• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kereta Api Sumatera Selatan Zaman Koloni

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kereta Api Sumatera Selatan Zaman Koloni"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Artikel Opini Kesejarahan Dimuat di Sriwijaya Online 4 November 2017

Link : Bag. 1 :https:/ / sr iw ijayaonline.com/ 32827- k er eta- api- sumater a- selatan- zaman- kolonial - ke- masa- kemer dekaan- bagi an- 1.html

Bag. 2 : https:/ / sr iw ijayaonline.com/ 32830- k er eta- api- sumater a- selatan- zaman- kolonial - ke- masa- kemer dekaan- bagi an- 2.html

Kereta Api Sumatera Selatan : Zaman Kolonial ke Masa Kemerdekaan

Oleh :

Arafah Pramasto,S.Pd.1&Sapta Anugrah,S.Pd.2

Pengenalan Transportasi Kereta Api

Teknologi merupakan sebuah penanda zaman seperti halnya kita kerap membaca

bagaimana di masa Prasejarah terdapat “Zaman Batu” maupun “Zaman Logam.” Penguasaan

teknologi memungkinkan manusia untuk memperoleh kemudahan dalam memenuhi

kebutuhan dari alam sekitarnya, maupun untuk berinteraksi sesamanya. Kereta api

merupakan moda transportasi yang diperkenalkan pada masa penjajahan Belanda dan

menjadi jenis perkakas modern kedua setelah diperkenalkannya teknologi telegraf. Pulau

Sumatera menyaksikan kehadiran teknologi transportasi ini dalam kondisi yang getir tatkala

perang perlawanan Aceh bahkan masih belum dapat dipadamkan seluruhnya oleh Hindia

Belanda. Pada tahun 1874, pasukan kolonial Belanda membawa ke Aceh rel kereta api

ukuran sempit, enam belas gerbong kereta api, dan kantin lengkap tenaga uap untuk memberi

makan pasukan, tujuannya ialah untuk menghubungkan tempat demarkasi pelabuhan Ulee

Lheue dan Kutaraja dengan rel kereta api sepanjang 5 km.

Kendala Alam dan Pembangunan Jalur

Di zaman kolonial, Jawa secara fisik dipersatukan oleh sebuah jalur kereta api sejak

1894. Sayangnya, pembangunan jalan kereta api di Sumatera bukan dimaksud untuk

mempersatukan seluruh pulau, sehingga rangkaian jalur kereta api di pulau ini terbagi

menjadi tiga regional. Pada bagian utara, jalur kereta api hanya menghubungkan Medan dan

Tebing Tinggi di Sumatera Utara yang umumnya digunakan untuk mengangkut minyak

sawit. Di bagian tengah pulau, hanya Sumatera Barat yang memiliki jalur kereta api yang

dibangun pada periode kolonial Belanda dan sebatas menghubungkan Sawahlunto, Padang,

dan Padang Pariaman : jalur ini digunakan untuk tujuan wisata. Di bagian selatan Sumatera,

kereta api menghubungkan Bandar Lampung dan Palembang. Alasan pemerintah kolonial

yang tidak mengusahakan penyatuan seluruh pulau dengan jalur kereta api ialah “kendala

alam” yakni keberadaan serangkaian pegunungan Bukit Barisan di pada bagian tengah pulau

dengan keadaan topografisnya yang berbukit dan tidak lurus. Kondisi itu mempersulit

1

Penulis Lepas (Freelance Writ er) & Hist ory Blogger 2

(2)

Artikel Opini Kesejarahan Dimuat di Sriwijaya Online 4 November 2017

Link : Bag. 1 :https:/ / sr iw ijayaonline.com/ 32827- k er eta- api- sumater a- selatan- zaman- kolonial - ke- masa- kemer dekaan- bagi an- 1.html

Bag. 2 : https:/ / sr iw ijayaonline.com/ 32830- k er eta- api- sumater a- selatan- zaman- kolonial - ke- masa- kemer dekaan- bagi an- 2.html

pembangunan jalur untuk menghubungkan kota-kota besar yang terletak di pantai barat dan

pantai timur Sumatera.

Entah sejauh mana efek dari “kendala alam” yang merintangi pembangunan jalur

kereta api untuk menyatukan seluruh Sumatera, Belanda memang dikenal sebagai penjajah

yang serakah dan kikir. Contoh kasus ialah Sumatera Selatan, pembukaan jalur kereta api

oleh pemerintah kolonial lebih didasari alasan ekonomi – untuk pengangkutan komoditas –

semata yaitu dengan dimulainya pengeboran minyak di Prabumulih, Muara Enim dan

Martapura. Di Sumatera Selatan dan Lampung pembangunan rel rintisan dimulai tahun 1911

namun lintas pertama ini adalah hanya sepanjang 12 Km dari Pelabuhan Panjang menuju

Tanjung Karang. Jalur tersebut baru dapat dilalui kereta api pada tanggal 3 Agustus 1914.

Pada waktu yang bersamaan, dilaksanakan juga pembangunan jalan rel dari Kertapati

(Palembang) menuju ke arah Prabumulih, lintas ini sudah mencapai 78 km : pembangunan

pada tahun 1914 inilah yang dianggap sebagai kelahiran pertama perkeretaapian Sumatera

Selatan. Berturut-turut kemudian dibangun jalur Tanjung Karang-Kota Bumi (1920),

Prabumulih-Baturaja (1923), Muara Enim-Lahat (1924), Baturaja-Martapura (1925),

Kotabumi-Negararatu (1926), dan Negararatu-Martapura (1927). Moda transportasi kereta

api telah mempersingkat lama pengangkutan barang pergi-pulang yang sebelumnya

memerlukan waktu satu minggu antara kota Palembang ke pedalaman jika menggunakan

pedati.

Kereta Api Sumsel dan Perjuangan Kemerdekaan

Setelah masa pembukaan jalur-jalur kereta api dalam rentang waktu 1911-1927,

ternyata Lubuklinggau mempunyai posisinya sendiri dalam sejarah perkeretaapian Sumatera

Selatan. Jika ditinjau dari pembukaan-pembukaan lintas, maka lintasan penghabisan (akhir)

yang dibuka adalah ‘Lintas Muarasaling-Lubuklinggau’ pada tanggal 30 Juni 1933. Dengan

rampungnya pembangunan jalur itu, pada tahun yang sama dibukalah Stasiun Lubuklinggau

(disingkat Stasiun LLG). Jalur ini diprakarsai oleh Namlooze Venootschap Nederlandsch

Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM). Untuk pembangunan rel kereta api zaman

kolonial di wilayah Pulau Sumatera sendiri, regional Sumatera Selatan

(Palembang-Lampung) adalah yang paling akhir dibangun. Berturut-turut pembangunan rel kereta api

dilakukan di pulau ini seperti Sumatera Utara (1886-1937) dengan panjang 554 km, Sumatera

Barat (1891-1921) sepanjang 263 km, dan Sumatera Selatan (1914-1933) dengan panjang

(3)

Artikel Opini Kesejarahan Dimuat di Sriwijaya Online 4 November 2017

Link : Bag. 1 :https:/ / sr iw ijayaonline.com/ 32827- k er eta- api- sumater a- selatan- zaman- kolonial - ke- masa- kemer dekaan- bagi an- 1.html

Bag. 2 : https:/ / sr iw ijayaonline.com/ 32830- k er eta- api- sumater a- selatan- zaman- kolonial - ke- masa- kemer dekaan- bagi an- 2.html

regional perlintasan perkeretaapian yang tidak saling berhubungan tentu membuat moda

transportasi ini belum terbilang sempurna. Apalagi panjang jalur kereta api seluruh Sumatera

saat itu hanya mencakup 6,9% dari luas pulau ini.

Jalur kereta api Palembang-Lubuklinggau menjadi salah satu saksi bisu ketika rakyat

bejubel meminta Bung Hatta berpidato di stasiun-stasiun kereta yang menjadi ramai karena

kunjungan beliau ke Sumatera Selatan pada pertengahan 1947. Bung Hatta dalam memoarnya

berjudul Untuk Negeriku mencatatkan bahwa beliau sempat menginap di kediaman drg. M.

Isa (Gubernur Muda Sumatera Selatan) di Palembang. Wakil Presiden pertama itu kemudian

berkunjung ke Prabumulih, Tanjung Raja, Kayu Agung, Tanjung Enim dan Muara Enim.

Bung Hatta menginap semalam di Lahat dan dua malam di Lubuklinggau, lalu beliau terus

berangkat ke Surulangun. Perjalanan Bung Hatta saat itu dimaksudkan untuk memperkuat

moral perjuangan kemerdekaan rakyat Sumatera melawan Belanda. drg.M.Isa juga melewati

jalur kereta api ini saat ia kembali dari gerilya di luar kota Palembang sejak akhir 1947

hingga disepakatinya gencatan senjata RI-Belanda tahun 1949. Bahkan setelah masa

kemerdekaan, bidang transportasi yang kemudian dikelola oleh PT.KAI ini tidak kehilangan

andilnya di tengah masyarakat. Perkeretaapian masih terus menunjukkan prospeknya.

Prospek yang akan selalu dibarengi dengan peningkatan performa demi optimalnya

pelayanan.

Referensi Pilihan

Departemen Penerangan Indonesia, Kereta Api Indonesia, Jakarta : Departemen Penerangan Indonesia, 1978.

Hatta, Mohammad, Untuk Negeriku : Jilid 3 Menuju Gerbang Kemerdekaan, Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2011.

Majalah Clapeyron Volume 61 : Semarak Kebangkitan Perkeretaapian Indonesia.

(4)

Artikel Opini Kesejarahan Dimuat di Sriwijaya Online 4 November 2017

Link : Bag. 1 :https:/ / sr iw ijayaonline.com/ 32827- k er eta- api- sumater a- selatan- zaman- kolonial - ke- masa- kemer dekaan- bagi an- 1.html

Referensi

Dokumen terkait

Bagi para orang tua hendaknya tetap mempertahankan pola asuh otoritatif yang sudah diterapkan dan untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti tentang status gizi

Cara kerja perubah arah putaran sistem hidrolik (Sumber Yanmar Diesel, 1980 ).. Perlengkapan pada sistim hidrolik reduksi/perubahan arah. Dalam operasinya handle maju/mundur, alat

Peranan notaris dalam pembuatan akta pembagian harta suarang di Minangkabau terbilang masih sedikit dikarenakan adanya kedudukan lain yang lebih tinggi dari Notaris yaitu

PEMBELAJARAN MENULIS TEKS CERITA ULANG BIOGRAFI (STUDI KASUS DI KELAS XI SMA NEGERI 8 SURAKARTA).” Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan

Hasil analisis menunjukkan: (1) Investasi jalan dan jembatan di Sumatera dan Jawa-Bali paling dinikmati oleh sektor perdagangan, restoran dan hotel, dan sektor industri

• Pemilik, pengelola dan/atau penyewa gudang yang tidak memperpanjang TDG, tidak melakukan administrasi gudang dan tidak menyampaikan laporan peyimpanan barang, serta tidak

Juga kata-kata yang menunjukkan perpindahan tempat (masuk, keluar, maju, mundur, dsb). Selain itu, yang khas dalam wacana adalah digunakannya deiksis-deiksis

Banyuwangi dapat dikatakan sebagai bermantra, dan sumber simbolik yang mendukung kekuasaan Jawa tersebut salah satunya mantra Semar Mesem dalam arti santet