• Tidak ada hasil yang ditemukan

JERRY ASTIA NOVRIANDA ABSTRACT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JERRY ASTIA NOVRIANDA ABSTRACT"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PERJANJIAN ANTARA CALON JAMAAH HAJI DAN KBIH HIJR ISMAIL TERKAIT BIMBINGAN HAJI MENURUT UNDANG-UNDANG

NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGARAAN IBADAH HAJI

JERRY ASTIA NOVRIANDA

ABSTRACT

Pilgrimage is one of the compulsory rituals in the Islamic doctrine. The place is in the Arabic land which has already been determined by Allah SWT. To support the good and correct pilgrimage performance, some institutions provide some pilgrimage counseling services through Groups of Pilgrimage Counseling Services known as KBIH; the private organizers as the extended hands of the Ministry of Religion; the executor of the laws in providing pilgrimage counseling services. The research problems are why the agreement between KBIH Hijr Ismail and their customers is not written, what problems occur in carrying out the pilgrimage counseling services, and how the responsibilities of the Ministry of Religion related to the controls on the pilgrimage counseling services provided by KBIH Hijr Ismail are. The research method is descriptive qualitative using primary and secondary data and juridical normative and empirical methods.The results show that KBIH Hijr Ismail does not make a written agreement because it is more practical and does not need a high cost. The late pilgrimage practice and small amount of fund in one pilgrimage practice are the problems that occur between KBHI Hijr Ismail and their customers. The responsibilities of the Ministry of Religion related to the controls on the pilgrimage counseling service provided by KBIH Hijr Ismail is by controlling the KBIH. Because there are so many KBIH in every region of the Ministry of Religion, it is very possible that they may perform the counseling out of their duties and functions as the organizers of the pilgrimage counseling services. In other words, they also perform the duties of the executors of pilgrimage rituals.

Keywords: executors of pilgrimage, KBHI, pilgrimage ritual counseling

I. Pendahuluan

Penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya merupakan kewajiban agama yang merupakan tanggung jawab individu ataupun masyarakat muslim, melainkan merupakan tugas nasional dan menyangkut martabat serta nama baik bangsa oleh karena itu kegiatan penyelenggaraan ibadah haji menjadi tanggung jawab

(2)

Pemerintah. Partisipasi masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem dan menejemen penyelenggaraan ibadah haji.1

Untuk mendukung pelaksanaan haji yang baik dan benar, maka ada beberapa orang atau organisasi-organisasi Islam memberikan pelayanan bimbingan ibadah haji melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji yang lebih dikenal dengan KBIH. KBIH adalah penyelenggara swasta yang merupakan perpanjangan tangan Kementrian Agama sebagai pengemban undang- undangdalam hal memberikan bimbingan manasik haji. Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) adalah lembaga dalam bentuk organisasi yang berbadan hukum dan kedudukannya sebagai mitra kerja pemerintah dalam melakukan pembinaan dan membimbing jamaah haji.Pelayanan bimbingan ibadah haji ini ditujukan untuk melakukan bimbingan kepada khalayak yang ingin melaksanakan ibadah haji, khususnya bagi mereka yang baru pertama kali melaksanakan ibadah haji. Harapan dari adanya pelayanan bimbingan ibadah haji ini adalah terlaksanakannya ibadah haji yang baik.2

Sesuai fungsinya KBIH adalah lembaga yayasan sosial Islam yang pada dasarnya bergerak dibidang manasik haji. KBIH tidak melaksanakan pendaftaran jamaah dan pengaturan kloter serta pemondokan di Arab tidak boleh mengambil living cost.3 Namun dalam prakteknya, jumlah KBIH semakin menjamur dan seiringdengan itu orientasi bisnisnya juga semakin menonjol, sehingga beberapa KBIH secara tidak langsung telah beralih fungsi menjadi marketing bagi penyelenggara ibadah haji khusus dan penyelenggara ibadah umroh dengan memperoleh uang jasa dari hal tersebut. KBIH juga memberikan jasa mulai dari pendaftaran haji hingga pengurusan paspor haji.Permasalahan ini muncul didukung dengan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai ibadah haji, sehingga masyarakat yang tergabung dalam KBIH atas dasar kepercayaanmenyerahkan semua pengurusan kebutuhan terkait pendaftaran ibadah haji kepada KBIH.

1Penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

2Departemen Agama RI, Pedoman Pembinaan KBIH, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Dan Penyelenggaraan Haji Tahun 2003

3Departemen Agama Republik Indonesia, Modul Pembelajaran Manasik Haji, (Jakarta : Penerbit Direktorat Jendral Penyelenggaraan Haji dan Umroh, 2006), hal. 4

(3)

Menurut Pasal 6 huruf i Keputusan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Nomor D/799 Tahun 2013 tentang Operasional Kelompok Bimbingan, yang menyatakan bahwa dalam pelaksanaan bimbingan ibadah haji yang dilakukan oleh pihak KBIH terdapat ketentuan mengenai membuat perjanjian tertulis dengan jamaah haji yang berisi hak dan kewajiban kedua belah pihak.Namun, dalam prakteknya KBIH Hijr Ismail yang bertempat di Kota Medan, tidak menerapkan perjanjian tertulis antara pihak KBIH dengan calon jamaah haji yang dibimbingnya melainkan hanya dalam bentuk formulir pendaftaran terhadap jamaah yang sudah terdaftar sebagai calon jamaah haji di Kemenag. Serta KBIH Hijr Ismail juga menerima pendaftaran haji dengan cara mempermudah jamaah dalam melaksanakan pendaftaran ke Kemenag.

Menjadi hal yang menarik untuk diteliti adalah mengenai akibat dari perjanjian yang tidak tertulis terhadap pengawasan Kemenag terhadap KBIH Hijir Ismail yang melaksanakan bimbingan ibadah haji terhadap jamaah dan mengenai tugas, fungsi KBIH Hijir Ismail dalam pelaksanaan bimbingan ibadah haji di Kota Medan, serta peran pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi yang berkoordinasi langsung dengan Kemenag dan KBIH Hijir Ismail.

Perumusan masalah penelitian ini adalah:

1. Mengapa perjanjian antara KBIH Hijr Ismail dan jamaah tidak tertulis ? 2. Bagaimana permasalahan yang terjadi di KBIH Hijr Ismail terkait

Bimbingan Haji?

3. Bagaimana tanggung jawab Kementrian Agama terkait pengawasan atas bimbingan ibadah haji yang dilakukan oleh KBIH?

Sesuai dengan perumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini ialah :

1. Untuk mengetahui mengapa perjanjian antara KBIH Hijr Ismail dan jamaah tidak tertulis .

2. Untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di KBIH Hijr Ismail.

(4)

3. Untuk mengetahui bagaimana tanggung jawab Kementrian Agama terkait pengawasan atas bimbingan ibadah haji yang dilakukan oleh KBIH.

II. Metode Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan adalah hukum normatif (yuridis normatif). Sumber data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari :

a. Bahan hukum primer,4 yaitu bahan hukum yang mengikat, yaitu : Undang- Undang Nomor 13 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji.

b. Bahan hukum sekunder,5 yaitu bahan hukum yang menjelaskan bahan hukum primer, antara lain berupa tulisan atau pendapat pakar hukum di bidang pelaksanaan ibadah haji.

c. Bahan hukum tertier, yaitu bahan-bahan hukum yang sifatnya penunjang untuk dapat memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti jurnal hukum, jurnal ilmiah, surat kabar, internet serta makalah-makalah yang berkaitan dengan objek penelitian.6 Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah menggunakan : metode yuridis normatif, yaitu penelitian hukum kepustakaan.

Untuk lebih mengembangkan data penelitian ini, dilakukan Analisis secara langsung kepada informan dengan menggunakan pedoman analisis yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.

III. Hasil Penelitian Dan Pembahasan

Kelompok Bimbingan Ibadah Haji atau yang disingkat sebagai KBIH adalah lembaga dalam bentuk organisasi yang berbadan hukum dan kedudukannya sebagai mitra kerja pemerintah dalam melakukan pembinaan dan membimbing jamaah haji. Pelayanan bimbingan ibadah haji ini ditujukan untuk

4Ronny Hanitijo Soemitro, Metodelogi Penelitian Hukum dan Jurimetri, (Jakarta : Penerbit Ghalia Indonesia, 1988), hal. 55.

5Ibid.

6Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitiant Hukum Normatif suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta : Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, 1995), hal. 14.

(5)

melakukan bimbingan kepada khalayak yang ingin melaksanakan ibadah haji, nya bagi mereka yang baru pertama kali melaksanakan ibadah haji.7

Peran serta masyarakat yang melembaga dalam bentuk Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) di dasari oleh Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji menyatakan bahwa dalam rangka pembinaan Ibadah Haji, masyarakat dapat memberikan bimbingan Ibadah Haji, baik dilakukan secara perseorangan maupun dengan membentuk Kelompok Bimbingan. Pengaturan lebih lanjut mengenai Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) diatur dalam peraturan pelaksana Undang-Undang Penyelenggraan Haji yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2012 Tentang Pedoman Operasional Kelompok Bimbingan.

Untuk dapat menjadi anggota manasik KBIH khusunya KBIH Hijr Ismail, calon jamaah wajib mengisi formulir yang telah disediakan dan melengkapi persyaratan yang terdapat di dalam formulir tersebut. Selanjutnya calon jamaah menandatangani formulir pendaftaran yang artinya calon jamaah telah resmi menjadi anggota manasik KBIH dan wajib mengkuti segala ketentuan dalam KBIH. Sebagaimana diketahui bahwa formulir pendaftaran manasik dari KBIH tidak memenuhi persyaratan sebagai perjanjian tertulis, tetapi dengan terpenuhinya syarat sah dari perjanjian dalam Pasal 1320 KUHPerdata, maka antara KBIH dengan jamaah telah melahirkan perjanjian.

Perjanjian antara KBIH Hijr dengan jamaah pada prinsipnya dilakukan dengan cara tidak tertulis atau lisan yang kesepakatannya hanya ditandai melalui penandatanganan formulir pendaftaran anggota manasik KBIH. Perjanjian tersebut memiliki tujuan yang sah dan suatu tujuan yang dipandang sah, kalau tidak melanggar undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan.8

Dalam prakteknya ada beberapa alasan KBIH Hijr Ismail tidak membuat perjanjian tertulis, antara lain dikarenakan khawatir akan dibawa ke ranah hukum, Apabila membuat perjanjian maka resiko pertanggungjawaban nya pun semakin besar. Alasan kedua, lebih praktis dan tidak memerlukan biaya yang besar..

7Departemen Agama RI, Pedoman Pembinaan KBIH, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Dan Penyelenggaraan Haji, 2003.

8 Janus Sidabalok, Pengantar Hukum Ekonomi, Medan, Bima Media, 2000, halaman 83.

(6)

Alasan ketiga, KBIH Hijr Ismail tidak membuat perjanjian dikarenakan faktor kebiasaan mencontoh KBIH lain yang telah lama berdiri. Alasan keempat, didukung oleh rasa kepercayaan yang tinggi dari jamaah terhadap KBIH Hijr Ismail.

Dalam pelaksanaan bimbingan ibadah haji tentunya tidak terlepas dari permasalahan yang dihadapi antara KBIH Hijr Ismail dengan jamaah haji.

Masalah yang timbul ketika jamaah haji melakukan bimbingan haji sebelum berangkat haji atau manasik di tanah air yang dilakukan oleh KBIH Hijr Ismail.

Pertama, keterlambatan pelaksanaan manasik yang dilakukan setelah bulan Syawal, bahkan menjelang bulan pemberangkatan. Keterlambatan manasik haji karena anggaran terlambat turun menunggu pengesahan dari DPR.

Kedua,terjadi keterlambatan pembagian buku manasik yang diberikan menjelang pemberangkatan. Pengadaan buku manasik haji sangat terlambat karena proses tender pengadaan buku manasik yang tersendat. Akibatnya, pembimbing tidak punya waktu yang cukup untuk menjelaskan ke jamaah materi isi buku manasik.9 Ketiga, Terlalu kecil nominal anggaran pembinaan manasik dalam satu kali kegiatan manasik.

Masalah tersebut masih terjadi karena tingginya jumlah jamaah yang ingin melaksanakan haji tidak sesuai dengan kemampuan para pihak dalam hal ini KBIH Hijr Ismail melaksanakan pelaksanaan bimbingan haji didukung lagi karena belum ada aturan yang jelas mengenai posisi KBIH dalam melaksanakan haji jadi KBIH berusaha melakukan semampunya dan umumnya para jamaah hanya bisa memaklumi apabila terjadi hal yang tidak sesuai dengan keinginan.10

Maka dari itu diperlukan pengawasan oleh pemerintah terkait pelaksanaan bimbingan ibadah haji Ketika sebelum keberangkatan ibadah haji yaitu Manasik Haji.Kementrian membentuk (KPHI) Komisi Pengawas Haji Indonesia,sesuai dengan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 13 tahun 2008 tentang penyelenggaraan ibdah haji dan umroh menyatakan bahwa KPHI dibentuk. Tanggung jawab Kementerian Agama terhadap pelaksanaan haji menurut Undang-Undang Nomor

H/2014.

2017.

9 Laporan Hasil Pengawasan Penyelenggaraa Ibadah Haji di Arab Saudi Tahun 1435

10 Hasil Wawancara, Jaleddin Daud, Ketua KBIH Hijr Ismail, pada tanggal 01 Maret

(7)

13 tahun 2008 tentang Penyelengaraan Ibadah Haji adalah Kementerian Agama membentuk KPHI untuk melakukan pengawasan dalam rangka meningkatkan pelayanan Penyelenggaraan Ibadah Haji Indonesia dan KPHI bertanggung jawab kepada Presiden dan wajib melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya secara tertulis kepada Presiden dan DPR paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.

Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Kemenag pada pelaksanaan haji tiap tahun, Kemenag menemukan beberapa hal yang perlu dibenahi yang berkaitan dengan bimbingan manasik haji di tanah air serta permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan manasik haji.11

Kemudian pengawasan Kemenag terhadap KBIH, hanya berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan oleh KBIH dalam pelaksanaan bimbingan terhadap jamaah haji.sehingga tindak pengawasan oleh pihak Kemenag belum maksimal dan KBIH seharusnya tidak diwajibkan menjalankan tugas dan fungsinya sebelum memperoleh izin operasional dari pihak Kemenag.Karena dengan tidak adanya izin operasional dapat menyebabkan tidak adanya akibat hukum yang diperoleh pihak KBIH.

Dalam prakteknya KBIH juga menerima pendaftaran ibadah haji dengan maksud membantu calon jamaah haji dalam proses administrasi. Jadi pihak KBIH terus mendampingi calon jamaah dalam setiap proses administrasi pendaftaran ibadah haji, agar jamaah terima bersih datang tinggal foto dan tanda tangan saja.

Semua yang berkaitan dengan keperluan jamaah telah disediakan oleh pihak KBIH sehingga, jamaah merasa puas dengan pelayanan KBIH dari proses administrasi hingga manasik haji itu semua merupakan service KBIH terhadap jamaahnya. Maksud tersebut secara tidak langsung pihak KBIH telah keluar dari tugas dan fungsinya sebagai KBIH, dan telah melakukan tugas dari penyelenggara Ibadah Haji.Pengaturan tentang KBIH juga memang tidak mengatakan dengan jelas mengenai larangan membantu jamaah sehingga adanya tumpang tindih tugas dan fungsi dari KBIH sebagai pembimbing ibadah haji di tanah air.

Disinilah pentingnya pengawasan dan sanksi yang diberikan oleh pemerintah dalam pelaksanaan ibadah haji dari mulai manasik, pelaksanaan

11Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI), Laporan Hasil Pengawasan Penyelenggaraa Ibadah Haji di Arab Saudi Tahun 1435 H/2014, www.kphi.go.id

(8)

ibadah dan setelah pelaksanaan ibadah haji, agar setiap masalah begitu adanya laporan baru diketahui bahwa adanya masalah. Kemenag menetapkan sanksi bagi KBIH yang melanggar peraturan sesuai dengan Pasal 12, Keputusan Direktur Jendral Penyelenggaraan Haji dan Umroh Nomor D/799 Tahun 2013 tentang Pedoman Operasional Kelompok Bimbingan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh, dengan sanksi yaitu peringatan tertulis; pembekuan izin; dan pencabutan izin.

IV. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

1. KBIH Hijr Ismail tidak membuat perjanjian tertulis dikarenakan beberapa alasan antara lain karena tidak memiliki resiko pertanggungjawaban yang besar. Alasan Kedua, lebih praktis dan tidak memerlukan biaya yang besar.

Alasan ketiga, KBIH Hijr Isma tidak membuat perjanjian dikarenakan faktor kebiasaan mencontoh KBIH lain yang telah lama berdiri. Alasan keempat, didukung oleh rasa kepercayaan yang tinggi dari jamaah terhadap KBIH Hijr Ismail.

2. Permasalahan yang terjadi dalam Pelaksanaan Bimbingan Haji antara KBIH Hijr Ismail dengan Jamaah Haji adalah keterlambatan manasik, anggaran terlambat turun menunggu pengesahan dari DPR, terjadi keterlambatan pembagian buku manasik yang diberikan menjelang pemberangkatan dan terlalu kecil nominal anggaran pembinaan manasik dalam satu kali kegiatan manasik.

3. Tanggung jawab Kementrian Agama terkait pengawasan atas bimbingan ibadah haji yang dilakukan oleh KBIH Hijr Ismail adalah Kementerian membentuk KPHI untuk melakukan pengawasan dalam rangka meningkatkan pelayanan penyelenggaraan ibadah haji Indonesia dan KPHI bertanggung jawab kepada Presiden dan wajib melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya secara tertulis kepada Presiden dan DPR paling sedikit satu kali dalam satu tahun. Pengawasan dilakukan dengan cara melaksanakan pengawasan mulai dari manasik, pelaksanaan ibadah dan setelah pelaksanaan ibadah. Pengawasan Kementerian Agama terhadap KBIH berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan dalam pelaksanaan

(9)

bimbingan ibadah haji, yang diketahui ketika KBIH mengurus izin operasional. Kementerian Agama juga menetapkan sanksi bagi KBIH yang melanggar peraturan yang berupa peringatan tertulis, pemberkuan izin dan pencabutan izin terhadap KBIH.

Saran

1. Adanya peraturan yang mengharuskan untuk membuat perjanjian tertulis antara jamaah dan KBIH secara khusus agar terjaminnya hak dan kewajiban kedua belah pihak secara hukum.

2. Adanya peraturan perundang-undangan yang jelas mengenai pemisahan kedudukan dan kewenangan antara Kementerian Agama dengan Kelompok Bimbingan Ibadah haji dalam pelaksanaan ibadah haji, agar lebih jelas dan tidak terjadi tumpang tindih, serta adanya pengawasan oleh Kementrian Agama tentang penerapan wajibnya membuat suatu perjanjian tertulis antara jamaah dan KBIH.

3. Sebaiknya dalam pelaksanaan manasik haji pihak Kemenag berkoordinasi langsung dengan KBIH, agar manasik haji yang dilakukan dan dijadwalkan oleh pemerintah tidak mubajir dan bermanfaat.

V. DAFTAR PUSTAKA 1. Buku

Departemen Agama RI, Pedoman Pembinaan KBIH, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Dan Penyelenggaraan Haji Tahun 2003.

Departemen Agama Republik Indonesia, Modul Pembelajaran Manasik Haji, (Jakarta : Penerbit Direktorat Jendral Penyelenggaraan Haji dan Umroh, 2006)

Soemitro, Ronny Hanitijo, Metodelogi Penelitian Hukum dan Jurimetri, (Jakarta : Penerbit Ghalia Indonesia, 1988)

Soekanto, Soerjono, dan Sri Mamudi, Penelitiant Hukum Normatif suatu Tinjauan Singkat, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1995.

(10)

Sidabalok, Janus, Pengantar Hukum Ekonomi, Medan, Bima Media, 2000.

2. Peraturan Perundang-undangan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji.

Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2012 Tentang Pedoman Operasional Kelompok Bimbingan.

3. Internet

Komisi Pengawas Haji Indonesia, Laporan Hasil Pengawasan Penyelenggaraa Ibadah Haji di Arab Saudi Tahun 1435 H/2014, www.kphi.go.id.

Referensi

Dokumen terkait

Metode curing, lama curing dan interaksinya berpengaruh sangat nyata terhadap berat daun pandan wangi, kadar air, gula reduksi dan total asam. Metode curing dan

Penelitian ini diharapkan mampu membantu para pembelajar Bahasa Jepang, khususnya di Indonesia, untuk menjelaskan dan memahami persamaan dan perbedaan ~nakerebanaranai,

Sejak AAJI masih bergabung dalam Dewan Asuransi Indonesia hingga sekarang banyak terobosan, inisiatif, dan perkembangan yang telah dilakukan oleh AAJI dalam perjalannnya

Paparan alergen inhalan pada individu yang tersensitisasi merupakan faktor risiko kekambuhan/ eksaserbasi asma, gejala asma persisten dan perubahan fungsi paru yang bermakna

Indeks : D.1.. Berdasarkan Pasal 6 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-23/PJ/2013 tentang Standar Pemeriksaan diatur bahwa Kegiatan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan

bahwa dengan hasil Pengambilan Keputusan sebagaimana huruf d, sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor :

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR 353 TAHUN 2016 TENTANG RUTE DAN PENYELENGGARA ANGKUTAN

Konsep spesies merupakan suatu ide tentang suatu kesatuan (entitas) yang disebut sebagai spesies yang digambarkan dengan kategori spesies, sedangkan kriteria spesies adalah suatu