• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah - Peranan Filsafat Dalam Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah - Peranan Filsafat Dalam Pendidikan"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN PERANAN FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Istilah flsaat berasal dari dua suku kata dalam bahasa Yunani Istilah flsaat berasal dari dua suku kata dalam bahasa Yunani k

kununo, o, yayaitituu phile phile atau atau philos philos yyaanng g bbeerraarrtti i cciinntta a aattaau u ssaahhaabbaatt,, dan

dan sophiasophia ata atauu sophossophos yang berarti kebijaksanaan. Kedua suku kata yang berarti kebijaksanaan. Kedua suku kata ters

tersebut membeebut membentuk kata majemntuk kata majemukuk  philosophia philosophia. Dengan demikian,. Dengan demikian, be

berrdadasasarkrkan an asasal al ususulul  philosophia philosophia (fl(flsasaat) at) berberartarti i cincinta ta kkepaepadada kebijaksan

kebijaksanaan atau aan atau sahabat kebijaksanaan. Karensahabat kebijaksanaan. Karena a istilah philosophiaistilah philosophia dalam bahasa Indonesia identik dengan istilah flsaat, maka untuk dalam bahasa Indonesia identik dengan istilah flsaat, maka untuk orangnya, yaitu orang yang mencintai kebijaksanaan disebut

orangnya, yaitu orang yang mencintai kebijaksanaan disebut flsu.flsu. a

arurun n aadidi!i!ijojono no beberprpenendadapapat t babah!h!a a flflsasaaat t didiamambibil l dadariri bahasa Yunani, flosofa. "truktur katanya berasal dari kata flosofen bahasa Yunani, flosofa. "truktur katanya berasal dari kata flosofen ya

yang ng beberarartrti i memencncinintatai i kkebebijijakaksasananaanan. . DaDalalam m ararti ti ititu, u, memenunururutt adi!ijono flsaat mengandung arti sejumlah gagasan yang penuh adi!ijono flsaat mengandung arti sejumlah gagasan yang penuh kebijaksanaan. #rtinya, seseorang dapat disebut berflsaat ketika ia kebijaksanaan. #rtinya, seseorang dapat disebut berflsaat ketika ia akti memperoleh kebijaksanaan. Kata flsaat dalam pengertian ini akti memperoleh kebijaksanaan. Kata flsaat dalam pengertian ini lebih memperoleh kebijaksanaan. Kata flsaat dalam pengertian ini lebih memperoleh kebijaksanaan. Kata flsaat dalam pengertian ini lebih berarti sebagai $imbauan kepada kebijaksanaan%.

lebih berarti sebagai $imbauan kepada kebijaksanaan%. Di

Di &a&amaman n YYununanani, i, flflsasaaat t bubukakan n memerurupapakakan n susuatatu u didisisiplplinin teo

teoritritis is dan dan spespesiasial, l, akakan an tettetapi api susuatu atu carcara a hidhidup up yanyang g kokongkngkreret,t, suatu pandangan hidup yang total tentang manusia dan tentang alam suatu pandangan hidup yang total tentang manusia dan tentang alam yang menyinari seluruh kehidupan seseorang. "elanjutnya, dengan yang menyinari seluruh kehidupan seseorang. "elanjutnya, dengan ke

kehiduphidupan an atau atau perkperkembanembangan gan peraperadaban daban manumanusia sia dan dan proproblemblemaa yang di hadapinya, pengertian yang bersiat teoritis seperti yang di yang di hadapinya, pengertian yang bersiat teoritis seperti yang di lahir

lahirkan kan flsaflsaat at YYunani unani itu itu kekehilanhilangan gan kekemammampuan puan untuk untuk memmemberiberi  ja!aban

 ja!aban yang yang layak layak tentang tentang kebenarkebenaran an peradaban peradaban itu itu telahtelah men

menyebyebabkabkan an manmanususia ia memelaklakukukan an lonloncatcatan an besbesar ar daldalam am bidbidangang sains, teknologi, kedokteran dan pendidikan.

(2)

'

'ererububahahan an ititu u memendndororonong g mmananususia ia mememmikikirirkkan an kkemembabalili pengertian tentang kebenaran. "ebab setiap terjadi perubahan dalam pengertian tentang kebenaran. "ebab setiap terjadi perubahan dalam per

peradaadaban ban akakan an berberpenpengargaruh uh terterhadhadap ap sissistem tem nilnilai ai yanyang g berberlaklaku,u, karena antara perubahan peradaban dengan cara berfkir manusia karena antara perubahan peradaban dengan cara berfkir manusia terdapat hubungan timbal balik.

terdapat hubungan timbal balik. '

'endendidikidikan an adadalah alah upaupaya ya menmengemgembanbangkgkan an popotentensisipotpotensensii m

mananususiaia!!i i ppeseserertta a dididdikik. . KarKarenenananya ya pepenndididdikikan an bberertutujujuanan me

menynyiaiapkpkan an prpribibadadi i dadalalam m kkeseseieimbmbanangagan, n, kkesesatatuauan, n, ororgaganinis,s, dinamis, guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan, melalui flsaat dinamis, guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan, melalui flsaat k

kepeependindidikdikan. an. ilsilsaaaat t penpendiddidikikan an adadalah alah flsflsaaaat t yanyang g digdigunaunakakann dalam studi

dalam studi mengenai masalahmasalah pendidikan.mengenai masalahmasalah pendidikan.

ilsaat pendidikan perlu dikuasai oleh para pendidik, adapun ilsaat pendidikan perlu dikuasai oleh para pendidik, adapun alasannya antara lain* 'ertama , karena pendidikan bersiat normati, alasannya antara lain* 'ertama , karena pendidikan bersiat normati, ma

maka ka daldalam am ranrangkgka a penpendiddidikikan an dipdiperlerlukukan an asuasumsi msi yanyang g berbersisiatat normati pula. #sumsiasumsi pendidikan yang bersiat normati itu normati pula. #sumsiasumsi pendidikan yang bersiat normati itu anta

antara lain ra lain dapat bersudapat bersumber dari flsaamber dari flsaat. t. ilsailsaat pendidikat pendidikan yangan yang bersiat deskripti dan normati akan memberikan petunjuk tentang bersiat deskripti dan normati akan memberikan petunjuk tentang apa

apa yanyang g sehseharuarusnysnya a di di daldalam am penpendiddidikikan an ataatau u apa apa yanyang g dicdicitaita citakan dalam pendidikan.

citakan dalam pendidikan.

Kedua, bah!a pendidikan tidak cukup dipahami hanya melalui Kedua, bah!a pendidikan tidak cukup dipahami hanya melalui pendekatan ilmiah yang bersiat parsial dan

pendekatan ilmiah yang bersiat parsial dan deskripti saja, melainkandeskripti saja, melainkan pe

perlrlu u didipapandndanang g pupula la sesecacara ra hoholislistitik. k. ##dadapupun n kkajajian ian pependndididikikanan secara holistik dapat

secara holistik dapat di!ujudkan melalui pendekatan flosofs.di!ujudkan melalui pendekatan flosofs.

#da berbagai aliran flsaat pendidikan, antara lain Idealisme, #da berbagai aliran flsaat pendidikan, antara lain Idealisme, +ealisme, 'ragmatisme, dan sebagainya. amun demikian, bangsa +ealisme, 'ragmatisme, dan sebagainya. amun demikian, bangsa In

Indodonenesisia a sesesusungngguguhnhnya ya mememimilikliki i flflsasaaat t pependndididikikan an nanasisiononalal tersendiri, yaitu

tersendiri, yaitu flsaat pendidikan yang flsaat pendidikan yang berdasarkberdasarkan 'ancasila.an 'ancasila. "ehubungan d

"ehubungan dengan hal ini engan hal ini berbagai aliran berbagai aliran flsaat pendidflsaat pendidikanikan per

perlu lu kitkita a pelpelajaajari, ri, namnamun un demdemikiikian an bahbah!a !a penpendiddidikikan an yanyang g kitkitaa selenggarakan hendaknya tetap

selenggarakan hendaknya tetap berlandaskan 'ancasila. 'emahamberlandaskan 'ancasila. 'emahamanan at

atas as beberbrbagagai ai alaliriran an flflsasaaat t pependndididikikan an akakan an dadapapat t memembmbanantutu pendidik untuk tidak terjerumus ke dalam aliran flsaat l

(3)

'

'ererububahahan an ititu u memendndororonong g mmananususia ia mememmikikirirkkan an kkemembabalili pengertian tentang kebenaran. "ebab setiap terjadi perubahan dalam pengertian tentang kebenaran. "ebab setiap terjadi perubahan dalam per

peradaadaban ban akakan an berberpenpengargaruh uh terterhadhadap ap sissistem tem nilnilai ai yanyang g berberlaklaku,u, karena antara perubahan peradaban dengan cara berfkir manusia karena antara perubahan peradaban dengan cara berfkir manusia terdapat hubungan timbal balik.

terdapat hubungan timbal balik. '

'endendidikidikan an adadalah alah upaupaya ya menmengemgembanbangkgkan an popotentensisipotpotensensii m

mananususiaia!!i i ppeseserertta a dididdikik. . KarKarenenananya ya pepenndididdikikan an bberertutujujuanan me

menynyiaiapkpkan an prpribibadadi i dadalalam m kkeseseieimbmbanangagan, n, kkesesatatuauan, n, ororgaganinis,s, dinamis, guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan, melalui flsaat dinamis, guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan, melalui flsaat k

kepeependindidikdikan. an. ilsilsaaaat t penpendiddidikikan an adadalah alah flsflsaaaat t yanyang g digdigunaunakakann dalam studi

dalam studi mengenai masalahmasalah pendidikan.mengenai masalahmasalah pendidikan.

ilsaat pendidikan perlu dikuasai oleh para pendidik, adapun ilsaat pendidikan perlu dikuasai oleh para pendidik, adapun alasannya antara lain* 'ertama , karena pendidikan bersiat normati, alasannya antara lain* 'ertama , karena pendidikan bersiat normati, ma

maka ka daldalam am ranrangkgka a penpendiddidikikan an dipdiperlerlukukan an asuasumsi msi yanyang g berbersisiatat normati pula. #sumsiasumsi pendidikan yang bersiat normati itu normati pula. #sumsiasumsi pendidikan yang bersiat normati itu anta

antara lain ra lain dapat bersudapat bersumber dari flsaamber dari flsaat. t. ilsailsaat pendidikat pendidikan yangan yang bersiat deskripti dan normati akan memberikan petunjuk tentang bersiat deskripti dan normati akan memberikan petunjuk tentang apa

apa yanyang g sehseharuarusnysnya a di di daldalam am penpendiddidikikan an ataatau u apa apa yanyang g dicdicitaita citakan dalam pendidikan.

citakan dalam pendidikan.

Kedua, bah!a pendidikan tidak cukup dipahami hanya melalui Kedua, bah!a pendidikan tidak cukup dipahami hanya melalui pendekatan ilmiah yang bersiat parsial dan

pendekatan ilmiah yang bersiat parsial dan deskripti saja, melainkandeskripti saja, melainkan pe

perlrlu u didipapandndanang g pupula la sesecacara ra hoholislistitik. k. ##dadapupun n kkajajian ian pependndididikikanan secara holistik dapat

secara holistik dapat di!ujudkan melalui pendekatan flosofs.di!ujudkan melalui pendekatan flosofs.

#da berbagai aliran flsaat pendidikan, antara lain Idealisme, #da berbagai aliran flsaat pendidikan, antara lain Idealisme, +ealisme, 'ragmatisme, dan sebagainya. amun demikian, bangsa +ealisme, 'ragmatisme, dan sebagainya. amun demikian, bangsa In

Indodonenesisia a sesesusungngguguhnhnya ya mememimilikliki i flflsasaaat t pependndididikikan an nanasisiononalal tersendiri, yaitu

tersendiri, yaitu flsaat pendidikan yang flsaat pendidikan yang berdasarkberdasarkan 'ancasila.an 'ancasila. "ehubungan d

"ehubungan dengan hal ini engan hal ini berbagai aliran berbagai aliran flsaat pendidflsaat pendidikanikan per

perlu lu kitkita a pelpelajaajari, ri, namnamun un demdemikiikian an bahbah!a !a penpendiddidikikan an yanyang g kitkitaa selenggarakan hendaknya tetap

selenggarakan hendaknya tetap berlandaskan 'ancasila. 'emahamberlandaskan 'ancasila. 'emahamanan at

atas as beberbrbagagai ai alaliriran an flflsasaaat t pependndididikikan an akakan an dadapapat t memembmbanantutu pendidik untuk tidak terjerumus ke dalam aliran flsaat l

(4)

Di sam

Di samping ping itu, itu, sepansepanjang tidjang tidak bertak bertentanentangan dengan dengan nilagan nilaii nilai 'ancasila, kita pun dapat

nilai 'ancasila, kita pun dapat mengambil hikmah dari berbagai aliranmengambil hikmah dari berbagai aliran flsa

flsaat at pendpendidikaidikan n lainnlainnya, ya, dalam dalam rangrangka ka memmemperkperkokokoh oh landalandasansan fl

flsasaaat t pependndididikikan an kikitata. . DeDengngan an mmememahahamami i lalandndasasan an flflsasaaatt pen

pendiddidikaikan n dihdiharaarapkpkan an tidtidak ak terterjadjadi i kkesaesalahlahan an kokonsensep p tententantangg pendi

pendidikadikan n yang yang akaakan n mengmengakibaakibatkan tkan terjaterjadinya dinya kekesalahsalahan an dalamdalam praktek pendidikan.

praktek pendidikan.

'aper ini akan membantu #nda untuk memahami pengertian 'aper ini akan membantu #nda untuk memahami pengertian flsaat, pengertian flsaat pendidikan dan konsep flsaat pendidikan flsaat, pengertian flsaat pendidikan dan konsep flsaat pendidikan menurut berbagai aliran flsaat. #dapun aliran flsaat

menurut berbagai aliran flsaat. #dapun aliran flsaat yang dimaksudyang dimaksud yaitu

yaitu* * IdealIdealismeisme, , ++ealisealisme, 'ragmame, 'ragmatismtisme, e, dan dan flsaflsaat at pendipendidikadikann nasional yang berdasarkan '

nasional yang berdasarkan 'ancasila. -ebih khusus lagi ancasila. -ebih khusus lagi paper ini akanpaper ini akan membantu pendidik untuk

membantu pendidik untuk memahammemahami implikasi konsep flsaat i implikasi konsep flsaat umumumum setiap aliran flsaat

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Karakteristik Filsafat

1. Denisi Filsafat se!ara Eti"#l#gis

Istilah flsaat (Inggris* philosophy #rab* alsaah) berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani kuno, yaitu philein atau philos yang berarti cinta atau sahabat, dan sophia atau sophos yang berarti kebijaksanaan Dengan demikian, secara etimologis philosophia (flsaat) berarti cinta kepada kebijaksanaan atau sahabat kebijaksanaan.

Dalam tradisi Yunani Kuno istilah flsaat telah digunakan. "ekitar abad keenam sebelum masehi, 'ythagoras (/01/11 "2) telah menggunakannya. 3erkenaan dengan pengertian istilah philosophia 'hythagoras pernah menyatakan bah!a dirinya bukanlah orang yang bijaksana, melainkan seorang flsu atau seorang yang mencintai kebijaksanaan (Dagobert D. +unes, 4504). Demikian pula "ocrates (671855 "2), sebagaimana tercatat dalam salah satu tulisan 'lato yang berjudul 'haedrus, "ocrates dengan rendah hati menyatakan tentang flsu sebagai berikut* “Tak akan kusebut ari bijaksana mereka itu (maksudnya: flsu), karena sebutan demikian itu hanya berlaku bagi Tuhan; lebih suka aku menamakan mereka (para flsu) sahabat-sahabat  kebijaksanaan; begitulah gelar yang bersahaja bagi mereka  (uad assan, 4509).

+asa cinta kepada kebijaksanaan yang ada pada diri flsu  di!ujudkan oleh para flsu melalui berbagai perbuatan, yaitu* (4) berfkir secara radikal:kontemplati untuk mengetahui kebenaran atau hakikat segala sesuatu (;) 2engamalkan kebenaran (8) 2engajarkan kebenaran dan (6) 3ertujuan mempertahankan kebenaran dengan penuh pengorbanan. al ini sebagaimana dicontohkan oleh "ocrates dan 'ythagoras.

(6)

$. Denisi Filsafat se!ara %&erasi#nal

#da diantara para ahli yang mendefnisikan flsaat dari segi proses berpikirnya, dan ada pula yang mendefnisikan flsaat dari segi hasil berpikir (hasil berpikir para flsu). amun demikian, dalam rangka membangun pengertian flsaat, antara keduanya itu (flsaat sebagai proses dan flsaat sebagai hasil) sesungguhnya tak dapat dipisahkan. "ebagai suatu proses berpikir, flsaat dapat didefnisikan sebagai suatu proses berpikir re<ekti sistematis dan kritis kontemplati untuk menghasilkan sistem pikiran atau sistem teori tentang hakikat segala sesuatu secara komprehensi. "ejalan dengan ini =itus dkk. (4575) mengemukakan bah!a* !"hilosophy is a method o re#e$ti%e thinking and reasoned in&uiry ('ilsaat adalah metode atau $ara berpikir re#ekti dan penyelidikan melalui menalar). 

"ebagai suatu hasil berpikir, flsaat dapat didefnisikan sebagai sekelompok teori atau sistem pikiran. =itus dkk., (4575) merumuskannya dalam kalimat* “"hylosophy is a group o theories or systems o thougt . asil berflsaat yang telah dilakukan oleh para flsu tiada lain adalah sistem teori atau sistem pikiran mengenai segala sesuatu. "istem teori atau sistem pikiran ini tentunya sudah ada atau sudah tergelar di dalam kebudayaan umat manusia. Kita dapat menemukannya dalam bentuk tulisan atau buku, puisi, dsb, sebagaimana telah dihasilkan oleh para flsu besar seperti* "ocrates, 'lato, #ristoteles, +ene Descartes, I>bal, #lgha&ali, ?ohn De!ey, ?ohn -ocke, dsb. Dengan redaksi lain, flsaat sebagai hasil berpikir dapat didefnisikan sebagai suatu sistem teori atau sistem pikiran tentang hakikat segala sesuatu yang bersiat komprehensi, yang diperoleh melalui berpikir re<ekti sistematis dan kritis kontemplati.

(7)

'. Denisi Filsafat Se!ara Leksikal.

Ditinjau secara leksikal, sebagaimana dijelaskan dalam Kamus 3esar 3ahasa Indonesia, bah!a flsaat berarti sikap hidup atau pandangan hidup (3alai 'ustaka, ;11/). Kita sering atau mungkin pernah mendengar pernyataan berikut ini* “flsaat hidup saya adalah .,  atau “"an$asila adalah flsaat hidup bangsa ndonesia. Istilah flsaat dalam pernyataanpernyataan tadi memiliki arti sebagai sikap hidup atau pandangan hidup.

Dalam pengertian di atas, setiap orang baik secara indi@idual maupun secara kelompok tentu memiliki flsaatnya masing masing. #dapun flsaat tersebut akan tercermin di dalam pernyataanpernyataan atau perbuatanperbuatannya. Aontoh* Brang yang apabila bepergian ke luar rumah selalu memba!a senjata tajam untuk membela diri, mencerminkan sebagian kecil dari keseluruhan pandangan hidupnya. Brang tersebut memiliki pandangan bah!a alam di luar dirinya berbahaya dan memusuhinya, sebab itu hendaknya selalu !aspada untuk mempertahankan diri atau untuk membela diri.

"ebagai sikap hidup atau pandangan hidup, flsaat tentunya bukan sloganslogan yang tidak diyakini kebenarannya dan tidak dijadikan dasar tindakan atau perbuatan dalam hidup seharihari. "ebaliknya, bah!a sikap hidup dan pandangan hidup itu sudah diyakini kebenarannya dan dijadikan dasar tindakan dalam hidup seharihari.

ilsaat sebagai sikap hidup dan pandangan hidup dapat dimiliki seseorang secara alamiah melalui pengalaman hidup bersama di dalam masyarakatnya. "ikap hidup atau pandangan hidup itu dimiliki melalui pengalaman yang relati tidak disadari secara rasional dan diperoleh tidak dengan caracara berflsaat.

(8)

"ebaliknya, flsaat sebagai sikap hidup atau pandangan hidup itu dapat pula dimiliki seseorang melalui caracara belajar yang disadari misalnya melalui belajar tentang flsaat. Dengan mempelajari flsaat, seseorang atau suatu kelompok masyarakat atau bangsa akan dapat membangun sikap hidup atau pandangan hidupnya. "elain itu, flsaat sebagai sikap hidup atau pandangan hidup bahkan dapat pula dimiliki seseorang melalui berflsaat sebagaimana telah dilakukan oleh para flsu.

(. Karakteristik Filsafat

Dapat didentifkasi enam hal berkenaan dengan karakteristik flsaat, yaitu objek yang dipelajari flsaat (objek studi), proses berflsaat (proses studi), tujuan berflsaat, hasil berflsaat (hasil studi), penyajian dan siat kebenarannya. Bbjek studi flsaat adalah segala sesuatu, meliputi segala sesuatu yang telah tergelar dengan sendirinya (ciptaan =uhan) maupun segala sesuatu sebagai hasil kreasi manusia. amun demikian dari segala sesuatu tersebut hanya yang bersiat mendasarlah yang dipelajari atau dipertanyakan dan dipikirkan oleh para flsu. 'endek kata objek studi flsaat bersiat komprehensi mendasar.

'roses studi atau proses berflsaat dimulai dengan ketakjuban, ketidak puasan, hasrat bertanya, dan keraguan seseorang flsu  terhadap sesuatu yang dialaminya. "ehubungan dengan itu dalam berflsaat para flsu tidak berpikir dengan bertolak kepada suatu asumsi yang telah ada, sebaliknya mereka menguji asumsi yang telah ada. "elain itu, berpikir flosofs atau berflsaat bersiat kontemplati, artinya berfkir untuk mengungkap hakikat dari sesuatu yang difkirkan, atau berfkir spekulati yakni berfkir melampaui akta yang ada untuk mengungkap apa yang ada di balik yang nampak, atau disebut pula berfkir radikal, yaitu berfkir sampai kepada akar dari sesuatu yang dipertanyakan hingga terungkap hakikat dari apa yang dipertanyakan tersebut. #dapun

(9)

dalam rangka mengungkap hakikat sesuatu yang dipertanyakannya itu para flsu berfkir secara sinoptik, yaitu berfkir dengan pola yang bersiat merangkum keseluruhan tentang apa yang sedang dipikirkan atau dipertanyakan, pola berfkir ini merupakan kebalikan dari pola berfkir analitik. 'erlu dipahami pula bah!a dalam berfkirnya itu para flsu melibatkan seluruh pengalaman insaninya sehingga bersiat subjekti.

 =ujuan para flsu berpikir sedemikian rupa mengenai apa yang dipertanyakannya tiada lain adalah untuk memperoleh kebenaran. #dapun hasil berflsaat adalah ber!ujud system teori, system pikiran atau system konsep yang bersiat normati@e atau preskripti dan indi@idualitistikunik. asil berflsaat bersiat normati atau preskripti artinya bah!a system gagasan flsaat menunjukkan tentang apa yang dicitacitakan atau apa yang seharusnya. "edangkan indi@idualistikunik artinya bah!a system gagasan flsaat yang dikemukakan flsu tertentu akan berbeda dengan system gagasan flsaat yang dikemukakan flsu lainnya. Ini mungkin terjadi antara lain karena siat subjekti dari proses berfkirnya yang melibatkan pengalaman insani masingmasing flsu. "ebab itu, maka kebenaran flsaat bersiat subjekti paralelistik, maksudnya bah!a suatu system gagasan flsaat adalah benar bagi flsu yang bersangkutan atau bagi para penganutnya antara system gagasan flsaat yang satu dengan system gagasan flsaat yang lainnya tidak dapat saling menjatuhkan mengenai kebenarannya. Dengan kata lain, bah!a masingmasing aliran flsaat memiliki kebenaran yang berlaku dalam relnya masingmasing. #dapun hasil berflsaat tersebut disajikan para flsu secara tematik sistematis dalam bentuk narati (uraian lisan:tertulis) atau proetik (dialog:tanya ja!ab lisan:tertulis).

(10)

3erdasarkan objek yang dipelajarinya flsaat dapat diklasifkasi ke dalam* 4) ilsaat Cmum atau ilsaat 2urni, dan ;) ilsaat Khusus atau ilsaat =erapan (+edja 2udyahardjo, 455/).

Aabang ilsaat Cmum terdiri atas*

a. 2etafsika yang meliputi* (4) 2etafsika Cmum atau Bntologi, dan (;) 2etafsika Khusus yang meliputi cabang* (a) Kosmologi, (b) =eologi, dan (c) #ntropologi.

b. pistemologi

c. -ogika

d. #ksiologi yang meliputi cabang* (4) tika dan (;) stetika.

#dapun cabang ilsaat Khusus antara lain* (4) ilsaat ukum, (;) ilsaat Ilmu, (8) ilsaat 'endidikan, dsb.

2etafsika adalah cabang flsaat yang mempelajari atau membahas hakikat realitas (segala sesuatu yang ada) secara menyeluruh (komprehensi).

Bntologi adalah cabang flsaat (metafsika umum) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat adanya segala sesuatu yang ada secara komprehensi. Aontoh tentang apa yang dibahas atau dipermasalahkan di dalam Bntologi antara lain* apakah hakikat yang ada (realitas) itu bersiat material atau idealE #pakah hakikat yang ada itu bersiat tunggal, dua, atau pluralE #pakah yang ada itu menetap atau berubahE Dsb. ?a!aban terhadap pertanyaan tersebut tentunya tidak satu, melainkan berbedabeda.

Kosmologi adalah cabang flsaat (bagian metafsika khusus) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat alam termasuk segala isinya, kecuali manusia.

 =eologi adalah cabang flsaat (bagian dari metafsika khusus) yang mempelajari atau membahas tentang keberadaan =uhan. Dalam teologi permasalahan tentang keberadaan =uhan ini dibahas secara rasional terlepas dari kepercayaan agama. 2isalnya* pengakuan akan adanya =uhan itu bukan atas dasar keimanan, melainkan atas argumentasi rasional. Aontohnya $#rgumen Kosmologi% yang

(11)

menyatakan bah!a* segala sesuatu yang ada mesti mempunyai suatu sebab. #danya alam semesta  termasuk manusia  adalah sebagai akibat. Di alam semesta terdapat rangkaian sebabakibat, namun tentunya mesti ada "ebab 'ertama yang tidak disebabkan oleh yang lainnya.

"ebaliknya, "ebab 'ertama adalah sumber bagi sebabsebab yang lainnya, tidak berada sebagai materi, melainkan sebagai F'ribadiF atau FKhalikF, yaitu =uhan.

#ntropologi adalah cabang flsaat (bagian metafsika khusus) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat manusia. 'ersoalan yang dibahas dalam antropologi antara lain* siapakah manusia itu, ciptaan =uhan atau muncul dari alam sebagai hasil e@olusiE #pakah yang hakiki pada manusia itu badannya atau  ji!anyaE 3agaimanakah hubungan antar badan dan ji!aE

3agaimanakah hubungan manusia dengan tuhannya, dengan alam, dengan sesamanya, dsb.

pistemologi adalah cabang flsaat yang mempelajari atau membahas tentang hakikat pengetahuan. 'ersoalan yang dibahas dalam epistemology antara lain mengenai sumbersumber pengetahuan, caracara memperoleh pengetahuan, kriteria kebenaran pengetahuan, dsb.

-ogika adalah cabang flsaat yang mempelajari atau membahas tentang asasasas, aturanaturan, prosedur dan kriteria penalaran (berpikir) yang benar. -ogika antara lain membahas tentang bagaimana cara berpikir yang tertib agar kesimpulan kesimpulannya benar.

#ksiologi adalah cabang flsaat yang mempelajari atau membahas tentang hakikat nilai. #ksiologi terdiri dari tika adalah cabang flsaat (bagian aksiologi) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat baik jahatnya perbuatan manusia dan

(12)

stetika adalah cabang flsaat (bagian aksiologi) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat seni ( art ) dan keindahan ( beauty ).

#liran ilsaat. "ebagaimana dapat dipahami dari uraian dimuka, bah!a karakteristik berpikir para flsu yang bersiat kontemplati dan subjekti telah menghasilkan system gagasan yang bersiat indi@idualistikunik. amun demikian, dalam peta perkembangan system pikiran flsaat para ahli flsaat menemukan kesamaan dan konsistensi pikiran dalam bentuk beberapa aliran pikiran dari para flsu tertentu. Dengan demikian, maka dikenal adanya berbagai aliran flsaat seperti Idealisme, +ealisme, 'ragmatisme, dsb.

B. Desini dan Karakteristik Filsafat Pendidikan 1. Denisi Filsafat Pendidikan

-andasan flosofs pendidikan adalah seperangkat asumsi yang bersumber dari flsaat yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Strktr Filsafat Pendidikan ilsaat pendidikan sesungguhnya merupakan suatu sistem gagasan tentang pendidikan yang dideduksi atau dijabarkan dari suatu sistem gagasan flsaat umum (2etafsika, pistemologi, #ksiologi) yang dianjurkan oleh suatu aliran flsaat tertentu. al ini dapat dipahami sebagaimana disajikan oleh Aallahan and Alark (4508) dalam karyanya $oundations o ducation%, dan sebagaimana disajikan d!ard ?. 'o!er (450;) dalam karyanya 'hilosophy o  ducation, "tudies in 'hilosophies, "chooling and ducational 'olicies.

3erdasarkan kedua sumber di atas dapat #nda pahami bah!a terdapat hubungan implikasi antara gagasangagasan dalam cabangcabang flsaat umum terhadap gagasan gagasan pendidikan. ubungan implikasi antara gagasan gagasan dalam cabangcabang flsaat umum terhadap

(13)

gagasan pendidikan tersebut dapat di@isualisasikan seperti berikut ini*

3#G# I2'-IK#"I KB"' I-"##= C2C2  =+#D#' KB"' 'DIDIK#

KB"' I-"##= C2C2 KB"' 'DIDIK#  akikat +ealitas  =ujuan 'endidikan  akikat 2anusia  Kurikulum 'endidikan  akikat 'engetahuan  2etode 'endidikan

 akikat ilai  'eranan 'endidik

dan 'eserta Dididik

$. Karakteristik Filsafat Pendidikan

ilsaat pendidikan berisi tentang gagasangagasan atau konsepkonsep yang bersiat normati atau preskripti. ilsaat pendidikan dikatakan bersiat normati atau preskripti, sebab landasan flosofs pendidikan tidak berisi konsepkonsep tentang pendidikan apa. ilsaat 'endidikan adanya (aktual), melainkan berisi tentang konsepkonsep pendidikan yang seharusnya atau yang dicitacitakan (ideal), yang disarankan oleh flsu tertentu untuk dijadikan titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan:atau studi pendidikan.

'. Aliran dala" Filsafat Fil#s#s Pendidikan

"ebagaimana halnya di dalam flsaat umum, di dalam landasan flsaat pendidikan juga terdapat berbagai aliran. "ehubungan dengan ini dikenal adanya landasan flosofs pendidikan Idealisme, landasan flosofs pendidikan +ealisme, landasan flosofs pendidikan 'ragmatisme, dsb.

+. T/an Filsafat Pendidikan

#dapun 6 =ujuan ilsaat 'endidikan menurut d!ard ?. 'o!er, sebagai berikut*

1. T/an Filsafat Pendidikan Inspirational

#dalah “ to e*press utopian ideals or the ormal and inormal edu$ation o human beings #tau artinya adalah untuk

(14)

mengekspresikan tentang pendidikan yang ideal atau pendidikan yang dicitacitakan.

+#nt#0 t/an lsafat &endidikan inspirational  antara lain sebagaimana tercermin dalamm flsaat pendidikan 'lato yang termuat dalam karyanya yang berjudul “+epublik   'lato mengekspresikan suatu model pendidikan yang dicitacitakan atau diidamkan dalam ragka mendidik manusia agar menjadi !arga egara yang cakap, bertanggung ja!ab, dan mampu berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sesuai dengan statusnya dan tingkat kebajikan yang dapat disumbangkannya kepada egara idaman.

"elain 'lato, ?.? +ousseau dalam bukunya “mile  mengekspresikan tentang pendidikan yang diidamkan dan dicita citakan dalam rangka mendidik anak lakilaki. +ouseau mengemukakan bah!a* $segala sesuatu yang dating dari tangan  =uhan pada a!alnya adalah baik, tetapi segala sesuatu menjadi rusak

Karena tangan manusia %.

$. T/an Filsafat Pendidikan Analytical 

#dalah $to desco@er and interpret meaning in educational discourse and practice% atau artinya adalah tujuan flsaat pendidikan tiada lain untuk menemukan dan menginterpretasi makna perkataan atau tulisan mengenai konsep pendidikan dan praktek pendidikan.

Aontoh tujuan flsaat pendidikan yang bersiat analyti$al  antara lain sebagaimana tercermin dalam flsaat pendidikan dikemukakan oleh Israel scheHers berjudul $the language o education%. d!ar ? 'o!er mengemukakan bah!a* bah!a di #merika serikat karya Israel "chelJers dalam karyanya $the language o education% merupakan sebuah essei flsaat pendidikan yang representati@e yang bertujuan analytical. "cheHers menggunakan analisis linguistic untuk menemukan kejelasan ideaidea atau konsepkonsep dalam literature pendidikan.

(15)

'. T/an Filsafat Pendidikan ang Bersifat Presfective

#dalah “to gi%e $lear and pre$ise dire$tions or edu$ational  pra$ti$e ith a $ommitment to their implementation  atau tujuan flsaat pendidikan yang bersiat prespekti tiada lain untuk memberikan kejelasan da arah yang tepat bagi praktek pendidikan dengan suatu komitmen untuk mengimplimentasikannya. =ujuan flsaat pendidikan adalah memberikan petunjuk tentang tujuan dan caracara pendidikan yang seharusnya untuk dapat diimplimentasikan.

+#nt#0 t/an lsafat &endidikan ang ,ersifat  prespective antara lain sebagaimana tercermin dalam flsaat

pendidikan dari erbart dalam karyanya “the s$ien$e o edu$ation  utchin dalam karyanya “The higher learning in ameri$a  dan 2aritain dalam karyanya “edu$ation and the $rossroads . ilsaat pendidikan erbart antara lain memberikan petunjuk bah!a* moralitas adalah satu dan keseluruhan pekerjaan pendidikan dan erbart juga memberikan petunjuk bah!a mengajar hendaknya didasarkan pada minat dan tahapan yang runtut dan jelas. 2enurutnya bah!a metode pendidikan hendaknya didasarkan kepada psikologi.

(. T/an Filsafat Pendidikan ang Bersifat Investigations dan Inquiry

#dalah $to in&uire into poli$ies and pra$ti$es adopted in edu$ation ith a %ie to either justif$ation or re$onstru$$tion% atau tujuan flsaat pendidikan yang bersiat in@estigasi dan inkuiri adalah untuk menyelidiki kebijakankebijakan dan praktekpraktek pendidikan untuk menjastifkasi atau merekontruksikannya kembali.

Aontoh =ujuan flsaat pendidikan yang bersiat in@estigasi dan inkuiri tercermin dalam flsaat pendidikan ?hon De!ey dalam karyanya berjudul $emo$ra$y and du$ation%

(16)

ilsaat pendidikan berungsi memberikan !a!asan yang bersiat komprehensi mengenai hakikat pendidikan. #dapun gambaran konkrit siat $komprehensi% flsaat pendidikan dalam memandang persoalan kehidupan manusia sebagai indi@idu yang akan terus belajar sepanjang hayatnya dapat kita lihat ketika seorang mahasis!a dari jurusan kependidikan yang ketika itu diberikan mata kuliah flsaat pendidikan maka akan timbul pertanyaan mengapa harus mempelajarinya dan ungsinya apa E Dan itu menandakan bah!a mahasis!a tersebut memandang belajar untuk hidup dan lebih spesifknya lagi adalah memandang belajar flsaat pendidikan untuk praktek pendidikan dan studi pendidikan.

 =etapi ketika ada seorang mahasis!a dengan jurusan yang sama diberikan mata kuliah tersebut dan mempelajarinya hanya atas dasar untuk memenuhi ke!ajiban dalam menempuh "K" atau ketentuan kurikulum yang ada atau bahkan mahasis!a tersebut mempelajarinya hanya untuk mengisi !aktu luang agar ada kesibukan semata, maka tidak akan pernah muncul pertanyaan seperti mahasis!a yang pertama dan pandangannya bukanlah belajar untuk hidup melainkan hidup untuk belajar atau belajar hanya sekedar mengisi !aktu dalam hidup. Kita memang harus mengetahui ungsi flsaat pendidikan, pandangan tersebut paling tidak akan memberikan !a!asan dan moti@asi bagi yang mempelajarinya agar dapat bersungguhsungguh, mengambil hikmah dari yang dipelajari dan mau mengamalkan seta melaksanakan dalam praktek pendidikan  jika sudah mengerti secara menyeluruh.

"ebagaimana yang telah kita pahami flsaat pendidikan merupakan aplikasi dari flsaat umum yang tujuannya untuk memecahkan masalah pendidikan. Di dalam flsaat pendidikan antara ain dikaji mengenai makna hakikat realitas, hakikat pengetahuan, hakikat nilai dan hakikat keberadaan manusia dalam hubungannya dengan segala yang ada. 'encarian tujuan pendidikan yang bijaksana dan konsisten adalah salah satu tugas dari flsaat

(17)

pendidikan. Dengan demikian, flsaat pendidikan berungsi memberikan pedoman ke mana pendidikan seharusnya di arahkan, yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan.

E. Fngsi Filsafat Bagi Pendidik 23r4

"ejak a!al perkembangan, flsaat berperan memberikan pengertian dan menjadi pedoman bagi manusia dalam usaha memahami hakikat sesuatu. #jaran flsaat telah membantu dalam memberikan ja!abanja!aban atas problemaproblema mendasar dalam alam pikiran dan alam kehidupan manusia.

#dapun ungsi flsaat pendidikan antara lain sebagai berikut *

4. ungsi spekulati yang ditujukan untuk lebih memahami hakikat sesuatu. 2isalnya mengenai persolanpersoalan pendidikan secara komprehensi.

;. ungsi ormati yaitu proses temuan norma norma kehidupan yang bersumber pada dasardasar flsaat hidup yang dimilikinya.

8. ungsi Kritik yaitu memberikan dasar pertimbangan dan menasirakan data yang bersiat ilmiah.

6. ungsi =oeri bagi praktek, semua ide,konsepsi, kesimpulankesimpulan

/. ungsi Integrati sering digunakan untuk memadu semacam nilai dan a&asa&as normatie dalam ilmu pendidikan.

F. K#nse& U"" Filsafat

1. Filsafat Pendidikan Idealis"e

2etafsika * akikat +ealitas. Di alam semesta dapat kita temukan berbagai hal, seperti batu, air, tumbuhan, khe!an, manusia, gunung, lautan, speda motor, buku, kursi, tata surya, dsb. "elain itu, kita juga mengenal apa yang disebut ji!a, spirit,  ide, dsb. "egala hal yang ada di alam semesta itu disebut realitas (reality) . "esuai dengan siat berpikirnya yang radikal, para flsu  mempertanyakan apakah sesungguhnya (hakikat) realitas ituE  ?a!aban mereka berbedabeda sesuai dengan titik tolak berpikir,

(18)

2enurut para flsu Idealisme, hakikat realitas bersiat spiritual daripada bersiat fsik, atau bersiat mental daripada bersiat material. al ini sebagaimana dikemukakan 'lato, bah!a dunia yang kita lihat, kita sentuh dan kita alami melalui indera bukanlah dunia yang sesungguhnya, melainkan suatu dunia bayangan (a copy !orld) dunia yang sesungguhnya adalah dunia ideaidea (the !orld o $ideas%). Karena itu 'lato disebut sebagai seorang Idealist (".. rost ?r., 45/7).

2enurut penganut Idealisme, realitas diturunkan dari suatu substansi undamental, yaitu pikiran:spirit:roh. 3endabenda yang bersiat material yang tampak nyata, sesungguhnya diturunkan dari pikiran:ji!a:roh . Aontoh* Kursi yang sesungguhnya bukanlah bersiat material, sekalipun #nda menemukan kursi yang tampak bersiat material, namun hakikat kursi adalah spiritual:ideal, yaitu ide tentang kursi. 'ada tingkat uni@ersal (alam semesta), pikiran pikiran yang terbatas hidup dalam suatu dunia yang bertujuan yang dihasilkan oleh suatu pikiran yang tak terbatas atau yang #bsolut. "eluruh alam semesta diciptakan oleh suatu pikiran atau roh yang tak terbatas. Karena itu, segala sesuatu dan kita (manusia) merupakan bagian kecil dari pikiran atau roh yang tak terbatas (Aallahan and Alark, 4508). 'andangan metafsika Idealisme diekspresikan 'armenides dengan kalimat* $hat cannot be thought cannot be real%: #pa yang tidak dapat dipikirkan tidaklah nyata. "choupenhauer mengekspresikannya dengan pernyataan $=he !orld is my idea%:Dunia adalah ideku (G.. Kneller, 4574). "ebab itu, keberadaan (eksistensi) sesuatu tergantung kepada pikiran:ji!a:spirit:roh.

akikat 2anusia. "ejalan dengan gagasan di atas, menurut para flsu Idealisme bah!a manusia hakikatnya bersiat spiritual atau keji!aan. 'ribadi manusia digambarkan dengan kemampuan keji!aannya (seperti* kemampuan berpikir, kemampuan memilih, dsb). 2anusia hidup dalam dunia dengan

(19)

suatu aturan moral yang jelasyang diturunkan dari yang #bsolut. Karena manusia merupakan bagian dari alam semesta yang bertujuan, maka manusia pun merupakan makhluk yang cerdas dan bertujuan. "elain itu, karena $pikiran manusia diberkahi kemampuan rasional, maka ia mempunyai kemampuan untuk menentukan pilihan, ia adalah makhluk yang bebas% (d!ard ?. 'o!er, 450;).

akikat manusia bersiat spiritual atau keji!aan. 3erkenaan dengan ini setiap manusia memiliki bakat kemampuannya masingmasing yang mengimplikasikan status atau kedudukan dan peranannya di dalam masyarakat:negara. Kita ambil contoh dari teori 'lato tentang tiga bagian ji!a ('latos tripartite theory o  the soul) * 2enurut 'lato, setiap manusia memiliki tiga bagian  ji!a, yaitu* nous (akal, fkiran) yang merupakan bagian rasional,

thumos (semangat atau keberanian), dan epithumia (keinginan, kebutuhan atau nasu). 'ada setiap orang, dari ketiga bagian ji!a tersebut akan muncul salah satunya yang dominan. "ehingga* pertama, ada orang yang dominan bakat kemampuan berpikirnya kedua, ada yang dominan keberaniannya, dan ketiga ada yang dominan keinginan:nasunya. #tas dasar ini, 'lato mengklasifkasi manusia di dalam negara berdasarkan bakat kemampuannya tersebut, yaitu* pertama, kelas counselors (kelas penasihat atau pembimbing : pemimpin), yaitu para cendekia!an atau para flsu kedua, kelas the stateassistants : guardians (kelas pembantu:penjaga) yaitu kelompok militer dan ketiga, kelas money makers (kelas karya:penghasil) yaitu para petani, pengusaha, industrialis, dsb. amun demikian klasifkasi manusia tersebut bukanlah kasta yang secara turun temurun tidak dapat berubah. #pabila seseorang dari kelas tertentumisalnya* dari kelas karyaternyata memiliki bakat yang sesuai dengan bakat dalam kelas penjaga atau pembimbing, maka ia harus segera pindah ke kelas yang sesuai dengan bakatnya itu, demikian pula

(20)

sebaliknya. "elain itu, 'lato menghubungkan ketiga bagian ji!a manusia dengan empat kebajikan pokok (cardinal @irtues) sebagai moralitas ji!a (souls morality), yaitu* kebijaksanaan:kearian, keperkasaan, pengendalian diri, dan keadilan. 'ikiran:akal dihubungkan dengan kebijaksanaan:kearian yang harus menjadi moralitas ji!a kelas counselor: pembimbing: pemimpin keberanian dihubungkan dengan keperkasaan yang harus menjadi moralitas ji!a kelas militer : penjaga (guardians) , nasu dihubungkan dengan pengendalian diri yang harus menjadi moralitas ji!a kelas karya:penghasil.#dapun keadilan harus menjadi moralitas ji!a semua orang dari kelas manapun agar keselarasan dan kesimbangan tetap terpelihara dengan baik.

3erdasarkan uraian di atas dapat #nda simpulkan bah!a hakikat manusia bukanlah badannya, melainkan ji!a:spiritnya, manusia adalah makhluk berpikir, mampu memilih atau bebas, hidup dengan suatu aturan moral yang jelas dan bertujuan. =ugas dan tujuan hidup manusia adalah hidup sesuai dengan bakatnya serta nilai dan norma moral yang diturunkan oleh Yang #bsolut.

pistemologi* akikat 'engetahuan. 'roses mengetahui terjadi dalam pikiran, manusia memperoleh pengetahuan melalui berpikir. Di samping itu, manusia dapat pula memperoleh pengetahuan melalui intuisi. 3ahkan beberapa flsu Idealisme percaya bah!a pengetahuan diperoleh dengan cara mengingat kembali (semua pengetahuan adalah sesuatu yang diingat kembali). 'lato adalah salah seorang penganut pandangan ini. Ia sampai pada kesimpulan tersebut berdasarkan asumsi bah!a spirit:ji!a manusia bersiat abadi, yang mana pengetahuan sudah ada di dalam spirit:ji!a sejak manusia dilahirkan.

3agi penganut Idealisme Bbjecti@e seperti 'lato, ideide merupakan esensi yang keberadaannya bebas dari pendriaan. "edangkan bagi penganut Idealisme "ubjecti@e seperti George 3arkeley, bah!a manusia hanya dapat mengetahui dengan apa yang ia persepsi. Karena itu, pengetahuan manusia hanyalah

(21)

merupakan keadaan dari pikirannya atau idenya. #dapun setiap rangsangan yang diterima oleh pikiran hakikatnya diturunkan atau bersumber dari =uhan, =uhan adalah "pirit Yang =ak  =erbatas (Aallahan and Alark, 4508).

"ehubungan dengan hal di atas, kebenaran (pengetahuan yang benar) hanya mungkin didapat oleh orangorang tertentu yang memiliki pikiran yang baik saja, sedangkan kebanyakan orang hanya sampai pada tingkat pendapat% (d!ard ?. 'o!er, 450;).

#dapun uji kebenaran pengetahuan dilakukan melalui uji konsistensi atau koherensi dari ideidenya. "ebab itu teori uji keberanannya dikenal sebagai =eori Konsistensi:=eori Koherensi. Aontoh* $"emua makhluk bersiat ana (dapat rusak atau mati), I>bal adalah makhluk, sebab itu I>bal akan mati%. 'engetahuan ini adalah benar, sebab ideidenya koheren atau konsisten. $?alan merupakan urat nadi perekonomian masyarakat, #min bunuh diri dengan jalan memutuskan urat nadinya, karena itu #min telah membunuh jalannya perekonomian masyarakat%. 'engetahuan ini adalah salah, sebab ideidenya tidak konsisten:tidak koheren.

#ksiologi* akikat ilai . 'ara flsu Idealisme sepakat bah!a nilainilai bersiat abadi. 2enurut penganut Idealisme =heistik nilainilai abadi berada pada =uhan. 3aik dan jahat, indah dan  jelek diketahui setingkat dengan ide baik dan ide indah konsisten

dengan baik dan indah yang absolut dalam =uhan. 'enganut Idealisme 'antheistik mengidentikan =uhan dengan alam. ilai nilai adalah absolut dan tidak berubah (abadi), sebab nilainilai merupakan bagian dari aturanaturan yang sudah ditentukan alam (Aallahan and Alark, 4508). "ebab itu dapat #nda simpulkan bah!a manusia diperintah oleh nilainilai moral imperati dan abadi yang bersumber dari +ealitas yang #bsolut.

$. Filsafat Pendidikan Realis"e

2etafsika* akikat +ealitas. ?ika flsu Idealisme menekankan pikiran.ji!a:spirit:roh sebagai hakikat realitas,

(22)

sebaliknya menurut para flsu +ealisme bah!a dunia terbuat dari sesuatu yang nyata, substansial dan material yang hadir dengan sendirinya (entity). Di dunia atau di alam tersebut terdapat hukumhukum alam yang menentukan keteraturan dan keberadaan setiap yang hadir dengan sendirinya dari alam itu sendiri (Aallahan and Alark, 4508). +ealitas hakikatnya bersiat objekti, artinya bah!a realitas berdiri sendiri, tidak tergantung atau tidak bersandar kepada pikiran:ji!a:spirit:roh. amun demikian, mereka tetap mengakui keterbukaan realitas terhadap pikiran untuk dapat mengetahuinya. anya saja realitas atau dunia itu bukan:berbeda dengan pikiran atau keinginan manusia.

akikat 2anusia. 2anusia adalah bagian dari alam, dan ia muncul di alam sebagai hasil puncak dari mata rantai e@olusi yang terjadi di alam. akikat manusia didefnisikan sesuai dengan apa yang dapat dikerjakannya. 'ikiran (ji!a) adalah suatu organisme yang sangat rumit yang mampu berpikir. amun, sekalipun manusia mampu berpikir ia bisa bebas atau tidak bebas (d!ard ?. 'o!er, 450;). 2anusia dan masyarakat adalah bagian dari alam. Karena di alam semesta terdapat hukum alam yang mengatur dan mengorganisasikannya, maka untuk tetap sur@i@e dan bahagia tugas dan tujuan manusia adalah menyesuaikan diri terhadap hukumhukum alam, masyarakatnya dan kebudayaannya.

pistemologi* akikat 'engetahuan . Ketika lahir, ji!a atau pikiran manusia adalah kosong. "aat dilahirkan manusia tidak memba!a pengetahuan atau ideide ba!aan, ?ohn -ocke mengibaratkan pikiran:ji!a manusia sebagai tabula rasa (meja

lilin:kertas putih yang belum

ditulisi). 'engetahuan diperoleh manusia bersumber dari pengalaman indra. 2anusia dapat menggunakan pengetahuannya dalam berpikir untuk menemukan objekobjek serta hubungan hubungannya yang tidak ia persepsi (Aallahan and Alark, 4508).

(23)

2engingat realitas bersiat objekti, maka terdapat dualisme antara orang yang mengetahui dengan realitas yang diketahui. Implikasinya, para flsu

+ealisme menganut $prinsip independensi% yang menyatakan bah!a pengetahuan manusia tentang realitas tidak dapat mengubah substansi atau esensi realitas. Karena realitas bersiat material dan nyata, maka kebenaran pengetahuan diuji dalam kesesuaiannya dengan akta di dalam dunia material atau pengalaman dria. =eori uji kebenaran ini dikenal sebagai =eori Korespondensi. Aontoh* #pabila seseorang mengatakan bah!a rasa gula adalah manis, untuk mengetahui kebenaran pengetahuan:pernyataan tersebut harus diuji melalui pengalaman, misalnya dengan mencicipi gula.

 ?ika dari pengalaman mencicipi gula ternyata gula itu rasanya manis, maka pengetahuan itu benar. #tas dasar prinsip independensi dan teori korespondensi, maka pengetahuan mungkin saja berubah. #pa yang dulu dinyatakan benar mungkin sat ini dinyatakan salah, atau mungkin pula sebaliknya sesuai dengan hasil pengalaman empiris yang didapat. "ebab itu, epistemologi demikian dikenal pula sebagai mpirisme atau Bbjekti@isme.

#ksiologi* akikat ilai . Karena manusia adalah bagian dari alam, maka ia pun harus tunduk kepada hukumhukum alam, demikian pula masyarakat. al ini sebagaimana dikemukakan d!ard ?. 'o!er (450;) bah!a* $=ingkah laku manusia diatur oleh hukum alam, dan pada tingkat yang lebih rendah diuji melalui kon@ensi atau kebiasaan, dan adat istiadat di dalam masyarakat%. $ilainilai indi@idual dapat diterima apabila sesuai dengan nilai nilai umum masyarakatnya. 'endapat umum masyarakat mere<eksikan status >uo realitas masyarakat dan karena realitas masyarakat merepresentasikan kebenaran yang adalah ke luar dari mereka sendiri, serta melebihi pikiran, maka hal itu berguna

(24)

sebagai suatu standar untuk menguji @aliditas nilainilai indi@idual% (Aallahan and Alark, 4508).

'. Filsafat Pendidikan Prag"atis

2etafsika* akikat +ealitas . #liran flsaat 'ragmatisme dikenal pula dengan sebutan ksperimentalisme dan Instrumentalisme. 2enurut penganut 'ragmatisme hakikat realitas adalah segala sesuatu yang dialami manusia (pengalaman) bersiat plural (pluralistic) dan terus menerus berubah. 2ereka berargumentasi bah!a realitas adalah sebagaimana dialami melalui pengalaman setiap indi@idu (Aallahan and Alark, 4508). al ini sebagaimana dikemukakan illiam ?ames bah!a* $Dunia nyata adalah dunia pengalaman manusia% (".. rost ?r., 45/7). "iat plural realitas antara lain tersurat dalam pernyataan ?ohn De!ey* $Dunia yang ada sekarang ini adalah dunia pria dan !anita, sa!ahsa!ah, pabrik pabrik, tumbuhantumbuhan dan binatangbinatang, kota yang hiruk pikuk, bangsabangsa yang sedang berjuang, dsb. L. adalah dunia pengalaman kita% (.. =itus et all, 45/5). 2engingat realitas ini terus berubah, maka realitas tak pernah lengkap atau tak pernah selesai. "ebab itu, tujuan akhir realitas pun berada bersama perubahan tersebut. ?adi menurut penganut 'ragmatisme, $hanya realitas fsik yang ada, teori umum tentang realitas tidak mungkin dan tidak diperlukan% (d!ard ?. 'o!er, 450;).

akikat 2anusia . Kepribadian:manusia tidak terpisah dari realitas pada umumnya, sebab manusia adalah bagian daripadanya dan terus menerus bersamanya. Karena realitas terus berubah, manusia pun merupakan bagian dari perubahan tersebut. 3eradanya manusia di dunia adalah suatu kreasi dari suatu proses yang bersiat e@olusi (".. rost ?r., 45/7). $2anusia lakilaki dan perempuan M adalah hasil e@olusi biologis, psikologis, dan sosial% (d!ard ?. 'o!er, 450;). "ejalan dengan perubahan

(25)

yang terus menerus terjadi tentunya akan muncul berbagai permasalahan dalam kehidupan pribadi dan masyarakatnya. "ebab itu, manusia yang ideal adalah manusia yang mampu memecahkan masalah baru baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakatnya.

pistemologi* akikat 'engetahuan . ilsu 'ragmatisme menolak dualisme antara subjek (manusia) yang mempersepsi dengan objek yang dipersepsi. 2anusia adalah keduaduanya dalam dunia yang dipersepsinya dan dari dunia yang ia persepsi. "egala sesuatu dapat diketahui melalui pengalaman, adapun caracara memperoleh pengetahuan yang diandalkan adalah metode ilmiah atau metode sains sebagai mana disarankan oleh  ?ohn De!ey. 'engalaman tentang enomena menentukan pengetahuan. Karena enomena terus menerus berubah, maka pengetahuan dan kebenaran tentang enomena itu pun mungkin berubah. 3agaimanapun, kebenaran pada hari ini harus juga dipertimbangkan mungkin berubah esok hari (Aallahan and Alark, 4508).

2enurut flsu 'ragmatisme, suatu pengetahuan hendaknya dapat di@erifkasi dan diaplikasikan dalam kehidupan. #dapun kriteria kebenarannya adalah !orkability, satisaction, and result . 'engetahuan dinyatakan benar apabila dapat dipraktekkan, memberikan hasil dan memuaskan. 3erdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bah!a $pengetahuan bersiat relati pengetahuan dikatakan bermakna apabila dapat diaplikasikan. "ebab itu 'ragmatisme dikenal pula sebagai Instrumentalisme % (d!ard ?. 'o!er, 450;).

#ksiologi* akikat ilai . ilainilai diturunkan dari kondisi manusia. ilai tidak bersiat ekslusi, tidak berdiri sendiri, melainkan ada dalam suatu proses, yaitu dalam tindakan:perbuatan manusia itu sendiri. Karena manusia (idi@idual) merupakan bagian dari masyarakatnya, baik atau tidak baik tindakantindakannya dinilai berdasarkan hasilhasilnya di dalam

(26)

masyarakat. ?ika akibat yang terjadi berguna bagi dirinya dan masyarakatnya, maka tindakan tersebut adalah baik . ilai etika dan estetika tergantung pada keadaan relati dari situasi yang terjadi. ilainilai akhir ( ultimate @alues ) tidaklah ada, benar itu selalu relati dan tergantung pada kondisi yang ada (conditional). 'ertimbanganpertimbangan nilai adalah berguna jika bermakna untuk kehidupan yang intelegen, yaitu hidup yang sukses, produkti, dan bahagia (Aallahan and Alark, 4508). Karena itu aliran ini dikenal sebagai 'ragmatisme atau ksperimentalisme . 3. I"&likasi Filsafat ter0ada& Pendidikan

Implikasi ilsaat Idealisme, +ealisme, 'ragmatisme, "cholastisisme dan ksistensialisme terhadap 'endidikan, sebagai berikut*

4.  =ujuan 'endidikan 2enurut para flsu Idealisme, pendidikan bertujuan untuk membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi (sel) sis!a, sedangkan tujuan pendidikan dari flsaat +ealisme adalah untuk $penyesuaian diri dalam hidup dan mampu melaksanakan tanggung  ja!ab sosial% dan untuk tujuan pendidikan dari flsaat pragmatisme hampir sama dengan realisme yaitu mengadepankan penyesuaian diri terhadap perubahan yang terjadidi dalam masyarakat. Kemudian tujuan dari flsaat "cholatisisme mengajarkan bah!a tujuan pendidikan hendaknya tidak hanya untuk mengembangkan kemempuan intelektual saja, atau hanya untuk mengembangkan kemampuan fsika, melainkan untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki manusia agar dapat hidup selamat di dunia maupun di akhirat. =ujuan dari flsaat ksistensialisme lebih kepada membantu menusia secara indi@idual karena hakikat ini muncul setelahnya jadi dapat memperbaiki kekurangan dari pandangan dari hakikat sebelumnya.

;. Kurikulum 'endidikan Kurikulum pendidikan Idelaisme berisikan pendidikan liberal dan pendidikan @okasional:praktis. 2aksudnya adalah untuk mengembangkan kemampuankemampuan rasional, moral dan kemampuan suatu kehidupan:pekerjaan. Kurikulumnya diorganisasikan menurut mata pelajaran dan berpusat pada materi pelajaran (subject matter centered). 2enurut kurikulum pendidikan +ealisme sebaiknya

(27)

kurikulum itu meliputi * "ains,:ilmu pengetahuan alam dan matematika, Ilmuilmu kemanusiaan dan ilmuilmu sosial serta nilainilai. Dan para flsu +ealisme percaya bah!a kurikulum yang baik diorganisasikan menurut mata pelajaran dan berpusat pada materi pelajaran (subject matter centered) dan ini hampirsama dengan kurikulum yang diterapkan pada pendidikan Idelaisme. Kemudian dalam pandangan 'ragmatisme, kurikulum sekolah seharusnya tidak terpisahkan dari keadaankeadaan yang riil dalam masyarakat. 2aka dari itu Demokratis harus menjadi bentuk dasar kurikulum dan makna pemecahan ulang masalahmasalah lembaga demokratis juga harus dimuat dalam kurikulum. "edangkan isi pendidikan "cholatisisme harus meliputi agama dan ilmu kemanusiaan (humanities). Disiplin matematika, logika, bahasa, dam retorika juga dipandang penting. -ain halnya dengan kurikulum yang dianut pendidikan eksistensialisme yang tidak berpusat pada materi pelajaran karena apapun yang dipelajari peserta didik merupakan suatu alat bagi peserta didik terebut dalam mengembangkan Npengetahuan diri (sel kno!ledge) dan tanggung  ja!ab diri (sel responsibility).

8. 2etode 'endidikan 'ada pendidikan Idealisme struktur dan atmosfr kelas hendaknya memberikan kesempatan kepada sis!a untuk berpikir, dan untuk menggunakan kriteria penilaian moral dalam situasisituasi kongkrit dalam konteks pelajaran. 2etode pendidikan Idealisme cenderung mengabaikan dasadasa fsiologis dalam belajar. Cntuk pendidikan realisme metode yang disarankan bersiat otoriter. Dan e@aluasi merupakan aspek penting dalam mengajar. Dalam metode yang di gunakan pada penganut pragmetisme ialah metode pemecahan masalah serta metode penyelidikan dan penemuan.sedangkan pada penganut "cholatisisme mengutamakanmetode latihan ormal dalam rangka mendisiplinkan pikiran. Kemudian untuk para flsu  ksistesialisme hendaknya pendidikan dilaksanakan dengan teknik teknik pembelajaran nondirecti@e.

6. 'eranan 'endidik dan 'eserta Didik 2enurut para <su Idealisme, guru haruslah unggul agar menjadi teladan yang baik untuk sis!anya sama halnya dengan pendidikan realism yang juga menekankan pada pentingnya memberikan pengetahuan dan nilainilai esensial bagi para

(28)

sis!a. 'ada prinsip pendidikan 'ragmatisme guru berperan sebagai pemimpin dan membimbing pengalaman belajar tanpa ikut campur terlalu jauh dengan minat sis!a. Kemudian pada prinsip yang diterapkan "cholatisisme guru harus menjadi teladan yang baik bagi para sis!anya sama seperti prinsip yang di anut hakikathakikat sebelumnya. "edangkan pada hakikat penganut ksistensialisme guru harus berperan sebagai pembimbing, karena itu pendidik harus bersikap demokratis.

(29)

KESIMPULAN

Istilah flsaat berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani kuno, yaitu philein atau philos yang berarti cinta atau sahabat, dan sophia atau s ophos yang berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, berdasarkan asal usul katanya flsaat berarti cinta kepada kebijaksanaan atau sahabat kebijaksanaan. #dapun secara operasional flsaat mengandung dua pengertian, yakni sebagai proses (berflsaat) dan sebagai hasil berflsaat (sistem teori atau system gagasan). Di pihak lain jika ditinjau secara leksikal flsaat berarti sikap hidup atau pandangan hidup.

3erkenaan dengan objek studi, proses studi, tujuan studi, hasil studi, penyajian dan siat kebenaran flsaat dapat diidentifkasi karakteristik sebagai berikut* 4) komprehensi mendasar, ;) kontemplati:radikal dan sinoptik, 8) normati atau preskripti dan indi@idualitistikunik, 6) tematik sistematis dalam bentuk narati atau proetik, dan /) subjektiparalelistik. 3erdasarkan objek yang dipelajarinya flsaat dapat diklasifkasi ke dalam* 4) ilsaat Cmum atau ilsaat 2urni, dan ;) ilsaat Khusus atau ilsaat  =erapan.Aabang ilsaat Cmum.

ilsaat umum terdiri atas* a. 2etafsika yang meliputi* (4) 2etafsika Cmum atau Bntologi, dan (;) 2etafsika Khusus yang meliputi cabang* (a) Kosmologi, (b) =eologi, dan (c) #ntropologi. b. pistemologi. c. -ogika. d. #ksiologi yang meliputi cabang* (4) tika dan (;) stetika. #dapun cabang ilsaat Khusus antara lain* (4) ilsaat ukum, (;) ilsaat Ilmu, (8) ilsaat 'endidikan, dsb. Di dalam flsaat dikenal adanya berbagai aliran seperti Idealisme, +ealisme, 'ragmatisme, dsb.

Idealisme* hakikat realitas bersiat keji!aan:spiritual:rohaniah:ideal. 2anusia memperoleh pegetahuan melalui berpikir, intuisi, atau mengingat kembali. Kebenaran pengetahuan diuji melalui koherensi:konsistensi ideidenya. #dapun

(30)

hakikat nilai diturunkan dari realitas absolute (=uhan). Implikasinya* pendidikan hendaknya bertujuan untuk mengembangkan bakat, kepribadian, dan kebajikan sosial para sis!a, agar mereka dapat melaksanakan kehidupan yang baik di dalam masyarakat:negara sesuai nilainilai yang diturunkan dari Yang #bsolut. Cntuk itu kurikulum berisikan pendidikan liberal dan pendidikan @okasional:praktis kurikulum harus memuat pengetahuan dan nilai nilai esensial kebudayaan sebab itu kurikulum pendidikan cenderung sama untuk semua sis!a. Kurikulum Idealisme bersiat subject matter centered . 2etode dialektik diutamakan, namun demikian beberapa metode yang eekti yang mendorong belajar dapat diterima kecenderungannya mengabaikan dasardasar fsiologis dalam belajar%. Guru harus unggul dalam hal intelektual maupun moral bekerjasama dengan alam dalam proses pengembangan manusia dan bertanggung ja!ab menciptakan lingkungan pendidikan bagi para sis!a. #dapun sis!a berperan bebas mengembangkan kepribadian dan bakatbakatnya.

+ealisme* akikat realitas bersiat fsik:material dan objekti keberadaan dan perkembangan realitas diatur dan diorganisasikan oleh hukum alam. 2anusia adalah bagian dan dihasilkan dari alam itu sendiri hakikat pribadi tertentukan dari apa yang dapat dikerjakannya manusia mampu berpikir tetapi ia dapat bebas atau tidak bebas. 'engetahuan diperoleh manusia melalui pengalaman pendriaan kebenaran pengetahuan diuji melalui korespondensinya dengan akta. ilai hakikatnya diturunkan dari hukum alam dan kon@ensi:kebiasaan serta adat istiadat masyarakat. Implikasinya* pendidikan bertujuan agar sis!a mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan mampu melaksanakan tanggungja!ab sosial. Kurikulum pendidikan berpusat kepada isi mata pelajaran adapun mata pelajarannya terdiri atas sains: I'#, matematika, ilmu kemanusiaan dan I'", serta nilainilai. Kurikulum tersebut harus memuat pengetahuan dan nilainilai esensial kebudayaan yang

(31)

diberlakukan sama untuk semua sis!a. Kurikulum direncanakan dan ditentukan oleh guru. Kurikulum +ealisme bersiat subject matter centered. 2etode mengajar yang utama adalah pembiasaan para sis!a hendaknya belajar melalui pengalaman langsung ataupun pengalaman tidak langsung. 'eranan guru cenderung bersiat otoriter guru harus menguasai pengetahuan dan keterampilan teknikteknik mengajar Guru memiliki ke!enangan dalam membentuk prestasi sis!a. #dapun sis!a berperan untuk menguasai pengetahuan, harus taat pada aturan dan disiplin.

+ealisme dan Idealisme memiliki kesamaan dalam orientasi pendidikannya, yaitu ssensialisme. amun demikian karena kedua aliran ini memiliki gagasan yang berbeda mengenai flsaat umumnya, maka kedua aliran ini tetap memiliki perbedaan pula dalam hal tujuan pendidikan, isi kurikulumnya, metode pendidikan, serta peranan pendidik dan peranan peserta didik:sis!anya.

'ragmatisme* +ealitas hakikatnya adalah sebagaimana dialami manusia bersiat plural, dan terus menerus berubah. 2anusia adalah hasil e@olusi biologis, psikologis dan sosial. 'engetahuan diperoleh manusia melalui pengalaman (metode sains), pengetahuan bersiat relati teori uji kebenaran pengetahuan dikenal sebagai pragmatisme: instrumentalisme, sebab pengetahuan dikatakan benar apabila dapat diaplikasikan.

akikat nilai berada dalam proses, yaitu dalam perbuatan manusia, bersiat kondisonal, relati, dan memiliki kualitas indi@idual dan sosial. 'endidikan bertujuan agar sis!a dapat memecahkan permasalahan hidup indi@idual maupun sosial. =idak ada tujuan akhir pendidikan. Kurikulum pendidikan hendaknya berisi pengalaman pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan sis!a (child centered) dan berpusat pada aktiftas sis!a (acti@ity centered) . #dapun kurikulum tersebut mungkin berubah. 'ragmatisme mengutamakan metode pemecahan masalah (problem sol@ing method) serta metode penyelidikan dan penemuan (in>uiry

Referensi

Dokumen terkait

Types of Chemical Engineering Problems Listed by Area Types of Chemical Engineering Problems Listed by Area Types of Chemical Engineering Problems Listed by Area Types of

Langkah ini, rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Realisasi dari perencanaan dapat

Sikap siswa terhadap media sosial berpengaruh paling kuat sebesar 51% dalam meningkatkan minat penggunaan media sosial dalam berwirausaha, dibandingkan dengan

1.1 Login 1.2 pembayaran zakat 1.3 pembayaran infaq 1.4 validasi zakat 1.5 validasi infaq 1.6 validasi penyaluran ZIS 1.7 laporan penerimaan zakat 1.8 laporan pengeluaran zakat

Pembelajaran tentang pengetahuan jenis-jenis primata akan dengan mudah jika dtunjang dengan pemahaman yang baik dan sarana yang mendukung untuk penyampaian

Penelitian mencakup tiga tahap utama, yaitu studi beban listrik di salah satu puskesmas di Kecamatan Gema, dalam hal ini dipilih Puskesmas Desa Gema, studi potensi energi surya

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zitty dkk tahun 2014 dengan judul “Hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku

Analisis kadar flavonoid total dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Visibel dan membandingkan kadar flavonoid total dari dua metode pembuatan ekstrak