• Tidak ada hasil yang ditemukan

TInjauan Pustaka Literasi Keuangan Petani

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TInjauan Pustaka Literasi Keuangan Petani"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Literasi Keuangan

Rangkaian proses atau aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan keyakinan (confidence) konsumen dan masyarakat luas sehingga mereka mampu mengelola keuangan pribadi dengan lebih baik yang bertujuan untuk meningkatkan literasi seseorang yang sebelumnya less/not literate menjadi well literate dan meningkatkan jumlah pengguna produk dan jasa keuangan demi kesejahteraan masyarakat (Otoritas Jasa Keuangan 2014).

Indeks Literasi Keuangan

Menurut OECD International Network on Financial Education (INFE) (2012) , Indeks Literasi Keuangan adalah nilai yang diukur berdasarkan beberapa komponen dari literasi keuangan, yaitu financial knowledge (pengetahuan), financial attitude (sikap), dan financial behavior (perilaku). Indeks Literasi Keuangan ini digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat literasi keuangan yang dimiliki sesorang, apakah tingkat literasinya termasuk not literate (tidak terliterasi), less literate (kurang terliterasi), sufficient literate (cukup terliterasi), atau well literate (terliterasi baik).

Indeks yang telah dikembangkan melalui instrumen survei ini, dapat digunakan untuk menggambarkan literasi keuangan dari orang-orang dengan latar belakang yang sangat berbeda dalam berbagai negara. Teknik pengumpulan data untuk membangun indeks tersebut adalah wawancara langsung menggunakan kuesioner yang berfokus pada cakupan tiga komponen literasi keuangan.

Kuesioner tersebut mengandung pertanyaan terkait pengetahuan keuangan, perilaku dan sikap yang berkaitan dengan berbagai aspek literasi keuangan termasuk penganggaran dan pengelolaan uang, pendek dan rencana jangka panjang keuangan, dan pilihan produk keuangan. Terdapat pula pertanyaan untuk memberikan informasi faktor sosio-demografis dari responden, termasuk usia, jenis kelamin dan pendapatan.

Pengukuran Indeks Literasi Keuangan

Terdapat kombinasi dari tiga komposisi indikator yang digunakan untuk mengukur besar indeks literasi keuangan seseorang (OECD 2012), yaitu :

1. Indeks pengetahuan keuangan (financial knowledge) diukur dengan total skor jawaban responden yang benar dari skor total enam pertanyaan terkait pengetahuan prinsip perhitungan bunga bank, nilai waktu dari uang, definisi inflasi, aturan umum bank, diversifikasi, risiko dan laba.

2. Indeks perilaku finansial (financial behaviour) diukur dengan total skor jawaban responden dari skor total tujuh pertanyaan terkait kehati-hatian dalam memutuskan pembelian barang, ketepatan membayar tagihan, kecermatan dalam urusan keuangan pribadi, tujuan jangka panjang keuangan dan usaha untuk mencapainya, kepemilikan anggaran rumah tangga, aktivitas menabung atau investasi dalam setahun terakhir, keputusan pemilihan produk finansial setelah mengetahui informasinya, serta pinjaman untuk memenuhi kebutuhan.

(2)

3. Indeks sikap finansial (financial attitudes) diukur dengan total skor jawaban responden dari skor total tiga pertanyaan terkait penyikapan dalam menghabiskan atau menyimpan uang dalam jangka waktu panjang dan perencanaan keuangan jangka pendek.

Tingkat literasi keuangan petani diukur dengan indeks yang dibangun dari hasil jawaban serangkaian pertanyaan terkait komponen literasi keuangan, yaitu financial knowledge (pengetahuan keuangan), financial behavior (perilaku finansial), dan financial attitudes (sikap finansial) sesuai dengan penelitian Atkinson dan Messy (2012). Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks literasi keuangan adalah sebagai berikut:

𝐼𝐿𝐾 =

𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑋1+𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑋2+𝐼𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑋3

3

dimana:

X1 = Indeks pengetahuan keuangan (financial knowledge),

X2 = Indeks perilaku finansial (financial behaviour),

X3 = Indeks sikap finansial (financial attitudes),

ILK = Indeks Literasi Keuangan.

Masing-masing komponen tersebut terlebih dahulu dihitung indeksnya sehingga bernilai antara 0 (terburuk/not literate) dan 1 (terbaik/ well literate). Teknik penyusunan indeks tersebut pada dasarnya mengikuti rumus sebagai berikut:

ILK = ∑

𝐼𝑖: 𝐼𝑖 =

𝑋𝑖−𝑀𝑖𝑛 𝑋𝑖 𝑀𝑎𝑥 𝑋𝑖−𝑀𝑖𝑛 𝑋𝑖 3 𝑖=1 dimana:

Ii = Indeks komponen ILK ke i ( i = 1,2,3), Xi = Nilai indikator komponen ILK ke I, MaxXi = Nilai maksimum Xi,

MinXi = Nilai minimum Xi.

Komponen-komponen Indeks Literasi Keuangan 1. Pengetahuan Keuangan (financial knowledge)

Seseorang yang terliterasi keuangannya akan memiliki beberapa pengetahuan dasar tentang konsep-konsep kunci keuangan dan kemampuan untuk menerapkan keterampilan berhitung dalam situasi keuangan. Oleh karena itu data untuk komponen ini didapatkan dari kuesioner yang berisi berbagai pertanyaan dalam kaitannya dengan konsep-konsep perhitungan bunga bank, nilai waktu dari uang, definisi inflasi, aturan umum bank, diversifikasi, risiko dan laba. Tingkat pengetahuan keuangan seseorang dapat dikatakan sangat tinggi jika mencapai nilai maksimum yaitu 6.

2. Perilaku finansial (financial behaviour)

Cara berperilaku seseorang akan memiliki dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan keuangan mereka. Oleh karena itu penting untuk menganalisis perilaku finansial dalam mengukur literasi finansial. Data untuk komponen ini didapat melalui kuesioner dan hasil wawancara langsung yang dilakukan dengan mengajukan berbagai pertanyaan dalam gaya yang berbeda, untuk mencari tahu tentang perilaku seseorang dalam mengelola keuangannya,

(3)

seperti berpikir sebelum melakukan pembelian, membayar tagihan tepat waktu dan anggaran, menyimpan dan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan. Skor perilaku keuangan menganalisis perilaku positif yang ditunjukkan. Seseorang dapat dikatakan memiliki perilaku finansial yang semakin positif jika skor yang didapat dari indeks semakin tinggi pula, dibutuhkan nilai maksimum 23 untuk dinyatakan berperilaku finansial yang sangat baik.

3. Sikap finansial (financial attitudes)

Sikap dan preferensi dianggap elemen penting dari literasi keuangan. Jika seseorang memiliki sikap yang agak negatif terhadap aktivitas menabung untuk masa depan mereka, tentunya ia berpendapat bahwa mereka akan cenderung kurang untuk melakukan perilaku tersebut. Demikian pula, jika mereka lebih memilih untuk memprioritaskan keinginan jangka pendek maka mereka tidak mungkin memiliki tabungan darurat atau membuat rencana rencana keuangan jangka panjang.

Data terkait komponen sikap finansial diperoleh melalui kuesioner yang mencakup tiga pernyataan sikap untuk mengukur sikap responden terhadap uang dan perencanaan keuangan masa depan. Pertanyaan-pertanyaan terkait sikapfinansial ini meminta pendapat responden tentang sejauh mana mereka setuju atau tidak setuju dengan pernyataan tertentu, untuk menggambarkan disposisi atau preferensi mereka dalam keuangan. Respon dari tiga pernyataan sikap adalah indikator untuk keseluruhan sikap finansial. Nilai maksimum dari sikap finansial yang tinggi adalah sebesar 15, jika seseorang mendapat skor 10 maka sudah dapat dikatakan bahwa sikap finansialnya baik, dikarenakan sudah dapat menggambarkan sikap yang cenderung mengatur keuangan dalam jangka panjang.

Penelitian Terdahulu

Riset mengenai literasi keuangan di Indonesia dan berbagai negara dengan target kalangan yang berbeda menghasilkan berbagai temuan terkait faktor-faktor yang mempengaruhi literasi keuangan yang beragam pula. Penelitian yang dilakukan oleh DEFINIT, Support for Economic Analysis Development in Indonesia (SEADI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (2013) pada 450 responden sampel di wilayah Kota Jakarta Selatan, Medan, dan Surabaya dengan hasil yang diklasifikasi menjadi literasi keuangan dasar dan tinggi. Responden dengan literasi keuangan dasar cukup tinggi, tetapi responden dengan literasi keuangan tinggi sangat rendah. Secara umum, semakin tinggi pendidikan dan tingkat pendapatan, semakin tinggi literasi keuangan dasar. Responden laki-laki umumnya memiliki literasi keuangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Hasil survei juga menunjukkan korelasi antara rendahnya kepemilikan produk keuangan kompleks (saham, obligasi, dan reksa dana) dengan literasi keuangan tinggi yang juga sangat rendah.

Penelitian Rosaline (2014) terhadap 50 responden ibu rumah tangga yang tidak bekerja dan 50 responden ibu rumah tangga yang bekerja mengidentifikasikan bahwa tingkat literasi keuangan Ibu rumah tangga bekerja lebih tinggi dibandingkan Ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Namun Ibu rumah tangga dengan tingkat literasi keuangan yang rendah memiliki tingkat investasi yang lebih tinggi dibandingkan Ibu rumah tangga dengan tingkat literasi keuangan

(4)

tinggi yang banyak mengalokasikan pendapatan untuk konsumsi. Penelitian Margaretha dan Pambudhi (2015) pada mahasiswa di Universitas Trisakti menunjukkan terdapat pengaruh antara jenis kelamin, usia, IPK, dan pendapatan orang tua. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa harus meningkatkan pemahaman mereka tentang personal finance khususnya dalam area investasi.

Kharchenko (2011) secara empiris menganalisis faktor-faktor penentu literasi keuangan di Ukraina dan mengungkapkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi literasi finansial adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, wilayah dan kekayaan. Mereka mengamati bahwa laki-laki melakukan lebih baik daripada perempuan. Orang dengan pendidikan menengah cenderung untuk menunjukkan pengetahuan keuangan yang kurang dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan lebih tinggi. Pekerja yang tidak terkualifikasi dan pensiunan cenderung memiliki tingkat melek finansial lebih rendah dibandingkan dengan pekerja yang berkualifikasi dan meningkatkan melek finansial dengan kekayaan.

Terdapat pula penelitian terkait literasi keuangan terhadap petani di berbagai negara, namun belum terdapat penelitian literasi keuangan bagi petani di Indonesia. Ravikumar et al (2013) melakukan penelitian terhadap 100 orang petani melati di distrik Erode dan 100 petani melati di distrik Madurai. Penelitian ini menunjukkan bahwa petani di distrik Erode memiliki literasi keuangan lebih tinggi dari petani di Madurai, dimana petani di Erode telah diberi pelatihan dan informasi tentang pengelolaan keuangan. Program pelatihan mempengaruhi petani untuk memiliki kesadaran yang baik, pengetahuan dan penerapan aspek manajemen keuangan pertanian. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa, umur, pendidikan, Pengalaman, pendapatan usahatani, tahun hubungan dengan bank, ukuran pemilikan tanah, frekuensi kunjungan bank dan rekening bank secara signifikan dan positif mempengaruhi melek finansial petani. Penelitian ini menyimpulkan bahwa petani dengan status pendidikan yang lebih tinggi, mendapat pendapatan usahatani yang lebih tinggi dan menunjukkan kontinuitas hubungan dengan bank yang lebih tinggi.

Gaurav (2009) mengevaluasi dampak melek finansial pada adopsi asuransi curah hujan antara 600 petani skala kecil di Gujarat dan hasilnya memperkuat bahwa individu yang dididik untuk melek finansial dan asuransi akan lebih cenderung untuk membeli asuransi curah hujan. Temuan dari melek finansial dan utang, hasil ujinya mengungkapkan kesadaran keuangan yang rendah dari petani bertindak sebagai penghambat utama untuk adopsi produk keuangan secara kompleks seperti asuransi curah hujan.

Agarwal et al (2010) mempelajari literasi keuangan di India dengan menganalisis data yang disediakan oleh Yogi Advisory Services. Penelitian tersebut mengajukan pertanyaan terkait dengan Investasi Keuangan, suku bunga, inflasi dan risiko diversifikasi. Mereka menggunakan Korelasi Spearman Rank untuk mengukur korelasi antara jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan. Hasil dari Korelasi silang adalah hubungannya semua positif dan signifikan secara statistik. Korelasi untuk jawaban yang benar untuk pertanyaan tentang inflasi dan diversifikasi cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi dan suku bunga dan diversifikasi.

(5)

Kerangka Pemikiran

Tingkat Minimum Literasi Keuangan Menjadi Suatu Keharusan Bagi Masyarakat Dengan Banyaknya Produk Keuangan Baru

Tingkat Utilitas Produk dan Jasa Keuangan Petani yang Rendah Tingkat Literasi

Keuangan Petani

Komponen Literasi Keuangan Petani

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Literasi

KeuanganPetani

Gambar 2 Kerangka Pemikiran

Indeks Pengetahuan Finansial

Indeks Perilaku Finansial Indeks Sikap Finansial

Jenis Kelamin Usia Lama Pendidikan Preferensi Risiko Lokasi Domisili Jarak ke Lembaga Keuangan Terdekat Pendapatan

Gambar

Gambar 2 Kerangka Pemikiran Indeks Pengetahuan

Referensi

Dokumen terkait