POLA AKTIFITAS KOMUNIKASI PENGGUNA INTERNET
MELALUI SITUS JEJARING SOSIAL
Hasyim Ali Imran
Peneliti Madya Bidang Studi Komunikasi dan Media pada Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Jakarta, Jl. Pegangsaan Timur No. 19 B, Jakarta Pusat, email :
(Naskah diterima 10 Oktober 2010, disetujui terbit 15 Desember 2010)
ABSTRACT It is indicated how phenomenal communication activities of our society through social
networking sites in internet and how minimum accurate and scientific information about social networking existence in accordance to their daily communication activity. Those two indications are the background of this research. The problem of the research is how the pattern of communication activities of the internet users through social networking sites? The problem is then translated into two, firstly relating to the motives of the internet users in their communication activities through social networking sites and secondly concerning to internet usage patterns in communicating through social networking sites. The research was conducted based on positivistic paradigm with quantitative approach through survey method. The research object is the community members in the sampling areas that were selected through sampling process as the respondent. The study was conducted at three sampling areas in four provinces, namely the province of Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung and Jakarta. At the municipal level, the samples were taken purposively, which are the capital cities of those fourth provinces. Of those cities, then the sampling areas were determined based on multi stage random sampling technique. The research population is community members at the stratified location sample according to their educational level. Sampling was taken by using proportional stratified simple random sampling. The research instrument is the instrument that has been revised based on feedback from previous pretest. The results referred to the applied instrument are the value of statistical reliabilities on Cronbach's Alpha on the interval from 0.80 to 1.00. The result for instance shows that Facebook is the most popular social networking sites in the four locations of this research. Associated with activities before communicating through social networking sites, the respondents in general tend to do it based on the need of self-expression (social interaction), and related to the type of medium used, then it is known that varies of activities via social networking sites of the respondents cover 10 ways including: through Chat-room; Sharing Opinion; Attaching Images; Attaching Video: Sharing Photos, Sharing Video, Share Files, Discussion Group; Playing Game; and Video Conference / Call. However, not all those ways have been practiced commonly by most respondents in the four research locations. The ways especially for instance in Attaching Video and Video Conference /Call.
ABSTRAK
Adanya indikasi begitu fenomenalnya aktifitas komunikasi yang dilakukan anggota masyarakat melalui penggunaan situs jejaring sosial dalam medium internet dan adanya indikasikasi masih minimnya informasi akurat dan ilmiah mengenai eksistensi situs jejaring sosial dalam keterkaitannya dengan keseharian aktifitas komunikasi masyarakat, merupakan dua hal yang melatarbelakangi penelitian ini. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana pola aktifitas komunikasi pengguna internet melalui situs jejaring sosial? Masalah ini dijabarkan menjadi dua, pertama berkaitan dengan motif pengguna internet dalam beraktifitas komunikasi melalui situs jejaring sosial dan kedua menyangkut pola pengguna internet dalam beraktifitas komunikasi melalui situs jejaring sosial. Penelitian dilaksanakan berdasarkan paradigma positivistik dengan pendekatan kuantitatif melalui metode survey. Obyek Penelitiannya adalah anggota masyarakat di area sampling yang terpilih melalui proses sampling sebagai responden. Penelitian dilakukan di tiga lokasi area sampling di empat provinsi, yaitu Provinsi Jambi, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung dan DKI Jakarta. Di tingkat Pemkot, sampel dilakukan secara purposive, yakni ibukota provinsi dari keempat provinsi tadi. Dari kota-kota tersebut, area sampling selanjutnya ditentukan berdasarkan teknik multi stage simple random sampling. Populasi penelitian ini adalah anggota masyarakat di lokasi sampel yang distratifikasi menurut tingkat pendidikan. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling
stratifikasi proporsional. Instrument Penelitian yang digunakan adalah instrument yang telah
direvisi berdasarkan masukan dari hasil pretest. Hasil yang dirujuk untuk pengaplikasian instrument adalah nilai reliabelitas statistik pada Cronbach’s Alpha pada interval 0,80-1,00. Hasil penelitian diantaranya menunjukkan bahwa Facebook menjadi situs jejaring sosial paling populer di empat lokasi penelitian ini. Terkait dengan aktifitas yang sifatnya sebelum terjadinya komunikasi melalui situs jejaring sosial, maka responden pada umumnya cenderung didasari oleh kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan ekspresi diri (pergaulan sosial); dan berkaitan dengan Jenis Media yang digunakan, maka dalam hubungan cara-cara yang biasa dilakukan responden saat beraktifitas (berinteraksi) melalui situs jejaring sosial, diketahui bahwa cara-cara yang biasa itu mencakup 10 cara-cara meliputi : Melalui Chatroom; Sharing Opini;Attaching
Foto; Attaching Video; Sharing Foto; Sharing Video; Share File; Diskusi Grup; Main Game;
dan Video Converence /Call. Namun demikian, tidak semuanya cara-cara itu sudah biasa dilakukan oleh sebagian besar responden di empat lokasi penelitian. Cara dimaksud, terutama misalnya Attaching Video dan Video Converence /Call.
Kata-kata kunci : Pola, Aktifitas Komunikasi, Pengguna Internet, situs jejaring sosial.
PENDAHULUAN Latar Belakang
ktifitas komunikasi yang banyak dilakukan oleh sejumlah anggota masyarakat melalui medium internet belakangan ini, sesungguhnya merupakan suatu realitas yang sebenarnya jauh-jauh hari sudah diramal oleh McLuhan. Ramalannya sendiri mengatakan bahwa perubahan budaya dalam kehidupan manusia itu ditentukan oleh teknologi1. Sebagai
representasi dari realitas kebenaran prediksi McLuhan, maka dalam konteks keterkaitan antara teknologi dan budaya, aktifitas komunikasi yang berlangsung melalui medium internet tadi, karenanya menjadi wujud fenomena komunikasi yang mencirikan perubahan budaya komunikasi dalam periode electronic age. Dalam periode ini sendiri, seperti digambarkan jauh sebelumnya oleh McLuhan, yakni sebelum meninggal pada 1980, semua orang akan menjadi anggota dusun global tunggal. Media elektronik membuat semua orang dapat bersentuhan dengan siapa saja dan di mana saja dengan sekejab.2
Melalui medium internet3, dari waktu ke waktu hingga dalam kenyataan terkini, sejalan dengan perkembangan teknologi media konvergensi4, maka berdasarkan fenomenanya memang tampak semakin memperjelas wujud dari apa yang diramalkan McLuhan itu. Hal ini sendiri dimungkinkan sehubungan dengan perkembangan pesat teknologi media konvergen tadi menjadikan internet dapat menyediakan berbagai macam bentuk layanannya yang nota bene semakin memudahkan orang dalam melakukan aktifitas komunikasi dan informasi. Terhadap fenomena ini sendiri, oleh John December (1997), dikonseptualisirnya menjadi Computer
mediated communication. Computer mediated communication sendiri dirumuskannya sebagai a procces of human communication via computers, involving people situated on particular context, engaging in processes to shape media for a variety of purposes.5 (komunikasi bermedia komputer adalah sebuah proses komunikasi antar sesama manusia melalui komputer, melibatkan manusia (orang) yang disituasikan di dalam konteks partikular (khusus), digabungkan dalam proses untuk membentuk media bagi tujuan yang beragam.
Salah satu di antara sejumlah bentuk layanan yang tersedia di internet, yang belakangan ini cenderung sangat banyak digunakan anggota masyarakat untuk melakukan aktifitas komunikasi, yaitu layanan berbentuk aplikasi jejaring sosial (social network service). Terhadap fenomena tersebut, hal itu sebenarnya memang dimungkinkan sehubungan suatu situs social
network service yang ada di internet memang difokuskan pada upaya pembangunan masyarakat
online dari orang-orang yang hendak berbagi pengalaman-pengalaman menarik atau menyangkut aktifitas-aktifitas yang dilakukannya. Atau, fokusnya juga diarahkan pada
literacy age, print age, dan electronic age. Tribal Age, yaitu masa di mana masyarakat masih dalam kelompok-kelompok
kesukuan. Dalam masa ini, masyarakat dalam berkomunikasi lebih mengandalkan telinga. Literacy Age, pada masa ini maka sudah terjadi perubahan, yakni dari pengandalan indera telinga ke pengandalan mata. Orang yang dapat membaca mengganti telinga dengan mata. Print Age, yaitu zaman penemuan media cetak. Kalau abjad fonetik memungkinkan ketergantungan visual, maka percetakan membuatnya dapat tersebar luas. Karena revolusi percetakan menunjukkan produksi massal produk yang sama, maka McLuhan menyebutkannya sebagai perintis revolusi industri. Sedang Electronic Age, yaitu zaman elektronik yang ditandai dengan penemuan radio dan televisi.(lihat, dalam : Mc Luhan, Marshal, ”Technology Determinism”, In A First Look at
Communication Theory, Fifth Edition, by EM Griffin, New York, McGraw Hill, 2003).
2 Mc Luhan, Marshal, ”Technology Determinism”, In A First Look at Communication Theory, Fifth Edition, by EM Griffin, New York, McGraw Hill, 2003.
3 Medium ini dikenal juga dengan konsep media baru. Media baru tidak lepas dari key term seperti digitality, interactivity,
hypertextuality, dispersal dan virtuality (Lister, 2003: 13). Dalam konsep digitality semua proses media digital diubah
(disimpan) ke dalam bilangan, sehingga keluarannya (out put) dalam bentuk sumber online, digital disk, atau memory drives yang akan diubah dan diterima dalam layar monitor atau dalam bentuk ‘hard copy’. Sedangkan konsep interactivity merujuk kepada adanya kesempatan di mana teks dalam media baru mampu memberikan users untuk ‘write back into the text’. Sementara konsep dispersal media baru lebih kepada proses produksi dan distribusi media menjadi decentralized dan mengandalkan keaktifan individu (highly individuated).
4
Media konvergensi, sebuah integrasi antara media konvensional, telekomunikasi dan teknologi informasi (multimedia dan internet) telah mengubah komunikasi dari yang sifatnya terbatas menjadi global.
5
pembangunan masyarakat online dari orang-orang yang tertarik dalam menjelajahi pengalaman-pengalaman menarik dan aktifitas dari orang-orang lain di dunia.6 Singkatnya aplikasi-aplikasi tersebut menyediakan jasa bagi orang-orang untuk bersosialisasi.
Interaksi di antara sesama anggota komunitas online sendiri, dengan berbasiskan web keberlangsungannya dapat melalui beragam cara. Cara-cara itu misalnya seperti chat, instant
messaging, e-mail, video, chat suara, share file, blog, diskusi grup, dan lain-lain. Umumnya
situs jejaring sosial memberikan layanan untuk membuat biodata dirinya. Pengguna dapat meng-upload foto dirinya dan dapat menjadi teman dengan pengguna lainnya. Beberapa jejaring sosial memiliki fitur tambahan seperti pembuatan grup untuk dapat saling sharing di dalamnya.7
Hingga saat ini, berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah data, jumlah anggota masyarakat yang sudah tergabung menjadi anggota komunitas maya mencapai lebih satu miliaran. Mengacu pada data Meta List buatan Judith Meskill pada 14 Pebruari 2005, anggota komunitas maya itu tergabung ke dalam 380 situs Social Networking yang dikelompokkannya menjadi sembilan (9) situs8. Dari sejumlah situs dimaksud, maka berdasarkan catatan Wikipedia, hanya 155 situs web jejaring sosial saja yang umumnya aktif memfasilitasi anggota masyarakat untuk berinteraksi melalui dunia maya. Beberapa diantaranya yang banyak dijadikan anggota masyarakat untuk bergabung dengan komunitas online yaitu melalui situs MySpace dengan 261,422,883 pengguna terdaftar; Facebook 200,000,000 pengguna terdaftar; Habbo 117,000,000; Friendster 90,000,000; hi5 80,000,000; Flixster 63,000,000; Classmates.com 50,000,000; LinkedIn 42,000,000; Bebo 40,000,000; Adult FriendFinde 33,000,000; Last.fm 30,000,000; imeem 24,000,000; Mixi 20,936,509; LiveJournal 17,564,977; Geni.com 15,000,000 ; dan Multiply 10,000,000.9
Popularitas situs-situs jejaring sosial di lingkungan pengguna internet, dengan pengecualian pada situs Facebook, pada umumnya juga menunjukkan adanya perbedaan dari segi komunitas menurut benua tempat pengguna menetap. Menurut catatan Wikipedia maka yang akrab di lingkungan pengguna Amerika Utara misalnya, yaitu situs-situs seperti MySpace, Twitter and LinkedIn. Sementara di Kanada komunitas maya banyak menggunakan Nexopia. Bebo, Hi5, MySpace, dol2day banyak digunakan di Germany. Tagged, XING; Badoo and Skyrock digunakan oleh komunitas di sebagian Eropa. Orkut dan Hi5 terkenal di South America and Central America. Sedang situs-situs seperti Friendster, Multiply, Orkut, Wretch, Xiaonei and Cyworld umumnya populer dilingkungan pengguna internet di Asia dan Kepulauan Pacific.10
Pada intinya aplikasi-aplikasi tersebut sebenarnya ditujukan untuk membangun komunitas online bagi orang-orang yang mempunyai interest atau aktivitas yang sama, atau untuk orang-orang yang tertarik untuk mengetahui interest dan aktivitas orang lain (teman). Namun begitu, dengan adanya perbedaan popularitas sebuah situs jejaring sosial di lingkungan
6
Baca, http://en.wikipedia.org/wiki/Online_social_networking
7Ridwann, M., Jejaring Sosial (Social Networking), dalam : http://www.ridwanforge.net/blog/jejaring-sosial-social-networking 8
These social networking categories are: business; common interest; dating; face-to-face facilitation; friends; MoSoSo (Mobile Social Software); pets; photos; and 'edge' cases or social networking 'plus' sites.( Judith Meskill, Jhttp://socialsoftware.weblogsinc.com/2005/02/14/home-of-the-social-networking-services-meta-list/; 7 juli 09
pengguna internet tadi, di sisi lain itu tentu dapat menjadi indikasi kalau sesungguhnya, kemudahan berkomunikasi yang difasilitasi oleh beragam situs jejaring sosial di internet ternyata tidak serta merta membuat setiap orang untuk mau mengadopsinya. Dengan kata lain, kemunculan perbedaan popularitas dari sejumlah situs jejaring sosial tadi setidaknya memberikan suatu indikasi bahwa setiap orang memiliki pengalaman, motif dan sikap yang relatif berbeda dalam kaitan keterlibatannya dengan situs-situs jejaring sosial di internet.
Penelitian-penelitian menyangkut pola perilaku anggota komunitas maya yang terbentuk melalui jaringan situs jejaring sosial, berdasarkan pengamatan memang masih relatif sulit ditemukan. Di antara penelitian yang berkaitan dengan komunitas jejaring sosial yang berhasil ditemukan di tengah-tengah kesulitan dalam penemuannya sebagaimana barusan disinggung, maka tersebutlah penelitian survey tentang eksistensi Facebook yang dilakukan oleh Ohio University. Hasilnya menyebutkan bahwa mahasiswa yang kerap menggunakan Facebook ternyata menjadi malas dan bodoh. Studi yang mengambil sampel 219 mahasiswa Ohio State University tersebut, juga menemukan bahwa semakin sering mahasiswa menggunakan Facebook, semakin sedikit waktu mahasiswa belajar dan semakin buruklah nilai-nilai mata pelajaran mahasiswa.
Di tengah miskinnya pelaksanaan riset mengenai komunitas situs jejaring sosial, yang nota bene menyebabkan keringnya informasi mengenai komunitas maya itu, namun informasi-informasi empirik yang ditemukan melalui banyak media mengenai persoalan dimaksud masih bisa dijumpai. Dari sejumlah opini yang kerap muncul seperti melalui medium internet, dari segi sikap pengguna misalnya, maka penyebab seseorang menjadi anggota komunitas suatu situs itu diantaranya disebutkan disebabkan karena alasan ikut-ikutan. Ketika media mengangkat fenomena ini, orang menjadi tertarik untuk mendapatkan manfaat dari Facebook11, walaupun tidak sedikit yang hanya didorong oleh keinginan untuk ‘pernah’ dan tahu saja. Iseng
dan biar gaul juga disebutkan sebagai alasan lain dari kepesertaan individu dalam komunitas
online. Ada juga karena alasan untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan itu bisa untuk membangun network, mendapat informasi, mencari teman, ingin sharing, ingin dikenal orang, atau bahkan untuk mendukung pekerjaan. 12 Temuan lainnya menyangkut fenomena penggunaan situs jejaring sosial ini adalah berkaitan dengan iklim organisasi di tempat anggota komunitas maya bekerja. Dalam hubungan ini, berdasarkan pengamatan di lingkungan tempat bekerja, tidak sedikit pegawai yang mengalihkan masa-masa kerjanya untuk melakukan aktifitas komunikasi melalui situs jejaring sosial ini. Bahkan, karena banyak pegawai yang ketika jam kerja membuka Facebook dan membuat kinerja mereka menurun, terpaksa beberapa perusahaan menutup akses situs jejaring sosial ini di area perkantorannya.
Dengan latar belakang sebelumnya yang mengindikasikan fenomenalnya aktifitas komunikasi anggota masyarakat melalui penggunaan situs jejaring sosial dalam medium internet, di samping juga mengindikasikan masih minimnya informasi akurat dan ilmiah
11 Situs jejaring social ini seolah-olah menjadi situs terbanyak anggotanya di dunia dan memang sangat mewabah di Indonesia belakangan ini. Padahal jumlah penggunanya yang terdaftar relatif jauh dibandingkan dengan situs MySpace dengan 261,422,883 pengguna terdaftar; sementara Facebook hanya 200,000,000.
mengenai eksistensi situs jejaring sosial dalam keterkaitannya dengan keseharian aktifitas komunikasi masyarakat, kiranya mengangkat persoalan ini menjadi obyek penelitian menjadi penting untuk dilakukan.
Identifikasi Masalah dan Permasalahan
Aktifitas komunikasi melalui situs jejaring sosial pada hahekatnya didasari oleh adanya kemampuan ICT di lingkungan pengguna situs. Kemampuan ICT itu sendiri mencakup konsep-konsep literasi digital, komputer, informasi dan literasi internet. Kemampuan itu paling tidak dimiliki secara minimal oleh setiap individu pengguna. Dengan minimal dimaksudkan bahwa individu itu tidak ‘gaptek’ atau gagap teknologi. Karena hanya dengan kemampuan ini yang memungkinkan seseorang individu bisa mengakses situs dalam internet yang terkoneksi.
Berdasarkan pengamatan, dilingkungan pengguna internet pada umumnya dan khususnya pengguna situs jejaring sosial, tampaknya kemampuan minimal tadi relatif memang sudah dimiliki, terutama itu menyangkut kemampuan komputer, internet, dan digital. Dengan kemampuan dasar minimal inilah para pengguna situs tadi bisa melakukan aktifitas komunikasinya. Dari aktifitasnya itu, berdasarkan fenomena yang muncul, di antara pengguna itu ternyata ada yang sudah mempunyai akun pada suatu situs dan ada juga yang belum. Sementara, sejauh dapat diamati, kepemilikan akun menjadi prakondisi bagi pengguna internet agar bisa terakses dengan suatu situs jejaring sosial.
Di kalangan pengguna itu juga diketahui bahwa mereka memiliki sejumlah motif atas aktifitas komunikasinya melalui situs jejaring sosial. Terkait dengan ini, seperti disinyalir pengamat sebagaimana dikemukakan di bagian sebelumnya, mereka itu ada yang beraktifitas karena alasan ikut-ikutan dan ada yang untuk memenuhi kebutuhan. Sejalan dengan itu, variasi mereka pun terjadi dalam hal frekuensi beraktifitas menggunakan situs jejaring sosial dalam internet. Dalam kaitan ini, berdasarkan fenomenanya, dalam frekuensi itu ada yang aktifitasnya diarahkan melaui chat, instant messaging, e-mail, video, chat suara, share file, blog, atau diskusi grup.
Ragam ciri yang terindikasi dalam fenomena penggunaan situs jejaring sosial sebagai bagian dari sejumlah fasilitas yang terdapat dalam medium internet tadi, pada hakikatnya itu sebenarnya menggambarkan bagaimana pola individu dalam menggunakan media (mass media
uses) seperti dijelaskan oleh Tan (1981 : 297) melalui model teorinya yang disebut mass media uses and gratification. Sebuah model teori yang sekaligus juga diketahui menjadi penanda
bahwa khalayak yang sebelumnya dianggap pasif dalam versi model jarum hipodermis itu, ternyata aktif dalam penggunaan media. Sementara, aktifitas khalayak sendiri mengandung arti bahwa anggota khalayak itu mengarahkan dirinya sendiri pada proses komunikasi. Asumsi ini memandang bahwa penggunaan media didorong oleh kebutuhan dan tujuan yang didefinisikan sendiri oleh khalayak, dan partisipasi aktif dalam proses komunikasi dapat membantu, membatasi atau bahkan mempengaruhi gratifikasi dan efek yang berkaitan dengan terpaan media (Levy dan Windahl dalam Gayatri, 1997 : 3).
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai pola aktifitas anggota masyarakat (pengguna internet) dalam beraktifitas melalui situs jejaring sosial. Secara khusus, ingin mengetahui gambaran tentang fenomena empirikal menyangkut motif dan pola pengguna internet dalam beraktifitas komunikasi melalui situs jejaring sosial.
Secara akademik hasil penelitian ini diharapkan minimal dapat berkontribusi terhadap pengayaan data empirik tentang fenomena aktifitas komunikasi melalui media baru khususnya terkait situs jejaring sosial yang relatif masih sulit ditemukan dalam literatur-literatur akademika ilmu komunikasi yang nota bene sarat dengan hasil-hasl riset fenomena media konvensional. Sedang secara praktis, temuan riset ini diharapkan dapat menjadi in put bagi para penggunanya (misalnya guru, orang tua, pemimpin organisasi dan pemasang iklan) sebagai referensi dalam menyikapi fenomena penggunaan internet menyangkut aplikasi situs jejaring sosial. Selain itu tentunya temuan penelitian ini diharapkan berguna bagi pendukung penyusunan kebijakan di bidang penyebaran informasi publik terkait penggunaan media baru.
Landasan Konseptual
Komunikasi antara manusia yang diistilahkan Littlejohn dengan human communication, keterjadiannya (setting) sudah sejak lama menjadi perhatian para akademisi. Pada awalnya,
setting itu diidentifikasikan Littlejohn berdasarkan empat konteks, yaitu : interpersonal, groups; organization, dan mass. Konteks ini kemudian ia ralat dengan menambahnya menjadi
lima konteks, yaitu dengan memasukkan konteks publics. Sejauh masih belum munculnya media baru yang dikenal dengan internet, Human Communication pada semua konteks dimaksud, keterjadiannya secara relatif dapat berwujud melalui penggunaan media secara parsial. Namun, dengan medium internet sebagai produk konvergensi teknologi informasi dan komunikasi, semua konteks tersebut jadi dimungkinkan dapat berlangsung (terjadi). Kemampuan medium internet yang demikian fenomenal13, menyebabkannya mendapat banyak peristilahan. Diantaranya ada yang menyebut media baru, media modern, media inkonvensional, telematika dan ada pula yang menggelarinya dengan supermedium for
communicating14.
Medium internet yang secara konseptual dikenal pada tahun 1970, yang nota bene secara fisik juga dikembangkan dari software bernama ARPANET yang dikembangkan pihak militer Amerika Serikat15, dalam kenyataan juga memiliki banyak definisi. Dalam kamus Merriam-Webster Online Dictionary bahwa komputer merupakan electronic communications network
that connects computer networks and organizational computer facilities around the world16.
Menurut Your Dictionary, secara leksikal disebutkan bahwa internet refers to a collection of
networks connected by routers.17. Definisi lainnya yaitu the global network of public computers
13 Dalam kaitan internet yang fenomenal tersebut, sejumlah institusi di luar negeri seperti the Pew Research Center di Washington, D.C USA, bahkan sudah lebih jauh berupaya memahami dampaknya terhadap kehidupan sosial. Melalui proyek The Pew Internet & American Life Project yang didirikan pada 1999, mereka diantaranya berupaya menganalisis bagaimana computer dan the Web mengubah dunia masa kni. Dengan analisis tersebut maka akan diketahui dampak internet terhadap keluarga,
masyarakat, dunia kerja dan rumah, kehidupan sehari-hari, pendidikan, perawatan kesehatan, dan warga dan kehidupan politik. (dalam : http://www.pewtrusts.org/our_work_category.aspx?id=48)
running Internet Protocol. Dengan definisi leksikal tersebut, maka substansi internet adalah
menyangkut komunikasi antarmanusia di seluruh dunia melalui jaringan komunikasi elektronik yang dimungkinkan karena adanya koneksitas jaringan komputer. Dengan kata lain, internet berarti jutaan komputer di seluruh dunia yang saling berketersambungan. Karenanya, jika sebuah computer sudah tersambung dengan internet, maka komputer tersebut sudah terkoneksi dengan komputer-komputer lainnya melalui jaringan kabel telepon, kabel dan satelit. Web,
e-mail, chat, dan newsgroups merupakan beberapa hal yang dapat dilakukan pada internet18. Salah satu konsep mutakhir yang ditawarkan untuk melihat internet sebagai media komunikasi adalah konsep “computer mediated communications” ( CMC). Konsep CMC dari Jhon December (www.december.com) yang dirumuskannnya menjadi a procces of human
communication via computers, involving people situated on particular context, engaging in processes to shape media for a variety of purposes,19 ini sebenarnya masih bersifat “mentah” dan cenderung menerjemahkan konsep CMC dari alur logika teknis jaringan internet. Apalagi konsep-konsep yang ditawarkan dalam CMC tidak melihat komunikasi melalui internet adalah bersifat virtual (maya). Konsep CMC juga tidak memberi penjelasan tentang level dan konteks komunikasi, unsur-unsur komunikasi yang terlibat serta model yang berlaku dalam komunikasi menggunakan internet.
Internet sebagai Supermedium for communicating, berdasarkan indikasi yang ada maka dari segi pemanfaatannya menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Sebagai contoh, misalnya seperti yang dilaporkan oleh the Household Internet Use Survey (HIUS) mengenai rumah tangga yang menggunakan internet di Kanada. Disebutkan, dari tahun 1999 ke tahun 2000 meningkat 1.4 juta rumah tangga (+42%). Dari tahun 2000 ke tahun 2001, meski tidak setajam sebelumnya akan tetapi tetap terjadi pengingkatan, yakni meningkat sebanyak 1,1 (+23%) juta rumah tangga yang menggunakan internet secara teratur di rumah.20 Namun demikian, fenomenanya tidak sama antar sesama negara di dunia. Penggunaan yang relatif baik umumnya dialami oleh negara-negara yang sudah relatif maju, seperti negara Kanada yang disebutkan barusan. Sementara tingkat penggunaan yang relatif rendah biasanya terjdi di negara-negara berkembang dan terkebelakang.
Berdasarkan data digital access yang dikeluarkan International Telecommunication
Union (ITU) tahun 2002, beberapa negara yang tergolong penggunaannya dalam kadar high access yaitu : Korea Selatan, Denmark, Islandia dan Denmark. Sementara yang masuk dalam
kategori upper access Irlandia, Siprus, Spanyol dan Estonia. Sedang Indonesia bersama sejumlah negara lainnya seperti Thailand, Rumania dan Turki masuk dalam kategori medium access dengan skor 0,34.21 Data ITU tersebut hampir sama dengan data resmi World Internet
User Statistics yang di perbarui 10 Maret 2007 mengenai jumlah pengguna internet di
Indonesia. Dengan 18,000,000 pengguna dari populasi 224,481,720 jiwa, Indonesia diketahui menempati urutan ke-15 dunia dengan penetrasi internet sebesar 8 % (1,6 % dari total pengguna internet dunia).22 Dengan demikian, sesuai data tersebut kiranya dapat diartikan
18
(TekMom's Tech Buzzwords, dalam : http://www.tekmom.com/buzzwords/zdinternet.html). 19 (http://fantastic4.blogdetik.com/2009/03/06/friendster-vs-facebook/)
20 The Daily, dalam : http://www.statcan.ca/Daily/English/020725/d020725a.htm 21 http://www.itu.int/newsarchive/press_releases/2003/30.html
bahwa meskipun kemampuan medium internet dalam memfasilitasi aktifitas berkomunikasi itu sudah sangat super, akan tetapi dalam kenyataan semua pihak tampak belum memaksimalkan kemampuannya itu, termasuk tentunya di Indonesia.
Tinjauan Literatur
Dalam kaitannya dengan upaya menelaah fenomena penggunaan internet sendiri, selain dilakukan cenderung berdasarkan fenomena global oleh institusi seperti ITU, World Internet
User Statistics, dan the Pew Research Center, berdasarkan fakta yang ada ternyata juga
dilakukan sejumlah institusi lain berdasarkan fenomena yang lebih fokus. Hal yang demikian diantaranya dilakukan the Household Internet Use Survey (HIUS) di Kanada yang fokus pada sampel rumah tangga. Demikian juga seperti yang dilakukan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja di Washington DC USA, mereka memfokuskan penelitiannya khusus terhadap perburuhan dalam kaitan penggunaan internet.23
Studi mengenai penggunaan internet juga tidak luput dari perhatian kalangan individu akademik. Diantaranya seperti yang dilakukan Manuel Castells dan Maria Isabel Diaz de Isia di Kota Catalonia Spanyol. Dengan menggunakan metode survey, temuan utama mereka yaitu bahwa ada hubungan antara internet dengan kehidupan sosial di Catalonia, Spanyol dan di wilayah-wilayah Spanyol. Karenanya mereka menyarankan untuk dilakukan pengujian terhadap sejumlah hipotesis dari adanya hubungan-hubungan tadi.24 Namun, seperti dikatakan oleh Junho Choi et al dengan mengacu pada hasil tinjauan pustaka mereka, kebanyakan penelitian survey terhadap para pengguna internet dilakukan hanya sebatas penggambaran siapa para pengguna dan apa yang mereka lakukan pada medium internet. Upaya lebih jauh seperti penyebab para pengguna menggunakan medium internet, masih sangat sedikit perhatian yang diberikan para peneliti. Untuk mengisi kekurangan dimaksud, Choi et al sendiri akhirnya mencoba meneliti penggunaan internet dari sisi why dengan cara menyelami motif para pengguna internet dalam beraktifitas online.25
Selanjutnya, dari riset Choi et al juga diketahui bahwa dalam mempelajari motif-motif penggunaan internet, dalam analisisnya menggunakan pendekatan Uses and Gratifitcation. Pendekatan yang mengacu pada petunjuk teori Uses and Gratifitcation tersebut, dalam riset Choi et al sendiri diadopsi karena dianggap masih tetap relevan hingga kini walaupun diaplikasikan pada media yang bukan tradisional, seperti internet. Sejumlah akademisi terdahulu yang nota bene sudah lebih akrab dengan pendekatan tersebut, juga mengatakan hal yang sama. Sebagaimana dikatakan Katz & Rice (2002); Kraut & Attewell (1977); Perse & Greenberg-Dunn (1998); dan Rice & Webster (2002), bahwa meskipun pendekatan ini sudah biasa dan umum digunakan selama lebih dari 30 tahun untuk penelitian media massa tradisional, namun pendekatan ini tetap relevan digunakan dalam penelitian media komunikasi baru26.
Penelitian ini sendiri tidak akan berupaya melakukan sejauh yang dilakukan Choi et al dalam menelaah fenomena penggunaan internet. Selain itu, penelitian ini juga akan menelaah
23 Biro Statistik Tenaga Kerja USA dalam News United States Departement of Labor; http://www.bls.gov/cps/ 24Manual Castells dan Maria Isabel Diaz de Isia dalam : http://www.uoc.edu/in3/wp/picwp1201/
25 Choi et al,, Motives of Internet uses : Crosscultural Perspective- The US, The Netherlands, and South Korea.
26 Sebagaimana dikutip oleh Choi et al,,dalam riset mereka “Motives of Internet uses : Crosscultural Perspective- The US, The
fenomena penggunaan internet secara berbeda dengan yang dilakukan Choi et al, yakni diorientasikan secara terfokus pada fenomena komunikasi pengguna internet melalui situs jejaring sosial sebagai bagian dari internet. Fenomena komunikasi dimaksud terkait dengan motif dan pola aktivitas mereka dalam berkomunikasi melalui situs jejaring sosial. Situs jejaring sosial yakni suatu struktur sosial yang terbentuk dari simpul-simpul (individu atau organisasi) yang “diikat” atau dipersatukan oleh sebuah situs27 seperti MySpace, Facebook dll. Dengan fokus ini, selain diharapkan dapat mengisi kekurangan dalam riset internet yang disinyalir Choi kurang menyentuh ‘Why’ tadi, tentunya penelitian ini juga menjadi relatif berbeda dengan penelitian internet sebelum-sebelumnya.
Kemudian, dengan konsep penggunaan dalam pendekatan Uses and Gratifitcation, seperti banyak dikatakan akademisi28, itu menandakan adanya aktifitas pada khalayak pengguna media. Terkait dengan ini, Choi et al mengatakan bahwa The active audience
approach is very consistent with the nature of internet audience, which has vast choices of content and wide latitude in usage patterns. 29 Sementara, aktifitas khalayak sendiri mengandung arti bahwa anggota khalayak itu mengarahkan dirinya sendiri pada proses komunikasi30. Aktifitas khalayak tersebut, selanjutnya dikatakan Levy dan Windahl (1985) dibagi ke dalam dua dimensi. Pertama, dimensi orientasi khalayak, terdiri dari tiga level, yakni selektifitas, keterlibatan dan pemanfaatan. Sedang dimensi kedua urutan komunikasi, membedakan aktifitas berdasarkan saat terjadinya : sebelum, selama, dan sesudah terpaan media 31 Jadi, dalam mengamati aktifitas khalayak dalam hubungannya dengan media, secara garis besar dapat dilakukan melalui dua cara, pertama menurut dimensi orientasi dan kedua menurut dimensi urutan komunikasi.
Selanjutnya, Katz, Gurevitch dan Hass dalam mendefinisikan penggunaan media dalam kaitannya dengan aktifitas khalayak mencakup: (1) isi media : berita, opera sabun, drama tv, dll. (2) jenis media : misalnya cetak atau elektronik (3) terpaan media dan situasinya : di rumah atau di luar rumah , sendiri atau dengan orang lain32 Dengan demikian diketahui bahwa menelaah fenomena penggunaan media dapat dilakukan melalui tiga bagian besar, yakni melalui unsur isi media, jenis media dan terpaan media dan situasinya.
Jika pengertian konsep penggunaan sebelumnya dihubungkan dengan persoalan penelitian ini, di mana bunyinya “Bagaimana pola aktifitas komunikasi pengguna internet melalui situs jejaring sosial”, maka terkait konsep aktifitasnya Levy dan Windahl, ini berarti cenderung menelaah aktifitas dalam dimensi kedua, yakni terkait dengan dimensi urutan komunikasi, terutama pada aktifitas sebelum dan selama terjadinya terpaan media. Terkait dengan ini maka dalam konteks aktifitas sebelum, penelitian ini akan menelaahnya dari segi motif yang melatar belakangi pengguna internet dalam berkomunikasi melalui situs jejaring sosial (misalnya untuk menambah pengetahuan; mencari hiburan; mengisi waktu senggang). Kemudian, jika dimensi aktifitas selama terjadinya terpaan media ini dihubungkan dengan
27 http://ict-site.blogspot.com/2009/03/macam-situs-jejaring-sosia 28
Hal dimaksud diantaranya dikatakan Tan (1981 : 297), bahwa the mass media uses and gratifications itu penekanannya terletak pada aktifitas khalayak dalam menggunakan media dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka.
29 Choi et al,Motives of Internet uses : Crosscultural Perspective- The US, The Netherlands, and South Korea. 30 (Levy dan Windahl dalam Gayatri, 1997: 3).
konsep penggunaannya Katz, Gurevitch dan Hass, maka dimensi ini secara rinci akan ditelaah melalui : 1) isi media : ragam konten yang diupload dan didownload melalui situs jejaring sosial; pencarian teman; pengekpresian diri; penanggapan komentar; pertemanan; penawaran barang dan jasa 2) jenis media : medium internet, terkait dengan alat-alat dan sumber-sumber untuk kepentingan melakukan aktifitas komunikasi seperti melalui chat room, dll.yang dalam penelitian ini dilakukan melalui situs jejaring sosial tertentu seperti facebook, twitter dan lain-lain; 3) terpaan media dan situasinya: frekuensi akses dalam seminggu; durasi rata-rata per penggunaan situs jejaring sosial; kebiasaan menggunakan situs jejaring sosial (tempat; waktu); kebiasaan berinteraksi melalui situs jejaring sosial (chat, messaging, email, video, chat suara, share file, blog, diskusi grup, dan lain-lain).
Methodologi Penelitian
Penelitian dilaksanakan berdasarkan paradigma positivistik dengan pendekatan kuantitatif melalui metode survey. Obyek Penelitiannya adalah anggota masyarakat di area sampling yang terpilih melalui proses sampling sebagai responden.
Penelitian dilakukan di empat lokasi area sampling di empat provinsi, yaitu Provinsi Jambi, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, dan DKI Jakarta. Di tingkat Pemkot, sampel dilakukan secara purposive, yakni ibukota provinsi dari ketiga provinsi tadi, dengan pertimbangan bahwa di wilayah perkotaan para pengguna internet relatif banyak dibanding yang bukan perkotaan. Kota ini terdiri dari : Provinsi Jambi : Kota Jambi; Provinsi Bengkulu : Kota Bengkulu; Provinsi Kepulauan Babel : Kota Pangkal Pinang; dan Propinsi DKI Jakarta : Jakarta Pusat. Dari kota-kota tersebut, area sampling selanjutnya ditentukan berdasarkan teknik
multi stage simple random sampling. Area sampling yang terpilih pada masing-masing kota
adalah sbb :
Tabel Area Sampel Penelitian
Propinsi Kota Kecamatan Kelurahan RW RT
1. Telanaipura 03 01
04
Jambi Jambi Telanaipura
2. Solok Sipin 05 02
05
1. Kebun Gerand 01 04
07
Bengkulu Bengkulu Ratu Samban
2. Anggut Dalam 05 04
07
1. Gedung Nasional 07 02
03 Kepulauan
Babel
Pangkal Pinang
Tamansari
2. Batin Tikal 04 02
05
1. Menteng 02 01
02 DKI Jakarta
Jakarta
Pusat
Menteng
2. Pegangsaan 01 04
05
Populasi penelitian ini adalah anggota masyarakat di lokasi sampel yang distratifikasi menurut tingkat pendidikan. Stratifikasi ini menjadi dasar pendistribusian jumlah sampel proporsional pada setiap lokasi sampel sasaran dari quota sampel sebanyak 75 responden pada masing-masing kelurahan sampel. (teknik simple random sampling stratifikasi proporsional).
terhadap item-item yang bersifat multidimensional. Hasil yang dirujuk untuk pengaplikasian instrument adalah nilai reliabelitas statistik pada Cronbach’s Alpha pada interval 0, 80-1,00.
Data yang terkumpul diolah dengan bantuan komputer melalui dukungan program SPSS 12,0 for Windows. Pengolahan data diorientasikan pada out put data distribusi frekuensi;
central of tendency, dispersi dan korelasi simetris pada uji statistik deskriptif. Data dianalisis
dengan menggunakan bantuan out put data statistik deskriptif dengan fokus pada data central of
tendency.
PEMBAHASAN
Penyajian Dan Analisis Hasil Penelitian A. Identitas Responden
Tabel 1
Responden Menurut Jenis Kelamin n:150
Lokasi Penelitian Pemprov.
Jambi
Pemprov.
Bengkulu Pemprov. Babel
Pemprov. DKI Jakarta Jenis
Kelamin
f % f % f % f %
Laki-laki 79 52.7 72 48.0 73 48.7 75 50.0
Perempuan 71 47.3 78 52.0 77 51.3 75 50.0
Total 150 100 150 100 150 100 150 100
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
Mengacu pada data tabel 1 memperlihatkan bahwa dari segi jenis kelamin responden pada empat wilayah secara proporsional cenderung hampir tidak menunjukkan adanya perbedaan, terutama di Jakarta, di mana proporsinya berimbang (50) antara responden laki-laki dan perempuan. Sementara di tiga lokasi lainnya, antara yang di Bengkulu dan Babel, dengan pertautan selisih yang tidak besar, proporsi responden perempuan lebih banyak (52% dan 51,3%) dibandingkan dengan responden laki-laki, yakni 48% dan 48,7%. Sedang untuk lokasi Jambi, dengan pertautan yang juga tidaak besar, responde laki-laki lebih banyak (52,7%) dibandingkan dengan responden perempuannya, yakni 47,3%.
Tabel 2
Responden Menurut Tahun Kelahiran Berdasarkan MDGs n:150
Menyangkut pendidikan terakhir yang ditamatkan responden, maka riset ini menemukan bahwa secara umum menunjukkan adanya fenomena yang sama di empat lokasi, dimana responden yang berpendidikan SLTA sebagai proporsi yang dominan. Perbedaan yang relatif, tampak hanya terjadi pada pola distribusi data yang mengikuti data dominan tadi. Di Jambi dan Babel polanya muncul secara serupa, di mana setelah dominasi SLTA diikuti oleh responden yang berpendidikan sarjana dan SLTP. Sementara di lokasi Bengkulu dan Jakarta, setelah dominasi responden SLTA, diikuti oleh responden berpendidikan SLTP dan SD. Data selengkapnya mengenai hal ini dapat dilihat dalam tabel 3 berikut ini.
Selanjutnya, menyangkut temuan terkait jenis pekerjaan responden, datanya disajikan dalam tabel 4 berikut.
Tabel 4
Responden Menurut Jenis Pekerjaan n:150
Lokasi Penelitian Pemprov.
Jambi
Pemprov. Bengkulu
Pemprov. Babel
Pemprov. DKI Jakarta Jenis Pekerjaan
f % f % f % Count %
Petani - - 1 0.7 - - - -
Buruh 2 1.3 6 4.0 3 2.0 4 2.6
Pedagang 8 5.3 21 14.0 4 2.7 4 2.6
Wira Usaha 7 4.7 10 6.7 12 8.0 3 2.0
PNS 4 2.7 4 2.7 13 8.7 3 2.0
TNI/Polri 1 0.7 - - 2 1.3 1 0.7
Pegawai Swasta 20 13.3 31 20.7 41 27.3 61 40.7
Profesional 3 2.0 1 0.7 1 0.7
Pelajar/Mahasiswa 95 63.3 57 38.0 42 28.0 54 36.0
Guru/Dosen 8 5.3 2 1.3 5 3.3 - -
Ibu Rumah
Tangga 2 1.3 16 10.7 18 12.0 16 10.7
Karyawan BUMN - - 2 1.3 5 3.3 - -
Belum Bekerja - - - - 4 2.7 3 2.0
Total 150 100 150 100 150 100 150 100
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
Melihat distribusi data tabel 4 di atas, memperlihatkan bahwa pola yang sama secara relatif cenderung serupa di empat lokasi penelitian. Kecenderungan itu ditandai oleh, proporsi terbanyak di setiap lokasi, yaitu responden yang pekerjaannnya pelajar/mahasiswa, diikuti oleh proporsi responden yang bekerja sebagai pegawai swasta. Gejala ini, jika di Jambi dan Bengkulu diikuti oleh responden yang bekerja sebagai pedagang, maka di lokasi Babel dan Jakarta diikuti oleh responden yang bekerja sebagai ibu rumah tangga.
Hu Chu. Hal ini dimungkinkan mengingat penduduk Bangka cukup banyak juga dihuni oleh etnis Cina yang nota bene banyak yang menjadi pemeluk agama non Islam.
Tabel 5
Responden Menurut Agama yang Dianutnya n:150
Lokasi Penelitian Pemprov.
Jambi
Pemprov. Bengkulu
Pemprov. Babel
Pemprov. DKI Jakarta Agama yang
Dianut
f % f % f % f %
Islam 144 96.0 148 98.7 90 60.0 140 93.3
Kristen Protestan 4 2.7 2 1.3 9 6.0 10 6.7
Katholik 2 1.3 - - 21 14.0 - -
Budha - - - - 26 17.3 - -
Kong Hu Chu - - - - 4 2.7 - -
Total 150 100 150 100 150 100 150 100
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
Dalam hubungan responden dengan masalah kepemilikan media TIK secara pribadi, penelitian ini menemukan fenomena yang relatif sama di empat lokasi. Mengacu pada data tabel 6, menunjukkan bahwa e-mail (100%) dan handphone (90-96,7%) merupakan medium yang sangat dominan dimiliki responden. Demikian halnya menyangkut medium yang tidak dimiliki, gejalanya juga cenderung sama, di mana medium seperti Faximile dan Website sangat sedikit responden yang memilikinya. Dengan kata lain, hanya dimiliki oleh sebagian kecil dari kalangan responden yang bekerja sebagai PNS, wira usaha, pegawai swasta dan mahasiswa/pelajar (website)(lihat tabel 6a)
Tabel 6
Responden Menurut Kepemilikan Media TIK Secara Pribadi n:150
Prov. Jambi Prov. Bengkulu Prov. Kep. Babel Prov. DKI Jakarta
Memiliki Tidak
Memiliki Memiliki
Tidak
Memiliki Memiliki
Tidak
Memiliki Memiliki
Tidak Memiliki Jenis
Media TIK
f % f % f % f % f % f % f % f %
Telepon 68 45.3 82 54.7 54 36.0 96 64.0 45 30.0 105 70.0 103 68.7 47 31.3
Faximile 6 4.0 144 96.0 - - 150 100 11 7.3 139 92.7 2 1.3 148 98.7
Komputer 75 50.0 75 50.0 43 28.7 107 71.3 95 63.3 55 36.7 52 34.7 98 65.3
Internet 38 25.3 112 74.7 18 12.0 132 88.0 34 22.7 116 77.3 47 31.3 103 68.7
Website 11 7.3 139 92.7 6 4.0 144 96.0 8 5.3 142 94.7 11 7.3 139 92.7
Handphone 145 96.7 5 3.3 135 90.0 15 10.0 144 96.0 6 4.0 142 94.7 8 5.3
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
Tabel 6a
f 1 14 15
lokasi Jambi misalnya, maka jumlahnya mencapai 33,4%. Di Jakarta jumlahnya mencapai 46,6%, sementara di Bengkulu mencapai 34%. Jadi, fenomena ini kiranya menggambarkan bahwa dalam minggu-minggu terkahir, responden di empat lokasi penelian pada hakikatnya sebagian besar mereka memiliki keteraksesan dengan internet. Keteraksesan mana, intensitasnya itu terjadi dalam kadar jarang dan sering.
Tabel 7
Responden Menurut Tingkat Keseringan dalam Keterlibatannya dengan Internet dalam Minggu-minggu Terakhir
n:150
Lokasi Penelitian Pemprov.
Jambi
Pemprov. Bengkulu
Pemprov. Babel
Pemprov. DKI Jakarta Tingkat Keseringan
f % f % f % f %
Sering 50 33.4 51 34,0 78 52,0 70 46,6
Jarang 98 65,3 89 59,3 66 44,0 72 48,0
Hampir tidak pernah 2 1.3 9 6.0 3 2,0 7 4.7
Tidak pernah sama sekali - - 1 0.7 3 2,0 1 0,7
Total 150 100 150 100 150 100 150 100
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
Menyangkut ragam jenis kebutuhan yang hendak dipenuhi responden dalam kaitan akses internet tadi, temuan penelitiannya disajikan dalam tabel 8. Dari tabel tersebut diketahui bahwa ragam kebutuhan itu menyangkut lima jenis, yaitu : untuk memenuhi kebutuhan informasi, memenuhi kebutuhan ekspresi diri (pergaulan sosial), memenuhi kebutuhan ekonomi, memenuhi kebutuhan hiburan dan untuk mengatasi kejenuhan. Tiga di antara lima jenis tersebut, yaitu kebutuhan informasi, kebutuhan ekspresi diri (pergaulan sosial) dan mengatasi kejenuhan, menjadi jenis kebutuhan yang paling banyak mendasari responden di empat lokasi penelitian untuk menggunakan internet. Sementara menyangkut pemenuhan kebutuhan ekonomi, gejalanya juga tampak sama di empat lokasi, di mana relatif sedikit responden yang menjadikannya sebagai dasar untuk mengakses internet. Dengan kata lain, responden umumnya masih belum menjadikan pemenuhan kebutuhan ekonomi sebagai dasar untuk melakukan aktifitas akses internet.
Tabel 8
Responden Menurut Kebutuhannya Dalam menggunakan Internet n: 150
Prov. Jambi Prov. Bengkulu Prov. Kep. Babel Prov. DKI Jakarta
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
Jenis Kebutuhan
f % f % f % f % f % f % f % f %
Untuk memenuhi kebutuhan informasi
Untuk memenuhi kebutuhan ekspresi diri (pergaulan sosial)
143 95,3 7 4,7 130 86,7 20 13,3 147 98,0 3 2,0 150 100 - -
Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi
31 20,7 119 79,3 20 13,3 130 86,7 17 11,3 133 88,7 19 12,7 131 87,3
Untuk memenuhi kebutuhan hiburan
126 84,0 24 16,0 113 75,3 37 24,7 61 40,7 89 59,3 125 83,3 25 16,7
Untuk mengatasi kejenuhan
122 81,3 28 18,7 131 87,3 19 12,7 106 70,7 44 29,3 140 93,3 10 6,7
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
C. Motif dan Pola Aktifitas Penggunaan Situs Jejaring Sosial
Di bawah ini akan dibahas menyangkut persoalan yang khusus bertalian dengan situs jejaring sosial, sebagai salah satu aplikasi berbasis web yang terdapat dalam internet. Pembahasannya difokuskan pada masalah motif penggunaan situs jejaring sosial dan pola aktifitas penggunaan situs jejaring sosial.
1. Motif Penggunaan Situs Jejaring Sosial
misalnya seperti Menawarkan Barang dan Jasa, Membeli Produk Secara Online, Transaksi Online Banking, dan Mencari Kerja Secara Online (lihat tabel 9).
Tabel 9
Responden Menurut Jenis Aktifitas Penggunaan Internet yang Biasa Dilakukan n:150
Prov. Jambi Prov. Bengkulu Prov. Kep. Babel Prov. DKI Jakarta
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
Kegiatan Internet yang Biasa Dilakukan
f % f % f % f % f % f % f % f %
Menggunakan
e-Mail 126 84.0 24 16.0 124 82.7 26 17.3 125 83.3 25 16.7 148 98.7 2 1.3
Menggunakan
Pesan Instan 91 60.7 59 39.3 35 23.3 115 76.7 82 54.7 68 45.3 122 81.3 28 18.7
Mengunjungi Situs
jejaring Sosial 134 89.31 16 10.7 121 80.72 29 19.3 146 97.3 4 2.7 148 98.7 2 1.3
Membaca berita
Online 123 82.03 27 18.0 101 67.3 49 32.7 101 67.3 49 32.7 71 47,3 79 52.7
Membaca Berita
Olahraga 87 58.0 63 42.0 71 47.34 79 52.7 60 40.0 90 60.0 64 42.7 86 57.3
Mengerjakan Blog
atau Situs Pribadi 68 45,.3 82 54.7 56 37.3 94 62.7 27 18.0 123 82.0 38 25.3 112 74.7
Mengunggah/me
ngunduh Musik 93 62.04 57 38.0 70 46.7 80 53.3 64 42.7 86 57.3 59 39.3 91 60.7
Menggugah/
mengunduh Foto 93 62.0 57 38.0 81 54.0 69 46.0 63 42.0 87 58.0 118 78.7 32 21.3
Mencari Kerja
Secara Online 40 26.7 110 73.3 28 18.7 122 81.3 24 16.0 126 84.0 47 31.3 103 68.7
Transaksi Online
Banking 2 1,3 148 98,7 4 2,7 146 97,3 5 3,3 145 96,7 5 3,3 145 96,7
Membeli Produk
Secara Online 13 8,7 137 91,3 7 4,7 143 95,3 10 6,7 140 93,3 8 5,3 142 94,7
Menawarkan
Barang dan Jasa 22 14,7 128 85,3 15 10,0 135 90,0 11 7,3 139 92,7 14 9,3 136 90,7
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
My Space, Multiply, Hi5, Twitter dan lain-lain, akunnya hanya dimiliki oleh sebagian kecil responden, yakni berkisar 0,7%-14,7% saja.
Tabel 10
Responden Menurut Kepemilikan Akun Situs Jejaring Sosial Secara Pribadi n:150
Prov. Jambi Prov. Bengkulu Prov. Kep. Babel Prov. DKI Jakarta
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
Jenis Media TIK
f % f % f % f % f % f % f % f %
My Space 20 13.3 130 86.7 15 10.0 135 90.0 7 4.7 143 95.3 16 10.7 134 89.3
Facebook 147 98.0 3 2.0 149 99.3 1 0.7 145 97.3 4 2.7 150 100 - -
Habbo 6 4.0 144 96.0 3 2.0 147 98.0 2 1.3 148 98.7 - - 150 100
Friendster 70 46.7 80 53.3 49 32.7 101 67.3 68 45.3 82 54.7 79 52.7 71 47.3
Hi5 3 2.0 147 98.0 3 2.0 147 98.0 3 2.0 147 98.0 - - 150 100
Flixster 3 2.0 147 98.0 4 2.7 146 97.3 5 3.3 145 96.7 15 10.0 135 90.0
Classmates.
com 3 2.0 147 98.0 2 1.3 148 98.7 - - 150 100 - - 150 100
Linkedln 1 0.7 149 99.3 4 2.7 146 97.3 1 0.7 149 99.3 1 0.7 149 99.3
Bebo 5 3.3 145 96.7 4 2.7 146 97.3 1 0.7 149 99.3 6 4.0 143 96.0
Multiply 3 2.0 147 98.0 3 2.0 147 98.0 4 2.7 146 97.3 22 14.7 128 85.3
Adult
FriendFinde 2 1.3 148 98.7 19 12.7 131 87.3 1 0.7 149 99.3 6 4.0 144 96.0
Koprol - - 150 100 3 2.0 147 98.0 2 1.3 148 98.7 - - 150 100
Yahoo Messenger
1 0.7 149 99.3 4 2.7 146 97.3 16 10.7 134 89.3 3 2.0 147 98.0
Nimbuzzr - - 150 100 - - 150 100 8 5.3 142 94.7 - - 150 100
Twitter - - 150 100 - - 150 100 13 8.7 137 91.3 9 6.0 141 94.0
Tubely - - 150 100 - - 150 100 1 0.7 149 99.3 - - 150 100
E-Buddy - - 150 100 - - 150 100 2 1.3 148 98.7 - - 150 100
Wordpress - - 150 100 - - 150 100 1 0.7 149 99.3 2 1.3 148 98.7
Blogspot - - 150 100 - - 150 100 1 0.7 149 99.3 1 0.7 149 99.3
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
Terkait dengan kebutuhan yang mendasari responden dalam memiliki akun situs jejaring sosial tadi, sebagaimana diperlihatkan data tabel 11, di empat lokasi penelitian, responden pada umumnya (antara 86,7% - 99,3%) didasari oleh kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan ekspresi diri (pergaulan sosial) dalam memiliki akun situs jejaring sosial itu. Perbedaannya adalah, terletak pada jenis-jenis kebutuhan lain yang melengkapi pemenuhan kebutuhan ekspresi diri (pergaulan sosial) dalam pemilikan akun tadi. Jika di Jambi pemenuhan kebutuhan ekspresi diri (pergaulan sosial) itu diikuti oleh pemenuhan kebutuhan informasi, kebutuhan hiburan dan untuk mengatasi kejenuhan, maka di Bengkulu disusul oleh pemenuhan kebutuhan mengatasi kejenuhan, kebutuhan informasi, dan untuk pemenuhan kebutuhan hiburan. Sedang di Babel, kebutuhan itu diikuti oleh upaya untuk memenuhi kebutuhan informasi, mengatasi kejenuhan, dan kebutuhan hiburan. Sementara di Jakarta, maka pemenuhan kebutuhan ekspresi diri (pergaulan sosial) itu diikuti oleh pemenuhan kebutuhan hiburan, mengatasi kejenuhan dan untuk memenuhi kebutuhan informasi.
Tabel 11
Responden Menurut Kebutuhannya (motif) Dalam Memiliki Akun Situs Jejaring Sosial n:150
Prov. Jambi Prov. Bengkulu Prov. Kep. Babel Prov. DKI Jakarta
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
Jenis Kebutuhan
f % f % f % f % f % f % f % f %
Untuk memenuhi kebutuhan informasi
132 88.0 18 12.0 114 76.0 36 24.0 104 69.3 46 30.7 89 59.3 61 40.7
Untuk memenuhi kebutuhan ekspresi diri (pergaulan sosial)
143 95,3 7 4.7 130 86,7 20 13.3 146 97.3 4 2.7 149 99.3 1 0.7
Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi
31 20.7 119 79.3 20 13.3 130
86.7 17 11,3 133 88,7 19 12,7 131 87,3
Untuk memenuhi
kebutuhan hiburan 126 84,0 24 16,0 113 75,3 37 24,7 60 40.0 90 60.0 146 97.3 4 2.7
Untuk mengatasi
kejenuhan 112 74,7 38 25,3 124 82,7 26 17,3 72 48.0 78 52.0 141 94.0 9 6.0
2. Pola Aktifitas Penggunaan Situs Jejaring Sosial
Di bawah ini akan disajikan hasil penelitian terkait pola aktifitas penggunaan
situs jejaring sosial. Pola aktifitas dimaksud pembahasannya difokuskan pada tema-tema menyangkut : a.Isi Media, b. Jenis Media yang Digunakan, dan c. Terpaan Media dan Situasi Dalam Penggunaannya.
a. Isi Media
Berkaitan dengan aktifitas yang biasa dilakukan ketika responden online melalui situs jejaring sosial, hasilnya disajikan dalam tabel 12 berikut, :
Tabel 12
Responden Menurut Aktifitas yang Biasa Dilakukan Ketika Online Melalui Situs Jejaring Sosial
n:150
Prov. Jambi Prov. Bengkulu Prov. Kep. Babel Prov. DKI Jakarta
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
Jenis Aktifitas
f % f % f % f % f % f % f % f %
Upload Foto Diri
Sendiri 129 86.0 21 14.0 70 46.7 80 53.3 61 40.7 89 59.3 146 97.3 4 2.7
Download Foto
Orang Lain 59 39,3 91 60.7 41 27.3 109 72.7 59 39,3 91 60,7 58 38.7 92 61.3 Mengundang/meneri
ma Orang Lain Jadi Teman
121 80.7 29 19.3 113 75.3 37 24.7 134 89.3 16 10.7 144 96.0 6 4.0
Menyampaikan
Uneg-uneg (Ekspresi) 113 75.3 37 24.7 94 62.7 56 37.3 118 78.7 32 21.3 134 89,3 16 10.7
Mencari Teman
Lama 134 89.3 16 10.7 116 77.3 34 22.7 130 86.7 20 13.3 141 94.6 8 5.4 Mengomentari
Pernyataan Orang-orang dalam Situs
119 79.9 30 20.1 98 65.3 52 34.7 127 84.7 23 15.3 130 86.7 20 13.3
Menawarkan Barang
Kepada teman Online 31 20.7 119 79.3 20 13.3 130 86.7 17 11.3 133 88.7 19 12.7 131 87.3 Dating dengan
Teman 72 48.0 78 52.0 47 31.3 103 68.7 42 28.0 108 72.0 107 71.3 43 28.7
Melihat-lihat Profil
Orang Lain 129 86.0 21 14.0 105 70.0 45 30.0 107 71.3 43 28.7 125 83.3 25 16.7
Main Game 102 68,0 48 32.0 85 56.7 65 43.3 29 19.3 121 80.7 85 56.7 65 43.3
Upload Video Diri
Sendiri 33 22.0 117 78.0 36 24.0 114 76.0 23 15.3 127 84.7 23 15.3 127 84.7 Upload Video Orang
Lain 31 20.7 119 79.3 30 20.0 120 80.0 13 8.7 137 91.3 7 4.7 143 95.3
Download Musik 89 59.3 61 40.7 69 46.0 81 54.0 59 39.3 91 60.7 58 38.7 92 61.3
Mendengar Musik
Invitation 26 17.3 124 82.7 23 15.3 127 84.7 36 24.0 114 76.0 44 29.3 106 70.7
Greeting/Ucapan
selamat 72 48.0 78 52.0 71 47. 79 52.7 88 58.7 62 41.3 74 49.3 76 50.7 Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
Melihat paparan data tabel 12 di atas, aktifitas yang biasa dilakukan responden ketika online itu, keragamannya mencapai 16 jenis aktifitas. Dari sejumlah aktifitas tersebut, maka terdapat beberapa aktifitas yang sangat populer dilakukan oleh responden. Di Jambi, aktifitas yang populer itu jumlahnya mencapai sembilan aktifitas. Paling banyak yaitu aktifitas Mencari Teman Lama, proporsinya mencapai 89.3 %. Dengan proporsi yang sama besarnya (86.0), maka aktifitas ini diikuti oleh aktifitas Upload Foto diri sendiri dan melihat-lihat Profil Orang Lain. Lalu disusul oleh aktifitas Mengundang/menerima Orang Lain Jadi Teman (80.7%), Mengomentari Pernyataan Orang-orang dalam Situs (79.9%), Menyampaikan Uneg-uneg (Ekspresi)(75.3%), dan Main Game (68,0%). Sementara jenis aktifitas yang tidak biasa dilakukan oleh sebagian besar responden, yaitu terkait dengan aktifitas Download Foto Orang Lain dan Menawarkan Barang Kepada teman Online serta Dating dengan Teman. Responden yang biasa melakukan aktifitas tersebut proporsinya hanya berkisar 20,7 % hingga 39,3 % saja. Di Bengkulu , mencari teman lama juga menjadi isi online yang populer di kalangan responden (77.31%). Popularitasnya kemudian disusul oleh aktifitas yang isinya menyangkut urusan Mengundang/menerima Orang Lain Jadi Teman (75,3%); Melihat-lihat Profil Orang Lain (70%); Mengomentari Pernyataan Orang-orang dalam Situs (65,3%); Menyampaikan Uneg-uneg (Ekspresi) (62,7%); Main Game (56,7%); dan Mendengar Musik new Entry (52,7%). Di Babel, maka aktifitas yang isinya Mengundang/menerima Orang Lain Jadi Teman juga menjadi yang terpopuler (89.3%). Disusul aktifitas yang isinya antara lain menyangkut Pencarian Teman Lama (86,7%) ; Mengomentari Pernyataan Orang-orang dalam Situs (84,7%) ; Menyampaikan Uneg-uneg (Ekspresi) (78, 74%); Melihat-lihat Profil Orang Lain (71,3%) ; dan Greeting/Ucapan selamat (58,7%). Sementara di Jakarta aktifitas yang isinya menyangkut Upload Foto Diri Sendiri menjadi isi aktifitas yang terpopuler di kalangan responden (97.3 %);. Termasuk pula aktifitas-aktifitas yang isinya menyangkut pengundangan/penerimaan Orang Lain Jadi Teman; Mencari Teman Lama; Menyampaikan Uneg-uneg (Ekspresi); Mengomentari Pernyataan Orang-orang dalam Situs; Melihat-lihat Profil Orang Lain;dan Main Game, juga menjadi isi-isi yang sangat populer di kalangan responden Jakarta.
aktifitasnya itu hanya kepada teman sekelompok (grup) dan kepada teman tertentu (34%). Di Bengkulu, dominasi proporsi responden yang arah aktiifitasnya kepada
siapa saja tadi, diikuti oleh kelompok responden yang aktifitasnya diarahkan
kepada teman tertentu dengan proporsi sebanyak 26,7% dan disusul oleh bagian responden yang aktifitasnya diarahkan kepada teman sekelompok (14%). Sementara di lokasi Babel, pola distribusinya, setelah dominasi responden yang arah aktifitasnya kepada siapa saja tadi, diikuti oleh bagian responden yang aktifitas itu diarahkan kepada Hanya Kepada Teman Tertentu dengan proposi sebanyak 31 % dan secara berurutan disusul oleh proporsi responden yang aktifitasnya diarahkan kepada teman sekelompok (19%) dan seseorang tertentu (17%). Sedang di Jakarta, maka dominasi kelompok responden yang aktifitasnya diarahkan kepada setiap orang tadi, disusul oleh bagian responden yang aktifitasnya diarahkan kepada teman tertentu, di mana jumlahnya relatif banyak yang mencapai 63%. Lalu, disusul oleh sebagian responden yang aktifitasnya diarahkan kepada seseorang dengan proporsi yang cukup signiifikan (49 %) dan diikuti oleh responden yang aktifitasnya diarahkan kepada teman sekelompok dengan proporsi yang relatif sedikit yakni 24%. .
Tabel 13
Responden Menurut Pihak yang Menjadi Sasaran Aktifitas Komunikasi Melalui Situs Jejaring Sosial
n:150
Prov. Jambi Prov. Bengkulu Prov. Kep. Babel Prov. DKI Jakarta
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
Sasaran Aktifitas
f % f % f % f % f % f % f % f %
Kepada Siapa Saja
(Everyone)
117 78.0 33 22.0 116 77.3 34 22.7 124 82.7 26 17.3 132 88.0 18 12.0
Hanya Kepada Teman Tertentu
51 34.0 99 66.0 40 26.7 109 72.7 47 31.3 103 68.7 94 62.7 56 37.3
Teman Sekelompok (Grup)
56 37.3 94 62.7 21 14.0 129 86.0 29 19.3 121 80.7 36 24.0 114 76.0
Kepada
Seseorang 27 18.0 123 82.0 28 18.7 122 81.3 26 17.3 124 82.7 73 48.7 77 51.3 Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
Tabel 14
Responden Menurut Tingkat Keseringan Melakukan Aktifitas Dalam Berkomunikasi Melalui Situs Jejaring Sosial
Dating dengan teman 12 8.0 38 25.3 57 38.0 43 28.7 150 100
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
Mengacu pada data tabel 14 di atas, menyangkut tingkat keseringan responden terhadap ragam aktifitas yang ada dalam berkomunikasi melalui situs jejaring sosial, memperlihatkan bahwa pada dasarnya ragam aktifitas yang dalam kaitan riset tersebut mencapai 18 jenis itu, semuanya telah diadopsi oleh responden. Hanya saja terlihat bahwa tingkat keseringannya cenderung masih relatif sedikit responden yang melakukannya dengan sering. Responden di 4 lokasi kebanyakan cenderung masih jarang atau bahkan tidak pernah melakukan sejumlah besar jenis-jenis aktifitas itu. Meskipun demikian, pada dua lokasi penelitian, yaitu Babel dan Jakarta, masih terdapat beberapa jenis aktifitas yang diakui sudah sering dilakukan oleh bagian terbesar responden. Misalnya di Babel, aktifitas dimaksud yaitu : Mencari teman lama (47%); Mengundang/menerima orang lain jadi teman (46%); Menyampaikan uneg-uneg (ekspresi) (43%) dan Mengomentari pernyataan orang-orang dalam situs (38 %). Sementara di Jakarta, aktifitas dimaksud yaitu berkaitan dengan penyampaikan uneg-uneg (ekspresi) (56%); mengundang/menerima orang lain jadi teman (55,3%); mengomentari pernyataan orang-orang dalam situs (50%); dan meng- upload foto diri sendiri (39,3%).
b. Jenis Media Yang Digunakan
Tabel 15
Responden Menurut Cara-cara Beraktifitas Saat Berkomunikasi Melalui Situs Jejaring Sosial
n:150
Prov. Jambi Prov. Bengkulu Prov. Kep. Babel Prov. DKI Jakarta
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
Cara-cara Beraktifitas
yang Biasa
Dilakukan f % f % f % f % f % f % f % f %
Melalui
Chatroom 137 91,3 13 8,7 92 61,3 58 38,7 59 39,3 91 60,7 142 94,7 8 5,3
Sharing
Opini 114 75,3 37 24,7 85 56,7 65 43,3 96 64,0 54 36,0 127 84,7 23 15,3
Attaching
Foto 129 86.0 21 14.0 70 46.7 80 53.3 61 40.7 89 59.3 146 97.3 4 2.7
Attaching
Video 25 16,7 125 83,3 6 4,0 144 96,0 15 10,0 135 90,0 13 8,7 137 91,3
Sharing Foto 89 59,3 61 40,7 49 32,7 101 67,3 56 37,3 94 62,7 116 77,3 34 22,7
Sharing
Video 33 22,0 117 78,0 36 24,0 114 76,0 23 15,3 127 84,7 23 15,3 127 84,7
Share File 55 36,7 95 63,3 6 4,0 144 96,0 67 44,7 83 55,3 53 35,3 97 64,7
Diskusi Grup 113 75,3 37 24,7 69 46,0 81 54,0 90 60,0 60 40,0 44 29,3 106 70,7
Main Game 102 68,0 48 32,0 85 56,7 65 43,3 29 19,3 121 80,7 85 56,7 65 43,3
Video Converence /Call
28 18,7 122 81,3 10 6,7 140 93,3 9 6,0 141 94,0 2 1,3 148 98,7
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
Sementara di Jakarta, maka distribusi data menyangkut cara-cara yang biasa dilakukan responden dalam beraktifitas melalui situs jejaring sosial adalah sebagai berikut : Attaching Foto (97.3); Melalui Chatroom (94,7); Sharing Opini (84,7); Sharing Foto (77,3); Main Game (56,7) dan Share File (35,3).
c. Terpaan Media dan Situasi Dalam Penggunaannya
Berkaitan dengan frekuensi akses yang biasa dilakukan responden dalam seminggu, temuan memperlihatkan relatif bervariasi di antara setiap lokasi. Temuannya disajikan dalam tabel 16 berikut. Dari tabel dimaksud diketahui bahwa : pola distribusi data menyangkut intensitas akses tersebut cenderung berbeda di antara sesama lokasi riset. Kalau di Jambi, maka dalam seminggunya mereka biasanya kebanyakan mengakses internet sebanyak 2 hari (23%). Sementara responden yang mengakses sebanyak 2 hari dalam seminggu, jumlahnya 19 %. Hampir sama jumlahnya, maka responden yang mengakses mencapai 7 hari dalam seminggu, proporsinya sebanyak 18 %. Sementara responden lainnya jumlah hari akses mereka dalam seminggu antara 3 %-16,7 %. Distribusi data di Bengkulu, relatif berbeda dengan di Jambi tadi, di mana proporsi terbesarnya, meskipun sama dengan di Jambi, namun proporsi responden yang mengikutinya berbeda dengan di Jambi, yakni diikuti oleh kelompok responden yang jumlah aksesnya sebanyak 7 hari dalam seminggu dengan proporsi 16,7%. Kemudian disusul oleh responden yang jumlah aksesnya 4 hari dalam seminggu (15%). Sementara responden lainnya adalah mereka yang mengakses antara 6 hari hingga 3 hari per minggunya dengan proporsi antara 7 % - 14,7 %. Begitu juga dengan di Babel, bahkan sangat berbeda dengan dua lokasi sebelumnya, di mana proporsi terbesarnya muncul pada responden yang mengakses 7 hari dalam seminggu dengan proporsi sebesar 44 %. Kemudian disusul oleh responden yang jumlah mengaksesnya 4 hari dalam seminggu dengan proporsi 14 %. Sedang responden lainnya, adalah mereka yang jumlah aksesnya antara 1 hingga 5 hari dalam seminggu dengan proporsi antara 6 %- 10,7 %. Gejalanya hampir sama dengan di Jakarta, di mana responden terbanyak adalah mereka yang mengakses internet sebanyak 7 hari dalam seminggu (48,7%). Sementara responden lainnya jumlah akses mereka bervariasi antara 6 hari dan 2 hari dengan proporsi antara 4,7 – 10,7 %. (lihat tabel 16).
Tabel 16
Responden Menurut Intensitas Mengakses Situs Jejaring Sosial Dalam Seminggu n:150
Lokasi Penelitian Pemprov.
Jambi
Pemprov. Bengkulu
Pemprov. Babel
Pemprov. DKI Jakarta Jumlah hari
untuk mengakses situs jejaring
sosial dalam seminggu
f % f % f % f %
1 hari 25 16,7 19 12,7 9 6,0 18 12,0
3 hari 29 19,3 22 14,7 14 9,3 12 8,0
4 hari 15 10,0 23 15,3 21 14,0 15 10,0
5 hari 14 9,3 20 13,3 16 10,7 9 6,0
6 hari 5 3,3 11 7,3 13 8,7 7 4,7
7 hari 27 18,0 25 16,7 66 44,0 73 48,7
Total 150 100 150 100 150 100 150 100
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.
Tabel 17
Responden Menurut Intensitas Mengakses Situs Jejaring Sosial Dalam Sehari
n:150
Lokasi Penelitian Pemprov.
Jambi
Pemprov. Bengkulu
Pemprov. Babel
Pemprov. DKI Jakarta Rata-rata Responden
Mengakses Situs Jejaring Sosial dalam
sehari f % f % f % f %
1 kali 58 38,7 64 42,7 22 14,7 77 51,3
2 - 3 kali 64 42,7 68 45,3 57 38,0 52 34,7
4 - 5 kali 13 8,7 13 8,7 36 24,0 16 10,7
6 - 7 kali 8 5,3 1 0,7 16 10,7 2 1,3
> 7 kali 7 4,6 4 2,6 19 12,6 3 2,0
Total 150 100 150 100 150 100 150 100
Sumber : Hasil Pengolahan data, BPPKI, 2010.