• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAMPIRAN A: DATA KUESIONER MENGENAI PEOPLE PLEASING DI MASYARAKAT INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAMPIRAN A: DATA KUESIONER MENGENAI PEOPLE PLEASING DI MASYARAKAT INDONESIA"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

xxi

LAMPIRAN A: DATA KUESIONER MENGENAI PEOPLE

PLEASING DI MASYARAKAT INDONESIA

(2)

xxii

(3)

xxiii

(4)

xxiv

(5)

xxv

(6)

xxvi

(7)

xxvii

(8)

xxviii

(9)

xxix

(10)

xxx

(11)

xxxi

(12)

xxxii

LAMPIRAN B: DATA KUESIONER MENGENAI CARA DIDIK ORANG TUA

(13)

xxxiii

(14)

xxxiv

(15)

xxxv

(16)

xxxvi

LAMPIRAN C: WAWANCARA PSIKOLOG

Narasumber: Ibu Monica Sulistiawati, M. Psi., Psikolog Tanggal: 6 April 2021

Keterangan:

N : Narasumber P : Penulis

A : Admin Whatsapp Personal Growth

Chat melalui Whatsapp (jawaban diberikan melalui pdf)

A : Hi Katarina, berikut jawaban dari psikolog kami yaitu Ibu Monica Sulistiawati, M. Psi., Psikolog

P : Dari survei yang saya buat kepada orang tua usia 25-36 tahun, sebagian besar orang tua sudah menggunakan cara didik yang bisa mencegah anaknya untuk jadi people pleaser, tapi mereka masih menemukan kesulitan, diantaranya yang paling banyak mereka sebutkan:

P : 1. Anak tidak kooperatif, seperti ngambek/nangis saat dididik, membandingkan didikan orang tuanya dengan teman mereka, dan anak terus menolak didikan orang tua. Bagaimana cara supaya anak bisa menerima didikan orang tuanya? Apa yang perlu disesuaikan/disampaikan oleh orang tua?

N : Pada dasarnya, setiap manusia menyukai segala sesuatu yang bersifat mudah, menyenangkan, dan mudah dilakukan. Ini berlaku pada siapa saja, termasuk anak-anak. Sementara, jika orang tua melakukan pola

(17)

xxxvii

asuh/ pola didikan yang tepat (demokratis/ otoritatif) tentu di dalamnya juga ada aturan atau proses pendisiplinan, tidak melulu anak mendapatkan apa yang diinginkan. Menjadi sangat wajar, jika anak kemudian berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya dengan berbagai cara, seperti merajuk, menangis, membandingkan, marah, dsb.

Yang perlu dilakukan orang tua adalah:

• Kasih. Meskipun orang tua memiliki aturan, tuntutan, atau harapan dalam rangka membentuk kedisiplinan anak, orang tua tetap harus memberikan anak kehangatan emosional, kasih, dan empati pada anak.

Berikan penjelasan secara sabar & lembut, gunakan kalimat yang mudah dipahami sesuai dengan usia anak, apa yang mendorong/ menyebabkan orang tua ingin anak melakukan/ tidak melakukan sesuatu.

• Konsisten. Orang tua harus konsisten dengan aturan yang dibuat untuk anak & hal yang sama berlaku pada orang tua. Misal, anak tidak boleh makan sambil menggunakan gadget. Maka, orang tua pun harus menyingkirkan gadget saat makan. Ini diperlukan agar anak tahu betapa serius & sungguh-sungguh orangtua menerapkan aturan ini di dalam rumah.

• Konsekuen. Orang tua harus bersikap konsekuen dengan aturan/

didikan yang sudah diterapkan kepada anak. Misal, jika orang tua tidak mengijinkan anak bermain gadget terlalu lama, kemudian anak bertanya,

“Jadi aku ngapain?” Maka, orang tua harus mencarikan kegiatan lain yang sama menariknya untuk anak atau menemani anak bermain.

(18)

xxxviii

• Kompak. Ayah & Ibu harus kompak dalam menerapkan aturan. Seiya sekata. Hal ini bertujuan agar anak tidak bingung dengan aturan yang sudah dibuat & mempermudah ayah maupun Ibu untuk membentuk sikap kooperatif pada anak.

• Kerjasama. Ayah & Ibu, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pengasuhan, harus bekerja bersama-sama untuk mendidik & menerapkan aturan pada anak. Hal ini terkait juga dengan konsistensi &

kekompakkan.

P : 2. Anak dan orang tua lupa teorinya saat praktek, seperti spontan emosi saat menghadapi anak atau terlalu banyak menginterupsi saat anak membantu menyapu/cuci piring/motong buah. Apakah latihan simulasi menghadapi masalah dan refleksi setelah masalahnya terjadi bisa membantu agar orang tua dan anak lebih ingat dengan teori didikannya?

Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua sebagai pengingat saat prakteknya?

N : Saya tidak paham maksud pertanyaan kamu. Latihan simulasi & refleksi seperti apa yang kamu maksud?

Dalam menjalankan pengasuhan, orang tua tidak perlu menghafal teori pengasuhan seperti akan melakukan ujian. Tidak ada satu pun teori pengasuhan yang dapat diterapkan 100% secara tepat kepada anak. Oleh sebab itu, orang tua perlu terus belajar, memperbaiki & mengoreksi pengasuhannya jika keliru, mencoba dan mencoba lagi, melakukan

(19)

xxxix

konsultasi psikologis untuk lebih memahami diri & anak sehingga paham celah yang dapat digunakan untuk mempermudah pengasuhan, dsb.

P : 3. Orang tua merasa bahwa perlu mengulang didikannya karena anak sering lupa/tidak mengerti. Bagaimana cara mengulang didikan agar lebih efektif dan tetap konsisten? Seberapa sering pengulangan perlu dilakukan?

N : Sesering mungkin & harus konsisten. Jika belum berhasil, artinya ada yang harus ditelusuri lagi & ini sangat mungkin dipengaruhi oleh banyak hal. Bisa dipengaruhi oleh diri pribadi orang tua (cara bicara, tempo &

nada bicara, kalimat yang digunakan, dll), bisa dipengaruhi oleh faktor internal anak (tingkat kecerdasan, emosi, kesehatan fisik, dll), bisa juga dipengaruhi oleh faktor eksternal (kakek nenek yang selalu membela, ART yang melindungi, dll).

P : 4. Perbedaan cara didik antara orang tua dengan kakek nenek atau pembantu. Bagaimana cara supaya orang tua dan kakek nenek atau pembantu bisa sepakat untuk mengikuti cara didik yang sama? Atau adakah cara lain agar perbedaan cara didik ini tidak membingungkan anak?

N : Komunikasi. Sampaikan aturan yang ingin diterapkan pada anak, tujuannya apa, dan bagaimana cara melakukannya. Sampaikan sedetil mungkin. Umumnya, melakukan hal ini lebih mudah kepada pengasuh daripada kepada kakek nenek. Tapi memang harus dicoba. Berbagai bentuk komunikasi dapat dilakukan, misal secara langsung dengan

(20)

xl

mengajak kakek nenek bicara dari hati ke hati, katakan bahwa ini yang terbaik untuk cucu. Atau secara tidak langsung, misal dengan mengajak kakek nenek ke seminar-seminar pengasuhan atau meminta kakek nenek membaca buku tentang pengasuhan.

Jika tetap tidak berhasil, maka kita harus menerima bahwa tidak semua orang bisa bekerjasama dengan kita & tidak semua orang bisa kita kendalikan untuk mengikuti kemauan kita. Dengan catatan, sudah sungguh-sungguh diupayakan. Lalu, bagaimana dengan anak? Apakah anak akan bingung? Sampaikan dengan tegas, bahwa kakek nenek dan Mama Papa memiliki aturan atau cara yang berbeda. Saat kamu bersama kakek nenek, kamu ikuti aturan mereka. Tapi saat kamu bersama dengan Mama Papa, maka aturan Mama Papa lah yang harus diikuti. Dengan begitu orang tua tetap konsisten, anak akan belajar menyesuaikan diri dengan ragam aturan yang berbeda, & belajar menerima serta menghargai perbedaan tersebut.

Video call menggunakan ZOOM

P : Selamat siang Bu Monica, saya minya ijin untuk merekam video callnya untuk kepentingan laporan tugas akhir ya.

N : Oke, silahkan.

(Di sini narasumber bertanya tentang detail topik tugas akhir agar narasumber bisa memberikan jawaban yang lebih spesifik, dan penulis menjelaskan tentang survei yang sudah dilakukan).

(21)

xli

N : Oke, trus dari jawaban yang udah aku kasih ke kamu, ada yang masih mau ditanyakan lagi?

P : Itu yang di nomor 2 kakak tanya simulasi dan refleksi itu seperti apa.

Saya mikir kalau pas lagi ngedidik anak kadang-kadang (orang tua) spontan reaksi. Kalau setelah itu si orang tua ngomong sama orang tua lain, jadi bisa membayangkan (alternatif reaksi yang bisa mereka berikan) atau nulis misalnya kalau ada kejadian ini, kira-kira yang si orang tua sendiri bisa lakukan biar ga kejadian sama dengan yang udah salah itu gimana. Jadi maksudnya simulasi tuh kaya itu. Mereka simulasiin dulu sebelum kejadian terjadi lagi.

N : Contoh konkritnya apa ya?

P : Karena aku mau bikin buku, aku mikirnya seperti worksheet. Di buku ini kan juga ada tips, seperti cara untuk berbicara dengan anak supaya tidak berantem. Misal, anak tidak mau makan, lalu orang tuanya refleks langsung marah. Jadi setelah itu orang tuanya bisa menulis dibuku, masalahnya apa, anak ga mau makan. Lalu reaksi orang tua, yaitu langsung marah. Nah setelah itu, kalau next time terjadi lagi, yang bisa dia lakukan apa. Misal, mau ngomongnya seperti apa, strategi apa, apa mau dibujuk dulu, atau dijelaskan kenapa harus makan. Jadi intinya untuk membuat strategi dulu. Saya mikirnya kalau ditulis akan lebih mudah diingat dan bisa dilihat recordnya. Kalau (solusinya) cuma dipikir doang, akan lebih gampang lupa.

N : Itu yang kamu maksud dengan simulasi itu?

(22)

xlii P : Iya.

N : Itu mungkin lebih ke refleksi diri ya. Jadi bukan latihan simulasi, tapi orang tua merefleksikan lagi apa yang sudah terjadi, melakukan instropeksi, kemudian membuat perencanaan lagi, di ke depannya, kalau terjadi lagi harus bagaimana. Nah kalau kamu tanya apakah cara itu bisa membantu orang tua, bisa. Karena saat permasalahan terjadi, emosi sedang memuncak, pola pikir kita cenderung spontan, bertindak secara spontan, dan terjadi error thinking. Bisa terjadi kesalahan berpikir. Nah setelah diri lebih tenang, kita lebih mampu untuk berpikir objektif dan mampu mengambil keputusan yang lebih baik. Diharapkan, di kemudian hari, kita bisa memperbaiki perilaku kita melalui cara berpikir yang lebih baik tersebut. Tapi bukan artinya dihafal ya. Orang tua tidak perlu menghafal teori pengasuhan. Justru karena terlalu banyak teori orang tua jadi bingung. Jadi, yang lebih baik dilakukan adalah belajar terus menerus, mempelajari teori-teori tersebut, berdiskusi, mempelajari juga anaknya, karena setiap anak punya karakteristik yang berbeda-beda, pelajari kira-kira anak kita lebih cocok dengan cara asuh yang seperti apa. Sisanya memang jadi trial error. Gagal pada saat pengasuhan adalah hal yang biasa terjadi. Namanya juga trial error. Gagal, coba lagi.

P : Oke, selanjutnya terkadang kalau orang gagal akan merasa putus asa.

Apakah ada cara agar orang tua paham kalau ini memang adalah proses, bukan sekali jadi. Jadi, mereka harus terus belajar, belajar belajar.

(23)

xliii

N : Menyesali kesalahan yang sudah terjadi itu sangat boleh dilakukan.

Bukan berarti jika melakukan kesalahan tidak boleh disesali. Boleh, cuma jangan berkepanjangan. Kita harus ingat bahwa menyeasli yang sudah terjadi itu ga ada gunanya. Apa yang bisa kita kontrol saat ini, kita harus fokus dengan apa yang bisa kita lakukan. Yang sudah terjadi kita ga bisa ngapa ngapain lagi. Yang bisa kita lakukan adalah untuk saat ini dan untuk ke depannya. Jadi kita berpikir, oke, yang kemarin cara saya salah nih. Ternyata saya ngebentak anak malah bikin anak jadi trauma ya.

Saya salah, mintalah maaf kepada anak. Anak juga perlu mendengar kata maaf dari orang tuanya. Dengan begitu, muncul perasaan diri berharga, perasaan diri bahwa anak merasa dirinya diakui, merasa bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang umum terjadi, meminta maaf juga adalah hal yang positif. Kan banyak anak yang melakukan kesalahan ga mau minta maaf ya. Justru dengan orang tua minta maaf, itu anak belajar banyak banget. Setelah itu, baru kemudian orang tua mempertimbangkan ke depannya, kalau perlu tanya ke anaknya, kamu kemarin mama marah ngebentak kamu karena kamu misalnya nangis, tantrum, ga mau makan.

Nah berarti ke depannya kamu makannya yang bener ya. Kasih tau anaknya. Terus, boleh juga orang tua berdiskusi dengan anaknya, kira- kira konsekuensi apa yang diharapkan si anak kalau anak melakukan kesalahannya lagi. Kalau kamu ga mau makan lagi, bikin mama marah lagi, kira-kira apa yang boleh mama lakukan ke kamu. Itu boleh ditanyakan ke anaknya. Biasanya anak 3-4 tahun sudah bisa diajak

(24)

xliv

diskusi kaya gitu. Kalau anak yang usia di bawah 3 tahun, tadi minta maaf tetap dilakukan, lalu orang tuanya berpikir lebih bijaksana lagi. Ke depannya bagaimana ya. Cara yang kemarin ngebentak anak ga cocok nih, berarti nanti kalau dia makannya ga bener lagi saya harus ngapain ya.

P : Berarti kalau untuk diajak diskusi baru bisa di umur 3-4 tahun ya, kalau sebelum itu memang orang tuanya yang harus lebih-

N : Berpikir lebih bijaksana, betul.

P : Lalu, untuk yang nomor 3, kan saya bertanya untuk orang tua mengulang didikannya, bagaimana cara mereka mengulang itu efektif dan tetap konsisten. Lalu di sini jawabannya hasil jika tidak berhasil kan ada banyak, bisa karena pribadi orang tua sendiri, dari anaknya. Nah bagaimana cara agar orang tua bisa tau masalahnya di mana, apakah mereka harus konseling atau ada cara lain untuk mereka mencari tahu sendiri?

N : Tadi, yang saya bilang, bahwa pengasuhan prinsipnya memang trial error. Jadi kalau yang kemarin tidak berhasil, dicobain lagi. Sambil mencoba terus menerus, orang tua juga perlu memperhatikan, kira-kira ada ga cara yang lebih efektif. Ada ga keberhasilan? Nah saat mencoba lagi, misalnya, kita mencoba perilaku yang positif ya, misalnya kita tahu membentak itu salah, jangan dilakukan lagi. Tapi misalnya, kita sudah ngomong baik-baik ke anak, tapi anak tetap melakukan hal yang sama.

Artinya ga berhasil kan. Tapi ini sebenarnya adalah cara yang sudah

(25)

xlv

sesuai dengn teori, yang diharapkan dilakukan oleh orang tua, untuk berbicara baik-baik, memberikan pengertian pada anak. Tapi kok masih ga berhasil ya? Cobain lagi sampai 5 kali. Kalau sampai 5 kali cara positif ini tetap gagal dilakukan, orang tua boleh berdiskusi dengan psikolog atau konseling untuk cari tahu, sebenarnya kurangnya dimana.

P : Berarti dicoba sendiri dulu, baru-

N : Ya, dicoba sampai lebih dari 5 kali. Karena banyak orang tua yang bilang ‘saya sudah coba tapi gagal’ padahal dicaobanya cuma 1 kali.

Misalnya pas dicoba 1 kali itu gagal bisa jadi anaknya moodnya lagi ga bagus atau apa, tergantung dari banyak faktor.

P : Terus untuk yang nomor 4, ini tentang perbedaan cara didik dengan kakek nenek atau pembantu. Di sini kan ada yang itnggal satu rumah dengan kakek nenek. Kalau misalnya setelah diberi penjelasan kakek nenek masih tidak setuju dengan cara didik, apa yang mesti dilakukan?

N : Ya udah, terima aja. Tapi anaknya tetap diajarin. Yang penting konsistensinya tetap di orang tua. Jadi anak belajar untuk menerima perbedaan. Kebanyakan kakek nenek itu, orang tua ga bolehin pake gadget, tapi sama kakek neneknya ‘udah lah, kasih aja, kasihan nanti nangis’. Nah, orang tua bisa bersikap tegas. Kalau mama papa ga ada di rumah, hanya ada kakek nenek, kamu boleh ikuti aturan kakek nenek.

Tapi, kalau mama dan papa ada di rumah, mama adalah mama kamu, papa adalah papa kamu, kamu harus ikutin aturan papa mama. Itu harus tegas. Bukan galak ya, tegas. Nah di situ anak akan belajar nantinya.

(26)

xlvi

Mungkin pada usia kecil anak akan lebih memilih mana yang lebih menyenangkan dan nyaman untuk dia. Tapi seiring dengan pertambahan usianya, asalkan orang tuanya tetap konsisten, anak juga akan bisa berpikir mana sih yang terbaik untuk diri dia, aturan itu diciptakan bukan untuk kenyamanan, tapi untuk apa yang baik buat dirinya.

P : Berarti tetap perlu dijelasin kan, orang tua bikin aturan karena begini, N : Iya, tujuannya apa, disampaikan ke anak. Dan, orang tua tuh biasanya

berpikir, kan anaknya masih kecil, masa sih dia ngerti. Justru semenjak kecil anak harus diajak ngobrol, anak harus diberikan pengertian, supaya hal ini, peraturan yang baik, tujuan baik yang diharapkan orang tua dari anaknya, itu semua bisa tertanam di bawah sadarnya si anak. Sehingga menjadi kebiasaan positif si anak.

P : Kalau untuk ngejelasinnya sendiri apakah ada tips agar- maksudnya anak yang berbeda umur kan cara pikirnya masih berkembang. Jadi, cara yang efektif itu yang seperti apa?

N : Percakapan sehari-hari orang tua dan anak deh. Itu bisa dilakukan pada saat anak santai. Anak moodnya saat sedang bagus, misalnya saat sarapan bareng, atau orang tua menemani anak tidur, menemani anak bermain, sambil dikasih tahu, ‘Mama dan Papa sayang loh sama adek, tau ga kenapa mama papa batesin adek nonton TV? Bukan ga boleh, kan papa mama kasih, tapi mata adek bisa rusak kalau nontonnya kelamaan’.

Berikan alasan yang logis dan masuk akal sesuai dengan tahap perkembangannya. Kalau misalnya anak umur 2 tahun dibilangin ‘kamu

(27)

xlvii

ga boleh nonton TV, nanti kecanduan’, hah kecanduan itu apa? Anak umur 2 tahun ga tau kecanduan itu apa. Kasih tahu aja, ‘iya kalau kamu nonton TV aja, mainan yang lain kasihan loh, yang lain kan juga seru.

Kita mainin yuk’. Sambil diajak. Itu anak umur 2 tahun. Umur 3 tahun, sudah bisa dikasih tahu bahwa kalau kita nonton TV terus menerus, main ipad terus menerus, nanti matanya capek, jadi cepet rusak. Nanti ngeliat TVnya ga jelas, main ipadnya juga ga jelas, ga bisa baca, yuk kita main yang lain. Anak umur 7 tahun, biasanya udah ngeyel. Emang kenapa?

Kok ga boleh? Udah banyak nanyanya. Di anak umur 7 tahun sudah bisa dikasih tahu dengan tegas bahwa pokoknya aturannya main gadget maksimal 2 jam. Kamu boleh main dari jam 3 sampai 5 sore. Itu aturannya. Sudah boleh dikatakan seperti itu jika anaknya ngeyel terus menerus.

P : Kalau untuk aturan, apakah sebaiknya bikin aturannya orang tua diskusi dengan anak dulu, anak maunya apa, orang tua maunya apa, baru di set jadwalnya?

N : Sebaiknya iya agar anaknya tahu. Untuk anak yang masih sangat kecil, di bawah usia 6 tahun, usia pra-sekolah, biasanya orang tua menyetel sendiri schedule harian anak. Tapi anak boleh dibriefing dalam artian diberi tahu, ‘habis ini kamu mandi ya, nah ini sudah jam 5 nih, sudah waktunya kamu mandi. Nanti, habis mandi baru kita main lagi ya’.

Dikasih tahu seperti itu, jadi anak juga tidak kaget. Anak bisa persiapan dan dia jadi tahu, next schedulenya dia ngapain. Anak usia 7 tahun ke

(28)

xlviii

atas atau sudah usia sekolah dasar, kan mereka juga sudah biasa dengan schedule di sekolah. Di rumah, anak bisa diajak untuk buat schedule bareng-bareng. ‘Yuk kita bikin schedule biar kamu ga boen di rumah.

Pulang sekolah kamu mau ngapain, dari jam berapa sampai jam berapa?’

Itu bisa diajak bareng-bareng, agar anak lebih paham aktivitasnya.

P : Berarti untuk yang di bawah 6 tahun, jika ga mau mengikuti jadwal bagaimana?

N : Biasanya anak usia segitu tidak mau mengikuti jadwal karena jadwal selanjutnya membosankan. Knapa? Karena itu-itu saja atau orang tua terbiasa untuk sendiri. ‘Udahlah main sendiri.’ Anak di bawah usia 6 tahun masih sangat ingin ditemani oleh orang lain. Jadi, ajaklah anak untuk melakukan aktivitasnya bersama-sama.

P : Untuk wawancaranya sudah sampai sini saja. Makasih ya kak.

N : Oke, sama-sama.

(29)

xlix

LAMPIRAN D: SUMBER GAMBAR DALAM PERANCANGAN

1. 2.

3. 4. 5.

6. 7. 8.

9.

1. Diunduh dari

https://www.behance.net/gallery/114426399/_?tracking_source=search_project s_recommended%7Cworkbook

2. Diunduh dari https://www.loket.com/event/online-workshop-menembus- agency-global-sebagai-ilustrator-buku-muu1

3. Diunduh dari https://health.detik.com/advertorial-news-block/d-5060475/hari- keluarga-bkkbn-ajak-keluarga-indonesia-bangkit-dari-covid-19

4. Diunduh dari https://www.shutterstock.com/image-photo/portrait-big-asian- family-posing-photo-664062877

5. Diunduh dari https://parenting.dream.co.id/ibu-dan-anak/3-kebiasaan-yang- bikin-hubungan-anak-dan-orangtua-makin-hangat-180910r.html

(30)

l

6. Diunduh dari https://jogja.tribunnews.com/2018/08/31/tingkat-kepuasan-hidup- dipengaruhi-oleh-keluarga

7. Diunduh dari https://www.cermati.com/artikel/cara-tepat-mendidik-anak-di- usia-emas-nomor-1-paling-penting-nih-bunda

8. Diunduh dari https://www.merdeka.com/jabar/intip-keharmonisan-keluarga- campuran-indonesia-korea-kimbab-family-yang-seru-dan-ko.html

9. Diunduh dari https://www.medcom.id/hiburan/film/1bVjWwab-rekomendasi- tayangan-keluarga-indonesia-yang-mengharukan

(31)

li

LAMPIRAN BIMBINGAN

(32)

lii

(33)

liii

(34)

liv

Referensi

Dokumen terkait