• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

212

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia

(Ten.) Steenis) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH PADA MENCIT PUTIH JANTAN HIPERKOLESTEROLEMIAEMIAEMIA

{Effect of administration of leaf extract binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) against total blood cholesterol levels in white mice males hypercholesterolemia}

Fitra Fauziah1, Helmi Arifin2, Elisma1, dan Nila Agustina1

1Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFARM) Padang 2Fakultas Farmasi, Universitas Andalas, Padang

email: [email protected] ABSTRACT

The research of the effect of administration of binahong leaf extract (Anredera cordifolia

(Ten.) Steenis) on total cholesterol levels in white mice males hypercholesterolemia had been done. Induction of hypercholesterolemia performed by administered prophylthiouracyl (PTU) 0.26 mg/20 gram BW and high fat diet foods. Binahong leaf extract made by maceration extraction using ethanol 96%. Binahong leaf extract dose 125, 250 and 500 mg/kgBW was given to white mice males orally for 21 days. Cholesterol levels are measured on day 7, 14 and 21 after administered test preparation. The measurement is carried out using digital tools

Easy Touch® GCU. The results showed that the administered of binahong leaf extract with a

variety of doses can decrease the levels of total cholesterol in mice. Dose 500 mg/Kg BW given for 21 days shown a significant decrease in cholesterol levels (P < 0.05).

Keywords: Binahong leaves, extract, cholesterol

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yang kaya dengan bahan alam terutama tumbuhan yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan dan dikembangkan secara maksimal. Perubahan sikap kembali ke alam (back to nature) sekarang ini justru membuat pemanfaatan tanaman obat semakin meningkat. Tumbuhan merupakan sumber bahan alam yang banyak manfaatnya sebagai bahan obat. Dengan adanya kesadaran masyarakat tentang dampak negatif obat-obatan berbahan kimia maka mereka mulai kembali ke pengobatan dengan menggunakan obat tradisional yang berkhasiat sebagai obat untuk mengobati berbagai macam penyakit. Salah satu tanaman yang memiliki banyak khasiat dalam mengobati penyakit ialah binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) (Paju et al., 2013).

Anredera adalah salah satu spesies dari

Basellaceae (Kottaimuthu et al., 2011) yang secara empiris memiliki banyak manfaat di bidang kesehatan, terutama untuk mengobati berbagai penyakit. Famili Basellaceae

memiliki berbagai spesies seperti Anredera baselloides (Kunth) Baill, Anredera cordifolia (Ten.) Steenis, Anredera diffusa

(Moq.), Anredera leptostachys (Moq.) Steenis, Anredera spicata, Anredera vesicaria, Anredera cumingii, dan lainnya. Satu spesies yang banyak digunakan adalah

Anredera cordifolia dikenal sebagai Binahong. Binahong sinonimnya (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) adalah tanaman potensial yang dapat mengatasi berbagai penyakit karena senyawa bioaktif dari tanaman ini.

(2)

213 Pada proses skrining fitokimia daun binahong diketahui mengandung flavonoid, saponin, steroid /triterpenoid dan kumarin (Djamil et al., 2012). Hampir semua bagian tanaman binahong ini dapat dimanfaatkan mulai dari batang, akar, bunga, dan daun. Tetapi yang paling sering dimanfaatkan untuk kesehatan atau sebagai obat herbal adalah daunnya (Manoi, 2009). Secara empiris daun binahong dimanfaatkan untuk mengobati rasa nyeri, maag, sariawan, memberi stamina ekstra, melancarkan peredaran darah, dan asam urat. Selain itu, mengkonsumsi binahong mampu meningkatkan vitalitas pria, mengatasi pembengkakan dan pembekuan darah, memulihkan kondisi lemah, menyembuhkan luka, mengobati diabetes mellitus dan menurunkan kolesterol (Shabella, 2012). Akhir-akhir ini kolesterol banyak menarik perhatian karena diduga ada hubungan antara

kadar kolesterol dalam darah dengan penyakit jantung koroner, dan pengerasan pembuluh darah (atherosclerosis) (Dimyati, 2011). Kolesterol adalah suatu zat lemak yang beredar di dalam darah, diproduksi oleh hati dan sangat diperlukan oleh tubuh, tetapi kolesterol berlebih akan menimbulkan masalah terutama pada pembuluh darah jantung dan otak. Kolesterol di dalam darah beredar tidak dalam keadaan bebas, akan tetapi berada dalam partikel-partikel lipoprotein. Lipoprotein merupakan senyawa kompleks antara lemak dan protein. Dalam serum darah, lipoprotein terdiri atas 4 jenis, yaitu kilomikron, very low density lipoprotein

(VLDL), low density lipoprotein (LDL), dan high density lipoprotein (HDL)(Devlin, 1992). Kenaikan kadar kolesterol LDL berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, sedangkan kadar HDL yang tinggi memberikan efek protektif (Bertha et al., 2007).

METODE PENELITIAN

Alat dan Bahan

a) Alat

Alat yang akan digunakan antara lain: botol maserasi, Rotary- evaporator R-210 Buchi®, timbangan analitik, timbangan hewan, beaker glass, lumpang dan stamfer, vial, spatel, krus porselen, botol timbang, batang pengaduk, kaca arloji, cawan penguap, desikator, alat multi check Easy Touch®GCU, oven (Memmert®), tabung reaksi, pipet tetes, gelas ukur, , spuit 1 cc, sonde, tissue.

b) Bahan

Bahan yang digunakan adalah daun binahong segar, etanol 96 %, aquadest, Na CMC, makanan standar mencit, makanan lemak tinggi (MLT), dan propiltiourasil..

c) Hewan percobaan

Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih jantan berumur lebih kurang 2 - 3 bulan dan sehat sebanyak 45 ekor.

Preparasi Sampel

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun segar binahong yang berasal dari daerah Curup Provinsi Bengkulu. Sampel daun segar binahong yang digunakan sebanyak 5,5 kg. Daun segar binahong dicuci dengan air bersih dan dirajang.

Ekstraksi

Sampel daun segar binahong yang telah dirajang kemudian di timbang 5,5 kg dimaserasi dengan pelarut etanol 96% pada suhu kamar selama 3x5 hari, Kemudian disaring. Maserat yang dihasilkan dikumpulkan dan diuapkan dengan destilasi vakum sehingga diperoleh ekstrak kental etanol dengan bantuan Rotary evaporator

dan digunakan untuk tahap uji efek penurunan kadar kolesterol total darah.

Hewan Percobaan

Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih jantan berumur lebih

(3)

214 kurang 2 - 3 bulan dan sehat sebanyak 45 ekor.

Penginduksi Hiperkolesterolemia

Setiap kelompok hewan percobaan (kecuali kelompok kontrol negatif) diinduksi hiperkolesterolemia dengan pemberian makanan lemak tinggi (MLT) dan suspensi propiltiourasil selama 21 hari.

Pembuatan sediaan suspensi ekstrak daun binahong

Sediaan uji daun binahong dibuat dengan mensuspensikan ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dalam NaCMC 0,5 %. Konsentrasi sediaan uji yang dibuat adalah 1,25 ; 2,5 dan 5 %.

Pemberian Ekstrak daun binahong pada hewan percobaan

Hewan percobaan dikelompokkan secara acak menjadi 5 kelompok. Ekstrak daun binahong diberikan setiap hari sekali

sehari per oral selama 21 hari. Kelompok I (kontrol negatif) hanya diberi suspensi Na CMC, kelompok II (kontrol positif) diinduksi hiperkolesterolemia, Sedangkan kelompok III, IV dan V diinduksi hiperkolesterolemia kemudian diberi ekstrak daun binahong dengan dosis 125, 250 dan 500 mg/kgBB.

Pengukuran Kadar Kolesterol Total

Kadar kolesterol total darah pada setiap kelompok hewan percobaan diukur pada hari ke- 7, 14 dan 21 setelah pemberian ekstrak daun binahong. Darah diambil melalui vena ekor, kemudian teteskan ke strip test kolesterol (Multi Check Easy Touch®GCU), dalam waktu 150 detik kadar kolesterol total darah akan terbaca pada layar monitor alat.

Analisis Data

Data hasil penelitian diolah dengan statistik menggunakan uji ANOVA dua arah dan dilanjutkan dengan uji Duncan.

HASIL DAN DISKUSI Hasil

Dari hasil penelitian pengaruh pemberian ekstrak daun binahong terhadap kadar kolesterol total darah mencit putih jantan yang telah dilakukan, diperoleh kadar kolesterol total sebagai berikut :

1. Kadar kolesterol total rata-rata mencit pada kelompok I (kontrol negatif) pada pengamatan hari ke 7, 14, dan 21 berturut-turut adalah 116,56 mg/dL, 116,11 mg/dL dan 115,00 mg/dL.

2. Kadar kolesterol total rata-rata mencit pada kelompok II (kontrol positif) pada pengamatan hari ke 7, 14, dan 21 berturut-turut adalah 147,44 mg/dL, 145 mg/dL dan 147,44 mg/dL.

3. Kadar kolesterol total rata-rata mencit pada kelompok III (perlakuan dosis 125 mg/kgBB) pada pengamatan hari ke 7, 14, dan 21 berturut-turut adalah 144,33 mg/dL, 139,89 mg/dL dan 128,44 mg/dL.

4. Kadar kolesterol rata-rata mencit pada kelompok IV (perlakuan dosis 250 mg/kgBB) pada pengamatan hari ke 7, 14, dan 21 berturut-turut adalah 140,11 mg/dL, 134,67 mg/dL dan 129,33 mg/dL.

5. Kadar kolesterol total rata-rata mencit pada kelompok V (perlakuan dosis 500 mg/kgBB) pada pengamatan hari ke 7, 14, dan 21 berturut-turut adalah 123,11 mg/dL, 118,44 mg/dL dan 116,33 mg/dL.

(4)

215

Tabel I. Rata-rata kadar kolesterol total (mg/dL) mencit putih jantan Kelompok Rata-rata kadar kolesterol total (mg/dL) ± SD Rata-rata ± SD

Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Kontrol negatif (-) 116,56 ± 10,064 116,11 ± 9,427 115,00 ± 9.513 115,89 ± 9,316 Kontrol positif (+) 147,44 ± 11,738 145,33 ± 11,102 147,44 ± 11,035 146,74 ± 10,900 Dosis 125 mg/kgBB 144,33 ± 13,757 139,89 ± 11,439 128,44 ± 13,239 137,56 ± 14,105 Dosis 250 mg/kgBB 140,11 ± 13,290 134,67 ± 12,629 129,33 ± 10,488 134,70 ± 12,545 Dosis 500 mg/kgBB 123,11 ± 12,160 118,44 ± 11,447 116,33 ± 10,198 119,30 ± 11,231 Rata-rata Total ± SD 134,31 ± 17,021 130,89 ± 15,928 127,31 ± 15,781

Gambar 1. Diagram batang kadar kolesterol total rata-rata berdasarkan dosis dan lama pemberian ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) .

(5)

216

Tabel II. Persentase perbandingan angka penurunan kadar kolesterol darah dengan kontrol (+) setelah pemberian tiga variasi dosis

Variasi dosis Persentase penurunan kolesterol total (%) Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21

125 mg/kgBB 2,11 3,74 12,88

250 mg/kgBB 4,97 7,33 12,28

500 mg/kgBB 16,50 18,50 21,10

Gambar 2. Diagram batang persentase perbandingan angka penurunan kadar kolesterol darah dengan kontrol positif (+) setelah pemberian tiga variasi dosis.

Diskusi

Pada penelitian ini digunakan sampel berupa daun segar binahong (Anredera cordifolia

(Ten.) Steenis) yang dipercaya secara empiris dapat menurunkan kadar kolesterol total darah. Sampel daun segar binahong sebanyak 5,5 kg diekstraksi dengan cara maserasi karena maserasi merupakan cara yang paling mudah dan sederhana, tidak memerlukan peralatan yang khusus serta suhu yang digunakan rendah sehingga dapat mencegah penguraian senyawa yang tidak tahan panas atau zat aktif yang belum diketahui tahan panas atau tidak. Sebelum dimaserasi, sampel dirajang terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk memperluas bidang permukaan sampel sehingga memudahkan pelarut masuk ke dalam sel melewati membran sehingga lebih banyak senyawa yang dapat ditarik oleh pelarut.

Maserasi sampel dilakukan dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Penggunaan etanol sebagai pelarut disebabkan karena sifatnya yang universal serta kemampuannya untuk mengendapkan protein dan menghambat kerja enzim sehingga senyawa aktif dapat terhindar dari proses hidrolisis dan oksidasi. Keuntungan lainnya etanol mudah berpenetrasi kedalam sel, selain itu dalam pengujian efek farmakologi diisyaratkan untuk menggunakan pelarut etanol ini karena sifatnya yang kurang toksik dibanding dengan metanol. Etanol yang digunakan adalah etanol 96% karena sampel yang digunakan adalah sampel segar, berarti sudah ada kandungan airnya. Hasil pengujian organoleptis, ekstrak tersebut memiliki bau khas aromatik, bentuk konsistensi kental, warna coklat, rasa pahit agak kelat, dan uji tetapan fisika memiliki susut pengeringan

(6)

217 20,23 % dan kadar abu 6,08 %. Pada hasil skrining fitokimia ekstrak tersebut positif mengandung alkaloid, flavonoid, terpenoid, fenolik dan saponin.

Hewan percobaan dikelompokkan menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok I (kontrol negatif) yang tidak diberi perlakuan, kelompok II (kontrol positif) diberi makanan lemak tinggi dan suspensi prophylthoiurasil, kelompok III (dosis 125 mg/kgBB) diberi makanan lemak tinggi, suspensi prophylthoiurasil dan suspensi ekstrak binahong dengan konsentrasi 1,25 %, kelompok IV (dosis 250 mg/kgBB) diberi makanan lemak tinggi, suspensi prophylthoiurasil dan suspensi ekstrak binahong dengan konsentrasi 2,5 %, kelompok V (dosis 500 mg/kgBB) diberi makanan lemak tinggi, suspensi propiltiurasil dan suspensi ekstrak binahong dengan konsentrasi 5 %. Pemberian suspensi ekstrak binahong dilakukan selama 21 hari. Tujuannya untuk melihat pengaruh lama pemberian obat terhadap kadar kolesterol darah pada hewan percobaan, dan pengukuran kadar kolesterol dilakukan pada hari ke-7, 14 dan 21 hari dengan cara memotong ekor mencit ± 1 cm. Diambil darahnya dan diukur kadar kolesterolnya menggunakan alat multi check Easy Touch®GCU.

Hasil pengukuran kadar kolesterol darah diuji secara statistik dengan menggunakan software SPSS analisa variansi (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan untuk mengetahui apakah masing-masing kelompok perlakuan mempunyai perbedaan yang signifikan atau tidak. Pada penelitian ini didapat kadar kolesterol yang beragam dengan standar deviasi pada masing-masing kelompok yang berbeda-beda. Variasi data ini mungkin disebabkan oleh kondisi fisiologis masing-masing individu hewan percobaan selama perlakuan dan pengaruh dari zat uji.

Dari hasil pengukuran kadar kolesterol darah dapat ditunjukkan bahwa terjadi peningkatan persentase penurunan kadar kolesterol darah

yang berarti pada kelompok perlakuan yang diberi ekstrak daun binahong dibandingkan dengan kontrol positif yang memiliki kadar kolesterol darah paling tinggi (tabel II, gambar II). Persentase penurunan kadar kolesterol semakin meningkat seiring dengan peningkatan dosis sediaan uji dan lama pemberian. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ekstrak daun binahong dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Pada hasil statistik dari tabel variabel dependen kadar kolesterol menunjukkan hasil yang tidak bermakna, dimana nilai F hitung adalah 0,999 > 0,05 artinya Ho diterima sehingga dapat diteruskan dengan uji ANOVA dua arah. Dari hasil statistika ANOVA dua arah menunjukkan tidak adanya pengaruh interaksi antara perlakuan dengan lama perlakuan (sig. 0,574 < 0,05). Faktor perlakuan mempunyai pengaruh yang nyata terhadap kadar kolesterol darah (sig. 0,000 < 0,05). Demikian juga dengan faktor lama pemberian juga mempunyai pengaruh yang nyata terhadap kadar kolesterol darah (sig. 0,018 < 0,05). Dengan demikian uji lanjut dengan uji Duncan dapat dilakukan terhadap pengaruh mandiri dari masing-masing faktor tersebut.

Berdasarkan hasil uji Duncan dapat dilihat pengaruh faktor perlakuan terhadap kadar koleterol darah dimana kelompok kontrol negatif memiliki kadar kolesterol total terendah dibandingkan kelompok perlakuan lain, sedangkan kelompok kontrol negatif memiliki kadar kolesterol darah tertinggi dibandingkan kelompok perlakuan lain. Kelompok kontrol negatif berbeda nyata dengan kelompok kontrol positif. Kelompok perlakuan yang diberi ekstrak daun binahong dosis 125 dan 250 mg/kgBB berbeda nyata dengan kelompok kontrol negatif, kontrol positif dan kelompok perlakuan yang diberi ekstrak daun binahong dosis 500 mg/kgBB. Akan tetapi, kelompok perlakuan dosis 125 dan 250 mg/kgBB tidak berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok perlakuan yang diberi ekstrak daun binahong dengan kedua dosis tersebut memberikan efek

(7)

218 penurunan kadar kolesterol darah yang hampir sama. Kelompok perlakuan dosis 500 mg/kgBB berbeda nyata dengan kontrol positif, tetapi tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol negatif. Hal ini menunjukkan bahwa dosis 500 mg/kgBB memberikan efek penurunan kadar kolesterol darah yang paling efektif karena kadar kolesterol darahnya mendekati kadar kolesterol darah pada kelompok kontrol negatif.

Berdasarkan uji lanjut Duncan juga diketahui pengaruh lama perlakuan terhadap kadar kolesterol darah. Lama perlakuan selama 7 hari berbeda nyata dengan lama perlakuan selama 21 hari, tetapi tidak berbeda nyata dengan lama perlakuan selama 14 hari. Lama perlakuan selama 14 hari tidak berbeda nyata

dengan lama perlakuan selama 7 dan 21 hari. Lama perlakuan selama 21 hari menghasilkan kadar kolesterol terendah dibandingkan dengan lama perlakuan selama 7 dan 14 hari. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun binahong selama 21 hari memberikan penurunan kadar kolesterol darah yang lebih efektif dibandingkan dengan lama perlakuan selama 7 dan 14 hari. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun binahong dapat menurunkan kadar kolesterol darah mencit putih jantan. Pemberian ekstrak binahong dengan dosis 500 mg/kgBB lebih efektif dalam menurunkan kadar kolesterol dibanding dengan dosis 125 mg/kgBB dan 250 mg/kgBB.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pemberian ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dapat menurunkan kadar kolesterol darah mencit putih jantan yang diinduksi makanan lemak tinggi dan propiltiourasil. 2. Variasi dosis dan lama pemberian ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia

(Ten.) Steenis) berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan kadar kolesterol darah mencit.

3. Pemberian ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dosis 500mg/kgBB lebih efektif menurunkan kadar kolesterol darah dibandingkan dengan dosis 125 mg/kgBB dan 250 mg/kgBB. Menurut uji Duncan lama pemberian ekstrak daun binahong selama 21 hari memberikan penurunan kadar kolesterol darah yang lebih efektif dibandingkan pemberian selama 7 dan 14 hari.

DAFTAR PUSTAKA

Devlin, T. M. 2006. Textbook of Biochemistry: With Clinical Correlations. Edition 6. New York: Jhon Wiley and Sons.

Dimyati, S.B.T. 2011. The Family’s Role in Assisting Hypercholesterolemia Individual to Controlling Serum Cholesterol Level. International Journal of Public Health Research: 229-234.

Djamil, R., Wahyudi, P.S., Wahono, S., & Hanafi, M. 2012. Antioxidant Activity of Flavonoid from Anredera cordifolia

(Ten.) Stennis Leaves. International Research Journal of Pharmacy, 3 (9): 241-243.

Kottaimuthu, R., Ganesan, R. & Vijayan, R. 2011. Anredera cordifolia (Tenore) Steenis (Basellaceae) - A New Record for India. Elixir International Journal.

40: 5517-5518.

Manoi, F. 2009. Binahong (Anredera cordifolia) Sebagai Obat. Jurnal Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Vol.15 (1) : 3-5.

(8)

219 Paju, N., Yamlean, P.V.Y., & Kojong, N.

2013. Uji Efektivitas Salep Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia

(Ten.) Steenis) Pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus) yang

Terinfeksi Bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal Ilmiah Farmasi, Vol.2 (1): 51-61.

Shabella, R. 2012. Terapi Daun Binahong. Cetakan Ke-1. Klaten: Cable Book.

Gambar

Tabel I. Rata-rata kadar kolesterol total (mg/dL) mencit putih jantan  Kelompok  Rata-rata kadar kolesterol total (mg/dL) ± SD  Rata-rata ± SD
Tabel II.  Persentase perbandingan angka penurunan kadar kolesterol darah dengan kontrol  (+) setelah pemberian tiga variasi dosis

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi busa yang dihasilkan oleh berbagai formula deterjen cair ekstrak biji alpukat berkisar antara (2,70 ± 4,88) cm, lebih

Bandung: Program Magister Manajemen Bisnis dan Administrasi Teknologi PPS-ITB, 1997. Tesis (Magister Manajemen Bisnis dan Administrasi

Sumber data primer diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan pengukuran penelitian yaitu umur, kelainan refraksi mata, tata letak alat kerja, jarak melihat objek kerja,

hipotesis penelitian ini adalah ada pengaruh antara penggunaan internet sebagai media belajar terhadap hasil belajar mahasiswa angkatan 2012 Program Studi

Offce Boy 1 Computer Operator 3 Computer Technician Assistan OM Book Kepper 1 Billingual Secretary Secretary Computer Operator 2 Book Kepper 2.. BREAKDOWN OF REIMBURSABLE

Selama ini para teknisi belum banyak mempunyai pengalaman terkait tata cara perbaikan dan pemasangan kembali bagian uji dengan baik, sehingga perlu kiranya apa yang telah

Hasil analisis nilai rugi kalor berdasarkan perubahan sudut kemiringan untai, menyimpulkan bahwa nilai rugi kalor dipengaruhi oleh laju aliran massa air yang meningkat

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan tentang Identifikasi dan Keanekaragaman Jenis Jamur Ektomikoriza Pada Hutan Jati di Seram Bagian Timur adalah sebagai