TUGAS AKHIR
GALERI SENI PAHAT DI TROWULAN MOJ OKERTO
Untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan
Tugas Akhir S1 (Strata 1) pada jurusan Teknik Arsitektur
Diajukan oleh :
LUCKY MURDIYONO
0851010093
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
J AWA TIMUR
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur ditujukan kehadirat Allah SWT, yang mana atas
rahmat dan ridho-Nya, sehingga penyusunan Proposal Tugas Akhir yang berjudul
“GALERI SENI PAHAT DI TROWULAN MOJ OKERTO” ini dapat
terselesaikan dengan baik, untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam
memperoleh Gelar Sarjana Teknik (S-1) Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas
Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“
Jawa Timur di Surabaya.
Bersama ini penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada:
Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya
sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik, Terima kasih Ya
ALLAH .
1. Ir. Naniek Ratni. JAR, M.Kes. Selaku Dekan Fakultas Tekni Sipil dan
Perencanaan (FTSP), Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Jawa
Timur.
2. DR. Ir. Pancawati Dewi, MT. selaku Ketua Jurusan Arsitektur, Fakultas
Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Universitas Pembangunan Nasional
(UPN), Jawa Timur.
3. Ir. Eva Elviana, MT. selaku dosen pengampu mata kuliah Seminar.
4. Dyan Agustin, ST., MT. dosen pengampu Tugas Akhir, terima kasih banyak
atas bimbingannya.
5. M.Pranoto S, ST., MT. selaku dosen wali.
6. Ir.Muchlisiniyati Safeyah, MT. selaku dosen pembimbing utama, terima kasih
banyak atas bimbingannya.
7. Dyan Agustin, ST., MT. selaku dosen pembimbing pedamping, yang
membimbing tugas akhir saya dari awal penyusunan. Terima kasih atas
bimbingannya.
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
8. Ami Arfianti, ST., MT ; Ir. Eva Elviana, MT ; Ir Erwin Djuni W, ST., MT
Selaku dosen penguji. Terima kasih atas semua kritik dan sarannya.
9. Segenap dosen jurusan Arsitektur UPN Veteran Jawa Timur, atas segala
macam ilmu yang sudah diberikan kepada saya.
10. Kedua orang tua saya, Bpk.Suwandi dan Ibu Sri Mutiara yang selalu
mendukung dalam penyusunan tugas akhir saya. Terima kasih atas segalanya.
11. Saudara saya, Puput Dwi Wibowo.
12. Teman-teman angkatan 2008 dan teman-teman penghuni studio tugas akhir
yang selalu mendukung saya,Mas Brow seAtap (Resa A Priambodo), R.
Ramadhan, Indah R, Nabila, Adhe, Savitri, Syahfitri, Lili indah A (3D),
Risky septia, Achi (holiday), Cris A, Rafles, Putra, Eka, Mas Buyung, Bang
yudha, anak” hima dan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
13. Special thanks for Dobey Oktaviana dan keluarga yang selalu memberi
semangat dan omelan-omelan agar cepat lulus.
14. Sahabat spesial yang selalu memberi semangat, penghuni kontrakan, geng
kos”n temen-temen berburu, geng motor. Temen warung ....dll
15. Semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan Tugas Akhir ini.
Akhir kata, penulis ucapkan terimakasih dan mohon maaf jika terdapat
banyak kesalahan dalam penyusunan proposal tugas akhir ini. Semoga Proposal
Tugas Akhir ini bisa bermanfaat bagi semua pihak, dan bisa didapatkan hasil yang
maksimal nantinya.
GALERI SENI PAHAT DI TROWULAN MOJ OKERTO
Lucky Murdiyono
0851010093
ABSTRAKSI
Patung batu di Trowulan kurang begitu dikenal. Dengan adanya galeri seni
pahat ini diharapkan dapat lebih mengenalkan patung batu pada masyarakat
umum. Fungsi utama galeri ialah sebagai tempat penjualan selain itu galeri juga
dapat menjadi tempat pembelajaran karya seni kususnya seni pahat agar dapat
lebih mengenalkan seni pahat itu sendiri kepada masyarakat yang lebih luas.
Pada galeri seni pahat yang ada di Trowulan mojokerto ini terdapat
workshop. Dimana pada workshop tersebut pengunjung dapat melihat
tahapan-tahapan pembuatan patung batu.
Lokasi obyek rancang yang berupa galeri terdapat didaerah Trowulan
tepatnya di jalan Majapahit, desa Wates umpak, dusun Jati sumber RT 01, RW 02,
no 28-32 kecamatan Trowulan Mojokerto KM 10.
Galeri seni pahat ini didominasi bentuk-bentuk geometris, sesuwai bentuk
pendopo pada umumnya. Pendopo ialah bangunan yang bersifat semi outdoor hal
ini cocok dengan sifat dari patung batu tersebut yang tahan terhadap iklim.
Pendopo juga dapat menjadi pelindung/peneduh baik dari panas maupun hujan
bagi pengunjung.
Kata Kunci : Pemahat, Galer i, Ar sitektur J awa
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
2.2.3 Aktifitas Dan Kebutuhan Ruang ... 32
2.2.4 Perhitungan Luasan Ruang ... 33
2.2.5 Program Ruang ... 35
BAB III TINJAUAN LOKASI PERANCANGAN ... 37
3.1 Latar Belakang Pemilihan Lokasi ... 37
3.3.5 Peraturan Bangunan Setempat ... 42
BAB IV ANALISA PERANCANGAN ... 43
5.2.1 Konsep Tatanan Massa dan Sirkulasi ... 54
5.2.2 Konsep Tampilan ... 54
5.2.3 Konsep Ruang Luar ... 55
5.2.4 Konsep Struktur Dan Material ... 56
5.2.5 Konsep Utilitas ... 56
5.2.5.1 Konsep Penyediaan Air Bersih ... 56
5.2.5.2 Konsep Pembuangan Air Hujan ... 56
5.2.6 Konsep Mekanikal Elektrikal ... 57
5.2.6.1 Konsep Penghawaan ... 57
5.2.6.2 Konsep Pencahayaan ... 57
BAB VI APLIKASI RANCANGAN ... 58
6.1 Aplikasi Rancangan ... 58
6.1.1 Aplikasi Entrence ... 58
6.1.2 Aplikasi Ruang Dalam ... 59
6.2 Aplikasi Ruang Luar ... 61
6.3 Aplikasi Ruang Dalam ... 62
6.3.1 Aplikasi Sirkulasi Dalam ... 62
6.3.2 Aplikasi Struktur Bangunan ... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 64
DAF TAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Data Jumlah Pemahat ... 2
Tabel 1.2 Data Jumlah Pembeli ... 2
Tabel 1.3 Data Jumlah Penjualan Patung di Galeri Kaki Lima Trowulan ... 3
Tabel 2.1 Analisa hasil studi ... 31
Tabel 2.2 Aktifitas Pemakai Bangunan dan Kebutuhan Ruang ... 32
Tabel 2.3 Perhitungan Luasan Ruang ... 33
Tabel 2.4 Program Ruang ... 35
Tabel 3.1 Hasil Penilaian lokasi ... 38
DAF TAR GAMBAR
Gambar 2.12 Sudut Pandang Penagamat dan Jarak Display ... 15
Gambar 2.27 Rumah bambu ... 22
Gambar 2.28 Pustaka Selasar ... 22
Gambar 2.29 Denah Selasar Sunaryo ... 23
Gambar 2.30. Blokplan Selasar Sunaryo lantai 1 ... 24
Gambar 2.31 Blokplan Selasar Sunaryo lantai 2 ... 24
Gambar 3.1 Peta pilihan alternative lokasi ... 38
Gambar 3.2 Peta lokasi terpilih ... 38
Gambar 4.2 Analisa Orientasi matahari ... 43
Gambar 4.3 View sekitar ... 44
Gambar 5.1 Tampilan Arsitektur Kerajaan Majapahit ... 54
Gambar 5.2 Pola Tatanan Massa Kerajaan Majapahit ... 55
Gambar 5.3 Struktur Atap ... 55
Gambar 6.1 Aplikasi Pencapaian dalam Site ... 57
Gambar 6.2 Gapura Penanda Pintu Masuk ... 58
Gambar 6.3 Denah Galeri ... 58
Gambar 6.4 Interior Galeri ... 59
Gambar 6.5 Denah Galeri Lantai 2 ... 59
Gambar 6.6 Layout ... 60
Gambar 6.7 Sikuen Galeri Outdor ... 61
Bagan 6.1 Sirkulasi Pengunjung... 61
Bagan 6.2 Sirkulasi Pengelola ... 62
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seni pahat dapat di sebut juga sebagai seni ukir. Mula-mula dapat kita
lihat dari perkembangan seni ukir yang ada di Indonesia. Bangsa Indonesia mulai
mengenal ukir sejak zaman batu muda (Neolitik), yakni sekitar tahun 1500 SM.
Pada zaman itu nenek moyang bangsa Indonesia telah membuat ukiran pada
kapak batu, tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. Motif dan
pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. Pada zaman yang lebih
dikenal sebagai zaman perunggu, yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM. Bahan
untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yanitu menggunakan
bahan perunggu, emas, perak dan lain sebagainya. Dalam pembuatan ukirannya
adalah menggunakan teknologi cor. Setelah agama Hindu, Budha, Islam masuk ke
Indonesia, seni ukir mengalami perkembangan yang sangat pesat, dalam bentuk
desain produksi, dan motif. Ukiran banyak ditemukan pada badan-badan candi
dan prasasti-prasasti yang di buat orang pada masa itu untuk memperingati para
raja-raja. Motif ukiran, selain menggambarkan bentuk, kadang-kadang berisi
tentang kisah para dewa, mitos kepahlawanan, dll. Bukti-bukti sejarah
peninggalan ukiran pada periode tersebut dapat dilihat pada relief candi Penataran
di Blitar, candi Prambanan, Mendut di Jawa Tengah dan candi-candi yang ada
didaerah Trowulan. Patung yang di produksi bermanfaat untuk mengisi
ruang-ruang/tempat peribadatan, taman dsb. Saat ini patung-patung batu muali banyak
dikembangkan untuk keperluan eksterior maupun interior.
Perkembangan dunia seni pahat di Indonesia ini dapat membantu
perekonomian negara. Di desa Bantul, Yogyakarta, seni pahat sangat berguna
sebagai mata pencaharian dari warga desa itu. Di kabupaten Mojokertojuga
terdapat sentral pembuatan patung seperti di daerah Bantul Yogyakarta. Tepatnya
mengembangkan seni pahat menjadi sebuah seni yang laku untuk diperdagangkan
bahkan sampai ke luar negeri. Pengembangan seni pahat ini ternyata membuat
seni pahat menjadi semakin digemari dikalangan masyarakat. Walaupun mungkin
telah bergeser fungsi menjadi hanya sekedar hiasan atau cinderamata. Hal ini
dapat dilihat pada tabel jumlah pemahat yang ad di daerah Trowulan 1.1.
Tahun Jumlah Kenaikan / penurunan kenaikan
2008 67 orang
2009 48 orang -19
2010 72 orang 24 5 orang
Dari tabel diatas dapat dilihat kenaikan rata-rata jumlah pemahat per
tahunnya yaitu 5 orang pemahat dalam setiap tahun. Lebih jelasnya dapat di lihat
pada lampiran 1 halaman 52.
Jumlah pembeli yang mengunjungi galeri kaki lima di Trowulan semakin
tahun juga sama meningkatnya dengan peningkatan jumlah pemahat itu sendiri.
Hal ini terjadi karena semakin banyak masyarakat yang sadar akan nilai seni, hal
ini dapat dilihat pada jumlah pembeli tabel 1.2
Tahun Jumlah Kenaikan / penurunan Kenaikan
2008 217 orang
Mayoritas, wisatawan yang berkunjung berasal dari beberapa daerah di
sekitar Trowulan. Masyarakat yang berkunjung di area seni pahat ini ingin tahu Tabel 1.1 Data Jumlah Pemahat
Sumber : data survey, 2011
Tabel 1.2 Data Jumlah Pembeli di Trowulan
lebih banyak tentang budaya Indonesia, khususnya seni pahat yang berada di
Terjual ditempat Jual keluar/
dikirim
disimpulkan bahwa para pedagang/pemilik galeri kaki lima membutuhkan tempat
penjualan yang representatif untuk karya-karya yang mereka buat.
Kondisi saat ini, para perajin memasarkan dan memamerkan hasil
karyanya di pinggir-pinggir jalan maupun di depan rumah. Di Trowulan, galeri
yang ada hanyalah galeri kaki lima yang kondisinya tidak representatif. Hal ini
dikarenakan, galeri ini mempunyai fungsi ganda pada tiap standnya, yaitu sebagai
galeri tempat pamer dan bengkel pahat. Sebagai wadah yang dapat menjadi
sebuah galeri yang representatif masih belum ada. Padahal galeri yang
representatif sangat dibutuhkan dalam pemasaran karya mereka. Karena itu,
dibutuhkan wadah yang dapat menjadi tempat yang menarik khususnya untuk seni
pahat di daerah Trowulan.
Tabel 1.3. Data Jumlah Penjualan patung di galeri kaki lima Trowulan
Dengan adanya galeri seni pahat ini, diharapkan masyarakat banyak yang
menyukai seni pahat. Karena proses pembuatan patung tidak semudah yang
difikirkan, memerlukan kemampuan anatomi dan proporsi yang baik. Mereka juga
dapat mempromosikan dan menjual karya karya seni yang mereka buat.
Masyarakat sekitar juga dapat menambah penghasilan mereka dengan adanya
sebuah tempat wisata baru.
1.2 Tujuan dan Sasaran
Galeri Seni Pahat memiliki tujuan, antara lain :
• Menarik minat masyarakat umum terhadap produk seni pahat.
• Membantu mempromosikan produk karya seni yang berupa patung
batu.
• Memasarkan karya seni pahat para pengrajin di daerah Trowulan
Mojokerto kepada masyarakat luas.
Galeri Seni Pahat juga memiliki sasaran, antara lain :
• Sebagai tempat pengenalan kesenian kepada masyarakat khususnya seni
pahat batu.
• Sebagai tempat penjualan dan pemasaran hasil karya seni pahat batu.
• Sebagai tempat wisata baru bagi masyarakat.
1.3 Batasan dan Asumsi
Batasan obyek perancangan Galeri Seni Pahat ini diperuntukkan bagi
masyarakat umum baik itu di Trowulan maupun dari kota lain. Namun, detail
peruntukan bangunan Galeri Seni Pahat ini ialah untuk pemahat dan
pembeli/peminat seni pahat. Sedangkan, batasan jam operasional galeri dimulai
dari pukul 08.00 sampai pukul 21.00 WIB. Untuk hak kepemilikan bangunan
diasumsikan milik swasta/perseorangan, sehingga nantinya diharapkan tidak
1.4 Tahapan Per ancangan
Sub bab Metode Perancangan disini menjelaskan secara skematik tentang
urutan yang dilakukan penyusun dalam menyusun laporan mulai dari tahap
pemilihan judul sampai dengan laporan selesai untuk kemudian diaplikasikan
pada gambar perancangan.
Sedangkan, metode pembahasan yang digunakan dalam proyek
perencanaan ini adalah
• Studi Literature
Dilakukan guna mendapatkan data-data yang berhubungan dengan Galeri
Seni Pahat di Trowulan.
• Internet
Mencari informasi dan data dari situs intertnet yang berhubungan dengan
seni pahat yang dapat digunakan sebagai referensi maupun bukti tertulis.
• Metode Survey dan Pengamatan Langsung
Dengan metode ini digunakan untuk mencermati data yang terbukti secara
nyata di lapangan. Melakukan studi lapangan pada site yang telah dipilih
guna mengenali karakter site.
• Pengolahan dan Penyusunan Data
Data yang telah diperoleh kemudian disusun, dievaluasi untuk kemudian
hasilnya dijadikan pedoman dalam perencanaan Galeri Seni Pahat di
Adapun skema tahapan perancangan yang telah dijelaskan diatas, dapat
dilihat di gambar 1.1 skema metode perancangan.
Gambar 1.1 Skema Metode Perancangan
1.5 Sistematika Lapor an
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini merupakan pembuka laporan, yang merupakan uraian tentang latar
belakang perancangan, maksud dan tujuan perancangan, lingkup perancangan,
metode perancangan, dan sistematika laporan.
BAB II : TINJAUAN OBJEK PERANCANGAN
Pada bab ini diuraikan tentang alasan pemilihan judul, secara teruarai
antara lain meliputi :
a. Tinjauan umum
Pada bab ini berisi tentang pendekatan terhadap proyek / judul
pembahasan dengan mengadakan pengenalan terhadap lingkup wilayah
perencanaan serta pengenalan objek. Studi kasus sebagai referensi dan lebih
memahami judul proyek yang akan direncanakan, memperoleh gambaran objek
dengan jelas melalui studi kasus objek yang sama.
b. Tinjauan khusus
Merencanakan sebenarnya judul tugas akhir dengan batasan yang dibuat
sebelum merancang. Lingkup pelayanan yang akan dilayani serta aktifitas
berupa studi gerak dan perletakkan perabot yang akandi lakukan pada
perancangan. Sehingga akan muncul besaran ruang dan fasilitas yang
dibutuhkan.
BAB III : TINJAUAN LOKASI
Pada bab ini merupakan penjelasan mengenai lokasi proyek yang akan
dipilih. Berdasarkan kriteria pemilihan lokasi terutama potensi site, pencapaian,
dan keadaan lingkungan sekitar site.
BAB IV : ANALISA PERANCANGAN
Pada bab IV diuraikan mengenai konsep perancangan proyek yang akan
dibangun berdasarkan kekayaan kebudayaan setempat dan disesuaikan dengan
tema rancangan yaitu Galeri Seni Pahat di Trowulan. Konsep rancangan lebih
dominan arsitektural jawa.
BAB V : KONSEP PERANCANGAN
Konsep Perancangan, pada tahap ini, pendekatan-pendekatan dalam
perancangan akan mulai direalisasikan. Dengan pendekatan desain, hasil akhir
dari perancangan diharapkan akan sesuai dengan gambaran pada bab awal.
BAB VI : APLIKASI RANCANGAN
Aplikasi Rancangan, akan tervisualisasi dengan bentuk gambar denah,
tampak, potongan, lay out plan, site plan, serta maket sebagai bentukan 3 dimensi
BAB II
TINJ AUAN OBYEK PERANCANGAN
2.1 Tinjauan Umum Per ancangan
2.1.1 Penger tian J udul
Perancangan “Galeri Seni Pahat di Trowulan Mojokerto” ini dapat
dipahami sebagai berikut
• Galer i adalah Tempat penjualan hasil-hasil karya seni, serta untuk
meluncurkan karya-karya terbaru.(kamus bahasa indonesia lengkap)
• Seni adalah adalah Sesuatu karya yang diciptakan dengan kecakapan yang
luar biasa seperti sajak, lukisan, patung, ukir-ukiran dan
sebagainya.(kamus bahasa indonesia lengkap)
• Seni pahat adalah seni ukir yang dibuat dalam bentuk 4 atau 5 dimensi. Seni pahat memiliki ciri yang agak sedikit berbeda dengan seni ukir.
Memang bahan yang digunakan sama persis dengan yang digunakan oleh
seni ukir. Tetapi di dalam seni pahat, kita harus dapat membuat suatu
bentuk yang sesuai dengan keinginnan kita. Jadi, nanti hasil produk akan
berupa bentuk yang terdapat ukiran-ukiran yang tampak indah jika dilihat.
• Trowulan adalah kebesaran Majapahit yang tersisa, di Trowulan,
Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, banyak bukti yang bisa disaksikan
tentang kebesaran Majapahit. Peradaban tersebut berkembang lebih dari
200 tahun, mulai berdiri tahun 1293 dan diperkirakan runtuh tahun 1521
masehi. Disitus Trowulan juga dapat dijumpai ratusan ribu peninggalan
arkeologis baik berupa artefak, ekofak, serta fitur.
• Mojoker to adalah kabupaten yang ada di Jawa Timur.
Sehingga, pengertian dari “Galeri Seni Pahat di Trowulan Mojokerto”
adalah tempat penjualan hasil-hasil karya seni ukiran yang terdapat didaerah
2.1.2 Studi liter atur
2.1.2.1 Seni Pahat
Dalam pembuatan patung batu terdapat beberapa tahapan diantaranya
adalah pemecahan bahan baku sesuai ukuran, proses pemahatan, penghalusan,
kemudian patung siap dipajang untuk dijual.
Galeri kaki lima di Trowulan
- Kondisi empiris
Gambar 2.1.Patung-patung yang di hasilkan di Trowulan.
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
Gambar 2.2. Proses memahat
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa untuk memahat, pemahat
terkadang tidak mempunyai jarak dengan obyek yang dipahat. Untuk patung batu
yang berukuran kecil, jarak antara pemahat dengan obyek yang dipahat ialah
Berikut adalah ukuran-ukuran patung yang ada di dearah Trowulan:
- Patung ukuran kecil dengan panjang 15cm, lebar 15cm, dan tinggi 45cm.
Gambar 2.3. Patung Ukuran Kecil
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
- Patung ukuran sedang dengan panjang 40cm, lebar 30cm, dan tinggi
65cm.
Gambar 2.4. Patung Ukuran Sedang
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
- Patung ukuran sedang posisi berdiri dengan panjang 40cm, lebar 40cm,
dan tinggi 200cm.
Gambar 2.5. Patung Ukuran Agak Besar Posisi Berdiri
- Patung agak besar dengan panjang 60cm, lebar 50cm, dan tinggi 110cm.
Gambar 2.6. Patung Ukuran Agak Besar
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
- Patung besar dengan panjang 150cm, lebar 110cm, dan tinggi 280cm.
Gambar 2.7. Patung Ukuran Besar
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
- Patung besar posisi berdiri dengan panjang 90cm, lebar 80cm, dan tinggi
300cm.
Gambar 2.8. Patung Ukuran Besar Posisi Berdiri
Gambar 2.9. patung yang sudah di packing Gambar 2.10. peralatan memahat
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
Gambar 2.11. Jenis pahatan/ukiran
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
Dari gambar diatas dapat dibedakan dari tingkat kerumitan ukiran pada
tiap-tiap patung. Untuk patung laki-laki tidak terdapat ukiran yang mendetail
sedangkan untuk patung perempuan banyak terdapat ukiran yang detail karena
sesuai dengan filosofi atau kebiasaan wanita yang selalu memakai perhiasan
seperti pada gambar diatas. Hal ini dapat membedakan harga jual patung tersebut
2.1.2.2. Standar t Fasilitas Art Gallery
Suatu galeri memiliki standart persyaratan ruang, dimana hal ini mengatur
serta merupakan syarat utama dalam merancang suatu ruang maupun bangunan.
Standart yang dimaksud dapat berupa luasan ruang, pencahayaan, temperatur,
kualitas ruang, maupun sirkulasi ruang. (Tugas akhir Dimas haryo 2011 )
• Pencahayaan
Karena fleksibilitas gallery secara khas dirancang dengan lebih dari yang
kapasitas pencahayaan yang minimum. Yang terutama pencahayaan terpenting
untuk area ruang pamer. Panjang gelombang lighting adalah – (400-700 nm
(nanometers)), ultra lembayung adalah 300-4(11), sedangkan ultra lembayung
spektrum mempunyai energi lebih yang dapat merusak objek. Karena ultra
lembayung (LV) bukan infraed (IR) [cahaya/ringan] sangat mempengaruhi,
sehingga perlu dihindari penggunaan lighting dengan efek warna lembayung dari
pameran dan koleksi. Dua sember UV cahaya yang ringan dan utama adalah
cahaya matahari dan lampu neon (David, 2005). Adapun persyaratan yang
dibutuhkan akan penerangan antara lain :
- Ekonomi
- Memberikan penerangan yang penuh persyaratan dan sesuai dengan
fungsinya (contoh ruang pamer dan ruang gelap dimana cahaya alami
tidak terlalu dibutuhkan).
- Waktu penggunaan.
Selain itu, perlu adanya pengaturan penempatan dinding temporer. Tata
ruang perlu mengakomodasi dengan aturan :
1. Penjuru sudut diukur dari suatu titik banding dan 5 feet- 4 inchi di atas lantai
(yang merupakan suatu rata-rata mata mengukur untuk orang dewasa) harus
antara 45 dan 75 derajad secara horizontal.
2. Karena dinding permanen, penjuru/sudut yang ideal pada umumnya 65-70
derajat
3. Semakin sensitif material koleksi / karya seni, semakin sedikit pencahayaan
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, ada persyaratan umum galeri
yang menurut Neufert Architect Data 1995 berupa
1. Ruang pamer harus aman dari pencuri, bahaya kebakaran, sinar terik
matahari, debu, asap, polusi kendaraan atau industri serta bebas dari
kebisingan dan getaran.
2. Galeri harus menyediakan lahan untuk pengembangan pada tahun-tahun
berikutnya, dengan asumsi akan terjadi penambahan ruang karena
penambahan koleksi.
3. Galeri dapat didukung oleh fasilitas workshop/studio/garasi dalam bangunan
tersendiri atau terpisah dengan ruang pamer.
4. Ruang pamer harus terjaga kelembapannya dan tidak terkena sinar matahari
langsung.
5. Galeri sebaiknya dilengkapi dengan ruang penunjang lain seperti kantor
administrasi, ruang pertemuan, ruang baca, atau perpustakaan. Semua itu
sebisa mungkin berada dalam satu lantai dengan ruang pamer.
• Standart Kenyamanan Pengamat
Kenyamanan pandangan pengamat perlu diperhatikan agar pengunjung
merasa nyaman dan dapat leluaa untuk melakukan pengamatan terhadap hasil
karya seni rupa tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain
1. Kenyamanan pandangan horizontal
4. Ukuran dan jarak pandang
Tinggi dan jarak pandang ke obyek koleksi juga menentukan
Untuk lebih jelasnya tentang kenyaman jarak pandang pengamatan
manusia dapat dilihat pada gambar di bawah ini
Gambar 2.12 Sudut pandang pengamat dan jarak display manusia
(Sumber: Dimensi Manusia dan Ruang Interior, 2003)
2.1.3 Studi Kasus
2.1.3.1Galer i Kaki Lima Antok, Mojoker to
A. Lokasi
Galeri kaki lima ini berlokasi di Desa Wates Umpak, Jati Sumber,
Kecamatan Trowulan. Berada di jalur Jalan Raya Mojokerto – Jombang. Berada
tepat di pinggir jalan raya utama jalur luar kota membuat lokasi ini merupakan
lokasi yang strategis. Namun, kondisi jalan ini tidak sepadat jalur luar kota
Sidoarjo – Malang (Porong) sehingga tidak memiliki kepadatan lalu lintas yang
berlebihan
B. Fasilitas
- Ruang Pamer
Ruang ini berada di luar atau biasa disebut teras rumah dan di trotoar
jalan. Patung yang dipamerkan mulai dari patung paling kecil (tinggi 30 cm)
sampai paling besar (3 m untuk patung duduk). Patung yang dipamerkan untuk
dijual berasal dari batu padas dan batu kali, yang memiliki perlakuan berbeda.
Untuk patung yang terbuat dari batu padas membutuhkan perlindungan dari
sinar matahari dan hujan. Sedangkan, untuk patung yang terbuat dari batu kali
Kaki Lima ini bisa dikatakan memiliki ruang pamer ditrotoar dan outdoor.
Adapun ruang pamer Galeri Kaki Lima ini dapat dilihat di gambar bawah ini
Gambar 2.13 Ruang pamer outdoor Gambar 2.14 Ruang pamer di trotoar
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
- Rumah
Rumah di Galeri Kaki Lima ini merupakan rumah pemilik galeri ini,
yaitu rumah Pak Antok. Rumah ini merupakan tempat tinggal tetap pemilik
galeri ini. Adapun gambar rumah dapat dilihat di gambar bawah ini
Gambar 2.15 Rumah pemilik galeri
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
- Gudang
Gudang disini merupakan tempat penyimpanan koleksi produk patung
baik yang siap untuk dipamerkan (dijual) maupun yang masih dalam tahap
finishing. Produk yang disimpan di gudang ini bisa merupakan koleksi baru
maupun koleksi lama. Gudang ini berada tepat disamping kanan rumah pemilik
galeri.
- Ruang Pahat (ruang kerja)
Ruang pahat ini berada di depan rumah pemilik galeri, yang beratapkan
asbes dan tanpa sekat dinding sehingga terbuka. Sebenarnya, ruang pahat ini
pahat sekaligus ruang pamer kedua selain ruang pamer terbuka (di trotoar).
Adapun ruang yang dimaksud dapat dilihat di gambar bawah ini
Gambar 2.16 Ruang pahat + ruang pamer
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
C. Besar an Ruang
Galeri kaki lima ini sebenarnya sama halnya sperti rumah – rumah pada
umumnya.Namun, pada rumah milik pak Antok ini dimanfaatkan sebagai galeri
kaki lima. Dimana pemajangan koleksi seni pahat ini diletakkan di teras rumah
(yang telah dinaungi atap asbes) dan trotoar sekitar rumah (galeri ini). Dengan
penggolongan ruang yang dapat dilihat di gambar bawah ini
Jl. Raya Jalur Luar kota Surabaya – Jombang
Gambar 2.17 Denah Galeri Kaki Lima Antok
D. Gubahan Massa dan Tampilan Bangunan
Tampilan dan gubahan massa galeri ini ialah hanya rumah tinggal biasa
dengan tampilan seprti rumah tinggal biasa. (dapat dilihat di gambar 2.4).
2.1.3.2Selasar Sunar y Ar t Space, Bandung
A. Lokasi
Selasar sunaryo art space, terletak di jl. Bukit Pakar Timur no. 100, Dago,
Bandung, Kecamatan Lembang, Jawa barat. Lebih jelasnya lokasi bangunan ini
dapat dilihat pada gambar di bawah ini
Gambar 2.18 Lokasi Selasar Sunaryo
(sumber : googlemap.com)
Pemilik galeri ini adalah Drs. Sunaryo yang mempercayakan seorang
Arsitek yaitu Baskoro tedjo untuk menggarap lahan 5000 meter persegi miliknya,
beliau bersama Baskoro tedjo merancang selasar sunaryo art space pada tahun
1993. Pembangunan membutuhkan waktu selama 4 tahun dari tahun 1993 – 1997.
Ide bentuk dari galeri ini adalah Kuda lumping, yang diresmikan pada september,
1998.
B. Fasilitas
- Taman Batu
Taman batu luas sekitar 190m2, yang merupakan sebuah tempat
terbuka (RTH).Biasanya digunakan untuk tempat memajang karya-karya
Sunaryo yang terbuat dari batu-batuan. Ditata dengan gaya taman Jepang
yang minim pohon rimbun namun estetis, dimana seolah-olah ada 2 dunia
yaitu kering dan sejuk (pasir – batu dan rerumputan). Tatanan dan gambaran
Gambar 2.19 Taman Batu
(sumber : http://fariable.blogspot.com/2011/07/selasar-sunaryo-art-space.html)
- Ruang Utama
Ruang utama memiliki luas sekitar 177 m2. Biasa digunakan untuk menyimpan dan memajang karya-karya Sunaryo yang dipilih oleh dewan
pertimbangan Kuratorial atas dasar periodisasi dan nilai kesejahteraannya.
Ruang ini juga digunakan untuk pameran dengan skala besar yang
menampilkan seniman-seniman dari indonesia dan mancanegara.
Menggunakan dinding temporer yang secara kondisional bisa dirubah
sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan tatanan pameran. Namun ada sisi
dimana dindingnya merupakan dinding permanen, menggunakan pewarnaan
dinding putih susu dan terasso hitam, serta lantai kayu parguel warna coklat
kayu muda. Penggambaran ruang utama dapat dilihat di gambar bawah ini
Gambar 2.20 Ruang Utama
- Ruang Sayap
Ruang sayap memiliki luas sekitar 48 m2, digunakan untuk
menyelenggarakan pameran yang menampilkan karya-karya seniman muda
indonesia dan mancanegara. Selain itu, ruangan ini juga digunakan untuk
mancanegara. Adapun penggambaran ruang sayap dapat dilihat di gambar
bawah ini
- Kopi Selaras
Kopi Selaras memiliki luas sekitar 157 m2 dengan teras terbuka yang disediakan bagi para pengunjung untuk menikmati kopi dan makanan sambil
menyimak pemandangan bukit dago yang asri. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat di gambar bawah ini
Gambar 2.22 Kopi Selaras
- Ruang Tengah
Ruang Tengah memiliki luas sekitar 210m2, digunakan untuk
menyelenggarakan pameran yang menampilkan karya-karya seniman muda
indonesia dan mancanegara. Selain itu, ruangan ini juga digunakan untuk
memajang koleksi permanent karya-karya terpilih seniman indonesia dan
mancanegara.
- Cinderamata Selaras
Cindera Mata Selaras (luas sekitar 90 m2), toko kecil yag menjual buku-buku, produk kesenian, dan jurnal seni-budaya serta pernak-pernik khas
selaras. Adapun gambar tentang ruang ini dapat dilihat di gambar bawah ini
Gambar 2.24 Cinderamata Selaras
- Amphitheatre
Amphitheatre memiliki luas sekitar 198 m2. Amphitheatre ini merupakan sebuah panggung terbuka berbentuk ¾ lingkaran dengan
kapasitas 300 penonton yang dirancang khusus untuk pementasan seni
pertunjukan, pembacaan puisi, monolog maupun pementasan seni budaya
lainnya. Dapat dilihat di gambar bawah ini
Gambar 2.25. Ampitheater
- Bale handap
Bale Handap (luas sekitar 120m2), adalah salah satu ruang serba
guna yang digunakan untuk ruang diskusi dan lokakarya. Model bangunan
ini terinspirasi dari bangunan tradisional jawa dengan adanya teras
terbuka. Bale Handap terletak terpisah dari bangunan utama yaitu diantara
- Rumah Bambu
Rumah Bambu memiliki luas sekitar 76 m2.Berupa rumah
sederhana terbuat dari bambu yang digunakan untuk menginap para
seniman yang bekerja untuk program tertentu, serta tamu-tamu khusus.
Untuk tampilan rumah bambu ini, dapat dilihat di gambar bawah ini
Gambar 2.27 Rumah bambu
- Perpustakaan Selasar
Ruang ini baru dibuka untuk umum pada tahun 2008 dan memiliki
banyak data tentang kesenian Indonesia, fotografi, buku, jurnal, film
poster, paper dalam bentuk dokumentasi. Adapun gambar ruangnya dapat
dilihat di bawah ini
Gambar 2.28 Pustaka Selasar
C. Besar an Ruang
Selasar Sunaryo ini merupakan bangunan yang menganut style
kontemporer tropis sebagai ruang galeri – museum, pertemuan/pementasan,
seminar, dan bukan merupakan bangunan tatanan massa melainkan single
building. Pengolahan ruang interior dan eksterior dibuat menyambung seolah-olah
berupa ruang yang menerus seperti selasar. Sehingga nama bangunan ini disebut
Selasar Sunaryo. Untuk lebih jelasnya, pembagian ruang Selasar Sunaryo dapat
dilihat pada gambar 2.29 di bawah ini
Gambar 2.29 Denah Selasar Sunaryo
D. Pola Tatanan Massa
Letak Selasar Sunaryo ini berada di kawasan perbukitan yang sangat
menentukan dalam penentuan pola perletakan fungsi massa bangunan itu sendiri.
Dimana harus dapat mengisi ruang lahan yang seluas 5000 m2 dengan kemiringan
sekitar 20 – 40 %. Sehingga dalam perencanaannya perlu dilakukan pemisahan
bangunan berdasar fungsi aktivitas pengguna. Pemisahan massa bangunan dibuat
menggunakan split level yang menyesuaikan pola kontur eksisting. Pola tatanan
massa Selasar Sunaryo ini ialah radial, dimana arah masuk dengan keluar berada
di satu titik yang sama. Untuk mengetahui pola tatanan massa Selasar Sunaryo ini
Gambar 2.30 Blokplan Selasar Sunaryo lantai 1
Gambar 2.31 Blokplan Selasar Sunaryo lantai 2
E. Gubahan Massa dan Tampilan Bangunan
Bentuk dasar bangunan selasar sunaryo art space secara keseluruhan
diambil dari bentuk “Kuda Lunping” yang merupakan salah satu artefak
kebudayaan tradisional indonesia. Kata “Selasar”pun dipilih sebagai konsep
rumah terbuka yang menerus dan menghubungkan satu ruangan dengan ruangan
yang lain, serta satu bangunan dengan bangunan lain. Konsep utama “Selasar”
dalam hal ini adalah menghubungkan seni dengan kehidupan, menghubungkan
karya seni dan pemirsanya sekaligus menghubungkan satu budaya dengan budaya
yang lain.Tampilan bangunan dapat dilihat pada gambar 2.32 di bawah ini
Taman Batu
Galeri Utama
Wing Space Rg. Tengah
Kopi Selasar
Rumah Bambu
Bale Handap Ruang AV
Selasar Cinderamata
Gambar 2.32. Tampilan
Bentuk tampilan Selasar Sunaryo merupakan perpaduan antara konsep
Back To Nature dan arsitektur Modern. Ini terlihat dari bentukan
dinding-dindingnya yang massif dan terdapat lubang dengan bentukan geometris, pagar
yang dibuat dengan bentukan yang simple, dan cenderung menggunakan
warna-warna monokrom. Beberapa hal tersebut semakin membuat kental kesan
modernnya. Sedangkan konsep Back To Nature lebih diterapkan pada
fungsi-fungsi ruangnya seperti yang terihat pada amphitheatre, bale handap, dan rumah
bambu.
Dari studi lapangan yang telah dilakukan, diperoleh gambaran yang secara
riil ruang-ruang yang berkaitan dengan dunia seni pahat, termasuk diantaranya
ruang pamer sayap, ruang utama dan sebagainya. Dimana melalui studi lapangan
ini kita dapat belajar tentang kebutuhan ruang.
Penataan perabot pada Selasar Sunaryo ini sesuai dengan fungsi dan
kebutuhan para pengunjung. Pada interior bangunan juga dapat disesuaikan
dengan karya-karya setiap aliran yang dianut setiap seniman.
2.1.3.3Galer i Seni Alber ta, Kanada
A. Data obyek studi kasus
• Arsitek : Randall Stout Architects
• Lokasi : Edmonton, AB T5J, Kanada
• Tahun berdiri : 1924
• Bahan : Beton
• Lantai area : 84.000 kaki persegi
B. Lokasi
Galeri ini berada di Edmonton, Alberta, Canada. Tepat di 102 A Avenue
Street yang merupakan jalan sekunder dan 2 arah. Bangunan galeri ini merupakan
bangunan kompleks yang perletakan lokasi tiap massa bangunan di pojok jalan
pertemuan antara 102 A Avenue dan 99 Street. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada gambar 2.33 di bawah ini
Gambar 2.33. Siteplan lokasi bangunan
C. Fasilitas
- Lobby
Pada galeri alberta ini, lobby menggunakan permainan cladding yang
menembus dari luar lalu masuk kedalam ruangan sehingga menimbulkan
keestitakaan tersendiri. Dimana plafon area lobby menembus hingga lantai ke 3
sehingga menimbulkan kesan lapang. Untuk konstruksi, sengaja diperlihatkan dan
diekspos untuk mengesankan kokohnya bangunan ini. Dinding bagian eksterior
mayoritas terbuat dari material kaca yang dimaksudkan untuk mendapatkan
pencahayaan alami. Sedangkan di dinding bagian interior menggunakan beton
Gambar 2.34. Lobby galeri
- Galeri
Galeri ditempatkan di lantai kedua dan ketiga bangunan. Pada ruang ini
digunakan untuk memajang karya-karya seni yang ada pada galeri alberta. Karya
seni yang dipajang tidak hanya karya lukisan, patung, seni ukir, sclupture art, dan
masih banyak lagi. Ide lekukan stainless yang bergelombang bila dilihat seperti pita
stainless steel yang mengombak melintasi dinding di sekitar lobi dan galeri
bangunan dengan bentuk seng kotak dan menonjol. Material bangunan di bagian
galeri utama menggunakan granit pada lantai, beton pada dinding, dan kayu parquel
– beton pada plafon. Ada sebgaian kolom di galeri yang menggunakan pelapis
stainless. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.35 di bawah ini
Gambar 2.35. Galeri Utama
- Cafe
Cafe ini diolah menjadi ruang luar yang nyaman dan santai, dengan teras terbuka sehingga para pengunjung saat menikmati minuman dan
dinding (framing view). Penggunaan material yang melibatkan batu tempel
dengan permainan tekstur tiap batu sehingga menimbulkan kesan sejuk dan
tenang, jauh dari kesan hiruk pikuknya kota. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada gambar 2.36 di bawah ini.
Gambar 2.36. Cafe
D. Besar an Ruang
Galeri alberta ini merupakan bangunan yang menganut style arsitektur
modern brutalist sebagai galeri – museum, pertemuan/pementasan, seminar, dan
lain-lain. Bangunan ini merupakan bangunan tatanan massa yang kompleks
dengan fungsi bangunan, fungsi tiap massa bangunan dipisahkan oleh lokasinya
yang saling berhadapan di sisi tepi jalan raya. Pengolahan ruang interior
meminimalisir penggunaan dinding masif dan eksterior dibuat clading
bergelombang yang tidak beraturan namun menembus sampai kedalam bangunan
dengan menggunakan bahan stainless steel. Besaran ruang pada bangunan galeri
ini diolah dengan pola radial yang tidak memiliki kerumitan tinggi pada sirkulasi
ruang. Untuk lebih jelasnya, pembagian ruang dapat dilihat pada gambar 2.37 di
Gambar 2.37. Denah Lower Level dan Ground Level
Gambar 2.38. Denah Second Level dan Third Level
Gambar 2.39. Denah Fourth Level
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa banyak ruang-ruang yang luas hal
ini dimaksudkan untuk memberikan kesan megah bagi pengguana bangunan.
Dengan adanya ruang-ruang yang luas dapat menyimpan benda-benda koleksi
yang cukup banyak, sehingga memudahkan pengunjung untuk melihat benda
E. Pola Tatanan Massa
Letak galeri alberta ini berada di kawasan perkotaan yang sangat
menentukan dalam penentuan pola perletakan fungsi massa bangunan itu sendiri.
Dimana harus dapat mengisi ruang lahan yang seluas 84.000 m2. Sehingga dalam
perencanaannya perlu dilakukan pemisahan bangunan berdasar fungsi aktivitas
pengguna. Pemisahan massa bangunan dibuat menggunakan split level di tiap
fungsi ruang maupun fungsi bangunan. Pola tatanan massa ialah radial, dimana
arah masuk dengan keluar berada di satu titik yang sama namun memutar
melewati ruang yang berbeda. Untuk mengetahui pola tatanan massa dapat dilihat
di gambar 2.40 bawah ini
Gambar 2.40. Denah dan potongan
F. Gubahan Massa dan Tampilan Bangunan
Bentuk tampilan dari galeri alberta merupakan perpaduan antara konsep
brutalistme dan arsitektur Modern. Ini terlihat dari bentukan tampak bangunan
yang yang tidak beraturan dengan berbagai macam campuran garis dan
lengkungan. dan cenderung menggunakan warna-warna monokrom. Beberapa hal
tersebut semakin membuat kental kesan modernnya.untuk mengetahui tampilan
Gambar 2.41. Tampak bangunan
2.1.4 Analisa Hasil Studi
Tabel 2.1. Analisa hasil studi
Analisa hasil
studi J enis r uang Keunt ungan/ker ugian
Kesimpulan yang
dianut
Selasar Sunaryo - Ruang tengah
-Cinderamata selaras
- Ruang dalam
- Bale handap
- Rumah bambu
- Ampitheater
Lapang,cahaya alami dan
sirkulasi alami.
apabila digunakan sebagai
acara pentas.
Dari perbedaan hasil
studi kasus yang telah
sirkulasi radial dan
minim penggunaan
nsekat dengan tujuan
memaksimalkan view
pencahayaan alami karena
tidak menggunakan atap.
Terkesan lapang karena
tidak dibatasi plafon dari
lantai 1-3.
Sumber : Analisa pribadi, 2011
Dari hasil analisa studi diatas, didapatkan persamaan yaitu, kedua obyek
studi sama-sama merupakan bangunan single building namun berbeda fungsi
koleksi yang berbeda. Untuk Selasar Sunaryo merupakan galeri seni kontemporer,
sedangkan Galeri Kaki Lima merupakan galeri seni pahat home industry.
2.2 Tinjauan Khusus Per ancangan
2.2.1 Penekanan Per ancangan
Pada Galeri Seni Pahat di Trowulan Mojokerto ini penekanan perancangan
secara Tatanan Massa (massa bangunan kompleks). Karena Galeri ini
memerlukan banyak ruang-ruang besar dan terbuka, misalnya seperti
pendopo-pendopo sebagai tempat penjualan patung batu yang berukuran sedang sampai
yang besar.
Merujuk pada studi kasus Selasar Sunaryo Art Space Bandung, maka
Galeri ini membutuhkan banyak ruangan ataupun bangunan-bangunan sebagai
tempat patung-patung besar dipamerkan untuk dijual. Ruang-ruang itu antara lain
pendopo-pendopo yang letaknya terpisah dengan bangunan utama, terhubung oleh
selasar. Ini yang menjadi alasan mengapa Galeri ini dibuat dengan Tatanan Massa
atau massa kompleks.
2.2.2 Lingkup Pelayanan
Lingkup pelayanan yang difokuskan untuk Galeri Seni Pahat ini kepada
masyarakat umum khususnya eksekutif selaku peminat – pembeli karya seni
pahat.
2.2.3 Ak tifitas Dan Kebutuhan Ruang
Aktifitas-aktifitas yang dilakukan pemakai bangunan dapat dijabarkan
seperti dalam tabel 2.2. berikut ini.
Tabel 2.2. Aktifitas Pemakai Bangunan dan Kebutuhan Ruang
No Pemakai Bangunan Aktifitas Kebutuhan Ruang Fasilitas
- Belajar memahat
2.2.4 Per hitungan Luasan Ruang
Perhitungan luas ruang disusun berdasarkan jumlah dan standar satuan
terkecil dari masing-masing aktifitas. Untuk menentukan luasan ruang dapat
mengacu pada tabel 1.1 halaman 2 pada bab 1 tentang jumlah kenaikan jumlah
pemahat pertahunnya yang mencapai 5 orang. Dengan asumsi 10 tahun bangunan
mampu menampung sampai 120 orang pemahat, Dan secara jelas diuraikan dan
dihitung pada tabel 2.3. dibawah ini.
Tabel 2.3. Perhitungan Luasan Ruang
Total 1709.5 m2
R.Administrasi+Staff 10 org 12 m²/org 120 m²
R. Humas+Tamu 3 org 12 m²/org 36 m²
• Rekapitulasi Luasan r uang (ter masuk sirkulasi 30% )
Perhitungan luas ruang disusun berdasarkan jumlah dan standar satuan
terkecil dari masing-masing aktifitas, serta prasarana yang dibutuhkan pada
masing-masing ruang tersebut. Dan secara jelas diuraikan dan dihitung pada tabel
d. Packaging room
5. Zona Par kir Zona Parkir
a. Parkir mobil
b. Parkir Motor
c. Parkir Bus
d. Pos Jaga
644.8 m2 23.3 %
BAB III
TINJ AUAN LOKASI P ERANCANGAN
3.1 Latar Belakang Pemilihan Lokasi
Dalam obyek rancangan Galeri Seni Pahat ini ditinjau beberapa lokasi. Hal
ini untuk memilih kondisi lokasi yang optimal untuk mendirikan suatu Galeri
Seni. Dalam penetapan dan pemilihan lokasi harus memperhatikan kriteria
sebagai berikut :
a. Luasan Ruang yang dibutuhkan dalam proyek
b. Fungsi bangunan utama yang menjadi kunci dalam penetapan lokasi
berada dimana site tersebut dalam peruntukan kawasan kota yang
sebenarnya.
c. Pilihan lokasi proyek yang mendekati secara keseluruhan terhadap
persyaratan dan fungsi bangunan.
d. Ketentuan dan pertimbangan bangunan dalam penetapan lokasi proyek
seperti penganalisaan segala aktivitas, kebutuhan ruang terbuka,
kebutuhan ruang pribadi, luas lahan, tingkat ekonomi pengguna, serta
keamanan lokasi.
3.2 Peneta pan Lokasi
Dengan adanya data-data tentang lokasi obyek rancang, dapat menentukan
lokasi perancangan yang tepat untuk Galeri Seni Pahat ini. Setelah dilakukan
penilaian terhadap masing-masing lokasi maka dipilih lokasi wisata Trowulan
pada alternative lokasi A sebagai lokasi yang tepat untuk obyek rancang ini.
Adapun hasil penilaian antara alternative lokasi yang telah disebutkan diatas,
Tabel 3.1. Hasil Penilaian lokasi
Lokasi Aksesibilitas Lingk. sekitar Aspek pendukung
A
padat kegiatan. Banyak
penjual patung sehingga
sesuai dengan tema
umum misal bus, angkutan
kota, dll. Kendaraan
pribadi maupun aktivitas
candi – patung juga ada di
terletak pada kawasan
wisata, tujuan utama
wisatawan, daerah
peninggalan majapahit
yang banyak terdapat
peninggalan-peninggalan
kerajaan majapahit misal
candi-candi, pendopo dll.
Letaknya berada di jalan
sekunder namun, lokasinya
masih dapat dilihat dari
jauh.
2 Pencapaian yang mudah
baik kendaraan umum
maupun pribadi. Banyak
terdapat peninggalan
Meskipun banyak orang
yang tahu.
1 Dilalui angkutan kota
tetapi bangunan disekitar
kurang mendukung
(Toko-toko yang berhubungan
dengan dunia style)
2
Keterangan : 3 : Sangat baik
2 : Cukup baik
Lokasi dapat dilihat pada peta dibawah.
Gambar 3.1 Peta pilihan alternative lokasi
Gambar 3.2. Peta lokasi terpilih
Lokasi B
Lokasi obyek rancang terletak di jalan Majapahit, desa Wates Umpak,
dusun Jati sumber RT.01, RW.02, no 28-32 kecamatan Trowulan Mojokerto KM
10.
3.3 Kondisi Fisik Loka si
3.3.1 Eksisting Site
Lahan ini merupakan lahan kosong yang berada tepat di pinggir jalan raya
utama Majapahit. Dengan status milik perseorangan yang kurang terawat. Kurang
lebih luas lahan ialah 13.000m2 . Adapun kondisi lahan dapat dilihat di gambar bawah ini
Gambar 3.3. Kondisi site
3.3.2 Ak sesibilitas
Gambar 3.4. Arus aksesibilitas
Ket :
Pada lokasi utama ini para pengunjung dapat menuju lokasi dengan
menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi, selain itu juga angkutan
umum seperti bus juga dapat menuju lokasi apabila ada penggunjung yang ingin
berwisata dengan keluarga besarnya.
3.3.3 Potensi Lingkungan
Gambar sebelah timur site Gambar sebelah barat site
Gambar 3.5. View sekitar site I
Gambar sebelah utara site Gambar sebelah selatan site
Gambar 3.6. View sekitar site II
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
Pada lokasi ini banyak terdapat aspek-aspek yang mendukung terhadap
obyek rancang misal candi-candi peninggalan kerajaan Majapahit, Museum
Trowulan, Pendopo Agung dll. Patung yang ada pada Galeri Seni Pahat ini
nantinya ialah patung batu yang bernuansa Majapahit sehingga aspek-aspek
3.3.4 Infr astuktur Kota
Adapun infrastruktur kota yang ada di sekitar lokasi tidak seminim daerah
pelosok kota Mojokerto. Sudah tersedia infrastruktur yang cukup lengkap, seperti
- Lampu penerangan jalan
Yang terdapat pada sepanjang jalan raya.
- Jaringan telefon
Pada sekitar kawasan site yang berlokasi di dusun Jati sumber, desa wates
umpak Kec. Trowulan telah terdapat beberapa tiang jaringan telepon.
- Jaringan listrik
Pada lokasi sekitar site telah terdapat tiang-tiang listrik.
- Saluran air bersih
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada kawasan proyek, saat ini telah
menggunakan pompa air sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan air
bersih.
- Saluran air kotor
Pada pinggir jalan terdapat saluran air kotor yang berupa selokan.
3.3.5 Per atur an Bangunan Setempat
Peraturan yang berlaku pada lokasi proyek di Jalan raya Surabaya
Jombang yang mempengaruhi perencanaan adalah:
- Koefisien Dasar Bangunan (KDB) : 40 %
- Koefisien Lantai Bangunan (KLB) : 150 %
- Tinggi Bangunan : 2-3 lantai
BAB IV
ANALISA PERANCANGAN
4.1 Analisa Site
4.1.1 Analisa Aksesibilitas
Menguraikan tentang proses pencapaian yang menentukan letak pintu
masuk akibat analisa pencapaian tersebut. Proses pencapaian juga ditentukan oleh
beberapa faktor seperti tingkat kepadatan lalu lintas, kondisi eksisting awal site,
kondisi alam site, luas lahan, lebar-tidaknya badan jalan di sekeliling site, arah
transportasi, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan penentuan Main Entrance (ME)
dan Side Entrance (SE) tidak sama di setiap letak site yang berbeda.
Apabila disesuaikan dengan site yang berada di jalan jalur luar kota yaitu
jalan Majapahit, maka sebaiknya ME diletakkan pada koridor jalan utama yang
terdapat di jalan utama jalur luar kota ini. Sedangkan SE diletakan pada posisi
yang sejajar dengan letak ME. Hal ini dikarenakan jalan ini adalah jalan utama
untuk menuju lokasi obyek rancang. Penentuan ME dan SE pada tempat yang
sama juga dapat memudahkan proses pengamanan bangunan. Hal ini dapat dilihat
pada gambar di bawah ini
Gambar 4.1 Analisa Aksesibilitas
Sur abaya J ombang
ME /SE
4.1.2 Analisa Iklim
Gambar 4.2. Analisa Orientasi matahari
Posisi pada lokasi ini menghadap ke timur sehingga untuk tampilan
bangunan harus diolah secara khusus untuk mengatasi kondisi cuaca. Hal ini
dikarenakan posisi paling panas yang mempengaruhi bangunan adalah pada
bagian depan jadi pada tampilan bangunan dapat diberi secondary fasade yang
berfungsi sebagai penghalang terkena langsungnya matahari pada bangunan,
namun untuk mengurangi dampak terkena sinar matahari berlebih sebaiknya disisi
timur ditanami pepohonan sebagai penghalang.
Untuk arah mata angin berhembus dari arah timur ke barat (laut ke darat),
sehingga mayoritas site terpilih ini terkena hembusan angin lokal (selama ada
ruang terbuka hijau).
Sedangkan untuk pembuangan air kotor dapat dialirkan keselokan yang
ada disepanjang jalan raya Majapahit.
4.1.3 Analisa Lingkungan Sekitar
Analisis ini menjelaskan tentang potensi lingkungan sekitar terhadap site
terpilih. Potensi lingkungan sekitar site yang dapat menjadi petimbangan view
bangunan ialah lingkungan sekitar yang masih tergolong minim bangunan
permanen. Dan view yang terbaik terdapat didepan site yg berupa kondisi jalan
Area yang sebaiknya ditanami
pepohonan
raya yang tidak terlalu padat. Dikarenakan mayoritas view sekitar site kurang
mendukung (negatif), maka diarahkan untuk menciptakan view ke dalam site.
View tersebut dapat berupa taman kecil ataupun ruang bersantai terbuka, selain
nantinya akan ada ruang pamer outdoor di dalam site. Adapun kondisi lingkungan
sekitar site beserta analisanya dapat dilihat pada gambar di bawah ini
Gambar 4.3. View sekitar
4.1.4 Analisa zoning
Zoning lahan sangat berperan penting dalam penentuan fungsi peruntukan
bangunan. Hal ini dikarenakan RTRW kota merupakan pedoman dalam penentuan
fungsi bangunan ke depannya agar bangunan yang dirancang tidak salah sasaran
dan dapat berguna dengan efisien di kehidupan masyarakat.
Dalam menganalisa zoning, dibutuhkan analisa ME dan lingkungan sekitar.
Dimana dibutuhkan penyesuaian lingkungan masyarakat sekitar terhadap
perancangan ini, sehingga dapat menghasilkan lingkungan yang berkembang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini
Rumah penduduk t = ± 4m.
Lahan kosong ditumbuhi ilalang cukup tinggi+rimbun
Ket : : Bising Tinggi
: Bising Rendah
Gambar 4.4. Zoning Bangunan
4.2 Analisa Ruang
4.2.1 Or ganisasi Ruang
Menjelaskan dan menggambarkan secara diagramatis struktur organisasi
ruang atau kelompok ruang secara runtut dan sistematis. Organisasi ruang
menggambarkan pola hubungan antar berbagai fasilitas secara garis besar
(makro).
Apabila dihubungkan dengan proyek bangunan ini, maka organisasi ruang
bangunan yang memiliki fungsi sebagai fasilitas umum dan bertatanan massa.
Untuk alur kegiatan dapat dilihat pada gambar skema dibawah.
Gambar 4.5. Alur organisasi ruang.
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa ruang-ruang yang ditata dalam
perancangan Galeri Seni Pahat ini tertata dari fasilitas public sampai ke private.
Fungsi bangunan dalam proyek ini ialah bangunan public yang memiliki
peruntukan fungsi ruang yang berbeda.
4.2.2 Hubungan Ruang dan Sir kulasi
Menjelaskan dan menggambarkan secara diagramatis hubungan ruang
pada masing-masing kelompok ruang (mikro) dan mekanisme sirkulasi yang
terjadi akibat hubungan ruang yang telah dibuat secara runtut dan sistematis.
Gambar 4.6. Diagram Hubungan antar ruang.
Keterangan :
: sering
: sedang
: jarang
Gambar 4.7. Sirkulasi ruang
4.2.3 Diagram Abstr ak
Menjelaskan dan menggambarkan secara diagramatis hubungan
masing-masing “block” massa bangunan dengan menambahkan secara sistematisdan
runtut sistim sirkulasi yang terjadi. Baik hubungan diagram secara horisontal
(dalam satu lantai) maupun hubungan diagram secara vertikal (antar lantai).
Sesuai dengan fungsi bangunan yaitu fasilitas umum, maka sebagian besar
ruang yang ada pada Galeri Seni Pahat ini adalah ruang public yaitu ME,
workshop, display, cafe dan lain-lain. Untuk ruang semi public ialah lobby,
sedangkan untuk private area yaitu kantor pengelola dan service area ialah parkir,
toilet, musolla, gudang dan lain-lain. Adapun diagram abstrak yg dimaksud ialah
seperti di bawah ini
Gambar 4.8. Diagram abstrak
4.3 Analisa Bentuk dan Tampilan
4.3.1 Analisa Bentuk Massa Bangunan
Untuk bentuk massa bangunan pada Galeri Seni Pahat ini didominasi
dengan bentuk-bentuk geometri bujur sangkar seperti pendopo umumnya. Dimana
bentuk-bentuk tersebut banyak digunakan pada jaman Majapahit. Hal ini
dikarenakan untuk mendukung obyek rancang yang sebagian besar menjual
patung-patung batu yang menyerupai bentuk arca-arca pada jaman Majapahit.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di gambar bawah ini
4.3.2 Analisa Tampilan
Dalam analisa ini tampilan obyek rancang menggunakan tampilan
arsitektur jawa. Mengapa dipilih arsitektur jawa karena bangunan-bangunan
majapahit jaman dahulu identik dengan arsitektur jawa. Kehidupan orang jawa
mencakup 3 syarat sebagai ungkapan pengertian hidup yaitu mencukupi
kebutuhan sandang (pakaian yang wajar), Pangan ( minum dan makan ) dan
Papan ( tempat tinggal ).
Bentukan rumah yang sederhana adalah ungkapan kesederhanaan hidup
masyarakaat jawa. Hal itu dapat terlihat dari penggambaran bentuk denah yang
cukup sederhana. Biasanya bentuk denah yang diterapkan adalah berbentuk
persegi yaitu bujur sangkar dan persegi panjang. Hal tersebut sesuai dengan
estetika hidup orang jawa yang mempunyai ketegasan prinsip dalam menjalankan
tanggung jawab terhadap hidupnya. Untuk desain tampilan dapat dilihat pada
gambar di bawah ini
Gambar 4.10. Ide tampilan bangunan
Filosofi-filosofi bangunan jawa antara lain tiang-tiang pada tepi bangunan
selalu berjumlah genap, di ruang dalam terdapat empat tiang utama yang disebut
soko guru melambangkan empat hakikat kesempurnaan hidup dan juga ditafsirkan
BAB V
KONSEP PERANCANGAN
Suatu bangunan yang bisa menampung Karya-karya seni pahat dari para
pemahat yang ada di Trowulan dan sekitarnya,dan pusat jujukan bagi masyarakat
yang ingin membeli karya-karya seni pahat.
5.1 Tema Ra ncangan
Tema yang akan diambil dalam perangcangan ini ialah “Simbol Of
Majapahit” yang memiliki arti suatu bangunan yang dapat memperlihatkan
beberapa simbol - simbol peninggalan kerajaan Majapahit dan simbol – simbol
tersebut diaplikasikan pada beberapa bagian rancangan.
5.1.1. Pendekatan
Kenyataan yang ada saat ini pada daerah Trowulan belum ada galeri yang
representatif, hanya ada galeri yang mempunyai fungsi ganda selain sebagai
rumah tinggal juga sebagai galeri dengan ruang pamer yang berada di depan
rumah dan pinggir - pinggir jalan. Patung-patung yang ada di galeri kaki lima
banyak yang tidak tertata dan ruang pamer yang ada di luar kurang
memperhitungkan kenyamanan pengunjung dalam melihat dan memilih
patung-patung yang ada. Hal ini akan memunculkan masalah bagaimana merancang
sebuah galeri yang dapat menjadi pusat karya seni pahat yang ada di Trowulan
tanpa mengabaikan situs purbakala dan kenyamanan bagi pengunjung.
Site yang berada dijalan Majapahit Trowulan Mojokerto ini terletak pada
komplek perkampungan peghasil patung batu di sekitar site, pemilihan site ini
karena bebasnya lokasi ini dari situs purbakala juga karena site ini dekat dengan
situs – situs peninggalan kerajaan majapahit yang mempunyai nilai historis tinggi.
Dengan adanya fakta-fakta tersebut maka perancangan proyek tugas akhir ini
berkaitan dengan kondisi nyata pada lokasi sehingga memunculkan beberapa
kesimpulan yaitu menghadirkan bangunan galeri dengan style arsitektur Majapahit
yang diaplikasikan pada beberapa bagian rancangan dan menyediakan ruang
edukasi tentang filosofi patung batu serta peninggalan pada zaman Majapahit.
5.1.2. Penentuan Tema Rancangan
Tema rancangan pada proyek tugas akhir ini adalah “Simbol Of
Majapahit” yang memiliki arti suatu bangunan yang dapat memperlihatkan
beberapa simbol - simbol peninggalan kerajaan Majapahit , simbol – simbol
tersebut diaplikasikan pada beberapa bagian, seperti : simbol bunga teratai yang
memiliki makna kepercayaan pada budha diaplikasikan pada taman, simbol surya
Majapahit yang memiliki makna ukiran sembilan dewa penjaga mata angin
diaplikasikan pada pintu masuk galeri dan taman.
Penetapan tema rancangan ini dimaksudkan oleh Perancang untuk
menghadirkan bentuk simbol - simbol bangunan pada masa kerajaan Majapahit
yang akan dipadukan dengan bentukan - bentukan arsitektur setempat. Galeri seni
pahat yang ada di Trowulan ini akan menjadi bangunan yang harmonis dengan
lingkungan sekitar.
Landasan perancangan yang digunakan dalam merancang Galeri Seni
Pahat di trowulan Mojokerto adalah landasan perancangan simbolisme.
Menurut Egon Schirmbeck dalam buku “Form, Idea and Architecture”, prinsip
- prinsip perancangan simbolisme dalam arsitektur adalah sebagai berikut :
1. Kombinasi dari unit-unit denah yang sama atau serupa dalam pengaturan
yang beda.
2. Pengaturan tata guna yang berbeda dalam batas sebuah bangunan dan
perhubungan langsung dengan jalan.
3. Perlengkapan akan kebutuhan fungsional, struktural dan lainnya untuk
penggunaan khusus oleh elemen ikonografik, metaforik dan
elemen-elemen yang berhubungan.
4. Pembatasan terhadap elemen-elemen rancangan geometris yang jelas dan
lazim menonjolkan mutu sintetik dari arsitektur pada suatu kawasan lahan.
5. Alokasi dan orientasi dari elemen-elemen suatu ruang sesuai dengan
kondisi-kondisi sosial dan fisik yang ditentukan. merancang ruang sesuai dengan
6. Alokasi yang tegas dari zona-zona gelap dan terang atau elemen-elemen
ruang pada denah dan potongan. Pembedaan dan penentuan dari identitas
suatu ruang melalui penerangan (alami).
7. Penciptaan zona-zona ruang yang ‘mengalir’ dan pengaturan yang bebas (dari
kolom dan dinding) pada elemen yang mengikat ruang.
8. Zona ruang dan daerah lantai adalah bebas dari kebutuhan formalnya sendiri
dan dari ‘muka bangunan utama’ tempelan.
9. Urut-urutan artifak yang khas berbeda untuk menegaskan ruang. Urut-urutan
bentuk ruang atau perbatasan ruang yang khusus berbeda.
Landasan teori yang digunakan dalam merancang Galeri Seni Pahat di
trowulan Mojokerto adalah teori metafora.
Menur ut Anthony C. Antoniades, 1990 dalam ”Poethic of Architecture”
Suatu cara memahami suatu hal, seolah hal tersebut sebagai suatu hal yang
lain sehingga dapat mempelajari pemahaman yang lebih baik dari suatu topik
dalam pembahasan. Dengan kata lain menerangkan suatu subyek dengan subyek
lain, mencoba untuk melihat suatu subyek sebagai suatu yang lain.
Ada tiga kategori dari metafora yaitu
1. Intangible Metaphor (metafor a yang tidak dir aba)
yang termasuk dalam kategori ini misalnya suatu konsep, sebuah ide, kondisi
manusia atau kualitas-kualitas khusus (individual, naturalistis, komunitas, tradisi
dan budaya)
2. Tangible Metaphors (metafora yang dapat dir aba)
Dapat dirasakan dari suatu karakter visual atau material.
3. Combined Metaphors (penggabungan antar a keduanya)
Dimana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai unsur-unsur
awal dan visualisasi sebagai pernyataan untuk mendapatkan kebaikan kualitas
dan dasar.Dimana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai unsur-unsur
awal dan visualisasi sebagai pernyataan untuk mendapatkan kebaikan kualitas dan
dasar.
Konsep yang di pakai pada Galeri seni pahat ini adalah Tangible
simbol peninggalan kerajaan Majapahit dan mengambil bentuk pola keraton
Majapahit yang akan ditampilkan pola tatanan massa pada galeri. Dengan
menggunakan material-material kayu, batu, dan juga batu bata merah dimana
material ini sering digunakan pada era Majapahit.
5.2 Konsep Rancangan
5.2.1 Konsep Tatanan Massa Bangunan
Konsep tatanan massa bangunan dipengaruhi oleh tiga arsitektur yang
mempengaruhi bangunan-bangunan pada masa Majapahit yaitu Arsitektur Jawa
Kuno, Arsitektur Majapahit Lama, dan Arsitektur Majapahit Akhir. Sehingga
mengisyaratkan wujud bangunan keraton Majapahit.
5.2.2 Konsep Tampilan
Konsep tampilan pada perancangan ini ialah mencirikan Arsitektur
Majapahit yang dapat merespon tentang obyek yang diwadahi yang berupa patung
batu, karena tidak akan ada patung kalau tidak ada candi dan tidak ada candi kalau
tidak ada kerajaan. Dalam hal ini kerajaan yang berpengaruh ialah kerajaan
Majapahit. Gapuro sebagai penanda pada pintu masuk.
Gambar 5.1
Bentuk atap galeri nantinya akan menganut bentuk atap yang digunakan
pada Kerajaan Majapahit yang menggunakan atap joglo. Gapura sebagai penanda
pintu masuk kearea Galeri.
5.2.3 Konsep Ruang Luar
Penyelesaian ruang luar yang dilakukan antara lain dengan penggunaan
vegetasi (tanaman) baik seperti pohon-pohon besar dan perdu maupun vegetasi
tambahan yang diletakkan disekeliling site, penggunaan unsur air seperti kolam
pada beberapa bagian site, serta permainan ketinggian level.
Pola penataan taman pada depan galeri menggunakan bentukan bunga
teratai yang merupakan simbol dari kerajaan Majapahit. Selain itu menghadirkan
simbol surya Majapahit yang memiliki makna ukiran sembilan dewa penjaga mata
angin juga diaplikasikan pada taman.
Area taman selain berfungsi sebagai unsur pendukung juga difungsikan
sebagai area memamerkan patung-patung berukuran besar yang dijual.
Berikut ialah gambar penataan massa pada kerajaan Majapahit yang
menjadi acuan untuk perancangan Galeri Seni Pahat nantinya. Jadi pada Galeri
nantinya untuk penataan massa akan menganut fungsi pada penataan massa
kerajaan Majapahit antara lain : Lapangan bubat, komplek persembahyangan,
balai berkumpul, komplek kerajaan, dan komplek hamba Raja.