• Tidak ada hasil yang ditemukan

GALERI SENI PAHAT DI TROWULAN MOJOKERTO.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "GALERI SENI PAHAT DI TROWULAN MOJOKERTO."

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

GALERI SENI PAHAT DI TROWULAN MOJ OKERTO

Untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan

Tugas Akhir S1 (Strata 1) pada jurusan Teknik Arsitektur

Diajukan oleh :

LUCKY MURDIYONO

0851010093

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

J AWA TIMUR

(2)

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur ditujukan kehadirat Allah SWT, yang mana atas

rahmat dan ridho-Nya, sehingga penyusunan Proposal Tugas Akhir yang berjudul

“GALERI SENI PAHAT DI TROWULAN MOJ OKERTO” ini dapat

terselesaikan dengan baik, untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam

memperoleh Gelar Sarjana Teknik (S-1) Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas

Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“

Jawa Timur di Surabaya.

Bersama ini penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada:

Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya

sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik, Terima kasih Ya

ALLAH .

1. Ir. Naniek Ratni. JAR, M.Kes. Selaku Dekan Fakultas Tekni Sipil dan

Perencanaan (FTSP), Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Jawa

Timur.

2. DR. Ir. Pancawati Dewi, MT. selaku Ketua Jurusan Arsitektur, Fakultas

Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Universitas Pembangunan Nasional

(UPN), Jawa Timur.

3. Ir. Eva Elviana, MT. selaku dosen pengampu mata kuliah Seminar.

4. Dyan Agustin, ST., MT. dosen pengampu Tugas Akhir, terima kasih banyak

atas bimbingannya.

5. M.Pranoto S, ST., MT. selaku dosen wali.

6. Ir.Muchlisiniyati Safeyah, MT. selaku dosen pembimbing utama, terima kasih

banyak atas bimbingannya.

7. Dyan Agustin, ST., MT. selaku dosen pembimbing pedamping, yang

membimbing tugas akhir saya dari awal penyusunan. Terima kasih atas

bimbingannya.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(3)

8. Ami Arfianti, ST., MT ; Ir. Eva Elviana, MT ; Ir Erwin Djuni W, ST., MT

Selaku dosen penguji. Terima kasih atas semua kritik dan sarannya.

9. Segenap dosen jurusan Arsitektur UPN Veteran Jawa Timur, atas segala

macam ilmu yang sudah diberikan kepada saya.

10. Kedua orang tua saya, Bpk.Suwandi dan Ibu Sri Mutiara yang selalu

mendukung dalam penyusunan tugas akhir saya. Terima kasih atas segalanya.

11. Saudara saya, Puput Dwi Wibowo.

12. Teman-teman angkatan 2008 dan teman-teman penghuni studio tugas akhir

yang selalu mendukung saya,Mas Brow seAtap (Resa A Priambodo), R.

Ramadhan, Indah R, Nabila, Adhe, Savitri, Syahfitri, Lili indah A (3D),

Risky septia, Achi (holiday), Cris A, Rafles, Putra, Eka, Mas Buyung, Bang

yudha, anak” hima dan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

13. Special thanks for Dobey Oktaviana dan keluarga yang selalu memberi

semangat dan omelan-omelan agar cepat lulus.

14. Sahabat spesial yang selalu memberi semangat, penghuni kontrakan, geng

kos”n temen-temen berburu, geng motor. Temen warung ....dll

15. Semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan Tugas Akhir ini.

Akhir kata, penulis ucapkan terimakasih dan mohon maaf jika terdapat

banyak kesalahan dalam penyusunan proposal tugas akhir ini. Semoga Proposal

Tugas Akhir ini bisa bermanfaat bagi semua pihak, dan bisa didapatkan hasil yang

maksimal nantinya.

(4)

GALERI SENI PAHAT DI TROWULAN MOJ OKERTO

Lucky Murdiyono

0851010093

ABSTRAKSI

Patung batu di Trowulan kurang begitu dikenal. Dengan adanya galeri seni

pahat ini diharapkan dapat lebih mengenalkan patung batu pada masyarakat

umum. Fungsi utama galeri ialah sebagai tempat penjualan selain itu galeri juga

dapat menjadi tempat pembelajaran karya seni kususnya seni pahat agar dapat

lebih mengenalkan seni pahat itu sendiri kepada masyarakat yang lebih luas.

Pada galeri seni pahat yang ada di Trowulan mojokerto ini terdapat

workshop. Dimana pada workshop tersebut pengunjung dapat melihat

tahapan-tahapan pembuatan patung batu.

Lokasi obyek rancang yang berupa galeri terdapat didaerah Trowulan

tepatnya di jalan Majapahit, desa Wates umpak, dusun Jati sumber RT 01, RW 02,

no 28-32 kecamatan Trowulan Mojokerto KM 10.

Galeri seni pahat ini didominasi bentuk-bentuk geometris, sesuwai bentuk

pendopo pada umumnya. Pendopo ialah bangunan yang bersifat semi outdoor hal

ini cocok dengan sifat dari patung batu tersebut yang tahan terhadap iklim.

Pendopo juga dapat menjadi pelindung/peneduh baik dari panas maupun hujan

bagi pengunjung.

Kata Kunci : Pemahat, Galer i, Ar sitektur J awa

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(5)
(6)

2.2.3 Aktifitas Dan Kebutuhan Ruang ... 32

2.2.4 Perhitungan Luasan Ruang ... 33

2.2.5 Program Ruang ... 35

BAB III TINJAUAN LOKASI PERANCANGAN ... 37

3.1 Latar Belakang Pemilihan Lokasi ... 37

3.3.5 Peraturan Bangunan Setempat ... 42

BAB IV ANALISA PERANCANGAN ... 43

(7)

5.2.1 Konsep Tatanan Massa dan Sirkulasi ... 54

5.2.2 Konsep Tampilan ... 54

5.2.3 Konsep Ruang Luar ... 55

5.2.4 Konsep Struktur Dan Material ... 56

5.2.5 Konsep Utilitas ... 56

5.2.5.1 Konsep Penyediaan Air Bersih ... 56

5.2.5.2 Konsep Pembuangan Air Hujan ... 56

5.2.6 Konsep Mekanikal Elektrikal ... 57

5.2.6.1 Konsep Penghawaan ... 57

5.2.6.2 Konsep Pencahayaan ... 57

BAB VI APLIKASI RANCANGAN ... 58

6.1 Aplikasi Rancangan ... 58

6.1.1 Aplikasi Entrence ... 58

6.1.2 Aplikasi Ruang Dalam ... 59

6.2 Aplikasi Ruang Luar ... 61

6.3 Aplikasi Ruang Dalam ... 62

6.3.1 Aplikasi Sirkulasi Dalam ... 62

6.3.2 Aplikasi Struktur Bangunan ... 62

DAFTAR PUSTAKA ... 64

(8)

DAF TAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Data Jumlah Pemahat ... 2

Tabel 1.2 Data Jumlah Pembeli ... 2

Tabel 1.3 Data Jumlah Penjualan Patung di Galeri Kaki Lima Trowulan ... 3

Tabel 2.1 Analisa hasil studi ... 31

Tabel 2.2 Aktifitas Pemakai Bangunan dan Kebutuhan Ruang ... 32

Tabel 2.3 Perhitungan Luasan Ruang ... 33

Tabel 2.4 Program Ruang ... 35

Tabel 3.1 Hasil Penilaian lokasi ... 38

(9)

DAF TAR GAMBAR

Gambar 2.12 Sudut Pandang Penagamat dan Jarak Display ... 15

(10)

Gambar 2.27 Rumah bambu ... 22

Gambar 2.28 Pustaka Selasar ... 22

Gambar 2.29 Denah Selasar Sunaryo ... 23

Gambar 2.30. Blokplan Selasar Sunaryo lantai 1 ... 24

Gambar 2.31 Blokplan Selasar Sunaryo lantai 2 ... 24

Gambar 3.1 Peta pilihan alternative lokasi ... 38

Gambar 3.2 Peta lokasi terpilih ... 38

Gambar 4.2 Analisa Orientasi matahari ... 43

Gambar 4.3 View sekitar ... 44

(11)

Gambar 5.1 Tampilan Arsitektur Kerajaan Majapahit ... 54

Gambar 5.2 Pola Tatanan Massa Kerajaan Majapahit ... 55

Gambar 5.3 Struktur Atap ... 55

Gambar 6.1 Aplikasi Pencapaian dalam Site ... 57

Gambar 6.2 Gapura Penanda Pintu Masuk ... 58

Gambar 6.3 Denah Galeri ... 58

Gambar 6.4 Interior Galeri ... 59

Gambar 6.5 Denah Galeri Lantai 2 ... 59

Gambar 6.6 Layout ... 60

Gambar 6.7 Sikuen Galeri Outdor ... 61

Bagan 6.1 Sirkulasi Pengunjung... 61

Bagan 6.2 Sirkulasi Pengelola ... 62

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seni pahat dapat di sebut juga sebagai seni ukir. Mula-mula dapat kita

lihat dari perkembangan seni ukir yang ada di Indonesia. Bangsa Indonesia mulai

mengenal ukir sejak zaman batu muda (Neolitik), yakni sekitar tahun 1500 SM.

Pada zaman itu nenek moyang bangsa Indonesia telah membuat ukiran pada

kapak batu, tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. Motif dan

pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. Pada zaman yang lebih

dikenal sebagai zaman perunggu, yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM. Bahan

untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yanitu menggunakan

bahan perunggu, emas, perak dan lain sebagainya. Dalam pembuatan ukirannya

adalah menggunakan teknologi cor. Setelah agama Hindu, Budha, Islam masuk ke

Indonesia, seni ukir mengalami perkembangan yang sangat pesat, dalam bentuk

desain produksi, dan motif. Ukiran banyak ditemukan pada badan-badan candi

dan prasasti-prasasti yang di buat orang pada masa itu untuk memperingati para

raja-raja. Motif ukiran, selain menggambarkan bentuk, kadang-kadang berisi

tentang kisah para dewa, mitos kepahlawanan, dll. Bukti-bukti sejarah

peninggalan ukiran pada periode tersebut dapat dilihat pada relief candi Penataran

di Blitar, candi Prambanan, Mendut di Jawa Tengah dan candi-candi yang ada

didaerah Trowulan. Patung yang di produksi bermanfaat untuk mengisi

ruang-ruang/tempat peribadatan, taman dsb. Saat ini patung-patung batu muali banyak

dikembangkan untuk keperluan eksterior maupun interior.

Perkembangan dunia seni pahat di Indonesia ini dapat membantu

perekonomian negara. Di desa Bantul, Yogyakarta, seni pahat sangat berguna

sebagai mata pencaharian dari warga desa itu. Di kabupaten Mojokertojuga

terdapat sentral pembuatan patung seperti di daerah Bantul Yogyakarta. Tepatnya

(13)

mengembangkan seni pahat menjadi sebuah seni yang laku untuk diperdagangkan

bahkan sampai ke luar negeri. Pengembangan seni pahat ini ternyata membuat

seni pahat menjadi semakin digemari dikalangan masyarakat. Walaupun mungkin

telah bergeser fungsi menjadi hanya sekedar hiasan atau cinderamata. Hal ini

dapat dilihat pada tabel jumlah pemahat yang ad di daerah Trowulan 1.1.

Tahun Jumlah Kenaikan / penurunan kenaikan

2008 67 orang

2009 48 orang -19

2010 72 orang 24 5 orang

Dari tabel diatas dapat dilihat kenaikan rata-rata jumlah pemahat per

tahunnya yaitu 5 orang pemahat dalam setiap tahun. Lebih jelasnya dapat di lihat

pada lampiran 1 halaman 52.

Jumlah pembeli yang mengunjungi galeri kaki lima di Trowulan semakin

tahun juga sama meningkatnya dengan peningkatan jumlah pemahat itu sendiri.

Hal ini terjadi karena semakin banyak masyarakat yang sadar akan nilai seni, hal

ini dapat dilihat pada jumlah pembeli tabel 1.2

Tahun Jumlah Kenaikan / penurunan Kenaikan

2008 217 orang

Mayoritas, wisatawan yang berkunjung berasal dari beberapa daerah di

sekitar Trowulan. Masyarakat yang berkunjung di area seni pahat ini ingin tahu Tabel 1.1 Data Jumlah Pemahat

Sumber : data survey, 2011

Tabel 1.2 Data Jumlah Pembeli di Trowulan

(14)

lebih banyak tentang budaya Indonesia, khususnya seni pahat yang berada di

Terjual ditempat Jual keluar/

dikirim

disimpulkan bahwa para pedagang/pemilik galeri kaki lima membutuhkan tempat

penjualan yang representatif untuk karya-karya yang mereka buat.

Kondisi saat ini, para perajin memasarkan dan memamerkan hasil

karyanya di pinggir-pinggir jalan maupun di depan rumah. Di Trowulan, galeri

yang ada hanyalah galeri kaki lima yang kondisinya tidak representatif. Hal ini

dikarenakan, galeri ini mempunyai fungsi ganda pada tiap standnya, yaitu sebagai

galeri tempat pamer dan bengkel pahat. Sebagai wadah yang dapat menjadi

sebuah galeri yang representatif masih belum ada. Padahal galeri yang

representatif sangat dibutuhkan dalam pemasaran karya mereka. Karena itu,

dibutuhkan wadah yang dapat menjadi tempat yang menarik khususnya untuk seni

pahat di daerah Trowulan.

Tabel 1.3. Data Jumlah Penjualan patung di galeri kaki lima Trowulan

(15)

Dengan adanya galeri seni pahat ini, diharapkan masyarakat banyak yang

menyukai seni pahat. Karena proses pembuatan patung tidak semudah yang

difikirkan, memerlukan kemampuan anatomi dan proporsi yang baik. Mereka juga

dapat mempromosikan dan menjual karya karya seni yang mereka buat.

Masyarakat sekitar juga dapat menambah penghasilan mereka dengan adanya

sebuah tempat wisata baru.

1.2 Tujuan dan Sasaran

Galeri Seni Pahat memiliki tujuan, antara lain :

• Menarik minat masyarakat umum terhadap produk seni pahat.

• Membantu mempromosikan produk karya seni yang berupa patung

batu.

• Memasarkan karya seni pahat para pengrajin di daerah Trowulan

Mojokerto kepada masyarakat luas.

Galeri Seni Pahat juga memiliki sasaran, antara lain :

• Sebagai tempat pengenalan kesenian kepada masyarakat khususnya seni

pahat batu.

• Sebagai tempat penjualan dan pemasaran hasil karya seni pahat batu.

• Sebagai tempat wisata baru bagi masyarakat.

1.3 Batasan dan Asumsi

Batasan obyek perancangan Galeri Seni Pahat ini diperuntukkan bagi

masyarakat umum baik itu di Trowulan maupun dari kota lain. Namun, detail

peruntukan bangunan Galeri Seni Pahat ini ialah untuk pemahat dan

pembeli/peminat seni pahat. Sedangkan, batasan jam operasional galeri dimulai

dari pukul 08.00 sampai pukul 21.00 WIB. Untuk hak kepemilikan bangunan

diasumsikan milik swasta/perseorangan, sehingga nantinya diharapkan tidak

(16)

1.4 Tahapan Per ancangan

Sub bab Metode Perancangan disini menjelaskan secara skematik tentang

urutan yang dilakukan penyusun dalam menyusun laporan mulai dari tahap

pemilihan judul sampai dengan laporan selesai untuk kemudian diaplikasikan

pada gambar perancangan.

Sedangkan, metode pembahasan yang digunakan dalam proyek

perencanaan ini adalah

• Studi Literature

Dilakukan guna mendapatkan data-data yang berhubungan dengan Galeri

Seni Pahat di Trowulan.

• Internet

Mencari informasi dan data dari situs intertnet yang berhubungan dengan

seni pahat yang dapat digunakan sebagai referensi maupun bukti tertulis.

• Metode Survey dan Pengamatan Langsung

Dengan metode ini digunakan untuk mencermati data yang terbukti secara

nyata di lapangan. Melakukan studi lapangan pada site yang telah dipilih

guna mengenali karakter site.

• Pengolahan dan Penyusunan Data

Data yang telah diperoleh kemudian disusun, dievaluasi untuk kemudian

hasilnya dijadikan pedoman dalam perencanaan Galeri Seni Pahat di

(17)

Adapun skema tahapan perancangan yang telah dijelaskan diatas, dapat

dilihat di gambar 1.1 skema metode perancangan.

Gambar 1.1 Skema Metode Perancangan

1.5 Sistematika Lapor an

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini merupakan pembuka laporan, yang merupakan uraian tentang latar

belakang perancangan, maksud dan tujuan perancangan, lingkup perancangan,

metode perancangan, dan sistematika laporan.

BAB II : TINJAUAN OBJEK PERANCANGAN

Pada bab ini diuraikan tentang alasan pemilihan judul, secara teruarai

antara lain meliputi :

a. Tinjauan umum

Pada bab ini berisi tentang pendekatan terhadap proyek / judul

pembahasan dengan mengadakan pengenalan terhadap lingkup wilayah

(18)

perencanaan serta pengenalan objek. Studi kasus sebagai referensi dan lebih

memahami judul proyek yang akan direncanakan, memperoleh gambaran objek

dengan jelas melalui studi kasus objek yang sama.

b. Tinjauan khusus

Merencanakan sebenarnya judul tugas akhir dengan batasan yang dibuat

sebelum merancang. Lingkup pelayanan yang akan dilayani serta aktifitas

berupa studi gerak dan perletakkan perabot yang akandi lakukan pada

perancangan. Sehingga akan muncul besaran ruang dan fasilitas yang

dibutuhkan.

BAB III : TINJAUAN LOKASI

Pada bab ini merupakan penjelasan mengenai lokasi proyek yang akan

dipilih. Berdasarkan kriteria pemilihan lokasi terutama potensi site, pencapaian,

dan keadaan lingkungan sekitar site.

BAB IV : ANALISA PERANCANGAN

Pada bab IV diuraikan mengenai konsep perancangan proyek yang akan

dibangun berdasarkan kekayaan kebudayaan setempat dan disesuaikan dengan

tema rancangan yaitu Galeri Seni Pahat di Trowulan. Konsep rancangan lebih

dominan arsitektural jawa.

BAB V : KONSEP PERANCANGAN

Konsep Perancangan, pada tahap ini, pendekatan-pendekatan dalam

perancangan akan mulai direalisasikan. Dengan pendekatan desain, hasil akhir

dari perancangan diharapkan akan sesuai dengan gambaran pada bab awal.

BAB VI : APLIKASI RANCANGAN

Aplikasi Rancangan, akan tervisualisasi dengan bentuk gambar denah,

tampak, potongan, lay out plan, site plan, serta maket sebagai bentukan 3 dimensi

(19)

BAB II

TINJ AUAN OBYEK PERANCANGAN

2.1 Tinjauan Umum Per ancangan

2.1.1 Penger tian J udul

Perancangan “Galeri Seni Pahat di Trowulan Mojokerto” ini dapat

dipahami sebagai berikut

• Galer i adalah Tempat penjualan hasil-hasil karya seni, serta untuk

meluncurkan karya-karya terbaru.(kamus bahasa indonesia lengkap)

• Seni adalah adalah Sesuatu karya yang diciptakan dengan kecakapan yang

luar biasa seperti sajak, lukisan, patung, ukir-ukiran dan

sebagainya.(kamus bahasa indonesia lengkap)

• Seni pahat adalah seni ukir yang dibuat dalam bentuk 4 atau 5 dimensi. Seni pahat memiliki ciri yang agak sedikit berbeda dengan seni ukir.

Memang bahan yang digunakan sama persis dengan yang digunakan oleh

seni ukir. Tetapi di dalam seni pahat, kita harus dapat membuat suatu

bentuk yang sesuai dengan keinginnan kita. Jadi, nanti hasil produk akan

berupa bentuk yang terdapat ukiran-ukiran yang tampak indah jika dilihat.

• Trowulan adalah kebesaran Majapahit yang tersisa, di Trowulan,

Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, banyak bukti yang bisa disaksikan

tentang kebesaran Majapahit. Peradaban tersebut berkembang lebih dari

200 tahun, mulai berdiri tahun 1293 dan diperkirakan runtuh tahun 1521

masehi. Disitus Trowulan juga dapat dijumpai ratusan ribu peninggalan

arkeologis baik berupa artefak, ekofak, serta fitur.

• Mojoker to adalah kabupaten yang ada di Jawa Timur.

Sehingga, pengertian dari “Galeri Seni Pahat di Trowulan Mojokerto”

adalah tempat penjualan hasil-hasil karya seni ukiran yang terdapat didaerah

(20)

2.1.2 Studi liter atur

2.1.2.1 Seni Pahat

Dalam pembuatan patung batu terdapat beberapa tahapan diantaranya

adalah pemecahan bahan baku sesuai ukuran, proses pemahatan, penghalusan,

kemudian patung siap dipajang untuk dijual.

Galeri kaki lima di Trowulan

- Kondisi empiris

Gambar 2.1.Patung-patung yang di hasilkan di Trowulan.

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Gambar 2.2. Proses memahat

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa untuk memahat, pemahat

terkadang tidak mempunyai jarak dengan obyek yang dipahat. Untuk patung batu

yang berukuran kecil, jarak antara pemahat dengan obyek yang dipahat ialah

(21)

Berikut adalah ukuran-ukuran patung yang ada di dearah Trowulan:

- Patung ukuran kecil dengan panjang 15cm, lebar 15cm, dan tinggi 45cm.

Gambar 2.3. Patung Ukuran Kecil

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

- Patung ukuran sedang dengan panjang 40cm, lebar 30cm, dan tinggi

65cm.

Gambar 2.4. Patung Ukuran Sedang

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

- Patung ukuran sedang posisi berdiri dengan panjang 40cm, lebar 40cm,

dan tinggi 200cm.

Gambar 2.5. Patung Ukuran Agak Besar Posisi Berdiri

(22)

- Patung agak besar dengan panjang 60cm, lebar 50cm, dan tinggi 110cm.

Gambar 2.6. Patung Ukuran Agak Besar

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

- Patung besar dengan panjang 150cm, lebar 110cm, dan tinggi 280cm.

Gambar 2.7. Patung Ukuran Besar

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

- Patung besar posisi berdiri dengan panjang 90cm, lebar 80cm, dan tinggi

300cm.

Gambar 2.8. Patung Ukuran Besar Posisi Berdiri

(23)

Gambar 2.9. patung yang sudah di packing Gambar 2.10. peralatan memahat

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Gambar 2.11. Jenis pahatan/ukiran

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Dari gambar diatas dapat dibedakan dari tingkat kerumitan ukiran pada

tiap-tiap patung. Untuk patung laki-laki tidak terdapat ukiran yang mendetail

sedangkan untuk patung perempuan banyak terdapat ukiran yang detail karena

sesuai dengan filosofi atau kebiasaan wanita yang selalu memakai perhiasan

seperti pada gambar diatas. Hal ini dapat membedakan harga jual patung tersebut

(24)

2.1.2.2. Standar t Fasilitas Art Gallery

Suatu galeri memiliki standart persyaratan ruang, dimana hal ini mengatur

serta merupakan syarat utama dalam merancang suatu ruang maupun bangunan.

Standart yang dimaksud dapat berupa luasan ruang, pencahayaan, temperatur,

kualitas ruang, maupun sirkulasi ruang. (Tugas akhir Dimas haryo 2011 )

• Pencahayaan

Karena fleksibilitas gallery secara khas dirancang dengan lebih dari yang

kapasitas pencahayaan yang minimum. Yang terutama pencahayaan terpenting

untuk area ruang pamer. Panjang gelombang lighting adalah – (400-700 nm

(nanometers)), ultra lembayung adalah 300-4(11), sedangkan ultra lembayung

spektrum mempunyai energi lebih yang dapat merusak objek. Karena ultra

lembayung (LV) bukan infraed (IR) [cahaya/ringan] sangat mempengaruhi,

sehingga perlu dihindari penggunaan lighting dengan efek warna lembayung dari

pameran dan koleksi. Dua sember UV cahaya yang ringan dan utama adalah

cahaya matahari dan lampu neon (David, 2005). Adapun persyaratan yang

dibutuhkan akan penerangan antara lain :

- Ekonomi

- Memberikan penerangan yang penuh persyaratan dan sesuai dengan

fungsinya (contoh ruang pamer dan ruang gelap dimana cahaya alami

tidak terlalu dibutuhkan).

- Waktu penggunaan.

Selain itu, perlu adanya pengaturan penempatan dinding temporer. Tata

ruang perlu mengakomodasi dengan aturan :

1. Penjuru sudut diukur dari suatu titik banding dan 5 feet- 4 inchi di atas lantai

(yang merupakan suatu rata-rata mata mengukur untuk orang dewasa) harus

antara 45 dan 75 derajad secara horizontal.

2. Karena dinding permanen, penjuru/sudut yang ideal pada umumnya 65-70

derajat

3. Semakin sensitif material koleksi / karya seni, semakin sedikit pencahayaan

(25)

Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, ada persyaratan umum galeri

yang menurut Neufert Architect Data 1995 berupa

1. Ruang pamer harus aman dari pencuri, bahaya kebakaran, sinar terik

matahari, debu, asap, polusi kendaraan atau industri serta bebas dari

kebisingan dan getaran.

2. Galeri harus menyediakan lahan untuk pengembangan pada tahun-tahun

berikutnya, dengan asumsi akan terjadi penambahan ruang karena

penambahan koleksi.

3. Galeri dapat didukung oleh fasilitas workshop/studio/garasi dalam bangunan

tersendiri atau terpisah dengan ruang pamer.

4. Ruang pamer harus terjaga kelembapannya dan tidak terkena sinar matahari

langsung.

5. Galeri sebaiknya dilengkapi dengan ruang penunjang lain seperti kantor

administrasi, ruang pertemuan, ruang baca, atau perpustakaan. Semua itu

sebisa mungkin berada dalam satu lantai dengan ruang pamer.

• Standart Kenyamanan Pengamat

Kenyamanan pandangan pengamat perlu diperhatikan agar pengunjung

merasa nyaman dan dapat leluaa untuk melakukan pengamatan terhadap hasil

karya seni rupa tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain

1. Kenyamanan pandangan horizontal

4. Ukuran dan jarak pandang

Tinggi dan jarak pandang ke obyek koleksi juga menentukan

(26)

Untuk lebih jelasnya tentang kenyaman jarak pandang pengamatan

manusia dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 2.12 Sudut pandang pengamat dan jarak display manusia

(Sumber: Dimensi Manusia dan Ruang Interior, 2003)

2.1.3 Studi Kasus

2.1.3.1Galer i Kaki Lima Antok, Mojoker to

A. Lokasi

Galeri kaki lima ini berlokasi di Desa Wates Umpak, Jati Sumber,

Kecamatan Trowulan. Berada di jalur Jalan Raya Mojokerto – Jombang. Berada

tepat di pinggir jalan raya utama jalur luar kota membuat lokasi ini merupakan

lokasi yang strategis. Namun, kondisi jalan ini tidak sepadat jalur luar kota

Sidoarjo – Malang (Porong) sehingga tidak memiliki kepadatan lalu lintas yang

berlebihan

B. Fasilitas

- Ruang Pamer

Ruang ini berada di luar atau biasa disebut teras rumah dan di trotoar

jalan. Patung yang dipamerkan mulai dari patung paling kecil (tinggi 30 cm)

sampai paling besar (3 m untuk patung duduk). Patung yang dipamerkan untuk

dijual berasal dari batu padas dan batu kali, yang memiliki perlakuan berbeda.

Untuk patung yang terbuat dari batu padas membutuhkan perlindungan dari

sinar matahari dan hujan. Sedangkan, untuk patung yang terbuat dari batu kali

(27)

Kaki Lima ini bisa dikatakan memiliki ruang pamer ditrotoar dan outdoor.

Adapun ruang pamer Galeri Kaki Lima ini dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.13 Ruang pamer outdoor Gambar 2.14 Ruang pamer di trotoar

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

- Rumah

Rumah di Galeri Kaki Lima ini merupakan rumah pemilik galeri ini,

yaitu rumah Pak Antok. Rumah ini merupakan tempat tinggal tetap pemilik

galeri ini. Adapun gambar rumah dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.15 Rumah pemilik galeri

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

- Gudang

Gudang disini merupakan tempat penyimpanan koleksi produk patung

baik yang siap untuk dipamerkan (dijual) maupun yang masih dalam tahap

finishing. Produk yang disimpan di gudang ini bisa merupakan koleksi baru

maupun koleksi lama. Gudang ini berada tepat disamping kanan rumah pemilik

galeri.

- Ruang Pahat (ruang kerja)

Ruang pahat ini berada di depan rumah pemilik galeri, yang beratapkan

asbes dan tanpa sekat dinding sehingga terbuka. Sebenarnya, ruang pahat ini

(28)

pahat sekaligus ruang pamer kedua selain ruang pamer terbuka (di trotoar).

Adapun ruang yang dimaksud dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.16 Ruang pahat + ruang pamer

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

C. Besar an Ruang

Galeri kaki lima ini sebenarnya sama halnya sperti rumah – rumah pada

umumnya.Namun, pada rumah milik pak Antok ini dimanfaatkan sebagai galeri

kaki lima. Dimana pemajangan koleksi seni pahat ini diletakkan di teras rumah

(yang telah dinaungi atap asbes) dan trotoar sekitar rumah (galeri ini). Dengan

penggolongan ruang yang dapat dilihat di gambar bawah ini

Jl. Raya Jalur Luar kota Surabaya – Jombang

Gambar 2.17 Denah Galeri Kaki Lima Antok

(29)

D. Gubahan Massa dan Tampilan Bangunan

Tampilan dan gubahan massa galeri ini ialah hanya rumah tinggal biasa

dengan tampilan seprti rumah tinggal biasa. (dapat dilihat di gambar 2.4).

2.1.3.2Selasar Sunar y Ar t Space, Bandung

A. Lokasi

Selasar sunaryo art space, terletak di jl. Bukit Pakar Timur no. 100, Dago,

Bandung, Kecamatan Lembang, Jawa barat. Lebih jelasnya lokasi bangunan ini

dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 2.18 Lokasi Selasar Sunaryo

(sumber : googlemap.com)

Pemilik galeri ini adalah Drs. Sunaryo yang mempercayakan seorang

Arsitek yaitu Baskoro tedjo untuk menggarap lahan 5000 meter persegi miliknya,

beliau bersama Baskoro tedjo merancang selasar sunaryo art space pada tahun

1993. Pembangunan membutuhkan waktu selama 4 tahun dari tahun 1993 – 1997.

Ide bentuk dari galeri ini adalah Kuda lumping, yang diresmikan pada september,

1998.

B. Fasilitas

- Taman Batu

Taman batu luas sekitar 190m2, yang merupakan sebuah tempat

terbuka (RTH).Biasanya digunakan untuk tempat memajang karya-karya

Sunaryo yang terbuat dari batu-batuan. Ditata dengan gaya taman Jepang

yang minim pohon rimbun namun estetis, dimana seolah-olah ada 2 dunia

yaitu kering dan sejuk (pasir – batu dan rerumputan). Tatanan dan gambaran

(30)

Gambar 2.19 Taman Batu

(sumber : http://fariable.blogspot.com/2011/07/selasar-sunaryo-art-space.html)

- Ruang Utama

Ruang utama memiliki luas sekitar 177 m2. Biasa digunakan untuk menyimpan dan memajang karya-karya Sunaryo yang dipilih oleh dewan

pertimbangan Kuratorial atas dasar periodisasi dan nilai kesejahteraannya.

Ruang ini juga digunakan untuk pameran dengan skala besar yang

menampilkan seniman-seniman dari indonesia dan mancanegara.

Menggunakan dinding temporer yang secara kondisional bisa dirubah

sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan tatanan pameran. Namun ada sisi

dimana dindingnya merupakan dinding permanen, menggunakan pewarnaan

dinding putih susu dan terasso hitam, serta lantai kayu parguel warna coklat

kayu muda. Penggambaran ruang utama dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.20 Ruang Utama

- Ruang Sayap

Ruang sayap memiliki luas sekitar 48 m2, digunakan untuk

menyelenggarakan pameran yang menampilkan karya-karya seniman muda

indonesia dan mancanegara. Selain itu, ruangan ini juga digunakan untuk

(31)

mancanegara. Adapun penggambaran ruang sayap dapat dilihat di gambar

bawah ini

- Kopi Selaras

Kopi Selaras memiliki luas sekitar 157 m2 dengan teras terbuka yang disediakan bagi para pengunjung untuk menikmati kopi dan makanan sambil

menyimak pemandangan bukit dago yang asri. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.22 Kopi Selaras

- Ruang Tengah

Ruang Tengah memiliki luas sekitar 210m2, digunakan untuk

menyelenggarakan pameran yang menampilkan karya-karya seniman muda

indonesia dan mancanegara. Selain itu, ruangan ini juga digunakan untuk

memajang koleksi permanent karya-karya terpilih seniman indonesia dan

mancanegara.

(32)

- Cinderamata Selaras

Cindera Mata Selaras (luas sekitar 90 m2), toko kecil yag menjual buku-buku, produk kesenian, dan jurnal seni-budaya serta pernak-pernik khas

selaras. Adapun gambar tentang ruang ini dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.24 Cinderamata Selaras

- Amphitheatre

Amphitheatre memiliki luas sekitar 198 m2. Amphitheatre ini merupakan sebuah panggung terbuka berbentuk ¾ lingkaran dengan

kapasitas 300 penonton yang dirancang khusus untuk pementasan seni

pertunjukan, pembacaan puisi, monolog maupun pementasan seni budaya

lainnya. Dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.25. Ampitheater

- Bale handap

Bale Handap (luas sekitar 120m2), adalah salah satu ruang serba

guna yang digunakan untuk ruang diskusi dan lokakarya. Model bangunan

ini terinspirasi dari bangunan tradisional jawa dengan adanya teras

terbuka. Bale Handap terletak terpisah dari bangunan utama yaitu diantara

(33)

- Rumah Bambu

Rumah Bambu memiliki luas sekitar 76 m2.Berupa rumah

sederhana terbuat dari bambu yang digunakan untuk menginap para

seniman yang bekerja untuk program tertentu, serta tamu-tamu khusus.

Untuk tampilan rumah bambu ini, dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.27 Rumah bambu

- Perpustakaan Selasar

Ruang ini baru dibuka untuk umum pada tahun 2008 dan memiliki

banyak data tentang kesenian Indonesia, fotografi, buku, jurnal, film

poster, paper dalam bentuk dokumentasi. Adapun gambar ruangnya dapat

dilihat di bawah ini

Gambar 2.28 Pustaka Selasar

C. Besar an Ruang

Selasar Sunaryo ini merupakan bangunan yang menganut style

kontemporer tropis sebagai ruang galeri – museum, pertemuan/pementasan,

seminar, dan bukan merupakan bangunan tatanan massa melainkan single

(34)

building. Pengolahan ruang interior dan eksterior dibuat menyambung seolah-olah

berupa ruang yang menerus seperti selasar. Sehingga nama bangunan ini disebut

Selasar Sunaryo. Untuk lebih jelasnya, pembagian ruang Selasar Sunaryo dapat

dilihat pada gambar 2.29 di bawah ini

Gambar 2.29 Denah Selasar Sunaryo

D. Pola Tatanan Massa

Letak Selasar Sunaryo ini berada di kawasan perbukitan yang sangat

menentukan dalam penentuan pola perletakan fungsi massa bangunan itu sendiri.

Dimana harus dapat mengisi ruang lahan yang seluas 5000 m2 dengan kemiringan

sekitar 20 – 40 %. Sehingga dalam perencanaannya perlu dilakukan pemisahan

bangunan berdasar fungsi aktivitas pengguna. Pemisahan massa bangunan dibuat

menggunakan split level yang menyesuaikan pola kontur eksisting. Pola tatanan

massa Selasar Sunaryo ini ialah radial, dimana arah masuk dengan keluar berada

di satu titik yang sama. Untuk mengetahui pola tatanan massa Selasar Sunaryo ini

(35)

Gambar 2.30 Blokplan Selasar Sunaryo lantai 1

Gambar 2.31 Blokplan Selasar Sunaryo lantai 2

E. Gubahan Massa dan Tampilan Bangunan

Bentuk dasar bangunan selasar sunaryo art space secara keseluruhan

diambil dari bentuk “Kuda Lunping” yang merupakan salah satu artefak

kebudayaan tradisional indonesia. Kata “Selasar”pun dipilih sebagai konsep

rumah terbuka yang menerus dan menghubungkan satu ruangan dengan ruangan

yang lain, serta satu bangunan dengan bangunan lain. Konsep utama “Selasar”

dalam hal ini adalah menghubungkan seni dengan kehidupan, menghubungkan

karya seni dan pemirsanya sekaligus menghubungkan satu budaya dengan budaya

yang lain.Tampilan bangunan dapat dilihat pada gambar 2.32 di bawah ini

Taman Batu

Galeri Utama

Wing Space Rg. Tengah

Kopi Selasar

Rumah Bambu

Bale Handap Ruang AV

Selasar Cinderamata

(36)

Gambar 2.32. Tampilan

Bentuk tampilan Selasar Sunaryo merupakan perpaduan antara konsep

Back To Nature dan arsitektur Modern. Ini terlihat dari bentukan

dinding-dindingnya yang massif dan terdapat lubang dengan bentukan geometris, pagar

yang dibuat dengan bentukan yang simple, dan cenderung menggunakan

warna-warna monokrom. Beberapa hal tersebut semakin membuat kental kesan

modernnya. Sedangkan konsep Back To Nature lebih diterapkan pada

fungsi-fungsi ruangnya seperti yang terihat pada amphitheatre, bale handap, dan rumah

bambu.

Dari studi lapangan yang telah dilakukan, diperoleh gambaran yang secara

riil ruang-ruang yang berkaitan dengan dunia seni pahat, termasuk diantaranya

ruang pamer sayap, ruang utama dan sebagainya. Dimana melalui studi lapangan

ini kita dapat belajar tentang kebutuhan ruang.

Penataan perabot pada Selasar Sunaryo ini sesuai dengan fungsi dan

kebutuhan para pengunjung. Pada interior bangunan juga dapat disesuaikan

dengan karya-karya setiap aliran yang dianut setiap seniman.

2.1.3.3Galer i Seni Alber ta, Kanada

A. Data obyek studi kasus

• Arsitek : Randall Stout Architects

• Lokasi : Edmonton, AB T5J, Kanada

• Tahun berdiri : 1924

• Bahan : Beton

(37)

• Lantai area : 84.000 kaki persegi

B. Lokasi

Galeri ini berada di Edmonton, Alberta, Canada. Tepat di 102 A Avenue

Street yang merupakan jalan sekunder dan 2 arah. Bangunan galeri ini merupakan

bangunan kompleks yang perletakan lokasi tiap massa bangunan di pojok jalan

pertemuan antara 102 A Avenue dan 99 Street. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

pada gambar 2.33 di bawah ini

Gambar 2.33. Siteplan lokasi bangunan

C. Fasilitas

- Lobby

Pada galeri alberta ini, lobby menggunakan permainan cladding yang

menembus dari luar lalu masuk kedalam ruangan sehingga menimbulkan

keestitakaan tersendiri. Dimana plafon area lobby menembus hingga lantai ke 3

sehingga menimbulkan kesan lapang. Untuk konstruksi, sengaja diperlihatkan dan

diekspos untuk mengesankan kokohnya bangunan ini. Dinding bagian eksterior

mayoritas terbuat dari material kaca yang dimaksudkan untuk mendapatkan

pencahayaan alami. Sedangkan di dinding bagian interior menggunakan beton

(38)

Gambar 2.34. Lobby galeri

- Galeri

Galeri ditempatkan di lantai kedua dan ketiga bangunan. Pada ruang ini

digunakan untuk memajang karya-karya seni yang ada pada galeri alberta. Karya

seni yang dipajang tidak hanya karya lukisan, patung, seni ukir, sclupture art, dan

masih banyak lagi. Ide lekukan stainless yang bergelombang bila dilihat seperti pita

stainless steel yang mengombak melintasi dinding di sekitar lobi dan galeri

bangunan dengan bentuk seng kotak dan menonjol. Material bangunan di bagian

galeri utama menggunakan granit pada lantai, beton pada dinding, dan kayu parquel

– beton pada plafon. Ada sebgaian kolom di galeri yang menggunakan pelapis

stainless. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.35 di bawah ini

Gambar 2.35. Galeri Utama

- Cafe

Cafe ini diolah menjadi ruang luar yang nyaman dan santai, dengan teras terbuka sehingga para pengunjung saat menikmati minuman dan

(39)

dinding (framing view). Penggunaan material yang melibatkan batu tempel

dengan permainan tekstur tiap batu sehingga menimbulkan kesan sejuk dan

tenang, jauh dari kesan hiruk pikuknya kota. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada gambar 2.36 di bawah ini.

Gambar 2.36. Cafe

D. Besar an Ruang

Galeri alberta ini merupakan bangunan yang menganut style arsitektur

modern brutalist sebagai galeri – museum, pertemuan/pementasan, seminar, dan

lain-lain. Bangunan ini merupakan bangunan tatanan massa yang kompleks

dengan fungsi bangunan, fungsi tiap massa bangunan dipisahkan oleh lokasinya

yang saling berhadapan di sisi tepi jalan raya. Pengolahan ruang interior

meminimalisir penggunaan dinding masif dan eksterior dibuat clading

bergelombang yang tidak beraturan namun menembus sampai kedalam bangunan

dengan menggunakan bahan stainless steel. Besaran ruang pada bangunan galeri

ini diolah dengan pola radial yang tidak memiliki kerumitan tinggi pada sirkulasi

ruang. Untuk lebih jelasnya, pembagian ruang dapat dilihat pada gambar 2.37 di

(40)

Gambar 2.37. Denah Lower Level dan Ground Level

Gambar 2.38. Denah Second Level dan Third Level

Gambar 2.39. Denah Fourth Level

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa banyak ruang-ruang yang luas hal

ini dimaksudkan untuk memberikan kesan megah bagi pengguana bangunan.

Dengan adanya ruang-ruang yang luas dapat menyimpan benda-benda koleksi

yang cukup banyak, sehingga memudahkan pengunjung untuk melihat benda

(41)

E. Pola Tatanan Massa

Letak galeri alberta ini berada di kawasan perkotaan yang sangat

menentukan dalam penentuan pola perletakan fungsi massa bangunan itu sendiri.

Dimana harus dapat mengisi ruang lahan yang seluas 84.000 m2. Sehingga dalam

perencanaannya perlu dilakukan pemisahan bangunan berdasar fungsi aktivitas

pengguna. Pemisahan massa bangunan dibuat menggunakan split level di tiap

fungsi ruang maupun fungsi bangunan. Pola tatanan massa ialah radial, dimana

arah masuk dengan keluar berada di satu titik yang sama namun memutar

melewati ruang yang berbeda. Untuk mengetahui pola tatanan massa dapat dilihat

di gambar 2.40 bawah ini

Gambar 2.40. Denah dan potongan

F. Gubahan Massa dan Tampilan Bangunan

Bentuk tampilan dari galeri alberta merupakan perpaduan antara konsep

brutalistme dan arsitektur Modern. Ini terlihat dari bentukan tampak bangunan

yang yang tidak beraturan dengan berbagai macam campuran garis dan

lengkungan. dan cenderung menggunakan warna-warna monokrom. Beberapa hal

tersebut semakin membuat kental kesan modernnya.untuk mengetahui tampilan

(42)

Gambar 2.41. Tampak bangunan

2.1.4 Analisa Hasil Studi

Tabel 2.1. Analisa hasil studi

Analisa hasil

studi J enis r uang Keunt ungan/ker ugian

Kesimpulan yang

dianut

Selasar Sunaryo - Ruang tengah

-Cinderamata selaras

- Ruang dalam

- Bale handap

- Rumah bambu

- Ampitheater

Lapang,cahaya alami dan

sirkulasi alami.

apabila digunakan sebagai

acara pentas.

Dari perbedaan hasil

studi kasus yang telah

sirkulasi radial dan

minim penggunaan

nsekat dengan tujuan

memaksimalkan view

pencahayaan alami karena

tidak menggunakan atap.

Terkesan lapang karena

tidak dibatasi plafon dari

lantai 1-3.

Sumber : Analisa pribadi, 2011

Dari hasil analisa studi diatas, didapatkan persamaan yaitu, kedua obyek

studi sama-sama merupakan bangunan single building namun berbeda fungsi

(43)

koleksi yang berbeda. Untuk Selasar Sunaryo merupakan galeri seni kontemporer,

sedangkan Galeri Kaki Lima merupakan galeri seni pahat home industry.

2.2 Tinjauan Khusus Per ancangan

2.2.1 Penekanan Per ancangan

Pada Galeri Seni Pahat di Trowulan Mojokerto ini penekanan perancangan

secara Tatanan Massa (massa bangunan kompleks). Karena Galeri ini

memerlukan banyak ruang-ruang besar dan terbuka, misalnya seperti

pendopo-pendopo sebagai tempat penjualan patung batu yang berukuran sedang sampai

yang besar.

Merujuk pada studi kasus Selasar Sunaryo Art Space Bandung, maka

Galeri ini membutuhkan banyak ruangan ataupun bangunan-bangunan sebagai

tempat patung-patung besar dipamerkan untuk dijual. Ruang-ruang itu antara lain

pendopo-pendopo yang letaknya terpisah dengan bangunan utama, terhubung oleh

selasar. Ini yang menjadi alasan mengapa Galeri ini dibuat dengan Tatanan Massa

atau massa kompleks.

2.2.2 Lingkup Pelayanan

Lingkup pelayanan yang difokuskan untuk Galeri Seni Pahat ini kepada

masyarakat umum khususnya eksekutif selaku peminat – pembeli karya seni

pahat.

2.2.3 Ak tifitas Dan Kebutuhan Ruang

Aktifitas-aktifitas yang dilakukan pemakai bangunan dapat dijabarkan

seperti dalam tabel 2.2. berikut ini.

Tabel 2.2. Aktifitas Pemakai Bangunan dan Kebutuhan Ruang

No Pemakai Bangunan Aktifitas Kebutuhan Ruang Fasilitas

(44)

- Belajar memahat

2.2.4 Per hitungan Luasan Ruang

Perhitungan luas ruang disusun berdasarkan jumlah dan standar satuan

terkecil dari masing-masing aktifitas. Untuk menentukan luasan ruang dapat

mengacu pada tabel 1.1 halaman 2 pada bab 1 tentang jumlah kenaikan jumlah

pemahat pertahunnya yang mencapai 5 orang. Dengan asumsi 10 tahun bangunan

mampu menampung sampai 120 orang pemahat, Dan secara jelas diuraikan dan

dihitung pada tabel 2.3. dibawah ini.

Tabel 2.3. Perhitungan Luasan Ruang

(45)

Total 1709.5 m2

R.Administrasi+Staff 10 org 12 m²/org 120 m²

R. Humas+Tamu 3 org 12 m²/org 36 m²

(46)

• Rekapitulasi Luasan r uang (ter masuk sirkulasi 30% )

Perhitungan luas ruang disusun berdasarkan jumlah dan standar satuan

terkecil dari masing-masing aktifitas, serta prasarana yang dibutuhkan pada

masing-masing ruang tersebut. Dan secara jelas diuraikan dan dihitung pada tabel

(47)

d. Packaging room

5. Zona Par kir Zona Parkir

a. Parkir mobil

b. Parkir Motor

c. Parkir Bus

d. Pos Jaga

644.8 m2 23.3 %

(48)

BAB III

TINJ AUAN LOKASI P ERANCANGAN

3.1 Latar Belakang Pemilihan Lokasi

Dalam obyek rancangan Galeri Seni Pahat ini ditinjau beberapa lokasi. Hal

ini untuk memilih kondisi lokasi yang optimal untuk mendirikan suatu Galeri

Seni. Dalam penetapan dan pemilihan lokasi harus memperhatikan kriteria

sebagai berikut :

a. Luasan Ruang yang dibutuhkan dalam proyek

b. Fungsi bangunan utama yang menjadi kunci dalam penetapan lokasi

berada dimana site tersebut dalam peruntukan kawasan kota yang

sebenarnya.

c. Pilihan lokasi proyek yang mendekati secara keseluruhan terhadap

persyaratan dan fungsi bangunan.

d. Ketentuan dan pertimbangan bangunan dalam penetapan lokasi proyek

seperti penganalisaan segala aktivitas, kebutuhan ruang terbuka,

kebutuhan ruang pribadi, luas lahan, tingkat ekonomi pengguna, serta

keamanan lokasi.

3.2 Peneta pan Lokasi

Dengan adanya data-data tentang lokasi obyek rancang, dapat menentukan

lokasi perancangan yang tepat untuk Galeri Seni Pahat ini. Setelah dilakukan

penilaian terhadap masing-masing lokasi maka dipilih lokasi wisata Trowulan

pada alternative lokasi A sebagai lokasi yang tepat untuk obyek rancang ini.

Adapun hasil penilaian antara alternative lokasi yang telah disebutkan diatas,

(49)

Tabel 3.1. Hasil Penilaian lokasi

Lokasi Aksesibilitas Lingk. sekitar Aspek pendukung

A

padat kegiatan. Banyak

penjual patung sehingga

sesuai dengan tema

umum misal bus, angkutan

kota, dll. Kendaraan

pribadi maupun aktivitas

candi – patung juga ada di

terletak pada kawasan

wisata, tujuan utama

wisatawan, daerah

peninggalan majapahit

yang banyak terdapat

peninggalan-peninggalan

kerajaan majapahit misal

candi-candi, pendopo dll.

Letaknya berada di jalan

sekunder namun, lokasinya

masih dapat dilihat dari

jauh.

2 Pencapaian yang mudah

baik kendaraan umum

maupun pribadi. Banyak

terdapat peninggalan

Meskipun banyak orang

yang tahu.

1 Dilalui angkutan kota

tetapi bangunan disekitar

kurang mendukung

(Toko-toko yang berhubungan

dengan dunia style)

2

Keterangan : 3 : Sangat baik

2 : Cukup baik

(50)

Lokasi dapat dilihat pada peta dibawah.

Gambar 3.1 Peta pilihan alternative lokasi

Gambar 3.2. Peta lokasi terpilih

Lokasi B

(51)

Lokasi obyek rancang terletak di jalan Majapahit, desa Wates Umpak,

dusun Jati sumber RT.01, RW.02, no 28-32 kecamatan Trowulan Mojokerto KM

10.

3.3 Kondisi Fisik Loka si

3.3.1 Eksisting Site

Lahan ini merupakan lahan kosong yang berada tepat di pinggir jalan raya

utama Majapahit. Dengan status milik perseorangan yang kurang terawat. Kurang

lebih luas lahan ialah 13.000m2 . Adapun kondisi lahan dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 3.3. Kondisi site

3.3.2 Ak sesibilitas

Gambar 3.4. Arus aksesibilitas

Ket :

(52)

Pada lokasi utama ini para pengunjung dapat menuju lokasi dengan

menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi, selain itu juga angkutan

umum seperti bus juga dapat menuju lokasi apabila ada penggunjung yang ingin

berwisata dengan keluarga besarnya.

3.3.3 Potensi Lingkungan

Gambar sebelah timur site Gambar sebelah barat site

Gambar 3.5. View sekitar site I

Gambar sebelah utara site Gambar sebelah selatan site

Gambar 3.6. View sekitar site II

(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Pada lokasi ini banyak terdapat aspek-aspek yang mendukung terhadap

obyek rancang misal candi-candi peninggalan kerajaan Majapahit, Museum

Trowulan, Pendopo Agung dll. Patung yang ada pada Galeri Seni Pahat ini

nantinya ialah patung batu yang bernuansa Majapahit sehingga aspek-aspek

(53)

3.3.4 Infr astuktur Kota

Adapun infrastruktur kota yang ada di sekitar lokasi tidak seminim daerah

pelosok kota Mojokerto. Sudah tersedia infrastruktur yang cukup lengkap, seperti

- Lampu penerangan jalan

Yang terdapat pada sepanjang jalan raya.

- Jaringan telefon

Pada sekitar kawasan site yang berlokasi di dusun Jati sumber, desa wates

umpak Kec. Trowulan telah terdapat beberapa tiang jaringan telepon.

- Jaringan listrik

Pada lokasi sekitar site telah terdapat tiang-tiang listrik.

- Saluran air bersih

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada kawasan proyek, saat ini telah

menggunakan pompa air sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan air

bersih.

- Saluran air kotor

Pada pinggir jalan terdapat saluran air kotor yang berupa selokan.

3.3.5 Per atur an Bangunan Setempat

Peraturan yang berlaku pada lokasi proyek di Jalan raya Surabaya

Jombang yang mempengaruhi perencanaan adalah:

- Koefisien Dasar Bangunan (KDB) : 40 %

- Koefisien Lantai Bangunan (KLB) : 150 %

- Tinggi Bangunan : 2-3 lantai

(54)

BAB IV

ANALISA PERANCANGAN

4.1 Analisa Site

4.1.1 Analisa Aksesibilitas

Menguraikan tentang proses pencapaian yang menentukan letak pintu

masuk akibat analisa pencapaian tersebut. Proses pencapaian juga ditentukan oleh

beberapa faktor seperti tingkat kepadatan lalu lintas, kondisi eksisting awal site,

kondisi alam site, luas lahan, lebar-tidaknya badan jalan di sekeliling site, arah

transportasi, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan penentuan Main Entrance (ME)

dan Side Entrance (SE) tidak sama di setiap letak site yang berbeda.

Apabila disesuaikan dengan site yang berada di jalan jalur luar kota yaitu

jalan Majapahit, maka sebaiknya ME diletakkan pada koridor jalan utama yang

terdapat di jalan utama jalur luar kota ini. Sedangkan SE diletakan pada posisi

yang sejajar dengan letak ME. Hal ini dikarenakan jalan ini adalah jalan utama

untuk menuju lokasi obyek rancang. Penentuan ME dan SE pada tempat yang

sama juga dapat memudahkan proses pengamanan bangunan. Hal ini dapat dilihat

pada gambar di bawah ini

Gambar 4.1 Analisa Aksesibilitas

Sur abaya J ombang

ME /SE

(55)

4.1.2 Analisa Iklim

Gambar 4.2. Analisa Orientasi matahari

Posisi pada lokasi ini menghadap ke timur sehingga untuk tampilan

bangunan harus diolah secara khusus untuk mengatasi kondisi cuaca. Hal ini

dikarenakan posisi paling panas yang mempengaruhi bangunan adalah pada

bagian depan jadi pada tampilan bangunan dapat diberi secondary fasade yang

berfungsi sebagai penghalang terkena langsungnya matahari pada bangunan,

namun untuk mengurangi dampak terkena sinar matahari berlebih sebaiknya disisi

timur ditanami pepohonan sebagai penghalang.

Untuk arah mata angin berhembus dari arah timur ke barat (laut ke darat),

sehingga mayoritas site terpilih ini terkena hembusan angin lokal (selama ada

ruang terbuka hijau).

Sedangkan untuk pembuangan air kotor dapat dialirkan keselokan yang

ada disepanjang jalan raya Majapahit.

4.1.3 Analisa Lingkungan Sekitar

Analisis ini menjelaskan tentang potensi lingkungan sekitar terhadap site

terpilih. Potensi lingkungan sekitar site yang dapat menjadi petimbangan view

bangunan ialah lingkungan sekitar yang masih tergolong minim bangunan

permanen. Dan view yang terbaik terdapat didepan site yg berupa kondisi jalan

Area yang sebaiknya ditanami

pepohonan

(56)

raya yang tidak terlalu padat. Dikarenakan mayoritas view sekitar site kurang

mendukung (negatif), maka diarahkan untuk menciptakan view ke dalam site.

View tersebut dapat berupa taman kecil ataupun ruang bersantai terbuka, selain

nantinya akan ada ruang pamer outdoor di dalam site. Adapun kondisi lingkungan

sekitar site beserta analisanya dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 4.3. View sekitar

4.1.4 Analisa zoning

Zoning lahan sangat berperan penting dalam penentuan fungsi peruntukan

bangunan. Hal ini dikarenakan RTRW kota merupakan pedoman dalam penentuan

fungsi bangunan ke depannya agar bangunan yang dirancang tidak salah sasaran

dan dapat berguna dengan efisien di kehidupan masyarakat.

Dalam menganalisa zoning, dibutuhkan analisa ME dan lingkungan sekitar.

Dimana dibutuhkan penyesuaian lingkungan masyarakat sekitar terhadap

perancangan ini, sehingga dapat menghasilkan lingkungan yang berkembang.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Rumah penduduk t = ± 4m.

Lahan kosong ditumbuhi ilalang cukup tinggi+rimbun

Ket : : Bising Tinggi

: Bising Rendah

(57)

Gambar 4.4. Zoning Bangunan

4.2 Analisa Ruang

4.2.1 Or ganisasi Ruang

Menjelaskan dan menggambarkan secara diagramatis struktur organisasi

ruang atau kelompok ruang secara runtut dan sistematis. Organisasi ruang

menggambarkan pola hubungan antar berbagai fasilitas secara garis besar

(makro).

Apabila dihubungkan dengan proyek bangunan ini, maka organisasi ruang

bangunan yang memiliki fungsi sebagai fasilitas umum dan bertatanan massa.

Untuk alur kegiatan dapat dilihat pada gambar skema dibawah.

Gambar 4.5. Alur organisasi ruang.

(58)

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa ruang-ruang yang ditata dalam

perancangan Galeri Seni Pahat ini tertata dari fasilitas public sampai ke private.

Fungsi bangunan dalam proyek ini ialah bangunan public yang memiliki

peruntukan fungsi ruang yang berbeda.

4.2.2 Hubungan Ruang dan Sir kulasi

Menjelaskan dan menggambarkan secara diagramatis hubungan ruang

pada masing-masing kelompok ruang (mikro) dan mekanisme sirkulasi yang

terjadi akibat hubungan ruang yang telah dibuat secara runtut dan sistematis.

(59)

Gambar 4.6. Diagram Hubungan antar ruang.

Keterangan :

: sering

: sedang

: jarang

Gambar 4.7. Sirkulasi ruang

4.2.3 Diagram Abstr ak

Menjelaskan dan menggambarkan secara diagramatis hubungan

masing-masing “block” massa bangunan dengan menambahkan secara sistematisdan

(60)

runtut sistim sirkulasi yang terjadi. Baik hubungan diagram secara horisontal

(dalam satu lantai) maupun hubungan diagram secara vertikal (antar lantai).

Sesuai dengan fungsi bangunan yaitu fasilitas umum, maka sebagian besar

ruang yang ada pada Galeri Seni Pahat ini adalah ruang public yaitu ME,

workshop, display, cafe dan lain-lain. Untuk ruang semi public ialah lobby,

sedangkan untuk private area yaitu kantor pengelola dan service area ialah parkir,

toilet, musolla, gudang dan lain-lain. Adapun diagram abstrak yg dimaksud ialah

seperti di bawah ini

Gambar 4.8. Diagram abstrak

4.3 Analisa Bentuk dan Tampilan

4.3.1 Analisa Bentuk Massa Bangunan

Untuk bentuk massa bangunan pada Galeri Seni Pahat ini didominasi

dengan bentuk-bentuk geometri bujur sangkar seperti pendopo umumnya. Dimana

bentuk-bentuk tersebut banyak digunakan pada jaman Majapahit. Hal ini

dikarenakan untuk mendukung obyek rancang yang sebagian besar menjual

patung-patung batu yang menyerupai bentuk arca-arca pada jaman Majapahit.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di gambar bawah ini

(61)

4.3.2 Analisa Tampilan

Dalam analisa ini tampilan obyek rancang menggunakan tampilan

arsitektur jawa. Mengapa dipilih arsitektur jawa karena bangunan-bangunan

majapahit jaman dahulu identik dengan arsitektur jawa. Kehidupan orang jawa

mencakup 3 syarat sebagai ungkapan pengertian hidup yaitu mencukupi

kebutuhan sandang (pakaian yang wajar), Pangan ( minum dan makan ) dan

Papan ( tempat tinggal ).

Bentukan rumah yang sederhana adalah ungkapan kesederhanaan hidup

masyarakaat jawa. Hal itu dapat terlihat dari penggambaran bentuk denah yang

cukup sederhana. Biasanya bentuk denah yang diterapkan adalah berbentuk

persegi yaitu bujur sangkar dan persegi panjang. Hal tersebut sesuai dengan

estetika hidup orang jawa yang mempunyai ketegasan prinsip dalam menjalankan

tanggung jawab terhadap hidupnya. Untuk desain tampilan dapat dilihat pada

gambar di bawah ini

Gambar 4.10. Ide tampilan bangunan

Filosofi-filosofi bangunan jawa antara lain tiang-tiang pada tepi bangunan

selalu berjumlah genap, di ruang dalam terdapat empat tiang utama yang disebut

soko guru melambangkan empat hakikat kesempurnaan hidup dan juga ditafsirkan

(62)

BAB V

KONSEP PERANCANGAN

Suatu bangunan yang bisa menampung Karya-karya seni pahat dari para

pemahat yang ada di Trowulan dan sekitarnya,dan pusat jujukan bagi masyarakat

yang ingin membeli karya-karya seni pahat.

5.1 Tema Ra ncangan

Tema yang akan diambil dalam perangcangan ini ialah “Simbol Of

Majapahit” yang memiliki arti suatu bangunan yang dapat memperlihatkan

beberapa simbol - simbol peninggalan kerajaan Majapahit dan simbol – simbol

tersebut diaplikasikan pada beberapa bagian rancangan.

5.1.1. Pendekatan

Kenyataan yang ada saat ini pada daerah Trowulan belum ada galeri yang

representatif, hanya ada galeri yang mempunyai fungsi ganda selain sebagai

rumah tinggal juga sebagai galeri dengan ruang pamer yang berada di depan

rumah dan pinggir - pinggir jalan. Patung-patung yang ada di galeri kaki lima

banyak yang tidak tertata dan ruang pamer yang ada di luar kurang

memperhitungkan kenyamanan pengunjung dalam melihat dan memilih

patung-patung yang ada. Hal ini akan memunculkan masalah bagaimana merancang

sebuah galeri yang dapat menjadi pusat karya seni pahat yang ada di Trowulan

tanpa mengabaikan situs purbakala dan kenyamanan bagi pengunjung.

Site yang berada dijalan Majapahit Trowulan Mojokerto ini terletak pada

komplek perkampungan peghasil patung batu di sekitar site, pemilihan site ini

karena bebasnya lokasi ini dari situs purbakala juga karena site ini dekat dengan

situs – situs peninggalan kerajaan majapahit yang mempunyai nilai historis tinggi.

Dengan adanya fakta-fakta tersebut maka perancangan proyek tugas akhir ini

berkaitan dengan kondisi nyata pada lokasi sehingga memunculkan beberapa

kesimpulan yaitu menghadirkan bangunan galeri dengan style arsitektur Majapahit

(63)

yang diaplikasikan pada beberapa bagian rancangan dan menyediakan ruang

edukasi tentang filosofi patung batu serta peninggalan pada zaman Majapahit.

5.1.2. Penentuan Tema Rancangan

Tema rancangan pada proyek tugas akhir ini adalah “Simbol Of

Majapahit” yang memiliki arti suatu bangunan yang dapat memperlihatkan

beberapa simbol - simbol peninggalan kerajaan Majapahit , simbol – simbol

tersebut diaplikasikan pada beberapa bagian, seperti : simbol bunga teratai yang

memiliki makna kepercayaan pada budha diaplikasikan pada taman, simbol surya

Majapahit yang memiliki makna ukiran sembilan dewa penjaga mata angin

diaplikasikan pada pintu masuk galeri dan taman.

Penetapan tema rancangan ini dimaksudkan oleh Perancang untuk

menghadirkan bentuk simbol - simbol bangunan pada masa kerajaan Majapahit

yang akan dipadukan dengan bentukan - bentukan arsitektur setempat. Galeri seni

pahat yang ada di Trowulan ini akan menjadi bangunan yang harmonis dengan

lingkungan sekitar.

Landasan perancangan yang digunakan dalam merancang Galeri Seni

Pahat di trowulan Mojokerto adalah landasan perancangan simbolisme.

Menurut Egon Schirmbeck dalam buku “Form, Idea and Architecture”, prinsip

- prinsip perancangan simbolisme dalam arsitektur adalah sebagai berikut :

1. Kombinasi dari unit-unit denah yang sama atau serupa dalam pengaturan

yang beda.

2. Pengaturan tata guna yang berbeda dalam batas sebuah bangunan dan

perhubungan langsung dengan jalan.

3. Perlengkapan akan kebutuhan fungsional, struktural dan lainnya untuk

penggunaan khusus oleh elemen ikonografik, metaforik dan

elemen-elemen yang berhubungan.

4. Pembatasan terhadap elemen-elemen rancangan geometris yang jelas dan

lazim menonjolkan mutu sintetik dari arsitektur pada suatu kawasan lahan.

5. Alokasi dan orientasi dari elemen-elemen suatu ruang sesuai dengan

kondisi-kondisi sosial dan fisik yang ditentukan. merancang ruang sesuai dengan

(64)

6. Alokasi yang tegas dari zona-zona gelap dan terang atau elemen-elemen

ruang pada denah dan potongan. Pembedaan dan penentuan dari identitas

suatu ruang melalui penerangan (alami).

7. Penciptaan zona-zona ruang yang ‘mengalir’ dan pengaturan yang bebas (dari

kolom dan dinding) pada elemen yang mengikat ruang.

8. Zona ruang dan daerah lantai adalah bebas dari kebutuhan formalnya sendiri

dan dari ‘muka bangunan utama’ tempelan.

9. Urut-urutan artifak yang khas berbeda untuk menegaskan ruang. Urut-urutan

bentuk ruang atau perbatasan ruang yang khusus berbeda.

Landasan teori yang digunakan dalam merancang Galeri Seni Pahat di

trowulan Mojokerto adalah teori metafora.

Menur ut Anthony C. Antoniades, 1990 dalam ”Poethic of Architecture”

Suatu cara memahami suatu hal, seolah hal tersebut sebagai suatu hal yang

lain sehingga dapat mempelajari pemahaman yang lebih baik dari suatu topik

dalam pembahasan. Dengan kata lain menerangkan suatu subyek dengan subyek

lain, mencoba untuk melihat suatu subyek sebagai suatu yang lain.

Ada tiga kategori dari metafora yaitu

1. Intangible Metaphor (metafor a yang tidak dir aba)

yang termasuk dalam kategori ini misalnya suatu konsep, sebuah ide, kondisi

manusia atau kualitas-kualitas khusus (individual, naturalistis, komunitas, tradisi

dan budaya)

2. Tangible Metaphors (metafora yang dapat dir aba)

Dapat dirasakan dari suatu karakter visual atau material.

3. Combined Metaphors (penggabungan antar a keduanya)

Dimana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai unsur-unsur

awal dan visualisasi sebagai pernyataan untuk mendapatkan kebaikan kualitas

dan dasar.Dimana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai unsur-unsur

awal dan visualisasi sebagai pernyataan untuk mendapatkan kebaikan kualitas dan

dasar.

Konsep yang di pakai pada Galeri seni pahat ini adalah Tangible

(65)

simbol peninggalan kerajaan Majapahit dan mengambil bentuk pola keraton

Majapahit yang akan ditampilkan pola tatanan massa pada galeri. Dengan

menggunakan material-material kayu, batu, dan juga batu bata merah dimana

material ini sering digunakan pada era Majapahit.

5.2 Konsep Rancangan

5.2.1 Konsep Tatanan Massa Bangunan

Konsep tatanan massa bangunan dipengaruhi oleh tiga arsitektur yang

mempengaruhi bangunan-bangunan pada masa Majapahit yaitu Arsitektur Jawa

Kuno, Arsitektur Majapahit Lama, dan Arsitektur Majapahit Akhir. Sehingga

mengisyaratkan wujud bangunan keraton Majapahit.

5.2.2 Konsep Tampilan

Konsep tampilan pada perancangan ini ialah mencirikan Arsitektur

Majapahit yang dapat merespon tentang obyek yang diwadahi yang berupa patung

batu, karena tidak akan ada patung kalau tidak ada candi dan tidak ada candi kalau

tidak ada kerajaan. Dalam hal ini kerajaan yang berpengaruh ialah kerajaan

Majapahit. Gapuro sebagai penanda pada pintu masuk.

Gambar 5.1

(66)

Bentuk atap galeri nantinya akan menganut bentuk atap yang digunakan

pada Kerajaan Majapahit yang menggunakan atap joglo. Gapura sebagai penanda

pintu masuk kearea Galeri.

5.2.3 Konsep Ruang Luar

Penyelesaian ruang luar yang dilakukan antara lain dengan penggunaan

vegetasi (tanaman) baik seperti pohon-pohon besar dan perdu maupun vegetasi

tambahan yang diletakkan disekeliling site, penggunaan unsur air seperti kolam

pada beberapa bagian site, serta permainan ketinggian level.

Pola penataan taman pada depan galeri menggunakan bentukan bunga

teratai yang merupakan simbol dari kerajaan Majapahit. Selain itu menghadirkan

simbol surya Majapahit yang memiliki makna ukiran sembilan dewa penjaga mata

angin juga diaplikasikan pada taman.

Area taman selain berfungsi sebagai unsur pendukung juga difungsikan

sebagai area memamerkan patung-patung berukuran besar yang dijual.

Berikut ialah gambar penataan massa pada kerajaan Majapahit yang

menjadi acuan untuk perancangan Galeri Seni Pahat nantinya. Jadi pada Galeri

nantinya untuk penataan massa akan menganut fungsi pada penataan massa

kerajaan Majapahit antara lain : Lapangan bubat, komplek persembahyangan,

balai berkumpul, komplek kerajaan, dan komplek hamba Raja.

Gambar

Gambar 2.19  Taman Batu
Gambar 2.21 Ruang sayap
Gambar 2.24  Cinderamata Selaras
Gambar 2.28  Pustaka Selasar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Warna yang digunakan pada bangunan galeri seni lukis modern agar. mencerminkan suatu perubahan yang teratur adalah

Fungsi awal galeri seni rupa adalah memamerkan hasil-hasil karya seni rupa agar1. dikenal oleh masyarakat (sebelum itu koleksi-koleksi tersebut hanya sebagai dekorasi

Bagaimana wujud rancangan Galeri Seni Rupa Kontemporer di Yogyakarta yang menggambarkan kedinamisan seni kontemporer melalui pengolahan tampilan bangunan dan penataan ruang luar

• Penciptaan bentuk ruang dalam dan luar dari pengkajian konsep Galeri Seni Lukis Yogyakarta.

Pada Perencanaan Galeri seni lukis, sirkulasi merupakan hubungan antar ruang suatu bangunan atau suatu deretan ruang dalam atau luar secara bersamaan, sehingga

Tujuan perancangan Galeri Seni Lukis yang menekanan pada aksesibilitas di dalam bangunan dan aplikasi nilai arsitektur tradisional Jawa pada tampilan bangunan adalah merancang

Untuk itu direncanakanlah sebuah bangunan pendopo pada bagian depan, denah bujur sangkar, dimana terdapat bangunan utarna sebagai pusat dan bangunan yang

6 Dapat dilihat pada gambar 4 dan 5 Jogja Galeri dan Jogja Nasional Museum memiliki karakter fasad bangunan yang terlihat kurang ekspresif sebagai bangunan galeri seni karena bangunan