Working Paper Series No. 1
Jaminan
Penghasilan Dasar Untuk Semua
Eksperimen - Eksperimen Universal Basic Income (UBI) di Dunia
Yanu Endar Prasetyo
No 1, Vol 1, April 2020 Editor: Rinto Andhi S.
Tentang IndoBIG Network
Indonesian Basic Income Guarantee Network atau IndoBIG Network merupakan jejaring intelektual, aktivis, pemerhati, dan periset Universal Basic Income (UBI) pertama di Indonesia. IndoBIG Network berdiri pada tanggal 27 Oktober 2017, ditandai dengan peluncuran www.indobig.net sebagai situs berbahasa Indonesia pertama yang khusus mengupas perkembangan gagasan UBI di tanah air. Jejaring kerja dan ruang lingkup IndoBIG bersifat lokal, nasional, hingga global.
IndoBIG Network terbuka bagi siapa saja yang berminat memperdalam pengetahuan, pengalaman, dan penelitian terkait dengan Basic Income di Indonesia maupun di dunia. Fokus dari IndoBIG Network adalah meninjau upaya-upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia khususnya, dan di negara-negara lain, serta memformulasikan solusi yang relevan dengan tantangan spesifik maupun umum dalam pengentasan kemiskinan, pengangguran, peningkatan kualitas hidup, serta pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Kemajuan teknologi dan revolusi digital sedang dan akan membawa kita pada wajah dunia yang baru dengan tantangan yang semakin berat. Oleh karena itu, mencari model-model penanggulangan kemiskinan yang efektif sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan dan memperkecil jurang ketimpangan yang diakibatkan oleh ketidakadilan pembangunan itu sendiri. Cita-cita IndoBIG Network adalah mengembalikan martabat kemanusiaan, memperjuangkan kemerdekaan individu, serta mengurangi ketimpangan dan kemiskinan melalui Jaminan Penghasilan Dasar Untuk Semua.
Freedom, Dignity & Equality!
Tentang Working Paper Series
Kertas kerja IndoBIG Network ini merupakan ringkasan berbagai topik terkait Jaminan Penghasilan Dasar Universal yang disusun sebagai bahan diskusi dan edukasi publik serta pengembangan wacana UBI secara lebih luas. Kertas kerja IndoBIG Network dapat diunduh secara gratis dalam bentuk .pdf dan dapat didistribusikan secara bebas sepanjang untuk keperluan non komersial. Kertas kerja IndoBIG dapat berisi kumpulan tulisan atau bahasan khusus atas satu isu.
Dalam kertas kerja pertama ini, IndoBIG Network mengupas beberapa pertanyaan umum terkait gagasan UBI dan pembahasan khusus tentang berbagai eksperimen/percobaan implementasi UBI di berbagai negara.
Saran dan masukan untuk kertas kerja ini dapat dialamatkan melalui email:
Kutipan dan sitasi untuk kertas kerja ini:
Prasetyo, Yanu. (2020). ”Jaminan Penghasilan Dasar Untuk Semua: Eksperimen-Eksperimen Universal Basic Income (UBI) di Dunia”, Working Paper Series No. 1, IndoBIG Network, Vol 01, No 1, April 2020
Asbtrak
Jaminan Penghasilan Dasar Untuk Semua atau Universal Basic Income (UBI) menjadi topik hangat yang diperbincangkan di dunia internasional saat ini. Ada dua hal yang mendorong ketertarikan para pemimpin dunia maupun para ahli terhadap konsep ini.
Pertama, kemajuan teknologi – seperti artificial intelligence (AI) – yang diprediksi akan menggantikan pekerjaan rutin, manual, dan bahkan kognitif manusia dalam waktu yang tidak lama lagi. Kedua, munculnya krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang tiba-tiba mengancam sendi-sendi kehidupan ekonomi maupun sosial seluruh bangsa dan negara tanpa kecuali. Bahkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, Italia, termasuk negara-negara Eropa lainnya pun kewahalan dalam mencari solusi menghadapi pandemi ini. Melonjaknya angka pengangguran akibat teknologi dan pandemi ini, tentu saja memperdalam tingkat keparahan kemiskinan yang sebelumnya sudah cukup berat. Oleh karena itu, setiap negara sedang mencari solusi terbaik untuk meredam dampak dua hal tersebut. UBI kemudian muncul menjadi alternatif di tengah-tengah kepanikan ini. Amerika Serikat, Jepang, Hong Kong, Kanada, Korea Selatan dan negara-negara lain bahkan sudah dan sedang mengadopsi kebijakan ini. Sebelum mengupas lebih dekat perkembangan terbaru dalam implementasi UBI ini, ada baiknya kita melihat kembali eksperimen-eksperimen yang pernah ada sebelumnya. Dalam dua Working Paper Series ini (No 1 & 2), IndoBIG Network akan membedah dua pokok tersebut, dimulai dari pengertian UBI dan pro kontra yang mengikutinya, lalu dilanjutkan dengan eksperimen-eksperiman Basic Income yang pernah ada (No 1) dan perkembangan terkini penerapan UBI tersebut di tengah pandemic Covid 19 (No 2).
Daftar Isi
Tentang IndoBIG Network 1
Tentang Working Paper Series 2
Abstrak 3
Daftar Isi 4
Isu-Isu Umum Seputar UBI
Pengertian Universal Basic Income (UBI) 5
Istilah Lain Untuk UBI 6
Para Penggagas UBI 7
Peraih Nobel Pendukung Gagasan UBI 10
Gelombang Ketiga UBI 17
UBI dan Inflasi 19
Pro Kontra UBI 22
UBI di Negara Berkembang 26
Alasan UBI Harus Universal 28
UBI dan Negative Income Tax (NIT) 30
Sumber Pembiayaan UBI 32
Eksperimen – Eksperimen Basic Income di Dunia
Penerapan UBI di Alaska, AS 34
Eksperimen UBI di Madya Pradesh, India 38
Eksperimen UBI di Manitoba, Kanada 42
Eksperimen UBI di Namibia 44
Eksperimen Basic Income di Ontario, Kanada 47
Eksperimen Basic Income di Korea Selatan 49
Eksperimen Basic Income di Finlandia 51
Eksperimen Basic Income di Kenya 53
Indonesia: Dari BLT, PKH, hingga UBI 55
Hambatan Penerapan UBI 60
Daftar Pustaka 62
Tentang Penulis 63
Pengertian Universal Basic Income (UBI)
Merujuk pada hasil Kongres Basic Income Earth Network (BIEN)1, definisi awal UBI adalah sebagai berikut:
“Basic Income is an income unconditionally granted to all on an individual basis, without means test or work
requirement”
Definisi tersebut kemudian diperbaharui2 menjadi:
“Basic Income is a periodic cash payment unconditionally delivered to all on an individual basis, without means test
or work requirement”
Dalam pengertian di atas, melekat lima prinsip penting dari UBI, yaitu:
(1) Tunai. Artinya, UBI dibayarkan dalam bentuk uang tunai yang bisa dijadikan alat pembayaran yang sah dalam sistem ekonomi.
(2) Periodik. Artinya, pembayaran diberikan secara rutin dan berkala (misal setiap bulan).
Dianjurkan UBI diterapkan dalam jangka panjang atau permanen untuk melihat dampaknya secara lebih komprehensif.
(3) individual. Artinya, penerima UBI adalah perorangan, bukan rumah tangga/perwakilan keluarga/kelompok
(4) Tanpa syarat. Artinya, penerima tidak perlu melewati tes/ujian, tidak perlu mengumpulkan persyaratan administratif yang ketat, dan pembayaran tidak mempertimbangkan status sosial ekonomi atau latar belakang lainnya
(5) Universal. Artinya, UBI adalah bagian dari Hak Dasar yang menjadi hak setiap warga negara tanpa kecuali.
1https://basicincome.org/
Istilah Lain Untuk UBI
UBI memiliki sebutan lain yang digunakan secara bergantian atau digunakan dalam konteks tertentu. Meskipun memiliki sebutan berbeda-beda, namun pengertian, prinsip dan penerapannya relatif sama.
• BASIC INCOME GUARANTEE
• BASIC INCOME
• CITIZEN’S INCOME
• CITIZEN’S BASIC INCOME
• INCOME GUARANTEE
• BASIC LIVING STIPEND
• GUARANTEED ANNUAL INCOME
• MINIMUM INCOME
• GUARANTEED MINIMUM INCOME
• UNCONDITIONAL CASH TRANSFER
• FREE MONEY FOR EVERYONE
• HELICOPTER MONEY
• UNIVERSAL DEMOGRANT
• SOCIAL DIVIDEND
• FREEDOM DIVIDEND
• PERMANENT DIVIDEND FUND
• UNIVERSAL ULTRA BASIC INCOME
• BANTUAN (LANGSUNG)TUNAI
• JAMINAN PENGHASILAN DASAR UNIVERSAL
Para Penggagas UBI
Gagasan dan pemikiran tentang UBI ini kembali menemukan momentumnya di tengah perkembangan teknologi dan ancaman pandemi saat ini. Namun demikian, gagasan ini sudah ada sejak abad 15 dan sempat beberapa kali menemukan momentum dan muncul kembali dalam sejarah dunia. Berikut ini adalah sebagian potret ringkas para pemikir, penggagas, dan pendukung gagasan UBI dengan latar belakang dan argumentasi masing-masing sesuai dengan masalah dan tantangan di era-nya.
Sir Thomas More (7 Februari 1478 – 6 Juli 1535). Ia adalah seorang pengacara, pengarang, filsuf, dan statesman Inggris yang bertugas sebagai penasihat Henry VIII. Dalam novelnya yang ditulis dalam Bahasa latin berjudul Utopia3 (1516), Ia menuliskan gagasan tentang pendapatan dasar dan konsep berbagi kekayaan/keuntungan yang dihasilkan dari pengelolaan lahan publik yang yang menjadi milik pribadi. Novel ini mengangkat sebuah mimpi masyarakat Eropa yang serba ideal atau yang kemudian dikenal sebagai masyarakat utopia. Gagasan utopia ini muncul sebagai antitesis atas kekacauan, pergolakan sosial, konflik agama dan krisis ekonomi yang luar biasa pada masa itu.
Thomas Jefferson (13 April 1743 - 4 Juli 1826). Presiden Amerika Serikat ke-3 ini ternyata juga memiliki gagasan yang identik dengan “pemberian cuma-cuma” kepada warga negara. Tepatnya pada saat Ia bertugas sebagai anggota legislatif di negara bagian Virginia (1776-1779). Pada saat itu Ia mengusulkan untuk memberikan lahan seluas 50 hektar kepada individu yang tidak memiliki properti untuk menjamin kelangsungan hidup mereka dan hak mereka sebagai warga negara.
Thomas Paine (1737 – 1809). Ia adalah seorang filsuf keturunan Inggris yang lahir di Amerika dan menjadi salah satu tokoh di era revolusi. Dalam pamflet karangannya berjudul
“Agrarian Justice” 4(1797), Ia memandang bahwa tanah adalah “warisan bersama umat manusia”. Oleh karena itu, setiap tuan tanah/pemilik tanah berkewajiban untuk membayar
“uang sewa tanah” ke dalam “dana nasional.” Pajak tanah ini kemudian akan didistribusikan kembali kepada seluruh warga negara. Setiap warga negara Amerika akan menerima pembayaran tunai setiap bulan dari pajak tanah tersebut pada saat mereka berusia 21 tahun
3http://www.gutenberg.org/files/2130/2130-h/2130-h.htm
4http://www.piketty.pse.ens.fr/files/Paine1795.pdf
dan pembayaran tahunan ketika mereka berumur 50 tahun. Dalam gagasannya, pembayaran itu dianggap sebagai “hak” yang bisa dinikmati oleh warga negara.
Franklin D. Roosevelt (30 Januari 1882 – 12 April 1945). Ia adalah presiden Amerika Serikat ke-32. Dalam pesan tahunannya ke Kongres tertanggal 11 Januari 1944, Ia menyatakan bahwa:
”Kita telah sampai pada pemahaman yang jelas terkait fakta bahwa kebebasan individu sejati itu mustahil ada tanpa jaminan ekonomi dan kemerdekaan. Orang yang kelaparan dan mereka yang kehilangan pekerjaannya adalah hasil dari kediktatoran. Pada zaman kita, kebenaran ekonomi semacam ini telah terbukti dengan sendirinya. Dengan kesadaran itu, Undang-Undang Hak Asasi kedua yang sedang disusun saat ini haruslah didasarkan pada keamanan dan kemakmuran baru yang dapat memayungi semua orang (warga negara).”
Frederich. A. Hayek (8 Mei 1899 – 23 Maret 1992) adalah seorang penerima hadiah Nobel di bidang Ekonomi pada tahun 1974. Ia seorang pemikir “free development” pengkritik otokrasi atau totalitarianisme ekonomi seperti yang dijalankan pemerintahan Fasis Jerman pada masa itu. Meskipun ia seorang libertarian, namun dalam bukunya yang berjudul The Road to Serfdom5 (1944), Ia mendukung konsep pemberian “jaminan pendapatan minimum.” dan mengatakan bahwa:
“Tidak ada keraguan bahwa makanan, tempat penampungan, dan pakaian minimum yang cukup untuk menjaga kesehatan dan kemampuannya untuk bekerja, harus dipastikan dapat diperoleh/disediakan untuk setiap orang.”
Martin Luther King Jr (15 January 1929 – 4 April 1968). Di buku terakhirnya, Where Do We Go from Here: Chaos or Community?6 (1968) ia menyerukan pentingnya jaminan pendapatan dasar ini. Ia menganggap UBI ini bukan sekedar program pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan, melainkan lebih dari itu, ia adalah hak dasar warga sipil untuk mendapat jaminan dari negara atau pemerintah untuk membantu mereka keluar dari lingkaran kemiskinan.
5https://cdn.mises.org/Road%20to%20serfdom.pdf
6https://www.uni-five.com/upload/doc/82818file.pdf
Lyndon B. Johnson (27 Agustus 1908 – 22 January 1973) pernah membentuk sebuah komisi nasional mengenai kemiskinan dan mengadakan dengar pendapat di seluruh Amerika Serikat. Hasil laporan mereka bulat, bahwa:
“Rekomendasi utama kami adalah untuk menciptakan program suplemen pendapatan universal yang dibiayai dan dikelola oleh Pemerintah Federal, melakukan pembayaran tunai kepada semua anggota masyarakat. Pembayaran akan memberikan dasar bagi keluarga atau individu yang membutuhkan.
Hasil pengamatan kami telah meyakinkan kita bahwa orang miskin tidak berbeda dengan yang lain.
Sebagian besar orang miskin mau bekerja. Mereka ingin meningkatkan potensi mereka dan dilatih untuk pekerjaan yang lebih baik. Seperti kebanyakan orang Amerika, orang miskin ingin melakukan sesuatu dengan kehidupan mereka di luar sekedar bertahan. Dengan menyediakan sistem pendukung berupa jaminan pendapatan dasar, kami memberi mereka kesempatan untuk melakukan hal-hal itu.”
Pemerintah Federal AS kemudian melakukan serangkaian percobaan kebijakan jaminan pendapatan dasar ini di New Jersey, Denver, Seattle, dan beberapa lokasi lainnya. Sekitar 8.500 keluarga menerima bantuan tunai antara tahun 1968 dan 1975.
Tabel 1. Beberapa Eksperiman Basic Income di AS sejak 1968 sampai sekarang
Negara
Bagian Tahun Jumlah
Penerima Universal Jangka
Panjang Kebutuhan
Dasar RCT*
New Jersey 1968-1972 1.216 X X V V
Seattle &
Denver 1970-1980 4.800 X X V V
Iowa &
North Carolina
1970-1972 809 X X V V
Gary,
Indiana 1971-1974 1.799 X X V V
Alaska 1982-sekarang Seluruh
Warga V V X X
* Randomized Control Trial
Alaska, sebuah negara bagian di AS, juga telah menerapkan jaminan pendapatan dasar sejak tahun 1982 sampai sekarang. Meskipun jumlahnya kecil, namun setiap penduduk mendapat cek tahunan yang berasal dari royalti tambang minyak bumi. Jumlahnya berkisar antara
$ 1.000 dan $ 2.000, tergantung pada harga minyak dan faktor lainnya. Manfaat program telah terdokumentasi dengan baik. Aktivis UBI di seluruh dunia pun menjadikan Alaska sebagai salah satu referensi untuk penerapan UBI.
Peraih Hadiah Nobel Pendukung UBI
Disamping para tokoh penggagas yang pernah muncul dalam sejarah di atas, terdapat deretan tokoh penerima hadiah Nobel ekonomi dan Nobel perdamaian yang mendukung gagasan UBI ini. Berikut adalah daftar nama tokoh dan pandangan ringkas mereka terhadap gagasan UBI:
Martin Luther King Jr. (Penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1964.
(Baca keterangan tentang MLK di halaman sebelumnya).
Paul Samuelsen (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1970).
Pada musim semi 1968, sebuah petisi dikeluarkan dan ditandatangani oleh lebih dari seribu ekonom, termasuk di dalamnya Paul Samuelson (ekonom dari MIT), yang menyerukan agar Kongres AS mengadopsi sebuah sistem jaminan pendapatan dalam bentuk Rencana Bantuan Keluarga (Family Assistance Plan/FAP). FAP ini merupakan sebuah program kesejahteraan sosial skala besar yang disiapkan oleh senator demokrat, Daniel Patrick Moynihan (1927-2003), atas nama pemerintahan Presiden Richard Nixon7 (Republikan).
FAP memberikan penghapusan program bantuan yang menargetkan keluarga miskin dan memasukkan jaminan pendapatan untuk pekerja yang mendekati skema pajak pendapatan negatif (Negativa Income Tax/NIT). Gagasan ini diumumkan kepada publik oleh Presiden Nixon pada bulan Agustus 1969, diadopsi pada bulan April 1970 oleh mayoritas besar di Dewan Perwakilan Rakyat AS namun kemudian ditolak oleh Komisi Senat AS pada tahun 1972.
Friedrich Hayek (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1974).
Dalam bukunya berjudul “Law, Legislation, and Liberty (Volume 3): The Political Order of Free People“, Hayek mengungkapkan pentingnya pembayaran Jaminan Penghasilan Dasar (a certain minimum income for everyone) ini sebagai bagian penting dalam kehidupan sebuah masyarakat yang besar dan maju (great society).
7https://www.jacobinmag.com/2016/05/richard-nixon-ubi-basic-income-welfare/
Milton Friedman (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1976).
Ekonom Amerika dan tokoh libertarian terkemuka, Milton Friedman, menganjurkan skema jaminan penghasilan dasar dalam bentuk pajak penghasilan negatif (Negative Income Tax/NIT) dalam bukunya Capitalism and Freedom (1962) dan buku lainnya berjudul Free to Choose (1980).
James Meade (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1977).
Ekonom Inggris ini menguraikan sistem dividen sosial yang kemudian disebutnya sebagai
“sosialisme liberal”. Meade mengadvokasi pembalikan proses nasionalisasi Inggris dalam periode pasca-Perang Dunia Kedua, di mana industri Inggris banyak yang dinasionalisasi, dimiliki serta dikontrol oleh negara. Dalam model pengaturan dividen sosial tersebut, negara akan bertindak sebagai pemegang saham yang menerima pendapatan residual dari perusahaan milik negara yang hasilnya akan digunakan untuk membiayai dividen sosial. Manfaat utama dari sistem Meade adalah pemisahan manajemen mikro pemerintah dari manajemen perusahaan, pasar tenaga kerja yang fleksibel, dan dividen yang dibagikan secara luas dianggap akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di antara penduduk.
James Tobin (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1981).
Ekonom Yale, peraih Nobel dan bapak proposal “Pajak Tobin”, ini adalah satu di antara akademisi pertama yang menerbitkan makalah teknis tentang pajak penghasilan negatif (NIT) pada akhir dekade enam puluhan. Dia memilih varian pajak penghasilan negatif yang kemudian disebutnya sebagai demogran. Ia pun memberikan saran kepada George McGovern untuk memakai platform ini dalam pemilihan presiden AS tahun 1972. Ia pertama kali tertarik pada penghasilan dasar atau demogran pada 1965 ketika berusaha menulis artikel untuk jurnal Daedalus tentang Peningkatan Status Ekonomi kelompok kulit hitam yang kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 1966. Salah satu gagasan utama dalam proposal demogran Tobin ini adalah pemberian jaminan pendapatan universal sebesar $300 untuk setiap warga negara Amerika.
George Stigler (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1982).
Dalam ilmu ekonomi, Stigler terkenal karena mengembangkan Teori Ekonomi Regulasi, yang mengatakan bahwa kelompok-kelompok kepentingan dan para politisi akan menggunakan kekuatan regulasi dan paksaan pemerintah untuk membentuk undang-undang atau peraturan yang menguntungkan bagi kelompok mereka. Di University of Chicago, ia sangat dipengaruhi oleh Frank Knight, supervisor disertasinya, dan Milton Friedman, sahabatnya selama lebih dari 60 tahun. Stigler merupakan satu dari empat mahasiswa yang berhasil lulus menjadi doktor di bawah bimbingan Knight (dalam 28 tahun keberadaan Knight di Chicago, hanya
empat mahasiswa yang berhasil lulus dibawah bimbingannya). Bersama sahabatnya ini pula (Friedman), Stigler meletakkan pondasi untuk kebijakan pajak penghasilan negatif (NIT) yang dianggap sebagai bentuk lain dari UBI.
Herbert Simon (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1978).
Dalam sebuah artikel yang ditulisnya untuk Boston Review 8 (2000), Herbert Simon menunjukkan bahwa Ia adalah salah satu pendukung gagasan Universal Basic Income (UBI). Ia mengatakan bahwa Ia sangat setuju dengan argumen Philippe Van Parijs – salah satu pemikir UBI kontemporer – tentang UBI atau “warisan” dimana sebagian dari produk masyarakat harus dibagikan kepada semua orang yang tinggal di masyarakat itu. Menetapkan dana warisan semacam itu sama dengan mengakui kepemilikan bersama atas sebagian besar sumber daya fisik dan intelektual, yang memungkinkan masyarakat memproduksi apa yang telah dan mampu dihasilkannya.
Desmond Tutu (Penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1984).
Pada Kongres Basic Income Eearth Network (BIEN) ke 11 tahun 2006 di Afrika Selatan, Desmond Tutu menunjukkan dukungan yang sangat kuat untuk gerakan UBI di seluruh dunia sebagai upaya untuk mengembalikan martabat dan kesejahteraan umat manusia secara inklusif.
Robert Solow (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1987).
Dalam sebuah wawancara bersama Paul Krugman (sesama penerima hadiah Nobel) pada tahun 2015, Robert Solow menjelaskan bahwa mengapa ia juga menyukai universalitas yang ditawarkan UBI daripada program-program pemberian bersyarat lainnya yang umum diterapkan dalam pengentasan kemiskinan.
James Mirrlees (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1996).
Mirrlees memelopori studi tentang pajak penghasilan dan menjadi orang pertama yang memperoleh teori tentang bagaimana pendapatan tenaga kerja harus dikenakan pajak jika tujuannya adalah untuk memaksimalkan fungsi kesejahteraan sosial. Ciri dari pendekatannya
8 http://bostonreview.net/forum/basic-income-all/herbert-simon-ubi-and-flat-tax
adalah bahwa pajak tidak harus linier, yang berarti bahwa tingkat pendapatan yang berbeda dapat dikenakan pajak pada tingkat yang berbeda pula.
Oleh karena itu, menurut Ghatak & Maniquet (2019), skema perpajakan Mirrlees yang optimal tak lain adalah skema UBI dimana semua individu yang tidak bekerja menerima jumlah transfer yang sama (−τ (0)), dan semua individu yang berpenghasilan (> 0) akan lebih memilih pendapatan mereka dibanding UBI. Skema perpajakan optimal dari Mirrlees ini berasal dari asumsi bahwa; pertama, semua individu memiliki preferensi yang sama dan, kedua, tidak ada perangkat seleksi yang memungkinkan pembuat kebijakan untuk membuat penghasilan dasar tergantung pada kemampuan seseorang untuk menghasilkan pendapatan (conditionality).
Daniel McFadden (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi Tahun 2000).
Pada tahun 2017, beberapa ekonom pemenang hadiah Nobel berpartisipasi dalam pertemuan Lindau ke-6 tentang ilmu ekonomi di Jerman. Selama diskusi panel, Daniel McFadden menjelaskan bagaimana peran Kasino di komunitas asli Amerika di sepanjang Rio Grande yang telah memungkinkan mereka untuk memberikan penghasilan dasar kepada orang miskin di sekitarnya dan betapa sistem yang sederhana itu telah berhasil mengejutkan banyak pihak:
“Banyak ekonom akan berpikir itu (pembayaran UBI) bukan hal yang baik untuk dilakukan, tetapi yang terjadi adalah tingkat kekerasan pada anak turun secara drastis, kekerasan dalam rumah tangga turun secara drastis, kejahatan menurun. Memberikan uang kepada orang miskin adalah hal yang bermanfaat. Kadang-kadang, jenis transfer yang paling sederhana pun, dapat memutus siklus kemiskinan ini.”
Vernon Smith (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2002). Dalam sebuah artikel 2017 yang diterbitkan di The Wall Street Journal, Vernon Smith menulis sebuah artikel berjudul “Trump’s Best Deal Ever: Privatizes the Interstates”. Di dalam tulisannya tersebut, ia mengangkat persoalan UBI sebagai berikut:
“Anda bisa menggunakan uang dari penjualan jalan raya dan tanah untuk memberi manfaat bagi semua orang Amerika dengan menciptakan Dana Abadi Warga yang baru lalu berinvestasi dalam saham, obligasi, dan real estate di seluruh dunia. Setiap warga negara akan memiliki bagian yang sama besar dengan dividen tahunan dibayarkan secara tunai. Dengan pembangunan jalan raya yang lebih baik, lebih banyak lahan untuk pengembangan produktif, ditambah dana permanen yang dikirim langsung ke setiap warga negara, maka Anda (Trump) mungkin akan mampu mendapatkan suara dari kelompok progresif. Jika Anda pikir itu kue di langit, tanyakan Alaska. Alaska Permanent Fund, yang dimulai pada tahun 1976 untuk mendistribusikan pendapatan minyak, memiliki nilai pasar yang saya perkirakan sebesar $ 72.000 untuk setiap warga negara Alaska. Dividen tahunan dimulai pada tahun
1982, ketika perusahaan publik yang mengelola dana memotong cek pertama sebesar $ 1.000. Tidak mengherankan bahwa Alaska adalah yang kedua di antara semua negara bagian dalam kesetaraan pendapatan. Setelah jalan raya, jembatan, dan areal federal, proyek Anda berikutnya adalah mulai melelang semua hak sumber daya mineral, minyak dan gas AS untuk disetor ke Dana Abadi Warga tersebut. Aset ini juga milik rakyat, bukan milik pemerintah. ”
Muhammad Yunus (Penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006). Dalam sebuah wawancara dengan Hindu BusinessLine9 (2018), Muhammad Yunus, ekonom dan pendiri Grameen Bank, mengatakan bahwa akibat lahirnya kecerdasan buatan (AI), sekarang adalah saat yang paling tepat untuk memperkenalkan UBI.
“Bagi saya AI adalah teknologi yang paling berbahaya. Sementara kita sangat gembira dengan semua yang AI dapat capai untuk membuat hidup kita lebih indah, pada saat yang sama ribuan orang akan kehilangan pekerjaan mereka karena diambil alih oleh mesin. AI sekarang berada pada tahap di mana ia dapat menimbulkan kekacauan, dimulai dengan mobil otonom yang akan membuat ribuan pengemudi kehilangan pekerjaannya. Manusia pada dasarnya adalah wirausahawan, pengambil keputusan, pemecah masalah, petani, pemburu, pengumpul, itulah yang dikatakan sejarah kepada kita. Tetapi, entah bagaimana teori ekonomi meyakinkan kita bahwa satu-satunya hal yang dapat kita lakukan untuk bertahan hidup adalah mencari pekerjaan. Sistem Pendidikan berorientasi pada pekerjaan di mana Universitas dengan bangga mengatakan bahwa mereka menghasilkan orang-orang yang ‘siap kerja’.
Mereka kini harus menciptakan anak-anak muda ‘siap hidup’ yang tahu apa arti dan tujuan hidup ini?
Mengapa membiarkan beberapa orang yang memiliki uang mempekerjakan Anda untuk menghasilkan uang? Kita semua telah menjadi tentara bayaran dari seluruh sistem. Kenapa kita harus dan mau menjadi tentara bayaran itu?“
Peter Diamond (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2010).
Dalam wawancara dengan Steve Schifferes tahun 201710, Peter Diamond mengatakan bahwa dia sekarang lebih menyetujui UBI karena meningkatnya ketimpangan dan ketidaksetaraan adalah masalah serius yang harus dihadapi. Diamond percaya bahwa perdebatan tentang ketidaksetaraan dapat membantu memfokuskan diskusi tentang kegagalan kebijakan: mulai dari kurangnya investasi dalam pendidikan, penelitian dan infrastruktur, hingga kegagalan untuk memberi kompensasi kepada mereka yang menanggung biaya globalisasi melalui kehilangan pekerjaan di industri-industri besar. Dia juga berpendapat bahwa transfer tunai
9 https://www.thehindubusinessline.com/news/variety/ai-is-the-most-dangerous-tech-stringent-user-norms-needed/article24314232.ece
10 https://theconversation.com/how-inequality-became-the-big-issue-troubling-the-worlds-top-economists-83171
secara langsung, akan memberi manfaat pada setiap orang, terutama bagi mereka yang memiliki anak dan UBI itu sendiri akan membantu mengatasi kemiskinan.
Christopher Pissarides (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2010).
Dalam diskusi panel di Forum Ekonomi Dunia 2016 di Davos, Christopher Pissarides menyatakan pentingnya UBI sebagai sebuah sistem redistribusi ekonomi yang baru:
“Ketika kue ekonomi semakin besar, tidak ada jaminan bahwa semua orang akan mendapat manfaat dari itu jika kita membiarkan pasar bekerja sendirian. Bahkan, tidak ada satu pun orang yang akan mendapat manfaat jika kita membiarkan sistem pasar berjalan sendirian. Jadi, kita perlu mengembangkan sistem redistribusi baru, kebijakan baru yang akan meredistribusi kekayaan tersebut kepada mereka yang tertinggal (left-behind) akibat sistem pasar bebas saat ini. Sekarang, memiliki pendapatan minimum universal adalah salah satu dari cara-cara itu, dan saya sangat mendukung gagasan itu”
Angus Deaton (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2015).
Pada sebuah forum di Taipei International Convention Center11 pada tahun 2016, Angus Deaton mengatakan bahwa;
“pemerintah harus menjaga orang-orang dengan pendapatan rendah dan harus mendorong hibah pendapatan dasar,” dan bahwa “hibah pendapatan dasar memberi setiap orang saham di negara mereka”.
Abhijit Banerjee (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2019).
Setelah berkomitmen untuk membantu mengawal eksperimen UBI GiveDirectly di Kenya selama 12 tahun, Abhijit Banerjee menulis pernyataan berikut ini dalam sebuah artikel di Indian Express12 untuk mendukung UBI:
11http://www.taipeitimes.com/News/biz/archives/2016/05/19/2003646566
12https://indianexpress.com/article/opinion/columns/swiss-voted-against-the-idea-of-a-universal-basic-income-but-the-debate-continues- 2859528/
“Ini adalah ide lama, kembali setidaknya ke tahun 1970-an, ketika gagasan ini mendapat dukungan baik dari libertarian sayap kanan seperti Milton Friedman dan Keynesian kiri tengah seperti John Kenneth Galbraith. Bagi orang-orang di sebelah kanan, daya tariknya adalah dua kali lipat: Pertama, tanpa syarat, artinya ini tidak menciptakan disinsentif langsung bagi mereka yang ingin bekerja lebih banyak dan hidup lebih baik. Kedua, dengan membiarkan orang punya uang dan memutuskan apa yang ingin mereka lakukan dengan uang itu, ia menjauh dari model ‘negara pengasuh’ yang dibenci oleh begitu banyak libertarian.
Di sebelah kiri, dukungan datang dari pengertian bahwa UBI membuat standar minimum hidup sebagai hak dasar rakyat. Ini adalah sesuatu yang secara pribadi saya temukan sangat menarik: Jika Anda memikirkan ibu (atau ayah) yang tinggal di rumah untuk merawat anak-anak, tidak jelas mengapa kita selama ini menganggap mereka tidak melakukan apa-apa, padahal mereka telah mengorbankan dirinya untuk melakukan salah satu pekerjaan paling penting di tengah masyarakat.
Tetapi, sebelum kita sampai di sana (jika kita benar-benar ingin menerapkan UBI), ada pertanyaan apakah sistem kesejahteraan yang saat ini yang demikian beragam (uang, makanan, perumahan, perjalanan, pendidikan, perawatan kesehatan), dengan prioritas dan target mereka sendiri (muda atau tua, ibu atau anak, miskin atau miskin) masuk akal?
Mengapa kita tidak memiliki satu subsidi dasar universal yang mencakup semuanya (mungkin kecuali kesehatan dan pendidikan) dan biarkan orang memutuskan bagaimana mereka akan membelanjakannya?
Daripada mencoba menargetkan subsidi berdasarkan pada pengetahuan kita yang tidak sempurna tentang apa yang dibutuhkan dan pantas bagi masyarakat itu sendiri “
Esther Duflo (Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2019).
Dalam sebuah wawancara dengan Business Today13 , tak lama setelah ia dianugerahi hadiah Nobel ekonomi, Esther Duflo mengatakan hal berikut dalam mendukung UBI:
“(UBI) Ini bukan hanya tentang pengeluaran publik, itu juga soal meningkatkan efektivitasnya.
Penghasilan Dasar Universal menarik sebagai konsep, dan bisa dicoba. Jika Anda miskin, Anda selalu dekat dengan bencana. Jadi Anda sangat enggan untuk melakukan kegiatan berisiko. Dan karena Anda tidak berani melakukan kegiatan berisiko, Anda kurang produktif. Jadi, penghasilan dasar yang dilakukan adalah memberi orang kepastian. Keamanan semacam itu, saya pikir, akan memberi orang kepercayaan diri untuk melakukan hal-hal baru untuk meningkatkan kehidupan mereka. Saya pikir kita harus mencobanya dan bereksperimen, ini mungkin akan berhasil“.
13https://www.businesstoday.in/current/economy-politics/corporate-tax-cut-no-answer-india-economic-ills-nobel-laureate-esther- duflo/story/387236.html
Gelombang Ketiga UBI
Sudah menjadi kewajaran jika ada kelompok yang pesimis dan optimis atau pro dan kontra terhadap gagasan UBI ini. Kelompok pesimis tentu memiliki argumen bahwa UBI tidak relevan untuk dijalankan karena akan menyebabkan orang menjadi malas bekerja dan tidak memiliki motivasi. Sebaliknya, kalangan optimis justru berpendapat bahwa UBI akan mendorong lebih banyak kreativitas karena setiap orang memiliki kebebasan dan peluang yang sama. Kalangan pesimistik tentu meragukan bahwa UBI mampu mengentaskan kemiskinan. Malah sebaliknya, ia justru dianggap mempertebal “mental miskin” yang selama ini sudah berkembang dalam budaya masyarakat kelompok miskin. Bertolak belakang dari itu, kelompok optimistik dengan telak mengatakan bahwa uang mampu memberdayakan orang miskin. Argumen mereka, kemiskinan itu bukan soal mentalitas atau karakter saja, kemiskinan adalah ketiadaan uang tunai (lack of cash) (Bregman, 2017)
Kalangan optimistik percaya bahwa orang miskin juga mampu mengelola keuangannya sendiri dan keluar dari lingkaran kemiskinan dengan caranya sendiri. Perdebatan di atas tentu tidak akan pernah berakhir. Oleh karena itu, satu-satunya cara adalah dengan memperbanyak studi lapangan atau kajian empiris terhadap penerapan UBI ini. Meningkatnya minat ilmuwan, aktivis, dan pemerintah terhadap peluang penerapan UBI ini semakin pesat dalam sepuluh tahun terakhir. Karl Widerquist menyebut tren ini sebagai gelombang UBI ketiga14.
Wacana tentang UBI ini pernah menarik perhatian secara global pada tahun 1910-1940an, 1960-1970an, dan kini, setelah tahun 2010an, UBI kembali mendapatkan perhatian dan dukungan yang jauh lebih besar daripada dua periode sebelumnya itu.
Meningkatnya perhatian pada konsep dan penerapan UBI ini tidak terlepas dari konteks sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi dunia saat ini. Ketimpangan ekonomi yang semakin tinggi antara orang miskin dan kaya bukan hanya meluas di negara berkembang, tetapi juga semakin tinggi di negara maju seperti Amerika Serikat. Bahkan mantan presiden AS, Barack Obama, memprediksi AS akan menerapkan UBI pada sepuluh atau dua puluh tahun mendatang15.
Kondisi lain yang mendukung perkembangan UBI adalah kemajuan teknologi (otomasi) yang mengkhawatirkan banyak negara. Hal ini terkait dengan kekhawatiran akan digantikannya banyak pekerjaan manusia oleh robot. Bukan hanya negara dan masyarakatnya yang khawatir akan masa depan pekerjaan, melainkan juga para kapitalis dan perusahaan-perusahaan juga mengkhawatirkan stabilitas ekonomi di masa mendatang ketika jutaan orang kehilangan
14 https://www.opendemocracy.net/en/beyond-trafficking-and-slavery/basic-income-s-third-wave/
15https://www.wired.com/2016/10/president-obama-mit-joi-ito-interview/
pekerjaan dan penghasilannya. Dalam istilah lain, kemajuan teknologi yang demikian pesat diprediksi akan menelan sistem ekonomi kapitalis yang saat ini dominan di seluruh dunia.
Banyak aktivis, politisi, akademia dan pemerintah pada level lokal dan regional mulai mengadopsi dan bergabung dalam jejaring global UBI, salah satunya adalah Basic Income Earth Network (BIEN), yang memiliki afiliasi cukup besar dari berbagai negara di dunia.
Mereka juga menyelenggarakan konferensi ilmiah secara rutin, menerbitkan publikasi ilmiah, mengembangkan pilot project, serta bertukar ide-ide tentang UBI secara lebih spesifik sesuai dengan karakter negara masing-masing. Pada gelombang ini, semua pihak berlomba untuk menyusun dan mengevaluasi skema UBI yang mereka usulkan secara empirik. Hal ini pula yang melatarbelakangi kehadiran IndoBIG Network sebagai jejaring bagi mereka yang berminat mendalami UBI dan menyusun proposal penerapannya di Indonesia.
Di awal tahun 2020 ini, gagasan UBI ini semakin cepat meluas ke berbagai negara di seluruh dunia, baik di negara maju maupun berkemabng, dimana pandemi Covid-19 telah menjadi musuh bersama yang jauh lebih mengerikan dibanding otomatisasi. Kebijakan lock down dan pembatasan sosial yang luas menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba dan untuk jangka waktu yang tidak pasti. Kondisi ketakutan dan ketidakpastian ini akhirnya mendorong gagasan UBI tidak hanya relevan, namun juga menjadi pilihan terbaik untuk menjaga keberlangsungan ekonomi, kemanusiaan dan peradaban manusia itu sendiri.
UBI dan Inflasi
Tim peneliti dari Universitas Oxford16 merilis hasil survey mereka terhadap ahli-ahli Artificial Intelligence (AI) dunia yang memprediksikan bahwa 50% tugas dan pekerjaan manusia akan dapat digantikan oleh AI dalam 45 tahun mendatang. Bahkan, seluruh pekerjaan manusia diprediksi dapat diautomatisasi dalam 120 tahun mendatang. Responden ahli dari Asia memprediksi bahwa hal itu akan berlangsung lebih cepat dari para ahli di Amerika Utara. Apa artinya? Bukan saja AI menjanjikan pekerjaan manusia lebih ringan, akan tetapi juga memunculkan konsekuensi pekerjaan manusia yang hilang dan tergantikan oleh mesin. Hal inilah pula yang melatarbelakangi banyak pakar mulai mendorong penerapan UBI.
Namun demikian, sebagian pihak meragukan bahwa UBI adalah solusi terbaik bagi masa depan ekonomi dunia. Secara mikro, memberikan uang secara cuma- cuma kepada warga negara dianggap menyebabkan kemalasan dan menurunkan produktivitas negara tersebut. Tetapi hasil eksperiman Presiden Richard Nixon (AS) pada tahun 1968 justru menunjukkan hal sebaliknya. Pemberian uang tambahan hanya memiliki dampak kecil terhadap jam kerja para pernerima. Mereka yang mengurangi jam kerjanya karena menerima UBI justru dapat memanfaatkan waktunya untuk kegiatan sosial yang bernilai. Anak-anak muda yang menganggur tetapi mendapat uang juga menghabiskan lebih banyak waktunya untuk menempuh pendidikan. Hal yang sama juga terjadi di eksperimen Kanada, dimana angka kelulusan SMA juga ikut meningkat dengan pemberian Basic Income.
Mendistribusikan uang tunai secara langsung kepada seluruh sebenarnya populasi jauh lebih efisien dan murah dibandingkan dengan model-model jaminan sosial yang dilakukan oleh pemerintah saat ini. Contohnya, jika anggaran jaminan sosial di Inggris apabila dibagi kepada sekitar 50 juta penduduk dewasanya, maka masing-masing akan mendapatkan 5.160 poundsterling per tahun. Lebih sederhana, mudah, dan tepat sasaran dengan biaya proses dan administrasi yang lebih efisien. Akan tetapi, perhitungan ekonomi modern akan jauh lebih rumit dari itu. Kenaikan pajak dan inflasi menjadi hantu yang dikhawatirkan dengan disebarkannya uang tunai langsung kepada masyarakat.
Joseph Stiglitz 17, penerima hadiah Nobel ekonomi dan mantan vice president Bank Dunia, menjelaskan bahwa;
“Ketika pemerintah mengeluarkan lebih banyak uang dan menginvestasikannya ke dalam ekonomi, uang tersebut akan berputar terus menerus. Jadi, (uang/pengeluaran pemerintah itu) tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dalam jumlah yang berlipat”
16https://nickbostrom.com/papers/survey.pdf
17https://basicincome.org/news/2017/11/ellen-brown-fund-universal-basic-income-without-increasing-taxes-inflation/
Hasilnya adalah ekonomi diprediksi akan tumbuh oleh kelipatan dari pengeluaran awal dan keuangan publik menjadi lebih kuat. Seiring pertumbuhan ekonomi, pendapatan fiskal meningkat. Tuntutan kepada pemerintah untuk membayar tunjangan sosial atau mendanai program sosial ikut menurun. Karena pendapatan pajak naik sebagai akibat pertumbuhan, dan menurunnya pengeluaran, posisi fiskal pemerintah akan menguat.
Ellen Brown18, pendiri Public Banking Institute, menjelaskan dengan panjang lebar prediksi diatas. Lebih lanjut ia menerangkan, sebagaimana juga dijelaskan oleh Stiglitz, bahwa uang yang dikeluarkan pemerintah akan kembali dengan mudah melalui kenaikan pendapatan fiskal yang dihasilkan oleh perputaran UBI itu sendiri. Ini semua tergantung dengan apa yang disebut sebagai “velocity of money”19.
Sebuah formula dari Prof. John Harvey menunjukkan bahwa pertumbuhan uang tidak akan menyebabkan inflasi. Teori ekonomi yang ada selama ini mempercayai bahwa penambahan uang adalah biang penyebab inflasi. Keyakinan tersebut tertuang dalam persamaan “MV = Py” yang berarti ketika velocity of money (V) dan jumlah produk/barang yang terjual (y) konstan, maka penambahan uang (M) akan mendorong kenaikan harga (P). Namun, Prof. Harvey membatah teori ini.
Menurutnya, V dan y tidaklah konstan. Ketika seseorang memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan (M), maka kelebihan uang tersebut akan mengubah V dan akan lebih banyak barang serta jasa yang ikut terjual (y). Permintaan dan penawaran akan meningkat bersama-sama dan menjaga harga tetap stabil. JIka permintaan (uang) tidak meningkat, maka penawaran atau pertumbuhan juga tidak akan meningkat. Oleh karena itu, setiap permintaan baru akan membutuhkan penawaran baru, dan uang itu harus ada diluar sana untuk menciptakan permintaan dan penawaran baru tersebut.
Argumen lainnya, dalam sejarah hiperinflasi dunia, kebanyakan disebabkan oleh hutang luar negeri yang menurunkan nilai tukar mata uang negara tersebut. Masalahnya hampir selalu terjadi akibat ketegangan mata uang asing, bukan belanja dalam negeri. Dinamika hiperinflasi yang ditelusuri dalam karya klasik seperti Salomon Flink The Reichsbank dan Economic Germany (1931) telah dikonfirmasi oleh studi tentang inflasi di Chili dan negara-negara berkembang lainnya. Pengalaman hiperinflasi Jerman bisa menjadi contoh klasik untuk masalah ini.
Mula-mula, nilai tukar merosot saat pemerintah harus membayar pengeluaran militer asing selama perang. Kemudian – dalam kasus Jerman – pengeluaran untuk membiayai rekonstrusi pasca perang. Pembayaran ini menyebabkan nilai tukar turun dan meningkatkan harga impor.
18https://ellenbrown.com/author/
19https://fred.stlouisfed.org/series/M1V
Kenaikan harga barang impor ini menyebabkan lebih banyak uang dalam negeri diperlukan untuk membiayai aktivitas ekonomi pada tingkat harga yang lebih tinggi.
Dalam kondisi ekonomi yang stagnan, UBI dapat menciptakan permintaan yang dibutuhkan untuk membeli produk sekaligus mendorong produktivitas baru. Robot tentu tidak membeli makanan, pakaian, atau gadget. Permintaan harus datang dari konsumen (manusia), dan untuk itu mereka butuh uang untuk dibelanjakan. Ketika kecerdasan buatan mengambil alih pekerjaan manusia dan pandemi menghalangi manusia dari bekerja, pilihannya adalah mengucurkan UBI atau membiarkan setengah populasi kelaparan. Perlu diingat, bahwa UBI memang bukanlah jaminan “kesejahteraan”, tetapi hanya sebuah dividen yang dibagikan agar seluruh populasi tetap tinggal dan bertahan di abad ke-21.
Pro Kontra UBI
Sebagai sebuah gagasan yang dianggap utopis, UBI memiliki pendukung yang tidak sedikit jumlahnya. Bahkan, para penggagas dan “juru kampanye” ide ini bukanlah orang-orang sembarangan. Mulai dari mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon, tokoh Hak Asasi Manusia seperti Martin Luther King, Jr, hingga CEO perusahaan global ternama seperti Facebook dan Tesla adalah sedikit dari para penyokongnya. Alasan UBI ini menarik diantaranya adalah gagasan ini memang memiliki kelebihan yang orisinal dan menjanjikan penyelesaian masalah sosial ekonomi di abad 21. Berikut ini adalah beberapa kelebihan atau keuntungan apabila program UBI diadopsi oleh suatu negara:
Satu, mendorong terwujudnya kebebasan dan keadilan sejati. Janji ini yang sering diungkapkan oleh para pemikir dari kalangan libertarian yang percaya bahwa pembangunan tidak akan berjalan dengan adil tanpa adanya kebebasan (freedom) dan pengakuan hak-hak individu. Kebebasan disini berarti memberikan pemenuhan kebutuhan minimum individu dalam bentuk uang tunai serta memberikan kebebasan sepenuhnya bagi mereka untuk mengatur uangnya sendiri. Kebebasan individu dalam mengelola uang yang menjadi miliknya ini dipercaya akan mampu membangun independensi, kepercayaan diri, kesehatan mental, dan kebebasan memilih yang selama ini menjadi “barang langka” bagi orang miskin.
Dua, menurunkan angka kemiskinan. Para pendukung UBI juga mempercayai bahwa dengan memberikan uang tunai langsung kepada mereka yang berada di bawah garis kemiskinan akan mendorong mereka secara perlahan keluar dari lingkaran setan kemiskinan.
Jaminan material semacam ini akan dikelola dan diinvestasikan oleh keluarga miskin kepada hal-hal yang dianggap mereka menjadi penyebab kemiskinannya. Mereka lebih tahu apa yang menyebabkan mereka miskin dan kita hanya perlu memberikan kepercayaan kepada mereka untuk mengubah nasib dengan tangannya sendiri.
Tiga, solusi kebijakan yang efisien. Bandingkan dengan program-program pengentasan kemiskinan lainnya yang keseluruhan biaya pelaksanaannya justru mengurangi jatah yang seharusnya diterima oleh si miskin. Ada biaya input pada setiap program, mulai dari biaya perencanaan, gaji konsultan, biaya administrasi, biaya monitoring dan evaluasi.
Dengan skema UBI, semua biaya itu dapat dipangkas dengan efisien dan otomatis menambah alokasi yang seharusnya diterima oleh penerima manfaat program tersebut.
Empat, mempromosikan kesetaraan gender. Para aktivis kesetaraan dan keadilan gender tentu memahami bahwa hambatan terbesar pengurangan kemiskinan saat ini adalah ketimpangan gender yang masih tinggi. Perempuan sebagai pihak yang dirugikan manakala banyak program yang bias gender dan menafikkan kontribusi mereka. Di tengah masyarakat, terutama di negara-negara berkembang, kontribusi perempuan dalam pekerjaan domestik dan rumah tangga seringkali tidak mendapat penghargaan yang layak.
Dengan prinsip universalisme yang terkandung dalam UBI ini, maka diharapkan laki-laki dan perempuan akan mendapatkan hak yang sama dan memiliki kebebasan yang sama pula dalam pemanfaatan dan pengelolaannya.
Lima, mengurangi ketimpangan pendapatan. Dengan perkembangan teknologi yang tidak dapat dibendung serta pandemi yang menyebabkan banyak orang sakit dan menganggur, maka kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan akan semakin sengit dan sulit. Ketimpangan pendapatan bukannya semakin memudar, tetapi justru akan semakin melebar. Mereka yang tidak memiliki keterampilan dan kemampuan bersaing akan tersingkir dari bursa kerja.
Bahkan yang sudah merasa mapan dengan pekerjaannya juga sewaktu-waktu akan kehilangan posisinya. Dalam kondisi semacam ini, maka UBI dapat menjadi kebijakan pengaman dan pengendali ketidakpastian bagi masyarakat.
Selain lima hal diatas yang sering didengungkan oleh para pendukung BIG, salah satu manfaat UBI lainnya adalah mendorong keterbukaan ekonomi dan politik suatu negara.
Dengan besaran nilai uang tunai yang sama untuk setiap individu, baik kaya maupun miskin, tua maupun muda, serta sistem penyaluran yang sederhana (dengan bantaun teknologi) dan tanpa persyaratan apapun, akan sulit bagi birokrasi atau pihak-pihak tertentu untuk menyelewengkan penyaluran uang tunai tersebut karena masyarakat juga akan dengan mudah melakukan kontrol serta pengawasan.
Disamping berbagai kelebihan di atas, tak sedikit pula berbagai kritik yang menyoroti kekurangannya. Salah satu negara yang memiliki kekhawatiran serta pengalaman menolak gagasan UBI adalah Swiss. Berbeda dengan Finlandia, bagi pemerintah Swiss, UBI dianggap sangat membebani pengeluaran negara serta diprediski menyebabkan penurunan moral (moral disruptive) dan motivasi warga negara. Berikut ini adalah beberapa alasan yang dianggap sebagai kelemahan UBI:
Satu, UBI menyebabkan tekanan finansial pada negara.
Ketika negara memberikan uang tunai secara langsung kepada seluruh warga negaranya, maka pengeluaran pemerintah akan membengkak dan bahkan beberapa negara mungkin tidak akan sanggup Unto melakukannya. Bagi negara dengan populasi sangat besar seperti China, India, Amerika Serikat, Brazil dan Indonesia, tentu membutuhkan anggaran yang sangat besar. Apabila besaran uang tunai yang diberika terlalu kecil maka akan kurang efisien dalam mengentaskan kemiskinan. Sebaliknya, jika jumlahnya terlalu besar, tentu akan mengganggu neraca keuangan negara secara keseluruhan.
Dua, hambatan dan tantangan administratif penerapan UBI.
Masalah klasik dalam program-program penanggulangan kemiskinan adalah persoalan administrasi dan birokrasi dalam menjalankannya. Jika negara, provinsi, atau kota yang menerapkan UBI tidak ditopang oleh sistem administrasi yang memadai, maka akan terjadi kebocoran dan inefisiensi. Hal paling mendasar misalnya terkait administrasi atau pendataan jumlah penduduk yang riil seringkali masih menjadi hambatan di beberapa negara atau wilayah. Memiliki data tunggal kependudukan, informasi pendapatan warga yang valid, serta penggunaan teknologi yang efisien menjadi pilar agar UBI menjadi aplikatif dan tepat sasaran.
Tiga, UBI dianggap akan memberikan insentif yang negatif.
Isu moral ini masih menjadi sentral dalam perdebatan UBI. Banyak kalangan yang khawatir bahwa ketika seseorang menerima UBI ia akan secara total berhenti bekerja atau menurun drastis motivasi bekerjanya. Jika terjadi masalah seperti ini, maka masyarakat secara keseluruhan akan dirugikan serta roda perekonomian akan terhenti. Namun demikian, asumsi ini juga mendapat sorotan karena melupakan hasrat dasar manusia untuk berinteraksi, bekerja, dan mendapatkan kepuasannya melalui bekerja. Pada masyarakat modern, letak “martabat”
manusia seringkali berpusat pada pekerjaannya, sehingga kekhawatiran akan menurunnya motivasi bekerja ini dianggap terlalu berlebihan. Beberapa pakar menyarankan “jalan tengah”
berupa pemberian kewajiban tertentu kepada penerima UBI untuk tetap mendorongnya berkontribusi kepada masyarakat dan lingkungannya. Prinsip ini dikenal sebagai pendekatan timbal balik (objective reciprocity).
Empat, UBI berdampak negatif terhadap 25assar tenaga kerja dan sistem jaminan sosial.
Sebagian pihak mengkhawatirkan dengan adanya UBI akan mengurangi posisi tawar para serikat buruh terhadap perusahaannya. UBI juga bisa menjadi faktor pemicu menurunnya upah minimum yang selama ini menjadi inti perjuangan para buruh. Perubahan struktur dan kondisi ketenagakerjaan ini pun bisa mengarah pada kemungkinan-kemungkinan yang semula mungkin tidak diprediksikan, termasuk pemotongan anggaran pemerintah untuk pengeluaran publik atau digantikannya sistem jaminan sosial yang sedang berjalan sehingga berdampak negatif kepada kelompok-kelompok rentan atau miskin lainnya.
Lima, UBI mendorong migrasi penduduk jika tidak dilakukan secara universal.
Beberapa negara di Eropa juga mengkhawatirkan munculnya arus migrasi para pendatang jika mereka menerapkan UBI. Hal ini tentu dapat dimengerti, mengingat orang akan mendatangi suatu negara yang bersedia menjamin pendapatan warga negaranya. Kehadiran imigran ini tentu akan menjadi isu serius dalam keberlanjutan skema UBI ini. Sebagian pakar pro UBI menyarankan agar ada batas tinggal minimum bagi penerima UBI, tetapi ide ini juga dapat melahirkan diskriminasi yang berujung pada polarisasi pasar tenaga kerja, dimana imigran akan menjadi kelas miskin baru karena mereka hanya mampu mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang rendah.
Berbagai kekhawatiran maupun optimisme terhadap BIG di atas memang belum benar- benar terjadi dan masih menjadi perdebatan di kalangan praktisi dan pemerhati kebijakan politik maupun ekonomi. Banyak faktor yang harus diukur dan menjadi bagian dari pertimbangan. Untuk memastikan apakah skema UBI ini mampu mendorong perubahan positif pada masyarakat – terutama pada kondisi tingginya pengangguran atau terhentinya ekonomi akibat pandemi – diperlukan lebih banyak inisiatif untuk menerapkannya di lapangan.
UBI di Negara Berkembang
Salah satu tujuan utama dari pembangunan ekonomi adalah untuk memahami bagaimana cara meningkatkan pendapatan orang miskin. UBI itu sendiri – secara definisi – jelas memiliki komponen ini. Terlepas apakah akan berdampak “baik” dan “buruk” pada aspek kehidupan lainnya, yang jelas UBI sebagai sebuah program dan kebijakan memiliki elemen dasar untuk meningkatkan pendapatan kelompok miskin melalui transfer tunai. Langsung dan sederhana.
Seperti diungkapkan oleh Abhijit Banerjee, Profesor MIT dan penerima hadiah Nobel ekonomi tahun 2019, dalam sebuah kertas kerja berjudul “Universal Basic Income in The Developing World” (2019) mengatakan bahwa persoalan menjadi sedikit lebih rumit dan kompleks manakala muncul pertanyaan apakah masuk akal untuk menggantikan seluruh program bantuan, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, pangan, dan lain-lain, yang selama ini menjadi senjata umum untuk penanggulangan kemiskinan, dengan sebuah sistem pembayaran tunggal seperti Jaminan Pendapatan Dasar ini? sebab, sumber utama pembiayaan untuk program ini tentu saja sama-sama berasal dari pajak.
Oleh karena itu, bisa jadi UBI merupakan sebuah kebijakan yang solutif bagi sebagian orang dan negara, namun tidak selalu tepat untuk semua orang dan semua negara (universally best).
Sayangnya, baru sedikit sekali eksperimen UBI yang tuntas dilakukan di negara berkembang.
Menurut Banerjee, hanya tiga (3) skema eksperimen yang benar-benar bisa diklaim sebagai UBI di negara berkembang, yaitu eksperimen UBI di Madhya Pradesh-India, Skema Namibia, dan Bantuan Langsung Tunai di Iran20. Sayangnya, tak satu pun dari ketiganya ini yang di desain dan di evaluasi secara eksperimental. Ketiga program transfer tunai tersebut pun tidaklah benar-benar “universal”, tetapi masih menyasar kelompok tertentu (targeted). Periode pembayaran jaminan pun relatif sangat pendek, hanya satu sampai dua tahun. Alhasil, dampak maupun hasil evaluasi penerapan Jaminan Penghasilan Dasar ini pun masih dianggap belum ideal.
Namun demikian, bukan berarti program transfer tunai ini menjadi tidak efektif. Banyak sekali program-program penanggulangan kemiskinan di seluruh dunia ini yang menerapkan skema UBI namun tidak dilabeli sebagai eksperimen UBI. Bank Dunia mencatat ada 552 juta orang yang tinggal di negara berkembang dan menerima bantuan langsung tunai dalam berbagai bentuk dan beragam jumlah (2018). Meskipun tidak secara langsung diberi nama UBI, program-program ini memiliki kesamaan skema dan memberi kebebasan penuh pada penerimanya untuk memanfaatkan uang yang diterimanya itu.
Evaluasi Banerjee terhadap berbagai program tersebut menunjukkan dua fakta besar.
20http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.646.1816&rep=rep1&type=pdf
Pertama, evaluasi umumnya belum menemukan dampak negatif yang ditakuti banyak orang.
Evans dan Popova (2017), seperti dikutip Banerjee, menemukan bahwa program transfer tunai rata-rata telah mengurangi pengeluaran untuk konsumsi “temptation goods”, seperti alkohol dan rokok (standar deviasi = 0,18). Dengan kata lain, penerima tampaknya lebih sedikit minum alkohol dan merokok. Temuan ini tentu sama sekali tidak mengurangi keseriusan penyalahgunaan minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang sebagai masalah bagi orang miskin, tetapi hal ini menunjukkan bahwa kekurangan uang mungkin menjadi penyebab penyalahgunaan narkoba itu sendiri.
Dari sisi ketergantungan, Banerjee juga mengukur efek transfer tunai terhadap pasokan tenaga kerja yang merupakan ukuran paling nyata dari upaya penerima untuk meningkatkan kehidupan mereka sendiri. Banerjee lagi-lagi tidak menemukan bukti sistematis yang menunjukkan bantuan tunai ini menghambat atau mengendorkan semangat mereka dalam bekerja atau mencari kerja.
Kedua, evaluasi juga telah menemukan berbagai dampak positif yang sangat beragam, termasuk dalam hal: pendapatan, aset, tabungan, pinjaman, total pengeluaran, pengeluaran untuk makanan, keragaman makanan, kehadiran di sekolah, hasil tes di sekolah, perkembangan kognitif, penggunaan fasilitas kesehatan, partisipasi angkatan kerja, migrasi pekerja anak, kekerasan dalam rumah tangga, pemberdayaan perempuan, perkawinan, kesuburan, dan penggunaan kontrasepsi.
Hasil eksperimen memang berubah dan bervariasi secara substansial dari satu percobaan ke percobaan lainnya. Keragaman ini tentu menyiratkan bahwa penerima menghargai fleksibilitas yang diberikan oleh program transfer tunai. Artinya, jika selama ini para teknokrat melihat pengeluaran yang dilakukan oleh penerima bantuan dianggap kurang tepat sasaran karena digunakan diluar tujuan program, misal hanya untuk biaya kesehatan dan pendidikan, variasi pengeluaran setiap penerima itu (jika dievaluasi lebih detail) justru akan menunjukkan dimana sebenarnya masalah utama yang dihadapi oleh si miskin.
Sekalipun variasi pengeluaran itu kemudian dianggap “meleset” dari sasaran yang diinginkan pembuat program, namun di sisi lain, ia bisa menuntun kita pada persoalan dan kebutuhan utama yang lebih hakiki dari kacamata si penerima bantuan. Pemahaman seperti ini yang nampaknya masih sulit untuk diterima di negara berkembang, khususnya bagi para teknokrat yang terbiasa melihat dampak dan hasil sebuah program secara sempit.
Alasan UBI harus ”Universal”
Dalam situasi darurat, seperti pandemi Covid-19, kebijakan jaring pengaman sosial seperti UBI inilah yang kini dianggap cukup rasional dan menjadi norma atau kebijakan baru.
Perdebatan tidak lagi soal penting atau tidaknya UBI ini, namun bergeser menjadi; siapa saja yang berhak menerima stimulus UBI ini? Apakah hanya yang benar-benar memerlukan atau kepada semua orang?
Setidaknya ada lima (5) alasan kenapa stimulus berupa uang tunai atau UBI ini harus diberikan kepada setiap orang tanpa syarat apapun (universal and unconditional).
Satu, kecepatan (immediacy). Yang kita hadapi adalah situasi krisis. Hidup dan mati seseorang berlomba dengan waktu. Jika bantuan dilakukan secara tebang pilih, berapa banyak energi yang harus dihabiskan untuk memilah dan memilih itu? Berapa banyak waktu yang terbuang percuma hanya untuk memastikan seseorang layak mendapat BLT atau tidak?
Ibaratnya, jika rumah kita sedang terbakar api, tentu kita tidak perlu menghitung berapa jumlah air yang harus digelontorkan untuk memadamkan api. Apakah ruang tamu duluan atau kamar tidur yang harus diselamatkan? Semua harus segera dihujani dengan air agar semakin banyak yang bisa diselamatkan.
Dua, transparan dan sederhana. Dengan membagikan stimulus atau UBI secara sama dan merata kepada setiap warga negara, prosedur yang ditempuh menjadi sangat sederhana.
Misal dengan data kependudukan yang akurat atau pembukaan rekening untuk semua orang.
Tidak perlu program pendampingan atau pelatihan. Cukup transfer langsung antar rekening dari negara kepada peenrima. Penggunaan UBI itu sendiri tidak perlu diatur. Semua diserahkan sepenuhnya pada si penerima.
Tiga, menghindari salah sasaran (error of exclusion). Membeda-bedakan warga negara yang ”layak menerima” dengan yang ”tidak layak menerima” bantuan itu selain rumit juga tidak efektif. Memang mudah menentukan seseorang itu miskin, tapi siapa yang bisa menentukan sesorang sudah cukup kaya? Jika garis pemisah kaya dan miskin itu dipaksa dibuat, maka banyak yang akan melanggar batas itu. Yang kaya akan mengaku miskin untuk mendapatkan bantuan itu. Ini yang disebut dengan error positive, dimana yang tidak berhak malah menerima bantuan karena bisa mengakali persyaratan. Sebaliknya, muncul juga error negative, dimana mereka yang seharusnya menerima, malah tidak masuk daftar penerima karena tidak bisa menunjukkan kelengkapan administratif. Disinilah kebijakan yang tebang pilih tadi memiliki celah dan kebocoran yang besar.
Empat, merangkul semua (inklusif). Dengan tiga alasan di atas, maka program Jaminan Penghasilan Dasar di masa darurat (maupun normal) akan menjadi program yang inklusif dan merata. Ibaratnya pemerintah sedang melakukan redistribusi kekayaan dan pendapatan ke semua level. Tidak ada lagi istilah kekayaan akan menetes dari atas ke bawah (trickle-down
economics) tapi kekayaan baru akan dibangun dari bawah (trickle-up economics). Kekuatan ekonomi kecil, ekonomi rakyat, hingga wirausahawan baru yang selama ini hanya jargon bisa menjadi benar-benar terwujud karena ada modal untuk itu berupa jaminan pendapatan dasar tadi.
Tidak ada warga yang tertinggal karena semua mendapatkan UBI.
Lima, memperkuat kohesi sosial. Pelajaran yang bisa diambil dari kondisi darurat seperti wabah Corona atau ketimpangan ekonomi adalah pentingnya memikirkan semua orang, bukan hanya diri kita sendiri. Sejalan dengan semangat itu, Jaminan Penghasilan Dasar juga tidak boleh eksklusif atau hanya untuk kelompok tertentu saja. Universalitas menjadi keharusan jika kita ingin sebanyak-banyaknya menyelamatkan rakyat. Jika kapal yang kita tumpangi akan karam di tengah lautan, tentu kita tidak perlu bertanya apakah sesorang bisa berenang atau tidak untuk diselamatkan. Sebisa mungkin semua lekas mendapatkan kapal sekoci untuk keluar dari bahaya dan krisis (baca: kemiskinan).
UBI & Negative Income Tax (NIT)
Fokus utama pemerintah di berbagai negara tentu adalah untuk mengangkat warganya dari kemiskinan. Banyak program inovatif yang digagas, seperti perumahan bersubsidi, bantuan sosial, pengurangan pajak, dan ratusan program lain yang menyasar beragam kebutuhan warga. Sebagian besar program itu pun biasanya bersifat parsial, artinya hanya menyasar kalangan tertentu.
Misalnya, dibuat program khusus lansia, difabel, khusus perempuan, anak, petani, nelayan, dan lain sebagainya. Untuk mendapatkan program itu pun banyak sekali persyaratan dan dokumen yang harus dipenuhi dan diisi oleh calon penerima. Padahal, untuk memenuhi prasyarat itu, banyak keterbatasan yang dihadapi oleh mereka yang membutuhkan. Belum lagi soal panjangnya birokrasi dan potensi korupsi di setiap lini yang menyebabkan program penanggulangan kemiskinan menjadi tidak tepat sasaran.
Oleh karena itu, banyak ekonom dan ahli kebijakan yang kemudian mempertanyakan efektivitas dari ratusan program-program bantuan pemerintah tersebut: mengapa tidak langsung saja memberikan uang itu kepada setiap orang yang membutuhkannya?
Di beberapa negara, bentuk “pemberian langsung” itu salah satunya adalah dengan menerapkan Negative Income Tax (NIT) atau Pajak Penghasilan Negatif. Gagasan di balik NIT adalah pembayaran subsidi berupa uang kepada orang berpendapatan rendah atau mereka yang pendapatan bulannya di bawah garis pendapatan tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Jumlah pembayaran akan bervariasi berdasarkan ukuran dan kebutuhan rumah tangga. Dengan kata lain, seseorang tanpa penghasilan akan menerima lebih banyak NIT daripada seseorang dengan sedikit penghasilan, dan seseorang dengan penghasilan menengah atau tinggi tidak akan menerima NIT sama sekali.
Para pendukung NIT mengatakan kebijakan ini akan memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang saat ini hidup di bawah garis kemiskinan. Ini akan membantu mengatasi masalah seperti kerawanan pangan atau kekurangan gizi pada anak. NIT adalah program kesayangan ekonom konservatif Milton Friedman.
Sebaliknya, bagi orang yang keberatan dengan pemborosan pengeluaran pemerintah atau keberatan dengan pajak tinggi untuk orang kaya, NIT adalah musuh yang sempurna. Alasan lainnya, para pengkritik NIT juga kerap mengatakan bahwa program semacam ini bisa membuat orang malas untuk bekerja atau mempertahankan pekerjaannya.
Sebagai sebuah kabijakan, NIT sering disandingkan dengan kebijakan UBI atau Jaminan Penghasilan Dasar Untuk Semua. Bahkan, banyak yang menganggap keduanya sama atau serupa. Padahal tidak demikian. Seperti kita tahu, UBI memberikan kepada setiap orang jumlah uang yang sama, baik mereka yang bekerja maupun tidak, tetapi mengenakan pajak
secara berbeda berdasarkan berapa banyak penghasilan lain yang dimiliki oleh seseorang. Sebaliknya, dengan NIT, hanya sebagian warga negara yang akan menerima subsidi, yaitu mereka yang bekerja dan berpenghasilan di bawah jumlah minimum tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah (Widerquist, 2018).
Secara praktik, NIT akan menjadi program yang lebih ramping, namun cakupannya menjadi kurang universal dan hanya bagi mereka yang mampu bekerja yang akan memperoleh manfaat.
Padahal, jaring pengaman semacam ini dibutuhkan justru oleh mereka yang kehilangan pekerjaan atau terancam tidak bisa bertahan di pasar kerja. Selain itu, dari segi sasaran, NIT diberikan kepada rumah tangga, sementara UBI diberikan kepada setiap individu. Manakah kira-kira yang lebih efektif?
Gagasan seperti NIT atau UBI ini akan terus menarik minat dan perdebatan di antara para ilmuwan dan praktisi. Sebab utamanya adalah tingkat ketimpangan ekonomi yang terus meningkat sementara upah mereka yang berpenghasilan rendah dan menengah relatif tetap atau tidak meningkat. Apakah NIT atau UBI yang lebih baik mengatasi kesenjangan ekonomi ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu saja perlu lebih banyak keberanian dari pemerintah untuk bereksperimen dengan keduanya.