4. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak pada bidang manufaktur yang sahamnya tersedia di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2013-2015.Berdasarkan hasil dari kriteria pemilihan sampel dengan menggunakan purpose sampling, jumlah sampel yang terpilih sebanyak 40 perusahaan dari 145 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Total sampel penelitian yang digunakan sebanyak 120 sampel laporan keuangan perusahaan, masing-masing 40 sampel untuk tahun 2013 sampai dengan 2015.
Berikut adalah rincian hasil pemilihan sampel menggunakan purpose sampling:
Tabel 4.1 Tabel Hasil Perhitungan Sampel Menggunakan Purpose Sampling
Keterangan Jumlah
Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2015, yang telah diaudit oleh auditor independen.
145
Perusahaan sampel yang tidak dikendalikan oleh perusahaan asing dengan persentase kepemilikan 20% atau lebih.
(39)
Perusahaan sampel yang mengalami kerugian selama periode 2013- 2015
(52)
Perusahaan sampel yang laporan keuangannya tidak lengkap atau tidak diterbitkan di Bursa Efek Indonesia selama periode 2013-2015
(14)
Total perusahaan sampel 40
Periode Penelitian 3 Thn
Jumlah sampel penelitian 120
Sumber : Data diolah penulis
4.2 Deskripsi Data
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, berikut hasil dari rekapitulasi
4.2.1 Variabel Transfer Pricing
Berikut adalah analisis deskriptif untuk memberikan gambaran tentang keputusan melakukan transfer pricing pada 40 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2013-2015 yang di ukur dengan variabel dummy yaitu jika ada penjualan ke pihak berelasi diberi nilai 1 dan jika tidak diberi nilai 0 :
Tabel 4.2 Deskripsi Variabel Transfer Pricing
Transfer Pricing Valid N (listwise)
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
120 0 1 0,82 0,389
120
Sumber: Lampiran 1
Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui bahwa selama periode 2013-2015, variabel transfer pricing memiliki rata-rata sebesar 0,82 dengan standar deviasi 0,389. Dari 40 sampel perusahaan ada 33 perusahaan yang secara berturut-turut dalam periode 2013-2015 melakukan transaksi penjualan kepada pihak berelasi.
Dan 7 perusahaan yang dalam periode tersebut tidak berturut-turut atau tidak ada sama sekali transaksi penjualan ke pihak berelasi. Dari data tersebut diketahui bahwa pada penelitian ini mayoritas masuk ke dalam kriteria perusahaan yang memiliki transaksi penjualan ke pihak berelasi.
4.2.2 Variabel Pajak
Berikut adalah analisis deskriptif untuk memberikan gambaran tentang nilai pajak pada 40 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2013-2015, yang diukur dengan menggunakan Effective Tax Rate (ETR).
Tabel 4.3 Deskripsi Variabel Pajak ETR
Minimum Maximum Mean Std. Deviation
-0,027 5,796 0,358 0,625
Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui bahwa selama periode 2013-2015, variabel ETR memiliki rata-rata sebesar 0,358 dengan standar deviasi 0,625 yang menunjukkan keragaman data ETR sebesar 62,5%. Nilai rata-rata terendah sebesar -0,027 dialami oleh perusahaan ERTX ditahun 2014, sedangkan nilai rata- rata tertinggi sebesar 5,796 dialami oleh perusahaan KICI ditahun 2015. Hal ini dikarenakan ERTX pada tahun 2014 memiliki manfaat tangguhan yang lebih besar dibandingkan beban pajak kini sehingga yang diterima pada tahun 2014 adalah manfaat pajak. KICI pada tahun 2015 membayar pajak dengan effective tax rate tertinggi karena pada tahun 2015 memiliki beban pajak tangguhan yang cukup besar melebihi beban pajak kini dan laba sebelum pajak yang menyebabkan perusahaan tersebut menderita rugi setelah dikenakan beban pajak.
4.2.3 Variabel Tunneling Incentive
Berikut adalah analisis deskriptif untuk memberikan gambaran tentang tunneling incentive pada 40 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2013-2015 yang diukur dengan menggunakan persentase kepemilikan saham asing :
Tabel 4.4 Deskripsi Tunneling Incentive Tunneling
Incentive
Minimum Maximum Mean Std. Deviation
20,8% 98,2% 57,1% 23,2%
Sumber: Lampiran 1
Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui bahwa selama periode 2013-2015, variabel tunnneling incentive yang diukur dengan persentase kepemilikan asing memiliki rata-rata sebesar 57,1% dengan standar deviasi 23,2% yang menunjukkan keragaman data tunnneling incentive. Nilai rata-rata terendah sebesar 20,8% dialami oleh perusahaan INCI selama tahun 2013-2015, sedangkan nilai rata-rata tertinggi sebesar 98,2% dialami oleh perusahaan HMSP ditahun 2014 dan 2015.
4.3 Analisis Regresi Logistik
Analisis regresi logistik dilakukan untuk menguji pengaruh pajak dan tunneling incentive terhadap keputusan transfer pricing pada 40 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2013-2015.
Analisis regresi logistik yang digunakan yaitu Model overall fit, Cox and Snell R Square dan Nagelkerke R Square, Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test, dan Matriks Klasifikasi.
4.3.1 Menilai Keseluruhan Model (Model Overall Fit)
Uji ini digunakan untuk menilai model yang telah dihipotesiskan telah fit atau tidak dengan data. Penilaian model fit secara keseluruhan dilakukan dengan menggunakan nilai -2 LogLikelihood. Model regresi logistik dikatakan fit atau sesuai dengan data jika terdapat pengurangan nilai dari -2 Log Likelihood awal (Block number = 0) menjadi nilai -2 Log Likelihood akhir (Block number = 1).
Berikut adalah nilai -2 Log Likelihood yang dihasilkan dari model regresi logistik:
Tabel 4.5 Nilai -2 Log Likelihood -2 Log Likelihood Nilai
Block 0 114,339
Block 1 105,205
Sumber : Lampiran 2
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa nilai -2 Log Likelihood awal atau sebelum variabel bebas dimasukkan ke dalam model sebesar 114,339, setelah variabel bebas dimasukkan dalam model nilai -2 Log Likelihood menjadi 105,205. Hal ini menunjukkan bahwa nilai -2 Log Likelihood mengalami pengurangan dari model awal menjadi model akhir, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi logistik pada penelitian ini telah fit (sesuai) dengan data.
4.3.2 Koefisien Determinasi (Cox and Snell R Square dan Nagelkerke R Square)
Untuk mengetahui seberapa besar variabilitas variabel-variabel independen mampu memperjelas variabilitas variabel dependen, digunakan nilai Nagelkerke R Square. Nagelkerke R Square merupakan modifikasi dari Cox and Snell R Square yang dapat diintepretasikan seperti nilai R Square pada regresi linier berganda.
Berikut adalah nilai Cox and Snell R Square dan Nagelkerke R Square yang dihasilkan dari model regresi logistik:
Tabel 4.6 Nilai Cox and Snell R Square dan Nagelkerke R Square Cox and Snell
R Square
Nagelkerke R Square
0,073 0,119
Sumber : Lampiran 2
Berdasarkan Tabel 4.6 diketahui nilai Cox and Snell R Square yang diperoleh sebesar 0,073 dengan nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,119. Hal ini menunjukkan variabilitas pada 40 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2013-2015 yang dapat dijelaskan oleh variabilitas pajak dan tunneling incentive adalah sebesar 11,9%, sisanya sebesar 88,1%
dijelaskan faktor lain yang tidak diteliti.
4.3.3 Menguji Kelayakan Model Regresi (Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test)
Pengujian kelayakan model regresi logistik dilakukan dengan Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test. Model regresi logistik dikatakan layak jika Hosmer and Lomeshow’s Goodness of Fit Test menghasilkan nilai signifikansi Chi-Square > 0,05 (α=5%).
Berikut adalah hasil Hosmer and Lomeshow’s Goodness of Fit Test:
Tabel 4.7 Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test Chi-Square Signifikansi
14,503 0,070
Sumber : Lampiran 2
Tabel 4.7 menunjukkan Hosmer and Lomeshow’s Goodness of Fit Test menghasilkan nilai Chi-Square sebesar 14,503 dengan nilai signifikansi sebesar 0,070 > 0,05, sehingga disimpulkan model regresi logistik yang digunakan telah layak untuk dianalisis selanjutnya karena model dapat memprediksi nilai observasinya.
4.3.4 Matriks Klasifikasi
Untuk memeriksa ketepatan klasifikasi dari model regresi logistik digunakan matriks klasifikasi dengan cut value 0,5.
Berikut adalah matriks klasifikasi yang dihasilkan dari model regresi logistik:
Tabel 4.8 Matriks Klasifikasi
Observasi
Prediksi
Persentase Tidak ada
penjualan ke pihak berelasi
Ada penjualan ke pihak
berelasi Tidak ada
penjualan ke pihak berelasi
1 21 4,5
Ada penjualan ke
pihak berelasi 0 98 100
Persentase Keseluruhan 82,5
Berdasarkan Tabel 4.8 diketahui bahwa dari 22 perusahaan yang tidak ada penjualan ke pihak berelasi, sebanyak 1 perusahaan (4,5%) diklasifikasikan secara benar oleh model regresi logistik tidak ada penjualan ke pihak berelasi. Dari 98 perusahaan yang ada penjualan ke pihak berelasi, seluruhnya yaitu 98 perusahaan (100%) diklasifikasikan secara benar oleh model regresi logistik ada penjualan ke pihak berelasi. Secara keseluruhan diketahui ketepatan klasifikasi dari model regresi logistik pada penelitian ini adalah sebesar 82,5%. Bisa dikatakan model regresi logistik pada penelitian ini mempunyai ketepatan yang tergolong baik dalam memprediksi keputusan transfer pricing pada 40 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2013-2015.
4.3.5 Estimasi Parameter dan Interpretasinya
Berikut adalah hasil estimasi yang dihasilkan dari model regresi logistik pada penelitian ini:
Tabel 4.9 Hasil Regresi Logistik
Variabel Koefisien Wald Sig. Exp (B)
Konstanta 0,113 0,033 0,856 1,120
Pajak -0,393 1,338 0,247 0,675
Tunneling Incentive 2,948 6,387 0,011 19,068 Sumber : Lampiran 2
Berdasarkan hasil estimasi pada Tabel 4.9 diperoleh model regresi logistik sebagai berikut:
p 1 Ln p
= 0,113 – 0,393 Pajak + 2,948 Tunneling Incentive
p 1
p
= EXP ( 0,113 - 0,393 Pajak + 2,948 Tunneling Incentive)
Untuk menguji signifikansi koefisien regresi logistik masing-masing
terikat. Berikut adalah hasil pengujian signifikansi masing-masing koefisien regresi logistik:
1. Variabel Pajak
Nilai koefisien regresi logistik variabel pajak adalah -0,393 dengan nilai exponensial sebesar 0,675. Hal ini dapat diartikan jika nilai pajak yang dibayarkan mengalami peningkatan, maka peluang perusahaan melakukan keputusan transfer pricing akan semakin kecil yaitu 0,675 kali peluang melakukan keputusan transfer pricing. Pengaruh dari nilai pajak terhadap keputusan transfer pricing adalah tidak signifikan dengan nilai signifikansi waldtest sebesar 0,247 > 0,05. Dengan demikian H0 yang menduga bahwa pajak tidak berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing tidak dapat ditolak.
2. Variabel Tunneling Incentive
Nilai koefisien regresi logistik variabel tunneling incentive adalah 2,948 dengan nilai exponensial sebesar 19,068. Hal ini dapat diartikan jika tunneling incentive mengalami peningkatan, maka peluang perusahaan melakukan keputusan transfer pricing akan semakin besar yaitu 19,068 kali peluang melakukan keputusan transfer pricing. Pengaruh dari tunneling incentive terhadap keputusan transfer pricing adalah signifikan dengan nilai signifikansi waldtest sebesar 0,011 < 0,05. Dengan demikian H0 yang menduga bahwa tunneling incentive tidak berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing ditolak.
4.4 Pembahasan
4.4.1 Pengaruh Pajak terhadap Keputusan Transfer Pricing
Pajak tidak berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Yuniasih et al.,(2012), yang menyatakan bahwa pajak berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing perusahaan. Namun, hasil ini sejalan dengan penelitian yang
menjadikan beban pajak sebagai alasan untuk melakukan transfer pricing. Begitu juga dengan Mispiyanti (2015), yang menyatakan bahwa dalam penelitiannya terbukti bahwa beban pajak tidak menjadi faktor untuk sebagian besar perusahaan mengambil keputusan melakukan transfer pricing
Peneliti menduga bahwa besar kecilnya beban pajak yang dibayarkan oleh sebagian besar perusahaan tidak menjadi faktor pendorong utama perusahaan tersebut melakukan transfer pricing. Hal ini dikarenakan peraturan perpajakan di Indonesia dianggap sudah cukup komprehensif mengatur tentang praktik-praktik transfer pricing yang bertujuan untuk mengurangi beban pajak. Seperti UU Nomor 36 Tahun 2008 pasal 18 ayat (3) yang menyebutkan bahwa Direktorat Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya Penghasilan Kena Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa (arm’s length principle) dengan menggunakan metode perbandingan harga antara pihak yang independen, metode harga penjualan kembali, metode biaya-plus, dan metode lainnya.
Aturan lebih lanjut dan detail tentang transfer pricing juga termuat dalam Peraturan Dirjen Pajak Nomor 43 Tahun 2010 yang diubah dengan Peraturan Dirjen Pajak Nomor 32 Tahun 2011. Di dalam aturan ini disebutkan pengertian arm’s length principle yaitu harga atau laba atas transaksi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa ditentukan oleh kekuatan pasar, sehingga transaksi tersebut mencerminkan harga pasar yang wajar.
Sehingga perusahaan tidak serta merta memanfaatkan transfer pricing untuk meminimalkan pajak. Peneliti juga menduga sebagian besar perusahaan telah menggunakan prinsip arm’s length atau nilai wajar dalam transaksinya, sehingga nilai pajak yang dibayarkan telah sesuai dengan nilai wajar transaksi.
4.4.2 Pengaruh Tunneling Incentive terhadap Keputusan Transfer Pricing Tunneling incentive berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing.
Hasil ini menunjukkan bahwa tunneling incentive berpengaruh terhadap keputusan manajemen perusahaan dalam melakukan praktik transfer pricing.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yuniasih et al., (2012), yang
dimana transaksi pihak berelasi lebih umum digunakan untuk transfer kekayaan daripada pembayaran dividen. Sama halnya dengan Mutamimah (2008), yang juga menyimpulkan bahwa tunneling incentive berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing, dimana tunneling dianggap merupakan perilaku manajemen atau pemegang saham mayoritas yang mentransfer aset dan profit perusahaan untuk kepentingan mereka sendiri, namun biaya dibebankan kepada pemegang saham minoritas.
Peneliti menduga hal ini dikarenakan lemahnya perlindungan hak-hak untuk pemegang saham minoritas yang disebabkan oleh struktur kepemilikan yang ada di negara-negara Asia termasuk Indonesia yang yang cenderung terkonsentrasi. Dari statistik deskriptif dalam penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata persentase kepemilikan perusahaan asing adalah 0,571 atau 57,1%.
Dilihat dari angka tersebut maka struktur kepemilikan perusahaan cenderung terkonsentrasi sehingga hak kontrol ada pada sebagian kecil pemegang saham yang menyebabkan pemegang saham mayoritas tersebut memiliki kesempatan untuk melakukan tunneling dan mentransfer kekayaan melalui transfer pricing tanpa mempedulikan hak-hak pemegang saham minoritas. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lo et al., (2010), yang menemukan bahwa konsentrasi kepemilikan oleh pemerintah di Cina berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing.