ANALISIS RISIKO MUSCULOSKELETAL DISORDERS
MENGGUNAGAKN METODE RULA TERHADAP POSTUR KERJA PADA AKTIVITAS PROYEK
Rian Roni Abdurrohim1*, Farah Fauzia2
1
Fakultas Teknik, Teknik Industri, Universitas Singaperbangsa Karawang
2, Fakultas Teknik, Teknik Kimia, Universitas Singaperbangsa Karawang Jl. H.S Ronggo Waluyo, Puseurjaya, Kab. Karawang 41361
*E-mail: [email protected] [email protected]
ABSTRACT
One of the important assets for the sustainability of a company is human resources or workers.
However, companies often ignore the needs and comfort of workers. Not a few companies that do not apply methods in accordance with standard procedures, as well as work facilities that do not support the process of their workers' activities. Ergonomic aspects must be considered in the work process so that it will not cause complaints on the workers' body parts. Complaints of Musculoskeletal Disorders (MSD) are one of the threats caused by discomfort in body position while working. The risk of developing Musculoskeletal Disorders (MSD) complaints is analyzed in this study by observing the worker's body posture in routine activities carried out in development projects. The analysis was carried out using the RULA method which provides an assessment of each position of the worker's upper body. Based on the results of data processing using the RULA method, a score level for the posture of workers in plastering activities is worth 5. The score indicates a moderate level of risk, therefore further investigation is needed to make changes as soon as possible.
Keywords : Musculoskeletal Disorders, RULA, Workers
PENDAHULUAN
Terciptanya produktivitas kerja yang optimum merupakan tujuan dari setiap perusahaan. Untuk meraih tujuan tersebut, beragam faktor dapat turut mempengaruhi dan salah satunya adalah para pekerja (Ahmad, Hidayat, & Hamdani, 2020). Melalui aplikasi ilmu pengetahuan yang terus berkembang, berbagai macam metode dapat diterapkan dalam upaya peningkatan produktivitas. Langkah yang dapat ditempuh salah satunya adalah dengan memperhatikan tingkat kepuasan pekerja sehingga dapat terus meningkat dan menciptakan sistem yang dapat mengoptimalkan pekerja. Untuk dapat mengoptimalkan pekerja dapat dirancang sedemikian rupa dari segi peralatan, sistem, maupun standar prosedur yang dapat memberikan kenyamanan bagi para pekerja.
Salah satu aset penting bagi keberlangsungan suatu perusahaan adalah sumber daya
manusia atau pekerja. Namun seringkali perusahaan abai terhadap kebutuhan dan
kenyamanan pekerja. Tidak sedikit perusahaan yang tidak menerapkan metode sesuai
dengan standar prosedur, serta fasilitas kerja yang tidak menunjang proses aktivitas
pekerjanya. Aspek ergonomis harus diperhatikan dalam proses kerja sehingga tidak akan
memunculkan beragam keluhan di anggota tubuh pekerja. Kelelahan dini yang disebabkan
dari timbulnya keluhan pada anggota tubuh pekerja dapat menimbulkan penyakit serta
kecelakaan kerja bagi para pekerja. Maka dari itu, setiap perusahaan wajib memperhatikan
kenyamanan pekerja dengan menyesuaikan berbagai hal yang berkaitan langsung dengan
dari ketidaknyamanan posisi tubuh saat sedang bekerja.
Musculoskeletal Disorders (MSD) adalah masalah ergonomi yang menimbulkan keluhan pada bagian otot-otot skeletal seseorang dan dapat menimbulkan rasa sakit yang ringan hingga berat. Masalah ini sering dijumpai pada lingkungan kerja yang membuat pekerjanya mengerjakan suatu aktivitas rutin secara berulang atau terus menerus. Keluhan akibat masalah ini biasanya timbul pada otot, syaraf, dan persendian seseorang (Bintang &
Dewi, 2017). Terdapat dampak langsung dan tidak langsung yang dihasilkan dari masalah ini. Pada dampak langsung, rasa nyeri atau sakit mungkin akan terasa dalam waktu beberapa menit saja. Kemudian untuk dampak tidak langsung saat keluhan terasa berulang kali, dapat menimbulkan trauma dan kerusakan bagi pekerja.
Dalam jurnal yang berjudul Analisis Postur Kerja Dengan Metode Rapid Upper Limb Assessment di UD. Saudara Sidoarjo oleh (Wulandari & Umam, 2020) menjelaskan cara pengaplikasian metode RULA, khususnya pada satu pekerja dalam aktivitas pengangkatan beban. Penelitian menggunakan metode RULA juga telah dilakukan oleh (Widyanti, 2018) dengan jurnal yang berjudul Ergonomic Checkpoint in Agriculture, Postural Analysis, and Prevalence of Work Musculoskeletal Symptoms among Indonesian Farmers: Road to Safety and Health in Agriculture. Penelitian tersebut dilakukan untuk mengobservasi tingkat keluhan Musculoskeletal terhadap petani di Indonesia.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di proyek pembangunan gedung apartemen yang terletak di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Subjek pada penelitian adalah Bapak Sigit seorang pekerja sipil pada proyek tersebut yang berusia 35 tahun. Salah satu aktivitas yang menjadi rutinitas harian Bapak Sigit adalah melakukan finishing dengan plester tembok. Aktivitas yang dilakukan oleh pekerja memiliki dua tipe postur yang berbeda, diantaranya postur tubuh jongkok dan berdiri. Penelitian dimulai dengan merekam urutan atau proses pekerja dalam menjalankan aktivitasnya dengan memanfaatkan teknologi sederhana seperti kamera untuk dapat dibuatkan penilaian terhadap postur kerja yang terbentuk oleh pekerja. Setelah itu akan dilakukan penilaian dengan berupa skor pada grup A dan grup B.
Skor didapatkan dari penilaian terhadap grup A (upper arm, lower arm, dan wrist score).
Setelah itu itu jumlahkan nilai skor A dengan skor penggunaan otot dan skor beban. Kemudian pada Skor B diperoleh dengan menjumlahkan skor posisi leher, posisi batang tubuh, dan posisi kaki. Hasil dari penilaian Skor B dijumlahkan dengan skor penggunaan otot dan skor beban. Setelah didapatkan kedua hasil skor A dan B tersebut, keduanya dilihat pada tabel C untuk mendapatkan nilai score level. Score level memiliki rentang nilai 1 sampai 6 dan memberikan keterangan beberapa level risiko MSD (level of MSD risk). Score level 1-2 mengindikasikan postur pekerja tanpa risiko dan tidak memerlukan perubahan. Score level 3-4 menunjukkan bahwa terdapat sedikit risiko sehingga dapat dilakukan beberapa perubahan jika dirasa perlu. Score level 5-6 menunjukkan bahwa terdapat risiko pada tingkat sedang untuk kemudian dilakukan investigasi lanjut dan segera menerapkan perubahan.
Score level lebih dari 6 menunjukkan bahwa terdapat risiko yang sangat tinggi sehingga harus dilakukan perubahan terhadap postur kerja saat itu juga.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilakukan dengan menganalisis postur tubuh seorang pekerja yang sedang melakukan pekerjaan plester tembok. Tipe pekerjaan ini dilakukan secara berulang dalam pengerjaannya sehingga diyakini memiliki risiko cedera dalam pekerjaan tersebut (Singh, 2010). Gambar 1 menunjukkan pengukuran terhadap postur tubuh pekerja untuk grup A saat sedang mengerjakan plester tembok.
Gambar 1. Pengukuran postur tubuh pekerja untuk grup A
Selanjutnya dilakukan pengukuran sudut terhadap bagian-bagian tubuh pekerja pada posisi tersebut.
Pengukuran pertama dilakukan terhadap grup A berupa posisi lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan. Setelah dilakukan pengukuran kemudian dibuat penilaian berupa skor terhadap masing-masing nilai sudut.
Tabel 1. Penilaian grup A
Kategori Pergerakan Skor
Lengan atas 91.10 ke depan +4
Lengan bawah 56.70 ke atas +1
Pergelangan tangan 14.90 ke bawah +2
Putaran pergelangan tangan Mid-range +1
Tabel 1 menunjukkan postur lengan atas yang membentuk sudut 91.10 sehingga diberikan skor 4 untuk kategori tersebut. Postur lengan bawah membentuk sudut 56.70 dan menghasilkan skor 1.
Selanjutnya untuk postur pergelangan tangan membentuk sudut 14.90 sehingga diberikan skor 2.
Putaran pergelangan tangan berada pada mid-range maka diberikan skor 1. Berdasarkan penilaian dari gambar 1 dengan memberikan skor untuk setiap postur tubuh grup A, kemudian dilanjutkan dengan penentuan skor pada grup A.
Tabel 2. Penentuan skor pada grup A
Lengan atas Lengan bawah
Pergelangan tangan
1 2 3 4
PP PP PP PP
1 2 1 2 1 2 1 2
1
1 1 2 2 2 2 3 3 3
2 2 2 2 2 3 3 3 3
3 2 3 3 3 3 3 4 4
2 1 2 3 3 3 3 4 4 4
3 2 3 4 4 4 4 4 5 5
3 4 4 4 4 4 5 5 5
4
1 4 4 4 4 4 5 5 5
2 4 4 4 4 4 5 5 5
3 4 4 4 5 4 5 6 6
5
1 5 5 5 5 5 6 6 7
2 5 6 6 6 6 6 7 7
3 6 6 6 7 7 7 7 8
6
1 7 7 7 7 7 8 8 9
2 8 8 8 8 8 9 9 9
3 9 9 9 9 9 9 9 9
Berdasarkan tabel 2 penentuan skor pada grup A didapatkan hasil skor 4. Kemudian penilaian untuk postur yang berubah-ubah dalam rentang 4 kali setiap menitnya, maka diberikan skor +1. Untuk beban kerja kurang dari 2kg, diberikan skor 0. Dengan penambahan skor penggunaan otot dan skor beban tersebut, maka total skor sementara pada grup A adalah 5.
Selanjutnya dilakukan pengukuran terhadap grup B berupa posisi leher, posisi batang tubuh, dan posisi kaki. Setelah dilakukan pengukuran kemudian dibuat penilaian berupa skor terhadap masing- masing nilai sudut. Gambar 2 menunjukkan pengukuran terhadap postur tubuh pekerja pada grup B.
Gambar 2. Pengukuran postur tubuh pekerja untuk grup B
Tabel 3. Penilaian grup B
Kategori Pergerakan Skor
Leher 11.50 +2
Batang tubuh 28.60 +3
Kaki Menapak dengan mudah +1
Tabel 3 menunjukkan postur leher yang membentuk sudut 11.50 sehingga diberikan skor 2 untuk kategori tersebut. Postur batang tubuh membentuk sudut 28.60 dan menghasilkan skor 3. Selanjutnya untuk postur kaki menapak dengan mudah pada tanah sehingga diberikan skor 1. Berdasarkan penilaian dari gambar 2 dengan memberikan skor untuk setiap postur tubuh grup B, kemudian dilanjutkan dengan penentuan skor pada grup B.
Tabel 4. Penentuan skor pada grup A
Leher
Batang Tubuh
1 2 3 4 5 6
Kaki Kaki Kaki Kaki Kaki Kaki
1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2
1 1 3 2 3 3 4 5 5 6 6 7 7
2 2 3 2 3 3 4 5 5 6 7 7 7
3 3 3 3 4 4 5 5 6 6 7 7 7
4 5 5 5 6 6 7 7 7 7 7 8 8
5 7 7 7 7 7 8 8 8 8 8 8 8
6 8 8 8 8 8 8 8 9 9 9 9 9
Berdasarkan tabel 4 penentuan skor pada grup B didapatkan hasil skor 3. Kemudian penilaian untuk postur yang berubah-ubah dalam rentang 4 kali setiap menitnya, maka diberikan skor +1. Untuk beban kerja kurang dari 2kg, diberikan skor 0. Dengan penambahan skor penggunaan otot dan skor beban tersebut, maka total skor sementara pada grup A adalah 4.
Setelah didapatkan skor sementara untuk grup A dan grup B, maka dapat ditentukan score level untuk postur tubuh pekerja tersebut. Dimana nilai dari score level menunjukkan potensi risiko terjadinya keluhan MSD (Musculoskeletal Disorders). Tabel 5 menunjukkan score level untuk postur tubuh pekerja yang sedang melakukan pekerjaan plester tembok.
Tabel 5. Penentuan score level
Skor Grup A Skor Grup B
1 2 3 4 5 6 7+
1 1 2 3 3 4 5 5
2 2 2 3 4 4 5 5
3 3 3 3 4 4 5 6
4 3 3 3 4 5 6 6
5 4 4 4 5 6 7 7
6 4 4 5 6 6 7 7
7 5 5 6 6 7 7 7
8+ 5 5 6 7 7 7 7
Tabel 6. Deskripsi score level
Score Level of MSD risk
1-2 Risiko dapat diabaikan, tidak perlu tindakan
3-4 Risiko rendah, perubahan mungkin diperlukan
5-6 Risiko sedang, perlu investigasi lanjut, lakukan perubahan secepatnya
6+ Risiko tinggi, lakukan perubahaan sekarang
Berdasarkan penentuan skor pada tabel 5 didapatkan score level untuk postur tubuh pekerja tersebut adalah 5. Kemudian dilihat pada tabel 6 bahwa dengan score level 5 maka tingkat risiko terjadi keluhan MSD berada pada tingkat risiko sedang. Dimana pada tingkat tersebut perlu diadakan investigasi lebih lanjut terhadap postur tubuh pekerja dan perbaikan untuk mengurangi nilai score level atau risiko MSD dapat segera dilakukan.
KESIMPULAN
Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan menggunakan metode RULA terhadap postur tubuh pekerja dalam kegiatan pengangkutan balok, didapatkan hasil skor akhir bernilai 5 (kategori level risiko sedang). Pada level risiko tersebut, dianjurkan untuk melakukan investigasi secara mendalam terhadap keluhan pekerja dan penilaian terhadap postur tubuh pekerja lainnya saat sedang melaksanakan pekerjaan plester tembok tersebut. Setelah dilakukan investigasi, perlunya diadakan perubahan secepatnya untuk meminimalisir risiko timbulnya keluhan MSD (Musculoskeletal Disorders) pada setiap pekerja.