• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Estetika. (di Timur)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perkembangan Estetika. (di Timur)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan

(2)

Perkembangan Estetika

(di Timur)

(3)

Pembahasan keindahan menurut pandangan di Timur dilakukan

berdasarkan kebudayaan tertua yang dipandang paling mendominasi

perkembangan peradaban Timur di masa lalu, yaitu:

1. Cina, 2. India,

3. Timur Tengah (Islam).

Keindahan Menurut

Pandangan Timur

(4)

Menganut kepercayaan bernama Tao (sumber nilai-nilai kehidupan).

Tao berarti jalan atau marga, atau sebagai sinar terang dan sumber dari segala sumber yang ada.

Bagi bangsa Cina, manusia dianggap sempurna apabila hidupnya

diterangi oleh Tao. Tao adalah kemutlakan, sesuatu yang memberikan keberadaan, kehidupan, dan kedamaian.

Kepercayaan inilah yang menjadi salah satu landasan estetika Cina.

Barang-barang buatan manusia dianggap indah apabila dinafasi

oleh Tao. Barang-barang yang indah merupakan penjelmaan dari Tao.

Bangsa Cina

01

Konsep keindahan bangsa Cina yang disemangati oleh

kepercayaan tentang Tao diperoleh melalui ungkapan salah seorang filosofnya, yaitu Kong Hu Cu.

(5)

Keindahan sebuah karya tidak dipandang sebagai totalitas yang sempurna.

Potensi buruk dianggap selalu hadir pada karya yang indah.

Demikian pula sebaliknya, pada karya yang buruk

dipandang memiliki potensi keindahan.

Pandangan ini dibentuk oleh filsafat Yin dan Yang yang dianggap

mengandung seluruh aspek kehidupan manusia.

Yin Yang

(6)

Filsafat Yin dan Yang.

Bahwa estetika pada akhirnya selalu relatif.

Di dalam jiwa manusia yang gersang rasa keindahan sesungguhnya masih mungkin dihidupkan roh keindahannya apabila yang bersangkutan

mempunyai kekuatan untuk mengubahnya.

Sebaliknya, mereka yang berbakat menciptakan keindahan justru dapat kehilangan daya estetiknya apabila kemampuannya tidak pernah

dimanfaatkan.

Yin Yang

(7)

1. Bersatunya Roh semesta dengan dirinya sehingga ia mampu menangkap keindahan dan kemudian mewujudkan pada karyanya.

2. Kemampuan menyerap roh kehidupan dengan cara mengesampingkan bentuk dan warna semarak, sehingga warna spiritual akan tampak dalam karya-karyanya.

3. Merefleksikan objek dengan menggambarkan bentuknya: yakni konsekuen terhadap objek atau yang disusunnya. Seni lukis Cina mementingkan esensi, bukan eksistensi.

4. Keselarasan dalam menggunakan warna.

Penggunaan warna lebih bersifat simbolisme, bukan bersifat fungsional.

5. Pengorganisasian, penyusunan, atau perencanaan dengan mempertimbangkan penempatan dan susunan.

6. Membuat reproduksi-reproduksi agar dapat diteruskan dan disebarluaskan.

Enam prinsip sebagai dasar bagi para seniman

Menurut Hsieh Ho (Abad V)

(8)

Studi-studi tentang estetika India sebagian besar berhubungan dengan puisi dan drama.

Drama lebih banyak mendapat perhatian karena dipandang sebagai seni yang paling bermutu tinggi, karena meminta perhatian daya lihat atau daya dengar (dua indera yang dianggap paling mampu mengangkat seseorang jauh di atas batasan-batasan "aku" yang sempit seperti pendapat beberapa pemikir India).

Bangsa India

02

Bangsa India juga sangat tekun mempelajari kesadaran estetik, baik dari sudut pandang penikmat maupun dari sudut pandang seniman.

Pandangan-pandangan estetiknya yang berkembang sangat dipengaruhi oleh kepercayaan Hindu-Budha.

(9)

Pandangan mengenai Keindahan

• Bhatara (buku Natyasastra) berpandangan bahwa 'rasa' lahir dari manunggalnya situasi yang ditampilkan bersama dengan reaksi dan keadaan batin para pelakunya yang senantiasa berubah.

• Anandavardhana berpandangan bahwa kata-kata mendapat nilai, arti, dan kemampuan baru dari puisi.

• Bhatta Nayaka berpendapat bahwa pengalaman estetik adalah semacam jatuhnya wahyu, artinya kebekuan rohani kita tersingkirkan sehingga kita dapat melihat kenyataan dengan cakrawala yang luas.

• Kaum Budhis menyatakan untuk membuat segala sesuatu itu seminimal mungkin dan bersahaja.

(10)

Banyak diwarnai oleh ajaran agama Islam yang berkembang Pandangan-pandangan tentang keindahan yang

berkembang dan kemudian mendasari penciptaan karya seni sangat terikat oleh aturan-aturan.

Ekspresi estetik yang menggambarkan makhluk hidup hampir tidak berkembang.

Hal itu disebabkan oleh keadaan masyarakat Timur Tengah sebelum Islam, yang pada umumnya menyembah berhala yang berwujud makhluk hidup dan bentuk-bentuk

keindahan lain, sehingga segala bentuk yang cenderung menyerupai berhala tidak dibolehkan.

Bangsa Timur Tengah

03

(11)

Estetika Islam dalam karya seni :

Para seniman boleh berkarya dengan maksud untuk ekspresi estetik. Kecuali jika seniman berkarya untuk

mencoba menandingi ciptaan Tuhan, atau membuat karya untuk diberhalakan, maka hal itu dianggap dosa.

Pembatasan diri seniman berekspresi estetik yang menggambarkan makhluk hidup justru memunculkan dimensi estetik yang unik, yakni bersifat simbolik dan nonnaturalis.

Contoh : kaligrafi, ornamen-ornamen geometris, arsitektur mesjid, motif stilasi tumbuhan pada permadani.

"Sungguh Allah telah mengharuskan keindahan dalam segala hal (Muslim), dan Allah itu indah dan gemar keindahan.

(HR. Muslim dan Tarmizi).

Berdasarkan pendapat itu, al-Gazali berkesimpulan bahwa, "Segala sesuatu yang indah itu dicintai, karena keindahan itu memberi kesenangan".

artinya bahwa keindahan itu dipandang senantiasa seiring dengan kesempurnaan.

(12)

Pertumbuhan estetika di Indonesia tidak dapat disejajarkannya atau disamakannya dengan pertumbuah estetika di dunia Barat.

ESTETIKA di

INDONESIA

(13)

Setiap buah pikiran dianggap milik bersama, membuat tidak dikenalnya tokoh (individu) dalam budaya lama Indonesia.

Demikian juga pada masa pra Hindu, Semangat kebersamaan tidak menonjolkan

“egoisme”.

Dapat dibuktikan pada

Karya-karya sastra lama, tidak diketahui siapa pengarang atau penulisnya.

Candi Borobudur (750M - 850M). Tidak diketahui siapa – siapa seniman yang terlibat dalam proses pembuatan Candi ini.

Konsep estetika pada masyarakat lama Indonesia sulit dilacak (tidak tertuang secara tertulis)

Penerapan langsung ke dalam karya-karya mereka.

Contoh : kapak, batu penggiling, arca, candi, guci dan sebagainya.

(14)

Peradapan masyarakat Indonesia sebelum Hindu

Pemujaan terhadap arwah nenek moyang, membuktikan bahwa mereka adalah manusia yang relegius, menghayati keindahan yang abadi, Tuhan.

Seni pembuatan arca dan seni hias menunjukkan bahwa mereka juga termasuk mahluk yang mencintai keindahan. Seperti halnya seni kerajinan yang mereka buat untuk memenuhi kebutuhan duniawi, seni hias mereka juga selain untuk

kebutuhan duniawi juga untuk

pengabdian kepada Yang Maha Esa (Tuhan).

(15)

Bibit-bibit pertumbuhan estetika melekat pada tujuan hidup dan alat untuk hidup itu sendiri.

Tujuan hidup meliputi aspek ideologis yaitu memuja alam, batu dan lainnya yang dianggap keramat, yang berkaitan dengan kepercayaan dan aspek gotong royong (kebersamaan). Bila

dikerjakan secara bersama-sama, semua terasa menyenangkan.

Sedangkan alat untuk hidup itu sendiri disebut aspek rupa (seni hias) yaitu penciptaan alat-alat untuk kepentingan kehidupan : Kapak, Arca, Nekara (Alat keperluan hidup sehari-hari dan kepentingan upacara keagamaan).

(16)

Konsep dan pertumbuhan estetika di Timur (Indonesia) dilandasi pertanyaan :

• Untuk apa keindahan?

• Bagaimana mewujudkannya?

Syarat keindahan menurut Ki Hadjar Dewantara dalam sebuah karya seni:

1. Berjenis-jenis/beraneka ragam isinya, 2. Lengkap serta utuh,

3. Patut (runtut),

4. Seimbang (harmonis).

Keindahan dalam diri seseorang disebut pengalaman estetik, tetapi dikemukakannya setelah konsep-konsep pemikiran Barat berkembang di Indonesia.

(17)

Masyarakat Melayu

01

Konsep Estetika

terdiri dari 3 aspek,

1. Aspek Ontologi. Keindahan puisi sebagai pembayangan kekayaan Tuhan Yang Maha Esa, berkat daya cipta-Nya keindahan mutlak dari Tuhan.

2. Aspek Imanen. Keindahan terungkap dalam kata-kata seperti ajaib, ghaib, keberbagian yang harmonis dan teratur, baik dalam alam maupun dalam ciptaan manusia.

3. Aspek Psikologis / Pragmatik yaitu efek pada pembaca yang menjadi heran, kagum, terbuai, lupa yang kehilangan

kepribadiannya karena mabuk dimabuk warna, keanekaragaman yang terungkap dalam istilah penglipur lara.

Pandangan estetika ini dekat kepada teori estetika Arab yang ditentukan oleh ketergantungan seniman kepada teladan yang agung yaitu semesta sebagai ciptaan Tuhan, Pencipta Yang Maha Esa.

(18)

Masyarakat Bali

02

Konsep Estetika

Estetika atau “ilmu keindahan” memberi pandangan-pandangan yang bersifat simbolis, mistik, dan falsafah tentang keserasian hubungan manusia dan alam semesta (“buwana alit” dan buwana agung”).

“indah” berarti patut & benar.

Berkesenian adalah pengabdian kepada Tuhan, suatu jalan untuk mencapai “manunggal” (suasana bersatu dengan jiwa / Tuhan).

Estetika Bali mengacu kepada tulisan-tulisan kuno dari India, yang telah diolah dan disesuaikan dengan falsafah di Jawa dan melulu membahas tentang simbol-simbol, konsep-konsep kosmologis dan mistik

transendental

Estetika secara rasional sistematis estetika tidak ada, tidak mengupas teori yang mendalam.

(19)

Prinsip Keindahan Masyarakat Bali

Ciri-ciri khas dari keindahan (estetika) Bali tradisional nampak dari:

1. Sikap sang seniman terhadap karyanya; kreativitas seni sebagai pengabdian kepada masyarakat & kepada Sanghyang Widi.

2. Sang seniman tidak menonjolkan kepribadian dirinya (berekspresi) tetapi cenderung mengikuti pola yang telah ditentukan, berusaha mencapai hasil yang sempurna.

3. Proses pekerjaannya seniman Bali tradisional menikmati rasa-indah

(kelangen). dan bila mencapai puncak dirasakan sebagai “taksu” (didatangi oleh kekuatan ajaib) yang memberi keberhasilan yang istimewa.

4. Seniman Bali merasa diri bersatu (manunggal) dengan obyek yang dikerjakan.

5. Seniman Bali berusaha mewujudkan pengaturan penempatan segala- galanya yang berkaitan dengan pekerjaannya sesuai dengan peranan.

Penyesuaian itu, baik mengenai ruang maupun kedudukan.

Estetika tidak bisa disamakan dengan selera/taste dari manusia.

(20)

Masyarakat Karo

03

Konsep Estetika

Diterapkan dalam Perilaku kehidupan sehari-harinya.

Aturan dalam bersosialisasi dengan sesama manusia (larangan/Sumbang) dan (anjuran/Suruhen).

Hasil akhir dari sumbang dan suruhen (larangan dan anjuran) ini adalah untuk membentuk suatu perilaku yang baik versi masyarakat Karo pada masa lalu.

Perilaku yang baik ini adalah keindahan dari segi etika dan moral.

(21)

Referensi

Dokumen terkait