• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KARAKTER ISLAM PADA KELAS VII DI MTsN 17 TANAH DATAR SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KARAKTER ISLAM PADA KELAS VII DI MTsN 17 TANAH DATAR SKRIPSI"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KARAKTER ISLAM PADA

KELAS VII DI MTsN 17 TANAH DATAR

SKRIPSI

Ditulis sebagai Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana (S-1) Jurusan Tadris Matematika

Oleh:

WENNY WINARNI NIM. 14 105 074

JURUSAN TADRIS MATEMATIKA

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BATUSANGKAR

2019

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

Wenny Winarni. 14 105 074 (2018). Judul Skripsi: “Pengembangan Modul Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam pada kelas VII Di MTsN 17 Tanah Datar”. Jurusan Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.

Permasalahan dalam penelitian ini adalah sumber belajar yang belum memadai yaitu belum memuat materi, ringkasan, dan tugas yang berkaitan dengan materi pelajaran serta belum ada pengintegrasian nilai-nilai karater Islam pada materi pembelajaran yaitu materi perbandingan yang sesuai dengan visi MTsN 17 Tanah Datar yaitu unggul dalam prestasi terdepan dalam akhlakul karimah. Jadi salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengembangkan modul pembelajaran matematika berbasis karakter Islam pada materi perbandingan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan modul pembelajaran matematika berbasis karakter Islam pada kelas VII MTsN 17 Tanah Datar yang valid, praktis, dan efektif.

Penelitian ini meng gunakan metode penelitian pengembangan. Rancangan penelitian pengembangan terdiri dari 3 tahap yaitu(1) tahap define, dilakukan untuk mendapatkan gambaran kondisi di lapangan, dalam tahap ini dilakukan wawancara dengan guru, analisis silabus, RPP, dan sumber belajar serta meriview literatur tentang modul,(2) tahap design, hasil dari tahap define digunakan untuk merancang design modul pembelajaran matematika berbasis karakter Islam pada materi perbandingan. Hasil dari tahap design yang dirancang dilanjutkan dengan (3) tahap develop, tahap ini adalah lanjutan dari tahap design untuk melihat validitas, praktikalitas dan efektivitas dari pembelajaran matematika berbasis karakter Islam pada materi perbandingan.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matematika berbasis karakter Islam yang dirancang telah valid, praktis dan efektif.

Hasil validitas modul yang diperoleh adalah 76,21% dengan ketegori valid.

Sementara hasil praktikalitas modul yang diperoleh dari hasil angket respon siswa yaitu 78,69% kategori praktis. Kemudian hasil efetivitas modul diperoleh dari siswa memberikan respon positif, yang ditunjukan dengan hasil angket yang diberikan diperoleh dengan persentase berkisar antara 85% - 100% dan terdapat peningkatan karakter Islam, yang ditunjukan dengan hasil angket yang diberikan menggunakan rumus n-gain di dapatkan bahwa hasil 0,42 dengan kategori sedang..

Kata Kunci: Modul, Karakter Islam, Perbandingan

(6)

DAFTAR ISI

Hal HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBIG HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN HALAMAN PERSEMBAHAN

KATA PENGANTAR………... i

ABSTRAK………... iii

DAFTAR ISI………... iv

DAFTAR TABEL………... vi

DAFTAR GAMBAR………... vii

DAFTAR LAMPIRAN………... viii

BAB I PENDAHULUAN………... 1

A. Latar Belakang………... 1

B. Identifikasi Masalah……… 7

C. Batasan Masalah ………...… 8

D. Rumusan Masalah ……….…….….……. 8

E. Tujuan Pembelajaran……….. 9

F. Manfaat Pengembangan……… 9

G. Spesifik Produk………..……… 10

H. Asumsi Penelitian dan Fokus Pengembangan……….. 12

I. Definisi Masalah………..………..……… 13

BAB II KAJIAN TEORITIS……….. 19

A. Pembelajaran Matematika………... 15

B. Karakter Islam……….………..……….. 16

C. Modul……….. 30

D. Hubungan Karakter Islam dengan Matematika………. 36

E. Validitas Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam…… 36 F. Praktikalitas Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam 41 G. Efektivitas Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam 42

(7)

H. Penelitian yang Relevan……….. 43

BAB III METODE PENELITIAN……… 44

A. Jenis Penelitian……… 44

B. Desain dan Prosedur Pengembangan……….. 46

C. Instrumen Penelitian………... 53

D. Teknik Analisis Data……….. 63

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……….. 69

A. Hasil penelitian………... 69

B. Pembahasan………... 95

C. Keterbatasan Penelitian dan Solusi………. 102

BAB V PENUTUP……….. 104

A. Kesimpulan………. 104

B. Saran………... 104

KEPUSTAKAAN…...………. 106

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel Hal

Tabel 2.1 Nilai-nilai Karkter dan Budaya Bangsa………... 21

Tabel 2.2 Pedoman Peskoran Angket Respon Siswa. ……… 42

Tabel 3.1 Aspek Validitas Modul……….. 48

Tabel 3.2 Hasil Validasi Modul Pemlajaran Matematika………… 50

Tabel 3.3 Aspek Praktikalitas Modul………. 51

Tabel 3.4 Aspek Efektivitas Modul………... 52

Tabel 3.5 Hasil Validasi RPP………. 55

Tabel 3.6 Hasil Validasi Angket Respon Siswa (Praktikalitas)………. 57

Tabel 3.7 Hasil Validasi Angket Respon Siswa (Efektivitas)………... 58

Tabel 3.8 Hasil validasi terdapat Peningkatan Karakter Islam siswa... 60

Tabel 3.9 Kategori Validitas Lembar Validasi……….. 63

Tabel 3.10 Kategori Praktikalitas Modul………. 64

Tabel 3.11 Kriteria Angket Respon Siswa………... 65

Tabel 3.12 Kriteria N-gain Termonormalisasi……… 66

Tabel 4.1 Hasil Validasi Modul………. 83

Tabel 4.2 Revisi dari Validator……….. 84

Tabel 4.3 Hasil Angket Respon Siswa terhadap Modul……… 87

Tabel 4.4 Pendapat Siswa terhadap Komponen Pembelajaran……….. 92

Tabel 4.5 Pendapat Siswa terhadap komponen pembelajaran………... 92

Tabel 4.6 Minat Siswa terhadap Modul………. 93

Tabel 4.7 Pendapat Siswa terhadap Modul……… 93

Tabel 4.8 Pendapat Siswa terhadap Angket Karakter Islam……….. 93

Tabel 4.9 Pendapat Siswa terhadap Angket Karakter Islam……….. 95

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Hal

Gambar 1.1 Materi Buku Siswa Kelas VII……… 6

Gambar 4.1 Cover Modul……….. 73

Gambar 4.2 Kata Pengantar Modul………. 73

Gambar 4.3 Kompentensi Inti dan Kompentisi dasar... 74

Gambar 4.4 Petunjuk Penggunaan Modul……….. 75

Gambar 4.5 Deskripsi Nilai –Nilai Karakter Islam ……….. 75

Gambar 4.6 Daftar Isi ………..………..…… 76

Gambar 4.7 Doa Sebelum dan Sesudah Belajar ……… 77

Gambar 4.8 Nama Materi pada Modul……… 77

Gambar 4.9 Page Number Modul………... 77

Gambar 4.10 Kegiatan Pembelajaran Modul……… 78

Gambar 4.11 Uraian Materi pada Modul……….. 78

Gambar 4.12 Latihan Soal……….……….. 79

Gambar 4.13 Kunci Jawaban Modul……….. 80

Gambar 4.14 Nilai Karakter Islam……… 81

Gambar 4.15 Contoh Soal………..……… 81

Gambar 4.16 Pedoman Penskoran………... 81

Gambar 4.17 Renungan Ayat……….. 82

Gambar 4.18 Daftar Pustaka………. 82

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN Hal

LAMPIRAN 1 Nama Validator Penelitian………... 110

LAMPIRAN 2 Lembar Validas Modul……… 111

LAMPIRAN 3 Hasil Validasi Modul………... 127

LAMPIRAN 4 Rencana Pelaksanaan pembelajaran (RPP)…………. 134

LAMPIRAN 5 Kisi-kisi Lembar Validasi RPP……… 153

LAMPIRAN 6 Lembar Validasi RPP………... 154

LAMPIRAN 7 Hasil Validasi RPP………... 162

LAMPIRAN 8 Kisi-kisi Angket Respon Siswa(Praktis)……….. 163

LAMPIRAN 9 Lembar Validasi Angket Respon Siswa (Praktis)…… 164

LAMPIRAN 10 Hasil Validasi Angket Respon Siswa (Praktis)…….... 172

LAMPIRAN 11 Kisi-kisi Angket Krakter Islam Siswa (efektif)…… 173

LAMPIRAN 12 Lembar Validasi Angket Respon Siswa (efektif) ... 174

LAMPIRAN 13 Hasil Validasi Angket Respon Siswa (efektif)... 182

LAMPIRAN 14 Kisi-kisi Angket Karakter Islam (Efektif)………… 183

LAMPIRAN 15 Lembar Validasi Karakter Islam Siswa (Efektif)….... 184

LAMPIRAN 16 Hasil Validasi Karakter Islam Siswa (Efektif)…….... 192

LAMPIRAN 17 Hasil Angket Respon Siswa (Praktis)….………. 193

LAMPIRAN 18 Hasil Angket Karakter Islam Siswa (efektivitas)... 196

LAMPIRAN 19 Perhitungan Data Peningkatan Karakter Islam……… 202

LAMPIRAN 20 Hasil Angket Respon Siswa (Efektif)……….. 203

LAMPIRAN 21 Angket Akhir Karakter Islam ...……….. 205

LAMPIRAN 22 Angket Awal Karakter Islam ...……….. 207

LAMPIRAN 23 Angket Respon Siswa (Praktis)……… 209

LAMPIRAN 24 Angket Respon Siswa (efektivitas)……….. 212

LAMPIRAN 25 Daftar Nama Siswa Uji Coba Modul………... 213

LAMPIRAN 26 Surat keterangan dariLP3M/Rekomendasi………….. 217

LAMPIRAN 27 Surat Keterangan dari Kesbangpol akan Melaksanakan Penelitian……….. 218 LAMPIRAN 28 Surat Keterangan telah Melaksanakan Penelitian…… 219

(11)

1 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Tujuan pendidikan nasional, yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kapada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, produktif serta sehat jasmani dan rohani. Tugas seorang siswa adalah belajar, selain belajar siswa dituntut untuk memahami semua pelajaran yang sudah diberikan oleh guru.

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan agar siswa dapat mengembangakan potensi dirinya. Ini tertuang dalam Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan berkembang potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Menurut Lestari dan Handayani, (2018:200) Pendidikan mengandung makna suatu kegiatan proses pembelajaran yang terencana yang dapat mengaktifkan siswa untuk mengembangkan potensi dalam diri siswa.

Pendidikan akan membuat manusia mengembangkan potensi dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi akibat adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai segenap kegiatan pendidikan.

Penguatan pendidikan karakter yang harus ada dalam proses pembelajaran adalah religius, nasionalisme, integritas, gotong royong dan mandiri. Kegiatan pembelajaran matematika perlu direncanakan,

(12)

diprogramkan, serta dilaksanakan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berlaku. Guru mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan pembelajaran, jika guru tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan tepat dan benar maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai secara optimal. Kegiatan pembelajaran akan berjalan secara lancar jika unsur-unsur dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan tepat, benar dan lancar. Unsur-unsur pembelajaran yaitu tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, materi pelajaran, guru, siswa, alat belajar, sumber belajar dan strategi yang digunakan, serta evaluasi pembelajaran.

(Kusno, dkk. 2014:2) berpendapat bahwa matematika merupakan alat yang sangat strategis untuk menyampaikan pesan religius sehingga perkembangan nalar siswa selalu berdampingan dengan pemahaman nilai.

Agar supaya pemahaman nilai agama benar-benar tertanam pada lubuk hati dan pikiran siswa maka mereka perlu dilibatkan dalam proses konstruksi secara mental, fisik, intelektual maupun emosional. Sedangkan menurut Puskur, mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada siswa di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat dan jujur, efisien, dan efektif. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang wajib untuk dipelajari oleh siswa(Lestari dan Handayani, 2018:200)

Pendidikan karakter dan penanaman nilai moral atau agama, tidak hanya menjadi tanggung jawab dari guru agama melalui Pendidikan Agama Islam (PAI) dan guru PPKn. Guru yang mengajar di suatu kelas itu turut bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter dan moral, sikap atau agama. Guru harus menanamkan nilai-nilai pembangun karakter untuk menciptakan siswa yang memiliki karakter yang baik, yang bertujuan untuk menciptakan bangsa Indonesia yang maju.

Dilihat dari keadaan siswa di Indonesia banyak mengalami kemunduran dari karakter, dilihat dari banyak terjadi tawuran, pencurian,

(13)

penggunaan narkoba, pergaulan bebas, dan sebagainya. Terlihat dari masalah tersebut, memberikan gambaran terhadap pendidikan Indonesia. Krisis karakter juga melanda kaum intelektual, terlihat dari banyaknya korupsi, perzinaan dan sebagainya. Pendidikan belum mampu mengubah sikap seorang siswa. Seperti masalah yang ada di atas, bahwa siswa kurang menghayati apa yang diajarkan oleh guru disebabkan oleh berbagai macam masalah salah satunya, banyak guru yang tidak meyampaikan tujuan dari pembelajaran matematika.

Terlihat pada saat wawancara dengan guru matematika di MTsN 17 Tanah Datar pada 8 Oktober 2018 beberapa siswa terlihat memperhatikan guru, tidak mengerjakan latihan, berjalan-jalan saat pembelajaran dan tidak mengerjakan latihan. Masih banyak terlihat saat guru memberikan soal, dan guru meminta agar siswa mengerjakan sendiri, masih banyak siswa yang bertanya-tanya, menyalin punya temannya, dan kurang ketelitian dalam mengerjakan latihan yang diberikan. Siswa tidak mau berusaha sendiri, tidak mau bersikap jujur dan mandiri terhadap diri sendiri.

Karena pada MTsN 17 Tanah Datar merupakan sekolah Islam dan seluruh siswanya beragama Islam maka pendidikan Islam ditekankan. Pada proses pembelajaran terlihat bahwa ada beberapa siswa mencontek punya temannya, tidak mengerjakan latihan yang diberikan guru, tidak mau berusaha untuk mengerjakan latihan sendiri, tidak berminat terhadap materi yang dijelaskan guru. Masih ada beberapa siswa yang dalam mengerjakan latihan kurang teliti dalam menyelesaikan masalah matematika.

Pembelajaran matematika juga diharapkan untuk adanya perubahan sikap dan tingkah laku siswa yang termasuk didalamnya kesadaran beragama Islam. Agama Islam adalah salah satu contoh agama yang mengajar atau membentuk karakter yang baik, dan sebagai contoh adalah karakter nabi Muhammad SAW. Disini siswa dituntut dalam pembelajaran matematika, bisa membentuk karakter pada siswa dengan menerapakan nilai-nilai Islam.

Karakter Islam dapat dimaknai upaya sadar untuk merubah watak atau sikap seseorang yang melekat dalam diri seseorang yang berlandaskan pada

(14)

prinsip-prinsip Islam. Dalam pembelajaran matematika bisa diterapkan nilai- nilai karakter Islam, pembelajaran bukan hanya menuntut pengetahuan tapi juga sikap yang baik.

Nabi Muhammad SAW dilahirkan di dunia ini untuk menyempurnakan karakter atau akhlak manusia yang tercermin melalui pengamalan Al-Qur`an dan hadist. Seperti yang terdapat dalam firman Allah SWT dalam Q.S. AlAhzab: 21 sebagai berikut:





































21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Berdasarkan ayat di atas dijelaskan bahwa nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah untuk membentuk karakter atau akhlak manusia, dari manusia yang tidak memiliki akhlak menjadi akhlak yang diharapkan oleh Allah. Contoh yang diharapkan oleh Allah adalah nabi Muhammad SAW yang menjadi suri tauladan bagi seluruh umatnya. Namun banyak umatnya yang tidak menjadikan Rasullulah sebagai suri taulan yang baik. Empat karater yang ada dalam dirinya ialah benar, bijaksana, terpecaya, dan menyampaikan.

Sesuai dengan visi MTsN 17 Tanah Datar yaitu “Unggul Dalam Prestasi Terdepan Dalam Akhlakul Karimah”. Misi MTsN 17 Tanah Datar 1) meningkatkan mutu pendidikan dibidang akademik dan non akademik; 2) meningkatkan kemampuan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional; 3) meningkatkan disiplin siswa, pendidik dan tenaga pendidik; 4) mewujudkan kepribadian siswa yang berahklakul karimah; 5) menciptakan iklim sekolah yang kondusif serta meningkatkan ukhuwah Islamiah; 6) memberikan pelayanan prima bagi warga sekolah serta kepada masyarakat; 7) menjalin kerja sama dengan instansi lain yang terkait.

(15)

Berdasarkan visi sekolah menciptakan Unggul Dalam Prestasi Terdepan Dalam Akhlakul Karimah, jadi di MTsN 17 Tanah Datar menginginkan siswa memiliki akhlak yang terpuji yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Misi sekolah adalah mewujudkan kepribadian siswa yang berakhlak terpuji yang sesuai dengan ajaran agama dan menciptakan suasana sekolah yang berlandasan agama Islam. Kurikulum yang dipakai pada kelas VII MTsN 17 Tanah Datar adalah kurikulum 2013 yang mana dimensi sikap spiritual (KI 1), dimensi sikap sosial (KI 2), dimensi pengetahuan (KI 3), dan dimensi keterampilan (KI 4). Dimana (KI 1) adalah sikap spritual yang mana dalam pembelajaran matematika harus ada unsur-unsur agama Islam.

Dalam kurikulum 2013 siswa dituntut untuk ungul dalam prestasi tapi juga dalam sikap spriritual dan sikap sosial yang baik. Siswa tidak hanya diharapkan pintar dalam pengetahuan saja tapi samahalnya dengan sikap siswa yang baik. Kurikulum 2013 juga berhubungan dengan visi misi MTsN 17 Tanah Datar yang menginginkan siswa yang memiliki prestasi yang baik dan akhlakul karimah.

Menurut Mulyasa (2006: 96) mengemukakan bahwa bahan ajar merupakan salah satu bagian dari sumber ajar yang dapat diartikan sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran. Macam-macam bahan ajar yang biasa kita ketahui adalah buku, modul, LKS, dan handout.

Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai salah satunya adalah sumber belajar karena sumber belajar dapat berpengaruh terhadap minat siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran matematika dianggap pembelajaran yang sulit sehingga apabila bahan ajar tidak menumbuhkan minat terhadap pembelajaran, maka akan berdampak terhadap prestasi siswa dalam belajar.

Apabila bahan ajar yang digunakan menarik maka akan meningkatkan hasil belajar siswa.

Dilihat dari observasi yang dilakukan pada 8 Oktober 2018, buku yang digunakan saat pembelajaran Matematika di MTsN Tanah Datar adalah buku

(16)

paket BSE revisi 2017. Siswa mendapatkan bahan tersebut dari perpustakaan sekolah, setiap siswa memiliki buku BSE edisi revisi 2017 tersebut. Buku yang digunakan oleh siswa buku BSE tidak ada bahan ajar bantuan lainnya.

Tidak ada bahan ajar seperti seperti modul, LKS, handout yang di gunakan saat pembelajaran. Buku BSE edisi revisi 2017 yang digunakan belum terdapat karakter Islam di dalam buku tersebut seperti gambar dibawah ini:

Gambar 1.1

Buku yang digunakan adalah buku BSE edisi 2017 yang memuat kurikulum 2013, tapi didalam buku BSE edisi 2017 tersebut belum sesuai dengan visi dan misi MTsN 17 Tanah Datar. Dari hasil wawancara yang dilakukan pada 8 Oktober 2018 dengan guru, masalah yang terjadi pada saat ini pembelajaran matematika yang hanya belajar 5 jam dalam seminggu, sedangkan materi matematika banyak dan agak sulit dipahami oleh siswa.

Oleh karena itu perlu adanya tambahan belajar dirumah untuk siswa agar memantapkan materi yang dipelajari di sekolah. Setelah dipelajari disekolah siswa diharapkan bisa memahami atau mengulang materi di rumah.

Dari hasil observasi dan wawancara 8 Oktober 2018 yang dilakukan maka peneliti mengembangkan sebuah modul matematika, karena modul akan membuat siswa menjadi mandiri, termotivasi belajar dengan modul yang menarik, sehingga akan lebih mudah dipahami siswa dan siswa akan lebih

(17)

mudah memahami materi yang dijelaskan didalam modul. Modul adalah suatu bahan ajar yang siswa belajar mandiri, meskipun guru tidak ada, siswa masih bisa belajar sendiri.

Modul pembelajaran diberikan solusi karena modul bisa menarik perhatian siswa, bisa membuat siswa belajar mandiri, didalam modul juga terdapat nilai-nilai karakter Islam. Dengan modul yang menarik bisa menarik minat siswa untuk belajar. Modul membuat siswa belajar mandiri, dimana jika tidak ada guru siswa bisa tetap belajar. Nilai-nilai karakter Islam yang terdapat dalam modul, sehingga siswa bisa memahami nilai-nilai karakter Islam yang merubah sikap siswa kearah yang baik.

Proses pembelajaran yang dilakukan pada kelas VII.2 peneliti mengamati bahwa masih banyak siswa yang belum memahami materi yang dijelaskan oleh guru, siswa masih mengarapkan bantuan dalam mengerjakan tugas, seperti terlihat dari kurangnya hasil belajar siswa di MTsN 17 Tanah Datar, dimana KKM MTsN 17 Tanah Datar adalah 65.

Dengan modul yang menarik akan menumbuhkan semangat siswa dengan baik. Pembelajaran matematika siswa bisa lebih memahami, jika siswa lebih memperbanyak latihan atau mengerjakan soal matematika. Dan disini solusi yang dikembangkan adalah bahan ajar berupa modul, yaitu modul berbasis karakter Islam yang dapat dapat memotivasi siswa, memahami konsep dan bisa merubah watak/karakter siswa menjadi watak yang dicontohkan nabi Muhammad SAW. Sehingga menghasilkan suatu modul berbasis karakter Islam yang memuat karakter Islam yang diharapkan untuk bisa merubah siswa kearah yang baik, baik dari sikap siswa maupun dari hasil belajar siswa.

Karakter Islam adalah watak atau sikap seseorang yang melekat dalam diri seseorang sesuai dengan ajaran agama Islam. Jadi dengan memberikan modul yang menarik dapat menumbuhkan minat siswa, bisa merubah sikap siswa yang kearah yang baik. Siswa bisa menerapkan nilai-nilai karakter Islam yang terdapat dalam karakter Islam. Sesuai dengan permasalahan yang

(18)

dijelaskan sebelumnya maka nilai karakter yang terdapat dalam modul adalah religius, jujur, mandiri, ketelitian, dan rasa ingin tahu.

Dari permasalahan bahan ajar yang hanya menjelaskan sedikit materi, kurangnya contoh soal, sehingga menyulitkan siswa dalam memahami materi dan tidak ada motivasi belajar, dan tidak terdapatnya nilai-nilai karakter Islam dalam diri masing-masing siswa. Masalah tersebut berdampak kepada nilai siswa dan banyak siswa yang tidak memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

Berdasarkan permasalahan yang dikemukan di atas peneliti tertarik melakukan penelitan yang berjudul “Pengembangan Modul Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam Pada kelas VII Di MTSN 17 Tanah Datar”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang, adapun identifikasi masalah dalam penelitian ini:

1. Guru belum mampu mengembangkan bahan ajar seperti modul, LKS, handout.

2. Guru belum mampu secara aktif menerapkan karakter Islam pada pembelajaran matematika.

3. Belum ada bahan ajar pada pembelajaran matematika yang berhubungan dengan karakter Islam.

4. Buku yang digunakan guru dan siswa hanya satu sumber.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan masalah dalam penelitian ini di batasi hanya pada pemasalahan belum adanya Modul Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam di kelas VII MTsN 17 Tanah Datar.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang diangkat penulis adalah:

(19)

1. Bagaimana validitas modul pembelajaran matematika berbasis karakter Islam di kelas VII MTsN 17 Tanah Datar?

2. Bagaimana praktikalitas modul pembelajaran matematika berbasis karakter Islam di kelas VII MTsN 17 Tanah Datar?

3. Bagaimana efektivitas modul pembelajaran matematika berbasis karakter Islam pada kelas MTsN 17 Tanah Datar?

E. Tujuan Pengembangan

Secara umum penelitian pengembangan ini bertujuan menghasilkan seperangkat pembelajaran yang valid, sehingga dapat membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran pada mata pelajaran matematika tersebut di MTsN 17 Tanah Datar. Adapun tujuan pengembangan adalah

1. Untuk menghasilkan Modul Pembelajaran Matematika berbasis karakter Islam pada kelas VII MTsN 17 Tanah Datar yang valid.

2. Untuk menghasilkan Modul Pembelajaran Matematika berbasis karakter Islam pada kelas VII MTsN 17 Tanah Datar yang praktis.

3. Untuk menghasilkan Modul Pembelajaran Matematika berbasis karakter Islam pada kelas VII MTsN 17 Tanah Datar yang efektif.

F. Manfaat Pengembangan

Hasil penelitian yang dilaksanakan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi dunia pendidikan baik secara praktis maupun teoritis.

Manfaat tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

1. Bagi peneliti

Untuk menyelesaikan tugas akhir dan dapat menambah wawasan dan pemahaman tentang Modul Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam pada kelas MTsN 17 Tanah Datar.

2. Bagi guru

Sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan modul yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.

3. Bagi siswa

(20)

Dengan mengugunakan modul matematika siswa dapat belajar sendiri, membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

4. Bagi sekolah

Dapat digunakan acuan dalam menyediakan sumber belajar Matematika untuk mencapai ketuntasan belajar.

G. Spesifikasi Produk

Produk yang dikerjakan berupa modul matematika yang berbasis karakter Islam dengan spesifikasi sebagai berikut:

1. Modul disusun secara Sitematis, mengaju pada tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur, dan memuat tujuan pembelajaran, bahan dan kegiatan untuk mencapai tujuan serta evaluasi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.

2. Modul disusun dengan kurikulum 2013 3. Modul yang dihasilkan berisi:

Bagian pertama

a. Halaman muka/cover, pada bagian cover modul didesain dengan tampilan yang menarik. Modul menjelaskan isi didalam modul, seperti mengambarkan nilai-nilai karater Islam dan menggambar materi perbandingan.

b. Kata pengantar, Memuat informasi tentang peran modul dalam proses pembelajaran di SMP/MTSN.

c. Kompensi Inti dan kompetensi dasar, memuat kemampuan yang harus dicapai siswa.

d. Daftar isi, memuat kerangka modul dan dilengkapi dengan nomor halaman.

Bagian kedua a. Pendahuluan

1) Deskripsi

Penjelasan singkat tentang nama dan ruang lingkup isi modul, serta manfaat kompetensi tersebut dalam proses pembelajaran dan kehidupan secara umum, gambaran berbasis

(21)

karakter Islam. Diawal pembelajaran dikaitkan dengan nilai karakter Islam atau contoh nilai karakter Islam yang harus diteladani dan ayat Al-quran yang berhubungan. Karakter Islam yang dikembangkan dalam modul adalah religius, jujur, mandiri, ketelitian, dan rasa ingin tahu yang dijelaskan deskripsi dari nilai karakter Islam. Disajikan doa sebelum dan susudah Belajar.

2) Prasyarat. Kemampuan awal yang dipersyaratkan untuk mempelajari modul tersebut, baik berdasarkan bukti penguasaan materi lain maupun dengan menyebut kemampuan spesifik yang diperlukan.

3) Petunjuk penggunaan modul (petunjuk bagi guru dan siswa).

4) Tujuan Akhir. Pernyataan tujuan akhir (performance objective) yang hendak dicapai siswa setelah menyelesaikan suatu modul.

Rumusan tujuan akhir tersebut harus memuat:

a) Kinerja (perilaku) yang diharapkan b) Kriteria keberhasilan

c) Kondisi atau variabel yang diberikan b. Kegiatan Belajar

1) Indikator dan Tujuan Kompetensi. Memuat kemampuan yang harus dikuasai untuk satu kesatuan kegiatan belajar.

2) Uraian Materi. Materi yang dijelaskan berisikan pokok pembahasan tentang materi. Pada setiap materi dalam modul dijelaskan berhubungan karakter Islam yaitu diawal sebelum materi pembelajaran diberikan nilai religius seperti berdoa sebelum pembelajaran, dalam materi dijelaskan contoh nabi Muhammad nilai karakter yang baik, contoh soal yang diberikan berkaitan dengan nilai-nilai keislaman, diberikan kata-kata yang berkaitan dengan nilai karakter Islam (contohnya tanamkan, mencontek adalah sikap membohongi diri sendiri).

(22)

3) Tugas. Berisi instruksi tugas yang bertujuan untuk penguatan pemahaman terhadap konsep/pengetahuan/prinsip-prinsip penting yang dipelajari. Bentuk-bentuk tugas dapat berupa:

a) Kajian materi. Dalam kajian materi dijelaskan materi tentang perbandingan dan dikaitkan dengan nilai-nilai Islam dan karakter Islam.

b) Latihan-latihan. Juga berkaitan dengan nilai-nilai Islam.

Bertujuan untuk menguji kemaksimalan dari kemampuan pengetahuan siswa.

4) Tes Formatif. Berisi tes tertulis sebagai bahan pengecekan bagi siswa dan guru untuk mengetahui sejauh mana penguasaan hasil belajar yang telah dicapai, sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan berikut.

4. Evaluasi.

Disajikan lembar tingkat penguasaan siswa. Siswa dapat mengukur kemampuannya sendiri berdasarkan petunjuk yang diberikan.

5. Kunci Jawaban.

Berisi jawaban pertanyaan dari tes yang diberikan pada setiap kegiatan pembelajaran dan evaluasi pencapaian kompetensi, dilengkapi dengan kriteria penilaian pada setiap item tes.

6. Daftar Pustaka.

Semua referensi/pustaka yang digunakan sebagai acuan pada saat penyusunan modul.

H. Asumsi Penelitian dan Fokus Pengembangan 1. Asumsi

Beberapa asumsi yang melandasi penelitian ini sebagai berikut:

a. Menggunakan Modul Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam pada kelas VII MTsN 17 Tanah Datar dapat mempermudah guru dalam menyampaikan pembelajaran kepada siswa.

(23)

b. Menggunakan Modul Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam pada kelas VII MTsN 17 Tanah Datar dapat lebih mudah memahami materi yang diajarakan.

c. Menggunakan Modul Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam pada kelas VII MTsN 17 Tanah Datar dapat menarik minat dan perhatian siswa terhadap pembelajaran

d. Menggunakan Modul Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam pada kelas VII MTsN 17 Tanah Datar dapat melatih siswa untuk berpikir kritis, sehingga siswa dapat belajar sediri di rumah.

e. Menggunakan Modul Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam pada kelas VII MTsN 17 Tanah Datar menjadikan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

2. Fokus Pengembangan

Berdasarkan asumsi di atas maka fokus pengembangan ini difokuskan pada validasi, praktikalitas, dan efektifitas Modul Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter Islam pada kelas VII MTsN 17 Tanah Datar.

I. Definisi Operasional

Dalam penelitian ini, terdapat beberapa istilah dalam judul yang bertujuan untuk menghindari penyimpangan makna dalam memahaminya.

Oleh karena itu beberapa definisi istilah, antara lain:

a. Modul pembelajaran berbasis karakter Islam

Modul pembelajaran berbasis karakter Islam adalah suatu modul yang bekenaan dengan kegiataan belajar mandiri, dimana siswa dapat belajar secara mandiri dan didalam modul terdapat nilai-nilai karakter Islam. Pembelajran matematika merupakan startegi yang tepat dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada siswa. Karakter Islam yang melekat pada diri seseorang akan mempengaruhi orang disekitarnya untuk berprilaku Islami atau sesuaidengan ajaran-ajaran agama Islam.

Nilai karakter Islam yang akan dikembangkan dalam modul adalah religius, disiplin, mandiri, ketelitian dan rasa ingin tahu.

(24)

b. Validitas

Validitas adalah ketepatan dalam melakukan dan menggunakan sesuatu serta dapat diuji kebenarannya. Modul dikatakan valid apabila produk tersebut sudah layak atau belum, jadi valid adalah alat ukur ketepatan sebuah modul. Kapan modul dikatakan valid jika memenuhi kelayakan isi, kelayakan penyajian, kelayakan bahasa, kelayakan kegrafikan.

c. Praktikalitas

Praktikalitas modul pembelajaran matematika berbasis karakter Islam yang praktis adalah skor yang didapatkan dari hasil penskoran angket setelah dilakukan uji coba secara terbatas terhadap satu kelas.

Indikator dari angket yang disebarkan harus relevan dengan tujuan, sesuai dengan perkembangan siswa, bahasa yang digunakan dalam modul mudah dipahami, modul membantu memahami materi yang dipelajari, serta modul menambah pemahaman tentang karakter Islam pada siswa.

d. Efektivitas

Efektivitas Modul pembelajaran matematika berbasis karakter Islam adalah menghasilkan produk tertentu sesuai dengan analisis kebutuhan dan dapat berfungsi dimasyarakat luas. Efektivitas ini bertujuan untuk membandingkan proses pembelajaran menggunakan modul berbasis karakter Islam dengan pembelajaran tanpa menggunakan modul berbasis karakter Islam. Pada penelitian ini produk dikatakan efektif jika:

a. Siswa memberikan respons positif, yang ditunjukkan dengan hasil angket yang diberikan.

b. Terdapat peningkatan karakter Islam siswa, yang ditunjukkan dengan hasil angket yang diberikan.

(25)
(26)

1 1

BAB II KAJIAN TEORI A. Pembelajaran Matematika

Seseorang yang belajar maka mengharapkan perubahan, perubahan yang diharapkan kepada arah yang lebih baik. Beberapa dari sekian banyak ahli mendefinisikan belajar sebagai suatu perubahan menurut pendapat (Darsono, 2002:3-4):

1. Morris L. Bigge

Belajar adalah perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan secara genetis. Perubahan itu terjadi pada pemahaman, perilaku, persepsi, motivasi atau campuran dari semuanya, secara sistematis sebagai akibat pengalaman dalam situasi- situasi tertentu.

2. Jammes O. Whittaker

Belajar adalah proses yang menimbulkan atau merubah perilaku melalui latihan atau pengalaman.

3. Aron Quin Sartain

Belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman.

Perubahan ini antara lain cara merespon sinyal, cara menguasai suatu keterampilan, dan mengembangkan sikap terhadap suatu obyek.

4. d. W.S. Winkel

Belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap.

Lestari dan Handayani (2018:200) menjelaskan bahwa dalam sistem pendidikan di sekolah, materi pembelajaran telah digabungkan dalam kurikulum yang akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan pendidikan.

Salah satu mata pelajaran yang sangat penting untuk dimiliki siswa adalah matematika. Matematika merupakan ilmu yang mampu melatih daya analisis dan logika para siswa dengan pola dan aturan-aturun yang didefinisikan

15

(27)

secara cermat dan akurat sehingga dalam pengaplikasiannya dapat bermanfaat bagi siswa dalam menyelesaikan permasalahan.

Menurut (Suherman, 2003:32) pembelajaran matematika memiliki karakteristik sebagai berikut adalah 1) Pembelajaran matematika adalah bertahap (berjenjang); 2) Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral;

3) Pembelajaran matematika menekankan pola berfikir deduktif; 4) Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi. Berdasarkan karateristik pembelajaran matematika di atas bahwa matematika memiliki jenjang dalam pembelajarannya. Pembelajaran matematika dimulai dari materi yang rendah ke yang materi yang lebih tinggi. Materi yang dijadikan dari meteri awal kemateri yang lebih dalam. Pembelajaran matematika juga materi yang dipelajari tidak ada perubahan (konsisiten), karena sudah ada ketentuan dari pendapat ahli matematika.

B. Karakter Islam 1. Karakter

a. Pengertian Karakter

Karakter adalah moral atau sikap yang melekat pada diri seseorang. Menurut Suyadi (2013:15) secara etimologis, kata karakter (Inggris: character) berasal dari bahasa Yunani, eharassein yang berarti “to engrave”kata “to engrave” itu sendiri dapat diterjemahkan menjadi mengukir, melukis, memahat, atau menggoreskan. Arti ini sama dengan istilah karakter dalam bahasa Inggris (character) yang juga mengukir, melukis, memahat, atau menggoreskan. Berbeda dengan bahasa Inggris, dalam bahasa Indonesia karakter adalah sebagai tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.

Orang yang berkarakter adalah orang yang berkepribadian, berprilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak/ tertentu dan watak tersebut membedakan dirinya dengan orang lain .

(28)

Zubaedi (2011:1) berpendapat bahwa karakter adalah hal sangat penting dan mendasar. Karakter juga dapat diartikan sebagai mustika hidup yang membedakan manusia dengan binatang.

Seseorang yang berkarakter unggul dan baik secara individual maupun sosial ialah mereka yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik. Yang menbedakan manusia dengan binatang merupakan pola tingkah laku dan pola pikirnya.

Lebih jauh Yaumi (2014:120) menyatakan bahwa karakter dapat dipahami sebagai perangkat sebagai seperangkat ciri perilaku yang melekat pada diri seseorang yang menggambarkan tentang keberadaan dirinya kepada orang lain. Penggambarkan itu tercermin dalam perilaku etika melaksanakan dengan jujur atau sebaliknya, apakah dapat mematuhi hukum yang berlaku atau tidak.

Senada dengan Scerenko mendefinisikan bahwa karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis dan kompleksitas mental dari seseorang, suatu kelompok atau bangsa. Karakter juga bisa didefinisikan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan tata nilai interaksi antarmanusia.

Karakter seseorang bisa membedakan adalah dari ciri-ciri perilaku yang menjadi acuan dalam berinteraksi dalam masyarakat. (Samani dan hariyanto 2013:42)

Sementara Kurniawan (2013:29) memahami bahwa karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Seseorang yang memiliki karakter baik dan unggul adalah orang-orang yang mau berusaha untuk menerapkan nilai-nilai perilaku manusia yang diharapkan dengan mengoptimalkan dirinya disertai dengan kesadaran, emosi dan perasaannya.

(29)

Simon Philips, menyatakan bahwa karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan, Doni Koesoema A. berpendapat bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian bisa dikatakan sebagai akhlak, moral, budi pekerti, sifat khas dan memang sudah bawain dari lahir.

(Mu’in, 2011:160)

Berdasarkan pendapat di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa karakter adalah suatu sikap, tabiat, akhlak, budi pekerti, bawaan, kepribadian seseorang yang melekat pada dirinya yang membedakan dirinya dengan yang lain. Karakter tentu merujuk kepada aspek kebenaran, kebaikan dan melakukan segala yang baik.

b. Pendidikan Karakter

Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D, pendidikan karakter adalah usaha segaja (sadar) untuk membantu manusia memahami, peduli tentang dan melaksanakan nilai-nilai etika inti.

Sedangkan, Williams dan Schnaps mendefinisikan pendidikan karakter adalah berbagai usaha yang dilakukan oleh para pesonel sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja agar menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab (Zubaedi 2011:15)

Sedangkan (Samani dan hariyanto 2013:45) berpendapat bahwa pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntutan kepada siswa untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir dan raga. Untuk menjadi manusia seutuhnya perlu pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral dan pendidikan watak bertujuan mengembangkan kemampuan siswa untuk mengambilkan keputusan yang baik atau buruk.

(30)

Sementara (Yaumi, 2014:9) mengatakan bahwa pendidikan karakter adalah suatu istilah yang luas yang digunakan untuk menggambarkan kurikulum dan ciri-ciri organisasi sekolah yang mendorong pengembangan nilai-nilai fundamental anak-anak di sekolah. Dikatakan istilah yang luas karena mencakup berbagai subkomponen yang menjadi bagian dari program pendidikan karakter seperti pembelajaran dan kurikulum tentang keterampilan- keterampilan sosial, pengembangan moral, pendidikan nilai, pembinaan kepedulian, dan berbagai program pengembangan sekolah yang mencerminkan berkaktivitas yang mengarah pada pendidikan karakter.

Sementara Lickona, memahami bahwa pendidikan karakter mencakup tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Senada dengan Lickona, Frye mendefinisikan pendidikan karakter sebagai “ A national movement creating schools that foster ethical, responsible, and caring young people by modeling and teaching good character through an emphasis on universal values that we all Share”.

Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya sadar dan terencana dalam mengetahui kebenaran atau kebaikan, mencintainya dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

(Suyadi 2013:6)

Lebih jauh Brokowitz and Bier juga mengumpulkan beberapa definisi tentang pendidikan karakter yang dijabarkan sebagai berikut:

a) Pendidikan karakter adalah gerakan nasional dalam menciptakan sekolah untuk mengembangan peserta didik dalam memiliki etika, tanggung jawab, dan kepedulian dengan menerapkan dan mengajarkan karakter-karakter yang baik melalui penekanan pada nilai-nilai universal. Pendidikan karakter adalah usaha yang disengaja, proaktif yang dilakukan oleh sekolah dan pemerintah (daerah dan pusat) untuk

(31)

menanamkan nilai-nilai inti, etis seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap diri dan orang lain (Character Education Partnership)

b) Pendidikan karakter adalah mengajar peserta didik tentang nilai-nilai dasar kemanusiaan termasuk kejujuran, kebaikan, kemurahan hati, keberanian, kebebasan, kesetaraaan, dan penghargaan kepada orang lain. Tujuannya adalah untuk mendidik anak-anak menjadi bertanggung jawab secara moral dan warga negara yang disiplin (Association for Supervision and Curriculum Development)

c) Pendidikan karakter adalah usaha yang disengaja untuk mengembang karakter yang baik berdasarkan nilai-nilai inti yang baik untuk individu baik untuk masnyarakat (Thomas Lickona)

d) Pendidikan karakter adalah pendekatan apa saja yang disengaja oleh pesonel sekolah, yang sering berhubungan dengan orang- orang tua dan anggota masyarakat, membantu peserta didik dan remaja menjadi peduli, penuh prinsip, dan bertanggung jawab (National Commission on Character Education) Yaumi (2014:9-10)

Jadi pendidikan karakter adalah suatu usaha sengaja membantu siswa dalam memahami nilai-nilai moral yang berlaku.

Karakter juga dapat diartikan sebagai moralitas, watak, etika.

Dengan pendidikan diharapkan dapat merubah dan mengembangkan karater siswa berdasarkan nilai-nilai yang baik dalam masyarakat dan dapat menentukan baik-buruk.

c. Nilai-nilai Karakter

Pusat Kurikulum menyatakan Pemerintahan Indonesia merumuskan nilai-nilai pembentuk karakter siswa, yaitu 1) religius;

2) jujur; 3) toleransi; 4) disiplin; 5) kerja keras; 6) kreatif; 7) mandiri; 8) demokratis; 9) rasa ingin tahu; 10) semangat kebangsaan; 11) cinta Tanah Air; 12) menghargai prestasi; 13) bersahabat/komunikatif; 14) cinta damai; 15) gemar membaca; 16) peduli lingkungan; 17) peduli sosial; 18) tanggung jawab (Yaumi, 2014:136)

(32)

Tabel 2.1 Nilai-nilai Karakter dan Budaya Bangsa

NILAI DESKRIPSI

Religius Sikap perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas.

Rasa ingin tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

(Yaumi, 2014:83)

Menurut Kemendiknas dalam (Ali, dkk 2015:58) Jenis-jenis nilai karakter yang dapat ditanamkan kepada siswa di kelas adalah sebagai berikut:

1) Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan meliputi religius dan taqwa. Bagaimana cara seseorang dalam berhubungan dengan Allah.

2) Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri meliputi jujur, bertanggung jawab, hidup sehat, disiplin, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, berpikir logis, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, ingin tahu, cinta ilmu. Nilai karakter merupakan hal yang melekat pada diri sendiri yang tercermin dari tingkah laku.

(33)

3) Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama meliputi: sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain, patuh pada aturan- aturan sosial, menghargai karya dan prestasi orang lain, santun dan demokratis

4) Nilai karakter dalamn hubungannya dengan kebangsaan meliputi nasionalis, menghargai keberagaman.

Nilai karakter harusnya ditanamkan kepada siswa agar bisa tujuan dari pendidikan karakter dapat tercapai.

d. Prinsip Pendidik Karakter

Yaumi (2014:10) berpendapat bahwa secara teoritis terdapat beberapa prinsip yang terdapat beberapa prinsip yang dapat digeneralisasi untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu pendidikan karakter adalah:

1) Komunitas sekolah mengembangkan nilai-nilai etika dan kamampuan inti sebagai landasan karakter yang baik.

2) Sekolah mendefinisikan karakter secara komprehensif untuk memasukan pemikiran, perasaan, dan perbuatan.

3) Sekolah menggunakan pendekantan komprehesif, sengaja, dan proaktif untruk pengembangan karakter.

4) Sekolah menciptakan masyarakat peduli karakter.

5) Sekolah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan tindakan moral.

6) Sekolah menawarkan kurikulum akademik yang berarti dan menantang yang menghargai semua peserta didik mengembangkan karakter, dan membantu mereka untuk mencapai keberhasilan.

7) Sekolah mengembangkan motivasi peserta didik.

8) Staf sekolah adalah masyarakat belajar etika yang membagi tanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan karakter dan memasukan nilai-nilai inti yang mengarahkan peserta didik.

9) Sekolah mengembangkan kepemimpinan bersama dan dukungan yang besar terhadap permulaan atas perbaikan pendikan karakter.

10) Sekolah melibatkan anggota keluarga dan masnyarakat dalam upaya pembangun karakter.

11) Sekolah secara teratur menilai dan mengukur budaya dan iklim, fungsi-fungsi staf seabagai pendidikan karakter sejauh mana peserta didik mampu memanifestasikan karakter yang baik dalam pergaulan sehari-hari

(34)

Seluruh prinsip pendidikan karakter harus dipatuhi oleh siswa agar bisa tercapai tujuan dari pendidikan karakter tersebut.

e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Karakter

Menurut Zubaedi (2011:177-184) Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan karakter sebagai berikut:

1) Faktor insting (naluri)

Insting merupakan seperangkat tabiat yang dibawa sejak lahir. Para psikologi menjelaskan bahwa insting (naluri) berfungsi sebagai motivator pengerak yang mendorong lahirnya tingkah laku antara lain: naluri makan (nutritive insting), naluri berjodoh, naluri keibubakan, naluri berjuang dan naluri bertuhan. Kebiasan yang dibawa sejak lahir.

2) Adat/kebisaan

Adat/kebisaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan, seperti berpakaian, makan, tidur, dan olaraga. Tindakan yang dilakukan siswa yang ssecara berulang-ulang yang menjadi kebiasan siswa.

3) Keturunan (wirotsah/heredity)

Secara langsung atau tidak langsung keturunan sangat mempengaruhi pembentukan karakter atau sikap seseorang.

Sifat –sifat asasi anak merupakan pantulan sifat-sifat asasi orang tuanya. Jika orang tua memiliki sifat yang baik maka akan menular kepada anaknya.

4) Lingkungan (Milieu)

Lingkungan adalah suatu yang melingkupi tubuh yang hidup, meliputi tanah dan udara, sedangkan lingkungan manusia ialah apa yang mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara, dan masyarakat. Dengan perkataan lain, milieu adalah segala apa yang melingkupi manusia dalam arti yang seluas- luasnya. Milieu ada dua macam yaitu lingkungan alam dan

(35)

lingkungan pergaulan. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap sikap siswa, lingkungan yang baik akan membentuk sikap menjadi baik.

f. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dalam pembelajaran memiliki tiga fungsi utama:

1) Fungsi pembentuk dan pengembangan potensi. Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup pancasila.

2) Fungsi perbaikan dan penguatan. Pendidkan karakter berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpatisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera.

3) Fungsi penyaring. Pendidikan karakter berfungsi memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa dan karakter bangsa yang bermatabat. (Zubaedi, 2011:18)

Lebih jauh Zubaedi (2011:18-19) menjelaskan bahwa ketiga fungsi pendidikan karakter dilakukan melalui: (1) pengukuhan Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara, (2) pengukuhan nilai dan norma konstitusional UUD 45, (3) penguatan komitmen kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), 4) penguatan nilai-nilai keberagaman sesuai derngan konsepsi Bhineka Tunggal Ika , dan 5) penguatan keunggulan dan daya saing bangsa untuk keberlajutan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia dalam konteks global.

(36)

Menurut (Hasan, 2010: 53) dalam mencapai pendidkikan karakter Islam yang diinginkan maka memiliki tujuan sebagai berikut:

a) Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;

b) Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;

c) Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai

d) generasi penerus bangsa;

e) Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri,

f) Kreatif, berwawasan kebangsaan; dan

g) Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar

h) Yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

2. Karakter Islam

Istilah pendidikan karakter di Indonesia resmi digunakan baru berberapa tahun terakhir. Islam menurut KBBI adalah bersifat keislaman, artinya menyandarkan segala sesuatu pada Islam yang berdasarkan pada Al-Quran dan Al Hadist (KBBI, 2016:218). Islam mempunyai maksud bahwa perbuatan maupun tindakan senantiasa berlandaskan pada prinsip- prinsip Islam.

(Kusno, dkk, 2014:4) mengatakan bahwa pada diri seseorang atau benda yang menunjukan identitas, ciri, kepatuhan ataupun pesan keislamaman. Karakter Islam yang melekat pada diri seseorang akan mempengaruhi orang disekitarnya untuk berprilaku Islami juga. Karakter Islam yang sudah ada pada diri seseorang dapat terlihat dari cara berpikir dan bertindak, yang selalu dijiwai dengan nilai-nilai Islam. Bila dilihat dari segi perilakunya, orang yang memiliki karakter Islam akan selalu menunjukan keteguhan dan keyakinan, kepatuhan dalam beribadah, menjaga hubungan baik sesama manusia dan alam sekitar. Bila dilihat dari segi tata berbicara, orang yang berkarakter Islam akan selalu

(37)

berbicara dengan sopan, selalu mengucapkan salam saat berjumpa ataupun berpisah. Dari segi pakaian, orang yang berkarakter Islam akan mengenakan pakaian yang sopan dan menutup aurat. Karakter Islam juga dapat dilihat dari cara seorang anak berbakti kepada orang tuanya.

Seseorang yang berkarakter Islam tentu berhubungan dengan ajaran agama Islam

Sedangkan Zainal Aqib dan Sujuk (2011:3) memahami bahwa pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Pendidikan karakter Islam dianggap sebagai penanaman nilai-nilai karakter yang sesuai dengan AL-quran dan Al Hadits.

Senada dengan Ali, dkk (2015:58) menjelaskan makna lain dari karakter Islami adalah pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan siswa untuk menilai baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Keuntungan memiliki karakter Islam yang baik ialah agar bisa menghadapi tantang hidup di masa sekarang dan kedepannya. Hasil penelitian dan pengembangan modul IPA berbasis karakter Islam adalah gemar membaca, rasa ingin tahu, disiplin, dan menghargai karya orang lain.

Menurut Doni Koesoma, karakter Islam dibangun dari dua kata yaitu karakter dan Islam. Secara sederhana, karakter Islam adalah karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Sedangkan Khanafi, pendikan karakter Islam merupakan keseluruhan dinamika rasional antar pribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dalam maupun dari luarnya, agar pribadi itu semakin dapat menghayati kebebasannya, sehingga ia dapat semakin bertanggung jawab atas pertumbuhan dirinya sendiri sebagai pribadi dan perkembangan orang lain dalam hidup mereka yang sesuai dengan ajaran Islam. Karakter Islam merupakan pola

(38)

prilaku seseorang yang sejalan atau tidak bertentangan dengan Al-Quran.

Hasil penelitiannya ialah pembelajaran matematika dapat digunakan untuk membentuk pendidikan yang berkarakter Islam karena proses pembelajaran matematika secara tidak langsung membiasakan siswa untuk berkarakter jujur, sabar, cermat dan teliti.(Sari,dkk 2017:335)

Sattriawan dan Sutiarso, (2017:192) berpendapat bahwa Karakter religius (Islami) adalah suatu sifat yang melekat pada diri seseorang atau benda yang menunjukkan identitas, ciri, kepatuhan ataupun pesan keislaman. Karakter Islam yang melekat pada diri seseorang akan mempengaruhi orang disekitarnya untuk berperilaku Islami juga.

Karakter Islam yang ada pada diri seseorang akan terlihat dari cara berpikir dan bertindak, yang selalu dijiwai dengan nilai-nilai Islam. Bila dilihat dari segi perilakunya, orang yang memiliki karakter Islam selalu menunjukkan keteguhannya dalam keyakinan, kepatuhannya dalam beribadah, menjaga hubungan baik sesama manusia dan alam sekitar.

Menurut Yaumi, (2014:129) Pada Perspektif pendidikan Islam, nilai-nilai karakter banyak dikaji dalam pendidikan akhlak. Bahkan Rasulullah SAW diutus untuk menjadi teladan yang sebaik-baiknya bagi manusia (QS, al-Ahzaab (33):21) karena memiliki budi pekerti yang agung (Qs. Al-Qalam (68):4)

QS, al-Ahzaab (33):21





































21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

(39)

Qs. Al-Qalam (68):4











4. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Keagungan kepribadian Rasullah SAW telah terintegrasi dalam perilaku dan aktivitas keseharian yang tergambar dalam empat sifat : sidiq (benar), amanah (betul-betul dipercaya), tabligh (informatif, menjadi sumber informasi yang benar), dan fathonah ( bijaksana).

Keempat sifat inilah yang menjadi payung besar dalam pendidikan karakter, artinya nilai-nilai karakter dan budaya bangsa yang menjadi intisari pendidikan karakter adalah perwujudan dari empat sifat dan karakter Rasulullah SAW sebagaimana digambarkan diatas.

Sementara Alwi (2010:328) menjelaskan bahwa Islami adalah bersifat keislaman atau mengandung unsur-unsur serta nilai-nilai Islam.

Karakter Islami sesungguhnya sudah diperintahkan oleh Allah SWT dalam Qs. An-Nahl ayat 90 sebagai berikut:



































90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Berdasarkan ayat An-Nahl ayat 90 dapat diketahui bahwa pada hakikatnya Allah telah memerintahkan kepada umat manusia untuk berlaku sesuai dengan karakter dasar yang dimiliki oleh setiap manusia, yaitu berlaku adil, berbuat kebajikan, saling memberi kepada kaum

(40)

kerabat serta menghindari perbuatan keji, mungkar dan permusuhan. Hal itulah yang menjadikan pendidikan Karakter Islam ditanamkan Allah dalam Al-Qura’an.

Maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter Islam adalah upaya sadar yang dilakukan untuk merubah suatu tindakan atas perbuatan, peragai, tingkah laku dan tabiat yang berasaskan pada nilai- nilai Islam, sehingga pendidikan karakter Islam merupakan bentuk pendidikan dengan menanamkan sifat-sifat keislaman sehingga dapat membentukan tindakan atau perbuatan yang sesuai dengan aturan Islam.

Karakter Islam dapat dimaknai upaya sadar untuk merubah watak atau sikap seseorang yang melekat dalam diri seseorang yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam. Dari nilai-nilai karakter dan karakter Islam maka nilai karakter Islam yang dikembangkan dalam modul adalah religius, jujur, mandiri, ketelitian, dan rasa ingin tahu.

C. Modul

1. Pengertian Modul

Modul adalah suatu bahan ajar yang tersusun secara sistematis yang telah di desain untuk siswa, Mardati,dkk (2016:2) menjelaskan bahwa modul merupakan seperangkat bahan ajar cetak yang disajikan secara sistematis. Ada tiga pengertian modul adalah suatu unit bahan yang dirancang secara khusus sehingga dipelajari oleh pelajar secara mandiri, merupakan program pembelajaran yang utuh, disusun secara sitematis, mengaju pada tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur, dan memuat tujuan pembelajaran, bahan dan kegiatan untuk mencapai tujuan serta evaluasi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Modul juga bisa dikatakan bahan ajar yang dapat digunakan sebagai pengganti guru atau pendidik ketika di rumah. Oleh karena itu, modul harus bisa membantu siswa memahami suatu konsep tanpa harus didampingi oleh pendidiknya.

(41)

Serupa dengan (Lestari dan Handayani, 2018:201) Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dapat dikemas secara utuh dan sistematis, di dalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu siswa menguasai tujuan belajar yang spesifik.

Wulantina, (2013:15) berpendapat bahwa modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tampa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi paling tidak tentang petunjuk belajar (petunjuk siswa/guru), kompetensiyang ingin dicapai, isi materi, informasi pendukung, latihan, petunjuk kerja, dapat berupa lembar kerja, evaluasi, balikan terhadap hasil evaluasi.

Menurut Sani (2014:183) bahwa pembelajaran modul adalah suatu pembelajaran mandiri mengenai satuan bahasan tertentu dengan menggunakan bahan ajar yang disusun secara sistematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh siswa, disertai dengan pedoman penggunaanya untuk para guru. Modul dapat membantu siswa dalam proses pembelajaran karena modul telah disusun secara sistematis, terarah dan sudah didesain untuk siswa agar mudah memahami tujuan pembelajaran.

Modul terdiri dari petunjuk belajar, kompetensi yang ingin dicapai, isi materi, informasi pendukung, latihan, petunjuk kerja dan evaluasi.

Modul adalah suatu bahan ajar mandiri yang disusun secara sistematis yang dapat membatu siswa dalam memahami materi yang dijelaskan.

Modul yang disusun bisa membentuk siswa agar bisa belajar mandiri dan bisa belajar sendiri di rumah.

(42)

2. Tujuan Modul

Sani (2014:183) menjelaskan bahwa tujuan dari menggunakan modul pada pembelajaran adalah:

a. Membuka kesempatan bagi peserta didik untuk belajar menurut kecepatannya masing-masing.

b. Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk belajar menurut cara masing-masing karena mereka mungkin menggunakan teknik yang berbeda-beda dalam memecahkan masalah tertentu berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kebiasaan masing-masing.

c. Memberi pilihan dari sejumlah besar topik dalam suatu mata pelajaran, mata kuliah, atau bidang studi jika dianggap bahwa peserta didik tidak mempunyai pola minat yang sama atau motivasi yang sama untuk mencapai tujuan yang sama.

d. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal kelebihan dan kekurangannya dan memperbaiki kelemahannya.

Pada saat pembelajaran setiap siswa memiliki kesempatan untuk memiliki kecepatan dalam menyelesaikan masalah matematika. Dalam modul setiap siswa memiliki cara, teknik yang berbeda-beda dalam menyelesaikan masalah matematika. Sehingga dapat meningkat kemampuan, motivasi dan hasil belajar siswa.

Menurut Dharma (2008:5) penulisan modul memiliki tujuan yaitu 1) memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbal; 2) mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik peserta belajar maupun guru/instruktur; 3) dapat digunakan secara tepat dan bervariasi, seperti untuk meningkatkan motivasi dan gairah belajar; mengembangankan kemampuan dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya yang memungkinkan peserta didik belajar mandiri sesuai kemampuan dan minatnya.

(43)

3. Karakteristik Modul

Dalam menyusun suatu modul tentu memiliki karakteristik Modul, Sani (2014:183-184) berpendapat bahwa Pembelajaran dengan sistem modul memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

1. Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan dan sumber belajar apa yang harus digunakan 2. Modul merupakan pembelajaran individual sehingga mengupayakan

untuk mempertimbangkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Rancangan modul seharusnya: a) memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya: b) memungkinkan peserta didik menguykur kemajuan belajar yang telah diperoleh; dan c) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.

3. Pengalaman belajar dalam modul dirancang untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

Penggunaaan modul seharusnya memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekadar membaca dan mendengar. Misalkan, modul dirancang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk bermain (role playing), simulasi dan berdiskusi.

4. Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat mengetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul, serta tidak menimbulkan pertanyaan mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari.

5. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar.

4. Komponen-komponen Modul

Modul pembelajaran merupakan satuan yang terdiri dari komponen utama sebagai berikut:

a. Rumusan tujuan pengajaran yang eksplisik dan spesifik.

b. Petunjuk untuk guru.

c. Petunjuk untuk siswa.

d. Lembaran kegiatan siswa yang memuat materi pelajaran yang harus dikuasai siswa.

e. Lembaran kerja f. Kunci lembaran kerja

g. Kunci evaluasi. (Sabri, 2010:145)

Referensi

Dokumen terkait

Atas kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “PENGEMBANGAN MODUL MATEMATIKA UNTUK PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) PADA

 Almamater tercinta.. Pengembangan Pembelajaran Matematika Berbasis Karakter di SMP Negeri 2 Miri Sragen. Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah

Atas kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “PENGEMBANGAN MODUL MATEMATIKA UNTUK PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) PADA

Hasil analisis keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan modul pembelajaran matematika berbasis learning cycle 7E dengan pendekatan saintifik diperoleh persentase

Hasil analisis keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan modul pembelajaran matematika berbasis learning cycle 7E dengan pendekatan saintifik diperoleh persentase

E- modul yang dikembangkan memiliki karakteristik pembelajaran statistika berbasis vokasi terintegrasi pendidikan karakter sebagai berikut: (1) Mengarahkan siswa

Pada pertemuan pertama pembelajaran peneliti mengarahkan siswa untuk mendiskusikan materi tentang pengertian pola bilangan, barisan dan deret yang sudah dikemas dalam e-modul

iv ABSTRAK PENGEMBANGAN MODUL LOGIKA MATEMATIKA BERBASIS HIGHER ORDER THINGKING SKILLS UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA DI SMK YPK MEDAN Ayu Wulandari Email: