• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

Di Indonesia khususnya di dalam dunia bisnis, praktik akuntansi berkembang sangat pesat pada era ini yang membuat banyak perubahan dalam perkembangan zaman. Akuntansi berperan pada segi pengelolaan keuangan suatu entitas yang semakin disadari oleh banyak pihak, baik itu entitas laba maupun nonlaba. Peran akuntansi yang paling mendasar ialah kemampuannya dalam menyajikan berbagai informasi serta jawaban yang berhubungan dengan segala bentuk kegiatan keuangan (Setiadi, 2021). Menurut Arens, et al., (2015:3) mendefinisikan pengertian akuntansi bahwa:

“Akuntansi (accounting) adalah pencatatan, pengklasifikasian dan pengikhtisaran peristiwa-peristiwa ekonomi dengan cara yang logis yang bertujuan untuk menyediakan informasi yang relevan, para akuntan harus memiliki pemahaman yang mendalam atas prinsip-prinsip dan aturan-aturan yang menjadi dasar penyiapan informasi akuntansi, serta akuntan juga harus mengembangkan suatu sistem untuk memastikan bahwa peristiwa ekonomi dari entitas yang bersangkutan dicatat secara tepat waktu dan dengan biaya yang wajar”.

Salah satu praktik akuntansi yang biasa digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dalam sebuah aplikasi yaitu Spreadsheet dalam Microsoft Excel. Program tersebut memiliki banyak formula yang dapat membantu digunakan sebagai alat bantu dalam menyusun laporan keuangan, perhitungan data dan angka dalam jumlah kecil sampai besar. Perusahaan yang telah menggunakan berbasis software, pada umumnya juga masih menggunakan Spreadsheet dalam Microsot Excel sebagai data awal maupun sebagai data cadangan suatu organisasi.

Perusahaan adalah salah satu bentuk organisasi. Secara umum, organisasi dibagi kedalam tiga sektor, yaitu organisasi sektor bisnis, sektor publik, dan sektor sosial (Mahmudi, 2016). Organisasi sektor bisnis dan organisasi sektor publik umumnya memiliki kesamaan yaitu mencari keuntungan atau berorientasi pada laba

(2)

Organisasi sektor sosial pada umumnya bergerak dalam bidang pelayanan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan dan tidak mencari keuntungan.

Organisasi sektor sosial disebut juga sebagai sektor non-profit atau nonlaba.

Organisasi nonlaba merupakan organisasi yang dimana dalam menjalankan kegiatannya memiliki fokus utama yaitu bergerak dalam pelayanan sosial, kemanusiaan, serta tidak mencari laba (Mahmudi, 2016). Organisasi nonlaba terbagi menjadi dua kelompok besar antara lain, entitas nonlaba pemerintahan dan entitas nonlaba bukan pemerintahan. Organisasi nonlaba mempunyai perbedaan yang signifikan dengan organisasi yang berorientasi kepada profit oleh pelanggan, donatur, pemerintah, anggota organisasi serta karyawan organisasi nonlaba.

Organisasi nonlaba menjadikan sumber daya manusia sebagai aset yang paling berharga, karena di dalam setiap aktivitas organisasi ini pada dasarnya adalah dari, oleh, dan untuk manusia. (Rahayu dkk, 2020)

Jenis entitas nonlaba merupakan entitas yang bergerak dalam bidang pelayanan masyarakat yang tidak bertujuan untuk mencari laba. Entitas nonlaba ini biasanya didirikan oleh masyarakat atau dikelola oleh swasta sumber dana yang didapat oleh entitas nonlaba biasanya berasal dari para donatur atau penyumbang yang tidak mengharapkan timbal balik atas dana yang diberikan. Organisasi nonlaba pada umumnya memilih pemimpin, pengurus atau penanggung jawab yang menerima amanat dari para stakeholdernya. Terkait dengan konsep akuntabilitas dimana akuntansi sebagai sarana pertanggungjawaban akuntabilitas maka laporan keuangan perlu disajikan oleh organisasi nonlaba. Alasannya karena dengan adanya laporan keuangan maka dapat menilai pertanggungjawaban dari pengurus atau manajemen atas tugas, kewajiban dan kinerja yang diamanatkan kepada mereka.

Sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas atas aktivitas operasional organisasi nonlaba, Ikatan Akuntan Indonesia atau IAI menerbitkan standar laporan keuangan yang spesifik ditujukan bagi organisasi nonlaba. Penyajian laporan keuangan entitas berorientasi nonlaba telah diatur dalam Interprestasi Standar Akuntansi keuangan No. 35 (ISAK 35) yang merupakan perubahan dari Pernyatan Standar Akuntansi Keuangan No. 45 (PSAK 45) dan akan berlaku efektif pada

(3)

tanggal 1 Januari 2020 (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2018). ISAK 35 mengatur tentang penyajian laporan keuangan entitatas berorientasi nonlaba. Laporan keuangan pada organisasi nonlaba terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan penghasilan komprehensif, laporan perubahan aset neto, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Adanya standar yang mengatur tentang penyajian laporan keuangan entitas berorientasi nonlaba ini diharapkan dapat menghasilkan laporan keuangan yang memberikan informasi yang dibutuhkan para pengguna laporan keuangan.

Pondok pesantren sebagai salah satu contoh dari bentuk organisasi nonlaba merupakan suatu entitas pelaporan yang memiliki badan hukum berbentuk yayasan.

Sebagai salah suatu entitas pelaporan, aset dan liabilitas dari pondok pesantren harus dapat dibedakan dengan aset dan liabilitas dari entitas lainnya baik organisasi maupun perseorangan. Perkembangan pesantren secara khusus telah menjadi salah satu target perkembangan ekonomi syariah mengingat perannya yang juga cukup strategis dalam perekonomian di Indonesia. Banyak sekali pesantren di Indonesia yang bisa memberikan dampak baik ekonomis maupun pembangunan akhlak bangsa Indonesia. Tidak sedikit pula pesantren yang sukses dalam pengelolaannya dan bahkan memiliki profit center yang memberikan penghasilan yang cukup besar untuk perkembangan pesantren selanjutnya. (Sulistiani, 2020)

Penyusunan Pedoman Akuntansi Pesantren ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi pondok pesantren sehingga pondok pesantren mampu menyusun laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi keuangan yang berlaku umum di indonesia. Tujuan dari penyusunan Pedoman Akuntansi Pesantren adalah untuk memberi panduan akuntansi yang tidak mengikat bagi pondok pesantren dalam penyusunan laporan keuangan (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2018). Di sisi pesantren juga terdapat beberapa permasalahan dalam penyusunan laporan keuangannya diantaranya, pengelola pesantren yang belum memahami dan belum memahami dan mengetahui bahwa laporan keuangan pesantren harus sesuai standar yang berlaku, sarana dan prasana memudahkan dalam penyusunan laporan keuangan, serta staf keuangan yang belum memahami tentang cara pembuatan laporan keuangan sesuai dengan standar yang berlaku. Pencatatan akan terhambat

(4)

ketika pesantren diminta untuk menunjukkan laporan keuangan yang lengkap (sesuai standar akuntansi) dan akan menghambat pada saat pesantren membutuhkan Sumber pendanaan dari para donatur yang membutuhkan laporan keuangan pesantren tersebut, selain itu pembuatan laporan keuangan juga dibutuhkan sebagai pembuatan laporan pajak perusahaan. (Arniati dkk, 2021)

Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin atau yang sering disebut Ponpes SMB merupakan lembaga pendidikan agama islam yang berbasis pesantren yang mengkombinasikan antara pengetahuan modern dan salafiyah. Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin bertujuan untuk mendidik para santri-santrinya agar memiliki akhlakul karimah dan berprestasi dalam bidang ilmu agama islam dan ilmu umum maupun kesenian. Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin ini juga melaksanakan Program Pendidikan dari Kementrian Agama dan Dinas Pendidikan Kota Palembang. Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin ini berdiri pada tanggal 28 Desember 1989. Pondok pesantren ini didirikan oleh H.

Aguscik Hasan, KH. Muhtarom (Alm), DR Tamarun Harun (Alm), Siti Sawiyah (Alm) (https://pesantrensmb.org/2022).

Hasil dari penulisan yang telah dilakukan oleh penulis ialah Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin belum melakukan penyusunan Laporan Keuangan.

Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin masih melakukan pencatatan, pelaporan, serta pelaksanaan pengelolaan keuangan secara sederhana atau manual yakni dengan cara melakukan pencatatan yang meliputi pencatatan pengeluaran dan penerimaan kas dan tahap pelaporan yang dilaporkan sebatas dari anggota ke pengurus atau ketua yayasan pesantren tersebut. Dalam laporan keuangan yang dibuat di atas belum terlihat akuntabilitas dan transparasi terhadap laporan keuangan yang semestinya, sehingga pondok pesantren ini masih belum memenuhi unsur laporan keuangan berdasarkan Implementasi Standar Akuntansi Keuangan No. 35 (ISAK 35) yang telah berlaku.

Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan, maka penulis tertarik untuk mengambil judul Laporan Akhir yang bejudul “Penyajian dan Pelaporan Keuangan pada Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin Berdasarkan ISAK 35”.

(5)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan data yang telah dibuat oleh pesantren berupa transaksi catatan kas masuk dan kas keluar, maka penulis merumuskan permasalahan yang ada pada Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin berdasarkan ISAK 35 yaitu sebagai berikut :

1. Bagaimana pencatatan laporan keuangan pada Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin?

2. Bagaimana menyusun laporan keuangan yang sesuai pada Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin berdasarkan ISAK 35?

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan

Untuk membatasi ruang lingkup pembahasan agar penulisan Laporan Akhir ini lebih terarah, dan sesuai dengan masalah yang ada maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasan hanya pada Penyajian dan Pelaporan Keuangan pada Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin berdasarkan ISAK 35 tentang penyajian laporan keuangan entitas berorientasi nonlaba menggunakan komputer sebagai alat bantu.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penulisan 1.4.1 Tujuan Penulisan

Berkaitan dengan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan dari penulisan Laporan Akhir ini yaitu :

1. Untuk memperbaiki pencatatan keuangan pada Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan.

2. Untuk menghasilkan laporan keuangan pada Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin yang sesuai dengan ISAK 35 yang meliputi laporan posisi keuangan, laporan penghasilan komprehensif, laporan perubahan aset neto, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

(6)

1.4.2 Manfaat Penulisan

Dalam penulisan Laporan Akhir ini terdapat beberapa manfaat yang dapat diberikan yaitu sebagai berikut :

1. Bagi Penulis

Untuk lebih memperkuat terkait dari pengetahuan yang sudah didapatkan dari teori yang telah dipelajari di perkuliahan dengan kondisi yang sebenar- benarnya mengenai objek yang diteliti dan diharapkan juga menjadi salah satu sarana memperluas wawasan, pengetahuan, dan pengalaman yang akan berguna di waktu yang akan datang.

2. Bagi Pondok Pesantren

Dari hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk masukan yang objektif dalam menyusun laporan keuangan yang sesuai berdasarkan Pedoman Akuntansi Pesantren dan juga bisa membantu Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin untuk mengetahui kinerja yang berkaitan dengan kinerja Pondok Pesantren.

3. Bagi Mahasiswa

Dari hasil penulisan ini diharapkan dapat dijadikan referensi dan bahan masukan dalam penulisan serupa pada waktu yang akan datang.

1.5 Metode Pengumpulan Data 1.5.1 Jenis Data

Menurut Sugiyono (2017:193) penyusunan laporan akhir tentunya memerlukan data-data yang mendukung sebagai bahan masukan. Untuk itu, diperlukan sumber data sebagai berikut :

a. Data Primer

Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara yang diperoleh dan dicatat pihak lain. Data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung yang memberikan data kepada pengumpul data, misalnya orang lain atau dokumen.

(7)

Berdasarkan uraian diatas mengenai sumber data, dalam penulisan ini penulis mengumpulkan data primer yang menggunakan data kualitatif berupa keterangan-keterangan yang diberikan baik secara lisan maupun tulisan serta dokumen-dokumen dan hasil yang dilakukan penulis. Wawancara yang dilakukan berupa sejarah singkat pondok pesantren, struktur organisasi, visi dan misi pada pesantren, serta sistem pelaporan dan bentuk penyajian informasi keuangan yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin.

1.5.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan penulis untuk mengumpulkan suatu data. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi terkait penulisan yang dilakukan. Dalam penyusunan laporan akhir ini dibutuhkan data yang akurat dan objektif sehingga dapat mendukung sebagai bahan analisis dalam menyelesaikan permasalahan yang ada pada perusahaan tersebut.

Berikut metode pengumpulan data menurut Sugiyono (2017:137) yaitu : 1. Teknik Wawancara

Teknik wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

2. Teknik Pengamatan/Observasi

Teknik pengamatan/observasi merupakan suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting yaitu proses-proses pengamatan dan ingatan.

3. Teknik Dokumentasi

Teknik dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), cerita, biografi, peraturan, dan kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, karya yang berbentuk gambar, patung film, dan lain-lain.

Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.

4. Triangulasi

Triangulasi dalam teknik pengumpulan data, diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber yang telah ada.

(8)

Berdasarkan uraian diatas mengenai teknik pengumpulan data, dalam penulisan ini penulis menggunakan teknik triangulasi serta wawancara dengan melakukan komunikasi langsung atau tanya jawab dengan pihak yang terkait dengan Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin.

1.6 Sistematika Penulisan

Tujuan dari sistematika penulisan adalah untuk dapat memberikan gambaran secara garis besar dan menjelaskan tentang Laporan Akhir ini, sehingga dapat menggambarkan hubungan antara bab yang satu dengan bab yang lainnya. Maka diuraikan sistematika penulisan Laporan Akhir ini yang terdiri dari lima bab yaitu:

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang berbagai hal yang penting dalam pembuatan Laporan Akhir ini, yang meliputi latar belakang pemilihan kasus sesuai dengan yang telah tertulis, rumusan masalah, ruang lingkup pembahasan, tujuan dan mantaat penulisan, metode penulisan, serta sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini penulis akan memaparkan landasan teori yang melandasi analisa yang akan dilakukan dalam pembuatan laporan akhir ini mengenai pencatatan akuntansi pada Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin. Dengan menggunakan teori-teori berupa konsep dasar ISAK 35, pengertian akuntansi, standar akuntansi keuangan, siklus akuntansi, laporan keuangan, tujuan laporan keuangan, jenis-jenis laporan keuangan, pengguna laporan keuangan, organisasi nonlaba, karakteristik organisasi nonlaba, serta laporan keuangan entitas nonlaba berdasarkan ISAK 35.

BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Pada bab ini penulis akan menguraikan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan keadaan berupa sejarah singkat pondok pesantren, visi dan misi pada pesantren, struktur organisasi pesantren, uraian tugas struktur organisasi pesantren, aktivitas

(9)

pesantren, serta penyajian informasi keuangan pada Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin berdasarkan ISAK 35.

BAB IV PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan menganalisis data yang diperoleh dari Pondok Pesantren untuk mencari jalan pemecahan atas permasalahan yang ada di bab sebelumnya. Analisis tesebut meliputi analisis laporan posisi keuangan, laporan penghasilan komprehensif, laporan perubahan aset neto, laporan arus kas, serta catatan atas laporan keuangan pada Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini merupakan bab terakhir dalam penulisan Laporan Akhir. Setelah diadakan suatu penganalisaan dalam bab IV maka akan dibuat simpulan yang merupakan inti dari hasil penganalisaan dan akan dilanjutkan dengan saran-saran yang mungkin dapat dijadikan masukan bagi Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin di masa yang akan datang.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap pembahasan, serta agar analisis menjadi terarah dan sesuai dengan masalah yang ada, maka penulis membatasi ruang lingkup

Dalam penulisan laporan akhir ini, agar analisis menjadi terarah dan sesuai dengan permasalahan yang ada, maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasan hanya

Untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap pembahasan, serta agar analisis menjadi terarah dan sesuai dengan masalah yang ada, maka penulis membatasi ruang lingkup

Untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap pembahasan, serta agar analisis menjadi terarah dan sesuai dengan masalah yang ada, maka penulis membatasi ruang

Untuk lebih memfokuskan pada permasalahan dan menghindari terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam penulisan laporan akhir ini, maka penulis membatasi ruang

Untuk memperjelas pembahasan agar analisis menjadi terarah sesuai dengan masalah yang ada, maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasannya yaitu variabel

Agar dalam penulisan laporan ini lebih terarah dan tidak menyimpang dari permasalahan yang akan dibahas, maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasan laporan

Agar dalam penulisan Laporan Akhir ini lebih terarah serta tidak terjadi penyimpangan dari permasalahan yang dibahas, maka penulis membatasi permasalahan ruang