Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KARKAS DAN LEMAK SUBKUTAN BROILER YANG

MENDAPAT RANSUM DENGAN SUPPLEMENTASI

TEPUNG KUNYIT (Curcuma domestica Val) DAN

TEPUNG LEMPUYANG (Zingiber aromaticum Val)

(Turmeric (Curcuma Domestica Val) and Ginger (Zingiber Aromaticum Val)

Suplementation of Meal in the Broiler Diet and Its Effect on Carcass

and Subcutaneous Fat)

IDA AYU KETUT BINTANG1dan A.G.NATAAMIJAYA2

1

Balai Penelitian Ternak PO Box 221 Bogor 16002. 2

Balai Besar Pengkajian dan Pengembagan Teknologi Pertanian, Bogor

ABSTRACT

One hundred broiler chicks were assigned into 5 treatments with 4 replicates. Each replicate composed of 5 chicks, completely randomized design was applied in this study. The treatments were R1(commercial diet as a control); R2 (R1 + 0.04% turmeric + 0.02% ginger meal), R3 (R1 + 0.04% turmeric + 0.04% ginger meal), R4 (R1 + 0.04% turmeric + 0.08% ginger meal) and R5 (R1 + 0.04% turmeric + 0.16% ginger meal). The parameters observed were carcass, subcutaneous fat and organoleptic. The results showed that the addition of turmeric and ginger meal gave no significant effect on the parameters measured, except for the carcass weight of R2, R3 and R4 were higher (P < 0.05) than that of R1. The carcass weight of R2 was higher (P < 0.05) than those of R3, R4, and R5. No significant difference was found (P > 0.05) among carcass weight of R3, R4, and R5. The back part weight of R2 and R3 were significantly (P < 0.05) higher than those of R1 and R5, but between R2 and R3 and between R1, R4, and R5 no significant difference was found. However the carcass and carcass cut of R2, R3, R4, R5 tended to be heavier, in contras their subcutaneous fat tended to be lower than those of control (R1). The addition of ginger meal at level 0.08% caused the skin looked paler than the others.

Key Words:Turmeric, Ginger, Carcass

ABSTRAK

Sebanyak 100 ekor ayam dibagi ke dalam 5 perlakuan dengan 4 ulangan masing-masing 5 ekor per ulangan. Kelima perlakuan adalah R1 (ransum komersial tanpa penambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang sebagai kontrol), R2 (R1 + 0,04% tepung kunyit + 0,02% tepung lempuyang), R3 (R1 + 0,04% tepung kunyit + 0,04% tepung lempuyang), R4 (R1 + 0,04% tepung kunyit + 0,08% tepung lempuyang), dan R5 (R1 + 0,04% tepung kunyit + 0,16% tepung lempuyang). Penelitian dilakukan untuk mengetahui bobot karkas, karkas dan kadar lemak sub kutan pada broiler yang mendapat tambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang. Peubah yang diamati meliputi: bobot karkas dan bagian karkas, uji organoleptik serta kadar lemak sub kutan, dengan Rancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang dalam ransum tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap peubah yang diukur, kecuali bobot karkas dimana ayam yang mendapat ransum perlakuan R2, R3, dan R4 nyata (P < 0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Bobot karkas yang mendapat perlakuan R2 nyata (P < 0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan R3, R4 dan R5, antara R3,R4 dan R5 tidak berbeda nyata. Berat punggung yang mendapat perlakuan R2 dan R3 nyata (P < 0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan R1 dan R5, antara R2 dan R3 serta antara R1, R4 dan R5 tidak berbeda nyata, tetapi ada kecenderungan bobot karkas dan bagian karkas yang mendapat ransum perlakuan lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol, sebaliknya rataan kadar lemak subkutan lebih rendah. Penampakan karkas secara keseluruhan baik. Penambahan tepung lempuyang menyebabkan warna kulit menjadi lebih pucat terutama pada level 0,08%.

(2)

PENDAHULUAN

Usaha ternak unggas sebagai penghasil daging, saat ini banyak mempergunakan broiler karena pertumbuhannya cepat. Dalam usaha peternakan broiler pakan merupakan komponen terbesar yaitu sekitar 60 – 70% dari seluruh biaya produksi. Untuk itu maka peternak harus berupaya semaksimal mungkin agar dengan biaya ransum yang minimal mampu menghasilkan produksi yang maksimal.

Pada saat ini dari perusahaan skala kecil hingga industri berlomba-lomba untuk memproduksi ternak yang berkualitas. Namun bukan merupakan suatu hal yang mudah, karena Indonesia merupakan negara tropis yang sangat potensial bagi perkembangan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit sehingga menurunkan produksi. Untuk mencegah atau mengatasi hal tersebut banyak peternak yang menggunakan feed aditif antara lain antibiotik. Namun ada kecenderungan penggunaaan antibiotik akan ditinggalkan karena menimbulkan efek samping bagi konsumen yang mengkonsumsi produk tersebut secara berlebihan.

Akhir-akhir ini banyak peternak, terutama skala kecil yang menggunakan obat tradisional untuk mengobati ternak-ternak yang sakit atau mencegah penyakit antara lain adalah larutan kunyit dan lempuyang. Kunyit selain untuk mencegah atau mengobati penyakit, juga memberi warna pada karkas dan kuning telur

(SOMAATMADJA, 1981). Senyawa aktif kunyit

(kurkumin) bersifat anti bakteri, sedangkan lempuyang mengandung flavonoid yang mempunyai sifat anti bakteri, anti virus dan anti oksidan. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penambahan tepung kunyit sebanyak 0,04% (BINTANG dan NATAAMIJAYA, 2005) serta tepung lempuyang 0,16% (JARMANI dan

NATAAMIJAYA (2001) tidak menimbulkan

dampak negatif terhadap performan broiler. Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh pemberian tepung kunyit dikombinasi dengan tepung lempuyang dalam ransum terhadap karkas dan lemak subkutan.

MATERI DAN METODE

Kunyit dan lempuyang berasal dari pasar Bogor. Kunyit dicuci bersih, diiris tipis tipis

kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari. Setelah kering digiling menjadi tepung kunyit.Lempuyang didapat dalam bentuk kering yang kemudian digiling menjadi tepung.

Penelitian tentang pengaruh penambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang dalam ransum terhadap karkas broiler telah dilakukan di Balai Penelitian Ternak, Bogor. Sebanyak 100 ekor ayam dibagi 5 perlakuan dengan 4 ulangan masing-masing 5 ekor per ulangan. Kelima perlakuan adalah R1 (ransum komersial tanpa penambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang sebagai kontrol), R2 (R1 + 0,04% tepung kunyit + 0,02% tepung lempuyang), R3 (R1 + 0,04% tepung kunyit + 0,04% tepung lempuyang), R4 (R1 + 0,04% tepung kunyit + 0,08% tepung lempuyang), dan R5 (R1 + 0,04% tepung kunyit + 0,16% tepung lempuyang).

Komposisi kimia ransum terdiri dari: protein kasar (21%), energi metabolis (3200 kkal/kg), lemak kasar (5%), serat kasar (5%), kalsium (0,9 – 1%), dan fosfor (0,7 – 0,9%). Perlakuan diberikan mulai ayam berumur 15 hari sampai berumur 35 hari.

Pada akhir penelitian tiga ekor dari masing-masing kandang dipotong untuk mengukur data karkas. Cara memperoleh bagian kepala, leher, sayap, paha, kaki, dada dan punggung adalah sebagai berikut: kepala dan leher, dengan memotong persendian tulang leher terbawah dengan tulang punggung (thorax). Sayap, dengan memotong persendian tulang humerus dengan tulang coracoid dari scapula. Paha dan kaki dengan memotong persendian tulang paha (femur) dengan tulang panggul (ischium) serta memotong persendian tulang fibula/tibia dengan tulang kaki. Dada dan punggung dengan memotong pada tepian bagian dalam tulang dada sampai sambungan/ persendian tulang coracoid, scapula dengan tulang punggung (thorax).

Uji organoleptik terdiri dari: bentuk karkas yakni dengan melihat apakah ada kelainan atau tidak, kemudian dibandingkan dengan karkas kontrol. Metode yang dipergunakan adalah: hedonik dengan melibatkan 30 orang. Bentuk karkas terdiri dari: tidak baik, kurang baik, cukup baik, baik dan normal atau sangat baik. Bau karkas terdiri dari: bau busuk, sangat anyir, agak bau anyir, tidak bau anyir dan normal. Warna karkas diukur dengan menggunakan roche yolk colour fan Aroma

(3)

karkas ditentukan dengan cara mencium karkas yang dibandingkan dengan karkas kontrol. Sebanyak 10 g untuk tiap sampel dianalisis kadar lemak kulitnya dengan metode kering.

Peubah yang diamati meliputi: karkas, bagian karkas, uji organoleptik terhadap bentuk dan bau serta lemak sub kutan. Persentase karkas diperoleh dengan membagi bobot karkas dengan bobot hidup dikalikan 100%, sedangkan persentase bagian karkas didapat dengan membagi berat masing masing bagian karkas dengan bobot karkas dikalikan 100%. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) Data dianalisis dengan sidik ragam dan apabila ada pengaruh antar perlakuan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (STEEL dan TORRIE, 1980).

HASIL DAN PEMBAHASAN Bobot karkas dan bagian karkas

Karkas penting untuk menilai produksi karena merupakan jaringan tubuh hewan yang dapat dimakan terutama dada dan paha

(FORREST, 1973; HANSKINS, 1963).

Penambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang dalam ransum menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P < 0,05) terhadap bobot karkas dan punggung (Tabel 1). Bobot karkas yang mendapat perlakuan tepung kunyit dan tepung lempuyang nyata lebih berat, kecuali

dengan R5 tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol. Bobot karkas yang mendapat perlakuan R2 nyata (P < 0,05) lebih berat dibandingkan dengan R3, R4 dan R5, antara R3, R4 dan R5 tidak berbeda nyata (P > 0,05).

Bobot punggung yang mendapat perlakuan R2 dan R3 nyata (P < 0,05) lebih berat dibandingkan dengan R1 dan R5). Antara R2 dan R3 serta antara R1, R4 dan R5 tidak berbeda nyata (P > 0,05).

Bobot karkas terberat dicapai oleh kelompok ayam yang mendapat perlakuan level terendah yakni tepung kunyit (0,04%) + tepung lempuyang (0,02%). Hal ini disebabkan tepung kunyit mengandung kurkumin (1 – 5%) yang bersifat anti bakteri dapat menghambat pertumbuhan bakteri terutama pada saluran pencernaan sehingga meningkatkan pertumbuhan, sementara minyak atsiri kunyit bersifat bakteriostatik terhadap E. coli (SUSILOWATI et al., 1985). RAMPRASAD dan SIRSI (1975) menyatakan senyawa aktif kunyit (kurkumin) bersifat anti bakteri terutama terhadap micrococus pyogenes dan staphylococus.

Lempuyang mengandung flavonoid bersifat anti bakteri, anti virus dan anti oksidan, disamping itu lempuyang mengandung zerumbon, koriofler, kamfersionil, humuler dan limonen yang pada manusia digunakan untuk meningkatkan nafsu makan (DARWIS dan HASIYAH, 1991).

Tabel 1. Pengaruh penambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang terhadap bobot karkas, bagian karkas, kepala + leher dan kaki (g)

Perlakuan Peubah R1 R2 R3 R4 R5 Karkas 1475a 1749c 1674b 1601b 1517ab Bagian karkas Paha 463 554 509 492 465 Dada 426 499 470 459 433 Punggung 336a 428b 411b 391ab 364a Sayap 250 268 284 259 255 Kepala + leher 245 274 272 266 260 Kaki 76 90 85 77 79

(4)

Persentase bobot karkas

Penambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang terhadap persentase karkas, warna kulit dan lemak subkutan tertera pada Tabel 2. Penambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap persentase bobot karkas dan berat bagian karkas (paha, dada, punggung dan sayap). Persentase bobot karkas dalam penelitian ini berkisar antara 73,8 – 86,0%. lebih tinggi dibandingkan dengan dilaporkan LEESON dan SUMMER (1996) bahwa broiler yang mendapat ransum dengan kepadatan gizi rendah, sedang dan tinggi pada umur 6 minggu berkisar antara 69,7 – 73,3%.

TRIYANTINI et al. (1997) melaporkan bahwa

persentase bobot karkas broiler umur 5 minggu adalah 67,29%.

Persentase bobot dada dalam penelitian ini berkisar dari 28,08 sampai 28,88% mendekati dilaporkan TRIYANTINI et al. (1997) yakni 27,95%. Persentase bobot punggung dalam penelitian ini berkisar antara 22,78 – 24,47% lebih rendah dibandingkan dengan yang dilaporkan TRIYANTINI et al. (1997) yakni 27,87%. Persentase bobot paha dalam penelitian ini berkisar antara 30,41 – 31,86% mendekati dibandingkan dengan yang dilaporkan TRIYANTINI et al. (1997) yakni

29,71%. Persentase bobot sayap dalam penelitian ini berkisar antara 15,32 sampai 16,97% lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilaporkan TRIYANTINI et al. (1997) yakni 12,50% Persentase bobot kepala dan leher dalam penelitian ini berkisar antara 15,67 sampai 17,14% lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilaporkan TRIYANTINI et al. (1997) yakni 6,16%. Persentase bobot kaki dalam penelitian ini berkisar antara 4,81 – 5,21% mendekati laporan TRIYANTINI et al.

(1997) yakni 5,08%.

Kadar lemak subkutan

Lemak broiler terdiri dari lemak rongga tubuh dan lemak bawah kulit (subkutan). Lemak rongga tubuh terdiri dari lemak abdomen, lemak alat percernaan dan lemak yang melekat pada rongga dada. Lemak yang dianalisis dalam penelitian ini berasal dari lemak dibawah kulit bagian punggung. Penambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang dalam ransum tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap lemak kulit, tetapi ada kecenderungan rataan kadar lemak kulit yang mendapat tepung kunyit dan tepung. lempuyang lebih rendah dibandingkan dengan kontrol (90,34 vs 91,4%).

Tabel 2. Pengaruh penambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang terhadap persentase karkas, bagian karkas, kepala+ leher, kaki, warna kulit dan kadar lemak subkutan

Perlakuan Peubah (%) R1 R2 R3 R4 R5 Karkas 86,0 79,5 81,9 79,6 73,8 Bagian karkas Paha 31,39 31,68 30,41 30,73 30,65 Dada 28,88 28,53 28,08 28,67 28,54 Punggung 22,78 24,47 24,55 24,42 23,99 Sayap 16,95 15,32 16,97 16,18 16,18 Kepala + leher 16,61 15,67 16,25 16,61 17,14 Kaki 5,15 5,15 5,08 4,81 5,21 Warna kulit 3,5 3,0 2,5 1,25 2,7

(5)

Hal ini diduga karena terjadi rangsangan yang membuat sekresi cairan empedu menjadi lebih cepat sehingga terjadi peningkatan cairan empedu yang menyebabkan kadar lemak menurun karena dirubah/dirombak untuk akhirnya menghasilkan ATP, CO2 dan H20 disertai pelepasan energi. Selain itu adanya suatu senyawa kimia diantaranya adalah: minyak atsiri dan senyawa kurkumin juga dapat menurunkan penebalan lemak dalam tubuh. Hal ini sesuai dengan pernyataan LIANG

et al. (1985) bahwa kandungan zat kimia yang terkandung dalam kunyit (kurkumin) cenderung lebih berperan dalam penurunan lemak dalam tubuh, proses sekresi empedu dan sekresi pankreas yang dikeluarkan lewat feses. Komposisi dari kurkumin dan zerumbon yang terkandung di dalamnya memiliki khasiat memperlancar sekresi empedu.

Uji organoleptik

Uji organoleptik terdiri dari: penampakan karkas atau bentuk karkas, warna karkas dan bau karkas. Bentuk karkas atau penampakan karkas semua perlakuan umumnya baik yakni mempunyai bentuk cenderung bulat, lebar dan memanjang. Bagian karkas mempunyai daging dada agak panjang dan lebar, kaki atau sayap normal, dan tulang belakang yang normal. Warna karkas atau daging yang terlihat merah muda dan merah terang.

Warna kulit daging dan kadar lemak bawah kulit dapat dilihat pada Tabel 2. Warna kulit yang baik adalah putih atau kuning dan tidak pucat. Warna kulit dicocokan dengan kipas warna. Warna kulit yang mendapat ransum kontrol adalah kuning muda. Penambahan tepung lempuyang menghasilkan warna kulit menjadi lebih pucat terutama pada penambahan tepung lempuyang (0,08%). Hal ini besar kemungkinan terkait dengan lebih rendahnya kadar lemak bawah kulit yang berperan antara lain sebagai tempat penyerapan carotenoid terutama xanthophyll yang menyebabkan warna kuning (NORTH, 1978; MAYNARDet al., 1979).

Bau karkas secara keseluruhan baik dan tidak memiliki bau yang amis terutama yang diberi tepung kunyit dan tepung lempuyang. Hal ini sesuai dengan pendapat NURFINA (1998) bahwa penambahan tepung kunyit

mampu menekan mikroorganisme di dalam kotoran ayam, sehingga menghambat proses pembusukan (yang antara lain menimbulkan bau amis atau anyir) pada daging ayam.

KESIMPULAN

Penambahan tepung kunyit dan tepung lempuyang dalam ransum dapat meningkatkan bobot karkas dan bagian karkas dibandingkan dengan kontrol, disamping itu cenderung menurunkan kadar lemak subkutan sehingga menyebabkan warna kulit menjadi lebih putih dan menghilangkan bau amis pada karkas. Penambahan pada level rendah tepung kunyit (0,04%) + tepung lempuyang (0,02%) menghasilkan performan lebih baik dibanding level lebih tinggi. Dari hasil penelitian ini disarankan agar dilakukan penelitian dalam skala lebih besar yaitu dengan jumlah ayam lebih banyak sebelum diaplikasikan dalam peternakan ayam komersial.

DAFTAR PUSTAKA

BINTANG,I.A.K dan NATAAMIJAYA. 2005. Pengaruh Penambahan tepung kunyit terhadap performan broiler. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 12 – 13 September 2005. Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 773 – 777.

DARWIS, S.N. dan S. HASIYAH. 1991. Tanaman Obat Famili Zingeberasceae. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor. FOREST, J.C., E.D. ABERIE, H.B. HENDRIC, M.D.

JUDGE and R.A. MERKEL. 1973. The Principle of Meat Science. Freeman and Company. San Fransisco.

HANSKIN, O.G., GADDIES and W.I. SULBACHER. 1960. Meat Research Production . American Society of Animal Science. New York. JARMANI, S.N. dan A.G. NATAAMIJAYA. 2001.

Penampilan ayam ras pedaging dengan menambahkan tepung lempuyang (Zingiber

aromaticum Val.) dan kemungkinan

pengembanganya. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 17 – 18 September 2001. Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm: 605 –608.

LEESON, S.L. and S.D. SUMMER. 1996. Broiler respons to energy and protein dilution in the finisher diet. Poult. Sci. 75: 522 – 528.

(6)

LIANG, O.B., Y. APSARTON, Y. WIDJAYA dan S. PUSPA. 1985. Beberapa aspek isolasi, Identifikasi dan penggunaan komponen-komponen Curcuma xanthorhiza Roxb. dan

Curcuma domestica Val. Pros. Simposium

Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian Universitas Pajajaran, Bandung. hlm:85 – 92. MAYNARD,L.A.,J.K.LOOSLI,H.F.HINTZ and R.G.

WARNER. 1979. Animal Nutrition. Seventh Ed. Mc Graw Hill Book Company. New York. NASUTION, M.H., V.D. J. ISMADI dan U.

ATMOMARSONO. 2001. Pertumbuhan dan rasio efisiensi protein broiler dengan pemberian tepung kelenjar tiroid sapi dalam ransum pasca pembatasan pakan. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 17 – 18 September 2001. Puslitbang Peternakan, Bogor. Hlm. 630 – 636.

NORTH, M.O. 1978. Commercial Chicken Production Manual. Second Ed. AVI Publishing Company Inc.Westport, Connecticut.

NURFINA. 1998. Manfaat dan prospek pengembangan kunyit. Trubus Agriwidya, Yogyakarta.

RAMPRASAD, C. dan M. SIRSI. 1975. Effect of

curcumin and the essential oil of longa on bile secretion. J. Sci. Industry Res. 15c. 1613 – 1615.

SOMAATMADJA, D. 1981. Khasiat senyawa-senyawa flavonoid. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian, Bogor.

STEEL, R.G.D, dan J.H. TORRIE. 1980. Principles and Procedures of Statistic. 2nd Ed. Mc Graw Hill, New York.

SUSILOWATI, S. BAMBANG dan D. WAHYU. 1985. Pengaruh daya anti mikroba dari rimpang

Curcuma domestica Val. terhadap bakteri

Escherichia coli. Pros. Simposium Nasional Temulawak Unpad, Bandung. hlm. 174 – 180. TRIYANTINI, ABU BAKAR. I.A.K. BINTANG dan

T. ANTAWIJAYA. 1997. Studi komparatif preferensi, mutu dan gizi beberapa jenis daging unggas. JIlTV 2(2): 157 -

DISKUSI Pertanyaan:

1. Apa fungsi bahan tersebut terhadap kualitas daging? 2. Bagaimana perhitungan ekonomisnya.

3. Kenapa dosis seperti itu? 4. Berapa level kunyit sendiri?

5. Bagaimana dampak pada perlemakannya karena akan mempengaruhi secara keseluruhan?

Jawaban:

1. Campuran kedua bahan dapat menurunkan kadar lemak. Pengaruh terhadap kualitas daging dan penampilan menjadi lebih baik. Warna kulit menjadi lebih pucat terutama pada pemberian dengan level 0,08%. Bau karkas baik (tidak amis).

2. Dalam penelitian ini belum dilakukan analisa ekonomi.

3. Penggunaan kunyit 0,04% tidak menimbulkan pengaruh negative.

4. Penggunaan o0,02 – 0,16% terjadi peningkatan tetapi tidak berbeda nyata. Pada penelitian ini kunyit yang digunakan adalah 0,04%.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :