45 A. Awal Kedatangan Eropa
Abad ke-15 merupakan abad kemajuan yang memekakkan telinga dunia. Eropa yang sebelumnya tenggelam dalam lumpur kegelapan, sekarang mulai bergeliat.1
Abad ke-15, Eropa dipicu oleh kelahiran orang-orang besar dunia di bidang kesenian. Dalam perbincangan sejarah Filsafat, masa ini dikenal dengan Renaisance. Kala itu kedudukan Persia sebagai salah satu kerajaan Superpower dunia mampu dipukul mundur pada abad ke-4 SM. Sinar agung Islam yang semakin membahana sejak nabi Muhammad membentuk komunitas masyrakat Madani yang digantikan oleh para Khulafaurrasyidin (pengganti yang diberi petunjuk) semakin menyentak perhatian dunia. Para raja dan intelektual Eropa dibuat bingung, mengapa di tengah badai sahara pasir bisa bermekaran kebun-kebun peradaban yang semakin meluas hingga menyentuh Andalusia (Spanyol) pada abad ke-8.2 Perlahan tapi pasti agama tauhid ini menunjukkan bakat sebagai pemimpin dunia yang paling ditakuti, terutama sejak runtuhnya pertahanan Kristen Eropa dalam bidang ilmu pengetahuan.
Seiring berjalannya waktu, dunia pun bergolak. Pengusiran besar-besaran Islam dari tanah Andalusia pada penghujung abad ke-15,
1
M. Dien Majdid, Catatan Pinggir Sejarah Aceh,( Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia,2013), hlm. 1
menandakan Kristen Eropa belum habis. Pada tahun 1492 Colombus berhasil menemukan dataran “dunia baru” yang sekarang dikenal dengan Amerika Serikat. Sejak itulah, berbagai kapal penjelajah Eropa mulai menyebar ke seluruh dunia, tak terkecuali ke Nusantara. Ketika itu, Spanyol dan Portugis merupakan dua bangsa terdepan yang mengumpulkan harta kerajaan sebanyak mungkin untuk mendukung berbagai pelaut dan penjalajah samudera ke tanah- tanah tak dikenal. Terlebih saat Vasco da Gama berhasil menemukan titik jelajah laut di Tanjung Harapan, di ujung Afrika Selatan. Namun, motif mereka tidak hanya menemukan “dunia baru” melainkan juga ada maksud lain, utamanya adalah mengambil berbagai barang yang bersifat ekonomis, dan menyebarkan ajaran Kristen.3 Tujuan kedatangan mereka juga tercermin dalam semboyan gold, glory, and gospel.
Kedatangan orang Portugis akhir abad ke-15 itu didahului dengan timbulnya di Eropa nafsu untuk mendapatkan hasil-hasil bumi yang lebih murah harganya.4 Pada tanggal 7 Juni 1494, Eropa diledakkan oleh suatau traktat yang disepakati oleh Portugis dan Spanyol di bawah pimpiminan seorang raja untuk menghindari cekcot antara orang-orang Portugis dengan orang-orang Spanyol, maka diadakan oleh raja Spanyol semacam rayon yang isinnya adalah “membagi” dunia menjadi dua bagian, separoh untuk Spanyol dan separoh untuk Portugis. Orang Spanyol hanya diperbolehkan menguasai
3
Ibid,hal. 3
4 Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, jilid 1, (Medan : P.T. Percetakan Dan Penerbitan
kearah Barat saja yait u Amerika, orang-orang Portugis hanya diperbolehkan ke arah Timur, Tiongkok dan Indonesia.5
Portugis menguasai negeri-negeri non Kristen yang terletak di bagian timur dunia. Sementara di sisi barat dunia yang melintas semenanjung Amerika Selatan adalah kepunyaan Spanyol. Dengan kesepakatan tersebut, kedua bangsa kuat itu mengarungi Samudera raya sesuai dengan bagiannya. Hembusan kapal-kapal penjelajah ke belahan dunia yang “tak tersentuh” salah satunya dilatarbelakangi untuk mendapatkan rempah-rempah langsung dari tanah tetumbuhannya. Sebenarnya dari pada Spanyol, Potugis jauh berada di depan dalam hal mendapatkan rempah-rempah, yang di masa lalu menjadi motivasi terbesar persaingan dua Negara Jiran.
Pada tahun 1498, armada kerajaan berlambang salib itu telah merapat ke India, dan 11 tahun kemudian berarak di perairan Malaka yaitu pada tahun 1511. Kurang dari setahun kemudian, telah merapat pula di Banda dan kembali ke Malaka dengan muatan pala. Ternyata yang memenangkan perlombaan ini adalah Portugis.6
Pada tanggal 22 Maret 1518, dua sahabat itu menunjukkan rencana terperinci tentang “ekspedisi menuju kepulauan rempah-rempah”. Tujuan ekspedisi ini adalah menemukan kepulauan rempah-rempah, dimana perkebunan lada bergemuruh ketika diterpa angin laut dan barisan pohon-pohon membusung angkuh menujukkan buah-buahnya yang meranum. Kesemua kaeajaiban alam itu belum ditemui di tempat manapun di seluruh
5 Moh. Said, Ibid, hal.105-106 6 M. Dien Majdid, Ibid, hal. 3-4
dunia. Pada masa itu, nilai rempah-rempah sepadan dengan harta karun, karna hargannya yang sangat mahal dan sulit untuk diperoleh.7
Abad pelayaran dunia ditandai dengan kebutuhan mencari rempah-rempah yang sudah tersohor sebagai bumbu masak dan obat di Eropa. Sebelumnya perdagangan rempah dunia didominasi oleh bangsa Arab, sedangkan bangsa Eropa membeli kebutuhan pokonya tersebut dari mereka. Karena mahalnya harga yang dipatok oleh orang-orang Arab, dan mereka memikirkan bagaimana cara mendapatkan rempah-rempah langsung dari sumbernya.8 Disini orang Eropa telah memikirkan bagaimana mendapatkan rempah-rempah yang murah.
Portugis berupaya mencari rempah-rempah langsung ke dunia timur. Semangat mereka tidak hanya terhenti di situ, melainkan juga didorong oleh semangat balas dendam perang salib. Selama beberapa abad mereka berperang dengan orang-orang “Moor” dalam negri mereka sendiri. Oleh karena itu mereka merancang hendak menyerang benteng kuasa Islam dari belakang yaitu dengan berlayar ke pantai selatan Afrika. Rancangan ini membawa mereka ke tempat yang lebih jauh dari yang dituju, tetapi kemana saja mereka pergi mereka selalu bertemu dengan orang-orang “Moor” untuk berperang, karena bagi mereka semua orang-orang Islam adalah orang “Moor” dan musuh mereka.9
Dalam pengembaraannya dimana mereka menemukan orang Islam, di situlah terjadi peperangan yang sengaja
7 M. Dien Majdid, Ibid, hal. 3-4 8
Ibid, hal. 6
9 Bernard H.M.Vlekke, Nusantara Sejarah Indonesia, (Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan
digelarnya. Akhirnya Portugis berhasil “mengenggam” pulau rempah-rempah. Spanyol baru menyentuh Nusantara tepatnya di Tidore pada tahun 1521.
Setelah berita dari orang-orang yang telah berhasil melawat keluar Eropa bertambah besar, lebih-lebih sesudah Columbus menemui Amerika, kemudian menyusul Vasco da Gama ke India.10 Vasco da Gama mendarat di India pada musim semi tahun 1498. Selepas bertempur hebat di beberapa tempat ia berjaya menguasai Lautan Hindi di bagian Barat. Tugas untuk menguasai perairan selanjutnya dijalankan oleh Alfonso de Albuquerque.11
Pada tahun 1498 Portugis di bawah pimpinan Vasco da Gama, telah melakukan serangkaian usaha untuk menemukan sendiri jalan ke timur. Kemenangan-kemenangan yang diperolehnya ini merupakan dorongan yang paling besar bagi bangsa Portugis untuk mengadakan perlawanan ke berbagai tempat di dunia.12
Pada waktu itu perdagangan di Eropa dipegang oleh pedagang-pedagang Islam yang berporos di Byzantium, juga kota-kota Venetia, Florensa, Genoadan Antwerpen menjadi pusat-pusat perdagangan. Setelah perang Salib berahir dengan kemenangan orang-orang Kristen, maka perdagangan berpasar di Laut Tengah.13 Meskipun demikian peranan pedagang-pedagang Islam masih besar juga karena kunci perhubungan dagang Barat dan Timur masih dikuasai oleh mereka. Lebih-lebih dengan
10Mohammad Said, Op. Cit, hal 159 11
Bernard H.M.Vlekke, Op, Cit, hal.90
12Zakaria Ahmad, Sekitar Kerajaan Aceh,(Medan : Djl.Pandu2Q),hal. 24 13Zakaria Ahmad, Ibid, hal 24
dikuasainya Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih II pada tahun 1453, pedagang-pedagang Islam makin memegang peranan penting.
Vasco da Gama selanjutnya yang menemui tempat-tempat di Aceh serta Malaka pada tahun 1509. Mereka mengetahui tentang jalan perdagangan yang sudah berjalan sejak zaman kuno melalui Selat Malaka dan menemui pantai selatan Asia atau pantai utara Aceh, dan Ormuz di pantai Teluk Persia. Pada tahun 1511 Kerajaan Malaka di Semenanjung Melayu berhasil ditaklukkan oleh Portugis dan ibu kotannya dijadikan sebagai pusat aktivitas politik dan bandar perdagangan yang langsung berada di bawah kekuasaanya.14 Setelah Malaka dikuasai Portugis pada tahun 1511,15 dan juga Pasai pada tahun 1522 mengakibatkan banyak pedagang-pedagang Islam meninggalkan Malaka, dan mencari pangkalan baru di daerah Aceh.16 Kesultanan Aceh mengambil peranan penting dalam partisipasi Nusantara pada perdagangan rempah-rempah di Lautan India.17
Setelah menduduki Malaka, pihak Portugis berusaha menguasai jaringan lalu lintas perdagangan di kawasan Selat Malaka. Oleh karenanya Selat Malaka menjadi tidak aman lagi bagi pedagang-pedagang Islam. Selain kota Bandar Aceh para pedagang Islam ini juga ada yang mendatangi kota pelabuhan Pidie dan Pasai.18
14
Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1987), hal.68
15Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII
& XVIII, (Jakarta: Kencana,2005), hal. 39
16A. Daliman, Islamisasi Dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam Di Indonesia.
(Yogyakarta: Ombak, 2012), hal. 221
17Azyumardi Azra, Op. Cit, hal. 39 18 Azyumardi Azra, Ibid, hal. 38-41
Portugis mendengar berita tersebut dan terlebih dahulu mengirimkan armadanya ke Pidie dan Pasai. Di kedua daerah ini armada Portugis mendapat sambutan baik dari penguasa setempat. Tentara Kerajaan Aceh menyerang Pedir dalam rangka membebaskan diri dari pengaruhnya dan untuk menyatukan Pedir dengan Kerajaan Aceh. Penguasa Pedir minta bantuan kepada Portugis untuk melawan serangan Aceh. Permintaan ini diterima sehingga terjadilah kontak bersenjata pertama kali antara Aceh dengan Portugis.19
B. Hubungan Kesultanan Aceh dengan Turki dalam Bidang Perdagangan Kebangkitan beberapa kerajaan di Nusantara abad ke-13 menciptakan momentum baru bagi hubungan-hubungan politik dan agama antara Timur Tengah dengan Nusantara. Ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya kehadiran para penyiar agama Islam, khususnya asal Arab yang menyebarkan Islam kepada penduduk pribumi Nusantara. Masa sebelum-sebelumnya Muslim Arab dan Persia memusatkan kegiatan mereka pada perdagangan dan semenjak akhir abad ke-12 mereka mulai memberikan perhatian khusus pada usaha-usaha penyebaran Islam di Nusantara.
Dampak kemunduran Sriwijaya terhadap perdagangan di Nusantara sangat besar. Dalam upaya meningkatkan kembali pendapatan Negara yang merosot, para penguasa mengenakan bea yang besar terhadap kapal-kapal asing, dan memaksa mereka membayar denda jika mereka berusaha berdagang di pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara. Dengan
19 Baharuddin Yahya, Kota Banda Aceh Hampir 1000 Tahun, (Pemerintah Kotamadya
mempertimbangkan hal tersebut para pedagang Arab dan Persia mengalihkan kegiatan dagang mereka ke tempat lain di Nusantara, selain itu mereka mulai mengambil bagian lebih aktif dalam penyebaran Agama Islam. Hasilnya, bentuk-bentuk hubungan baru yang lebih akrab antara Timur Tengah dengan Nusantara mulai muncul. Hubungan ini diperkuat dengan tali Agama yang dengan cepat berkembang. Hubungan ini kemudian juga diperkuat dengan pembentukan hubungan-hubungan Agama dan Budaya dan kemudian juga diikuti oleh hubungan-hubungan lainnya.20
Pada abad ke-15 Turki Utsmani bangkit sebagai Negara paling kuat di Timur Tegah dan Laut Tengah yaitu setelah menaklukkan Kostatinopel. Istilah “Rum” mulai beredar untuk menyebut kerajaan Turki Utsmani dan kultural Rum tersebar ke berbagai wilayah Dunia Muslim termasuk Nusantara. Pada abad ke-15 kaum muslim Nusantara mulai mengidentifikasi “Raja Rum” sebagai Sultan Utsmani. Turki Utsmani mulai membuat kekuasaannya terasa secara politik dan militer di kawasan Laut India pada abad ke-16.
Kehadiran angkatan Laut Turki Utsmani di Lautan India tidak hanya mengakibatkan semakin besarnya saham Turki dalam perdagangan di Lautan India namun juga menyebabkan pelayaran yang aman bagi jamaah haji, ini memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi sebagai dampak sampingnya perjalanan ibadah haji.21 Perkembangan ini memberikan kesempatan baik bagi Muslim Nusantara khususnya yang berasal dari
20
Azyumardi Azra, Ibid, hal. 30-32
Samudera Pasai, Malaka, dan Aceh untuk mengadakan perjalanan ke Timur Tengah dan sekaligus menjalin hubungan lebih dekat dengan saudara-saudara seiman mereka disana.
Keberhasilan Sultan Salim I dalam mengalahkan penguasa Safawi dalam perang Chaldiran dan Dinasti Mamluk di Syiria dan Mesir dengan mantap mengukuhkan Turki Utsmani sebagai Negara Muslim terkuat di Timur Tengah, kemudian semua kemenangan tersebut juga memperkuat citra Utsmani sebagai pembela yang paling bersemangat ortodoksi Sunni. Untuk membuat kekuasaannya lebih menarik bagi Dunia Muslim. Sultan Salim I segera menggunakan gelar Khalifah dan “Pelayan Tanah Suci” (Khadim Al-Kharamayn). Dengan demikian ia memperkuat rasa solidaritas kaum Muslim secara keseluruhan.22
Sejauh menyangkut posisinya sebagai Khadim Al-Kharamayn, para Sultan Utsmani mengambil langkah-langkah khusus untuk menjamin keamanan bagi perjalanan haji. Seluruh rute haji di bawah kekuasaan Utsmani dan di tempatkan di bawah kontrolnya. Perkembangan ini mendorong kerajaan-kerajaan Muslim di Nusantara mengambil peranan aktif dalam perdagangan maritim. Tidak hanya menciptakan hubungan dagang yang lebih erat tapi juga hubungan politik dan keagamaan dengan Utsmani.23 Kedekatan antara Turki dengan Aceh juga terlihat dalam peta (Lihat Lampiran 3.1). Peta itu dibuat untuk Khalifah di Turki sebagai gambaran wilayah-wilayah kekuasaan Aceh. Di gambar itu juga disebutkan Bandar-bandar perdagangan
22 Ibid, hal. 38
23
atau kota-kota, mulai dari Pantai Timur Aceh sampai Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Setiap Bandar diduduki oleh seorang wazir dari Aceh.
Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, kesultanan Aceh tampil mengambil peranan terpenting dalam Partisipasi Nusantara pada perdagangan rempah-rempah di Lautan India. Pada pertengahan abad ke-16 partisipasi Aceh dalam perdagangan di lautan India berada pada puncak kejayaannya. Pada tahun 1526 M kapal Aceh yang serat muatannya dengan rempah-rempah dirampas oleh Portugis ketika hendak berlayar menuju Jeddah,24 dan muatannya dijual di Hormuz. Beberapa tahun kemudian, Portugis merampas lebih banyak kapal Aceh dan menjarah muatannya di lepas pantai Arabia. Armada Portugis mencoba menghadang kapal-kapal Aceh di Laut Merah beberapa kali namun itu selalu gagal.25 Jadi meskipun gangguan Portugis terus meningkat kapal-kapal Aceh mampu mempertahankan pelayaran-pelayaran dagang mereka ke Timur Tengah.
Para penguasa Utsmani tentu saja mengetahui tentang peningkatan gangguan Portugis di kawasan Lautan India. Pada tahun 1528 Selman Reis laksamana terkenal Turki di Laut Merah, mengingatkan Istanbul tentang ancaman Portugis terhadap wilayah-wilayah Utsmani di Laut Merah dan Teluk Persia. Selman Reis mengetahui tentang rencana Portugis di wilayah ini dan selalu melaporkan tentang kehadiran Portugis di wilayah barat dan
24 Herwandi, hal. 48
ancaman mereka terhadap perdagangan renpah-rempah yang dilakukan Turki. Akhirnya ia meminta agar angkatan Laut Turki Utsmani dikirim kesana.26
Setelah menduduki Malaka, pihak Portugis berusaha menguasai jaringan lalu lintas perdagangan di kawasan Selat Malaka. Oleh karenanya Selat Malaka menjadi tidak aman lagi bagi pedagang-pedagang Islam. Selain kota Bandar Aceh para pedagang Islam ini juga ada yang mendatangi kota pelabuhan Pidie dan Pasai.27 Para pedagang yang rata-rata merupakan pemeluk agama Islam kini lebih suka berlayar melewati utara Sumatera dan Malaka.28
Banyak pedagang-pedagang Islam sebelumnya yang menetap dan
berdagang di ibukota Kerajaan Malaka merasa rugi, dan Malaka di anggap sebagai bandar yang tidak aman lagi. Oleh sebab itu mereka pindah mencari daerah dan bandar perdagangan lain yang dapat menjamin keamanan dan aktivitas perdagangan. Pilihan mereka sebenarnya sangat beragam, namun pilihan yang paling dekat dan sangat strategis adalah beberapa bandar perdagangan yang terletak di pantai barat Sumatera. Perpindahan tersebut menyebabkan semakin ramainya jalur perdagangan di pantai barat Sumatera. Kondisi yang seperti itu justru menguntungkan Kerajaan Aceh. Portugis menyadari bahwa kekuataan utama yang menjadi pengganjal keberadaannya di Asia Tenggara adalah Kerajaan Aceh dan harus ditundukkan.29
26Ibid
27 Azyumardi Azra, Ibid, hal. 38-41 28
Hidayat, Peran Sultan Iskandar Muda Dalam Mengembangkan Kerajaan Aceh Tahun 1607-1636, skripsi pendidikan sejarah, (Yogyakarta, 2015), hal.19
Kondisi seperti di atas justru menguntungkan Kerajaan Aceh. Kegiatan Portugis di Malaka dianggap sebagai ancaman serius oleh penguasa-penguasa Kerajaan Aceh Darussalam. Ancaman itu semakin terasa ketika Portugis berusaha menduduki kerajaan-kerajaan kecil tetangga Aceh di Sumatera yang di anggap penting sebagai komoditi perdagangan.30 Portugis berhasil menguasai dan menaklukkan pelabuhan serta mendirikan benteng-benteng pertahanan di Pasai dan Pidie. Ancaman itu diperkuat lagi dengan adanya politik keagamaan Portugis yang berusaha melakukan penyebaran agama Kristen dan meneruskan perang salib anti Islam di kawasan Asia Tenggara. Oleh sebab itu keberadaan Portugis di Malaka sangat mengganggu aktivitas pedagang-pedagang muslim di perairan selat Malaka.31
Dengan latar belakang ini, dapat diketahui bahwa hubungan politik dan agama antara kerajaan Muslim Nusantara dengan Khalifah Turki Utsmani tidak diragukan lagi. Disini jelas terlihat hubngan atau kontak langsung antara Muslim Nusantara dengan pedagang-pedagang Turki yang datang ke berbagai pelabuhan di Lautan India. Kehadiran Utsmani di Lautan India memberikan harapan baru bagi para penguasa dan pedagang Muslim Nusantara untuk memperoleh bantuan dalam pertarungan mereka melawan Portugis.
Pada tahun 1519 Portugis digemparkan oleh kabar tentang pelepasan armada Utsmani untuk membebaskan Muslim Malaka dari penjajahan kafir. Hubungan paling erat antara kerajaan Muslim Nusantara dengan Turki Utsmani dibina oleh Kesultanan Aceh. Hubungan mereka diwarnai solidaritas
30 Herwandi, Op. Cit. hal. 48 31 Ibid,
keagamaan dalam menghadapi kaum kafir Portugis yang telah menguasai Pasai pada tahun 1521.32
Ketika Sultan Alauddun Riayat Syah Al-Qahar, Sultan ketiga Aceh Darussalam naik tahta pada tahun 943 H/1537 M, ia kelihatan menyadari kebutuhan Aceh untuk meminta bantuan militer kepada Turki. Ia melakukan inisiatif paling konkret dengan mengirim utusan ke Istanbul.33
Pada saat Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim, ia berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pedir pada tahun 1520. Dan pada tahun itu pula Kerajaan Aceh berhasil menguasai daerah Daya hingga berada dalam kekuasaannya. Dari situlah Kerajaan Aceh mulai melakukan peperangan dan penaklukan untuk memperluas wilayahnya serta berusaha melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa Portugis. Sekitar tahun 1524, Kerajaan Aceh bersama pimpinanya Sultan Ali Mughayat Syah berhasil menaklukan Pedir dan Samudra Pasai. Kerajaan Aceh dibawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah tersebut juga mampu mengalahkan kapal Portugis yang dipimpin oleh Simao de Souza Galvao di Bandar Aceh.34 Sultan Ali Mughayat Syah sangat memiliki kebencian terrhadap Portugis.
Setelah memiliki kapal, Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim bersiap-siap untuk menyerang Malaka yang dikuasai oleh Bangsa Portugis, namun rencana itu gagal. Ketika perjalanan menuju Malaka, awak kapal dari armada Kerajaan Aceh tersebut justru berhenti sejenak di sebuah kota. Disana
32
Ibid,
33
Mehmet Ozay, kesultanan Aceh dan Turki Antara Fakta dan Legenda, (Banda Aceh: PuKAT, 2014), hal.18
34 Hidayat, Peran Sultan Iskandar Muda Dalam Mengembangkan Kerajaan Aceh Tahun
mereka dijamu dan dihibur oleh rakyat sekitar, sehingga secara tak sengaja sang awak kapal membeberkan rencananya untuk menyerang Malaka yang dikuasai Portugis. Hal tersebut didengar oleh rakyat Portugis yang bermukim disana, sehingga ia pun melaporkan rencana tersebut kepada Gubernur daerah Portugis.35
Pada waktu itu tidak diragukan lagi, kekhalifahan Turki Usmani memiliki posisi sentral dalam dinamika politik di dunia Melayu. Turki Ustmani diakui sebagai pusat kekuasaan Islam di mana kerajaan di Melayu-Nusantara berusaha menjalin kerjasama politik, militer dan perdagangan Aceh (Lihat Lampiran 3.2) adalah Kerajaan Nusantara terdepan dalam membangun aliansi kekuatan dengan Turki Usmani. Di tengah proses konsolidasi kekuatan politik, Aceh harus berhadapan dengan Portugis yang sudah berkuasa di Malaka sejak 1511. Bagi Aceh, Portugis-Malaka adalah satu persoalan yang bisa menghambat perkembangan Aceh menjadi satu kerajaan terkemuka di barat Nusantara.36
Dalam konteks inilah Aceh menjalin kerjasama dengan Turki Ustmani, yang tengah tampil sebagai kekuatan Islam terdepan di Timur Tengah, dan juga tengah berkepentingan untuk terdepan di Timur Tengah, dan juga tengah berkepentingan untuk terlibat dalam jalur perdagangan rempah di Lautan India. Setelah menaklukkan Konstantinopel pada 1453, Turki Usmani segera
35 Ibid
36
A. C. S. Peacock and Annabel Teh Gallop, eds. 2015. From Anatolia to Aceh: Ottomans,
Turks, and Southeast Asia. Oxford: De British Academy by Oxford University Press. Jurnal For Islamic Studies, volume 23, Number, 2016, hal. 375 di akses pada tanggal 8 Maret 2017
berkembang menjadi satu kekhalifahan Islam paling kuat di Timur Tengah dan wilayah Laut Tengah.37
Pada tahun 1521, penguasa Kesultanan Aceh Darussalam yang pertama, Sultan Ali Mughayat Syah, memimpin perlawanan dan berhasil mengalahkan armada Portugis yang dipimpin Jorge de Britto yang tewas dalam pertempuran di perairan Aceh itu. Dalam menghadapi Kesultanan Aceh Darussalam dan keberanian Sultan Ali Mughayat Syah, Portugis membujuk Kerajaan Pedir dan Samudera Pasai untuk mendukungnya.38 Setelah mengalami kekalahan dari Kesultanan Aceh Darussalam, armada Portugis kemudian melarikan diri ke Kerajaan Pedir, namun pasukan Aceh Darussalam tetap mengejar dan sukses menguasai wilayah Kerajaan Pedir. Pihak Portugis bersama Sultan Ahmad, Raja Kerajaan Pedir, melarikan diri lagi dan mencari perlindungan ke Samudera Pasai.39
Sekitar tahun 1524, Kerajaan Aceh bersama pimpinanya Sultan Ali Mughayat Syah berhasil menaklukan Pedir dan Samudra Pasai.40 Sultan Alauddin Riayat Syah menyerang Malaka pada tahun 1537, namun itu tidak berhasil. Ia mencoba menyerang Malaka hingga dua kali, yaitu tahun 1547 dan 1568, dan berhasil menaklukan Aru pada tahun 1564.41
Pada tahun 1568, aceh menyerang Malaka yang tengah diduduki Portugis, meskipun Turki tak nampak ikut serta secara langsung, Turki
37
Ibid, hal. 376
38 Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, jilid 1(Medan : P.T. Percetakan Dan Penerbitan
Waspada,1981), hal. 165
39 Sejarah lengkap kesultanan Aceh Darussalam (mengulas lebih lengkap) di induh pada
tanggal 15 Juli 2017 di http://www.atjehcyber.net/2011/04/kesultanan-aceh-darussalam-full.html
40 Denys Lombard, Op. Cit, hal. 49 41 Denys Lombard, Op. Cit, hal. 49
mengajari Aceh bagaimana membuat meriam, yang pada akhirnya banyak diproduksi. Awal abad ke-17, Aceh dapat berbangga akan meriam perunggu ukuran sedang, dan 800 senjata lain seperti senapan putar berganggang. Hubungan Turki dengan Aceh mengakibatkan berkembangnya pertukaran antara Turki dengan Aceh dalam bidang militer, perdagangan, dan agama.
Bahkan pada saat itu, kapal-kapal Aceh sempat diizinkan mengibarkan bendera Turki Utsmani. Hubungan erat antara Turki dengan Aceh ini sangat menghambat misi Portugis untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah, bahkan Portugis sempat ingin menyerang Aceh, namun gagal karena minimnya sumber daya manusia di Lautan Hindia.42
Sebuah arsip Utsmani berisi peti Sultan Alauddin Riayat Syah kepada Sultan Sulaiman al-Qanuni yang dibawa oleh utusan bernama Husein Efendi yang ahli dalam berbahasa Arab. Isi surat tersebut yaitu Aceh mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai kekhalifahan Islam. Dokumen tersebut juga berisi tentang laporan armada Salib Portugis yang sering menggangu dan merampok kapal pedagang Muslim yang berlayar di jalur rute pelayaran dari Turki ke Aceh, atau sebaliknya.43 Dokumen ini juga menyebutkan pertempuran antara Portugis dan Aceh di Laut Merah yang menewaskan banyaknya Muslim dan Portugis. Kapal Aceh yang penuh dengan muatan emas, permata, dan rempah-rempah yang sebagian dimaksudkan sebagai hadiah bagi Sultan Utsmani.44 Ketika berhasil lolos dan sampai di Istanbul,
42
Muhammad Yusrizal, Op. Cit
43 Ibid
meski duta Aceh tadi tidak dapat mempersembahkan hadiah, ia berhasil mendapat bantuan militer Turki.
Utusan tersebut menceritakan Portugis yang sering menghadang Jemaah haji dari Aceh dan sekitarnya yang hendak menunaikan ibadah haji ke Makkah. Sebab itu, Aceh meminta bantuan Turki Utsmani untuk mengirim armada perangnya guna mengamankan jalur pelayaran tersebut dari ganguan armada kafir.45 Dari isi surat di atas dapat dilihat bahwa Kesultanan Aceh Darussalam memberikan perhatian besar pada Timur Tengah dan menjadikan Timur Tengah sebagai acuan dalam membangun kekuasaannya. Dan diantara upaya yang dilakukan adalah dengan membangun jaringan melalui haji dan menjalin hubungan dengan perwakilan pemerintahan Turki Utsmani di Tanah Suci.
Karena jarak antara Sultan Turki Utsmani yaitu Sultan Salim II dengan Sultan al-Kahar terpisah oleh letak geografis yang jauh, maka ia tidak ingin Aceh memberikan pajak (upeti) yang biasanya diminta dari masing-masing Negara sebagaimana lazimnya pada waktu itu. Ini bukanlah belas kasihan yang diberikan Turki namun ini merupakan pertimbangan politik secara khusus. Keputusan ini diambil oleh Sultan Salim II karena hampir selama sepanjang abad ke-16 kapal-kapal dagang Aceh muncul secara berkala diberbagai pelabuhan Timur Tengah seperti Jeddah di Laut Merah atau kapal-kapal tersebut dapat mencapai pelabuhan Timur Tengah melalui Gujarat.46 Disini sudah terlihat bahwa adanya pengecualian kepada Aceh untuk tidak
45
H.M Zainudin, Tarich Atjeh Dan Nusantara, (Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1961). Jilid 1. Hal.272
membayar upeti sebagai bukti adanya hubungan antara Aceh dengan Turki Agama dan perdagangan.
C. Hubungan Kesultanan Aceh dengan Turki dalam Bidang Militer
Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa semenjak awal Kerajaan Aceh sudah menempatkan diri sebagai kerajaan berdaulat, melakukan hubungan diplomatik sebagai kerajaan yang di akui eksistensinya dan dihormati oleh dunia luar, dan telah membina hubungan baik dengan beberapa kerajaan terkemuka di dunia.47
Keberadaan Turki Utsmani sebagai khilafah Islam, menyebabkan nama Turki melekat di hati umat Islam Nusantara, nama yang terkenal bagi Turki di Nusantara ialah “Sultan Rum.48
Hubungan Aceh dengan Turki Utsmani terus berlanjut, terutama untuk menjaga keamanan Aceh dari serangan Portugis. Penguasa Aceh berikutnya, Sultan Alauddin Riayat Syah (988-1013 H/1588-1604 M) juga dilaporkan telah melanjutkan pula hubunghan politik dan militer dengan Turki. Dikatakan, Khilafah Utsmani bahkan telah mengirimkan sebuah bintang kehormatan kepada Sultan Aceh, dan memberikan izin kepada kapal-kapal Aceh untuk mengibarkan bendera Turki di kapalnya agar tidak diganggu Portugis di dalam perjalanan.49
47 Hubungan Nusantara Dengan Daulah Khalifah Islamiyah di unduh pada tanggal 15 Juli
dihttp://catatan-sijacky.blogspot.co.id/2015/04/hubungan-nusantara-dan-daulah-khilafah.html?view=classic&m=1
48 Ibid, hal. 20 49
Hubungan Nusantara Dengan Daulah Khalifah Islamiyah di unduh pada tanggal 15 Juli
Pada tahun 1562 M Sultan Alaudin Riayat Syah sengaja mengirim utusan ke Turki untuk mencari dukungan pada kerajaan Islam terbesar di dunia dan juga untuk memohon artileri untuk memerangi orang Portugis. Utusan itu berhasil mendapatkan bantuan militer Turki.50
Ketika Sultan Sulayman Al-Qanuni wafat pada 1566 M digantikan
Sultan Salim II yang segera memerintahkan armada perangnya untuk melakukan ekspedisi militer ke Aceh. Sekitar bulan September 1567 M, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh membawa sejumlah ahli senapan api, tentara, dan perlengkapan artileri. Pasukan ini oleh Sultan diperintahkan berada di Aceh selama masih dibutuhkan oleh Sultan Aceh.51
Sumber-sumber venesia pada tahun 1564 menyatakan bahawa Turki sudah mengirim senjata dan awak meriam ke Aceh. Hubungan ini awalnya didukung oleh laporan-laporan Portugis mengenai pertempuran di laut dilepas pantai Arab Selatan. Kapal besar dari Aceh yang diserang Portugis sarat dengan emas dan perhiasan untuk Sultan Turki, ini menujukkan ada upaya besar Aceh untuk mendekati Turki pada tahun 1560-an.52
Penguasa Aceh itu mengucapakan terima kasih atas kedatangan delapan juru tembak Turki yang dikirim Sulayman, dan dengan demikian menegaskan keberhasilan pengiriman utusan. Surat itu memohon Sultan Turki berulang kali untuk memberikan bantuan 53 dan melaporkan aktivitas portugis yang
50 Herwandi, Op. Cit, hal.50 51
Mehmet Ozay, Op. Cit, hal. 21
52 Anthony Reid, Op. Cit, hal. 78 53 Ibid, hal. 78
mengganggu kegiatan pedagang muslim dan Jemaah haji (Lihat Lampiran 3.3) militer Turki dalam perjalanan ke Hejaz.54 Setelah itu, Sultan memerintahkan Kurtoglu Hizir Reis (Laksamana Turki di Suez) berlayar meuju ke Aceh dengan sejumlah besar ahli senjata api, tentara, dan artileri, sejumlah meriam berat, serta prajurit Turki di antaranya yang ahli dalam membuat kapal dan meriam besar.55
Duta besar yang membawa permohonan ini bernama Husain, tiba setelah Sultan yang baru, Salim II, menduduki tahta meggantikan Sulayman. Salim menunjukkan semangat luar biasa besar untuk memberikan bantuan kepada orang Islam di Samudera India, dan untuk memperluas kekuasaan Ottoman ke wilayah itu. Pada tanggal 16 Rabi’ul awal 975H (20 September 1567), jawaban itu menyampaikan keputusan Salim untuk mengabulkan permohonan itu. Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis diperintahkan berlayar menuju Aceh dengan sejumlah besar ahli senapan api, tentara dan artileri.56 Laksamana Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintah untuk memimpin armada itu, untuk menghancurkan musuh-musuh Aceh dan merebut benteng lama (Malaka) dari tangan orang kafir. Surat itu dikirimkan kepada Alauddin melalui seorang utusan Turki, Mustafa Camus.57
Namun, sepecuk surat lagi kira-kira pada tanggal yang sama memberikan Intruksi kepada Kurtoglu Hizzir Reis mengenai ekspedisi itu. Pada tanggal 5 Rajab 975H (5 Januari 1568), Salim terpaksa menulis surat
54 Herwandi, Op. Cit, hal. 50 55
H.M Zainudin, Jilid 1, Op. Cit. hal.272
56Azyumardi Azra, Op. Cit, hal. 44 57 Anthony Reid, Op. Cit, hal. 78
permintaan (lihat Lampiran 3.4) maaf kepada Husain utusan dari Aceh, karena ekspedisi Sumatera terpaksa ditangguhkan karena ada pemberontakan di Yaman, dan armada Kurtoglu Hizzir Reis telah diperintah untuk berbelok ke Yaman untuk memadamkan pemberontakan disana.58 Akhirnya hanya dua kapal yang tiba dan kapal lain menyusul. Sejumlah prajurit, pembuat senjata, dan insinyur diangkut oleh armada tersebut. Armada pertama terdiri dari atas 15 dapur yang dilenggkapi dengan artileri.59
Pada tanggal 20 Januari serangan dimulai tanpa armada Turki yang diharapkan turut ambil peranan, karena Alauddin sudah mendengan berita buruk bahawa Kurtoglu Hizir diperintahkan menuju Yaman. Kurtoglu Hizir dan armadanya tidak pernah mencapai Aceh, tetapi perlakuan istimewa yang diberikan orang Aceh kepada meriam, bendera, dan pandai senjata Turki menunjukkan paling tidak semua ini pasti telah dikirimkan, bersama sebuah pesan dari Sultan Turki. Dan mereka tiba di Aceh pada tahun 1568 atau 1569 dan memperbesar kekuatan Aceh.60
Persiapan-persiapan yang dilakukan Sultan Alauddin untuk merebut Malaka yang menjadi penghalang satu-satunya bagi dia untuk menjadi maharaja orang melayu setelah menaklukkan Aru dan Johor yang ditaklukkan pada tahun 1564. Dia mengirimkan berbagai hadiah untuk orang Sultan Turki, dan menjanjikan rempah-rempah dari wilayah Indonesia blia Malaka telah kembali ke tangan orang Islam. Sultan Turki segera menjawab
58
Ibid, hal.79
59 Muhammad Yusrizal, Op. Cit 60 Anthony Reid, Op. Cit, hal. 83
permohonan bantuan itu dengan mengirim 500 prajurit Turki, bom besar, banyak ahli tekhnik dan banyak yang pandai artileri.
Tampaknya jelas, bantuan Turki untuk membantu Aceh dalam menaklukkan Aru dan Johor mendorong perencanaan yang lebih serius untuk menaklukkan Malaka. Menurut sumber Jesuit yang dikutip oleh Anthony Reid mengatakan seorang duta besar Turki berada di Aceh ketika kapal Portugis tiba disitu untuk berdagang tahun 1565 dan orang Portugis dihadapkan pada pilihan memeluk agama Islam atau mati kafir. Dan serangan untuk Malaka telah diperkirakan, karena Turki berdagang dengan raja ini yang setiap tahun mengirimkan kepada Sultan banyak kapal yang sarat dengan muatan ke Mekkah.61
Meskipun tak berhasil mempersembahkan “bingkisan” Alaudin Riayat Syah ke penguasa Istambul, namun utusan tersebut berhasil mendapatkan bantuan militer Turki (lihat lampiran 3.5) yang sangat berguna dalam menaklukkan Johor tahun 1564 M. Kisah ini kemudian terkenal dengan hikayat Lada se cupak. Hikayat ini menceritakan tentang kisah perjuangan delegasi Aceh ke Turki untuk memohon bantuan dengan mepersembahkan bingkisan berupa lada. Namun setelah Utusan Aceh sampai di sana, sultan turki Utsmani pada saat itu sedang memimpin pasukan dalam peperangan melawan Hungaria. Tapi karena lama menunggu, sedikit demi sedikit lada tersebut dijual sampai tinggal secupak.62 Kemudian lada tersebut di persembahkan ke pada sultan Turki diiringi permintaan maaf. Sultan Turki
61 Anthony Reid, Op. Cit, Hal. 82 62 Mehmet Ozay, Op.Cit, hal. 23
Ustmani menjadi tersentuh dan memberikan bantuan militer termasuk sebuah meriam yang berukuran besar yang dinamakan “Meriam Lada Se Cupak” (Lihat Lampiran 3.6).63
Hubungan diplomatik dan politik antara Aceh dan Turki Utsmani berfluktuasi (turun naik) sesuai dengan perkembangan politik Aceh. Setelah bertahun-tahun mengalami kemunduran, hubungan diplomatik ini kemudian dipererat lagi pada masa Iskandar Muda, karena Ia telah mengirim armada kecil terdiri dari tiga kapal ke Istambul setelah dua setengah tahun pelayaran melalui Tanjung Pengharapan.64
Ketika utusan ini kembali ke Aceh mereka diberi bantuan sejumlah senjata, 12 pakar militer, dan membawa sepucuk surat yang merupakan keputusan Utsmani tentang persahabatan di antara kedua Negara dan sekaligus menegaskan hubungan diplomatik kedua kerajaan yang pernah terjalin sebelumnya. Kedua belas pakar militer yang dikirim Aceh disebut “pahlawan” di Aceh dikatakan begitu ahli sehingga mampu membantu Sultan Iskandar Muda tidak hanya dalam membangun benteng tangguh di Banda Aceh, tetapi juga istana kesultanan.65
Sebuah hikayat Aceh juga meriwayatkan tentang sebuah misi Turki di Aceh dalam rangka mencari obat-obatan untuk Sultan Mahmud III (1595-1606M) yang sedang sakit di Istanbul. Ketika utusan sampai ke Aceh, Sultan Aceh sedang memimpin perang terhadap Deli. Setelah kembali ke Aceh
63 Zakaria Ahmad, Ibid, hal. 58-59 64
Azyumardi Azra, Op. Cit, hal. 45
65
H.M, Zainudin, Tarich Atjeh Dan Nusantara, (Medan :Pustaka Iskandar Muda,1961), hal 274
sultan menerima misi Turki penuh dengan kehormatan. Utusan Turki itu disambut dengan suka-cita oleh Sultan Iskandar Muda. Setelah misi ini kembali ke Turki mereka segera melaporkan kebesaran Aceh ke penguasa Istambul. Hasilnya Sultan Turki mengeluarkan pernyataan bahwa terdapat dua raja besar di muka bumi ini. Di Barat penguaa Turki Utsmani dan di Timur penguasa Kerajaan Aceh Darussalam.66 Berita tentang kembalinya misi Turki dan pernyataan Sultan Rum tadi disampaikan melalui jamaah haji Aceh yang meneruskan kepada Syaikh Syams Al-Din Al-Sumatrani.67misi
Tabel tahun-tahun bersejarah Aceh dan Turki Usmani
No Tahun Keterangan
1 1492 Kolombus berhasil menemukan dataran dunia baru. 2 1494 Kesepakatan Portugis dan Spanyol untuk membagi
dunia menjadi dua bagian.
3 1498 Portugis di bawah pimpinan Vasco da Gama mendarat di India pada musim semi.
4 1509 Vasco da Gama menemukan tempat-tempat di Aceh serta Malaka.
5 1511 Malaka jatuh ke tangan Portugis
6 1516-1517 Ekspansi Ottoman ke Mesir, Syiria, dan Hejaz. 7 1522 Portugis menguasai Malaka
8 1526 Kapal Aceh yang serat muatannya dengan
66Herwandi, Ibid, hal 58-59 67Azyumardi Azra, Op. Cit, hal. 46
rempah dirampas Portugis ketika hendak berlayar menuju Jeddah.
9 1534 Kapal-kapal Aceh dan Gujarat di hadang Portugis di mulut Laut Merah.
10 1534-1538 Ekspansi Ottoman ke Irak dan teluk Persia.
11 1538-1539 Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar melawan Portugis dan mengirim empat buah kapal penuh lada ke Laut Merah dan kembali dengan beberapa ratus tentara Turki. Sesuai perjanjian atas nama penguasa Turki, Aceh mendapat hak-hak khusus atas sebuah kantor dagang di Pelabuhan Pasai.
12 1547 Sultan Alauddin Riayat Syah melakukan penyerangan ke Malaka untuk menundukkan Portugis.
13 1560 Hubungan diplomatik dan perdagangan antara Turki dan Aceh terdokumentasi mendorong munculnya perlawanan pan-Islam terhadap Portugis di Asia Tenggara.
14 1562 Sultan Alauddin Riayat Syah sengaja mengirim utusan ke kerajaan Turki untuk memohon artileri untuk memerangi orang Portugis.
15 1563 Aceh mengirim utusan ke Istambul dan meminta bantuan untuk melawan Portugis.
Sultan Turki, dalam surat tersebut Sultan Alauddin menyebut Sultan Turki sebagai khalifah Islam.
17 1564 Turki mengirim ahli senapan dan awak meriam ke Aceh.
18 1564 Sultan Alauddin mendapatkan bantuan militer dan sebuah meriam yang berukuran besar yang sangat berguna untuk menaklukkan Aru dan Johor. Meriam ini kemudian dinamakan dengan Meriam Lada Se Cupak. 19 1567 Sultan Salim mengirimkan 15 kapal dayung dan 2
perahu layar, serta pembuat senjata, prajurit, dan artileri dalam jumlah besar sebagai jawabandari permintaan Sultan Aceh.
20 1568 Sultan Aeh mengirim surat kepada Sultan Salim II, karena Portugis menggaggu kapal-kapal haji yang menuju ke Mekkah. Namun, Sultan Salim terpaksa menangguhkan ekspedisi di Sumatera karena ada pemberontakan di Yaman.
21 1595-1606 Kedatangan orang Turki di Aceh dalam rangka mencari obat-obatan untuk Sultan Mahmud III.
Dari uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa latar belakang hubungan Aceh dengan Turki Usmani dalam bidang militer sangat terlihat, yaitu dengan adanya utusan yang dikirim ke Turki oleh Sultan Aceh dalam
rangka meminta bantuan militer, artileri. Sultan pun menjawab surat tersebut dengan mengirimkan meriam, namun bukan itu saja, Sultan juga mengirimkan orang-orang yang ahli militer dan ahli dalam membuat senjata. Turki juga memberikan keistimewaan kepada Aceh yang tertulis di dalam surat antara Aceh dan Turki yang berisi pernyataan dan pengakuan hubungan diplomatik kedua kerajaan menyebutkan bahwa dua raja besar di muka bumi ini. Di Barat penguaa Turki Utsmani dan di Timur penguasa Kerajaan Aceh Darussalam. Kapal-kapal Aceh juga diizinkan mengibarkan bendera Turki Utsmani. Dari hubungan tersebut kemudian menjadikan Aceh sebagai wilayah protektorat Kesultanan Utsmani.
Disini penulis juga melihat kebaikan dari Sultan- sultan Turki yang mau membantu Aceh dalam melawan Portugis dengan cara mengirim meriam, prajurit militer yang tangguh yang ahli dalam membuat meriam, kapal dari ukuran kecil sampai besar. Selain itu dengan adanya utusan militer Turki, masyarakat Aceh juga bisa belajar dari utusan-utusan Turki dalam membuat meriam maupun dalam belajar menjadi militer yang tangguh.