• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALEKSIA DAN AGRAFIA. dr. Ketut Widyastuti, Sp.S Dr. dr. A.A.A Putri Laksmidewi, Sp.S(K)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ALEKSIA DAN AGRAFIA. dr. Ketut Widyastuti, Sp.S Dr. dr. A.A.A Putri Laksmidewi, Sp.S(K)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ALEKSIA DAN AGRAFIA

dr. Ketut Widyastuti, Sp.S

Dr. dr. A.A.A Putri Laksmidewi, Sp.S(K)

Aleksia dan agrafia masing-masing merujuk pada gangguan membaca dan menulis.

Istilah ini dibatasi untuk menunjukkan bahwa gangguan tersebut diperoleh akibat dari kerusakan otak dan bukan manifestasi akibat kebutaan, kelumpuhan atau defisit neurologi lainnya. Perkembangan konsep aleksia dan agrafia berperan dalam memahami kompleksnya proses membaca dan menulis serta terjadinya gangguan fungsi akibat kerusakan pada daerah otak tertentu (Henderson, 2010).

Neuroanatomi dan patofisiologi

Membaca dan menulis merupakan bagian dari modalitas berbahasa. Area berbahasa di otak terletak disepanjang fisura Sylvian (sulkus lateralis) pada hemisfer kategorikal (gambar 1). Informasi visual diterima oleh retina diteruskan ke nukleus genikulatum lateral talamus menuju area korteks visual primer (area 17) dan area visual lebih tinggi (area 18) selanjutnya menuju girus angularis. Girus angularis terletak dibelakang area Wernicke berperan memproses informasi dari kata yang dibaca kemudian mengubahnya menjadi bentuk auditorik kata pada area Wernicke. Area Wernicke terletak pada regio posterior dari girus temporal superior berperan untuk pemahaman informasi auditorik dan visual. Informasi dari area Wernicke selanjutnya diproyeksikan melalui fasikulus arkuatus menuju area Broca pada lobus frontal inferior. Area Broca memproses informasi yang diterima dari area Wernicke untuk membentuk pola vokalisasi yang detail dan terkoordinasi, kemudian memproyeksikan pola tersebut melalui area artikulasi bicara pada insula selanjutnya menuju korteks motorik untuk memulai pergerakan yang tepat dari bibir, lidah dan laring sehingga menghasilkan suara (Barret, 2012).

Gambar 1

Jalur impuls untuk identifikasi objek visual (Barret, 2012)

Lesi pada korteks visual primer menyebabkan hilangnya persepsi visual. Lesi pada korteks asosiasi visual menyebabkan gangguan dalam mengenali dan menginterpretasikan stimulus visual walaupun persepsi visual masih utuh. Hubungan antara korteks visual dan girus angularis hemisfer dominan penting untuk pengenalan visual pada simbol bahasa dalam bentuk huruf dan kata. Lesi pada girus angularis atau supramaginalis dan koneksinya terhadap korteks visual dapat menyebabkan terjadinya aleksia (Campbell W, 2013).

(2)

Proses membaca dengan pemahaman membutuhkan pemahaman terhadap kata, kalimat, paragraf dan pengenalan simbol-simbol tertulis. Proses membaca berawal dari bahasa lisan dimana fonem dialihkan menjadi grafem yaitu kata-kata dibaca sambil mengeja satuan-satuan yang bermakna. Proses orthografi (ejaan) dan semantik (makna kata) sangat berperan untuk membentuk kalimat yang utuh dan bermakna. (Prins RD, 2002).

Exner’s center merupakan daerah yang bertanggung jawab untuk menulis terletak di girus frontal tengah hemisfer dominan, dekat dengan area lapang pandang dan didepan kortek motor primer dari tangan (gambar 2). Terdapat jalur substansia alba yang menghubungkan area Wernicke dengan area Exner’s center (Campbell W, 2013).

Gambar 2

Pusat berbahasa di area perisylvian pada hemisfer dominan (Campbell W, 2013) Keterangan :

A (girus angularis); B (area Broca’s); EC (Exner centre), SP (lobus parietal superior), W (area Wernicke’s), PCG (girus postcentralis), T (pars triangularis)

Menulis melibatkan kerjasama kompleks beberapa sistem yaitu sistem motorik, sistem linguistik dan sistem visual-kinetis. Gangguan dari proses manapun bisa menyebabkan gangguan menulis. Lobus parietal melalui koneksi dari area Wernicke mengkonstruksi bentuk kata tertulis dan mengubah bentuknya menjadi grafem selanjutnya menuju area konveksitas lobus frontal kiri yaitu area Broca dan Exner yang mengubah grafem menjadi ekspresi motorik (Sinanovic, 2011).

Kemampuan menulis berawal dari bahasa yang diucapkan. Saat menulis maka fonem dialihkan menjadi grafem. Motorik tangan dan koordinasi mata-tangan memegang peranan penting. Selain jalur fonologis berkembang pula jalur semantik, sehingga dengan melakukan sedikit perhatian dapat mengalihkan bunyi menjadi huruf untuk menulis kata atau kalimat.

(Prins RD, 2002).

Aleksia

Aleksia merujuk pada ketidakmampuan membaca yang bersifat didapat akibat adanya kerusakan otak. Aleksia dibedakan dengan disleksia yaitu perkembangan abnormal sehingga individu tidak mampu belajar membaca dan dibedakan juga dengan buta huruf yang mencerminkan individu dengan latar belakang tingkat pendidikan rendah. Sebagian besar penderita afasia juga mengalami aleksia tetapi aleksia dapat terjadi tanpa adanya afasia dan kadang merupakan satu-satunya kelainan yang muncul akibat lesi susunan saraf pusat (Cumming, 2003).

(3)

Konsep aleksia dikemukakan berdasarkan 2 laporan kasus oleh Dejerine pada tahun 1891 dan 1892 yaitu aleksia sentral (aleksia dengan agrafia) dan aleksia posterior (aleksia tanpa agrafia). Benson (1977) menambahkan tipe aleksia ketiga akibat lesi anterior pada hemisfer kiri yang disebut dengan aleksia frontal. Cumming (2003) membuat klasifikasi aleksia yang dimuat pada tabel 1. Selanjutnya berkembang klasifikasi aleksia berdasarkan neuroanatomi dibagi menjadi 4 tipe yaitu aleksia dengan agrafia, aleksia tanpa agrafia, aleksia frontal dan aleksia spasial (Ardila, 2014).

Tabel 1. Klasifikasi aleksia (Cumming, 2003) Alexia without agraphia

Alexia with agraphia Without aphasia With fluent aphasia

With nonfluent aphasia (frontal alexia) Deep dyslexia (deep alexia, paralexia) Hemialexia (neglect syndrome)

1. Aleksia tanpa agrafia

Nama lain sindrom aleksia tanpa agrafia yaitu pure alexia, pure word blindness, agnostic alexia, occipital alexia, posterior alexia, verbal alexia, dan baru-baru ini diperkenalkan istilah letter-by-letter reading (Ardila, 2014). Aleksia tanpa agrafia mudah dikenali karena terdapat gangguan membaca yang bertolak belakang dengan kemampuan menulis yang baik. Kemampuan membaca huruf (literal reading) lebih baik daripada membaca kata (verbal reading) (Sinanovic, 2011). Penderita mampu mengeja dan mengenali kata-kata yang diucapkan dengan suara keras namun mengalami kesulitan menyalin kata-kata tersebut dibandingkan dengan menulis secara spontan dan sering disertai kesulitan penamaan warna. Pada beberapa kasus disertai dengan hemianopsia kanan, gangguan hemisensorik kanan dan gangguan penamaan ringan (Perdossi, 2008).

Aleksia tanpa agrafia merupakan sindrom diskoneksi klasik akibat lesi atau infark pada kortek occipital kiri dan aspek posterior dari korpus kalosum. Lesi pada kortek occipital kiri menyebabkan hemianopsia kanan. Lesi korpus kalosum menyebabkan tidak ada penyampaian informasi visual dari lapang pandang kiri namun informasi visual dapat diterima oleh regio occipital kanan yang masih utuh kemudian menyilangi korpus kalosum menuju hemisfer posterior kiri untuk terjadinya proses dekoding grafik (Cumming, 2003).

Gambar 3.

Gambaran lesi pada aleksia murni/aleksia tanpa agrafia (Ardila, 2014)

(4)

2. Aleksia dengan agrafia

Nama lain sindrom ini adalah central alexia, parietal-temporal alexia, literal alexia, dan letter-blindness. Gambaran aleksia ini adalah adanya gangguan membaca dan menulis.

Terjadi gangguan membaca huruf maupun kata dan tidak dapat mengeja maupun mengenali kata-kata yang dieja. Aleksia literal (tidak dapat membaca huruf) mengakibatkan terjadinya aleksia total. Gangguan menulis terjadi sama beratnya dengan gangguan membaca. Membaca simbol-simbol lain seperti notasi musik dan angka juga terganggu (Ardila, 2014).

Aleksia dengan agrafia bisa terjadi tanpa disertai dengan afasia, disertai afasia fluent atau afasia non fluent. Aleksia dengan agrafia tanpa afasia terjadi pada lesi di regio girus angular dan sering terjadi bersamaan dengan komponen dari sindrom Gertsmann yaitu agnosia jari, disorientasi kanan kiri, akalkulia dan agrafia. Terdapat gangguan membaca huruf dan kata, tidak dapat mengeja kata atau mengenali kata-kata meskipun dieja dengan suara keras. Kemampuan menyalin kata lebih baik dibanding kemampuan menulis secara spontan atau yang didikte. Sindrom ini umumnya diakibatkan oleh oklusi pada cabang angular arteri serebri media atau bagian dari sindrom watershed akibat oklusi arteri karotis, adanya trauma atau neoplasma (Cumming, 2003).

Gambar 4

Gambaran lesi pada aleksia dengan agrafia (Ardila, 2014)

Aleksia dengan agrafia disertai afasia fluent terjadi pada afasia Wernicke atau afasia transkortikal sensorik dimana pasien mampu membaca dengan suara keras meskipun terjadi gangguan pemahaman. Aleksia dengan agrafia disertai afasia non fluent didapatkan pada pasien afasia Broca. Tidak semua pasien afasia Broca mengalami aleksia, namun bila terdapat aleksia pada pasien afasia Broca maka gangguan membaca didapatkan dengan karakteristik berbeda. Kemampuan membaca dengan pemahaman lebih baik dibandingkan dengan kemampuan membaca bersuara. Menulis spontan dan meniru material verbal juga terganggu (Cumming, 2003).

3. Aleksia frontal

Pasien dengan aleksia frontal memiliki pemahaman membaca namun terbatas pada beberapa kata tunggal. Membaca kata lebih baik daripada membaca huruf dan hampir semua kata-kata yang dikenali adalah kata benda dan kata kerja dasar. Aleksia frontal biasanya dihubungkan dengan afasia non fluent dimana pengertian sintaktik dan produksi kata spontan dengan gramatikal kecil terganggu namun pemahaman dan produksi kata yang substansif tetap baik. Lesi pada daerah posterior lobus frontal kiri dapat mengakibatkan aleksia frontal (Ardila, 2014).

(5)

Gambar 5

Gambaran lesi pada aleksia frontal (Ardila, 2014) 4. Disleksia dalam

Nama lain sindrom ini adalah deep alexia atau paralexia. Terjadi pada penderita afasia dengan gangguan membaca yang berat terdapat paraleksia semantik sebagai respon dari stimulus tulisan. Penderita membaca automobile sebagai car atau infant sebagai baby (Cumming, 2003). Terjadi gangguan pada jalur leksikal dan fonologi sehingga hanya tersisa kemampuan membaca yang terbatas. Membaca kata benda konkret lebih baik daripada kata benda abstrak. Gangguan membaca pada aleksia dalam bergantung secara ekstensif pada proses ortografi dan semantik dari hemisfer kanan. Lesi anatomi yang menyebabkan aleksia dalam umumnya lesi luas pada belahan hemisfer kiri termasuk area Broca (Ardila, 2014).

5. Hemialeksia

Nama lainnya neglect alexia. Aleksia terjadi akibat lesi hemisfer kanan yang menimbulkan neglect unilateral dan hemispasial inatensi yang berat. Bagian kiri dari kata- kata diabaikan, sehingga northwest dibaca sebagai west atau baseball sebagai ball atau bagian sebelah kiri dibaca salah sehingga navigator dibaca sebagai indicator, match sebagai hatch atau alligator sebagai narrator (Cumming, 2003).

Agrafia

Agrafia merupakan gangguan kemampuan menulis bersifat didapat akibat kerusakan otak. Kemampuan menulis tergantung dari bahasa sehingga pada semua sindrom afasia akan timbul agrafia. Agrafia bisa terjadi sendiri atau dihubungkan dengan afasia, aleksia, agnosia, dan apraksia. Seperti halnya aleksia, agrafia harus dibedakan dengan buta huruf akibat dari kemampuan menulis yang tidak pernah berkembang (Cumming, 2003).

Klasifikasi agrafia dibagi menjadi dua yaitu agrafia afasik (gangguan menulis terjadi akibat gangguan linguistik) dan agrafia non afasik (gangguan non linguistik yaitu sistem motorik dan spasial) (tabel 2).

Tabel 2. Klasifikasi agrafia (Cumming, 2003)

Aphasic Agraphia Nonaphasic Agraphia

Agraphia with fluent aphasia Motor agraphia Agraphia with nonfluent aphasia Paretic agraphia Alexia with agraphia Hypokinetic agraphia

Gertsmann’s syndrome agraphia Micrographia with parkinsonism

Pure agraphia Hyperkinetic agraphia

(6)

Agraphia in confusional state Tremor

Deep agraphia Chorea, atetosis, tics

Disconnection agraphia Dystonia (writer’s cramp)

Apraxic agraphia Reiterative agraphia

Visuospasial agraphia Hysterical agrapia

1. Agrafia Afasik

Semua sindrom afasia disertai gangguan menulis sintaksis dan semantis yang sama dengan gangguannya dalam hal berbicara. Agrafia dengan afasia non fluent memiliki output singkat, clumsy calligraphy, agramatisme dan gangguan ejaan. Agrafia dengan afasia fluent memiliki bentuk huruf yang baik dengan panjang kalimat normal namun terdapat hilangnya kata-kata substantif dan penyisipan paragrafia literal, verbal dan neologisme serupa dengan parafasia oral.

Aleksia dengan agrafia sudah dibahas diatas pada topik aleksia. Gangguan menulis pada aleksia dengan agrafia biasanya berat dan memiliki karakteristik agrafia yang disertai dengan afasia fluent. Agrafia pada sindrom Gertsmann merupakan bentuk agrafia fluent tapi pada bentuknya yang murni jarang disertai dengan gangguan membaca.

Agrafia murni masih merupakan perdebatan mengenai asal lokasi lesinya pada lobus frontal kiri. Tidak ada kasus yang menyatakan lokasi patologis yang terlibat pada regio ini, namun terdapat kasus agrafia murni dengan lesi pada lobus parietal kiri.

Gangguan menulis merupakan penilaian sensitif pada kondisi confusional state yang berkaitan dengan ensefalopati toksik dan metabolik. Agrafia murni merupakan manifestasi neuropsikologi paling menonjol pada beberapa kasus ensefalopati. Karakteristik gangguan menulis yang terjadi pada kondisi konfusi akut meliputi gangguan koordinasi dan tremor ringan, misalignment spasial, agramatisme, omission dan substitusi huruf (khususnya konsonan), reduplikasi huruf dan kata. Kesalahan-kesalahan terkonsentrasi pada akhir kata.

Agrafia dalam serupa dengan disleksia dalam. Kata-kata konkret akan ditulis lebih baik daripada kata-kata abstrak dan terdapat paragrafia semantik. Sindrom ini biasanya terjadi pada penderita dengan aleksia berat dan lesi pada lobus parietal kiri.

Agrafia diskoneksi terjadi pada penderita apraksia ideomotor kalosal yang mengakibatkan diskoneksi tulisan tangan. Agrafia terjadi pada tangan kiri dari penderita kinan dengan lesi kalosal. Lesi tersebut mencegah transfer informasi linguistik dari hemisfer kiri ke hemisfer kanan untuk mengontrol tangan kiri. Meniru biasanya lebih baik daripada menulis spontan atau menulis dengan didikte.

Agrafia apraktik merupakan salah satu manifestasi dari apraksia ideomotor yang mengenai ekstremitas. Pasien mengalami kesulitan membentuk huruf saat menulis secara spontan dan saat menyalin. Lesi terletak pada lobus parietal superior kiri (Cumming, 2003).

2. Agrafia Nonafasik

Kemampuan menulis tergantung pada kemampuan kompleks dari sistem motorik dan visuospasial untuk meningkatkan kemampuan berbahasa. Gangguan pada aspek sistem motorik mulai dari saraf perifer, kortikospinal, ekstrapiramidal dan serebelar dapat menyebabkan agrafia dengan gambaran yang berbeda-beda. Lesi pada otot, saraf perifer atau

(7)

jaras kortikospinal menghasilkan agrafia sekunder akibat paralisis ekstremitas yang bersifat lamban dan tidak terkoordinasi. Mikrografia merupakan manifestasi paling sering dari parkinsonisme dan penyakit Parkinson ditandai dengan berkurangnya ukuran huruf disertai tulisan makin rapat. Tes mikrografia dengan meminta pasien untuk tanda tangan dan membandingkan dengan tanda tangan sebelumnya. Cara lainnya dengan meminta pasien untuk mengurut alphabet atau angka secara berurutan atau meminta pasien untuk menggambar rangkaian bentuk oval yang berhubungan. Selain akibat manifestasi parkinson, tumor dan lesi fokal di basal ganglia juga dapat menyebabkan mikrografia.

Tremor aksi tipe serebelar maupun postural dapat menghasilkan gangguan menulis dan hasil tulisan yang sulit dipahami. Tremor postural memiliki frekuensi tinggi (8-12 Hz) dengan amplitudo rendah, dipicu oleh gerakan dan menghilang saat istirahat. Pada beberapa kasus, menulis merupakan satu-satunya cara untuk memunculkan tremor postural. Tremor serebelar memiliki amplitudo tinggi, intention dan memberat saat melakukan gerakan menulis. Seringkali pasien hanya mampu membuat goresan pada kertas.

Korea, atetosis dan tics merupakan gangguan gerak hiperkinetik yang mempengaruhi kemampuan menulis dengan mengganggu aktivitas motorik. Pada kasus yang berat menulis tidak mampu dilakukan sedangkan pada kasus yang ringan output tampak jelas terganggu.

Writer’s cramp merupakan bentuk agrafia yang sangat dikenal namun sering tidak dipahami. Gejala kram progresif pada tangan dan lengan dialami individu dengan profesi yang membutuhkan gerakan jari halus seperti penulis, telegrafer, pianis dan violinis, dahulu ditangani sebagai gangguan neurosis dan gangguan belajar. Namun dalam perkembangannya, writer’s cramp merupakan suatu distonia segmental yang mengenai lengan.

Agrafia reiterative adalah adanya repetisi abnormal terhadap huruf, kata atau kalimat saat menulis. Jenisnya antara lain perseverasi, paligrafia, echografia, dan koprografia.

Perseverasi merupakan aktivitas yang berlanjut meskipun stimulus sudah dihentikan.

Paligrafia adalah penulisan kembali kalimat oleh pasien dan echografia adalah penulisan kembali kalimat oleh pemeriksa. Gangguan ini terjadi pada pasien yang mengalami kondisi deteriorasi berat seperti penyakit degeneratif, vascular, trauma dan gangguan katatonik.

Koprografia terjadi pada sindrom Gilles de la Tourette dimana pasien mengalami dorongan untuk mengekspresikan kecenderungan koprolalia dalam menulis.

Agrafia visuospasial ditandai adanya kecenderungan mengabaikan satu bagian dari halaman tulisan, memiringkan garis keatas dan kebawah dan spasi abnormal antara huruf, suku kata atau kata. Sering terjadi pada lesi regio temporoparietooccipital junction sisi kanan dan disertai adanya neglect sisi kiri.

Agrafia juga terjadi sebagai bagian dari gejala konversi histerik. Terdapat monoparesis lengan dengan tonus menurun ringan, reflek regang otot normal dan sensorik normal. Gangguan menulis tidak disertai gangguan fungsional lainnya. Gambaran khas gangguan ini adalah singkat dan ada penyebab psikogenik (Cumming, 2003).

Penatalaksanaan

Skrining singkat dapat dilakukan untuk mengidentifikasi adanya aleksia namun asesmen lengkap tetap diperlukan untuk menggambarkan dengan tepat area yang mengalami kerusakan sehingga bisa dilakukan program terapi yang efektif. Evaluasi yang dilakukan meliputi asesmen terhadap pemahaman membaca untuk menentukan tingkat lesi, menganalisa kemampuan membaca kata tunggal dan mempertimbangkan kekuatan dan

(8)

kelemahan area terkait antara lain ketrampilan visual, menulis, penamaan dan mengeja.

(Sinanovic, 2011).

Semua tes afasia memiliki subtes pemahaman membaca untuk menilai kemampuan pengertian semantik. Pemahaman membaca dimulai dari tingkat huruf yaitu pengenalan huruf, memasangkan huruf yang tertulis pada berbagai bentuk yang berbeda (misalnya huruf besar, huruf kecil, naskah) dan penamaan huruf. Selanjutnya pada tingkat kata (misalnya mengenali nama kota atau negara), tingkat kalimat (mengikuti perintah tertulis) dan akhirnya paragraf komplek (misalnya menjawab pertanyaan tentang paragraf yang baru dibaca). Tes spesifik untuk pemahaman membaca pada pasien afasia adalah RCBA-2 (Reading Comprehension Battery for Aphasia). Tes ini terdiri dari pemahaman terhadap kata tunggal dengan meminta pasien memasangkan 1 gambar dengan 1-3 kata yang secara ortografi (ejaan), fonologi, dan semantik sama. Pemahaman kalimat dinilai dengan meminta pasien memilih 1 dari 3 gambar yang sesuai untuk kalimat tertulis. Terdapat juga subtes untuk menilai pembacaan morfosintatik dan pemahaman paragraf pendek. Pemahaman paragraf panjang dievaluasi dengan pertanyaan faktual dan inferensial. Beberapa tes pemahaman membaca memberikan tes yang sesuai untuk usia dan tingkat pendidikan pada penderita aleksia antara lain Gates-macginitie Reading Tests, Woodcock Reading Mastery Tests, dan The Nelson-Denny Reading Test (Sinanovic, 2011).

Langkah pertama tes pada gangguan membaca adalah pengenalan huruf dengan letter/non letter discrimination test. Pasien diberikan dua simbol berurutan yaitu simbol huruf besar dan bayangan dari huruf yang sama, kemudian pasien diminta menunjukkan mana huruf nyata. Langkah kedua dengan vowel/consonant test yaitu menunjukkan huruf capital, satu vokal satu konsonan dan pasien diminta menunjuk yang vokal. Tes ketiga dengan menunjukkan kata yang mengandung 1-3 bukan huruf misalnya ∆PPLE, Z˚˚, H3@LTH7.

Pasien diminta menunjuk kata konkret dan dinilai responnya berdasarkan akurasi dan waktu yang diperlukan. Selanjutnya tes membaca juga bisa menggunakan tabel yang berisi kata konkret dan kata abstrak dimana aleksia perifer biasanya tidak menunjukkan perbedaan kemampuan membaca kata konkret maupun kata abstrak, deep alexia tidak bisa membaca kata abstrak. Tes pemahaman membaca dapat dilakukan dengan Picture-Word Matching Test, dimana pasien diberikan gambar dengan kata tertulis dibawah gambar, ada yang benar, secara fonologi sama, berhubungan secara semantik, dan kata yang tidak berhubungan.

Pasien diminta menentukan yang namanya sesuai serta membacanya dengan keras (Sheldon C, 2008).

Penanganan awal gangguan membaca berdasarkan tingkat gangguannya pada tingkat suku kata, kata, frase, kalimat atau paragraf. Tugas yang diberikan antara lain memasangkan huruf; memasangkan kata dengan gambar; mencocokkan kata dengan kata berdasarkan katagori, antonim, dan sinonim; mencocokkan kata dengan definisinya; melengkapi frasa atau kalimat; mengikuti perintah tertulis; menjawab pertanyaan ya atau tidak terhadap suatu kalimat atau paragraf (Sinanovic, 2011).

Proses kognitif untuk menulis dikatakan pararel terhadap membaca. Pasien dengan deep dyslexia mungkin juga menunjukkan deep dysgraphia sementara pasien dengan letter- by-letter reading juga mengalami surface dysgraphia. Tes untuk menulis bisa menggunakan tes untuk membaca dengan meminta pasien menulis kata yang didiktekan. Tidak ada batasan waktu, kemudian dievaluasi kesalahan yang dibuat baik penambahan (eagle menjadi eagaef),

(9)

transposisi (farm menjadi fram), substitusi (ambulance menjadi amburance) dan fonologi (spider dieja sebagai sitre, hammer sebagai harer) (Sheldon C, 2008).

Penanganan gangguan menulis dan membaca bisa dilakukan secara bersama-sama.

Bila harus memilih harus lebih difokuskan untuk melakukan terapi gangguan menulis karena menulis lebih sulit dibandingkan membaca. Aleksia murni bisa diterapi tergantung tingkat defisitnya, pada tingkat kata bisa dilakukan dengan Cross-Modality Cueing dengan terapi taktil/kinestetik dengan mencoba menuliskan huruf pada telapak tangan atau menggunakan jari sehingga memudahkan untuk pengenalan huruf secara visual; pada tingkat kalimat bisa dengan MOR (Multiple Oral Re-reading) dan ORLA (Oral Reading for Languange in Aphasia). MOR dilakukan dengan suara keras membaca teks berulang-ulang dengan kecepatan membaca dan akurasinya dihitung hingga target tingkat membaca tercapai.

Dilakukan sedikitnya 30 menit sehari atau 3-5 kali sehari. ORLA dilakukan dengan meminta pasien mengulang kembali dengan keras kalimat atau paragraf pendek, pada awalnya dipandu akhirnya diharapkan bisa mandiri. Agrafia leksikal pada kasus agrafia global maupun pada kasus gangguan bahasa lisan yang berat, pasien bisa dilatih dengan CART (Copy Recall Treatment) yang difokuskan pada latihan mengeja dan membaca kata tertentu (Kim E, 2015).

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Ardila A. 2014. Aphasia Handbook. Florida International University. p102-135

Baehr M, Frotscher M. 2012. Diagnosis Topik Neurologi DUUS : Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala. Edisi ke-4. Jakarta: EGC. p 238-248

Barret K, Barman SM, Boitano S, Brooks HL. 2012. Ganong’s Review of Medical Physiology. 24th ed. New York: Mc Graw Hill. p 283-295

Campbell WW. 2013. Dejong’s The Neurologic Examination. 7th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. p 87-111

Cumming JL, Mega MS. 2003. Neuropsychiatry and Behavioral Neuroscience. New York:

Oxford University Press. p70-96

Henderson VW. 2010. Alexia and agraphia. In: Finger S, Boller F, Tyler KL, editors.

Handbook of Clinical Neurology. Stanford: Elsevier. 95: 583-601

Kim ES, Lemke SF. 2015. Behavioural and eye-movement outcomes in response to text- based reading treatment for acquired alexia. Neuropsychological Rehabilitation

Perdossi. 2008. Modul Neurobehavior Bagian II: Gangguan Neurobehavior. p. 7-22

Prins RD, Maas W. 2002. Afasia: Deskripsi, Pemeriksaan, Penanganan. Edisi ke-2. Jakarta:

Balai Penerbit FKUI. p229-247

Sheldon C, Malcolm G, Barton J. 2008. Alexia with and without Agraphia : An Assessment of Two Classical Syndrome. Can J Neurol. 35: 616-624

Sinanovic O, Mrkonjic Z, Zukic S, Immamoniv K. 2011. Post-Stroke Language Disorders.

Acta Clin Croat. 50: 79-94

Referensi

Dokumen terkait