PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEAMS GAMES TOURNAMENTS UNTUK SISWA KELAS VII.2 SMP NEGERI 1
BONTORAMBA
Abstrak
Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Research and Development) dengan ujicoba terbatas yang bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT pada pokok bahasan Pecahan yang meliputi Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bontoramba dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang. Prosedur pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Thiagarajan atau model 4-D (Define, Design, Develop, dan Disseminate) yang meliputi empat tahap, yaitu tahap pembatasan, tahap perancangan, tahap pengembangan, dan tahap penyebaran. Perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT yang telah dikembangkan, telah divalidasi dan mengalami revisi berulang-ulang kali sehingga didapatkan hasil yang maksimal dan layak untuk digunakan. Hasil dari ujicoba terbatas menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT bersifat efektif dan praktis, yaitu (1) skor rata-rata yang diperoleh siswa pada tes hasil belajar adalah 79,13 dari skor ideal 100 dengan standar deviasi 12,08. Dimana 33 dari 40 siswa atau 82,5% memenuhi ketuntasan individu yang menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal tercapai; (2) dengan menggunakan perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT, siswa jadi lebih aktif dalam proses pembelajaran; (3) pada umumnya siswa memberikan respons yang positif terhadap perangkat pembelajaran yang digunakan; (4) guru dapat membimbing kelompok bekerja dan belajar; dan (5) tingkat kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran kooperatif tipe TGT termasuk dalam kategori tinggi, artinya penampilan guru dapat dipertahankan.
Kata kunci: Pengembangan Perangkat, Pembelajaran Kooperatif, Teams Games Tournaments.
A. PENDAHULUAN
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, baik aspek penalarannya maupun aspek terapannya mempunyai peranan yang penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. Hal ini berarti matematika perlu dibekalkan kepada setiap peserta didik. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pendidikan matematika yaitu faktor siswa, guru, sarana dan prasarana. Namun masih terdapat siswa yang beranggapan negatif terhadap matematika. Adanya persepsi siswa bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran sulit, kurang menyenangkan dan hanya sebagian siswa tertentu yang bisa menguasai matematika. Persepsi tersebut menjadi salah satu faktor penyebab kurang berhasilnya pendidikan di bidang matematika, berakibat rendahnya minat belajar matematika dan rendahnya nilai Ujian Akhir Nasional (UAN).
Rendahnya hasil belajar siswa, khususnya matematika disebabkan karena strategi pembelajaran maupun pendekatan yang digunakan oleh guru kurang efektif, dimana metode dan model pembelajaran yang kurang kreatif dan variatif sehingga muncul kecenderungan pengajaran berpusat pada guru. Secara operasional kebanyakan guru masih menggunakan pendekatan tradisional atau mekanistik yang menekankan pada proses keterampilan dan latihan, guru lebih menitikberatkan pengajaran (teaching) sementara siswa pasif dan cenderung untuk menghafal konsep tanpa disertai pemahaman yang memadai. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya pembaharuan strategi pembelajaran maupun pendekatan agar peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang melibatkan para peserta didik secara aktif dalam memperoleh dan memahami konsep-konsep matematika secara benar yaitu model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournaments) dengan pendekatan CTL (Contekstual Teaching and Learning). Belajar lebih baik dari sekedar mengingat. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Dalam pembelajaran kooperatif TGT dengan pendekatan CTL ini, siswa merupakan pelaku utama dalam pembelajaran. Siswa diharapkan mampu berkomunikasi, berkolaborasi dengan siswa lainnya, dan secara kontekstual siswa diharapkan mampu menggunakan matematika untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengkonstruksi sendiri pengetahuan melalui manipulasi benda-benda nyata yang ada pada lingkungannya atau yang dapat dibayangkan.
Untuk mengimplementasikan pembelajaran matematika di kelas, maka yang pertama harus dilakukan adalah penyusunan perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran tersebut disusun mengacu pada karakteristik model pembelajaan kooperatif tipe TGT serta pendekatan yang digunakan yaitu contekstual teaching and learning. Berdasarkan uraian tersebut penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournaments) dengan pendekatan CTL (Contekstual Teaching and Learning) Pada Siswa Kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bontoramba“.
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka masalah yang akan diselidiki dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: bagaimana mengembangkan perangakat pembelajaran kooperatif teams games tournaments dengan pendekatan contekstual teaching and learning untuk siswa kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bontoramba?
2. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang dikemukakan di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan perangkat pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif TGT (Teams Games Tournaments) dengan pendekatan CTL (Contekstual Teaching and Learning). Perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan yaitu Buku Siswa (BS), Lembar Kegiatan Siswa (LKS), dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
3. Manfaat Penelitian
1. Bagi Guru, dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi guru bidang studi matematika SMP Negeri 1 Bontoramba tentang penerapan Pembelajaran Koopeartif tipe TGT dengan pendekatan.
2. Bagi Siswa, agar siswa mampu berkomunikasi, berkolaborasi dengan siswa lainnya, dan secara kontekstual, siswa mampu menggunakan matematika untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dengan mengkonstruksi sendiri pengetahuan melalui manipulasi benda-benda nyata yang ada pada lingkungannya atau yang dapat dibayangkan.
3. Bagi Sekolah, hasil penelitian ini dapat memberikan konstribusi bagi peningkatan proses belajar mengajar di sekolah.
B. METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian pengembangan (Research and Development) meliputi pengembangan paket pembelajaran yang terdiri dari (1) Buku Siswa; (2) Lembar Kegiatan Siswa; dan (3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
2. Lokasi, Waktu dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bontoramba pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014 dengan subjek penelitian adalah siswa Kelas VII.2 dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang.
3. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap analisis data.
a. Tahap persiapan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah :
a. Menelaah kurikulum SMP kelas VII semester ganjil untuk pelajaran matematika.
b. Mengembangkan perangkat pembelajaran yaitu buku siswa, lembar kegiatan siswa, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan tes hasil belajar siswa.
c. Membuat lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa, aktivitas guru, dan pengelolaan pembelajaran di kelas.
d. Membuat angket untuk mengetahui respon siswa tentang perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu perangkat pembelajaran kooperatif TGT dengan pendekatan CTL.
b. Tahap Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:
a. Membagi kelompok berdasarkan nilai mata pelajaran matematika pada semester sebelumnya
b. Melaksanakan pembelajaran kooperatif TGT dengan pendekatan CTL c. Selama proses pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan aktivitas
orang pengamat. c. Tahap Analisis Data
Kegiatan pada tahap ini adalah menganalisis data yang diperoleh dari tahap pelaksanaan. Data-data yang akan dianalisis adalah data hasil belajar siswa, data hasil pengamatan aktivitas siswa dan aktivitas guru, dan data hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran.
4. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika
Pengembangan perangkat pembelajaran matematika yang digunakan mengacu pada model 4-D Thiagarajan. Hal ini disebabkan karena model 4-D lebih terperinci dan lebih luas pengembangannya dibanding model yang lain. Model ini merupakan sistem pendekatan pengembangan pembelajaran yang dilakukan dalam 4 tahap, yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan dan penyebaran. Pada tahap penyebaran belum dapat dilakukan dalam penelitian ini disebabkan karena keterbatasan waktu dan biaya yang dimiliki oleh peneliti. Adapun tahap-tahap pengembangan model 4-D yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Tahap pendefinisian
Tujuannya adalah menetapkan dan menentukan syarat-syarat pembelajaran yang meliputi tujuan pembelajaran dan pembatasan materi pembelajaran. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Analisis kurikulum tingkat satuan pendidikan
Pada tingkat Sekolah Menengah Pertama, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang disusun merupakan pengetahuan, keterampilan, pengenalan, dan pemahaman berfikir deduktif yang dapat mengarahkan kepada kecermatan serta sistematika berfikir dan bertindak. Pembelajaran pada tingkat Sekolah Menengah Pertama ditekankan pada pengenalan fakta, penanaman konsep, dan penemuan prinsip.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan menuntut kreativitas guru untuk menyusun sendiri model pendidikan yang sesuai dengan kondisi lokal sekolah yang bersangkutan yang didasarkan pada standar isi dan standar kompetensi yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
2) Analisis siswa
Analisis siswa merupakan telaah tentang karakteristik siswa yang sesuai dengan desain pengembangan perangkat pembelajaran. Karakteristik itu meliputi latar belakang kemampuan akademik (pengetahuan) dan perkembangan kognitif.
3) Analisis konsep
Analisis konsep digunakan untuk mengidentifikasi konsep-konsep utama yang diajarkan kemudian disusun secara sistematis konsep-konsep yang relevan.
4) Analisis tugas
Analisis tugas meliputi analisis terhadap tugas-tugas yang dilakukan oleh siswa selama pembelajaran berlangsung berdasarkan kurikulum SMP. 5) Spesifikasi tujuan pembelajaran.
Tujuannya adalah untuk mengkonversi tujuan analisis konsep dan tugas menjadi tujuan-tujuan pembelajaran khusus, yang dinyatakan dengan tingkah
laku. Selanjutnya tujuan pembelajaran khusus tersebut dijadikan dasar untuk menyusun tes dan merancang paket pembelajaran.
b. Tahap perancangan.
Tujuannya adalah menghasilkan prototipe bahan pembelajaran yang dikembangkan, mencakup penyusunan tes dan pengembangan bahan pembelajaran. Adapun tahap-tahap perancangan adalah sebagai berikut:
1) Penyusunan tes.
Berdasarkan analisis konsep dan analisis tugas, maka dapat disusun suatu tes yang akan menjadi instrumen pengumpulan data tentang tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang akan diajarkan.
2) Pemilihan Media.
Pemilihan media dalam penelitian ini disesuaikan dengan analisis kurikulum, hasil analisis tugas, analisis konsep, karakteristik siswa, dan fasilitas yang ada di sekolah.
3) Pemilihan Format
Pemilihan format dalam penelitian ini meliputi pemilihan format untuk merancang isi materi, pemilihan strategi pembelajaran, dan sumber belajar. 4) Rancangan Awal
Rancangan awal yang dimaksud adalah rancangan seluruh kegiatan yang harus dikerjakan sebelum uji coba dilaksanakan. Adapaun rancangan awal paket pembelajaran tersebut antara lain:
1) Buku Siswa (BS)
2) Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Semua perangkat pembelajaran yang dihasilkan pada tahap ini disebut dengan perangkat pembelajaran draft 1.
c. Tahap Pengembangan
Pada tahap ini dihasilkan bentuk akhir perangkat pembelajaran. Setelah melalui revisi berdasakan masukan dari para ahli dan data hasil uji coba. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
1) Penafsiran ahli
Pada tahap ini dilakukan validasi isi. Para ahli diminta untuk memvalidasi semua perangkat pembelajaran yang dihasilkan pada draft 1. Segala perbaikan atau saran dari para ahli dijadikan pertimbangan untuk melakukan revisi perangkat pembelajaran draft 1. Perangkat yang dihasilkan pada revisi ini selanjutnya di sebut perangkat pembelajaran draft 2.
2) Ujicoba Terbatas
Perangkat pembelajaran yang telah direvisi tersebut untuk selanjutnya diujicobakan di SMP Negeri 1 Bontoramba. Ujicoba hanya dilakukan pada satu kelas saja. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan masukan dari siswa dan guru di lapangan terhadap perangkat pembelajaran yang telah digunakan. Ujicoba di lapangan dilakukan oleh penulis sendiri. Pelaksanaan ujicoba meliputi pelaksanaan proses pembelajaran kooperatif TGT dengan pendekatan CTL dan tes hasil belajar. Tes yang digunakan di sini berbentuk uraian. Setelah ujicoba dilaksanakan, data yang dihasilkan digunakan untuk melakukan revisi terhadap perangkat pembelajaran draft 2. Perangkat yang dihasilkan pada revisi ini
selanjutnya di sebut perangkat pembelajaran draft 3.
Perangkat pembelajaran yang telah diujicobakan kemudian divalidasi kembali untuk mendapatkan draft akhir.
d. Tahap Penyebaran.
Tujuannya adalah sebagai bahan pertimbangan atau masukan untuk mendapatkan pola atau strategi pembelajaran yang efektif dalam setiap proses pembelajaran.
5. Pengembangan Instrumen
Untuk memperoleh informasi tentang aktivitas siswa, aktivitas guru, dan pengelolaan pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL, dan tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan, dikembangkan instrumen-instrumen sebagai berikut:
a. Lembar validasi perangkat pembelajaran
Lembar validasi perangkat pembelajaran digunakan untuk memperoleh informasi tentang kualitas perangkat pembelajaran berdasarkan penilaian para ahli. Informasi yang diperoleh melalui instrumen ini digunakan sebagai masukan dalam merevisi semua perangkat pembelajaran. Pada masing-masing lembar validasi perangkat pembelajaran untuk pokok bahasan Pecahan, validator menuliskan penilaian terhadap masing-masing perangkat yang terdiri dari: Buku Siswa, LKS, RPP dan THB. Penilaian terdiri dari 4 kategori, yaitu sangat kurang (nilai 1), kurang (nilai 2), baik (nilai 3), dan baik sekali (nilai 4).
b. Lembar pengamatan aktivitas siswa
Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL. Informasi yang diperoleh melalui instrumen ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk merevisi Buku Siswa, LKS serta RPP. Pengamatan aktivitas siswa dilakukan oleh satu orang pengamat yang dilakukan pada saat kegiatan siswa (kerjasama) dalam kelompok dan mengamati satu kelompok yang terdiri dari lima orang. Pada lembar pengamatan aktivitas siswa pengamat menuliskan nomor-nomor kategori aktivitas siswa yang dominan muncul dalam kegiatan pembelajaran dalam selang waktu 3 menit pada kolom yang tersedia. Penempatan waktu 3 menit ini dimaksudkan untuk menjaring semua jenis aktivitas yang dilakukan siswa. Adapun aktivitas siswa yang diamati meliputi memperhatikan informasi dan mencatat seperlunya, membaca LKS dan Buku Siswa, aktif terlibat dalam tugas, aktif dalam diskusi dan latihan, mencatat apa yang disampaikan teman, mengajukan dan menjawab pertanyaan, memberi bantuan penjelasan kepada teman dan kegiatan lainnya di luar tugas dan yang tidak berkaitan dengan KMB (Kegiatan Belajar Mengajar).
c. Lembar pengamatan aktivitas guru
Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas guru selama proses pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL. Informasi yang diperoleh melalui instrumen ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk merevisi Buku Siswa, LKS serta RPP. Pengamatan aktivitas guru juga dilakukan oleh satu orang pengamat terhadap kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh guru. Pada lembar pengamatan aktivitas guru pengamat meberikan kode/tanda () pada kolom yang tersedia sesuai dengan aktivitas guru yang dominan muncul untuk setiap 3 menit. Penempatan waktu 3 menit ini dimaksudkan untuk menjaring semua jenis aktivitas yang dilakukan guru. Aktivitas guru meliputi menginformasikan masalah yang harus dikerjakan bersama dalam kelompok, meminta siswa mengerjakan tugas LKS kelompok dengan kerjasama dalam kelompok, memberi arahan agar siswa selalu berada dalam tugas kelompok, mengontrol/berkeliling memperhatikan kerja kelompok, membimbing/ memberi bantuan kepada siswa dalam aktivitas kelompok, mengajukan pertanyaan yang merangsang berpikir siswa (pertanyaan yang membuka wawasan), memberi umpan balik dan kegiatan di luar tugas, misalnya duduk diam di kursi, membaca koran, ke luar kelas, merokok dan sebagainya.
d. Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL
Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran digunakan untuk mengetahui kemampuan guru dalam mengelola kelas. Informasi yang diperoleh melalui instrumen ini digunakan untuk merevisi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Pada lembaran ini, pengamat melakukan penilaian terhadap kemampuan guru mengelola pembelajaran dengan memberikan kode/ tanda (√) pada baris dan kolom yang sesuai. Penilaian terdiri dari 4 kategori, yaitu sangat kurang (nilai 1), kurang (nilai 2), baik (nilai 3) dan sangat baik (nilai 4). Aspek-aspek yang diamati (Ummiyati, 2008) yaitu menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, menyajikan informasi, mengordinasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar, membimbing kelompok-kelompok bekerja dan belajar, evaluasi, memberikan penghargaan, dan suasana kelas (siswa antusias, guru antusias, kegiatan sesuai RPP).
e. Respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran
Respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran kooperatif TGT dengan pendekatan CTL diperoleh melalui angket. Angket digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran dan perangkat pembelajaran kooperatif TGT dengan pendekatan CTL yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran dapat berupa pendapat atau komentar mereka terhadap materi pelajaran, kegiatan pembelajaran dan perangkat yang digunakan.
f. Respons guru terhadap kegiatan pembelajaran
Respons guru terhadap kegiatan pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL diketahui melalui angket. Angket tersebut diisi oleh guru setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran dan selanjutnya digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki perangkat yang dikembangkan. Respons guru terhadap kegiatan pembelajaran dapat berupa pendapat atau komentar guru terhadap materi pelajaran dan perangkat yang digunakan.
g. Tes hasil belajar
Tes Hasil Belajar (THB) digunakan untuk memperoleh informasi tentang penguasaan siswa terhadap materi perbandingan setelah pembelajaran berlangsung.
Informasi yang diperoleh melalui instrumen ini digunakan untuk merevisi perangkat tes itu sendiri.
Data yang terkumpul tentang hasil pengamatan dan respons siswa dianalisis secara kualitatif. Data tentang hasil belajar di analisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif yaitu skor rata-rata, standar deviasi, median, frekuensi, persentase, nilai terendah dan nilai tertinggi yang dicapai siswa. 6. Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan dengan menggunakan instrumen-instrumen seperti yang telah disebutkan pada bagian E, selanjutnya dianalisis secara kuantitatif dan diarahkan untuk menjelaskan kevalidan, keefektifan dan kepraktisan perangkat pembelajaran yang tengah dikembangkan. Data yang diperoleh dari hasil validasi oleh para ahli dianalisis untuk menjelaskan kevalidan dan kelayakan penggunaan perangkat pembelajaran di kelas. Adapun data hasil ujicoba di kelas digunakan untuk menjelaskan keefektifan dan kepraktisan perangkat pembelajaran. (Darwis, 2007).
Berikut ini dikemukakan tentang analisis data kevalidan, kepraktisan dan keefektifan.
a. Analisis data kevalidan perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL
Berdasarkan data hasil penilaian kevalidan perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL oleh dua validator/ahli, yaitu orang yang dipandang ahli dalam bidang pendidikan matematika, dihitung nilai rata-rata V dari V1 dan V2 dengan V1 = nilai rata-rata yang diperoleh dari validator pertama
dan V2 = nilai rata-rata yang diperoleh dari validator kedua. Nilai V ini selanjutnya
dikonfirmasikan dengan interval penentuan kategori validitas perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL (Ummiyati, 2008) , yaitu:
1. V1,5 berarti TV (Tidak Valid) 2. 1,5 V2,5 berarti CV (Cukup Valid) 3. 2,5 V3,5 berarti V (Valid) 4. 3,5 V4 berarti SV (Sangat Valid)
Keterangan: V adalah nilai rata-rata validitas perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL
Kriteria yang digunakan untuk memutuskan bahwa perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL yang terdiri dari Buku Siswa (BS), LKS dan RPP memiliki derajat validitas yang memadai adalah (i) nilai V untuk keseluruhan aspek pada Buku Siswa, LKS, dan RPP minimal berada dalam kategori “cukup valid”, dan (ii) nilai V untuk setiap aspek minimal berada dalam kategori “valid”. Apabila tidak demikian, maka perlu dilakukan revisi berdasarkan saran para validator atau dengan melihat kembali aspek-aspek yang nilainya kurang. Selanjutnya dilakukan validasi ulang lalu dianalisis kembali. Demikian seterusnya sampai memenuhi nilai V minimal berada di dalam kategori valid (Darwis, 2007).
b. Analisis data keefektifan perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL
Analisis terhadap keefektifan perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL didukung oleh hasil analisis data dari 5 komponen keefektifan, yaitu (1) hasil belajar siswa atau ketuntasan klasikal, (2) aktivitas siswa, (3) respons siswa, (4) aktivitas guru, dan (5) pengelolaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (CTL) oleh guru. Oleh karena itu, kegiatan analisis data terhadap kelima komponen itu adalah sebagai berikut:
1) Analisis Data Hasil Belajar Siswa
Analisis dilakukan terhadap skor-skor yang diperoleh siswa dari Tes Hasil Belajar (THB) yang diberikan setelah semua materi tuntas dibahas. Kriteria yang digunakan untuk menentukan skor adalah skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Jumriati, 2006) yaitu:
1) Kemampuan 0% - 34% atau skor 0 – 34 dikategorikan sangat rendah 2) Kemampuan 35% - 54% atau skor 35 – 54 dikategorikan rendah 3) Kemampuan 55 - 64% atau skor 55 – 64 dikategorikan sedang 4) Kemampuan 65% - 84% atau skor 65 – 84 dikategorikan tinggi. 5) Kemampuan 85% - 100% atau skor 85 – 100 dikategorikan sangat tinggi.
Pada materi Pecahan, Standar Kriteria Ketuntasan Minimal (SKKM) yang harus dipenuhi oleh seorang siswa adalah 70. Jika seorang siswa memperoleh S70 maka siswa yang bersangkutan mencapai ketuntasan individu. Jika minimal 75% siswa mencapai skor minimal 70, maka ketuntasan klasikal telah tercapai (SKKM ditentukan oleh pihak sekolah bersangkutan). 2) Analisis data aktivitas siswa
Data hasil observasi aktivitas siswa selama kerjasama dalam kelompok dilakukan analisis dan dideskripsikan. Untuk mencari rata-rata frekuensi dan rata-rata persentase waktu yang digunakan siswa melakukan aktivitas selama kerjasama dalam kelompok ditentukan melalui langkah-langkah berikut:
a) Hasil pengamatan aktivitas siswa untuk setiap indikator dalam satu kali pertemuan ditentukan frekuensinya dan dicari rata-rata frekuensinya. Selanjutnya, ditentukan frekuensi rata-rata dari rata-rata frekuensi untuk beberapa kali pertemuan.
b) Mencari persentase frekuensi setiap indikator dengan cara membagi besarnya frekuensi dengan jumlah frekuensi untuk semua indikator. Kemudian hasil pembagian dikali 100%. Selanjutnya dicari rata-rata persentase waktu untuk beberapa kali pertemuan dan ditulis dalam tabel rata-rata persentase.
Selanjutnya persentase waktu untuk setiap indikator dirujuk terhadap kriteria pencapaian waktu ideal aktivitas siswa dalam pembelajaran (khususnya dalam kerjasama kelompok) sebagai berikut:
a) Waktu ideal yang digunakan siswa untuk melakukan indikator memperhatikan informasi dan mencatat seperlunya adalah 6,67% dari waktu yang tersedia pada setiap pertemuan, sehingga batas toleransi pencapaian waktu ideal aktivitas siswa untuk indikator tersebut ditetapkan dari 1,67% sampai dengan 11,67%
b) Waktu ideal yang digunakan siswa untuk melakukan indikator membaca LKS, materi pembelajaran atau buku siswa adalah 1,67% dari waktu yang tersedia pada setiap pertemuan, sehingga batas toleransi pencapaian waktu ideal aktivitas siswa untuk indikator tersebut ditetapkan dari 1,67% sampai dengan 11,67%
c) Waktu ideal yang digunakan siswa untuk melakukan indikator aktif terlibat dalam tugas adalah 13,33% dari waktu yang tersedia pada setiap pertemuan, sehingga batas toleransi pencapaian waktu ideal aktivitas siswa untuk indikator tersebut ditetapkan dari 8,33% sampai dengan 18,33%
d) Waktu ideal yang digunakan siswa untuk melakukan indikator aktif berdiskusi dengan teman adalah 26,67% dari waktu yang tersedia pada setiap pertemuan, sehingga batas toleransi pencapaian waktu ideal aktivitas siswa untuk indikator tersebut ditetapkan dari 21,67% sampai dengan 31,67%
e) Waktu ideal yang digunakan siswa untuk melakukan indikator mencatat apa yang disampaikan teman adalah 13,33% dari waktu yang tersedia pada setiap pertemuan, sehingga batas toleransi pencapaian waktu ideal aktivitas siswa untuk indikator tersebut ditetapkan dari 8,33% sampai dengan 18,33%
f) Waktu ideal yang digunakan siswa untuk melakukan indikator mengajukan pertanyaan kepada teman/guru adalah 6,67% dari waktu yang tersedia pada setiap pertemuan, sehingga batas toleransi pencapaian waktu ideal aktivitas siswa untuk indikator tersebut ditetapkan dari 1,67% sampai dengan 11,67%
g) Waktu ideal yang digunakan siswa untuk melakukan indikator menjawab/menanggapi pertanyaan teman/guru adalah 6,67% dari waktu yang tersedia pada setiap pertemuan, sehingga batas toleransi pencapaian waktu ideal aktivitas siswa untuk indikator tersebut ditetapkan dari 1,67% sampai dengan 11,67%
h) Waktu ideal yang digunakan siswa untuk melakukan indikator memberi bantuan penjelasan kepada teman yang membutuhkan adalah 20% dari waktu yang tersedia pada setiap pertemuan, sehingga batas toleransi pencapaian waktu ideal aktivitas siswa untuk indikator tersebut ditetapkan dari 15% sampai dengan 25%
i) Waktu ideal yang digunakan siswa untuk melakukan indikator melakukan kegiatan di luar tugas adalah 0% dari waktu yang tersedia pada setiap pertemuan, sehingga batas toleransi pencapaian waktu ideal aktivitas siswa untuk indikator tersebut ditetapkan dari 0% sampai dengan 5%
j) Aktivitas siswa dikatakan ideal, apabila lima kriteria batas toleransi pencapaian waktu ideal yang digunakan pada (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8), dan (9) di atas dipenuhi. Dengan catatan kriteria batas toleransi (3), (4), (7), dan (8) harus dipenuhi. Hal ini berdasarkan pertimbangan kegiatan pada (3), (4), (7), dan (8) merupakan kegiatan inti dalam
pembelajaran (khususnya pada saat kerjasama dalam kelompok) dibandingkan dengan kegiatan pada (1), (2), (5), dan (6).
Adapun penentuan persentase waktu dari masing-masing bagian di atas didasarkan pada waktu yang disediakan untuk kegiatan-kegiatan tersebut pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sebagai contoh, untuk kegiatan aktif berdiskusi dengan teman dalam RPP disiapkan waktu 12 menit dari 45 menit (waktu untuk kerjasama dalam kelompok). Hal ini berarti persentase waktu tersebut adalah 26,67%.
Secara lengkap kriteria penentuan ketercapaian waktu ideal aktivitas siswa disajikan dalam Tabel 1 berikut.
Tabel 1 Kriteria Pencapaian Waktu Ideal Aktivitas Siswa
No. Kategori Aktivitas Siswa Waktu Ideal
Interval Toleransi PWI (%)
Kriteria 1. Memperhatikan informasi
dan mencatat seperlunya 6,67 % dari WT 1,67 – 11,67
Minimal lima dari sembilan kategori harus dipenuhi dengan syarat kategori (3), (4), (7), (8) harus terpenuhi 2. Membaca LKS, materi
pembelajaran atau buku siswa
6,67 % dari WT 1,67 – 11,67 3. Aktif terlibat dalam tugas 13,33% dari WT 8,33 - 18,33 4. Aktif berdiskusi dengan
teman 26,67 % dari WT 21,67 - 31,67
5. Mencatat apa yang
disampaikan teman 13,33 % dari WT 8,33 – 18,33 6. Mengajukan pertanyaan
kepada teman/guru 6,67 % dari WT 1,67 – 11,67 7. Menjawab/menanggapi
pertanyaan teman/guru 6,67 % dari WT 1,67 – 11,67 8. Memberi bantuan
penjelasan kepada teman yang membutuhkan
20 % dari WT 15 – 25 9. Kegiatan di luar tugas 0 % dari WT 0 – 5 Keterangan: PWI adalah persentase waktu indikator
WT adalah waktu tersedia pada setiap pertemuan 3) Analisis Respons Siswa
Kegiatan yang dilakukan untuk menganalisis data respons siswa terhadap perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL adalah sebagai berikut:
1) Menghitung banyak siswa yang memberi respons positif sesuai dengan aspek yang ditanyakan
2) Menghitung persentase dari (1)
3) Menentukan kategori untuk respons positif siswa dengan mencocokkan hasil persentase dengan kriteria yang ditetapkan
4) Jika hasil analisis menunjukkan bahwa respons siswa belum positif, maka dilakukan revisi terhadap perangkat yang tengah dikembangkan.
Kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan bahwa para siswa memiliki respons positif terhadap perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL adalah 50% dari mereka memberi respons positif terhadap minimal 70% jumlah aspek yang ditanyakan.
Pada akhirnya kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL bersifat efektif adalah 3 di atas dipenuhi.
c. Analisis data kepraktisan perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL
Data kepraktisan perangkat pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL yang dimaksud disini adalah kemampuan guru mengelola pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL. Analisis dilakukan terhadap hasil penilaian dari satu observer yang mengamati kemampuan guru mengelola pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL di kelas. Pengamatan dilakukan terhadap kemampuan guru melaksanakan tiap-tiap aspek dari sintaks pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL. Dari hasil observer selama empat kali pertemuan, ditentukan nilai rata-rata Kegiatan Guru (KG) dari pertemuan pertama sampai pertemuan keempat. Nilai KG ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan interval penentuan kategori kemampuan guru mengelola pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL, yaitu:
KG1,5 berarti TT (Tidak Tinggi/Rendah) 1,5 KG2,5 berarti CT (Cukup Tinggi/Sedang) 2,5 KG3,5 berarti T (Tinggi)
3,5 KG4 berarti ST (Sangat Tinggi)
Kriteria yang digunakan untuk memutuskan bahwa kemampuan guru mengelola pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL memadai adalah nilai KG minimal berada dalam kategori “tinggi”, berarti penampilan guru dapat dipertahankan. Apabila KG berada di dalam kategori lainnya, maka guru harus meningkatkan kemampuannya dengan melihat kembali aspek-aspek yang nilainya kurang. Selanjutnya dilakukan kembali pengamatan terhadap kemampuan guru mengelola pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan pendekatan CTL, lalu dianalisis kembali. Demikian seterusnya sampai memenuhi nilai KG minimal berada di dalam kategori tinggi. (Darwis, 2007).
7. Desain penelitian pengembangan uji coba terbatas
Desain penelitian pengembangan uji coba terbatas digambarkan dengan alur sebagai berikut:
Diagram 1 Desain pengembangan perangkat pembelajaran dengan ujicoba terbatas.
C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian
Pada Bab III telah dikemukakan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran matematika model kooperatif tipe teams games tournamens (TGT) dengan pendekatan CTL yang berdasarkan pada Model 4-D (Thiagarajan) terdiri dari empat tahap, yaitu tahap pembatasan (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop) dan tahap penyebaran (disseminate).
a. Tahap Pembatasan (define) 1) Analisis kurikulum
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang digunakan pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) memuat seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan di suatu SMP dan dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan potensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntunan lingkungan.
Pada tingkat SMP, KTSP yang disusun merupakan pengetahuan, keterampilan, pengenalan, dan pemahaman berfikir deduktif yang dapat mengarahkan kepada kecermatan serta sistematika berfikir dan bertindak. Pembelajaran pada tingkat SMP ditekankan pada pengenalan fakta, penanaman konsep, dan penemuan prinsip.
KTSP menuntut kreativitas guru untuk menyusun sendiri model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi lokal sekolah yang bersangkutan yang didasarkan pada Standar Isi dan Standar Kompetnsi oleh Depertemen Pendidikan Nasional.
2) Analisis siswa
Pada tahap ini penulis menemukan bahwa siswa kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bontoramba telah mempelajari materi Pecahan di Sekolah Dasar sebagai prasyarat untuk mempelajari materi ini. Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar siswa kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bontoramba menggunakan Bahasa Indonesia.
Ditinjau dari perkembangan kognitifnya, maka menurut Piaget siswa-siswa ini berada pada tahap operasi formal (11 tahun ke atas). Namun pada kenyataannya, siswa-siswa tersebut masih memerlukan benda-benda konkret dan membutuhkan arahan serta bimbingan dari guru atau teman sebaya dalam mempelajari matematika. Oleh karena itu, dalam pembelajaran matematika perlu diawali dengan masalah kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
3) Analisis konsep
Konsep utama yang diidentifikasi pada pengembangan perangkat pembelajaran ini adalah analisis konsep untuk materi pecahan. Materi pokok, kompetensi dasar, dan indikator hasil belajar dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3 Kompetensi Dasar, Indikator Hasil Belajar, Materi Pecahan Kompetensi
Dasar Indikator
Materi Pokok
Melakukan operasi hitung bilangan bulat dan Pecahan.
Memberikan contoh berbagai bentuk dan jenis bilangan pecahan.
Pecahan Mengurutkan pecahan dan
menentukan letaknya pada garis bilangan
Menyelesaikan operasi hitung tambah, kurang, kali, bagi bilangan pecahan.
4) Analisis tugas
Analisis tugas berdasarkan pokok bahasan Pecahan diperoleh beberapa tugas yang mengarahkan kemampuan siswa untuk menjawab tugas-tugas yang diberikan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
5) Spesifikasi tujuan pembelajaran
Perincian indikator pencapaian dan tujuan pembelajaran pada materi Pecahan adalah sebagai berikut:
1) Indikator Pencapaian a) Mengenal bilangan pecahan b) Mengenal pecahan senilai.
c) Memberikan contoh berbagai bentuk dan jenis bilangan pecahan: biasa, campuran, desimal, persen dan permil.
d) Menyederhanakan pecahan.
e) Mengurutkan pecahan dan menentukan letaknya pada garis bilangan.
f) Melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian berbagai bentuk pecahan.
2) Tujuan Pembelajaran Siswa dapat:
a) Mengenal bilangan pecahan b) Mengenal pecahan senilai.
c) Memberikan contoh berbagai bentuk dan jenis bilangan pecahan: biasa, campuran, desimal, persen dan permil.
d) Menyederhanakan pecahan.
e) Mengurutkan pecahan dan menentukan letaknya pada garis bilangan.
f) Melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian berbagai bentuk pecahan.
b. Tahap Perancangan a. Pemilihan media
Media pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe teams games tournamens (TGT) dengan pendekatan CTL pada materi Pecahan di kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bontoramba adalah perangkat pembelajaran yang meliputi Buku Siswa (BK), Lembar Kerja Siswa (LKS) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Alat bantu atau alat peraga yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah papan tulis, spidol, penghapus, kertas HVS, mistar, dan lain-lain.
b. Pemilihan format
Pemilihan format dalam pengembangan perangkat pembelajaran meliputi: isi materi adalah Pecahan, model pembelajaran yang digunakan adalah Kooperatif tipe Teams Games Tournamens (TGT) dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), dengan media pembelajaran Buku Siswa (BK), Lembar Kerja Siswa (LKS), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada KTSP.
c. Rancangan Awal
Pada tahap ini dihasilkan perangkat pembelajaran, antara lain sebagai berikut:
1) Buku Siswa (BS)
2) Lembar Kerja Siswa (LKS)
3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Ketiga perangkat pembelajaran tersebut disebut draft 1/ draft awal. c. Tahap Pengembangan
a. Penilaian Para Ahli (Analisis Data Kevalidan Perangkat Pembelajaran Kooperatif tipe teams games tournamens (TGT) dengan Pendekatan Contekstual Teaching and Learning (CTL). Penilaian para ahli berarti validator menelaah semua perangkat yang telah dihasilkan (draft 1). Penilaian meliputi validasi isi, bahasa, dan kesesuaian perangkat pembelajaran dengan kurikulum yang berlaku. Hasil validasi dari para ahli digunakan sebagai dasar untuk melakukan revisi perangkat pembelajaran. Jadi, dalam melakukan revisi, penulis mengacu kepada saran-saran serta petunjuk dari para ahli. Hasil penilaian ini pula yang digunakan untuk mengetahui kevalidan dan kelayakan penggunaan perangkat pembelajaran kooperatif tipe teams games tournamens (TGT) dengan pendekatan CTL.
Nama-nama validator dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Nama-nama Validator
Kegiatan memvalidasi perangkat pembelajaran diawali dengan memberikan perangkat pembelajaran beserta lembar penilaian kepada 2 orang ahli. Hasil penilaian, analisis dan revisi terhadap Buku Siswa (BK), Lembar Kerja Siswa (LKS), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Tes Hasil Belajar (THB) berturut-turut dapat dilihat pada tabel berikut: 1) Hasil Penilaian Terhadap Buku Siswa oleh Para Ahli
Tabel 5 Hasil Penilaian Terhadap Buku Siswa oleh Para Ahli
Bidang Telaah Uraian / Aspek Penilaian V Ket. Val. I Val. II
PENJABARAN KONSEP
1. Kesesuaian konsep dengan tujuan (hasil belajar) 2. Kebenaran konsep 3. Kesesuaian urutan penyajian konsep 3 3 3 3 3 3 3 3 3 V V V NAMA PEKERJAAN
1. Drs. Bahar, M. Si. Dosen Matematika FMIPA UNM 2. Aswi, S. Pd., M. Si Dosen Matematika FMIPA UNM
4. Keterbacaan/kejelasan bahasa 5. Peranan gambar menunjang penjelasan materi 3 3 4 4 3,5 3,5 SV SV RATA-RATA 3,2 V KONSTRUKSI
1. Kejelasan kalimat (tidak menimbulkan penafsiran ganda) 2. Kejelasan gambar /grafik/tabel/diagram 3. Mendorong aktivitas siswa 4. Kejelasan prosedur urutan materi
5. Penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia 6. Penggunaan bahasa yang
sederhana dan mudah dipahami siswa 3 3 4 3 3 3 4 4 3 4 4 4 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 SV SV SV SV SV SV RATA-RATA 3,5 SV KARAKTERIS -TIK SUBKONSEP 1. Kesesuaian dengan tujuan 2. Ada manfaat 3. Dukungan terhadap penanaman/pemahaman konsep/subkonsep 4. Keterbacaan/kejelasan bahasa 4 4 3 3 3 3 3 4 3,5 3,5 3 3,5 SV SV V SV RATA-RATA 3,375 V SOAL-SOAL LATIHAN
1. Kesesuaian soal dengan tujuan
2. Kesesuaian soal dengan tingkat kemampuan intelektual siswa 3. Mendorong siswa
berfikir kreatif dan kritis 4. Dukungan soal latihan
terhadap penanaman/pemahaman konsep/subkonsep 4 3 3 3 3 3 3 4 3,5 3 3 3,5 SV V V SV RATA-RATA 3,25 V RATA-RATA TOTAL 3,34 V
V (Valid) = 2,5 V3,5 CV (Cukup Valid) = 1,5 V 2,5 TV (Tidak Valid) = V1,5
Hasil analisis yang ditunjukkan pada Tabel 5 dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Nilai rata-rata total kevalidan Buku Siswa diperoleh adalah V = 3,34 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Valid” (2,5 V3,5). Jadi, ditinjau keseluruhan aspek, Buku Siswa ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
b) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Penjabaran Konsep adalah V = 3,2 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Valid” (2,5 V3,5). Jadi, ditinjau dari aspek Penjabaran Konsep, Buku Siswa ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan. c) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Konstruksi adalah V = 3,5,
dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau dari aspek Konstruksi, Buku Siswa ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
d) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Karakteristik Subkonsep adalah V = 3,375, dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Valid” (2,5 V3,5). Jadi, ditinjau dari aspek Karakteristik Subkonsep, Buku Siswa ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
e) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Soal-soal Latihan adalah V = 3,25, dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Valid” (2,5 V3,5). Jadi, ditinjau dari aspek soal-soal latihan, Buku Siswa ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
Revisi Buku Siswa Berdasarkan Hasil Validasi Para Ahli
Tabel 6 Revisi Buku Siswa Berdasarkan Hasil Validasi Para Ahli Yang
Direvisi Sebelum Direvisi Sesudah Direvisi
Halaman 2
Apa yang akan kamu pelajari? Pengertian pecahan Pecahan senilai Bentuk-bentuk pecahan Menyederhanakan pecahan Kata Kunci: Pecahan Desimal Persen Permil
Apa yang akan kamu pelajari? 1. Pengertian pecahan 2. Pecahan senilai 3. Bentuk-bentuk pecahan 4. Menyederhanakan pecahan Kata Kunci: 1. Pecahan 2. Desimal 3. Persen 4. Permil
2) Hasil Penilaian Terhadap Lembar Kerja Siswa (LKS) oleh Para Ahli
Tabel 7 Hasil Penilaian Terhadap LKS oleh Para Ahli
Bidang Telaah Uraian / Aspek Penilaian V Ket. Val. I Val. II MATERI 1. Kesesuaian dengan indikator pencapaian hasil belajar 2. Kejelasan rumusan pertanyaan 3. Kejelasan jawaban yang diharapkan 4. Kejelasan petunjuk pengerjaan 5. Dukungan LKS terhadap penanaman konsep 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3,5 3,5 3,5 3,5 V SV SV SV SV RATA-RATA 3,4 V AKTIVITAS 1. Kesesuaian aktivitas dengan tujuan (indikator pencapaian hasil belajar) 2. Prosedur urutan kerja 3. Manfaat terhadap pembelajaran 4. Keterbacaan/kejelasan bahasa 5. Fungsi gambar/grafik/tabel/dia gram pada LKS 6. Peranan LKS mengaktifkan belajar siswa 4 3 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 3,5 3,5 3 3,5 4 3,5 V SV SV SV SV SV RATA-RATA 3,5 SV
Ket. SV (Sangat Valid) = 3,5 V4 V (Valid) = 2,5 V3,5 CV (Cukup Valid) = 1,5 V 2,5 TV (Tidak Valid) = V1,5
Hasil analisis yang ditunjukkan pada Tabel 7 di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Nilai rata-rata total kevalidan LKS diperoleh adalah V = 3,25 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Valid” (2,5 V3,5). Jadi, ditinjau keseluruhan aspek, LKS ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
b) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Materi adalah V = 3,4 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Valid” (
5 , 3 5 ,
2 V ). Jadi, ditinjau dari aspek Materi, LKS ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
c) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Aktivitas adalah V = 3,5 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau dari aspek Aktivitas, LKS ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
d) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Bahasa adalah V = 3,5 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau dari aspek Bahasa LKS ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
BAHASA
1. Kejelasan kalimat (tidak menimbulkan penfsiran ganda) 2. Penggunaan bahasa
yang sesuai dengan kaidah bahasa yang sederhana, mudah dimengerti
3. Penggunaan kata-kata yang dikenal siswa 4. Kejelasan jawaban yang diharapkan 3 3 3 3 4 4 4 4 3,5 3,5 3,5 3,5 SV SV SV SV RATA-RATA 3,5 SV WAKTU 1. Rasionalitas alokasi waktu untuk mengerjakan LKS 3 4 3,5 SV RATA-RATA 3,5 SV RATA-RATA TOTAL 3,25 V
e) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Waktu adalah V = 3,5 dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau dari aspek Waktu, LKS ini memenuhi kriteria kevalidan.
Revisi LKS Berdasarkan Hasil Validasi Para Ahli
Tabel 8 Revisi LKS Berdasarkan Hasil Validasi Para Ahli Yang Direvisi Sebelum Direvisi Sesudah Direvisi LKS 04 No. 3 Bunga mempunyai minyak
tanah 6 5
jerigen minyak. Tetangga Bunga membeli minyak tanah itu sebanyak
6 3
jerigen minyak. Berapa
banyak minyak tanah Bunga
dalam jerigen yang tersisa?
Bunga mempunyai minyak tanah
6 5
jerigen minyak. Tetangga Bunga membeli minyak tanah itu sebanyak
6 3 jerigen minyak. Berapakah
sisa minyak tanah Bunga
dalam jerigen tersebut?
3) Hasil Penilaian Terhadap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) oleh Para Ahli
Tabel 9 Hasil Penilaian Terhadap RPP oleh Para Ahli
Bidang Telaah Uraian / Aspek Penilaian V Ket. Val. I Val. II TUJUAN 1. Kemampuan yang terkandung dalam kompetensi dasar 2. Ketepatan penjabaran kompetensi dasar ke dalam hasil belajar dan indikator pencapaian hasil belajar dengan waktu yang disediakan 3. Kesesuaian antara
banyaknya indikator pencapaian hasil belajar dengan waktu yang disediakan 4. Kejelasan rumusan indikator pencapaian hasil belajar 5. Operasianal rumusan indikator pencapaian hasil belajar 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3,5 V V V V SV
6. Kesesuaian indikator pencapaian hasil belajar dengan tingkat perkembangan siswa 3 4 3,5 SV RATA-RATA 3,17 V MATERI YANG DISAJIKAN 1. Kesesuaian konsep dengan kompetensi dasar dan hasil belajar 2. Kebenaran konsep 3. Ketepatan urutan penyajian konsep 4. Kesesuaian materi dengan tingkat perkembangan intelektual siswa 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 3,5 4 V V SV SV RATA-RATA 3,375 V SARANA DAN ALAT BANTU PEMBELAJARA N
1. Dukungan sarana yang digunakan terhadap pembelajaran 2. Kesesuaian alat bantu
dengan materi pembelajaran 3 4 4 4 3,5 4 SV SV RATA-RATA 3,75 SV METODE DAN KEGIATAN PEMBELAJARA N
1. Dukungan metode dan kegiatan pembelajaran terhadap pencapaian hasil belajar
2. Dukungan metode dan kegiatan pembelajaran terhadap proses penanaman konsep 3 3 4 4 3,5 3,5 SV SV RATA-RATA 3,5 SV WAKTU
1. Kejelasan alokasi waktu setiap kegiatan/fase pembelajaran 2. Rasionalitas alokasi
waktu untuk setiap fase/kegiatan pembelajaran 3 3 4 4 4 3,5 SV SV RATA-RATA 3,75 SV RATA-RATA TOTAL 3,41 V
Ket. SV (Sangat Valid) = 3,5 V4 V (Valid) = 2,5 V3,5 CV (Cukup Valid) = 1,5 V 2,5
TV (Tidak Valid) = V1,5
Hasil analisis yang ditunjukkan pada Tabel 9 di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Nilai rata-rata total kevalidan RPP diperoleh adalah V = 3,41 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Valid” (
5 , 3 5 ,
2 V ). Jadi, ditinjau keseluruhan aspek, RPP ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
b) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Tujuan adalah V = 3,17 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Valid” (
5 , 3 5 ,
2 V ). Jadi, ditinjau dari aspek Tujuan, RPP ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
c) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Materi yang Disajikan adalah V = 3,375 dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Valid” (2,5 V3,5). Jadi, ditinjau dari aspek materi yang disajikan, RPP ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan. d) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Sarana dan Alat Bantu
Pembelajaran adalah V = 3,75 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau dari aspek sarana dan alat bantu pembelajaran, RPP ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
e) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Metode dan Kegiatan Pembelajaran adalah V = 3,50 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau dari aspek Metode dan Kegiatan Pembelajaran, RPP ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
f) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Waktu adalah V = 3,75 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau dari aspek Waktu, RPP ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
Revisi RPP Berdasarkan Hasil Validasi Para Ahli
Tabel 10 Revisi RPP Berdasarkan Hasil Validasi Para Ahli
Yang
Direvisi Sebelum Direvisi Sesudah Direvisi
RPP Pertemuan 1, 2, 3 dan 4
Fase 3: Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar (5 menit)
1) Membagi siswa dalam
beberapa kelompok yang beranggotakan 4 – 5 orang
Fase 3: Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar (30 menit) 1) Guru mengelompokkan
siswa dalam beberapa
kelompok yang
4) Hasil Penilaian Terhadap Tes Hasil Belajar oleh Para Ahli Tabel 11 Hasil Penilaian Terhadap Tes Hasil Belajar oleh Para Ahli Bidang Telaah Uraian / Aspek Penilaian X Ket.
Val. I Val. II
MATERI
1. Soal-soal sesuai dengan tujuan tes
2. Soal-soal sesuai dengan indikator
3. Batasan soal-soal dirumuskan dengan jelas 4. Jawaban diharapkan jelas 5. Mencakup materi pelajaran secara representatif 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3,5 3,5 3 3,5 4 SV SV V SV SV RATA-RATA 3,5 SV KONSTRUKSI 1. Petunjuk mengerjakan soal dinyatakan dengan jelas
2. Kalimat soal tidak menimbulkan penaksiran berganda 3. Rumusan pertanyaan soal menggunakan kalimat tanya atau perintah yang jelas 4. Gambar/grafik/tabel/dia
gram pada soal terbaca 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3,5 3,5 3,5 SV SV SV SV RATA-RATA 3,625 SV BAHASA 1. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar
2. Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti 3. Menggunakan kata-kata
(istilah) yang dikenal siswa 3 3 3 4 4 4 3,5 3,5 3,5 SV SV SV RATA-RATA 3,5 SV
WAKTU Waktu yang digunakan
sesuai 3 4 3,5 SV
RATA-RATA 3,5 SV
Ket. SV (Sangat Valid) = 3,5 V4 V (Valid) = 2,5 V3,5 CV (Cukup Valid) = 1,5 V 2,5 TV (Tidak Valid) = V1,5
Hasil analisis yang ditunjukkan pada Tabel 11 di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Nilai rata-rata total kevalidan Tes Hasil Belajar diperoleh adalah V = 3,54 dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau keseluruhan aspek, Tes Hasil Belajar ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
b) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Materi adalah V = 3,5 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau dari aspek Materi, Tes Hasil Belajar ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
c) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Konstruksi adalah V = 3,625 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau dari aspek Konstruksi, Tes Hasil Belajar ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
d) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Bahasa adalah V = 3,5 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau dari aspek Bahasa Tes Hasil Belajar ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
e) Nilai rata-rata kevalidan untuk aspek Waktu adalah V = 3,5 , dapat disimpulkan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori “Sangat Valid” (3,5 V4). Jadi, ditinjau dari aspek Waktu, Tes Hasil Belajar ini dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.
Revisi Tes Hasil Belajar Berdasarkan Hasil Validasi Para Ahli Tabel 12 Revisi Tes Hasil Belajar Berdasarkan Hasil Validasi Para Ahli
Yang
Direvisi Sebelum Direvisi Sesudah Direvisi Soal
No.2
1. Menurut sebuah polling yang dilakukan oleh Koran Fajar, ada tiga kandidat Capres Cawapres RI yang ditawarkan yaitu: SBY-Budiono, JK-Wiranto dan Mega-Prabowo. JK-Wiranto mendapat
5 3
suara dari keseluruhan
jumlah responden,
SBY-2. Menurut sebuah polling yang dilakukan oleh Koran Fajar, ada tiga kandidat Capres Cawapres RI yang ditawarkan yaitu: SBY-Budiono, JK-Wiranto dan Mega-Prabowo. JK-Wiranto mendapat suara
5 3
dari keseluruhan jumlah responden, SBY-Budiono
Budiono 7 1 suara, dan Mega-Prabowo sebanyak 9 2
suara. Sementara yang
lainnya tidak menentukan pilihannya. suara 7 1 , dan Mega-Prabowo sebanyak suara 9 2 . Sementara yang lainnya tidak menentukan pilihannya.
Secara umum, hasil penilaian para ahli terhadap perangkat pembelajaran yang meliputi Buku Siswa (BK), Lembar Kerja Siswa (LKS), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Tes Hasil Belajar (THB) dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 13 Rangkuman Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran
Perangkat SKOR RATA-RATA
PENILAIAN STATUS
Buku Siswa 3,34 V
Lembar Kerja Siswa 3,25 V
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 3,41 V
Tes Hasil Belajar 3,54 SV
Dapat disimpulkan bahwa perangkat-perangkat yang disebutkan pada tabel di atas sudah termasuk dalam kategori “Valid” (2,5 V3,5) dan kategori “Sangat Valid” ( 3,5 V4).Berdasarkan kriteria kevalidan yang telah dibahas pada Bab III, maka perangkat pembelajaran tersebut telah memiliki derajat validitas yang memadai dan layak untuk diujicobakan. Namun demikian, perangkat-perangkat tersebut menurut saran para ahli masih perlu diperbaiki/ditambah.
b. Ujicoba
Draft 1 yang telah direvisi berdasarkan saran dan masukan dari para ahli, selanjutnya disebut draft 2, diujicobakan pada siswa kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bontoramba. Pada kegiatan ini penulis memberikan tes hasil belajar untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa di akhir bab.
Draft 2 yang diujicobakan juga diberikan kepada 2 guru matematika yang bertindak sebagai praktisi di sekolah tempat penelitian berlangsung yang tergabung dalam tim pemeriksa untuk diperiksa/dikoreksi, yaitu 1 guru yang yang memeriksa Buku Siswa dan LKS, dan 1 guru yang memeriksa RPP dan Tes Hasil Belajar. Berdasarkan saran dan masukan dari praktisi serta hasil ujicoba, revisi dari perangkat tersebut dapat dilihat berturut-turut pada tabel berikut:
Revisi Buku Siswa Berdasarkan Hasil Uji Coba
Tabel 14 Revisi Buku Siswa Berdasarkan Hasil Hasil Uji Coba Yang
Direvisi SEBELUM DIREVISI SESUDAH DIREVISI
Halaman 6
b. Pecahan campuran Pada bagian di atas kalian telah mengenal pecahan murni maupun pecahan tidak murni. Selain itu, dikenal pula pecahan campuran, misalnya 2 1 3 , 3 1 2 , 6 5 1 dan . b. Pecahan campuran Pada bagian di atas, kalian telah mengenal pecahan murni maupun pecahan tidak murni. Selain itu, dikenal pula pecahan campuran, misalnya 2 1 3 dan , 3 1 2 , 6 5 1 . Halaman 8
Hasil pengukuran seperti ini bukan merupakan bilangan bulat. 1,5 dan 213,425 adalah bilangan desimal.
Hasil pengukuran seperti ini bukan merupakan bilangan bulat. Dari uraian di atas, 1,5 dan 213,425 adalah bilangan desimal.
Halaman 14
Tetapi untuk mengurutkan pecahan yang penyebutnya berbeda terlebih dahulu tentukan pecahan senilai dari tiap pecahan yang semula yang penyebutnya adalah KPK dari penyebut pecahan senilai. Atau menyamakan penyebutnya terlebih dahulu. Caranya, kalikan pembilang dan penyebut dengan bilangan yang sama, sedemikian sehingga penyebut dari pecahan menjadi sama.
Tetapi untuk mengurutkan pecahan yang penyebutnya berbeda, terlebih dahulu tentukan pecahan senilai dari tiap pecahan yang semula yang penyebutnya adalah KPK dari penyebut pecahan senilai. Atau menyamakan penyebutnya terlebih dahulu. Caranya, kalikan pembilang dan penyebut dengan bilangan yang sama, sedemikian sehingga penyebut dari pecahan yang ada menjadi sama.
Masalah 7
Pak Dede,Pak Helmi, dan Pak Saiful adalah calon kepala desa Sukamaju. Dalam pemungutan suara, Pak Dede mendapat suara
8 3
dari jumlah seluruh penduduk yang
Masalah 7
Pak Dede,Pak Helmi, dan Pak Saiful adalah calon kepala desa Sukamaju. Dalam pemungutan suara, Pak Dede mendapat suara sebanyak
8 3 dari jumlah seluruh penduduk
Halaman 14
memilih, Pak Helmi mendapat suara
7 2
, Pak Saiful mendapat suara
28 9
, sedangkan sisanya tidak sah. Siapakah yang terpilih menjadi kepala desa Sukamaju? Kemudian urutkan dalam garis bilangan.
Kerjakan pada Lembar Kerja Siswa 03
yang memilih, Pak Helmi mendapat suara sebanyak
7 2 dari jumlah seluruh penduduk yang memilih, Pak Saiful mendapat suara sebanyak
28 9
dari jumlah seluruh penduduk yang memilih, sedangkan sisanya tidak sah. Siapakah yang terpilih menjadi kepala desa Sukamaju? Kemudian urutkan dalam garis bilangan.
Kerjakan pada Lembar Kerja Siswa 03
Revisi LKS Berdasarkan Hasil Uji Coba
Tabel 15 Revisi LKS Berdasarkan Hasil Hasil Uji Coba
Yang
Direvisi Sebelum Direvisi Sesudah Direvisi
LKS 3 No. 2
Pak Dede,Pak Helmi, dan Pak Saiful adalah calon kepala desa Sukamaju. Dalam pemungutan suara, Pak Dede mendapat suara
8 3
dari jumlah seluruh penduduk yang memilih, Pak Helmi mendapat suara 7 2 , Pak Saiful mendapat suara 28 9 , sedangkan sisanya tidak sah. Siapakah yang terpilih menjadi kepala desa Sukamaju? Kemudian urutkan dalam garis bilangan.
Pak Dede, Pak Helmi, dan Pak Saiful adalah calon kepala desa Sukamaju. Dalam pemungutan suara, Pak Dede mendapat suara
sebanyak
8 3
dari jumlah seluruh penduduk yang memilih, Pak Helmi mendapat suara sebanyak
7 2
dari jumlah seluruh penduduk yang memilih, Pak Saiful mendapat suara sebanyak
28 9 dari jumlah seluruh penduduk yang memilih, sedangkan sisanya tidak sah. Siapakah yang terpilih menjadi kepala desa Sukamaju? Kemudian urutkan dalam garis bilangan.
LKS 3 No. 3
Ilham, Dimaz dan Farrel adalah Calon Ketua BEM. Dalam pemungutan suara, Ilham mendapat suara 3 1 , Dimaz mendapat suara 12 5 , dan Farrel mendapat suara 4 1 . Siapakah yang terpilih menjadi Ketua BEM ?
Ilham, Dimaz dan Farrel adalah Calon Ketua BEM. Dalam pemungutan suara, Ilham mendapat suara sebanyak
3 1
dari
seluruh mahasiswa yang
memilih, Dimaz mendapat suara sebanyak
12 5
dari seluruh mahasiswa yang memilih, dan
Farrel mendapat suara sebanyak
4 1
dari seluruh mahasiswa yang memilih. Siapakah yang terpilih
menjadi Ketua BEM ?
LKS 2 No. 2
Pak Rahim mempunyai sebidang tanah untuk lahan perkebunan. Dia merencanakan menanami separuh lahannya dengan tanaman apotek hidup. Dia ingin sepertiga dari lahan yang akan ditanami tanaman apotek hidup itu ditanami temulawak. Berapakah dari lahan itu yang akan ditanami temulawak?
Pak Rahim mempunyai sebidang tanah untuk lahan perkebunan. Dia merencanakan menanami separuh lahannya dengan tanaman apotik hidup. Dia ingin sepertiga dari lahan yang akan ditanami tanaman apotik hidup itu ditanami temulawak. Berapakah dari lahan itu yang akan ditanami temulawak? Revisi RPP Berdasarkan Hasil Uji Coba
Tabel 16 Revisi RPP Berdasarkan Hasil Hasil Uji Coba Yang Direvisi Sebelum Direvisi Sesudah Direvisi RPP Secara
Umum
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit (1 x Pertemuan)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit (1 x Pertemuan)
Secara umum
Indikator kurang
dikembangkan dari Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Indikator dikembangkan sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Pada perangkat tersebut, LKS mengalami lebih banyak revisi terutama pada setiap masalah yang disajikan. Hal ini disebabkan banyak kesalahan penulisan dan kesalahan tata bahasa serta ketakjelasan masalah yang disajikan.
2. Analisis Deskriptif Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil ujicoba perangkat pembelajaran yang meliputi Buku Siswa (BS), Lembar Kerja Siswa (LKS), dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
diperoleh data hasil tes belajar siswa, data hasil pengamatan aktivitas siswa, respons siswa terhadap kegiatan dan perangkat pembelajaran kooperatif tipe teams games tournamens (TGT) dengan pendekatan CTL, data hasil pengamatan aktivitas guru, dan data hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran kooperatif tipe teams games tournamens (TGT) dengan pendekatan CTL. Data-data inilah yang digunakan untuk mengetahui kepraktisan dan keefektifan perangkat pembelajaran kooperatif tipe teams games tournamens (TGT) dengan pendekatan CTL. Hasil analisis masing-masing data sebagai berikut:
1. Hasil Belajar Siswa
Tes hasil belajar diberikan ke siswa untuk memperoleh informasi tentang penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan. Hasil analisis deskriptif secara kuantitatif penguasaan matematika setelah diberi tindakan pada tes hasil belajar dapat dilihat pada tabel 17 pada halaman berikutnya :
Tabel 17 Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bontoramba
Variabel Nilai Statistik
Subjek Penelitian 40 Skor Ideal 100 Rata-rata 79,13 Standar Deviasi 12,08 Variansi 146,01 Rentang Skor 45 Skor Maksimum 100 Skor Minimum 55
Jumlah Siswa yang Tuntas 33
Jumlah Siswa yang Tidak Tuntas 7
Pada tabel di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bontoramba terhadap pelajaran matematika diperoleh skor rata-rata 79,13 dari skor ideal 100 dengan standar deviasi 12,08. Skor minimum yang diperoleh siswa adalah 55 dan skor maksimum yang diperoleh siswa adalah 100 dengan rentang skor 45.
Jika skor hasil belajar dikelompokkan dalam lima kategori, maka diperoleh tabel distribusi frekuensi seperti pada halaman berikutnya :
Tabel 18 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bontoramba pada Tes Hasil Belajar
NO NILAI KATEGORI FREKUENSI PERSENTASE
1 0 – 34 Sangat Rendah 0 0 2 35 – 54 Rendah 0 0 3 55 – 64 55 – 59 Sedang 1 2,50% 60 – 64 5 12,50% 4 65 – 84 Tinggi 21 52,50% 5 85 – 100 Sangat Tinggi 13 32,50%
Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 40 siswa yang mengikuti tes hasil belajar tidak terdapat siswa yang masuk dalam kategori sangat rendah dan kategori rendah, 15,00% siswa masuk dalam kategori sedang, 52,50% masuk dalam kategori tinggi, sedangkan siswa yang masuk dalam kategori sangat tinggi adalah 32,50%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa memperoleh pemahaman yang sangat tinggi terhadap materi yang disajikan dengan menggunakan perangkat pembelajaran kooperatif tipe teams games tournamens (TGT) CTL.
Tabel di atas juga menunjukkan bahwa banyaknya siswa yang tuntas belajar atau yang mencapai ketuntasan individu yaitu siswa yang memperoleh skor 70 – 100 sebanyak 33 orang dari 40 orang siswa atau sekitar 82,50%. Jadi banyaknya siswa yang belum tuntas, yaitu siswa yang memperoleh skor 0 – 69, sebanyak 7 orang dari 40 orang siswa atau sekitar 17,50%. Data ini menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal tercapai.
2. Data hasil pengamatan aktivitas siswa
Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa secara ringkas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 19 Aktivitas Siswa Selama Kegiatan Pembelajaran PERSENTASE WAKTU RATA-RATA JENIS AKTIVITAS SISWA Kategori Aktivitas Siswa Pertemua n I Pertemua n II Pertemuan III Pertemua n IV Rata -rata Interval Toleransi PWI (%) Memperhatik an informasi dan mencatat seperlunya 6,67 6,67 8,00 6,67 7,00 1,67 – 11,67
Membaca LKS, materi pembelajaran atau buku siswa 6,67 12,00 10,67 9,33 9,67 1,67 – 11,67 Aktif terlibat dalam tugas 17,33 12,00 16,00 12,00 14,3 3 8,33 - 18,33 Aktif berdiskusi dengan teman 24.00 25.33 25.33 29.33 26.0 0 21,67 - 31,67 Mencatat apa yang disampaikan teman 13.33 14.67 16.00 13.33 14.3 3 8,33 – 18,33 Mengajukan pertanyaan kepada teman/guru 2.67 5.33 4.00 5.33 4.33 1,67 – 11,67 Menjawab/m enanggapi pertanyaan teman/guru 6.67 6.67 4.00 4.00 5.34 1,67 – 11,67 Memberi bantuan penjelasan kepada teman yang membutuhka n 21.33 16.00 16.00 18.67 18.0 0 15 – 25 Kegiatan di luar tugas 1.33 1.33 0.00 1.33 1.00 0 – 5 Keterangan :
PWI adalah Persentase Waktu Indikator Keterangan :
Kategori Aktivitas Siswa
1 Memperhatikan informasi dan mencatat seperlunya 2 Membaca LKS, materi pembelajaran atau buku siswa 3 Aktif terlibat dalam tugas
4 Aktif berdiskusi dengan teman 5 Mencatat apa yang disampaikan teman