© Rachmat Adi P., 5 November 2014
HaKI DIPANDANG DARI PARADIGMA
SOSIOLOGI HUKUM
HaKI
Hak kekayaan intelektual atau IPR (Intellectual Property Rights) adalah hak yang muncul karena kemampuan intelektual manusia. Obyek yang termasuk ke dalam kekayaan intelektual yaitu berupa hasil pemikiran atau sesuatu yang timbul karena kemampuan atau aktivitas intelektual manusia. Hak kekayaan intelektual adalah hak eksklusif yang diberikan pemerintah berdasarkan undang-undang untuk menikmati secara ekonomis hasil dari kreativitas intelektual tersebut dan mencegah orang lain untuk memanfaatkannya kecuali atas izin pemilik. Hak eksklusif tersebut meliputi hak untuk :
• Membuat salinan dari hasil karya dan menjual hasil salinan tersebut;
• Mengimpor atau mengekspor hasil karya;
• Menciptakan karya turunan dari hasil karya ciptaannya;
• Menampilkan hasil karya di depan umum;
• Menjual atau mengalihkan kepemilikan hak eksklusif tersebut kepada pihak lain. Secara umum Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) terbagi ke dalam dua bagian yaitu Hak Cipta (copyrights) dan Hak Kekayaan Industri (industrial property rights). Hak Kekayaan Industri mencakup paten, desain industri, merek, penanggulangan praktek persaingan curang, desain tata letak sirkuit terpadu, dan rahasia dagang. Di Indonesia badan yang berwenang dalam mengurusi HaKI adalah Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual, Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI.
Sistem perlindungan terhadap kekayaan intelektual di Indonesia sebenarnya telah berkembang sejak zaman kolonial Belanda. Pada awal masa kemerdekaan Indonesia menggunakan UU Hak Cipta dan UU tentang merek peninggalan dari pemerintahan Belanda. Selanjutnya pada tahun 1979 Indonesia meratifikasi konvensi Paris tentang HaKI (Paris Convention for the Protection of Industrial Property and Convention
Establishing the World Intellectual Property Organization) melalui Keppres No. 24 tahun
© Rachmat Adi P., 5 November 2014
Intellectual Property Organization), suatu organisasi yang dibentuk PBB untuk
mengurusi segala hal yang berkaitan dengan hak kekayaan intelektual. Selain konvensi Paris, Indonesia juga telah meratifikasi konvensi-konvensi lain di bidang HaKI ini seperti:
a. Patent Coorperation Treaty (PCT) and Regulation under the PTC, dengan Keppres NO. 16 Tahun 1997;
b. Trademark Law Treaty (TML) dengan Keppres No. 17 Tahun 1997;
c. Berne Convention for the Protection of Literaty and Artistic Works dengan Keppres No. 18 tahun 1997;
d. WIPO copyrights treadty (WCT) dengan Keppres No. 19 tahun 1997.
Pada tahun 1994, Indonesia bergabung ke dalam organisasi perdagangan dunia atau WTO (World Trade Organization) dengan meratifikasi hasil Putaran Uruguay yaitu Agreement Astablishing the World Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia). Salah satu bagian terpenting darti persetujuan WTO adalah Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights Including Trade In Counter\feit Goods (TRIPs).
Pandangan
Dalam perkembangannya, kesepakatan atau peraturan mengenai HaKI ini ternyata menuai pro dan kontra. Banyak krtik dan tuduhan yang diberikan kepada HaKI, bahwa peraturan atau kesepakatan-kesepakatan tentang HaKI banyak ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan pihak tertentu. Secara umum terdapat dua pandangan kritik tentang HaKI di masyarakat, pertama adalah bahwa konsep HaKI yang ada sudah tidak sesuai dengan kemajuan zaman. Banyak permasalahan timbul dan penyelesaiannya sulit ditemukan karena HaKI belum bisa mengakomodasi permasalahan tersebut. Kedua, konsep HaKI memang dari awal tidak pernah menguntungkan masyarakat umum tetapi selalu memperkaya pihak-pihak tertentu dengan mengorbankan kreativitas.
© Rachmat Adi P., 5 November 2014
mengembangkannya lagi. Di samping itu sistem HaKI menunjang diadakannya sistem dokumentasi yang baik atas segala bentuk kreativitas manusia sehingga memungkinan dihasilkannya teknologi atau hasil karya lainnya yang sama dapat dihindarkan/dicegah. Dengan dukungan dokumentasi yang baik tersebut, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya dengan maksimal untuk keperluan hidupnya atau mengembangkannya lebih lanjut untuk memberikan nilai tambah yang lebih tinggi lagi, serta juga untuk meningkatkan pemahaman hukum HaKI pada aparat hukum dan masyarakat.
Terlebih, Prof. Achmad Zen Umar Purba mengemukakan pentingnya pembudayaan HaKI dalam masyarakat. Masyarakat harus menyadari bahwa HKI merupakan aset yang secara hukum berada dalam kewenangan penuh pemiliknya. Temuan yang sudah dijamin dengan HKI -dalam bentuk paten atau hak cipta- tidak bisa diklaim lagi oleh pihak lain. "Masyarakat tradisional masih beranggapan, bahwa semakin banyak orang meniru karyanya akan semakin baik bagi dirinya. Ini hanya bisa dihilangkan dengan penumbuhan budaya HKI. Karena akan disayangkan apabila sebuah temuan akhirnya diklaim pihak lain, termasuk orang asing gara-gara tidak dipatenkan".
Paradigma Sosiologi Hukum
Sangat menarik paradigma HaKI ini apabila diteruskan ke pemikiran pakar sosiolog dalam melihat hukum yang ada, dimana mereka melahirkan konsep perspektif Konsesus dan Konflik dalam masyarakat.
Perspektif Konsensus menganggap hukum sebagai kerangka netral untuk menjaga integrasi sosial. Salah satu sarjana hukum yang paling dikenal dan paling berpengaruh, Roscoe Pound, memandang masyarakat terdiri dari beragam kelompok yang kepentingannya sering kali bertentangan dengan elemen lain tetapi tetap terjaga dalam haluan. Dia menganggap rekonsiliasi antara kepentingan yang saling bertentangan dari kelompok-kelompok yang beragam dalam masyarakat sangat penting untuk mengamankan dan menjaga ketertiban sosial.
© Rachmat Adi P., 5 November 2014
niat mereka menjadi undang-undang. Atas dasar ide ini, Richard Quinney berpendapat bahwa hukum adalah ekspresi kepentingan hasil dari konflik yang melekat pada kepentingan karakteristik.
Kesimpulan