• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESUME JURNAL TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PENGEMASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RESUME JURNAL TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PENGEMASAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

RESUME JURNAL

TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PENGEMASAN “ACTIVE PACKAGING OF FOOD PRODUCTS: RECENT TRENDS”

Dosen Pengampu : Ika Atsari Dewi, STP, MP Kelompok 7

Nama Anggota :

Nama NIM Foto Nama NIM Foto

1. Dian Fatmawat

11510030011102 1

5. Husna Shofiansyah

115100300111069

2. Shinta Widyaningtyas

115100300111007 7 6. Karina Meidayant

115100301111031

3. Saundra Rosallina Lutfi

115100300111043 7. Reny Nurul

Utami

115100301111037

4. Ita Winda Sari H.

115100300111063

KELAS C

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2013

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Saat ini permintaan konsumen akan kemasan bahan pangan adalah jenis kemasan yang ramah lingkungan, produk yang lebih alami dan tanpa bahan pengawet. Masyarakat menginginkan pangan dengan kualitas tnggi, segar, dan menarik kapanpun dan dimanapun. Untuk memenuhi keinginan ini, industri harus menyelesaikan masalah logistk. Transportasi jarak jauh membutuhkan produk dengan stabilitas tnggi, selain itu produk yang dikemas harus tampak cukup menarik agar dapat terbeli. Kualitas yang konsisten dari rasa, aroma, warna, dan sebagainya sangat pentng utuk menjaga kepuasan konsumen. Industri-industri pengolahan pangan juga berusaha untuk meningkatkan masa simpan dan keamanan dari produk. Salah satu cara untuk memperpanjang umur simpan produk yakni dengan menggunakan kemasan aktf (Active packaging).

Kemasan aktf adalah teknik kemasan yang mempunyai sebuah indikator eksternal atau internal untuk menunjukkan secara aktf perubahan produk serta menentukan mutunya. Kemasan akif disebut sebagai kemasan interaktf karena adanya interaksi aktf dari bahan kemasan dengan bahan pangan yang dikemas. Ide penggunaan kemasan aktf bukanlah hal yang baru, tetapi keuntungan dari segi mutu dan nilai ekonomi dari teknik ini merupakan perkembangan terbaru dalam industri kemasan bahan pangan. Keuntungan dari teknik kemasan aktf adalah tdak mahal (relatf terhadap harga produk yang dikemas), ramah lingkungan, mempunyai nilai estetka yang dapat diterima dan sesuai untuk sistem distribusi. Pengemasan aktf merupakan kemasan yang mempunyai bahan penyerap O2 (oxygen scavangers), bahan penyerap atau penambah (generator) CO2, ethanol emiters, penyerap etlen, penyerap air, bahan antmikroba, heating/cooling, bahan penyerap (absorber) dan yang dapat mengeluarkan aroma/flavor, dan pelindung cahaya (photochromic).

1.2 Tujuan

Kajian dilakukan untuk mengetahui kelebihan dari kemasan aktf serta jenis-jenisnya.

Sebagaimana yang telah kita tahu bahwa kemasan aktf dikembangkan bertujuan untuk mempertahankan mutu produk dan memperpanjang masa simpannya.

(3)

BAB II PEMBAHASAN

Umur simpan makanan secara utuh terkait dengan kemasannya dan kondisi produk dan kemasannya harus dipertmbangkan. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan konsumen mendorong munculnya inovasi dalam teknologi kemasan makanan. Pengemasan modifikasi atmosfer (MAP) dan kemasan teknologi aktf (AP) sedang dikembangkan untuk meningkatkan umur simpan.

AP adalah sebuah konsep inovatf yang dapat didefinisikan sebagai model kemasan di mana kemasan, produk, dan lingkungan berinteraksi untuk memperpanjang umur simpan atau tetap menjaga kualitas produk. Hal ini sangat pentng di bidang makanan segar dalam memperpanjang umur simpan makanan. Istlah lainnya yang diciptakan untuk menunjukkan kemasan tersebut sepert SMART, fungsional, dan kemasan dengan bahan pengawet.

Saat ini, berbagai macam zat aktf dapat dimasukkan ke dalam bahan kemasan untuk meningkatkan fungsinya dan memberikan fungsi baru atau tambahan. Teknologi kemasan aktf dalam bentuk sachet atau aditf mampu menyerap O2 atau menyerap uap air telah tersedia secara komersial selama lebih dari dua dekade. Sejumlah bahan AP telah dirancang untuk mencegah berbagai macam kerusakan termasuk ketengikan, kehilangan warna/ perubahan, hilangnya nutrisi, dehidrasi, proliferasi mikroba, penuaan, kehilangan bau ataupun bau baru yang muncul.

Kemasan aktf dirancang untuk melakukan peran lain, selain untuk memberikan penghalang kelembaban antara produk dan lingkungan luar, dengan menggunakan adanya kemungkinan interaksi antara makanan dan kemasan dengan cara yang positf untuk meningkatkan kualitas produk dan penerimaannya. AP untuk makanan adalah konsep yang berbeda-beda yang melibatkan berbagai kemungkinan yang secara global dapat dikelompokkan dalam dua tujuan utama:

1. untuk memperpanjang umur simpan

2. untuk memfasilitasi pengolahan dan konsumsi makanan

AP termasuk sistem yang dipelajari untuk mengontrol mekanisme kerusakan dalam kemasan (yaitu pengambil O2, penyerap kelembaban atau pengantar ant-mikroba). Selain itu, sistem AP disesuaikan kemasan dengan sifat-sifat makanan yang akan dikemas, untuk mengurangi biaya produksi, atau untuk mengontrol kualitas produk. AP dapat dilakukan dengan metode yang berbeda.

AP dirancang untuk meningkatkan sifat bahan kemasan sehingga dapat meningkatkan umur simpan produk.

Kemasan aktf dapat dibagi menjadi tga kategori yaitu penyerapan, pelepasan, serta lain- lain. Bahan penyerap termasuk didalamnya yaitu O2, etlen, kelembaban, pencemaran, sedangkan emiter termasuk kedalam CO2 dan etanol. Pada saat ini, oksigen banyak diaplikasikan pada kemasan aktf karena digunakan sebagai pembawa zat aditf pada makanan yang dikemas. Penghisap O2

merupakan substansi yang mudah teroksidasi tersedia dalam kemasan sachet berbagai ukuran yang dapat menyerap 20-2000 ml oksigen. Teknologi penyerap Oksigen berdasarkan prinsip dari oksidasi dari satu atau lebih substansi sepert bubuk besi, asam askorbat, pewarna fotosensitf, enzim (sepert glukosa aksidase, dan etanol oksidase), asam lemak tak jenuh (sepert oleat, linoleat, dan asam linoleat). Kemasan aktf dapat melindungi produk, serta mengurangi level O2 menjadi < 0,01 persen dengan satu atau empat hari dalam suhu ruangan. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa kemasan aktf penyerap oksigen ini dapat diaplikasikan pada kemasan. Hingga saat ini kemasan aktf digunakan oeh usaha makanan bersakala kecil, dan menengah, dimana alat pengemasnya memiliki harga yang tnggi.

(4)

1. Berdasarkan Gaya Reaksi

Penyerap oksigen bereaksi setelah penghisap terkena udara. Dalam tpe yang dipengaruhi oleh kelembapan, reaksi penyerap O2 terjadi setelah kelembaban diserap oleh makanan.

Berikut ini adalah jenis penyerap berdasarkan tpe reaksinya

Gambar I jenis penyerap berdasarkan tpe reaksinya 2. Atas dasar kecepatan reaksi

Rata-rata waktu untuk penyerapan O2 adalah 0,5 sampai satu hari untuk jenis cepat, satu sampai empat hari untuk jenis umum dan 4-6 hari untuk jenis reaksi lambat. Waktu reaksi tergantung pada suhu penyimpanan dan aktvitas air (aw) dari makanan.

3. Film penyerap Oksigen.

Saat ini telah dikembangkan plastk penyerap O2. Penggabungan O2 non-besi berbasis Penghilang langsung ke kemasan plastk bahan telah mendapatkan momentum. Penyerap Cibae Shelfpluse O2 (sekarang dimiliki oleh Albis Plastk GmbH) adalah aditf berbasis polimer yang dapat dimasukkan langsung ke dinding paket. Salah satu manfaat dari teknologi ini adalah penyerap O2 aktf secara otomats dipicu ketka kontak dengan kelembaban, baik dari pengisian atau retort.

4. Penyerap atau penghasil CO2

Menggabungkan sistem pembangkit CO2 menjadi film atau menambahkannya di sachet, dimana konsentrasi CO2 lebih tnggi untuk menghambat banyak reaksi biokimia yang tdak menguntungkan. Emitter CO2 dikembangkan secara komersial didasarkan pada reaksi antara asam bikarbonat dengan uap air yang menghasilkan produksi CO2. Salah satu produk yang paling diuntungkan adalah kopi bubuk. CO2 yang dihasilkan dalam proses ini harus dihapus untuk menjamin aroma yang tepat dalam produk. CaOH paling umum digunakan untuk penyerap CO2 yang tergabung dalam sejumlah formulasi (Brody, 2002). Kehidupan rak kopi bubuk segar tga kali lipat lebih lama ketka sachet mengandung zat besi bubuk dan CaOH ditambahkan dalam kantong fleksibel. Namun, mengendalikan tngkat O2 dan CO2 mungkin memiliki beberapa efek buruk pada aktvitas metabolik dari buah-buahan dan sayuran.

(5)

Gambar II Film antmikroba yang tersedia secara komersial

5. Penghasil Ethanol

Meskipun digunakan secara luas sebagai suatu bahan yg menghapus kuman penyakit, beberapa studi telah membuktkan bahwa etanol sebagai pengawet untuk produk makanan. Etl alkohol telah terbukt dapat meningkatkan umur simpan rot ketka disemprotkan ke permukaan produk sebelum dikemas. Salah satu produk hasil penelitan yang telah dihasilkan adalah ethicap. Ethicap adalah sebuah sachet yang ditempatkan di samping makanan dan ia melepaskan uap etanol ke dalam ruang kemasan. Setelah uap etanol ini dilepaskan, kemudian mengembun di permukaan makanan dan bertndak sebagai sebuah inhibitor mikroba. Vanili dan senyawa lain digunakan untuk menutupi aroma alkohol yang tmbul. Sachet ethicap terdapat dalam berbagai ukuran, mulai dari 0.6 hingga 6 g atau 0.33 hingga 3.3 g dari etanol yang diuapkan. Ukuran dan kapasitas sachet yang digunakan tergantung pada berat makanan, aw makanan, dan umur simpan yang diinginkan dari produk. Sachet ini sedang digunakan untuk banyak produk bakery, keju dan produk ikan setengah kering. Uap yang dikeluarkan di permukaan makanan, menghilangkan pertumbuhan jamur dan bakteri patogen (shapero et al, tahun 1978). Rot, sebelum dipanggang (aw ¼ 0.95), dikemas dengan penambahan sejumlah sachet ethicapw, dimasukkan kedalam kantong steril gamma PE-LD (dengan ketebalan 80mm) dan disimpan pada suhu kamar, akan menunda pertumbuhan jamur selama 13 hari.

Jenis lain dari generator uap etanol dihasilkan oleh Freund, Jepang yang disebut Negamold. Senyawa ini, sepert Ethicapw, dimana kelembapannya relatf. Keduanya bekerja dengan produk memiliki aw. 0,85. Di sisi lain, Negamold juga bertndak sebagai penyerap O2 serta sebuah generator uap etanol. Studi yang dilakukan oleh al Smithet (1990) menunjukkan bahwa generator uap etanol efektf mengendalikan sepuluh jenis jamur termasuk spesies Aspergillus dan Penicillium, 15 spesies bakteri yang termasuk Salmonella, Staphylococcus dan Escherichia coli dan spesies jamur busuk. Studi lain yang dilakukan oleh Smith et al (1987) menyelidiki efek uap etanol pada pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae, mikroorganisme utama pembusukan pada pengemasan apel. Hasil penelitan menunjukkan bahwa ketka Ethicap dimasukkan ke dalam produk yang dikemas, pertumbuhan ragi benar-benar ditekan dan produk yang dikemas masih normal sampai pada akhir periode 21 hari penyimpanan. Studi ini menunjukkan kegunaan uap etanol untuk memperpanjang umur simpan dari buah-produk yang ada di toko rot, dimana produk-produk ini terhindar dari pembusukan sekunder oleh ragi.

Etanol secara umum telah dianggap sebagai pengaman di Amerika Serikat sebagai bahan makanan manusia secara langsung. Sebagai sebuah zat aditf yang diizinkan, tdak ada larangan untuk penggunaannya pada tngkat konsumsi sampai 2 persen dari berat produk.

(6)

6. Penyerapan Kelembaban (Penyerapan dan Pengendalian)

Umumnya penyimpanan makanan segar di lingkungan yang lembab dan hangat akan mendukung pembusukan oleh jamur, pertumbuhan jamur berhubungan dengan kelembaban relatf (RH) di lingkungan mereka. Pengaturan kelembaban pada kemasan akan menjaga RH di dalam kemasan pada tngkat terkendali serta dapat mencegah terjadinya kondensasi dan pertumbuhan jamur. Pada makanan yang sensitf dengan kelembaban yang tnggi, kelembaban yang berlebihan akan menyebabkan kerugian sepert contoh caking dalam bubuk produk, pelunakan produk-produk yang renyah sepert keripik, sebaliknya, jika terlalu banyak kehilangan kelembaban, maka dapat menyebabkan pengeringan terhadap makanan. Alat kontrol kelembaban dapat membantu dalam mengendalikan aw sehingga dapat mengurangi pertumbuhan mikroba, menghilangkan air yang mencair dalam produk yang dibekukan, mencegah kondensasi dari produk segar dan menjaga tngkat oksidasi lemak.

Desiccants sepert gel silika, tanah liat alami dan kalsium oksida digunakan pada makanan kering sementara alat kontrol kelembaban internal digunakan untuk makanan yang memiliki kelembaban tnggi. Desiccants biasanya berbentuk sachet berpori internal atau sepert kartrij plastk berlubang yang berisi desiccants. Pada makanan padat, sejumlah kelembaban mungkin terjebak selama pengemasan atau mungkin berkembang dalam paket karena generasi atau permeasi. Kecuali jika dihilangkan, mungkin akan membentuk kondensat atau daya tarik konsumen akan rendah. Masalah kelembaban mungkin tmbul dalam berbagai situasi termasuk respirasi pada tanaman hortkultura, mencairnya es, fluktuasi suhu dalam kemasan makanan yang memiliki ekuilibrium RH tnggi, atau tetesan cairan yang dihasilkan saat memotong daging.

Hal tersebut dapat diminimasi menggunakan kemasan, baik dengan cara penyerapan cairan maupun kelembaban udara. Beberapa sistem penyerapan kelembaban disajikan pada tabel III.

7. Pelepasan anti-mikroba

Teknologi ant-mikroba AP didasarkan pada agen ant-mikroba yang bergerak dengan struktur polimerik atau dimasukkan dalam resin plastk. Teknologi ini dapat dibagi menjadi dua jenis: pengawet yang dilepaskan perlahan-lahan dari bahan kemasan ke permukaan makanan atau pengawet yang terpasang pada kemasan dan tdak bermigrasi ke dalam produk makanan.

Keduanya diasumsikan untuk mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme yang tdak diinginkan. Berbagai macam zat ant-mikroba, misalnya asam organik, bacteriocins, ekstrak rempah-rempah, thiosulphates, enzim, protein, isothiocyanates, antbiotk, fungisida, agen chelatng, paraben dan logam, telah dianggap memiliki aktvitas ant-mikroba yang dimasukkan atau dilapisi ke dalam bahan kemasan. Sebagian besar bahan kemasan ant-mikroba sejauh ini dimasukkan pada plastk sintets, dan terutama pada low density poliethylene (LDPE).

Salah satu masalah utama dari teknologi AP berada dalam pelepasan terkontrol dari agen ant-mikroba dari film polimer. Anhidrida benzoat telah dimasukkan ke LDPE, yang menunjukkan aktvitas anti-mycotic ketka kontak dengan media dan keju. Sekitar 1% benzoat anhydride sepenuhnya menghambat Rhizopus stolonifer, Penicillium spp. dan Aspergillus pertumbuhan toxacarius pada potato dextrose. Pada benzoat anhydride tngkat 0,5-2%

memperlambat pertumbuhan jamur pada keju. Poli (etlena-co-metakrilat asam) (PEMA) telah digabungkan dengan asam benzoat dan asam sorbat untuk membentuk bahan kemasan makanan ant-mikroba. Hasil penelitan menunjukkan bahwa film PEMA tdak hanya menyerap asam benzoat dan sorbat ke dalam struktur tetapi juga menghambat pertumbuhan mikroba Aspergillus niger dan Penicillium sp. Hambatan dari poliamida terhadap allyl isothiocyanate

(7)

dapat dilemahkan oleh serapan kelembaban pada kelembaban tnggi, sehingga mengaktfkan pelepasan ant-mikroba alil isotosianat uap. Dalam studi lain pengawet makanan tradisional sepert natrium benzoat, natrium nitrit, kalium sorbat dan natrium laktat yang dimasukkan ke dalam plastk sintets, LDPE, poli (asam maleat-co-olefin), polystyrene dan polyethylene terephthalate bertujuan untuk memproduksi bahan kemasan ant-mikroba untuk bahan makanan.

Gambar III sistem penyerapan kelembaban

Sesuai pengamatan yang dilakukan oleh Han bahwa perak dan seng zeolit merupakan senyawa yang paling banyak digunakan sebagai bahan kemasan ant mikroba. Apabila terjadi kontak langsung antara produk makanan dengan senyawa diatas maka akan terjadi proses pelepasan ion dari seng dan perak yang akan mengganggu proses biokimia dari mikroba pada makanan.Beberapa contoh mikroba yang berpotensi yaitu mikroba jenis gram negatve sepert E.Coli dan Salmonella.Sehingga dari masalah tersebut munculah beberapa aplikasi pengemasan aktf menggunakan biosensor pada kemasan makanan yang merupakan solusi pengemasan pada senyawa makanan bioktf noncapsulaton pada produk makanan industry.Beberapa contoh bahan yang digunakan sebagai contoh pengaplikasian dari kemasan aktf yaitu:

 Lisozim yang mengandung protein whey sebagai pengahambat pertumbuhan bakteri pembusuk

 Nisin pada isolate protein kedelai dan jagung

Semua bahan tersebut mengalami proses lanjutan berupa coatng yang mampu membawa zat kimia aktf yang alami sepert enzim,protein,minyak alami,asam lemak dan antoksidan alami.

Dalam studi lain di Clemson University, Cooksey (2001) bekerja sama dengan pengolahan film yang diproduksi dari kitosan. Karbohidrat yang diperoleh diekstrak dari udang dan cangkang kepitng.Chitosan memiliki kedua sifat ant-bakteri dan ant-jamur. Ada beberapa bahan kimia atau agen ant-mikroba yang digunakan secara komersial untuk mengendalikan pertumbuhan mikroba dalam makanan.Sepert, natrium propionat, telah digunakan selama bertahun-tahun dengan tdak ada indikasi toksisitas pada manusia. Beberapa aplikasi potensi kemasan ant-mikroba telah diringkas dalam Tabel IV.

8. Pelepasan Antioksidan

Sementara sistem penyerap menghilangkan O2 dengan “magnetsasi” ke arah pereaksi, sistem “saluran” melepaskan pereaksi ke lingkungan sekitar mereka. Pada awal 1980-an, bahan aditf sepert butylhydroxyanisole (BHA) dan butylhydroxytoluene (BHT) dimasukkan ke wax liners untuk industri sereal. Bahan aditf tersebut dilepas dari liners dengan difusi ke dalam

(8)

sereal untuk melindungi produk dari lipid oksidasi. Berdasarkan observasi buah yang dilakukan, sayuran serta biji-bijian yang merupakan bagian dari produk diet yang sehat memiliki potensi untuk mencegah tmbulnya penyakit yang berkaitan dengan usia, dan hal tersebut memicu untuk dilakukannya penelitan berkelanjutan untuk mengindetfikasi bahan antoksidan mereka.

Karena peran utama kemasan makanan adalah untuk memperlambat proses alamiah yang menyebabkan pembusukan makanan, maka antoksidan digunakan untuk tujuan penelitan ini.

Produsen makanan tradisional mengatasi reaksi oksidasi dengan menambahkan antoksidan sintets. Meskipun diterapkan secara intensif untuk turunan daging, namun penambahan aditf sintets untuk daging segar tdak diizinkan. Oleh karena itu, pilihan terbaik adalah dengan penggunaan antoksidan alami. Penelitan terbaru menggambarkan Actve Packaging baru terdir dari polypropylene (PP) film dimana yang diekstrak dari rosemary yang mengandung ant oksidan alami. Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan PP normal, film aktf yang mengandung antoksidan alami efisien meningkatkan stabilitas mioglobin dan daging segar terhadap proses oksidasi. Selain kemasan pengurang O2

telah diperkenalkan juga polyvinylidene film-dilapisi klorida, penggabungan polivinil alkohol sebagai lapisan penghalang O2, dan penggunaan bahan alumunium dengan teknik Vacuum untuk mengurangi penetrasi O2pada produk kemasan. Selain itu, tngkat antoksidan yang konsisten dalam makanan dapat dicapai dengan pelepasan antoksidan terkendali dari film plastk biodegradabel, sepert polilaktda, poliglikolida kopolimer sepert poli (laktda-co- glycolide) atau PLGA.

Tabel IV menunjukkan sistem kemasan ant mikrobial. Dimana terdapat informasi tentang zat antmikroba, mekanisme dan status saat ini.

Gambar IV. Sistem pengemasan ant-mikrobial

Analisis dari Sisi Agroindustrial Technology 1. Kebutuhan dan ketersediaan bahan baku

Pada pembuatan kemasan aktf membutuhkan bahan-bahan. Dalam jurnal dibahas bahwa terdapat bahan penyerap oksigen. Bahan penyerap oksigen ini dibuat dari bubuk besi.

Dalam aplikasinya, perusahaan lebih memilih bubuk besi untuk penyerap oksigen karena ketersediaannya yang melimpah. Untuk Negara Indonesia, terdapat beberapa tambang besi

(9)

dan potensi daerah pertambangan besi. Namun, pada kenyataannya besi diimpor dan aplikasinya dalam bidang pengemas aktf masih sangat minim. Indonesia lebih banyak mengimpor pengemas aktf dari beberapa Negara. Hal ini akan sama dengan bahan dari kemasan aktf lainnya sepert etlena. Ketersediaan bahan bakunya sangat melimpah namun dalam pemanfaatannya masih sangat minim sekali. Bahan baku pembuat kemasan aktf diekspor oleh Indonesia, dan akan kembali ke Indonesia dengan harga yang tnggi karena telah menjadi barang jadi.

2. Kualitas Produk

Makanan yang aw-nya relatf rendah sangat memungkinkan jamur tumbuh makanan tersebut. Dengan penyimpanan yang masih ada akses oksigen ke dalam kemasan maka untuk mencegah tumbuhnya jamur salah satu solusinya adalah dengan mungurangi jumlah oksigen yang terdapat di dalamnya. Caranya dapat dengan mendesain kemasan khusus kedap udara sekaligus ditambahkan bahan penyerap O2 (oxygen scavangers) sehingga menjadi kemasan aktf. Tujuannya adalah untuk meminimalisasi oksigen untuk mencegah tumbuhnya jamur.

Masalah lain yang sering kita jumpai adalah kerusakan yang ditandai dengan adanya bau tengik. Ketengikan (rancidity) ini dapat disebabkan salah satunya oleh adanya asam lemak bebas yang bersifat volatile. Asam lemak bebas ini dapat tmbul akibat oksidasi minyak dalam makanan, mengingat kadar minyak dalam beberapa makanan cukup tnggi. Oksidasi yang terjadi disebabkan bereaksi dengan oksigen yang jumlahnya masih banyak dalam kemasan yang digunakan selama ini. Sehingga solusinya juga dengan mengurangi kadar oksigen dengan cara dikemas dengan kemasan aktf yang terdapat oxygen scavengers.

Penggunaan oxygen scavengers secara umum dapat membantu menjaga kualitas produk pangan dengan cara menurunkan metabolisme pangan, mengurangi ketengikan oksidatf, menghambat oksidasi tdak diinginkan pigmen dan vitamin labil, mengendalikan diskolorisasi enzimats dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme aerobik.

Dengan kriteria tersebut oxygen scavengers ini sesuai dengan spesifikasi makanan tertentu yang membutuhkan oxygen scavengers untuk meningkatkan umur simpannya.

Umur simpan menjadi lebih lama karena mengurangi kerusakan akibat oksidasi minyak yang menyebabkan ketengikan maupun kerusakan akibat tumbuhnya jamur yang mempengaruhi penampilan serta aroma.

3. Potensi Untuk Dikembangkan Dalam Skala Industri

Pengemasan aktf adalah sebuah konsep inovatf yang dapat dikembangkan dalam suatu industri. Kemasan aktf didefinisikan sebagai suatu jenis pengemasan dimana bahan kemasan, produk dan lingkungan berinteraksi untuk memperpanjang umur simpan atau menjaga keamanan serta penampakan bahan, dengan tetap menjaga kualitas dari produk tersebut. Konsep tersebut sangat sesuai bagi suatu industri dalam usaha melakukan pengembangan produk yang berkualitas dan ramah lingkungan. Dimana selain dapat menghasilkan produk yang berkualitas baik, juga dapat tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Kemasan aktf sangat pentng dan berpotensi khususnya untuk industri yang memproduksi produk makanan yang segar dan produk yang harus disimpan dalam waktu yang lama. Dimana kemasan aktf memiliki kemampuan untuk memerangkap atau menahan masuknya oksigen, menyerap karbon dioksida, uap air, etlen, flavor, bau, noda,

(10)

mengeluarkan karbon dioksida, etanol, antoksidan, serta memelihara kontrol suhu terhadap perubahan suhu. Selain itu, kemasan aktf juga berpotensi dikembangkan mengingat semakin pintarnya konsumen dalam memilih produk yang berkualitas, dimana semakin meningkatnya kebutuhan dan tuntutan konsumen seiring dengan perubahan besar dalam cara produksi suatu produk makanan.

Produk kemasan aktf merupakan produk yang dapat digunakan sebagai bahan pengawet makanan tanpa perlu mencampurkannya ke dalam makanan sehingga dirasa lebih aman dan tanpa efek samping apabila digunakan secara baik dengan takaran yang sesuai.

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam kemasan aktf juga mudah untuk didapatkan bagi perusahaan karena merupakan produk dapat diperbarui. Pada saat ini, sejumlah bahan kemasan aktf telah dikaji dan dirancang untuk melawan berbagai macam kerusakan kualitas dan keamanan pangan, sepert tengik, kehilangan warna atau perubahan, hilangnya nutrisi, dehidrasi, proliferasi mikroba, penuaan, gas pembangun, dan bau.

Potensi pasarnya juga besar, khususnya bagi perusahaan produsen makanan yang membutuhkan bahan kemasan aktf untuk mengawetkan produk makanannya. Meskipun terkadang bahan kemasan aktf merupakan bahan yang mahal sehingga mempengaruhi harga jual produk, namun karena kegunaannya dianggap lebih baik dibandingkan dengan bahan pengawet campuran, maka sering digunakan produsen makanan. Selain sebagai pengawet, kemasan aktf juga dapat digunakan untuk menyeimbangkan isi udara di kemasan sehingga kemasan tdak mudah pecah, menambah aroma pada makanan, mengendalikan kelembaban sehingga mikroba dan jamur tdak mudah berkembang biak.

(11)

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan

Makalah ini dibuat untuk meninjau tren terbaru dalam pengembangan kemasan aktf (AP) untuk makanan. Selama dekade terakhir, modernisasi sosial dan ilmiah, ledakan kebutuhan dan tuntutan pelanggan seiring dengan perubahan besar dalam cara produksi produk makanan, menyebabkan pengembangan metode atau alternatf baru untuk berbagai produk makanan. Informasi tentang teknologi AP berfungsi untuk mengontrol berbagai parameter pentng mengenai kualitas dan umur simpan makanan segar.

AP sebagian besar merupakan serangkaian inovasi dari dua dekade terakhir.Pengenalan AP memerlukan penilaian kembali dari persyaratan normal yaitu tdak boleh ada interaksi antara produk makanan dengan zat kemasan. Hal Ini akan memiliki aplikasi yang lebih luas di masa depan di mana penekanannya adalah pada minimalisasi proses dan pengurangan produk makanan yang aman dari zat aditf.

Interaksi ini cocok untuk merancang pemahaman yang lebih baik serta keselamatan dan regulasi melalui penegakan tertentu yang akan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap AP.

3.2 Saran

Agar dilakukan penelitan terhadap bahan-bahan dari kemasan aktf yang lebih

aman bagi kesehatan, karena kebanyakan dari penelitan yang telah dilakukan biasanya

kemasan dengan zat yang terkandung adalah zat berbahaya misal KMNO

4

, sepert yang

kita tahu jika kemasan terbuka maka zat di dalamnya akan mencemari makanan dan

makanan tersebut berbahaya bagi tubuh.

Referensi

Dokumen terkait

Sementara dari mereka yang mempunyai keteraturan belajar yang kurang teratur nampak bahwa sebagian besarnya 15 dari 23 siswa (65%) mepunyai prestasi yang tuntas,

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah, “Apakah ada hubungan antara home visit, peran pemantau minum obat dengan kepatuhan berobat pada pasien Tuberkulosis di

Karena signifikansi variabel lebih dari 0,05 maka H0 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa antara variabel X1 (data.. kecerdasan emosional) dengan hasil belajar matematika

Dari hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa sampel air yang telah dilakukan proses adsorbsi dengan arang aktif baik yang dilakukan secara bersamaan

Ukuran pipa ini harus sama atau lebih besar dengan ukuran lubang keluar perangkap alat plambing dan untuk mencegah efek sifon pada air yang ada dalam perangkap, jarak tegak dari

Desain fisikal basis data merupakan proses memproduksi sebuah deskripsi dari implementasi basis data dalam secondary storage, yang menjelaskan relasi dasar, organisasi file,

Dalam formulasi strategi internasional, manajer mengembangkan, memperhalus, dan menyetujui dimana pasar yang akan mereka masuki atau keluar dan bagaimana cara yang baik

Skripsi penulis dengan judul: “Bentuk Dan Fungsi Kesenian Raksasa Dalam Upacara Bersih Desa Di Desa Salamrejo Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar” merupakan hasil