• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Final Tes Kepribadian Non Proyektif

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Final Tes Kepribadian Non Proyektif"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN TES EPPS, SoV, dan BDI

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Asesmen Kepribadian Non-Proyektif

Dosen Pengampu:

Drs. Amrizal Rustam S.U.

Oleh:

Fabianus Widyarto N

(15/383638/PS/06981)

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

(2)

LAPORAN TES

EPPS (Edwards Personal Preference Schedule)

I. Sejarah

Edward’s Personal Preference Schedule (EPPS) merupakan salah satu tes

kepribadian yang dirancang untuk mengukur atau menggambarkan keunikan kepribadian seseorang berdasarkan teori kebutuhan A.H. Murray. Pada teori kebutuhan Murray, terdapat 20 kebutuhan yang kemudian disederhakan dalam bentuk metode tes kepribadian oleh Allen L. Edward pada tahun 1954, dengan hanya mengambil 15 kebutuhan saja (Amelia, 2014).

Tes EPPS bersifat verbal (menggunakan kata-kata), dan menggunakan metode Forced Choice Technique (FCT) dengan pilihan alternatif A dan B yang dipilih oleh subjek, sehingga jawaban yang diberikan benar-benar mencerminkan keperibadian testee.

Tes kepribadian ini terdiri dari 225 pasang pernyataan. Semua pasangan pernyataan tersebut merupakan pengembangan dari beberapa aspek psikologis yang akan diukur, yang meliputi 15 macam need. Dalam setiap pasang pernyataan, subjek diminta untuk memilih salah satu pernyataan yang sesuai dengan ciri khas dirinya sendiri. Bagi individu tertentu, pasangan pernyataan tersebut mungkin saja sama-sama menggambarkan atau bahkan tidak menggambarkan ciri khas yang terdapat dalam dirinya. Dalam kondisi seperti ini, subjek tetap “dipaksa” untuk menentukan pernyataan mana yang lebih cenderung mendekati ciri khas dirinya sendiri (Afifah, 2014).

II. Dasar Teori

Dasar terbentuknya tes EPPS dimulai dari teori milik Henry A. Murray. Kepribadian didefinisikan Muray sebagai abstraksi yang dirumuskan oleh teoretikus dan bukan merupakan gambaran tentang tingkah laku individu belaka. Kepribadian itu adalah agen yang mengatur dan memerintah dalam diri individu. Dari gagasan tersebut, Murray mengemukakan sebuah konsep kepribadian terletak di otak ”No

(3)

Allen L. Edward pada tahun 1954 (dalam Afifah, 2014), menyederhanakan dengan hanya mengambil 15 kebutuhan saja dari teori kebutuhan Murray yang terdapat 20 kebutuhan yang kemudian menjadi dasasr metode tes kepribadian EPPS. Adapun need yang diukur dalam EPPS antara lain:

1. Achievement (Ach)

Kecenderungan individu untuk berprestasi, menghadapi tantangan, menyelesaikan tugas yang sulit dan berat.

 Positif  menunjukkan adanya suatu prestasi dalam studi, karier, kehidupan sosial, dan status. Terutama prestasi dalam fungsi dan pekerjaan.

 Negatif  ambisius yaitu merugikan dalam arti tertentu, kurang adanya kehangatan dalam kehidupan sosial.

2. Deference (Def)

Kecenderungan individu untuk berbuat sesuai dengan apa yang dipikirkan/diharapkan orang lain, mengikuti perintah, mudah dipengaruhi (patuh, menghindari perbedaan).

 Positif  kemauan untuk menyesuaikan diri, mengikuti konvensional (norma, tata cara, adat).

 Negatif  kecenderungan suggestible, kurang kritis. 3. Order (Ord)

Kecenderungan individu untuk teratur dalam berbagai hal, ada perencanaan, pengorganisasian kerja (rapi, teratur, teliti, tertib, dsb).

 Positif  adanya kebutuhan keteraturan dalam hubungan dengan manusia, ide-ide, dalam hal barang-barang, memberi efek baik dalam tugas.

 Negatif  mengurangi kelincahan, banyak peraturan yang dipegang teguh, takut menyimpang.

4. Exhibition (Exh)

Kecenderungan individu untuk menjadi pusat perhatian, menonjolkan sesuatu prestasi atau untuk menyatakan keberhasilannya.

 Positif  mampu menunjukkan diri, riang, ekstraversi, percaya diri, rasa bangga diri, optimisme.

 Negatif  mengurangi pengendalian diri (kontrol), kurang disiplin, menonjolkan diri/memamerkan diri.

(4)

5. Autonomy (Aut)

Kecenderungan untuk tidak tergantung, mandiri dalam membuat keputusan, menghindari campur tangan orang lain.

 Positif  keinginan untuk berdikari, tidak tergantung pada pendapat/pendirian, menolak sugesti dalam pendirian, original, progresif (bila radikal selalu mengharapkan perubahan).

 Negatif  bila kebutuhan ini terlalu besar akan menyebabkan kurang mampu dalam menyesuaikan diri, uncooperative (tidak bisa bekerjasama dengan orang lain), keras kepala, radikal.

6. Affiliation (Aff)

Kecenderungan individu untuk setia pada teman, berpartisipasi dalam kehidupan kelompok, bekerja sama, berbuat sesuatu dengan orang lain.

 Positif  perhatian pada sesama manusia, perhatian dalam pergaulan (harmonis), adanya kehangatan, toleran.

 Negatif  cenderung kurang tegas, kurang dapat mempertahankan pendiriannya, kurang berani.

7. Intraception (int)

Kecenderungan menganalisa motif-motif dan perasaan orang lain, menempatkan diri pada posisi orang lain, mempertimbangkan sebelum berbicara.

 Positif : kebutuhan minat pada problem manusia untuk diketahui dan dianalisa, keinginan untuk mengembangkan diri, dan perkembangan orang lain.

 Negatif  mudah terbawa perasaan orang lain, kurang dapat mempertahankan jarak.

8. Succorance (Suc)

Kecenderungan individu untuk menerima bantuan atau afeksi dari orang lain, untuk supaya orang lain bersimpati dan mengerti tentang dirinya.

 Negatif  succorance lebih bersifat negatif, yaitu kebutuhan pemanjaan diri, pasif dalam hubungan sosial, diwarnai meminta bantuan, bersifat egosentris, dependen, mencari rasa aman, tidak dewasa, labil secara emosi, kurang tegas.

(5)

9. Dominance (Dom)

Kecenderungan individu untuk memimpin, dihormati, membuat

keputusan-keputusan kelompok, mempertahankan pendapat,

menyerang orang lain.

 Positif  keinginan untuk memimpin, mempengaruhi, membimbing, mengawasi, membina, mengarahkan, mengorganisir, mengatur, adanya kepercayaan diri, mampu dalam berhubungan sosial.

 Negatif  Keinginan untuk menjajah, mengharuskan, mewajibkan yang semuanya berbau otoriter, tidak mengakui hak dan kewajiban orang lain, mempertentangkan dirinya dan orang lain.

10. Abasement (Aba)

Kecenderungan individu untuk mengalami rasa bersalah, lebih mengalah daripada berdebat, merasa kurang mampu, merasa takut, dan rendah diri.

 Positif  kecederungan untuk merendahkan diri, kompromi, dapat menyesuaikan diri, toleran, adanya keberanian mengakui kesalahan, adanya usaha mengoreksi diri, tidak sombong dalam tatakrama, rendah hati.

 Negatif  labil dalam emosi, kurang adanya kepercayaan diri yang pada umumnya berkaitan dengan rasa bersalah dan dosa.

11. Nurturance (Nur)

Kecenderungan untuk menolong orang lain, membantu orang yang mengalami kesulitan, mudah memaafkan orang lain, dermawan, ramah.

 Positif  adanya kehangatan perasaan, dalam pergaulan disertai pelayanan, pemberian perawatan terhadap manusia juga benda, mencerminkan adanya perasaan sosial terhadap sekelilingnya, bersedia memberi pertolongan.

 Negatif  percerminan emosi yang berlebihan, kurang lugas, kurang rasional baik dalam cara berpikir maupun hubungan sosial, melupakan diri sendiri sehingga terlantar dan menjadi korban.

(6)

12. Change (Chg)

Kecenderungan individu untuk melakukan sesuatu yang baru/berbeda, tidak suka pada rutinitas/ keteraturan, senang bergaul, ingin mengikuti perubahan-perubahan keadaan dan kebudayaan.

 Positif  mampu berhubungan sosial secara baik, ingin melakukan eksperimen, mencoba hal-hal baru, variasi dalam rangka penyegaran diri.  Negatif  sering kurang introspeksi diri, tidak tetap pendirian, tidak

mantap dalam melaksanakan sesuatu. 13. Endurance (End)

Kecenderungan individu tekun dalam tugas-tugas yang dihadapinya, fokus pada tugas bila bekerja, tidak ingin diganggu.

 Positif  adanya keuletan, ketekunan dalam menyelesaikan pekerjaan.  Negatif  kaku, rigid, asal betah, tidak didasari pertimbangan.

14. Heterosexuality (Het)

Kecenderungan individu untuk bergaul bebas dengan lawan jenisnya, tertarik mengikuti kegiatan kelompok lawan jenis, suka membicarakan hal-hal yang berbau seks.

 Positif  Kehidupan seksual sehari-hari dalam batas normal.

 Negatif  kehidupan seksual yang berlebihan atau sebaliknya, tidak mau sama sekali.

15. Aggression (Agg)

Kecenderungan individu untuk menyerang orang lain secara fisik atau verbal, mudah marah, mempermainkan orang lain.

 Positif  agresi yang diperhitungkan, berani, energik, progresif, mendorong sesuatu dengan tujuan hasil yang lebih baik.

 Negatif  nekad, melakukan perbuatan yang destruktif dalam segala bentuk, tidak ada hasil progresif, asal dan merusak.

III. Kegunaan Alat Tes

EPPS dirancang untuk mengetahui motivasi serta kebutuhan yangpaling penting bagi individu (terdiri dari 15 variable kebutuhan &motivasi)

-

Sangat ideal untuk alat riset, konseling, maupun bahan diskusi pengembangan diri individu

(7)

- Secara umum teori ini mengemukakan bahwa kepribadian manusia dapat dipahami sebagai bentuk refleksi dari perilaku yang dikontrol oleh needs.

IV. Administrasi

Material dan interuksi tes:

Tes terdiri dari 225 pasangan pernyataan. Subjek diminta memilih satu pernyataan yang paling sesuai untuk dirinya, dan bukan dianggap umum ideal atau wajar oleh masyarakat. Jawaban yang ditulis pada kertas jawaban dengan melingkari huruf A atau B. Buku tidak diperkenankan untuk dicoret-coret atau ditulis apapun. Tes dapat dilakukan secara individual atau kelompok. Secara individual, subjek dapat memebaca buku petunjuk pelaksanaan terlebih dahulu, setelah jelas subjek diminta menyelesaikan tes tersebut, dan jangan ada yang terlewatkan, “harus terisi semuanya!” Bila diberikan secara klasikal tester membacakan terlebih dahulu petunjuk-petunjuk, instruksi, dan contoh pelaksanaan tes terlebih dahulu dan menerangkannya. Waktunya 40 – 60 menit, pembatasan waktu tidak mutlak, hanya untuk keperluan teknis, yang terpenting dikerjakan secara teliti, jangan sampai terlewatkan.

V. Skoring

Berikut ini langkah-langkah dalam melakukan skoring hasil tes kepribadian EPPS:

1. Buatlah garis merah melalui: No : 1, 7, 13, 19, 25 No : 101, 107, 113, 119, 125 No : 201, 207, 213, 219, 225

2. Buatlah garis (bebas warna asal jangan merah) melalui: No : 26, 32, 38, 44, 50

No : 51, 57, 63, 69, 75 No : 151, 157, 163, 169, 175

3. Disebelah kanan, ada kolom bertuliskan : a. n (need)

b. r (raw)

(8)

 Menghitung A yang dilingkari, kecuali A yang terkena garis merah tidak dihitung

c. c (column)

 Menghitung secara vertical

 Menghitung B yang dilingkari, kecuali yang terkena garis merah tidak dihitung

d. s (sum)

 Jumlah r + c 4. Menghitung Konsistensi

a. Membandingkan secara vertikal dan sejajar jawaban A/B yang terkena garis merah dengan jawaban A/B yang terkena garis biru.

b. Bila sama (Sama memilih A atau sama memilih B), dalam kotak dibawah diberi tanda (), bila berbeda tidak diberi apa-apa.

c. Jumlahkan kotak yang diberi tanda ().

d. Tulis Jumlah tanda () pada kolom CONS (consistency)

e. Jumlah tertinggi adalah 15, sedangkan konsistensi dibawah 9 adalah meragukan dan tidak perlu di interpretasi.

5. Membuat profil

a. Mengubah skor sum (s) menjadi persentil sesuai table persentil yang sudah baku.

b. Interpretasikan pada skor persentil setiap variable/needs.

c. Gambarkan titik persentil setiap variable/needs pada table grafis persentil.

VI. Interpretasi

Menginterpretasikan skor dengan mengubah skor mentah (s) menurut persentil yang telah ditentukan.

Persentil Keterangan

97 ke atas Sangat tinggi 85 – 96 Tinggi 17 – 84 Sedang 4 – 16 Rendah 3 ke bawah Sangat rendah

(9)

Dan raw score yang tertera dituliskan dibawah kolom ss, profil variabel yang tergambarkan adalah kesimpulan tentang diri subjek, terutama kecenderungan-kecenderungan yang dimilikinya itu di atas mean (+) dan berada dibawah mean (-). Bila berada diantara atau tepat pada mean, kecenderungan-kecenderungan tersebut menunjukan hal yang wajar

VII. Kritik

Terdapat beberapa kekurangan/kelemahan dalam alat tes ini diantaranya adalah :

1. Cara pengskoringnya butuh ketelitian serta kejelian.

2. Ada kemungkinan individu akan bosan mengerjakan tes karena jumlah item soal yang tidak sedikit.

3. Ada beberapa pernyataan yang kadang tidak dapat menggambarkan apa yang dirasakan testee sebenarnya.

4. Lembar jawaban yang membingungkan karena letak pernomor jawaban yang berbeda urutannya.

5.

Pada orang yang mengalami anxiety akan mengalami keterlambatan dalam mengerjakan.

VIII. Identitas Subjek

Nama : Rosita Cahya. H. Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 22 tahun

Pendidikan : S1 Psikologi

Tester : Amrizal Rustam, Drs., S.U., Psikolog Tanggal Tes : 28 Agustus 2017

(10)

IX. Diskripsi Data

X. Profil

(Terlampir)

XI. Dinamika Psikologis

Subjek memiliki kecenderungan untuk berprestasi, menghadapi tantangan, menyelesaikan tugas yang sulit dan berat. Serta kecenderungan subjek untuk berbuat sesuai dengan apa yang dipikirkan/diharapkan orang lain, mengikuti perintah, mudah dipengaruhi (patuh, menghindari perbedaan) rendah, sehingga membuat subjek melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak subjek sendiri tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Hal ini juga diperkuat kecenderungan subjek untuk tidak tergantung, mandiri dalam membuat keputusan, menghindari campur tangan orang lain pada diri subjek sedang yang mengindikasikan bahwa subjek tidak begitu bergantung pada orang lain.

Subjek merupakan individu yang teratur dalam berbagai hal, ada perencanaan, pengorganisasian kerja (rapi, teratur, teliti, tertib, dsb). Subjek memiliki kecenderungan untuk menjadi pusat perhatian, menonjolkan sesuatu

Aspek Skor Mentah Persentil Keterangan

Achievement 21 97 Sangat tinggi

Deference 7 9 Rendah Order 18 96 Tinggi Exhibition 11 21 Sedang Autonomy 11 45 Sedang Affiliation 15 32 Sedang Intraception 20 78 Sedang Succorance 17 86 Tinggi Dominance 15 59 Sedang Abasement 7 7 Rendah Nurturance 15 41 Sedang Change 18 59 Sedang Endurance 16 76 Sedang Heterosexual 14 52 Sedang Aggression 5 14 Rendah

(11)

prestasi atau untuk menyatakan keberhasilannya sedang, menandakan subjek mampu menunjukkan diri, riang, ekstraversi, percaya diri, dan rasa bangga akan dirinya.

Kecenderungan subjek untuk setia pada teman, berpartisipasi dalam kehidupan kelompok, bekerja sama, berbuat sesuatu dengan orang lain. Subjek juga cenderung untuk menerima bantuan atau afeksi dari orang lain, untuk supaya orang lain bersimpati dan mengerti tentang dirinya. Namun, subjek juga memiliki kebutuhan pemanjaan diri, pasif dalam hubungan sosial, diwarnai meminta bantuan, bersifat egosentris, dependen, mencari rasa aman, tidak dewasa, labil secara emosi, kurang tegas.

Subjek memiliki keinginan untuk memimpin, mempengaruhi, membimbing, mengawasi, membina, mengarahkan, mengorganisir, mengatur, adanya kepercayaan diri, mampu dalam berhubungan sosial.

Kecenderungan subjek untuk mengalami rasa bersalah, lebih mengalah daripada berdebat, merasa kurang mampu, merasa takut, dan rendah diri rendah, membuat subjek tidak ingin jika disalahkan rendah, membuat subjek menjadi pribadi yang berpikir positif, tidak terlalu mempedulikan kesalahan yang telah dilakukan, terbuka, mudah memaafkan dan meminta maaf apabila terjadi kesalahan yang telah dilakukannya.

Adanya kehangatan perasaan, dalam pergaulan disertai pelayanan, pemberian perawatan terhadap manusia juga benda, mencerminkan adanya perasaan sosial terhadap sekelilingnya, bersedia memberi pertolongan, ada pada diri subjek.

Kecenderungan subjek untuk melakukan sesuatu yang baru/berbeda, tidak suka pada rutinitas/ keteraturan, senang bergaul, ingin mengikuti perubahan-perubahan keadaan dan kebudayaan, membuat subjek mampu berhubungan sosial secara baik, ingin melakukan eksperimen, mencoba hal-hal baru, variasi dalam rangka penyegaran diri, serta subjek memiliki kecenderungan tekun dalam tugas-tugas yang dihadapinya, fokus pada tugas-tugas bila bekerja, tidak ingin diganggu.

Subjek memiliki kepribadian yang bergaul bebas dengan lawan jenisnya, tertarik mengikuti kegiatan kelompok lawan jenis, suka membicarakan hal-hal yang berbau seks dalam batas normal. Kecenderungan aggression subjek untuk menyerang orang lain secara fisik atau verbal, mudah marah, mempermainkan orang lain rendah. Membuat subjek menjadi pribadi yang tenang, mengandalkan kedamaian, saling menerima, menghindari konflik dan konfrontasi.

(12)

Konsistensi subjek pada tes ini sangat bagus. Subjek memenuhi 15 dari 15 skor konsistensi yang ada, menunjukkan bahwa subjek sangat konsisten dengan kepribadianya.

XII. Daftar Pustaka

Afifah, Dian Ratnaningtyas. (2014). Profil Kecenderungan Kepribadian Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling Ditinjau Melalui Epps (Edward Personal Preference Schedule) Studi pada Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Angkatan 2012 IKIP PGRI Madiun. Seminar Nasional,

ISBN:978-602-7561-89-2.

Amelia, Tan. Dewintha Indriyanti. (2014). Pengembangan Aplikasi Tes Kerpibadian Menggunakan Metode Edward’s Personal Preference Schedule (EPPS).

SNASTI 2010, OSIT- 4.

Edward Personal Preference Schedule. Diperoleh pada 4 Sept 2017 pukul 21.52, dari:

(13)
(14)

LAPORAN TES SOV (Study of Values)

I. Sejarah

Tes Study of Value (SOV) merupakan inventori nilai yang paling popular, dirancang oleh Allport, Vernon dan Lindzey. Diilhami dari tulisan Types of Men oleh Spranger tahun 1928. Tes ini didesain untuk mengukur kekuatan relatif dari 6 minat dasar, motif, atau sikap evaluatif yaitu teoritis ekonomi estetik, sosial, politik dan religius.

SOV telah diuji cobakan kepada 8000 mahasiswa (laki-laki dan perempuan) dengan berbagai pilihan jurusan maupun pilihan pekerjaan. Dari uji oba itu, diperoleh reliabilitas sebesar 0,8, dengan dilakukan tes re-test setelah dua bulan dilakukan tes. Tes ini juga sesuai dengan hasil minat kerja dari tes Holland dan Kuder yang merupakan aspek validitas eksternal tes SOV dengan skor reliabilitas r= 0,75. SOV digunakan bagi siswa SMA dan mahasiswa atau dengan pendidikan yang setara.

II. Dasar Teori

Allport percaya bahwa filsafat individu didasarkan pada nilai-nilai mereka atau keyakinan dasar yang dipegangnya tentang apa yang sebenarnya dan tidak penting dalam kehidupan (Hjelle dan Ziegler, 1976). Dari asumsi ini, Allport mulai bekerja dari temuan Eduard Spranger, psikolog Eropa, mempelajari bukunya "Types of Men" di mana dia mengemukakan enam jenis nilai utama (Hjelle dan Ziegler, 1976 hal 202-206). Nilai-nilai itu sebagai berikut:

1. Orang Teoretis menggambarkan dominasi minat terhadap pencarian kebenaran melalui pendekatan intelektual, rasional, kritis dan empiris. 2. Individu Ekonomi menempatkan nilai tertinggi pada apa yang paling

berguna. Mereka sering kali praktis dan seringkali kali menjadi orang bisnis yang sukses.

3. Orang Estetis menempatkan nilai tinggi dalam bentuk dan harmoni. Mereka percaya hidup menjadi rangkaian acara yang bisa dinikmati demi dirinya sendiri.

(15)

4. Tipe Sosial menaruh nilai cinta pada orang lain, secara umum nilai sosial dinyatakan sebagai rasa kasih sayang atau cinta kepada orang lain.

5. Tipe Politik adalah ketertarikan pada kekuatan atau power individu, kekuatan mempengaruhi orang lain dan memiliki kemasyuran (tidak terbatas pada politik praktis saja).

6. Individu Religius menempatkan nilai tertinggi pada kesatuan. Mereka berusaha untuk memahami dan mengalami dunia sebagai keseluruhan yang utuh.

Sebagai penutup teorinya masih berlaku sampai sekarang, dan sering kali dipelajari dan direvisi oleh para ahli teori dan psikolog lainnya. Teori seperti itu dijelaskan dalam buku Individual Differences and Personality oleh Sarah E. Hampson dan Andrew M. Colman (1976). Mereka menguraikan nilai-nilai seperti yang dimiliki seseorang dalam buku mereka, juga teori perjuangan yang didukung Erickson dan Allport.

III. Kegunaan Alat Tes

Selama empat puluh tahun setelah pengembangan awalnya, SOV banyak digunakan untuk tujuan konseling, pedagogis, dan penelitian. Bahwa SOV memberikan wawasan berharga untuk tujuan konseling, dicatat oleh Hogan, (dalam Hogan, 1972): ''Bila digunakan dengan mata pelajaran koperasi, ia memberikan informasi yang andal dan relevan mengenai kasus individual''. SOV sering digunakan dalam kursus psikologi sebagai demonstrasi kelas. Menurut Allport, Vernon, dan Lindzey (dalam Kopelman, 2003) siswa biasanya tertarik dengan nilai mereka sendiri, menikmati diskusi tentang hasilnya, dan merasa bahwa skema klasifikasi itu bermanfaat. Berkaitan dengan skala nilai dalam penelitian Feldman dan Newcomb (1969) (dalam Kopelman, 2003) mengatakan bahwa ''Instrumen ini memberikan sumber informasi terbaik tentang perubahan nilai selama tahun-tahun kuliah''. Selain itu, selama bertahun-tahun, banyak bukti telah mengumpulkan menunjukkan bahwa skor SOV bersifat prediktif terhadap jenis pendidikan profesional, pilihan pekerjaan, perubahan nilai, perbedaan kelompok (misalnya jenis kelamin), tindakan kepentingan, dan kesepakatan nilai antara keluarga dan teman (Allport et al., 1970).

(16)

IV. Administrasi

Tidak perlu memberikan petunjuk verbal kepada subjek. Seluruh penyajian untuk setiap bentuk sub tes tidak membutuhkan batasan waktu dalam mengerjakannya. Namun tergantung pada daya faham kelompok atau subyek. Sedangkan alat-alat administrasi yang digunakan untuk pengerjaan tes adalah : buku tes, lembar jawaban, pensil, dan penghapus.

Tes terdiri dari 2 (dua) bagian, bagian pertama terdiri dari 30 item. Pada bagian pertama ini disediakan sejumlah pertanyaan dengan 2 (dua) alternative jawaban. Subjek diminta untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan pendapat subjek, meskipun jawaban itu menarik atau tidak menarik sama sekali. Jawaban diberikan dengan cara:

a. Jika merasa setuju dengan (a) dan tidak setuju dengan (b), tuliskan angka 3 pada muka (a) dan angka 0 pada muka (b).

b. Jika merasa tidak setuju dengan (a) dan setuju dengan (b), tuliskan 0 pada muka (a) dan angka 3 pada muka (b).

c. Jika merasa lebih sesuai dengan (a) daripada (b), maka tuliskan angka 2 pada muka (a) dan angka 1 pada muka (b).

d. Jika merasa kurang sesuai dengan (a) daripada (b), maka tuliskan angka 1 pada muka (a) dan angka 2 pada muka (b).

Pada bagian ke dua, terdiri dari 15 item. Pada bagian ke dua ini diberikan pertanyaan atau pernyataan dengan 4 (empat) alternative jawaban. Subjek diminta untuk menyusun jawaban sesuai dengan pendapat dari subjek. Pilihan jawaban diberikan dengan menuliskan urutan angka sebagai berikut:

a. Tuliskan angka 4 bila jawaban itu paling disukai; menandakan jawaban itu menempati urutan pertama.

b. Tuliskan angka 3 bila jawaban itu dianggap menempati urutan kedua. c. Tuliskan angka 2 bila jawaban itu dianggap menempati urutan ketiga. d. Tuliskan angka 1 bila jawban itu dianggap menempati urutan keempat. Meskipun subjek memiliki jawaban lain yang lebih menarik, subjek tetap diminta untuk menuliskan angka-angka dengan cara seperti di atas.

Setelah selesai, tester mengumpulkan buku dan lembaran jawaban dan menghitungnya, kemudian testi di izinkan meninggalkan ruangan.

(17)

V. Skoring

Berikut ini langkah-langkah dalam melakukan skoring hasil tes kepribadian SOV:

1. Menjumlahkan skor pada kotak R S T X Y Z di setiap halaman lembar tes, bagian 1 dan juga bagian 2.

2. Masukkan jumlah skor R S T X Y Z pada kolom skoring yang disediakan, pastikan memasukkan pada kolom yang sesuai pada bagian dan halaman tes, serta sesuaikan dengan kode R S T X Y Z –nya yang ada yang teracak. 3. Pastikan jumlah skor R S T X Y Z pada setiap halaman sesuai dengan Jumlah

Skor yang Harus Cocok pada table paling kanan.

4. Jumlahkan skor total pada tiap aspek.

5. Jumlahkan juga skor total keseluruhan aspek. Pastikan juga jumlah total skor tiap aspek harus sesuai atau sama dengan jumlah skor total pada table Jumlah

Skor yang Harus Cocok.

6. Setelah itu, sesuaikan jumlah skor pada setiap aspek dengan ketentuan: a. Teori : ditambahkan 2 b. Ekonomi : dikurangkan 1 c. Aestetis : ditambahkan 4 d. Sosial : dikurangkan 2 e. Politik : ditambahkan 2 f. Agama : dikurangkan 5

Cek kembali jumlah total jumlah skor tiap aspek harus sesuai atau sama dengan jumlah skor total pada table Jumlah Skor yang Harus Cocok.

VI. Interpretasi

Skor mentah yang didapat pada setiap nilai langsung dimasukkan ke dalam profil, SOV lebih menekankan pada hasil yang ipsatif. Serta disesuaikan dengan norma yang berlaku di Indonesia, yaitu Teori : ditambahkan 2; Ekonomi : dikurangkan 1; Aestetis : ditambahkan 4; Sosial : dikurangkan 2; Politik : ditambahkan 2; Agama : dikurangkan 5.

VII. Kritik

Secara umum tes inventori kepribadian memiliki beberapa kelemahan, seperti:

(18)

1. Tes tidak dapat bersifat culture free, karena memerlukan pemyesuaian terlebih dahulu terhadap daerah mana tes ini digunakan, sebagai contoh saat di Indonesia musti di sesuaikan hasil akhirnya dengan ketentuan tertentu terlebih dahulu.

2. Subjek ingin menunjukkan kesan-kesan tertentu kepada penguji.

3. Karena banyaknya jumlah tes yang dikerjakan maka dapat menyebabkan testee malas dalam mengerjakannya.

4. Kesukaran semantik, penafsiran yang berbeda. 5. Faking atau tidak jujur.

6. Acquiscence; bila aitem yang dibuat lebih mengarah ke jawaban-jawaban tertentu. untuk mengurangi kelemahan-kelemahan ini, tester perlu memahami tes yang hendak digunakan dengan baik sehingga menyajikan tes dengan baik.

VIII. Identitas Subjek

Nama : Fabianus Widyarto. N.

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Usia : 20 tahun

Pendidikan : S1 Psikologi

Tester : Amrizal Rustam, Drs., S.U., Psikolog Tanggal Tes : 11 September 2017

IX. Diskripsi Data

Bagian

Halaman Teori Ekonomi Aestetis Sosial Politik Agama

Jumlah skor harus cocok dengan di bawah ini Bagian I Halaman 2 4 (R) 6 (S) 5 (T) 4 (X) 1 (Y) 4 (Z) 24 Halaman 3 3 (Z) 1 (Y) 9 (X) 4 (T) 2 (S) 5 (R) 24 Halaman 4 2 (X) 4 (R) 1 (Z) 5 (S) 4 (T) 5 (Y) 21 Halaman 5 4 (S) 1 (X) 2 (Y) 4 (R) 5 (Z) 5 (T) 21

(19)

Bagian

Halaman Teori Ekonomi Aestetis Sosial Politik Agama

Jumlah skor harus cocok dengan di bawah ini Bagian II Halaman 7 10 (Y) 7 (T) 7 (S) 9 (Z) 6 (R) 11 (X) 50 Halaman 8 7 (T) 8 (Z) 7 (R) 8 (Y) 7 (X) 13 (S) 50 Halaman 9 4 (R) 6 (S) 10 (T) 9 (X) 10 (Y) 11 (Z) 50 Jumlah 34 33 41 43 35 54 240 Sesuaian 34+2=36 33-1=32 41+4=45 43-2=41 35+2=37 54-5=49 240 Prosentase 15% 13.3% 18.8% 17.1% 15.5% 20.4% 100% X. Profil (terlampir)

XI. Dinamika Psikologis

Dari hasil tes ini, dapat dilihat subjek memiliki 3 nilai yang sangat menonjol atau tinggi, yakni Religiusitas, Aestetik, dan Sosial, mengakibatkan kecenderungan subjek akan memperhatikan upaya penyatuan pengalaman “kosmos” secara menyeluruh, tidak hanya dalam hal agama faktual semata. Subjek juga suka menilai dan menikmati pengalaman unik yang dialami, dan suka akan hal-hal yang “simetris” dan berhubungan dengan “keharmonisan”. Serta subjek memiliki kepribadian yang hangat secara umum memiliki rasa kasih sayang atau cinta kepada orang lain. Hal sesuai dengan subjek yang suka termasuk taat dalam beribadah, dan penyatuan harmoni dengan alam. Subjek juga selalu berkesan dan mengingat hal-hal yang sangat berkesan bagi subjek dan menyukai dengan hal yang seimbang dan simetris dalam berbagai hal. Subjek cenderung lepas dan cepas-ceplos jika kepada relasi yang sudah sangat akrab dengan subjek.

Subjek memiliki ketertarikan pada kekuatan atau power individu, yaitu kekuatan mempengaruhi orang lain dan memiliki kemasyuran, meskipun tidak semenonjol dengan tiga nilai teratas lainnya. Hal ini terlihat dari ketertarikan

(20)

subjek untuk memimpin atau “mengusai” kelompoknya, enggan untuk terlihat menunjol dalam pergaulan, walaupun keinginan itu tidak sepenuhnya tidak ada.

Rasa keingintahuan subjek akan sesuatu juga terbilang rendah dari pada ketiga nilai sebelumnya, dimana subjek memiliki kecenderungan merasa “masa bodoh” dan dan berpikiran “yang udah itu ya itu saja”. Penekanan pada nilai guna dan kepraktisan (stereotype businessman) pada subjek cenderung rendah, sehingga subjek menjadi orang yang lebih suka kepada penjelasan yang lebih rinci dan detail, karena subjek akan mengalami kebingunan jika tidak mendapat ke-detail-an akan sesuatu.

XII. Daftar Pustaka

Allport, G. W., Vernon, P., & Lindzey, (1970). Study of Values (Revised third ed). Chicago: The Riverside Publishing Company.

Coman, A.M. Hampson, S.E. 1995. Individual Differences and Personality. New York: Longman Group Unlimited.Revised: 03/03/05.

Hogan, R. (1972). Review of The Study of Values. In O. K. Buros (Ed.), The

Seventh Mental Measurements Yearbook (pp. 355–356). Highland Park,

NJ: Gryphon Press.

Kopelman, Ricard. E. et. al. (2003). The Study of Values: Construction of the

Fourth Edition. Journal of Vocational Behavior 62 (2003) 203–220.

L.A., HJelle & Ziegler, D.J. (1976). Personality Theories: Basic Assumptions,

(21)
(22)

LAPORAN TES

BDI (Beck Depression Inventory)

I. Sejarah

Beck Depression Inventory (BDI) merupakan self-report inventory yang

mengukur karakteristik sikap dan gejala depresi (Beck, et al., 1961). Dibuat oleh Aaron T Beck pada tahun 1967 berdasarkan observasi dan catatannya mengenai sikap dan simptom pasien depresi selama proses psikoterapi yang mengungkap 21 simptom depresi yang mengambarkan kategori sikap dan gejala depresi. Manifestasi depresi pada emosi selain timbulnya perasaan sedih adalah perasaan bersalah, kosong, malu, rasa tidak berharga, tidak berguna, kehilangan afeksi, keterlekatan emosional, dan mudah menangis dan keinginan bunuhdiri.

BDI telah dikembangkan dalam bentuk yang berbeda, termasuk beberapa bentuk komputerisasi, dan bentuk kartu (Mei, Urquhart, Tarran, 1969, dikutip dalam Groth-Marnat, 1990), bentuk pendek 13-item dan lebih baru BDI-II oleh Beck, Steer & Brown, 1996. (Lihat Steer, Rissmiller & Beck, 2000 untuk informasi tentang kegunaan klinis dari BDI-II.) Biasanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk menyelesaikan BDI, meskipun klien memerlukan tingkat membaca kelas lima sampai enam untuk cukup memahami pertanyaannya (Groth-Marnat, 1990).

Konsistensi internal untuk BDI berkisar antara 0,73 sampai 0,92 dengan rata-rata 0,86 (Beck, Steer, & Garbin, 1988). Reliabilitas serupa telah ditemukan untuk bentuk pendek 13 item (Groth-Marnat, 1990). BDI menunjukkan konsistensi internal yang tinggi, dengan koefisienal fase besar 0,86 dan 0,81 untuk populasi psikiatri dan non-psikiatri (Beck et al., 1988).

II. Dasar Teori

Beck Depression Inventory merupakan instrumen untuk mengukur derajat

depresi dari Aaron T. Beck. Mengandung skala depresi yang terdiri dari 21 item yang menggambarkan 21 kategori, yaitu: (1) perasaan sedih, (2) perasaan pesimis, (3) perasaan gagal, (4) perasaan tak puas, (5) perasaan bersalah, (6) perasaan dihukum, (7) membenci diri sendiri, (8) menyalahkan diri, (9) keinginan bunuh diri, (10) mudah menangis, (11) mudah tersinggung, (12) menarik diri dari

(23)

hubungan sosial, (13) tak mampu mengambil keputusan, (14) penyimpangan citra tubuh, (15) kemunduran pekerjaan, (16) gangguan tidur, (17) kelelahan, (18) kehilangan nafsu makan, (19) penurunan berat badan, (20) preokupasi somatik, (21) kehilangan libido (Bumberry, 1978).

Klasifikasi nilainya menurut Bumberry (1978) adalah sebagai berikut: a. Nilai 0-9 menunjukkan tidak ada gejala depresi.

b. Nilai 10-15 menunjukkan adanya depresi ringan. c. Nilai 16-23 menunjukkan adanya depresi sedang. d. Nilai 24-63 menunjukkan adanya depresi berat

Beck (Lubis, 2009:94) berpendat bahwa adanya gangguan depresi adalah akibat dari cara berpikir seseorang terhadap dirinya. Penderita depresi cenderung menyalahkan diri sendiri. Hal ini disebabkan karena adanya distorsi kognitif terhadap diri, dunia, masa depannya, sehingga dalam mengevaluasi diri dan menginterpretasi hal-hal yang terjadi mereka cenderung mengambil kesimpulan yang tidak cukup dan berpandangan negatif.

Cognitive triad merupakan tiga serangkai pola kognitif yang membuat

individu memandang dirinya, pengalamannya dan masa depannya secara idiosinkritik, yaitu memandang masa depan secara negatif.

Gangguan- gangguan dalam depresi dapat dipandang sebagai pengaktifan tiga pola kognitif utama ini. Model kognitif beranggapan bahwa tanda-tanda dan simtom-simtom lain dari depresi merupakan konsekuensi aktifnya pola-pola kognitif tadi. Misalnya, bila individu berpikir bahwa ia dikucilkan oleh teman-temannya maka ia akan merasa kesepian.

1. Memandang diri secara negatif

Disini individu menganggap dirinya sebagai tidak berharga, serba kekurangan dan cenderung memberi atribut pengalaman yang tidak menyenangkan pada diri sendiri. Lebih lanjut ia memandang dirinya tidak menyenangkan, dan cenderung menolak diri sendiri. Ia akan mengkritik dan menyalahkan dirinya atas kesalahan dan kelemahan yang diperbuatnya. 2. Menginterpretasikan pengalaman secara negatif

Individu melihat dunia sebagai penyaji tuntutan-tuntutan di luar batas kemampuan dan menghadirkan halangan-halangan yang merintangi dirinya mencapai tujuan. Ia keliru menafsirkan interaksinya dengan lingkungan. Kognisinya juga menampilkan berbagai penyimpangan dari berpikir logis,

(24)

termasuk kesimpulan yang dipaksaan, abstraksi selektif, terlalu menggeneralisasi dan membesar-besarkan masalah. Individu tersebut akan merangkai fakta-fakta agar sesuai dengan pikiran negatifnya. Ia akan membesar-besarkan arti setiap kehilangan, hambatan, dan rintangan. Orang yang depresi biasanya demikian sensitif pada setiap hambatan terhadap kegiatannya mencapai tujuan.

Dalam suatu situasi prestasi diutamakan, orang depresi cenderung bereaksi disertai dengan perasaan gagal. Mereka cenderung meremehkan kemampuan yang sebenarnya. Lebih lanjut lagi bila tampilan kerja yang diperlihatkan jauh dibawah standar tinggi yang telah ditetapkan, mereka sering menganggapnya sebagai gagal total. Orang yang depresi sering menginterpretasikan ucapan-ucapan netral diarahkan untuk menentang dirinya. Bahkan memutar balikkan komentar yang menyennagkan menjadi kurang menyenangkan.

3. Memandang masa depan secara negatif

Pandangan indivisu yang depresi mengenai masa depan diwarnai oleh antisipasinya bahwa kesulitan-kesulitan saat ini akan terus berlanjut di masa depan. Para klien yang depresi umumnya menampilkan keterpakuan terhadap ide-ide mengenai masa depan . harapan-harapan yang mereka miliki selalu berpandangan negatif.

III. Kegunaan Alat

Beck Depression Inventory (BDI) merupakan alat ukur depresi yang

dikerjakan sendiri oleh pasien atau subjek penelitian (self-report), yang mengungkap 21 simptom depresi yang mengambarkan 21 kategori sikap dan gejala depresi. Manifestasi depresi pada emosi selain timbulnya perasaan sedih adalah perasaan bersalah, kosong, malu, rasa tidak berharga, tidak berguna, kehilangan afeksi, keterlekatan emosional, dan mudah menangis dan keinginan bunuh diri.

Penelitian Ginting, dkk. (2013) menunjukkan bahwa BDI mampu membedakan antara individu yang depresi dan tidak depresi dan mempunyai konsistensi internal 0,90 serta reliabiltas tes ulang sebesar 0,55 (p<0,01).

(25)

IV. Administrasi

Tes tidak membutuhkan batasan waktu dalam mengerjakannya. Biasanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk mengerjakannya, namun itu tergantung pada daya faham kelompok atau subyek. Sedangkan alat-alat administrasi yang digunakan untuk pengerjaan tes adalah : buku tes, lembar jawaban, pensil, dan penghapus.

Subyek diminta untuk menjawab semua item pernyataan dengan menentukan salah satu dari pilihan yang tersedia dengan memberikan tanda silang (x) pada tempat yang telah disediakan dilembar jawaban. Tanda silang (x) pada salah satu pernyataan disetiap kategori yang paling mencerminkan kondisi yang dirasakan pada saat ini.

Setelah selesai, tester mengumpulkan buku dan lembaran jawaban dan menghitungnya, kemudian testi di izinkan meninggalkan ruangan.

V. Skoring

Skor diberikan sesuai dengan kunci pada masing-masing pernyataan. Jika subjek memilih dua 2 pernyataan atau lebih, maka skor yang digunakan adalah skor yang paling tinggi. Nilai perolehan akhir atau nilai total dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh nilai yang diperoleh untuk masing-masing kategori. Nilai ini bergerak dari 0 sampai dengan 63. Setelah itu, jumlah total skor menurut diklasifikasikan menurut klasifikasi kategori skor yang ada.

VI. Interpretasi

Kategori skor BDI-I menurut Bumberry (1978):

Nilai Total Interpretasi

0-9 Tidak ada gangguan depresi 10-15 Depresi ringan

16-23 Depresi sedang 24-63 Depresi berat

Skor total yang diperoleh dari menjumlahkan total jumlah skor masing-masing kategori. Skornya dimulai dari angka 0 sampai dengan 63. Dari hasil skor itu, sesuaikan dengan norma kategori rentang skor pada tabel di atas, apakah masuk dalam kategori depresi ringan, sedang atau berat, atau bahkan tidak mengalami gangguan depresi.

(26)

VII. Kritik

Dalam tes BDI-I ini terdapat kekurangan, yakni terdapat item yang ambigu, pada item kehilangan nafsu makan dan susah tidur (insomnia). Pada item ini, diketahui bahwa individu yang mengalami depresi mengalami penurunan nafsu makan dan sukar/sulit untuk tidur, padahal tidak semua individu yang depresi menunjukan gejala depresi mereka dengan hilangnya nafsu makan dan sulit tidur, tetapi bisa terjadi individu tersebut melampiaskan depresinya dengan banyak makan dan tidur terus.

Dalam hal pengisian tes, testee dapat melakukan faking dalam menjawab.

Testee bisa mengalami bias karena faktor lingkungan saat mengisi tes itu atau testee menyembunyikan, enggan atau menyangkal bahwa dirinya mengalami

depresi atau bahkan agar terlihat bagus bahwa drinya merupakan individu yang sehat mental.

VIII. Identitas Subjek

Nama : Fabianus Widyarto. N.

JenisKelamin : Laki-Laki

Usia : 20 tahun

Pendidikan : S1 Psikologi

Tester : Amrizal Rustam, Drs., S.U., Psikolog TanggalTes : 18 September 2017

(27)

Nomor Item Gejala yang Diungkap Nilai yang Dipilih Nilai

1 Perasaan sedih 1 1

2 Perasaan pesimis 1, 2 2

3 Perasaan gagal 1,2a ,2b, 3 3

4 Perasaan tidak puas 1, 2, 3 3

5 Perasaan bersalah 1, 2a, 3 3

6 Perasaan dihukum 1, 2, 3a 3

Nomor Item Gejala yang Diungkap Nilai yang Dipilih Nilai

7 Membenci diri sendiri 1a, 1b, 2, 3 3 8 Menyalahkan diri

sendiri 1, 2, 3

3

9 Keinginan bunuh diri 1, 2a 2

10 Menangis 0 0

11 Mudah tersinggung 2 2

12 Menarik diri dari

hubungan sosial 1 1 13 Tidak mampu mengambil keputusan 2 2 14 Penyimpangan citra tubuh 2, 3 3 15 Kemunduran dalam pekerjaan 1a, 2 2 16 Gangguan tidur 3 3 17 Kelelahan 1, 2 2 18 Kehilangan selera makan 1 1

19 Penurunan berat badan 0 0

20 Preokupasi somatisasi 1, 3 3

21 Kehilangan libido 0 0

(28)

Jumlah tersebut masuk ke dalam kategori depresi berat, menandakan bahwa subjek berada dalam kondisi depresi berat.

X. Profil

(terlampir)

XI. Dinamika Psikologi

Berdasarkan hasil dari tes BDI-I dari subjek, terlihat subjek masuk pada kategori depresi berat. Banyak item yang di jawab subjek dengan skor maksimal/indikasi berat, terlebih subjek mengindikasikan berkeinginan untuk melakukan bunuh diri. Keingingan bunuh diri ini terjadi dulu waktu subjek menginjak SMP.

Hal lain yang mendukung, subjek memiliki perasaan bersalah besalah sepanjang waktu, subjek merasa semua keadaannya ini akibat kesalahan yang dia lakukan. Subjek juga merasa bahwa dirinya sedang dihukum akibat kesalahan yang ia lakukan, sehingga membuat subjek membeci dirinya sendiri. Akibatnya, subjekpun memiliki image buruk akan dirinya sendiri sehingga subjek merasa dirinya buruk, tidak berguna dan tidak berdaya. Hal ini membuat subjek tidak memiliki kepercayaan diri untuk tampil dalam segala hal.

Siklus tidur subjek juga terganggu, ia selalu terbangun lebih awal dari biasanya dan tidak dapat tidur kembali. Serta subjek merasa tidak bertenaga, lelah letih dan lesu untuk melakukan aktivitas sehari-harinya akibat dari rasa ketidakberdayaan subjek akan dirinya sendiri.

Kesimpulannya subjek ini mengalami depresi berat, hingga muncul perilaku ingin bunuh diri serta rasa ketidakberdayaan, perasaan bersalah atas dirinya, dan penerimaan yang buruk atas citra dirinya sendiri.

XII. Daftar Pustaka

Beck, A.T., Ward, C. H., Mendelson, M., Mock, J., & Erbaugh, J. (1961) An Inventory For Measuring Depression. Archives of General Psychiatry, 4, 561-571.

(29)

Beck, A. T., Steer, R.A., & Garbin, M.G. (1988). Psychometric Properties of The Beck Depression Inventory: Twenty-Five Years of

Evaluation. Clinical Psychology Review, 8(1), 77-100.

Bumberry, W. Oliver. J. M. & McClure. (1978). Validation of The Beck Depression Inventory in a University Population Using ,Psychiatric Estimate as The Criterion. Journal of Consulting and Clinical

Psychology, vol. 46, hal. 150-155.

Ginting, H., Näringa, N., Van der Velda, W. M., Srisayektic, W., & Beckera, E. S. (2013). Validating the Beck Depression Inventory in Indonesia’s General Population and Coronary Heart Disease Patients.

International Journal of Clinical and Health Psychology, 13, 235-342.

Groth-Marnat G. (1990). The Handbook of Psychological Assessment (2nd ed.). New York: John Wiley & Sons.

Hojat, M., Shapurian, R., Mehrya, A.H., (1986). Psychometric Properties of A Persian Version of The Short Form of The Beck Depression Inventory For Iranian College Students. Psychological Reports, 59(1), 331-338. Lubis, Namora Lumongga. (2009). Depresi: Tinjauan Psikologis. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.

Steer, R. A., Rissmiller, D. J.& Beck, A.T., (2000). Use Of The Beck

Depression Inventory With Depressed Geriatric Patients. Behaviour

(30)
(31)

Referensi

Dokumen terkait