI,
Yang terhormat Saudara Menteri Keuangan dan Saudara Menteri Hukum dan HAM yang mewakili pemerintah beserta jajarannya,
Rekan-rekan Anggota Komisi XI DPR RI, Serta hadirin yang kami hormati.
MERDEKA!!!
Terlebih dahulu marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpalian rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat melaksanakan rapat komisi pada hari ini dalam rangka melaksanakan tugas konstitusi dalam rangka menyampaikan tanggapan fraksi-fraksi terhadap DIM Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang.
Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang yang merupakan inisiatif DPR RI adalah
untuk memenuhi amanat konstitusi sebagaimana terkandung dalam Pasal 23B Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi "Macam dan harga mata uang
ditetapkan dengan undangundang". Uang dalam perekonomian suatu negara mempunyai fungsi yang
sangat penting dan strategis. Uang merupakan alat pembayaran yang sah dalam setiap kegiatan
65
transaksi atau ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat luas dalam sebuah negara. Karena itu uang suatu negara haruslah dapat diterima setidaktidaknya di negara yang bersangkutan. Sehingga dapat dikatakan tanpa uang perekonomian suatu negara akan lumpuh bahkan tidak dapat dilaksanakan.
Selain itu apabila dilihat secara khusus dari bidang moneter, uang yang beredar dalam suatu negara harus dikelola dengan baik dan dengan jumlah sesuai kebutuhan perekonomian negara. Uang juga menunjukan keberadaan atau eksistensi suatu negara. Untuk itulah RUU Mata Uang ini sangat diperlukan kajian mendalam, pendapat, dan pembahasan yang cermat dan terukur agar dapat memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi pengelola maupun dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebelum kami menanggapi Daftar Inventarisasi Masalah Rancangan Undang-Undang Mata Uang yang diajukan pemerintah, perkenankan kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang telah menyampaikan DIM RUU Mata Uang iri dengan tepat waktu, DIM merupakan sarana bagi pemerintah dan DPR RI dalam pembahasan RUU terhadap bab derni bab, bagian demi bagian, pasal demi pasal, dan ayat demi ayat. Termasuk penambahan dan penghapusannya derni menyempurnakan RUU dimaksud. Sehingga nanti dapat menjadi landasan kuat bagi pengelola dan pelaku-pelaku ekonomi.
Pimpinan, Anggota Dewan, dan Waki Pemerintah, serta hadirin yang kami hormati.
Berkaitan dengan DIM Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang yang disampaikan pemerintah maka Fraksi PDI Perjuangan DPR RI menanggapi beberapa hal yang patut mendapat perhatian antara lain:
1. Usul pemerintah mengenai pengelolaan mata uang yang tidak terkait dengan pengelolaan kebijakan moneter yaitu tahap perencanaan, pencetakan, dan pemusnahan uang. Terhadap perencanaan rupiah pemerintah mengusulkan perlu adanya mekanisme check and balances antara pemerintah dan Bank Indonesia. Karena itu pemerintah bersama dengan Bank Indonesia menentukan tahap perencanaan penentuan harga, macam, dan kebutuhan jumlah rupiah yang beredar. Menanggapi hal ini pemerintah perlu memperhatikan kewenangan dan tugas Bank Indonesia untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang merupakan suatu sistem yang terintegrasi. lni dimaksudkan agar pelaksanaan tugas dapat efektif dan efisien dalam mendukung pelaksanaan kebijakan moneter dan pembangunan perekonomian nasional sebagaimana diamanatkan Pasal 23B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Adanya keinginan pemerintah untuk ikut menandantangani uang kertas rupiah bersama dengan
Gubernur Bank Indonesia yang didasarkan pertimbangan filosofis merupakan simbol kenegaraan
dimana terdapat lambang negara Garuda Pancasila. Sejalan dengan itu maka Bank Indonesia
diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada teks uang kertas rupiah. Pemerintah
beralasan bahwa perubahan tersebut sesuai dengan amanat dalam Pasal 2 huruf A Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menggariskan bahwa
pengeluaran dan pengedaran uang merupakan hak negara. Menanggapi keinginan pemerintah
66
perlu memperhatikan independensi Bank Indonesia. Namun demikian harus dikaji lagi secara lebih mendalam asas-asas manfaat, ketepatgunaan sebelum diputuskan.
3. Menyangkut pencetakan rupiah sellayaknya dilakukan di dalam negeri dengan menunjuk Badan Usah Milik Negara yang bergerak di bidang pencetakan uang sebagaimana pelaksanaan pencetakan. Hal ini sesuai dengan PP Nomor 3 Tahun 2006 bahwa pencetakan uang dilakukan oleh Perum Peruri dan dukungan DPR sesuai suratnya Nomor KD.02/6408/DPR RI 2006 tanggal 24 Agustus 2006. Sedangkan pada naskah RUU dengan menggunakan produk dalam negeri sepanjang tersedia di dalam negeri dengan menjaga mutu, keamanan, dan harga yang bersaing dengan tetap memberikan wewenang pada Bank Indonesia.
4. Menjadi pertimbangan untuk dibahas lebih lanjut terhadap identitas dan lambang kedaulatan negara bahwa setiap transaksi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempunyai tujuan pembayaran, penyelesaian kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang, dan atau transaksi keuangan Iainnya di wilayah NKRI diwajibkan menggunakan rupiah. Namun demikian dalam hal tertentu dapat diberikan pengecualian dalam menjaga stabilitas perekonornian.
5. Keikutsertaan pemerintah dalam pemusnahan rupiah yang ditarik dari peredaran dapat mengganggu tugas dan wewenang Bank Indonesia yang bebas dari campur tangan pemerintah dan atau pihak lain. Sedangkan untuk mengetahui jumlah rupiah yang dimusnahkan efisiensi biaya dalam pengelolaan rupiah serta mengamankan jumlah uang rupiah yang beredar dapat dilakukan dengan laporan kepada pemerintah dan DPR RI dan dengan larangan yang tegas dan sanksi yang berat.
6. Pengaturan yang terkait dengan pemberantasan rupiah palsu sesuai dengan Pasal 27 ayat (1) dan (2) yang baru menggariskan bahwa pemberantasan rupiah palsu dilakukan oleh pemerintah melalui suatu badan yang mengkoordinasikan pemberantasan rupiah palsu yang keanggotaan badan tersebut terdiri dari unsur-unsur terkait dapat diterima. Namun menyangkut kewenangan untuk menentukan keaslian rupiah tetap berada pada Bank Indonesia sesuai naskah RUU usulan DPR RI Pasal 28 ayat (1) tanpa campur tangan pemerintah.
7. Dalam rangka menjamin akuntabilitas pelaksanaan pengeluaran dan pemusnahan rupiah perlunya Badan Pemeriksa Keuangan melakukan audit secara periodik paling kurang sekali setahun sejalan dengan ketentuan Pasal 23E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang menyatakan "Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri, dapat diterima untuk melengkapi RUU tentang Mata Uang"
8. Mengenai perlunya pemerintah dan Bank Indonesia melaporkan pelaksanaan kegiatan
pengelolaan rupiah secara periodik setiap 3 bulan kepada DPR khususnya dalam perencanaan
dan pemusnahan rupiah. Sebaiknya Bank Indonesia melaporkan pelaksanaan pengelolaan rupiah
secara periodik setiap 6 bulan kepada DPR dan pemerintah.
67
9. Kiranya Rancangan Undang-Undang Mata Uang ini dapat mengadopsi semua ketentuan yang berhubungan dengan mata uang yang selama ini telah berlaku baik. Selain itu masih diperlukan pembahasan lebih lanjut atas bagian bab. pasal, dan ayat RUU ini.
Pimpinan, Anggota Dewan, dan wakil pemerintah, serta hadirin yang kami hormati.
Berdasarkan pendapat, saran, dan penilaian terhadap DIM RUU tentang Mata Uang ini maka Fraksi PDI Perjuangan DPR RI berpendapat bahwa menerima DIM RUU tentang Mata Uang untuk dibahas lebih lanjut dalam Pembahasan Tingkat I.
Demikian tanggapan Fraksi PDI Perjuangan DPR RI terhadap DIM RUU tentang Mata Uang.
Atas segala perhatian peserta rapat dan hadirin yang terhormat kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Omsanti santi om.
Ketua Poksi Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Ir. H. I EMIR MOEIS, M.Sc
KETUA RAPAT:
Selanjutnya kepada Fraksi PKS kami persilakan, nanti disusul oleh Fraksi Demokrat. Silakan Pak.
KEMAL AZIS STAMBOEL / F-PKS:
Terima kasih.
TANGGAPAN
FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
TERHADAP
PANDANGAN PEMERINTAH ATAS
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
MATA UANG
Disampaikan oleh : Kemal Azis Stamboel Anggota : A-76
Bismillahirrahmanirrahim,
Yang kami hormati Pimpinan dan Anggota Komisi XI DPR RI,
Yang terhormat Bapak Menteri Keuangan dan Menteri Hukum dan HAM yang diwakili beserta seluruh jajarannya.
Serta hadirin yang berbahagia.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas lirnpahan rahmat,
taufiq, dan hidayah-Nya sehingga kita dapat menghadiri Rapat Kerja Komisi XI DPR RI dan pihak
68
pemerintah dalam rangka tanggapan fraksi-fraksi terhadap pandangan-pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang.
Amandemen keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 10 Agustus 2002 mengamanatkan bahwa macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang. Fraksi PKS memahami bahwasanya mata uang memiliki peran yang strategis untuk memfasilitasi dan memotivasi semua aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan konsumsi, produksi, tukar menukar, dan distribusi. Mata uang juga memiliki fungsi yang amat mendasar sebagai alat tukar menukar, sebagai suatu satuan hitung, sebagai penyimpan kekayaan atau resources liquid dan sebagai standar bagi penggunaan pembayaran.
Di samping keempat fungsi tersebut mata uang juga mempunyai fungsi dinarriis dimana uang mempengaruhi bekerjanya perekonomian dengan mempengaruhi tingkat harga, tingkat konsumsi, volume produksi, dan distribusi kekayaan. Fungsi dinamis uang yang menentukan kecenderungan tingkat harga di suatu negara tentunya berkaitan erat dengan pembentukan tingkat kesejahteraan rakyat. Mengingat dimana dalam sistem fiat money, nilai nominal yang tertera pada mata uang lebih tinggi daripada nilai inkrisi bahannya. Maka nilai kepercayaan masyarakat tentang mata uang merupakan hal yang sangat penting. Selain itu dalam konteks sosial politik mata uang juga dapat menjadi jangkar kedaulatan dan pemersatu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain juga menentukan martabat bangsa di forum internasional. Untuk itu dalam upaya untuk menjaga menjaga kepercayaan terhadap mata uang maka kita perlu memperkokoh Rancangan Undang-Undang Mata Uang dengan memperkuat sistem mata uang dan sistem pengelolaan yang baik dan akuntable.
Fraksi PKS mencatat beberapa pandangan pemerintah terhadap Rancangan Undang-Undang Mata Uang yang penting untuk diberikan tanggapan:
1. Fraksi PKS berpandangan bahwa good governance juga harus menjadi prinsip dalam pengaturan dan pengelolaan mata uang, Bank sentral perlu berkoordinasi dengan pemerintah dan DPR RI dalam perencanana mata uang sebagai pelaksanaan mekanisme check and balances yang merupakan wujud dari penerapan prinsip good governance.
2. Sedangkan terkait dengan pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan, penarikan, dan pemusnahan, Fraksi PKS berpandangan bahwa penentuan kewenangan tersebut perlu pembahasan lebih lanjut.
3. Dalam proses pelaksanaan pencetakan rupiah, Fraksi PKS berpandangan harus dilakukan oleh Badan Usaha Nlilik Negara. Namur' apabila BUMN terkait tidak sanggup melaksanakannya maka lernbega pencetak rupiah harus ditunjuk melalui proses yang jelas dan transparan serta akuntable. Skandal pencetakan uang di Australia yang tidak transparan pada masa lalu harus menjadi pelajaran yang berharga.
4. Fraksi PKS berpandangan bahwa Undang-Undang Mata Uang perlu untuk menetapkan ketentuan
yang mewajibkan back up currentcy, yaitu jarninan terhadap mata uang yang beredar. Tiadanya
kewajiban back up currency di Indonesia selama ini telah mengakibatkan kepercayaan
69
masyarakat mudah turun seiring dengan sentimen pasar yang bukan alasan fundamental ekonomi. Tiadanya kebijakan back up currency telah menyebabkan besarnya potensi abuse of power dari otoritas moneter yang menirnbulkan kerugian besar bagi rakyat.
5. Perlu back up currency ini rekomendasi dari tim peneliti Fakultas Hukum Universitas Air Langga yang terlibat dalam penyusunan naskah akademi Rancangan Undang-Undang Mata Uang ini. Hal ini juga sejalan dengan kecenderungan internasional dimana beberapa negara yang memiliki mata uang yang kuat dan stabil seperti Singapura melakukan back up mata uangnya dengan cadangan emas dan devisa lain sebesar 100%. Sementara Malaysia menjamin uang yang beredar dengan aset yang dimiliki sebesar 80,59%. Demikian juga India dan beberapa negara lainnya memperkokoh setelah cadangan emasnya digunakan. Dengan mewajibkan adanya back up currency diharapkan akan semakin memperkuat kepercayaan publik dan internasional terhadap rupiah, selain juga menjaga kehati-hatian bank sentral dalam menambah uang dalam perekonomian.
Hadirin yang karrii hormati,
Demikianlah pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dalam pembahasan selanjutnya Anggota Undang-Undang Mata Uang ini ke depan akan membawa kebaikan bagi banga, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Wabillahittaufiq Walhidayah.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
PIMPINAN
FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
Ketua, Sekretarls,
MUSTAFA KAMAL, B.S. KH. Ir. ABDUL HAKIM, M.M.
KETUA RAPAT:
Terima kasih.
Selanjutnya kepada Fraksi Gerindra, Pak Sadar.
Ir. SADAR SUBAGYO F-P.GERINDRA:
Terima kasih Pimpinan.
PANDANGAN
FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA DPR RI TERHADAP
DIM RANCANGAN UNDANG-UNDANG MATA UANG Disampaikan oleh : Ir. Sadar Subagyo
Anggota A-33 Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Salam sejahtera bagi kita semua.
70
Yang terhormat Saudara Pimpinan Komisi XI DPR RI,
Yang terhormat Menteri Hukum dan HAM RI atau yang mewakili, Yang terhormat Menteri Keuangan Republik Indonesia,
Serta hadirin yang berbahagia.
Pertama-tama marilah senantiasa kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat yang dilimpahkan kepada kita semua sehingga pada hari ini kita dapat bertemu dalam keadaan sehat wal’afiat.
Rancangan Undang-Undang Mata Uang yang sudah lama tertunda yakni dari periode 2004- 2009 pada scat ini haruslah menjadi prioritas pembahasan untuk segera diputuskan menjadi undang- undang. Rancangan Undang-Undang Mata Uang ini adalah amanat dari Pasal 23B Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi "Macam dan harga mata uang diatur dengan undang-undang". Dan juga Undang-Undang BI Pasal 77A yaitu ketentuari mengenai mata uang itu dimaksud dalam Pasal 23 undang-undang ini dinyatakan tetap berlaku sehingga diatur lebih lanjut dengan undang-undang tersendiri. Karena itulah Rancangan UndangUndang ini sangat penting untuk diatur tersendiri. Selain amanat undang-undang uang rupiah yang merupakan satu simbol kenegaraan harus dihormati dan diwujudkan dalam kepastian, keadilan, serta kemanfaatan hukum.
Pimpinan Sidang dan hadirin yang saya hormati.
Kami sangat menghargai Daftar Inventarisasi Masalah Rancangan Undang-Undang Mata Uang yang telah disampaikan oleh pemerintah kepada DPR. Yang sangat rinci mencapai kurang lebih 200an item. Terdiri dari penambahan konsideran, perbaikan redaksi, penghapusan dan penambahan kata atau kalimat, penambahan materi, substansi, perubahan judul bab, penambahan pasal, penambahan ayat, sampai penambahan dan penyempurnaan penjelasan.
Setelah mempelajari dengan seksama, perkenankanlah kami menyampaikan pendapat Fraksi Partai Gerindra secara ringkas sebagai berikut:
1. Bank Indonesia telah melaksariakan tugas pengedaran uang sejak Undang-Undang BI Nomor 11 Tahun 1953 dan sampai sekarang. Secara obyektif serta memperhatikan basepractise yang dilakukan oleh sebagian besar bank sentral di seluruh dunia dan selama ini sudah berjalan dengan baik. Serta telah mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak baik domestik maupun internasional.
2. Terhadap usulan pemerintah agar pengelolaan rupiah dimulai dari perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan, penarikan, serta pemusnahan dilakukan secara bersama antara Bank Indonesia dan pemerintah perlu dilakukan kajian secara mendalam agar tidak mengganggu independensi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dan sistem pembayaran nasional sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang BI sebagaimana telah beberapa kali diubah dan terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009.
3. Terhadap usulan pemerintah tentang perlunya dilakukan audit secara periodik oleh BPK minimal 1
tahun sekali, Fraksi Partai Gerindra berpendapat bahwa hal tersebut merupakan gagasan yang
71
sangat baik dan patut didukung oleh semua pihak demi tercapainya peningkatan tata kelola yang baik secara berkesinambungan.
Pimpinan dan hadirin yang saya hormati,
Demikian pandangan Fraksi Gerindra terhadap Daftar Inventarisasi Masalah Rancangan UndangUndang Mata Uang yang disampaikan oleh pemerintah kepada DPR. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Wabillahiffaufiq Walhidayah.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi IVVabarakaatuh.
Jakarta, 26 Agustus 2010
FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA DPR RI
Mewakili Ketua, Sekretaris,
Ir. SOEPRIYATNO EDHY PRABOWO, M.M., M.B.A.
KETUA RAPAT:
Yang terhormat dari Fraksi Demokrat kami persilakan, Pak Andi Rachmat.
ANDI RACHMAT, S.E. I F-PD:
Bismillahirrahmanirrahim.
PENDAPAT FRAKSI DEMOKRAT
TERHADAP
PENJELASAN PEMERINTAH MENGENAI DAFTAR INVENTARISASI MASALAH
ATAS
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
MATA UANG
Juru bicara: Andi Rachmat, S.E.
Anggota: A-552
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat Saudara Pimpinan Rapat Kerja Komisi XI DPR RI, Yang terhormat Saudara Menteri Keuangan beserta jajarannya,
Yang terhormat Saudara yang mewakili Menteri Hukum dan HAM beserta jajarannya, Anggota Komisi XI DPR RI dan hadirlin yang kami hormati.
Puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya pada
hari ini kita dapat menjalankan tugas konstitusional kita sebagai Anggota Dewan dalam Rapat Kerja
Komisi XI DPR RI untuk menyampaikan pendapat fraksi-fraksi terjadap penjelasan pemerintah
mengenai DIM atas RUU tentang Mata Uang.
72
Pembangunan nasional Indonesia pada hakekatnya adalah mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk merealisasikan maksud tersebut pembangunan di bidang ekonomi merupakan sektor yang perlu mendapatkan prioritas utama sehingga dapat mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Selanjutnya untuk mendukung pencapain maksud-maksud tersebut sangat diperlukan sarana pendukung yang sa!ah satunya adalah uang sebagai alat pembayaran yang sah suatu negara dalam melaksanakan setiap kegiatan perekonomiannya. Dad sisi moneter uang beredar harus dikelo!a dengan baik agar uang yang beredar jumlahnya sesuai dengan kebutuhan. Selain itu uang harus dibuat sedemikian rupa sehingga sulit ditiru atau dipalsukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Dalam hubungan ini maka perlu peran otoritas profesional untuk mengelola pencetakan uang dengan menentukan ciri-ciri dan alat pengaman serta peredaran uang yang direncanakan sesuai dengan kebijakan moneter yang ditetapkan bank sentral.
Saudara Pimpinan, Saudara Menteri, para Anggota DPR, dan hadirin yang kami hormati, Mengingat pentingnya fungsi uang dalam perekonomian sebagai alat pembayaran yang sah dan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap uang rupiah diperlukan pengaturan tentang macam dan harga mata uang dalam bentuk undang-undang guna mendapatkan kepastian hukum.
Dalam perjalanannya pengaturan tentang harga dan macam mata uang telah diatur dalam Undang- Undang Bank Indonesia dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Namun dernikian dalam perkembangannya pula pengaturan dalam Undang-Undang Bank Indonesia tidak sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 khususnya mengenai Pasal 23B yang mengamanatkan bahwa macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undangundang. Di samping itu dari sisi pidana dengan melihat perkembangan zaman diperlukan pengaturan mata uang yang komprehensif berkaitan dengan perbuatan pidana sehingga dapat mengakomodir semua bentuk kejahatan terhadap mata uang.
Saudara Pimpinan, Saudara Menteri, para Anggota DPR, dan hadirin yang kami hormati, Sebagaimana diketahui bahwa RUU tentang Mata Uang telah diajukan oleh DPR RI Periode 2004-2009 sebagai hak inisiatif. Namun hingga masa keanggotaannya berakhir RUU tersebut tidak dapat diselesaikan. Sehingga pada masa keanggotaan DPR Periode 2009-2014 RUU ini kembali menjadi RUU prioritas pada tahun 2010. Secara singkat RUU tentang Mata Uang ini terdiri dari 12 bab dan 46 pasal yang di antaranya mengatur tentang pengelolaan mata uang mulai dari proses perencanaan hingga sampai pada proses pemusnahan. Kewajiban penggunaan rupiah sebagai alat pembayaran dan penanganan peredaran uang palsu.
Dalam pembahasan RUU tentang Mata Uang, pemerintah telah mengajukan beberapa Daftar Inventarisasi Masalah atas Rancangan Undang-Undang tersebut antara lain:
1. Pemusnahan rupiah dilakukan bank sentral bersama dengan pemerintah.
73
2. Pencetakan rupiah dilaksanakan oleh BUMN dan bila BUMN tidak sanggup melaksanakannya maka pencetakan rupiah dilaksanakan oleh BUMN bekerja sama dengan lembaga lain yang ditunjuk melalui proses yang jelas, transparan, dan akuntable.
3. Pemerintah sebagai pihak yang menandatangani uang kertas rupiah.
4. Pemberantasan uang palsu dilakukan oleh bank sentral bersama dengan instansi penegak hukum dan atau badan lain yang ditunjuk presiden.
5. Dilakukan audit secara periodik terhadap pelaksanaan pencetakan, pengeluaran, dan pemusnahan rupiah oleh Badan Pemeriksa Keuangan.
6. Setiap transaksi keuangan di vvilayah Republik Indonesia haruslah dilakukan dengan menggunakan mata uang rupiah.
Dengan mempertimbangkan bahwa Undang-Undang Mata Uang dapat dijadikan sebagai landasan hukum yang kokoh baik dalam pengelolaan uang maupun dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara secara luas, Fraksi Partai Demokrat menyambut baik beberapa usulan pemerintah terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang yang akan mengatur berbagai hal mendasar tentang pengelolaan dan pengendalian mata uang rupiah tersebut.
Akhirnya dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, puji syukur kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, Fraksi Partai Demokrat menyatakan menerima pokok-pokok penjelasan pemerintah mengenai Daftar Inventarisasi Masalah atas Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang untuk dilanjutkan pembahasannya. Demikian pendapat Fraksi Partai Demokrat dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI pada hari ini, Kiranya Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa memberikan ridho- Nya kepada kita semua untuk dapat melanjutkan Rapat Kerja hari ini,
Wabillahittaufiq Walhidayah.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Jakarta, 26 Agustus 2010 PIMPINIAN
FRAKSI PARTAI DEMOKRAT DPR RI
Ketua, Sekretaris, ttd ttd DR. Ir. MOHAMMAD JAFAR HAFSAH SAAN MUSTOFA
Anggota : A-548 Anggota : A-480 KETUA RAPAT:
Selanjutnya kepada Fraksi Partai Golkar, silakan Pak Sjam.
Drs. KAMARUDDIN SJAM, M.M. / F-PG:
PANDANGAN
FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
ATAS
74
DAFTAR INVENTARISASI MASALAH RANCANGAN UNDANG-UNDANG
TENTANG MATA UANG
Dibacakan oleh: Drs. Kaimaruddin Sjam, M.M.
Anggota DPR RI nomor: A-247
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat Pimpinan Rapat Komlisi XI DPR RI, Yang terhormat Menteri Keuangan beserta jajarannya,
Yang terhormat Saudara yang mewakili Menteri Hukum dan HAM beserta jajarannya, Dan hadirin yang kami hormati.
Perkenankanlah kami mengajak: hadirin sekalian untuk memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT sehingga kita dapat mengikuti sidang hari ini dalam rangka menyampaikan pandangan fraksi-fraksi terhadap Daftar Inventarisasi Masalah Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang.
PimpMan Sidang dan hadirin yang kami hormati.
Keberadaan suatu negara yang berdaulat ditandai wilayah teritorial tertentu dan simbol-simbol kenegaraan antara lain berupa bendera, lambang negara, lagu kebangsaan, dan mata uang. Dilihat dari perekonomian, identitas negara yang paling berperan adalah mata uang. Uang sebagai alat pembayaran yang sah berfungsi antara lain sebagai alat penukar atau alat pembayaran atau pengukur harga. Menurut Glenn Davis tahun 2002, fungsi uang berkembang sebagai:
1. Komponen pembentukan harga pasar, 2. Faktor penyebab dalam perekonomian, 3. Faktor pengendali kegiatan ekonomi.
Mengingat peranan uang yang begitu pentingnya pengaturan terhadap mata uang merupakan suatu syarat perlu necessary condition dalam mempertegas identitas bangsa dan memperkokoh kedaulatan negara.
Pimpinan Sidang dan hadirin yang berbahagia.
Terkait penjelasan pemerintah dalam bentuk Daftar Inventarisasi Masalah terhadap Rancngan Undang-Undang tentang Mata Uang, Fraksi Partai Golongan Karya DPR RI berpandangan bahwa:
1. Pengelolaan kebijakan mata uang perlu dipaharni secara komprehensif mulai tahap perencanaan, pencetakan, sampai dengan pemusnahan uang. Meskipun aktifitas tersebut berada pada lingkup fisik uang namun hal ini dapat menyebabkan money multiplier yang akan berdampak terhadap pengambilan kebijakan moneter.
2. Agar mekanisme check and balances dapat terwujud perlu koordinasi antar pemerintah dan Bank
Indonesia yang lebih terukur dan sesuai dengan aturan perundang-undangan.
75
3. Sejalan dengan penggunaan larnbang negara Garuda Pancasila dan dalam fisik mata uang, pergantian frase dan logo Bank Indonesia menjadi frase Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI) dan loga Garuda Pancasila patut untLik dipertimbangkan dan dibahas lebih lanjut.
4. Unsur pengamanan security printing pencetakan uang sudah selayaknya, pencetakan rupiah dilakukan di dalam negeri dengan menunjuk Badan Usaha Milik Negara. Meskipun terkesan monopoli pelaksanaan pencetakan rupiah oleh BUMN dilaksanakan dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip good governance dalam hal BUMN tidak sanggup melaksanakan pencetakan rupiah lembaga pencetak rupiah harus ditunjuk melalui proses yang jelas, transparan, dan akuntable. Namun pencetakan rupiah jelas membutuhkan tingkat kerahasiaan yang tinggi karena tergolong dokumen penting negara. Dan perlu diatur seksama.
5. Sebagai salah satu identitas dan iambang kedaulatan negara sudah sewajarnya setiap transaksi di wilayah NKRI yang mempunyai tujuan pembayaran, penyelesaian kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang diwajibkan menggunakan mata uang rupiah. Namun demikian, dalam hal- hal tertentu dapat diberikan pengecualian penggunaan rupiah dalam menjaga stabilitas perekonomian. Selain itu perlu juga diperhatikan bagaimana ketentuan penggunaan mata uang rupiah terkait penerapan, single currency non rupiah yang merupakan salah satu turunan langkah dari implementasi Asean Economic Community seperti yang telah dilakukan oleh Uni Eropa.
6. Dampak yang ditimbulkan dari keberadaan uang palsu berpotensi memberikan shock terhadap perekonomian secara agregat. Turunnya kepercayaan masyarakat terhadap rupiah (uang palsu) dapat mengurangi wibawa negara. Sejauh ini payung hukum pemberantasan uang palsu diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1981 tentang Pengesahan Konvensi Internasional mengenai pemberantasan uang palsu beserta protokol. Dan Inpres Nomor 1 Tahun 1971 tentang Pembentukan Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal). Mengingat pentingnya hal tersebut maka Undang-Undang Mata Uang perlu mengatur secara tegas mekanisme pemberantasan uang palsu serta hukuman pidana bagi mereka yang dengan sadar melakukan kegiatan perbanyakan dan pengedaran uang palsu.
7. Aktifitas pelaksanaan pencetakan, pengeluaran, dan pemusnahan rupiah wajib dilakukan pemeriksanaan oleh BPK. Mekanisme dan aturan layak dibahas lebih lanjut.
Pimpinan Sidang dan hadirin yang berbahagia,
Meskipun terhadap catatan-catatan dari Fraksi Partai Golongan Karya untuk pemerintah namun Fraksi Partai Golongan Karya mengapresiasi usulan Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang untuk menciptakan harmonisasi dan sinkronisasi peraturan mengenai mata uang yang terintegrasi. Hal ini sematamata ditujukan untuk meningkatkan elfektifitas perekonomian nasional yang pada akhirnya adalah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
Berdasarkan beberapa pokok pikiran di atas, Fraksi Partai Golongan Karya DPR RI
menyatakan menyetujui pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah Rancangan Undang-Undang
tentang Mata Uang untuk dilaksanakan lebih lanjut menjadi undang-undang.
76
Demikian pandangan Fraksi Partai Golongan Karya. Semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan ridho-Nya kepada kita bersama dalam menunaikan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara.
Wabillahittaufiq Walhidayah.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Jakarta, 26 Agustus 2010 PIMPINAN KOMISI XI
FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA DPR RI KETUA,
DR. H. HARRY AZHAR AZIS, M.E
KETUA RAPAT:
Selanjutnya kepada Fraksi PAN dipersilakan.
MUHAMMAD HATTA I F-PAN:
TANGGAPAN
FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPLIBLIK INDONESIA TERHADAP
DIM RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
MATA UANG
Dibacakan oleh : Muhammad Hatta Nomor Anggota : A-121
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua.
Saudara Menteri Keuangan, Saudara Menteri Hukum dan HAM atau yang mewakilinya, Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kami hormati,
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat dan nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita sekalian sehingga pada hari yang berbahagia ini kita dapat melaksanakan tugas sebagai Anggota Dewan.
Saudara Menteri Keuangan, Saudara Menteri Hukum dan HAM atau yang mewakilinya, Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kami hormati,
Sebagaimana diketahui bahwa dalam rangka membahas Rancangan Undang-Undang
tentang Mata Uang yang merupakan Rancangan Undang-Undang Inisiatif DPR RI pada tanggal 20
Juli 2010 pemerintah telah menyampaikan Daftar Inventarisasi Masalah atau DIM atas Rancangan
77
Undang-Undang Mata Uang. Dalam DIM tersebut pemerintah memberikan penjelasan tanggapan serta naskah usulan perubahan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang. Dalam hal ini Fraksi Partai Amanat Nasional memberikan penghargaan kepada pemerintah yang telah memberikan respon positif terhadap RUU tentang Mata Uang dan menyampaikan DIM pemerintah terhadap RUU tentang Mata Uang.
Saudara Menteri Keuangan, Saudara Menteri Hukum dan HAM atau yang mewakilinya, Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kami hormati,
Dari kajian yang cukup mendalam terhadap DIM pemerintah terhadap RUU Mata Uang, Fraksi PAN menilai DIM yang disampaikan oleh pemerintah telah memenuhi mekanisme DIMy telah diatur bersama sehingga proses pembahasan DIM dapat dilanjutkan. Dalam pokok-pokok penjelasan pemerintah mengenai DIM atas RUU Mata Uang tersebut, pemerintah menekankan pentingnya menjaga independensi sebagai otoritas moneter sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23D dan UndangUndang 23 Tahun 1999 sebagaimana telah diamandemenkan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 bahwa Bank Indonesia yang ditugaskan sebagai bank sentral harus dijaga independensinya sebagai pemegang kewenangan kebijakan moneter atau monetary authority. Di sisi lain pemerintah memandang bahwa pengelolaan moneter tidak dapat dilepaskan dari kepentingan pemerintah secara keseluruhan dalam kehidupan bernegara.
Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 4 ayat (1) bahwa "Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar". Di sarnping itu pemerintah juga berpendapat bahwa fungsi dan peranan harus diimbangi dengan check and balances di antara lembaga sehingga menjamin adanya saling koritrol antara lembaga negara.
Dan pendapat tersebut pemerintah memandang bahwa pengelolaan mata uang terdiri dari tahap pengelolaan kebijakan moneter yaitu tahap pengeluaran dan pengedaran dan tahap yang bukan merupakan bagian dari kebijakan moneter yaitu tahap perencanaan, pencetakan, dan pemusnahan.
Sehingga pemerintah merasa perlu ikut serta bersama dengan Bank Indonesia dalam tahapan tersebut.
Fraksi PAN memandang bahwa pendapat pemerintah tersebut merupakan hasil kajian yang mendalam terhadap tata cara atau mekanisme pengelolaan mata uang yang ideal sehingga proses check and balances yang merupakan wujud dari prinsip good governance dapat terwujud. Namun Fraksi PAN juga perlu melakukan kajian yang mendalam pasal per pasal dalam keikutsertaan pemerintah dalam tahapan pengelolaan mata uang. Sehingga proses pengelolaan mata uang dapat berjalan secara efektif antara BI dan pemerintah.
Saudara Menteri Keuangan, Saudara Menteri Hukum dan HAM atau yang mewakilinya, Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kami hormati,
Dalam DIM pemerintah tentang RUU Mata Uang pemerintah juga memberikan usulan
perubahan teks dalam uang kertas rupiah yaitu menggantikan frase Bank Indonesia dengan Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Dengan pendapat bahwa rupiah adalah salah satu identitas atau
78
lambang kedaulatan negara sehingga lambang dan logo yang seharusnya tertera dalarn uang kertas adalah lambang dan logo Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu pemerintah mengusulkan untuk ikut menandatangani uang kertas bersama dengan Gubernur Bank Indonesia. Fraksi PAN berpendapat bahwa usulan pendapat pemerintah tersebut dapat dikaji lebih lanjut dan mendalam dalam pasal-pasal RUU tentang Mata Uang.
Saudara Menteri Keuangan, Saudara Menteri Hukum dan HAM atau yang mewakilinya, Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kami hormati,
Pengaturan pengelolaan rupiah meliputi perencanaan, pelaksanaan percetakan, pengeluaran, dan pengedaran, pencabutan, penarikan, dan pemusnahan dalam DIM pemerintah terhadap RUU Mata Uang pemerintah berpendapat bahwa dalam mekanisme pengelolaan mata uang dalam tahapan perencanaan, percetakan, maupun dalam tahapan pencabutan, penarikan, dan pemusnahan Bank Indonesia HAMs berkoordinasi dengan pemerintah dalarn pelaksanaan check and balances yang merupakan wujud dari penerapan prinsip good governance. Pemerintah berpendapat dilakukan pemusnahan antara Bank Indonesia dan pemerintah dimaksudkan untuk mengetahui jumlah rupiah yang dimusnahkan, efisiensi biaya dalam pengelolaan rupiah, serta mengamankan jumlah uang yang beredar.
Fraksi PAN berpendapat bahwa usulan pengaturan pengelolaan rupiah dalam hal tahapan pemusnahan dimana pemerintah dilibatkan bersama dengan Bank Indonesia merupakan usulan yang baik bagi pelaksanaan prinsip good governance. Untuk itu usulan tersebut dapat dikaji Iebih lanjut dalam pembahasan RUU tentang Mata Uang.
Saudara Menteri Keuangan, Saudara Menteri Hukum dan HAM atau yang mewakilinya, Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kami hormati,
Dalam upaya untuk memperkuat pemberantasan rupiah palsu di masa yang akan datang, pemerintah menyampaikan usulan untuk dibentuk satu badan yang ditetapkan oleh presiden. Badan ini terdiri dari unsurunsur Bank Indonesia, Badan Intelegen Negara, Kepolisian Negara, Kejaksaan Agung, dan Kementerian Keuangan. Susunan unsur-unsur tersebut dalam rangka penerapan prinsip check and balances sehingga tidak terjadi conflict of interest di masing-masing pihak.
Fraksi PAN berpendapat bahwa usulan dibentuknya badan tersebut sangat penting dalam rangka pemberantasan mafia peredaran uang palsu yang marak belakangan ini. Untuk itu usulan tersebut kami harapkan dapat ditindaklanjuti dalam pembahasan pasal per pasal RUU tentang Mata Uang.
Saudara Menteri Keuangan, Saudara Menteri Hukum dan HAM atau yang mewakilinya, Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kami hormati,
Pengajuan Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang ini juga dimaksudkan untuk
menata kehidupan perekonomian Indonesia dan mempertegas kedudukan mata uang rupiah sebagai
alat pembayaran yang sah, berfungsi sebagai alat tukar, atau alat pembayaran yang mengukur harga
di Indonesia. Dalam rangka menjamin akuntabilitas dalam pengelolaan mata uang rupiah yaitu
79
pelaksanaan pencetakan dan pengeluaran serta pemusnahan rupiah, pemerintah berpendapat bahwa perlu dilakukan audit secara periodik terhadap pelaksanaan percetakan dan pengeluaran, dan pemusnahan rupiah oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Selain itu juga pemerintah berpendapat bahwa Bank Indonesia dan pemerintah harus melaporkan pelaksanaan kegiatan secara periodik setiap 3 bulan kepada DPR khususnya dalam perencanaan dan pemusnahan rupiah.
Fraksi PAN berpendapat usulan pemerintah diadakannya audit secara periodik merupakan hal yang bersifat keharusan. Sehingga Fraksi PAN sangat setuju untuk dimasukan dalam pembahasan pasal per pasal RUU tentang Mata Uang. Pendapat pemerintah yang juga disepakati oleh fraksi kami adalah dilakukannya pelaporan pelaksanaan kegiatan pengelolaan rupiah secara periodik 3 bulan sekali. Untuk itu kami mengharapkan pasal tersebut dapat dibahas lebih lanjut
Saudara Menteri Keuangan, Saudara Menteri Hukum dan HAM atau yang mewakilinya, Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kami hormati,
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas Fraksi PAN berpendapat, DIM pemerintah RUU tentang Mata Uang dapat kami setujui untuk dilanjutkan ke tahap selanjutnya.
Demikian pendapat Fraksi PAN. Atas segala perhatiannya kami sampaikan banyak terima kasih.
Wabillahittaufiq Walhidayah.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Jakarta, 26 Agustus 2010 PIMPINAN
FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
Ketua, Sekretaris,
Ir. H. TJATUR SAPTO EDY, M.T. VIVA YOGA MAULADI, M.Si.
KETUA RAPAT:
Selanjutnya kepada Fraksi PKB kami persilakan.
Prof. Drs. H. CECEP SYARIFUDIN I F-PKB:
Bismillahirrahmanirrahim.
PENDAPAT
FRAKSI KEBANGKITAN BANGSA
"TERHADAP DIM PEMERINTAH TENTANG
RANCANGAN UNDANG-UNDANG MATA UANG Disampaikan oleh : Prof. Drs. H. Cecep Syarifudin
Anggota Nomor : A-151
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat Pimpinan dan rekan-rekan Anggota DPR RI,
Yang terhormat Menteri Keuangan dan seluruh jajaran,
80
Yang terhormat Menkum-HAM dan seluruh jajaran, Hadirin dan hadirat yang berbahagia.
Kita bersyukur kehadirat Allah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini di dalam suasana memperingati hari kemerdekaan bangsa kita, kita melaksanakan amanat konstitusi khususnya di dalam membahas Rancangan Undang-Undang Mata Uang.
Rancangan Undang-Undang Mata Uang ini sesungguhnya merupakan usul inisiatif dari DPR dan merupakan amanat dari Pasal 23B dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyebutkan bahwa macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang.
Alhamdulillah pemerintah juga telah merespon dengan telah menyarnpaikan DIM untuk menanggapi beberapa hal pokok berkaitan dengan isi dan substansi yang terkandung di dalam Rancangan Undang-Undang ini. Sejujurnya kami ingin menyampaikan penghargaan dan bahkan terima kasih isinya benar-benar komprehensif, visioner, dimuat hal-hal yang tetap sesuai dengan rancangan kami, dimuat juga perubahan substansi baru, perubahan ayat baru, bahkan penyesuaian pasal-pasal baru. lni merupakan sumbangsih dari pemerintah yang luar biasa untuk bisa memudahkan penyelesaian undang-undang ini. Oleh karena itu Fraksi PKB ingin menyampaikan beberapa hal berupa highlight pandangan ada 6 (enam) butir:
1. Sesuai dengan pokok-pokok penjelasari pemerintah mengenai DIM atas Rancangan Undang- Undang Mata Uang yang menghendaki pemerintah agar ikut serta bersama dengan Bank Indonesia dalam tahap perencanaan, penentuan harga, macam dan jumlah rupiah yang beredar.
F-PKB berpendapat bahwa selama ini dilakukan dalam konteks mekanisme check and balances sebagaimana dinyatakan oleh rekan rekan terdahulu antara pemerintah dan Bank Indonesia maka kami tidak berkeberatan. Namun di sini lain usulan pemerintah ini seyogyanya tidak sampai masuk pada ranah kebijakan moneter yang merupakan domain Bank Indonesia.
2. Terhadap usulan pemerintah yang bermaksud untuk ikut menandatangani uang kertas rupiah bersama Gubernur Bank Indonesia maka Fraksi PKB memandang perlu agar dibahas lebih dalam, lebih luas, khususnya nanti di dalam Panja. Termasuk dalam hal ini juga meminta masukan dari para ahli berkaitan dengan konsekuensi lebih lanjut terhadap usulan dalam DIM pemerintah atas Rancangan Undang-Undang Mata Uang yang menghendaki penghapusan Bank Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berkaitan dengan penggunaan lambang negara dalam percetakan uang kertas tersebut,
3. Fraksi PKB sependapat dengan pemerintah yang berpandangan perlunya mengedepankan unsur
pengaman atau security printing dalam pencetakan rupiah, Pencetakan rupiah dilakukan oleh
BUMN, dalam hal BUMN tidak sanggup melaksanakannya maka pencetakan rupiah dilaksanakan
oleh BUMN bekerja sama dengan lembaga lain yang ditunjuk melalui proses yang jelas,
transparan, dan akuntable. Untuk ini Fraksi PKB berpendapat bahwa dalam mengambil keputusan
81
terhadap lembaga lain yang akan melakukan pencetakan uang rupiah ini harus dikonsultasikan dulu kepada DPR RI.
4. Usulan DIM pemerintah tentang penambahan frase bersama dengan pemerintah dalam hal ini pemusnahan terhadap rupiah yang ditarik dari peredaran yang dalam RUU dilakukan oleh Bank Indonesia sehingga jadi dilakukan oleh Bank Indonesia bersama dengan pemerintah perlu dicermati secara proporsional. Keterlibatan pemerintah dalam pemusnahan rupiah jangan sampai memunculkan polemik bahwa pemerintah mengintervensi Bank Indonesia dalam pengelolaan kebijakan moneter. Untuk ini Fraksi PKB berpendapat perlu adanya kajian yang komprehensif serta adanya basepractise dari negara lain yang juga mengatur ketentuan mengenai hal ini.
5. Mengenai usulan pemerintah tentang pengaturan yang terkait dengan pemberantasan rupiah palsu harus dilaksanakan oleh Bank Indonesia bersama pemerintah melalui badan yang ditetapkan oleh presiden, menurut kami ini sangat penting untuk dikaji. Fraksi PKB berpendapat bahwa selama keberadaan badan tersebut menjadikan pemberantasan uang palsu bisa lebih efektif maka pembentukan badan ini bisa direalisasikan dan diatur dalam Rancangan Undang- Undang Mata Uang.
6. Fraksi PKB menyambut baik usul pemerintah tentang perlunya dilakukan audit secara periodik terhadap pelaksanaan pencetakan, pengeluaran, dan pemusnahan rupiah oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling kurang sekali dalam setahun. Selain itu Fraksi PKB juga sependapat dengan pemerintah perlu pemerintah dan Bank Indonesia melaporkan kegiatan pengelolaan rupiah per periodik setiap 3 bulan kepada DPR RI khususnya dalam perencanaan dan pemusnahan rupiah tersebut.
Demikianlah highlight pandangan kami dan kami menerima sepenuhnya DIM dari pemerintah dan menerima untuk dibahas pada pembahasan selanjutnya.
Wallahulmuwafiq Ila Aqwamithariq. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Jakarta, 26 Agustus 2010 PIMPINAN
FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
Ketua, Sekretaris,
H. MARWAN JAFAR, S.E., S.H. MUH. HANIF DHAKIRI
Mohon maaf karena alasan teknis nanti akan diberikan 10 menit lagi saja bahannya, karena mapnya ini kurang bagus.
KETUA RAPAT:
Baik, demikian Saudara-saudara telah kita dengarkan tanggapan dari fraksi-fraksi atas DIM
Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang dari pemerintah. Acara kita selanjutnya adalah
melakukan penyisiran DIM atau membicarakan DIM secara satu persatu. Terkait dengan penyisiran
DIM perlu kami sampaikan bahwa tim Sekretariat Komisi XI telah merekap DIM RUU tentang Mata
82
Uang dan setelah dilakukan rekapitulasi DIM dari 172 DIM itu yang tetap artinya tidak ada perubahannya sebanyak 52 DIM dan DIM dengan perubahan ada sebanyak 120. Perlu kami tambahkan atau kami jelaskan di sini bahwa undangundang ini adalah inisiatif dari DPR RI sehingga DIM itu dibuat oleh pemerintah dan disampaikan kembali kepada DPR RI. Dan 172 itu DIM RUU yang diusulkan oleh DPR RI itu 52 telah disetujui oleh pemerintah karena itu sifatnya tetap. Sehingga kami ingin tawarkan apakah yang sudah tetap itu dapat kita putuskan saja, sedangkan DIM yang dengan perubahan kita sepakati untuk dibahas di Panja.
Setuju begitu?
(RAPAT : SETUJU)
Namun kami ingatkan pula bahwa dalam penyusuran DIM selanjutnya kalau ada masalah- masalah yang terkait dengan DIM yang kita telah selujui tadi tidak tertutup kemungkinan untuk kita ubah kembali kalau memang jadi terkait.
Baiklah, kalau akan dilakukan penyisiran maka kita perlu membentuk Panja. Dan kalau ada hal-hal yang tadi saya sampaikan, jadi kalau claim DIM yang berubah yang kita bahas tadi ternyata ada perubahanperubahan yang memungkinkan untuk kita menarik kembali apa yang kita setujui itu tadi tetap bisa kita lakukan ya.
Silakan Ibu Indah.
INDAH KURNIA:
Mohon izin Ketua, sebelum melakukan penyisiran saya tadi hanya mendengarkan dan melihat RUU ini Pimpinan isinya selain macam harga kemudian feature dan juga ada pengelolaan tentang mata uang, saya hanya ingin menyampaikan saja apakah tidak perlu kita akomodir tentang rencana redenominasi yang beberapa waktu yang lalu dilontarkan oleh Gubernur BI. Sehingga orang tidak salah arti antara redenominasi dengan shanering dan sebagainya. Itu saja sedikit masukan dari saya.
Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Bu Indah.
Satu pemikiran yang kritis sekali.
Drs. H. MUCHTAR AMMA, M.M. / F-P.HANURA:
Mohon izin Pak Ketua.
Tadi saya belum menyampaikan pandangan Fraksi Hanura kepada Menteri Hukum dan HAM.
Mohon kesempatan ini bisa.
KETUA RAPAT:
Saya jawab dulu, habis ini Bapak ya.
Ibu ini pemikiran yang bagus sekali, mungkin nanti di dalam kalau untuk redenominasi sendiri
untuk sampai masuk undang-undang saya kira tidak ya. Itu adalah keputusan bersama saja. Tapi
kalau kita nanti mau menyediakan satu celah apa bisa dilakukan hal seperti itu ya bisa saja nanti di
83
dalam peningkatan DIM. Cuma kalau kita fokuskan ke situ ini jadi ramai nanti. Tanggapan dari masyarakat juga karena sekarang saja masih banyak sekali pro dan kontranya. Tap" satu pemikiran yang sangat kritis Bu dan ini kita simpan sebagai catatan.
Selanjutnya silakan Pak.
Bapak Menteri Keuangan, Menteri Hukum dan HAM atau yang mewakili, Anggota Dewan yang terhormat,
Serta hadirin sekalian.
Dengan selesainya acara kedua tadi maka sekarang kita akan membentuk Panja RUU tentang Mata Uang. Ada pun Anggota Panja RUU Mata Uang sebagaimana yang diusulkan oleh fraksi-fraksi adalah sebagai berikut, perkenankanlah kami untuk membaca ini masukan dari setiap fraksi.
Panja Rancangan Undang-Undang tentang Mata Uang.
1. ACHSANUL QOSASI : Ketua Panja
2. IR. H. I EMIR MOEIS, M.Sc. : Wakil Ketua 3. DR. H. HARRY AZHAR AZIS, M.A. : Wakil Ketua
4. KH. DR. SURAHMAN HIDAYAT, M.A. : Wakil Ketua FRAKSI PARTAI DEMOKRAT:
1. I WAYAN GUNASTRA
2. HJ. ITI OCTAVIA JAYABAYA,S.E., M.M.
3. HJ. VERA FEBYANTHY 4. ANDI RACHMAT, S.E.
5. LIM SUI KHIANG 6. DARIZAL BASIR FRAKSI PARTAI GOLKAR:
1. NUSRON WAHID
2. Drs. ADE KOMARUDIN, M.H.
3. Drs. KAMARUDDIN SJAM, M.M.
4. EDISON BETAUBUN, S.H., FRAKSI PDI PERJUANGAN:
1. I GUSTI AGUNG RAI WIRAJAYA, S.E., M.M.
2. MARUARAR SIRAIT, S.IP.
3. OLLY DONDOKAMBEY, S.E.
FRAKSI PKS:
1. ANDI RAHMAT, S.E.
2. Ir. MEMED SOSIAWAN FRAKSI PAN:
1. LAURENS BAHANG DAMA
84