• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. Keberhasilan suatu proses belajar mengajar selain memahami materi, juga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. Keberhasilan suatu proses belajar mengajar selain memahami materi, juga"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keberhasilan suatu proses belajar mengajar selain memahami materi, juga dituntut mengetahui secara tepat posisi awal siswa sebelum mengikuti pelajaran tersebut. Guru dapat menggunakan model pembelajaran yang dipilihnya secara tepat yang diharapkan dapat membantu siswa dalam pengembangan pengetahuan secara efektif. Agar siswa mendapatkan prestasi belajar yang maksimal, maka memerlukan bantuan danbimbingan dalam belajar sehingga tidak banyak mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Oleh karena itu guru diharapkan menempatkan posisi dan peranannya seoptimal mungkin.

Menurut Nana Sudjana (2006) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Penilaian hasil belajar mengisyaratkan hasil belajar sebagai program atau objek yang menjadi sasaran penilaian. Hasil belajar sebagai objek penilaian pada hakikatnya menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan intruksional. Hal ini adalah karena isi rumusan tujuan intruksional menggambarkan hasil belajar yang harus dikuasai siswa berupa kemampuan-kemampuan siswa setelah menerima atau menyelesaikan pengalaman belajarnya. Hasil belajar dinilai dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Berdasarkan beberapa observasi, aspek hasil belajar yang kurang pada umumnya terlihat pada aspek kognitif siswa.

Pada anak-anak tingkatan usia SD/MI (7 sampai 12 tahun) memiliki sifat-sifat khas yaitu berpikir atas dasar pengalaman yang kongkrit, mereka belum dapat

(2)

membayangkan hal-hal yang abstrak, misalnya membayangkan proses respirasi, sintesis vitamin pada tanaman, atau sirkulasi darah dalam tubuh. Kelas V merupakan kelas atas dalam sekolah dasar, mereka seharusnya sudah belajar dan mampu menganalisis, menjelaskan dan megkategorikan sesuatu, Berdasarkan kenyataan itu dalam pembelajaran IPA SD/MI perlu dirancang dan dilaksanakan suatu model pembelajaran yang memungkinkan anak didik dapat melihat, berbuat sesuatu, terlibat dalam proses belajar, dan mengalami secara langsung hal-hal yang dipelajari.

Menurut Kailani (2010) untuk mencapai hasil belajar yang optimal salah satu cara adalah dengan melakukan pendekatan secara emosional yang kuat antara guru dan siswa-siswi dalam pembelajaran, maka akan membantu guru dalam mencapai hasil pembelajaran yang seoptimal mungkin. Selain mengetahui karakteristik masing-masing siswa-siswi, guru juga harus menguasai langkah- langkah dalam memberikan materi pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas V di SDN Ngaglik 04 Kota Batu, di temukan beberapa fakta yakni siswa memiliki masalah dalam belajar di kelas. Masalah yang terjadi yakni pada hasil belajar siswa terutama pada aspek kognitif siswa, hal tersebut terlihat dari nilai yang didapat siswa. Hasil belajar siswa menunjukkan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran ilmu pengetahuan alam di kelas kurang inovatif, siswa malas dan sulit memahami materi karena proses pembelajaran masih belum terlalu banyak digunakan media dan metode yang menarik. Dalam proses pembelajaran di kelas sering kali siswa hanya menghafalkan, sehingga ketika diberi soal, siswa tidak memiliki motivasi

(3)

dan tidak bisa mengerjakan soal tersebut kemudian mendapatkan nilai yang kurang maksimal. Apabila guru meminta siswa untuk menjawab soal, siswa malu dan takut dalam menjawab soal tersebut sehingga informasi yang diterima sering kali kurang dimengerti. Bukti bahwa hasil belajar siswa pada aspek kognitif terlihat pada hasil observasi yang dilakukan diperoleh bahwa hasil belajar ilmu pengetahuan siswa kelas V di SDN Ngaglik 04 Kota Batu pada semester dua tahun ajaran 2015/2016 belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 70. Dari 34 orang siswa kelas V yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan, siswa yang bisa mencapai KKM ≥ 70 yaitu 21 dan yang belum mencapai KKM ≤ 70 yaitu 13. Permasalahan diatas menunjukkan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran ilmu pengetahuan alam di kelas V di SDN Ngaglik 04 Kota Batu, guru menggunakan metode serta model pembelajaran yang kurang inovatif dan kurang bervariasi, sehingga siswa merasa sulit dan malas dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam. Selain itu penilaian dan pembelajaran masih terbilang klasik karena penilaian otentik yang lebih akurat belum digunakan, yang dipakai merupakan penilaian tes lisan dan tulis saja.

Dari permasalahan tersebut, diperlukan suatu pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.

Berdasarkan hal tersebut, maka model pembelajaran Example Non Example merupakan model pembelajaran yang dikembangkan dengan upaya meningkatkan hasil belajar pada pelajaran ilmu pengetahuan alam. Karena peneliti berharap adanya model tersebut yang terdapat gambar bisa membuat siswa yang sebelumnya kurang tertarik dengan model pembelajaran yang biasa saja,

(4)

sedangkan dengan model tersebut menggunakan media yang memungkinkan anak agar tertarik dalam pelajaran yaitu dengan gambar. Tujuan utama dari model pembelajaran Example Non Example adalah pembelajaran untuk meningkatkan berpikir siswa secara kritis dan siswa mampu menganalisis sesuatu.

Berdasarkan latar belakang dan gambaran umum yang telah dipaparkan di atas, peneliti ingin meneliti tentang“Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Example Non Example Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Kelas V di SDN Ngaglik 04 Kota Batu.”

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas V di SDN Ngaglik 04 Kota Batu pada tanggal 18 September 2015 dan 19 September 2015, menunjukkan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran ilmu pengetahuan alam di kelas kurang menyenangkan dikarenakan guru belum menggunakan model pembelajaran yang inovatif serta hasil belajar pada mata pelajaran IPA belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) untuk mata pelajaran ilmu pengetahuan alam di SDN Ngaglik 04 Kota Batu adalah 70. Solusi dari permasalahan tersebut yaitu dengan menerapkan model pembelajaran example non example pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini sebagai berikut.

(5)

1) Bagaimana penerapan model pembelajaran example non example yang dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam di SDN Ngaglik 04 Kota Batu?

2) Bagaimana hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran example non example pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam di SDN Ngaglik 04 Kota Batu?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini sebagai berikut.

1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran example non example pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam di SDN Ngaglik 04 Kota Batu.

2) Mendeskripsikan hasil belajar siswa dalam menggunakan model pembelajaran example non example pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam di SDN Ngaglik 04 Kota Batu.

1.5 Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah dipaparkan di atas, maka manfaat penelitian ini sebagai berikut.

1.5.1 Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan dalam memahami dan mengembangkan teori mengenai proses pembelajaran dan model-model yang dapat digunakan untuk proses pembelajaran yang lebih baik.

(6)

1.5.2 Praktis a) Bagi Peneliti

Untuk mengembangkan dan mengaplikasikan pengetahuan yang telah diperoleh pada mata kuliah kependidikan, dengan menerapkan model penelitian yang sesuai dengan maksud meningkatkan kemampuan mengajar di dunia pendidikan.

b) Bagi guru

Untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh guru dalam pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran yang kooperatif dan menggunakan model pembelajaran yang inovatif dan bervariasi, sehingga dapat memberikan dukungan bagi keberhasilan belajar peserta didik.

c) Bagi sekolah

Untuk meningkatkan kwalitas pendidikan anak didik serta menjadi motivasi bagi guru yang lain dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.

1.6 Batasan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka batasan penelitian ini adalah :

a) Siswa yang diteliti dalam penelitian ini adalah siswa kelas V di SDN Ngaglik 04 Kota Batu tahun ajaran 2015/2016.

b) Materi yang diteliti dalam penelitian ini adalah Penyesuaian Diri Makhluk Hidup Dengan Lingkungannya kelas V semester I.

(7)

c) Model pembelajaran yang diteliti adalah model pembelajaran example non example.

1.7 Batasan Istilah

Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka batasan istilah dalam penelitian ini adalah :

1) Hasil belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, berupa hasil pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungannya (Slamet dalam Anwar dan Hendra, 2011).

2) Ilmu Pengetahuan Alam dalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berasal dari kata natural science. Natural artinya alamiah dan berhubungan dengan alam, sedangkan science artinya ilmu pengetahuan. IPA atau sains secara umum dapat dikatakan sebagai pengetahuan manusia tentang alam yang diperoleh dengan cara yang terkontrol. Penjelasan ini mengandung makna bahwa IPA kecuali sebagai produk yaitu pengetahuan manusia juga sebagai prosesnya yaitu bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tersebut(MaslichahAsy’ari, 2006).

3) Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menetukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Joyce dalam Trianto, 2011).

4) Example non Example adalah model pembelajaran yang menggunakan media- media atau non media sebagai contoh. Sedangkan menurut peneliti model

(8)

tersebut menggunakan media gambar yang ditempel di papan tulis. Peneliti sendiri menggunakan contoh gambar yang sesuai dengan materi yakni gambar ayam yang menggunakan paruh untuk memakan biji bijian sedangkan penggunaan gambar lain sebagai bukan contoh.

Referensi

Dokumen terkait

2 Hasil Pengujian Kuat Tekan Mortar Umur 7 Hari dengan Media Perendaman Air Laut... 5 Hasil Pengujian Kuat Tekan Mortar Umur 14 Hari dengan Media Perendaman

Prosedur pelaksanaan pember- dayaan masyarakat dalam pendampingan pelaksanaan penataan bangunan- bangunan dan lingkungan permukiman pada Kawasan Cagar Budaya Kraton

Mengacu pada tujuan yang akan dicapai, beberapa hal yang akan dipelajari meliputi, preparasi bahan baku, analisis yield pektin standar, ekstraksi pektin menggunakan metode MAE

ZPRED dengan residualnya SRESID. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterlot antara SRESID51

Keeratan hubungan antara debit sedimen dengan debit sungai dan curah hujan pada bulan Maret dan April 2015 di lahan salak Kecamatan Angkola Barat dapat dilihat

Analisis yang digunakan untuk mengetahui pendapatan petani yaitu dengan mengurangi penerimaan dengan total biaya, R/C digunakan untuk mengtahui setiap musim panen

(2) Yayasan Pesantren Yatim Sosial At-Tauhid mengalami perkembangan dari segi program pendirian pesantren di dalamnya yakni pada tahun 2010, sarana dan prasarana yang

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti dan analisis bahwa kelemahan SPI, ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, umur pemerintah daerah,