6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Neo-Liberal Institusional
Neo-liberal institusional merupakan salah satu teori tradisional dalam studi Hubungan Internasional yang menggunakan pandangan liberal. Teori ini dikembangkan oleh Robert Keohane yang menegaskan bahwa institusi internasional dapat menciptakan kerjasama yang nyata, dan jauh lebih baik antar negara-negara. Institusi internasional merupakan aktor yang independen. Institusi Internasional yang dimaksudkan adalah suatu organisasi internasional, seperti NATO atau Uni Eropa; juga dapat berupa pengaturan, perjanjian antar negara (R. Jackson & G.Sorensen 2013).
Neo-liberal Institusional sangat mendukung akan kerja sama antar negara dengan memakai pendekatan ilmiah dan behavioralistik, yang berarti dalam membangun kerjasama sangat menekankan pada perilaku aktor.
Kaum neo-liberal institusional berasumsi bahwa, “negara merupakan aktor penting dalam studi Hubungan Internasional. Tetapi bukan satu-satunya aktor yang ada. Aktor-aktor non-state juga memiliki kontribusi dalam hubungan dan kerjasama antar negara”. Dalam buku Jackson dan Sorensen (2013) yang berjudul Pengantar Studi Hubungan Internasional: Teori dan Pendekatan”
mengantarkan pandangan bahwa ketika negara yang menjadi aktor utama dalam menjalani kerjasama dan hubungan internasional, maka negara akan selalu ada untuk kepentingan nasionalnya, dengan demikian ketika semua negara memiliki kepentingan nasional, akan ada negara-negara yang dirugikan maka akan ada kemungkinan terjadinya perang oleh karena ada rasa persaingan dan tidak adil. Sebagaimana dalam pandangan kaum realis, negara-negara akan membentuk kekuatannya masing-masing agar mendapatkan ‘power’. Maka kerjasama tidak dapat tercapai.
Hadirnya institusi internasional juga dapat menolong negara ketika mengalami kesulitan, kerusuhan, krisis, ataupun bencana. Negara tidak dapat menolong dirinya sendiri, salah satu penyebabnya adalah mahalnya biaya yang dibutuhkan. Untuk itu neo-liberal hadir untuk memberikan solusi yaitu dengan membangun kerjasama. Mengutip Keohane dan Nye (1977) kerjasama yang dimaksudkan adalah situasi internasional yang serba saling bergantung satu dengan yang lain (complex interpendence), dimana tidak mengenal aktor baik negara maupun
7
bukan negara semuanya memiliki sifat saling tergantung, dengan demikian kebijakan dan juga tindakan satu aktor akan berdampak terhadap aktor lainnya. Keohane (1982) juga menekankan bahwa untuk dapat bekerjasama, aktor harus mampu mengatasi semua problem yang ada secara bersama dan dalam melakukan kerjasama setiap aktor yang berperan harus dapat menghindari kecurangan yang dapat mengancam stabilitas kerjasama. Didalam konteks ini kemudian organisasi dan bentuk institusi lainnya menjadi penting untuk dapat mengatur dan memitigasi aksi-aksi kolektif yang dapat mengancam stabilitas kerjasama yang sudah terjalin.
Melalui penjelasan diatas, hadirnya United Nation Development Programme (UNDP) di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah menjadi penting untuk dapat membantu dalam proses recovery Kota Palu pasca bencana tahun 2018 khususnya pada pembangunan ekonomi. Peran pemerintah dibutuhkan, tetapi seperti yang dijelaskan oleh neo-liberal konstitusional bahwa negara tidak dapat menolong dirinya sendiri dan begitu mahalnya biaya yang diperlukan, ditambah lagi di Indonesia bukan hanya di Kota Palu yang terjadi bencana, tentunya sangat sulit bagi pemerintah ketika akan jalan sendiri. UNDP hadir untuk membantu pemerintah dengan program-program yang mereka tawarkan dan juga mengingat keselamatan masyarakat yang harus segara diselesaikan.
Teori neo-liberal institusional relevan dengan penelitian ini, karena akan menjelaskan peranan aktor non-state yaitu UNDP terkait recovery dan pertumbuhan ekonomi pasca bencana di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Ketika penelitian ini menyatakan bahwa UNDP berperan dalam pembangunan ekonomi pasca bencana, maka akan semakin memperkuat teori neo-liberal institusional yang menyatakan bahwa institusi internasional berperan penting dalam membangun kerjasama antar negara-negara dan memberi keuntungan oleh negara-negara tersebut.
2.2. Kerangka Konsep
2.2.1. Sustainable Economic Development
Sustainable Economic Development atau pembangunan ekonomi berkelanjutan merupakan salah satu aspek dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Menurut Ahossane (2001) dalam Jurnal berjudul “Eksternalitas, Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan dalam perspektif teoritis” pembangunan berkelanjutan merupakan “meets the needs of the present without of future generations”. Pembangunan dapat disebut berkelanjutan apabila
8
memenuhi kriteria ekonomis, bermanfaat secara sosial, dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Pembangunan dapat disebut berkelanjutan apabila memenuhi kriteria ekonomis, bermanfaat secara sosial, dan menjaga kelestarian lingkungan hidup dan juga menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan perspektif ini pembangunan berkelanjutan harus berorientasi pada masa depan. Sustainable economic berarti merupakan pembangunan ekonomi yang beroirentasi pada masa depan atau dapat juga dikatakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kebutuhan generasi yang akan datang. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus dapat memenuhi kebutuhan dengan cara tidak merusak lingkungan dan sumber daya alam.
Ekonomi yang berkelanjutan selalu berkaitan dengan lingkungan dan sumber daya alam, karena ekonomi dapat dikatakan berkelanjutan ketika pemenuhan kebutuhan dapat dilakukan dengan tetap merusak lingkungan dan memanfaatkan sumber daya alam sebaik-baiknya. Di Indonesia hal ini diatur dalam undang-undang Nomor 32, Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, jelas diatur disana salah satunya tentang perencanaan pembangunan dan kegiatan ekonomi, oleh karena kegiatan ekonomi berbasis pada eksploitasi sumber daya alam.
Indonesia juga merupakan salah satu Negara yang ikut menandatangani Sustainable Development Goal’s (SDG’s) yang merupakan rencana aksi global untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan dan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pembangunan Jangka Panjang sebagai landasan komitmen untuk menjalankan program-program pembangunan dalam situasi apapun
2.2.2. Organisasi Internasional
Organisasi internasional merupakan kolektivitas dari entitas-entitas yang independen, kerjasama yang terstruktur (organized coorperation) dalam bentuk yang lebih nyata dengan segala aturan yang mengikat. Organisasi Internasional merupakan salah satu instrument yang dapat digunakan negara untuk menjalin kerja sama dengan negara lain, karena dalam hubungan internasional yang berkembang negara bukanlah satu-satunya aktor yang independen.
Menurut Starke dalam bukunya yang berjudul ‘introduction to international law’, ia membandingkan fungsi, hak, dan juga kewajiban serta wewenang dari berbagai lembaga
9
internasional dengan negara. Singkatnya, ia menjelaskan secara tegas bahwa organisasi internasional berkedudukan sama dengan negara yang memiliki hak, kewajiban, dan kekuasaan.
Organisasi internasional sebagai salah satu aktor internasional dianggap dapat memberikan keuntungan ketika ia berperan sesuai dengan fungsinya.
Organisasi internasional dibentuk berdasarkan fungsinya, dan menjalankan pola kerjasama juga berdasarkan fungsinya dengan memiliki struktur organisasi untuk mencapai tujuannya.
Organisasi internasional ada 2 bentuk yaitu intergovernmental organization (antar-pemerintah) dan non governmental organization (non-pemerintah).
United Nation Development Programme (UNDP) merupakan salah satu organisasi internasional yang dibawahi oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang bergerak dibidang pembangunan dan membantu negara-negara berkembang yang mengalami keterpurukan oleh bencana alam maupun bencana sosial. Melalui program yang ditawarkan dalam setiap perannya yang disesuaikan dengan kebutuhan negara. Dalam hal ini, UNDP sebagai salah satu organisasi internasional juga harus menjalankan peran sebagai organisasi internasional yatitu:
1. Wadah untuk menjalin kerjasama serta untuk mencegah atau mengurangi intensitas konflik (sesama anggota).
2. Sebagai sarana untuk perundingan dan menghasilkan keputusan bersama yang tentunya saling menguntungkan tidak hanya menguntungkan satu pihak atau pihak tertentu saja.
3. Dan sebagai lembaga yang mandiri untuk melaksanakan kegiatan yang diperlukan (kegiatan sosial, kemanusiaan, memberi bantuan untuk lingkungan, peace keeping operation) dan lain sebagainya.
2.3.3. Economic Growth (Pertumbuhan Ekonomi)
Dewi Ernita dan Syamsul Amar (2013) dalam Jurnal Kajian Ekonomi yang berjudul Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Investasi, dan Konsumsi di Indonesia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikasi pembangunan ekonomi berkelanjutan (sustainable economic development). Salah satu target dari Sustainable Development Goal’s adalah Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terdapat pada target ke 8 SDGs. Tujuan dari
10
target ini adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, kesempatan kerja yang produktif dan menyeluruh, serta pekerjaan yang layak untuk semua.
Pekerjaan menjadi penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi, dengan memiliki pekerjaan dapat menjadikan masyarakat produktif dan dapat berpenghasilan setidaknya dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Secara ekonomi, ada beberapa cara untuk memperhitungkan pertumbuhan ekonomi, baik dilihat dari sisi permintaan maupun jika dilihat dari sisi penawaran. Apabila dari sisi permintaan (demand) yaitu dengan memperhitungkan komponen-komponen makro ekonomi berupa konsumsi, investasi, ekspor dan impor sedangkan dari sisi penawaran (supply) dengan memperhitungkan nilai tambah setiap sektor dalam produksi nasional. Perekonomian dibagi menjadi tiga sektor besar, yaitu primer, sekunder dan jasa-jasa (tersier). Rahardjo Adisasmita (2013) dalam Buku Teori-teori pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi, dan pertumbuhan wilayah mendefinisikan pertumbuhan ekonomi merupakan peningkatan kapasitas produksi untuk mencapai penambahan output, yang dapat diukur menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam suatu wilayah tertentu. Lanjut dijelaskan oleh Rahardjo Adisasmita (2005) mengenai indikator pertumbuhan ekonomi, yakni:
1. Pertumbuhan kesempatan kerja 2. Kemudahan memenuhi kebutuhan 3. Produk Domestik Bruto (PDB) 4. Perubahan Struktur Perekonomian.
Adam Smith dalam bukunya yang berjudul An Inquiry into the Nature and Causes Wealth of Nation (1776) mengemukakan pendapatnya tentang faktor-faktor pertumbuhan ekonomi yang dapat dilihat dari output local dan juga faktor pertumbuhan penduduk. Faktor output dapat dilihat dari variable sumber daya alam, sumber daya manusia, dan persediaan capital atau modal.
Sedangkan faktor pertumbuhan penduduk digunakan untuk menentukan banyaknya pasar dan laju pertumbuhan ekonomi. Konsep pertumbuhan ekonomi ini nantinya akan dipakai untuk menjadi instrument peneliti dalam menganalisis pertumbuhan ekonomi melalui indikator pertumbuhan kesempatan kerja dan juga kemudahan dalam memenuhi kebutuhan pasca bencana di Kota Palu.
11 2.3. Penelitian Terdahulu
Penelitian dahulu digunakan sebagai alat perbandingan dan bagaimana melihat orisinalitas penelitian ini, dan juga penelitian terdahulu merupakan cara peneliti untuk melengkapi penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian penulis. Isu penelitian yang serupa hanya dijadikan sebagai alat perbandingan karena studi kasus dalam penelitian ini tidak serupa dan penulis tidak menemukan kesamaan isu dan studi kasus pada penelitian lain.
Tahun 2015
Peneliti I Putu Agung Wira Sudewa Asal Universitas Universitas Udayana
Judul Peran dari United Nation Development Programme (UNDP) dalam menanggulangi kemiskinan etnis Tamil di Srilanka sebagai bagian dari Program Peace Building Tujuan Penelitian Untuk mengetahui peran United Nation Development
Programme (UNDP) dalam menanggulangi kemiskinan etnis Tamil
Hasil Penelitian Dengan mengedepankan pemberdayaan gender dalam program UNDP berhasil dalam menanggulangi kemiskinan etnis Tamil, tetapi program ini masih kurang berhasil dalam menyelesaikan akar kemiskinan di Sri Lanka
Persamaan Penelitian ini membahas peran United Nation Development Programme (UNDP) dalam menangani kasus kemiskinan yang dapat pula disebut bencana sosial Perbedaan Penelitian ini lebih berfokus pada penanganan kasus kemiskinan pada etnis tamil, dengan menggunakan program pemberdayaan gender. Sedangkan penelitian dari peneliti lebih focus pada peran UNDP untuk dapat membantu kembali pertumbuhan ekonomi di Kota Palu pasca terjadinya bencana.
12
Tahun 2007
Peneliti Hadi Purnomo
Asal Universitas Universitas Kristen Immanuel Yogyakarta
Judul Penelitian Peran Pemerintah, Organisasi Kemanusiaan, dan Grassroot dalam Manajemen Bencana.
Tujuan Penelitian Untuk dapat mengetahui bagaimana peran pemerintah, Organisasi Kemanusiaan, dan juga Grassroot dalam manajemen bencana.
Hasil Penelitian Penelitian ini menyatakan bahwa pemerintah tidak mampu untuk secara sendirian menangani bencana, untuk itu keterlibatan organisasi-organisasi kemanusiaan dan grassroot sangat membantu.
Persamaan Penelitian ini sama-sama berfokus pada peran institusi dalam membantu pemerintah menangani bencana.
Perbedaan Penelitian ini berfokus pada manajemen bencana, dimana pemerintah dan organisasi-organisasi bekerja sama dalam menangani bencana. Sedangkan penelitian peneliti berfokus pada pertumbuhan ekonomi dan peran organisasi internasional.
Tahun 2014
Peneliti Cantika Amalia
Asal Universitas Universitas Pandjajaran
Judul Peranan United Nation Programme (UNDP) dalam pencapaian Millenium Development Goals pada bidang kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di Indonesia. (Studi Kasus : Partisipasi perempuan di Parlemen)
Tujuan Penelitian Menggambarkan bentuk peranan UNDP dalam pencapaian MDGs di Indonesia
13
Hasil Penelitian - UNDP berperan dalam pencapaian MDGs di Indonesia terutama dalam tujuan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan lewat program seperti Parlimentary Support Programme.
- Parlimentary Support Programme berhasil menghapuskan hambatan-hambatan dan juga menyadarkan warga Indonesia akan pentingnya MDG’s bagi pembangunan Indonesia.
- Partisipasi perempuan di parlemen terwujudkan melalui pemberian bantuan
Persamaan Penelitian ini membahas mengenai pembangunan berkelanjutan, sama dengan penelitian peneliti membahas mengenai pembangunan berkelanjutan yang menjadi aktornya adalan United Nation Development Programme.
Perbedaan Penelitian ini menggunakan MDS’s untuk menjadi instrument dalam pemenuhan pembangunan berkelanjuan bidang kesetaraan gender, sedangkan penelitian peneliti menggunakan instrument pertumbuhan dan ekonomi berkelanjutan untuk memulihkan aspek ekonomi di Kota Palu pasca bencana melalui program-program UNDP.
Tahun 2019
Peneliti Damara Alvadea
Asal Universitas Universitas Negri Syarif Hidayatullah
Judul Peran United Nation Development Programme (UNDP) dalam Upaya Menekan Penyebab Perubahan Iklim di Indonesia
14
Tujuan Penelitian Mengetahui peran United Nation Development Programme (UNDP) dalam upaya menekan perubahan iklim di Indonesia tahun 2011-2015
Hasil Penelitian Terdapat upaya dalam memperbaiki kerusakan lingkungan yang diakibtkan oleh manusia yang menyebabkan perubahan iklim melalui proyek-proyek tersebut.
Upaya yang dilakukan meliputi proyek yang dilakukan adalah Biochar Project Indonesia, Hydrofluorocarbons Phase Out Management Plan (HPMP), Wind Hybrid Power Generation (WHyPGen) Market Development Initiatives, dan Cooperation on Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD+)
Persamaan Penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan melihat peranan United Nation Development Programme (UNDP) dengan melihat program yang dilakukan oleh UNDP.
Perbedaan Penelitian ini berfokus pada perbaikan kerusakan lingkungan yaitu perubahan iklim di Indonesia secara umum pada tahun 2011-2015. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti akan melihat peranan UNDP dalam membantu recovery secara khusus pada pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah pasca bencana pada Tahun 2018-2021.
15 2.4. Kerangka Pikir
Bencana yang terjadi di Kota Palu Profinsi Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 kemudian sangat mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi bahkan psikis masyarakat Kota Palu.
Tiga bencana (Gempa, Tsunami, Likuifaksi) yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan dan dibeberapa titik menjadikan Kota Palu lumpuh dalam kegiatan sosial, ekonomi. Kerusakan sarana dan prasarana, kerugian, dan rasa kehilangan menjadikan masyarakat tidak dapat berbuat apa-apa untuk memenuhi kebutuhan. Bencana yang terjadi di Kota Palu ini kemudian mendapat perhatian baik dari pemerintah Indonesia, maupun dunia internasional. Dengan begitu, banyak bantuan yang kemudian datang dan membantu untuk memenuhi kebutuhan walaupun semuanya serba darurat.
United Nation Development Programme (UNDP) hadir di Kota Palu untuk menjalankan fungsinya sebagai organisasi yang bekerja untuk negara-negara berkembang yang mengalami kesusahan, seperti bencana yang terjadi. Kehadiran UNDP di Kota Palu pasca bencana seharusnya memberi pengaruh pada perbaikan ekonomi, bahkan pertumbuhan ekonomi pasca bencana di Kota Palu.
16