• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4. 1 Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum

Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum merupakan DAS terbesar di Jawa Barat. Sungai Citarum berhulu dari mata air di Gunung Wayang, Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung, dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Karawang dengan panjang sungai ± 315 km yang terdiri dari tiga anak sungai utama yakni Sungai Cisangkuy, Sungai Cikapundung, dan Sungai Cisokan. Secara geografis DAS Citarum terletak pada 5°52’30” - 7°20’00” LS dan 106°15’00” - 106°52’30” BT. DAS Citarum mempunyai luas 6.614 km2 dan panjang 300 km (Jasa Tirta II, 2002 dalam Hadisantosa, 2006). DAS Citarum yang pada tahun 1999 dihuni oleh 8.5 juta penduduk memegang beberapa peranan penting, antara lain (Wardhani, 2005) :

• Sejak tahun1962 merupakan tempat keberadaan tiga waduk besar, yakni Waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur.

• Mengairi jaringan irigasi pertanian seluas 300.000 ha di kawasan Pantura Jawa Barat.

• Menjadi sumber air minum bagi kawasan Urban Bandung, Cimahi, Cianjur, Purwakarta, Bekasi, Karawang, dan Jakarta.

• Dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti areal budidaya ikan terapung, rekreasi, dan sarana olah raga.

DAS Citarum terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian hulu, tengah, dan hilir dengan panjang tiga sungai masing-masing ±100 km(BPLHD, 2003). Pada DAS Citarum Hulu dan Tengah terdapat banyak kegiatan yang berpotensi mencemari badan air Sungai Citarum baik langsung maupun melalui anak-anak sungai. Berbagai kegiatan pada DAS Citarum yang mempunyai pengaruh dominan berpotensi mencemari badan sungai dapat dikelompokkan dalam kegiatan : domestik, industri, pertanian, perikanan, dan peternakan.

(2)

4. 2 Segmentasi Sungai Berdasarkan Wilayah Administrasi

Berdasarkan pembagian administrasinya, wilayah DAS Citarum dikelompokkan menjadi :

1. DAS Citarum Hulu sampai dengan Waduk Saguling berada pada Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Kota Cimahi. Segmen ini merupakan bagian sungai yang banyak menampung beban pencemaran air akibat limbah industri, domestik, dan pertanian. 2. Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur berada pada Kabupaten Bandung,

Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Purwakarta. Waduk-waduk tersebut banyak menampung beban pencemaran airakibat limbah perikanan keramba jarring apung.

3. Citarum Hilir dari Bendung Curug sampai muara sungai berada di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi.

Beberapa aktivitas pada DAS Citarum yang dapat berpotensi dalam pencemaran badan sungai dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a. Domestik, meliputi aktivitas pemukiman dan rumah tangga.

b. Industri, meliputi berbagai aktivitas industri terutama industri tekstil. c. Pertanian,meliputi berbagai aktivitas pertanian yang dilakukan

masyarakat di sekitarnya baik dengan sistem irigasi maupun tadah hujan. Di kawasan DAS Citarum, pertanian merupakan tata guna lahan yang dominan.

d. Perikanan, dimana perikanan merupakan salah satu mata pencaharian penduduk di kawasan DAS Citarum. Beberapa jenisikan yang umum diternakkan diantaranya adalah ikan mas dan ikan lele.

e. Peternakan, merupakan salah satu mata pencaharian penduduk di kawasan DAS Citarum. Beberapa jenis hewan yang umum diternakkan diantaranya adalah ayam dan kambing.

(3)

4. 3 Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu

Bagian hulu DAS Citarum merupakan suatu cekungan yang dikelilingi oleh komplek pegunungan Tangkuban Perahu di utara, komplek pegunungan Patuha Malabar di selatan, dan Pegunungan Krenceng dan Gunung Mandalawangi di bagian selatan. Bagian tengah DAS Citarum meliputi tiga zona depresi yakni cekungan Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. DAS Citarum bagian hilir terletak pada dataran kipas alluvium Citarum dan dataran pantai utara Jawa Barat, dimana topografinya relatif datar dan landai serta sedikit bergelombang dengan kisaran sudut lereng 0-8%, 8-15%.

Kawasan DAS Citarum Hulu terdiri dari Kabupaten Bandung (29 kecamatan), Kota Cimahi (seluruhnya yaitu Kecamatan Cimahi Selatan, Cimahi Tengah, dan Cimahi Utara), Kota Bandung dengan 26 kecamatannya dan sebagian Kabupaten Sumedang (Kecamatan Cikeruh, Tanjungsari, dan Cimanggu) yang dilalui oleh DAS Citarum Hulu dan merupakan bagian dari wilayah kabupaten dan kota di Propinsi Jawa Barat yang dilalui dan dipengaruhi oleh DAS Citarum. Secara geografis DAS Citarum Hulu terletak antara 107°30’ BT - 108° BT dan 6°43’ LS - 7°15’ LS dengan batas-batas sebagai berikut :

- Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang

- Sebelah barat berbatasan dengan bagian barat Kabupaten Bandung - Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sumedang dan Garut - Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Garut

4. 4 Kondisi Fisik DAS Citarum Hulu

4. 4. 1 Letak dan Luas

Bandung merupakan kota yang terletak di daerah cekungan besar yang bernama Cekungan Bandung. DAS Citarum termasuk ke dalam Cekungan Bandung dengan

(4)

sungai utamanya yaitu Sungai Citarum yang akan terlihat membelah dua Cekungan Bandung.

Posisi geografis DAS Citarum Hulu membentang dari 10/20˝ - 107’ 55˝ BT dan 6’ 45˝ LS di sebelah utarasampai 7’ 15˝ LS di sebelah selatan. Cekungan Bandung merupakan dataran tinggi dengan ketinggian antara 645 m (Sungai Citarum bagian barat) sampai 700 m di atas permukaan laut, dengan titik tertinggi mencapai 2321 m yang merupakan Puncak Gunung Malabar di sebelah selatan Cekungan Bandung. Luas keseluruhan DAS Citarum Hulu adalah ± 2322 km2. Gambar 4. 1 menunjukkan peta DAS Citarum Hulu sampai dengan Nanjung.

Gambar 4. 1 Peta DAS Citarum Hulu

(Pusair Jawa Barat, 2008)

Secara administrasi, Cekungan Bandung ini meliputi Kota Bandung, lebih dari setengah Kabupaten Bandung, dan sebagian kecil Kabupaten Sumedang, serta

(5)

meliputi seluruh DAS Citarum Hulu (wilayah Sungai Citarum sebelum Waduk Saguling).

4. 4. 2 Iklim

Berdasarkan klasifikasi Van Breen, iklim yang terdapat pada Cekungan Bandung bervariasi mulai dari tipe A yang bersifat sangat lembab, yaitu menempati daerah pegunungan tinggi, tipe B yang bersifat lembab terdapat di daerah barat daya Kabupaten Bandung, dan tipe C yang bersifat tidak terlalu kering terdapat di bagian timur Kabupaten Bandung. Nilai suhu dan kelembaban di Cekungan Bandung tergolong sedang dengan temperatur rata-rata adalah 23°C dan derajat kelembaban rata-rata adalah 78% pada musim hujan dan 70% pada musim kemarau.

Angka curah hujan tahunannya berkisar antara 1000 mm/tahun sampai 4300 mm/tahun. Konsentrasi hujan lebih besar terjadi di sebelah selatan Bandung yang didominasi oleh hujan orografik yang cukup lebat karena efek benturan angin yang membawa uap air dari arah barat laut ke selatan Cekungan Bandung. Sedangkan Cekungan Bandung daerah utara merupakan daerah bayangan hujan sehingga bersifat kering.

Keadaan iklim dipengaruhi oleh angin musim yang menghasilkan hujan berkisar antara November dan Mei, sedangkan musim kering antara Juli dan September. Curah hujan rata-rata terendah terdapat di sekitar Waduk Saguling yaitu 1800 mm/tahun dan tertinggi di daerah pegunungan seperti Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, dan Gunung Malabar yaitu lebih dari 4000 mm/tahun. Karena ketinggian dan suhu udara Bandung dan pegunungan vulkanik di sekitarnya bersifat sedang, maka suhu udara harian dan tahunan seimbang, yakni antara 24°C hingga 28°C. Kelembaban nisbi rata-rata tahunan adalah sekitar 80%.

(6)

Tabel 4. 1 Data klimatologi rata-rata bulanan (BPS Kabupaten Bandung, 2000) Bulan Curah Hujan (mm) Hari Hujan (hh) Temperatur (°°°°C) Kelembaban (%) Kecepatan Angin (km/hari) Penyinaran Matahari (Jam) Januari 379.4 18 22.3 85 253.44 5.6 Februari 338.4 17 22.1 84 264.96 6.3 Maret 330.4 16 22.3 83.8 276.48 5.6 April 305.9 14 22.6 82.6 207.36 6.1 Mei 203.2 12 22.6 82.6 207.36 7.4 Juni 103.0 6 22.1 76.8 222.24 8.7 Juli 79.3 4 21.7 75.4 240 8.5 Agustus 78.0 4 22.3 75.2 240 9 September 61.4 5 22.8 72.3 255.6 7.8 Oktober 227.7 10 23 75 233.4 6.7 November 294.7 17 22.6 80 213.6 6.7 Desember 306.4 19 22.6 81.2 240.48 6.6 Rata-rata 225.6 11.8 22.4 79.5 238 7.1 4. 4. 3 Topografi

Morfologi Cekungan Bandung merupakan perbukitan dengan klasifikasi kemiringan sebagai berikut :

1. Daerah dataran dengan kemiringan 0%-3%, meliputi seluruh Kota Madya Bandung dan sebagian Kabupaten Bandung.

2. Daerah bergelombang dengan kemiringan 3%-5%, meliputi wilayah Kabupaten Bandung bagian tengah.

3. Daerah berelief halus dengan kemiringan lahan setempat dengan areal yang tidak terlalu halus.

4. Daerah berelief kasar dengan kemiringan > 15%, meliputi sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung.

Kondisi kemiringan DAS Citarum Hulu berkisar antara datar sampai dengan sangat curam, dengan kemiringan dataran mulai dari < 3% sampai lebih dari 50%.

(7)

Kondisi kemiringan ini sangat mempengaruhi karakteristik hidrologi. Hal ini disebabkan hujan yang jatuh akan lebih cepat terkonsentrasi dan dengan drainase yang lambat akan sangat potensial mengakibatkan terjadinya banjir di daerah hulu.

Tabel 4. 2 Persentase luas DAS Citarum Hulu berdasarkan kemiringan lahan

(SWS Citarum, 2000)

No Kelas Kemiringan (%) Luas (ha) Persentase (%)

1 0 – 3 20534.44 11.6 2 3 – 8 29916.51 16.89 3 8 – 15 36830.74 20.8 4 15 – 30 45992.60 25.97 5 30 – 50 27704.75 15.64 6 > 50 16111.96 9.1 Jumlah 177100 100 4. 4. 4 Geologi

Kondisi geologi Cekungan Bandung terbentuk oleh proses pembentukan dari jaman yang berbeda-beda yang secara garis besar terdiri dari batuan beku vulkanik dan batuan sedimen. Proses geologi yang terjadi di suatu tempat menentukan dan mempengaruhi pembentukan jenis tanahnya. Jenis-jenis tanahnya yaitu :

1. Latosol, merupakan pembatas lapisan tanah muda dari pelapukan vulkanis dan paling baik untuk perairan.

2. Andosol, terdapat pada lereng-lereng gunung berapi, banyak ditemukan di Lembang dan Pengalengan. Permeabilitasnya tinggi sehingga banyak menangkap air.

3. Regosol, bersifat erosive dan kemampuan menangkap airnyarendah. Diperuntukkan bagi tanaman permanen dan hutan, terdiri dari lanau pasiran dan lempung lanauan.

(8)

4. Grumsol dengan bahan dasar tanah berkapur, batu kapur, batuan dasar vulkanik dan alluvial.

5. Padsol, baik untuk pembangunan, terdapat di barat.

6. Alluvial berwarnacokelat atau abu-abu, terdapat di daerah yang sering mengalami banjir maupun kondisi drainase buruk.

7. Planosol ditemukan di dalam sumber-sumber air tanah dangkal dan daerah dataran.

4. 4. 5 Air Permukaan

Air permukaan atau sungai-sungai di daerah Cekungan Bandung berinduk pada Sungai Citarum, yang terdiri dari tujuh sub DAS. Masing-masing mempunyai hulu beragam, baik dari utara, timur, ataupun selatan yang seluruhnya bermuara ke Sungai Citarum yang mengalir ke arah barat. Khususnya sistem Sungai Citarum Hulu dengan sub DAS-nya yang terdiri dari Sub DAS Citarik, Cirasea, Cisangkuy, Cikapundung, Ciwidey, Ciminyak, dan Cihaur seperti ditunjukkan pada Gambar 4. 2.

(9)

Gambar 4. 2 Sistem anak sungai yang masuk ke Sungai Citarum

(Pusair Jawa Barat, 2008)

Dilihat dari luas tangkapan DAS, dapat diketahui berbagai Sub DAS yang potensial sebagai sumber air baku untuk kepentingan penduduk di Cekungan Bandung, diantaranya :

1. Sungai Cibeureum, Sungai Cikapundung, dan Sungai Citarik yang mengalir dari utara ke selatan dan mempunyai daerah tangkapan di sebelah utara Cekungan Bandung.

2. Sungai Cikeruh mengalir dari timur ke barat.

3. Sungai Citarum Hulu, Sungai Cisangkuy, dan Sungai Ciwidey yang mempunyai daerah tangkapan di sebelah selatan Cekungan Bandung dan mengalir ke utara.

Adapun luas dan persentase ketujuh Sub DAS utama di DAS Citarum Hulu dapat dilihat pada Tabel 4. 3.

(10)

Tabel 4. 3 Sub DAS di DAS Citarum Hulu

No Sub DAS Luas

Luas (ha) % 1 Citarik 45.164,16 19,39 2 Cirasea 34.208,64 14,61 3 Cisangkuy 30.456 13,01 4 Ciminyak 34.295,04 14,56 5 Cikapundung 43.439,04 18,56 6 Ciwidey 29.374,56 12,55 Jumlah 100

Gambaran mengenai kualitas air berikut ini diperoleh dari data hasil pengukuran oleh BPLHD Propinsi Jawa Barat pada bulan Juli – Agustus 2001 yang dilakukan pada badan air Sungai Citarum yang merupakan sungai utama di DAS Citarum Hulu, Sungai Cisangkuy, dan anak-anak Sungai Citarum lainnya. Evaluasi kualitas air Sungai Citarum dilakukan berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 39 Tahun 2000, Tentang Peruntukkan Air dan Baku Mutu Air pada Sungai Citarum dan anak-anak sungainya.

Pengukuran kualitas air Sungai Citarum dilakukan pada lokasi antara Wangisagara sampai dengan Nanjung.

1. Sungai Citarum a. pH Air

pH adalah derajat keasaman yang sangat dipengaruhi oleh alam sekitar sungai dan juga air limbah yang masuk. pH air Sungai Citarum pada umumnya berkisar antara 6-8 kecuali pada lokasi Jolok dan Sapan. Pada lokasi ini, pH air masing-masing adalah 5.9 dan 8.2 (BPLHD Propinsi Jawa Barat, 2001).

(11)

b. Kadar Oksigen Terlarut (DO)

Kadar Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen, DO) merupakan salah satu indikator pencemaran dan kesegaran air. Air sungai dengan kadar oksigen terlarut yang besar menunjukkan air tersebut masih segar. Sebaliknya, air dengan kadar oksigen terlarut yang rendah menunjukkan air tersebut sudah tidak segar lagi atau air tersebut sudah tercemar.

Kadar oksigen terlarut air Sungai Citarum di Wangisagara cukup besar, yakni 7.5 mg/L. Hal ini menunjukkan air tersebut masih segar dan belum tercemar. Namun makin ke hilir, kadar oksigen makin turun, bahkan pada lokasi Parunghalang, air Sungai Citarum tidak mengandung oksigen terlarut (BPLHD Propinsi Jawa Barat, 2001).

2. Sungai Cisangkuy

Pengukuran kualitas air Sungai Cisangkuy yang merupakan salah satu Anak Sungai Citarum dilakukan pada empat lokasi yaitu Ciherang (hulu), Cae, Waas, dan Bojongasih (Dayeuhkolot) di bagian hilir serta dua lokasi pada Anak Sungai Citalugtug dan Sungai Cipalasari. Lokasi pengambilan contoh air pada Anak Sungai Cisangkuy dilakukan di muara sungai (BPLHD Propinsi Jawa Barat, 2001).

a. pH Air

pH air Sungai Cisangkuy pada umumnya netral, yaitu sekitar 7 kecuali pada lokasi Bojongasih (Dayeuhkolot), pH air 6.5 dan di Sungai Cipalasari 8.4 (BPLHD Propinsi Jawa Barat, 2001).

b. Kadar Oksigen Terlarut (DO)

Kadar oksigen terlarut air Sungai Cisangkuy di Ciherang adalah 7 mg/L. Hal ini menunjukkan air tersebut masih segar dan belum tercemar. Namun makin ke hilir, kadar oksigen makin turun. Pada lokasi Cae, kadar DO turun menjadi 6 mg/L dan turun menjadi 3.3 mg/L di Waas yang akhirnya

(12)

air Sungai Cisangkuy tidak mengandung oksigen terlarut di lokasi Bojongasih. Dari hasil tersebut nampak bahwa air Sungai Cisangkuy di bagian hilir, mulai dari Waas telah tercemar oleh limbah cair (BPLHD Propinsi Jawa Barat, 2001).

3. Anak-anak sungai

Analisis kualitas anak-anak Sungai Citarum dilakukan sebanyak 31 contoh dari 31 anak sungai, tidak termasuk Sungai Cisangkuy.

a. pH Air

pH air anak-anak sungai pada umumnya netral, yaitu berkisar antara 7-8 kecuali pada beberapa lokasi, pH air bersifat basa (> 8) terjadi di Sungai Cirasea (8.4), Sapan (8.2), Cipalasari (8.5), Cisuminta / IPAL Cisirung (9.8), Cibeureum (9.1), Curug Geugeuh (9.5), Cibogo (8.3), Cibodas (10.3), dan Cimahi (8.9) (BPLHD Propinsi Jawa Barat, 2001).

b. Kadar Oksigen Terlarut (DO)

Kadar oksigen terlarut anak sungai yang berasal dari utara pada umumnya kecil yaitu di bawah 3 mg/L. Sungai-sungai tersebut yaitu Sungai Cikeruh, Citarik, Cipamokolan, Ciganitri, Saluran IPAL Bojongasih, Cikapundung, Cipalasari, Cibodas, Cisangkan, dan Cimahi. Sedangkan anak sungai yang berasal dari selatan pada umumnya mengandung kadar DO yang cukup besar yaitu diatas 3 mg/L, kecuali pada Sungai Cirasea yang kadar DO-nya adalah 2.2 mg/L (BPLHD Propinsi Jawa Barat, 2001).

Hal ini terjadi karena di bagian utara, aktivitas penduduk lebih banyak jika dibandingkan dengan di bagian selatan. Jumlah industri lebih banyak di bagian Utara Sungai Citarum dan pemukiman lebih padat di bagian utara. Sedangkan di bagian Selatan Sungai Citarum paling banyak aktivitas di Majalaya dan membuang limbah cairnya ke DPS Cirasea (BPLHD Propinsi Jawa Barat, 2001).

(13)

4. 5 Kondisi Tata Guna Lahan di DAS Citarum Hulu

Perubahan tutupan lahan di Citarum Hulu dari tahun 1983-2002 (Wangsaatmaja, 2004) memperlihatkan bahwa perubahan hutan berkurang 54%,pertanian menurun 55%, pemukiman/perkotaan meningkat 23%, sertaindustri meningkat 86%. Hal ini menunjukkan bahwa kerusakkan, termasuk perubahan fungsi lahan resapan, DAS Citarum telah terjadi mulai dari bagian hulu.

Pada awalnya, kegiatan merupakan basis tradisional ekonomi yang berkembang di Kabupaten Bandung. Namun, pertambahan jumlah penduduk dan urbanisasi serta pembangunan industry telah merubah tata guna lahan di DAS Citarum Hulu. Halini disebabkan oleh terjadinya pembukaan lahan dan irigasi sawah pada beberapa daerah untuk kompleks perumahan, distrik bisnis, dan area industri (Soetrisno, 1998 dalam Hadisantosa, 2006).

Peningkatan jumlah penduduk yang diiringi dengan meningkatnya kebutuhan untuk memenuhi hidup menjadi salah satu penyebab berubahnya tata guna lahan di DAS Citarum Hulu. Jumlah penduduk di DAS Citarum Hulu pada tahun 1986 adalah 3.467.818 jiwa yang meningkat menjadi 4.145.967 jiwa di tahun 2001dengan kepadatan 1.394 jiwa/km2. Laju pertumbuhan rata-rata penduduknya mencapai 1,2%.

Pada saat ini di DAS Citarum terdapat ± 500 industri dan ± 400 diantaranya terdapat di bagian hulu dengan jenis industri tekstil mencapai74,5%. Sisanya merupakan aneka industri berupa industri makanan dan minuman, logam, serta farmasi. Jumlah serta aktivitas industri tekstil tersebut sangat mempengaruhi karakteristik limbah pada Sunagi Citarum (BPLHD, 2004). Industri-industri tekstil tersebut tersebar di Bandung Selatan, Bandung Timur, Majalaya, Banjaran, dan Cimahi.

(14)

Perkembangan wilayah industri, pemukiman, dan pembukaan lahan adalah penyebab utama degradasi kualitas DAS Citarum Hulu (BPLHD, 2006). Untuk itu, guna pengelolaan selanjutnya, sumber daya lahan dan sumber daya air perlu diinventarisasi secara spasial dengan berbagai skala secara berkesinambungan.

4. 6 Tingkat Pencemaran DAS Citarum

Pencemaran air Sungai Citarum terutama di bagian hulu semakin sering dilaporkan. Penelitian menunjukkan kualitas air sungai menurun secara drastis, dimana sepanjang 127 km atau 47,1% Sungai Citarum telah tercemar. Diperkirakan setiap hari Sungai Citarum menampung 280 ton limbah. Pada tahun 1992 domestik menyumbang 55%, industri 40%, pertanian dan peternakan 5% bagi beban pencemaran di Sungai Citarum.

Selain dari limbah industri, Sungai Citarum juga menanggung beban pencemaran dari limbah rumah tangga. Pada tahun 2000 jumlah penduduk di sekitar Sungai Citarum adalah 5.621.341 jiwa, dimana 69,1% atau sekitar 3.883.850 jiwa membuang langsung limbah domestiknya ke sungai. Hal ini terjadi karena fasilitas pengelolaan air limbah domestik Bojongsoang tidak menjangkau daerah ini (BPLHD, 2003).

Limbah pertanian yang mengalir ke Sungai Citarum umumnya berasal dari penggunaan pupuk, pestisida, dan buangan sisa panen seperti jerami di areal persawahan dan perkebunan yang berada di sekitar DAS Citarum Hulu. Khusus pencemaran merkuri (Hg) berasal dari penambangan emas di daerah Soreang dan Pengalengan (BPLHD, 2003).

Gambar

Gambar 4. 1 Peta DAS Citarum Hulu  (Pusair Jawa Barat, 2008)
Tabel 4. 1 Data klimatologi rata-rata bulanan (BPS Kabupaten Bandung, 2000)  Bulan  Curah  Hujan  (mm)  Hari  Hujan (hh)  Temperatur (°°°°C)  Kelembaban (%)  Kecepatan Angin (km/hari)  Penyinaran Matahari (Jam)  Januari  379.4  18  22.3  85  253.44  5.6  F
Tabel 4. 2 Persentase luas DAS Citarum Hulu berdasarkan kemiringan lahan  (SWS Citarum, 2000)
Gambar 4. 2 Sistem anak sungai yang masuk ke Sungai Citarum  (Pusair Jawa Barat, 2008)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Serial TENDANGAN SI MADUN mengisahkan perjalanan hidup Muhammadun alias Madun 11 tahun (Yusuf Mahardika) dalam memper-juangkan cita- citanya untuk menjadi seorang

Guibernau, bangsa adalah negara kebangsaan yang memiliki unsur-unsur penting pengikat, yaitu: psikologi (sekelompok manusia yang memiliki kesadaran bersama untuk membentuk

Berdasarkan analisis rasio keuangan, strategi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kinerja keuangan perusahaan antara lain dengan meningkatkan penjualan

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu berhasil dibuat sistem manajemen request lagu pada radio internet yang dikombinasikan dengan radio broadcast (radio

Salah satu kota yang biasa dikunjungi untuk berwisata maupun backpacker ke Jepang adalah Osaka, kota yang terletak didaerah Kansai ini terkenal dengan beberapa tempat

Dari penelitian ini didapat bahwa penyerapan logam berat yang tertinggi oleh Chlorella sp berturut-turut adalah Cr yaitu sebesar 33% , Cu sebesar 29 %, Cd sebesar 15% dan

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmad taufik dan hidayah-Nya sehingga laporan tahunan 2012 Dinas Pengendalian

turcicum , karat daun dan virus serta ketahanan sedang terhadap perkecambahan tongkol.. - Agak rentan terhadap bulai dan rentan terhadap busuk